AUDIT SIKLUS PRODUKSI DAN JASA PERSONALIA

Disusun oleh : (Kelas CC)

1. Juwita Puspitasari 2. Lita Permata Sari 3. Rachma Ayu

(0910233085) (0910233096) (0910233109)

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2012

AUDIT SIKLUS PRODUKSI DAN JASA PERSONALIA

I. AUDIT SIKLUS PRODUKSI MERENCANAKAN AUDIT ATAS SIKLUS PRODUKSI Siklus produksi berhubungan dengan konversi bahan baku menjadi bahan jadi. Siklus ini meliputi perencanaan serta pengendalian produksi dari jenis-jenis dan kuantitas barang yang akan diproduksi, tingkat persediaan yang akan dipertahankan, serta transaksi dan peristiwa yang berkaitan dengan proses pabrikasi. Transaksi yang terjadi dalam siklus ini mulai pada saat bahan baku diminta untuk produksi, dan berakhir ketika barang yang diproduksi ditransfer ke barang jadi. Transaksi yang terjadi dalam siklus ini disebut sebagai transaksi pabrikasi. Siklus produksi saling berkaitan dengan tiga siklus lain berikut ini : a. Siklus pengeluaran dalam pembelian bahan baku dan pembayaran berbagai biaya overhead b. Siklus jasa personalia dalam pembayaran biaya tenaga kerja pabrik c. Siklus pendapatan dalam penjualan barang jadi Tujuan Audit Dua kelompok tujuan audit yaitu : a. Tujuan audit atas kelompok transaksi yang berkaitan dengan transaksi pabrikasi b. Tujuan audit atas saldo akun yang berkaitan dengan saldo persediaan serta harga pokok penjualan. Kategori Asersi Tujuan Audit atas Kelompok Transaksi Tujuan Audit atas Saldo Akun

Eksistensi atau Transaksi Kejadian

pabrikasi

yang Persediaan yang tercetak dalam

dicatat menyajikan bahan, neraca secara fisik ada. tenaga kerja, dan overhead Harga pokok harga penjualan pokok

yang ditransfer ke produksi menunjukkan

serta pemindahan produksi barang yang dikirimkan (dijual) yang sudah selesai ke barang selama periode berjalan. jadi selama periode berjalan. Kelengkapan Semua transaksi pabrikasi Persediaan yang terjadi selama periode bahan, berjalan sudah dicatat. perlengkapan mencakup produk, yang ada semua dan di

tangan pada tanggal neraca. Harga mencakup transaksi pokok dampak penjualan penjualan semua selama

periode berjalan. Hak Kewajiban dan Entitas memegang hak atas Entitas pelapor memegang hak persediaan yang berasal dari milik transaksi dicatat. Penilaian atau Transaksi Alokasi pabrikasi telah Persediaan telah dinyatakan pabrikasi atas persediaan pada

yang tanggal neraca.

dijurnal, diikhtisarkan, dan dengan tepat pada harga yang dibukukan atau diposting terendah antara harga pokok dan harga pasar. Harga didasarkan pokok pada penjualan penerapan

dengan benar.

metode arus biaya yang berlaku secara konsisten.

Penyajian dan Rincian transaksi pabrikasi Persediaan dan harga pokok Pengungkapan mendukung dalam termasuk penyajiannya penjualan telah diidentifikasi

laporan

keuangan dan diklasifikasikan secara tepat dan dalam laporan keuangan. Pengungkapan berhubungan dengan yang dasar

klasifikasi

pengungkapannya.

penilaian dan pengagunan atau

penjaminan persediaan sudah memadai.

Menggunakan Pemahaman tentang Bisnis dan Industri untuk Mengembangkan Strategi Audit Pemahaman tentang bisnis dan industri klien akan membantu auditor dalam merancang program audit yang efektif dan efisien. Bagi banyak perusahaan persediaan pabrikasi merupakan proses inti, dan kemampuan entitas itu untuk menghasilkan laba serta arus kas akan tergantung pada seberapa baik proses pabrikasi itu dikelola. Bagi banyak perusahaan distribusi dan eceran, manajemen persediaan merupakan hal yang penting untuk mencapai keberhasilan. Materialitas, Risiko Inheren, dan Prosedur Analitis 1. Materialitas Pertimbangan utama dalam mengevaluasi alokasi materialitas adalah penentuan besarnya salah saji yang akan mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan yang berakal sehat. Pertimbangan sekunder adalah hubungannya dengan biaya untuk mendeteksi kesalahan. Umumnya audit atas persediaan termasuk mengamati keberadaan persediaan dan mengaudit ketepatan penilaian persediaan memerlukan banyak biaya. Akibatnya, auditor biasanya akan mengalokasikan suatu jumlah yang signifikan dari keseluruhan materialitas ke audit persediaan, tanpa melebihi jumlah yang ia anggap akan mempengaruhi analisis pemakai laporan keuangan. 2. Risiko Inheren Risiko inheren dari terjadinya salah saji dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh transaksi persediaan pada jaringan hotel atau distrik sekolah relatif rendah, karena persediaan bukan merupakan bagian yang material dari proses inti entitas itu. 3. Prosedur analitis Prosedur analitis adalah prosedur yang murah dari segi biaya dan dapat membuat auditor waspada terhadap potensi terjadinya salah saji. Jika persediaan bersifat material bagi audit

laporan keuangan, maka auditor tidak boleh menganggap bahwa prosedur analitis merupakan pengganti untuk pengujian rincian lainnya, tetapi prosedur ini bisa sangat efektif dalam memusatkan perhatian audit dimana salah saji mungkin terjadi. Mempertimbangkan Komponen Pengendalian Internal Prosedur analitis yang biasa digunakan untuk mengaudit siklus produksi : 1. Rasio jumlah hari perputaran persediaanRata-rata hutang persediaan: Harga Pokok Penjualan x 365 2. Rasio Pertumbuhan persediaan terhadap pertumbuhan harga pokok penjualan 3. Rasio barang jadi yang diproduksi terhadap bahan baku yang digunakan 4. Rasio barang jadi yang diproduksi terhadap tenaga kerja langsung 5. Rasio produk yang cacat per jutaJumlah produk cacat sebagai persentase dari setiap juta yang diproduksi

AKTIVITAS PENGENDALIAN-TRANSAKSI PABRIKASI Dokumen dan Catatan yang Lazim Dokumen dan catatan berikut ini penting dalam memproses transaksi pabrikasi : 1. Perintah produksi 2. Laporan kebutuhan bahan 3. Slip pengeluaran bahan 4. Tiket waktu 5. Tiket perpindahan 6. Laporan aktivitas produksi harian 7. Laporan produksi yang sudah selesai 8. Buku besar pembantu atau file induk persediaan 9. File induk biaya standar 10. File induk persediaan bahan baku 11. File induk persediaan barang dalam proses 12. File induk persediaan barang jadi Fungsi-fungsi dan Pengendalian yang Terkait Pelaksanaan dan pencatatan transaksi pabrikasi serta pengamanan persediaan melibatkan fungsi-fungsi pabrikasi berikut ini :

1. Memulai produksi a. Merencanakan dan mengendalikan produksi b. Mengeluarkan bahan baku 2. Memindahkan barang a. Memproses barang dalam produksi b. Memindahkan pekerjaan yang sudah selesai ke barang jadi c. Melindungi persediaan 3. Mencatat transaksi pabrikasi dan persediaan a. Menentukan dan mencatat biaya-biaya pabrikasi b. Menjaga kebenaran saldo-saldo persediaan Mendapatkan Pemahaman dan Menilai Risiko Pengendalian Prosedur ini meliputi review atas pengalaman sebelumnay dengan klien bersangkutan, jika ada, pengajuan pertanyaan kepada manajemen serta personil produksi lainnya, pemeriksaan dokumen dan catatan produksi, serta pengamatan atas aktivitas dan kondisi produksi. Prosedur ini juga mencakup penggunaan kuesioner pengendalian internal, bagan arus, dan memorandum naratif.

PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO PERSEDIAAN Menentukan Risiko Deteksi untuk Pengujian Rincian Spesifikasi auditor mengenai tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untukpengujian rincian atas asersi-asersi persediaan akan mencerminkan suatu hubungan terbalik dengan risiko inheren, risiko pengendalian, dan risiko prosedur analitis yang relevan berkaitan dengan asersiasersi itu. Merancang Pengujian Substantif  Prosedur Awal Salah satu prosedur awal yang penting adalah menyangkut usaha untuk mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan industri klien guna menetapkan konteks untuk mengevaluasi prosedur analitis dan pengujian rincian.  Prosedur Analitis Auditor biasanya akan melakukan prosedur analitis pada awal pelaksanan audit atas siklus personalia. Prosedur analitis sangat bermanfaat dalam mengidentifikasi kecurangan potensial seperti misalnya apabila gaji atau upah kotor pegawai lebih tinggi dari jumlah yang

diperkirakan auditor. Prosedur ini akan sangat efektif apabila auditor dapat menggunakan perangkat lunak audit digenerelisasi, mengelompokkan pegawai berdasarkan kategori pegawai, dan kemudian menganalisis gaji atau upah rata-rata per kategori pegawai.  Pengujian Rincian Transaksi Pengujian ini melibatkan prosedur pemeriksaan dokumen pendukung (vouching) dan penelusuran untuk mendapatkan bukti tentang pemrosesan setiap transaksi yang mempengaruhi saldo persediaan. Dalam pengujian ini yang harus diperhatikan adalah pengujian ayat jurnal atas akun persediaan dan ketepatan pisah batas transaksi persediaan pada akhir periode akuntansi.  Pengujian Rincian Saldo Dalam pengujian ini yang perlu dilakukan oleh auditor adalah: a. Mengamati perhitungan persediaan fisik klien Penetapan waktu dan luas pengujian Rencana penghitungan persediaaan Melaksanakan pengujian Persediaan yang ditentukan dengan sampel statistik Pengamatan persediaan awal Dampak terhadap laporan auditor Aplikabilitas pada asersi

b. Pengujian klerikal atas akurasi daftar persediaan c. Pengujian penetapan harga persediaan Pengujian harga pokok persediaan yang diproduksi

d. Mengkonfirmasi persediaan pada lokasi-lokasi di luar estimasi e. Memeriksa perjanjian dan kontrak konsinyasi  Pengujian Rincian Saldo Estimasi Akuntansi Audit atas estimasi akuntansi sangat menantang karena bersifat prospektif. Tanggung jawab auditor atas kualitas terbatas hanya sebagai pengamat yang telah cukup memperoleh informasi mengenai hal itu. Ini berarti bahwa auditor hanya diharapkan menentukan apakah persediaan sudah berada dalam kondisi siap dijual, digunakan, atau dikonsumsi, dan apakah ada barang yang usang, lambat bergerak, atau rusak.  Perbandingan Penyajian Laporan dengan GAAP Bukti yang berhubungan dengan penyajian dan pengungkapan laporan diberikan oleh pengujian-pengujian substantif di atas. Bukti lebih lanjut dapat diperoleh sesuai yang diperlukan, dari review atas notulen rapat-rapat dewan direktur dan dari pegajuan pertanyaan kepada manajemen. Berdasarkan bukti dan perbandingan laporan keuangan klien

dengan ketentuan-ketentuan akuntansi yang berlaku, auditor menetapkan ketepatan penyajian dan pengungkapan.

JASA BERNILAI TAMBAH DALAM SIKLUS PRODUKSI Banyak akuntan publik yang telah membantu klien mengembangkan sistem persediaan just-in-time dengan menggunakan pertukaran data elektronik(EDI/Electronic Data Interchange) untuk berkomunikasi dengan pemasok. Selain itu, mereka juga membantu klien dalam mengeliminasi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah dari proses pabrikasi. Para akuntan publik ini secara teratur memberikan rekomendasi untuk menyempurnakan sistem informasi yang memungkinkan manajemen memantau dan mengendalikan penciutan persediaan dengan lebih baik, serta mencocokkan kuantitas persediaan dengan permintaan secara lebih baik. Dewasa ini, para akuntan publik telah menolong klien dalam menata ulang proses reenginering yang berkaitan dengan e-business.

II. AUDIT SIKLUS JASA PERSONALIA MERENCANAKAN AUDIT ATAS SIKLUS JASA PERSONALIA Siklus jasa personalia suatu entitas menyangkut peristiwa dan aktivitas yang berhubungan dengan kompensasi eksekutif serta karyawan. Jenis-jenis kompensasi ini meliputi gaji, upah per jam, dan insetif, komisi, bonus, opsi saham, dan tunjangan karyawan. Kelompok transaksi utama dalam siklus ini adalah transaksi penggajian. Tujuan Audit Kategori Asersi Eksistensi atau Kejadian Tujuan Audit atas Kelompok Transaksi Beban gaji dan upah serta beban pajak gaji dan upah yang tercatat berhubungan dengan kompensasi untuk jasa yang diberikan selama periode berjalan. Saldo kewajiban gaji dan upah akrual serta pajak gaji dan upah menunjukkan jumlah yang terhutang pada tanggal neraca. Tujuan Audit atas Saldo Akun

Kelengkapan

Beban gaji dan upah serta beban pajak gaji dan upah yang tercatat mencakup semua beban semacam itu yang terjadi untuk jasa personalia selama tahun berjalan.

Kewajiban gaji dan upah akrual serta pajak mencakup semua jumlah yang terutang kepada personel dan lembaga pemerintah pada tanggal neraca.

Hak dan Kewajiban

Kewajiban gaji dan upah akrual serta pajak gaji dan upah adalh kewajiban entitas yang melaporkan.

Penilaian atau Alokasi

Beban gaji dan upah serta baban pajak gaji dan upah telah dihitung serta dicatat secara akurat.

Kewajiban gaji dan upah akrual serta pajak gaji dan upah telah dihitung serta dicatat secara akurat. Distribusi tenaga kerja pabrik telah dihitung dan dicatat dengan benar.

Penyajian dan Pengungkapan

Beban gaji dan upah serta beban pajak gaji dan upah telah diidentifikasi serta diklasifikasikan dengan tepat dalam laporan laba rugi.

Akun kewajiban gaji dan upah akrual serta pajak gaji dan upah telah diidentifikasi serta diklasifikasikan dengan tepat dalam neraca. Laporan keuangan memuat pengungkapan yang layak atas pensiun dan program tunjangan lainnya.

Menggunakan Pemahaman tentang Bisnis dan Industri untuk Mengembangkan Strategi Audit Sebelum melanjutkan audit atas jasa personalia, adalah penting bagi auditor untuk memahami:  Pentingnya jasa personalia bagi keseluruhan entitas.

 

Sifat kompensasi, karena kompensasi per jam memerlukan sistem pengendalian yang berbeda dengan kompensasi gaji. Pentingnya berbagai paket kompensasi seperti bonus, opsi saham dan hak apresiasi saham, serta penggajian pensiun.

Materialitas, Risiko Inheren, dan Prosedur Analitis 1. Materialitas Untuk perusahaan perangkat lunak dan perusahaan jasa seperti bank, perusahaan asuransi, dan kantor profesional, jasa personalia merupakan beban utama. Untuk sekolah, jasa personalia mungkin menjadi pengeluaran yang utama. 2. Risiko Inheren Auditor jarang memperhatikan asersi kelengkapan dalam siklus gaji dan upah karena sebagian besar karyawan akan segera menuntut majikan mereka jika tidak dibayar. Akan tetapi, penipuan gaji dan upah telah menjadi perhatian utama auditor. 3. Prosedur Analitis Auditor biasanya akan melakukan prosedur analitis ketika memulai audit atas siklus jasa personalia karena prosedur ini efektif dari segi biaya. Mempertimbangkan Komponen Pengendalian Internal Seperti untuk kelompok transaksi utama lainnya, kelima komponen pengendalian internal dianggap relevan dengan siklus jasa personalia. Beberapa faktor lingkungan pengendalian mempunyai relevansi yang bersifat langsung. Keseluruhan tanggung jawab atas masalah personalia seringkali diserahkan kepada wakil direktur hubungan industrial atau tenaga kerja, atau kepada manajer SDM atau personalia. Departemen SDM biasanya bertanggung jawab atas otorisasi pengangkatan personel dan mengotorisasi pembayaran gaji, upah, serta tunjangan. Dewan direktur biasanya menetapkan gaji pejabat dan bentuk-bentuk kompensasi pejabat lainnya. Departemen yang mungkin secara signifikan terlibat dalam pemrosesan transaksi gaji dan upah meliputi pencatatan waktu, penggajian, serta kantor bendahara. Aktivitas pemantauan yang dapat diterapkan atas penggajian mencakup umpan balik dari karyawan mengenai masalah pembayaran, umpan balik dari badan pemerintah mengenai masalah pelaporan serta pembayaran pajak gaji dan upah, penilaian efektivitas pengendalian gaji dan upah oleh auditor internal, dan pengawasan kompensasi eksekutif oleh komite audit.

AKTIVITAS PENGENDALIAN-TRANSAKSI PENGGAJIAN Dokumen dan Catatan yang Lazim

Dokumen dan catatan berikut ini penting dalam melaksanakan serta mencatat mencatat transaksi penggajian: 1. Otorisasi personalia 2. Kartu absen/clock card 3. Tiket waktu/time ticket 4. Register penggajian 5. Rekening bank untuk penggajian imprest 6. Cek gaji 7. Ikhtisar distribusi biaya tenaga kerja 8. SPT pajak gaji dan upah 9. File personalia karyawan 10. File induk data personalia 11. File induk penghasilan karyawan Fungsi-fungsi dan Pengendalian yang Terkait Pemrosesan transaksi penggajian melibatkan fungsi-fungsi penggajian berikut ini : 1. Memulai transaksi penggajian yang mencakup a. Mengangkat karyawan b. Mengotorisasi perubahan gaji dan upah 2. Penerimaan jasa, mencakup : a. Menyiapkan data kehadiran dan pencatatan waktu 3. Pencatatan transaksi penggajian, mencakup : a. Menyiapkan daftar serta mencatat gaji dan upah 4. Pembayaran gaji dan upah, mencakup : a. Membayar gaji dan upah serta menjaga upah yang belum diambil b. Menyerahkan SPT pajak gaji dan upah Mendapatkan suatu Pemahaman dan Menilai Risiko Pengendalian Prosedur-prosedur ini pada dasarnya sama dengan kelompok transaksi utama lainnya, yaitu mencakup pengajuan pertanyaan, penelaahan dokumentasi, pengamatan serta pertimbangan pengalaman sebelumnya dengan klien. Proses penilaian risiko pengendalian untuk transaksi penggajian dimulai dengan mengidentifikasi potensi salah saji serta pengendalian yang diperlukan. Pengujian atas pengendalian yang terprogram untuk mendukung penilaian risiko pengendalian yang rendah biasanya akan mencakup suatu pengujian langsung atas program itu,

pengujian atas pengendalian umum bahwa program itu tidak dapat diubah tanpa otorisasi, dan pengujian atas prosedur yang menindaklanjuti penyimpangan/pengecualian.

PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO PENGGAJIAN Menentukan Risiko Deteksi Pengujian substantif atas saldo-saldo gaji dan upah seringkali dibatasi pada penerapan prosedur analitis atas akun-akun beban dan pos-pos akrual yang terkait, serta pengujian rincian yang terbatas. Jika prosedur analitis trsebut mengungkapkan fluktusi yang tidak diduga, maka akan diperlukan pengujian rincian yang lebih ekstensif.

Merancang Pengujian Substantif Apabila tidak terungkap fluktuasi yang tidak diduga leh prosedur ini, auditor sudah memperoleh bukti yang mendukung tujuan audit yang berkaitan dengan asersi

ekstensi/keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, serta penilaian atau alokasi yaitu : 1. Menghitung kembali jumlah-jumlah akrual 2. Mengaudit tunjangan karyawan dan program pensiun 3. Mengaudit opsi saham dan hak apresiasi saham 4. Memverivikasi kompensasi pejabat

JASA BERNILAI TAMBAH DALAM SIKLUS JASA PERSONALIA Akuntan publik dapat membantu dengan : 1. Menyarankan ukuran produktivitas karyawan yang tepat. 2. Mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat diambil klien untuk meningkatkan produktivitas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful