Perempuan dan Belasan Pasang Sepatu 22 Juli 2010, 12:12am

Saatnyalah aku akan beranjak darimu, yang sembunyikan sepasang sepatuku dalam lemari di bilik kamarmu, dan kaki-kakiku yang telanjang tlah mengapal kasar telapaknya, hingga bagiku pun tak apalah akhirnya, aku lepas pulang. Meninggalkanmu yang masih menggenggam kunci dimana sepasang sepatuku engkau eram bersama belasan pasang sepatu lelaki-lelaki lainnya yang tak ingin kutahu entah darimana, dan bagaimana kau mendapatkannya. Engkau begitu mencintai sepatu sedemikian rupanya engkau mencintai kaki-kaki lelaki yang pernah memakainya. Mungkin, kau tak pernah tahu bagaimana cara membuat mereka dan aku untuk tetap tinggal diam dalam rumahmu. Kau memilih caramu sendiri dengan menyimpan sembunyikan sepatu mereka dan aku, agar kau tak sendiri sepi tanpa lelaki. Begitulah, menurutku kau sebenarnya hanya inginkan mereka dan aku untuk sekedar menemanimu. Sepatu jugalah yang engkau jadikan alasan agar aku tak pergi. Namun engkau lupa aku punya kaki tuk berlari, bukan raga juga hati yang semestinya engkau tinggali. Dahulu saat kita masih tinggal di bawah atap yang sama, aku pernah bertanya mengapa kau berniat untuk menyimpan sepasang sepatu milikku satu-satunya itu, namun engkau diam, dan aku pun kemudian diam, karena pikirku kala itu sudah saatnyalah aku menuntaskan pengembaraan, menumpang tinggal di rumahmu untuk berdiam. Maka aku sama sekali tak berkeberatan memiliki kaki tanpa sepatu. Ya, mungkin saja aku memang tak akan pernah lagi keluar bepergian. Engkau beserta rumahmu memang ternyata sangatlah nyaman. Namun, suatu kali kau akhirnya mengaku bahwa kau juga menyimpan belasan sepatu lain dalam lemari di bilik kamarmu. Dan dari masa itulah cerita lain akan bermula, dimana haluan jalanan lain akan kujadikan arah berkelana. Tanpa sepatu. Fauzan Fadri

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful