You are on page 1of 30

BAB I

PENDAHULUAN

Peningkatan kualitas pendidikan adalah suatu tugas dan tanggung jawab semua pihak
yang dilakukan. Terutama dalam pengembangan pelajaran di sektor pendidikan. Untuk
itu penyusun menulis makalah ini untuk menjelaskan dari Impuls dan Momentum Linear
yang tidak mudah untuk di fahami oleh setiap individu.

Sebelum kita mengetahui latar belakang pembahasan Impuls dan Momentum Linear
maka terlebih dahulu kita pahami apa yang dimaksud dengan Impuls dan Momentum
Linear. Impuls adalah besaran vektor yang arahya sejajar dengan arah gaya dan
Menyebabkan perubahan momentum dan Momentum Linear adalah momentum yang
dimiliki benda-benda yang bergerak pada lintasan lurus

Pernahkah menyaksikan tabrakan antara dua kendaraan di jalan. apa yang terjadi
ketika dua kendaraan bertabrakan. kondisi mobil atau sepeda motor mungkin hancur
berantakan. Kalau kita tinjau dari ilmu fisika, fatal atau tidaknya tabrakan antara kedua
kendaraan ditentukan oleh momentum kendaraan tersebut. Dalam ilmu fisika terdapat
dua jenis momentum yakni momentum linear dan momentum sudut. Kadang-kadang
momentum linear disingkat momentum

Penjelasan di atas merupakan contoh dari kehidupan sehari-hari yang berkaitan


dengan Impuls dan momentum linear, dengan Hukum Newton II yang diturunkan
menjadi impuls dan momentum linear, tumbukan, pusat massa yang akan dijelaskan
dalam makalah ini serta pembahasan yang bersangkutan dengan penjelasan Impuls dan
momentum

1
BAB II
IMPULS DAN MOMENTUM LINEAR

2.1 PENGERTIAN IMPULS DAN MOMENTUM LINEAR


Impuls
• Hasil kali gaya dengan selang waktu singkat bekerjanya gaya terhadap benda yang
menyebabkan perubahan momentum.
Momentum
• Ukuran kesukaran untuk memberhentiikan suatu benda yang sedang bergerak. Makin
sukar memberhentikannya, makin besar momentumnya. Momentum Disebabkan adanya
impuls serta Besar dan arahnya = besar dan arah impuls

Dalam ilmu fisika terdapat dua jenis momentum yakni momentum linear dan momentum
sudut. Kadang-kadang momentum linear disingkat momentum. Dirimu jangan bingung ketika
membaca buku pelajaran fisika yang hanya menulis “momentum”. Yang dimaksudkan buku
itu adalah momentum linear. Seperti pada gerak lurus, kita seringkali hanya menyebut
kecepatan linear dengan “kecepatan”. Tetapi yang kita maksudkan sebenarnya adalah
“kecepatan linear”. Momentum linear merupakan momentum yang dimiliki benda-benda
yang bergerak pada lintasan lurus, sedangkan momentum sudut dimiliki benda-benda yang
bergerak pada lintasan melingkar

momentum suatu benda didefinisikan sebagai hasil kali massa benda dengan kecepatan
gerak benda tersebut

p = m .v

atau

P = m.v1 – m.v0

2
Apabila pada t1 kecepatan v1 dan pada t2 kecepatan adalah v2 maka :

F (T1 − T2) = m. v2 – m.v1

p adalah lambang momentum, m adalah massa benda dan v adalah kecepatan benda.
Sedangkan T adalah aksi gaya. Momentum merupakan besaran vektor, jadi selain
mempunyai besar alias nilai, momentum juga mempunyai arah. Besar momentum p = mv.
Terus arah momentum bagaimana-kah ? arah momentum sama dengan arah kecepatan.
Misalnya sebuah mobil bergerak ke timur, maka arah momentum adalah timur, tapi kalau
mobilnya bergerak ke selatan maka arah momentum adalah selatan. Bagaimana dengan
satuan momentum ? karena p = mv, di mana satuan m = kg dan satuan v = m/s, maka satuan
momentum adalah kg m/s

Dari persamaan di atas, tampak bahwa momentum (p) berbanding lurus dengan massa (m)
dan kecepatan (v). Semakin besar kecepatan benda, maka semakin besar juga momentum
sebuah benda. Demikian juga, semakin besar massa sebuah benda, maka momentum benda
tersebut juga bertambah besar. Perlu anda ingat bahwa momentum adalah hasil kali antara
massa dan kecepatan. Jadi walaupun seorang berbadan gendut, momentum orang tersebut= 0
apabila dia diam alias tidak bergerak. Jadi momentum suatu benda selalu dihubungkan
dengan massa dan kecepatan benda tersebut. kita tidak bisa meninjau momentum suatu benda
hanya berdasarkan massa atau kecepatannya saja.

Contohnya begini, sebut saja mobil A dan mobil B. Apabila kedua mobil ini bermassa
sama tetapi mobil A bergerak lebih kencang (v lebih besar) daripada mobil B, maka
momentum mobil A lebih besar dibandingkan dengan momentummobil B. Contoh lain,
misalnya mobil X memiliki massa besar, sedangkan mobil Y bermassa kecil. Apabila kedua
mobil ini kebut2an di jalan dengan kecepatan yang sama, maka tentu saja momentum mobil
X lebih besar dibandingkan dengan momentum mobil Y.

3
Jika Partikel dengan massa m bergerak sepanjang garis lurus, gaya F pada partikel
dianggap tetap dengan arah sejajar gerak partikel jadi Jika kecepatan (v) partikel pada t = 0
adalah Vo maka kecepatan pada waktu t adalah

Apabila V = Vo + at
( V = Vo + at ) m
Vm = Vo. m + M.at
Vm = Vo.m + F.t
m.V – m.Vo = F.t

Perubahan momentum linear = m.v – m.Vo


Impuls gaya = F.t

Dalam suatu tumbukan, misalnya bola yang dihantam tongkat pemukul, tongkat
bersentuhan dengan bola hanya dalam waktu yang sangat singkat, sedangkan pada waktu
tersebut tongkat memberikan gaya yang sangat besar pada bola. Gaya yang cukup besar dan
terjadi dalam waktu yang relatif singkat ini disebut gaya impulsif.
v v’

4
Perubahan gaya impulsif terhadap waktu ketika terjadi tumbukan :

F(t)

Fr

t ∆t

Tampak bahwa gaya impulsif tersebut tidak konstan. Dari hukum ke-2 Newton diperoleh

F = dp/dt

tf pf
∫ F dt = ∫ dp

5
ti pi

tf
I= F dt = p = Impuls
ti
Dilihat dari grafik tersebut, impuls dapat dicari dengan menghitung luas daerah di bawah kurva
F(t) (yang diarsir). Bila dibuat pendekatan bahwa gaya tersebut konstan, yaitu dari harga rata-
ratanya, Fr , maka

I = Fr t = ∆p

Fr = I / t = p/∆t

“ Impuls dari sebuah gaya sama dengan perubahan momentum partikel “.


2.2 HUBUNGAN MOMENTUM DENGAN HUKUM II NEWTON
Pada pokok bahasan Hukum II Newton, kita telah belajar bahwa jika ada gaya total
yang bekerja pada benda maka benda tersebut akan mengalami percepatan, di mana arah
percepatan benda sama dengan arah gaya total. Jika dirimu masih bingung dengan Hukum
II warisan Newton, sebaiknya segera meluncur ke TKP dan pelajari dulu. Nah, apa
hubungan antara hukum II Newton dengan momentum ? yang benar, bukan hubungan
antara Hukum II Newton dengan momentum tetapi hubungan antara gaya total dengan
momentum. Sekarang pahami penjelasan berikut ini.
Misalnya ketika sebuah mobil bergerak di jalan dengan kecepatan tertentu, mobil
tersebut memiliki momentum. Nah, untuk mengurangi kecepatan mobil pasti dibutuhkan
gaya (dalam hal ini gaya gesekan antara kampas dan ban ketika mobil direm). Ketika
kecepatan mobil berkurang (v makin kecil), momentum mobil juga berkurang. Demikian
juga sebaliknya, sebuah mobil yang sedang diam akan bergerak jika ada gaya total yang
bekerja pada mobil tersebut (dalam hal ini gaya dorong yang dihasilkan oleh mesin).
Ketika mobil masih diam, momentum mobil = 0. pada saat mobil mulai bergerak dengan
kecepatan tertentu, mobil tersebut memiliki momentum. Jadi kita bisa mengatakan bahwa
perubahan momentum mobil disebabkan oleh gaya total. Dengan kata lain, laju
perubahan momentum suatu benda sama dengan gaya total yang bekerja pada benda
tersebut. Ini adalah hukum II Newton dalam bentuk momentum. Newton pada mulanya

6
menyatakan hukum II newton dalam bentuk momentum. Hanya Hukum II Newton yang
menyebut hasil kali mv sebagai “kuantitas gerak”, bukan momentum.
Secara matematis, versi momentum dari Hukum II Newton dapat dinyatakan dengan
persamaan :
∑F= ∆p∆t
∑F= gaya total yang bekerja pada benda
∆p = perubahan momentum
∆t = selang waktu perubahan momentum
Catatan = lambang momentum adalah p kecil, bukan P besar. Kalau P besar itu
lambang daya. p dicetak tebal karena momentum adalah besaran vektor.
Dari persamaan ini, kita bisa menurunkan persamaan Hukum II Newton “yang
sebenarnya” untuk kasus massa benda konstan alias tetap.
Sekarang kita tulis kembali persamaan di atas :
∑F= ∆p∆t
Jika Vo = kecepatan awal, Vt = kecepatan akhir, maka persamaan di atas akan
menjadi :
∑F= mvt-mv₀∆t
∑F= m(vt-v₀)∆t
∑F= ∆v∆t
∑F= ma
ini adalah persamaan Hukum II Newton untuk kasus massa benda tetap, yang sudah
kita pelajari pada pokok bahasan Hukum II Newton. Di atas sebagai Hukum II Newton
“yang sebenarnya”.
Terus apa bedanya penggunaan hukum II Newton “yang sebenarnya” dengan hukum
II Newton versi momentum ? Hukum II Newton versi momentum di atas lebih bersifat
umum, sedangkan Hukum II Newton “yang sebenarnya” hanya bisa digunakan untuk
kasus massa benda tetap. Jadi ketika menganalisis hubungan antara gaya dan gerak benda,
di mana massa benda konstan, kita bisa menggunakan Hukum II Newton “yang
sebenarnya”, tapi tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan Hukum II Newton
versi momentum. Ketika kita meninjau benda yang massa-nya tidak tetap alias berubah,
kita tidak bisa menggunakan Hukum II Newton “yang sebenarnya” (F = ma). Kita hanya
bisa menggunakan Hukum II Newton versi momentum. Contohnya roket yang meluncur ke
ruang angkasa. Massa roket akan berkurang ketika bahan bakarnya berkurang atau habis.

7
2.3 HUBUNGAN MOMENTUM LINEAR DAN IMPULS
Pernahkah dirimu dipukul teman anda ? coba lakukan percobaan impuls dan momentum
berikut… pukul tangan seorang temanmu menggunakan jari anda. Tapi jangan yang keras ya…
gurumuda tidak mengajarkan dirimu untuk melakukan kekerasan. Gunakan ujung jari anda.
Coba tanyakan kepada temanmu, mana yang lebih terasa sakit; ketika dipukul dengan cepat
(waktu kontak antara jari pemukul dan tangan yang dipukul sangat singkat) atau ketika dipukul
lebih lambat (waktu kontak antara jari pemukul dan tangan yang dipukul lebih lambat). Kalau
dilakukan dengan benar (besar gaya sama), biasanya yang lebih sakit adalah ketika tanganmu
dipukul dengan cepat. Ketika dirimu memukul tangan temanmu, tangan dirimu dan tangan
temanmu saling bersentuhan, dalam hal ini saling bertumbukan.
Ketika terjadi tumbukan, gaya meningkat dari nol pada saat terjadi kontak dan menjadi nilai
yang sangat besar dalam waktu yang sangat singkat. Setelah turun secara drastis menjadi nol
kembali. Ini yang membuat tangan terasa lebih sakit ketika dipukul sangat cepat (waktu kontak
antara jari pemukul dan tangan yang dipukul sangat singkat).
Hukum II Newton versi momentum yang telah kita turunkan di atas menyatakan bahwa laju
perubahan momentum suatu benda sama dengan gaya total yang bekerja pada benda tersebut.
Besar gaya yang bekerja pada benda yang bertumbukan dinyatakan dengan persamaan :
Ingat bahwa impuls diartikan sebagai gaya yang bekerja pada benda dalam waktu yang sangat
singkat. Konsep impuls membantu kita ketika meninjau gaya-gaya yang bekerja pada benda
dalam selang waktu yang sangat singkat. Misalnya ketika ronaldinho menendang bola sepak,
atau ketika tanganmu dipukul dengan cepat.
2.4 HUBUNGAN MOMENTUM LINEAR DAN TUMBUKAN
Pada pembahasan di atas, sudah menjelaskan panjang lebar kepada dirimu mengenai
pengertian momentum dalam ilmu fisika. Nah, kali ini kita akan melihat hubungan antara momentum
dengan tumbukan. Pernahkah dirimu menyaksikan tabrakan antara dua kendaraan beroda di jalan ?
apa yang dirimu amati ? yang pasti penumpangnya babak belur dan digiring ke rumah sakit.
Bagaimana kondisi kendaraan tersebut ? kendaraan tersebut mungkin hancur lebur dan mungkin
Langsung digiring ke bengkel khan ?
Sekarang coba dirimu bandingkan, bagaimana akibat yang ditimbulkan dari tabrakan antara
dua sepeda motor dan tabrakan antara sepeda motor dengan mobil ? anggap saja kendaraan tersebut
bergerak dengan laju sama. Tentu saja tabrakan antara sepeda motor dan mobil lebih fatal akibatnya
dibandingkan dengan tabrakan antara dua sepeda motor. Kalo ga percaya silahkan buktikan Massa
mobil jauh lebih besar dari massa sepeda motor, sehingga ketika mobil bergerak, momentum mobil
8
tersebut lebih besar dibandingkan dengan momentum sepeda motor. Ketika mobil dan sepeda motor
bertabrakan alias bertumbukan, maka pasti sepeda motor yang terpental. Bisa anda bayangkan, apa
yang terjadi jika mobil bergerak sangat kencang (v sangat besar) ? Kita bisa mengatakan bahwa
makin besar momentum yang dimiliki oleh sebuah benda, semakin besar efek yang timbulkan ketika
benda tersebut bertumbukkan.
Contoh soal :
1. Sebuah mobil massanya bergerak dengan kecepatan 90 km/jam. Berapakah momentum
mobil tersebut?
m = 1 ton = 1000kg
v = 90 km/jam = 25 m/s

p = m.v
p = 1000.25
p = 25000 Ns
2. Sebuah Partikel 5 kg bergerak sepanjang sumbu x dengan kecepatan awal 3 m/det suatu
gaya F sebesar -6 N beraksi selama 5 detik. Hitung kecepatan akhir dari partikel
tersebut.
Jawab :
F.t = m (v-v0)
-6.5 = 5 (v – 3)
-30 = -15v
15v = -30
V akhir = -2 m/detik

9
2.5 KEKALAN MOMENTUM LINEAR
Oleh karena masing-masing benda memberi gaya pada benda lainnya maka
momentum masing-masing benda berubah. Dalam setiap selang waktu, perubahan vector
momentum

F12 F21

m1 m1 m2

Dua buah partikel saling bertumbukan. Pada saat bertumbukan kedua partikel saling
memberikan gaya (aksi-reaksi), F12 pada partikel 1 oleh partikel 2 dan F21 pada partikel 2
oleh partikel 1.

Perubahan momentum pada partikel 1 :


tf

p1= ∫ F12 dt = Fr12 t

ti
Perubahan momentum pada partikel :
tf

∆p2= ∫ F21 dt = Fr21 ∆t

ti

Karena F21 = - F12 maka Fr21 = - Fr12

oleh karena itu p1 = - ∆p2

10
Momentum total sistem : P = p1+ p2 dan perubahan momentum total sistem :

∆P = p1 + ∆p2 = 0

“Jika tidak ada gaya eksternal yang bekerja, maka tumbukan tidak mengubah momentum
total sistem”.
partikel yang satu besarnya sama dan arahnya berlawanan dengan perubahan vector
momentum partikel yang lain.
Catatan : selama tumbukan gaya eksternal (gaya grvitasi, gaya gesek) sangat kecil
dibandingkan dengan gaya impulsif, sehingga gaya eksternal tersebut dapat diabaikan.
2.6 HUKUM KEKALAN MOMENTUM LINEAR
Pada pokok bahasan Momentum dan Impuls, kita telah berkenalan dengan konsep
momentum serta pengaruh momentum benda pada peristiwa tumbukan. Pada kesempatan
ini kita akan meninjau momentum benda ketika dua buah benda saling bertumbukan. Ingat
ya, momentum merupakan hasil kali antara massa benda dengan kecepatan gerak benda
tersebut. Jadi momentum suatu benda selalu dihubungkan dengan massa dan kecepatan
benda. Kita tidak bisa meninjau momentum suatu benda hanya berdasarkan massa atau
kecepatannya saja.
Pernahkah anda menonton permainan biliard ? lebih baik lagi jika dirimu adalah
pemain billiard. biasanya pada permainan billiard, kita berusaha untuk memasukan bola ke
dalam lubang. Bola yang menjadi target biasanya diam. Jika anda perhatikan secara cermat,
kecepatan bola biliard yang disodok menuju bola biliard target menjadi berkurang setelah
kedua bola biliard bertumbukan. Sebaliknya, setelah bertumbukan, bola biliard yang pada
mulanya diam menjadi bergerak. Berhubung massa bola biliard selalu tetap, maka yang
mengalami perubahan adalah kecepatan. Karena bola billiard yang disodok mengalami
pengurangan kecepatan setelah tumbukan, maka tentu saja momentumnya juga berkurang.
Jika momentum bola billiard yang disodok berkurang, kemanakah momentumnya pergi ?
bisa kita tebak, momentum yang hilang pada bola billiard yang disodok berpindah ke bola
billiard target. bola billiard target kan pada mulanya diam, sehingga momentumnya pasti
nol. Setelah bertumbukkan, bola billiard tersebut bergerak. Karena bergerak, maka tentu saja

11
bola billiard target memiliki momentum. Jadi momentum bola billiard yang disodok tadi
berpindah ke bola billiard target. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa perubahan
momentum pada kedua bola billiard setelah terjadi tumbukan disebabkan karena adanya
“perpindahan momentum” dari satu bola billiard ke bola biliard lainnya.

Nah, sekarang pahami penjelasan ini baik2 ya. Pada saat sebelum tumbukan, bola
billiard target diam sehingga momentumnya = 0, sedangkan bola billiard yang disodok
bergerak dengan kecepatan tertentu; bola billiard yang disodok memiliki momentum.
Setelah terjadi tumbukan, kecepatan bola billiard yang disodok berkurang; karenanya
momentumnya juga berkurang. Sebaliknya, bola billiard target yang pada mulanya diam
menjadi bergerak setelah terjadi tumbukan. Karena bergerak maka kita bisa mengatakan
bahwa momentum bola billiard target “bertambah”. Dapatkah kita menyimpulkan bahwa
jumlah momentum kedua bola billiard tersebut sebelum tumbukan = jumlah momentum
kedua bola billiard setelah tumbukan ?

Jika bingung, dibaca perlahan-lahan sambil dipahami ya…. bagi yang belum pernah
melihat atau bermain bola billiard, anda pasti kebingungan dengan penjelasan di atas. Oleh
karena itu, segera beli dua buah kelereng pada warung atau toko terdekat…. dan lakukan
percobaan berikut. Letakkan sebuah kelereng pada permukaan lantai yang datar. Setelah itu,
tembakkan kelereng yang diam tersebut menggunakan kelereng lainnya dari jarak tertentu.
Jika meleset, ulangi sampai kedua kelereng bertumbukan. Amati secara saksama kecepatan
gerak kelereng tersebut. Setelah kedua kelereng bertumbukan, kelereng yang pada mulanya
diam (tidak memiliki momentum) pasti bergerak (memiliki momentum). Sebaliknya, kelereng
yang anda kutik tadi pasti kecepatannya berkurang setelah tumbukan (momentumnya
berkurang). Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa momentum kelereng yang
dikutik berkurang karena sebagian momentumnya berpindah ke kelereng target yang pada
mulanya diam. Dapatkah kita menyimpulkan bahwa jumlah momentum kedua kelereng
sebelum tumbukan = jumlah momentum kedua kelereng setelah tumbukan ?

Alangkah baiknya jika dirimu melakukan percobaan menumbukkan dua bola (mirip
bola billiard) di atas permukaan meja getar. Syukur kalau di laboratorium sekolah-mu ada
meja getar. Pada percobaan menumbukan dua bola di atas permukaan meja getar, kita

12
mengitung kecepatan kedua bola sebelum dan setelah tumbukan. Massa bola tetap, sehingga
yang diselidiki adalah kecepatannya. Frekuensi getaran meja = frekuensi listrik PLN (50
Hertz). Karena telah diketahui frekuensi getaran meja, maka kita bisa menentukan periode
getaran meja. Nah, waktunya sudah diketahui, sekarang tugas kita adalah mengukur panjang
jejak bola ketika bergerak di atas meja getar. Karena meja bergetar setiap 0,02 detik (1/50),
maka ketika bergerak di atas meja, bola pasti meninggalkan jejak di atas meja yang sudah
kita lapisi dengan kertas karbon. Jarak antara satu jejak dengan jejak yang lain; yang
ditinggalkan bola setiap 0,02 detik kita ukur. Setelah memperoleh data jarak tempuh bola,
selanjutnya kita bisa menghitung kecepatan gerak kedua bola tersebut, baik sebelum
tumbukan maupun setelah tumbukan. selanjutnya kita hitung momentum kedua bola
sebelum tumbukan (p = mv) dan momentum kedua bola setelah tumbukan (p’ = mv’). Jika
percobaan dilakukan dengan baik dan benar, maka kesimpulan yang kita peroleh adalah
total momentum dua benda sebelum tumbukan = total momentum kedua benda tersebut
setelah tumbukan.
Jika di laboratorium sekolah anda tidak ada meja getar, coba pahami ilustrasi bola
biliard atau kelereng di atas secara saksama. Jika sudah paham, anda pasti setuju kalau di
sini mengatakan bahwa jumlah momentum kedua benda sebelum tumbukan = jumlah
momentum kedua benda setelah tumbukan. Pada ilustrasi di atas, sebelum tumbukan salah
satu benda diam. Pada dasarnya sama saja bila dua benda sama-sama bergerak sebelum
tumbukan. Kecepatan gerak kedua benda tersebut pasti berubah setelah tumbukan, sehingga
momentum masing-masing benda juga mengalami perubahan. Kecuali jika massa dan
kecepatan dua benda sama sebelum kedua benda tersebut saling bertumbukan. Biasanya
total momentum kedua benda sebelum tumbukan = total momentum kedua benda setelah
terjadi tumbukan.
Penjelasan panjang lebar dan bertele-tele di atas hanya mau mengantar dirimu untuk
memahami inti pokok bahasan ini, yakni Hukum Kekekalan Momentum. Tidak peduli
berapapun massa dan kecepatan benda yang saling bertumbukan, ternyata momentum total
sebelum tumbukan = momentum total setelah tumbukan. Hal ini berlaku apabila tidak ada
gaya luar alias gaya eksternal total yang bekerja pada benda yang bertumbukan. Jadi analisis
kita hanya terbatas pada dua benda yang bertumbukan, tanpa ada pengaruh dari gaya luar
Sekarang perhatikan gambar di bawah ini.

13
Jika dua benda yang bertumbukan
diilustrasikan dengan gambar di atas, maka
secara matematis,
hukum kekekalan momentum dinyatakan
dengan persamaan :
Momentum sebelum tumbukan = momentum
setelah tumbukan
m1v1 + m2v2 = m1v’1 + m2v’2
Keterangan :
m1 = massa benda 1, m2 = massa benda 2,
v1 = kecepatan benda 1 sebelum tumbukan,
v2 = kecepatan benda 2 sebelum tumbukan,
v’1 = kecepatan benda 1 setelah tumbukan,
v’2 = kecepatan benda 2 setelah tumbukan

Jika dinyatakan dalam momentum, maka :


m1v1 = momentum benda 1 sebelum tumbukan, m2v2 = momentum benda 2 sebelum tumbukan,
m1v’1 = momentum benda 1 setelah tumbukan, m2v’2 = momentum benda 2 setelah tumbukan
Perlu anda ketahui bahwa Hukum Kekekalan Momentum ditemukan melalui percobaan pada
pertengahan abad ke-17, sebelum eyang Newton merumuskan hukumnya tentang gerak
(mengenai Hukum II Newton versi momentum telah saya jelaskan pada pokok bahasan
Momentum, Tumbukan dan Impuls). Walaupun demikian, kita dapat menurunkan persamaan
Hukum Kekekalan Momentum dari persamaan hukum II Newton. Yang kita tinjau ini khusus
untuk kasus tumbukan satu dimensi, seperti yang dilustrasikan pada gambar di atas

Contoh Soal :
1. Seorang atlit penembak memegang sebuah senapan yang massanya 4 kg dengan bebas
sehingga senapannya bebas bergerak ke belakang ketika sebutir peluru yang massanya 5
g keluar dari moncong senapan dengan kecepatan horizontal 300 m/s. berapa kecepatan
hentakan senapan ketika peluru ditembakkan?
Jawab :
m₁ = 4 kg
m₂ = 5 g = 0,005 kg
v₁ = 0 m/s

14
m₁ v₁+m₂v₂=m₁v'₁+m₂v'₂

0 + 0 = 4. v'₁ + 1,5
0 = 6. v'₁ + 1,5
v'₁ = -1,5 / 6 = -0,25 m/s

15
BAB III
TUMBUKAN
3.1 PENGERTIAN TUMBUKAN
Pada setiap jenis tumbukan berlaku hukum kekekalan momentum tetapi tidak selalu
berlaku hukum kekekalan energi mekanik. Sebab disini sebagian energi mungkin diubah
menjadi panas akibat tumbukan atau terjadi perubahan bentuk :
Macam tumbukan yaitu :
 Tumbukan elastis sempurna, yaitu tumbukan yang tak mengalami perubahan energi.
Koefisien restitusi e = 1
 Tumbukan elastis sebagian, yaitu tumbukan yang tidak berlaku hukum kekekalan
energi
 mekanik sebab ada sebagian energi yang diubah dalam bentuk lain, misalnya panas.
Koefisien restitusi 0 < e < 1
 Tumbukan tidak elastis , yaitu tumbukan yang tidak berlaku hukum kekekalan energi
mekanik dan kedua benda setelah tumbukan melekat dan bergerak bersama-sama.
Koefisien restitusi e = 0

Dalam kehidupan sehari-hari, kita biasa menyaksikan benda-benda saling bertumbukan.


Banyak kecelakaan yang terjadi di jalan raya sebagiannya disebabkan karena tabrakan
(tumbukan) antara dua kendaraan, baik antara sepeda motor dengan sepeda motor, mobil dengan
mobil maupun antara sepeda motor dengan mobil. Demikian juga dengan kereta api atau
kendaraan lainnya. Hidup kita tidak terlepas dari adanya tumbukan. Ketika bola sepak ditendang
David Beckham, pada saat itu juga terjadi tumbukan antara bola sepak dengan kaki Abang
Beckham. Tampa tumbukan, permainan billiard tidak akan pernah ada. Demikian juga dengan
permainan kelereng kesukaanmu ketika masih kecil. Masih banyak contoh lainnya yang dapat
anda temui dalam kehidupan sehari-hari. Ayo dipikirkan… Pada pembahasan mengenai
momentum dan impuls, kita telah meninjau hubungan antara momentum benda dengan
peristiwa tumbukan. Hukum Kekekalan Momentum yang telah diulas sebelumnya juga selalu
ditinjau ketika dua benda saling bertumbukan. Pada kesempatan ini kita akan mempelajari
peristiwa tumbukan secara lebih mendalam dan mencoba melihat hukum-hukum fisika apa saja
yang berlaku ketika benda-benda saling bertumbukan.

16
3.2 TUMBUKAN LENTING SEMPURNA
Tumbukan lenting sempurna tu maksudnya bagaimanakah ? Dua benda dikatakan melakukan
Tumbukan lenting sempurna jika Momentum dan Energi Kinetik kedua benda sebelum
tumbukan = momentum dan energi kinetik setelah tumbukan. Dengan kata lain, pada tumbukan
lenting sempurna berlaku Hukum Kekekalan Momentum dan Hukum Kekekalan Energi Kinetik.
Hukum Kekekalan Momentum dan Hukum Kekekalan Energi Kinetik berlaku pada peristiwa
tumbukan lenting sempurna karena total massa dan kecepatan kedua benda sama, baik sebelum
maupun setelah tumbukan. Hukum Kekekalan Energi Kinetik berlaku pada Tumbukan lenting
sempurna karena selama tumbukan tidak ada energi yang hilang. Untuk memahami konsep ini,
coba jawab pertanyaan berikut ini. Ketika dua bola billiard atau dua kelereng
bertumbukan, apakah anda mendengar bunyi yang diakibatkan oleh tumbukan itu ? atau ketika
mobil atau sepeda motor bertabrakan, apakah ada bunyi yang dihasilkan ? pasti ada bunyi dan
juga panas yang muncul akibat benturan antara dua benda. Bunyi dan panas ini termasuk energi.
Jadi ketika dua benda bertumbukan dan menghasilkan bunyi dan panas, maka ada energi yang
hilang selama proses tumbukan tersebut. Sebagian Energi Kinetik berubah menjadi energi panas
dan energi bunyi. Dengan kata lain, total energi kinetik sebelum tumbukan tidak sama dengan
total energi kinetik setelah tumbukan.
Nah, benda-benda yang mengalami Tumbukan Lenting Sempurna tidak menghasilkan bunyi,
panas atau bentuk energi lain ketika terjadi tumbukan. Tidak ada Energi Kinetik yang hilang
selama proses tumbukan. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa pada peritiwa
Tumbukan Lenting Sempurna berlaku Hukum Kekekalan Energi Kinetik. Apakah tumbukan
lenting sempurna dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari ? Tidak….
Tumbukan lenting sempurna merupakan sesuatu yang sulit kita temukan dalam kehidupan
sehari-hari. Paling tidak ada ada sedikit energi panas dan bunyi yang dihasilkan ketika terjadi
tumbukan. Salah satu contoh tumbukan yang mendekati lenting sempurna adalah tumbukan
antara dua bola elastis, seperti bola billiard. Untuk kasus tumbukan bola billiard, memang energi
kinetik tidak kekal tapi energi total selalu kekal. Lalu apa contoh Tumbukan lenting sempurna ?
contoh jenis tumbukan ini tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang karena terjadi pada tingkat
atom, yakni tumbukan antara atom-atom dan molekul-molekul. Istirahat dulu ah…
Sekarang mari kita tinjau persamaan Hukum Kekekalan Momentum dan Hukum Kekekalan
Energi Kinetik pada perisitiwa Tumbukan Lenting Sempurna. Untuk memudahkan pemahaman
dirimu, perhatikan gambar di bawah.

17
Dua benda, benda 1 dan benda 2 bergerak saling mendekat. Benda 1 bergerak dengan kecepatan
v1 dan benda 2 bergerak dengan kecepatan v2. Kedua benda itu bertumbukan dan terpantul
dalam
arah yang berlawanan. Perhatikan bahwa kecepatan merupakan besaran vektor sehingga
dipengaruhi juga oleh arah. Sesuai dengan kesepakatan, arah ke kanan bertanda positif dan arah
ke kiri bertanda negatif. Karena memiliki massa dan kecepatan, maka kedua benda memiliki
momentum (p = mv) dan energi kinetik (EK = ½ mv2). Total Momentum dan Energi Kinetik
kedua benda sama, baik sebelum tumbukan maupun setelah tumbukan.
Secara matematis, Hukum Kekekalan Momentum dirumuskan sebagai berikut :

m v + m v = m v' +m v' →Persamaan 1


Keterangan :
m1 = massa benda 1, m2 = massa benda 2
v1 = kecepatan benda sebelum tumbukan dan v2 = kecepatan benda 2 Sebelum tumbukan
v’1 = kecepatan benda Setelah tumbukan, v’2 = kecepatan benda 2 setelah tumbukan
Jika dinyatakan dalam momentum,
m1v1 = momentum benda 1 sebelum tumbukan, m1v’1 = momentum benda 1 setelah tumbukan
m2v2 = momentum benda 2 sebelum tumbukan, m2v’2 = momentum benda 2 setelah tumbukan
Pada Tumbukan Lenting Sempurna berlaku juga Hukum Kekekalan Energi Kinetik. Secara
matematis dirumuskan sebagai berikut :
12m₁v₁²-12m₂v₂²= 12m₁v'₁²- 12m₂v'₂²

Keterangan :

12m₁v₁² = EK benda 1 sebelum tumbukan

12m₂v₂² = EK benda 2 sebelum tumbukan

12m₁v'₁² = EK benda 1 setelah tumbukan


18
12m₂v'₂² = EK benda 2 setelah tumbukan

Kita telah menurunkan 2 persamaan untuk Tumbukan Lenting Sempurna, yakni persamaan
Hukum Kekekalan Momentum dan Persamaan Hukum Kekekalan Energi Kinetik. Ada suatu hal
yang menarik, bahwa apabila hanya diketahui massa dan kecepatan awal, maka kecepatan
setelah tumbukan bisa kita tentukan menggunakan suatu persamaan lain. Persamaan ini
diturunkan dari dua persamaan di atas. Persamaan apakah itu ? nah, mari kita turunkan
persamaan tersebut… dipahami perlahan-lahan ya
Sekarang kita tulis kembali persamaan Hukum Kekekalan Momentum :
m₁ v₁+m₂v₂=m₁v'₁+m₂v'₂

m₁ v₁-m₂v₂=m₁v'₁-m₂v'₂

m₁v₁-v'₁=m₂(v'₂-v₂) → Persamaan a

Kita tulis kembali persamaan Hukum Kekekalan Energi Kinetik :


12m₁v₁²-12m₂v₂²= 12m₁v'₁²- 12m₂v₂²

Ini merupakan salah satu persamaan penting dalam Tumbukan Lenting sempurna, selain
persamaan Kekekalan Momentum dan persamaan Kekekalan Energi Kinetik. Persamaan 3
menyatakan bahwa pada Tumbukan Lenting Sempurna, laju kedua benda sebelum dan setelah
tumbukan sama besar tetapi berlawanan arah, berapapun massa benda tersebut.

19
3.3 TUMBUKAN SATU DIMENSI
Tumbukan biasanya dibedakan dari kekal-tidaknya tenaga kinetik selama proses. Bila
tenaga kinetiknya kekal, tumbukannya bersifat elstik. Sedangkan bila tenaga kinetiknya
tidak kekal tumbukannya tidak elastik. Dalam kondisi setelah tumbukan kedua benda
menempel dan bergerak bersama-sama, tumbukannya tidak elastik sempurna.

Tumbukan elastik

sebelum sesudah
m1 m2 m1 m2

v1 v2 v’1
v’2

Dari kekekalan momentum :

m1 v 1 + m2 v2 = m1v’1 + m2v’2
Dari kekekalan tenaga kinetik :

1/2 m1
2
v1 + 1/2m2
2
v2 =
1/2m1v’12 +
1/2 m2v2’2
Dan diperoleh: v1 - v2 = v’2 - v’1

20
Tumbukan tidak elastik
Dari kekekalan momentum :

m1 v1 + m2 v2 = m1v’1 + m2v’2
Kekekalan tenaga mekanik tidak berlaku, berkurang/bertambahnya tenaga mekanik ini
berubah/berasal dari tenaga potensial deformasi (perubahan bentuk).
Dari persamaan ketiga tumbukan elastis dapat dimodifikasi menjadi :

v1 - v2
v’1 - v’2
e : koefisien elastisitas,
e = 1 untuk tumbukan elastis
0 < e < 1 untuk tumbukan tidak elastis
e = 0 untuk tumbukan tidak elastis sempurna

3.4 TUMBUKAN DUA DIMENSI

Dari kekekalan momentum , untuk komponen gerak dalam arah x :

m1v1i = m1v1 f cosθ + m2 v2 f cosφ

untuk komponen gerak dalam komponen y :

0 = m1v1 f sin θ − m2 v2 f sin φ

Bila dianggap tumbukannya lenting :


12 m₁v₁²+ 12m₂ v₂² = 12m₁v’₁² + 1 2m₂v₂’²

Bila keadaan awal diketahui, masih ada 4 besaran yang tidak diketahui, tetapi persaamannya
hanya 3, oleh karena itu slah satu besaran keadaan akhir harus diberikan.

21
BAB IV
PUSAT MASSA
4.1 PENGERTIAN PUSAT MASSA
Dalam gerak translasi, tiap titik pada benda mengalami pergeseran yang sama dengan
titik lainnya sepanjang waktu, sehingga gerak dari salah satu partikel dapat menggambarkan
gerak seluruh benda. Tetapi, walaupun di dalam geraknya, benda juga berotasi atau
bervibrasi, akan ada satu titik pada benda yang bergerak serupa dengan gerak partikel, titik
tersebut disebut pusat massa.

m1 m2 mn

x1
x2
xn

Misalkan terdapat n buah partikel dengan massa masing-masing, m 1, m2, ..., mn,
sepanjang garis lurus dengan jarak dari titik asal masing-masing x1, x2, ..., xn didefinisikan
mempunyai koordinat pusat massa :

m₁x₁ +
m2x2+ ... + mn xn

m₁ + m2+ ...
+ mn
∑ mixi
∑ mi

∑ mixi M

Dengan cara yang sama bila partikel terdistribusi dalam 3 dimensi (ruang), koordinat
pusat massanya adalah

∑ mixiM ∑ miyiM ∑ miziM

22
Untuk benda pejal, misalkan bola, silinder dsb, dianggap benda tersebut tersusun
atas partikel-partikel yang terdistribusi secara kontinu. Bila benda terbagi menjadi n buah
elemen dengan massa masing-masing m dan untuk ∆m 0 koordinat pusat massanya :

mixi ∫ x dm ∫ x dm

∆mi ∫ dm M

miyi ∫y dm ∫ y dm

∆mi ∫ dm M

∑ mizi ∫ z dm ∫ z dm

∑ mi ∫ dm M

4.2 PUSAT MASSA DAN GERAK TRANSLASI


Tinjau gerak sekumpulan partikel, masing-masing massanya m1, m2, ... mn dengan massa
total M yang dianggap konstan. Dari persamaan dituliskan kembali:
Mrcm = m1r1 + m2 r2 + ... + mn rn
Dengan rcm vektor posisi yang menyatakan letak pusat massa partikel dalam suatu
kerangka acuan tertentu. Kita diferensialkan persamaan ini terhadap waktu, kita peroleh:

atau
Mvcm = m1v1 + m2 v2 + ... + mn vn

Dengan adalah kecepatan partikel ke-n, dan adalah kecepatan pusat


massa.
Dari persamaan (4.21) kita melihat bahwa momentum total dari sistem sama dengan hasil
kali massa total dengan kecepatan pusat massa sistem. Persamaan (4.21) didefernsialkan
terhadap waktu diperoleh:

23
atau
Macm = m1a1 + m2 a2 + ...+ mn an
Dengan acm adalah percepatan pusat massa sistem, sedang an adalah percepatan partikel
ke-n. Berdasarkan hukum gerak Newton kedua, persamaan (5.22) dapat ditulis menjadi:
Macm = F1+ F2 + ...+ Fn = Ftotal
Jadi dengan semua gaya-gaya yang bekerja pada sistem sama denganmassa total dari
sistem dikalikan dengan percepatan pusat massanya. Pusat massa dari sistem dengan massa
total M bergerak seperti sebuah partiekl tunggal bermassa M disebabkan oleh gaya eksternal
yang sama.
4.3 GERAK PUSAT MASSA
Terdapat sekumpulan partikel dengan massa masing-masing : m1, m2, ... , mn dengan massa
total M. Dari teori pusat massa diperoleh :
M rpm = m1r1 + m2r2+ ... + mn rn
dengan rpm adalah pusat massa susunan partikel tersebut.
Bila persamaan tersebut dideferensialkan terhadap waktu t, diperoleh
M drpm /dt= m1 dr1/dt + m2 dr2/dt + ... + mn drn/dt
M vpm = m1v1 + m2v2+ ... + mn vn

Bila dideferensialkan sekali lagi, diperoleh


M dvpm /dt= m1 dv1/dt + m2 dv2/dt + ... + mn dvn/dt
M apm = m1 a1 + m2 a2+ ... + mn an
Menurut hukum Newton, F = m a, maka F1 = m1 a1, F2 = m2 a2 dst.

F1

F2

24
Fn

M apm = F1 + F2+ ... + Fn

Jadi massa total dikalikan percepatan pusat massa sama dengan jumlah vektor semua gaya
yang bekerja pada sekelompok partikel tersebut. Karena gaya internal selalu muncul
berpasangan (saling meniadakan), maka tinggal gaya eksternal saja

M apm = Feks

Pusat massa suatu sistem partikel bergerak seolah-olah dengan seluruh sistem dipusatkan
di pusat massa itu dan semua gaya eksternal bekerja di titik tersebut.

25
Contoh Soal :
1. Seorang penembak memegang sebuah senapan 3 kg dengan bebas sehingga membiarkan
senapan bergerak secara bebas ketika menembakkan sebutir peluru bermassa 5 gram.
Peluru itu keluar dari moncong senapan dengan kecepatan horisontal 300 m/s. Berapa
kecepatan hentakan senapan ketika peluru ditembakkan?
Penyelesaian:
Diketahui : Benda 1 (senapan) m1 = 3 kg; v1 = 0
Benda 2 (peluru ) m2 = 5 g ; v2 = 0 ; v2’ = 300 m/s.
Ditanya : v1’ = …?
Jawab : Gunakanlah hukum kekekalan momentum
m1.v1 + m2.v2 = m1.v1’ + m2.v2’
3.0 + 5.10–3.0 = 3. v1’ + 5.10–3. 300
0 = 3. v1’ + 1,5
–3. v1’ = 1,5 –––––––––> v1’ = 1,5/–3 = –0,5 m/s
2. Dua nelayan sedang berada di perahu yang bergerak dengan kecepatan 2 m/s. Massa
perahu 200 kg dan massa tiap nelayan 50 kg. Berapa kecepatan perah sesaat sesudah :
a. Seorang nelayan terjatuh
b. b. Seorang nelayan melompat dari perahu dengan kecepatan 4 m/s searah dengan
gerak perahu
c. Seorang nelayan melompat dari perahu dengan kecepatan 4 m/s berlawanan arah
dengan gerak perahu
Penyelesaian:
Diketahui:
m1 = massa perahu + massa satu orang= 200 + 50 = 250 kg
m2 = massa satu orang = 50 kg
v1 = v2 = v = 2 m/s;

Ditanya :
a. v1’ = …? Jika v2’ = 0
26
b. v1’ = …?Jika v2’ = 4 m/s
c. v1’ = …? Jika v2’ = – 4 m/s
Jawab :
Gunakanlah hukum kekekalan momentum
m1.v1 + m2.v2 = m1.v1’ + m2.v2’
250.2 + 50.2 = 250. v1’ + 50.0
500 + 100 = 250. v1’ + 0
250. v1’ = 600 –––––––––> v1’ = 600/250 = 2,4 m/s
a. m1.v1 + m2.v2 = m1.v1’ + m2.v2’
250.2 + 50.2 = 250. v1’ + 50. 4
500 + 100 = 250. v1’ + 200
250. v1’ = 400 –––––––––> v1’ = 400/250 = 1,6 m/s
b. m1.v1 + m2.v2 = m1.v1’ + m2.v2’
250.2 + 50.2 = 250. v1’ + 50.(– 4)
500 + 100 = 250. v1’ – 200
250. v1’ = 800 –––––––––> v1’ = 800/250 = 3,2 m/s
3. Sebuah bola dengan massa 40 gram bergerak ke kanan dengan kelajuan 30 m/s
menumbuk bola lain yang massanya 80 gram yang mula-mulla diam. Jika tumbukan
lenting sempurna, berapakah kecepatan masing-masing bola setelah tumbukan?
Penyelesaian:
Diketahui : m1 = 40 gram; m2 = 80 gram;
v1 = 30 m/s; v2 = 0
Ditanya : v1’ = …? dan v2’ = …? (tumbukan lenting sempurna)
Jawab: Gunakanlah persamaan : v1 + v1’ = v2 + v2’
30 + v1’ = 0 + v2’ –––> v2’ = 30 + v1’
Hukum kekekalan momentum:
m1.v1 + m2.v2 = m1.v1’ + m2.v2’
40.30 + 80.0 = 40. v1’ + 80.( 30 + v1’)
1200 + 0 = 40. v1’ + 2400 + 80.v1’
1200 – 2400 = 120. v1’
–1200 = 120. v1’ ––––––> v1’ = –1200/120 = –10 m/s
27
Dari hasil v1’ = –10 m/s, maka v2’ = 30 + (–10) ––––> v2’ = 20 m/s
Tanda (–) menandakan bahwa arah kecepatan berlawanan arah dengan arah semula.
4. Dua buah bola masing-masing massanya 2 kg dan 4 kg bergerak saling mendekati
dengan kecepatan masing-masing 4 m/s dan 0,5 m/s, hingga saling bertumbukan. Jika
tunbukan tidak lenting sama sekali, hitunglah kecepatan kedua bola setelah
bertumbukan!
Penyelesaian:
Diketahui : m1 = 2 kg; m2 = 4 kg;
v1 = 4 m/s; v2 = –0,5 m/s
Ditanya : v1’ = …? dan v2’ = …? (tumbukan tidak lenting sama sekali)
Jawab : Gunakanlah persamaan : v1’ = v2’ = v’
Hukum kekekalan momentum :
m1.v1 + m2.v2 = m1.v1’ + m2.v2’
4 + 4.(–0,5) = 2. v’ + 4.v’
8 – 2 = 6. v’ ––––––> 6. v’ = 6 ––––> v’ =6/6 = 1 m/s
Jadi kecepatan kedua benda setelah tumbukan adalah 1 m/s.
5. Sebuah peluru 8,00 g ditembakkan pada balok 2,50 kg yang berada pada ujung meja
sangat licin setinggi 1,00 m. Peluru tersebut bersarang pada balok dan balok jatuh sejauh
2,00 m dari kaki meja. Tentukan kecepatan peluru sesaat sebelum menembus balok.

Penyelsaian :
Diketahui : mp = 8,00 g ; mb = 2,50 kg ; vb = 0 ; h = 1,00 m ; x = 2,00 m
Ditanyakan : kecepatan peluru sebelum menembus balok, vp
Jawab : Misalkan kecepatan balok sesaat setelah peluru bersarang adalah vo arahnya
mendatar. Kecepatan tersebut merupakan kecepatan awal benda jatuh.

28
Hukum kekekalan momentum : mpvp = (mp + mb)vo  vp = (mp + mb)vo/mp
Misalkan bergerak jatuh selama t,
maka h = gt2/2  t = (2h/g)1/2 = {2(1,00 m)/(9,80 ms-2)1/2  t = 0,45 s.
x = vot  vo = x/t = (2,00 m)/(0,45 s) = 4,44 m/s
vp = (8,00 x 10-3 kg + 2,50 kg)(4,44 m/s)/(8,00 x 10-3 kg) = 1,39 x 103 m/s

29
DAFTAR PUSTAKA

http://www.gurumuda.com
http://www1.pintugerbang.net/mod/book/view.php?id=126&chapterid=49

Giancoli, Douglas C., 2001, Fisika Jilid I (terjemahan), Jakarta : Penerbit Erlangga
Halliday dan Resnick, 1991, Fisika Jilid I, Terjemahan, Jakarta : Penerbit Erlangga
Tipler, P.A.,1998, Fisika untuk Sains dan Teknik–Jilid I (terjemahan), Jakarta : Penebit
Erlangga
Young, Hugh D. & Freedman, Roger A., 2002, Fisika Universitas (terjemahan), Jakarta :
Penerbit Erlangga
http://www.unhas.ac.id/~mkufisika/bab4/md4g.html
http://www.google.co.id
http://bima.ipb.ac.id/~tpb-ipb/materi/fisika_pdf/P13-FISIKA%20MODERN.pdf

www.forumsains.com/fisika-smu/soal-momentum-dan-energi

www.scribd.com/doc/2320655/Fisika-Soal-Jawab-Fisika-OSN-2007

www.olimpiade.org

fisikarudy.wordpress.com/2008/06/10/pembinaan-olimpiade-sains

30