BAB I

PENDAHULUAN

Sebagian besar tubuh manusia terdiri atas cairan yang jumlahnya berbeda-beda tergantung usia dan jenis kelamin serta banyaknya lemak di dalam tubuh. Dengan makan dan minum tubuh mendapatkan air, elektrolit serta nutrien-nutrien yang lain. Dalam waktu 24 jam jumlah air dan elektrolit yang masuk setara dengan jumlah yang keluar. Pengeluaran cairan dan elektrolit dari tubuh dapat berupa urin, tinja, keringan dan uap air pada saat bernapas. Terapi cairan dibutuhkan bila tubuh tidak dapat memasukka air, elektrolit serta zat-zat makanan ke dalam tubuh secara oral misalnya pada saat pasien harus berpuasa lama, karena pembedahan saluran cerna, perdarahan banyak, syok hipovolemik, anoreksia berat, mual muntah dan lain-lain. Dengan terapi cairan kebutuhan akan air da elektrolit akan terpenuhi. Selain itu terapi cairan juga dapat digunakan untuk memasukkan obat dan zat makanan secara rutin atau juga digunakan untuk menjaga keseimbangan asam basa.

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I.

Definisi Cairan Tubuh Cairan tubuh adalah cairan suspensi sel di dalam tubuh makhluk multiseluler seperti manusia atau hewan yang memiliki fungsi fisiologis tertentu.

II.

Fisiologi Cairan Tubuh dan Elektrolit

A. Distribusi cairan tubuh Air adalah pelarut (solven) terpenting dalam komposisi cairan makhluk hidup. Persentase air tubuh total (Total Body Water) terhadap berat badan berubah sesuai umur, menurun cepat pada awal kehidupan. Pada saat lahir, TBW 78% berat badan. Pada beberapa bulan pertama kehidupan, TBW turun cepat mendekati kadar dewasa 55-60 % berat badan pada saat usia 1 tahun. Pada masa pubertas, terjadi perubahan TBW selanjutnya. Karena lemak mempunyai kadar air yang lebih rendah, persentase TBW terhadap berat badan lebih rendah pada wanita dewasa yang mempunyai lebih banyak lemak tubuh (55%) daripada laki-laki, yang mempunyai sedikit lemak. Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen intraselular dan kompartemen ekstraselular.  Cairan intraselular Cairan yang terkandung di antara sel disebut cairan intraselular. Pada orang dewasa, sekitar dua pertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular (sekitar 27 liter ratarata untuk dewasa laki-laki dengan berat badan sekitar 70 kilogram), sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat badannya merupakan cairan intraselular. Cairan intraseluler terlibat dalam proses metabolik yang menghasilkan energi yang berasal dari nutrien-nutrien dalam cairan tubuh. Cairan ekstraselular Cairan yang berada di luar sel disebut cairan ekstraselular. Cairan ekstraseluler berperan dalam mempertahankan sistem sirkulasi, mensuplai nutrient ke dalam sel, dan membuang zat sisa yang bersifat toksik. Jumlah relatif cairan ekstraselular berkurang

2

o Cairan Intravaskular Merupakan cairan yang terkandung dalam pembuluh darah (contohnya volume plasma). Distribusi cairan tubuh 3 . sekitar 11. Cairan ekstraselular dibagi menjadi : o Cairan Interstitial Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial. intraokular dan sekresi saluran pencernaan. sisanya terdiri dari sel darah merah. Pada keadaan sewaktu. Rata-rata volume darah orang dewasa sekitar 5-6L dimana 3 liternya merupakan plasma.12 liter pada orang dewasa. Table 1. volume cairan transeluler adalah sekitar 1 liter. pleura. sekitar setengah dari cairan tubuh terdapat di cairan ekstraselular. tetapi cairan dalam jumlah banyak dapat masuk dan keluar dari ruang transeluler. sendi sinovial.seiring dengan usia. Pada bayi baru lahir. o Cairan transeluler Merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu seperti serebrospinal. sel darah putih dan platelet. Cairan limfe termasuk dalam volume interstitial. perikardial.

Kebutuhan setiap hari = 100mEq (6-15 gram NaCl). Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan interstitial maupun ke dalam dan keluar sel. Suatu sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini. cairan tubuh mengandung dua jenis zat yaitu elektrolit dan non elektrolit. Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam miliekuivalen).5mEq/kgBB dapat berubah-ubah.diare) sedangkan pemasukkan terbatas maka akan terjadi keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium.5mEq/kgBB dimana + 70% atau 40.  Natrium Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling berperan di dalam mengatur keseimbangan cairan. Kekurangan air dan natrium dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial.12 Kadar natrium dalam tubuh 58. Apabila tubuh banyak mengeluarkan natrium (muntah. Ekresi natrium dalam urine 100-180mEq/liter. air akan ditarik dari dalam sel dan apabila volume plasma tetap tidak dapat dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi. faeces 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Jumlah kalium 4 . Kadar natrium plasma: 135-145mEq/liter. Elektrolit Merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik. Kalium   Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit.  Kation : Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+). Komponen cairan tubuh Selain air. sedangkan kation utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Apabila kehilangan cairan terus berlangsung.B.

dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat berubah-ubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah kalium yang terikat dengan protein didalam sel. Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. Kadar kalium plasma 3.0 mEq/liter. ovarium.  Anion: Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan bikarbonat (HCO3-). Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. kebutuhan setiap hari 1-3 mEq/kgBB.5-5.  Karbonat Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu hasil akhir daripada metabolisme. besarnya tulang. Jumlah pengeluaran ini tergantung pada intake. Dikeluarkan lewat urine dan faeces. Asam bikarbonat dikontrol oleh paru-paru dan sangat penting peranannya dalam keseimbangan asam basa. Tabel 1. Kalsium Kalsium dapat dalam makanan dan minuman. faeces 72 mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter. Sedikit sekali bikarbonat yang akan dikeluarkan urine. 80-90% dikeluarkan lewat faeces dan sekitar 20% lewat urine. Magnesium Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Ekskresi kalium lewat urine 60-90 mEq/liter. Metabolisme kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar paratiroid. da hipofisis. keadaan endokrin. terutama susu. tiroid. Kebutuhan unruk pertumbuhan + 10 mg/hari. sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat (PO43-). testis. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan + 1% dalam cairan ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel. Komposisi Elektrolit pada Cairan Tubuh Plasma (mEq/L) 142 Cairan Interstitial (mEq/L) 145 Cairan Intracellular (mEq/L) 10 5   Elektrolit Na+ .

namun tidak dapat dilalui zat terlarut misalnya protein. sehingga tekanan osmotik cairan tubuh seluruh kompartemen sama. Mekanisme transpor pasif tidak membutuhkan energy sedangkan mekanisme transpor aktif membutuhkan energi. C. Anaesth Intensive Care Med  Merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi dalam cairan. Zat lainya termasuk penting adalah kreatinin dan bilirubin. Osmosis Osmosis adalah bergeraknya molekul (zat terlarut) melalui membran semipermeabel (permeabel selektif) dari larutan berkadar lebih rendah menuju larutan berkadar lebih tinggi hingga kadarnya sama. Seluruh membran sel dan kapiler permeable terhadap air. Sedangkan mekanisme transpor aktif berhubungan dengan pompa Na-K yang memerlukan ATP. Proses pergerakan cairan tubuh antar kompertemen dapat berlangsung secara: a. Difusi dan osmosis adalah mekanisme transpor pasif. Proses Pergerakan Cairan Tubuh Perpindahan air dan zat terlarut di antara bagian-bagian tubuh melibatkan mekanisme transpor pasif dan aktif.Elektrolit K+ Mg2+ Ca2+ ClHCO37:462-465 2006. Membran semipermeabel ialah membran yang dapat dilalui air (pelarut). 6 . Non elektrolit Plasma (mEq/L) 4 2 5 103 25 Cairan Interstitial (mEq/L) 4 2 3 117 27 Cairan Intracellular (mEq/L) 159 40 1 10 7 Adapted from Campbell I: Physiology of fluid balance.

I. kontrol hormon yang abnormal. Tujuan dari pompa natrium kalium adalah untuk mencegah keadaan hiperosmolar di dalam sel. dan hampir 600 ml kehilangan cairan yang tidak disadari (insensible water loss) dari kulit dan paru-paru. Perubahan cairan tubuh Perubahan cairan tubuh dapat dikategorikan menjadi 3. dalam bentuk cairan maupun makanan padat dengan kehilangan cairan rata rata 250 ml dari feses.Tekanan osmotik plasma darah ialah 285+ 5 mOsm/L. Pada keadaan normal. Asupan dan ekskresi cairan dan elektrolit fisiologis Homeostasis cairan tubuh yang normalnya diatur oleh ginjal dapat berubah oleh stres akibat operasi.9%. Ringer laktat). 800-1500 ml dari urin. Larutan dengan tekanan osmotik kira-kira sama disebut isotonik (NaCl 0. D. Difusi Difusi ialah proses bergeraknya molekul lewat pori-pori. atau pun oleh adanya cedera pada paruparu. Perubahan volume 7 . Larutan dengan tekanan osmotik lebih rendah disebut hipotonik (akuades). sedangkan lebih tinggi disebut hipertonik. Larutan akan bergerak dari konsentrasi tinggi ke arah larutan berkonsentrasi rendah. Dekstrosa 5%. b. seseorang mengkonsumsi air rata-rata sebanyak 2000-2500 ml per hari. kulit atau traktus gastrointestinal. c. yaitu : 1. Pompa Natrium Kalium Pompa natrium kalium merupakan suatu proses transpor yang memompa ion natrium keluar melalui membran sel dan pada saat bersamaan memompa ion kalium dari luar ke dalam. Jadi difusi tergantung kepada perbedaan konsentrasi dan tekanan hidrostatik. Tekanan hidrostatik pembuluh darah juga mendorong air masuk berdifusi melewati pori-pori tersebut.

sehingga meminimalkan penurunan volume . air di kompartemen intravaskular berpindah ke kompartemen ekstravaskular. dan luka bakar. Dehidrasi isonatremik merupakan yang paling sering terjadi (80%).  Dehidrasi isotonis (isonatremik): terjadi ketika kehilangan cairan hampir sama dengan konsentrasi natrium terhadap darah. Secara garis besar terjadi kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan air yang hilang. diare dan drainase fistula. Defisit volume Defisit volume cairan ekstraselular merupakan perubahan cairan tubuh yang paling umum.  Dehidrasi hipotonis (hiponatremik): terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan hipertonis). kehilangan cairan yang cepat akan menimbulkan tanda gangguan pada susunan saraf pusat dan jantung.15  Dehidrasi hipertonis (hipernatremik): terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih sedikit dari darah (kehilangan cairan hipotonis). Penyebab lainnya dapat berupa kehilangan cairan pada cedera jaringan lunak. Pada kehilangan cairan yang lambat lebih dapat ditoleransi sampai defisi volume cairan ekstraselular yang berat terjadi. Secara garis besar terjadi kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan natrium yang hilang. sehingga menyebabkan penurunan volume intravaskular. air di kompartemen ekstraskular berpindah ke kompartemen intravaskular. Karena kadar natrium serum rendah. Karena kadar natrium tinggi. obstruksi usus. sedangkan dehidrasi hipernatremik atau hiponatremik sekitar 5-10% dari kasus. infeksi.a. peritonitis. Penyebab paling umum adalah kehilangan cairan di gastrointestinal akibat muntah. Kehilangan cairan dan natrium besarnya relatif sama dalam kompartemen intravaskular maupun kompartemen ekstravaskular. penyedot nasogastrik.15 8 intravaskular. Dehidrasi Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan kadar konsentrasi serum dari natrium menjadi isonatremik (130-150 mEq/L). inflamasi jaringan. Keadaan akut. hiponatremik (<139 mEq/L) atau hipernatremik (>150 mEq/L).

polidipsi psikogenik).5-2. iritabilitas. diare.9. sudah dapat dibilang hiponatremia. bila kurang dari 135 mEq/ L. Untuk menghitung Na serum yang dibutuhkan dapat menggunakan rumus : Na= Na1 – Na0 x TBW Na = Jumlah Na yang diperlukan untuk koreksi (mEq) Na1 = 125 mEq/L atau Na serum yang diinginkan Na0 = Na serum yang aktual TBW = total body water = 0. Perubahan konsentrasi a.b. ataupun gagal jantung kongestif.6 mg dan untuk pediatrik 1. Hiponatremia Kadar natrium normal 135-145 mEq/L. third space losses. lemah dan henti pernafasan. Kelebihan volume Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan suatu kondisi akibat iatrogenic (pemberian cairan intravena seperti NaCl yang menyebabkan kelebihan air dan NaCl ataupun pemberian cairan intravena glukosayang menyebabkan kelebihan air) ataupun dapat sekunder akibat insufisiensi renal (gangguan pada GFR). Jika < 120 mg/L maka akan timbul gejala disorientasi.10 Kelebihan cairan intaseluler dapat terjadi jika terjadi kelebihan cairan tetapi jumlah NaCl tetap atau berkurang. Keadaan ini dapat diterapi dengan restriksi cairan (Na+ ≥ 125 mg/L) atau NaCl 3% ssebanyak (140-X)xBBx0. hipovolemia (disfungsi tubuli ginjal. gangguan mental. sirosis.5 mg/kg. hipervolemia (sirosis. muntah. letargi. Hiponatremia ini dapat disebabkan oleh euvolemia (SIADH. sedangkan untuk hiponatremia akut lebih agresif. koma. diuretika). nefrosis).12 Koreksi hiponatremia yang sudah berlangsung lama dilakukan scara perlahanlahan.6 x BB (kg) 9 . sedangkan jika kadar < 110 mg/L maka akan timbul gejala kejang.10 2.

perubahan EKG (QRS segmen melebar. kelemahan otot yang hebat). diabetes insipidus. Hipernatremia Bila kadar natrium lebih dari 145 mEq/L disebut dengan hiperkalemia. Terapi hipokalemia dapat berupa koreksi faktor presipitasi (alkalosis.13 Rumus untuk menghitung defisit kalium18 : K = K1 – K0 x 0. Dapat terjadi akibat dari redistribusi akut kalium dari cairan ekstraselular ke intraselular atau dari pengurangan kronis kadar total kalium tubuh. perubahan EKG). diuresis. Hipokalemia Jika kadar kalium < 3 mEq/L. letargi.<2mEq/L disertai perubahan EKG. poliuria. Terapi keadaan ini adalah penggantian cairan dengan 5% dekstrose dalam air sebanyak {(X-140) x BB x 0. Jika kadar natrium > 160 mg/L maka akan timbul gejala berupa perubahan mental.12 c. Terapi untuk 10 .>2 mEq/L) atau infus potasium klorida sampai 40 mEq/jam dengan monitoring oleh EKG (untuk hipokalemia berat. intoleransi glukosa. Tanda dan gejalanya terutama melibatkan susunan saraf pusat (parestesia.b. asupan natrium berlebihan.6}: 140. kelemahan otot skeletal. ST segmen depresi. Tanda dan gejala hipokalemia dapat berupa disritmik jantung. hipomagnesemia. Hipernatremi dapat disebabkan oleh kehilangan cairan (diare. muntah. koma.25 x BB K = kalium yang dibutuhkan K1 = serum kalium yang diinginkan K0 = serum kalium yang terukur BB = berat badan (kg) d. Hiperkalemia Terjadi jika kadar kalium > 5 mEq/L. infuse potasium klorida sampai 10 mEq/jam (untuk mild hipokalemia . keringat berlebihan). lemah. kelemahan otot) dan sistem kardiovaskular (disritmik. sering terjadi karena insufisiensi renal atau obat yang membatasi ekskresi kalium (NSAIDs. ACE-inhibitor. asupan air kurang. hipotensi postural. obat-obatan). diuretik). siklosporin. kejang.

analgesia. kelaparan. aspirin yang berlebihan dan keracunan metanol. dan ventilasi mekanis bila perlu. Alkalosis metabolik (pH>7. hipokalemik akibat defisit volume ekstraselular. dan ventilasi yang dibantu. Kompensasi awal yang terjadi adalah peningkatan ventilasi dan depresi PaCO2. Perubahan komposisi a. Terapi bikarbonat hanya diperuntukkan bagi penanganan asidosis berat dan hanya setelah kompensasi alkalosis respirasi digunakan. cedera SSP. Perhatian yang ketat terhadap higiene trakeobronkial saat post operatif adalah sangat penting. Penyebab paling umum adalah syok. hemodialisis. Kejadian akut merupakan akibat dari ventilasi yang tidak adekuat termasuk obstruksi jalan nafas. hipoksia. nyeri dari insisi abdomen atas. Asidosis respiratorik (pH< 3. efusi pleura.75 dan PaCO2> 45 mmHg) Kondisi ini berhubungan dengan retensi CO2 secara sekunder untuk menurunkan ventilasi alveolar pada pasien bedah. diare. Pada fase akut. diabetik ketoasidosis. d. fistula usus kecil. intubasi endotrakeal.45 dan PaCO2 < 35 mmHg) Kondisi ini disebabkan ketakutan. Terapi ditujukan untuk mengkoreksi masalah yang mendasari termasuk sedasi yang sesuai. Terapi sebaiknya ditujukan terhadap koreksi kelainan yang mendasari. dan asidosis laktat. Masalah yang umum terjadi pada pasien bedah adalah hipokloremik. c. distensi abdomen dan penggunaan narkose yang berlebihan. 3. konsentrasi bikarbonat serum normal. dan koreksi defisit potasium yang terjadi. atau diuretik. nyeri. dan alkalosis terjadi sebagai hasil dari penurunan PaCO2 yang cepat. penggunaan yang tepat dari ventilator mekanik. sodium bikarbonat 50-100 mEq dalam 5-10 menit.35 dan bikarbonat <21 mEq/L) Kondisi ini disebabkan oleh retensi atau penambahan asam atau kehilangan bikarbonat. Alkalosis respiratorik (pH> 7. atelektasis. Asidosis metabolik (pH<7. Terapi yang digunakan 11 . pneumonia. Manajemennya melibatkan koreksi yang adekuat dari defek pulmonal. Penyebab yang paling umum termasuk gagal ginjal.45 dan bikarbonat >27 mEq/L) Kelainan ini merupakan akibat dari kehilangan asam atau penambahan bikarbonat dan diperburuk oleh hipokalemia. diabetik ketoasidosis. b.hiperkalemia dapat berupa intravena kalsium klorida 10% dalam 10 menit.

penyakit hepar. Kondisi yang telah ada Diabetes mellitus. intraoperatif dan postoperatif. Prosedur diagnostik Arteriogram atau pyelogram intravena yang memerlukan marker intravena dapat menyebabkan ekskresi cairan dan elektrolit urin yang tidak normal karena efek diuresis osmotik. Pemberian obat Pemberian obat seperti steroid dan diuretik dapat mempengaruhi eksresi air dan elektrolit 4. PaCO2 dan serum elektrolit yang sering. Restriksi cairan preoperatif 12 . Preparasi bedah Enema atau laksatif dapat menyebabkan peningkatan kehilangan air dan elekrolit dari traktus gastrointestinal. Koreksi alkalosis harus gradual selama perode 24 jam dengan pengukuran pH.adalah sodium klorida isotonik dan penggantian kekurangan potasium. Faktor-faktor preoperatif 1. II. atau insufisiensi renal dapat diperburuk oleh stres akibat operasi. A. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada pembedahan Gangguan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan hal yang umum terjadi pada pasien bedah karena kombinasi dari faktor-faktor preoperatif. 3. Penanganan medis terhadap kondisi yang telah ada 6. 2. 5.

Kehilangan abnormal cairan ekstraselular ke third space (contohnya kehilangan cairan ekstraselular ke dinding dan lumen usus saat operasi) 4. Risiko atau adanya ileus postoperatif III. Kehilangan cairan dapat meningkat jika pasien menderita demam atau adanya kehilangan abnormal cairan. Kehilangan darah yang abnormal 3. Penurunan volume sirkulasi yang efektif 4. 7. Faktor-faktor intraoperatif 1. Faktor-faktor postoperatif 1.Selama periode 6 jam restriksi cairan. Defisit cairan yang telah ada sebelumnya Harus dikoreksi sebelum operasi untuk meminimalkan efek dari anestesi. 13 . Stres akibat operasi dan nyeri pasca operasi 2. mengganti cairan tubuh dalam batas-batas fisiologis dengan cairan infus kristaloid (elektrolit) atau koloid (plasma ekspander) secara intravena. Peningkatan katabolisme jaringan 3. Terapi Cairan Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara. B. Kehilangan cairan akibat evaporasi dari luka operasi (biasanya pada luka operasi yang besar dan prosedur operasi yang berkepanjangan) C. 2. pasien dewasa yang sehat kehilangan cairan sekitar 300-500 mL. Induksi anestesi Dapat menyebabkan terjadinya hipotensi pada pasien dengan hipovolemia preoperatif karena hilangnya mekanisme kompensasi seperti takikardia dan vasokonstriksi.

dextran + saline. Untuk anak digunakan rumus Holiday Segar 4:2:1.  Terapi rumatan Terapi rumatan bertujuan memelihara keseimbangan cairan tubuh dan nutrisi. dan mengganti cairan yang pindah ke rongga ketiga. Orang dewasa rata-rata membutuhkan cairan 30-35 ml/kgBB/hari dan elektrolit utama Na+=1-2 mmol/kgBB/haridan K+= 1mmol/kgBB/hari. DGAA. Larutan elektrolit yang juga mengandung karbohidrat adalah larutan KA-EN. yaitu : Table 2. Infus KA-EN dapat mensuplai kalium sesuai kebutuhan harian. mengganti perdarahan yang terjadi. Misalnya pada keadaan syok dan luka bakar. Rumus Holiday Segar Terapi rumatan dapat diberikan infus cairan elektrolit dengan kandungan karbohidrat atau infus yang hanya mengandung karbohidrat saja. mengganti kebutuhan rutin saat pembedahan.  Terapi cairan resusitasi Terapi cairan resusitasi ditujukan untuk menggantikan kehilangan akut cairan tubuh atau ekspansi cepat dari cairan intravaskuler untuk memperbaiki perfusi jaringan. keringat (lewat kulit) dan pengeluaran lewat paru atau dikenal dengan insensible water losses. Dalam terapi rumatan cairan keseimbangan kalium perlu diperhatikan karena seperti sudah dijelaskan kadar berlebihan atau kekurangan dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya. Pada syok hemoragik bisa diberikan 2-3 L dalam 10 menit.Terapi cairan berfungsi untuk mengganti defisit cairan saat puasa sebelum dan sesudah pembedahan. Ringer Asetat (RA). dll. Umumnya infus konvensional RL atau NS tidak mampu mensuplai kalium sesuai kebutuhan harian. 14 . atau Ringer laktat (RL) sebanyak 20 ml/kg selama 30-60 menit. Terapi cairan resusitasi dapat dilakukan dengan pemberian infus Normal Saline (NS). Ringer's dextrose. Tetapi cairan tanpa elektrolit cepat keluar dari sirkulasi dan mengisi ruang antar sel sehingga dextrose tidak berperan dalam hipovolemik. sekresi gastrointestinal. Sedangkan larutan rumatan yang mengandung hanya karbohidrat adalah dextrose 5%. Kebutuhan tersebut merupakan pengganti cairan yang hilang akibat pembentukan urine.

9%. tetapi bila diberikan berlebih dapat mengakibatkan asidosis hiperkloremik (delutional hyperchloremic acidosis) dan menurunnya kadar bikarbonat plasma akibat peningkatan klorida. Cairan Kristaloid Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler (CES = CEF). Cairan kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan koloid) ternyata sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk mengatasi defisit volume intravaskuler. Karena perbedaan sifat antara koloid dan kristaloid dimana kristaloid akan lebih banyak menyebar ke ruang interstitiel dibandingkan dengan koloid maka kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan di ruang interstitiel. ke ruang peritoneum. pemberian cairan kristaloid berlebihan juga dapat menyebabkan edema otak dan meningkatnya tekanan intra kranial. Waktu paruh cairan kristaloid di ruang intravaskuler sekitar 20-30 menit. ke luar tubuh. Cairan kristaloid lainnya yang sering digunakan adalah NaCl 0.9Selain itu. Pada suatu penelitian mengemukakan bahwa walaupun dalam jumlah sedikit larutan kristaloid akan masuk ruang interstitiel sehingga timbul edema perifer dan paru serta berakibat terganggunya oksigenasi jaringan dan edema jaringan luka. Untuk menggantinya tergantung besar kecilnya pembedahan. Laktat yang terkandung dalam cairan tersebut akan mengalami metabolisme di hati menjadi bikarbonat. apabila seseorang mendapat infus 1 liter NaCl 0. yaitu : • • • 6-8 ml/kg untuk bedah besar 4-6 ml/kg untuk bedah sedang 2-4 ml/kg untuk bedah kecil A. Larutan Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling banyak digunakan untuk resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan susunan yang hampir menyerupai cairan intravaskuler.Pada pembedahan akan menyebabkan cairan pindah ke ruang ketiga. Jenis-Jenis Cairan 1. 15 .

Dibuat dengan cara memanaskan plasma atau plasenta 60°C selama 10 jam untuk membunuh virus hepatitis dan virus lainnya.5%). Pemberian Dextran melebihi 20 ml/kgBB/hari dapat mengganggu cross match. tetapi Dextran 40 mampu memperbaiki aliran darah lewat sirkulasi mikro karena dapat menurunkan kekentalan (viskositas) darah. terdapat 2 jenis larutan koloid: a. Selain itu Dextran mempunyai efek anti trombotik yang dapat mengurangi platelet adhesiveness. Fraksi protein plasma selain mengandung albumin (83%) juga mengandung alfa globulin dan beta globulin. Walaupun Dextran 70 merupakan volume expander yang lebih baik dibandingkan dengan Dextran 40. Dextran dapat menimbulkan reaksi anafilaktik yang dapat dicegah yaitu dengan memberikan Dextran 1 (Promit) terlebih dahulu. Dextran: Dextran 40 (Rheomacrodex) dengan berat molekul 40. waktu perdarahan memanjang (Dextran 40) dan gagal ginjal. b. meningkatkan fibrinolisis dan melancarkan aliran darah.000-70.000 dan Dextran 70 (Macrodex) dengan berat molekul 60. 16 .2. Koloid alami: Yaitu fraksi protein plasma 5% dan albumin manusia ( 5 dan 2. Berdasarkan pembuatannya.000 diproduksi oleh bakteri Leuconostoc mesenteroides B yang tumbuh dalam media sukrosa. Koloid sintetis: 1. menekan aktivitas faktor VIII. Cairan Koloid Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut “plasma substitute” atau “plasma expander”. Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk resusitasi cairan secara cepat terutama pada syok hipovolemik/hermorhagik atau pada penderita dengan hipoalbuminemia berat dan kehilangan protein yang banyak (misal luka bakar). Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan yang mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 3-6 jam) dalam ruang intravaskuler.

Low molecullar weight Hydroxylethyl starch (Penta-Starch) mirip Heta starch. Pemberian 500 ml larutan ini pada orang normal akan dikeluarkan 46% lewat urin dalam waktu 2 hari dan sisanya 64% dalam waktu 8 hari.Oxypoly gelatin Table 3. osmolaritas 310 mOsm/L dan tekanan onkotik 30 30 mmHg.Mengembalikan kehilangan pada .000 – 1.Aliran urin lancar (meningkatkan intravaskular lebih baik (1/3 cairan bertahan selama 24 jam) u/ Meningkatkan tekanan onkotik plasma sedikit .Mengurangi kejadian edema perifer Dapat menurunkan tekanan intrakranial 17 . yaitu: . 3. Gelatin Larutan koloid 3. mampu mengembangkan volume plasma hingga 1.000 dibuat dari hidrolisa kolagen binatang. Hydroxylethyl Starch (Heta starch) Tersedia dalam larutan 6% dengan berat molekul 10.000.000. Larutan koloid ini juga dapat menimbulkan reaksi anafilaktik dan dapat meningkatkan kadar serum amilase ( walau jarang).Urea linked gelatin . Ada 3 macam gelatin.Tidak mahal volume intravaskular) Pilihan cairan pertama resusitasi perdarahan & trauma ruang cairan ke-3 Koloid Mempertahankan cairan . Keuntungan dan kerugian cairan kristaloid dan koloid Kristaloid Keuntungan .modified fluid gelatin (Plasmion dan Hemacell) . rata-rata 71.Membutuhkan volume yang lebih .5 kali volume yang diberikan dan berlangsung selama 12 jam. Karena potensinya sebagai plasma volume expander yang besar dengan toksisitas yang rendah dan tidak mengganggu koagulasi maka Penta starch dipilih sebagai koloid untuk resusitasi cairan pada penderita gawat.5-4% dalam balanced electrolyte dengan berat molekul ratarata 35.2.000.

18 . sedangkan sisanya diberikan pada jam kedua berikutnya. Ringer Laktat dan Dextrose. dehidrasi) yang seringkali menyertai penyulit bedahnya harus segera diganti dengan melakukan resusitasi cairan atau rehidrasi sebelum induksi anestesi.Menginduksi koagulopati (dextran & helastarch) . dpt berpotensi tjd perpindhn cairan ke interstitial .Berpotensi menghambat tubulus renalis dan sel retikuloendotelial di hepar . Pada penderita yang karena penyakitnya tidak mendapat nutrisi yang cukup maka sebaiknya diberikan nutrisi enteral atau parenteral lebih dini lagi.Menginduksi edema perifer .Jika tdpt kerusakan kapiler.Kemungkinan adanya reaksi anafilaksis (dextran) B.Mahal . Terapi Cairan Preoperatif Defisit cairan karena persiapan pembedahan dan anestesi (puasa. Penderita dewasa yang dipuasakan karena akan mengalami pembedahan (elektif) harus mendapatkan penggantian cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam lama puasa. lavement) harus diperhitungkan dan sedapat mungkin segera diganti pada masa pra-bedah sebelum induksi.Kerugian . Defisit karena perdarahan atau kehilangan cairan (hipovolemik.Membutuhkan volume yg lebih besar .Insidensi terjadinya edema pulmonal lebih tinggi .Mengencerkan tekanan osmotik koloid .Efeknya sementara . Kehilangan cairan di ruang ECF ini cukup diganti dengan ciran hipotonis seperti garam fisiologis.Mengencerkan faktor pembekuan dan trombosit . Setelah dari sisa defisit yang masih ada diberikan pada jam pertama pembedahan.

2. Total yang diberikan adalah 6 ml/kgBB/jam berupa cairan garam seimbang seperti Ringer Laktat atau Normosol-R. katarak) cukup hanya diberikan cairan rumatan saja selama pembedahan. Pembedahan dengan trauma sedang diberikan cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 8 ml/kgBB/jam untuk pembedahannya. Total 10 ml/kgBB/jam. translokasi cairan dan penguapan atau evaporasi). elektrolit dan kalori/nutrisi.Usia Dewasa Anak Bayi Neonatus Jumlah Kebutuhan (ml/Kg/Jam) 1. Pembedahan yang tergolong kecil dan tidak terlalu traumatis misalnya bedah mata (ekstrasi. Terapi Cairan Postoperatif Terapi cairan pasca bedah ditujukan terutama pada hal-hal di bawah ini: 1. Pembedahan dengan trauma ringan misalnya: appendektomi dapat diberikan cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 4 ml/kgBB/jam untuk pengganti akibat trauma pembedahan. Pemenuhan kebutuhan dasar/harian air. Pengganti deficit prabedah C.5 – 2 2–4 4–6 3 Table 4. Terapi Cairan Intraoperatif Jumlah penggantian cairan selama pembedahan dihitung berdasarkan kebutuhan dasar ditambah dengan kehilangan cairan akibat pembedahan (perdarahan. 1. 3. Kebutuhan air untuk penderita di daerah tropis dalam keadaan basal sekitar ± 50 ml/kgBB/24 jam. Jenis cairan yang diberikan tergantung kepada prosedur pembedahannya dan jumlah darah yang hilang. D. Pada hari pertama 19 .

Penderita dengan hiperventilasi atau pernapasan melalui trakeostomi dan humidifikasi. Penderita dengan keadaan umum baik dan trauma pembedahan minimum. Melanjutkan penggantian defisit cairan pembedahan dan selama pembedahan yang belum selesai. 20 . Monitoring organ-organ vital dilanjutkan secara seksama meliputi tekanan darah. suhu tubuh dan warna kulit. 3. diameter pupil. tingkat kesadaran. frekuensi nadi.5 gr%. 2.pasca bedah tidak dianjurkan pemberian kalium karena adanya pelepasan kalium dari sel/jaringan yang rusak. Oleh sebab itu.Akibat demam. Mengganti kehilangan cairan pada masa pasca bedah: . jalan nafas. sebaiknya diberikan transfusi darah untuk memperbaiki daya angkut oksigen. Koreksi terhadap gangguan keseimbangan yang disebabkan terapi cairan tersebut. proses katabolisme dan transfusi darah. akan dilepaskan aldosteron dan ADH yang cenderung menimbulkan retensi air dan natrium. kebutuhan cairan meningkat sekitar 15% setiap kenaikan 1°C suhu tubuh . . pemberian karbohidrat 100-150 mg/hari cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan kalori dan dapat menekan pemecahan protein sampai 50% kadar albumin harus dipertahankan melebihi 3.Adanya pengeluaran cairan lambung melalui sonde lambung atau muntah. pada 2-3 hari pasca bedah tidak perlu pemberian natrium. Bila kadar hemoglobin kurang dari 10 gr%. diuresis. Akibat stress pembedahan. Terapi cairan ini berlangsung sampai penderita dapat minum dan makan. frekuensi nafas. 4. Penggantian cairan pasca bedah cukup dengan cairan hipotonis dan bila perlu larutan garamisotonis.

perioperatif dan postoperatif. serta cairan infus itu sendiri. Dalam terapi cairan harus diperhatikan kebutuhannya sesuai usia dan keadaan pasien. Dalam pembedahan.BAB III KESIMPULAN Tubuh mengandung 60 % air yang disebut juga cairan tubuh. sehingga amat penting dalam menunjang kehidupan. Terapi cairan parenteral digunakan untuk mempertahankan atau mengembalikan volume dan komposisi normal cairan tubuh. 21 . Jenis cairan yang bisa diberikan untuk terapi cairan adalah cairan kristaloid dan cairan koloid. tubuh kekurangan cairan karena perdarahan selama pembedahan ditambah lagi puasa sebelum dan sesudah operasi. Gangguan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan hal yang umum terjadi pada pasien bedah karena kombinasi dari faktorfaktor preoperatif. Cairan tubuh didalamnya terkandung nutrisi-nutrisi yang amat penting peranannya dalam metabolisme sel.

Jakarta: EGC. R..html . Adelmen. R.E. Bagian anestesiologi dan terapi intensif. Ilmu Kesehatan Anak Nelson ed 15. In: Behrman. Petunjuk praktis anestesiologi: terapi cairan pada pembedahan. 2007. 22 .DAFTAR PUSTAKA 1.. Terapi Cairan.J. Ann. Kliegman. Patofisiologi Cairan Tubuh dan Terapi Cairan. jilid 2. Hartanto. 2002. Bagian Farmakologi Klinik dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran 3. 2000.D.. Hasan F.. Arvin. dkk.blogspot. Solhaug. FKUI. M. 258-266 2.W. Terapi Cairan dan Elektrolit Perioperatif.M.com/2008/01/referat-terapi-cairan. Ed. W...M. R. Di unduh dari http://drfhasan.Kedua. 4. 2008. Latief AS.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful