Tugas Biologi Farmasi

LIPOSOM, NIOSOM, TRANSFERSOM, ETHOSOM, VIROSOM dan PHARMACOSOM

Dosen : Jessie Sofia Pamudji
Oleh: Visi Anisa Lestari Ma'sum Al Asyhar Shirly Alyani Samhana P. Hernita Rianti Dwi Kirana Husin Yuda Prasetya Nugraha Agus Sarirahayu Ayunina Rizky Ferdina (10708026) (10708027) (10708028) (10708029) (10708030) (10708031) (10708032) (10708033) (10708034)

Sains dan Teknologi Farmasi Sekolah Farmasi INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2011

LIPOSOM, NIOSOM, TRANSFERSOM, ETHOSOM, VIROSOM dan PHARMACOSOM Saat ini penelitian mengenai obat-obatan terus dilakukan sehingga diperoleh obat dengan efikasi yang maksimal. Beberapa obat memiliki indeks terapi yang sempit dan penggunaannya dibatasi karena memiliki efek samping. Oleh karena itu, formulasi obat terus dikembangkan untuk mendapatkan efektivitas terapi yang diharapkan. Beberapa teknik sedang dikembangkan agar obat dapat mencapai target di tempat yang spesifik tanpa mempengaruhi jaringan lain sehingga dapat mencegah efek toksik (Biju et al, 2006). Banyak senyawa aktif memiliki bioavaibilitas dan kelarutan dalam air yang rendah sehingga diperlukan suatu sistem pembawa yang cocok untuk obat hidrofobik. Obat-obat yang kelarutannya kecil dalam air merupakan suatu permasalahan dalam industri farmasi karena pada umumnya obat diabsorbsi dari saluran cerna dengan mekanisme difusi pasif sehingga kecepatan absorbsi obatakan menentukan bioavaibilitas. Salah satu pendekatan untuk masalah ini adalah menggunakan vesikel yang sudah populer seperti liposom sebagai penghantar obat. Dan pendekatan lain yaitu dengan menggunakan metode niosom, transfersom, ethosom, virosom dan farmakosom. LIPOSOM I. Pengertian Etiologi nama liposom berasal dari bahasa Yunani yaitu “LIPO” yang berarti lipid/lemak dan “SOMA” yang berarti tubuh. Dengan demikian, posisi lipid berada pada bagian badan dari liposom. Liposom merupakan partikel berbentuk vesikel sferis yang dindingnya tersusun atas molekul lipid (konstituen utamanya fosfolipid) lapis ganda yang membungkus kompartemen cairan didalamnya. Fosfolipid merupakan senyawa yang ampifilik dan mempunyai struktur dasar gliserol, terdiri dari bagian kepala yang polar (gugus fosfat) dan bagian hidrofobik (satu atau dua molekul asam lemak). Senyawa ini bermuatan netral sampai sedikit negatif. Fosfatidil kolin adalah salah satu fosfolipid yang paling banyak digunakan dalam

sistem liposom. Karena terbuat dari bahan alami membran yang terbentuk menyerupai lipid membran sel dan bersifat biokompatibel (biodegradasi, nontoksik, dan tidak memicu respon imun).

Liposom memiliki struktur lipid lapis ganda, sedangkan lipid lapis tunggal disebut misel. Lipid lapis ganda terbentuk karena sifat termodinamika fosfolipid, terjadi karena

transisi struktur lipid lapis ganda dari fasa padat menjadi fasa Kristal cair karena pengaruh perubahan temperatur. Lipid lapis ganda terbentuk dengan stabil karena mempunyai tingkat energi yang minimal. Hal tersebut disebabkan bagian hidrofil fosfolipid menjauhi bagian lipofilik dan juga adanya interaksi van der Waals yang kuat antar rantai asil. Komponen yang paling sering digunakan dalam pembuatan liposom yaitu :     Lipid bermuatan negatif, fosfolipid asam : dipalmitoil-fosfatifilgliserol (DPPG) dan dipalmitoil-fosfatidilkolin (DPPC), Lipid bermuatan netral : sfingomielin dan fosfatidiletanolamin Umum (paling sering) : fosfatidilkolin Tambahan lain : kolesterol untuk meningkatkan stabilitas, menurunkan porositas atau kebocoran melalui membran, dan mencegah agregasi dan fusi liposom.

Liposom terbagi menjadi 3 jenis liposom, yaitu : a. Vesikel Multi Lamelar (MLV) Liposom MLV dapat dikatakan sebagai bentuk awal liposom. MLV merupakan liposom multikompartemen dengan ukuran vesikel 100 nm sampai dengan 1000 nm dan setiap vesikel biasanya terdiri atas lima atau lebih lamela konsentris. Liposom MLV sangat cocok untuk proses enkapsulasi dari berbagai substansi dan dapat dibuat berbagai macam komposisi lipid. Keterbatasan MLV adalah mempunyai kapasitas enkapsulasi b. Vesikel Unilamelar kecil (SUV) SUV memiliki variasi ukuran terkecil. Ukuran SUV didasarkan pada kekuatan ionisasi medium cair dan komposisi lemak pada membran, yaitu ukuran vesikel ± 15 nm untuk liposom yang berasal dari lesitin telur murni pada salin normal dan ± 25 nm untuk liposom DPC. c. Vesikel Unilamelar besar (LUV) LUV memiliki ukuran lebih besar dari SUV. Liposom ini memiliki ukuran 500-1000 nm. Vesikel ini dapat dibuat dengan metode injeksi eter dan fusi liposom jenis SUV dengan diinduksi kalsium. d. Vesikel Unilamelar intermediet (IUV) Liposom ini berukuran 100-200 nm. IUV dapat bertahan lebih lama dalam sirkulasi dan stabilitasnya baik sehingga sangat bermanfaan dalam penghantaran obat.

Liposom dapat diisi dengan obat-obatan, dan digunakan untuk memberikan obat untuk kanker dan penyakit lainnya. Kelebihan liposom yaitu :    Bersifat biokompatibel (biodegradasi, nontoksik, dan tidak memicu respon imun) Meningkatkan efektivitas kerja obat dan mengurangi toksisitas teurapeutik Melindungi jaringan sehat dari pengaruh obat toksik

Klasifikasi dari Liposom (pada gambar di bawah) : A. Liposom konvensional dengan lipid lapis ganda dalam lingkungan berair B. Imunoliposom yang memiliki target berupa antibody C. Long-circulating liposome dengan polimer protektif seperti PEG yang melindungi permukaan liposom dari interaksinya dengan protein opsonin D. Long-circulating immunoliposome dengan polimer protektif dan antibody E. Liposom generasi baru, dengan berbagai modifikasi seperti partikel magnetic, polimer stimuli-sensitif, dll dengan tujuan untuk meningkatkan waktu edar yang lebih lama, memperbaiki stabilitas, dan meningkatkan efek.

II. Mekanisme a) Pemasukan obat ke dalam Liposom Klasifikasi obat yang dapat dimasukkan ke dalam liposom dilakukan berdasarkan koefisien partisi minyak/dapar dan oktanol.dapar yaitu :   Senyawa hidrofilik (larut air) dengan harga Kp rendah untuk minyak/dapar dan oktanol/dapar Senyawa ampifatik, yaitu Kp rendah untuk minya/dapar dan Kp sedang sampai tinggi untuk Kp oktanol/dapar

Senyawa lipofilik mempunyai Kp tinggi untuk minyak/dapar.

Metode pemasukan obat ke liposom dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu ;   b) Masuk ke membran liposom Masuk ke fasa air dalam liposom

Pelepasan obat dari liposom Terdapat beberapa proses pelepasan substansi materi dari liposom. Pertama, melalui fusi sempurna membran lipid liposom dengan membran sel target. Melalui cara ini, isi liposom akan terpapar langsung dengan sitoplasma sel dan tetap diselubungi membran biologis.

Kedua, liposom melepas isinya ke ruang interstisial untuk selanjutnya substansi secara aktif diambil oleh sel melalui transport paraseluler. Dengan demikian, transpor para seluler substansi aktif dalam liposom dapat berlangsung pada usus halus melalui dinding usus. Cara ini terjadi pada liposom yang sensitive pada perubahan temperatur. Jadi, liposom akan pecah sat terjadi perubahan suhu dan liposom akan melepaskan isinya ke ruang ekstraseluler. Untuk obat yang bersifat lipofilik, bentuk MLV merupakan pilihan utama, karena jumlah iobat yang akan dibawa, yang terikat pada membran lebih

banyak. Untuk yang bersifat hidrofilik, besarnya vesikel yang umumnya hanya terdiri dari satu lapis membran menentukan jumlah obat yang dibawa.

III.

Aplikasi/Manfaat Dewasa ini, penggunaan liposom dalam bidang medis sudah sangat luas diantaranya sebagai diagnosis, kemoterapi, imunoterapi, dan terapi gen. liposom juga telah digunakan sebagai alat pembelajaran untuk mempelajari transpor transmembran, permeabilitas lipid lapis ganda, fusi membran, dan interaksi protein lipid. Selain itu, liposom juga telah digunakan sebagai suatu pembawa obat, enzim, materi genetik, dan bahan kosmetik. Liposom sebagai pembawa obat memiliki beberapa kelebihan yaitu :   Liposom dapat mengarahkan obat pada target tertentu, misalnya pada longcirculating liposomes yang bekerja pada target selektif area patologis tertentu. Liposom sebagai reservoir obat yang melepaskan obat secara perlahan sehingga akan meningkatkan efektivitas obat dan memperpanjang masa edar obat dalam darah    Liposom dapat melindungi obat dari degradasi sebelum mencapai target Liposom melindungi pasien dari efek samping langsung dari obat yang terpapar Liposom dapat melarutkan obat lipofilik yang sulit diberikan secara intravena sehingga pemberiannya di kemudian hari akan lebih mudah. Contoh penggunaannya secara klinis yaitu :    Penghantaran vaksin (Vaksin Hepatitis A) Obat anti kanker (Duanorubicin, Cisplatin, Cytarabin) Terapi Gen (DNA material)  cDNA-CFTR Doxorubicin, Epirubicin, Methotrexate,

NIOSOM I. Pengertian Niosom adalah sistem vesikel yang mirip dengan liposom yang dapat digunakan sebagai pembawa obat hidrofobik. Niosom dibentuk dari campuran surfaktan non ionik sebagai pengganti fosfolipid. Beberapa rute pemberian untuk niosom telah diteliti seperti intramuskular, intravena, subkutan, okular, oral dan transdermal. Niosom memiliki struktur surfaktan multilamelar sehingga cocok untuk obat hidrofobik (Blazek-Welsh and Rhodes, 2001). Niosom bersifat biodegradabel, biokompatibel, dan non-imunogenik. Selain itu niosom bekerja meningkatkan efek terapetik dengan cara menunda klirens dari sirkulasi, melindungi obat dari lingkungan biologi, serta membatasi efek ke sel target (Biju et al, 2006). Berdasarkan karakteristik dan ukurannya, niosom dapat dibedakan menjadi  Multilamellar vesikel (MLV) Vesikel jenis ini dapat meningkatkan volume penyimpanan dan distribusi cairan di dalamnya. Metode yang biasa digunakan dalam pembuatannya yaitu dengan metode hand shaking. MLV menunjukkan variasi dari komposisi lipid. MLV mempunyai ukuran >0,05μm.  Unilamellar vesikel (SUV) SUV biasanya dihasilkan dengan metode sonikasi, ultrasonic electrocapillary, dan emulsifikasi atau dilusi pelarut. SUV memiliki ukuran 0,025-0,05μm.

Large Unilamellar vesikel (LUV) Metode yang biasa digunakan dalam pembuatan LUV yaitu dengan melarutkan lipid dalam pelarut organik dalam suasana buffer. Metode yang paling baik dalam pembuatan niosom ini yaitu dengan reverse phase evaporation atau dengan detergent solubisation. LUV memiliki ukuran >0,1μm.

II.

Mekanisme Berbagai metode untuk pembuatan niosom telah diteliti, tetapi metode ini memiliki beberapa kelemahan yaitu preparasi yang rumit, waktu yang lama, dan alatalat khusus. Sekarang ini sedang diteliti pembuatan niosom dari hidrasi proniosom. Metode ini lebih mudah dan tidak memerlukan alat khusus. Proniosom dibuat dengan menyemprotkan surfaktan dalam pelarut organik keserbuk sorbitol kemudian menguapkan pelarutnya, tetapi untuk melapisi partikel sorbitol ini sulit karena sorbitol yang digunakan larut dalam pelarut organik sehingga partikel sorbitol dapat terdegradasi dan menjadi sangat kental. Untuk mencegah hal ini, beberapa metode pembuatan proniosom telah dicoba, salah satunya adalah mengganti sorbitol dengan maltodekstrin (Blazek-Welsh and Rhodes, 2001). Pada niosom, cairan akan dilingkupi lapisan bilayer yang tersusun dari surfaktan non ionik, dengan atau tanpa kolesterol, dan bekerja menyerupai liposom pada in vivo. Struktur vesikel bilayer tersusun dari bagian ekor yang bersifat hidrofobik dari monomer surfaktan yang melindungi dari lingkungan cair dan bagian kepala bersifat hidrofilik yang bersentuhan dengan lingkungan cair. Kolesterol dapat membuat kaku lapisan bilayer sehingga dapat mengurangi kebocoran pada niosom. Dicetylphosphat (DCP) juga diketahui dapat meningkatkan ukuran vesikel dan menyebabkan muatan pada vesikel (Biju et al, 2006).

Niosom dapat dibuat dengan metode hidrasi lapisan lemak (reverse phase evaporation) atau perubahan pH pada bagian permukaan hingga membentuk vesikel multilamellar. Pemilihan metode pembuatan niosom dapat didasarkan pada tujuan penggunaannya karena metode preparasi mempengaruhi jumlah lapisan ganda, ukuran, distribusi ukuran, serta efisiensi penjeratan fasa cair dan permeabilitas membran vesikel. Metode lain yang dapat dilakukan di antaranya :  Metode injeksi eter Campuran surfaktan-kolesterol, dilarutkan dalam dietil eter lalu diinjeksikan perlahan-lahan ke fasa cair pada suhu 60`C. Setelah eter diuapkan akan dihasilkan LUVs. Kekurangan metode ini adalah masih tersisanya sejumlah kecil eter dalam suspensi vesikel dan sangat sulit dihilangkan.  Metode film tipis Campuran surfaktan-kolesterol, dilarutkan dalam dietil eter pada labu alas bulat lalu diuapkan pada suhu kamar dengan tekanan rendah. Film surfaktan kering dihidrasi dengan fasa cair pada suhu 50-60`C sambil digoyang perlahan-lahan.  Metode sonikasi Fasa cair ditambahkan dalam surfaktan-kolesterol pada gelas vial, lalu campiran disonikasi dalam perioda wamtu tertentu. Vesikel yang dihasilkan adalah vesikel unilamelar yang kecil. Dalam hal ini dihasilkan ukuran vesikel niosom yang lebih besar daripada liposom dengan diameter >100 nm.  Metode Handjani-Villa Sejumlah ekuivalen lipida (atau campuran lipida) dan larutan cair zat aktif dicampur untuk memperoleh fase lamelar homogen. Homogenasi dilakukan pada suhu terkendali dengan alat gojok atau ultrasentrifugasi.  Metode evaporasi fase balik Surfaktan dilarutkan dalam dietileter atau kloroform dan 1/4 volume dapar fosfat. Campuran disonikasi dalam waktu tertentu hingga terbentuk emulsi air dalam minyak yang stabil. Setelah itu, pelarut diuapkan dengan vakum tekanan rendah hingga terbentuk gel lalu dihidrasi. Penguapan dilannutkan hingga proses hidrasi berlangsung sempurna.

Proniosom Penemuan proniosom mampu menjawab kesulitan dari semua metode pembuatan niosom. Proniosom merupakan formulasi kering dari surfaktan-lapisan pembawa yang kadarnya dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan, dan direhidrasi dengan agitasi singkat pada air panas. Proniosom biasanya dibuat denganmenyemprotkan surfaktan dalam pelarut organik ke serbuk sorbitol dan kemudian menguapkan pelarutnya, tetapi karena sorbitol bersifat larut dalam pelarut organik, maka diperlukan proses pengulangan sampai konsentrasi surfaktan yangdiinginkan tercapai. Surfaktan yang melapisi vesikel sangat tipis dan hidrasi darilapisan ini membuat vesikel multilamelar menjadi bentuk yang terlarut. Pembuatan niosom dari metode ini menghasilkan produk yang serupa seperti metode konvensional, bahkan ukuran partikelnya lebih seragam (Blazek-Welshand Rhodes, 2001). Pembuatan niosom dari proniosom ini tergolong mudah, tetapi cukup sulit untuk melapisi partikel sorbitol karena sorbitol bersifat mudah larut dalam kloroform dan pelarut organik lainnya. Jika pembuatan larutan surfaktan terlalu cepat maka partikel sorbitol akan rusak dan larutan menjadi kental. Untuk mencegah kerusakan tersebut, beberapa metode pembuatan proniosom telah dicoba, salah satunya adalah mengganti sorbitol dengan maltodekstrin sebagai bahan pembuatan niosom. (Blazek-Welsh and Rhodes, 2001)

TRANSFERSOM I. Pengertian Transfersom merupakan suatu vesikel fleksibel yang memiliki inti akuatik yang dikelilingi oleh kompleks lipid bilayer. Transfersom dibuat dari fosfolipid dan suatu aktivator. Aktivator biasanya merupakan surfaktan rantai tunggal dengan radius lengkungan yang besar yang mendestabilisasi lapisan lipid bilayer dari vesikel dan meningkatkan deformabilitas dari bilayer.

II.

Mekanisme Ukuran transfersom bervariasi, dari 200 hingga 300 nm. Karena sifat deformabilitasnya, transfersom dapat berdilatasi hingga sepersepuluh ukuran awal dan dapat melewati pori-pori kulit (20-30 nm).

Gradien osmotik yang terbentuk dari perbedaan antara permukaan kulit dengan epidermis mendorong penetrasi transfersom ke dalam kulit. Transfersom dapat meningkatkan penghantaran obat dengan ukuran molekul kecil atau besar ke dalam kulit atau ke dalam sirkulasi darah melalui kulit. Yang menarik, penggunaan transfersom ini sebagai sediaan topikal, regional atau sistemik bergantung pada jumlah transfersom yang diaplikasikan per luas permukaan kulit. Ketika diaplikasikan dalam jumlah yang kecil, transfersom hanya akan berpenetrasi ke kedalaman yang terbatas sebelum terdegradasi di kulit. Namun, jika diaplikasikan lebih banyak lagi, transfersom dapat berpenetrasi hingga ke lapisan yang lebih dalam lagi seperti otot. Peningkatan jumlah yang diaplikasikan akan menjenuhkan lapisan kulit, jaringan subkutan, dan pada akhirnya transfersom akan masuk ke sirkulasi sistemik melalui pembuluh limfatik. III. Aplikasi/ Manfaaat Keuntungan dari penggunaan transfersom ini adalah sifatnya yang biodegradabel dan biokompatibel dengan tubuh. Selain itu, transfersom memiliki kapasitas penjerapan yang tinggi, terutama untuk obat yang lipofilik jumlahnya mencapai 90%. Transfersom juga dapat mencegah obat terdegradasi dan berfungsi sebagai depot yang melepaskan obatnya secara perlahan dan bertahap. Tujuan dari

penggunaannya dapat lokal atau sitemik. Terakhir, pembuatan transfersom ini mudah di scale up karena prosedurnya yang sederhana. Transfersom banyak digunakan sebagai pembawa protein dan peptida seperti interferon dan insulin. Protein dan peptida merupakan molekul besar yang sangat sulit masuk ke dalam tubuh, ketika diberikan secara oral, dapat terdegradasi sempurna di saluran cerna. Aplikasi lain yang penting dari transfersom adalah imunisasi transdermal. ETHOSOM I. Pengertian Ethosome merupakan suatu sistem penghantaran obat baru yang digunakan untuk menghantarkan obat dengan sifat penetrasi ke membrane biologi kulit yang rendah. Ethosome merupakan vesicular lipid yang mengandung fosfolipid, alkohol (etanol dan isopropyl alkohol) dengan konsentrasi yang cukup tinggi, dan air. Ukuran ethosome bervariasi dari puluhan nanometer hingga ukuran micron. Tingginya konsentrasi etanol dalam komposisi ethosome membuat ethosom bersifat unik. Etanol pada ethosome menyebabkan disturbansi lipid bilayer pada kulit, dan karena itu, saat digabungkan dengan membrane vesikel, alkohol dapat meningkatkan kemampuan vesikel untuk berpenetrasi ke stratum korneum. Selain itu juga, karena tingginya konsentrasi alkohol menyebabkan membrane lipid terbungkus lebih rapat dibandingkan dengan vesikel konvensional, tetapi memiliki stabilitas yang setara, membentuk struktur yang lebih lunak, dan meningkatkan kemampuan distribusi obat di lipid stratum korneum. Ethosome digunakan untuk penghantaran obat melalui rute trasdermal. Tidak seperti liposom klasik, ethosome dapat meningkatkan permeasi ke barrier stratum korneum. Ethosom dapat memerangkap molekul obat dengan sifat fisikokimia yang bervariasi, seperti hidrofilisitas, lipofilisitas, dan ampifilisitas.

Struktur Ethosome

Metode penyiapan ethosome Sistem ethosome dapat dibuat dengan dua metode, yaitu metode dingin dan panas. Kedua metode tersebut mudah dan nyaman dilakukan, tidak memerlukan alat yang mahal, dan mudah untuk dilakukan up scalling ke skala industri. a. Metode dingin Metode ini merupakan metode yang umum digunakan untuk membuat ethosome. Pada metode ini, fosfolipid, obat, dan bahan lipid lainnya dilarutkan dalam etanol di bejana pada suhu ruang dengan pengadukan kuat menggunakan mixer. Propilen glikol atau poliol lain ditambahkan selama pengadukan. Campuran ini dipanaskan hingga 300oC dalam water bath. Air dipanaskan pada bejana lain hingga 300oC dan ditambahkan ke campuran yang kemudian diaduk selama 5 menit dalam bejana tertutup. Ukuran vesikel ethosome dapat dikurangi hingga ukuran yang diinginkan menggunakan sonikasi atau metode extrusi. Kemudian, farmulasi tersebut disimpan dalam lemari es. b. Metode panas Pada metode ini, fosfolipid didispersikan dalam air dan dipanaskan dalam water bath 400oC hingga terbentuk larutan koloidal. Pada bejana lain, etanol dan propilen glikol dicampurkan dan dipanaskan hingga 400oC. Saat kedua campuran mencapai suhu 400oC, fase organic ditambahkan ke fase air. obat kemudian dilarutkan di air atau etanol tergantung sifat

hidrofilisitas/hidrofobisitas dari obat tersebut. Ukuran vesikel ethosome dapat dikurangi sesuai dengan keinginan menggunakan sonikasi atau metode extrusi.

II.

Mekanisme Lapisan lipid multilayer stratum korneum pada temperature fisiologi tubuh sangat tebal. Ethosome yang mengandung etanol pada komposisinya, yang berinteraksi dengan molekul lipid pada bagian polar, menyebabkan meningkatnya fluiditas dari lipid stratum korneum. Proses ini bertanggung jawab pada meningkatnya inter dan intraselular permeabilitas ethosom. Selain itu, etanol berperan juga pada fleksibilitas dari membrane etosome yang memfasilitasi permeasi. Vesikel etosom yang lunak dapat masuk ke sela-sela stratum korneum dan melepaskan obat pada lapisan terdalam kulit. Absorpsi transdermal dari obat

dapat menyebabkan fusi antara vesikel ethosome dan lipid kulit sehingga dapat menyebabkan pelepasan obat di beberapa titik pada jalur penetrasi ethosome. Secara umum mekanisme penetrasi ethosome terjadi dalam dua fase, yaitu fase etanol dan fase ethosom. a. Fase etanol : etanol berperan sebagai penetrant enhancer pada kulit. Mekanisme penetrasi dari etanol telah diketahui dengan jelas. Etanol berpenetrasi ke lipid interselular dan meningkatkan fluiditas membrane sel lipid, dan menurunkan densitas lipid multilayer di membrane sel. b. Fase ethosome : meningkatnya fluiditas membrane sel lipid yang disebabkan oleh etanol menyebabkan meningkatnya permeabilitas kulit. Dengan begitu, ethosome dapat berpenetrasi dengan mudah ke dalam lapisan kulit dimana etosom dapat berfusi dengan lipid kulit dan obat dapat lepas ke lapisan kulit.

Mekanisme Penetrasi Ethosome

III. Aplikasi/ Manfaat a. NSAID (Diklofenak) : penghantaran selektif obat untuk membuat pelepasan yang diperpanjang. b. Acyclovir : meningkatkan permeasi kulit, meningkatkan aktivitas biologi sebanyak 2-3 kali lipat, dan meningkatkan profil farmakodinamik. c. Insulin : menurunkan kadar gula darah secara signifikan dan membuat pelepasan terkendali. d. Trihexyphenidyl hydrochloride : meningkatkan flux transdermal, membuat pelepasan terkendali, meningkatkan kepatuhan pasien, dan aktif secara biologi pada dosis yang lebih rendah dari dosis yang umumnya digunakan. e. Antibiotik, Cannabinol, dan Eritromisin : meningkatkan deposisi kulit, meningkatkan aktivitas biologi, membuat pelepasan diperpanjang. f. Basitrasin : meningkatkan deposisi kulit, meningkatkan penghantaran intraselular, meningkatkan bioavailabilitas. g. Anti-HIV, Zidovudin, dan Lamivudine : meningkatkan flux transdermal, meningkatkan aktivitas biologi 2-3 kali lipat, membuat pelepasan diperpanjang, mengurangi toksisitas obat, mempengaruhi histology normal kulit. h. i. Azelaic acid : membuat pelepasan diperpanjang Ammonium glycyrrhizinate : meningkatkan deposisi kulit, membuat pelepasan tertunda, dan meningkatkan aktivitas antiinflamasi. Aplikasi lain : Targeting pilosebaseus Penghantaran transdermal hormone Penghantaran agen antiparkinson Penghantaran transselular Penghantaran topical DNA Penghantaran antiarthrritis Penghantaran antibiotic dan antivirus penghantaran menggunakan ethosome dibandingkan sistem

Keuntungan

panghantaran trasndermal lain adalah sebagai berikut : a. Meningkatkan permeasi obat melalui kulit untuk penghantaran obat transdermal.

b. Memungkinkan penghantaran molekul-molekul berukuran bersar (peptide, molekul protein). c. Mengandung bahan tidak toksik pada formulasinya. d. Meningkatkan ketaatan pesien karena bentuk sediaan ethosome adalah semisolid (gel atau krim). e. Sistem ethosome bersifat pasif dan non-invasif. f. Sistem penghantaran ethosome dapat digunakan secara luas pada bidang farmasi, obat hewan, dan kosmetik. g. Metodenya lebih praktis dibandingkan dengan iontophoresis dan

phonophoresis, dan metode rumit lainnya.

VIROSOM I. Pengertian Virosom merupakan obat atau mekanisme pemberian vaksin yang terdiri dari vesikel fosfolipid bilayer unulamelar yang menggabungkan protein yang berasal virus sehingga memungkinkan virosom menyatu dengan sel target. Virosom tidak dapat bereplikasi tapi aktif dalam bentuk vesikel fusi murni. Virosom terdiri dari bilayer phospholipids (liposom) yang mengandung protein permukaan virus yang menempel pada lapisan bilayer.

Virosom adalah vesikel unilamellar bulat dengan diameter rata-rata sekitar 150 nm. Virus influenza adalah yang paling umum digunakan untuk produksi virosome. Virosom tidak bisa bereplikasi tapi vesikel fusi murni aktif. Berbeda dengan liposom, virosom mengandung glikoprotein amplop fungsional virus, yaitu virus influenza hemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA) yang diselingi dalam

membran fosfolipid bilayer. Karakteristik lebih lanjut dari virosom tergantung pada pilihan komponen bilayer. Virosom dapat dioptimalkan untuk penggabungan obat yang maksimal, atau untuk efek fisiologis yang terbaik dengan memodifikasi isi atau jenis lipid membran yang digunakan. Hal ini bahkan memungkinkan untuk menghasilkan pembawa untuk antisense oligonukleotida atau molekul genetik lainnya, tergantung pada muatan fosfolipid (positif atau negatif) yang dimasukkan ke dalam membran. Berbagai ligan, seperti sitokin, peptida, dan antibodi monoklonal (mAbs) dapat dimasukkan ke dalam virosom dan ditampilkan pada permukaan virosomal. Bahkan fragmen antibodi monoklonal tumor spesifik dapat dihubungkan dengan virosom untuk mengarahkan carrier untuk sel tumor yang dipilih.

II.

Mekanisme Pendekatan Penghantaran Obat Senyawa obat bioaktif dapat terperangkap dalam interior virosome berair atau dalam membran lipid dari virosome yang difasilitasi senyawa ke dalam sel.

Virosom sangat berguna untuk memberikan asam nukleat atau gen. Senyawa ini dihantarkan ke sitoplasma sel inang pada perpaduan dari virosome dengan endosome atau membran plasma. Asam nukleat atau gen encoding protein alami dapat diperkenalkan ke dalam sel inang dan dapat dinyatakan, asalkan ekspresi pita berisi cis-acting yang tepat. Obat atau asam nukleat dapat dimasukkan ke dalam virosome pada saat pernyiapan virosome. Senyawa bioaktif biasanya ditambahkan ke larutan lipid yang mengandung HA sebagai penghilangan nukleokapsid tersebut. Selain itu, senyawa bioaktif pada awalnya dapat dimasukkan ke dalam liposom, yang kemudian menyatu dengan virosome berisi dua hemagglutinins dengan batas pH yang berbeda untuk membentuk hibrida virosome-liposom.. Administrasi Virosom Umumnya, virosom tersuspensi dalam air garam buffer (135-150 mM NaCl). Komposisi ini harus disterilkan dengan teknik sterilisasi konvensional liposomal, seperti filtrasi membran. Formulasi juga umumnya mengandung zat tambahan seperti zat yang diperlukan untuk mensimulasikan kondisi fisiologis, seperti buffering agent dan pengatur isotonisitas (natrium asetat, natrium laktat, natrium klorida, kalium klorida, kalsium klorida). Konsentrasi virosom digunakan berkisar

20-200 mg / mL. Konsentrasi tersebut bervariasi untuk mengoptimalkan pengobatan dengan komponen virosome berbeda atau untuk tujuan tertentu. Virosom yang diberikan dalam berbagai rute seperti, parenteral, intravena, intramuskular, subkutan, intra-arteri, dan inhalable pengiriman. Selain itu, virosom dapat diberikan secara topikal, oral, atau transdermal. Para virosom juga dapat dimasukkan ke dalam perangkat implan untuk dirilis dalam jangka panjang.

III. Aplikasi/ Manfaat Virosom mewakili suatu sistem pengiriman obat inovatif untuk berbagai molekul biologis aktif, terutama asam nukleat atau gen dan untuk berbagai indikasi. Permukaan virosom dapat dimodifikasi sesuai keperluan untuk memudahkan pengiriman obat yang ditargetkan. Namun, kekomprehensifan dengan profil farmakokinetik, bioavailabilitas, efek klinis, dan stabilitas harus dipelajari secara menyeluruh untuk memastikan kualitas jangka panjang virosom sebagai sarana yang aman, efektif, dan terjangkau untuk pengiriman obat dan penargetan. Keuntungan dari Penghantaran Obat secara Virosomal          Teknologi Virosomal disetujui oleh FDA untuk digunakan pada manusia, dan memiliki profil keamanan yang tinggi Virosome bersifat biodegradable, biokompatibel, dan non-toxic tak ada risiko penularan penyakit tidak ada autoimunogenitas atau anafilaksis berlaku luas, hampir semua obat penting (obat antikanker, protein, peptida, asam nukleat, antibiotik, fungisida) memungkinkan pengiriman obat ke dalam sitoplasma sel target mempromosikan kegiatan fusi di jalur endolysosomal melindungi obat terhadap degradasi. memungkinkan pengiriman target antigen yang spesifik dan amplifikasi dari respon kekebalan.

PHARMACOSOM I. Pengertian Farmakosom adalah dispersi koloidal obat yang terikat pada lipid dan berbentuk ultrafine vesicular, misellar, atau agregat heksagonal bergantung dari

struktur kimia kompleks obat-proteinnya. Farmakosom adalah kompleks ampifilik fosfolipid dari obat yang hidrogen aktifnya berikatan dengan fosfolipid. Farmakosom ini dapat meningkatkan bioavailabilitas dari suatu obat . Konsep farmakosom ini telah diterapkan pada beberapa obat yaitu NSAID, protein, kardiovaskular, dimaksudkan gastrointestinal. II. Mekanisme Farmakosom dapat berinteraksi dengan bimembran yang memungkinkan terjadinya transfer zat aktif yang lebih baik. Interaksi ini mengarah pada perubahan suhu pada fase transisi bimembran, hal ini meningkatkan fluiditas membran dan berperngaruh pada peningkatan permeasi dari obat. Farmakosom sesuai untuk menginkorporasikan obat yang bersifat hidrofil maupun lipofilik. Terjadi penjerapan obat pada pembawa dan terjadi konjugasi obat dengan bentuk vesikel lipid. Pada farmakosom, Fluiditas membrane bergantung pada suhu fase transisi dari kompleks obat-lipid yang terjadi, tetapi ini tidak berpengaruh pada kecepatan pelepasan oabat dari ikatan. Obat dilepaskan dari pembawa melalui proses hidrolisis (termasuk reaksi enzimatik). Stabilitas fisikokimia dari farmakosom bergantung pada sifat fisikokimia kompleks obat-lipid yang terjadi. Farmakosom ini dapat diberikan dalam bentuk oral, topical, maupun intravascular. Metode pembuatan farmakosom:  Metode hand-shaking Lapisan film tipis dari kompleks obat-lipid (dengan atau tanpa lesitin) di depositkan ke dalam labu yang alasnya bulat dan lakukan hidrasi dengan media air, lalu dengan cepat berikan suspense vesikel.  Metode Injeksi ether Larutan organic dari kompleks obat-lipid di injeksikan secara perlahan ke dalam meda air yang hangat, lalu vesikel siap dibentuk. dan untuk antineoplastik. meningkatkan Perkembangan absorbsi dan obat farmakosom ini

meminimalkan

toksisitas

III. Aplikasi/ Manfaat  NSAID : penghantaran selektif obat untuk membuat pelepasan yang diperpanjang.

  

Antibiotik, Cannabinol, dan Eritromisin : meningkatkan deposisi kulit, meningkatkan aktivitas biologi, membuat pelepasan diperpanjang. Obat-obatan kardiovaskular : meningkatkan kelarutan obat dan menurunkan efek samping dari obat tersebut Obat-obatan antineoplastik

Daftar Pustaka Biju, S.S., Talegaonkar, S., Mishra, P.R., Khar, R.K., 2006, Vesikular System : An Overview, Indian Journal Of Pharmaceutical Science, 68(2): 141-153 Blazek-Welsh. A.I., Rhodes, D.G., 2001, Maltodekstrin Based Proniosomes, AAPS Pharm. Sci. 3(1) Lasic, D.D. Applications of Liposomes. California : Liposome Technology, Inc Jufri, Mahdi. Arah dan Perkembangan Liposome Drugs Delivery System. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. I, No.2, Agustus 2004, 59 – 68.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful