Komplikasi pembedahan endometriosis dengan infiltrasi yang mendalam

Tujuan Untuk mengevaluasi komplikasi operasi endometriosis invasi yang dalam. Desain Penelitian retrospektif. Pengaturan Data Dari sumber data dan status pasien CHU Estaing antara Januari 1987 dan Desember 2007. Sampel Semua pasien yang menjalani operasi atas indikasi endometriosis invasi yang mendalam. Metode Pasien yang menjalani operasi untuk endometriosis invasi yang mendalam ditinjau untuk komplikasi intra dan pasca operasi. Parameter luaran yang utama Luaran primer didasarkan atas komplikasi intra dan pasca operasi. Komplikasi dibandingkan sesuai dengan prosedur yang dilakukan. Hasil Sebanyak 568 pasien yang dilibatkan dalam penelitian ini, dengan usia rata-rata 32,4 tahun. Mean diameter estimasi dari nodul yang dirasakan dari pemeriksaan vagina adalah 1,8 cm (berkisar dari 0,5-7 cm). Operasi laparoskopi dilakukan pada 560 pasien (98,6%), dan konversi dilakukan sebanyak 2,3%. Mean durasi operasi adalah 155 menit. Komplikasi intraoperatif terjadi pada 12 pasien (2,1%), termasuk enam komplikasi minor (1,05%) dan enam komplikasi mayor (1,05%). Komplikasi pasca operasi terjadi pada 79 pasien (13,9%), termasuk 54 komplikasi minor (9,5%) dan 26 komplikasi mayor (4,6%) (satu pasien mengalami keduanya, komplikasi minor dan mayor pasca operasi). Angka kejadian keseluruhan komplikasi mayor pasca operasi jenis rectal (pemangkasan, eksisi dan penjahitan, atau reseksi segmental) adalah 9,3% (21 dari 226), dibandingkan dengan pasien lain yang hanya hanya 1,5% (5 dari 342) (P<0,01). Pemangkasan memberikan komplikasi mayor pasca operasi lebih kecil dibandingkan dengan reseksi segmental (24 vs 6.7%, P= 0,004). Kesimpulan Operasi untuk endometriosis invasi yang mendalam layak dilakukan, tetapi dapat terjadi komplikasi mayor, terutama bila jenis operasi yang dilakukan adalah rectal. Kata kunci Endometriosis endometriosis, laparoskopi. usus, endometriosis invasi panggul yang mendalam,

Pendahuluan Endometriosis infiltrasi dalam didefinisikan sebagai endometriosis yang menembus lebih dari 5 mm di bawah permukaan peritoneum, dan sangat terkait dengan beratnya nyeri panggul kronis, dispareunia, dan dismenore. Pada situasi ini, implan endometriosis dapat melibatkan ligamentum sakrouterina, kavum Douglas (retrocervical endometriosis), septum rektovaginal, dan bahkan rektum.

Metode Antara Januari 1987 dan Desember 2007. Grenoble. dan data yang dikumpulkan termasuk usia. operasi rektal dengan atau tanpa reseksi usus segmental mungkin diperlukan. dan pemeriksaan fisik. . Sebuah kateter kandung kemih ditempatkan untuk mengosongkan kandung kemih dan untuk mengontrol urin output.4%. dan kemudian tahap kedua adalah operasi untuk membuang semua lesi. Pemeriksaan preoperatif Diagnosis awalnya disimpulkan dari riwayat klinis dan pemeriksaan fisik. Pasien dengan nodul rektovaginal kecil yang dirasakan saat pemeriksaan dalam vagina tidak rutin menjalani MRI danTRUS. jika diperlukan detail anatomi tambahan. karena alasan ekonomi. Pemeriksaan pencitraan preoperatif termasuk ultrasonografi transvaginal. pada 29 April 2010 (IRB nomor 5044). Penelitian ini disetujui oleh Komite Etik Inter-regional Clinical Investigation RhneAlpes Auvergne Centre. Angka kejadian komplikasi setelah operasi laparoskopi untuk endometriosis invasi mendalam diperkirakan 3. Untuk memastikan pembuangan total dari penyakit. pasien diposisikan secara dorsal decubitus. Hal ini diikuti oleh pemberian analog GnRH atau progesterone untuk 3 bulan. Prancis) ditinjau secara retrospektif. dan untuk mendapatkan hasil terbaik dalam hal kualitas hidup. semua pasien yang menjalani operasi endometriosis yang mendalam di CHU Estaing (Clermont-Ferrand. Pasien dengan penyebaran penyakit tak terduga yang ditemukan intraoperatif akan menjalani prosedur dua tahap. pencitraan resonansi magnetic panggul (MRI) dan/ atau USG transrectal (TRUS). namun pembedahan biasanya diperlukan pada pasien tersebut untuk menyelesaikan pengobatan. Kriteria inklusi terdiri dari pasien dengan endometriosis yang mendalam dikonfirmasi oleh hasil pemeriksaan patologi. Fistula usus dan saluran kencing pasca operasi memiliki dampak merugikan pada kualitas hidup pasien. Tujuan artikel ini adalah untuk mengevaluasi komplikasi setelah operasi endometriosis sangat menginfiltrasi panggul. Status pasien dan data rumah sakit ditinjau. Tahap pertama adalah biopsy untuk mengkonfirmasi diagnosis endometriosis. dan merupakan komplikasi yang paling mengkhawatirkan dari operasi endometriosis yang mendalam. Sebuah informed consent diambil dari pasien sebelum operasi dilakukan. Perancis. Secara keseluruhan. meningkat menjadi 10-22% saat reseksi kolorektal diperlukan. yang dikorelasikan dengan prosedur bedah yang berbeda. terutama bagi mereka dengan keluhan nyeri yang berat. Prosedur Operasi Dibawah anestesi umum. dengan lengan di samping tubuh mereka. bukti menunjukkan bahwa eksisi endometriosis yang menyeluruh menawarkan hilangnya keluhan dalam waktu yang lama. Sebuah kuret (atau manipulator uterus dari Valtchev) ditempatkan melalui leher rahim untuk memanipulasi rahim.Meskipun efek dari perawatan medis dalam hal nyeri dapat menjadi substansial. riwayat medis/ operasi sebelumnya.

dan kemudian rektum dipisahkan dari vagina. Tekanan intraabdomen dipertahankan antara 8 dan 12 mmHg. Bila teraba nodul saat pemeriksaan dalam vagina. Dalam kasus kebocoran setelah reseksi usus. sekitar 8-10 cm dari trocar umbilikal. lamanya rawatan di rumah sakit. Pengumpulan data dan analisis statistik Hal-hal yang ditinjau adalah temuan intraoperatif. maka dapat dilakukan eksisi full-thickness dinding vagina. jahitan tambahan dibuat melalui garis stapler dan dilakukan defunctioning stoma (ileostomy pelindung). Lesi kemudian dipisahkan dari rektum dengan mengikis. Komplikasi dibandingkan berdasarkan prosedur dilakukan dengan menggunakan . Semua spesimen bedah dikirim untuk analisa patologi. membuang kista ovarium (endometrioma). tingkat I dan II dianggap sebagai komplikasi minor. sedangkan III dan IV dianggap sebagai komplikasi mayor. Pada akhir semua prosedur yang membutuhkan pembedahan rektum.Peumoperitoneum dikembangkan melalui jarum Verres yang ditempatkan di umbilicus atau di hipokondrium kiri (Palmer’s point). atau menginvasi ke ligamentum sakrouterina. dan reseksi/ koagulasi dari semua implant peritoneal yang terlihat dangkal. dapat dilakukan reseksi usus segmental atau eksisi lesi dan kemudian dilakukan penjahitan usus. satu trocar midline 5 mm antara umbilicus dan symphisis pubis. atau di ligamentum uterosakral. Dalam kasus nodul rektovaginal. Komplikasi pasca operasi dibedakan berdasarkan klasifikasi yang diusulkan oleh Dindo dkk. dan membungkus ureter dan arteri uterina. untuk laparoskop nol derajat. dan follow-up terakhir. Empat trocar di tempatkan di posisi: satu trocar 10mm di umbilikus. Bila perlu. Operasi dimulai dengan mengidentifikasi kedua ureter untuk memastikan bahwa tidak ada keterlibatan ureter. termasuk melepaskan tubafalopi. satu trocar 5mm di sebelah kanan tulang iliaka anterior superior. jenis prosedur operasi. Dalam kasus ringan ligamen uterosakral dieksisi. Rongga perut dan panggul diperiksa untuk lesi endometriosis. dan septum rektovaginal. atau dengan ureterolysis jika ada keterlibatan yang luas dari jaringan periureteral. Luaran primer ditentukan dari komplikasi intra dan pasca operasi. adhesyolisis ekstensif dapat dilakukan. dan satu trocar 5mm pada sebelah kiri spina iliaka anterior superior. komplikasi pasca operasi. rektum. diseksi pararectal bilateral dilakukan sampai batas inferior terabanya nodul vagina atau rektum. pemeriksaan integritas dinding rektum harus dilakukan. Luasnya eksisi tergantung dari derajat penyakit. maka harus dilakukan baik penjahitan rektum atau reseksi usus segmental. Rongga peritoneum diisi dengan larutan laktat dan kemudian dimasukan udara sebanyak 120 ml melalui rektum untuk mengkonfirmasi adanya cedera dinding usus ('Michelin' test). Dalam kasus adanya kebocoran setelah pembuangan lesi. komplikasi intraoperatif. Terkadang penyakit itu begitu luas. atau dalam kasus endometriosis yang menginvasi jauh ke dalam dinding rektum. dan pemeriksaan vagina dilakukan di bawah kontrol laparoskopi untuk mengkonfirmasi adanya nodul infiltratif dalam septum rektovaginal. Defek vagina dapat dijahit dengan laparoskopi atau dengan pervaginam. Dalam kasus yang lebih parah septum rektovaginal juga dieksisi. Data deskriptif digambarkan sebagai mean SD ± atau jumlah (persentase).

dibandingkan dengan 5.6 ± 1 (mulai dari 0 sampai 7). dengan P<0. klasifikasi AFSr sebelumnya tidak diketahui.7%). 4.05%). Estimasi mean diameter nodul yang dirasakan saat pemeriksaan dalam vagina adalah 1. termasuk enam minor (1. endometriosis tercatat sebagai stadium I dari delapan pasien (1.5%) menerima pengobatan medis.01) dan 0% prosedur pemangkasan (P<0.1%): sembilan (1.2%). 1. Data intraoperatif Operasi laparoskopi dilakukan pada 560 pasien (98.1%). Pada operasi sebelumnya. Komplikasi intraoperatif terjadi pada 12 pasien (2.7%).4%) menjalani laparotomi primer.8%). Rata-rata usia dan paritas adalah 32.9 tahun (berkisar dari 20 sampai 50 tahun) dan 0. Delapan orang sisanya (1.8±1.1%). menurut klasifikasi Revised American Fertility Society (AFSr). danazol (Sembilan pasien. .1%).7%). Hasil Selama masa penelitian ini.05 yang dianggap signifikan secara statistik. stadium II pada 19 pasien (3. Komplikasi minor intraoperatif • Perdarahan dikelola secara laparoskopi (n=1) • Perforasi vagina/ uterus selama penempatan manipulator uterus (n=4).6%). Tes Michelin mengidentifikasi satu kebocoran setelah reseksi segmental.8%). atau kombinasi dari dua terapi (sepuluh pasien. 18.9% (satu dari 17 pasien) yang menjalani eksisi lesi usus dan penjahitan (P=0. dan yang diiringi dengan pengobatan endometrioma ovarium dilakukan pada 169 pasien (29. dan pasien tersebut menerima ileostomy pelindung.6%).5 sampai 7 cm).7 menit (mulai dari 20-600 menit). Tabel 1 menunjukkan semua data operasi sesuai dengan prosedur yang dilakukan. Pada 72 pasien yang tersisa (12. Tidak ada kebocoran teridentifikasi setelah pemangkasan rektum. gabungan kontrasepsi oral (25 pasien. 1. Reseksi segmental yang akhirnya memerlukan konversi sebanyak 36. Infertilitas ditemukan pada 228 pasien (40. total 568 pasien menjalani operasi untuk endometriosis dengan invasi yang mendalam di pusat pelayanan kami. bila diperlukan. dan tahap IV pada 114 pasien (20.6%). Adhesiolysis dilakukan pada 356 pasien (62.05%) dan enam mayor (1.6%) tidak menerima pengobatan apapun.4%). dan 37 (6. Mean durasi operasi adalah 155±88. progesteron (84 pasien. 14.3%).Tingkat konversi meningkat sesuai dengan kompleksitas dari operasi usus.Student’s t-test dan uji eksak Fisher. 216 (38%) telah menjalani setidaknya satu prosedur pembedahan.1%) dan sekunder 51 (9%).4 ± 5. primer sebanyak 177 (31. • Laserasi tuba(n=1).4%).01).1 cm (berkisar dari 0. menggunakan analog GnRH (106 pasien.6%).3% (13 dari 560 pasien yang menjalani laparoskopi primer). dan tingkat konversi secara keseluruhan adalah 2. Riwayat endometriosis sebelumnya ditemukan pada 262 pasien (46. Perawatan medis preoperatif dilakukan pada 234 pasien (41.4% kasus (delapan dari 22 pasien). tahap III pada 49 pasien (8.

stadium II 143 kasus (25.01). Klasifikasi AFSr pada saat operasi adalah: stadium I 93 kasus (16. • Eritema kutan (n=1).8% untuk eksisi ligamentum uterosakral.6%). • Lesi usus kecil (n=2): kedua lesi tersebut diperbaiki dengan laparoskopi.2%). Angka kejadian komplikasi mayor intraoperatif adalah 0. • Lesi ureter (n=2): satu lesi diperbaiki dengan laparoskopi menggunakan jahitan dan penempatan kateter double-J. Komplikasi pasca operasi terjadi pada 79 pasien (13.5%) dan 26 mayor (4. • Retensi urin (n=3). • Abses panggul yang diobati dengan antibiotik intravena (n=2). • Hematoma di tempat operasi yang tidak membutuhkan drainase bedah(n=1).23). termasuk 54 komplikasi minor (9. dan yang lainnya dikelola dengan laparoskopi reimplantasi saluran kemih. 0.7 jam (berkisar 2-224 jam). 0% untuk eksisi nodul vesicovaginal.04). dan mean lamanya waktu ileus paralitik adalah 28. • Perdarahan yang tidak memerlukan reintervensi (n=1).5% untuk eksisi nodul rektovaginal terkait dengan pemangkasan rektum.4%).6 ± 14. dan 8% untuk eksisi nodul rektovaginal terkait dengan reseksi dan anastomosis usus. • Nyeri abdomen pasca operasi (n=13). Komplikasi minor pasca operasi • Demam non-patologis (n=14). Data pasca operasi terinci pada tabel 2 sesuai prosedur yang dilakukan. • Neuralgia pudenda (n = 2). Tidak ada perbedaan bila dibandingkan dengan eksisi dan penjahitan (P=0.9%). dan stadium IV 243 kasus (42.Komplikasi mayor intraoperatif • Pendarahan yang membutuhkan konversi untuk operasi terbuka (n=2). . Angka kejadian komplikasi mayor intraoperatif dari reseksi usus secara statistik lebih buruk dari eksisi ligamentum uterosakral (P<0. Data pasca operasi Mean lamanya rawatan di rumah sakit adalah 3. stadium III 89 kasus (15. 1% untuk eksisi nodul rektovaginal.8%).2 ± 3.2 hari (berkisar 1-25 hari). • Hematoma kavum Douglas dengan reabsorpsi spontan (n=2). 0% untuk eksisi nodul rektovaginal terkait dengan eksisi dan jahitan dari dinding rektum.1 (mulai dari 2 sampai 138).6%) (satu pasien mengalami komplikasi pasca operasi baik minor maupun mayor). eksisi septum rektovaginal (P=0. Mean skor AFSr adalah 37±33. • Kesulitan berkemih (n=5). • Infeksi saluran kemih (n=8). dan pemangkasan (P<0.01).

Secara keseluruhan angka kejadian komplikasi mayor pasca operasi untuk pasien yang menjalani setiap jenis pembedahan rectal (memangkas. dan pasca operasi terjadi stenosis ileostomy. dibandingkan dengan hanya 1. satu pasien dioperasi ulang pada hari pertama pasca operasi dengan laparoskopi. dan pada hari ke-24 pasca operasi menjalani perbaikan dengan laparoskopi dan sukses.3% (21 dari 226). . atau reseksi segmental) adalah 9. • Nekrosis puncak vagina (n=1): pasien menjalani laparoskopi untuk membersihkan rongga panggul. Transit usus dilakukan 6 bulan setelah operasi.5% untuk pasien yang lain (lima dari 342) (P<0.01). dan menempatkan drain. dan antara eksisi dan penjahitan dan pemangkasan (17.6 vs 6. dan menempatkan drain.6%).5%) menjalani pembukaan dinding vagina secara bersamaan. • Stenosis dari ileostomy pelindung (n=1): pasien menjalani anastomosis kolorektal dengan ileostomy pelindung. • Abses panggul (n=3): pasien menjalani prosedur laparoskopi kedua untuk membersihkan rongga abdominopelvic.62). setelah pemangkasan pada tiga pasien (1. Komplikasi mayor pasca operasi • Fistula rektovaginal (n=8): komplikasi ini terjadi setelah eksisi nodul rektum dan penjahitan pada tiga pasien (17.6%. Kemudian dia mengalami fistula pada hari ke-8 pasca operasi dan sembuh tanpa membutuhkan prosedur intervensi lebih lanjut. Tidak ada perbedaan pada komplikasi mayor pasca operasi antara reseksi segmental dan eksisi lesi usus dan penjahitan (24 vs 17. • Fistula rektovaginal (n=1): kasus fistula rektovaginal ini dimasukkan dalam kelompok komplikasi pasca operasi minor karena pasien diberikan ileostomy pelindung selama prosedur reseksi usus. Semua kecuali satu pasien (87. dan setelah reseksi kolorektal dan anastomosis pada dua pasien (8%). usaha untuk dilatasi dilakukan di bawah anestesi umum. Pasien tersebut juga menjalani reseksi forniks vagina posterior secara bersamaan. • Hematom kavum Douglas (n=1): pasien ini dioperasi ulang pervaginam pada hari ke-7 pasca operasi untuk drainase. • Stenosis ureter (n = 2): pasien tersebut menjalani laparoskopi reimplantasi ureter. yang ditinggalkan ditempat selama setidaknya 60 hari. Kesinambungan dari usus dikembalikan setidaknya 4 bulan setelah kolostomi tersebut • Fistula ureter (n=6): pasien ditangani dengan penempatan kateter double-J. eksisi. untuk mengeksisi daerah nekrosis. • Fistula vesicovaginal (n=1): komplikasi didiagnosis pada hari ke-12 pasca operasi. Semua pasien dioperasi ulang dan dilakukan kolostomi sementara. • Perdarahan yang membutuhkan intervensi (n=3): satu pasien dioperasi ulang pada hari pertama pasca operasi secara pervaginam karena adanya perdarahan yang berasal dari jahitan di vagina. dibantu dengan sitoskopi. dan penjahitan.• Flebitis (n=1). dan satu pasien dioperasi ulang pada hari ke-11 pasca operasi karena perdarahan berasal dari kerusakan jahitan vagina. P=0.7%.6%).

dan reseksi usus segmental sebanyak 4.Komplikasi mayor intraoperatif terjadi pada 1. yang menjelaskan penyembuhan yang lambat dan terjadinya luka operasi yang terbuka kembali pada bulan pertama pasca operasi. eksisi nodul vesicovaginal sebanyak 1.004). lesi saluran kemih. karena jarak minimum antara epitel mukosa vagina dan kelenjar endometriotik adalah <5 µm pada 98. namun keluhan akan muncul kembali dengan tingkat yang sama dengan awal sebelum pengobatan jika pengobatan berhenti. Endometriosis infiltrasi yang mendalam terdiagnosa pada 20% dari pasien dengan endometriosis.2%. Forniks posterior vagina dipotong pada 270 pasien (47. dengan sekuele terkait).1 dan 13. Reseksi lesi tidak menyeluruh akan meningkatan risiko kekambuhan dan umumnya tidak akan tercapai manfaat hilangnya nyeri jangka panjang.4% pasien. endometriosis usus ditemukan pada 5-12% pasien dengan penyakit ini. Dibandingkan dengan reseksi segmental.4% kasus. Hanya dua kasus pendarahan yang memerlukan konversi ke laparotomi: komplikasi intraoperatif lainnya berhasil dikelola dengan laparoskopi. komplikasi pasca operasi pemangkasan lebih sedikit (24 vs 6. sedangkan intervensi radikal mendatangkan risiko komplikasi mayor (cedera ureter dan rektum.3 ± 1. Pengobatan dapat memberikan perbaikan yang bersifat sementara terhadap gejala nyeri.9%. eksisi lesi rektum dan penjahitan sebanyak 3%.2%. Operasi dapat diindikasikan bagi pasien dengan gejala dan hilangnya rasa sakit akan tergantung pada apakah eksisi mengangkat seluruh lesi endometriotik yang mendalam. yang mungkin melibatkan forniks posterior vagina dan lapisan otot rektum. Gejala nyeri yang disebabkan oleh endometriosis yang mendalam merupakan karakteristik yang khas.10). dan termasuk perdarahan. memangkas rektum sebanyak 32. P=0. Pada pasien . Eksisi forniks posterior vagina diperlukan untuk melengkapi pengobatan nodul endometriotik rektovaginal dengan diameter yang lebih dari 2cm. Perdarahan intraoperatif yang signifikan dapat terjadi pada pasien dengan endometriosis yang mendalam yang meluas ke posterior dan lateral.P=0. Angka kejadian keseluruhan komplikasi intra dan pasca operasi dalam penelitian ini adalah 2.5-9 cm). Operasi untuk lesi yang mendalam di posterior menyiratkan pembuangan jaringan fibrosis dari kantong Douglas. dan lesi usus kecil. dan terkait dengan keterlibatan lokasi anatomi yang spesifik (dispareunia berat dan buang air besar nyeri selama haid) atau organ tertentu (gangguan fungsional dari saluran kemih dan usus) dengan implan. Pemeriksaan Patologis Diameter rata-rata nodul pada pemeriksaan patologi adalah 2. Sering kali dibutuhkan eksisi vagina yang luas.7%. Ahli bedah tidak boleh meremehkan langkah prosedur ini karena ini bukan eksisi vagina sederhana.2%. Selain itu. difokuskan pada komplikasinya.5%). Prosedur yang dilakukan pada 568 pasien ini di antaranya termasuk reseksi ligamentum sakrouterina sebanyak 41.05% pasien. Diskusi Pada penelitian retrospektif ini dievaluasi sebanyak 568 pasien yang menjalani operasi untuk pengobatan endometriosis yang sangat infiltratif ke dalam panggul.3 cm (berkisar 0. eksisi nodul rektovaginal sebanyak 18%.

dan pemangkasan. dan konversi lebih sering terjadi jika dilakukan reseksi kolorektal dan anastomosis (36. dan pembedahan dilakukan secara laparotomi pada 48% dan laparoskopi pada 52%.5%). 71 pasien dengan. eksisi dari nodul dan penjahitan. terkait dengan pemangkasan rektum. eksisi diskus.6% setelah laparoskopi reseksi segmental kolorektal.mengevaluasi catatan medis dari 187 pasien yang dilaparoskopi untuk endometriosis usus. Mohr dkk.3% (24 dari 26) dari pasien kelompok berikutnya.9%) menjalani pembukaan vagina secara bersamaan (reseksi forniks posterior vagina). terdiri dari enam fistula saluran pencernaan (12. setelah eksisi dari nodul rektum dan penjahitan pada tiga pasien (17. tetapi sembuh spontan. dan pemangkasan.6% (sembilan pasien) dan 1. juga melaporkan komplikasi mayor 22.5% dari pasien mereka. Dalam serial penelitian yang dilaporkan oleh Darai dkk. dan 6% untuk reseksi segmental. Pada tahun 2005. Semua kecuali satu pasien memerlukan intervensi ulang dan kolostomi sementara. satu fistula ureterovaginal (2%). Komplikasi mayor pasca operasi terjadi pada 4. dan reseksi kolorektal adalah langkah kedua.endometriosis usus menjalani laparoskopi reseksi kolorektal segmental.002) dan reseksi ileocaecal tambahan (P=0.007). estimasi volume kehilangan darah. Darai dkk. Benbara dkk. Dalam tim multidisiplin kami. Risiko fistula rektovaginal pasca operasi meningkat ketika kedua rektum dan vagina dibuka selama prosedur. Komplikasi ini dapat diminimalkan dengan menggunakan duatahap pendekatan dimana nodul vagina direseksi pada langkah pertama. dianjurkan untuk melakukan kontrol vascular proksimal arteri iliaka komunis dan cabang-cabangnya sebelum mengakses lesi endometriotik. fistula rektovaginal dan ureter pasca operasi terjadi pada 1. dan tujuh dari mereka (10%) memerlukan konversi menjadi operasi terbuka. dan mereka memutuskan kapan konversi diperlukan untuk langkah prosedur ini.3 (13 dari 560 pasien). 17. reseksi usus dilakukan oleh ahli bedah kolorektal.1% (enam pasien). diamati sebanyak 24. tiga striktura anastomosis (6%). Pengalaman belajar tidak diragukan lagi memainkan peran penting pada angka kejadian laparokonversi. Satu-satunya pasien yang tidak membutuhkan intervensi ulang memiliki ileostomy pelindung selama prosedur reseksi usus.mengevaluasi 41 amputasi kolorektal dan sembilan reseksi kolorektal parsial sebagai akibat endometriosis yang mendalam. 23. dalam rangka untuk mengendalikan perdarahan dengan cepat dari perdarahan yang tak terduga selama diseksi.6%). Laparokonversi diperlukan pada 92. dan satu striktur ureter (2%). Angka kejadian konversi secara keseluruhan adalah 2. dan setelah pemangkasan pada tiga pasien (1. Pasien yang kandidat untuk reseksi kolorektal dan pembukaan vagina pada prosedur yang sama dapat mengambil manfaat dari ileostomy atau colostomy sementara.7% pasien yang menjalani reseksi segmental. Faktor risiko yang berhubungan dengan fistula saluran pencernaan adalah asosiasi dari pembukaan vagina (P=0. Dia mengalami fistula rektovaginal.6% dari pasien kami.4%). Fistula rektovaginal setelah reseksi kolorektal dan anastomosis terjadi pada tiga pasien (12%).melaporkan kejadian komplikasi mayor 12.6%). didapat kejadian komplikasi 38. 6. Pada penelitian kami.dengan penyakit yang ekstensi ke lateral. delapan dari sembilan pasien ini (88.3% (21 dari 226 pasien): berdasarkan jenis prosedur. termasuk enam fistula rektovaginal dan tiga abses panggul. Tingkat keseluruhan komplikasi mayor untuk pasien yang menjalani operasi rektum adalah 9. dan 6. dan eradikasi . Benbara dkk. dan untuk meminimalkan kebutuhan untuk transfusi ketika pendarahan terjadi. dengan perbedaan statistic antara reseksi segmental dan pemangkasan. durasi operasi.

. komplikasi masih terjadi selama operasi laparoskopi untuk endometriosis invasi mendalam. terutama ketika semua jenis operasi rektum harus dilakukan. meskipun hal ini dikaitkan dengan komplikasi mayor. Meskipun pengalaman belajar untuk endometriosis rektovaginal tampaknya dapat dicapai setelah 30 kasus. bahkan di pusat-pusat yang berpengalaman. seperti yang ditunjukkan di penelitian ini. Temuan kami mendukung kelayakan operasi untuk endometriosis mendalam.bedah terhadap lesi. Dalam rangka untuk mencapai angka kejadian komplikasi yang rendah maka pasien-pasien seperti ini harus ditangani oleh tim multidisiplin khusus.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.