PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GASING BERBANTUKAN ANIMASI TERHADAP PENCAPAIAN KOMPETENSI DASAR SISWA PADA POKOK BAHASAN IMPULS

DAN MOMENTUM DI KELAS XI SMAN 7 PADANG

SKRIPSI

untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar sarjana pendidikan

Oleh ESTUHONO NIM 01938

JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2011

PERSETUJUAN SKRIPSI

SURAT PERNYATAAN

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri. Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau diterbitkan orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang lazim.

Padang, 5 Januari 2012 Yang menyatakan,

Estuhono

ABSTRAK Estuhono: Pengaruh Strategi Pembelajaran Gasing Berbantukan Animasi Terhadap Pencapaian Kompetensi Dasar Siswa Pada Pokok Bahasan Impuls dan Momentum di Kelas XI SMAN 7 Padang

Pencapaian kompetensi dasar bidang Fisika menunjukkan hasil yang belum optimal. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurang efektifnya strategi pembelajaran yang digunakan guru dalam proses pembelajaran. Pembelajaran Fisika harus dilaksanakan dalam suasana belajar yang menyenangkan agar dapat memotivasi dan mendorong keaktifan belajar siswa sehingga pencapaian kompetensi belajar Fisika siswa dapat ditingkatkan. Strategi pembelajaran Gasing merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dipandang efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan strategi pembelajaran Gasing berbantukan animasi terhadap pencapaian kompetensi dasar Fisika siswa kelas XI SMA Negeri 7 Padang pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (Quasi Experimental Research) dengan rancangan penelitian berupa Randomized Control Group Only Design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa pada kelas XI di SMA Negeri 7 Padang yang terdaftar pada tahun ajaran 2011/2012 kecuali kelas XI IPA1 dan kelas XI IPA2 yang merupakan kelas unggul. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik Cluster Random Sampling. Sampel penelitian yang digunakan adalah kelas XI IPA5 yang terdiri atas 38 siswa dan kelas XI IPA6 yang terdiri atas 37 siswa. Teknik pengumpulan data melalui tes tertulis hasil belajar untuk ranah kognitif, pengamatan/observasi untuk ranah afektif, pengamatan kerja kelompok, dan tes unjuk kerja untuk ranah psikomotor. Teknik analisis data penelitian adalah uji hipotesis melalui uji t pada taraf nyata 0,05 untuk ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis kerja yang berbunyi ” terdapat pengaruh yang berarti penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi terhadap pencapaian kompetensi dasar Fisika siswa kelas XI SMAN 7 Padang pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor secara kuantitatif” dapat diterima pada taraf nyata 0,05. Dengan demikian, strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi dapat meningkatkan hasil belajar Fisika siswa pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

i

Estuhono:

The Effect of Gasing Based Animation Strategy on Students’ Achievement of Impuls and Momentum Material at XI Grade of SMAN 7 Padang

ABSTRACT The achievement of basic competence of physics indicates of the result that hasn’t been optimal. One of contributing factor is lack of the effectiveness of learning strategy that use by the teacher in learning process. Physics learning has to be implemented in comfortable atmosphere to motivate and encourage the learning effectiveness of the students so that the students’ physics learning competence achievement can be increased. Gasing learning strategy is one of learning strategy that show effectiveness to overcome it’s problems. The research was done by aiming to know the influences of the implementing of gasing learning strategy based animation against basic competence achievement of physics for XI SMAN 7 students’ Padang on cognitive, affective, and psychomotor. The type of this research is quasi experimental named randomized control group only design. The population in this research is all students in class XI level of SMAN 7 Padang listed at 2011/2012 periode except class XI IPA1 and class XI IPA2, they are favourite class. Sampling technique was used is cluster random sampling technique. Research sample used is class XI IPA5 which consist of 38 students and class XI IPA6 which consist of 37 students. The data gathering technique through a written test for cognitive learning outcomes, observation for affective realm, observations of group work, and performance tests for psychomotor domains. Analysis technique of research data is hypothesis testing through t test on the real level of 0.05 for the cognitive, affective, and psychomotor. The result of this research shows the hypothesis, it says “there is profound influences in implementing of gasing learning strategy based animation against students’ basic competence achievement in learning physics at XI grade SMAN 7 Padang for cognitive, affective, and phychomotor quantitative” can be received on the real level of 0,05. Finally, gasing learning strategy based animation can increase physics learning result of the students of cognitive, affective, and phychomotor.

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita aturkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karuniaNya sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan skripsi dengan judul “Implementasi Strategi Pembelajaran Gasing Berbantukan Animasi Terhadap Pencapaian Kompetensi Dasar Siswa Pada Pokok Bahasan Impuls dan Momentum di Kelas XI SMAN 7 Padang”. Skripsi merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Jurusan Fisika FMIPA UNP. Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dibantu dan dibimbing oleh berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Drs. Akmam, M.Si, sebagai Ketua Jurusan Fisika FMIPA UNP sekaligus dosen Pembimbing I skripsi yang telah membimbing dan memotivasi penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 2. Bapak Dr.Hamdi, M.Si, sebagai Penasehat Akademis sekaligus dosen pembimbing II skripsi yang telah membimbing dan memotivasi penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 3. Bapak Drs. Asrul, M.A, dan Dr. Ahmad Fauzi, M.Si, sebagai dosen penguji. 4. Ibu Dra. Yurnetti, M.Pd, sebagai Sekretaris Jurusan Fisika FMIPA UNP sekaligus dosen penguji. 5. Bapak dan Ibu Staf Pengajar Jurusan Fisika FMIPA UNP. 6. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini Semoga bantuan dan bimbingan yang telah diberikan menjadi amal shaleh bagi Bapak dan Ibu serta mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT.

iii

Penulis menyadari bahwa

skripsi ini masih terdapat kekurangan dan

kelemahan. Untuk itu penulis mengharapkan saran untuk menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca. Padang, Desember 2011

Penulis

iv

DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK .........................................................................................................i KATA PENGANTAR .....................................................................................ii DAFTAR ISI ...................................................................................................iv DAFTAR TABEL...........................................................................................vi DAFTAR GRAFIK .......................................................................................vii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................viii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...............................................................................1 B. Identifikasi Masalah.......................................................................5 C. Pembatasan Masalah......................................................................5 D. Rumusan Masalah .........................................................................6 E. Asumsi Dasar..................................................................................6 F. Tujuan Penelitian ..........................................................................6 G. Manfaat Penelitian.........................................................................6 H. Definisi Istilah.................................................................................7 BAB II KAJIAN TEORITIS A. Karakteristik Pembelajaran Fisika..............................................8 B. Strategi Pembelajaran Gasing.....................................................10 C. Media Pembelajaran Animasi…………………………………14 D. Motivasi Belajar Siswa.................................................................15 E. Kompetensi Siswa........................................................................16 F. Penelitian yang Relevan………………………………………...19 G. Kerangka Berfikir……………………………………………...19 H. Hipotesis Penelitian......................................................................20

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ............................................................................ 21 B. Rancangan Penelitian…………………………………………...21

v

C. Populasi dan Sampel ................................................................... 22 D. Variabel dan Data ....................................................................... 23 E. Prosedur Penelitian ..................................................................... 24 F. Teknik Pengumpulan Data………….………………………….29 G. Instrumen Penelitian ................................................................... 29 H. Teknik Analisis Data ................................................................... 34 BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data ............................................................................. 41 1. Ranah Kognitif ...................................................................... 41 2. Ranah Afektif ........................................................................ 42 3. Ranah Psikomotor ................................................................. 43 B. Analisis Data ................................................................................ 44 1. Ranah Kognitif ...................................................................... 44 2. Ranah Afektif ........................................................................ 47 3. Ranah Psikomotor ................................................................. 49 C. Pembahasan ................................................................................. 52 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan .................................................................................. 63 B. Saran ............................................................................................ 63 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 65 LAMPIRAN

vi

DAFTAR TABEL

Tabel : I.1

Halaman

Nilai Rata-Rata UAS Siswa Kelas X Semester 1 SMAN 7 Padang Tahun 2010/2011………………………………………………………....2 I.2 Nilai Rata-Rata Hasil UAN SMP Mata Pelajaran Fisika Tahun 2010…………………………………………………………….....3 II.1 Langkah-langkah dalam Strategi Pembelajaran Gasing………………...13 III.1 Rancangan Penelitian...............................................................................21 III.2 Skenario Pembelajaran pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol.....................................................................................25 III.3 Klasifikasi Tingkat Kesukaran Soal.........................................................30 III.4 Klasifikasi Indeks Daya Beda Soal...........................................................31 III.5 Klasifikasi Indeks Riliabilitas soal...........................................................33 III.6 Klasifikasi Penilaian Aspek Afektif Siswa...............................................33 IV.1 Nilai rata-rata, Nilai Tertinggi,Nilai Terendah, simpangan Baku, dan Vaians Kelas Sampel Pada Ranah Kognitif .....................................41 IV.2 Nilai rata-rata, Nilai Tertinggi,Nilai Terendah, simpangan Baku, dan Vaians Kelas Sampel Pada Ranah Afektif. .....................................43 IV.3 Nilai rata-rata, Nilai tertinggi, Nilai Terendah,Simpangan Baku, dan Varians Kelas Sampel Pada Ranah Psikomotorik.............................43 IV.4 Hasil Uji Normalitas Tes Akhir Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol pada Ranah Kognitif..........................................................44 IV.5 Hasil Uji Homogenitas Kedua Kelas Sampel Ranah Kognitif ................45 IV.6 Hasil Uji t Ranah Kognitif........................................................................46 IV.7 Hasil Uji Normalitas Tes Akhir Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol pada Ranah Afektif...........................................................47 IV.8 Hasil Uji Homogenitas Kedua Kelas Sampel Ranah Afektif.. ...............48 IV.9 Hasil Uji t Ranah Afektif.........................................................................48 IV.10 Hasil Uji Normalitas Tes Akhir Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol pada Ranah Psikomotorik.................................................50 IV.11Hasil Uji Homogenitas Kedua Kelas Sampel Ranah Psikomotorik ........51 IV.12 Hasil Uji t Ranah Psikomotorik................................................................51 IV.13 Pencapaian Kompetensi Kedua Kelas Sampel Pada Tiga Ranah Penilaian................................................................................61

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar : II.1 IV.1 IV.1 IV.8 IV.9

Halaman

Kerangka Berfikir..................................................................................... 20 Kurva Penerimaan Hipotesis Alternatif Ranah Kognitif..........................46 Kurva Penerimaan Hipotesis Alternatif Ranah Afektif............................49 Kurva Penerimaan Hipotesis Alternatif Ranah Psikomotorik...................52 Hubungan antara Pembelajaran Gasing Berbantukan Animasi dengan Tiga Ranah Kompetensi................................................58

viii

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran : I. II. III. IV. V. VI. VII. VIII. IX. X. XI. XII. XIII. XIV. Halaman 66 68 70 71 72 109 113 116 117 118 120 126 127 131 132 137 138 140 142 143 144 145 146 147 150 151 152 153 154 156 157 158 159 160 162 163

Uji normalitaS sampel I Kelas XI IPA6 ........................................ Uji normalitaS sampel II Kelas XI IPA5...................................... Uji homogenitas varians kelas sampel ......................................... Uji kesamaan dua rata-rata kedua kelas sampel............................ Rencana Pelaksanaan pembelajaran.............................................. Lembar Diskusi Siswa…………………………………............... Lembar Kerja Siswa...................................................................... Format Penilaian Aspek Afektif.................................................... Format Penilaian Aspek Psikomotorik.......................................... Kisi- kisi soal uji coba................................................................... Soal uji coba…………………………………………….............. Kunci jawaban soal uji coba.......................................................... Riliabilitas soal ujo coba............................................................... Hasil perhitungan indeks kesukaran dan daya beda soal................................................................................................. XV. Soal tes akhir................................................................................. XVI. Kunci jawaban soal tes akhir......................................................... XVII. Uji normalitas aspek afektif kelas eksperimen ............................. XVIII. Uji normalitas aspek afektif kelas kontrol .................................... XIX. Uji homogenitas aspek afektif kelas sampel................................. XX. Uji hipotesis aspek afektif kelas sampel........................................ XXI. Daftar nilai aspek afektif kelas eksperimen.................................. XXII. Daftar nilai afektif kelas kontrol................................................... XXIII. Uji normalitas aspek psikomotorikkelas eksperimen ................... XXIV. Uji normalitas aspek psikomotorik kelas kontrol ........................ XXV. Uji homogenitas aspek psikomotorik kelas sampel...................... XXVI. Uji hipotesis aspek psikomotorik kelas sampel............................. XXVII. Nilai aspek psikomotorik kelas eksperimen ................................ XXVIII. Nilai aspek psikomotorik kelas kontrol ...................................... XXIX. Uji normalitas aspek kognitif kelas eksperimen ........................... XXX. Uji normalitas aspek kognitif kelas kontrol ................................ XXXI. Uji homogenitas aspek kognitif kelas sampel............................... XXXII Uji hipotesis aspek kognitif kelas sampel..................................... XXXIII Tabel distribusi Lilifors ............................................................... XXXIV Tabel distribusi F ......................................................................... XXXV Tabel distribusi t .......................................................................... XXXVI Tabel distrbusi Z............................................................................

ix

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu jenis pendidikan yang membahas tentang fenomena alam secara sistematis. Salah satu jenis pendidikan IPA yang sangat diperlukan dalam perkembangan abad pengetahuan dan teknologi adalah ilmu Fisika. Fisika sebagai salah satu cabang sains sangat mempunyai kontribusi yang dominan dalam kemajuan IPTEK. Aplikasi Fisika dapat menjelaskan tentang fenomena alam yang terjadi serta mendorong penciptaan

berbagai teknologi mutakhir. Siswa di dalam proses pembelajaran Fisika dituntun agar bertindak atas dasar pemikiran analitis, logis, rasional, cermat dan sistematis. Menyadari betapa pentingnya peranan Fisika dalam menjawab persoalan tantangan global dan kemajuan IPTEK, dituntut perubahan ke arah yang lebih baik pada pembelajaran Fisika dengan berbagai variasi strategi dan metode pembelajaran yang efektif. Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran fisika. Usaha yang telah dilakukan antara lain: meningkatkan kualitas guru melalui penataran, mengoptimalkan pembelajaran di kelas dengan menyediakan fasilitas pendukung pendidik seperti pengadaan bahan ajar,

pembenahan perangkat pembelajaran serta pembenahan sarana dan prasarana. Tidak hanya itu, pemerintah juga telah berusaha menyempurnakan kurikulum pendidikan.
1

2

Penyempurnaan kurikulum telah dilakukan mulai dari kurikulum 1994, KBK sampai pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menuntut pembelajaran tuntas (mastery learning) dengan mengacu kepada Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, namun pencapaian hasil belajar Fisika di SMA masih belum optimal. Hal ini dapat diketahui berdasarkan hasil Ujian Akhir Sekolah (UAS) siswa kelas X SMAN 7 Padang semester I tahun 2010/2011 yang secara umum masih kurang dari KKM mata pelajarannya yaitu 75. Tabel I.1 Nilai Rata-Rata Ujian Akhir Semester (UAS) Siswa Kelas X Semester I SMAN 7 Padang Tahun 2010/2011. NO KELAS Rata-rata Nilai UAS Fisika Nilai Tertinggi Nilai Terendah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 63 ,15 62,32 51,79 55,75 55,76 61,86 50,01 53,43 54,71 49,55 88 86 81 85 80 82 82 80 74 75 56 54 42 48 61 52 45 40 52 41

Sumber : Tata Usaha SMAN 7 Padang Tabel I.1 menunjukkan bahwa nilai rata-rata UAS Fisika di kelas X semester I tahun 2010/2011 SMAN 7 Padang relatif masih rendah. Hal ini tentunya tidak relevan dengan nilai rata- rata UAN SMP mata pelajaran IPA yang termasuk di dalamnya

3

pelajaran Fisika sebagai input bagi SMAN 7 Padang. Nilai rata-rata UAN SMP untuk mata pelajaran IPA yang dicapai siswa pada saat masuk SMAN 7 Padang dapat dilihat pada Tabel I.2. Tabel I.2 Nilai Rata-rata hasil UAN SMP mata pelajaran IPA SMAN 7 Padang Tahun 2010/2011 KELAS Rata-rata Nilai UAN IPA Nilai Tertinggi Nilai Terendah NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 75,23 74,36 72,56 69,65 71,23 69,76 70,24 71,32 68,12 69,14 84 82 84 78 82 78 82 80 78 80 72 70 66 68 72 64 68 74 64 66

Sumber : Tata Usaha SMAN 7 Padang Berdasarkan perbandingan Tabel I.1 nilai rata-rata ujian Akhir Sekolah (UAS) Fisika siswa kelas X semester 1 SMAN 7 Padang tahun 2010/2011 dengan Tabel I.2 nilai rata-rata hasil UAN SMP mata pelajaran IPA yang termasuk didalamnya pelajaran Fisika diketahui terjadi penurunan pencapaian kompetensi dasar khususnya Fisika di SMAN 7 Padang. Hal ini diperkirakan adanya proses pembelajaran yang kurang menumbuhkan motivasi belajar siswa sehingga berakibat pada rendahnya pencapaian kompetensi siswa.

4

Rendahnya pencapaian kompetensi dasar siswa erat kaitannya dengan motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Sardiman (2001: 73) yang menyatakan bahwa ”salah satu penyebab rendahnya pencapaian kompetensi dasar adalah guru tidak berhasil dalam membangkitkan motivasi siswa untuk belajar”. Oleh karena itu, pembelajaran hendaknya mengupayakan dan mengkondisikan agar dalam diri siswa tumbuh motivasi yang tinggi untuk terus belajar. Mengingat permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran Fisika di atas, perlu adanya suatu strategi pembelajaran yang secara efektif mampu menanggulangi permasalahan tersebut. Strategi pembelajaran yang diterapkan hendaknya mampu menumbuhkan motivasi siswa dalam setiap aktivitas pembelajaran. Untuk mewujudkan hal tersebut guru dapat menerapkan berbagai strategi pembelajaran seperti: strategi pembelajaran ekspositori, strategi pembelajaran kooperatif dan strategi pembelajaran gasing (gampang asyik dan menyenangkan). Strategi pembelajaran gasing merupakan strategi pembelajaran gampang, asyik dan menyenangkan. Strategi pembelajaran ini merupakan terobosan reformasi dalam proses pembelajaran. Menurut Surya (2008), “pembelajaran gasing membelajarkan bagaimana memahami suatu konsep melalui pendekatan logika berdasarkan konsep fisis dan tidak menonjolkan rumus-rumus”. Strategi pembelajaran gasing

menggunakan animasi sehingga guru tidak lagi menonjolkan rumus-rumus yang membuat siswa jenuh. Animasi yang ditampilkan tentunya akan menstimulus motivasi belajar siswa sehingga mampu meningkatkan kompetensi pada diri siswa.

5

Berdasarkan uraian di atas

peneliti merasa perlu melakukan penelitian

dengan judul “Implementasi Strategi Pembelajaran Gasing Berbantukan Animasi Terhadap Pencapaian Kompetensi Dasar Siswa Pada Pokok Bahasan Impuls dan Momentum di Kelas XI SMAN 7 Padang”. B. Identintifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut: 1. Proses pembelajaran kurang menumbuhkan motivasi belajar siswa. 2. Pemahaman konsep masih rendah karena tidak dibiasakan mengkonstruksikan pengetahuannya. 3. Aktivitas siswa dalam pembelajaran Fisika masih rendah. 4. Pencapaian kompetensi siswa masih rendah. C. Pembatasan Masalah Agar penelitian ini lebih terarah dan terkontrol, batasan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Materi yang dibahas dalam pembelajaran sesuai dengan materi Fisika yang tercantum dalam silabus KTSP SMAN 7 Padang kelas XI semester I pada pokok bahasan Impuls dan Momentum . 2. Strategi pembelajaran yang diterapkan untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar adalah strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi.

6

D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini, yaitu : “Apakah penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi dapat meningkatkan kompetensi dasar siswa pada pokok bahasan impuls dan

momentum di kelas XI SMAN 7 Padang ?”. E. Asumsi Dasar Adapun asumsi dasar penelitian ini adalah: 1. Guru mampu melaksanakan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi. 2. Setiap siswa memiliki kesempatan yang sama dalam pembelajaran. 3. Setiap siswa mempunyai aktivitas yang berbeda-beda dalam pembelajaran Fisika. 4. Pencapaian kompetensi siswa menggambarkan pengetahuan Fisika yang dimiliki siswa. F. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi terhadap pencapaian kompetensi dasar siswa pada pokok bahasan impuls dan momentum di kelas XI SMAN 7 Padang G. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk : 1. Dapat dijadikan pengalaman dan bekal ilmu pengetahuan bagi peneliti dalam pembelajaran Fisika di masa mendatang. 2. Masukan bagi guru-guru Fisika dalam memilih dan menentukan model pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kompetensi dasar siswa.

7

3. Masukan untuk peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian ini di masa mendatang. 4. Salah satu syarat menyelesaikan studi kependidikan Fisika di Jurusan Fisika FMIPA UNP. H. Definisi Istilah Adapun beberapa definisi istilah yang terkait dalam penelitian ini adalah: 1. Strategi pembelajaran merupakan perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. 2. Gasing adalah akronim dari gampang asyik dan menyenangkan. 3. Animasi merupakan media yang mampu merekam dan memainkan kembali serangkaian gambar statis untuk mendapatkan sebuah ilusi pergerakan. 4. Kompetensi dasar adalah kemampuan minimal yang harus dimiliki peserta didik dalam rangka menguasai standar kompetensi mata pelajaran tertentu. 5. Impuls adalah perubahan momentum yang disebabkan oleh gaya impulsif yang bekerja pada suatu benda dan termasuk dalam besaran vektor. 6. Momentum adalah ukuran kelembaman suatu benda dan termasuk dalam besaran vektor.

8

BAB II KAJIAN TEORITIS

A. Karakteristik Pembelajaran Fisika Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, metode dan evaluasi. Menurut Rusman (201: 116), ”pembelajaran merupakan suatu proses mengintegrasikan berbagai komponen dan kegiatan, yaitu siswa dan lingkungan belajar untuk memperoleh perubahan tingkah laku (hasil belajar) sesuai dengan tujuan yang diharapkan”. Sejalan dengan pendapat tersebut, Mulyasa (2009: 255) menyatakan bahwa ”pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik”. Pelaksanaan proses pembelajaran dalam rangka pencapaian kompetensi peserta didik diperlukan berbagai metode dan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran (Depdiknas, 2010: 43). Jadi, pembelajaran pada hakekatnya adalah kegiatan yang dirancang untuk mengintegrasikan berbagai komponen dan kegiatan sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran dalam suatu proses yang sistematis. Fisika merupakan salah satu cabang IPA yang mendasari perkembangan teknologi dan konsep hidup harmonis dengan alam. Sebagai ilmu yang mempelajari fenomena alam, Fisika memberikan pelajaran yang baik kepada manusia untuk hidup selaras berdasarkan hukum alam. Depdiknas (2006: 443) menyatakan bahwa Fisika
8

9

berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis, sehingga Fisika bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa faktafakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Fisika diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran Fisika mengupayakan pemahaman konsep secara komprehensif melalui kegiatan pembelajaran yang mudah dipahami, asyik dan menyenangkan. Menurut BSNP (2010: 6), kegiatan pembelajaran mata pelajaran Fisika dilakukan melalui kegiatan keterampilan proses meliputi eksplorasi (mencari informasi secara luas melalui berbagai sumber), elaborasi (menggali informasi secara lebih mendalam) serta konfirmasi (memberikan umpan balik dan penguatan). Setiap kegiatan pembelajaran bertujuan untuk mencapai kompetensi dasar yang dijabarkan dalam indikator dengan intensitas pencapaian kompetensi yang beragam. Sehubungan dengan kegiatan pembelajaran yang tertuang dalam (Depdiknas, 2010: 16), kegiatan eksplorasi dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan tuntutan kompetensi dasar. Kegiatan elaborasi dilakukan untuk memberikan kesempatan peserta didik dalam

memunculkan gagasan baru dalam pengusaan konsep maupun prinsip. Sementara itu, kegiatan konfirmasi dilakukan untuk memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan maupun tulisan serta refleksi terhadap pengalaman belajar yang telah dilakukan.

10

Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas, dapat diketahui bahwa pembelajaran Fisika memiliki karakteristik yang menuntut penguasaan konsep secara komprehensif melalui berbagi aktivitas ilmiah. Selain itu, proses pembelajaran Fisika juga menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. B. Strategi Pembelajaran Gasing (Gampang asyik dan menyenangkan). Strategi pembelajaran merupakan cara pandang, pola berpikir dan arah berbuat yang diambil guru dalam memilih metode pembelajaran yang memungkinkan efektifnya pembelajaran. Strategi pembelajaran terkait dengan bagaimana materi disiapkan, metode yang terbaik dalam pembelajaran dipilih dan bentuk evaluasi yang tepat untuk mendapatkan umpan balik dalam pembelajaran. Menurut Sanjaya (2006: 126), ”strategi pembelajaran merupakan perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Strategi pembelajaran merupakan cara pengorganisasian isi pelajaran, penyampaian pelajaran dan pengelolaan kegiatan belajar dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang dapat dilakukan guru untuk mendukung terciptanya efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran (Darmansyah, 2010: 17). Berdasarkan pendapat tersebut diketahui bahwa ada dua hal yang perlu kita cermati dalam strategi pembelajaran. Pertama, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Kedua, strategi pembelajaran merupakan cara pengorganisasian (rencana kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber belajar untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

11

Motivasi belajar siswa dapat ditumbuhkan dengan mengembangkan strategi pembelajaran yang gampang asyik dan menyenangkan. Strategi pembelajaran gampang asyik dan menyenangkan merupakan bagian dari pembelajaran PAKEM. Menurut Rusman (2011: 321), “PAKEM merupakan konsep pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning) dan pembelajaran harus bersifat menyenangkan (learning is fun), agar siswa termotivasi untuk terus belajar dan merasa tidak terbebani”. Sehubungan dengan strategi pembelajaran yang

menyenangkan, Darmansyah (2010: 21) menyatakan bahwa ”strategi pembelajaran menyenangkan adalah pola berpikir dan arah berbuat yang diambil guru dalam memilih dan menerapkan cara-cara penyampaian materi sehingga mudah dipahami siswa dan memungkinkan tercapaianya suasana pembelajaran yang tidak

membosankan”. Terkait dengan pembelajaran menyenangkan, Surya (1996) telah menciptakan dan mengembangkan pembelajaran Fisika gasing (gampang asyik dan menyenangkan). Pembelajaran Fisika gasing merupakan terobosan reformasi dalam pembelajaran Fisika. Strategi ini membelajarkan bagaimana memahami konsep-

konsep Fisika dengan pendekatan logika berdasarkan konsep fisis dan tidak menonjolkan rumus-rumus matamatis. Untuk membuat pembelajaran Fisika itu gampang asyik dan menyenangkan (gasing), secara umum, Surya (2008) mengungkapkan beberapa hal yang diperhatikan : 1. Menghindari matematika yang sulit dengan mencari solusi alternatif perlu

menggunakan matematika lebih sederhana.

12

2. Memanfaatkan pengertian konsep Fisika yang benar dan lebih menekankan pada logika dibandingkan dengan menggunakan rumus-rumus. 3. Menggunakan angka-angka yang mudah dan bulat seperti 1, 2, atau 10 ketika sedang membelajarkan konsep melalui berbagai contoh soal. 4. Memperbanyak dialog langsung dengan siswa terutama tentang konsep-konsep Fisika yang dibelajarkan. Meminta mereka menyampaikan pendapatnya untuk menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan konsep yang diberikan. 5. Memperbanyak eksperimen dan demonstrasi sehingga setiap siswa menikmati asyiknya Fisika dan merasakan bahwa Fisika itu sungguh menyenangkan. Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa untuk mewujudkan proses pembelajaran menyenangkan, guru harus mampu

merancang pembelajaran yang efektif, serta mampu memilih dan mengembangkan strategi yang melibatkan siswa secara optimal. Strategi yang dikembangkan hendaknya mampu memberikan motivasi belajar siswa sehingga aktivitas pembelajaran menyenangkan. Strategi pembelajaran gasing mengupayakan suasana belajar yang asyik dan menyenangkan. Strategi pembelajaran ini dapat direalisasikan melalui metode diskusi yang terdiri dari beberapa langkah. Secara garis besar, Surya (2008) membaginya menjadi lima langkah. Kelima langkah yang dilakukan dalam strategi pembelajaran gasing ini selengkapnya dapat dilihat pada Tabel II.1.

13

Tabel II.1 Langkah-langkah dalam strategi pembelajaran gasing Langkah-langkah Langkah 1 Dialog sederhana Aktivitas Guru Guru memulai pembelajaran dengan berdialog secara sederhana dengan siswa seputar materi yang akan dipelajari. Dari dialog ini diharapkan siswa dapat memberikan pendapatnya, sehingga timbul interaksi yang komunikatif. Langkah 2 Berimajinasi/berfantasi Guru membantu siswa untuk berimajinasi

mengenai kejadian-kejadian yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari.

Langkah 3 Menyajikan

Guru

memberikan

latihan

berupa

soal-soal

contoh-contoh sederhana yang hanya menggunakan formulasi matematika berupa perjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Hal ini bertujuan untuk memperkuat penguasaan matematika siswa

soal secara relevan.

Langkah 4 Menyajikan mendalam Langkah 5 Memberikan variasi soal materi

Guru memberikan makna fisis setelah siswa secara dirasa mampu mengerjakan semua soal-soal sederhana tadi. Guru kembali memberikan soal namun yang lebih bervariasi, soal tersebut dapat berupa soal cerita.

Sumber: http://www.yohanessurya.com/fisika-gasing.html

14

C. Media Pembelajaran Animasi Media pembelajaran merupakan sejumlah perangkat yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Rusman (2011: 77) yang menyatakan bahwa ”media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan materi pembelajaran, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan siswa sehingga dapat mendorong proses pembelajaran”. Peranan media pembelajaran sangat diperlukan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Guru dapat menggunakan film, televisi, atau gambar untuk memberikan informasi yang lebih baik kepada siswa. Melalui media pembelajaran hal yang bersifat abstrak dapat lebih menjadi konkrit (Sanjaya, 2006: 169). Secara umum media pembelajaran memiliki peranan untuk: 1) Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu. 2) Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu. 3) Menambah gairah dan motivasi belajar siswa. Media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran. Fungsi media dalam meningkatkan efektivitas belajar antara lain mampu mengatasi keterbatasan pengalaman dan perbedaan yang dimiliki oleh para peserta didik, melampaui batasan ruang kelas yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis, membangkitkan keinginan, minat dan motivasi belajar, serta memberikan pengalaman yang menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak (Santyasa, 2007 : 5 – 6).

15

Animasi pada prinsipnya sama dengan film secara fisik yang tersusun dari banyak frame dengan gambar-gambar penyusunnya. Media animasi termasuk jenis media audio visual, karena terdapat gerakan gambar dan suara. Menurut Sanjaya (2006: 172), “media audio visual adalah jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat, misalnya rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara dan sebagainya”. Kemampuan media audio visual dianggap lebih baik dan lebih menarik sebab selain dapat didengar juga dapat dilihat. Penggunaan animasi dalam strategi pembelajaran Gasing dipandang cukup relevan karena melalui animasi yang ditampilkan siswa akan termotivasi dalam aktivitas pembelajaran. Dengan adanya motivasi belajar yang tinggi, siswa menjadi lebih aktif dan semangat belajar dalam mengolah informasi yang didapatkan sampai kepada penarikan kesimpulan yang diharapkan. D. Motivasi Belajar Siswa Motivasi merupakan suatu dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu. Sardiman (2001: 73) menyatakan bahwa dalam kegiatan belajar, ”motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki dapat tercapai”. Sejalan degan pendapat tersebut motivasi manusia menurut Good dan Bropy (1990: 360) dikembangkan berdasarkan tiga kerangka teoritik utama, yaitu : 1. Behaviorism, percaya bahwa motivasi berasal dari situasi, kondisi dan objek yang menyenangkan. Jika hal ini memberi kepuasan yang berkelanjutan

16

(reinforcement contingncies) maka akan menimbulkan tingkah laku yang siap untuk melakukan sesuatu. 2. Kognitif, bahwa yang mempengaruhi perilaku individu adalah proses pemikiran, karena itu kognitif ini memfokuskan pada bagaimana individu memproses informasi dan memberikan penafsiran untuk situasi khusus. 3. Humanits, bahwa orang yang bertindak dalam suatu lingkungan dan membuat pilihan mengenai apa yang dikerjakannya. Motivasi sangat penting bagi guru dalam proses pembelajaran karena mampu menimbulkan kemauan dan semangat untuk berprestasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Sardiman (2001: 73) yang menyatakan bahwa ”motivasi merupakan faktor psikis yang memiliki peran yang khas dalam menumbuhkan gairah dan semangat untuk belajar”. Motivasi dapat juga dikatakan sebagai serangkaian usaha untuk

menyediakan kondisi tertentu sehingga seseorang mau melakukan sesuatu. Motivasi dalam proses pembelajaran sebagai daya penggerak didalam diri siswa yang memberikan arah pada aktivitas belajar sehingga tujuan yang dikehendaki dapat tercapai. Jadi, motivasi dalam aktivitas pembelajaran hendaknya senantiasa ditumbuhkan dalam rangka menstimulus setiap siswa untuk mengikuti proses pembelajaran. E. Kompetensi Dasar Siswa Kompetensi merupakan sejumlah kemampuan yang dimiliki seseorang yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sejalan dengan pendapat tersebut Johnson (1977) menyatakan bahwa ”competency as rational

17

performance which satisfactirily meets the objective for a desired condition”. Secara bebas kutipan tersebut artinya kompetensi merupakan perilaku rasional guna mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa tersebut telah memahami, memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang dipelajarinya. Siswa yang kompeten mampu melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya, yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). Pembentukan kompetensi merupakan kegiatan inti dari pelaksanaan poses pembelajaran, yakni bagaimana kompetensi dibentuk pada diri siswa dan tujuantujuan belajar direalisasikan. Mulyasa (2009: 257) menyatakan bahwa ”proses pembentukan kompetensi dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat”. Indikator pencapaian kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan (Depdiknas, 2007: 2). Pembentukan kompetensi dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruh atau sebagian besar (75%) siswa terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran. Selain itu, proses pembentukan kompetensi dapat dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan tingkah laku yang positif pada diri siswa sesuai dengan kompetensi dasar.

18

Penilaian pencapaian kompetensi dilakukan secara objektif dan realistis dari hasil pegamatan berdasarkan kinerja siswa melalui bukti penguasaan siswa terhadap suatu kompetensi sebagai hasil belajar. Penilaian pencapaian kompetensi siswa selama proses pembelajaran meliputi tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Hal ini sejalan dengan pendapat Sudjana (2002: 23) yang menyatakan bahwa penilaian hasil belajar mencakup pada : 1. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk aspek kognitif tingkat tinggi. 2. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. 3. Ranah psikomotor berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotor yakni gerak refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerak keterampilan kompleks, gerak ekspresif dan interpretasi. Meningkatkan kompetensi dasar dimaksudkan adalah meningkatkan prestasi/ mutu siswa yang ditandai dengan meningkatnya penguasaan kompetensi dasarnya. Peningkatan kompetensi dasar itu penting karena harus dimiliki, dikuasai dan ditampilkan oleh siswa itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

19

F. Penelitian yang Relevan Penelitian yang relevan dengan penelitian ini telah dilakukan oleh Irsyad (2008: 42). Dari Irsyad (2008: 42) diketahui bahwa bahan ajar Fisika interaktif dalam macromedia flash valid dan efektif digunakan dalam pembelajaran Fisika. Sejalan dengan itu, Rean (2010: 76) menyatakan bahwa desain film animasi dalam pembelajaran fisika sangat valid, praktis serta efektif digunakan dalam pembelajaran fisika ditandai dengan adanya peningkatan hasil belajar yang berarti pada ranah kognitif. Selain itu, Rahmawati (2010: 58) menyatakan bahwa penggunaan game animasi Cermatika sebagai media yang atraktif dan interaktif mempunyai pengaruh positif terhadap prestasi belajar anak tunagrahita ringan.
Dari penelitian yang telah dilakukan Irsyad (2008:42), Rean (2010: 76) dan

Rahmawati (2010: 58) diketahui bahwa penggunaan media animasi sangat efektif dan praktis dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun perbedaan penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian di atas terdapat pada pengkolaborasian penggunaan media animasi dalam strategi pembelajaran gasing untuk meningkatkan pencapaian kompetensi dasar siswa. G. Kerangka Berfikir Berdasarkan latar belakang dan kajian teori di atas, kerangka berfikir dalam penelitian ini dirumuskan: Siswa sebagai input pembelajaran akan melaksanakan proses pembelajaran yang ditunjang oleh kelengkapan sarana dan prasarana serta penerapan strategi pembelajaran gasing menggunakan media animasi. Melalui

20

pembelajaran ini diharapkan mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Peningkatan motivasi belajar siswa tentunya mampu mewujudkan pencapaian kompetensi siswa sebagai output pembelajaran. Kerangka konseptual dalam penelitian ini terlihat seperti pada Gambar II.1. Motivasi Belajar

PBM Siswa Gasing Animasi

Pencapaian Kompetensi

Sarana dan Prasarana Gambar II.1 Kerangka Berfikir
H. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori di atas, dapat dirumuskan hipotesis kerja (Hi) dalam penelitian ini yaitu : terdapat perbedaan yang berarti antara penerapan strategi

pembelajaran gasing berbantukan animasi dengan pembelajaran konvensional terhadap pencapaian kompetensi dasar siswa kelas XI SMAN 7 Padang.

21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Sesuai dengan permasalahan dan tujuan yang telah dikemukakan, dilaksanakan penelitian berjenis Quasi Experimen Research. Menurut Suryabrata (2006: 92), “tujuan dari penelitian eksperimen semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol atau memanipulasi semua variabel yang relevan.” B. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah Randomized Control Group Only Design. Penelitian ini membutuhkan dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Strategi pembelajaran pada kelas eksperimen menggunakan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi dan strategi pembelajaran pada kelas kontrol menggunakan pembelajaran langsung (konvensinal). Menurut Suryabrata (2004: 104) jenis penelitian Randomized Control Group Only Design dapat digambarkan pada Tabel III.1. Tabel III.1 Rancangan penelitian Group Eksperimen Kontrol Sumber: Suryabrata (2004: 104) Treatment X Posttest T T

21

22

Keterangan : X = Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen T = Tes akhir yang dilakukan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas XI SMAN 7 Padang kecuali kelas XI IPA1 dan XI IPA2. Menurut Sugiono (2010: 117), “ populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari.” 2. Sampel Sampel merupakan sebagian anggota populasi yang diteliti. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 2 kelas yaitu kelas XI IPA5 yang terdiri dari 38 siswa dan kelas XI IPA6 yang terdiri dari 37 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Cluster Random Sampling. Pengambilan sampel secara cluster merupakan pengambilan sampel pada kelompok individu yang telah ada di sekolah yaitu kelas bukan secara individual. Agar sampel representatif maka pengambilan sampel dilakukan dengan cara berikut : a. Mengambil dua kelas secara random dari populasi. b. Menganalisis hasil ujian dua kelas tersebut dengan melakukan uji normalitas dan uji homogenitas. c. Melakukan uji normalitas pada kelas sampel.

23

d. Melakukan uji homogenitas pada kelas sampel. e. Jika kelas sampel telah terdistribusi normal dan homogen, maka perlu dilakukan uji kesamaan dua rata-rata melalui uji t. f. Menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol dari kelas sampel yang dilakukan secara acak. D. Variabel dan Data 1. Variabel Variabel dalam penelitian ini adalah : a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi. b. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kompetensi dasar siswa kelas XI SMAN 7 Padang. c. Variabel kontrol adalah : 1) Materi yang digunakan sama sesuai dengan KTSP. 2) Kemampuan awal siswa antara kedua kelas setara. 3) Guru, buku sumber dan waktu yang digunakan adalah sama. 4) Jumlah soal yang akan diujikan pada kedua kelas sama. 2. Data Data dalam penelitian ini adalah data primer yang langsung diperoleh peneliti dari sampel dalam bentuk hasil belajar fisika siswa setelah diberi perlakuan yang meliputi aspek kognitif yang diambil melalui tes akhir, aspek afektif yang

24

dikumpulkan melalui format penilaian afektif dan aspek psikomotor melalui rubrik penskoran. E. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian dapat dibagi atas tiga tahap, yaitu : persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian. 1. Tahap Persiapan a. Menetapkan jadwal penelitian dan mempersiapkan surat penelitian. b. Menentukan sampel untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. c. Mempersiapkan perangkat pembelajaran yang disusun berdasarkan program tahunan dan program semester seperti silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan bahan ajar. d. Mempersiapkan media animasi, mengatur tempat duduk dan hal-hal menarik lainnya. e. Mempersiapkan instrumen penelitian seperti soal tes akhir, lembar observasi ranah afektif dan rubrik penskoran untuk ranah psikomotor. f. Membagi kelompok siswa berdasarkan kemampuan akademis. 2. Tahap Pelaksanaan a. Penelitian dilaksanakan selama 4 minggu. b. Melaksanakan pembelajaran di kelas eksperimen dan kontrol dengan skenario pembelajaran seperti pada Tabel III.2.

25

Tabel III.2 Skenario Pembelajaran Pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol No Kelas Eksperimen A. Kegitan Pendahuluan - Apersepsi: 1 Guru terkait dipelajari. - Motivasi: 2 Guru memberikan memberikan materi Kelas Kontrol A. Kegitan Pendahuluan - Apersepsi: apersepsi Guru memberikan apersepsi akan terkait materi yang akan Waktu 10’

yang

dipelajari. - Motivasi: motivasi Guru memberikan motivasi

kepada siswa untuk mengikuti kepada siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan memberikan pembelajaran dengan

pertanyaan yang menarik terkait memberikan pertanyaan yang materi yang aka dipelajari 3 Guru menyampaikan menarik sesuai materi

indikator Guru menyampaikan indikator

dan tujuan pembelajaran yang dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa B. Kegiatan Inti harus dicapai oleh siswa B. Kegiatan Inti 115’

1

Guru membagi siswa menjadi 8 Guru membagi siswa menjadi kelompok Eksplorasi 8 kelompok Eksplorasi Siswa memulai aktivitas pembelajaran melalui panduan yang ada pada LDS yang diberikan kepada masing- masing kelompok.

2

Dialog sederhana Siswa dibimbing untuk memasuki materi yang dipelajari dengan dialog sederhana terkait materi yang akan dipelajari agar terjadi interaksi yang komunikatif.

26

No

Kelas Eksperimen Setiap kelompok mecari informasi terkait materi yang dipelajari dipandu dengan LDS yang diberikan.

Kelas Kontrol Setiap kelompok menemukan informasi terkait materi yang dipelajari berdasarkan panduan LDS yang diberikan Siswa diberikan contoh kejadian sehari-hari yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari. Siswa diarahkan untuk memperoleh contoh konseptual terkait materi yang akan dipelajarinya dalam kehidupan seharihari Elaborasi Siswa melakukan demonstrasi terkait materi yang dipelajari untuk memperoleh contoh konkrit sehingga pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa. Setiap kelompok memecahkan soal terkait materi yang dipelajari.

Waktu

3

Berimajinasi/berfantasi Siswa dibimbing untuk berimajinasi dalam menemukan fakta sehari-hari terkait materi yang akan dipelajari. Siswa dibimbing mengamati kejadian sehari-hari terkait materi yang akan dipelajari melalui animasi yang menarik dan mengasyikan. Elaborasi

4

Menyajikan contoh sederhana yang relevan Siswa memperhatikan demonstrasi melalui animasi untuk memperoleh contoh konkrit tentang materi yang dipelajari agar pembelajaran lebih menyenangkan. Setiap siswa menyelesaikan soal-soal mulai dari tingkat yang sederhana.

27

No 5

Kelas Eksperimen Menyajikan materi secara mendalam Siswa dibimbing untuk memahami materi yang akan dipelajari secara komprehensif Konfirmasi Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, kemudian guru mengevaluasi proses pemecahan masalah dengan cara memberikan penguatan dan meluruskan konsep yang belum tepat.

Kelas Kontrol Siswa dibimbing untuk memahami konsep terkait materi yang dipelajari kemudian membuat kesimpulan hasil diskusi. Konfirmasi Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, lalu meminta kelompok lain menanggapinya. Guru menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah dengan cara memberikan penguatan dan meluruskan konsep yang belum tepat.

Waktu

6

Memberikan variasi soal Guru membimbing siswa melakukan refleksi dengan

memberikan variasi soal untuk C. Kegiatan Penutup mengetahui ketercapaian kompetensi. C. Kegiatan Penutup 1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kemampuan menyimpulkan dengan tepat. 1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kemampuan menyimpulkan dengan tepat. 2. Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi untuk penekanan konsep.

10’

28

No

Kelas Eksperimen 2. Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi untuk penekanan konsep. 3. Guru memberikan latihan dan tugas rumah berupa soal yang baru saja dipelajari. 4. Guru memberikan tugas meringkas materi pelajaran yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.

Kelas Kontrol 3. Guru memberikan latihan dan tugas rumah berupa soal yang baru saja dipelajari. 4. Guru memberikan tugas meringkas materi pelajaran yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.

Waktu

3. Tahap Penyelesaian a. Melakukan uji coba soal tes akhir yang telah disiapkan sebelumnya. b. Menganalisis hasil uji coba soal dengan menentukan reliabilitas soal, indeks kesukaran, dan daya beda soal lalu mengambil 30 butir soal untuk tes akhir. c. Melakukan tes akhir untuk kedua kelas sampel, tes ini dilakukan untuk mendapatkan nilai aspek kognitif. d. Mengumpulkan data hasil belajar afektif siswa dengan format penilaian aspek afektif. e. Mengumpulkan data hasil belajar psikomotor siswa dengan rubrik penskoran. f. Menganalisis hasil belajar kognitif dan psikomotor melalui uji statistik.

29

g. Menganalisis hasil belajar afektif dan menampilkannya dalam bentuk histogram. h. Menyusun laporan penelitian. F. Teknik Pengumpulan Data Data yang diambil untuk penelitian ini adalah hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor. Data hasil belajar kognitif diambil dalam bentuk ujian tertulis diakhir pembelajaran, data hasil afektif diambil melalui format penilaian aspek afektif selama pembelajaran berlangsung. Sedangkan data untuk aspek psikomotor diambil selama proses percobaan berlangsung melalui rubrik penskoran. G. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar yang merupakan salah satu jenis tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian kompetensi dasar siswa, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran. Instrumen ini mencakup pada tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. 1. Instrumen Ranah Kognitif Instrumen dalam penelitian ini adalah tes tertulis yang dilaksanakan di akhir penelitian. Agar tes menjadi alat ukur yang baik, maka perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut : a. Membuat kisi-kisi soal tes akhir b. Menyusun tes akhir berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. c. Analisis kualitas tes yang terdiri dari :

30

1) Tingkat Kesukaran Soal (p) Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sulit. Bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya soal disebut Indeks Kesukaran (p). Untuk menentukan indeks kesukaran soal dapat digunakan perumusan seperti yang diungkapkan oleh Suharsimi (2002: 208), yaitu : Keterangan : P : Indeks kesukaran B : Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul JS : Jumlah seluruh siswa peserta tes Indeks kesukaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Tabel III.3 Klasifikasi Tingkat Kesukaran Soal No. 1. 2. 3. Sumber: Suharsimi (2002: 210) Soal-soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah yang mempunyai rentang 0,3 ≤ p ≤ 0,7. Tingkat Kesukaran (p) p < 0,3 0,3 ≤ p ≤ 0,7 p > 0,7 Keterangan Sukar Sedang Mudah

=

31

2) Daya Beda Soal (D) Suharsimi (2002 : 211) menyatakan bahwa “daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan yang berkemampuan rendah”. Rumus untuk menghitung daya beda adalah :
= ∑ − ∑

Keterangan : D : indeks daya pembeda ΣA : jumlah peserta tes yang menjawab benar pada kelompok atas ΣB: jumlah peserta tes yang menjawab benar pada kelompok bawah nA : jumlah peserta tes kelompok atas nB : jumlah peserta tes kelompok bawah Klasifikasi indeks daya beda soal seperti berikut : Tabel III.4 Klasifikasi Indeks Daya Beda Soal No. 1. 2. 3. 4. 5. Indeks Daya Beda Minus 0,00-0,20 0,21-0,40 0,41-0,70 0,71-1,00 Klasifikasi Jelek sekali Jelek Cukup Baik Sangat baik

Sumber: Suharsimi (2002 : 211) Kriteria soal yang dipakai dalam penelitian adalah 0,41-1,00

32

3) Validitas Soal Suatu soal dikatakan valid apabila dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi adalah validitas yang ditilik dari segi tes itu sendiri sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah dapat mewakili secara representatif terhadap keseluruhan materi/bahan pelajaran yang seharusnya diujikan. 4) Reliabilitas Soal Reliabel merupakan ketepatan suatu tes apabila digunakan pada subjek yang sama. Reabilitas untuk soal objektif dapat dihitung dengan menggunakan rumus Kuder-Richhaderson (KR-20) yang dikemukakan oleh Arikunto (2005:100) yaitu:
2  n   S − ∑ pq  R11 =   S2  n −1  

   

Keterangan : p q = proporsi peserta tes menjawab benar = proporsi peserta tes menjawab salah (q = 1 - p)

∑ pq = jumlah perkalian antara p dan q
Untuk menentukan tingkat reliabilitas soal digunakan skala yang dikemukakan oleh Slameto (1998: 215) pada tabel III.5.

33

Tabel III.5 Klasifikasi Indeks Reliabilitas Soal No 1 2 3 4 5 Indeks Releabilitas 0,00 –0,20 0,21 – 0,40 0,41 – 0,60 0,61 – 0,80 0,81 – 1,00 Klasifikasi Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

Sumber: Slameto (1998: 215) 2. Instrumen Ranah Afektif Pada ranah ini yang dinilai adalah sikap atau perilaku siswa selama pembelajaran berlangsung. Penilaian yang dilakukan dalam ranah ini dalam bentuk format penilaian aspek afektif. Skor untuk masing-masing sikap diatas dapat berupa angka. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Slameto (2001: 124) yang menyatakan bahwa ”skala penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 sampai 5 yang ditafsirkan sebagai berikut: 1 2 3 4 5 = tidak pernah = jarang = kadang-kadang = seringkali = selalu”

Akan tetapi pada tahap akhir skor tersebut dirata-ratakan dan dikonversikan ke dalam bentuk persentase. Skala untuk penilaian aspek afektif terdapat dalam Purwanto (2001: 103) seperti terlihat pada tabel berikut :

34

Tabel III.6 Klasifikasi Penilaian Aspek Afektif No. 1. 2. 3. 4. 5. Tingkat 86 – 100% 76 – 85% 60 – 75% 55 – 59% ≤ 54% Nilai Huruf A B C D E Bobot 5 4 3 2 1 Predikat Sangat baik Baik Cukup Kurang Kurang sekali

Sumber: Purwanto (2001: 103) 3. Instrumen Ranah Psikomotor Penilaian pada ranah psikomotor dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dengan mengacu pada rubrik penskoran, di akhir pembelajaran dengan mengacu pada laporan kerja ilmiah, dan di akhir penelitian mengacu pada ujian praktek. Skala penilaian dibuat dengan rentangan A sampai E. Penafsiran tersebut adalah : A (bobot 5) : kriteria sangat tepat B (bobot 4) : kriteria tepat C (bobot 3) : kriteria kurang tepat D (bobot 2) : kriteria tidak tepat E (bobot 1) : kriteria sangat tidak tepat H. Teknik Analisis Data Analisis data bertujuan untuk menguji apakah hipotesis yang diujikan dalam penelitian diterima atau ditolak.

35

1. Ranah Kognitif Analisis data yang digunakan adalah uji kesamaan dua rata-rata dengan melakukan uji t. Sebelum melaksanakan uji tersebut maka harus dipenuhi syarat sebagai berikut : a. Sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal b. Kedua kelas mempunyai varians yang homogen Oleh sebab itu, perlu dilakukan terlebih dahulu uji normalitas dan uji homogenitas. a. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah sampel yang berasal dari populasi terdistribusi normal. Untuk menguji normalitas digunakan uji Lilliefors dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Data X1, X2, X3,... Xn yang diperoleh dari data yang terkecil hingga data yang terbesar. 2) Data X1, X2, X3,... Xn dijadikan bilangan baku Z1, Z2, Z3, ..., Zn dengan rumus = Keterangan : Xi : skor yang diperoleh siswa ke-i : skor rata-rata S : simpangan baku

36

3) Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian hitung peluang F(Zi) = P(Z<Zi) 4) Dengan menggunakan proporsi Z1, Z2, Z3, ..., Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi, jika proporsi ini dinyatakan dengan S(Zi), maka = , , ,…

5) Menghitung selisih F(Zi) – S(Zi) yang kemudian ditentukan harga mutlaknya. 6) Diambil harga yang paling besar diantara harga mutlak selisih tersebut yang disebut dengan L0 7) Membandingkan nilai L0 dengan nilai krisis Lt yang terdapat dalam taraf nyata α = 0,05. Kriteria pengujian adalah sebagai berikut : a) Jika L0 < Lt, maka sampel terdistribusi normal. b) Jika L0 > Lt, maka sampel tidak terdistribusi normal b. Uji Homogenitas Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua sampel mampunyai varians yang homogen atau tidak. Untuk mengujinya digunakan uji F dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Menghitung varians masing-masing kelompok data kemudian dihitung harga F dengan rumus : =

37

Keterangan : F : varians kelompok data

S12 : varians hasil belajar kelas eksperimen S22 : varians hasil belajar kelas kontrol 2) Jika harga Fhitung sudah didapatkan maka harga Fhitung tersebut dibandingkan dengan harga Ftabel yang terdapat dalam daftar distribusi dalam taraf signifikan 5% dan dkpembilang = n1 – 1 dan dkpenyebut = n2 – 1. Bila harga Ftabel > Fhitung, berarti kedua kelas mempunyai varians yang homogen. Sebaliknya jika Ftabel < Fhitung, berarti kedua kelompok tidak mempunyai varians yang homogen. c. Uji Hipotesis Berdasarkan data hasil uji normalitas dan homogenitas sampel diketahui terdistribusi normal dan homogen. Untuk menguji hipotesis maka dilakukan uji kesamaan rata-rata dengan menggunakan uji t. Menurut Sudjana (2002: 239) untuk menguji kesamaan dua rata-rata pada uji dua pihak, misalnya penelitian yang memerlukan perbandingan antara dua keadaan dapat dilakukan melalui uji t menggunakan rumus:
= 1 − 1 ; = −1 + + −1 −2

+

Keterangan : : nilai rata-rata kelas eksperimen : nilai rata-rata kelas kontrol

38

S1 : standar deviasi kelas eksperimen S2 : standar deviasi kelas kontrol S : standar deviasi gabungan n1 : jumlah siswa kelas eksperimen n2 : jumlah siswa kelas kontrol Harga thitung dibandingkan dengan ttabel yang terdapat dalam tabel distribusi t. Kriteria pengujian adalah terima Ho jika : − < < pada taraf signifikan 0,05. Sedangkan untuk harga

lainnya Ho ditolak. 2. Ranah Afektif Dalam menganalisis data hasil observasi ranah afektif dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: Pemberian dan penghitungan skor keseluruhan dari tiap indikator yang tampak dalam proses pembelajaran. Untuk masing-masing aspek terdiri dari lima indikator penilaian. Jika pada setiap aspek terlihat indikator tersebut, maka diberi tanda ceklis (√) pada kolom yang disediakan dalam format penilaian ranah afektif. Setelah mendapatkan data penilaian keseluruhan maka skor yang diperoleh dari setiap indikator dijumlahkan. Skor total yang diperoleh dikonversikan menjadi nilai dengan rumus yang terdapat dalam Purwanto (2001: 102) yaitu:

39

Na =

R × 100% SM

Keterangan : Na : Nilai afektif siswa R : Skor total siswa SM : Skor maksimum Pada penelitian ini skor maksimum yang dapat diperoleh siswa adalah 25 dan skor minimum adalah 5 untuk setiap kali pertemuan. 3. Ranah Psikomotor Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini untuk ranah psikomotor adalah sama dengan teknik analisis data pada ranah kognitif. Adapun langkah-langkah dalam menganalisis data hasil observasi ranah psikomotor sebagai berikut: Pemberian dan penghitungan skor keseluruhannya dari setiap aspek keterampilan yang dinilai. Skor yang diperoleh dikonversikan menjadi nilai dengan rumus:
NP = JPS × 100% JSM

Keterangan : NP : Nilai Proses JPS : Jumlah Perolehan Skor JSM :Jumlah Skor Maksimum

40

Nilai yang diperoleh diuji normalitas dan homogenitasnya. Jika didapatkan populasi kedua kelas sampel tersebut terdistribusi normal dan mempunyai varians yang homogen, maka dalam pengujian hipotesis statistik yang digunakan adalah uji t.
t= S x1 − x 2 1 1 + n1 n2

dan S 2 =

(n1 − 1) S1 2 + (n 2 − 1) S 2 n1 + n2 − 2

2

Keterangan: x1 : nilai rata-rata kelas eksperimen x2 : nilai rata-rata kelas kontrol S12 : varians kelas eksperimen S22 : varians kelas kontrol S : standar deviasi gabungan n1 : jumlah siswa kelas eksperimen n2 : jumlah siswa kelas kontrol Harga thitung dibandingkan dengan ttabel yang ada pada tabel distribusi t. Kriteria pengujian hipotesis adalah terima Ho jika thitung < t1-α pada taraf signifikasi 0,05. Untuk harga lainnya Ho ditolak dan Hi diterima.

BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Penelitian telah dilakukan pada tanggal 15 Oktober 2011 sampai dengan 15 Nopember 2011 di SMAN 7 Padang dan diperoleh data tentang hasil belajar Fisika siswa kelas XI. Penilaian hasil belajar ditinjau dari tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Data hasil belajar ranah kognitif diperoleh melalui tes tertulis di akhir pembelajaran. Data ranah afektif dan psikomotor diperoleh selama proses pembelajaran berlangsung melalui format penilaian afektif dan psikomotor. Data hasil pencapaian kompetensi dasar Fisika siswa pada masing-masing ranah akan dijelaskan berikut ini. 1. Deskripsi Data Hasil Belajar Fisika Ranah Kognitif Data penilaian hasil belajar pada ranah kognitif diperoleh dari tes akhir dengan teknik tes tertulis berbentuk soal objektif sebanyak 30 buah soal kepada kedua kelas sampel pada akhir kegiatan penelitian. Hasil perhitungan nilai rata-rata ( x ), simpangan baku (S), dan varians (S2) kelas eksperimen dan kontrol adalah seperti pada Tabel IV.1: Tabel IV.1 Nilai Rata-Rata, Nilai Tertinggi, Nilai Terendah, Simpangan Baku, dan Varians Kelas Sampel Kelas Eksperimen Kontrol N 37 38 Nilai Tertinggi 97,00 90,00 Nilai Terendah 40,00 47,00

X
77,41 71,05

S2 284,637 167,889

S 16,87 12,96

Tabel IV.1 menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa pada ranah kognitif kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Nilai simpangan baku pada kelas eksperimen lebih besar dibandingkan dengan kelas kontrol. Nilai simpangan baku ini mengindikasikan bahwa meskipun nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi, namun ada beberapa siswa yang nilainya masih rendah. Jadi pada dasarnya kelas eksperimen memiliki distribusi nilai yang kurang baik dibandingkan dengan distribusi nilai pada kelas kontrol. Untuk melihat perbedaan hasil tes akhir antara kedua kelas sampel maka dilakukan uji kesamaan dua rata-rata. Sebagai syaratnya, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Untuk melihat hasil tes akhir kedua kelas sampel pada ranah kognitif dapat dilihat pada Lampiran XXX. 2. Deskripsi Data Hasil Belajar Fisika Ranah Afektif Penilaian ranah afektif dilakukan terhadap lima aspek penilaian yang meliputi: motivasi bertanya, keaktifan menjawab pertanyaan, kreativitas berpendapat, kecakapan memberikan sanggahan, dan kemampuan berkomunikasi dalam

melengkapi jawaban. Deskripsi data hasil belajar ranah afektif ditunjukkan oleh skor total yang diperoleh setiap siswa setelah empat kali pertemuan tatap muka di kelas. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hasil belajar pada ranah afektif siswa kelas ekperimen lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol. Perolehan nilai kedua kelas sampel dapat dilihat pada Tabel IV.2:

Tabel IV.2 Nilai Rata-Rata, Nilai Tertinggi, Nilai Terendah, Simpangan Baku, dan Varians Kelas Sampel Kelas Eksperimen Kontrol N 37 38 Nilai Tertinggi 83,00 88,00 Nilai Terendah 50,00 46,00

X
74,19 61,45

S2 76,380 65,820

S 8,739 8,113

Tabel IV.2 memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar Fisika pada ranah afektif untuk kedua kelas sampel. Untuk melihat data hasil belajar ranah afektif kedua kelas sampel dapat dilihat pada Lampiran XVII. 3. Deskripsi Data Hasil Belajar Fisika Ranah Psikomotor Data penelitian pada ranah psikomotor ini diperoleh melalui hasil pengamatan selama proses pembelajaran dan penilaian pada akhir penelitian melalui tes unjuk kerja ketika siswa melakukan percobaan di laboratorium sekolah. Sama dengan ranah kognitif, dari data hasil belajar ranah psikomotor ini dilakukan perhitungan sehingga didapatkan nilai rata-rata ( x ), simpangan baku (S), dan variansi (S2) kedua kelas eksperimen dan kontrol seperti pada Tabel IV.3: Tabel IV.3 Nilai Rata-Rata, Nilai Tertinggi, Nilai Terendah, Simpangan Baku, dan Variansi Kelas Sampel Ranah Psikomotor Kelas Eksperimen Kontrol N 37 38 Nilai Tertinggi 96 96 Nilai Terendah 56 56

X
81,405 75,200

S2 121,970 104,000

S 11,044 10,200

Tabel IV.3 menunjukkan bahwa rata-rata nilai hasil belajar siswa ranah psikomotor pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Untuk

mengetahui apakah perbedaan nilai antara kedua kelas sampel ini berarti atau tidak, maka dilakukan analisis berupa uji kesamaan dua rata-rata. Hasil tes ranah psikomotor kedua kelas sampel dapat dilihat pada Lampiran XXIII. B. Analisis Data 1. Analisis Data Hasil Belajar Fisika Ranah Kognitif Deskripsi data pada Tabel IV.1 memperlihatkan bahwa rata-rata nilai kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Penarikan kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh melalui uji kesamaan dua rata-rata agar terlihat apakah perbedaan rata-rata kedua kelas sampel tersebut signifikan. Sebelum melakukan uji statistik, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas terhadap data tes akhir. Kemudian dilakukan uji kesamaan dua rata-rata dengan menggunakan uji statistik yang sesuai. a. Uji Normalitas Tes Akhir Uji Lilliefors dilakukan untuk melihat apakah sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal atau tidak. Hasil uji normalitas yang dilakukan didapatkan harga Lo dan Ltabel pada taraf nyata 0,05 seperti terlihat pada Tabel IV.4: Tabel IV.4 Hasil Uji Normalitas Tes Akhir Kedua Kelas Sampel Ranah Kognitif Kelas Eksperimen Kontrol 0,05 α 37 38 N Lo 0,1151 0,1181 Lt 0,1419 0,1437 Distribusi Normal Normal

Tabel IV.4 menunjukkan bahwa kedua kelas sampel mempunyai nilai Lo < Lt pada taraf nyata 0,05. Hal ini berarti data hasil tes akhir kedua kelas sampel terdistribusi normal. Untuk melihat hasil uji normalitas kedua kelas sampel dapat dilihat pada Lampiran XXIX dan Lampiran XXX. b. Uji Homogenitas Tes Akhir Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelas sampel homogen atau tidak. Hasil uji homogenitas varians yang dilakukan terhadap data tes akhir kedua kelas sampel ternyata diperoleh Fhitung = 1,6954 dan Ftabel dengan taraf nyata α = 0,05 pada dkpembilang 36 dan dkpenyebut 37 adalah 1,710. Hasil ini menunjukkan Fh < F(0,05);(36,37), hal ini berarti kelompok data mempunyai varians yang homogen. Hasil uji homogenitas kedua kelas sampel dapat dilihat pada Tabel IV.5: Tabel IV.5 Hasil Uji Homogenitas Kedua Kelas Sampel Ranah Kognitif Kelas Eksperimen Kontrol N 37 38 S2 284,637 167,889 Fh 1,695 Ft 1,710 Keterangan Homogen

Hasil perhitungan uji homogenitas dapat dilihat pada Lampiran XXXI. c. Uji Hipotesis (Uji Kesamaan Dua Rata-Rata) Setelah melakukan uji normalitas dan homogenitas terhadap data tes akhir kedua kelas sampel, diperoleh bahwa kedua kelas sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal dan homogen. Uji t digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil uji t kedua kelas sampel dapat dilihat pada Tabel IV.6:

Tabel IV.6 Hasil Uji t Ranah Kognitif Kelas Eksperimen Kontrol N 37 38 Mean 77,4054 71, 0526 S2 284,637 167,889 th 1,837 tt 1,667

Tabel IV.6 memperlihatkan bahwa thitung = 1,837 sedangkan ttabel = 1,667 dengan kriteria pengujian terima Ho jika th < t(1-α) dan tolak Ho jika mempunyai harga lain pada taraf signifikan 0,05 dengan derajat kebebasan dk = (n1 + n2) – 2. Hasil perhitungan diperoleh harga thitung > ttabel yang berarti harga t tidak berada pada daerah penerimaan Ho sehingga dikatakan Hi diterima pada taraf nyata 0,05. Perbandingan kedua angka di atas menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi terhadap pencapaian kompetensi dasar siswa kelas XI SMAN 7 Padang pada ranah kognitif. Hasil uji t secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran XXXII. Kurva penerimaan hipotesis alternatif (Hi) dapat dilihat pada Gambar IV.1:

Daerah Penerimaan Ho

α = 0,05

1,837 Daerah Penolakan Ho atau Penerimaan Hi 0 1,667

Gambar IV.1 Kurva Penerimaan Hipotesis Alternatif Ranah Kognitif

2. Analisis Data Hasil Belajar Fisika Ranah Afektif Deskripsi data pada Tabel IV.2 memperlihatkan bahwa rata-rata nilai kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Penarikan kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh melalui uji kesamaan dua rata-rata agar terlihat apakah perbedaan rata-rata kedua kelas sampel tersebut signifikan. Sebelum melakukan uji statistik, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas terhadap data tes akhir. Kemudian dilakukan uji kesamaan dua rata-rata dengan menggunakan uji statistik yang sesuai. d. Uji Normalitas Uji Lilliefors dilakukan untuk melihat apakah sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal atau tidak. Hasil uji normalitas yang dilakukan didapatkan harga Lo dan Ltabel pada taraf nyata 0,05 seperti terlihat pada Tabel IV.7: Tabel IV.7 Hasil Uji Normalitas Kedua Kelas Sampel Ranah Afektif Kelas Eksperimen Kontrol 0,05 α 37 38 N Lo 0,1250 0,1190 Lt 0,1419 0,1437 Distribusi Normal Normal

Tabel IV.7 menunjukkan bahwa kedua kelas sampel mempunyai nilai Lo < Lt pada taraf nyata 0,05. Hal ini berarti data hasil tes akhir kedua kelas sampel terdistribusi normal. Untuk melihat hasil uji normalitas kedua kelas sampel dapat dilihat pada Lampiran XVII dan Lampiran XVIII.

e. Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelas sampel homogen atau tidak. Hasil uji homogenitas varians yang dilakukan terhadap data tes akhir kedua kelas sampel ternyata diperoleh Fhitung = 1,160 dan Ftabel dengan taraf nyata α = 0,05 pada dkpembilang 36 dan dkpenyebut 37 adalah 1,710. Hasil ini menunjukkan Fh < F(0,05);(36,37), hal ini berarti kelompok data mempunyai varians yang homogen. Hasil uji homogenitas kedua kelas sampel dapat dilihat pada Tabel IV.8: Tabel IV.8 Hasil Uji Homogenitas Kedua Kelas Sampel Ranah Afektif Kelas Eksperimen Kontrol N 37 38 S2 76,380 65,820 Fh 1,160 Ft 1,710 Keterangan Homogen

Hasil perhitungan uji homogenitas dapat dilihat pada Lampiran XIX. f. Uji Hipotesis (Uji Kesamaan Dua Rata-Rata) Setelah melakukan uji normalitas dan homogenitas terhadap data tes akhir kedua kelas sampel, diperoleh bahwa kedua kelas sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal dan homogen. Uji t digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil uji t kedua kelas sampel dapat dilihat pada Tabel IV.9: Tabel IV.9 Hasil Uji t Ranah Afektif Kelas Eksperimen Kontrol N 37 38 Mean 74,189 61,450 S2 76,380 65,82 th 6,56 tt 1,667

Tabel IV.9 memperlihatkan bahwa thitung = 6,56 sedangkan ttabel = 1,667 dengan kriteria pengujian terima Ho jika th < t(1-α) dan tolak Ho jika mempunyai harga

lain pada taraf signifikan 0,05 dengan derajat kebebasan dk = (n1 + n2) – 2. Hasil perhitungan diperoleh harga thitung > ttabel yang berarti harga t tidak berada pada daerah penerimaan Ho sehingga dikatakan Hi diterima pada taraf nyata 0,05. Perbandingan kedua angka di atas menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi terhadap pencapaian kompetensi dasar siswa kelas XI SMAN 7 Padang pada ranah afektif. Hasil uji t secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran XX. Kurva penerimaan hipotesis alternatif (Hi) dapat dilihat pada Gambar IV.2:

Daerah Penerimaan Ho

α = 0,05

6,56 Daerah Penolakan Ho atau Penerimaan Hi 0 1,667

Gambar IV.2 Kurva Penerimaan Hipotesis Alternatif Ranah Afektif 3. Analisis Data Hasil Belajar Fisika Ranah Psikomotor Deskripsi data Tabel IV.3 memperlihatkan bahwa nilai rata-rata ranah psikomotor kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Penarikan kesimpulan dilakukan melalui uji kesamaan dua rata-rata agar terlihat apakah perbedaan rata-rata tersebut signifikan. Sebelum melakukan uji statistik,

terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas terhadap data tes akhir, kemudian dilakukan uji kesamaan dua rata-rata yang sesuai dengan hasil uji normalitas dan homogenitas tersebut. a. Uji Normalitas Tes Akhir Uji Lilliefors digunakan untuk melihat apakah sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal atau tidak. Hasil uji normalitas yang dilakukan diperoleh harga Lo dan Ltabel pada taraf nyata 0,05, seperti terlihat pada Tabel IV.10: Tabel IV.10 Hasil Uji Normalitas Tes Akhir Kedua Kelas Sampel Ranah Psikomotor Kelas Eksperimen Kontrol α 0,05 N 37 38 Lo 0,0918 0,0990 Lt 0,1460 0,1440 Distribusi Normal Normal

Tabel IV.10 memperlihatkan bahwa kedua kelas sampel mempunyai nilai Lo < Lt pada taraf nyata 0,05. Hal ini berarti data hasil tes akhir kedua kelas sampel terdistribusi normal. Data hasil uji normalitas kedua kelas sampel dapat dilihat pada Lampiran XXIII dan XXIV. b. Uji Homogenitas Tes Akhir Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelas sampel homogen atau tidak. Hasil uji homogenitas varians yang dilakukan terhadap kedua sampel ternyata diperoleh Fhitung = 1,17 dan Ftabel dengan α = 0,05 pada dkpembilang 36 dan dk penyebut 37 adalah 1,71. Hasil perhitungan menunjukkan Fh < F(0,05);(36,37), hal ini berarti kelompok data mempunyai varians yang homogen. Hasil uji homogenitas kedua kelas sampel dapat dilihat pada Tabel IV.11:

Tabel IV.11 Hasil Uji Homogenitas Kedua Kelas Sampel Ranah Psikomotor Kelas Eksperimen Kontrol N 37 38 S2 121,97 104,00 Fh 1,17 Ft 1,71 Keterangan Homogen

Data hasil uji homogenitas kedua kelas dapat dilihat pada Lampiran XXV. c. Uji Hipotesis (Uji Kesamaan Dua Rata-Rata) Uji normalitas dan homogenitas yang dilakukan terhadap data tes akhir diperoleh kedua kelas sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal dan mempunyai varians yang homogen. Uji t dilaksanakan untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil uji t kedua sampel dapat dilihat pada Tabel IV.12: Tabel IV.12 Hasil Uji t Ranah Psikomotor Kelas Eksperimen Kontrol N 37 38 Mean 81,405 75,200 S2 121,97 104,00 th 2,559 tt 1,667

Tabel IV.12 memperlihatkan bahwa thitung = 2,559 sedangkan ttabel = 1,667 dengan kriteria pengujian terima Ho jika t < t(1-α) dan tolak Ho jika mempunyai harga lain pada taraf signifikan 0,05 dengan derajat kebebasan dk = (n1 + n2) – 2. Hasil perhitungan menunjukkan thitung > ttabel yang berarti harga t tidak berada pada daerah penerimaan Ho sehingga dapat dinyatakan bahwa Hi diterima pada taraf nyata 0,05. Perbandingan kedua angka di atas menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang berarti penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi terhadap pencapaian kompetensi belajar Fisika kelas XI SMAN 7 Padang pada ranah

psikomotor. Hasil uji t secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran XXVI. Kurva penerimaan hipotesis alternatif (Hi) dapat dilihat pada Gambar IV.3:

Daerah Penerimaan Ho

α = 0,05

2,559 Daerah Penolakan Ho atau Penerimaan Hi 0 1,667

Gambar IV.3 Kurva Penerimaan Hipotesis Alternatif Ranah Psikomotor C. Pembahasan Hasil analisis data tes akhir belajar didapatkan nilai rata-rata belajar siswa dari ketiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotor menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi dapat meningkatkan pencapaian kompetensi dasar Fisika siswa. Hasil ini terlihat dari tingginya rata-rata hasil belajar, sikap, dan keterampilan siswa yang belajar dengan menggunakan penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi dibandingkan dengan nilai, sikap, dan keterampilan siswa yang tidak menerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi.

1.

Pencapaian Kompetensi Pada Ranah Kognitif Pada ranah kognitif, diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 77,41,

sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 71,05. Nilai ini menunjukkan bahwa hasil belajar Fisika pada ranah kognitif rata-rata nilai kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Hasil perhitungan menunjukkan ketuntasan belajar siswa secara individu kelas eksperimen di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran Fisika yang ditetapkan oleh sekolah bersangkutan yaitu 75,00. Perolehan nilainya dapat dirinci sebagai berikut: 23 orang atau 62,16 % dari 37 orang siswa di kelas eksperimen sedangkan sebanyak 16 orang atau 42,11 % dari 38 orang siswa di kelas kontrol, terlihat bahwa pada kelas eksperimen siswa yang memperoleh nilai di atas KKM lebih banyak daripada di kelas kontrol. Hasil uji normalitas dan homogenitas yang dilaksanakan pada ranah kognitif, didapatkan kedua kelas sampel normal dan mempunyai variansi yang homogen, sehingga untuk uji statistik digunakan uji t. Hasil uji t menggunakan taraf nyata 0,05 dan dk =73 diperoleh thitung sebesar 1,834 dan ttabel sebesar 1,667. Harga thitung berada di luar batas kriteria penerimaan Ho yang telah ditetapkan. Hal ini berarti Ho ditolak dan Hi yang berbunyi “Terdapat pengaruh yang berarti penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi terhadap pencapaian kompetensi dasar Fisika siswa pada pokok bahasan Impuls dan Momentum di kelas XI SMAN 7 Padang” pada ranah kognitif diterima. Perbedaan nilai kognitif antara kelas eksperimen dan kelas kontrol ini disebabkan karena dengan penerapan strategi pembelajaran Gasing berbantukan

animasi pada kelas eksperimen dapat memberikan konstribusi bagi siswa lebih gampang dalam memahami materi, lebih asyik dan menyenangkan, sehingga dapat menimbulkan semangat dan motivasi siswa untuk belajar. Penggunaan media animasi dalam pembelajaran gasing memberikan konstribusi dalam meningkatkan aspek kognitif siswa dalam proses pembelajaran. 2. Pencapaian Kompetensi Pada Ranah Afektif Analisis hasil belajar siswa pada ranah afektif didapatkan nilai rata-rata afektif kelas eksperimen 74,19 lebih tinggi dibanding nilai rata-rata afektif kelas kontrol 61,45. Data penilaian empat kali pertemuan tersebut terlihat bahwa hasil belajar pada ranah afektif kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Hasil analisis data tersebut menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi memberikan pengaruh yang berarti terhadap ranah afektif siswa. Sikap belajar siswa di kelas eksperimen menjadi lebih semangat dan lebih termotivasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa proses pembelajaran yang terjadi pada kelas eksperimen siswa tidak lagi cenderung menunggu jawaban dari guru atau teman yang pintar saja, namun secara tidak langsung mereka terpacu untuk mengaktifkan dirinya sendiri dalam belajar. Siswa lebih aktif untuk bertanya jika ada materi yang belum dipahami dan aktif memberikan pendapat atau jawaban selama diskusi serta lebih percaya diri dan mandiri dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Akibatnya hasil belajar siswa kelas eksperimen menjadi lebih baik daripada kelas kontrol.

Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa pada proses pembelajaran, berupa aktivitas bertanya, keaktifan menjawab pertanyaan, kecakapan berpendapat, kemampuan memberikan sanggahan, dan kemampuan berkomunikasi dalam melengkapi jawaban diperoleh gambaran bahwa aktivitas siswa pada kelas eksperimen menunjukan peningkatkan jika dibandingkan dengan aktivitas siswa pada kelas kontrol. Secara umum, siswa pada kelas eksperimen menunjukan kenyamanan dalam belajar, terlihat dari wajah yang ceria, dan tidak tegang ketika mengikuti pelajaran. Siswa tidak lagi mengejek teman yang lain ketika ada siswa yang menjawab pertanyaan guru sehingga sikap saling menghargai sudah terbina. Perhatian siswa sudah mulai terfokus pada penyampaian guru. Setiap aktivitas kelompok, siswa sudah menunjukan kerjasama dengan kelompoknya, baik ketika melakukan percobaan ataupun saat mengisi LKS. Selama proses pembelajaran siswa terlihat aktif dan antusias bertanya merespon tindakan guru tanpa ragu-ragu. 3. Pencapaian Kompetensi Pada Ranah Psikomotor Hasil analisis ranah psikomotor didapatkan rata-rata kelas eksperimen 81,41 dan kelas kontrol 75,20. Uji normalitas dan homogenitas dilakukan untuk mengetahui uji statistik yang cocok digunakan dalam menguji hipotesis. Hasil uji tersebut didapatkan kedua kelas sampel berasal dari populasi yang normal dan homogen sehingga untuk uji statistik yang digunakan adalah uji t. Hasil uji t dengan taraf nyata 0,05 dan dk = 73 diperoleh ttabel sebesar 1,667 dan thitung sebesar 2,559. Perhitungan menunjukkan bahwa thitung berada di luar batas kriteria penerimaan Ho yang telah ditetapkan. Hal ini berarti Ho ditolak dan Hi yang berbunyi “Terdapat pengaruh yang

berarti penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi terhadap pencapaian kompetensi dasar siswa kelas XI SMAN 7 Padang” pada ranah psikomotor diterima. Perbedaan nilai psikomotor antara kelas eksperimen dan kelas kontrol ini disebabkan karena penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi pada kelas eksperimen dapat memberikan konstribusi bagi siswa lebih gampang dalam memahami materi, lebih asyik dan menyenangkan, sehingga dapat menimbulkan semangat dan motivasi belajar. Penerapan strategi pembelajaran gasing mendorong siswa lebih aktif sehingga dapat menumbuhkan sikap kemandirian belajar siswa. 4. Pengaruh Strategi Pembelajaran Gasing Berbantukan Animasi terhadap Pencapaian Kompetensi Dasar Siswa Pencapaian kompetensi dasar siswa dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiga ranah tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain secara eksplisit. Setiap mata pelajaran selalu mengandung tiga ranah itu walaupun penekanannya berbeda. Penilaian hasil belajar tidak hanya dilihat pada ranah kognitif saja namun juga dari ranah afektif dan psikomotor. Ketiga ranah penilaian tersebut saling mendukung satu sama lainnya terhadap hasil belajar yang akan dicapai oleh setiap siswa. Depdiknas (2006: 16) menyatakan bahwa “keberhasilan proses pembelajaran juga ditentukan oleh pemahaman aspek afektif siswa”. Siswa yang tidak memiliki motivasi belajar akan sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Siswa

yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap suatu pelajaran akan merasa senang dan butuh mempelajari mata pelajaran tersebut sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Pencapaian kompetensi belajar akan lebih optimal apabila guru sebelum merancang program dan kegiatan pembelajaran harus terlebih dahulu membangkitkan motivasi belajar siswa. Upaya menumbuhkan motivasi dan minat belajar siswa dapat dilakukan melalui penerapan strategi yang efektif dalam proses pembelajaran. Penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi dapat memotivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran karena didukung oleh suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Hubungan antara pembelajaran gasing berbantukan animasi dengan tiga ranah pencapaian kompetensi dapat dilihat pada Gambar IV.4:

Pembelajaran Gasing Berbantukan Animasi
KOGNITIF

PENCAPAIAN KOMPETENSI

AFEKTIF

PSIKOMOTOR

Gambar IV.4. Hubungan antara pembelajaran gasing berbantukan animasi dengan tiga ranah kompetensi

Pelaksanaan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi menuntun guru melakukan berbagai cara untuk membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan. Setiap pertemuan guru selalu berusaha membuat suasana kelas tidak monoton, misalnya melalui penggunaan media pembelajaran berupa media animasi dan alat peragaan demonstrasi. Semua usaha tersebut dilakukan dalam rangka untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dalam pencapaian ketiga ranah kompetensi siswa. Ada beberapa hal yang menyebabkan hasil belajar Fisika siswa dapat meningkat, salah satunya karena pada strategi pembelajaran gasing siswa dituntut untuk semaksimal mungkin mencari tahu sendiri tanpa harus selalu menunggu jawaban dari guru atau teman yang pintar saja. Siswa diajak untuk berfikir kritis, bertanya jika ada yang tidak mengerti, berani memberikan pendapat atau jawaban tanpa ada rasa takut ditertawakan, siswa dilatih bersosialisasi, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab dalam kelompok masing-masing karena semua aktivitas ini dilakukan dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan. Penerapan strategi pembelajaran gasing pada penelitian ini dikolaborasikan dengan media presentasi berupa animasi. Media animasi ini sangat memberikan konstribusi yang cukup besar dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa dalam mengikuti pelajaran. Melalui media ini siswa dapat melihat secara konkrit materi yang sedang dipelajari sehingga pelajaran akan lebih mudah dipahami. Disamping itu, startegi pembelajaran gasing juga menggunakan bahan ajar berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) dan Lembar Diskusi Siswa (LDS). Siswa diminta untuk mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan Lembar Diskusi Siswa (LDS)

dalam

kelompoknya

masing-masing

di

bawah

bimbingan

guru,

sehingga

pembelajaran bukan lagi bersifat teacher center melainkan student center. Penggunaan bahan ajar berupa LKS dan LDS menuntun siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga dapat membantu siswa menemukan konsep atau pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman sendiri. Melalui eksperimen, siswa diwadahi untuk aktif membangun konsep sendiri sehingga pembelajaran lebih bermakna dan aktivitas fisik siswa meningkat. Selain itu, siswa juga mampu berinteraksi dengan orang lain dan berkomunikasi untuk mengungkapkan gagasannya dalam menyelesaikan masalah di suasana kelas yang menyenangkan. Adanya semangat dan motivasi tinggi yang timbul pada diri sendiri, siswa dapat meningkatkan aktivitasnya dalam belajar dan meningkatkan prestasi hasil belajarnya yang menjadi modal dalam persaingan diera globalisasi saat ini. Pelaksanaan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi dapat memberikan pengaruh positif terhadap pencapaian kompetensi dasar siswa. Pencapaian kompetensi ini dapat terwujudkan karena dalam pelaksanaannya strategi pembelajaran gasing menghadirkan suasana pembelajaran yang asyik dan menyenangkan. Aktivitas pembelajaran diawali dengan dialog sederhana terkait materi yang akan dipelajari. Kegiatan ini menciptakan interaksi yang lebih komunikatif sehingga rasa percaya diri dan kesiapan mental siswa dapat terpupuk dengan baik. Kesiapan mental siswa mendorong siswa lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran selanjutnya dengan mengkreasikan imajinasinya dalam menemukan fakta sehari-hari terkait materi yang sedang dipelajari.

Penyajian contoh relevan terkait materi yang dipelajari ditunjang dengan penggunaan media animasi. Penggunaan media animasi ini mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap antusias belajar siswa karena pembelajaran lebih asyik dan menyenangkan. Suasana pembelajaran yang asyik dan menyenangkan serta interaksi yang komunikatif mendorong siswa lebih mudah memahami materi secara komprehensif sehingga pemahaman konsep dapat terwujud. Pemahaman konsep

yang baik tentunya mengindikasikan pencapaian kompetensi siswa. Pencapaian kompetensi hasil belajar Fisika kedua kelas dapat dilihat pada Tabel IV.13. Tabel IV.13 Pencapaian Kompetensi Kedua Kelas Sampel Pada Tiga Ranah Penilaian Kelas Eksperimen Kontrol 77,41 71,05 Nilai Tiga Ranah Penilaian Kognitif 74,19 61,45 Afektif Psikomotor 81,41 75,20

Tabel IV.13 memperlihatkan bahwa penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi mempunyai pengaruh terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dan guru. Guru dapat belajar bagaimana cara dan teknik mengkondisikan suasana pembelajaran baik di kelas ataupun di luar kelas agar lebih menyenangkan bagi siswanya. Penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi mengarahkan siswa bebas mengungkapkan segala potensi dan kemampuannya dalam belajar tanpa ada rasa malu ditertawakan atau diejek oleh teman yang lain sehingga siswa terlihat lebih aktif, kreatif, dan mandiri. Aktivitas tersebut menciptakan suasana pembelajaran

menjadi lebih menyenangkan bagi siswa. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa siswa yang dalam pembelajarannya menerapkan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi sebagian besar dapat mencapai KKM yang ditetapkan. Jadi, penerapan strategi pembelajaran gasing berbantukan animasi dapat meningkatkan pencapaian kompetensi belajar Fisika siswa pada tiga ranah penilaian kesuksesan belajar siswa.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Setelah melakukan penelitian terhadap Strategi Pembelajaran Gasing berbantukan animasi di kelas XI SMAN 7 Padang, kemudian melakukan pengolahan data, dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan strategi pembelajaran Gasing berbantukan animasi berpengaruh terhadap peningkatan pencapaian kompetensi Dasar Fisika siswa kelas XI SMAN 7 Padang pada tiga ranah penilaian yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar, sikap positif, dan keterampilan siswa dalam belajar. B. Saran Berdasarkan dari kesimpulan yang telah didapatkan pada penelitian, maka penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut : 1. Penelitian ini masih terbatas pada materi Impuls dan Momentum saja, maka diharapkan ada penelitian lanjutan untuk permasalahan dan materi yang lebih kompleks dan ruang lingkup yang lebih luas agar dapat lebih dikembangkan. 2. Selama melakukan pengamatan aktivitas siswa terkadang sulit dilakukan karena jumlah observernya masih kurang dari yang diharapkan, oleh karena itu dibutuhkan observer yang lebih banyak lagi agar setiap siswa dapat terpantau secara baik dan mendapatkan penilaian yang maksimal. 3. Sebaiknya ada pengembangan dari penelitian ini, pengembangannya dapat dilakukan pada penggunaan bahan ajar, pemanfaataan media dan sumber

62

63

belajar, perluasan cakupan tentang Strategi Pembelajaran Gasing itu sendiri, dan lain sebagainya. Sehingga pada akhirnya dapat dijadikan pedoman dalam menentukan strategi yang tepat khususnya dalam pembelajaran Fisika.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. BSNP. 2010. Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus dan Contoh/Model Silabus. Jakarta: Depdiknas. Darmansyah. 2010. Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor. Jakarta: Bumi Aksara. Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Depdiknas. 2007. Permendiknas Jakarta: Depdiknas. No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses.

Depdiknas. 2010. Juknis Pengembangan Model Pembelajaran di SMA. Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA. Depdiknas. 2010. Juknis Pengembangan RPP SMA. Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA. Good,T.L. dan Brophy, J.E. 1990. Looking in Classrooms. New York: Harper & Row, Publishers, dalam Sagala, Sy. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Irsyad, M. 2008. “Pengembangan bahan ajar Fisika interaktif dengan action script 2.0 dalam macromedia flash pada materi pokok dinamika benda titik pada kelas X SMA Nurul Iklas”, Skripsi, 71 Hal., Universitas Negeri Padang, Padang, September 2008. Johnson, M. 1977. Internationality in Education. New York: Centered for Curriculum Research and Service, dalam Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Mulyasa, E. 2008. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset. Purwanto,Ng. 2001. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosda Karya.

64

Rahmawati, S. 2010. Pengaruh Penggunaan VCD Game Animasi Cermatika Sebagai Media Yang Atraktif dan Interaktif Terhadap Prestasi Belajar Matematika Anak Tunagrahita Ringan Kelas D2 SLB-C Setya Darma Surakarta Tahun Ajaran 2009/2010. Jurnal penelitian Pendidikan. http.//www.digilib.uns.ac.id/upload/dokumen.(di Akses tanggal 14 Juli 2011) Rean, F. 2011. “Pengembangan Film Animasi Dalam Pembelajaran Fisika Pada Materi Keseimbangan Benda Tegar di SMA”, Skripsi,76 Hal., Universitas Negeri Padang, Padang, April 2011 . Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Santyasa. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sardiman, A.M. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Slameto. 2001. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Sudjana. 2002. Metoda Statistik. Bandung: Transito. Sudjana, N. 2002. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya. Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta. Surya, Y. 2008. Fisika Gasing (Gampang Asyik & Menyenangkan). http://www.yohanessurya.com/fisika-gasing.html. (di Akses tanggal 14 Juli 2011) Suryabrata, S. 2006. Metodologi Penelitian. Jakarta: Grafindo Persada. Tim Micro Teaching. 2010. Format-Format Observasi dalam Praktek Micro Teaching. Padang: FMIPA UNP.

65

66

66

Lampiran I Uji Normalitas Sampel I Kelas XI.IPA6 (Eksperimen)
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 xi 42 45 50 54 58 62 66 70 74 78 82 xi2 1764 2025 2500 2916 3364 3844 4356 4900 5476 6084 6724 fi 1 2 3 4 5 6 5 5 3 2 1 fi.xi 42 90 150 216 290 372 330 350 222 156 82 fi.xi2 1764 4050 7500 11664 16820 23064 21780 24500 16428 12168 6724 fk 1 3 6 10 15 21 26 31 34 36 37 zi Fzi Szi |Fzi -Szi|

-2.048 0.0192 0.027027 0.007827 -1.743 0.0485 0.081081 0.032581 -1.235 0.1056 0.162162 0.056562 -0.829 0.2005 0.27027 0.06977

-0.423 0.3336 0.405405 0.071805 -0.016 0.3898 0.492 0.648 0.567568 0.075568 0.702703 0.054703

0.7962 0.7852 0.837838 0.052638 1.2025 0.8849 0.918919 0.034019 1.6088 0.9463 0.972973 0.026673 2.0151 0.9783 1 0.0217

Σ

37

2300

146462

x=

∑ xi f i n
2 2

zi =

xi − x S

Sz i =

fk n

n ∑ f i x i − ( f i xi ) S = n(n − 1)
2

S= S2

Harga Fzi dilihat pada tabel F (Lampiran)

67

x = 62,2

S2 = 95,06 S = 9,75 Lo = 0,075 Ltabel pada n =37 dengan α = 0,05 maka Ltabel = 0,146 Dari hasil perhitungan Lo dan Lt, dapat Lo < Lt yaitu 0,075 < 0,146 demikian sampel penelitian ini terdistribusi Normal. dengan

68

Lampiran II Uji Normalitas Sampel II Kelas XI.IPA5( Kontrol)
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 xi 43 48 52 56 60 64 68 72 76 80 84 xi2 1849 2304 2704 3136 3600 4096 4624 5184 5776 6400 7056 fi 1 2 3 4 5 6 6 5 3 2 1 fi.xi 43 96 156 224 300 384 408 360 228 160 84 fi.xi2 1849 4608 8112 12544 18000 24576 27744 25920 17328 12800 7056 fk 1 3 6 10 15 21 27 32 35 37 38 zi Fzi Szi |Fzi -Szi|

-2.1959 0.0179 0.02632 0.00842 -1.6802 0.0455 0.07895 0.03345 -1.2676 -0.855 -0.4424 -0.0299 0.38272 0.7953 0.102 0.15789 0.05589

0.1949 0.26316 0.06826 0.33 0.488 0.648 0.39474 0.06474 0.55263 0.06463 0.71053 0.06253

0.7852 0.84211 0.05691

1.20788 0.8869 0.92105 0.03415 1.62046 0.9474 0.97368 0.02628 2.03304 0.9793 1 0.0207

Σ

38

2443

160537

x=

∑ xi f i n
2 2

zi =

xi − x S

Sz i =

fk n

n ∑ f i x i − ( f i xi ) S = n(n − 1)
2

S= S2

Harga Fzi dilihat pada tabel F (Lampiran)

69

x = 64,3

S2 = 92,87 S = 9,39 Lo = 0,068 Ltabel pada n = 38 dengan α = 0,05 maka Ltabel = 0,144 Dari hasil perhitungan Lo dan Lt, dapat Lo < Lt yaitu 0,068 < 0,144 dengan demikian sampel penelitian ini terdistribusi Normal.

70

Lampiran III Uji Homogenitas Variansi Kelas Sampel
F= s12 2 s2

Keterangan : F
s12
2 s2

: variansi kelompok data : variansi terbesar : variansi terkecil

Variansi sampel I = 92,87 Variansi sampel II = 95,06
Fhitung = Fhitung = s12 2 s2 95,06 = 1,023 92,87

Ftabel dilihat dari taraf signifikan 0,05 dan dk=n-1 dk1 = 36 dan dk2 = 37 Ftabel (0,05) (36.37) = 1,71 Didapatkan hasil bahwa 1,023<1,71 atau Fh<Ft. Dari hasil perhitungan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa data nilai kelas sampel I dengan kelas sampel II adalah data yang homogen.

71

Lampiran IV Uji Kesamaan Dua Rata-rata Kelas Sampel
x 1 − x2 1 1 s + n 1 n2
2 (n1 − 1) s12 + (n 2 − 1) s 2 s = n1 + n 2 − 2 2

t=

dengan

x1 = 64,3 x 2 = 62,2

n1= 38 n2= 37

s12 = 92,87
2 s 2 = 95,06

s1= 9,39 s2= 9,75

s2 =

2 (n1 − 1) s12 + (n2 − 1) s 2 n1 + n2 − 2

s2 =

(38 − 1)92,87 + (37 − 1)95,06 = 93,95 38 + 37 − 2

s = 9,69 x 1 − x2 s 1 1 + n 1 n2
64,3 − 62,2 1 1 9,69 + 38 37 = 0,94

t=

t=

t = 0,94 (th) tt pada taraf nyata α = 0,05 dengan dk= n1 + n2 – 2 peluang (1-α)= 0,95 tt adalah 1,67. Setelah dilakukan uji t pada taraf nyata 0,05 diperoleh th = 0,94 dan tt = 1,67. Ini berarti th < tt, sehingga disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara kedua kelas sampel.

72

LAMPIRAN V RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Kelas / Semester Mata Pelajaran Tahun Pelajaran Waktu Standar Kompetensi : 1. Menganalisis gejala alam dan keterkaitannya dalam cakupan benda titik. Kompetensi Dasar : 1.7 Menunjukkan hubungan antara konsep impuls dan momentum untuk menyelesaikan masalah tumbukan. A. Indikator Pencapaian : 1. Kognitif: a. Produk 1. Mendeskripsikan konsep impuls 2. Mendeskripsikan konsep momentum 3. Menganalisis hubungan antara impuls dan momentum sehingga didapatkan I= ∆ p 4. Mengaplikasikan konsep impuls dan momentum dalam pemecahan masalah serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari b. Proses Melakukan diskusi kelompok dalam memformulasikan konsep impuls dan momentum, keterkaitan antar keduanya serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, meliputi: 1. Merumuskan masalah melalui dialog sederhana : SMA 7 Padang : XI IPA / 1

: FISIKA : 2011/ 2012 : 3 x 45’

73

2. Mengkreasikan imajinasi dalam menemukan fakta dalam kehidupan sehari-hari. 3. Memperhatikan animasi terkait impuls dan momentum. 4. Membahas contoh- contoh sederhana terkait impuls dan momentum 5. Mendiskusikan konsep impuls dan momentum secara mendalam 6. Menyimpulkan hasil diskusi untuk memformulasikan konsep impuls dan momentum 2. Psikomotor: a. Melakukan kegiatan eksplorasi dari berbagai referensi (sumber) untuk memformulasikan konsep impuls, momentum dan hubungan antar keduanya. b. Melakukan kegiatan eksplorasi dari berbagai sumber dalam menemukan aplikasi impuls dan momentum dalam kehidupan sehari-hari. 3. Afektif a. Karakter: Berfikir kritis dan logis, bekerja teliti, jujur dan berperilaku santun. b. Keterampilan sosial: menyampaikan pendapat, menjadi pendengar yang baik dan menanggapi pendapat orang lain. B. Tujuan Pembelajaran : 1. Kognitif: a. Produk 1. Setelah berdiskusi dalam kelompok kecil,siswa diharapkan dapat menjelaskan konsep impuls. 2. Setelah berdiskusi dalam kelompok kecil,siswa diharapkan dapat menjelaskan konsep momentum. 3. Setelah berdiskusi dalam kelompok kecil,siswa diharapkan dapat menyebutkan contoh aplikasi impuls dan momentum

74

4. Setelah berdiskusi dalam kelompok kecil,siswa diharapkan dapat menganalisis hubungan antara impuls dan momentum sehingga didapatkan I= ∆ p 5. Setelah berdiskusi, siswa diharapkan dapat mengaplikasikan konsep impuls dan momentum dalam kehidupan sehari-hari b. Proses 1. Disediakan Lembar Diskusi Siswa (LDS), siswa melakukan diskusi pada kelompoknya masing-masing untuk mendeskripsikan konsep impuls dan momentum, keterkaitan antar keduanya serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. 2. Melalui animasi, siswa dapat mengamati peristiwa terkait impuls dan momentum. 2. Psikomotor: a. Dengan panduan Lembar Diskusi Siswa (LDS), siswa melakukan eksplorasi untuk menemukan informasi tentang impuls dan momentum. b. Siswa mengamati secara seksama animasi yang ditampilkan didepan kelas kemudian memberikan tanggapan terkait impuls dan momentum yang baru saja dipelajari. 3. Afektif a. Terlibat aktif dalam pembelajaran dan menunjukkan karakter berfikir kritis dan logis,bekerja teliti, jujur dan berperilaku santun. b. Bekerja sama dalam kegiatan diskusi kelompok dan aktif menyampaikan pendapat, menjadi pendengar yang baik dan menanggapi pendapat orang lain. C. Materi Pembelajaran IMPULS DAN MOMENTUM Fakta : Jika kita pukul bola tenis dengan kuat maka bola melaju dengan cepat.

75

-

Mobil yang berkecepatan tinggi akan lebih parah kerusakannya jika bertabrakan.

-

Mobil yang syarat muatan akan lebih sulit dihentikan pada saat bergerak.

Konsep : Prinsip : -

Sepeda motor yang berkecepatan tinggi akan sulit untuk dihentikan Impuls Momentum

Momentum dimiliki oleh benda yang bergerak. Momentum adalah kecenderungan benda yang bergerak untuk melanjutkan

gerakannya pada kelajuan yang konstan. Momentum merupakan besaran vektor yang searah dengan kecepatan benda. Momentum dapat dirumuskan sebagai hasil perkalian massa kecepatan. Secara matematis dituliskan: p = m.v dengan: p = momentum (kgm/s) m = massa benda (kg) v = kecepatan benda (m/s) Impuls digunakan untuk menambah, mengurangi, dan mengubah arah momentum dalam satuan waktu. Impuls dapat dirumuskan sebagai hasil perkalian gaya dengan interval waktu. Impuls pada umumnya digunakan dalam peristiwa apabila gaya yang bekerja besar dan dalam waktu yang sangat singkat. Secara matematis dituliskan: I = F.∆ t dengan: F = gaya (N) ∆t = selang waktu (s) I = impuls (N.s) dengan

76

-

Impuls yang dikerjakan pada suatu benda sama dengan perubahan momentum yang dialami benda itu, yaitu beda antara momentum akhir dengan momentum awalnya. F.∆ t = mv ak-mvaw I= ∆ p = pak-paw

Prosedur: - Melakukan eksplorasi terkait Impuls dan Momentum - Mengidentifikasi besaran-besaran terkait Impuls dan Momentum - Menganalisis besaran-besaran terkait Impuls dan Momentum - Menyimpulkan konsep Impuls dan Momentum D. Model dan Metode Pembelajaran 1. Model : - Cooperatif Learning 2. Metode : - Diskusi kelompok - Demonstrasi - Tugas 3. Strategi : - Pembelajaran Gasing (Gampang Asyik dan Menyenangkan)

E. Kegiatan Pembelajaran No Aktivitas Pembelajaran A. Kegitan Pendahuluan 1 - Appersepsi: Konsep vektor, gaya dan kecepatan - Motivasi: Pernahkah kalian memperhatikan kecelakaan Siswa memperhatikan dan mobil di jalan raya? Kenapa mobil yang melaju berusaha cepat akan lebih parah kerusakannya jika terjadi pertanyaan guru kecelakaan? 2 Guru menyampaikan indikator dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa menjawab Siswa mempersiapkan diri 10’ untuk belajar. Aktivitas siswa Waktu

77

B. Kegiatan Inti Guru membagi siswa menjadi 8 kelompok Eksplorasi 1 Dialog sederhana Siswa dibimbing untuk memasuki materi yang dipelajari dengan dialog sederhana tentang impuls dan momentum dipandu dengan LDS yang diberikan. Setiap kelompok mecari informasi terkait impuls dan momentum kemudian Siswa kelompok ditetapkan Siswa berusaha mencari informasi terkait impuls dan momentum kemudian mendiskusikannya dalam kelompoknya masing masingduduk yang pada sudah

115’

mendiskusikannya. Berimajinasi/berfantasi Siswa dibimbing untuk berimajinasi dalam Siswa menemukan fakta atau kejadian sehari-hari imajinasi mengembangkan untuk

yang berhubungan dengan impuls dan menemukan fakta terkait momentum. Siswa dibimbing mengamati materi yang dipelajari

kejadian dalam kehidupan sehari-

sehari-hari terkait impuls dan momentum hari melalui tampilan animasi yang menarik dan mengasyikan. Elaborasi 2 Menyajikan relevan Siswa memperhatikan demonstrasi melalui media animasi yang ditampilkan guru untuk memperoleh contoh konkrit tentang impuls dan momentum sehingga contoh soal sederhana yang Siswa memperhatikan

animasi yang ditampilkan di didepan kelas kemudian mendiskusikan contoh

soal yang diberikan dalam kelompoknya masing. masing-

pembelajaran lebih mudah diterima.

78

Setiap

siswa

berdiskusi

dalam

menyelesaikan soal impuls dan momentum mulai tingkat yang sederhana. Menyajikan materi secara mendalam Siswa dibimbing untuk memahami konsep impuls dan momentum secara Siswa berusaha

memahami materi secara komprehensif selanjutnya membuat kesimpulan hasil diskusi.

komprehensif hasil diskusi. Konfirmasi

lalu membuat kesimpulan

Setiap kelompok mempresentasikan hasil Siswa diskusinya, lalu meminta kelompok lain hasil menanggapinya. Guru menganalisis dan

mempresentasikan diskusinya, lalu lain

kelompok mengevaluasi menanggapi. Siswa

proses pemecahan masalah dengan cara memberikan penguatan dan meluruskan konsep yang belum tepat. Memberikan variasi soal Guru membimbing siswa melakukan

memperhatikan

klarifikasi yang disapaikan guru dalam meluruskan konsep.

refleksi dengan jalan memberikan variasi soal untuk mengetahui ketercapaian

Siswa

berusaha

mengerjakan variasi soal yang diberikan oleh guru.

kompetensi siswa. C. Kegiatan Penutup 1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kemampuan

10’ Siswa penghargaan menerima dari guru

menyimpulkan dengan tepat. 2. Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi untuk penekanan konsep. 3. Guru memberikan latihan dan tugas rumah

atas kinerjanya. Siswa menyimpulkan

hasil diskusi.

79

berupa soal yang baru saja dipelajari. 4. Guru memberikan tugas meringkas materi Siswa mengerjakan tugas pelajaran momentum tentang Hukum kekekalan yang diberikan guru Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru untuk meringkas materi

yang akan dipelajari pada

pertemuan selanjutnya.

pertemuan selanjutnya 5.

F. Sumber Belajar : 1. Buku FISIKA untuk SMA/MA Kelas XI karangan Marthen Kanginan 2. Bahan Ajar FISIKA SMA/MA Karangan Tim Penyususn MGMP FISIKA Kota Padang. 3. BSE FISIKA untuk SMA/MA Kelas XI karangan Bambang Haryadi. 4. BSE FISIKA untuk SMA/MA Kelas XI karangan Sri Handayani. 5. LDS Impuls dan Momentum G. Penilaian Hasil Belajar : 1. Teknik Penilaian : Tes tertulis Lembar penilaian afektif Lembar penilaian psikomotorik 2. Bentuk Instrumen : Essay terstruktur

SOAL ULANGAN IMPULS DAN MOMENTUM 1. Dalam suatu permainan sepak bola, seorang pemain melakukan tendangan pinalti. Tepat setelah ditendang bola melambung dengan kecepatan 5 m/s. Bila gaya tendangan kaki yang diberikan 300 N dan sepatu pemain menyentuh bola selama 0,3 s maka tentukan: a) Impuls yang bekerja pada bola b) Perubahan momentumnya

80

c) Massa bola! (Bobot 60) 3. Dua mobil A dan B masing-masing bermassa 1.600 kg dan 800 kg. Hitunglah vektor momentum resultan A dan B (besar dan arahnya), jika mobil A bergerak ke utara dengan kelajuan 20 m/s dan mobil B bergerak dengan kelajuan 30 m/s ke timur ! (Bobot 40)

Kunci jawaban dan skor. Jawaban a. Diket: v0 = 0, v = 60 m/s, F = 300 N dan ∆t = 0,3 s Ditanya: a. I = …….? b. ∆p =…......? c. m = …….? Jawab: a. impuls yang bekerja pada bola sebesar: I = F .∆t = 300 . 0,3 = 90 Ns b. perubahan momentum bola sama dengan besarnya impuls yang diterima. ∆p = I = 90 kg m/s c. massa bola dapat ditentukan dengan hubungan berikut. ∆p = I m ∆v = 90 m . (60 - 0) = 90 m = 1,5 kg. b. Diket: mA = 1.600 kg mB = 800 kg vA = 20 m/s vB = 30 m/s Skor 10

10

10

10

20

5

81

Ditanya: a. PA = …….? b. Pb =…......? Jawab: a. PA = ma . va = 1.600 kg . 20 m/s = 32.000 kg . m/s b. Pb = mb . vb = 800 kg . 30 m/s = 24.000 kg . m/s

5

5

5 Momentum resultan: PR = Pa2 + P b2 PR = (32.000)2 + (24.000)2 = 40.000 kg m/s Arah momentum resultan : tan θ = PB = 24.000 = 3 PA 32.00 4 Jadi, θ = arc tan 3 = 37 0 4 JUMLAH Mengetahui, Kepala Sekolah SMAN 7 Padang

10

10 100 Padang, 18 Oktober 2011 Peneliti

Drs. Nursal Samin NIP. 195407161980031009

Estuhono Nim. 01938

82

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Kelas / Semester Mata Pelajaran Tahun Pelajaran Waktu Standar Kompetensi : 1. Menganalisis gejala alam dan keterkaitannya dalam cakupan benda titik. Kompetensi Dasar : 1.7 Menunjukkan hubungan antara konsep impuls dan momentum untuk menyelesaikan masalah tumbukan. A. Indikator Pencapaian : 1. Kognitif: a. Produk 1. Mendeskripsikan hukum kekekalan momentum 2. Mendeskripsikan hubungan jumlah momentum sebelum tumbukan dengan momentum setelah tumbukan jika tidak ada gaya luar yang bekerja 3. Memformulasikan hukum kekekalan momentum sehingga didapatkan m1v1+ m2v2= m1v1' + m2v2' 4. Mendeskripsikan prinsip kerja roket 5. Mengaplikasikan hukum kekekalan momentum dalam pemecahan masalah serta aplikasinya kehidupan sehari-hari b. Proses Melakukan diskusi kelompok dalam memformulasikan hukum kekekalan momentum serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, meliputi: 1. Merumuskan masalah melalui dialog sederhana : SMA 7 Padang : XI IPA / 1

: FISIKA : 2011/ 2012 : 3 x 45’

83

2. Mengkreasikan imajinasi dalam menemukan fakta dalam kehidupan sehari-hari. 3. Memperhatikan animasi terkait hukum kekekalan momentum 4. Membahas contoh-contoh momentum 5. Mendiskusikan hukum kekekalan momentum secara mendalam 6. Menyimpulkan hasil diskusi untuk memformulasikan hukum sederhana terkait hukum kekekalan

kekekalan momentum 2. Psikomotor: a. Melakukan kegiatan eksplorasi dari berbagai referensi (sumber) untuk memformulasikan hukum kekekalan momentum. b. Melakukan kegiatan eksplorasi dari berbagai sumber dalam menemukan aplikasi hukum kekekalan momentum dalam kehidupan sehari-hari. 3. Afektif a. Karakter: Berfikir kritis dan logis, bekerja teliti, jujur dan berperilaku santun. b. Keterampilan sosial: menyampaikan pendapat, menjadi pendengar yang baik dan menanggapi pendapat orang lain. B. Tujuan Pembelajaran 1. Kognitif: a. Produk 1. Setelah berdiskusi, siswa diharapkan dapat menjelaskan hukum kekekalan momentum. 2. Setelah berdiskusi, siswa diharapkan dapat menyebutkan contoh aplikasi hukum kekekalan momentum. 3. Setelah berdiskusi, siswa diharapkan dapat memformulasikan hukum kekekalan momentum sehingga didapatkan : m1v1+ m2v2 = m1v1' + m2v2'

84

4. Setelah berdiskusi, siswa diharapkan dapat mendeskripsikan prinsip kerja roket. 5. Setelah berdiskusi, siswa diharapkan dapat mengaplikasikan hukum kekekalan momentum dalam kehidupan sehari-hari b. Proses 1. Siswa melakukan diskusi pada kelompoknya masing-masing untuk mendeskripsikan hukum kekekalan momentum serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. 2. Melalui animasi, siswa dapat mengamati peristiwa terkait hukum kekekalan momentum 2. Psikomotor: a. Siswa melakukan eksplorasi untuk menemukan informasi tentang hukum kekekalan momentum dari berbagai sumber. b. Siswa mengamati secara seksama animasi yang ditampilkan di depan kelas kemudian memberikan tanggapan terkait hukum kekekalan momentum yang baru saja dipelajari. 3. Afektif a. Terlibat aktif dalam pembelajaran dan menunjukkan karakter berfikir kritis dan logis,bekerja teliti, jujur dan berperilaku santun. b. Bekerja sama dalam kegiatan diskusi kelompok dan aktif menyampaikan pendapat, menjadi pendengar yang baik dan menanggapi pendapat orang lain. C. Materi Pembelajaran HUKUM KEKEKALAN MOMENTUM Fakta : - Balon berisi gas terbang ke udara ketika dilepaskan Roket melaju cepat ke udara dengan menyemburkan gas Tentara tersentak ke depan ketika menembak sasaran Bola billiard terpental ketika bertabrakan

85

Konsep : Prinsip

Kekekalan momentum Momentum sebelum tumbukan dan momentum setelah tumbukan

: - Pada peristiwa tumbukan, jumlah momentum benda-benda sebelum dan sesudah tumbukan adalah tetap, asalkan tidak ada gaya luar yang bekerja pada benda tersebut. Secara matematis dituliskan :

p1 + p2 = p1’+ p2’
atau

m 1 . v1 + m2 . v 2 = m 1 . v1’ + m2 . v 2’
Dengan : p1, p2 = momentum benda 1 dan 2 sebelum tumbukan p1’, p2’ = momentum benda 1 dan 2 sesudah tumbukan m1, m2 = massa benda 1 dan 2 v1, v2 = kecepatan benda 1 dan 2 sebelum tumbukan v1’, v2’ = kecepatan benda 1 dan 2 sesudah tumbukan. Prosedur: - Melakukan eksplorasi terkait hukum kekekalan momentum Mengidentifikasi besaran-besaran terkait hukum kekekalan

momentum - Menganalisis besaran-besaran terkait hukum kekekalan momentum - Menyimpulkan hukum kekekalan momentum D. Model dan Metode Pembelajaran 1. Model : - Cooperatif Learning 2. Metode : - Diskusi kelompok - Demonstrasi - Tugas 3. Strategi : - Pembelajaran Gasing (Gampang Asyik dan Menyenangkan)

86

E. Kegiatan Pembelajaran No Aktivitas Pembelajaran A. Kegitan Pendahuluan 1 - Appersepsi: Momentum - Motivasi: Pernahkah kalian memperhatikan peluncuran Siswa memperhatikan dan roket? Bagaimana para ahli meluncurkannya? berusaha Kenapa roket dapat terdorong ke udara? Guru menyampaikan indikator dan tujuan 2 pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa B. Kegiatan Inti Guru membagi siswa menjadi 8 kelompok Eksplorasi Dialog sederhana 1 Siswa dibimbing untuk memasuki materi yang dipelajari dengan dialog sederhana terkait hukum kekekalan momentum 2 Setiap kelompok mecari informasi Siswa berusaha terkait mencari impuls Siswa kelompok ditetapkan duduk yang pada sudah 115’ pertanyaan guru menjawab Siswa mempersiapkan diri 10’ untuk belajar. Aktivitas siswa Waktu

informasi

sebanyak-banyaknya hukum kekekalan momentum dari berbagai sumber dan mendiskusikannya. Berimajinasi/berfantasi

dan momentum kemudian mendiskusikannya kelompoknya masing mengembangkan dalam masing-

Siswa dibimbing untuk berimajinasi Siswa

dalam menemukan fakta atau kejadian imajinasi untuk menemukan sehari-hari yang berhubungan dengan fakta terkait materi yang hukum kekekalan momentum. dipelajari dalam kehidupan sehari-hari

87

Siswa dibimbing mengamati kejadian Siswa

memperhatikan

sehari-hari terkait hukum kekekalan animasi yang ditampilkan di momentum melalui tampilan animasi didepan kelas kemudian

yang menarik dan mengasyikan. Elaborasi

mendiskusikan contoh soal yang diberikan dalam masing-

Menyajikan contoh soal sederhana yang kelompoknya relevan Siswa memperhatikan demonstrasi masing.

melalui animasi yang ditampilkan guru untuk memperoleh contoh konkrit

tentang hukum kekekalan momentum sehingga pembelajaran lebih mudah diterima. Setiap siswa berdiskusi dalam

menyelesaikan soal hukum kekekalan momentum sederhana. Menyajikan materi secara mendalam Siswa dibimbing untuk memahami Siswa berusaha memahami materi secara komprehensif selanjutnya membuat mulai tingkat yang

hukum kekekalan momentum secara komprehensif lalu membuat kesimpulan hasil diskusi. Konfirmasi Setiap kelompok

kesimpulan hasil diskusi.

mempresentasikan Siswa

mempresentasikan diskusinya, kelompok lalu lain

hasil diskusinya, lalu meminta kelompok hasil lain memberikan tanggapannya. meminta

Guru menganalisis dan mengevaluasi memberikan tanggapannya. proses pemecahan masalah dengan cara Siswa memperhatikan

88

memberikan penguatan dan meluruskan konsep yang belum tepat. Memberikan variasi soal Guru membimbing siswa melakukan refleksi dengan jalan memberikan variasi soal untuk mengetahui ketercapaian kompetensi siswa. C. Kegiatan Penutup 1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kemampuan menyimpulkan dengan tepat. 2. Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi untuk penekanan konsep.

klarifikasi yang disapaikan guru dalam meluruskan

konsep.

Siswa

berusaha

mengerjakan variasi soal yang diberikan oleh guru.

Siswa

menerima

penghargaan dari guru atas kinerjanya. Siswa menyimpulkan hasil 10’ diskusi.

3. Guru memberikan latihan dan tugas Siswa mengerjakan tugas rumah berupa soal yang baru saja yang diberikan guru dipelajari. 4. Guru memberikan tugas meringkas Siswa melaksanakan tugas meringkas dari guru

materi selanjutnya tentang tumbukan

F. Sumber Belajar : 1. Buku FISIKA untuk SMA/MA Kelas XI karangan Marthen Kanginan 2. Bahan Ajar FISIKA SMA/MA Karangan Tim Penyususn MGMP FISIKA Kota Padang. 3. BSE FISIKA untuk SMA/MA Kelas XI karangan Bambang Haryadi. G. Penilaian Hasil Belajar : 1. Teknik Penilaian : - Tes tertulis - Lembar penilaian afektif - Lembar penilaian psikomotorik

89

2. Bentuk Instrumen

: - Essay terstruktur

SOAL ULANGAN HUKUM KEKEKALAN MOMENTUM 1. Sebuah silinder roket mengandung 12 kg gas yang dimampatkan. Jika katup silinder itu dibuka, maka gas akan menyembur keluar dari mulut pipa sehingga silinder kosongdalam waktu 1 menit 30 sekon. Jika gas menyembur keluar dari mulut pipa dengan kecepatan rata-rata 25 m/s, hitung gaya yang dikerjakan gas pada silinder itu. (Bobot 60) 2. Sebutir peluru bermassa 30 gram ditembakan dari senapan yang massanya 1,5 kg. Jika peluru saat lepas memiliki kecepatan 100 kecepatan senapan sesaat setelah peluru lepas? (Bobot 40) m/s maka tentukan

Kunci jawaban dan skor. Jawaban 1. Skor

Diket: Momentum gas mula-mula sama dengan nol sebab gas mula-mula diam dalam silinder. 10 p1 = 0 Momentum gas pada waktu keluar dari silinder dengan kecepatan 25 m/s adalah p2 = mv = (12 kg) (25 m/s) = 300 kg m/s Perubahan momentum gas (∆p) yang terjadi selama ∆t= 1 menit 30 sekon 10 atau 90 sekon adalah ∆p = p2-p1 = 300 kg m/s – 0 = 300 kg m/s Gaya rata-rata yang dikerjakan silinder pada gas adalah F = ∆p/∆t = 300 kg m/s / 90 s = 3,3 N 20

90

Gaya yang dikerjakan silinder pada gas adalah 3,3 N dengan arah ke bawah. Sesuai dengan hukum III Newton, timbul reaksi dimana gas akan mengerjakan gaya kepada silinder yang nilainya sama tetapi arahnya berlawanan. Jadi, gaya rata-rata yang dikerjakan semburan gas pada 20 silinder adalah 3,3 N dengan arah ke atas( kita sebut gaya dorong ). 2. Diket: mp = 30 gr = 3 . 10-2 kg ms = 1,5 kg vp = 100 m/s 10 Ditanya: Vs =………………? Jawab: Pada saat peluru dan senapan tidak dipengaruhi impuls dari luar sehingga berlaku hukum kekekalan momentum. 10 pawal = pakhir 0 = mp.vp− ms vs ms.vs = mp.vp 1,5.vs = 3.10-2 . 100 20 vs = 2 m/s Jumlah 100

Mengetahui, Kepala Sekolah SMAN 7 Padang

Padang, 25 Oktober 2011 Peneliti

Drs. Nursal Samin NIP. 195407161980031009

Estuhono Nim.01938

91

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Kelas / Semester Mata Pelajaran Tahun Pelajaran Waktu Standar Kompetensi : 1. Menganalisis gejala alam dan keterkaitannya dalam cakupan benda titik. Kompetensi Dasar : 1.7 Menunjukkan hubungan antara konsep impuls dan momentum untuk menyelesaikan masalah tumbukan. A. Indikator Pencapaian : 1. Kognitif: a. Produk 1. Mendeskripsikan jenis-jenis tumbukan 2. Menganalisis bahwa pada tumbukan lenting sempurna berlaku hukum kekekalan momentum dan hukum kekekalan energi 3. Menganalisis pada tumbukan lenting sebagian berlaku hukum kekekalan momentum, tetapi tidak berlaku hukum kekekalan energi kinetik. 4. Menganalisis pada tumbukan tidak lenting sama sekali, sesudah tumbukan kedua benda bersatu, sehingga kecepatan kedua benda sesudah tumbukan besarnya sama, v1' = v2' = v'. 5. Mengklasifikasikankan peristiwa tumbukan dalam kehidupan seharihari kedalam jenis-jenis tumbukan. b. Proses : SMA 7 Padang : XI IPA / 1 : FISIKA : 2011/ 2012 : 3 x 45’

92

Melakukan diskusi kelompok dalam mengklasifikasikan jenis-jenis tumbukan serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, meliputi: 1. Merumuskan masalah melalui dialog sederhana 2. Mengkreasikan imajinasi dalam menemukan fakta dalam kehidupan sehari-hari 3. Memperhatikn animasi terkait peristiwa tumbukan 4. Membahas contoh-contoh sederhana terkait tumbukan 5. Mendiskusikan konsep tumbukan secara mendalam 6. Menyimpulkan hasil diskusi untuk mengklasifikasikan jenis-jenis tumbukan serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari 2. Psikomotor: a. Melakukan kegiatan eksplorasi dari berbagai referensi (sumber) untuk menganalisis jenis-jenis tumbukan. b. Melakukan kegiatan eksplorasi dari berbagai sumber dalam menemukan peristiwa tumbukan dalam kehidupan sehari-hari dan mengelompokannya. 3. Afektif a. Karakter: Berfikir kritis dan logis, bekerja teliti, jujur dan berperilaku santun. b. Keterampilan sosial: menyampaikan pendapat, menjadi pendengar yang baik dan menanggapi pendapat orang lain. B. Tujuan Pembelajaran : 1. Kognitif: a. Produk 1. Setelah berdiskusi dalam kelompok kecil, siswa diharapkan dapat mendeskripsikan jenis- jenis tumbukan 2. Setelah berdiskusi dalam kelompok kecil, siswa diharapkan dapat menganalisis bahwa pada tumbukan lenting sempurna berlaku hukum kekekalan momentum dan hukum kekekalan energi

93

3. Setelah berdiskusi dalam kelompok kecil, siswa diharapkan dapat menganalisis bahwa pada tumbukan lenting sebagian berlaku hukum kekekalan momentum, tetapi tidak berlaku hukum kekekalan energi kinetik 4. Setelah berdiskusi dalam kelompok kecil, siswa diharapkan dapat menganalisis bahwa pada tumbukan tidak lenting sama sekali, sesudah tumbukan kedua benda bersatu, sehingga kecepatan kedua benda sesudah tumbukan besarnya sama, v1' = v2' = v' 5. Setelah berdiskusi, siswa diharapkan dapat mengklasifikasikankan tumbukan dalam kehidupan sehari-hari ke dalam jenis-jenis tumbukan c. Proses 1. Siswa melakukan diskusi pada kelompoknya masing-masing untuk mendeskripsikan jenis- jenis tumbukan 2. Melalui animasi, siswa dapat mengamati peristiwa terkait peristiwa tumbukan 2. Psikomotor: a. Siswa melakukan eksplorasi untuk menemukan informasi terkait peristiwa tumbukan dari berbagai sumber. b. Siswa mengamati secara seksama animasi yang ditampilkan di depan kelas kemudian memberikan tanggapan terkait peristiwa tumbukan yang baru saja dipelajari. c. Siswa berusaha aktif mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru 3. Afektif a. Terlibat aktif dalam pembelajaran dan menunjukkan karakter berfikir kritis dan logis,bekerja teliti, jujur dan berperilaku santun. b. Bekerja sama dalam kegiatan diskusi kelompok dan aktif menyampaikan pendapat, menjadi pendengar yang baik dan menanggapi pendapat orang lain.

94

C. Materi Pembelajaran TUMBUKAN Fakta : Mobil sedan ringsek ketika bertabrakan dengan kereta api Peluru pistol bersarang kedalam tubuh pencopet Bola billiard melanting ketika menumbuk bola yang lain Tanah liat menempel di dinding ketika dilemparkan dengan kuat

Konsep : - Tumbukan lenting sempurna Prinsip Tumbukan lenting sebagian Tumbukan tidak lenting sama sekali

: - Tumbukan elastis sempurna atau lenting sempurna adalah tumbukan dua benda atau lebih yang memenuhi hukum kekekalan momentum dan hukum kekekalan energi kinetik. Pada tumbukan ini memiliki koefisien restitusi satu, e = 1 - Pada tumbukan elastis (lenting) sebagian juga berlaku kekekalan momentum, tetapi energi kinetiknya hilang sebagian. Koefisien restitusi pada tumbukan ini memiliki nilai antara nol dan satu (0 < e < 1). - Tumbukan tidak elastis atau tidak lenting merupakan peristiwa tumbukan dua benda yang memiliki ciri setelah tumbukan kedua benda bersatu. - Berdasarkan nilai e, tumbukan dapat dibagi menjadi a. Tumbukan elastis sempurna, berlaku: • • • • • kekekalan momentum kekekalan energi kinetik e=1

b. Tumbukan elastis sebagian, berlaku: kekekalan momentum & energi tidak kekal 0< e< 1

95

c. Tumbukan tidak elastis, berlaku: • • • kekekalan momentum energi tidak kekal e= 0

Prosedur: - Melakukan eksplorasi terkait peristiwa tumbukan - Mengidentifikasi besaran-besaran terkait tumbukan - Menganalisis besaran-besaran terkait tumbukan - Menyimpulkan konsep tumbukan D. Model dan Metode Pembelajaran 1. Model : - Cooperatif Learning 2. Metode : - Diskusi kelompok - Demonstrasi - Tugas 3. Strategi : - Pembelajaran Gasing (Gampang Asyik dan Menyenangkan)

E. Kegiatan Pembelajaran No Aktivitas Pembelajaran Aktivitas siswa Waktu

1

A. Kegitan Pendahuluan - Appersepsi: mempersiapkan 10’ Hukum kekekalan momentum dan hukum Siswa diri untuk belajar. kekekalan energy kinetik - Motivasi:

2

Pernahkah kalian memperhatikan permainan Siswa

memperhatikan

billiard? Apa yang terjadi ketika bola billiard dan berusaha menjawab menumbuk bola yang lain? Bagaimana pertanyaan guru

kecepatanya setelah ditumbuk bola yang lain? Guru menyampaikan indikator dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa

96

B. Kegiatan Inti Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok Eksplorasi Dialog sederhana 1 Siswa dibimbing untuk memasuki materi yang dipelajari dengan dialog sederhana terkait peristiwa tumbukan Setiap 2 kelompok mecari terkait informasi peristiwa Siswa informasi peristiwa kemudian mendiskusikannya mencari terkait tumbukan 115’ Siswa duduk pada

kelompok yang sudah ditetapkan

sebanyak-banyaknya

tumbukan dari berbagai sumber dan mendiskusikannya. Berimajinasi/berfantasi Siswa dibimbing untuk berimajinasi Siswa mengembangkan untuk

dalam menemukan fakta atau kejadian sehari-hari terkait peristiwa tumbukan Siswa dibimbing mengamati kejadian sehari-hari terkait peristiwa tumbukan melalui tampilan animasi yang menarik dan mengasyikan. Elaborasi Menyajikan contoh soal sederhana yang relevan Siswa memperhatikan demonstrasi

imajinasi

menemukan fakta terkait materi yang dipelajari

dalam kehidupan seharihari

melalui media animasi yang ditampilkan guru untuk memperoleh contoh konkrit terkait peristiwa tumbukan sehingga

pembelajaran lebih mudah diterima.

Siswa memperhatikan animasi yang ditampilkan di didepan kelas kemudian mendiskusikan contoh soal yang diberikan dalam kelompoknya masing-masing.

97

Setiap

siswa

berdiskusi soal terkait

dalam peristiwa

menyelesaikan

tumbukan mulai tingkat yang sederhana. Menyajikan materi secara mendalam Siswa dibimbing untuk memahami materi tumbukan secara komprehensif membuat kesimpulan hasil diskusi. Konfirmasi Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, lalu kelompok lain Siswa mempresentasikan hasil diskusinya, lalu kelompok lain menanggapi Siswa memperhatikan klarifikasi yang lalu Siswa memahami materi secara selanjutnya komprehensif membuat

kesimpulan hasil diskusi. 10’

memberikan tanggapannya. Guru menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah dengan cara memberikan penguatan dan meluruskan konsep yang belum tepat. Memberikan variasi soal Guru membimbing siswa melakukan

disapaikan guru dalam meluruskan konsep.

Siswa

berusaha

refleksi dengan jalan memberikan variasi soal untuk mengetahui ketercapaian

mengerjakan variasi soal yang guru. diberikan oleh

kompetensi siswa. C. Kegiatan Penutup 1. Guru kepada memberikan kelompok penghargaan yang memiliki

Siswa

menerima

penghargaan dari guru atas kinerjanya.

kemampuan menyimpulkan dengan tepat. 2. Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi untuk penekanan konsep.

Siswa

menyimpulkan

hasil diskusi.

98

3. Guru memberikan latihan dan tugas Siswa mengerjakan tugas rumah berupa soal yang baru saja yang diberikan guru dipelajari. 4. Guru memberikan tugas meringkas materi pelajaran tentang koefisien restitusi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya. Siswa tugas melaksanakan yang diberikan

guru untuk meringkas materi selanjutnya

F. Sumber Belajar : 1. Buku FISIKA untuk SMA/MA Kelas XI karangan Marthen Kanginan. 2. BSE FISIKA untuk SMA/MA Kelas XI karangan Bambang Haryadi. 3. BSE FISIKA untuk SMA/MA Kelas XI karangan Sri Handayani G. Penilaian Hasil Belajar : 1. Teknik Penilaian : - Tes tertulis - Lembar penilaian afektif - Lembar penilaian psikomotorik 2. Bentuk Instrumen : - Essay terstruktur

SOAL ULANGAN TUMBUKAN 1. Bola 150 gram bergerak ke kanan dengan kelajuan 20 m/s menumbuk bola lain bermassa 100 gram yang mula-mula diam. Jika tumbukannya lenting sempurna, berapakah kecepatan masing-masing bola setelah tumbukan? (Bobot 40) 2. Sebuah benda menumbuk balok yang diam di atas lantai dengan kecepatan 20 m/s. Setelah tumbukan, balok terpental dengan kecepatan 15 m/s searah dengan kecepatan benda semula. Berapakah kecepatan benda setelah tumbukan, jika besar koefisien restitusi e = 0,4? (Bobot 30)

99

3. Dua buah benda A dan B massanya masing-masing 5 kg dan 3 kg bergerak berlawanan arah pada bidang datar licin dengan kelajuan sama 2 m/s. Jika terjadi tumbukan tidak lenting sama sekali, berapakah kecepatan kedua benda sesaat setelah tumbukan? (Bobot 30) Kunci jawaban dan skor. Jawaban 1. Skor

10

20

10

100

2. 15

15 3. 15

15 JUMLAH 100

Mengetahui, Kepala Sekolah SMAN 7 Padang

Padang, 01 Nopember2011 Peneliti

Drs. Nursal Samin NIP. 195407161980031009

Estuhono Nim. 01938

101

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Kelas / Semester Mata Pelajaran Tahun Pelajaran Waktu Standar Kompetensi : 1. Menganalisis gejala alam dan keterkaitannya dalam cakupan benda titik. Kompetensi Dasar : 1.7 Menunjukkan hubungan antara konsep impuls dan momentum untuk menyelesaikan masalah tumbukan. A. Indikator Pencapaian : 1. Kognitif: a. Produk 1. Mendeskripsikan konsep koefisien restitusi 2. Menganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi koefisien restitusi 3. Mengaplikasikan konsep koefisien restitusi dalam pemecahan masalah serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari b. Proses Melakukan percobaan untuk menentukan koefisien restitusi antara bola tenis, bola kasti dan bola karet, meliputi: 1. Merumuskan masalah terkait koefisien restitusi 2. Merumuskan hipotesis 3. Mengidentifikasi vatiabel– variable 4. Menyusun data percobaan 5. Menganalisis data 6. Menyimpulkan : SMA 7 Padang : XI IPA / 1

: FISIKA : 2011 / 2012 : 3 x 45’

102

2. Psikomotor: a. Melakukan percobaan untuk menentukan koefisien restitusi antara bola tenis, bola kasti dan bola karet b. Mengukur massa bola c. Mengukur ketinggian pantulan masing-masing bola. 3. Afektif a. Karakter: Berfikir kritis dan logis, bekerja teliti, jujur dan berperilaku santun. b. Keterampilan sosial: menyampaikan pendapat, menjadi pendengar yang baik dan menanggapi pendapat orang lain. B. Tujuan Pembelajaran : 1. Kognitif: a. Produk 1. Dengan kalimat sendiri siswa dapat mendeskripsikan konsep koefisien restitusi 2. Dengan seperangkat alat percobaan, siswa dapat menentukan koefisien restitusi antara bola tenis, bola kasti dan bola karet 3. Dengan seperangkat alat percobaan, siswa dapat menyelidiki faktorfaktor yang mempengaruhi koefisien restitusi 4. Berdasarkan data hasil percobaan, siswa dapat menentukan koefisien restitusi antara bola tenis, bola kasti dan bola karet 5. Mengaplikasikan konsep koefisien restitusi dalam kehidupan seharihari-hari b. Proses 1. Disediakan seperangkat alat percobaan, siswa dapat melakukan percobaan untuk menentukan koefisien restitusi antara bola tenis, bola kasti dan bola karet

103

2. Disediakan seperangkat alat percobaan, siswa dapat melakukan percobaan untuk menyelidiki faktor- faktor yang mempengaruhi koefisien restitusi 2. Psikomotor: 1. Disediakan seperangkat alat percobaan, siswa terampil melakukan percobaan untuk menentukan koefisien restitusi antara bola tenis, bola kasti dan bola karet 2. Siswa dapat mengukur tinggi pantulan masing-masing bola. 3. Siswa dapat mengukur massa masing-masing bola. 3. Afektif a. Terlibat aktif dalam pembelajaran dan menunjukkan karakter berfikir kritis dan logis,bekerja teliti, jujur dan berperilaku santun. b. Bekerja sama dalam kegiatan diskusi kelompok dan aktif menyampaikan pendapat, menjadi pendengar yang baik dan menanggapi pendapat orang lain C. Materi Pembelajaran KOEFISIEN RESTITUSI Fakta : - Bola tenis memantul di lantai Bola volly mematul ketika menumbuk dinding Pantulan bola tenis yang menumbuk lantai semakin lama semakin rendah Konsep : Prinsip Koefisien Restitusi : - Setiap dua benda yang bertumbukan akan memiliki tingkat kelentingan atau elastisitas. Tingkat elastisitas ini dinyatakan

dengan koefisien restitusi (e). Koefisien restitusi didefinisikan sebagai nilai negatif dari perbandingan kecepatan relatif sesudah tumbukan dengan kecepatan relatif sebelumnya. e = ∆V’ = (V2’-V1’) ∆V = V1 - V2

104

-

Nilai koefisien restitusi adalah antara nol dan satu (0 ≤ e ≤1 ). Untuk tumbukan lenting sempurna e = 1, sedangkan untuk tumbukan tak lenting sama sekali e = 0.

Prosedur: - Mempersiapan alat dan bahan - Mengikuti prosedur percobaan - Melakukan percobaan - Menganalisis data percobaan - Menarik kesimpulan D. Model dan Metode Pembelajaran 1. Model : - Cooperatif Learning 2. Metode : - Diskusi kelompok - Eksperimen E. Kegiatan Pembelajaran No. Aktivitas Pembelajaran A. Kegitan Pendahuluan 1 - Appersepsi: Tumbukan - Motivasi: Apa yang terjadi jika kita jatuhkan bola Siswa memperhatikan dan tenis di lantai? Bagaimana kondisi bola berusaha tenis tersebut? Bagaimana ketinggian pertanyaan guru pantulan bola setelah beberapa saat? 2 Guru menyampaikan indikator dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa B. Kegiatan Inti 1 Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok Siswa duduk pada 115’ menjawab Aktivitas siswa Waktu

10’ Siswa mempersiapkan diri 115’
untuk belajar

kelompok yang ditetapkan

105

Eksplorasi 2 Guru mengajukan pertanyaan Siswa berusaha menjawab pertanyaan yang diberikan guru, dengan berdiskusi

kepada siswa terkait tumbukan bola dengan loantai: Apa yang terjadi jika kita jatuhkan bola tenis di lantai? Bagaimana ketinggian pantulan bola setelah beberapa saat?

dalam kelompoknya

Elaborasi Guru memberikan kesempatan memberikan Siswa merumuskan

kepada siswa untuk

hipotesis dari permasalahan yang diajukan

jawaban dalam upaya merumuskan hipotesis Guru membimbing kelompok untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai untuk menguji hipotesis.

Siswa menyusun langkahlangkah kerja sesuai LKS dalam hipotesis rangka menguji

Guru membimbing kelompok siswa melakukan menentukan percobaan koefisien sederhana restitusi

Siswa

melakukan

percobaan sederhana sesuai dengan tuntunan LKS.

antara bola tenis, bola kasti dan bola karet Konfirmasi Guru memberi kesempatan kepada siswa mengumpulkan dan Siswa mengumpulkan mengolahnya tuntunan LKS berdiskusi data dan sesuai

menganalisis data sesuai dengan tuntunan LKS

106

Guru membimbing siswa membuat kesimpulan dalam menentukan

Siswa menyimpulkan hasil diskusi untuk menentukan harga koefisien restitusi

harga koefisien restitusi bola tenis, bola kasti dan bola karet

bola tenis, bola kasti dan bola karet

C. Kegiatan Penutup 1. Guru memberikan kesempatan kepada mengungkapkan yang dihadapi siswa untuk Siswa menyampaikan 10’

permasalahan-permasalahan yang ditemui selama

permasalahan selama

pembelajaran berlangsung.

pembelajaran 2. Guru memberikan untuk kesempatan materi Siswamenyampaikan materi yang belum dipahaminya

mengungkapkan

yang belum dipahaminya. 3. Guru memberikan evaluasi untuk melihat sejauhmana pehaman Siswa evaluasi guru melaksanakan yang diberikan

siswa tehadap materi pengaruh gaya terhadap pertambahan

panjang pegas 4. Guru memberikan tugas rumah Siswa mengerjakan tugas berupa latihan soal. yang diberikan guru

F. Sumber Belajar : 1. Buku FISIKA untuk SMA/MA Kelas XI karangan Marthen Kanginan 2. BSE FISIKA untuk SMA/MA Kelas XI karangan Bambang Haryadi. 3. LKS Koefisien Restitusi

107

G. Penilaian Hasil Belajar : 1. Teknik Penilaian : Tes tertulis Lembar penilaian afektif Lembar penilaian psikomotorik 2. Bentuk Instrumen : Essay terstruktur

SOAL ULANGAN KOEFISIEN RESTITUSI 1. Bola A 2 kg bergerak dengan kecepatan 4 m/s. Sedangkan bola B 3 kg bergerak di depan bola A dengan kecepatan 2 m/s searah. Setelah tumbukan kecepatan bola B menjadi 4 m/s. Tentukan: a. kecepatan bola A setelah tumbukan, b. koefisien restitusi! (Bobot 60) 2. Sebuah benda jatuh di atas tanah dari ketinggian 9 m. Ternyata benda terpantul setinggi 1 meter. Hitunglah: a. Koefisien kelentingan. b. Tinggi pantulan setelah pantulan ketiga. (Bobot 40) Kunci jawaban dan skor. Jawaban 1. Skor

20

20

20

108

2. Diket: h1 = 9 m h2 = 1 m Ditanya: c. Koefisien restitusi (e)= …….? d. Tinggi pantulan ketiga (h3)=…......? Jawab: a. e =

10

h2 h1

1 9 e = 1/ 3 e=
b. e =

10

h3 h2 h3 h2

1/ 3 =
9 = h3 h2 h3 = 1/3.1 m h3 = 1/3 m JUMLAH

20 100

Mengetahui, Kepala Sekolah SMAN 7 Padang

Padang, 15 Oktober 2011 Peneliti

Drs. Nursal Samin NIP. 195407161980031009

Estuhono Nim. 01938

109

LAMPIRAN VI

Lembar Diskusi Siswa
Sekolah Kelas/semester Mata Pelajaran Kelompok Anggota 1. 2. 3. A. Kompetensi Dasar : SMAN 7 Padang : X/1 : Fisika :…….. : 4. 5.

Menunjukan hubungan antara konsep impuls dan momentum untuk menyelesaikan masalah tumbukan.
B. Tujuan Kegiatan

Setelah melakukan diskusi, siswa diharapkan dapat: Menjelaskan pengertian impuls Menjelaskan pengertian momentum Menyebutkan contoh-contoh penerapan impuls dan momentum kehidupan sehari-hari
C. Alokasi Waktu

dalam

Waktu yang disediakan 3 x 45 menit.
D. Informasi Singkat

Untuk dapat memahami materi ini, baca buku-buku referensi berikut. Kamajaya, (2006). Fisika untuk SMA kelas XI semester I.Grafindo Media Pratama. Page (154-167) Marthen Kanginan, (2007). Fisika. Erlangga. Page (158-165) Sri Handayani & Ari Damari, (2009). Fisika : Untuk SMA/MA Kelas XI Departemen Pendidikan Nasional. Page (72-77) Bambang Haryadi, (2009). Fisika : Untuk SMA/MA Kelas XI Departemen Pendidikan Nasional. Page (87-90)

110

E. Prosedur Kerja

1. Pahami standar kompetensi, kompetensi dasar, dan tujuan pembelajaran. 2. Baca informasi singkat dan menambah pemahaman dengan mempelajari buku-buku referensi 3. Amati contoh-contoh video dan animasi dari impuls dan momentum yang ditampilkan di depan kelas. 4. Buat ringkasan berdasarkan yang kamu pelajari tersebut 5. Duduk pada kelompok masing-masing dan berpartisipasi aktif dalam diskusi kelas 6. Pikirkan peristiwa impuls dan momentum dalam kehidupan sehari-hari. 7. Diskusikan dalam kelompokmu pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam LDS ini. 8. Buat laporan kelompokmu pada diskusi kelas.
F. Tugas

1. Jawablah pertanyaan berikut. a. Jelaskanlah pengertian impuls secara umum disertai dengan contoh. …………………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………….......................................................... ......................................................................................................................................................... b. Besarnya impuls sebanding dengan besarnya gaya yang diberikan serta selang waktu yang bekerja pada suatu benda. Secara matematis impuls dapat diformulasikan: …………………………………………………………………………………………………………… ………………………….................................................................................................................... ......................................................................................................................................................... c. Jelaskanlah pengertian momentum secara umum disertai dengan contoh.

111

…………………………………………………………………………………………………………… ……………………………................................................................................................................. ......................................................................................................................................................... ......................................................................................................................................................... d. Jelaskanlah hubungan massa benda dengan besarnya momentum yang dimiliki benda tersebut. …………………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………............................................................. ......................................................................................................................................................... e. Jelaskanlah hubungan kecepatan benda dengan besarnya momentum yang dimiliki benda tersebut …………………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………............................................................. ......................................................................................................................................................... f. Berdasarkan hubungan massa dan kecepatan terhadap besarnya momentum, formulasikanlah besaran momentum secara matematis. …………………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………........................................................................ ......................................................................................................................................................... 2. Jawablah soal berikut a. Cristiano Ronaldo mengekskusi Finalti pada pertandingan piala dunia 2010. Apabila kaki Cristiano Ronaldo menyentuh bola selama 0,5 s, tentukanlah besarnya Impuls yang dialami bola jika gaya yang dberikan: 1) 10 N 2) 50 N 3) 75 N 4) 100 N
………………………………………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………………………………………

112

………………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………..

b. Sebuah bola bilyard bermassa 0,5 kg terletak diatas lantai. Tentukan besarnya momentum bola tersebut jika: 1) Bola bergerak dengan kecepatan 2 m/s kearah kanan 2) Bola bergerak dengan kecepatan 4 m/s kearah kiri
………………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………….. 4. Jodohkan setiap pertanyaan disebelah kiri dengan jawaban disebelah kanan

a Gaya yang diperlukan untuk membuat

sebuah benda Kecepatan

bergerak dalam interval waktu tertentu adalah………………… b Momentum merupakan besaran vektor, dimana arah Momentum momentum searah dengan arah …………………. c …………………....merupakan ukuran kelembaman dari suatu Impuls benda d Impuls yang dikerjakan pada suatu benda merupakan Perubahan …………………. yang dialami benda itu, yaitu beda antara Momentum momentum akhir dengan momentum awalnya.

113

Lampiran VII

LKS-1
Sekolah Kelas/semester Mata Pelajaran Kelompok Anggota 1. 2. 3. I. TUJUAN : Menentukan koefisien restitusi antara : a. Bola tenis dengan lantai b. Bola kasti dengan lantai c. Bola karet dengan lantai. II. TEORI : Bila sebuah benda dijatuhkan dari ketinggian h1 lalu setelah dipantulkan lantai mencapai ketinggian h2 , akan berlaku rumus, : SMAN 7 Padang : XI/1 : Fisika :…….. : 4. 5.

e=
III. ALAT-ALAT :

h2 h1

1. Mistar 2. Bola tenis, bola kasti, bola karet 3. Timbangan

IV. JALAN PERCOBAAN :
dilepas h1 h2

lantai

114

1. Lepaskan bola dari suatu ketinggian tertentu ( h1 ) 2. Setelah bola menyentuh lantai dan dipantulkan, bola akan naik sampai ketinggian h2. Catatlah h1 dan h2 3. Maka koefisien restitusi → e =

h2 h1

4. Ulangi percobaan 1 dan 2 untuk tinggi h1 = 100, 115 , 130 , 145, 160 , 175, 190 dan 200 cm 5. Lakukan untuk ketiga bola tersebut. cm 6. Ulangi langkah 1 sampai dengan 5 sekali lagi. 7. Setelah selesai, timbanglah masing-masing bola tadi. V. DATA PENGAMATAN Massa bola kasti > Massa bola karet > Massa bola tenis Tinggi Pantulan Jenis/ kode Massa Ketinggian I ( cm ) (h2) Bola (gram) awal (h1) ( cm ) II ( cm ) Kasti 100 cm ( …….) 95 cm 90 cm 85 cm 80 cm 100 cm 95 cm 90 cm 85 cm 80 cm 100 cm 95 cm 90 cm 85 cm

Tinggi Pantulan (h2) Rata –rata ( cm )

Karet ( …….)

Tenis ( …….)

115

VI. PERTANYAAN. 1. Hitung harga koefisien restitusi tiap percobaan Hitung harga koefisien restitusi rata-rata tiap bola. 2. Apa yang dimaksud dengan tumbukan : a. Leting sempurna b. Tidak lenting sama sekali c. Lenting sebagian 3. Percobaan yang saudara lakukan tadi termasuk jenis tumbukan yang mana ? 4. Apakah massa bola berpengaruh pada percobaan ini ? Jelaskan !! VII. KESIMPULAN

116

Lampiran VIII

FORMAT PENILAIAN AFEKTIF
NO NAMA ASPEK AFEKTIF YANG DINILAI GAMPANG ASYIK MENYENANGKAN KEAKTIFAN ANTUSIAS MENERIMA MENANGGAPI MELIBATKAN DIRI MENGHARGAI 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 NILAI AKHIR
P O I N M U T U
N I L A I

Keterangan: Beri tanda ceklis (√) pada indikator 1 = Tidak Pernah POIN KRITERIA 2 = Jarang 1 KURANG SEKALI 3 = Kadang-Kadang 4 = Seringkali 2 KURANG 5 = Selalu
3 4 5 CUKUP BAIK SANGAT BAIK

NILAI 0-20 21-40 41-60 61-80 81-100

MUTU E D C B A

Poin maksimum Bila poin diperoleh

= 25 = 15

Nilainya = (25/25) x 100 = 100 Nilainya = (15/25) x 100 = 60

Padang, Oktober 2011 Observer (…………...……….)

117

Lampiran IX
FORMAT PENILAIAN ASPEK PSIKOMOTORIK SISWA KELAS :……………………………………………… MATA PELAJARAN :…………………………….. GURU BIDANG STUDI :………………………..
ASPEK AKTIVITAS YANG DINILAI N O NAMA SISWA NILAI AKHIR TOTAL POIN

MUTU

NILAI

MENGIKUTI PROSEDUR

MERANGKAI ALAT

MENGUKUR

MEMBACA SKALA

KETELITIAN BEKERJA

1 2 3 4

5

1

2

3

4

5 1

2 3 4 5 1 2 3 4 5

1

2 3 4

5

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Keterangan : Beri tanda (√) pada indikator 1 = Tidak Pernah 2 = Jarang POIN 3 = Kadang-kadang 1 4 = Seringkali 2 5 = Selalu
3 4 5

KRITERIA KURANG SEKALI KURANG CUKUP BAIK SANGAT BAIK

NILAI 0-20 21-40 41-60 61-80 81-100

MUTU E D C B A

Poin maksimum Bila poin diperoleh

= 25 = 15

Nilainya = (25/25) x 100 = 100 Nilainya = (15/25) x 100 = 60

Padang, Oktober 2011 Observer (……………………….)

118

LAMPIRAN X KISI-KISI SOAL UJI COBA Mata pelajaran Kelas/Semester Standar Kompetensi : Fisika : X/ Ganjil : Menganalisis gejala alam dan keterkaitannya dalam cakupan benda titik.
KOMPET ENSI DASAR

Indikator

Jml soal

Tingkat Kognitif
C1 C2 C3 C4 C5 C6

1.7.Menunj 1. Memformulasikan konsep impuls yang 1 ukkan hubungan antara konsep impuls dan momentum untuk menyelesaik an masalah tumbukan. bekerja pada suatu benda. 2. Menganalisis besarnya benda. 3. Mendeskripsikan konsep impuls yang merupakan besaran vektor 4. Memformulasikan konsep momentum yang dimiliki sebuah benda. 5. Menganalisis besarnya suatu benda. 6. Menganalisis secara kuantitatif dalam 1 menentukan vektor resultan momentum suatu benda 7. Menganalisis secara kuantitatif 5 secara kuantitatif 3 2 1 secara kuantitatif 1

√ √

impuls yang dialami suatu √ √ √

momentum yang dialami √

hubungan antara konsep impuls dan momentum

119

8. Merumuskan momentum 9. Mendeskripsikan kekekalan

hukum

kekekalan 3 √

aplikasi

hukum 1 dalam

momentum

kehidupan sehari-hari (prinsip kerja roket). 10. Mendeskripsikan karakteristik 2 √ √

tumbukan lenting sempurna 11. Mengintegrasikan hukum kekekalan 3 momentum dan hukum kekekalan

energi kinetik dalam tumbukan lenting sempurna 12. Mendeskripsikan tumbukan lenting sebagian 13. Mengintegrasikan hukum kekekalan 2 momentum dalam tumbukan lenting sebagian 14. Mendeskripsikan karakteristik 1 √ √ √ karakteristik 1 √

tumbukan tak lenting sama sekali 15. Mengintegrasikan hukum kekekalan momentum dalam tumbukan tak √ 5

lenting sama sekali. 16. Mengaplikasikan konsep koefisien 3

restitusi pada peristiwa tumbukan

120

LAMPIRAN XI

SOAL UJI COBA
Petunjuk Umum : 1. Tulislah lebih dahulu Nama dan Kelas pada tempat yang telah disediakan pada lembar jawaban! 2. Bacalah soal-soal dengan teliti sebelum Kamu menjawabnya! 3. Laporkan pada pengawas jika ada tulisan kurang jelas, rusak, atau jumlah soal kurang! 4. Dahulukan menjawab soal-soal yang dianggap mudah! 5. Periksa ulang Lembar Jawaban Kamu sebelum diserahkan kepada pengawas! Petunjuk Khusus : Tulislah salah satu jawaban yang paling benar (a, b, c, d atau e) pada selembar kertas! 1. Sebuah bola kaki ditendang dengan gaya sebesar F dan selang waktu kontak kaki dengan bola adalah ∆t menghasilkan impuls sebesar I, Jika gaya tendangan dijadikan ¼ F, maka besarnya impuls yang dialami bola sekarang adalah… 4. a. 1/16 I d. 1/2 I b. 4 I e. 1/8 I c. ¼ I Sebuah bola dipukul dengan gaya sebesar 45 N, jika gaya tersebut bekerja pada bola selama selang waktu 0.1 s. Berapakah besarnya impuls yang dialami bola tersebut… a. 45 Ns d. 450 Ns 5. b. 4,5 Ns e. 0,45 Ns c. 450 Ns Sebuah bola golf bermassa 0,25 kg dipukul dengan stik hingga melesat dengan kelajuan 60 m/s. Jika selang waktu kontak antara stik dan bola 0,05 sekon,berapakah gaya rata-rata yang dikerjakan stik…. a. 300 N d.3000 N b. 30 N e. 30.000 N c. 3 N Sebuah mobil yang massanya 2000 kg melaju dengan kecepatan 30 m/s. Berapakah besar gaya yang diperlukan untuk menghentikan mobil tersebut jika mobil berhenti dalam waktu 5 sekon. a. 12.000 N d. 12 N b. 1.200 N e. 12.0000 N c. 120 N Bola bermassa 0,6 kg dilemparkan kepada pemukul dengan kecepatan 20 m/s, setelah dipukul, kecepatan bola 80 m/s, arahnya berlawanan dari arah semula. Impuls pukulannya adalah …. a. – 0,2 Ns d. – 4,8 Ns

2.

3.

121

6.

7.

8.

9.

b. – 0.8 Ns e. – 60 Ns c. – 1.2 Ns Sebuah mobil massanya 2 ton, mula- 10. mula diam, kemudian bergerak selama 5 sekon hingga kecepatannya mencapai 10 m/s. Gaya dorong (penggerak) yang diperlukan mobil tesebut adalah .... a. 500 N d. 4000 N b. 1000 N e. 8000 N c. 2000 N Bola kasti bermassa 200 gram bergerak 11. dengan kelajuan 10 m/s. Bola tersebut dipukul hingga berbalik arah dengan kelajuan 15 m/s.Waktu kontak antara bola dengan pemukul 0,01 s.Maka besarnya gaya rata-rata yang dilakukan tongkat pemukul sebesar..... a. 10 N d. 250 N b. 50 N e. 500 N c. 100 N Sebuah benda bermassa 400 gram bergerak dengan kecepatan 3 m/s, maka besarnya momentum yang dimiliki benda tersebut adalah… a. 1,2 kg m/s d. 0,12 kg m/s b. 12 kg m/s e. 0,012 kg m/s 12. c. 120 kg m/s Seorang pemain bisbol akan memukul bola yang datang padanya dengan massa 2 kg dengan kecepatan 10 m/s, 13. kemudian dipukulnya dan bola bersentuhan dengan pemukul dalam waktu 0,01 detik sehingga bola berbalik arah dengan kecepatan 15 m/s. Maka gaya yang dialami bola adalah…. a. 50 N d. 5000 N

b. 500 N e. 50000 N c. 50000 N Sebuah bola yang mula-mula diam kemudian disodok tongkat dengan gaya 50 N, dalam waktu 10 ms. Jika massa bola 0,2 kg, maka kecepatan bola setelah disodok adalah ...... a. 0,25 m/s d. 250 m/s b. 2,5 m/s e. 2.500 m/s c. 25 m/ Di antara benda berikut ini yang akan mengalami gaya terbesar bila menumbuk tembok berhenti dalam selang waktu yang sama adalah … . a. benda bermassa 40 kg dengan kecepatan 25 m/s b. benda bermassa 50 kg dengan kecepatan 15 m/s c. benda bermassa 100 kg dengan kecepatan 10 m/s d. benda bermassa 150 kg dengan kecepatan 7 m/s e. benda bermassa 200 kg dengan kecepatan 5 m/s Rumus dimensi dari momentum adalah d. ML - 2 T 2 a. MLT2 b. ML-1T-1 e. M L - 1 T 2 -1 c. MLT Sebuah bola biliyard yang bermassa m bergerak dengan kecepatan v memiliki momentum sebesar p, apabila bola biliyard bergerak dengan kecepatan ½ v maka momentumnya menjadi…. a. 2p d. 1/4p b. p e. 4p c. 1/2p

122

14. Sebuah bola yang massanya 100 gram dipukul dengan gaya 25 N dalam waktu 0,1 sekon. Jika mula-mula bola diam, maka kecepatan bola setelah dipukul adalah .... a. 10 m/s d. 25 m/s b. 15 m/s e. 30 m/s c. 20 m/s 19. 15. Sebuah benda bermassa 2 kg bergerak dengan kecepatan 2 m/s ke utara. Sedangkan benda lain yang bermassa 3 kg bergerak dengan kecepatan 1 m/s ke utara. Besar momentum totalnya adalah .... a. 1 kg m/s d. 4 kg m/s b. 2 kg m/s e. 7 kg m/s c. 3 kg m/s 16. Sebuah senapan mempunyai massa 4 kg menembakan peluru yang massanya 10 gram dengan kecepatan 500 ms-1. 20. Kecepatan gerak senapan pada saat peluru meledak adalah .... d. 1250 ms-1 a. 0,8 ms-1 b. 200 ms-1 e. 0,5 ms-1 c. 1,25 ms-1 17. Peluru dengan massa 10 gr dan kecepatan 900 m/s mengenai dan 21. menembus sebuah balok dengan massa 80 kg yang diam di bidang datar tanpa gesekan. Kecepatan peluru setelah menembus balok 100 m/s. Kecepatan balok karena tertembus peluru adalah .. a. 10 m/s d. 0,01 m/s b. 1 m/s e. 0,1 m/s c. 100 m/s 18. Pada prinsip kerja roket timbulnya gaya dorong yang menyebabkan roket

dapat meluncur ke angkasa merupakan aplikasi dari hukum…. a. Kekekalan energi kinetik b. Kekekalan energi potensial c. Kekekalan momentum d. Grafitasi newton e. Hukum I newton Massa perahu sekoci 200 kg bergerak dengan kecepatan 2 m/s. dalam perahu tersebut terdapat orang dengan massa 50 kg. Tiba-tiba orang tersebut meloncat dengan kecepatan 6 m/s. Hitunglah kecepatan sekoci sesaat (setelah orang meloncat), jika arah loncatan berlawanan dengan arah sekoci. a. 400 m/s d. 0,04 m/s b. 0,4 m/s e. 40 m/s c. 4 m/s Pada tumbukan lenting sempurna berlaku Hukum Kekekalan ... . a. Momentum b. Energi Kinetik c. Energi Potensial d.Momentum dan Energi Kinetik e.Momentum dan Energi Potensial Senapan melepaskan peluru 10 gram pada sebuah balok kayu 4 kg yang digantung pada seutas tali. Jika peluru bersarang dalam balok dan balok posisinya naik 5 cm dari posisi semula maka kecepatan peluru sesaat sebelum menumbuk balok adalah …. a. 41 m/s e. 410 m/s b. 40,1 m/s c. 400 m/s V d. 401 m/s 5 cm
p

123

22. Sebuah benda yang mula-mula diam d. bola A berbalik arah dengan laju 2 ditumbuk oleh benda lain. Bila massa v dan bola B diam kedua benda sama dan tumbukan e. kedua bola bergabung dan lajunya lenting sempurna, maka ½v 1) Setelah tumbukan, kecepatan benda 25. Dua buah benda yang massanya yang menumbuk nol dan benda identik bergerak dalam bidang datar kedua kecepatannya sama dengan licin dengan kecepatan 4 m/s dan 6 benda pertama sebelum menumbuk. m/s dalam arah yang berlawanan. Jika 2) Koefisien restitusinya satu terjadi tumbukan lenting sempurna, 3) Jumlah momentum linier kedua maka kecepatan masing-masing benda benda, sebelum dan sesudah setelah tumbukan adalah ... . tumbukan sama besar. a. 4 m/s dan 6 m/s searah gerak semula 4) Sebelum dan sesudah tumbukan, b. 4 m/s dan 6 m/s berlawanan arah jumlah energi kinetik kedua benda gerak semula itu sama besar. c. 6 m/s dan 4 m/s searah gerak semula Yang benar adalah .... d. 6 m/s dan 4 m/s berlawanan arah a. semua d. 2 dan 4 gerak semula b. 1, 2 dan 3 e. 4 saja e. 10 m/s dan 4 m/s berlawanan arah c. 1 dan 3 gerak semula 23. Bola A 1,5 kg dan bola B 2 kg 26. Perhatikan pernyataan berikut ini: bergerak saling mendekati dengan 1) Berlaku hukum kekekalan kecepatan masing-masing 8 m/s dan 6 momentum m/s. Jika kedua bola tersebut 2) Setelah tumbukan kedua benda bertumbukan secara lenting sempurna, bersatu dan bergerak dengan maka kecepatan kedua bola setelah kecepatan yang sama bertumbukan adalah.......... 3) Tidak berlaku hukum kekekalan a. -8 m/s dan 6 m/s d. 2 m/s dan 8 m/s energi kinetik b. 8 m/s dan -6 m/s e. 4 m/s dan 2 m/s 4) Nilai e = 0 c. 2 m/s dan 4 m/s Berdasarkan ciri-ciri di atas, yang 24. Bola A massa m dan bola B massa 3m termasuk cirri- cirri tumbukan tak bergerak saling mendekat dengan laju lenting sama sekali adalah…… sama besar v. Setelah terjadi tumbukan a. 1 dan 2 d. 4 saja lenting sempurna kedua bola akan ….. b. 1 dan 3 e. semua a. saling menjauh dengan laju v c. 1,2 dan 3 b. saling menjauh dengan laju ½ v 27. Sebuah benda massa 1/2 kg bergerak c. bola A berbalik arah dengan laju v dengan kecepatan 5 m/s, menumbuk dan bola B diam sebuah benda lain bermassa 1/3 kg

124

yang dalam keadaan diam. Bila setelah menumbuk kedua benda bergabung 31. dalam geraknya, maka kecepatan benda setelah tumbukan adalah .... a. 2,0 m/s d. 5,0 m/s b. 2,5 m/s e. 6,0 m/s c. 3,0 m/s 28. Benda P yang massanya 0,5 kg bergerak dengan kelajuan 10 m/s mengejar dan menumbuk benda Q yang massanya 1 kg yang bergerak dengan kelajuan 4 m/s. Setelah tumbukan, keduanya melekat dan 32. bergerak bersama-sama.Kecepatan kedua benda adalah … . a. 6 m/s d. 7 m/s b. 9 m/s e. 10 m/s c. 14 m/s 29. Sebutir peluru bermassa 100 gr di tembakan dan bersarang pada ayunan balistik yang massa baloknya 0,90 kg, menyebabkan balok naik 20 cm dari kedudukan setimbangnya. Jika g = 10 m/s2, maka kecepatan peluru sebelum menumbuk balok adalah .... a. 200 m/s d. 0,2 m/s b. 20 m/s e. 0,02 m/s c. 2 m/s 30. Dua buah benda A dan B massanya 33. masing-masing 5 kg dan 3 kg bergerak berlawanan arah pada bidang datar licin dengan kelajuan sama 2 m/s. Jika terjadi tumbukan tidak lenting sama sekali, maka kecepatan kedua benda sesaat setelah tumbukan adalah… a. 0,5 m/s d. 50 m/s b. 2,5 m/s e. 5 m/s

c. 25 m/s Jika tumbukan dua benda tidak elastis, besar energi kinetik adalah…. a. Tetap, jumlah momentumnya tetap b. Berubah, jumlah momentumnya tetap c. Tetap, jumlah momentumnya berubah d. Berubah, jumlah momentumnya berubah e. Tetap, jumlah momentumnya tidak pasti Sebuah benda bermassa 50 kg menumbuk tembok dengan kelajuan 20 m/s. Bila tumbukan ini elastis sebagian dengan koefisien restitusi 0,4 maka besar kecepatan benda setelah tumbukan adalah a. 8 m/s berlawanan arah dengan kecepatan semula. b. 8 m/s searah dengan kecepatan semula. c. 12 m/s searah dengan kecepatan semula. d. 12 m/s berlawanan arah dengan kecepatan semula. e. 10 m/s searah dengan kecepatan semula. Sebuah bola voly jatuh bebas dari ketinggian 8 m pada suatu lantai yang memiliki koefisien restitusi e = 0,5. Tentukan tinggi yang dapat dicapai setelah tumbukan yang kedua kalinya…. a. 0,5 m c. 5 m. e. 4 m b. 0,05 m d. 0,4 m

125

34. Bola tenis jatuh bebas dari ketinggian 4 m di atas lantai mendatar ternyata tinggi pantulan pertama adalah 2,5 m. Jika bola tersebut jatuh bebas dari ketinggian 6,4 m, maka tinggi pantulan pertama adalah ... a. 4 m d. 2 m b. 3 m e. 1 m c. 2,5 m 35. Bola yang massanya 200 gram dijatuhkan dari ketinggian 5 m di atas lantai mendatar. Jika koefisien restitusi antara bola dan lantai 0,5, maka tinggi yang dapat dicapai bola setelah pantulan pertama adalah… a. 3,50 m d. 1,25 m b. 2,50 m e. 12,5 m c. 2,0 m

126

LAMPIRAN XII Kunci Jawaban Soal Uji Coba 1. Tes Objektif No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kunci soal C B A A E D E A D B No 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kunci soal D C C D E C E C B D No 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kunci soal D A A D D E C A B A No 31 32 33 34 35 Kunci soal D A A A D

127

LAMPIRAN XIII RELIABILITAS SOAL UJI COBA
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 JMlh xi 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21 20 19 18 17 16 15 14 fi 1 2 1 1 2 2 2 1 5 3 5 2 1 3 3 1 3 38 xi2 900 841 784 729 676 625 576 529 484 441 400 361 324 289 256 225 196 fixi 30 58 28 27 52 50 48 23 110 63 100 38 18 51 48 15 42 801 641601 fixi2 900 1682 784 729 1352 1250 1152 529 2420 1323 2000 722 324 867 768 225 588 17615

Reliabilitas tes objektif dicari dengan menggunakan rumus K-R20 yaitu :
2  n  s − ∑ pq    r11 =    s2  n − 1   

dimana r11 p q = reliabilitas yang dicari = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q = 1- p)

∑ pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q
n = banyak item

128

s = standar deviasi tes didapatkan : s2 = 87819 sehingga :
2  n  s − ∑ pq    r11 =    n − 1  s2   

∑ pq = 3023

 35  87819 − 3023  =   87819  35 − 1   = 1,01

Dengan menggunakan rumus KR-20 didapatkan bahwa tes mempunyai reliabilitas 1,01 dengan kriteria sangat tinggi

129
NO SISWA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 JML + JMLHSL X
1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

NO. ITEM 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22
1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1

SKOR 23
1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0

KDRT 24
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0

25
0 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 0

26
1 1 0 1 0 0 0 1` 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0

27
1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1

28
1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1

29

30

31

32

33

34

35 TOT

1

1

1

0

1

1

1

1

1

1

1

1

1

0

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

0

1

1

0

1

1

1

1

1

1

1

1

1

0

0

1

1

1

1

1

1

0

0

1

1

1

1

0

1

1

0

1

1

1

1

0

0

0

1

1

1

0

1

1

1

1

1

1

0

0

1

1

1

1

1

1

1

0

1

1

1

1

1

0

1

1

1

0

1

0

0

1

1

0

1

1

0

0

1

1

0

0

1

1

0

1

1

1

0

1

0

0

1

1

1

1

0

1

0

1

1

0

1

0

0

1

0

1

0

1

1

0

1

1

1

0

1

1

0

1

1

0

1

1

0

0

0

0

1

0

0

1

0

0

1

1

0

1

0

0

1

1

0

1

1

0

1

0

0

0

0

1

0

0

1

1

1

1

0

0

0

0

1

1

0

1

1

0

1

1

0

0

1

0

1

1

1

0

0

1

0

0

0

0

0

1

0

0

0

0

1

0

1

1

1

0

1

0

0

0

1

1

0

1

0

1

0

1

0

1

1

0

0

1

0

0

0

0

0

0

1

0

0

0

0

0

0

1

0

0

0

0

0

0

1

0

0

0

0

22 16 352

27 11 297

32 6 192

17 21 357

16 22 352

21 17 357

17 23 29 31 26 28 19 31 20 24 23 28 25 20 32 26 25 21 21 13 17 14 25 24 24 27 23 14 21 15 9 7 12 10 19 7 18 14 15 10 13 18 6 12 13 17 17 25 21 24 13 14 14 11 15 24 357 345 261 217 312 280 361 217 360 336 345 280 325 360 192 312 325 357 357 325 357 336 325 336 336 297 345 336

16 22 352

30 29 29 28 27 26 26 25 25 24 24 23 22 22 22 22 22 21 21 21 20 20 20 20 20 19 19 18 17 17 17 16 16 16 15 14 14 14 801 1572 3115

S.TOT 900 841 841 784 729 676 676 625 625 576 576 529 484 484 484 484 484 441 441 441 400 400 400 400 400 361 361 324 289 289 289 256 256 256 225 196 196 196

130
ITEM SISWA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1

1

2

3 4 5 6 7 Kelompok Kelas Atas

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1

25
0 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1

26
1 1 1 1 0 1 1 1` 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1

27
1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1

28

29

30

31

32

33

34

35 JML

1

1

1

1

0

1

1

1

0

1

1

1

1

1

1

0

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

0

1

1

1

0

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

0

0

1

1

1

1

1

1

1

1

1

0

1

1

1

1

0

1

1

1

0

1

1

1

1

0

1

0

0

1

1

1

0

1

1

1

1

1

1

1

0

0

1

1

1

1

1

1

1

1

1

0

1

1

1

1

1

0

0

1

1

1

1

1

0

0

0

1

1

1

1

1

0

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

0

1

1

1

1

1

1

0

1

1

1

1

1

0

1

0

0

1

JML 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38
0 1 0 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0

16

17

17 15 15 14 13 Kelompok Kelas Bawah

15

18

12

15

16

15
1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

15
1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1

14
1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0

17
1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1

16
1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0

17
1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1

17
1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0

15
1 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1

16
1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1

13
1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0

12
1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0

16
1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0

11
0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0

14
1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0

16
1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1

16

16

17

17

18

17

11

12

31 31 31 31 31 30 29 27 27 27 27 27 27 27 26 26 26 26 24 531

1

0

1

0

1

0

0

0

1

0

1

0

1

0

0

1

1

0

1

1

1

0

0

1

1

0

1

0

0

1

0

1

1

1

1

0

1

0

0

1

0

1

1

1

0

1

0

0

0

0

0

0

0

1

0

0

0

1

0

1

0

1

0

0

0

1

1

0

1

1

0

1

0

1

0

0

1

0

1

0

0

1

0

0

1

0

0

0

0

0

0

1

0

0

0

0

0

1

0

1

1

0

1

0

0

0

0

0

1

1

0

1

0

0

1

0

1

0

1

1

0

0

0

1

0

0

0

0

1

0

0

1

0

1

0

0

1

0

0

1

0

1

0

0

0

0

0

1

0

1

0

0

JML NO D P
1 2

7

8

8
3

7
4

6
5

5
6

4
7

7
8

10
9

4
10

7
11

8
12

6
13

7
14

6
15

8
16

7
17

9
18

8
19

7
20

8
21

5
22

9
23

8
24

5
25

6
26

8
27

7

7

8

9

10

9

3

7

22 19 17 15 14 13 13 12 12 12 11 11 11 11 11 11 11 11 11 251

28

29

30

31

32

33

34

35

0.5 0.47 0.5 0.42 0.47 0.5 0.47 0.42 0.6 0.66 0.7 0.58 0.55 0.5 0.45 0.58

0.4 0.42 0.7 0.42

0.4 0.42 0.47 0.4 0.42 0.47 0.6 0.63 0.55 0.5 0.53 0.66

0.5 0.42 0.5 0.42 0.6 0.68 0.7 0.58

0.4 0.42 0.16 0.42 0.32 0.42 0.42 0.47 0.6 0.47 0.55 0.63 0.42 0.53 0.63 0.61

0.5 0.47 0.42 0.6 0.66 0.68

0.4 0.42 0.4 0.263 0.7 0.68 0.4 0.5

131

LAMPIRAN XIV Hasil Perhitungan Indeks Kesukaran dan Daya Beda Soal
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 P 0.6 0.66 0.65 0.58 0.55 0.5 0.45 0.58 0.74 0.42 0.58 0.63 0.55 0.58 0.53 0.66 0.61 0.68 0.66 0.58 0.63 0.47 0.55 0.63 0.42 0.53 0.63 0.61 0.61 0.66 0.68 0.74 0.68 0.37 0.5 Kriteria Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Mudah Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Mudah Sedang Sedang Sedang D 0.5 0.47 0.47 0.42 0.47 0.5 0.47 0.42 0.4 0.42 0.4 0.42 0.47 0.42 0.42 0.47 0.5 0.42 0.5 0.42 0.4 0.42 0.16 0.42 0.32 0.42 0.42 0.47 0.5 0.47 0.42 0.4 0.42 0.4 0.26 Kriteria Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Cukup Baik Cukup Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Cukup Baik baik Baik baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Cukup Baik Cukup Cukup Ket pakai pakai pakai pakai pakai pakai pakai pakai Perbaiki pakai Perbaiki pakai pakai pakai pakai pakai pakai pakai pakai pakai Tidak Pakai pakai Tidak Pakai pakai Tidak Pakai pakai pakai pakai pakai pakai pakai Perbaiki pakai Tidak Pakai Tidak Pakai

132

LAMPIRAN XV

SOAL TES AKHIR
Petunjuk Umum : 1. Tulislah lebih dahulu Nama dan Kelas pada tempat yang telah disediakan pada lembar jawaban! 2. Bacalah soal-soal dengan teliti sebelum Kamu menjawabnya! 3. Laporkan pada pengawas jika ada tulisan kurang jelas, rusak, atau jumlah soal kurang! 4. Dahulukan menjawab soal-soal yang dianggap mudah! 5. Periksa ulang Lembar Jawaban Kamu sebelum diserahkan kepada pengawas! Petunjuk Khusus : Tulislah salah satu jawaban yang paling benar (a, b, c, d atau e) pada selembar kertas! 1. Sebuah bola kaki ditendang dengan a. 300 N d.3000 N gaya sebesar F dan selang waktu b. 30 N e. 30.000 N kontak kaki dengan bola adalah ∆t c. 3 N menghasilkan impuls sebesar I, Jika 4. Sebuah mobil yang massanya 2000 kg gaya tendangan dijadikan ¼ F, maka melaju dengan kecepatan 30 m/s. besarnya impuls yang dialami bola Berapakah besar gaya yang diperlukan sekarang adalah… untuk menghentikan mobil tersebut jika a. 1/16 I d. 1/2 I mobil berhenti dalam waktu 5 sekon. b. 4 I e. 1/8 I a. 12.000 N d. 12 N c. ¼ I b. 1.200 N e. 120.000 N 2. Sebuah bola dipukul dengan gaya c. 120 N sebesar 45 N, jika gaya tersebut bekerja 5. Bola bermassa 0,6 kg dilemparkan pada bola selama selang waktu 0.1 s. kepada pemukul dengan kecepatan 20 Berapakah besarnya impuls yang m/s, setelah dipukul, kecepatan bola 80 dialami bola tersebut… m/s, arahnya berlawanan dari arah a. 45 Ns d. 450 Ns semula. Impuls pukulannya adalah …. b. 4,5 Ns e. 0,45 Ns a. – 0,2 Ns d. – 4,8 Ns c. 450 Ns b. – 0.8 Ns e. – 60 Ns 3. Sebuah bola golf bermassa 0,25 kg c. – 1.2 Ns dipukul dengan stik hingga melesat 6. Sebuah mobil massanya 2 ton, muladengan kelajuan 60 m/s. Jika selang mula diam, kemudian bergerak selama waktu kontak antara stik dan bola 0,05 5 sekon hingga kecepatannya mencapai sekon,berapakah gaya rata-rata yang 10 m/s. Gaya dorong (penggerak) yang dikerjakan stik…. diperlukan mobil tesebut adalah ....

133

a. 500 N d. 4000 N b. 1000 N e. 8000 N c. 2000 N 7. Bola kasti bermassa 200 gram bergerak dengan kelajuan 10 m/s. Bola tersebut dipukul hingga berbalik arah dengan kelajuan 15 m/s.Waktu kontak antara bola dengan pemukul 0,01 s.Maka besarnya gaya rata-rata yang dilakukan tongkat pemukul sebesar..... a. 10 N d. 250 N b. 50 N e. 500 N c. 100 N 8. Sebuah benda bermassa 400 gram bergerak dengan kecepatan 3 m/s, maka besarnya momentum yang dimiliki benda tersebut adalah… a. 1,2 kg m/s d. 0,12 kg m/s b. 12 kg m/s e. 0,012 kg m/s c. 120 kg m/s 9. Seorang pemain bisbol memukul bola yang bermassa 0,2 kg yang bergerak dengan kecepatan 5 m/s, lama bola bersentuhan degan pemukul adalah 0,01 sekon. Jika kecepatan bola setelah dipukul adalah 10 m/s, maka bola mendapat gaya sebesar…. a. 3 N d. 300 N b. 30 N e. 30000 N c. 3000 N 10. Sebuah bola yang mula-mula diam kemudian disodok tongkat dengan gaya 50 N, dalam waktu 10 ms. Jika massa bola 0,2 kg, maka kecepatan bola setelah disodok adalah ...... a. 0,25 m/s d. 250 m/s b. 2,5 m/s e. 2.500 m/s

c. 25 m/ 11. Di antara benda berikut ini yang akan mengalami gaya terbesar bila menumbuk tembok berhenti dalam selang waktu yang sama adalah … . a. benda bermassa 2 kg dengan kecepatan 5 m/s b. benda bermassa 2 kg dengan kecepatan 10 m/s c. benda bermassa 4 kg dengan kecepatan 15 m/s d. benda bermassa 6 kg dengan kecepatan 15 m/s e. benda bermassa 8 kg dengan kecepatan 5 m/s 12. Rumus dimensi dari momentum adalah d. ML - 2 T 2 a . MLT2 e. M L - 1 T 2 b . ML-1T-1 c . MLT -1 13. Sebuah bola biliyard yang bermassa m bergerak dengan kecepatan v memiliki momentum sebesar p, apabila bola biliyard bergerak dengan kecepatan ½ v maka momentumnya menjadi…. a. 2p d. 1/4p b. p e. 4p c. 1/2p 14. Sebuah bola yang massanya 100 gram dipukul dengan gaya 25 N dalam waktu 0,1 sekon. Jika mula-mula bola diam, maka kecepatan bola setelah dipukul adalah .... a. 10 m/s d. 25 m/s b. 15 m/s e. 30 m/s c. 20 m/s

134

15. Sebuah benda bermassa 2 kg bergerak e. Hukum I newton dengan kecepatan 2 m/s ke utara. 19. Massa perahu sekoci 200 kg bergerak Sedangkan benda lain yang bermassa 3 dengan kecepatan 2 m/s. dalam perahu tersebut terdapat orang dengan massa kg bergerak dengan kecepatan 1 m/s ke utara. Besar momentum totalnya adalah 50 kg. Tiba-tiba orang tersebut .... meloncat dengan kecepatan 6 m/s. a. 1 kg m/s d. 4 kg m/s Hitunglah kecepatan sekoci sesaat b. 2 kg m/s e. 7 kg m/s (setelah orang meloncat), jika arah c. 3 kg m/s loncatan berlawanan dengan arah 16. Sebuah senapan mempunyai massa 4 sekoci. kg menembakan peluru yang massanya a. 400 m/s d. 0,04 m/s -1 b. 0,4 m/s e. 40 m/s 10 gram dengan kecepatan 500 ms . c. 4 m/s Kecepatan gerak senapan pada saat 20. Pada tumbukan lenting sempurna peluru meledak adalah .... -1 berlaku Hukum Kekekalan ... . a. 0,8 ms -1 b. 200 ms a. Momentum b. Energi Kinetik c. 1,25 ms-1 -1 c. Energi Potensial d. 1250 ms -1 d.Momentum dan Energi Kinetik e. 0,5 ms e.Momentum dan Energi Potensial 17. Peluru dengan massa 10 gr dan kecepatan 900 m/s mengenai dan 21. Sebuah benda yang mula-mula diam menembus sebuah balok dengan massa ditumbuk oleh benda lain. Bila massa 80 kg yang diam di bidang datar tanpa kedua benda sama dan tumbukan gesekan. Kecepatan peluru setelah lenting sempurna, maka menembus balok 100 m/s. Kecepatan 1) Setelah tumbukan, kecepatan benda balok karena tertembus peluru adalah .. yang menumbuk nol dan benda a. 10 m/s d. 0,01 m/s kedua kecepatannya sama dengan b. 1 m/s e. 0,1 m/s benda pertama sebelum menumbuk. c. 100 m/s 2) Koefisien restitusinya satu 18. Pada prinsip kerja roket timbulnya 3) Jumlah momentum linier kedua gaya dorong yang menyebabkan roket benda, sebelum dan sesudah dapat meluncur ke angkasa merupakan tumbukan sama besar. aplikasi dari hukum…. 4) Sebelum dan sesudah tumbukan, a. Kekekalan energi kinetic jumlah energi kinetik kedua benda b. Kekekalan energi potensial itu sama besar. c. Kekekalan momentum Yang benar adalah .... d. Grafitasi newton a. semua d. 2 dan 4

135

b. 1, 2 dan 3 e. 4 saja c. 1 dan 3 22. Bola A massa m dan bola B massa 3m bergerak saling mendekat dengan laju sama besar v. Setelah terjadi tumbukan lenting sempurna kedua bola akan ….. a. saling menjauh dengan laju v b. saling menjauh dengan laju ½ v c. bola A berbalik arah dengan laju v dan bola B diam d. bola A berbalik arah dengan laju 2 v dan bola B diam e. kedua bola bergabung dan lajunya ½ v 23. Perhatikan pernyataan berikut ini: 1) Berlaku hukum kekekalan momentum 2) Setelah tumbukan kedua benda bersatu dan bergerak dengan kecepatan yang sama 3) Tidak berlaku hukum kekekalan energi kinetic 4) Nilai e = 0 Berdasarkan ciri-ciri di atas, yang termasuk cirri- cirri tumbukan tak lenting sama sekali adalah…… a. 1 dan 2 d. 4 saja b. 1 dan 3 e. semua c. 1,2 dan 3 24. Sebuah benda massa 1/2 kg bergerak dengan kecepatan 5 m/s, menumbuk sebuah benda lain bermassa 1/3 kg yang dalam keadaan diam. Bila setelah menumbuk kedua benda bergabung dalam geraknya, maka kecepatan benda setelah tumbukan adalah .... a. 2,0 m/s d. 5,0 m/s

b. 2,5 m/s e. 6,0 m/s c. 3,0 m/s 25. Benda P yang massanya 0,5 kg bergerak dengan kelajuan 10 m/s mengejar dan menumbuk benda Q yang massanya 1 kg yang bergerak dengan kelajuan 4 m/s. Setelah tumbukan, keduanya melekat dan bergerak bersama-sama.Kecepatan kedua benda adalah … . a. 6 m/s d. 7 m/s b. 9 m/s e. 10 m/s c. 14 m/s 26. Sebutir peluru bermassa 100 gr di tembakan dan bersarang pada ayunan balistik yang massa baloknya 0,90 kg, menyebabkan balok naik 20 cm dari kedudukan setimbangnya. Jika g = 10 m/s2, maka kecepatan peluru sebelum menumbuk balok adalah .... a. 200 m/s d. 0,2 m/s b. 20 m/s e. 0,02 m/s c. 2 m/s 27. Dua buah benda A dan B massanya masing-masing 5 kg dan 3 kg bergerak berlawanan arah pada bidang datar licin dengan kelajuan sama 2 m/s. Jika terjadi tumbukan tidak lenting sama sekali, maka kecepatan kedua benda sesaat setelah tumbukan adalah… a. 0,5 m/s d. 50 m/s b. 2,5 m/s e. 5 m/s c. 25 m/s 28. Jika tumbukan dua benda tidak elastis, besar energi kinetik adalah…. a. Tetap, jumlah momentumnya tetap

136

b. Berubah, jumlah momentumnya b. 2 m/s searah dengan kecepatan tetap semula. c. Tetap, jumlah momentumnya c. 4 m/s searah dengan kecepatan berubah semula. d. Berubah, jumlah momentumnya d. 4 m/s berlawanan arah dengan berubah kecepatan semula. e. Tetap, jumlah momentumnya tidak e. 6 m/s searah dengan kecepatan pasti semula. 29. Sebuah benda bermassa 10 kg 30. Sebuah bola voly jatuh bebas dari menumbuk tembok dengan kelajuan 5 ketinggian 8 m pada suatu lantai yang m/s. Bila tumbukan ini elastis sebagian memiliki koefisien restitusi e = 0,5. dengan koefisien restitusi 0,4 maka Tentukan tinggi yang dapat dicapai besar kecepatan benda setelah setelah tumbukan yang kedua tumbukan adalah kalinya…. a. 2 m/s berlawanan arah dengan a. 0,5 m d. 0,4 m kecepatan semula. b. 0,05 m e. 4 m c. 5 m.

137

LAMPIRAN XVI Kunci Jawaban Soal Tes Akhir 1. Tes Objektif No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kunci soal C B A A E D E A D B No 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kunci soal D C C D E C E C B D No 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kunci soal C D E C A B A B A A

138

LAMPIRAN XVII Uji Normalitas Aspek Afektif Kelas Eksperimen
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 xi 50 62 54 66 68 70 73 79 80 81 83 x i2 2500 3844 2916 4356 4624 4900 5329 6241 6400 6561 6889 fi 1 2 2 2 2 3 2 8 10 4 1 fi.xi 50 124 108 132 136 210 146 632 800 324 83 fi.xi2 2500 7688 5832 8712 9248 14700 10658 49928 64000 26244 6889 fk 1 3 5 7 9 12 14 21 31 35 37 zi -2.768 -1.395 -2.31 -0.937 -0.708 -0.479 -0.136 0.5505 0.6649 0.7793 1.0082 Fzi 0.0034 0.0793 0.0119 0.1685 0.2266 0.2981 0.4247 0.6772 0.7324 0.8208 0.8764 Szi |Fzi -Szi|

0.027027 0.023627 0.081081 0.001781 0.135135 0.123235 0.189189 0.020689 0.243243 0.016643 0.324324 0.026224 0.378378 0.567568 -0.04632 -0.10963

0.837838 0.105438 0.945946 0.125146 1 0.1236

Σ

37

2745

206399

7535025
RATA2 74.189 76.38 8.7396 Lo Lt 0.125 0.146

S
S

2

x=

Σ (x i − f i ) n

zi =
2

x−x S

Sz i =

fk n

S2 =

n ∑ f i x i − ( f i xi ) n(n − 1)
2

S= S2

Harga Fzi dilihat pada tabel F (Lampiran)

x = 74,189

139

S2 = 76,380 S = 8,739 Lo = 0,125 Ltabel pada n = 37 dengan α = 0,05 maka Ltabel = 0,146 Dari hasil perhitungan Lo dan Lt, dapat disimpulkan bahwa 0,125 < 0,146 atau Lo < Lt dengan demikian kelas eksperimen penelitian ini terdistribusi Normal

140

LAMPIRAN XVIII Uji Normalitas Aspek Afektif Kelas Kontrol
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 xi 46 53 55 57 60 64 66 71 74 81 88 xi
2

fi 1 2 7 6 8 4 4 3 1 1 1

fi.xi 46 106 385 342 480 256 264 213 74 81 88

fi.xi

2

fk 1 3 10 16 24 28 32 35 36 37 38

zi -1.904

Fzi

Szi

|Fzi -Szi|

2116 2809 3025 3249 3600 4096 4356 5041 5476 6561 7744

2116 5618 21175 19494 28800 16384 17424 15123 5476 6561 7744

0.0244 0.02632 0.00192

-1.0412 0.1401 0.07895 -0.06115 -0.7947 0.2546 0.26316 0.00856 -0.5482 0.3085 0.42105 0.11255 -0.1784 0.6217 0.63158 0.00988 0.31463 0.6217 0.73684 0.11514 0.56115 0.7224 0.84211 0.11971 1.17744 0.8078 0.92105 0.11325 1.54722 0.9429 0.94737 0.00447 2.41002 0.9932 0.97368 -0.01952 3.27283 0.9996 1 0.0004

Σ

38

2335
5452225

145915

RATA2

61.45 65.82 8.113

Lo Lt

0.119 0.144

S
S

2

x=

Σ (x i − f i ) n

zi =
2

x−x S

Sz i =

fk n

S2 =

n ∑ f i x i − ( f i xi ) n(n − 1)
2

S= S2

Harga Fzi dilihat pada tabel F (Lampiran)

141

x=
S2= S= Lo=

61,45 65,82 8,113 0,119

Ltabel pada n = 38 dengan α = 0,05 maka Ltabel = 0,119 Dari hasil perhitungan Lo dan Lt, dapat disimpulkan bahwa 0,119 < 0,144 atau Lo < Lt dengan demikian kelas kontrol penelitian ini terdistribusi Normal

142

LAMPIRAN XIX Uji Homogenitas Variansi Kelas sampel Kelas Sampel I Kelas Sampel II

x = 74,189
S2 = 76,38 n = 37
2 2

x = 61,450
S2 = 65,82 n = 38

F =

S1

S2

F = Varians Kelompok data S12 = Varians Terbesar S22 = Varians Terkecil

F

Hitung

=

76,38 =1,16 65,82

dk pembilang = n pembilang – 1 = 36 dk penyebut Jadi F
Hitung

= n penyebut – 1 = 37 = 1,16 sedangkan F
Tabel

pada taraf nyata 0,05 dengan dk 36:37 adalah

1,71 berarti : 1,16 < 1,71 F Hitung < dari F table Dari hasil perhitungan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa data nilai kelas eksperimen dengan kelas kontrol adalah data yang Homogen.

143

LAMPIRAN XX Uji Hipotesis

S12 = 76,38 S22 = 65,82 S2 =

x1 = 74,189 x2 = 61,45

n1 = 37 n2 = 38

(n1 − 1) S1 2 + (n 2 − 1) S 2 2
n1 + n 2 − 2

=

(37 − 1)76,38 + (38 − 1) 65,82
37 + 38 − 2

= 71,028 S =

7,028
dk=37 + 38 – 2 = 73

= 8,427

t Hitung =

x1 − x2 1 1 S + n1 n2
74,189 − 65,820 8,427 1 1 + 38 37

t Tabel = 6,56

=

= 6,56

Jadi t Hitung = 6,56 pada taraf kepercayaan 95 % dengan dk = n1+n2- 2 = 73 sedangkan t
Tabel

= 1,67 sehingga diperoleh t

Hitung

>t

Tabel

= 6,56 > 1,67 sehingga disimpulkan

bahwa hipotesis nol di tolak dan hipotesis kerja yang berlaku yaitu H1 : µ1 > µ 2

144

Nama indikator ke : 1 3 1 2 4 3 3 4 3 5 3 6 3 7 4 8 2 9 4 10 1 11 4 12 1 13 1 14 3 15 4 16 1 17 4 18 5 19 4 20 3 2 21 22 3 23 2 24 3 25 1 26 3 27 4 28 3 29 5 30 1 31 2 32 4 33 3 4 1 2 5
34 35 36 37

Pertemuan 1 Pertemuan 2 3 3 4 3 3 3 4 3 2 3 2 3 1 2 2 2 2 3 2 3 4 2 3 2 3 1 2 3 3 3 2 2 3 3 4 2 3 3 14 19 18 17 13 20 18 12 16 10 16 12 10 17 17 10 19 21 22 23 13 15 15 16 12 12 20 17 19 13 14 19 17 24 9 17 24 19 24 22 21 13 20 19 16 17 15 17 15 15 16 14 13 14 12 21 13 14 16 16 17 13 14 20 15 15 10 14 13 17 20 12 13 16 4 3 4 4 4 3 4 4 2 3 2 3 4 1 3 3 2 4 4 3 3 2 3 2 3 4 2 5 4 4 3 4 4 4 4 1 3 4 5 3 4 4 4 3 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 5 5 3 3 4 4 3 4 4 4 5 4 4 4 4 2 3 4 1 4 5 5 5 3 5 4 4 4 2 4 3 3 3 4 2 2 2 4 1 3 3 2 4 2 3 5 3 4 2 3 4 3 5 3 1 5 2 4 4 4 4 2 4 4 3 3 3 4 3 2 3 3 3 4 5 5 3 2 4 3 3 3 3 4 3 1 2 3 2 4 4 3 2 4 3 4 4 5 5 4 4 4 3 4 2 3 3 3 3 1 3 3 1 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2 4 2 2 1 3 4 3 2 3 4 3 5 4 4 3 4 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 1 2 4 2 4 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 2 4 3 2 2 4 5 4 5 4 3 1 3 3 2 3 2 3 2 4 3 3 2 4 2 5 3 2 3 2 3 2 2 4 3 3 1 2 4 3 4 1 1 4 1 4 4 3 4 3 2 4 4 2 3 4 3 3 2 4 3 3 1 3 1 2 4 2 5 4 2 4 2 5 3 4 5 4 3 4 3 4 2 5 2 4 4 3 4 2 2 4 3 4 4 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 4 4 3 2 3 4 3 3 2 3 4 3 2 4 3 4 4 4 3 3 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 2 3 3 3 1 4 2 4 3 3 2 3 4 3 4 3 4 4 2 4 4 4 1 3 4 3 3 4 2 4 3 3 4 5 4 2 3 4 4 2 4 4 3 5 2 3 4 4 1 4 3 3 3 4 5 5 4 4 5 4 3 4 4 2 4 3 4 4 3 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 4 2 3 1 3 4 3 4 1 4 4 3 5 Pertemuan 3 2 2 3 4 3 1 3 3 2 3 2 3 2 2 3 3 2 4 2 3 3 2 3 2 3 2 2 4 3 3 2 2 4 3 4 3 1 4

Pertemuan 4 22 16 19 20 17 14 17 17 14 15 18 16 17 14 16 16 18 13 16 13 16 16 14 19 19 11 18 10 19 17 17 14 15 18 17 15 20 1 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 3 1 4 2 4 2 4 1 4 2 5 1 4 3 4 3 4 5 4 3 4 2 4 4 3 4 3 5 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 1 4 5 3 5 4 3 4 3 4 5 1 2 3 4 4 4 4 3 3 5 3 4 5 4 5 3 4 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 3 5 4 4 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 5 3 2 4 3 4

NILAI AKHIR

Daftar Nilai Aspek Afektif Kelas Eksperimen

LAMPIRAN XXI

4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 3 2 4 3 4 3 5 4 1 4 5 3 3 5 3 3 5

5 4 5 5 5 4 4 4 3 3 2 3 3 3 3 3 3 1 5 5 4 3 4 2 4 3 1 4 4 4 3 3 4 3 4 3 4 5

21 22 20 23 18 21 20 19 18 17 19 18 20 17 18 17 12 19 22 17 18 15 16 15 18 13 23 13 15 16 19 19 17 20 17 16 23

TOT NILAI MUTU 76 76 B 81 81 A

79 81

79 B 81 A

61 75

61 B 75 B

74 64

74 B 64 B

65 57

65 B 57 C

70

70 B

61 62

61 B 62 B

64 65

64 B 65 B

56 63

56 C 63 B

65 81

65 B 81 A

66 61 62

66 B 61 B 62 B

61 67

61 B 67 B

62 50

62 B 50 C

81

81 A

55 68

55 C 68 B

56 64

56 C 64 B

65 66 82 55

65 66 82 55

B B A C

61 83

61 B 83 A

TOTAL 108 100 98 119 138 RATA-RATA 71.0526 65.7895 64.4737 78.2895 90.7895
78.95 88.42

124

120
81.5789 78.9474

113
74.3421

121

105
79.6053 69.0789

120

116

117

123
78.947368 76.315789 76.97368 80.921053 1 2 3 4 78.9474 88.421053 79.342105 88.28947 rt2

127
83.5526

133

132

134

142

130

87.5 86.842105 88.157895 93.421053 85.52632

2465 64.8684

145

No indikator ke1: 3 1 2 4 3 3 4 3 5 3 6 3 7 4 8 2 9 4 10 1 11 4 12 1 13 1 14 3 15 3 16 1 17 4 18 5 19 4 20 3 2 21 22 3 23 2 24 3 25 1 26 3 27 4 28 3 29 5 30 1 31 2 32 4 33 3 34 4 35 1 36 2 3 1
37 38

Pertemuan 1 Pertemuan 2 3 3 4 3 3 3 4 3 2 3 2 3 1 2 2 2 2 3 2 3 4 2 3 2 3 1 2 3 3 3 2 2 3 3 5 2 3 3 2 14 19 18 17 13 20 18 12 16 10 16 12 10 17 16 10 15 21 22 23 13 15 15 16 12 12 20 15 19 13 14 16 17 25 9 16 20 10
133
87.5 78.42 81.84

Pertemuan 3 3 2 4 3 3 3 4 4 3 4 2 3 3 2 3 2 3 3 3 1 2 3 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 4 3 3 3 3 4 2 15 22 17 15 14 19 13 14 17 15 17 13 10 16 15 13 17 11 12 14 15 13 15 15 11 54 13 45 14 10 14 17 15 17 10 18 12 10 4 3 5 2 4 3 4 3 4 3 3 3 4 1 4 3 3 4 2 3 3 5 3 3 4 2 2 2 3 1 3 4 2 2 4 2 2 3 3 5 3 5 4 3 3 3 3 2 3 2 3 2 2 3 3 2 4 2 3 3 2 3 2 3 2 2 3 3 3 1 2 4 3 5 1 4 3 1 1 4 4 3 4 4 4 2 4 4 3 4 4 4 4 1 3 4 1 4 3 4 2 4 1 4 2 3 2 2 3 5 2 3 4 4 3 3 3 2 2 3 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 3 2 4 3 4 3 4 3 2 2 3 2 3 1 3 4 3 4 3 3 2 2 3 3 4 3 2 3 3 4 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 4 3 3 4 3 5 3 4 3 2 3 2 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 2 3 2 4 3 5 4 2 4 2 2 5 4 3 2 3 4 4 3 5 1 3 3 3 5 4 5 5 3 1 2 4 3 1 4 4 4 3 4 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 2 2 2 3 3 4 3 4 4 4 4 3 5 4 18 17 14 16 18 19 13 19 19 15 18 19 15 16 12 16 16 17 18 16 17 16 16 15 15 12 12 13 13 17 18 18 15 18 17 15 18 17

Pertemuan 4 1 4 2 2 2 3 4 3 4 4 2 4 4 1 4 4 2 3 4 3 4 3 4 4 3 4 1 3 4 4 3 3 4 4 5 4 3 3 3 2 3 3 2 4 4 4 4 2 3 4 5 4 1 3 3 3 3 1 4 1 3 5 4 2 3 1 3 1 4 3 4 2 4 4 3 5 2 3 3 2 3 4 3 3 4 2 4 4 3 5 3 3 2 3 3 2 3 3 4 3 4 3 4 2 3 3 3 2 3 3 1 3 5 4 3 3 3

Nilai Akhir

LAMPIRAN XXII

2 2 3 4 3 1 3 3 2 3 2 3 2 2 3 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 2 2 4 3 3 2 2 4 3 4 3 1 2 2
99
65.1316

4 3 4 4 4 3 4 4 2 3 2 3 4 1 3 3 2 2 4 3 3 2 3 2 3 4 2 5 4 4 3 4 4 4 4 1 3 4 3
106 107
69.7368 70.3947

5 3 4 4 4 3 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3 3 3 4 4 5 5 3 3 4 4 3 4 2 4 5 4 1 4 4 2 2 4 2
114 105
75 69.0789

1 4 3 4 2 3 4 2 2 4 2 4 1 3 3 4 2 3 1 2 3 3 1 3 2 2 1 3 1 4 2 3 4 3 2 3 2 2 2
122 116 119 131

2 3 4 4 3 2 4 1 3 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 4 1 3 2 3 2 3 3 2 3 3 4 3 1 2 3 2

4 3 3 4 3 4 3 2 4 3 4 4 4 3 4 5 4 3 2 3 2 4 2 5 2 3 2 2 4 1 4 2 3 3 4 3 3 2 4
125
80.263158 76.315789 78.28947 86.184211 82.2368 1 2 3 4 78.4211 81.842105 80.657895 78.68421 rt2

5 5 2 3 3 3 1 4 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 5 4 3 4 3 4 3 2 3 3 5 3 3 2 3 4 3 1 5 3
125 117

17 13 15 15 17 16 15 17 17 15 21 18 11 16 18 15 13 13 18 15 16 19 19 15 15 9 14 15 16 16 15 12 17 22 17 15 15 16

TOT NILAI MUTU 64 64 B

71

71 B

64

64 B

63

63 B

62

62 B

74

74 B

59

59 C

62

62 B

Daftar Nilai Aspek Afektif Kelas Kontrol

69

69 B

55

55 C

72

72 B

62

62 B

46

46 C

65

65 B

61

61 B

54

54 C

61

61 B

62

62 B

70

70 B

68 61

68 B 61 B

63

63 B

65

65 B

61

61 B

53

53 C

87

87 A

59

59 C

88

88 A

62

62 B

56

56 C

61

61 B

63

63 B

64 82 53

64 B 82 A 53 C

64

64 B

65

65 B

53

53 C

TOTAL 106 99 101 120 RATA-RATA 69.7368 65.1316 66.4474 78.9474

118

120

118

82.236842 76.973684 77.631579 78.947368 77.63158

2424 63.7895

146

LAMPIRAN XXIII Uji Normalitas Aspek Psikomotorik Kelas Eksperimen
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 xi 56 60 64 68 72 76 80 84 88 92 96 x i2 3136 3600 4096 4624 5184 5776 6400 7056 7744 8464 9216 fi 1 2 2 2 2 3 2 7 8 5 3 fi.xi 56 120 128 136 144 228 160 588 704 460 288 fi.xi2 3136 7200 8192 9248 10368 17328 12800 49392 61952 42320 27648 fk 1 3 5 7 9 12 14 21 29 34 37 zi -2.3 Fzi Szi |Fzi -Szi|

0.0107 0.027027 0.016327

-1.938 0.0244 0.081081 0.056681 -1.576 0.0559 0.135135 0.079235 -1.214 0.1093 0.189189 0.079889 -0.852 0.1922 0.243243 0.051043 -0.489 0.3085 0.324324 0.015824 -0.127 0.4483 0.378378 -0.06992 0.2349 0.591 0.567568 -0.02343

0.5971 0.7224 0.783784 0.061384 0.9593 0.8315 0.918919 0.087419 1.3215 0.9082 1 0.0918

Σ

37

3012

249584

9072144

x=

Σ (x i − f i ) n

zi =
2

x−x S

Sz i =

fk n

S2 =

n ∑ f i x i − ( f i xi ) n(n − 1)
2

S= S2

Harga Fzi dilihat pada tabel F (Lampiran)

x=
S2=

81,405

121,97

147

S= Lo=

11,044 0,0918

Ltabel pada n = 37 dengan α = 0,05 maka Ltabel = 0,146 Dari hasil perhitungan Lo dan Lt, dapat disimpulkan bahwa 0,0918 < 0,146 atau Lo < Lt dengan demikian kelas eksperimen penelitian ini terdistribusi Normal

148

LAMPIRAN XXIV Uji Normalitas Aspek Psikomotorik Kelas Kontrol
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 72 56 60 64 68 72 76 80 84 88 92 96 x i2 3136 3600 4096 4624 5184 5776 6400 7056 7744 8464 9216 fi 1 2 5 4 8 4 4 3 3 3 1 fi.xi 56 120 320 272 576 304 320 252 264 276 96 fi.xi2 3136 7200 20480 18496 41472 23104 25600 21168 23232 25392 9216 fk 1 3 8 12 20 24 28 31 34 37 38 zi Fzi Szi |Fzi -Szi|

-1.8793 0.0301 0.02632 -0.00378 -1.4869 0.0668 0.07895 0.01215 -1.0945 0.1335 0.21053 0.07703 -0.7022 0.2389 0.31579 0.07689 -0.3098 0.6217 0.52632 -0.09538 0.08261 0.5319 0.63158 0.09968 0.47499 0.6808 0.73684 0.05604 0.86737 0.8078 0.81579 0.00799 1.25975 0.898 0.89474 -0.00326

1.65214 0.9515 0.97368 0.02218 2.04452 0.9803 1 0.0197

Σ

38

2856
8156736

218496

x=
2

Σ (x i − f i ) n
2 2

zi =

x−x S

Sz i =

fk n

n ∑ f i x i − ( f i xi ) S = n(n − 1)

S= S2

Harga Fzi dilihat pada tabel F (Lampiran)

x=
S2=

75,20 104,00

149

S= Lo=

10,20 0,099

Ltabel pada n = 38 dengan α = 0,05 maka Ltabel = 0,144 Dari hasil perhitungan Lo dan Lt, dapat disimpulkan bahwa 0,099 < 0,144 atau Lo < Lt dengan demikian kelas kontrol penelitian ini terdistribusi Normal

150

LAMPIRAN XXV Uji Homogenitas Aspek Psikomotorik Variansi Kelas sampel Kelas Sampel I Kelas Sampel II

x = 81,405
S2 = 121,97 n = 37
2 2

x = 75,2
S2 = 104,0 n = 38

F =

S1

S2

F = Varians Kelompok data S12 = Varians Terbesar S22 = Varians Terkecil

F

Hitung

=

121,97 =1,172 104,0

dk pembilang = n pembilang – 1 = 36 dk penyebut Jadi F
Hitung

= n penyebut – 1 = 37 = 1,17 sedangkan F
Tabel

pada taraf nyata 0,05 dengan dk 36:37 adalah

1,71 berarti : 1,17 < 1,71

F Hitung < dari F table Dari hasil perhitungan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa data nilai kelas eksperimen dengan kelas kontrol adalah data yang Homogen.

151

LAMPIRAN XXVI Uji Hipotesis Aspek Psikomotorik

S12 = 121,97 S22 = 104,00 S2 =

x1 = 81,405 x2 = 75,20

n1 = 37 n2 = 38

(n1 − 1) S1 2 + (n 2 − 1) S 2 2
n1 + n 2 − 2

=

(37 − 1)121,97 + (38 − 1)104,00
37 + 38 − 2

= 112,86 S =

112,86
dk=37+ 38 – 2 = 73

= 10,624

t Hitung =

x1 − x2 1 1 S + n1 n2
81,405 − 75,20 10,624 1 1 + 38 37

t Tabel = 1,67

=

= 2,559

Jadi t

Hitung

= 2,559 pada taraf kepercayaan 95 % dengan dk = n1+n2- 2 = 73
Tabel

sedangkan t

= 1,67 sehingga diperoleh t

Hitung

>t

Tabel

= 2,559 > 1,67 sehingga

disimpulkan bahwa hipotesis nol di tolak dan hipotesis kerja yang berlaku yaitu H1 :

µ1 > µ2 .

152

LAMPIRAN XXVII Nilai Aspek Psikomotorik Kelas Eksperimen
NO SISWA indikator ke :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37

1 4 4 4 5 5 4 5 4 4 4 4 4 5 4 4 4 3 1 5 2 4 2 4 4 5 4 5 4 5 3 4 2 4 5 5 3 4

Pertemuan 1 2 3 4 4 5 5 4 4 4 5 3 5 5 4 5 5 4 5 5 4 4 3 4 4 5 5 4 5 5 3 5 4 5 5 3 3 4 5 5 4 3 4 5 4 4 3 3 5 5 5 3 4 4 3 5 4 3 5 5 4 3 3 5 3 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 5 4

4 5 5 4 4 5 4 4 4 5 4 4 4 5 4 4 4 4 4 5 5 5 2 4 3 5 4 5 4 3 4 5 2 3 5 4 3 5

5 2 3 2 5 4 3 3 4 5 2 5 4 5 5 5 5 2 5 5 3 5 5 5 5 4 4 5 4 5 3 4 3 4 4 5 3 5

NILAI AKHIR KRITERIA TOTAL NILAI 19 76 B 22 88 A 18 72 B 23 92 A 22 88 A 20 80 A 22 88 A 21 84 A 23 92 A 17 68 B 21 84 A 22 88 A 24 96 A 21 84 A 22 88 A 23 92 A 15 60 C 19 76 B 24 96 A 17 68 B 23 92 A 16 64 B 21 84 A 22 88 A 21 84 A 19 76 B 24 96 A 20 80 B 22 88 A 16 64 B 21 84 A 14 56 C 18 72 B 22 88 A 21 84 A 15 60 C 23 92 A

TOTAL RATA-RATA

146
78.9189

153
82.7027

151

153

150

81.6216 82.7027 81.0811

153

LAMPIRAN XXVIII Nilai Aspek Psikomotorik Kelas Kontrol
NO SISWA indikator ke :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 TOTAL RATA-RATA

1 3 5 3 3 3 3 5 2 4 4 4 2 4 5 4 3 5 3 5 5 3 5 5 5 4 3 5 3 5 4 5 4 3 5 4 5 5 3
151
79.4737

2 4 5 4 3 4 3 4 4 5 2 5 4 2 3 4 5 5 2 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 3 2 4 4 4 3 4 4 3

Pertemuan 1 3 3 4 5 3 5 4 5 2 3 3 5 3 2 3 5 3 3 4 3 5 3 3 5 3 3 5 5 5 3 4 5 3 3 5 2 3 3 3
139

4 3 4 4 4 3 4 4 5 5 2 4 4 5 4 3 4 4 3 4 3 4 5 5 3 4 2 5 4 4 3 4 4 4 4 3 3 4 3
144

5 5 5 2 2 3 4 5 4 4 3 5 3 3 3 3 3 5 3 5 5 3 2 3 4 4 3 5 5 5 2 4 4 3 2 4 5 2 5
140

NILAI AKHIR TOTAL NILAI KRITERIA 18 72 B 23 92 A 18 72 B 15 60 C 18 72 B 18 72 B 23 92 A 17 68 B 21 84 A 14 56 C 23 92 A 16 64 B 16 64 B 18 72 B 19 76 B 18 72 B 22 88 A 15 60 C 20 80 B 22 88 A 16 64 B 19 76 B 22 88 A 18 72 B 19 76 B 17 68 B 24 96 A 21 84 A 21 84 A 16 64 B 20 80 B 19 76 B 17 68 B 20 80 B 16 64 B 20 80 B 18 72 B 17 68 B

140
73.6842

73.1579 75.7895 73.6842

154

LAMPIRAN XXIX Uji Normalitas Aspek Kognitif Kelas Eksperimen
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 xi
40 43 47 50 53 57 60 63 67 70 73 77 80 83 87 90 93 97

xi

2

fi
1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 2 2 5 6 3 4 37

fi xi 40 43 47 50 53 57 120 126 67 70 146 77 160 166 435 540 279 388

1600 1849 2209 2500 2809 3249 3600 3969 4489 4900 5329 5929 6400 6889 7569 8100 8649 9409

fi x i 1600 1849 2209 2500 2809 3249 7200 7938 4489 4900 10658 5929 12800 13778 37845 48600 25947 37636
231936

2

fk 1 2 3 4 5 6 8 10 11 12 14 15 17 19 24 30 33 37

zi -2.2171 -2.0393 -1.8022 -1.6244 -1.4466 -1.2095 -1.0317 -0.8538 -0.6168 -0.4389 -0.2611 -0.024 0.15379 0.33161 0.5687 0.74652 0.92433 1.16142

F(zi) 0.0132 0.0207 0.0359 0.0526 0.0708 0.1131 0.1515 0.1977 0.2676 0.33 0.3974 0.492 0.5596 0.6293 0.7157 0.7734 0.8212 0.877

S(zi) 0.027027 0.054054 0.081081 0.108108 0.135135 0.162162 0.216216 0.27027 0.297297 0.324324 0.378378 0.405405 0.459459 0.513514 0.648649 0.810811 0.891892 1

F(zi)-S(zi) 0.013827 0.033354 0.045181 0.055508 0.064335 0.049062 0.064716 0.07257 0.029697 -0.005676 -0.019022 -0.086595 -0.100141 0.115786 0.067051 0.037411 0.070692 0.123

2864 8202496 RATA2= 77.4054

Lo= Lt=

0.116 0.14

S
S

2

284.637 16.8712

x=

Σ (x i − f i ) n

zi =
2

x−x S

Sz i =

fk n

S2 =

n ∑ f i x i − ( f i xi ) n(n − 1)
2

S= S2

Harga Fzi dilihat pada tabel F (Lampiran)

x = 77,405

155

S2 = 284,637 S = 16,871 Lo = 0,116 Ltabel pada n = 37 dengan α = 0,05 maka Ltabel = 0,146 Dari hasil perhitungan Lo dan Lt, dapat disimpulkan bahwa 0,11 < 0,146 atau Lo < Lt dengan demikian kelas eksperimen penelitian ini terdistribusi Normal

156

LAMPIRAN XXX Uji Normalitas Aspek Kognitif Kelas Kontrol
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 xi
47 50 53 57 60 63 67 70 73 77 80 83 87 90

xi

2

fi
1 2 1 4 4 1 4

fi xi 47 100 53 228 240 63 268 280 73 154 80 415 609 90
38

2209 2500 2809 3249 3600 3969 4489 4900 5329 5929 6400 6889 7569 8100

4 1 2 1 5 7 1

fi xi 2209 5000 2809 12996 14400 3969 17956 19600 5329 11858 6400 34445 52983 8100
198054

2

fk 1 3 4 8 12 13 17 21 22 24 25 30 37 38

zi -1.8563 -1.6248 -1.3933 -1.0845 -0.853 -0.6215 -0.3128 -0.0812 0.15029 0.2571 0.4898 0.722 1.187 1.4623

F(zi) 0.0314 0.0526 0.0823 0.1401 0.1977 0.2676 0.3783 0.4681 0.5596 0.6026 0.6879 0.7642 0.883 0.9278

S(zi) 0.026316 0.078947 0.105263 0.210526 0.315789 0.342105 0.447368 0.552632 0.578947 0.631579 0.657895 0.789474 0.973684 1

F(zi)-S(zi) -0.005084 0.026347 0.022963 0.070426 0.118089 0.074505 0.069068 0.084532 0.019347 0.028979 0.030005 -0.025274 0.090684 0.0722

2700 7290000 RATA2= 71.0526

Lo = 0.118 Lt = 0.14

S
S

2

167.889 12.9572

x=
2

Σ (x i − f i ) n
2 2

zi =

x−x S

Sz i =

fk n

n ∑ f i x i − ( f i xi ) S = n(n − 1)

S = S2

Harga Fzi dilihat pada tabel F (Lampiran)

x=
S2= S= Lo=

71,053 167,889 12,957 0,118

Ltabel pada n = 38 dengan α = 0,05 maka Ltabel = 0,144 Dari hasil perhitungan Lo dan Lt, dapat disimpulkan bahwa 0,118 < 0,144 atau Lo < Lt dengan demikian kelas kontrol penelitian ini terdistribusi Normal

157

LAMPIRAN XXXI Uji Homogenitas Variansi Kelas sampel Kelas Sampel I Kelas Sampel II

x = 77,405
S2 = 284,637 n = 37
2 2

x = 71,053
S2 = 167,889 n = 38

F =

S1

S2

F = Varians Kelompok data S12 = Varians Terbesar S22 = Varians Terkecil

F

Hitung

=

284,637 =1,695 167,889

dk pembilang = n pembilang – 1 = 36 dk penyebut Jadi F
Hitung

= n penyebut – 1 = 37 = 1,695 sedangkan F
Tabel

pada taraf nyata 0,05 dengan dk 36:37 adalah

1,71 berarti : 1,69 < 1,71 F Hitung < dari F table Dari hasil perhitungan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa data nilai kelas eksperimen dengan kelas kontrol adalah data yang Homogen.

158

LAMPIRAN XXXII Uji Hipotesis

S12 = 284,637 S22 = 167,889 S2 =

x1 = 77,405 x2 = 71,053

n1 = 37 n2 = 38

(n1 − 1) S1 2 + (n 2 − 1) S 2 2
n1 + n 2 − 2

=

(37 − 1)284 ,637 + (38 − 1)167 ,889
37 + 38 − 2

= 225,46 S =

225,46
dk=37 + 38 – 2 = 73

= 15,015

t Hitung =

x1 − x2 1 1 S + n1 n2
77,405 − 71,053 15,015 1 1 + 38 37

t Tabel = 1,67

=

= 1,84

Jadi t Hitung = 1,84 pada taraf kepercayaan 95 % dengan dk = n1+n2- 2 = 73 sedangkan t
Tabel

= 1,67 sehingga diperoleh t

Hitung

>t

Tabel

= 1,84 > 1,67 sehingga disimpulkan

bahwa hipotesis nol di tolak dan hipotesis kerja yang berlaku yaitu H1 : µ1 > µ 2

159

Lampiran XXXIII

160

Lampiran XXXIV

161

162

Lampiran XXXV

163

Lampiran XXXVI

Sumber: Disalin dari Sudjana, Metoda Statiatika.Bandung:Tarsito

164

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful