P. 1
Hermeneutika Hukum Sebagai Metode Penemuan Hukum

Hermeneutika Hukum Sebagai Metode Penemuan Hukum

5.0

|Views: 163|Likes:
Published by Jajang Cardidi

More info:

Published by: Jajang Cardidi on Apr 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/24/2012

pdf

text

original

www.badilag.

net

[HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM]

HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM: TELAAH FILSAFAT HUKUM Oleh: Ahmad Zaenal Fanani, SHI., M.Si (Hakim PA Martapura, email: az_fanani@yahoo.com)

1. Pendahuluan Manusia mempuyai kecenderungan dan kebutuhan akan kepastian dan keadilan. Sebab, hanya dalam kepastian berkeadilan manusia mampu untuk mengaktualisasikan segala potensi kemanusiannya secara wajar dan baik. Salah satu fungsi dari hukum ialah sebagai alat untuk menciptakan kepastian dan keadilan tersebut. Upaya yang semestinya dilakukan guna menciptakan kepastian dan keadilan ialah hukum harus dilaksanakan secara layak. Pelaksanaan hukum dapat berlangsung secara damai, normal tetapi dapat terjadi pula karena pelanggaran hukum. Dalam hal ini hukum yang telah dilanggar tersebut haruslah ditegakkan, dan diharapkan dalam penegakan hukum inilah hukum tersebut menjadikan kenyataan sehingga ketertiban berkeadilan terwujud. Dalam hal penegakan hukum tersebut, setiap orang selalu mengharapkan dapat ditetapkannya hukum dalam hal terjadinya peristiwa kongkrit, dengan kata lain bahwa peristiwa tersebut tidak boleh menyimpang dan harus ditetapkan sesuai dengan hukum yang ada (berlaku), yang pada akhirnya nanti kepastian hukum dapat diwujudkan. Namun perlu diingat bahwa dalam penegakan hukum ada tiga unsur yang selalu harus diperhatikan guna mewujudkan hakikat dari fungsi dan tujuan itu sendiri, yaitu: kepastian hukum (rechtssicherheit), kemanfaatan (zweckmassigkeit) dan keadilan (gerechtgkeit). Tanpa kepastian hukum orang tidak mengetahui apa yang harus diperbuat yang pada akhirnya akan menimbulkan keresahan. Akan tetapi terlalu menitikberatkan pada kepastian hukum, terlalu ketat mentaati peraturan hukum akibatnya juga akan kaku serta tidak menutup kemungkinan akan dapat menimbulkan rasa ketidakadilan. Apapun yang terjadi peraturannya adalah demikian dan harus ditaati dan dilaksanakan.

1

Sedang kita sadar bahwa undang-undang itu tidaklah sempurna. maka dalam hal ini penegak hukum (hakim) haruslah mencari. Hal ini merupakan proses kongkretisasi dan individualisasi peraturan hukum yang bersifat umum dengan mengingat peristiwa kongkrit.www. undang-undang tidaklah mungkin dapat mengatur segala kegiatan kehidupan manusia secara tuntas. terutama bagi para praktisi. namun dalam tulisan ini tidak akan membahas secara mendalam tentang aliran-aliran (mazhab) dalam penemuan hukum. Ada kalanya undang-undang itu tidak lengkap atau ada kalanya undang-undang tersebut tidak jelas. Penemuan hukum lazimnya diartikan sebagai proses pembentukan hukum oleh hakim atau petugas-petugas hukum lainnya yang diberi tugas melaksanakan hukum terhadap peristiwa hukum yang kongkrit. Hakim dilarang menolak menjatuhkan putusan dengan dalih tidak sempurnanya undang-undang. penegak hukum (hakim) harus melaksanakan atau menegakkan undang-undang. Dalam penemuan hukum terdapat beberapa aliran serta metodemetode penemuan hukum. 2 . Olehnya. Dengan menggunakan hermeneutika hukum sebagai metode penemuan hukum. diharapkan hakim dan praktisi hukum yang lain bisa lebih menciptakan kepastian dan keadilan hukum secara seimbang. menggali dan mengkaji hukumnya. masyarakat umumnya hanya melihat kepada peraturan hukum dalam arti kaidah atau peraturan perundang-undangan. melainkan hanya ingin mengkaji hermeneutika hukum dalam perspektif filsafat hukum sebagai metode penemuan hukum baru dengan metode interpretasi teks hukum. Hakim tidak dapat dan tidak boleh menangguhkan atau menolak menjatuhkan putusan dengan alasan karena hukumnya tidak lengkap atau tidak jelas.badilag.net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] Dan kadang undang-undang itu sering terasa kejam apabila dilaksanakan secara ketat (lex dura sed tamen scripta). hakim harus menemukan hukumnya dengan jalan melakukan penemuan hukum (rechtsvinding). Berbicara tentang hukum pada umumnya. karena undang-undang yang mengatur akan peristiwa kongkrit tidak lengkap ataupun tidak jelas. Dalam hal terjadinya pelanggaran undang-undang.

1 Pada mitologi Yunani kuno.2 Jadi disni dapat disimpulkan bahwa hermeneutika adalah ilmu dan seni menginterpretasikan (the art of interpretation) suatu teks/kitab suci. halm. Sesuatu yang dimaksud disini dapat berupa teks.badilag. naskah-naskah kuno. UII Press: 2005. yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata. Secara teologis peran Hermes tersebut dapat dinisbahkan sebagaimana peran Nabi. Hermeneutika Hukum. peristiwa. knowledge and The Secred. kata hermeneutika merupakan derivasi dari kata Hermes. kata benda “hermenia’ yang berarti: penafsiran atau interpretasi. Pengertian dari mitologi ni kerapkali dapat menjelaskan pengertian hermeneutika teks-teks kitab suci. Pengertian Hermeneutika Hukum Untuk memahami apa yang dimaksud dengan hermeneutika. Menurut versi mitos lain. Sedangkan dalam perspektif filosofis. New York. Hermes adalah seorang utusan yang memiliki tugas menafsirkan kehendak dewata dengan bantuan kata-kata manusia. 20. Sayyed Hossein Nasr. (3) menerjemahkan. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dengan bentuk kata kerja inggris “to interpret”. seperti menjelaskan sebuah situasi. Dari kata kerja hermeneuein dapat ditarik tiga bentuk makna dasar dalam pengertian aslinya. 1989. State university press. bahkan Sayyed Hossein Nashr menyatakan bahwa Hermes tersebut tidak lain adalah Nabi Idris a. Secara etimologis kata “hermeneutika” itu berasal dari bahasa Yunani kata kerja “Hermeneuein” yang berarti: menafsirkan atau menginterpretasi. perlu menengok kronologi asal-usul kata hermeneutika.net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] 2. yaitu seorang dewa yang bertugas menyampaikan dan menjelaskan pesan (message) dari Sang Dewa kepada manusia. (2) menjelaskan. pemikiran dan kitab suci. Yogyakarta. yang kesemua hal ini adalah merupakan objek penafsiran hermeneutika. misalnya “to say”. hermeneutika merupakan aliran filsafat yang mempelajari hakikat hal mengerti atau memahami sesuatu.s. hal. seperti didalam transliterasi bahasa asing.www. supaya tidak terjadi distorsi pemaknaan sejarah hermeneutika. 71. Jazim Hamidi. yaitu menafsirkan kehendak tuhan sebagaimana terkandung di dalam ayat-ayat kitab suci. 2 1 3 . namun masing-masing dari ketiga makna tersebut membentuk sebuah makna yang independen dan signifikan bagi interpretasi.

prasangka (Vorurteil). ibid. dimana ahli hukum dan teologi bertemu dengan para ahli humaniora. Dalam buku tersebut.www. tradisi (ueberliefrung). dimana Gregory mengutip pendapat Gadamer yang menyatakan bahwa hermeneutika hukum bukanlah merupakan suatu kasus yang khusus. Akhirnya. 3 4 . hal. mula pertama hermeneutika itu dikembangkan adalah sebagai metode atau seni untuk menafsirkan teks. pemahaman (verstehen). sejarah pengaruh (wirkungsgeschichte). Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum.4 Kemudian dalam karya Heidegger dan karya Gadamer. hal.6 Sedangkan Jazim Hamidi menjelaskan bahwa untuk mengetahui definisi hermeneutika hukum itu seperti apa. hal. Arief Sidharta3. Pengantar Filsafat Hermeneutika. hal 42. kesadaran sejarah pengaruh (effective historical conciousness). Kemudian lewat karya Scleiermacher dan Wilhelm Dilthey mengembangkan dan menggunakan hermeneutika sebagai metode untuk ilmu-ilmu manusia. Dari sini dapat ditarik definisi hermeneutika hukum adalah ajaran filsafat mengenai hal mengerti /memahami sesuatu. terjemah oleh Ahmad Sahidah. tetapi ia hanya merekonstruksikan kembali dari seluruh problema hermeneutika dan kemudian membentuk kembali kesatuan hermeneutika secara utuh.net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] Menurut B. sebagaimana yang didefinisikan oleh Gregory Leyh dalam buku “Legal Hermeneutics: History. ibid. kita dapat kembali kepada definisi hermeneutika secara umum diatas. khususnya ilmu sejarah. Pustaka Pelajar. lingkaran hermeneutika (hermeneutische zirkel). Arief Sidharta. Arief Sidharta. Bandung: 1999. Gadamer menyisishkan paragraph khusus dengan judul “the exemplary significance of legal hermeneutics” yang intinya berbicara mengenai signifikansi hermeneutika hukum.badilag. Kebenaran dan Metode. Yogyakarta: 1965. 6 Jazim Hamidi. Truth and Method. 289. 95-96. Mandar Maju. 94-103. 4 Lihat dalam Hans Georg Gadamer. dan perpaduan cakrawala (fusion of horizons). Theory and Practice”. pengalaman (erfahrung). 5 B. hermeneutika sebagai metode dikembangkan menjadi filsafat hermeneutika yang berintikan konsep-konsep kunci berikut: pendidikan (bildung). lewat karya Hegel dan karya Heidegger.5 Adapun yang dimaksud dengan hermeneutika hukum. atau sebuah metode interpretasi terhadap teks B. Gadamer mengembangkan hermeneutika sebagai landasan kefilsafatan ilmu-ilmu manusia dalam bukunya “Truth and Method”.

Hermeneutika Hukum Sebagai Metode Penemuan Hukum dengan Interpretasi Teks Hukum Kajian hermeneutika hukum mempuyai dua makna sekaligus: pertama.badilag. tujuan hermeneutika hukum adalah untuk menempatkan perdebatan kontemporer tentang interpretasi hukum didalam kerangka hermeneutika pada umumnya. peristiwa hukum. fakta hukum. naskah kuno atau kitab suci.10 3. dan kontekstualisasi. sebagaimana dijelaskan oleh Gadamer. masa lalu dan masa sekarang. 5 . dokumen resmi negara.8 Secara filosofis. Tetapi sebaliknya hermeneutika hukum menganjurkan agar para pengkaji hukum menggali dan meneliti makna-makna hukum dari perspektif para pengguna dan atau para pencari keadilan. 46. Ibid. yang memungkinkan untuk memahami kejadian yang pertama kali (genuine) 9 Urgensi kajian hermeneutika hukum. Dimana interpretasi yang benar terhadap teks hukum itu harus selalu berhubungan dengan isi (kaidah hukumnya). hal 45.net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] dimana metode dan teknik menafsirkannya dilakukan secara holistik dalam bingkai keterkaitan antara teks. Kajian hermeneutika hukum juga telah membuka kepada para pengkaji hukum untuk tidak hanya berkutat pada pradigma positivisme dan metode logis formal saja. tetapi juga dari kajian-kajian hukum kaum strukturalis atau behaviorial yang terlalu empirik sifatnya. dimaksudkan tidak hanya akan membebaskan kajian-kajian hukum dari otoritarianisme para yuris positif yang elitis.7 Adapun fungsi dan tujuan dari hermeneutika hukum menurut James Robinson adalah untuk memperjelas sesuatu yang tidak jelas supaya lebih jelas. konteks. Teks tersebut bisa berupa teks hukum. 10 Ibid hal 48. baik yang tersurat maupun yang tersirat. Sedangkan menurut Greogry. hermeneutika hukum mempuyai tugas ontologis yaitu menggambarkan hubungan yang tidak dapat dihindari antara teks dan pembaca. atau antara bunyi 7 8 ibid. hermeneutika hukum dapat dipahami sebagai metode interpretasi atas teks-teks hukum.www. 9 Ibid hal.

badilag. dalam filsafat hermeneutika khususnya pada peristiwa memahami atau menginterpretasi sesuatu. kaidah-kaidah. Jadi. Hermeneutika sebagai metode penemuan hukum melalui interpretasi teks hukum selalu menjadi diskursus utama dalam setiap kajian hermeneutika hukum. pola-pola perilaku dan sebagainya. Hal ini ditunjukkan dalam kerangka lingkaran spiral hermeneutika. selalu menemukan dirinya sudah berada dalam suatu tradisi yang sudah ada 6 . yaitu proses timbal balik antara kaidahkaidah dan fakta-fakta. Menurut Gadamer ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh seorang penafsir yaitu: memenuhi subtilitas intelegendi (ketepatan pemahaman). Kedua. Arief Sidharta. Sebab setiap orang terlahir kedalam suatu dunia produk sejarah yang selalu menjalani proses menyejarah terus menerus. Karena dalil hermeneutika menjelaskan bahwa orang harus mengkualifikasi fakta-fakta dalam bingkai kaidah-kaidah dan menginterpretasi kaidah-kaidah dalam bingkai fakta-fakta. Maka tidak berlebihan jika para pakar hukum.www. termasuk peristiwa mengerti dan/atau interpretasi. tiap subyek. Menurut B. wawasan-wawasan. hermeneutika hukum juga mempuyai pengaruh besar dengan teori penemuan hukum. subyek (interpretator) tidak dapat memulai upayanya dengan mendekati obyek pemahamannya sebagai tabula rasa (tidak bertolak dari titik nol).net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] hukum dan semangat hukum. terlepas dan tidak tergantung dari kehendaknya sendiri. Hal ini tidak terlepas dari substansi filsafat hermeneutika adalah tentang hakikat hal mengerti atau memahami sesuatu. asas-asas. ilmu sosial dan filsafat beranggapan bahwa hermeneutika hukum merupakan alternatif yang tepat dan praktis untuk memahami naskah normatif. arti-arti. pengertian-pengertian. yang terbentuk dan berkembang oleh dan dalam perjalanan sejarah. yakni tradisi yang bermuatan nilai-nilai. dan subtilitas applicandi (ketepatan penerapan). yakni refleksi kefilsafatan yang menganalisis syarat-syarat kemungkinan bagi semua pengalaman dan pergaulan manusiawi dengan kenyataan. subtilitas explicandi (ketepatan penjabaran).

Bertolak dari pra-pemahaman dalam kerangka cakrawala pandangnya tentang interpretandum (ihwal yang mau dipahami) sebagai suatu keseluruhan.net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] sebelum ia dilahirkan (Befindlichkeit: ia menemukan dirinya sudah ada disitu). Proses interpretasi itu berlangsung dalam proses lingkaran pemahaman yang disebut lingkaran hermeneutik (hermeneutische zirkel). SH. karena pada diri interpretator sudah ada cakrawala pandang dan pra-pemahaman yang terbentuk lewat interaksi dengan tradisi yang didalamnya ia menjalani kehidupan. dan dengan itu membentuk pra-pemahaman terhadap segala sesuatu. tiap bagian hanya dapat dipahami secara tepat dalam konteks keseluruhan. melebar dan meningkat derajat kedalamannya. Lingkaran pemahaman ini dimungkinkan. dan dengan itu juga terbentuk cakrawala pandang. Dalam proses pemahaman ini. dalam arti meluas. Arief Sidharta.11 Lewat proses interaksi dengan dunia sekelilingnya. yakni prasangka berupa putusan yang diberikan sebelum semua unsur yang menentukan sesuatu atau suatu situasi ditelaah secara tuntas. 11 7 . makalah Hermeneutik: landasan kefilsafatan ilmu hukum dalam Bahan Kuliah/Handout Mata Kuliah Filsafat Hukum. pada program doktor (S3) Ilmu Hukum UII Yogyakarta. pra-pemahaman dan cakrawala pandang dapat mengalami pergeseran. interpretator berusaha menemukan makna dari bagian-bagian lalu B. yakni medan pengamatan (range of vision) yang memuat semua hal yang tampak dari sebuah titik pandang subyektif tertentu. hal 9.www. Dalam dinamika proses insterpretasi.badilag.. yakni gerakan bolak-balik antara bagian atau unsur-unsur dan keseluruhan sehingga terbentuk pemahaman yang utuh. sebaliknya keseluruhan ini hanya dapat dipahami berdasarkan pemahaman atas bagian-bagian yang mewujudkannya. Pra pemahaman dan cakrawala pandang itu akan menentukan persepsi individual terhadap segala sesuatu yang tertangkap dan teregistrasi dalam wilayah pandang pengamatan individu yang bersangkutan. karena akan dapat memunculkan hal-hal baru dan aspek-aspek baru dari hal-hal yang tertangkap dalam cakrawala pandang. Pergeseran ini dapat mengubah pengetahuan subyek. tiap orang menyerap atau diresapi muatan tradisi tersebut. tahun 2007.

misalnya di pengadilan.badilag. interpretator tidak dapat lain kecuali dalam kerangka pra-pemahaman dan cakrawala pandangnya 12 13 Ibid. hal. terbentuknya teks yuridis itu terjadi dalam kerangka cakrawala pandang pembentuk hukum berkenaan dengan kenyataan kemasyarakatan yang dipandang memerlukan pengaturan hukum dengan mengacu cita-cita hukum yang dianut dan hidup dalam masyarakat.13 Pengembangan ilmu hukum berintikan kegiatan menginterpretasi teks yuridik untuk mendistilasi atau mengekstraksi kaidah hukum yang (secara implisit) ada pada teks yuridik tersebut dan dengan itu menetapkan makna dan wilayah penerapannya. dan demikian seterusnya sampai tercapai suatu pemahaman yang utuh dan tepat. Jadi. 11-10. Teks yuridik adalah produk pembentuk hukum untuk menetapkan perilaku apa yang seyogianya dilakukan atau tidak dilakukan orang yang berada dalam situasi tertentu karena hal itu oleh pembentuk hukum dipandang merupakan tuntutan ketertiban berkeadilan. Sebab. Ibid. melainkan juga terhadap kenyataan yang menimbulkan masalah hukum yang bersangkutan (misalnya menetapkan fakta-fakta yang relevan dan makna yuridikalnya). filsafat hermeneutika memberikan landasan kefilsafatan (ontologikal dan epsitemologikal) pada ilmu hukum. kegiatan interpretasi itu tidak hanya dilakukan terhadap teks yuridis. dalam mengimplementasikan ilmu hukum untuk menyelesaikan suatu masalah hukum.net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] berdasarkan pemahaman atas bagian-bagian tersebut dalam hubungan antara yang satu dengan yang lainnya pada berupaya memahami guna interpretandum.12 Menurut B. 8 . Antara ilmuwan hukum (interpretator) dan teks yuridik itu terdapat jarak waktu. Arief Sidharta. 12. atau filsafat ilmu dari ilmu hukum. Dalam upaya mendistilasi kaidah hukum dari dalam teks yuridis dengan menginterpretasi teks tersebut. hal.www. hasilnya disorotkan bagian-bagian memperoleh pemahaman yang lebih tepat untuk kemudian hasilnya disorotkan balik pada keseluruhan.

kehasilgunaan). karena pertama-tama kegiatan interpretasi itu harus selalu mengacu cita hukum (keadilan.15 hermeneutika berusaha menggali makna dengan mempertimbangkan horison/cakrawala yang melingkupi teks. Jadi. horison pengarang dan horison pembaca. Bisa juga dilihat kata pengantar B. Arief Sidharta dalam buku karya Jazim Hamidi.14 Menurut Fahruddin Faiz.badilag. yakni secara rasional dapat dipertanggungjawabkan karena kekuatan argumentasinya. Horison yang dimaksud adalah horison teks. kepastian hukum. Simpulan yang bisa diambil adalah Ibid. Hermeneutika Hukum. hal xii-xv.net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] dengan bertolak dari titik berdirinya sendiri. lewat berbagai perpaduan cakrawala dalam dialog rasional dalam forum hukum dapat diharapkan akan dihasilkan produk interpretasi yang paling akseptabel. Selain dari itu seorang interpretator senantiasa berusaha melahirkan kembali makna tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi saat teks tersebut dibaca atau dipahami. nilai-nilai kemanusiaan yang fundamental dan sistem hukum yang berlaku. diharapkan suatu upaya pemahaman atau penafsiran menjadi kegiatan rekonstruksi dan reproduksi makna teks. produk interpretasi selalu terbuka bagi pengkajian rasional terhadap argumentasi yang melandasi produk interpretasi tersebut oleh forum hukum dengan cita hukum. pada setiap interpretasi teks yuridik terjadi proses lingkaran hermeneutik yang didalamnya berlangsung pertemuan antara dua cakrawala pandang. 14 9 . Dengan demikian. nilai-nilai kemanusiaan yang fundamental dan sistem hukum sebagai kriteria pengujinya. Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks. Konteks dan Kontekstualisasi.www. 15 Lihat Fahruddin Faiz. yakni cakrawala dari interpretandum (teks yuridik) dan cakrawala dari interpretator. hal 12. di samping melacak bagaimana suatu teks itu dilahirkan oleh pengarangnya dan muatan apa yang masuk atau ingin dimasukkan oleh pengarang kedalam teks yang dibuatnya. Qalam. Subyektivitas dari hasil interpretasi itu akan dapat dikurangi hingga ketingkat yang paling minimal. Kedua. jadi terikat pada waktu yang didalamnya interpretsi itu dilakukan. Perpaduan cakrawala tersebut dapat menghasilkan pemahaman baru pada interpretator tentang kaidah hukum yang terkandung dalam teks yuridik itu. Dengan memperhatikan ketiga horison tersebut. sehingga memiliki keberlakuan intersubyektif. hal. 11. Yogyakarta: 2002.

pengalaman Hakim pada saat 16 17 Jazim Hamidi. yang terjadi sebelum pengambilan putusan disebut “heuristika”. perlu dibedakan dua hal yaitu mengenai tahap sebelum pengamblan putusan (ex ante) dan tahap sesudah pengambilan putusan (ex post). kemudian upaya kontekstualisasi. Bahkan menurut Charter. Proses Penemuan Hukum Dalam Perspektif Hermeneutika Hukum. yaitu teks. yaitu proses mencari dan berfikir yang mendahului tindakan pengambilan putusan hukum. secara dengan cara dapat suatu rasional dipertanggungjawabkan. Sedangkan penemuan hukum yang terjadi sesudah putusan disebut “legitimasi”. metode hermeneutika hukum pada hakikatnya sangat berguna. Pada tahap ini berbagai argument pro-kontra terhadap suatu putusan tertentu ditimbang-timbang antara yang satu dengan yang lain. maka berarti putusan itu tidak memperoleh legitimasi. hal 49 Samuel Jaya Kusuma. ketika seorang hakim menganggap dirinya berhak untuk menambah makna orisinal dari teks hukum. konteks. Skripsi pada Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan.net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] sebagai sebuah metode penemuan makna teks. dengan tetap berpegang pada penalaran ex ante. Bandung. Penemuan hukum oleh Hakim tidak semata-mata hanya penerapan peraturanperaturan hukum terhadap peristiwa konkrit. Pada tahap ini putusan diberi motivasi (pertimbangan) menyusun da argumentasi penalaran secara yang substansial. dan legitimasi selalu berkenaan dengan pembenaran dari putusan yang sudah diambil.17 Disinilah pentingnya hermeneutika hukum berperan sekaligus digunakan oleh para hakim pada saat menemukan hukum.www. hal. tetapi sekaligus penciptaan hukum dan pembentukan hukumnya. Hermeneutika Hukum Dalam Praktek Peradilan Pada proses penemuan hukum (rechtsvinding). Menurut Gadamer. Apabila suau putusan hukum tidak bisa diterima oleh forum hukum. 45-46. untuk menyakinkan forum hukum tersebut agar putusan tersebut dapat diterima. premis-premis yang baru harus diajukan. 16 Dalam perspektif teori penemuan hukum modern. Konsekuensinya. kemudian ditemukan makna yang tepat. 4. hermeneutika harus selalu memperhatikan tiga komponen pokok.badilag. 2002. 10 . Ibid.

Dimana dalam kasus ini John Marshal selaku Chief of Justice dari supreme court. untuk pertama kalinya dalam tatanan sistem hukum di Amerika Serikat. Alasannya. Sebab. ketentuan tersebut adalah inkonstitutional dan tidak sah. Lihat Samuel Jaya Kusuma. hal. ibid.badilag. dalam tulisan ini akan dipaparkan putusan pengadilan di Amerika sebagai ilustrasi dalam penerapan metode hermeneutika hukum oleh Hakim dipengadilan. 63-64.www. Putusan tersebut adalah putusan pengadilan kasus Marbury versus Madison (1803). 66. UU tidak bisa mengubah konstitusi yang merupakan “the supreme law of the land” (asas lex superior derogate leg inferiori). menandai lahirnya lembaga “Judicial Review. Untuk memperjelas penerapan hermeneutika hukum dalam aras praksis. yang dituntut oleh William Marbury kepada James Madison selaku secretary of state. dasar hukum penuntutan hak tersebut yaitu pasal 13 judicial act (UU Kekuasaan Kehakiman) tahun 1789 yang dirumuskan oleh kongres. 18 Oleh karena itulah hermeneutika hukum berfungsi sebagai metode untuk interpretasi atas teks hukum/peraturan perundangan yang dijadikan dasar pertimbangannya serta interpretasi atas peristiwa dan fakta akan sangat membantu Hakim dalam memeriksa dan memutus perkara dipengadilan. dianggap menambahkan kewenangan supreme court dari kewenangan yang tercantum dalam konstitusi Amerika Serikat. Putusan terhadap kasus Marbury versus Madison ini. Oleh karena itu. yaitu suatu perintah pengadilan kepada pejabat pemerintah untuk melakukan perbuatan tertentu yang merupakan salah satu kewajiban dari pejabat tersebut.19 Doktrin judicial review memperoleh kekuatan hukum ketika John Marshal memutuskan kasus Marbury versus Madison tersebut pada bulan Februrai 1803. Jazim Hamidi. ibid. The legislature cannot be permittes to pass 18 19 Jazim Hamidi. 64 11 .net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] menemukan hukum dalam praktek dipengadilan memberikan dukungan bagi konsepsi pragmatis dan interpretasinya. telah menolak untuk mengeluarkan writ of mandamus. hal. hal. ibid. dengan mengatakan bahwa: “it one of the purpose of written constitution to define and limit the powers of the legislature.

Masa kini: ada perseteruan politik antara partai republik (Thomas Jefferson) dengan partai federalis (John Adam). Dengan dalih mempertimbangkan dan menyelaraskan ketiga kepentingan diatas. Marshall menalar secara hermeneutika. Pertimbangan yang dia lakukan itu merupakan pertimbangan atas dasar nilai. fakta yuridis. b. Selain itu pula diperkuat dengan interpretasi hermeneutika atas lafal sumpah jabatannya sebagai hakim dengan asas “ius curia novit” dan pada akhirnya dapat 20 Samuel Jaya Kusuma. if the letter is to prevail as superior law. yang bisa membahayakan keutuhan nasional.net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] statutes contrary to a constitution. dan keputusan yang dia ambil merupakan wujud dari kebijaksanaannya. Menurut analisa Samuel Jaya Kusuma. judicial act. antara lain:20 a. bila tuntutan Marbury dikabulkan. Masa depan: kemungkinan muncul konflik terbuka antara lembaga kepresidenan dengan supreme court. Premis yang muncul berdasarkan penalaran secara hermeneutika (premis tak terberi). judges have no choise but to prefer it to refuse to give effect to the latter. A court avoid choosting between the constitution and a conflicting statute when both are relevant to a case which the court is asked to decide. kondisi sosial politik. keputusan akhir bahwa judicial act adalah inkonstitusional itu muncul secara heuristika. karena kesimpulan ini merupakan suatu pengembangan (inovasi) secara kreatif dari asas “lex superior derogate leg inferiori”.badilag.www. John Marshall dalam putusannya berusaha mencari titik temu dalam kasus tersebut dengan cara mendialogkan antara konstitusi Amerika Serikat. Mengapa. Dalam usahanya memberikan putusan yang tepat.” Sebenarnya dibalik kasus itu sarat dengan muatan politis. hal 69-70 12 . Masa lalu: masalah itu muncul karena kelalaian Jhon Marshall sendiri. meskipun jika dilihat dari posisi kasus yang sebenarnya sekedar merupakan sengketa kepentingan antara Marbury (sebagai Penggugat) dan Madison (sebagai Tergugat). Since the constitution is paramount law.ibid. Tetapi John Marshall tahu bahwa dibalik sengketa itu tersembuyi masalah yang lebih besar dan menyangkut kepentingan rakyat banyak. serta kepentingan dirinya dan lembaga yang dia pimpin. c.

www. dan kontekstualisasi. 2. atau sebuah metode interpretasi terhadap teks dimana metode dan teknik menafsirkannya dilakukan secara holistik dalam bingkai keterkaitan antara teks. konteks. Akibatnya lahir suatu temuan baru dibidang hukum berupa lembaga judicial review. yang keberadaannya diakui di AS hingga sekarang. 13 . arti-arti. bisa muncul berkat “cakrawala pandang yang luas” dari hakim Marshall. 70-71.Ibid hal. Pada akhirnya. Pada peristiwa memahami atau menginterpretasi sesuatu. Penemuan hukum dengan perspektif hermeneutika yang spektakuler ini. termasuk peristiwa mengerti dan/atau interpretasi. kaidah-kaidah. Penemuan hukum seperti ini juga membuktikan bahwa supreme court lewat hakim Marshall ini tidak sekedar bertindak sebagai corong undang-undang. tapi telah sanggup menemukan dan membentuk nilai hukum baru. Sebab setiap orang terlahir kedalam suatu dunia produk sejarah yang selalu menjalani proses menyejarah terus menerus. wawasan-wawasan. temuannya itu menjadi suatu asas hukum yang mempuyai kekuatan sebagai preseden. karena “ratio decidendi”-nya akseptabel. Teks tersebut bisa berupa teks hukum. naskah kuno atau kitab suci. peristiwa hukum. Hermeneutika hukum adalah ajaran filsafat mengenai hal mengerti /memahami sesuatu.badilag. Kesimpulan Dari uraian diatas dapat diambil beberapa kesimpulan: 1. yakni refleksi kefilsafatan yang menganalisis syarat-syarat kemungkinan bagi semua pengalaman dan pergaulan manusiawi dengan kenyataan.net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] memperjelas maksud konstitusi. Filsafat hermeneutika adalah filsafat tentang hakikat hal mengerti atau memahami sesuatu. fakta hukum. asas-asas. yakni tradisi yang bermuatan nilai-nilai. dokumen resmi negara. pengertianpengertian. subyek (interpretator) tidak dapat memulai upayanya dengan mendekati obyek pemahamannya sebagai tabula rasa (tidak bertolak dari titik nol). pola-pola perilaku dan 21 Samuel Jaya Kusuma. setelah mendapat pengakuan dari forum hukum dan masyarakat.21 5.

3. Dengan demikian. tiap bagian hanya dapat dipahami secara tepat dalam konteks keseluruhan. Penemuan hukum oleh Hakim tidak semata-mata hanya penerapan peraturan-peraturan hukum terhadap peristiwa konkrit. yaitu teks.badilag. tetapi sekaligus penciptaan hukum dan pembentukan hukumnya. Perpaduan cakrawala tersebut dapat menghasilkan pemahaman baru pada interpretator tentang kaidah hukum yang terkandung dalam teks yuridik itu.net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] sebagainya. yakni cakrawala dari interpretandum (teks yuridik) dan cakrawala dari interpretator. Dalam proses pemahaman ini. 4. yakni gerakan bolak-balik antara bagian atau unsur-unsur dan keseluruhan sehingga terbentuk pemahaman yang utuh. konteks. metode hermeneutika hukum pada hakikatnya sangat berguna. kemudian upaya kontekstualisasi. 5. Interpretasi teks yuridik berlangsung dalam proses lingkaran pemahaman yang disebut lingkaran hermeneutik (hermeneutische zirkel). Menurut Gadamer. ketika seorang hakim menganggap dirinya berhak untuk menambah makna orisinal dari teks hukum. 14 . yang terbentuk dan berkembang oleh dan dalam perjalanan sejarah.www. Hermeneutika hukum penting digunakan oleh para hakim pada saat menemukan hukum. pada setiap interpretasi teks yuridik berlangsung pertemuan antara dua cakrawala pandang. Sebagai sebuah metode penemuan makna teks. Oleh karena itulah hermeneutika hukum berfungsi sebagai metode untuk interpretasi atas teks hukum/peraturan perundangan yang dijadikan dasar pertimbangannya serta interpretasi atas peristiwa dan fakta akan sangat membantu Hakim dalam memeriksa dan memutus perkara dipengadilan. sebaliknya dipahami berdasarkan keseluruhan atas ini hanya dapat yang pemahaman bagian-bagian mewujudkannya. hermeneutika harus selalu memperhatikan tiga komponen pokok.

Arief Sidharta. Mandar Maju. 6. 7. Hermeneutika Hukum. Konteks dan Kontekstualisasi. dimuat dalam Jurnal Esensia. Pengantar Filsafat Hermeneutika. Arief Sidharta. Skripsi pada Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan. UII Press: 2005. Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum. Pustaka Pelajar. Samuel Jaya Kusuma. Sayyed Hossein Nasr. “Tinjauan Kritis Konsep Hermeneutik”. Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks. makalah Hermeneutik: landasan kefilsafatan ilmu hukum dalam Bahan Kuliah/Handout Mata Kuliah Filsafat Hukum.net [HERMENEUTIKA HUKUM SEBAGAI METODE PENEMUAN HUKUM] DAFTAR PUSTAKA 1. Yogyakarta. terjemah oleh Ahmad Sahidah. Qalam. 2. 2002. Yogyakarta: 2002. Juli 2001. B. No 2. 3. Knowledge and The Secred. SH. State university press. 2. Fahruddin Faiz. tahun 2007. Bandung: 1999. pada program doktor (S3) Ilmu Hukum UII Yogyakarta. Jazim Hamidi. 4.www. B. 15 .badilag. New York. Nasrudin Baidan. 1989. 8. Yogyakarta: 1965. Vol. Bandung. Proses Penemuan Hukum Dalam Perspektif Hermeneutika Hukum. 5. Hans Georg Gadamer.. Truth and Method. Kebenaran dan Metode.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->