1

PEMBELAJARAN MEMBACA CEPAT PADA SISWA KELAS 3 SD (Studi Kasus di SD Negeri Ketanggan 3 Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang Tahun Pelajaran 2011/2012)

Proposal Tesis Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Guna Mencapai Derajat Magister Program Studi Pendidikan Bahasa

Oleh : Hj. Purwaningsih NIM : 11PSC01197

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS WIDYA DHARMA KLATEN 2012

2

PERSETUJUAN PEMBELAJARAN MEMBACA CEPAT PADA SISWA KELAS 3 SD (Studi Kasus di SD Negeri Ketanggan 3 Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang Tahun Pelajaran 2011/2012) Oleh : Hj. Purwaningsih NIM : 11PSC01197

Telah disetujui oleh Pembimbing Dewan Pembimbing Jabatan

Nama/NIP

Tanta Tangan

Tangal

Pembimbing I

Dr. H. Basuki, MM NIP. Drs. Agus Yuliantoro, M.Hum NIP. 195910041986031002

.........................

...................

Pembimbing II

.........................

...................

Mengetahui Ketua Program Pendidikan Bahasa

Dr. Sudaryanto NIK. 6912002258

3

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................... I PENDAHULUAN ................................................................................... A. B. C. D. E. F II Latar Belakang ............................................................................... Identifikasi Masalah ....................................................................... Perumusan Masalah ........................................................................ Pemecahan Masalah ....................................................................... Tujuan Penelitian ........................................................................... Manfaat Penelitian .......................................................................... i ii iii 1 1 8 9 9 10 10 11

LANDASAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN DAN KERANGKA BERFIKIR ..................................................................... A. Landasan Teori ............................................................................... 1. 2. 3. B. Pengetian Membaca ................................................................ Pembelajaran Membaca Cepat ................................................ Hambatan dalam Membaca Ceat .............................................

11 11 25 40 48 54 54 55 56 58

Penelitian yang Relevan .................................................................

III

METODOLOGI PENELITIAN............................................................... A. B. C. D. Tempat dan lokasi Penelitian ......................................................... Jenis dan Strateg Penelitian .......................................................... Data dan Sumber Da ta................................................................... Teknik Pengumpulan Data .............................................................

4

E. F. G. H.

Tehnk Samling ............................................................................... Validasi Data .................................................................................. Teknik Analisa Data ....................................................................... Jadwal Penelitian ............................................................................

60 61 62 64 65

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

5

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pada abad ini, hampir di segala sektor kehidupan terjadi perubahan yang sangat cepat, bahkan hampir tak terduga. Supaya perubahan tersebut segera dapat diketahui seseorang, maka mereka harus memperoleh informasi dari beberapa sumber. Kemampuan yang harus dimiliki untuk melakukan itu semua salah satunya adalah kemampuan membaca. Kemampuan membaca tersebut bukan sekedar dapat membaca, melainkan membaca secara cepat, apalagi sumber informasi digital dan elektronis yang sekarang ini semakin pesat. Berbagai informasi baru terus bermunculan dalam kehidupan kita dalam setiap harinya. Informasi itu disebarkan memalui media elektronik maupun non elektronik. Informasi melalui media elektronik dapat diperoleh memalui internet, radio, dan televisi, sedangkan dari media nonelektronik dapat diperoleh dari surat kabar, majalah, jurnal, dan lainnya. Gencarnya arus informasi tersebut menuntut kita untuk memiliki kemampuan membaca cepat yang memadai. Membaca cepat adalah perpaduan kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorag dalam membaca. Membaca cepat merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. Kecepatan membaca seseorang harus seiring dengan kecepatan memahami bahan yang telah dibaca. Menurut Baldridge (1979: 16) dalam Nurhadi (2008: 12), setiap calon cendekiawan abad modern ini dituntut untuk membaca 850 kata/menit. Jika seseorang hanya mampu membaca 250 kata/menit, dalam seminggu ia harus

6

membaca kira-kira 56 jam, artinya 8 jam/hari. Sungguh dramatis, bukankah hidup ini tidak hanya diabdikan untuk membaca? Masih ada tugas lain yang lebih penting daripada itu. Agar seseorang dapat memanfaatkan waktu dengan efisien, sekali lagi seseorang perlu yang namanya membaca cepat. Kemampuan membaca cepat ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan sesuai dengan tujuan dan manfaat yang ditetapkan. Ketika kita membaca cepat suatu bacaan, tujuannya bukan untuk mencari kata atau gambar secepat mungkin, namun untuk mengidentifikasi dan memahami makna dari bacaan tersebut seefisien mungkin, kemudian mentransfer informasi ini kedalam memori jangka panjang dalam otak kita. Kemampuan membaca cepat merupakan ketrampilan memilih isi bacaan yang harus dibaca sesuai dengan tujuan, yang ada relevansinya dengan pembaca tanpa membuang0buang waktu untuk menekuni bagian-bagian lain yang tidak diperlukan (Soedarso, 2001: 6). Membaca cepat adalah ktrampilan membaca sekilas dengan mengondisikan otak bekerja lebih cepat sehingga konsentrasi akan lebih membaik secara otomatis (Hernowo, 2003: 12). Dalam membaca cepat terkandung di dalamnya pemahaman yang cepat pula (Soedarso, 2011: 8). Pemahaman inilah yang diprioritaskan dalam kegiatan membaca cepat, bukan kecepatan. Akan tetapi, akan tetapi tidak berarti bahwa membaca lambat akan meningkatkan pemahaman, bahkan orang yang biasa membaca lambat untuk memahami bacaan akan dapan mengambil manfaat yang besar dengan membaca cepat. Sebagaimana pengenndara mobil, seorang pembaca yang baik akan mengatur kecepatannya dan memilih jalan terbaik untuk

7

mencapai tujuannya. Kecepatan membaca seseorang sangat tergantung pada materi dan tujuan membaca, dan sejauh mana keakraban pembaca dengan materi bacaan. Strategi membaca cepat dilakukan dengan tujuan untuk memahami intisari bacaan, bukan bagian-bagian yang lebih kecil. Oleh sebab itu, dalamm membaca cepat sudah sepantasnya dilakuan dengan kecepatan tinggi, meskipun dimungkinkan terjadi lompatan-lompatan. Bagian – bagian yang dapat dilompati adalah bagian yang dianggap kurang informatif atau bagiian yang dianggap tidak perlu respon. Bagian – bagian yang umum dan sudah diketahui tidak perlu dibaca. Dengan demikian, panjang bacaan bisa berkurang sekitar 40%. Kuci utama membaca cepat adalah melaju terus tanpa harus memindahkan padangan kearah sebelumnya. Pembaca cepat yang baik hendaknya membiasakan gerakan mata dan proses berfikir mengalir dari awal menuju akhir bacaan. Pada saat berlatih membaca cepat awal, pembaca dapat meinggalkan sementara aspek pemahaman secara menyeluruh. Pembaca dapat memperhatikan makna kata-kata kunci yang ditemukan atau pemahaman yang dipeeolah merupakan pemahaman penggalan-penggalan bacaan. Ada beberapa keuntungan apabila kita memiliki kemampuan membaca cepat. Dalam keadaan terdesak, seseorang pembaca dapat menyelesaikan bahan bacaan secara lebih luwes. Pembaca dapat secara cepat mengetahui bagian bacaan yang perlu dibaca dan yang tidak perlu dibaca. Perhatian pembaca bisa langsung fokus pada bagian-bagian yang baru dan belum dikuasai dengan

mengkesampingkan hal-hal yang sudah dipahami. Pembaca yang memiliki

8

kemampuan membaca cepat akan lebih dahulu dibanding dengan pembaca pada umumnya.

menyelesaikan tugasnya

Ada empa macam cara membaca, yaitu: reguler (biasa), melihat dengan cepat, mengilas, dan kecepatan tinggi. Pertama, cara membaca reguler (biasa) cara membaca ini relatif lambat karena kita membaca baris-demi baris yang biasa dilakukan dalam bacaan ringan. Kedua, cara membaca melihat dengan cepat (Skimming). Cara ini digunakan ketika kita mencari sesuatu yang khusus, dalam sebuah bacaan, kita sedang membaca buku telefon atau kamus. Ketiga cara membaca sekilas (scanning). Cara ini digunakan untuk melihat isi buku ataupun pada saat kita membaca koran, dan keempat cara membaca kecepatan tinggi (Warp speed). Kecepatan tinnggi merupakan teknik membaca suatu bahan bacaan berkecepatan tinggi dengan pemahaman yang sangat tinggi pula. Kenuataan menunjukan bahwa sekamin berkeembangnya karier seseorang tj-ntutan membaca sekamin besar, padahal waktu yang tersedian semakin terbatas. Semua harus berpacu denga informasi dan gagasan yang setiap hari membanjiri meja kerjanya. Infromasi yang membajiri akan memperbudaknya apabila ia tidak trampil membaca cepat. Sememntara itu, masih terdengar keluahan bahwa kemampuan membaca buku-buku para mahasiswa indonesia terlalu lemah. Mereka terlalu lama menyesuaikan pembacaan buku-buku, bahkan buku-buku yang tipis sekalipun. Hal itu terjadi bukan hanya karena kesalahan mereka. Sewaktu bersekolah di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar mereka memang diajari membaca, mengenali kata, mengejanya, dan seterusnya. Ketika duduk dibangku sekolah menengah pertama dan tingkat atasnya mereka tidak lagi

9

diajari cara membaca yang benar. Salah satunya adalah cara membaca cepat yang benar. Tetapi yang paling mendasar dalam Bahasa Indonesia adalah aspek membaca. Kemampuan anak dalam membaca sangat berbeda-beda. Ada yang kemampuannya tinggi dan ada yang sedang. Dalam membaca cepat teks panjang 100-200 kata permenit anak masih banyak kekurangn atau kesalahan dalam hal teknik membaca. Berdasarkan data awal yang didapatkan melalui pengamatan dan wawancara dengan guru bahasa Indonesia mengenai kemampuan siswa membaca cepat di lima lokasi sekolah dasar yang berada di kecamatan Gringsing yaitu SD Negeri 1 Ketanggan , SD Negeri 2 Ketanggan , SD Negeri 3 Ketanggan , SD Neger 1 Sawangan , dan SD Negeri 2 Sawangan. peneliti memperoleh gambaran bahwa kemampuan siswa dalam membaca cepat sudah termasuk kategori baik. Dalam wawancara, guru Bahasa Indonesia dari SD tersebut menambahkan bahwa siswa SD Gringsing mempuyai antusias belajar yang tinggi. Karena mempunyai antusias yang tinggi siswa tersebut memudahkan siswa untuk mencapai prestasi yang baik, khususnya dalam membaca cepat. Selain itu, peras orang tua sangat kuat sekali terhadap siswa tersebut. Peran tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya orang tua yangmengikutkan anaknya untuk belajar di luar sekolah (bimbel). Namun ketika peneliti melakukan pengamatan dan wawancara awal dengan guru bahasa Indonesia di SD Negeri 3 Ketanggan tahun pelajaran

2011/2012, prestasinya sangat berbeda sekali dengan SD lain. Selama melakukan

10

pengamatan terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di kelas 3 SD Negeri 3 Ketanggan dapat digambarkan sebagai berikut. Pada aspek membaca dapat

diketahui siswa masih banyak sekali kekurangan dalam hal teknik membaca. Anak belum bisa membaca dengan intonesi, lafal, pemahaman isi, pemanfaatan atau penggunaan waktu dan lain-lain dengan baik. Berdasarkan standar kompetensi yang tercantum pada RPP yang telah dibuat oleh guru. Dalam RPP guru mencantumkan standar kompetensinya pada aspek membaca adalah “Memahami teks dengan membaca intensif (150-200 kata permenit) dan membaca teks”, namun sesuai kenyataan dilapangan bahwa sebagian besar siswa kelas 3 dalam membaca cepat belum sesuai dengan standar kompetensi. Rata-rata siswa baru mampu membaca sekitar 100-150 kata/menit. Sedangkan data yang diambil melalui wawancara dengan guru bahasa Indonesia kelas 3 SD Negeri 3 Ketanggan , guru menjelaskan bahwa penyebab terjadinya prestasi siswa SD Negeri Tambakmulyo II adalah yang pertama karena banyaknya siswa SD ini. Sesuai dengan data siswa selama lima tahun terakhir SD tersebut mempunyai jumlah yang melebihi kapasitas kelas. Untuk tahun ini, siswa kelas 3 berjumlah 37 siswa. Dengan banyaknya siswa tersebut merupakan faktor utama yang menyebabkan kurang efektifnya dalam pembelajaran. Ditambah kagi dengan heterogennya kemampuan kelas 3 tersebut. Dalam pembelajaran, guru harus bekerja ekstra. Selama di kelas, guru tidak hanya berlaku sebagai guru saja, melainkan guru juga harus berperan sebagai orang tua yang mana guu tidak hanya memberi materi pelajaran saja, tapi juga harus bisa menasehati siswa. Hal tersebut dikarenakan selama proses pembelajaran, gur

11

tidak jarang mendapati siswanya yang sering berkelahi karena disebabkan mereka rebutan tempat duduk. Dengan berbagai permasalahan di atas, akhirnya banyak waktu yang terbuang sehingga pembelajaranb kurang efektif. Berdasarkan temuan data di atas merupakan penyebab atau faktor mengapa kemampuan membaca para siswa rendah. Faktor yang dimaksudkan dapat berasal dari dalam maupun luar siswa. |Faktor dari dalam berarti faktor dari siswa. Mereka mempunyai kebiasaan menunda atau interupsi, mengulangi pembacaan, vokalisasi dan subvokalisasi. Sedangkan faktor dari luar misalnya dari guru. Guru kurang tepat dalam memilih dan menggunakan medi pembelajaran. Secara tidak langsung hal tersebut akan semakin membuat kemampuan ketidak berhasilan pembelajaran membaca cepat. Kesalahan umum yang sering dilakukan oleh siswa dalam membaca adalan mereka terlalu menekuni detail sehingga kehilangan ide sentralnya. Menemukan ide pokok suatu paragraf atau bacaan adalah kunci untuk mengerti ini bacaan. Lebih lanjut Soedarso menjelaskan bahwa pada hakikatnya, membaca cepat adalah krampilan memilih isi bahan yang harus dibaca sesuai dengan tujuannya, yang ada relevansinya, tanpa membuang-buang waktu untuk menekuni bagian-bagian yang tidak diperlukan. Keadaan tersebut dipacu oleh beberapa kebiasaan yang salah, diantaranya vokalisasi, gerakan bibir, gerakan kepala, menunju dengan jari, regresi dan subvokalisasi. Walaupun secara umum hasil pembelajaran membaca sebagaimana dikemukakan di atas dinilai belum memuaskan, tentu tidak semuanya demikian. Pada kenyataannya, ada seseorang atau beberapa orang guru sekolah yang cukup

12

atau bahkan berhasil dalam pembelajaran membaca cepat. Peneliti sering menemukan hal yang lebih spesifik dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu masih banyak guru yang monoton dalam melaksanakan pembelajaran ketrampilan berbahasa, baik bahasa lisan atau tulisan. Hal tersebut dapat di lihat dari pemilihan metpde, relatifitas penggunaan alat bantu (media). Permasalahan inilah yang menjadikan siswa kurang minat dalam belajar. Mengingat begitu luasnya ruang pengkajian tentang ketrampilan membaca, maka dalam penelitian ini hnaya akan meneliti atau mengkaji tentang pembelajaran membaca cepat pada siswa kelas 3 SD Negeri 3 Ketanggan , kecamatan Gringsing , Kabupaten Batang. Dengan demikian dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan kajian tentang pembelajaran membaca cepat siswa kelas 3 SD Negeri 3 Ketanggan , kecamatan Gringsing , Kabupaten Batang. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah yang dapat diidentifikasikan dalam pembelajaran membaca cepat sebagai berikut. 1. Ketidaksesuaian strategi pembelajaran yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran membaca cepat. 2. Ketidaksesuaian media pembelajaran yang diguanakan guru untuk dapat meningkatkan semangat dan motivasi siswa dalam membaca cepat 3. Kurang diperdayakan pemakaian media pembelajaran di kelas dalam proses pengelolaan pembelajaran 4. Guru masih kurang kreatif dalam mengelola pembelajaran bahasa Indonesia

13

5. Kurangnya kegiatan berlatih bahasa dalam proses pembelajaran 6. Rendahnya kemampuan siswa dalam membaca cepat bahan-bahan pustaka yang ada 7. Kurangnya minat dan motivasi siswa membaca cepat toko bacaan C. Pembatasan Masalah Dari ketujuh permasalahan yang telah diidentifikasi di atas, selanjutnya penelitian ini dibatasi hanya pada masalah upaya pengelolaan pembelajaran membaca cepat pada pelajaran bahasa Indonesia . Objek dalam penelitian ini adalah siswa dan guru mata pelajaran bahasa \indonesia di kelas 3 SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang. D. Rumusan Masalah Masalah pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran membaca cepat pada siswa kelas 3 SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang. 2. Faktor apa saja yang menghambat guru dalam pembelajaran membaca cepat di kelas 3 SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang. E. Tujuan Pene;itian Berdasarkan pada rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah : 1. Menjelaskan pelaksanaan proses pembelajaran membaca cepat pada siswa kelas 3 SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang.

14

2. Mengetahui kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru ketika melaksanakan proses pembelajaran membaca cepat pada siswa kelas 3 SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang. F. Manfaat Penelitian 1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan berbagai manfaat bagi para siswa dan guru,terutama guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Siswa menjadi lebih tertarik dalam mengikuti pembelajaran membaca cepat. 2. Dapat membangkitkan gairah dan semangat belajar siswa sehingga pembelajaran membaca cepat lebih menunjukkan keberhasilannya. Kebiasaan menunda dan interupsi, serta regresi pun akan dapat dikurangi bahkan dihindari. 3. Bagi guru, kegiatan memilih atau merancang media pembelajaran yang tepat dan inovatif akan lebih meningkatkan kreatifitas mereka. 4. Guru akan lebih tertantang untuk bisa berkreasi dan berinovasi sendiri dalam membuat media-media pembelajaran alternatif-inovatif. 5. Bagi lembaga pendidikan penelitian ini akan bisa memberikan satu kontribusi yang cukup berarti apabila disosialisasikan dan dikembangkan di kalangan guru. Bentuk sosialisasi tersebut misalnya pelatihan-pelatihan media pembelajaran, simposium-simposium guru, workshop multimedia, dan sebagainya.

15

II.

LANDASAN

TEORI,

PENELITIAN

YANG

RELEVAN

DAN

KERANGKA BERFIKIR A. Landasan Teori Pada bab ini, penelitiakan memaparkan beberapa keterkaitan landasan eori yang digunakan dalam peiitian ini. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tentang pembelajaran membaca cepat dan hambatan membaca cepat. 1. Pengetian membaca Membaca adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Dalam kegiatan membaca, kegiatan lebih banyak dititikberatkan pada keterampilan membaca daripada teori-teori membaca itu sendiri. Henry Guntur Tarigan menyebutkan tiga komponen dalam

keterampilan membaca, yaitu: 1. Pengenalan terhadap aksara-aksara serta tanda-tanda baca. 2. Korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur linguistik yang formal. 3. Hubungan lebih lanjut dari A dan B dengan makna. Setiap guru bahasa haruslah menyadari serta memahami benar-benar bahwa membaca adalah suatu metode yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi dengan diri kita sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain yaitu mengomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambanglambang tertulis.

16

Henry Guntur Tarigan berpendapat bahwa “Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis”. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik. Membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam yang tersurat, yakni memahami makna yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis. Makna bacaan tidak terletak pada halaman tertulis tetapi berada pada pikiran pembaca. Demikianlah makna itu akan berubah, karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang dipergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut. Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan / cetakan menjadi bunyi yang bermakna. Membaca merupakan suatu penafsiran atau interpretasi terhadap ujaran yang berada dalam bentuk tulisan adalah suatu proses pembacaan sandi (decoding process).

17

Membaca adalah suatu proses yang bersangkut paut dengan bahasa. Oleh karena itu maka para pelajar haruslah dibantu untuk menanggapi atau memberi responsi terhadap lambang-lambang visual yang menggambarkan tanda-tanda oditori dan berbicara haruslah selalu mendahului kegiatan membaca. Harimurti Kridalaksana mengatakan “Membaca adalah menggali informasi dari teks, baik yang berupa tulisan maupun dari gambar atau diagram maupun dari kombinasi itu semua” Soedarso berpendapat bahwa “Membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, meliputi orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat” DP. Tampubolon berpendapat bahwa “Membaca adalah kegiatan fisik dan mental yang dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan” Bahkan ada pula beberapa penulis yang beranggapan bahwa membaca adalah suatu kemauan untuk melihat lambang-lambang tertulis serta mengubah lambang-lambang tertulis tersebut melalui suatu metode pengajaran membaca seperti fonik (ucapan, ejaan berdasarkan interpretasi fonetik terhadap ejaan biasa) menjadi membaca lisan. Demikianlah makna itu akan berubah, karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang dipergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut.

18

Dalam kurikulum 2004 terdapat Kompetensi Dasar yang harus dipahami guru agar dapat di miliki oleh siswa, selain itu terdapat empat kemampuan berbahasa, yakni menulis, berbicara, membaca mendengarkan. Untuk pembelajaran membaca di kelas satu sekolah dasar dengan standar kompetensi yang harus dicapai siswa yaitu mampu membaca dan memahami teks pendek dengan cara membaca lancar ( bersuara ) beberapa kalimat sederhana. Kompetensi Dasar membaca di kelas satu sekolah dasar adalah sebagai berikut : - Membiasakan sikap membaca yang benar - Mampu membaca nyaring suku kata, kata dan kalimat - Mampu membaca bersuara ( lancar ) kalimat - Mampu membacakan penggalan cerita dengan lafal yang benar. Berdasarkan uraian dari kompetensi dasar, siswa kelas satu harus mampu membaca lancar kalimat dengan lafal dan intonasi yang tepat. Dan semua kompetensi dasar yang merupakan tujuan dari membaca harus tercapai oleh siswa. Supaya siswa dapat melanjutkan kejenjang berikutnya. Pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan pada kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Materi yang dikembangkan dalam KTSP mencakup empat aspek, yakni berbicara, membaca,

mendengarkan dan menulis, Pada akhir pendidikan disekolah dasar, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya sembilan buku sastra dan non sastra.

19

Pembelajaran Bahasa Indonesia di arahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu juga untuk menumbuhkan apresiasi siswa terhadap karya sastra. Tujuan diberikannya mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut : a. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis. b. Menghargai dan bangga menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara c. Memahami Bahasa Indonesia dan menggunakan dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. d. Mengunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan

intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. e. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperluas budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan

kemampuan berbahasa. f. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia Didalam kurikulum 2006 (KTSP) terdapat standar kompetensi dan kompetensi dasar setiap mata pelajaran yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tersebut merupakan tujuan yang harus dicapai dalam setiap bidang studi. 2. Pembelajaran Membaca Cepat

20

Membaca cepat adalah perpaduan kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. Membaca cepat merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. Kecepatan membaca yang seseorang harus seiring dengan kecepatan memahami bahan bacaan yang telah dibaca. Ketika kita membaca cepat suatu bacaan, tujuan sebenarnya bukan utuk mencari kata dan gambar secepat mungkin, namun untuk mengidentifikasi dan memahami makna dari bacaan tersebut seefisien mungkin dan kemudia mentransfer informasi ini kedalam memori jangka panjang dalam otak kita. Kemampuan membaca cepat merupakan keterampilan memilih isi bacaan yang harus dibaca sesuai dengan tujuan, yang ada relevansinya dengan pembaca tanpa membuang-buang waktu untuk menekuni bagian-bagian lain yang tidak diperlukan. 1) Tujuan Pembelajaran Membaca Cepat Dalam membaca cepat terkandung di dalamnya pemahaman yang cepat pula. Pemahaman inilah yang diperioritaskan dalam kegiatan membaca cepat, bukan kecepatan. Akan tetapi, tidak berarti bahwa membaca lambat akan meningkatkan pemahaman, bahkan orang yang biasa membaca lambat untuk mengerti suatu bacaan akan dapat mengambil manfaat yang besar dengan membaca cepat. Sebagaimana pengendara mobil, seorang pembacayang baik akan mengatur kecepatannya dan memilih jalan terbaik untuk mencapai tujuannya. Kecepatan membaca seseorang sangat

21

tergantung pada materi dan tujuan membaca, dan sejauh mana keskraban pembaca dengan materi bacaan. Dalam kurikulum 2004 tertulis membaca intensif, membaca sekilas dan membaca ekstensif. Semuanya itu dapat masuk kedalam jenis membaca cepat. Tujuan yang hendak dicapai melalui membaca cepat ialah melatih keceptan gerak mata para siswa saat membaca. Membaca cepat perlu diajarkan pada para siswa, karena pada saatnya kelak siswa harus dapat membaca suatu pengumuman, pemberitahuan, berita dan tulisantulisan lain dalam waktu yang cepat. Dalam kehidupan sehari-hari membaca cepat sangat dibutuhka karena pada abad informasi ini kita dihadapkan pada berbagai sumber informasi yang sangat banyak jumlahnya dan tentunya kita tidak ingin tertinggal informasi. Pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah dasar (SD) bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Ketrampilan membaca sebagai salah satu ketrampilan berbahasa tulis yang bersifat represif perlu dimiliki siswa SD agar mampu berkomunikasi secara tertulis. Oleh karena itu, peranan pengajaran Bahasa Indonesia khususnya pengajaran membaca di SD menjadi sangat penting. Peran tersebut semakin penting bila dikaitkan dengan tuntutan pemilikan kemahirwacanaan dalam abad informasi. Pengajaran bahasa Indonesia di SD yang bertumpu pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu diarahkan pada tercapainya hemahirwacanaan.

22

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasaan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Suasana belajar harus dapat diciptakan melalui kegiatan permainan bahasa dalam pembelajaran membaca. Hal itu sesuai dengan karakteristik anak yag masih senang bermain. Permainan memiliki peran penting dalam perkembangan kognnitif dan sosial anak. Membaca merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Keempat aspek tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu (1) ketrampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi ketrampilan membaca dan menyimak, (2) ketrampilan yang bersifat mengungkap (produktif) yang meliputi ketrampilan menulis dan berbicara (Mucholis, 1992: 119). Pada tahap permulaan mengenalkan membaca cepat kepada siswa kelas III dan IV sekolah dasar, bahan bacaan hendaknya yang pernah dibaca siswa supaya tidak terhambat oleh istilah yang belum dikenal. Pada kelas ini para siswa sudah mampu membaca dengan baik dan lancar sedangkan pada kelas V dan VI dapat dilakukan 3 (tiga) kali dalam sebulan karena mustahil seseorang dapat membaca cepat tanpa latihan yang intensif dan berkesinambungan.

23

Keterampilan membaca dan menulis, khususnya ketrampilan membaca harus segera dikuasai oleh para siswa di SD karena ketrampilan ini secara langsung berkaita dengan seluruh proses belajar siswa di SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajarmengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan kemampuan

membaca mereka. Siswa yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai buku pelajaran, bukubuku bahan penunjang dan sumber-sumber belajar tertulis yang lain. Akibatnya, kemajuan belajarnya juga lamban jika dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak mengalami kesulitan dalam membaca. Menurut pandangan “whole language” membaca tidak diajarkan sebagai suatu pokok bahasan yang berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran bahasa bersama dengan ketrampilan berbahasa yang lain. Kenyataan tersebut dapat dilihat bahwa dalam proses pembelajaran bahasa, ketrampilan berbahasa tertentu dapat dikaitkan dengan ketrampilan berbahsa yang lain. Pengaitan ketrampilan berbahsa yang dimaksud tidak sewlalu melibatkan keempat ketrampilan berbahasa sekaligus, melainkan dapat hanya meyangkut dua ketrampilan saja sepanjang aktifitas berbahasa yang dilakukan bermakna. Pemeblajaran membaca di SD dilaksanakan sesuai dengan pembedaan atas kelas-kelas awal dan kelas-kelas tinggi. Pelajaran membaca dan menulis di kelas-kelas

24

awal disebut pelajaran mebaca dan menulis permulaan, sedangkan di kelas-kelas tinggi disebut pelajaran membaca dan menulis lanjut. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca cepat adalah proses membaca bacaan untuk memahami isi-isi bacaan dengan cepat. Membaca cepat memberi kesempatan untuk membaca secara lebih luas, bagian-bagian bacaan yang sudah sangat diknal atau dipahami tidak usah dihiraukan. Perhatian dapat difokuskan pada bagian-bagian yang baru atau bagian-bagian yang belum dikuasai. Dengan membaca cepat bisa memperoleh pengetahuan yang luas tentang apa yang diabacanya, sesuai dengan sifat bacaan yang tidak memerlukan pendalaman. 2) Materi Pembelajaran Membaca Cepat Materi bacaan yang memiliki daan dengan sungguh-sungguh. Materi bacaan yag memiliki daya tarik dan memiliki tingkat kesukaran yang sesuai dengan perkembangan kemampuan siswa dapat memotivasi siswa untuk membaca suatu bacaan dengan sugguh-sungguh. Materi bacaan yang memilikibdaya tarik bagi siswa akan memotivasi siswa untuk membacanya dengan sungguh-sugguh. Hal itu selanjutnya akan

menunjang pemahaman pembaca terhadap isi bacaan. Seeperti hasil penelitian Garner dan Gillingham (1991) juga menunjukkan bahwa pembaca mengetahui sesuatu lebih banyak dari bacaan yang menarik daripada bacaan yang tidak menarik. Singh (1979) menyarankan kepada guru untuk mencari materi bacaan di luar buku pelajaran apabila bacaan dalam buku pelajaran siswa

25

tidak memenuhi kriteria. Materi dalam bacaan diusahakan yang mudah karena dengan materi yang mudah, siswa akan mendapatkan kecepatan membaca yang lebih baik dibanding dengan materi yang sulit. Penggunaan materi tambahan yang mudah sangat membantu siswa dan dapat merangsang siswa untuk meningkatkan kemampuan membacanya. Pemilihan materi bacaan hendaknya medalam menentukan materi bacaan libatkan siswa. Pelibatan siswa dapat lebih menjamin bahwa materi bacaan yang dipakai sesuai dengan minat siswa. Siswa merasa diperhatikan dalam proses perencanaan kegiatan belajar-mengajar. Hal itu selanjutnya dapat menumbuhkan sikap postif terhadap pengajaran membaca. Di samping dari segi isi, pemilihan materi bacaan juga perlu dipertimbangkan dari segi tingkat kesukaran. Tingkat kesukaran perlu diperatikan agar materi bacaan tidak terlalu sukar dan juga tidak terlalu mudah. Materi bacaan yang terlalu sukar dapat menyebabkan siswa mengalami frustasi. Sebaliknya, materi bacaan yang terlalu mudah kurang dapat menggugah semangat siswa untuk membacanya. Untuk mengukur keterbacaan suatu materi bacaan dapat digunakan teknik close. Dengan teknik ini, presentase pengisian secara benar dapat dipakai sebagai dasar untuk menentukan tingkat kesulitan bacaan. Burn dan Roe (1980) menetapkan kriteria tingkat keterbacaan sebagai berikut. Pertama, apabila siswa dapat mengisi jawaban dengan benar kurang dari 40%, bacaan tersebut termasuk tingkat frustasi, atau terlalu sulit. Kedua,

26

apabila siswa dapat menjawab benar 40% sampai dengan 50%, bacaan tersebbut termasuk tingkat instruksional sehingga apabila digunakan masih perlu bimbingan guru. Ketiga, apabila siswa dapat menjawab benar lebih dari 50%, bacaan tersebut termasuk tingkat independen dan siswa dapat membaca ssecara mandiri. Selain menggunakan teknik close, tingkat keterbacaan dapat diukur dengan formula keterbacaan Fry. Fry menggunakan dua kriteria untuk menemukan tingkat kesukaran, yaitu kesukaran kata dan kerumitan gramatikal (Fry, 1965). Selanjutnya, Fry mengemukakan dua cara untuk menentukan kesukaran kata. Pertama, menghitung jumlah kata yang tidak terdapat dalam 3000 daftar kata yang lazim. Kedua, menghitung jumlah suku kata dalam 100 kata. Selain faktor-faktor diatas, Konstant (2003) dalam bukunya yang berjudul Speed Reading menyampaikan bahwa ada lima faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan membaca seseorang, yaitu kejelasan maksud atau tujuan, perasaan pembaca, ketidakasingan terhadap terminologi subjek, tingkat kesulitan bacaan,dan ketegangan. Faktor pertama kejelasan maksud/ tujuan, merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan membaca seseorang. Makin jelas tujuan seseorang membaca, makin cepat seseorang dapat menyelesaikan bacaannya. Kedua, faktor perasaan. Apabla seorang pembaca merasa capek, kurang istirahat , tidak sabar, dat enggan tentunya tidak akan dapat membaca secepat pembaca yang segar, senang, sadar tentang pentingnya bahan yang dibaca. Untuk itu, untuk

27

membaca cepat, seseorang mempersiapkan dirinya, baik secarafisik maupun psikis sebaik mungkin. Ketiga, faktor ketidakasingan terhadap terminologi subjek. Artinya, pembaca yang banyak memahami kata-kata atau istilah yang ada dalam bacaan, dia akan lebih cepat untuk menyelesaikan bacaannya. Berbeda dengan pembaca yang banyak menemui kata-kata yang sulit atau tidak dimengerti artinya, dia akan sering berhenti ketika membacanya. Akibatnya, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bacaannya relatif lama. Keempat, faktor kesulitan teks/ bacaan. Bacaan yang sulit dipahami isinya karena beberapa faktor, misalnya topik yang tidak sesuai dengan kemampuanya, teknik penguraian yang kurang baik, banyaknya kalimat yang sulit dipahami, serta struktur bacaan yang tidak jelas membuat tingkat pemahaman pembaca terhadap isi bacaan relatif rendah. Akibatnya, pembaca tersebut sering berhenti waktu ketika yang sedang membaca. untuk

Pemberhentian

membut

dibutuhkan

menyelesaikan pembacaan relatif lama. Faktor yang ke lima yaitu ketegangan. Pembaca yang sedang stres atau tegang karena harus segera menyelesaikan pembacaan justru dapat memperlambat membacanya. 3) Metode Pembelajaran Membaca Cepat Pengajaran membaca yang paling baik adalah pengajaran membaca yang didasarkan pada kebutuhan siswa dan mempertimbangkan apa yang telah

28

dikuasai oleh siswa. Rofi’udin, (2002 : 37) mengemukakan beberapa kegiatan yang dilakukan pada pengajaran membaca yaitu : a) Peningkatan ucapan Guru perlu mengidentifikasi bunyi-bunyi mna yang sulit diucapkan anak dan bunyi tersebut perlu dilatih secara terpisah. b) Kesadaran foremik (bunyi) Kegiatan difokuskan untuk mengenal anak terhadap bunyi-bunyi yang membangun susatu kata. c) Hubungan antara bunyi-huruf Pengetahuan tentang hubungan bunyi huruf merupakan pra syarat dalam membaca. Guru dipandang perlu mengidentifikasi apakah anak telah dapat dengan tepat mencocokan antara bunyi dengan huruf. d) Membedakan huruf Maksudnya kemampuan membedakan lambang bunyi. Jika anak masih mengalami kesulitan membedakan huruf maka dia belum siap untuk membaca. e) Membedakan bunyi-bunyi Kemampuan membedakan bunyi-bunyi bahasa merupakan hal penting dalam pemerolehan bahasa. Latihan membedakan bunyi diarahkan pada bunyi-bunyi sejenis, baik yang membedakan arti maupun yang tidak membedakan arti. Beberapa metode yang dikembangkan untuk mengembangkan

kecepatan membaca (Nurhadi,2008: 17)

29

a) Membaca kosakata Metode kosakata adalah metode mengembangkan kecepatan membaca melalui pengembangan kosakata. Artinya, metode ini

mengarahkan perhatian pada aspek perbendaharaan kata seorang pembaca. Bagaimana caranya? Kosakata seseorang itu terbatas jumlahnya, dan akan selalu berkembang terus sesuai dengan kemampuannya menambah kosakata itu setiap hari. Latihan meningkatkan dan menambah kosakata itu setiap hari. Latihan meningkatkan dan menambah kosakata baru dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak inilah prinsip metode kosakata di atas. Dasar pikiran metode ini sudah jelas, yaitu semakin besar dan semakin banyak perbendaharaan kata seseorang, semakin tinggi kecepatan membacanya. Inilah prinsipnya. Akan tetapi, tampaknya metode ini tak banyak dipakai orang. Sebab nyatanya perbendaharaan kata yang benar menjamin kecepatan membaca seseorang. Aku dengan kata lain, peningkatan jumlah kosakata baru belum tentu diikuti oleh kecepatan membacanya. Yang mungkin terjadi ialah bahwa kekayaan akan kosakata, akan menjamin kelancaran mencerna setiap kata yang dibaca seseorang. Akan tetapi, sebagai sarana penunjang, tak ada jeleknya sarana metode ini diikuti, yaitu belajar menambah perbendaharaan kosakata terus-menerus melalui media bacaan baru. b) Metode motivasi (minat)

30

Metode motivasi disebut minat. Cara kerjanya ialah memotivasi para pemula (pembaca yang mengalami hambatan dalam kecepatan membacanya) dengan berbagai macam rangsangan bacaan yang menarik sehingga tumbuh minat membacanya. Dari sini kemudian diharapkan muncul kebiasaan membaca tinggi, yang pada akhirnya meningkat pula kecepatan dan pemahamannya terhadap bacaan. Pikiran yang mendasari lahirnya metode ialah semakin tertarik ata berminatnya seseorang pada jenis buku tertentu, semakin tinggi kecepatan dan pemahaman seseorang. Demikian sebaliknya, bila seseorang membaca buku yang kurang disukai maka ia akan membaca dengan kecepatan yang rendah. Atau dengan kata lain, minat terhadap bacaan itu daya kata seseorang. Oleh karena itu, saran pencipta metode ini, untuk meningkatkan kecepatan membaca anak didik, berikan motivasi rangsangan membaca dengan buku-buku atau bahan bacaan yang diminatinya. Akan tetapi, tampaknya, seperti metode yang pertama, metode ini tak bnyak diikuti orang, karena bukti bahwa tidak kecepatan membaca yang tinggi ini disebabkan oleh daya terhadap buku yang dibaca. Bisa saja terjadi bahwa seseorang membaca buku tertentu dengan kecepatan dan kecermatan yang meskipun ia kurang senang dengan buku tersebut. Yang benar mungkin ialah bahwa minat atau motifasi yang tinggi untuk membaca, akan menimbulkan kebiasaan membaca. Dan kebahasaan membaca inilah yang akan meingkatkan kecepatan dan kecermatan membaca, sedikit demi sedikit. Tidak ada jeleknya metode ini diterapkan.

31

Bukan mengikuti prinsipnya, melainkan peningkatan minat baca itulah barang kali yang paling penting. c) Metode bantuan alat Metode ketiga yang pernah dikembangkan untuk meningkatkan keceptan dan kecermatan membaca anak didik adalah melatih keceptan membaca itu dengan bantuan alat. Ketika seorang membaca (melihat barisbaris bacaan), gerak matanya dipercepat dengan bantuan alat yang berupa ujung ujung jari, atau alat penunjuk khusus dari kayu. Gerak mata oleh gerak ujung alat yang digunakannya. Pertama dengan kecepatan rendah, kemudian dipercepat, dan terus dipercepat. Jadi, kecepatan mata mengikuti kecepatan gerak alat. Metode ini memperoleh hasil cukup memuaskan. Terjadi peningkatan membaca memindai. Akan tetapi ada efek negatifnya, yaitu adanya ketergantungan pada alat yang digunakan. Begitu alat dihilangkan, kecepatan membaca akan kembali seperti semula. Dan kecenderungan yang kurang diterapkan pada pengajaran membaca lanjut. d) Metode gerak mata Metode gerak mata adalah metode yang paling banyak dipakai dan dikembangkan orang saat ini, baik utnuk pengajaran membaca permulaan, maupun bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kecepatan membacanya. Metode ini diterapkan dengan mengebangkan kecepatan membaca dengan meningkatkan kecepatan gerak mata. Kecepatan membaca itu sendiri

32

berarti kecepatan gerak mata dalam menelusuri unit-unit bahasa dalam bacaan. Metode ini mendapat sukses besar dalam meningkatkan kecepatan membaca. Selain caranya yang mudah dan dalam waktu yang relatif singkat, seseorang akan mampu meningkatkan kecepatan membacanya dua sampai tiga kali lipat. Jika di atas dijelaskan bahwa pengetahuan, pengalaman dan kemampuan berkomunikasi lisan merupakan modal utama membaca, tampaknya pengetahuan tentang teknik lebih cenderung dianggap sebagai alat. Alat yang dapat digunakan dalam mencerna bahan tulis. Realisasinya berupa seperangkat ketrampilan untuk mengolah setiap aspek bacaan menjadi sesuatu yang bermakna bagi pembaca. Keterampilan ini berkaitan dengan keseluruhan aktivitas membaca sehingga dapat mencakup makna proses membaca sebagai kegiatan mempersepsi simbol-simbol tulis, membaca sebagai aktivitas mengolah makna yang terkandung dalam

bahan bacaan, kreativitas membaca, sampai pada aktivitas membaca cepat. Secara garis besar, pengetahuan tentang teknik membaca itu meliputi (1) Pengetahuan tentang aspek-aspek ketrampilan membaca, (2) pengetahuan tentang teknik membaca cepat, dan (3) pengetahuan tentang membaca telaah ilmiah. Berikut ini uraian dari masing-masing ketrampilan tersebut. Menurut Nurhadi (2008 : 129) ada beberapa pengetahuan tentang teknik membaca cepat, yaitu kemampuan membaca pemahaman dengan

33

kecepatan di atas 400 kata per menit, kemampuan membaca dengan teknik skiming, dan kemampuan membaca cepat dengan teknik skaning. Sejauh yang pernah dikembangkan para ahli membaca, metode membaca cepat meliputi metode-metode di bawah ini (Nurhadi, 2008 : 129). Berikut masing-masing keterangannya secara singkat. a) Metode SQ3R Sesuai dengan namanya, metode ini merupakan singkatan dari setiap tahap dari masing-masing langkah yang harus dilalui oleh seorang pembaca buku-buku ilmiah secara intensif. Tahapan itu meliputi Survey, Question, Read, Recite, dan Review. 1. S = Survey, sebelum terjun membaca, sediakan waktu beberapa menit untuk mengenal keseluruhan anatomi buku. Caranya dengan membuka-buka buku secara cepat dan keseluruhan yang langsung tampak mata. Yang dimaksud anatomi buku tersebut meliputi (1) bagian preliminaries, yaitu meliputi halaman judul (Apakah judul buku tersebut? Siapa pengarangnya? Siapa penerbitnya? Di mana terbit?), halaman tentang keterangan hak cipta (Siapa pemegang hak cipta buku tersebut? Tahun berapa dihakciptakan?), halaman daftar isi, approvial sheet (halaman yang berisi ucapan terima kasih), daftar tabel dan daftar gambar (Adakah daftar tabel, daftar grafik atau daftar gambar?), atau barangkali juga halaman yang berisi persetujuan dari yang berwenang menerbitkan buku tersebut. Mungkin juga ada halaman yang berisi abstraksi. (2) bagian isi buku ( Bagaimana buku

34

tersebut ditata? Apakah terbagi dalam bab-bab yang disertai rincian bab yang lebih kecil? Apakah setiap bab disertai denga kesimpulankesimpulan? Apakah pada setiap bab disertakan juga pertanyaan bacaan?). (3) bagian akhir buku ( Apakah pada bagian akhir buku ada bab khusus yang berisi kesimpulan penulis? Adakah disertakan daftar kepustakaan? Adakah juga daftar indeks? Dalam bentuk apa daftar itu dibuat?) Kesemuanya harus diteliti secara sekilas, minimal untuk mengenal seberapa tinggi tinglat keterpercayaan buku tersebut. Buku yang baik (bersifat ilmiah) akan mengandung bagian-bagian buku tersebut. 2. Q= Question, susunlah sejumlah pertanyaan (dan barangkali juga jawaban) tentang hal-hal yang berkaitan dengan judul dan subjudul (perhatikan daftar isi) buku. Tujuannya untuk mengarahkan pikiran pada bidang yang akan dimasuki agar pembaca bersikap aktif dalam membaca dan tidak hanya mengikut saja pada apa yang dikatakan pengarang. Kalau perlu bersikap raga atau mengkingkari apa yang dikatakan pengarang sambil nanti melihat buktinya. 3. R= Read, membaca. Pada tahap ketiga , bacalah keseluruhan isi buku dengan teliti sambil meneliti kebenaran pertanyaan dan jawaban yang telah dibuat tadi. Ketika membaca , perhatikan kata-kata kunci, gagasan-gagasan utama, dan kesimpulan-kesimpulan yang dibuat pengarang. Jika perlu, garisbawahlah hal-hal yang penting.

35

4. R=Recite, mengulang kembali pengertian apa yang telah dibaca. Lakukan pada setiap akhir bab atau sebbab. Masih ingatkah terhadap apa yang baru kita baca? Jika lupa , ulangi membaca apa yang terlupakan. 5. R = Review, melihat kembali keseluruhan isi buku. Maksudnya bukan membaca secara teliti untuk yang kedua kali, melainkan bacalah kembali hal-hal yang penting. Terutama hal-hal yang kita beri tanda atau garis bawahi. Ini juga bertujuan melihat barangkali ada hal-hal yang terlewati-kan. Dapatkah kira-kira kita membuat skema isi buku dan tema keseluruhannya? Juga , bagaiman penilaian kita terhadap buku yang baru saja kita baca ? b) Metode PQRST Seperti halnya Metode SQ3R, metode ini juga menggambarkan tahapan yang harus dilalui pembaca. Tahapan itu meliputi Preview, Question, Read, Summerize, dan Test. Preview maksudnya melihat secara selintas anatomi buku (=survey); Question, menyusun pertanyaan; Read, membaca secara teliti; Summarize, membuat ringkasan bagian-bagian yag telah kita baca (atau keseluruhan buku); dan Tes, yaitu pembaca menguji diri sendiri, sejauh mana ia telah dapat memahami keseluruhan yang tertuang dalam buku. c) Metode PQ3R Metode terakhir ini tampaknya tidak berbeda degan jenis metode yang pertama. Hanya P yang pertama singkatan dari Prepare, artinya

36

langkah mula, yaitu melihat sekilas terhadap keseluruhan buku. Kemudian dilanjutkan dengan Question, Read, Recite, dan Review. Untuk dapat membaca cepat dengan efisien kunci utamanya adalah sering berlatih. Ada beberapa teknik membaca cepat, yaitu gerakan mata dalam membaca, melebarkan jangkauan mata, gerakan oto mata, dan meningkatkan konsentrasi. Berikut penjelasannya. Gerakan mata tinggal tergantung pada jarak benda yang bergerak di lapangan yang luas, mata akan bergerak halus dan rata. Akan tetapi, apabila mata melihat benda-benda yang berjarak dekat seperti melihat gambar atau membaca gerakan mata akan cepat, tersentak-sentak dalam irama tarikan-tarikan kecil melompat. Dalam membaca mata tidak boleh mengambang liar, tetapi mengarah ke suatu sasaran (kata) sebentar lalu melompat ke sasaran berikutnya (satu atau dua kata berikutnya) melompat, berhenti, melompat, dan seterusnya. Pemberhentian ini disebut fiksasi. Pada saat berhenti itulah mata membaca. Dan saat melompat mata tidak mengamati apa-apa. Pembaca yang tidak efisien dalam fiksasi hanya dapat satu atau dua kata yang terserap. Pembaca yang efisien dapat menyerap tiga atau empat kata. Kesulitan fiksasi bukan karena kesulitan fisik, melainkan karena kesulitan mental. Bukan karena otot mata, melainkan karena

ketidakmampuan dari pikiran menyeraap dengan cepat dan tanpa salah informasi berikutnya (Soedarso 2002: 29).

37

Untuk mendapatkan kecepatan dan efisien dapat digunakkan hal berikut. 1. Melebarkan jangkauan mata dan lompatan mata, yaitu satu fiksasi meliputi 2 atau 3 kata. 2. Membaca satu fiksasi untuk satu unit pengertian. Cara ini lebih mudah diserap oleh otak. Contoh: Saya suka baju lengan panjang Lebih mudah daripada Saya suka baju lengan panjang 3. Selalu menbaca untuk mendapatkan isinya, artinya bukan untuk menghafalkan kata-katanya. 4. Mempercepat peralihan dari fiksasi ke fiksasi, tidak terlalu lama berhenti dalam satu fiksasi. Percepatan gerak mata dari satu fiksasi ke fiksasi berikutnya. Semakin sedikit waktu untuk berhenti semakin baik. Pada saat mata berhenti, jangkauan mata dapat menangkap beberapa kata sekaligus. Kata-kata dalam jangkauan mata itu dapat dikenali sekalipun pembaca tidak memfokuskan pada setiap kata (Soedarso 2002:30). Gerakan mata dikendalikan oleh enam otot kecil yang kuat. Otototot ini bersama-sama menarik mata dalam rangkaian tarikan-tarikan kecil tetkala menelusuri baris demi baris banyak memboroskan gerakan mata.

38

Untuk merubah kebiasaan itu, diperlukan latihan gerakan kebawah, gerakan kesamping, pengurangan bidang baca, membaca kolom, membaca pola S. Latihan ini untuk kemajuan gerakan mata secara otomatis, cepat dan berpola menurut kebutuhan (Soedarso 2001:39). Kurangnya daya konsentrasi pada setiap orang disebabkan oleh halhal yang berbeda. Ada orang yang memerlukan tempat yang tenang untuk membaca, sementara orang lain perlu ditemani radio. Kurangnya konsentrasi dapat juga disebabkan oleh kurangnya minat perhatian terhadap apa yang dibaca, karena tidak menarik, terlalu sulit atau terlalu mudah atau memang membosankan. Dapat juga memang orang itu belum siap membaca misalnya karena badan terlalu lelah sehingga perhatiannya pecah. Untuk meiningkatkan daya konsentrasi ada dua kegiatan penting, yaitu (1) menghilangkan atau menjauhi hal-hal yng dapat menyebabkan pikiran menjadi kusut dan; (2) memusatkan perhatian secara sungguhsungguh. Hal ini termasuk memilih tempat dan waktu yang sesuai dengan dirinya, serta memilih bahan-bahan yang menarik. Teknik-teknik membaca seperti survai bahan bacaan sebelum memulai membaca, dan menentukan tujuan membaca, termasuk cara-cara untuk berkonsentrasi (Soedarso 2001:50). 4) Media Pembelajaran Membaca Cepat Dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), siswa selau berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatus oleh guru melalui proses

39

pembeajaran Lingkungan belajar tersebut meliputi tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran, dan metodoligi pembelajaran. Dalam metodologi pembelajaran, ada dua aspek yang paling menonjol, yaitu metode pembelajaran dan media pembelajaran sebagai alat bantu pembelajaran. Media yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa bisa menggunakan transparansi yang dibantu dengan OHP, bisa juga dengan menggunakan software membaca cepat. Media ini memiliki manfaat antara lain (1) pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga diharapkan dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa, (2) materi pembelajaran lebih jelas meknanya sehingga siswa lebih mudah memahami, (3) metodologi pembelajaran lebih bervariasi, dan (4) pembelajaran terfokus kepada siswa dengan melakukan berbagai aktivitas. Media pembelajaran membaca cepat yang dapat digunakan dalam meningkatkan kemampuan membaca cepat terbagi atas dua jenis, yaitu (1) media pembelajaran membaca cepat untuk pelatihan awal, dan (2) media pembelajaran membaca cepat untuk pengukuran. Kedua jenis media ini diuraikan secara rinci sebagai berikut. a) Media Pelatihan Awal Media pembelajaran membaca cepat yang digunakan untuk pelatihan awal memiliki berbagai variasi. Variasi media pelatihan membaca cepat ini bertujuan untuk (1) melatih gerak mata (fiksasi), (2) metatih konsentrasi, (3) melatih persepsi siswa, (4) melatih daya ingat.

40

Keempat variasi media pelatiha awal ini disampaikan kepada siswa sebelum dilakukan pengukuran membaca cepat siswa secara utuh. Media pelatihan awal membaca cepat yang bertujuan untuk melatih gerak mata memiliki dua variasi. Media pertama berupa dua lingkaran kecil dalam satu garis horizon yang memiliki jarak yang berbeda dalam setiap barisnya. Siswa perlu melihat lingkaran tersebut secara cepat tanpa menggerakan kepala. Media yang kedua berupa urutan angka maupun abjad yang diacak dalam sebuah kotak (persegi panjang). Di dalam persegi panjang berikut terdapat dua puluh enam huruf (A - Z) dan angka 1 50. Siswa perlu menarik secepat mungkin garis yang menghubungkan huruf atau angka yang ada secara berurutan dengan cepat dan dicatat waktu tempuhnya dengan mengurangi waktu selesai baca dengan waktu mulai baca. Media pelatihan awal membaca cepat yang bertujuan untuk melatih konsentrasi siswa berupa urutan gambar yang disusun secara vertikal dengan jumlah yang berbeda. Bentuk gambar yang disusun secara vertikal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan siswa atau yang biasa ditemui siswa di sekolah. Tanpa menggunakan jari, siswa menghitung jumlah gambar dengan durasi waktu tidak lebih dari 30 detik dan menuliskan pada lingkaran yang tersedia. Media pelatihan awal lainnya bertujuan untuk melatih persepsi siswa. Media ini berbentuk deretan kata yang disusun secara horizontal

41

maupun vertikal. Siswa mencoret atau berusaha menemukan kata yang sama dengan kata kunci yang telah ditentukan. Selanjutnya, media pelatihan awal yang bertujuan untuk melatih daya ingat siswa berupa serangkaian gambar maupun angka yang ditunjukkan secara cepat (tidak lebih dari 30 detik) kepada siswa, selanjutnya siswa menggambarkan kembali. Dari berbagai media pelatihan awal tersebut diharapkan siswa memiliki kemampuan dalam menggerakkan mata dan memiliki daya ingat yang cukup baik. b) Media Pengukuran Kemampuan Cepat Siswa Seseorang yang sedang membaca cepat sebuah bacaan hendaknya dapat mengondisikan otak bekerja lebih cepat sehingga konsentrasi akan lebih membaik secara otomatis. Dengan demikian, kemampuan membaca cepat merupakan kemampuan seseorang dalam memadukan kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitifnya atau pemahaman isi bacaan melalui menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan. Di negara-negara maju, khususnya Amerika, telah dilakukan penelitian tentang kecepatan membaca siswa dalam setiap jenjang pendidikan. Kecepatan membaca siswa Amerika untuk setingkat SD/Diniyah di Indonesia adalah 140 kpm, setingkat SLTP/MTs adalah 140 s.d 175 kpm, setingkat SMA/SMK/MA adalah 175 s.d 245 kpm, dan setingkat perguruan tinggi 245 s.d 280 kpm. Untuk kaum profesional, kecepatan membacanya bisa mencapai 500 kpm.

42

Untuk mengukur kemampuan membaca cepat siswa, ada dua aspek yang perlu diukur, yaitu aspek kecepatan membaca dan aspek pemahaman. Aspek kecepatan membaca dapat diukur dengan jumlah kata dalam bacaan yang dibaca dibagi dengan selisih antara waktu akhir baca dengan awal baca, sedangkan pemahaman dihitung dengan membagi skor yang diperoleh siswa dengan skor maksimal yang bisa didapat siswa. Hasil perkalian antara kecepatan membaca dengan pemahaman menghasilkan kecepatan efektif membaca (KEM). Media pembelajaran untuk mengukur kemampuan kecepatan membaca cepat siswa tentunya berupa sebuah bacaan dan pertanyaanpertanyaan yanng digunakan untuk mengukur pemahaman siswa. Bacaan dapat diambil dari berbagai media informasi, baik media elektronik maupun nonelektronik. 5) Evaluasi Pembelajaran Membaca Cepat Unsur utama membaca adalah otak, mata hanyalah alat untuk mengantarkan gambar ke otak lalu otak memberikan interpretasi terhadap apa yang ditangkap oleh mata. Proses pemindahan apa yang ditagkap oleh mata k otak memerlukan latihan yang disebut persepsi. Dalam kegiatan membaca, persepsi da interpretasi otak terhadap tulisan yang dilihat oleh mata diketahui pada lamanya berfiksasi. Apabila persepsinya kuat (berkat pengalaman yang dimiliki), fiksasi berlangsung cepat. Latihan Persepsi dimaksudkan untuk mempercepat fiksasi sehiungga pemahaman terhadap apa yang dilihat oleh mata dapat mudah

43

tercapai. Latihan Persepsi terdiri atas dua tahap, yaitu tahap persepi kata dan persepsi frasa. Tiap-tiap tahap terdiri atas beberapa level. Untuk mengukur kemampuan membaca cepat siswa, ada dua aspek yang perlu diukur, yaitu aspek kecepatan membaca dan aspek pemahaman. Aspek kecepatan membaca dapat diukur dengan jumlah kata dalam bacaan yang dibaca dibagi dengan selisih antara waktu akhir baca dengan awal baca, sedangkan pemahaman dihitung dengan membagi skor yang diperoleh siswa dengan skor maksimal yang bisa didapat siswa. Hasil perkalian antara kecepatan membaca dengan pemahaman menghasilkan kecepatan efektif membaca (KEM). Kemampuan membaca adalah kecepatan membaca dan

pemahaman isi secara keseluruhan. Untuk mengetahui kecepatan efektif membaca dapat digunakan rumus (Depdiknas, 2005: 39) sebagai berikut :

RUMUS MENGHITUNG KEM 1. _K _ x _B_ = ...kpm Wm Si Atau 2. _K_ (60) x _B_ = ...kpm Wd SI

Keterangan: K : Jumlah kata yang dibaca

44

Wm Wd B SI Kpm

: Waktu tempuh baca dalam menit : Waktu tempuh baca dalam detik : Skor bobot perolehan tes yang dijawab benar : Skor ideal : kata per menit Media pembelajaran untuk mengukur kemampuan kecepatan membaca cepat siswa tentunya berupa sebuah bacaan dan pertanyaanpertanyaan yang digunakan untuk mengukur pemahaman siswa. Bacaan dapat diambil dari berbagai media informasi, baik media elektronik maupun nonelektronik. Media pembelajaran membaca cepat yang bersifat manual ini tentunya membutuhkan tenaga kerja lebih dari para guru, terutama dalam mengoreksi hasil pemahaman siswa. Hal ini bisa diatasi dengan menggunakan software membaca cepat. Software ini telah penulis buat dan sampai saat ini belum penulis hak patenkan, tetapi sudah penulis uji cobakan.

3. Hambatan-hambatan dalam Membaca Cepat Ada beberapa masalah umum yang dihadapi pembaca, umumnya orang tak sadar dengan masalah membacanya. Orang telah puas dengan kondisi kemampuan membacanya baik dalam kecepatan maupun dalam tingkat pemahaman. Padahal, secara teoretis kecepatan dan pemahaman

45

terhadap bacaan itu dapat ditingkatkan dua atau tiga kali lipat dari pemahaman semula. Orang yang tidak mendapat bimbingan, latihan khusus membaca cepat, sering mudah lelah dalam membaca karena lamban membaca, tidak ada gairah, merasa bosan, tidak tahan membaca buku, dan terlalu lama untuk bisa menyelesaikan buku yang tipis sekalipun. Untuk dapat membaca dengan cepat, hal-hal yang dapat menghambat kelancaran atau kecepatan membaca harus dihilangkan. Beberapa faktor yang dapat menghambat kecepatan membaca adalah sebagai berikut. Vokalisasi atau membaca dengan bersuara sangat memperlambat membaca. Karena itu berarti mengucapkan kata demi kata dengan lengkap. Menggumam, sekalipun degan mulut terkatup dan suara tidak terdengar, jelas termasuk membaca degan bersuara. Menggerakkan bibir atau komat-kamit sewaktu membaca, sekalipun tidak mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara. Semasa kanak-kanak penglihatan kita memang masih sulit menguasai penampang bacaan. Akibatnya adalah bahwa kita menggerakkan kepala kiri ke kanan untuk dapat membac baris-baris secara lengkap. Cara membaca dengan menunjuk dengan jari atau benda lain itu sangat menghambat membaca sebab gerakan yangan lebih lambat daripada gerakan mata. Sering kali mata bergerak kembali ke belakang untuk membaca ulang suatu kata atau beberapa kata sebelumnya. Gerakan tersebut disebut regresi. Selain menghambat kecepatan membaca, regresi

46

bahkan dapat mengaburkan pemahaman bacaan. Menurut Soedarso (2002:8) beberapa alasan seorang pembaca melakukan regresi adalah sebagai berikut: (1) pembaca meraasa kurang yakin dalam memahami tulisan yang dibacanya; (2) pembaca merasa ada kesalahan cetak pada tulisan yang dibacanya, kemudian mempertanyakan hal tersebut dalam hati; (3) pembaca merasa ada kesalahan ejaan; (4) ada kata sulit atau baru; (5) pembaca terpaku paada detail; (6) pembaca salah persepsi, misalnya bertanya-tanya angka yang baru dibacanya 266 atau 267; (7) pembaca merasa ada sesuatu yang tertinggal. Menurut Redway dalam

Wahyuningsih (2000: 15) dengan berlatih terus dan kecepatan membaca meningkat, maka usaha mencegah regresi ini akan lebih mudah lagi. Kecepatan akan memaksa si pembaca untuk berkonsentrasi lagi. Hasilnya akan lebih meningkatkan pemahaman secara keseluruhan dan akan mendorong pembaca untuk lebih siap mengantisipasi. Subvokalisasi atau melafalkan dalam batin atau pikiran kata-kata yang dibaca dilakukan oleh pembaca yang kecepatannya lebih tinggi. Subvokalisasi juga menghambat karena kita menjadi lebih memperhatikan bagaiman melafalkan secara benar daripada berusaha memahami ide yang dikandung dalam kata-kata yang kita baca itu (Soedarso 2002: 8). Wiryodijoyo dalam Wahyuningsih (2000: 13) mengungkapkan bahwa suvokalisasi ini mengungkapkan pengaruh kebiasaan dalam pengajaran membaca di sekolah dasar, yaitu (1) mengucapkan berulangulang hal yang dianggap penting oleh guru. Usaha menghilangkan sama

47

sekali cara membaca dengan menghafalkan dalam hati hal yang dibaca, memang tidak mungkin. Namun ada cara lain untuk memperkecil akibat buruk dari subvokalisasi, yaitu dengan cara melebarkan jangkauan mata sehingga satu fiksasi (pandangan mata) dapat menangkap beberapa kata sekaligus dan langsung menyerap idenya. Cara ini lebih baik daripada melafalkan (Soedarso 2001: 9). Kemudian perhatia hampir sama dengan ketidaksiapan mental. Pembaca mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan karena ia terpaksa mempelajari bahan bacaan yang tidak menarik perhatiannya. Masalah ini lebih serius lagi bila ada kosa kata yang sulit atau baru dan belum dipahami oleh pembaca. Selain itu, pikiran pembaca tidak sepenuhnya tertuju pada bacaan karena masih ada masalah lain yang lebih menarik da mengganggu perhatiannya. Hambatan dalam membaca cepat yang terakhir adalah kurang motivasi. Motivasi ini dapat berasal dari dalam diri sendiri, dapat pula dari luar. Ini sangat penting karena denga adanya motivasi, pembaca terpacu untuk membaca dengan sungguh-sungguh. Dalam membaca cepat motivassi juga perlu diperhatikan. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hambatanhambatan dalam membaca cepat adalah vokalisasi, gerak bibir, gerakan kepala, menunjuk dengan jari, regresi, subvokalisasi, ketiadaan perhatian, kurang motivasi.

48

Ada beberapa masalah dan hambatan yang umum terjadi pada setiap orang. Masalah tersebut antara lain ada di bawah ini: 1. Rendahnya tingkat kecepatan membaca, 2. Minimnya pemahaman yang diperoleh, 3. Kurangnya minat baca, 4. Minimnya pengetahuan tentang cara membaca yang cepat dan efektif, 5. Adanya gangguan-gangguan fisik yang secara tidak sadar menghambat kecepatan membaca (Nurhadi, 2008: 17). Kecepatan membaca dapat ditingkatkan. Ada kecenderungan anggapan bahwa seorang pembaca lambat itu berhubungan dengan kecerdasannya. Tidak selalu demikian. Seorang pembaca yang lambat, barangkali hanya tidak tahu bagaimana cara membaca cepat, sehingga apa yang dilakukannya tidak efisien. Lambat dan lemah dalam tingkat pemahaman akibat adanya gangguan membaca yang tak disadari barangkali juga salah satu faktornya. Dengan mengetahui metode dan teknik mengembangkan membaca, kemudian diikuti oleh latihan yang intensif, membiasakan diri dengan membaca cepat, maka dalam beberapa minggu saja akan terlihat hasilnya. Secara teoritis mecepatan membaca itu daoat ditingkatkan menjadi dua sampai tiga kali lipat dari kecepatan semula. Kecepatan membaca dengan 150 kata per menit dengan latihan intensif selama jangka waktu sampai dua bulan akan meningkatkan menjadi lebih dari 400 kata per menit.

49

Untuk memperkuat hasil yang diperoleh dan latihan, perlu membedakan antara pembaca yang efektif dan pembaca yag kurang efektif. Ini digunakan sebagai perbandingan untuk melihat keberhasilan latihan membaca. Pembaca dikatakan kurang efektif bila: 1. Membaca dengan kecepatan rendah, umumnya < 100 – 200 kata per menit. 2. Membaca dengan kecepatan konstan untuk berbagai cuaca dan kondisi membaca. Kecepatan itu selalu sama meskipun pada tujuanm bahkan bacaan, dan keperluan yang berbeda. 3. Gerak mata diarahkan/dipusatkan pada kata demi kata dan memahaminya secara terputus. 4. Banyak terjadi pengulangan gerak mata (regresi). 5. Menggerakkan bola mata 8 – 12 kali atau lebih pada setiap baris bacaan. 4. Prinsip-prinsip Studi Kasus Menurut Yin (2008: 1) studi kasus adalah salah satu metode penelitian ilmu-ilmu sosial. Lebih lanjut Yin mengatakan bahwa penggunaan setiap metode memiliki keuntungan dan kergian tersendiri, tergantung kepada tiga hal, yaitu 1) tipe pertanyaan penelitiannya, 2) kontrol yang dimiliki peneliti terhadap peristiwa perilaku yang akan ditelitinya, dan 3) fokus terhadap fenomena penelitiannya (fenomena kontemporer ataukah fenomena historis). Studi kasus merupakan strategi yang cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how atau why, bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa yang akan diselidiki dan bilamana fokus penelitiannya terletak

50

pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata. Selain itu, peneliti studi kasus dapat dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu studi-studi kasus eksplanatoris, eksploratoris dan deksriptif. Dalam penggunaannya, peneliti studi kasus perlu memusatkan perhatian pada aspek pendesainan dan penyelenggaraan agar lebih mampu menghadapi kritik-kritik tradisional tertentu terhadap metode / tipe pilihannya. Sebagai suatu strategi penilitian, studi kasus telahh digunakan di berbagai lapangan, seperti: 1. Penelitian kebijakan, ilmu politik, dan administrasi umum; 2. Psikologi masyarakat dan sosiologi; 3. Studi-studi organisasi dan manajemen. 4. Penelitian perencanaan tata kota dan regional, seperti studi-studi program, lingkungan, atau agen-agen umum serta; 5. Pengerjaan berbagai disertai tesis dalam ilmu-ilmu sosial (Yin, 2008: 2). Untuk tujuan-tujuan pengajaran, studi kasus tak memerlukan penerjemahan yang lengkap atau akurat terhadap peristiwa-peristiwa aktual, karena tujuannya lebih diarahkan pada pengenbangan kerangka kerja diskusi atau perdebatan. Karenanya, kriteria untuk mengembangkan studi-studi kasus untuk keperluan pengajaran, biasanya jenis studi kasus tunggal dan multikasus berbeda dari keperluan penelitian (yang sebernarnya). 1. Penggunaan Masing-masing Strategi

51

Ada tiga kondisi yang perlu diperhatikan didallam hal ini, yaitu; (a) tipe pertanyaan penelitian yang diajukan, (b) luas kontrol yang dimilliki peneliti atas peristiwa perilaku yag diteliti, dan (c) fokusnya terhadap peristiwa kontemporer sebagai kebalikan dari peristiwa historis. Tabel 1.1 menyajikan ketiga kondisi ini dalam setiap kolomnya dan menunjukan bagaimana masing-masing berkaitan dengan lima strategi utama penelitian dalam ilmu-ilmu sosial (eksperimen, survei, analisis arsip, historis, dan studi kasus). Pentingnya setiap kondisi dalam membedakan kelima strategi dimaksud dibahas sebagai berikut. Tipe-tipe pertanyaan penelitian (tabel 1.1 kolom 1). Skema kategori dasar untuk pertanyaan penelitian yang tak asing lagi, yaitu : siapa, apa, dimana, bagaimana, dan mengapa. Tabel 1.1. Situasi-situasi relevan untuk Strategi yang Berbeda Strategi Bentuk Pertanyaan Penelitian Eksperimen Bagaimana, Mengapa Survei Siapa, dimana, banyak Analisis arsip Siapa, apa, Tidak berapa Ya/tidak apa, Tidak berapa Ya Membutuhkan Kontrol tbd. Peristiwa t.l Ya Fokus terhadap Peristiwa Kontemporer Ya

(mis.dlm.std.ekon.) dimana,

52

banyak Historis Bagaimana, mengapa Studi kasus Bagaimana, mengapa Tidak Ya Tidak Tidak

Pertanyaan “apa”, jika ditanyakan sebagai dari studi eksploratoris, sesiao bagi kelima strategi. Jika pertanyaan-pertanyaan penelitian berfokus pada pertanyaanpertanyaan “apakah”, maka akan muncul salah satu dari dua kemungkinan barikut ini. Pertama, beberapa tipe pertanyaan “apa” merupakan pertanyaan eksploratoris, seperti, “cara apa yang efektif untuk

menyelenggarakan suatu sekolah?”. Tipe pertanyaan ini dapat digolongkan rasional guna menyelenggarakan studi eksploratoris, untuk maksud pengembangan hipotesis dan proposisi yang berkaitan bagi inkuiri selanjutnya. Namun demikian, sebagai studi eksploratoris, strategi mana pun dapat digunakan, misalnya survei eksploratoris, eksperimen

eksploratoris, atau studi kasus eksploratoris. Tipe kedua dari pertanyaan “apa” pada dasarnya merupakan bentuk inkuiri beberapa banyak -

misalnya - “apakah hasil dari reorganisasi manajerial khusus selama ini?”. Mengidentifikasi hasil semacam itu tampaknya lebih cocok untuk strategi survei atau arsip daripada yang lain. Sebagai contoh, survei dapat didesain untuk menghitung sesuatu yang dimaksud oleh pertanyaan “apa” tersebut,

53

sedangkan studi kasus bukan merupakan strategi yang menguntungkan dalam situasi ini. Sebagaimana halnya dengan tipe pertanyaan kedua “apakah”, pertanyaan “siapakah” dan “dimanakah” (atau turunannya – “berapa banyakkah”) tampaknya lebih sesuai untuk strategi survei atau analisis rekaman-rekaman arsip, spertii dalam penelitian ekonomi. Strategi ini menguntungkan bilamana tujuan penelitiannya adalah mendeskripsikan kejadiann atau kelaziman suatu fenomena atau jika berkenaan dengan memprediksi hasil-hasil tertentu. Penelitian sikap-sikap politis yang umum )dimana survei atau pemungutan suara merupakan strategi yang diharapkan) atau timbulnya penyakit (dimana alanisis statistik dasar merupakan strategi yang cocok) mungkin dapat dijadikan contoh dalam hal ini. Sebaliknya, pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa” pada

dasarnya lebih eksplanatoris dan lebih mengarah ke penggunaan strategistrategi studi kasus, historis, dan eksperimen. Hal ini disebabkan pertanyaan seperti ini berkenaan dengan kaitan-kaitan operasional yang menuntut pelacakan waktu tersendiri, dan bukan sekedar frekuensi atau kemunculan. Karenanya, jika anda ingin mengetahui bagaimana suatu kelompok komunitas berhasil menggagalkan sebuah gagasan besar yang diusulkan, misalnya kita akan bisa mengandalkan survei atau telah rekaman arsip melainkan kita harus menyelenggarakan apa yang disebut dengan analisis historis atau studi kasus. Demikian pula jika kita ingin

54

mengetahui mengapa penonton yang dekatt dengan suatu kejadian gagal melaporkan kegawatan kondisi tertentu misalnya, kita dapat mendesain dan menyelenggarakan serangkaian eksperimen. Menentukan tipe pertanyaan penelitian merupakan tahap yang paling penting dalam setiap penelitian, sehingga untuk tugas ini dituntut adanya kesabaran dan persediaan waktu yang cukup. Kuncinya adalah memahami bahwa pertanyaan-pertanyaan penelitian selalu memiliki substansi – misalnya, mengetahui apakah sebenarnya penelitian saya ini? – dan bentuk – misalnya, apakah saya sedang, “siapakah”,

“apakah”,”dimanakah”,”mengapakah”, atau “bagaimanakah”. Ahli lain telah memfokuskan diri pada beberapa isu yang substansi (Campbell, Daft, & Hulin, 1982 dalam Yin, 2008: 11) dengan inti pembahasan bahwa bentuk pertanyaan memberi rambu-rambu penting untuk strategi penelitian yang sesuai. Dalam hubungan ini perlu tetap diingat adanya wilayah tumpang tindih di antara beberapa strategi itu, agar dapat diyakinkan bahwa beberapa pertanyaan untuk satu pilihan strategi memang betul-betul ada. Studi kasus lebih dikehendaki untuk melacak peristiwa

kontemporer, bilamana peristiwa-peristiwa tersebut yang bersangkutan tak dapat dimanipulasi. Karena itu studi kasus mendasarkan pada teknik yang sama dengan kelaziman yang ada pada strategi historis, tetapi dengan menambahkan dua sumber bukti yang biasanya tak termasuk dalam pilihan para sejarawan, yaitu obsservasi dan wawancara sistematik. Sekali lagi,

55

walaupun studi kasus dan historis bisa tumpang tindih, kekuatan yang unik dari studi kasus ialah kemampuannya untuk berhubungan sepenuhnya dengan berbagai jenis bukti; dokumen, peralatan, wawancara, dan observasi. Lebih dari itu, dalam beberapa situasi seperti observasi partisipan, manipulasi informal juga dapat terjadi.

B. Penelitian yang Relevan Beberapa penelitian yang dipandang relevan dengan penelitian pembelajaran membaca cepat di Kelas

........................................................................... adalah yang tersebut di bawah ini: 1. Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Suyatno dengan judul “Pembelajaran membaca cepat pada Anak Kelas 1 SD (studi kasus pada SD Negeri 6 Wonogiri). Dalam penelitian tersebut diuraikan bahwa pembelajaran bahasa yang mencakup aspek ketrampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis sampai sekarang dianggap belum memuaskan. Sampai sekarang masih banyak ditemukan suara di masyarakat yang menyatakan ketidakpuasan terhadap hasil pembelajaran bahasa, disamping realitas menunjukan bahwa kemampuan bahasa para anak atau lulusan sekolah menengan dinilai kurang baik. Dalam penelitian tersebut mengangkat pokok permasalahan diantaranya: 1) Bagaimana proses pembelajaran membaca cepat pada siswa kelas 1 SD Negeri 6 Wonogiri 2) Bagaimana

56

Interaksi guru dan murid selama proses belajar mengajar pada pembelajaran membaca cepat? Dari penelitian tesebut dapat ditarik kesimpulan bahwa 1) pembelajaran ketrampilan membaca di Sekolah Dasar (Studi Kasus pada SD 6 Wonogiri dapat berlangsung dan berhasil dengan baik, karena didukung oleh beberapa faktor (a) penggunaan ketrampilan proses, pendekatan integratif dan komunikatif. (b) penggunaan metode dan alat peraga yang bervariasi. (c) penyajian materi yang sesuai dengan prinsipprinsip pemilihan materi dan pemakaian alat peraga. (d) penilaian yang konsisten dan konsekuen dengan teknik langsung. 2) Dalam pembelajaran membaca, guru SD Negeri 6 wonogiri secara fanatik menerapkan satu strategi pembelajaran membaca yang dianggap unggul dan dibakukan, tetapi memilih menggunakan berbagai strategi pembelajaran membaca secara variasi. 3) Dalam pembelajaran membaca di SD Negeri dapat terjalin interaksi guru dan murid yang aktif, komunikatif, produktif, dan kondusif, hanya sebagian kecil yang pasif dalam proses belajar mengajar. 4) SD Negeri 6 wonogiri sangat berhasil dalam lomba-lomba baca maupun tulis. Keberhasiilan tersebut didukung oleh beberapa faktor (a) persiapan yang serius dilakukan sejak dini, (b) pembinaan yang serius dan intensif, (c) strategi pembinaan yang sesuai dengan jenis lomba, (d) pembinaan guru dengan penuh semangat dan secara terus menerus dalam melaksanakan pembinaan dan dukungan dari beberapa pihak.

57

2. Penelitian yang dilakukan oeh Sihabudin (1998) pada skripsi yang berjudul Perbedaan Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas III SLTP dari teks buku Pelajaran Bahasa Jawa terbitan aneka ilmu yang sesuai dengan tidak sesuai tingkat keterbacaannya. Masalah yang diteliti adalah apakah tingkat keterbacaan teks buku pelajaran bahasa Jawa jilid III tidak semuanya sesuai dengan kemampuan siswa SLTP kelas III. Berdasarkan teks bacaan yang sesuai tingkat keterbacaannya lebih baik daripada yang tidak sesuai denegan keterbatasannya.

3. Penelitian mengenai “Kecepatan Efektif Membaca wavana berbahasa STLP (studi kasus di SLTP 3 Subah, kab Batang)” diteliti oleh Alimah (1999). Permasalahan yang diangkat adalah bagaimanakan tingkat kecepatan efektif membaca wacana berbahasa Jawa siswa. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah tingkat kecepatan efektif membaca wacana berbahasa Jawa belum baik.

58

C. Kerangka Berfikir
Guru, Siswa, Kurikulum Rendahnya Kecepatan Membaca

Metode Membaca Cepat

Metode Kosakata

Metode Motivasi

Metode Bantuan Alat

Metode Gerak Mata

Evaluasi / Penilaian

Hasil Pembelajaran Membaca Cepat Bagan 1.1 Kerangka Berfikir Penelitian

III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dal Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang. Sekolaj ini dipilih sebagai tempat penelitian karena; pertama dilihat dari segi prestadi SD Negeri 3 Ketanggan termasuk sekolah yang sudah berkembang di wilayah kecamatan Gringsing. Hal ini terbukti besarnya amino masyarakat yang ingin menyekolahkan putranya di sekolah ini. Sehingga sekolah tidak perlu lagi mencari siswa. Pada penerimaan siswa baru tahun pelajaran 2011/2012 bisa mencapai dua kelas. Kedua, secara tidak langsung sekolah ini menjadi barometer bagi keberhasilan pembelajaran sekolah

59

disekitarnya. Ketiga, sekolaj tersebut belum pernah menjadi objek penelitian yang sejenis, sehingga kemungkinan terhindar adanya penelitian ulang. B. Jenis dan Strategi Penelitian Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian ini, yang memfokuskan pada pengumpulan informasi tentang keadaan atau realita yang sedang berlangsung, maka penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantitatif lainnya. Definisi lain mengenai penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh Taylor dalam Moleong, (2008: 4). Yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari oranbg-orang dan perilaku yang dapat dimati. Alasan digunakannya penelitian kualitatif adalah bahwa penelitian ini membahas tentang masalah pelaksanaan pembelajaran membaca cepat di SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang. Oleh karena itu, data diperoleh melalui wawancara, pengamatan, dan analisis dokumen. Hal ini sesuai ciri penelitian kualitatif yang mementingkan proses (Moloeng, 2008:7). Strategi yang digunakan dalam peneliotian ini adalah studi kasus tunggal, karena penelitian ini akan dilakukan di sasaran yang diteliti, yaitu SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang, serta difokuskan pada satu permasalahan, yaitu tentang pembelajaran membaca cepat.

60

C. Data Dan Sumber Data Data utama penelitian ini berupa kata-kata , tindakan, dan bahan tertulis. Data yang berupa kata-kata diperoleh dari hasil wawancara dan tindakan sebagai hasil wawancara dan tindakan sebagai pengamatan. Bahan tertulis berupa Kurikulum Tingat satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran Bahjasa Indonesia kelas 3m pemetaan kompetensi, program tahunan, program semebter, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan materi pelajaran yang digunakan oleh guru Bahasa Indonesia. Data yang berupa informasi tersebut digali dari berbagai sumber data. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informan, atau nara sumber, tempat, peristiwa, dan dokumen. 1. Informan atau narasumber Informan atau narasumber dalam penelitian ini terdiri dari : a. Informan kunci adalah guru bahasa Indonesia padakelas 3 di SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang yang berjumlah 1 orang. b. Informan yang lain yaitu 1). Siswa kelas 3 di SD Negeri 3

Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang yang berjumlah 21 orang 2) Kepala SD Negeri 3 Ketanggan

Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang. Dari guru, peneliti memperoleh informasi yang berkenaan dengan konsep pengetahuan guru tentang kurikulum tingkat satuan pendidikan tentang pembelajaran membaca pada umumnya dan membaca cepatnya

61

pada khusunya. Selain itu pula, mendapat informasi tentang bagaimana rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru apakah telah mengacu pada tuntutan dan isi KTSP di SD tersebut. Informan ini diperlukan dengan asumsi pengetahuan guru yang baik tentang KTSP akan membantu guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran dan pelaksanaan, di kelanya. 2. Tempat, Peristiwa / Aktivitas. Tempat yang merupakan lokasi penyelenggaraan pendidikan

pembelajaran, yaitu SD Negeri

3 Ketanggan Kecamatan Gringsing

Kabupaten Batang. Sementara itu, peristiwa atau aktivitas sebagai sumber data berupa peristiwa berlangsungnya pembelajaran membaca siswa kelas 3 SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang. 3. Dokumen Dokumen yang diteliti adalah dokumen mengenai perangkat proses belajar mengajar (PBM) yang meliputi pemetaan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran bahsa Indonesia di SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang, silabus yang dikembangkan oleh sekolah tempat penelitian, rencana program pembelajaran, buku pelajaran, buku-buku pendamping pelajaran yang relevan. Sumber data ini dapat memberi informasi tentang silabus yang digunakan oleh guru sebagai pedoman dalam menyusun rencana program pembelajaran. Termasuk di dalamnyamateri, metode, media, dan evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran membaca cepat di sekolah tersebut.

62

D. Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan bentuk penelitian kualitatif dan jenis datanya, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1. Observasi (pengamatan) Pengamatan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah

pengamatan tidak berperan serta dan bersifat terbuka. Pengamat hanya melakukan satu fungsi, yaitu mengadakan pengamatan. Yang dimaksud pengamatan terbuka adalah pengamat diketahui oleh subjek, dan para subjek pun dengan sukarela memberikan kesempatan kepada pengamat untuk mengamati periistiwa yang sedang terjadi, dan mereka menyadari bahwa ada orang yang mengamati suatu hal yang mereka lakukan. Pengamatan tidak berperan serta, ini dilakukan peneliti dengan formal dan informal untuk mengamati kegiatan dalam pembeajaran di kelas, dan kegiatan yang terkait, baik yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Tujuan pengamatan adalah untuk mendapatkan informasi tentang pembelajaran membaca cepat yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesia kelas 3 di SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang. Hasil observasi keterangan proses pembelajaran membaca cepat berupa transpkrip dan beberapa keterangan serta catatan penelitian setelah direduksi diberi kode. Nomor urut data (01..., misalnya dst.)/ sumber data (informan =inf, misalnya)/teknik pengumpulan data

63

(observasi = ob, misalnya), unit data(RPP, Guru, Siswa, Metode, Dll.) bilangan 1,2 dst. Menunjukan jumlah temuan data di unit data masingmasing. Kode disingkat menjadi: ..../Akt/Ob/GI. 2. Wawancara mendalam Wawancara mendalam dalam penelitian ini lentur dan terbuka, teknik terstruktur ketat, tidak dalam situasi formal, dan dilakukan berulang pada informan yang sama. Hal tersebut dilakukan agar pertanyaan yang disampaikan oleh peneliti semakin rinci dan mendalam sesuai dengan yang dibutuhkan. Dalam penelitian ini wawancara dilakukan peneliti dengan guru bahasa Indonesia kelas 3, siswa kelas 3, dan Kepala Sekolah di SD Negeri 3 Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang yang

terkait dengan pelajaran membaca cepat. Kegiatan wawancara dengan guru dilakukan setelah setiap proses pembelajaran usai. Wawancara digunakan untuk mengungkap data yang menjadi penyebab kesulitan dan hambatan dalam pelajaran membaca cepat dan untuk memperoleh data yang mendukung lainnya. Hasil wawancara dengan guru dan siswa diberi kode: Nomor urut data (01,..... misalnya dts.) / sumber data (informan=inf, misalnya) / teknik pengumpulan data (observasi = ob, misalnya), unit data(RPP, Guru, Siswa, Metode, Dll.) bilangan 1,2 dst. Menunjukan jumlah data di unit data masing-masing, sehingga kode wawancara dengan guru adalah: ..../Inf/W/GI... kode untuk siswa adalah: .../Inf/W/SI..., demikian halnya

64

unit analisis lainnya untuk seterusnya. Model pengodean ini dibuat sesuai versi peneliti sendiri agar mudah dalam pelaporan. 3. Simak – Cacat Data-data yang dikumpulkan dari dokumen dan arsip

menggunakan teknik Simak-cacat. Sumber data dari dokumen dan arsip berujud tulisan, maka untuk dapat menemukan data yang ada dalam tulisan haruslah memahami tulisan dengan cara membaca atau menyimak, setelah diketemukan datanya kemudian dicatat dengan memberi kode data. Setiap dokumen atau arsip yang berhubungan dengan proses pembelajaran dicermati secara teliti dan dijelaskan secara sistematik agar data-data yang diketemukan dapat melengkapi temuan data dalam proses pembelajaran. Hasil pengumpulan data dengan teknik simak-cacat ini untuk merujuksilamh dengan data-data yang telah diketemukan di dalam proses pembelajaran. Setiap temuan data hasil rujuk silang diberi kode data. Seperti teknik sebelumnya yang sudah diuraikan diatas, maka pengkodean teknik simak-cacat ini adalah:...../Dok/SC/RPP1 ....atau... /Arp/SC/Tes1..., dan seterusnya. E. Teknik Sampling Teknik sampling dalam penelitian kualitatif bermaksud

menyaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai sumber dan bangunannya (Moleong, 2008: 224). Dalam penelitian ini, sampling mewakili informasi yang diperlukan. Teknik Sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah puposive sampling. Peneliti memilih informan

65

yang dianggap mengetahui dan masalahnya secara mendalam, serta dapat dipercaya sebagai sumber data yang mantap. F. Validitas Data Berdasarkan data yang diperoleh berupa pembelajaran membaca cepat maka pengembangan validitas data digunakan trianggulasi sumber/data. Hal ini dipilih karena beragamm sumber data tersedia dalam pembelajaran ini, yaitu antara lain teks atau wacana, siswa, dan dokumen. Trianggulasi sumber/data mengarahkan peneliti dalam

mengumpulkan data wajib menggunakan beragam sumber data yang berbeda-beda dan yang tersedia. Artinya, data yang sama atau sejenia akan lebih mantap kebenarannya bila digali dari beberapa sumber data yang berbeda. Dengan demikian apa yang dperoleh dari sumber data satu, bisa lebih teruji kebenarannya bilamana dibandingkan dengan data sejenis yang diperoleh dari sumber data lain yang berbeda, baik kelompok sumber sejenis atau sumber data yang berbeda jenisnya. Trianggulasi sumber/data yang memanfaatkan jenis sumber data yang berbeda-beda untuk menggali data sejenis, tekanannya pasa perbedaan sumber data, bukan pada teknik mengumpulan data atau yang lain. Peneliti bisa memperoleh dari narasumber yang berbeda-beda posisinya dengan teknik wawancara mendalam, sehingga informasi dari narasumber yang satu bisa dibandingkan dengan informasi dari narasumber lainnya.

66

G. Teknik Analisis Data Penelitian ini dilakukan di satu sekolah, maka teknik analisis yang digunakan adalah analisis studi kasus. Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis model interaktif yang dikemukakan oleh Miles dan Hubernam (1992: 15-21). Model ini meliputi tiga komponen utama, yaitu (1) reduksi data, (2) sajian data, dan (3) penarikan simpulan atau verifikasi. Aktifitas analisis dilakukan menggunakan bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suati siklus. Dalam kegiatan analisis ini aktifitas peneliti tetap bergerak diantara empat “sumbu” komponen analisis dengan pengumpulan datanya. Pergerakan ini dimulai dari mengumpulan data dengan mengunakan caracara wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Implikasi penerapan reduksi data adalah kegiatan pemfokusan, penyederhanaan data dan cacatan lapangan. Proses ini dilakukan untuk mempertegas,

memperpendek, dan membuang hal-hal yang tidak penting serta mengatur data sedemikian rupa,sehingga kesimpulan peneliti dapat dilakukan. Proses ini berlangsung terus-menerus sampai akhir laporan penelitian ini selesai. Data yang telah direduksi kemudian disajikan. Sajian data berupa rangkaian kalimat yang disusun secara logis dan sistematis, sehingga mudah dipahami saat dibaca dan memungkinkan untuk dibuat sesuatu tindakan berdasarkan pemahaman tersebut.

67

Pengambilan kesimpulan atau verifikasi dimulai dari simpulan sementara. Pelaksanaan pengambilan kesimpulan sementara dilakukan dengan cara menelusuri kembali data yang tersaji. Gerak pengulangan dilakukan dengan cepat, karena kemungkinan munculny pemikiran baru yang melintas pada saat menulis dan melihat kembali data-data yang tersaji dapat terjadi. Verifikasi akhir dilakukan dengan cara berdiskusi lebih teliti dengan arasumber/informan. Beragamnya alur verifikasi dimaksudkan agar makna data data teruji validitasnya, sehingga penelitian menjadi lebih kokok dan bermakna. Agar lebih jelas, proses analisi interaksif dapat digambarkan sebagai berikut (Sutopo: 2006: 120).
Pengumpulan Data Sajian

Reduksi

Penarikan

Gambar 2. Analisis Model Interaktif Bagan di atas memperlihatkan bahwa proses analisis data dimulai dari pengumpulan data, kemudian data yang terkumpul di buat treduksi data, dan dilanjutkan dengan sajian data dan penarikan simpulan.

68

H. Jadwal Penelitian Penelitian ini direncanakan memerlukan waktu pelaksanaan selama lima bulan, yaitu mulai bulan Maret sampai bulan Juni 2012. Perincian jadwal kegiatannya adalah sebagai berikut : No Uraian Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 Pembuatan Proposal Seminar Proposal Perencanaan Pelaksanaan Penelitian Remidial Laporan revisi Sidang Tesis Februari Maret April Mei Juni 2012 2012 2012 2012 2012 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v

69

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2000, Media Pengajaran. Jakarta : PT Raja Graindo Persada As-Sirjani, Raghib. 2007. Spiritual Reading. Solo : Aqwan Depdikbud. 1993. Landasan Program dan Pengembangan. Jakarta : Depdikbud Depdiknas. 2005. Pengembangan Kemampuan Membaca Cepat ( Materi Pelatihan Terintegrasi) Jakarta : Depdiknas Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka Cipta Fry, E. 1965. Teaching Faster Reading.London : Cambridge Press. Hernowo. 2003. Quantum Reading. Bandung : MLC Moloeng. 2008 Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya Muchlisoh. 1992. Materi Pokok Bahasa Indonesia 3. Jakarta : Depsikbud Nurgiyantoro, Burhan. 1987. Penelitian dalam Pengajaran Bahasa Indonesia dan sastra. Jogyakarta : BPFE Nurhadi. 2008. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung : Snar Baru Algensindo

Asri B.(2005). Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Rineka Cipta BSNP. (2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP. Dahar, R. W. (2006). Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Erlangga. E.Mulyasa. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung:PT.Rosdakarya. Freankel, J. d. (2003). How To Design and Evaluate Research in Education. NewYork: McGraw Hill Companies. Huberman, M. a. (1994). Qualitative Data Analysis. USA: California.http://carapedia.com/pengertian_definisi_pembelajaran_ menurut_para_ahli_info507.html diakses 31 Maret 2012

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful