ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FENOLIK DARI KULIT AKAR TUMBUHAN Artocarpus dadah Miq.

(Skripsi)

Oleh

Indarto

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2009

ABSTRAK

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FENOLIK DARI KULIT AKAR TUMBUHAN Artocarpus dadah Miq.

Oleh

Indarto

Tumbuhan Artocarpus dadah Miq. merupakan salah satu spesies Artocarpus dari famili Moraceae yang termasuk tumbuhan langka di alam. Tumbuhan ini dikenal sebagai sumber utama senyawa turunan fenolik yaitu senyawa flavon di atau trioksigenasi dan terisoprenilasi pada posisi C-3, dan juga dikenal sebagai sumber utama senyawa fenolik turunan flavonoid, aril-benzofuran, stilbenoid dan santon turunan flavonoida, yang memiliki aktivitas biologi sebagai promotor antitumor, antibakteri, antifungal, antiimflamatori, antikanker dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa fenolik yang terkandung dalam tumbuhan A. dadah yang diperoleh dari desa Purwoasri, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, Provinsi Lampung. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi pengumpulan dan persiapan sampel kemudian ekstraksi, isolasi, dan pemurnian senyawa menggunakan metode KCV, kromatografi flash, KKG, dan KLT, sedangkan identifikasi senyawa dilakukan menggunakan spektroskopi ultraungu-tampak (UV-VIS) dan inframerah (IR). Pada penelitian ini telah berhasil diisolasi tiga senyawa, yang salah satunya diperkirakan senyawa flavonoid berdasarkan data spektrum UV-VIS dan IR yang juga memiliki aktivitas tinggi terhadap sel murine leukemia P-388 dengan IC50 3,1 μg/mL. Berdasarkan data spektrum IR untuk dua senyawa yang lain terdapat serapan –OH pada daerah 3200-3500 cm-1, serapan C=C aromatik di daerah 16001400 cm-1, sehingga diperkirakan kedua senyawa tersebut merupakan senyawa golongan fenolik.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan sumber daya alam terutama tumbuhan. Indonesia dikenal sebagai megabiodiversity terbesar ke dua di dunia setelah Brasilia. Tumbuhan merupakan sumber bahan kimia hayati (chemical resources), sehingga biodiversitas dapat dipandang sebagai suatu industri atau pabrik bahan kimiawi yang berproduksi sepanjang tahun menghasilkan bahan kimia berguna (Chemical Prospectives) melalui proses rekayasa bioteknologi alami (Ersam, 2004). Senyawa kimiawi hasil isolasi dari tumbuhan banyak dimanfaatkan sebagai obat. Di Indonesia spesies tumbuhan yang banyak dimanfaatkan sebagai obat salah satunya berasal dari famili Moraceae.

Moraceae merupakan suatu famili tumbuhan di alam yang merupakan produk dari keanekaragaman hayati di hutan tropik maupun subtropik. Salah satu genus dari famili ini adalah Artocarpus. Di Indonesia sendiri Artocarpus banyak dimanfaatkan sebagai ramuan obat tradisional, misalnya bunga dari A. communis dimanfaatkan untuk mengobati sakit gigi, abu dari daunnya digunakan untuk mengobati sakit kulit, dan bagian daunnya digunakan untuk mengobati pendarahan. Begitu juga dengan kulit batang A. elastica yang digunakan untuk

mencegah kehamilan, daunnya digunakan untuk obat tuberkolosis, sedangkan getahnya untuk obat disentri (Heyne,1987 dalam Suhartati, 2001).

Tumbuhan Artocarpus dadah Miq. merupakan salah satu spesies dari Artocarpus yang termasuk tumbuhan langka di alam. A. dadah ini merupakan tumbuhan yang endemik hanya di Indonesia dan masih sedikit sekali orang yang meneliti. A. dadah dikenal sebagai sumber utama senyawa turunan fenolik yaitu senyawa flavon di atau tri-oksigenasi dan terisoprenilasi pada posisi C-3. Tumbuhan A. dadah ini juga dikenal sebagai sumber utama senyawa fenolik turunan flavonoid, aril-benzofuran, stilbenoid dan santon turunan flavonoida, yang memiliki aktivitas biologi sebagai promotor antitumor, antibakteri, antifungal, antiimflamatori, antikanker dan lain-lain (Achmad, 1999; Agustina, 1999; Yuliani, 1997 dalam Ersam, 2004). Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian terhadap tumbuhan Artocarpus ini, khususnya A. dadah.

Senyawa fenolik terdiri dari beragam senyawa dengan ciri yang sama, yaitu cincin aromatik yang mempunyai satu atau lebih substituen hidroksil. Senyawa fenolik banyak diteliti karena diketahui mempunyai aktivitas biologis dan efek farmakologi yang menarik, seperti antibakteri (Sultanbawa et al., 1987), anti-HIV (Dai et al., 1998), antiinflamasi (Huang et al., 2001), fitoaleksin, dan antijamur (Bokel et al., 1988).

Senyawa fenolik termasuk senyawa metabolit sekunder. Senyawa metabolit sekunder dalam tumbuhan terdistribusi pada berbagai bagian tumbuhan, dan dari masing-masing bagian tersebut memiliki jenis dan kuantitas senyawa yang berbeda (Mursito, 2002), sehingga pada penelitian ini dipilih bagian kulit akar

dari tumbuhan A. dadah. Pemilihan kulit akar ini diharapkan senyawa metabolit sekunder yang terkandung lebih bervariasi dibandingkan bagian tumbuhan yang lain. Karena kulit akar berinteraksi langsung dengan tanah yang merupakan sumber dari semua senyawa kimia.

Dari fraksinasi ekstrak etilasetat A. dadah telah berhasil diisolasi tiga turunan stilbenoid terprenilasi baru yaitu 3-(γ,γ-dimetilalil) resveratrol, 5-(γ,γ-dimetilalil) oksiresveratrol, 3-(2,3-dihidroksi-3-metilbutil) resveratrol, dan satu turunan benzofuran baru, 3-(γ,γ-dimetilpropenil) moracin M (Su et al., 2002). Senyawasenyawa fenolik yang ditemukan pada tumbuhan tropika Indonesia mempunyai tingkat oksidasi yang lebih maju dibandingkan tumbuhan dari tempat lain, keadaan geologis yang berbeda akan mempengaruhi kandungan senyawa dalam suatu tumbuhan (Ersam, 2004). Oleh sebab itu, penelitian dilakukan terhadap tumbuhan A. dadah yang tumbuh di Desa Purwoasri Kecamatan Metro Utara Kota Metro Provinsi Lampung.

Metode isolasi senyawa fenolik dilakukan dengan cara maserasi menggunakan metanol. Metode maserasi dipilih agar senyawa yang akan diisolasi tidak rusak, karena pada metode ini tidak ada perlakuan khusus seperti pemanasan (Harborne, 1996). Metanol dipilih sebagai pelarut karena metanol bersifat polar, sehingga cocok sebagai pelarut senyawa fenolik yang juga bersifat polar. Pemisahan dilakukan dengan cara kromatografi cair vakum (KCV), kromatografi flash, dan kromatografi kolom gravitasi (KKG). Identifikasi kemurnian dilakukan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dan uji titik leleh. Identifikasi struktur molekul dilakukan dengan menggunakan spektroskopi ultraungu-tampak

(UV-VIS) untuk melihat ada tidaknya ikatan rangkap terkonjugasi, spektroskopi inframerah (IR) untuk melihat keberadaan gugus fungsinya, dan spektroskopi resonansi magnetik inti (1H-RMI) untuk melihat posisi atau jumlah proton (atom H).

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa fenolik dari kulit akar tumbuhan Artocarpus dadah yang tumbuh di Desa Purwoasri Kecamatan Metro Utara Kota Metro Provinsi Lampung.

C. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai senyawa fenolik dari tumbuhan Artocarpus pada umumnya, khususnya pada tumbuhan Artocarpus dadah Miq. Informasi tersebut diharapkan dapat memperkaya pengetahuan tentang senyawa fenolik dari tumbuhan Artocarpus.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Moraceae

Tumbuhan yang masuk pada Famili Moraceae merupakan tumbuhan yang berbatang kayu, jarang sekali berupa terna dan merupakan tumbuhan penghasil getah. Daun tunggal dan tersebar, seringkali dengan daun penumpu besar yang memeluk batang atau merupakan suatu selaput bumbung. Bunga telanjang atau dengan tenda bunga, berkelamin tunggal. Buah berupa buah keras, seringkali terkumpul merupakan buah majemuk atau buah semu (Tjitrosoepomo, 1994). Tumbuhan Moracea banyak yang digunakan sebagai tumbuhan obat, hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa tumbuhan obat Indonesia pada famili Moraceae Spesies Morus alba Artocarpus communis A. elastic A. integra A. lakoocha Antiaris toxicaria Ficus hispida F. ribes F. septic F. variegata Sumber : Ersam, 2004 Nama Daerah Murbei Murbei Tarok, Teureup Nangka Keledang beruk Ipoh, upas Leluwing Walen, Kopeng Awar-awar, Ki ciyat Kondang Pengobatan Gonorrhoe, Menambah air susu Penyakit kulit KB, Tuberculosis, Disentri Demam, Sakit perut Adstringent Racun (antiarine) Kutil, Murus Malaria Antiracun, Agar muntah, Penyakit kulit Antiracun, Murus darah

B. Artocarpus

Artocarpus merupakan salah satu genus dari Moraceae yang terdapat di daerah tropik dan subtropik. Tumbuhan ini umumnya mempunyai pohon yang tinggi dan bergetah putih di seluruh bagian tumbuhan, berkayu keras, berakar tunggang dan mempunyai buah yang umumnya berdaging tebal berwarna kuning, kuning pucat, kuning kemerah-merahan, atau jingga dan beraroma harum.

Tumbuhan Artocarpus merupakan tumbuhan penghasil buah. Tumbuhan ini mempunyai buah dengan ukuran kecil sampai ukuran besar. Buah segar dari tumbuhan ini dapat langsung dikonsumsi bila sudah masak atau dapat juga dikonsumsi sebagai sayur, terutama buah dari A. heterophyllus, A. champeden, dan A. communis (Ashari, 1995).

Ersam (2001) telah berhasil mengisolasi senyawa flavon dari Artocarpus bracteata, dari kulit batang mendapatkan Artoindonesianin J, Kanzonol C, 6Isoprenilapigenin, Karpakromen, dan Lupeol asetat. Sedangkan dari kulit akar mendapatkan Kanzonol C, 6- Isoprenilapigenin, Karpakromen, dan Lupeol. Senyawa flavonoid yang ditemukan pada A. bracteata mempunyai pola yang sangat khas, yaitu mono-oksigenasi pada cincin B dan terisoprenilasi pada cincin A atau cincin A dan B pada posisi C-3' dan C-3 dari kerangka dasar calkon, sedangkan untuk senyawa dengan kerangka dasar flavon tersubsitusi pada posisi C-6 (Ersam, 2003).

Keistimewaan dari flavonoid yang dihasilkan oleh Artocarpus ialah adanya substituen isoprenil pada C-3 dan pola 2',4'dioksigenasi atau 2',4',5'-trioksigenasi

pada cincin B dari kerangka dasar flavon. Ciri ini diwujudkan pada berbagai jenis senyawa, seperti flavon dengan prenil bebas pada C-3, piranoflavon, oksepinoflavon, oksosinoflavon, dihidrobenzosanton, dan kuinonodihidrobenzosanton. Senyawa-senyawa jenis ini belum pernah ditemukan pada tumbuhan lain. Selain mempunyai struktur molekul yang unik, beberapa senyawa flavon yang berasal dari Artocarpus juga memperlihatkan bioaktivitas antitumor yang tinggi pada sel leukemia L 1210 (Nomura, 1997 dalam Suhartati, 2001).

C. Tumbuhan Artocarpus dadah Miq.

Artocarpus dadah merupakan salah satu spesies dari genus Artocarpus dengan famili Moraceae. Klasifikasi tumbuhan A. dadah dalam taksonomi tumbuhan adalah sebagai berikut: Kingdom Divisi Sub-divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Morales : Moraceae : Artocarpus : Artocarpus dadah Miq.

(Sumber: Rukmana, 1997)

Tumbuhan A. dadah juga mempunyai beberapa nama daerah seperti keledang tampang bulu, tampang telor, tampak, cempedak ayer, merubi, ta-mal, thangkhan, dadah, hat-lukyai, tampang-dadak, dan hat-rum (www.worldagroforestry.org).

Tumbuhan A. dadah memiliki tinggi pohon 25 - 50 m. Batangnya berbentuk bulat panjang, berkayu keras dan tumbuhnya lurus dengan diameter 0,5 – 2,5 m. Kulit batang tanaman A. dadah agak tebal dengan tekstur yang kasar dan berwarna keabu – abuan. Bentuk daunnya agak membulat dan panjang, tepinya rata, permukaan atas daun berwarna hijau tua agak kusam dan kaku.

Gambar 1. Buah A. dadah (www.chicagobotanic.org) Tumbuhan A. dadah memiliki kayu yang keras dan awet. Kulit batangnya mempunyai tekstur yang tebal dan kasar. Buahnya berwarna kuning pucat jika masih muda, apabila buah tersebut sudah masak warnanya menjadi kuning kehijauan, dan bila dibelah daging buahnya berwarna merah seperti yang terlihat pada Gambar 1. Buah ini dapat dimakan tetapi memiliki rasa yang masam dan kurang enak.

Dari spesies A. dadah ini telah ditemukan dua kelompok senyawa utama yang lazim, yaitu kelompok non-fenolik terdiri dari tiga turunan triterpenoid, yakni lupeol (1), lupeol asetat (2) dan β-sitosterol (3) dan dari kelompok fenolik yang termasuk turunan flavan-3-ol, yaitu afzelekin-3-O-α-L-ramnosida (4) seperti yang terlihat pada Gambar 2.

1

2

3

4

Gambar 2. Senyawa yang berhasil diisolasi dari A. dadah (Ersam, 2004)

D. Senyawa Fenolik

Istilah senyawa fenolik meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua gugus hidroksil. Senyawa fenolik cenderung mudah larut dalam air karena umumnya mereka sering kali berikatan dengan gula sebagai glikosida. Semua senyawa fenolik berupa senyawa aromatik, sehingga semua menunjukkan serapan kuat di daerah spektrum UV. Karena itu, cara spektrometri penting, terutama untuk identifikasi senyawa fenolik (Harborne, 1996)

E. Senyawa Flavonoid

Flavonoid merupakan kelompok senyawa fenolik terbesar yang terdapat pada tanaman. Flavonoid merupakan salah satu produk metabolisme sekunder yang penyebarannya terbatas, yaitu pada tumbuhan dan mikroorganisme (Harborne,1996).

Senyawa flavonoid terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk akar, daun, kayu, kulit, tepung sari, bunga, buah, dan biji. Adanya Flavonoid pada hewan

seperti kelenjar bau berang-berang, propolis (sekresi lebah) dan dalam sayap kupu-kupu, dianggap berasal dari tumbuhan yang menjadi makanannya dan tidak mengalami biosintesis dalam tubuh hewan tersebut (Markham,1988). Banyaknya senyawa flavonoid di alam bukan disebabkan oleh banyaknya variasi struktur, akan tetapi disebabkan oleh tingkat hidroksilasi, alkoksilasi, atau glikosilasi dari struktur flavonoid tersebut (Achmad,1986).

1.

Klasifikasi flavonoid

Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon. Atom karbon ini membentuk dua cincin benzena dan satu rantai propana dengan susunan C6-C3-C6 . Susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis struktur, yaitu flavonoid (1,3-diaril propana), isoflavonoid (1,2-diaril propana), neoflavonoid (1,1-diaril propana) seperti ditunjukkan pada Gambar 3.

Flavonoid

Isoflavonoid

Neoflavonoid

Gambar 3. Tiga jenis flavonoid (Achmad, 1986)

Istilah flavonoid yang diberikan untuk senyawa fenolik ini berasal dari kata flavon, yaitu nama dari salah satu jenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan yang paling umum ditemukan. Selain itu flavan mempunyai tingkat oksidasi yang terendah sehingga senyawa ini dianggap sebagai senyawa induk dalam tata nama senyawa-senyawa turunan flavon (Achmad, 1986) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.

3' 2' 8 7 6 5 9 10 4' 5' 6'

O
2 3 4

Gambar 4. Kerangka dasar flavon (Manitto,1992)

Senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis, tergantung pada tingkat oksidasi rantai propana dari sistem 1,3-diaril propana. Beberapa jenis struktur flavonoid alami beserta tingkat oksidasinya ditunjukkan pada Gambar 5.

O

1
Flavan

O

2
OH O
Dihidrocalkon

Flavan-3-ol (Katekin) Flavan-3-OL (Katekin)

O

O OH

3
O
Calkon

O

+
O
Flavanon

OH
Flavan-3,4-Diol (Leukoantosianidin) Garam Flavilium

O

4
O

O CH

O OH

O

+
OH
Antosianidin

O
Auron Flavon

O
Flavanonol (Dihidroflavanonol)

O

5
OH O
Flavonol

Gambar 5. Tingkat oksidasi senyawa flavonoid (Manitto,1992) 2. Biosintesis flavonoid

Menurut Birch, pada tahap pertama biosintesis flavonoid, satu unit C 6C3 berkombinasi dengan tiga unit C2 menghasilkan unit C6C3(C2+C2+C2). Kerangka C15 yang dihasilkan sudah mempunyai gugus fungsi oksigen pada posisi tertentu. Cincin A dari struktur flavonoid berasal dari jalur poliketida, yaitu kondensasi dari tiga unit asam asetat atau malonat. Sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propana berasal dari jalur fenil propanoid (jalur shikimat) seperti terlihat pada Gambar 6 (Achmad,1986).

3CH3CO-SCoA HO C
O

CoAS

HO C O

C O O O
O

OH

O

HO

OH

O Flavanon

OH

O Calkon

Gambar 6. Tahap pertama biosintesis flavonoid (Achmad, 1986)

Ersam (2004) telah berhasil mengisolasi senyawa turunan fenolik dari tiga spesies dari genus Artocarpus yaitu Artocarpus dadah (Lupeol, Lupeol asetat, βSitosterol, dan Afzelekin ramnosida), Artocarpus bracteata (Artoindonesianin J, Kanzonol C, 6-Isoprenilapigenin, Karpakromen, Lupeol, dan Lupeol asetat), dan Artocarpus altilis (Morusin, Artonin E, Sikloartobilosanton, dan Artonol B). Senyawa-senyawa turunan fenolik yang ditemukan dari ketiga spesies tersebut memiliki hubungan kekerabatan molekul, seperti pada saran jalur reaksi biogenesis pembentukan senyawa-senyawa flavonoid pada genus Artocarpus, seperti pada Gambar 7.

Gambar 7. Jalur biogenesis pembentukan senyawa-senyawa flavonoid dalam genus Artocarpus (Ersam, 2004)

Struktur flavonoid alami mempunyai tingkat oksidasi pada ketiga atom karbon sentral sama atau lebih tinggi dari pasangan calkon-flavanon (Gambar 5), ternyata jumlahnya lebih besar. Karena itu, dapat dimengerti bila kemudian banyak yang berpendapat bahwa kebanyakan flavonoid dibentuk melalui proses oksidasi enzimatis, yang biasanya selektif dan terkontrol secara genetik. Hipotesis “oksidatif” pertama kali tentang biosintesis flavonoid, dikemukakan oleh Grisebach (1961), yang juga membuat suatu penelitian yang rinci tentang kimiawi dan biokimiawi dari flavonoid (Gambar 8).

OH OH HO H HO OH HO OH O

OH

O

OH

O Flavanon

HO

O

Khalkon

OH O Khalkon-epoksida

OX

OH HO OH HO OH OH OH H

OH

O

OH

O

+

Flavanonol

RED

OX
OH OH HO

O

HO

O
CH OH

HO

O OH OH O Flavonol OH

O
Flavon

OH

O
Auron

(OH) OH HO H HO

OH

+

HO

O

O

O OH OH Isoflavon Antosianidin OH

OH OH Katekin

O

OH

Gambar 8. Hubungan biogenetik antara senyawa-senyawa flavonoid menurut Grisebach (Manitto, 1992)

Hal yang penting dari hipotesis Grisebach adalah pembentukan calkon-epoksida yang kemudian menjadi senyawa-senyawa flavonol, auron, isoflavon (Manitto, 1992). Modifikasi flavonoid lebih lanjut terjadi pada berbagai tahap dan menghasilkan penambahan atau pengurangan hidroksilasi, metilasi gugus hidroksi atau inti flavonoid, isoprenilasi gugus hidroksi atau inti flavonoid, metilasi gugus orto-dihidroksi, dimerisasi, pembentukan bisulfat, dan glikosida gugus hidroksi (Markham, 1988).

3.

Manfaat flavonoid

Flavonoid mempunyai manfaat yang beragam terhadap organisme sehingga tumbuhan yang mengandung flavonoid umumnya digunakan dalam pengobatan tradisional. Tumbuhan yang secara tradisional digunakan untuk mengobati gangguan fungsi hati ternyata mengandung komponen aktif senyawa flavonoid yang mempunyai aktivitas antioksidan. Selain itu flavonoid juga mempunyai aktivitas sebagai inhibitor kuat pernapasan. Senyawa ini juga merupakan penampung yang baik bagi radikal hidroksi dan superhidroksi sehingga dapat melindungi membran lipid terhadap reaksi yang merusak. Flavonoid merupakan senyawa pereduksi yang baik dan dapat menghambat terjadinya reaksi oksidasi, baik secara enzim maupun non enzim (Robinson, 1995).

Beberapa turunan flavonoid dari isoflavon, misalnya rotenone, merupakan insektisida alam yang kuat (Harborne,1996). Isolat flavonoid dari benalu

mangga mampu menghambat pertumbuhan kanker (Sukardiman dkk, 1999).
Selain mempunyai struktur molekul yang unik, beberapa senyawa flavon yang berasal dari Artocarpus juga memperlihatkan bioaktivitas antitumor yang tinggi pada sel leukemia L 1210 (Suhartati, 2001). Senyawa flavonoid memiliki bioaktivitas yang menarik seperti antileismania, antiinflamasi, antidiuretik, dan antihipertensi (Ersam, 2001).

Willaman (1995) juga melaporkan bahwa senyawa turunan flavonoid mempunyai 24 aktivitas biologi dan biokimia, seperti yang tercantum dalam Tabel 2.

Tabel 2. Tipe aktivitas biologi dan biokimia senyawa flavonoid Senyawa Flavonoid Tipe Aktivitas Biologis Keterangan 1. Aktivitas asterogenik

Flavonol
Kalikopterin Krisin Genkwain 5, 10, 11, 12, 21 10, 11, 12, 21 10, 11, 12, 21 2. 3. 4. 5. Pembasmi kuman Pereduksi tumor Peluruh cacing Pemacu jantung

Flavon
Gosipetin Isosamnetin Kaempferol Letuolin Morin Mirisetin Quarsetin Ramnetin Trisin Ulexflavon 19 18 6, 8, 23 16 8, 12, 17, 22 1, 6, 8, 13 3, 4, 6, 9, 14-17, 20 2, 6, 12 11 8 6. Penekan jantung 7. Peluruh air seni 8. Penyempit kapiler darah 9. Kontraksi uterus 10. Penghambat gerakan otot 11. Penurun tekanan darah 12. Pembunuh bakteri 13. Penaik tekanan darah 14. Penghambat pertumbuhan mikroba 15. Penghambat pertumbuhan bakteri 16. Pengaktivasi enzim

Isoflavon
Biokanin A 1 17. Pengambat aktivitas enzim Daidzein 1 18. Penormal fungsi sel kelamin Formonetin 1 19. Pereduksi iodin di kelenjar tiroid Genistein 1 20. Antialergi Santal 11 21. Pengikat gerakan pernafasan Taktorigenin 8 22. Antivirus 23. Peluruh kentut Flavanon, 24. Pelindung kedinginan flavanonol Katekin 3, 17, 24 Eriodiktiol 8, 17 Haspratin 7 Homoeriodiktiol 8, 17 Naringenin 5, 12 Sumber : Willaman (1995) dalam Arisandi (2006)

F. Senyawa Stilbenoid

Stilbenoid merupakan kelompok senyawa fenolik yang jumlahnya terbatas pada tumbuhan (Harborne, 1996), tetapi terdapat pada seluruh bagian tumbuhan,

walaupun dengan jumlah yang sangat sedikit. Diantaranya terdapat pada batang kayu batang tumbuhan Shorea hemsleyana, kulit batang tumbuhan Shorea multiflora Burck, biji kacang Arachis hypogaea, kulit batang tumbuhan kenangkan (Ito et al., 2000; Noviany et al., 2003; Sobolev et al., 2009). Kebanyakan senyawa stilbenoid diisolasi dalam bentuk trans isomer (Al-Hazimi dan Alkhatlhan, 1996).

1.

Klasifikasi Stilbenoid

Klasifikasi senyawa resveratrol ini didasarkan atas jumlah monomer yang menyusunnya yaitu, resveratrol monomer, resveratrol dimer, resveratrol trimer, resveratrol tetramer dan resveratrol oligomer (Sotheswaran dan Vinaygar, 1993).
HO

OH HO

1 Gambar 9. Struktur resveratrol

2. Biosintesis Stilbenoid Jalur metabolisme stilbenoid melalui gabungan jalur metabolisme shikimat dan jalur asetat (Dewick, 2002). Senyawa awal metabolisme ini adalah sinamoil-CoA yang selanjutnya mengalami perpanjangan rantai menggunakan tiga unit molekul malonil-CoA membentuk suatu poliketida. Poliketida yang terbentuk akan melipat melalui mekanisme reaksi kondensasi Aldol dengan bantuan enzim

stilben sintase membentuk struktur stilbenoid. Jalur metabolisme stilbenoid dapat dilihat pada Gambar 10.
3 CH3CO-SCoA malonil-CoA

4-hidroksisinamoil-CoA

poliketida aldol (stilben sintase)

CO2

resveratrol (stilben) Gambar 10. Tahapan metabolisme stilbenoid (Dewick, 2002)

3. Manfaat Stilbenoid

Senyawa stilbenoid yang terkandung dalam tumbuhan memiliki manfaat yang beragam pada makhluk hidup. Gangguan terhadap organ Retikulum Endoplasma (RE) yang menyebabkan radang (inflammasi) ternyata dapat diatur kerjanya dengan senyawa resveratrol (Tabata et al., 2007). Selain itu, stilbenoid juga memiliki aktivitas estrogenik terhadap sistem enzim mikrosom hati (Sanoh et al., 2003). Senyawa stilbenoid juga mempunyai aktivitas sebagai antioksidan dan pro-oksidan yang menghentikan proses bertahap karsinogenesis (Lastra dan Villegas, 2007), dan banyak manfaat lainnya yang dapat diperoleh dari senyawa bahan alam yang terkandung dalam tumbuhan.

G. Isolasi Senyawa Fenolik

Tumbuhan segar merupakan bahan awal yang ideal untuk menganalisis flavonoid, walaupun cuplikan kering yang telah disimpan hati-hati selama bertahun-tahun mungkin masih tetap dapat memberikan hasil yang memuaskan. Tetapi pada tumbuhan yang telah lama dikeringkan, ada kecenderungan flavonoid glikosida diubah menjadi aglikon karena pengaruh jamur. Sedangkan aglikon yang peka akan teroksidasi. Aglikon flavonoid adalah polifenol dan karena itu mempunyai sifat kimia senyawa fenolik yaitu bersifat asam. Sifat asam ini disebabkan oleh stabilisasi muatan negatif pada atom oksigen oleh resonansi. Sifat yang agak asam ini menyebabkan flavonoid dapat larut dalam basa, akan tetapi bila dibiarkan dalam larutan basa, banyak yang akan terurai dan teroksidasi.

Selanjutnya, bahan tumbuhan yang telah dikeringkan digiling menjadi serbuk halus untuk diekstraksi dengan pelarut. Ekstraksi harus dilakukan beberapa kali dan ekstrak kemudian disatukan lalu diuapkan dengan menggunakan penguapputar vakum (Markham, 1988).

H. Pemisahan Secara Kromatografi

Kromatografi merupakan pemisahan suatu senyawa yang didasarkan atas perbedaan laju perpindahan dari komponen-komponen dalam campuran. Kromatografi terbentuk apabila terdapat satu fasa diam dan satu fasa gerak. Fasa diam biasanya ialah padatan atau cairan dimana fasa gerak biasanya ialah cairan atau gas. Setiap molekul yang berbeda akan terserap kepada fasa diam dengan kekuatan yang berbeda. Pada waktu yang sama, dua molekul yang berlainan juga mempunyai kelarutan yang berbeda dalam fasa gerak (www.one.indoskripsi.com).

Pemisahan dengan metode kromatografi dilakukan dengan cara memanfaatkan sifat-sifat fisik dari sampel, seperti kelarutan, adsorbsi, keatsirian, dan kepolaran (Johnson, 1991). Kelarutan merupakan kecenderungan molekul untuk melarut dalam cairan. Adsorpsi penjerapan adalah kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk halus. Keatsirian adalah kecenderungan molekul untuk menguap atau berubah ke keadaan uap (Gritter et al., 1991).

Berdasarkan jenis fasa diam dan fasa gerak yang dipartisi, kromatografi dapat digolongkan menjadi beberapa golongan (Tabel 3).

Tabel 3. Penggolongan kromatografi berdasarkan fasa diam dan fasa gerak Fasa diam Padat Padat Cair Cair Sumber: Johnson (1991) Berikut ini merupakan urutan eluen pada kromatografi berdasarkan tingkat kepolarannya: Air Metanol Asetonitril Etanol n-propanol Aseton Etil asetat Kloroform Metilen klorida Toluena Benzena Karbon tetraklorida Sikloheksana n- heksana Fasa gerak Cair Gas Cair Gas Sistem kromatografi Cair – adsorpsi Gas – adsorpsi Cair – partisi Gas – partisi

kepolaran meningkat

Sumber: Gritter dkk., 1991 Pada penelitian ini digunakan metode kromatografi cair vakum (KCV), kromatografi flash, kromatografi kolom grafitasi (KKG), dan kromatografi lapis tipis (KLT).

Teknik KCV dilakukan dengan suatu sistem yang bekerja pada kondisi vakum secara terus-menerus sehingga diperoleh kerapatan kemasan yang maksimum atau menggunakan tekanan rendah untuk meningkatkan laju alir fasa gerak. Pada kromatografi cair, susunan eluen atau fasa gerak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pemisahan. Urutan eluen yang digunakan dalam kromatografi cair diawali dari eluen yang mempunyai tingkat kepolaran rendah kemudian kepolarannya ditingkatkan secara perlahan-lahan.

Kromatografi flash juga dikenal sebagai kromatografi tekanan sedang, yang telah dipopulerkan oleh Claric Still tahun 1978 dari Universitas Columbia. Sebagai suatu alternatif untuk memperlambat dan sering tidak efisien bila memakai kromatografi kolom gravitasi. Kromatografi flash berbeda dari teknik konvensional dalam dua hal. Pertama, ukuran silika gel yang digunakan sedikit lebih kecil (250-400 mess). Kedua, tekanan gas 10-15 psi digunakan untuk mengarahkan pelarut pada kolom fasa diam.

Kromatografi kolom grafitasi (KKG) merupakan kromatografi cair-adsorpsi, KKG dilakukan pada sistem yang bekerja pada kondisi normal tanpa vakum, hanya berdasarkan gaya grafitasi bumi. Waktu yang dibutuhkan dalam

pelaksanaannya lebih lama, namun diharapkan akan mendapat hasil dengan pemisahan yang lebih baik dan lebih murni.

Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan salah satu metode pemisahan yang paling murah dan memakai peralatan paling dasar (Hostettman, 1995). Prinsip kerja KLT ini melibatkan pendistribusian campuran dua atau lebih senyawa antara fasa diam dan fasa gerak Fasa diam dapat berupa lapisan tipis dari penyerapan pada plat, dan pada fasa gerak adalah cairan pengembang yang bergerak naik pada fasa diam membawa komponen-komponen sampel. Pemantauan dengan KLT ini dilakukan hingga mendapatkan komposisi eluen yang sesuai (Gritter et al., 1991)

I.

Identifikasi Secara Spektroskopi

Spektroskopi merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara menganalisis spektrum suatu senyawa dan interaksi antara energi cahaya dan materi (Anwar dkk, 1994). Teknik spektroskopi dapat digunakan untuk mengidentifikasi struktur suatu senyawa dan mempelajari karakteristik ikatan dari suatu senyawa tersebut karena senyawa akan menyerap energi cahaya pada panjang gelombang tertentu (Fessenden, 1999). Metode spektroskopi yang dipakai pada penelitian ini antara lain, spektroskopi ultraungu-tampak (UV-VIS) dan spektroskopi inframerah (IR).

1.

Spektroskopi ultraungu-tampak (UV-VIS)

Spektroskopi serapan ultraungu-tampak merupakan cara yang sangat berguna dalam menganalisis senyawa flavonoid. Metode spektroskopi ini berguna untuk mengetahui jenis flavonoid dan menentukan pola oksigenasinya. Selain itu,

kedudukan gugus fungsi hidroksil pada inti flavonoid dapat ditentukan dengan cara menambahkan pereaksi geser ke dalam larutan cuplikan dan mengamati pergeseran puncak yang terjadi. Spektrum flavonoid ditentukan dalam larutan encer yang tidak menyerap pada panjang gelombang pengukuran. Pelarut yang biasa digunakan yaitu metanol, air, dan etanol 95% (Markham, 1988).

Spektrum khas flavonoid terdiri dari dua pita yaitu pada rentang 240-285 nm (Pita II) dan 300-550 nm (Pita I). Kedudukan yang tepat dan kekuatan dari pita tersebut akan memberikan informasi yang berguna mengenai sifat flavonoid serta pola oksigenasinya. Rentang utama yang diperkirakan untuk setiap jenis flavonoid dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rentang serapan spektrum ultraungu-tampak untuk flavonoid. Pita II (nm) 250-280 250-280 250-280 245-275 275-295 230-270 230-270 270-280 Pita I (nm) 310-350 330-360 350-385 310-330 300-390 340-390 380-430 465-560 Flavon Flavonol (3-OH tersubstitusi) Flavonol (3- OH bebas) Isoflavon Flavanon dan dihidroflavon Calkon Auron Antosianidin dan antosianin Jenis Flavonoid

Sumber: Markham, 1988

2.

Spektoskopi inframerah (IR)

Pada spektroskopi inframerah (IR), senyawa organik akan menyerap berbagai frekuensi radiasi elektromagnetik inframerah. Molekul-molekul senyawa akan menyerap sebagian atau seluruh radiasi itu. Penyerapan ini berhubungan dengan

adanya sejumlah vibrasi yang terkuantisasi dari atom-atom yang berikatan secara kovalen pada molekul-molekul itu. Penyerapan ini juga berhubungan dengan adanya perubahan momen dipol dari ikatan kovalen pada waktu terjadinya vibrasi (Supriyanto, 1999). Pada pengukuran senyawa organik, lazimnya digunakan daerah 650-4000 cm -1. Daerah di bawah frekuensi 650 cm -1 dinamakan daerah inframerah jauh dan daerah di atas frekuensi 4000 cm -1 dinamakan inframerah dekat (Sudjadi, 1983). Daerah antara 1400-4000 cm -1 merupakan daerah khusus yang berguna untuk identifikasi gugus fungsional. Daerah ini menunjukkan absorpsi yang disebabkan oleh vibrasi uluran. Daerah antara 1400-700 cm -1 (daerah sidik jari) seringkali sangat rumit karena menunjukkan absorpsi yang disebabkan oleh vibrasi uluran dan tekukan (Fessenden, 1999). Karakteristik frekuensi uluran beberapa gugus molekul ditunjukkan pada Tabel 5.

Tabel 5. Karakteristik frekuensi uluran beberapa gugus molekul Gugus
OH NH2

CH

Serapan (cm-1) 3600 3400 3300 3060 3030 2870 1460 1375 1200-1000
C

Gugus
CH2
O

Serapan(cm-1) 2930 2860 1470 1200-1000 1650 1600 1200-1000

Ar

H
CH2

C C

C N
C C

C

N

1750-1600 Sumber : Banwell (1994).
C O

Spektroskopi inframerah dapat digunakan untuk mengidentifikasi senyawa flavonoid berdasarkan gugus fungsional utama senyawa flavon. Spektrum inframerah senyawa flavonoid memberikan puncak serapan untuk gugus hidroksil dengan vibrasi pada bilangan gelombang 3400 cm-1, vibrasi ulur gugus C=O dari sistem karbonil terkonjugasi terdapat pada daerah serapan 1700-1600 cm-1, dan vibrasi ulur C-H alifatik ditunjukkan oleh serapan pada daerah 3000-2800 cm-1 (Ihsan, 2000).

III.

METODELOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-September 2009, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Lampung. Analisis spektroskopi FT-IR dilakukan di Laboratorium Biomassa Universitas Lampung. Analisis spektroskopi ultraviolet-tampak dilakukan di Laboratorium Kimia Organik Bahan Alam ITB Bandung. Identifikasi atau determinasi sampel di Herbarium Bogoriense Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi-LIPI Bogor.

B. Alat dan Bahan 1. Alat-alat yang digunakan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat-alat gelas, penguap putar vakum, satu set alat kromatografi cair vakum (KCV), satu set alat kromatografi flash, satu set alat kromatografi kolom gravitasi (KKG), pengukur titik leleh, lampu UV merk Spektroline model ENF-240 C/F, pipet kapiler, spektrofotometer FT-IR merk Varian dan spektrofotometer ultraungu-tampak (UV-VIS).

2. Bahan-bahan yang digunakan

Bahan yang digunakan adalah kulit akar Artocarpus dadah Miq. yang telah dikeringkan dan dihaluskan, diperoleh dari Desa Purwoasri Kecamatan Metro Utara Kota Metro Provinsi Lampung. Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi dan kromatografi berkualitas teknis yang telah didestilasi sedangkan untuk analisis spektrofotometer berkualitas pro-analisis (p.a). Bahan kimia yang dipakai meliputi diklorometana, etil asetat, metanol, n-heksana, aseton, akuades, serium sulfat 1,5% dalam H2SO4 2N, NaCl 1%, silika gel Merck G 60 untuk KCV, silika gel Merck 60 (35-70 Mesh) untuk KKG, untuk KLT digunakan plat KLT silika gel Merck kiesegal 60 F254 0,25 mm. Pereaksi geser untuk analisis spektrofotometer ultraungu-tampak adalah natrium hidroksida.

C. Prosedur Penelitian 1. Pengumpulan dan persiapan sampel

Sampel berupa kulit akar A. dadah diambil dari akar tumbuhan A. dadah dan dipisahkan antara kulit akar dan kayunya. Kulit akar lalu dibersihkan dan dipotong kecil-kecil. Sampel kulit akar yang telah dipotong kemudian dikeringanginkan. Kulit batang yang telah kering kemudian dihaluskan hingga berbentuk serbuk halus.

2. Ekstraksi dengan metanol

Sebanyak 2,4 kg kulit akar A. dadah yang telah dihaluskan, dimaserasi selama 24 jam dengan sekali maserasi sebanyak 200 gram, maserasi dilakukan sebanyak tiga

kali. Ekstrak metanol yang diperoleh disaring kemudian dipekatkan dengan menggunakan penguap putar vakum pada suhu 45-50˚C dengan laju putaran 120150 rpm. Ekstrak pekat metanol tersebut ditambahkan NaCl 1% sebanyak 20% dari volume ekstrak metanol dan kemudian dipartisi dengan diklorometanaetilasetat 20%. Hasil partisi tersebut kemudian dipekatkan kembali dengan menggunakan penguap putar vakum pada suhu 30-40˚C dengan kecepatan 120150 rpm.

3.

Kromatografi cair vakum (KCV)

Ekstrak kasar hasil partisi dengan etilasetat dilarutkan dalam aseton kemudian difraksinasi dengan KCV. Terlebih dahulu fasa diam silika gel Merck G 60 sebanyak 10 kali berat sampel dimasukkan ke dalam kolom. Kemudian kolom dikemas kering dalam keadaan vakum menggunakan alat vakum. Eluen yang kepolarannya rendah, dimasukkan ke permukaan silika gel terlebih dahulu kemudian divakum kembali. Kolom dihisap sampai kering dengan alat vakum dan siap digunakan.

Ekstrak kasar yang telah dilarutkan dalam aseton dan diimpregnasikan kepada silika gel, kemudian dimasukkan pada bagian atas kolom yang telah berisi fasa diam dan kemudian dihisap secara perlahan-lahan ke dalam kemasan dengan cara memvakumkannya. Setelah itu kolom dielusi dengan metanol-diklorometana 10% sampai dengan metanol 100%. Kolom dihisap sampai kering pada setiap penambahan eluen (tiap kali elusi dilakukan). Kemudian fraksi-fraksi yang terbentuk dikumpulkan berdasarkan pola fraksinasinya. Fraksinasi sampel dengan

teknik KCV dilakukan berulang kali dengan perlakuan yang sama seperti tahapan KCV awal.

4.

Kromatografi lapis tipis (KLT)

Sebelum difraksinasi, terlebih dahulu dilakukan uji KLT untuk melihat pola pemisahan komponen-komponen senyawa yang terdapat dalam ekstrak kasar. Uji KLT juga dilakukan terhadap fraksi-fraksi yang akan difraksinasi dan juga fraksifraksi yang didapat setelah perlakuan fraksinasi. Uji KLT dilakukan menggunakan sistem campuran eluen menggunakan pelarut n-heksana, etilasetat, aseton, diklorometana, dan metanol. Hasil kromatogram diamati di bawah lampu UV dengan panjang gelombang 254 nm agar dapat dilihat pola pemisahan komponen-komponen senyawanya. Hasil kromatogram tersebut kemudian disemprot menggunakan larutan serium sulfat untuk menampakkan bercak/noda dari komponen senyawa tersebut. Setiap fraksi yang menghasilkan pola pemisahan dengan Rf (Retention factor) yang sama pada kromatogram, digabung dan dipekatkan sehingga diperoleh beberapa fraksi gabungan yang akan difraksinasi lebih lanjut.

5. Kromatografi flash

Kromatografi flash digunakan untuk memisahkan ekstrak sampel dengan kuantitas yang tidak terlalu besar. Teknik yang dilakukan sama seperti pada KCV. Ekstrak hasil KCV yang telah dilarutkan dalam aseton dan diimpregnasikan kepada silika gel, kemudian dimasukkan pada bagian atas kolom

yang telah berisi fasa diam. Setelah itu kolom dielusi dengan eluen yang cocok dari hasil KLT sebelum fraksinasi, dimulai dari yang kepolarannya rendah kemudian ditingkatkan kepolarannya. Kolom diberi tekanan dari atas kolom, sehingga eluen akan terdorong cepat turun ke bawah. Kolom jangan sampai kering pada setiap penambahan eluen (tiap kali elusi dilakukan). Kemudian fraksi-fraksi yang terbentuk dikumpulkan berdasarkan pola fraksinasinya. Fraksinasi sampel dengan teknik kromatografi flash dilakukan berulang kali dengan perlakuan yang sama seperti tahapan awal.

6.

Kromatografi kolom gravitasi (KKG)

Setelah dihasilkan fraksi-fraksi dengan jumlah yang lebih sedikit, tahapan fraksinasi selanjutnya dilakukan menggunakan teknik kromatografi kolom gravitasi (KKG). Fasa diam silika gel Merck (35-70 Mesh) dilarutkan dalam pelarut yang akan digunakan dalam proses pengelusian. Campuran tersebut diaduk hingga diperoleh suatu slurry, campuran tersebut dimasukkan ke dalam kolom dan diusahakan agar kolom tidak kehabisan pelarut. Kemudian atur fasa diam hingga rapat (tidak berongga) dan rata. Selanjutnya masukkan sampel yang telah dijerapkan pada silika gel ke dalam kolom yang telah berisi fasa diam. Pada saat sampel dimasukkan, usahakan agar kolom tidak kering/kehabisan pelarut karena akan mengganggu fasa diam yang telah dikemas rapat, sehingga proses elusi tidak akan terganggu.

7. Uji kemurnian Uji kemurnian dilakukan dengan metode KLT dan uji titik leleh. Uji kemurnian secara KLT menggunakan beberapa campuran eluen. Kemurnian suatu senyawa ditunjukkan dengan timbulnya satu noda dengan berbagai campuran eluen yang digunakan, dengan pengamatan noda dilakukan di bawah lampu UV dengan panjang gelombang 254 nm dan kemudian disemprot menggunakan larutan serium sulfat untuk menampakkan bercak/noda dari komponen senyawa tersebut.

Untuk uji titik leleh, sebelum dilakukan pengukuran, alat pengukur titik leleh tersebut dibersihkan terlebih dahulu dari pengotor yang ada. Selanjutnya, untuk kristal yang berukuran besar, kristal terlebih dahulu digerus hingga berbentuk serbuk. Kemudian kristal yang akan ditentukan titik lelehnya diletakkan pada lempeng kaca, diambil sedikit dengan menggunakan pipet kapiler, alat dihidupkan dan titik leleh diamati dengan bantuan kaca pembesar. Suhu pada saat kristal pertama kali meleleh, itulah titik leleh dari senyawa tersebut. Pengukuran titik leleh dilakukan sebanyak tiga kali. Apabila menunjukan titik leleh yang sama, maka dapat disimpulkan bahwa senyawa yang diperoleh sudah murni.

8.

Spektrofotometer ultraungu–tampak (UV-VIS)

Sampel berupa kristal murni sebanyak 0,0001 gram dilarutkan dalam 10 mL metanol. Larutan ini digunakan sebagai persediaan untuk beberapa kali pengukuran. Pertama, sampel diukur serapan maksimumnya dalam metanol. Selanjutnya larutan persediaan dibagi menjadi beberapa bagian. Kemudian masing-masing larutan persediaan ditambah dengan pereaksi-pereaksi geser

seperti natrium hidroksida (NaOH), kemudian larutan diukur serapan maksimumnya.

9.

Spektrofotometer inframerah (IR)

Sampel kristal hasil isolasi yang telah murni dianalisis menggunakan spektrofotometer inframerah. Kristal yang telah murni dibebaskan dari air kemudian digerus bersama-sama dengan halida anorganik, KBr. Gerusan kristal murni dengan KBr dibentuk menjadi lempeng tipis atau pelet dengan bantuan alat penekan berkekuatan 8-10 ton per satuan luas. Kemudian pelet tersebut diukur puncak serapannya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Isolasi Senyawa Fenolik

Kulit akar yang diambil dari akar dilakukan pembersihan, pencacahan dan pengeringan. Kemudian menghaluskannya dan setelah itu sebanyak 2400 gram (2,4 kg) serbuk halus kulit akar tersebut dimaserasi. Maserasi merupakan salah satu teknik ekstraksi atau pemisahan senyawa yang dilakukan dengan cara merendam sampel menggunakan suatu pelarut tertentu yang sesuai. Pada penelitian ini membagi 2400 gram sampel ke dalam 200 gram untuk satu tahap maserasi, sehingga ada 12 tahap maserasi. Satu tahap maserasi perlakukannya selama 24 jam dengan tiga kali pengulangan. Maserasi menggunakan pelarut metanol, pemilihan pelarut ini dikarenakan senyawa fenolik merupakan senyawa polar, sehingga untuk mengekstrak senyawa polar diperlukan pelarut yang juga polar. Kemudian menyaring dan menguapkan hasil ekstraksi menggunakan penguap putar vakum pada suhu 45-50˚C dengan laju putaran 120-150 rpm.

Pada penguapan dengan alat penguap putar vakum ini diperoleh ekstrak pekat sampel hasil maserasi metanol. Kemudian menambahkan NaCl 1% sebanyak 20% dari volume ekstrak metanol ke dalam ekstrak metanol dan kemudian mempartisinya dengan diklorometana/etil asetat 20%. Penambahan NaCl 1%

bertujuan untuk mengendapkan tanin yang ada, sehingga tidak ikut terekstrak oleh diklorometana/etil asetat 20%. Pada awalnya partisi menggunakan etil asetat, tetapi karena ekstrak metanol dengan etil asetat menyatu dan tidak terpisah sehingga ditambahkan diklorometana supaya terpisah membentuk dua cairan yang tidak saling bercampur. Penggunaan etil asetat untuk partisi ekstrak metanol karena kandungan air dalam ekstrak metanol tersebut masih cukup banyak, sehingga untuk memisahkannya dengan cara partisi ini. Etil asetat akan mengekstrak senyawa organiknya dan terpisah dari air. Kepolarannya tidak terlalu besar sehingga dapat meminimalkan tertariknya senyawa-senyawa yang sangat polar. Setelah itu, menguapkan kembali dengan menggunakan penguap putar vakum pada suhu 30-40˚C dengan kecepatan 120-150 rpm.

Dari proses penguapan dengan alat penguap putar vakum ini menghasilkan ekstrak etil asetat sebanyak 151,28 gram. Ekstrak ini kemudian dilihat pola pemisahan komponen-komponen senyawanya menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Eluen yang digunakan untuk KLT adalah metanol/diklorometana 10% dengan fasa diam Silika Gel Merck 60 GF254 0,25mm.

Sebanyak 151,28 gram ekstrak etil asetat ini kemudian dilakukan fraksinasi menggunakan teknik kromatografi cair vakum (KCV) dengan cara membagi menjadi 4 tahap KCV, pembagian menjadi 4 tahap KCV dimaksudkan karena keterbatasan alat KCV yang tidak bisa menampung sampel secara keseluruhan. KCV tahap pertama menggunakan 31,5 gram ekstrak kering, KCV tahap kedua 14,7 gram, KCV tahap ketiga 48 gram, dan KCV tahap keempat menggunakan sisanya yaitu 57,08 gram. Pada setiap tahapan di atas, ekstrak kering dilarutkan

dalam aseton kemudian diimpregnasi pada Silika Gel Merck 60 (35-70 Mesh). Setelah itu fraksinasi dengan cara KCV, dimana proses awal setelah mendapatkan hasil impregnasi ekstrak terhadap Silika Gel adalah mempersiapkan kolom kromatografinya, diawali dengan alat kromatografi yang dirangkai sedemikian rupa. Pembuatan kolom silika, dengan cara memadatkan silika agar tidak pecah saat kromatografi. Setelah itu baru memasukkan hasil impregnasinya, dan kemudian mengelusi dengan eluen yang digunakan.

Eluen yang digunakan untuk masing-masing tahap adalah campuran metanol/diklorometana, dari 0% metanol sampai 100% metanol (0%-100%) yang ditingkatkan kepolarannya secara bertahap. Proses KCV awal ini untuk tahap 1 sebanyak 31,5 gram ekstrak menghasilkan 8 fraksi yang selanjutnya disederhanakan menjadi 4 fraksi utama berdasarkan pola KLT yaitu A1 (1-2), B1 (3-4), C1 (5-6), dan D1 (7-8). Tahap 2 sebanyak 14,7 gram ekstrak menghasilkan 6 fraksi yang selanjutnya disederhanakan menjadi 3 fraksi utama yaitu A2 (1), B2 (2-4), dan C2 (5-6). Tahap 3 sebanyak 48 gram ekstrak menghasilkan 12 fraksi yang selanjutnya disederhanakan menjadi 4 fraksi utama yaitu A3 (1-3), B3 (4-8), C3 (9-10), dan D3 (11-12). Untuk tahap 4 sebanyak 57,08 gram ekstrak menghasilkan 12 fraksi yang selanjutnya disederhanakan menjadi 4 fraksi utama yaitu fraksi A4 (1-3), B4 (4-6), C4 (7-10), dan D4 (11-12). Setelah fraksinasi, selanjutnya adalah mengidentifikasi hasil fraksinasi dengan KLT yang kromatogramnya dapat dilihat pada Gambar 11. Fraksi-fraksi yang diperoleh kemudian dilakukan pemisahan lebih lanjut.

a

b

c

d

Gambar 11. Kromatogram KLT fraksi-fraksi dari KCV awal menggunakan eluen metanol/diklorometana 30%, (a) KCV tahap 1, (b) KCV tahap 2, (c) KCV tahap 3, dan (d) KCV tahap 4.

Fraksinasi fraksi utama B1 sebanyak 2,1675 gram dengan teknik KCV menggunakan eluen etil asetat/n-heksana (0%-100%) menghasilkan 11 fraksi yang selanjutnya disederhanakan menjadi 6 fraksi utama yaitu fraksi B11 (1-4), B12 (5), B13 (6-7), B14 (8), B15 (9), dan B16 (10-11). Fraksinasi 3,2 gram fraksi B3 dengan teknik KCV menggunakan eluen etil asetat/n-heksana (0%-100%) menghasilkan 18 fraksi, yang selanjutnya disederhanakan menjadi 8 fraksi utama B31 (1-4), B32 (5), B33 (6), B34 (7-8), B35 (9), B36 (10), B37 (11-12), dan B38 (13-18). Begitu juga dengan fraksi B4 sebanyak 4,45 gram,yang menghasilkan 17 fraksi dan disederhanakan menjadi 3 fraksi utama yaitu B41 (1-7), B42 (8-14), dan B43 (15-17).

Pemisahan lebih lanjut fraksi B42 sebanyak 1,62 gram menghasilkan 12 fraksi yang disederhanakan menjadi 6 fraksi utama yaitu B421 (1-2), B422 (3), B423 (4), B424 (5-8), B425 (9-10), dan B426 (11-12).

Dari hasil fraksinasi fraksi B1, B3 dan B4 di atas, kemudian dilakukan penggabungan terhadap fraksi-fraksi yang memiliki pola KLT yang sama yaitu

fraksi BX (B34 dan B12), BY (B423, B35, B13, dan B424), dan fraksi BZ (B426, B36, dan B15).

Fraksinasi dari 1,08 gram fraksi BY dengan teknik kromatografi flash menggunakan eluen etil asetat/n-heksana (0%-100%) menghasilkan 20 fraksi yang selanjutnya disederhanakan menjadi 6 fraksi yaitu BY1 (1-6), BY2 (7-9), BY3 (10), BY4 (11-15), BY5 (16-18), dan BY6 (19-20). Kemudian melakukan pemisahan fraksi BY4 yang menghasilkan 33 fraksi yang disederhanakan menjadi 4 fraksi utama yaitu BY4A (1-9), BY4B (10-16), BY4C (17-26), dan BY4D (2733). Fraksi BY4B nantinya digabung dengan fraksi C1B.

Fraksinasi dari 47 gram fraksi C (C1, C2, C3, dan C4) dengan cara KCV menggunakan eluen etil asetat/n-heksana 30% sampai metanol/etil asetat 50%, menghasilkan 22 fraksi yang disederhanakan menjadi 8 fraksi utama yaitu C1 (37), C2 (8-9), C3 (10), C4 (11-12), C5 (13-14), C6 (15-16), C7 (17-18), dan C8 (19-20), hasil kromatogram KLT dapat dilihat pada Gambar 12.

a

b

Gambar 12. Kromatogram KLT fraksi-fraksi dari kromatografi flash fraksi C menggunakan eluen (a) etil asetat/n-heksana 70% dan (b) etil asetat 100%.

Pemisahan lebih lanjut fraksi C1 (1,1977 gram) dengan kromatografi flash menggunakan eluen etil asetat/n-heksana (0%-100%) menghasilkan 22 fraksi yang disederhanakan menjadi 6 fraksi C1A (1-3), C1B (5-6), C1C (7-8), C1D (912), CIE (13-20), dan C1F (21-22). Selanjutnya menggabung fraksi C1B dengan fraksi BY4B menjadi fraksi C1B karena memiliki pola KLT yang sama.

Pemisahan selanjutnya fraksi CIB (0,1739 gram) dengan teknik kromatografi flash menghasilkan 16 fraksi yang disederhanakan menjadi 3 fraksi utama yaitu C1B1 (1-6), C1B2 (7-10) dan C1B3 (11). Fraksi C1B2 dan C1B3 memiliki pola KLT yang sama, tapi fraksi C1B3 terlihat lebih bersih. Kemudian pemisahan fraksi C1B2 (0,08 gram) dengan KKG menggunakan eluen diklorometana/nheksana 50% sampai etil asetat/diklorometana 10% menghasilkan 13 fraksi. Fraksi ke-8 sampai ke-13 digabung dengan fraksi C1B3 dengan label C1B2.

Pemisahan kembali fraksi C1B2 menggunakan diklorometana/n-heksana (50%100%) menghasilkan 20 fraksi yang disederhanakan menjadi 2 fraksi utama yaitu C1B2B (9-10) dan C1B2C (11-20). CIB2C terlihat lebih bersih, sedangkan fraksi C1B2B masih terlihat banyak pengotor, sehingga dikolom kembali menghasilkan 10 fraksi. Fraksi 4-10 terlihat lebih bersih, sehingga digabung dengan fraksi C1B2C dengan label fraksi C1B2. Fraksi C1B2 terlihat sudah hampir bersih, kromatogram KLT dapat dilihat pada Gambar 13.

a b c Gambar 13. Kromatogram KLT fraksi C1B2 dengan eluen (a) etil asetat/diklorometana 5%, (b) etil asetat/n-heksana 30%, (c) etil asetat:diklorometana:n-heksana 3:3:4.

Fraksi C1B2 (0,025 gram) memang belum murni karena masih terdapat pengotor dan komponen senyawa lain, tetapi karena jumlahnya sedikit kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan spektrofotometer UV-VIS dan spektrofotometer IR, serta dilakukan uji titik leleh. Hasil titik leleh menunjukkan senyawa tersebut memang belum murni karena memiliki rentang titik leleh yang luas yaitu 118123ºC. Setelah dilakukan analisis, fraksi tersebut coba dimurnikan kembali tetapi belum juga mengkristal dan beratnya semakin berkurang yaitu sekitar 0,007 gram (7 mg), sehingga tidak dimurnikan kembali.

Fraksinasi fraksi C5 sebanyak 3,5 gram dengan kromatografi flash menggunakan eluen metanol/diklorometana (0%-50%) menghasilkan 22 fraksi yang disederhanakan menjadi 5 fraksi utama yaitu C5A (1-8), C5B (9-10), C5C (1117), C5D (18-19), dan C5E (20-22). Pengerjaan lebih lanjut fraksi C5B (0,3329 gram) menggunakan eluen aseton/diklorometana (0%-100%) menghasilkan satu fraksi utama yaitu C5B3 (6-7). Selanjutnya fraksinasi fraksi C5B3 (0,255 gram) dengan eluen etil asetat/n-heksana (0%-100%) juga menghasilkan satu fraksi

utama yaitu fraksi C5B3 (10-15). Fraksi C5B3 nantinya akan digabung dengan fraksi C5C2B.

Pemisahan fraksi C5C (2,4 gram) dengan teknik kromatografi flash menggunakan eluen aseton/diklorometana (0%-70%) menghasilkan 2 fraksi utama yaitu fraksi C5C2 (10-13) dan C5C3 (14-16). Kemudian pemisahan fraksi C5C2 (0,46 gram) menggunakan eluen etil asetat/n-heksana (0%-100%) menghasilkan dua fraksi utama yaitu C5C2A (7-11) dan C5C2B (12-16). Fraksinasi fraksi C5C2A (0,25 gram) dengan eluen yang sama menghasilkan dua fraksi utama yaitu C5C2A1 (710) dan C5C2A2 (11-17). Fraksi C5C2A2 dan C5C2B memiliki pola KLT yang sama, sehingga kedua fraksi tersebut digabung dengan nama fraksi C5C2B.

Fraksinasi 0,25 gram fraksi C5C2B menggunakan eluen etil asetat/diklorometana (0%-100%) menghasilkan satu fraksi utama yaitu fraksi C5C2B (5-13). Fraksi C5C2B dan C5B3 memiliki pola KLT yang sama, sehingga kedua fraksi tersebut digabungkan dengan nama fraksi C523. Pemisahan lebih lanjut fraksi C523 sebanyak 0,25 gram dengan menggunakan teknik kromatografi kolom grafitasi (KKG) menggunakan eluen etil asetat/diklorometana (30%-100%) menghasilkan 21 fraksi yang kemudian diidentifikasi menggunakan KLT dengan eluen etil asetat 100%, hasil kromatogramnya dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Kromatogram KLT hasil KKG fraksi C523 menggunakan eluen etil asetat 100%.

Dari hasil fraksinasi dengan teknik KKG menghasilkan kristal putih amorf pada fraksi 6 dan 7, kristal tersebut kemudian dilakukan pemisahan dan pencucian dengan diklorometana. Untuk lebih membuktikan kemurnian dari kristal yang diperoleh, maka dilakukan uji KLT dengan menggunakan variasi eluen. Gambar 15 menunjukkan kromatogram dari variasi eluen yang digunakan.

a

b c

Gambar 15. Kromatogram KLT Kristal C523 dengan eluen (a) aseton/diklorometana 50%, (b) aseton/etil asetat 20%, (c) aseton/etil asetat 40%.

Hasil analisis KLT didapatkan nilai Rf 0,25 untuk eluen aseton/diklorometana 50%, Rf 0,48 untuk eluen aseton/etil asetat 20%, dan Rf 0,58 untuk eluen aseton/etil asetat 40%. Dari kromatogram KLT di atas terlihat tampak satu spot,

sehingga dapat disimpulkan bahwa kristal yang diperoleh diperkirakan sudah murni. Kristal C523 yang diperoleh pada fraksi 6 dan 7 sebesar 0,0146 gram (14,6 mg).

Dengan metode yang sedikit berbeda, sebanyak 1500 gram (1,5 kg) sampel kulit akar dimaserasi dengan pelarut metanol/air 90% selama 3 kali 24 jam dan dilakukan pengulangan sebanyak 4 kali. Kemudian menyaring dan menguapkan filtrat yang diperoleh dengan menggunakan penguap putar vakum sehingga menghasilkan ekstrak metanol. Setelah itu mempartisi ekstrak metanol dengan etil asetat, kemudian menguapkannya kembali menggunakan penguap putar vakum sehingga menghasilkan ekstrak etil asetat sebanyak 25 gram. Ektrak etil asetat tersebut kemudian dilakukan pemisahan dengan cara kromatografi cair vakum(KCV) dengan menggunakan eluen metanol/diklorometana (0%-20%) dan menghasilkan 10 fraksi utama, kromatogram KLT pada dapat dilihat pada Gambar 16.

Gambar 16. Kromatogram KLT fraksi-fraksi hasil KCV awal dengan menggunakan eluen metanol/diklorometana 10%.

Pemisahan 2,75 gram fraksi 8 menggunakan teknik kromatografi flash menggunakan eluen etil asetat/diklorometana (20% dan30%) dan

aseton/diklorometana (30% dan 50%) menghasilkan 26 fraksi yang disederhanakan menjadi 7 fraksi utama yaitu 8F (1-11), 8G (12-15), 8A (16-18), 8B (19-21), 8C (22-23), 8D (24), dan 8E (25-26). Pemisahan fraksi 8A (0,327 gram) dengan teknik kromatografi flash menggunakan eluen aseton/diklorometana (0%-100%) menghasilkan 26 fraksi, dari 26 fraksi tersebut disederhanakan kembali menjadi menjadi 2 fraksi utama yaitu 8AA (10-16) dan 8AB (17-22). Sedangkan pemisahan fraksi 8B (0,098 gram) dengan kromatografi flash menggunakan eluen aseton/diklorometana (10%-100%) menghasilkan 17 fraksi yang disederhanakan menjadi 4 fraksi utama yaitu 8BA (5-9), 8BB (10-11), 8BC (12-14), dan 8BD (15-17). Antara fraksi 8AB dan 8BB memiliki pola KLT yang hampir sama, sehingga kedua fraksi tersebut digabung dengan nama fraksi 8BB.

Fraksinasi fraksi 8BB sebanyak 0,345 gram menggunakan eluen etil asetat/nheksana (0%-100%) menghasilkan 25 fraksi, dari 25 fraksi tersebut fraksi 8-10 membentuk kristal di dinding botol. Hasil fraksinasi tersebut dilakukan KLT, kromatogram KLT dapat dilihat pada Gambar 17.

Gambar 17. Kromatogram KLT fraksi-fraksi hasil kromatografi flash dengan menggunakan eluen etil asetat/n-heksana 70%.

Kristal yang terbentuk di dinding botol tersebut kemudian dikeruk dan dicuci dengan n-heksana. Untuk lebih membuktikan kemurnian dari kristal yang diperoleh, maka dilakukan uji KLT dengan menggunakan variasi eluen, kromatogram KLT dapat dilihat pada Gambar 18.

a b c a b c Gambar 18. Kromatogram KLT kristal 8BB dengan eluen (a) etil asetat/nheksana 70%, (b) etil asetat/diklorometana 70%, dan (c) etil asetat 100%.

Hasil analisis KLT didapatkan nilai Rf 0,33 untuk eluen etil asetat/n-heksana 70%, Rf 0,53 untuk eluen etil asetat/diklorometana 70%, dan Rf 0,69 untuk eluen etil asetat 100%. Dari kromatogram KLT terlihat hanya ada satu spot, sehingga dapat disimpulkan bahwa kristal yang diperoleh sudah murni. Kristal yang diperoleh sebesar 0,010 gram (10 mg).

B. Analisis Spektrometri 1. Analisis Spektrometri Ultraungu-Tampak

Senyawa flavonoid mempunyai sistem karbonil yang berkonjugasi dengan cincin aromatik, sehingga senyawa ini menyerap sinar pada panjang gelombang tertentu

di daerah ultraungu. Senyawa flavon mempunyai serapan di daerah UV pada dua panjang gelombang, yaitu sekitar 310-350 nm pada pita I dan sekitar 250-280 nm pada pita II (Markham, 1988).

Gambar 19 memperlihatkan data serapan senyawa hasil isolasi C1B2 yang diperoleh dari kulit akar tumbuhan A. dadah terhadap sinar UV yang memberikan serapan maksimum pada  maks 204 nm (a = 33,76 cm-1g-1L), 279 nm (a = 33,48 cm-1g-1L), dan 328 nm (a = 11,80 cm-1g-1L) dalam metanol dengan konsentrasi 0,0001 g/0,01 L (0,1 mg/10 mL). Data spektrum UV menunjukkan karakteristik serapan untuk senyawa flavon. Serapan maksimum di daerah ultraviolet pada

 maks 328 nm merupakan spektrum khas flavon pada pita I yang karakteristik
untuk resonansi gugus sinamoil dari cincin B. Serapan maksimum pada  maks 279 nm merupakan spektrum khas flavon pada pita II yang karakteristik untuk resonansi gugus benzoil dari cincin A.

Gambar 19. Spektrum UV senyawa hasil isolasi C1B2 dalam metanol

Untuk menentukan kedudukan gugus hidroksil fenol pada senyawa flavonoid dilakukan dengan penambahan pereaksi geser pada pengukurannya, yaitu dengan cara mengamati pergeseran puncak yang terjadi. Pereaksi geser NaOH digunakan untuk mendeteksi gugus hidroksil yang lebih asam dan tidak tersubstitusi. Adanya pergeseran batokromik pada pita I menunjukkan adanya gugus hidroksil pada posisi C3, C4’, dan C7 (Markham, 1988).

Data spektrum UV pada penambahan pereaksi geser natrium hidroksida (NaOH) terjadi pergeseran puncak serapan pada pita I sebesar 40 nm yaitu dari 328 nm bergeser menjadi 368 nm (Gambar 20). Adanya pergeseran batokromik pada pita I memberikan petunjuk adanya gugus hidroksil pada posisi C3, C4’, dan C7. Senyawa hasil isolasi C523 dan 8BB belum dilakukan analisis spektroskopi UVVIS.

b a

Gambar 20. Spektrum UV senyawa hasil isolasi C1B2 (a) dalam MeOH, (b) dalam MeOH + NaOH

2. Analisis spektrometri inframerah

Dari data spektrum inframerah (IR) senyawa hasil isolasi C1B2 dapat diketahui adanya pita melebar pada daerah bilangan gelombang 3200-3600 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur dari gugus hidroksil yang dapat membentuk ikatan hidrogen. Puncak serapan pada daerah 2975 cm-1 dan 2924 cm-1 merupakan petunjuk adanya gugus C-H alifatik. Puncak serapan pada daerah bilangan gelombang 1655 cm-1 menunjukkan adanya gugus karbonil (C=O) yang berkonjugasi dengan C=C. Puncak-puncak serapan pada daerah 1619 dan 1466 cm-1 menunjukkan adanya C=C aromatik, hal ini diperkuat dengan adanya serapan C-H aromatik pada bilangan gelombang 900-600 cm-1. Puncak serapan pada bilangan gelombang 1352, 1298, dan 1243 cm-1 menunjukkan uluran ikatan C-O alkohol. Spektrum IR senyawa hasil isolasi dapat dilihat pada Gambar 21.

Gambar 21. Spektrum IR senyawa hasil isolasi C1B2

Dari data spektrum UV dan IR senyawa hasil isolasi C1B2 dari kulit akar tumbuhan A. dadah menunjukkan adanya kerangka fenolik dan diperkirakan termasuk golongan flavonoid.

Dari data spektrum inframerah (IR) senyawa hasil isolasi C523 dapat diketahui adanya pita melebar pada daerah bilangan gelombang 3300-3500 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur dari gugus hidroksil yang dapat membentuk ikatan hidrogen. Puncak serapan pada daerah 2931 cm-1 merupakan petunjuk adanya gugus C-H alifatik. Puncak-puncak serapan pada daerah 1612, 1517, dan 1471 cm-1menunjukkan adanya C=C aromatik, hal ini diperkuat dengan adanya serapan C-H aromatik pada bilangan gelombang 900-600 cm-1. Puncak serapan pada bilangan gelombang 1389 dan 1248 cm-1 menunjukkan uluran ikatan C-O alkohol. Dari data spektrum IR menunjukkan bahwa senyawa hasil isolai C523 memiliki kerangka fenolik. Spektrum IR senyawa hasil isolasi dapat dilihat pada Gambar 22.

Gambar 22. Spektrum IR senyawa hasil isolasi C523

Dari data spektrum inframerah (IR) senyawa hasil isolasi 8BB dapat diketahui adanya pita melebar pada daerah bilangan gelombang 3200-3500 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur dari gugus hidroksil yang dapat membentuk ikatan hidrogen. Puncak serapan pada daerah 2936 cm-1 dan 2767 cm-1 merupakan petunjuk adanya gugus C-H alifatik. Puncak-puncak serapan pada daerah 1626,

1522, dan 1467 cm-1 menunjukkan adanya C=C aromatik, hal ini diperkuat dengan adanya serapan C-H aromatik pada bilangan gelombang 900-600 cm-1. Puncak serapan pada bilangan gelombang 1376, 1288, dan 1243 cm-1 menunjukkan uluran ikatan C-O alkohol. Dari data spektrum IR menunjukkan bahwa senyawa hasil isolai 8BB memiliki kerangka fenolik. Spektrum IR senyawa hasil isolasi dapat dilihat pada Gambar 23.

Gambar 23. Spektrum IR senyawa hasil isolasi 8BB

Dari ketiga senyawa yang berhasil diisolasi dari kulit akar tumbuhan A. dadah, senyawa hasil isolasi C1B2 telah dilakukan pemeriksaan aktivitas terhadap sel murine leukemia P-388, dan hasilnya menunjukkan aktivitas yang tinggi dengan IC50 3,1 μg/mL. Sedangkan untuk kedua senyawa yang lain belum dilakukan pemeriksaan aktivitas terhadap sel murine leukemia P-388.

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Pada penelitian ini telah berhasil diisolasi tiga senyawa, yang salah satunya diperkirakan senyawa flavonoid berdasarkan data spektrum UV-VIS dan IR yang juga memiliki aktivitas tinggi terhadap sel murine leukemia P-388 dengan IC50 3,1 μg/mL. Berdasarkan data spektrum IR untuk dua senyawa yang lain terdapat serapan –OH pada daerah 3200-3500 cm-1, serapan C=C aromatik di daerah 16001400 cm-1, sehingga diperkirakan kedua senyawa tersebut merupakan senyawa golongan fenolik.

B. Saran

1.

Struktur dari senyawa hasil isolasi belum diketahui, oleh karena itu disarankan untuk dilakukan penentuan struktur dari senyawa hasil isolasi.

2.

Kulit akar tumbuhan A. dadah banyak sekali kandungan senyawa bahan alamnya, oleh karena itu disarankan untuk diadakan penelitian lebih lanjut terhadap fraksi-fraksi yang belum dikerjakan agar diperoleh senyawa bahan alam yang lain.

3.

Untuk lebih memahami aktivitas senyawa hasil isolasi, disarankan untuk dilakukan uji bioaktivitas, baik sifat antibakteri, antijamur, atau aktivitas yang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S.A. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Penerbit Karunika Universitas Terbuka. Jakarta. Hlm 1-12. Al-Hazimi, Hassan M. G, and H. Z. Alkhatlhan. 1997. Stilbenes and bibenzyl in higher plant. J. King Saud Univ. 9. (2). 161-188. Anwar, C., Purwono, B., Pranowo, H. D., Wahyuningsih, T. D. 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Penerbit UGM. Yogyakarta. Hlm 270. Arisandi, S. 2006. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid Dari Kayu Akar Tanaman Sukun, Artocarpus altilis, (Parkinson) Fosberg. Skripsi. Unila. Bandar Lampung. 58 hlm. Ashari, S. 1995. Holtikultura Aspek Budidaya. Penerbit UI Press. Jakarta. Hlm 358-360. Banwell, Colin N., dan McCash, E. M. 1994. Fundamental of Molecular Spectroscopy. Mc Graw-Hill Book Company. London. Bokel, M., Diyasena, M.N.C., Leslie, A.A., Gunatilaha, & Sotheeswaran, S. 1988. Canaliculatol, An Antifungal Resveratrol Trimer from Stemonoporous canaliculatus. Phytochemistry. 27(2), 377-380. Clark Still, W., Kahn, Michael, Mitra, Anabhijat. 1978. Rapid Chromatographic Technique for Preparative Separations with Moderate Resolution. J. Org. Chem. 43. Hlm 2923-2925. Dai, J.R., Hallock, Y.F., Cardellina, J.H.H., & Boyd, M.R. 1998. HIV-Inhibitory and Cytotoxicity Oligostilbenes from the Leaves of Hopea malibato. J. Nat. Prod. 61. 351-353. Dewick, Paul M. 2002. Medicinal Natural Products A Biosynthetic Approach 2nd ed. John Wiley an Sons Ltd. England. Hlm 149. Ersam T. 2001. Senyawa Kimia Mikromolekul beberapa Tumbuhan Artocarpus Hutan Tropika Sumatera Barat. Disertasi. FPs-ITB. Bandung.

Ersam, T. 2004. Keunggulan Biodiversitas Hutan Tropika Indonesia Dalam Merekayasa Model Molekul Alami. Prosiding Seminar Nasional Kimia VI, ITS. Surabaya. Hlm 1-12. Ersam, T., Achmad, S. A., Ghisalberti, E. L., dan Hakim, E. H. 2003. Studi Afinitas Kimia Mikromolekul Tumbuhan Artocarpus altilis (Sukun) Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Kimia IV. ITS. Surabaya. 7 hlm. Fessenden, R.J., dan Fessenden, J. S.1999. Kimia Organik Jilid I. Alih Bahasa H. Pujaatmaka. Penerbit Erlangga. Jakarta. Hlm 311. Gritter, R.J., J.M. Bobbitt, A.E. Schwarting. 1991. Pengantar Kromatografi. Penerbit ITB. Bandung. 266 hlm. Harborne, J.B. 1996. Metode Fitokimia. Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Alih bahasa Kosasih Padmawinata. ITB Bandung, Hal 35-50. Hostettman, K., M. Hostettman, A. Maston. 1995. Cara Kromatografi Preparatif Penggunaan pada Senyawa Bahan Alam. Alih bahasa Kosasih Padmawinata. Penerbit ITB. Bandung. Hlm 27-34. Http: //www.chicagobotanic.org/2008/Mei/6/10:37 WIB. Http://www.one.indoskripsi.com/2008/November/28/10:41WIB. Http: //www.worldagroforestry.org/2006/Maret/15/02:41 WIB. Huang, K., Mao Lin, & Gui-Fang Cheng. 2001. Anti-inflammatory Tetramers of Resveratrol from the Roots of Vitis amurensis and the Conformations of the Seven Membered Ring in Some Oligostilbenes. Phytochemistry. 58. 357-362. Ihsan, Nurul. 2000. Isolasi Senyawa Aglikon Flavonoid dalam Ekstrak Metanol dari Daun Benalu Advokat menggunakan Kolom Kromatografi Gravitasi dengan Elusi Landaian. Skripsi. Unila. Bandar Lampung. Hlm 8. Ito, Tetsuro, T. Tanaka, Y. Ido, K. Nakaya, M. Iinuma, and S. Riswan. 2000. Four new stilbenoid C-glucosides isolated from the stem bark of Shorea hemsleyana. Chem. Pharm. Bull. 48. (12). 1959-1963. Johnson, L.E., dan R. Stevenson. 1991. Dasar Kromatografi Cair. Alih bahasa Kosasih Padmawinata. Penerbit ITB. Bandung. 365 hlm. Lastra, C, Alarćon de la, and I. Villegas. 2007. Resveratrol as an antioxidant and pro-oxidant agent: mechanisms and clinical implications. Biochemical Society Transactions. 35. (5). 1156-1160.

Markham, K.R. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Penerbit ITB. Bandung. Hlm 1-113. Manitto, Paolo. 1992. Biosintesis Produk Alami. Alih bahasa Koensoemardiyah. IKIP Semarang Press. Semarang. Mursito, Bambang. 2002. Ramuan Tradisional Untuk Penyakit Malaria. Penebar Swadaya. Jakarta. Noviany, E.H. Hakim, S. A. Achmad. Y. M. Syah, L. D. Juliawaty, N. Aimi, E. L. Ghisalberti, I. M. Choudhary. 2003. Beberapa oligomer stilbenoid dari tumbuhan Shorea multiflora Burck JMS. 8. (2). hal 125 – 132. Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITB. Bandung. Hlm 191-193. Rukmana, R. 1997. Budidaya Nangka. Penerbit Kanisius. Jakarta. Hlm 15-27. Sanoh, Seigo, S. Kitamaru, K. Sugihara, N. Fujimoto, S. Ohta. 2003. Estrogenic activity of stilbene derivates. J. of Health Science. 49. (5). 359-367. Sobolev, Victor S, S. A. Neff, J. B. Gleor. 2009. New stilbenoids from penaut (Arachis hypogaea) seeds challenged by an Aspergillus caelatus strain. J. Agric. Food Chem. 57. 62–68. Sotheswaran, S. dan Vinaygar P. 1993. Distribution of Resveratrol Oligomers in Plants. Phytochemistry. 32 (5). 1083-1092. Su, B.N., M. Cuendet, M.E. Hawthorne, L.B. S. Kardono, S. Riswan, H.H.S. Fong, R.G. Mehta, J.M. Pezzuto, and A.D. Kinghorn. 2002. Constituents of the bark and twigs of Artocarpus dadah with cyclooxygenase inhibitory activity. J. Nat. Prod., 65(2): 163–169. Sudjadi. 1983. Penentuan Struktur Senyawa Organik. Ghalia Indonesia. Jakarta. Hlm 175-232. Suhartati, T. 2001. Senyawa Fenol Beberapa Spesies Tumbuhan Jenis Cempedak Indonesia. Disertasi. Penerbit ITB. Bandung. Sukardiman, Santa, I. G. P., dan Rahmadany. 1999. Efek Antikanker Isolat Flavonoid Dari Herba Benalu Mangga (Dendrophtoe petandra). J. Cer. Dun. Ked. 122. Sultanbawa, M.U.S., Surendrakumar, S., & Bladon, P. 1987. Distichol, An Antibacterial Polyphenol from Shorea disticha. Phytochemistry. 26(3). 799-801.

Supriyanto, R. 1999. Buku Ajar Kimia Analitik III. FMIPA Universitas Lampung. Bandar Lampung. Hal 2-3. Tabata, Yoshiyuki, K. Takano, T. Ito, M. Iinuma, T. Yoshomoto, H. Miura, Y. Kitao, S. Ogawa, O. Hori. 2007. Vaticanol B, a resveratrol tetramer, regulates endoplasmic reticulum (ER) stress and inflammation. Am. J. Physiol. Cell Physiol. 10. 1152. Tjitrosoepomo, Gembong. 1994. Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.