P. 1
#5 Young and Restless

#5 Young and Restless

|Views: 12|Likes:
Published by PaperZine

More info:

Published by: PaperZine on Apr 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2013

pdf

text

original

Young and Restless?

T

ak ada yang lebih penting ketimbang sensasi. Tanpanya, hidup terasa hambar. Remaja tak akan mengadopsi semangat pemberontakan jika tak ada sesuatu hal yang mereka anggap sebuah „sensasi‟ didalamnya. Dunia hiburan, bukan lagi bernama „hiburan‟ jika tak ada segmen sensasi dalam tayangannya. Sensasional, adalah resep dapur redaksi wajib bagi setiap program televisi, pun ia menjadi etos kerja sebagian figur publik untuk menjadikannya roda pemutar rupiah. Karenanya, sensasi bukan lagi hal yang tabu, ia giat memproduksi ragam tata busana seperti yang banyak dibicarakan majalah remaja lewat apa yang dikenakan Lady Gaga, Marilyn Manson, Slipknot sampai jambul Syahrini. Sensasi pula yang membuat Oasis yang kadung bubar kerap dibicarakan, opini penuh sensasi dari mulut para Noel, Liam, juga sedikit Damon Albarn. Banyak orang menyukainya, banyak pula yang mencibir. Hanya saja, sensasi hanya akan berlaku dalam dunia populer, yang otomatis mengundang pandangan para mainstream untuk memberinya makna. Jika hal ini terjadi dalam kancah cutting edge, indie, underground, apapun sebutannya, ia berubah bentuk menjadi „estetika‟. Tetapi, perubahan wujud aktualisasi ini tidak sekokoh menara ideologi. Ia hanya mengganti baju, namun masih dengan ruh yang sama, sesuatu yang sensasional. Lantas, apa lagi yang diharapkan dari berbagai bentuk modifikasi citra yang terpancar lewat televisi, media cetak, dan pada praksis hari ini berupa fashion? Tak ada. Selain hanya mengobati dahaga akan passion. Selebihnya, aktualisasi diri selain dari pada kebutuhan ekonomi. Hidup kita hanya dihadapkan, lagi-lagi, pada sejejeran citra dari sang model, beragam sensasi dari gerak-gerik gambarnya, dan bermacam modifikasi sana-sini, dari mulai slogan hingga komoditi yang diperdagangkan. Sedangkan kita, dengan senang hati menerima itu semua, bak membukakan pintu gerbang alam bawah sadar kita dan memasukkannya penuh dengan corak-corak sensasi. Ya, sebatas sensasi.

Kita tak perlu lagi bekerja keras, karena dengan menjamurnya para motivator, kita dapat merasakan sensasi hidup sukses(?). Musisi tak perlu lagi pulang larut dari studio latihan demi melahirkan karya agung, lewat menumpuknya merchendise, mereka bisa terkenal dan merasakan sensasi seorang rockstar, dan tak ketinggalan, jadwal perjamuan bersama kawan di Starbucks atau Pizza Hut sudah lebih dari cukup untuk menjadikan kita kelas menengah dengan mobilitas tinggi yang super sibuk. Bahkan, berkoar tentang buruknya sistem kepemerintahan dalam sebait twit, sudah dapat menggubah sejengkal rasa manja kita menjadi sensasi memberontak, a-la ekstrimis kiri berbekal avatar seorang Che Guevara. Berbagai macam manipulasi citra menghujani hari-hari kita. Sensasi yang terus-menerus hadir dan mengkooptasi berbagai inovasi teknologi lah yang paling mengkhawatirkan, membuat konsumen tak ubahnya seekor kerbau yang dicocok hidungnya, memburu apa saja yang ditawarkan oleh sang produsen, dengan cara apapun, dengan resiko apapun, juga, dengan segudang tameng alasan yang akan beropini untuk menangkal argumen lawan dikemudian. Kami tak akan mengambil contoh untuk kasus ini, lihat saja keluar jendela kamar kalian yang nyaman itu, dan perhatikan disekeliling. Bagaimana merasakan sensasi kreatif khas kelas menengah, sensasi pebisnis yang mobile, sensasi selebtwit, sensasi intelek, dan sensasi-sensasi lain yang si produsen pasarkan. Mengapa demikian? Mengapa seolah-olah kita selalu membutuhkan perangkat-perangkat gaul sebagai medium aktualisasi diri kita? Apakah karenaya kita dapat menjadi seseorang yang utuh demi mengenali diri kita sendiri? Apakah ada motif-motif lain bagi kita untuk merasakan sensasi-sensasi tersebut? Katarsis, mungkin? Kenyataannya, atau katakanlah, jika memang kita menghendaki hidup yang demikian, maka manusia tak lain hanyalah sebuah role model yang passion-nya selalu menjadi bulan-bulanan para produsen komoditi, dari pedagang pulsa, gadget, hingga mereka para pengasong hutang.

Selling Out A Sensation
Kami sedang tidak mencoba munafik, pada kenyataannya, kami tidak butuh kaos keren dari berbagai macam band, clothing company, atau distribution outlet manapun demi hanya membuat diri kami lebih keren dari sebelumnya. Kami tidak perlu sepatu Nike, Adidas, New Balance, Vans, hingga sekaliber Fred Perry dan Doc Martens, baik palsu, kw dan „ori gan!‟ sekalipun hanya untuk memoles penampilan kami agar keren. Juga, kami tidak sepintar, sesibuk, sekreatif yang kalian kira sehingga kami harus selalu membeli handphone berlambang apple, sejamak blackberry, se-cool android, keluaran paling baru dan fresh serta rela mengantri pada tiap gerai dan pulang untuk turut serta mengagungkan benda-benda tersebut. Kami terlalu keren untuk semua urusan remeh-temeh itu. Sekali lagi, kami ter-la-lu ke-ren, untuk berbagai merek keren yang pasar tawarkan sebagai medium pendongkrak derajat ke-kerenan kami. Kami pun sadar seutuhnya. Manusia terlahir dengan keunikannya masing-masing, dan hal tersebut pula yang membuatnya berbeda antar satu sama lain. Maka, jika kita menyeragamkan penampilan (baca: mengikuti trend pasar), serta memburu sensasi-sensasi musiman serupa, lantas apa makna “manusia itu unik” tadi jika hasilnya adalah „seragam‟? Bahkan, metode move on, recovery dari galau, sudah menjadi komoditi yang laris diumbar oleh berbagai provider pulsa. Pertanyaannya, apakah mereka (provider pulsa) dapat memberi solusi dan menolong kita jika kita dilanda galau atau putus asa? Tidak. Mereka hanya memerintahkan kita agar menyisihkan uang untuk membeli produknya dan setelahnya merasakan sensasi yang bernama “sedang tidak galau” dan biasa-biasa saja. Akibatnya, kata „galau‟ hanya melulu dikedepankan pada, atau digeneralisir menjadi sebuah rasa atau efek samping dari gejolak asmara. Faktanya, Negara ini sedang kegalauan identitasnya, bukan kalian para generasi cengeng penghambur hashtag ga-fuckinglau. Adalah fatal akibatnya jika kita dimabukkan sensasi. Sudah mabuk, hanya sensasi pula. Tidak nyata, tidak kasat, hanya berupa visualisasi emosi artifisial. Maknanya, dalam kerangka zaman hari ini, adalah sangat egois jika kita masih berkata, “kami baik-baik saja”. Efek samping paling mujarab dari sensasi hidup itu sendiri yang berupa, “tidak ada yang salah dengan dunia”, telah membawa kita menuju ruang peraduan lebih cepat, membaringkan nalar serta nurani yang terkantuk dan akhirnya terlelap. Karenanya, kita buta, emosi-emosi artifisial yang merupakan implikasi sensasi, telah membawa jauh diri kita untuk tidak mengenali lagi siapa kita, siapa saya, siapa kamu, siapa dia, tanpa melekatkan sengkarut identitas-identitas tadi dengan komoditi yang dikonsumsinya, pula benda-benda yang dikenakannya. Kita menjadi tergantung pada benda-benda yang dapat menghasilkan sensasi, kita menjadi lebih konsumtif dari sebelumnya, karena keinginan akan sebuah fashion lambat-laun berubah menjadi kebutuhan akan fashion, tanpa fashion, kita ragu menilai diri kita seperti apa. Apakah modis, atau ga keren. Sebagai contoh, iPhone yang terus-menerus mengeluarkan produk teranyarnya, dan saya yakin diantara kalian ada yang memilikinya, atau jika belum, mungkin tengah menabung atau berhasrat memilikinya jika ada uang cukup. Lantas, hal apa yang menggerakkan kita untuk mengantri berlama-lama di depan toko / suplier mereka dikemudian? Padahal kita tidak benar-benar tahu inovasi apa yang mereka sodori, manfaat macam apa yang mereka iklankan, dan kelebihan apa yang membuatnya begitu mewah. Bukan. Kami pikir, bukan letak teknologi yang diusung oleh Apple disini, melainkan keinginan dari setiap calon konsumen untuk menggenggam serta menikmati sebuah sensasi memiliki barang mewah dan menggunakan barang yang berkualitas. Sensasional, dan kami telah pukul rata terhadap kasus sensasional lain yang serupa, Goddamn Nike. Maka, begitu lugu (bodoh?) nya kita, sehingga harus merogoh kocek dalam-dalam demi hanya sebuah sensasi yang demikian, membeli dan memboyong serta mimpi-mimpi yang tercipta berkat kehadiran barang yang tidak perlu. Sungguh polos. Berkat hadirnya virus sensasi tersebut, kita patut berterimakasih pada merek-merek produk yang selalu disinari cahaya agung lampu neon dalam etalase. Menjadikan struktur kepercayaan publik terhadap kualitas suatu barang, beralih menjadi kepercayaan terhadap sebuah merek dan ide fatamorgana tentang kualitas barangnya yang tercitrakan dan tervisualisasi pada merek. Dari sini, slogan paling populer para Cartesian yang berupa, “Cogito Ergo Sum” berubah menjadi, ‘I Shop, therefore I Am’ dan jika kita alih bahasakan kira-kira menjadi seperti: ‘Aku Trendi, Maka Aku Eksis’. Semudah itu, semudah usaha kalian untuk menjadi modis. Kami kira, penjabaran yang berbusa tentang sengkarut Kapitalisme Sensasional diatas tadi telah menggiring opini tentang pola terselubung manusia untuk mengaktualisasikan dirinya melalui medium uang yang dipertukarkannya dengan barang. Barang menjadi identitas seseorang, bukan lagi karya manusia yang dijadikan nilai eksistensial. Yang dimana berdasar pada asas sensasi yang dieratkan pada berbagai komoditi oleh kapitalisme tadi, berhasil meneguhkan pendapat Roland Barthes hampir se-abad silam, „what the public wants is the image of passion, not passion itself.‟ Maka sudah jelas, manusia semakin kebingungan dan kehilangan sebuah rasa yang begitu personal akan kepastian hidup. Semakin kita tak tahu benar tujuan hidup kita untuk apa, semakin kita tercerabut dari akar personal akan kelayakan kepastian hidup. Maka, kita selalu menutup-nutupi rasa kekurangpastian tersebut dengan menghamba pada agen-agen asuransi, demi membeli sebuah sensasi kepastian hidup pada beragamnya komodifikasi sensasional. Juga, tak henti-hentinya membeli. Bukanlah berlebihan jika kami berpendapat bahwa kapitalisme hari ini bukan lagi kapitalisme asas guna suatu barang seperti apa yang ditekankan Marx dahulu. Dengan merangseknya berbagai imaji akan kesuksesan, high brow atau socialite, kejantanan, keceriaan, kecantikkan, ke-cool-an(!), hingga ke-ibu-an dari berbagai komoditi yang ditawarkan secara persuasif, pola perdagangan ini persis seperti apa yang dikatakan bung Hizkia Yosie Polimpung, Peneliti dan Manajer Program di PACIVIS Center for Global Civil Society Studies, FISIP UI, dalam seminar akhir tahun di Universitas Al-Azhar, „Today‟s Crises: Are We Really Living in A Beautiful Li(f)e?‟, dimana kapitalisme hari ini tengah ajeg bertumpu pada komodifikasi sensasi dan merepresentasikannya pada komoditas yang diproduksinya. Sebuah Kapitalisme berbasis image yang direpresentasikan pada merek dagang, sebuah Kapitalisme Sensasional!

The Several Messages
Kenyataan begitu banal. Tak bisa dipungkiri bahwa hadirnya komoditi yang berbasis pada sensasi pun menjadi sarana pendulang rupiah, juga tickle down effect dari kapitalisme itu sendiri. Sesungguhnya, kami bersikukuh menolak teori „kekayaan kelas menengah yang menetes ke masyarakat dibawahnya‟, namun fakta ternyata berbicara lebih keras dari kehendak hati kami. Tetapi, memang seperti inilah keadaannya, dan jika kalian masih sulit percaya, lantas apa pula maksud “Bikin Hidup, Lebih Hidup!”? Lantas apa pula maksud berbagai propaganda hidup sukses a-la motivator-motivator kondang itu? Dimana sebenarnya letak nilai-nilai personal hidup kita jika hanya tujuan hidup kita melulu mencari dan melipatgandakan uang serta kekayaan? Oh ya, mungkin seperti apa kata motivatormotivator itu, menjadi sukses untuk kemudian dapat mempekerjakan manusia-manusia lain dibawah kendalinya untuk, ya menjadi sukses. Nah, jika kalian sepakat, maka hidup ini tak ubah layaknya pertukaran nilai-nilai personal diri kita dengan hasrat materi duniawi di tengah penatnya pasar tenggiri nan bau amis. Semakin buas hari ke hari, dan telah juga sukses men-genaralisir frasa „sukses‟ kedalam padanan materi, uang, kaya, dan hidup serba berkecukupan. Berterimakasihlah pada kapitalisme, berterimakasihlah pada selembar nilai uang yang diciptanya. Dan dimana hari ini, alat tukar bernilai rupiah itu telah mengambil paksa peran paling penting dari kita umat manusia dan kemudian menyenggamakannya dengan hanya melulu pada tujuan kebutuhan ekonomi. Tanpa merasa pernah cukup. Agenda ekonomi inilah yang berhasil di desain oleh kapitalisme, bentukbentuk kehidupan baru bermunculan dimana nyawa secara otomatis terhisap kedalam kotak imaji karena memang kehidupan tersebut tidaklah real alias nyata. Maka, setelah Kapitalisme Sensasional laris, ia pun menjadikan ekonomi bukan lagi hanya berupa kebutuhan untuk konsumsi, dalam artian makro dan mikro sekalipun, melainkan ia utuh sebagai bentuk kehidupan terbarukan. Lantas, pemaknaan akan hidup tergerus, religi atau filsafat manapun sepertinya sulit merubuhkan desain hidup terbarukan ini, dimana perut yang lapar tetaplah perut yang lapar, tak peduli ia seorang priyayi atau sekelas algojo sekalipun, karena memang desain hidup kapitalisme memaksa kita untuk selalu tunduk dan berkedudukan sama dihadapan uang. Menjadikannya hidup sebagai sumber yang sekaligus sebagai sasaran telak berbagai komodifikasi dari berbagai komoditas. Maka, setelah berkurusetra berkubang peluh keringat, toh akhirnya kita tidak beranjak lebih jauh dari hanya sejengkal laju semut hitam. Kita stagnan, generasi mandek inovasi, miskin sumbangsih, nihil makna dalam setiap aksi, akut dan larut dalam dekadensi multidimensi. Boros. Pula sama halnya dengan secarik kertas butut yang engkau genggam saat ini, bahkan masih lebih berestetika lembaran pamflet yang kau temui kala beribadah shalat Jumat, ketimbang sebuah pamflet mirip pergerakan progresif. Apapun itu, realita tengah menggaung dengan volume berkadar mentok, memekakkan telinga, bagi mereka yang mempunyai telinga untuk mendengar, membuat jantung berdebar, bagi mereka yang mempunyai rasa. Sisanya, hanya berupa sensasi bagi masyarakat multi majemuk Indonesia hari ini. Dan secarik kertas ini, sedang mencoba merekamnya, tak lebih. Namun, adakala peradaban menjadi segelap kediaman smeagol dan koloni uruk hai yang menjelma manusia dengan berdasi atau bersorban. Tetapi, kami yang menolak untuk menjadi bagian dari para zombie penghisap darah, semakin kalah jumlah. Adakala kami harus bersembunyi demi berunding memutar otak untuk sebuah taktik perjuangan esok hari, tak jarang gagal dan tersungkur, bahkan tak sedikit beberapa kawan yang tersihir cahaya-cahaya neon, merubahnya menjadi zombie, sekawanan uruk hai yang haus darah. Sudah jelas kami tidak rela, bahkan kami begitu tidak rela bumi yang kami cintai ini sarat akan kegelapan, kebodohan, keserakahan, dan ketidaksadaran dari para penghuninya yang kelak menjerumuskan kawan-kawan sekalian kedalam liang sengsara. Kami pun tidak rela kalian menjadi bagian dari koloni-koloni tersebut, karena kalian memang terlalu berharga untuk hanya menjadi konsumen ultra konsumtif nan bodoh. Kami enggan hal itu terjadi, jika memang harus terjadi. Kami menolak apa kata nasib jika hal demikian merenggut nyawa kawan-kawan sekalian. Tetapi, kami bukan makhluk yang perlu dikasihani. Kami tak semelankoli para penggalau, walau kadar galau sudah ultra maksimum. Kami mempunyai harapan, dan harapan itu adalah senjata yang menjadikan sepenggal hidup ini begitu patut diperjuangkan. Ya, bersama kalian, bersama kawan-kawan lainnya. Untuk kemudian membangun kehidupan dari mulai ia kecil mungil seperti kala kita menyongsong sebuah pagi yang benderang, langit biru yang cerah dengan arak-arak kepulan awan putih yang indah, anak-anak kecil dengan riangnya bermain di tanah yang lapang, yang seperti surga, lengkap dengan taman firdaus hijaunya. Dan, tentunya bersama kalian.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->