PERTUMBUHAN BAKTERI

By Indra Taufik Sahli, S.Si

Pertumbuhan
 Pertumbuhan secara umum diartikan pertambahan

teratur semua komponen suatu organisme.  Dengan demikian pertambahan ukuran yg di akibatkan oleh bertambahnya air atau karena penumpukan lipid bukan merupakan pertumbuhan sejati  Multiplikasi sel adalah konsekuensi pertumbuhan.  Pertumbuhan bakteri lebih ditujukan oleh adanya pertambahan jumlah sel dan bukan peningkatan ukuran sel .

 Faktor2 yg mempengaruhi pertumbuhan bakteri al:
 Suhu  pH

 Tekanan osmotik
 Faktor kimia  Oksigen

 Faktor pertumbuhan organik
 Media pembenihan

Suhu
 Sebagian besar bakteri tumbuh optimal pada suhu tubuh manusia.  Pada suhu pertumbuhan optimal akan terjadi kecepatan pertumbuhan optimal dan dihasilkan jumlah sel yg maksimal.  Berdasarkan perbedaan suhu tumbuh bakteri dibagi beberapa golongan :  Psikrofil, hidup di udara dingin, -5 sampai 30 ⁰C, dgn optimum 10 – 20 ⁰C.
 Mesofil, hidup di udara bersuhu sedang, 10-45

⁰C, dgn optimum 20 – 40 ⁰C  Termofil, hidup di udara panas, 25 – 80 ⁰C, dgn optimum 50 – 60 ⁰C

pH
 pH adalah derajad keasaman suatu larutan.
 Kebanyakan bakteri tumbuh subur pada pH 6,5-7,5.

Tekanan osmotik
 Osmosis merupakan perpindahan air melewati membran semipermeabel karena ketidakseimbangan material dalam media.
 Dalam larutan hipotonik air akan masuk kedalam sel mikroorganisme,  Sedangkan dalam larutan hipertonik air akan keluar dari dalam sel mikroorganisme.

Faktor kimia
 Selain air, unsur penting yg dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroorganisme adalah unsur kimia al; carbon, nitrogen, sulfur, fosfor dan unsur kelumit misalnya Cu, Zn, dan Fe.

Oksigen
 Berdasarkan keperluan akan oksigen, kuman dibagi kedalam 5 golongan :
 Kuman anaerob obligat, hidup tanpa O2, O2 toksis

terhadap golongan ini.  Kuman anaerob aerotoleran, tidak mati dengan adanya O2.  Kuman anaerob fakultatif, mampu tumbuh baik dalam suasana dengan atau tanpa O2.  Kuman aerob obligat, tumbuh subur bila ada O2 dalam jumlah besar.  Kuman mikroaerofilik, hanya tumbuh baik dalam tekanan O2 yg rendah.

Faktor pertumbuhan organik
 Komponen organik penting yg tdk dpt diproduksi

sendiri oleh bakteri di sebut faktor pertumbuhan organik.  Faktor pertumbuhan organik al : vitamin, asam

amino, purin dan pirimidin.

organik yg dibutuhkan beberapa enzim agar berfungsi dgn optimal.  Asam amino yg diperlukan dalam sintesis protein.  Purin dan pirimidin diperlukan untuk sintesis asam nukleat.

Vitamin digunakan sebagai koenzim yaitu kofaktor

Reproduksi bakteri
 Adalah meningkatnya jumlah bakteri  Perkembangan mikroorganisme dpt terjadi secara

seksual & aseksual. Yang paling banyak terjadi adalah perkembangbiakan aseksual.  Pembiakan aseksual terjadi dengan pembelahan biner, yakni satu sel induk membelah menjadi dua sel anak, masing2 sel anak membentuk dua sel anak lg & seterusnya.  Tipe lain cara perkembangbiakan aseksual adalah pembelahan ganda (multiple fission) dan perkuncupan (budding)

Waktu generasi
 Waktu generasi adalah waktu yg dibutuhkan oleh satu

sel bakteri untuk membelah dari satu sel menjadi dua sel.  Tidak semua species bakteri mempunyai waktu generasi yg sama.  Mayoritas bakteri memiliki waktu generasi berkisar 1-3 jam.  E coli memiliki waktu generasi yg singkat 15-20 menit.  Sedangkan M tuberculosis memiliki waktu generasi sekitar 20 jam.

Waktu generasi
1
 1

2
2

22
4

23
8

24
16

2n

 waktu generasi (G) suatu mikroorganisme dapat dihitung dengan rumus  G=

………

Dimana : G : waktu generasi t : selang waktu antara pengukuran jumlah sel didalam populasi pada suatu saat dalam fase log B dan kemudian lagi pada suatu titik waktu kemuadian (b) B : populasi awal b : populasi setelah waktu Log : Log 10 3,3 : faktor konversi log 2 menjadi log 10

t 3,3 log (b/B)

Waktu Generasi
 Contoh :
 Sejumlah 1000 sel bakteri setelah 4 jam di dalam suatu medium bertambah jumlahnya menjadi 100.000 sel. Berapa waktu generasi dari populasi tersebut?

Waktu Generasi
 Contoh :
 Sejumlah 1000 sel bakteri setelah 4 jam di dalam suatu

medium bertambah jumlahnya menjadi 100.000 sel. Berapa waktu generasi dari populasi tersebut? G= t  3,3 log (b/B)  4  3,3 log (100.000/1000)  4/6,6 = 0,61 jam = 36,6 menit

Fase pertumbuhan bakteri
1. 2. 3. 4.

Fase penyesuaian diri (lag) Fase logaritma (eksponensial) Fase Statis Fase penurunan (kematian)

Log jumlah bakteri hidup

1 2 3

Waktu

4

Lanjutan……..
 Fase Lag  Fase ini merupakan fase awal, jumlah sel sangat sedikit karena sel belum mengalami pembelahan sel dalam media yg baru, fase ini dapat berlangsung 1 jam atau beberapa hari  Fase Log  Fase ini, sel mulai membelah dan memasuki masa pertumbuhan atau penambahan jumlah sel secara logaritmik.  Reproduksi seluler paling aktif pada fase ini dan menunjukan waktu generasi yg konstan sehingga grafik pertumbuhan berupa garis lurus

Lanjutan…….
 Fase Stasioner  Bila pertumbuhan berlanjut tanpa terkontrol, dapat dihasilkan jumlah sel yg sangat besar  Sebagai contoh secara teoritis, sel bakteri dengan berat 9,5 x 10ˉ¹³ g/sel yg membelah tiap 20 menit dapat berkembang menjadi populasi sel dengan berat setara dengan 80.000 ton hanya dalam waktu 25,5 jam  Fase Kematian  Jumlah kematian sel pada akhirnya akan melampaui jumlah sel baru yg terbentuk.  Fase ini berlanjut sampai populasi menyusut menjadi fraksi kecil atau seluruh populasi mati.

Perhitungan Jumlah Mikroba
 Pada umumnya ada 3 cara perhitungan jumlah mikroba

yakni :

 Perhitungan jumlah sel

 Perhitungan massa sel secara langsung dan

1. Hitungan Mikroskopik  Metode Petroff-Hauser  Metode Breed 2.Hitungan Cawan  Metode Tuang  Metode Sebar 3. MPN

 Perhitungan massa sel secara tidak langsung.

1. Hitungan Mikroskop Langsung
 Perhitungan jumlah mikroba secara langsung dapat untuk menentukan jumlah mikroba secara keseluruhan, baik yg mati maupun yg hidup.
 Ada beberapa cara hitungan mikroskopik langsung, yakni :
 Metode Petroff-Hauser  Metode Breed

Metode Petroff-Hausser
 Metode petroff-Hausser untuk menghitung jumlah mikroba dalam satuan isi yg sangat kecil.
 Metode ini menggunakan kaca objek khusus yg bergaris (Petroff-Hausser) berbentuk bujur sangkar.

 Jumlah cairan yg terdapat antara kaca objek dan kaca penutup mempunyai volume tertentu, sehingga satuan isi yg terdapat dalam satu bujur sangkar juga tertentu

Metode Petroff-Hausser
 Dalam metode ini hitungan mikroskopik dilakukan dengan pertolongan kotak-kotak skala, dimana setiap ukuran skala seluas 1 mm² terdapat 25 buah kotak besar dengan 0,04 mm² dan setiap kotak besar terdiri dari 16 kotak kecil. Tinggi sampel yg terletak antara kaca benda dan kaca penutup adalah 0,02 mm.  Jumlah sel dalam beberpa kotak besar dapat dihitung, kemudian dihitung jumlah sel rata-rata dalam kotak besar.

Metode Petroff-Hausser
 Jumlah sel per ml sampel dapat dihitung sebagai

berikut :  Jumlah sel per ml sampel :  Jumlah sel per kotak besar x 25 kotak x 1/0.02 x 10³
Jumlah sel/mm² Jumlah sel/mm³

Jumlah sel/cm³ (ml)

 Jumlah sel per ml sampel = jumlah sel per kotak besar x 1,25 x 10⁶

Metode Petroff-Hausser
 Contoh soal :
 Didapatkan jumlah mikroba yg mau dihitung 12 sel mikroba, maka jumlah sel per ml sampel adalah

Metode Petroff-Hausser
 Contoh soal :
 Didapatkan jumlah mikroba yg mau dihitung 12 sel mikroba, maka jumlah sel per ml sampel adalah  Jawaban :  12 x 1,25 x 10⁶ = 1,5 x 10⁷ sel/ml

Metode Petroff-Hausser
 Hitungan mikroskopik merupakan metode yg cepat dan

murah, tetapi mempunyai kelemahan sbb:  Sel mikroba yg telah mati tdk dapat dibedakan dari sel yg hidup, karena itu keduannya dihitung  Sel yg berukuran kecil sukar dilihat dibawah mikroskop, sehingga kalau tdk teliti tdk terhitung  Untuk mempertinggi ketelitian, jumlah sel didalam suspensi harus cukup tinggi, minimal untuk bakteri 10⁶ sel/ml  Tidak dapat digunakan untuk menghitung sel mikroba di dalam bahan yg banyak mengandung debris atau ekstrak makanan, karena hal tersebut menganggu dalam perhitungan sel.

Metode Breed
 Hitungan mikroskopik dengan metode Breed sering

digunakan untuk menganalisis susu yang mengandung bakteri dalam jumlah tinggi.  Cara ini mempunyai kelemahan yaitu tidak dapat dilakukan terhadap susu yg telah dipasteurisasi.  Untuk menghitung jumlah bakteri didalam susu sebanyak 0,01 ml susu dipipet dengan pipet Breed dan disebarkan di atas objek glass sehingga mencapai luas 1 cm², kemudian didiamkan sampai kering, difiksasi dan diwarnai dengan biru metilin.

 Dalam metode Breed, luas areal lapangan pandang

mikroskop yg digunakan harus dihitung terlebih dahulu.  Mikrometer yg digunakan adalah mikrometer gelas. Objek yg mempunyai skala terkecil 0,01 mm. areal pandang mikroskop biasanya mempunyai ukuran 14-16 skala atau 0,14-0,16 mm.  Tetapi beberapa mikroskop mempunyai ukuran diameter areal pandang lebih dari 0,18 mm.

 Luas areal pandang mikroskop dapat kita hitung

dengan rumus :  Luas areal pandang mikroskop  Dimana , r : jari – jari (mm) areal pandang. Karena sampel susu disebarkan pada kaca benda seluas 1 cm2 ada sebanyak 0,01 ml maka :  Jumlah susu per areal pandang  Jumlah bakteri per ml  Dengan kata lain, untuk mendapatkan 1 ml sampel susu dapat diperoleh dari 10.000/πr² x areal pandang mikroskop. Angka 10.000/πr² disebut juga Faktor Mikroskop (FM)

Lanjutan……..
 Jumlah areal pandang yg harus di amati tergantung

dari jumlah rata – rata bakteri per areal pandang, dan ditentukan sbb :
Jumlah rata-rata bakteri per areal pandang < 0,5 0,5 – 1 1 - 10 Jumlah areal pandang yang harus di amati 50 25 10

10 - 30 > 30

5 Dilaporkan TBUD

2. Hitung cawan
 Prinsip dari metode hitungan cawan adalah bila sel

mikroba yg masih hidup ditumbuhkan pd medium, maka mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yg dapat dilihat langsung, dan kemudian dihitung tanpa menggunakan mikroskop  Keuntungan :
 Hanya sel mikroba yg hidup yg dapat dihitung  Beberapa jasad renik dapat dihitung sekaligus

 Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba

Lanjutan…….
 Kelemahan :  Hasil perhitungan tidak menunjukan jumlah sel yg sebenarnya, karena beberpa sel yg berdekatan membentuk koloni  Medium dan kondisi inkubasi yg berbeda mungkin menghasilkan jumlah yg berbeda.  Mikroba yg ditumbuhkan harus dapat tumbuh pd medium padat dan membentuk koloni yg kompak, jelas, tidak menyebar.  Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi relatif lama sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung.

Lanjutan……..
 Metode hitungan cawan dibedakan atas dua cara yakni:  Metode Tuang  Metode Sebar  Jumlah koloni dalam sampel dapat dihitung sebagai

berikut :

 Jumlah koloni per ml atau per gram = jumlah koloni per

cawan x 1/ faktor pengenceran

Skema Kerja
sampel 1 ml

10-1
1 ml 1 ml dst

1 ml 10-2

10-3

10-4

10-5

9 ml

1 ml

1 ml
duplo

Lanjutan …………
 Contoh :
NO 1 2 3 4 Pengenceran 10-4 10-5 10-4 10-5 10-4 10-5 10-4 10-5 ∑ koloni tiap cawac

1
350 24 300 62 315 25 250 70

2
280 25 Spreader 50 Spreader 20 270 80

∑ mikroba tiap ml (gram) bahan 2.800.000 4.300.000 3.150.000 2.600.000

3. Metode MPN
 MPN sampel = Nilai MPN dr tabel x 1/pengenceran

tabung tengah

Skema Kerja MPN
1 ml 1 ml 10 -1 10 -2

10 -3

9 ml 1 ml

1 ml

1 ml

Perhitungan massa sel secara langsung
 Pengukuran kekeruhan biakan dengan Spektrofotometer

, dasar teknik perhitungan ini adakah banyaknya cahaya yg diabsorbsi sebanding dengan banyaknya sel mikroba pada batas-batas tertentu.  Cara lain penghitungan massa sel dengan cara mengukur berat kering sel atau filamen miselium sampel dalam suatu volume tertentu.  Metode volumetrik dan gravimetrik, pengukuran volume dan berat sel dilakukan terlebih dahulu dengan menyaring mikroba tersebut

Perhitungan massa sel secara tidak langsung
 Analisis komponen sel (protein, AND, ATP dsb)

 Analisis produk katabolisme (metabolit primer, metabolit

sekunder, panas)  Analisis konsumsi nutrien (karbon, nitrogen, oksigen, asam amino, mineral dsb)  Salah satu cara untuk menghitung jumlah sel didalam suatu bahan secara tidak langsung adalah dengan uji biru metilin.

Daftar Pustaka
 Fardiaz S, Mikrobiologi Pangan 1. Penerbit PT. Gramedia

Pustaka Utama. Jakarta 1992  Waluyo L, Mikrobiologi Umum. Ed. Revisi. UMM press. Malang. 2007  Waluyo L, Teknik Metode Dasar dalam Mikrobiologi. UMM press. Malang. 2008  Staf Pengajar FKUI, Buku Ajar Mikrobiologi. Ed. Revisi. Bina Rupa Aksara. Jakarta. 1994  Radji M, Buku Ajar Mikrobiologi Panduan Mahasiswa Farmasi & Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2011

Thanks………….

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful