The Decline of America's Soft Power

By Joseph S. Nye, Jr. May/June 2004 Article Summary and Author Biography http://www.foreignaffairs.com/articles/59888/joseph-s-nye-jr/the-decline-of-americas-softpower. 22 April 2012| 10.50 WIB Sign-up for free weekly updates from ForeignAffairs.com. Anti-Americanism has increased in recent years, and the United States' soft power -- its ability to attract others by the legitimacy of U.S. policies and the values that underlie them -- is in decline as a result. According to Gallup International polls, pluralities in 29 countries say that Washington's policies have had a negative effect on their view of the United States. A Eurobarometer poll found that a majority of Europeans believes that Washington has hindered efforts to fight global poverty, protect the environment, and maintain peace. Such attitudes undercut soft power, reducing the ability of the United States to achieve its goals without resorting to coercion or payment. Skeptics of soft power (Secretary of Defense Donald Rumsfeld professes not even to understand the term) claim that popularity is ephemeral and should not guide foreign policy. The United States, they assert, is strong enough to do as it wishes with or without the world's approval and should simply accept that others will envy and resent it. The world's only superpower does not need permanent allies; the issues should determine the coalitions, not vice-versa, according to Rumsfeld. But the recent decline in U.S. attractiveness should not be so lightly dismissed. It is true that the United States has recovered from unpopular policies in the past (such as those regarding the Vietnam War), but that was often during the Cold War, when other countries still feared the Soviet Union as the greater evil. It is also true that the United States' sheer size and association with disruptive modernity make some resentment unavoidable today. But wise policies can reduce the antagonisms that these realities engender. Indeed, that is what Washington achieved after World War II: it used soft-power resources to draw others into a system of alliances and institutions that has lasted for 60 years. The Cold War was won with a strategy of containment that used soft power along with hard power. The United States cannot confront the new threat of terrorism without the cooperation of other countries. Of course, other governments will often cooperate out of self-interest. But the extent of their cooperation often depends on the attractiveness of the United States...
Terjemahannya : Anti-Amerikanisme telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dan soft power Amerika Serikat kemampuannya untuk menarik orang lain dengan legitimasi kebijakan AS dan nilai-nilai yang mendasari mereka - adalah menurun sebagai hasilnya. Menurut jajak pendapat Gallup International, kemajemukan

dan menjaga perdamaian.0 dan Blogger January 25.. ketika negara-negara lain masih takut Uni Soviet sebagai kejahatan yang lebih besar. Juga benar bahwa ukuran tipis Amerika Serikat dan asosiasi dengan modernitas mengganggu membuat kemarahan tidak dapat dihindari beberapa hari ini.di 29 negara mengatakan bahwa kebijakan Washington memiliki efek negatif pada pandangan mereka tentang Amerika Serikat. pemerintah akan bekerja sama lainnya sering keluar dari kepentingan diri sendiri. Amerika Serikat tidak bisa menghadapi ancaman baru terorisme tanpa kerja sama dari negara lain.com/2011/01/25/diplomasi-publik-2-0-dan-blogger/ . Tetapi penurunan terakhir di tarik AS seharusnya tidak begitu begitu saja. Sikap seperti melemahkan kekuatan lunak. Tapi kebijakan yang bijaksana dapat mengurangi antagonisme bahwa melahirkan realitas. Perang Dingin dimenangkan dengan strategi penahanan yang digunakan soft power bersama dengan hard power. menurut Rumsfeld. Diplomasi Publik 2. mengurangi kemampuan Amerika Serikat untuk mencapai tujuannya tanpa menggunakan paksaan atau pembayaran. Amerika Serikat. bukan sebaliknya. mereka menegaskan. Memang benar bahwa Amerika Serikat telah pulih dari kebijakan yang tidak populer di masa lalu (seperti yang mengenai Perang Vietnam). melindungi lingkungan. tapi itu sering selama Perang Dingin. Skeptis kekuasaan lunak (Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld mengaku bahkan tidak memahami istilah) mengklaim bahwa popularitas adalah sementara dan tidak boleh membimbing kebijakan luar negeri. Tapi sejauh mana kerja sama mereka sering tergantung pada daya tarik Amerika Serikat . Memang. Satunya negara adidaya di dunia tidak membutuhkan sekutu permanen. cukup kuat untuk melakukannya karena ingin dengan atau tanpa persetujuan dunia dan hanya harus menerima bahwa orang lain akan iri dan membenci itu. 2011 Aris Heru Utomo http://arisheruutomo. Tentu saja.. masalah harus menentukan koalisi. Sebuah jajak pendapat Eurobarometer menemukan bahwa mayoritas orang Eropa percaya bahwa Washington telah menghambat upaya untuk memerangi kemiskinan global. itulah yang Washington dicapai setelah Perang Dunia II: dulu lembut daya sumber daya untuk menarik orang lain ke dalam sistem aliansi dan institusi yang telah berlangsung selama 60 tahun.

Oleh TIME para pembacanya . Selain mengucurkan dana ratusan juta rupiah untuk membiayai kegiatan Pesta Blogger. Kawat yang dikirimkan dari Kedutaan AS di Jakarta ke Washington itu menyebutkan bahwa “Kedubes AS di Indonesia adalah yang terdepan dalam Diplomasi Publik 2.0 tiba-tiba muncul dalam pemberitaan di media massa nasional ketika pada pertengahan Januari 2011 Wikileaks mengungkap sebuah kawat berkode referensi Jakarta 0065 tertanggal 12 Februari 2010.Istilah diplomasi publik 2. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut. Muncul tudingan bahwa Pemerintah AS telah melakukan kegiatan diplomasi dengan memanfaatkan blogger untuk menyebarluaskan informasi terkait kepentingan negeri Paman Sam. dialog. Dalam praktik diplomasi. dan penggiat sosial media. televisi dan internet. LSM. aktivitas diplomasi tidak hanya terbatas antar pejabat pemerintah tetapi juga telah melibatkan peran serta masyarakat secara luas dan menjaring kemitraan dengan berbagai elemen masyarakat seperti akademisi. media massa. Kedutaan AS juga memberikan sumbangan buku-buku untuk perpustakaan di daerah-daerah. masyarakat secara langsung ataupun tidak langsung. khususnya para blogger. pesantren. apa yang dilakukan Kedutaan AS sebenarnya merupakan praktik yang lazim dijumpai dan biasa disebut dengan diplomasi publik.0.000 fans (di akun Facebook Kedubes AS). diberikan berbagai macam informasi guna tercapainya pemahaman tentang berbagai prinsip dan kebijakan yang ditempuh. Sejalan perkembangan teknologi informasi. Dengan lebih dari 50. paling banyak dari Kedubes AS lain di seluruh dunia. Kontan saja isi kawat tersebut mendapatkan tanggapan dari para pengguna sosial media. penyampaian informasi melalui radio.0. Berbagai kegiatan diplomasi publik yang biasanya mudah dijumpai adalah pertukaran budaya dan pelajar. Melalui diplomasi publik. Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2006 ketika majalah TIME menetapkan pembaca majalah tersebut sebagai “Person of the Year”. muncullah kemudian istilah Diplomasi Publik 2. Tudingan yang tidak sepenuhnya keliru karena selama tiga tahun terakhir ini Kedutaan AS di Jakarta telah secara aktif menjadi sponsor utama kegiatan Pesta Blogger. dengan menggunakan sosial media di Indonesia”. seminar.

Jika Kemlu AS dan Kedutaan Besarnya di seluruh dunia telah memanfaatkan piranti sosial untuk melaksankan kegiatan diplomasi publik. Kalau semua ini sudah bisa mulai dilakukan. Kemlu AS termasuk yang terdepan dalam menggunakan medium blog dan sosial media lainnya. Harapannya agar pembaca dapat memperoleh persfektif lain disamping informasi. MySpace. Melalui blognya.0 bukan lagi domain pemerintah atau para diplomat. salah satu kesan yang mungkin muncul dibenak para pembaca adalah bahwa kegiatan diplomasi publik merupakan kegiatan yang menjadi domain pemerintah. Memperhatikan hal-hal di atas. maka diplomasi publik 2. tapi diplomasi yang benar-benar dilakukan publik untuk kepentingan dan kemaslahatan bersama bangsa dan negara. YouTube. maka blogger Indonesia juga bisa menyinggung masalah-masalah serupa. termasuk memperkenalkan negara di di forum internasional.dipandang mewakili jutaan pengguna internet yang berhasil memanfatkan piranti internet berbasis user generated content (yang dikenal sebagai Web 2. Melalui blog. Tujuannya untuk memberikan informasi dan opini langsung dari pelaku diplomasi. Melalui blog yang dinamakan Diplomatic Note. misalnya menulis masalah HAM masyarakat Aborigin di Australia. Wikipedia dan sebagainya. Selain dapat memberikan gambaran positif tentang Indonesia di dunia internasional. Kemlu RI dan sejumlah Perwakilan RI sebenarnya telah berupaya memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung kegiatan diplomasi publik. semacam story behind the scene. maka pelaksanaan kegiatan diplomasi publik pun sesungguhnya bisa dilaksanakan oleh para penggiat sosial media. lingkungan. berita ataupun opini yang dimuat di website resmi Kemlu AS. isu pekerja migran dan perdagangan karbon di Eropa serta rasialisme di Amerika. Salah satunya ditunjukkan dengan menyiapkan blog khusus untuk para diplomatnya. demokratisasi dan sebagainya. bagaimana dengan Indonesia? Meski belum sejauh Kemlu AS. HAM. Blog. terutama blogger. .0) seperti Facebook. Padahal jika melihat tujuan dari diplomasi publik itu sendiri untuk memberikan pemahaman tentang berbagai hal. para blogger dapat secara panjang lebar memberikan berbagai informasi dan membahas berbagai hal terkini tentang Indonesia misalnya. Kemlu AS memberikan kesempatan bagi para diplomatnya untuk berbagi cerita dan diskusi tentang berbagai aktifitas diplomasi yang dilakukan. untuk melakukan interaksi aktif dengan memberikan memberikan tanggapan langsung dan bahkan memproduksi informasi tersendiri. Selain membuat website Kemlu dan Perwakilan RI. apa yang dituliskan dapat juga memberikan dorongan dan semangat bagi banyak orang untuk ikut melaksanakan hal-hal positif. beberapa Perwakilan RI telah memanfaatkan Facebook dan Twitter untuk menjangkau masyarakat dimana perwakilan tersebut berada. Jika selama ini blogger asing tidak sungkan menulis isu-isu internal Indonesia seperti masalah kedaulatan. Twitter. para blogger Indonesia juga bisa melakukan ekspansi dengan menulis isu-isu internasional (jika memungkinkan dalam bahasa Inggris). Merespon perkembangan teknologi informasi dan diperkuat keinginan masyarakat untuk memperoleh informasi alternatif disamping informasi dari media mainstream.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.