TINJAUAN PUSTAKA Istilah oksidasi mengacu pada setiap perubahan kimia dimana terjadi kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan

reduksi digunakan untuk setiap penurunan bilangan oksidasi.Berarti proses oksidasi disertai hilangnya elektron sedangkan reduksi memperoleh elektron. Oksidator adalah senyawa di mana atom yang terkandung mengalami penurunan bilangan oksidasi. Sebaliknya pada reduktor, atom yang terkandung mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Oksidasi-reduksi harus selalu berlangsung bersama dan saling menkompensasi satu sama lain. Istilah oksidator reduktor mengacu kepada suatu senyawa, tidak kepada atomnya saja (Khopkar, 2003). Oksidator lebih jarang ditentukan dibandingkan reduktor. Namin demikian, oksidator dapat ditentukan dengan reduktor. Reduktor yang lazim dipakai untuk penentuan oksidator adalah kalium iodida, ion titanium(III), ion besi(II), dan ion vanadium(II). Cara titrasi redoks yang menggunakan larutan iodium sebagai pentiter disebut iodimetri, sedangkan yang menggunakan larutan iodida sebagai pentiter disebut iodometri (Rivai, 1995). Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Maka jumlah penentuan iodimetrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat. Reaksi antara iodium dan tiosulfat berlangsung secara sempurna (Underwood, 1986). Iodium hanya sedikit larut dalam air (0,00134 mol per liter pada 25 0C), tetapi agak larut dalam larutan yang mengandung ion iodida. Larutan iodium standar dapat dibuat dengan menimbang langsung iodium murni dan pengenceran dalam botol volumetrik. Iodium, dimurnikan dengan sublimasi dan ditambahkan pada suatu larutan KI pekat, yang ditimbang dengan teliti sebelum dan sesudah penembahan iodium. Akan tetapi biasanya larutan distandarisasikan terhadap suatu standar primer, As2O3 yang paling biasa digunakan. (Underwood, 1986). Larutan standar yang dipergunakan dalam kebanyakan proses iodometrik adalah natrium tiosulfat. Garam ini biasanya tersedia sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi terhadap standar primer. Larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama. Sejumlah zat padat digunakan sebagai standar primer untuk larutan natrium tiosulfat. Iodium murni merupakan standar yang paling nyata, tetapi jarang digunakan karena kesukaran dalam penanganan dan penimbangan. Lebih sering digunakan pereaksi yang kuat yang membebaskan iodium dari iodida, suatu proses iodometrik (Underwood, 1986). Metode titrasi iodometri langsung (kadang-kadang dinamakan iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (kadang-

kadang dinamakan iodometri), adlaah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia. Potensial reduksi normal dari sistem reversibel: I2(solid) 2e 2I-

adalah 0,5345 volt. Persamaan di atas mengacu kepada suatu larutan air yang jenuh dengan adanya iod padat; reaksi sel setengah ini akan terjadi, misalnya, menjelang akhir titrasi iodida dengan suatu zat pengoksid seperti kalium permanganat, ketika konsentrasi ion iodida menjadi relatif rendah. Dekat permulaan, atau dalam kebanyakan titrasi iodometri, bila ion iodida terdapat dengan berlebih, terbentuklah ion tri-iodida: I2(aq) + I- I3Karena iod mudah larut dalam larutan iodida. Reaksi sel setengah itu lebih baik ditulis sebagai: I3- + 2e 3I-

Dan potensial reduksi standarnya adalah 0,5355 volt. Maka, iod atau ion tri-iodida merupakan zat pengoksid yang jauh lebih lemah ketimbang kalium permanganat, kalium dikromat, dan serium(IV) sulfat (Bassett, J. dkk., 1994). Dalam kebanyakan titrasi langsung dengan iod (iodimetri), digunakan suatu larutan iod dalam kalium iodida, dan karena itu spesi reaktifnya adalh ion tri-iodida, I3-. Untuk tepatnya, semua persamaan yang melibatkan reaksi-reaksi iod seharusnya ditulis dengan I3dan bukan dengan I2, misalnya: I3- + 2S2O32- = 3I- + S4O62akan lebih akurat daripada: I2 + 2S2O32- = 2I- + S4O62(Bassett, J. dkk., 1994). Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut sebagai karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium. Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida (Underwood, 1986). Pembahasan

Namun kekurangan utama dari garam ini sebagai standar primer adalah bahwa bobot ekivalennya yang rendah. Larutan baku yang digunakan untuk standarisasi thiosulfat sendiri adalah KIO3 dan terjadi reaksi: Oksidator + KI I2 I2 + 2Na2S2O3 2NaI + Na2S4O6 Natrium tiosulfat dapat dengan mudah diperoleh dalam keadaan kemurnian yang tinggi. Larutan baku KIO3 0. ia harus ditambahkan kepada larutan yang mengandung asam kuat. Selain itu juga karena sifat Iod itu sendiri yang mudah teroksidasi oleh oksigen dalam lingkungan sehingga iodida mudah terlepas. Pembakuan Larutan Na2S2O3 dengan Larutan Baku KIO3 Percobaan ini menggunakan metode titrasi iodometri yaitu titrasi tidak langsung dimana mula-mula iodium direaksikan dengan iodida berlebih. 1. karena sifat flouresen atau melapuk-lekang dari garam itu dan karena alasan-alasan lainnya. atau dengan kalium permanganat atau serium (IV) sulfat sebagai larutan standar sekundernya. atau dalam standarisasi larutan asam keras.Garam KIO3 mampu mengoksidasi iodida menjadi iod secara kuantitatif dalam larutan asam.+ 5I. Larutan standar ini sangat stabil dan menghasilkan iod bila diolah dengan asam : IO3. Reaksi ini sangat kuat dan hanya membutuhkan sedikit sekali kelebihan ion hidrogen untuk melengkapi reaksinya. Natrium tiosulfat merupakan suatu zat pereduksi.1 N dibuat dengan melarutkan beberapa gram massa kristal KIO3 yang berwarna putih dengan menggunakan aquades dan mengencerkannya. namun selalu ada saja sedikit ketidakpastian dari kandungan air yang tepat. dengan persamaan reaksi sebagai berikut : 2S2O32. pertama. adalah sebagai sumber dari sejumlah iod yang diketahui dalam titrasi. dalam penetapan kandungan asam dari larutan secara iodometri.S4O62. tembaga dan iod sebagai larutan standar primer. ia tak dapat digunakan dalam medium yang netral atau memiliki keasaman rendah. kalium kromat. Yang kedua. . Oleh karena itu digunakan sebagai larutan standar dalam proses titrasi Iodometri ini. zat ini tidak memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai larutan baku standar primer. Namun pada percobaan ini senyawa yang digunakan dalam proses pembakuan natrium tiosulfat adalah kalium iodat standar.+ 2ePembakuan larutan natrium tiosulfat dapat dapat dilakukan dengan menggunakan kalium iodat. Karena itu.+ 6H+ 3 I2 + 3H2O Larutan KIO3 memiliki dua kegunaan penting. 1. kemudian iodium yang terjadi dititrasi dengan natrium thiosulfat.

Penentuan Kadar Cu2+ dengan Larutan Baku Na2S2O3 Pada penentuan kadar Cu dengan larutan baku Na2S2O3 akan terjadi beberapa perubahan warna larutan sebelum titik akhir titrasi.Larutan thiosulfat sebelum digunakan sebagai larutan standar dalam proses iodometri ini harus distandarkan terlebih dahulu oleh kalium iodat yang merupakan standar primer.2CuI(s) + I2 .+ 2S2O32.+ IDari hasil perhitungan diketahui besarnya konsentrasi natrium thiosulfat yang digunakan sebagai larutan baku standar sebesar 6. Kompleks iodium-amilum memiliki kelarutan yang kecil dalam air. Dan setelah ditambahkan dengan kalium iodida. Penggunaan indikator ini untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat titik akhir titrasi.+ I3S2O3I.S2O3I. Jika larutan iodium dalam KI pada suasana netral dititrasi dengan natrium thiosulfat. larutan berubah menjadi coklat kehitaman.+ I. Reaksinya adalah sebagai berikut : IO3. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin.+ 2I2S2O3I.15 V dan karena itu iod merupakan pengoksidasi yang lebih baik dari pada ion Cu(II).+ 6H+ → 3I2 + 3H2O Indikator yang digunakan dalam proses standarisasi ini adalah indikator amilum 1%. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. Larutan kalium iodat ini ditambahkan dengan asam sulfat pekat. sebab larutan yang terdiri dari kalium iodat dan klium iodida berada dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah.S4O62.+ 5I.S4O62. Penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah menuap.+ S4O62S2O32.+ I3.25 N. Pada titik akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran sehingga warna biru mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas. Fungsi penambahan asam sulfat pekat dalam larutan tersebut adalah memberikan suasana asam. 1. warna larutan menjadi bening. Tembaga murni dapat digunakan sebagai standar primer untuk natrium thiosulfat dan direkomendasikan jika thiosulfat harus digunakan untuk menetapkan tembaga. sehingga umumnya ditambahkan pada titik akhir titrasi.+ S2O32. maka : I3. Tetapi bila ion iodida ditambahkan ke dalam larutan Cu(II) akan terbentuk endapan Cu(I).3I. 2. Potensial standar pasangan Cu(II) – Cu(I) adalah +0. 2Cu2+ + 4I.

dilakukan penambahan kalium tiosianat KCNS. Untuk lebih memperjelas terjadinya reaksi tersebut.+ 2SCN. Penambahan KCNS menyebabkan larutan kembali berwarna biru. Kemudian larutan tersebut ditambahkan dengan 4 mL larutan amilum 1 % menghasilkan larutan yang semula berwarna kuning muda menjadi biru tua.→ 2CuSCN ↓ + I2 Endapan tembaga(I) tiosianat yang terbentuk mempunyai kelarutan yang lebih rendah daripada tembaga(I) iodida sehingga dapat memaksa reaksi berjalan sempurna. Selain itu.+ I2 S4O62-+ 2Idari hasil pengamatan dan perhitungan.Penentuan kadar Cu2+ dalam larutan dengan bantuan larutan natrium tiosulfat yang dilakukan mengencerkan 5 mL sampel garam hingga 100 mL dan mengambil 10 mL hasil pengenceran tersebut untuk ditambahkan dengan larutan KI 10% dan menitrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat hingga larutan yang semula berwarna coklat tua menjadi larutan yang berwarna kuning muda.2I. ke dalam larutan ditambahkan amilum. I2 + amilum I2-amilum I2-amilum + 2S2O32. Penambahan indikator amilum 1% ini dimaksudkan agar memperjelas perubahan warna yang terjadi pada larutan tersebut. yaitu pada saat warna larutan yang dititrasi dengan Na2S2O3 akan berubah dari biru menjadi bening.+ amilum + S4O6Hal yang perlu diperhatikan setelah penambahan amilum adalah adanya sifat adsorpsi pada permukaan endapan tembaga(I) iodida.2CuI + I2 2S2O32. kemudian larutan tersebut dititrasi kembali dengan larutan natrium tiosulfat hingga warna biru pada larutan tepat hilang. sebelum titik akhir titrasi tercapai. Oleh karena itu. Reaksinya sebagai berikut: CuI ↓ + SCN. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: 2Cu2+ + 2I. Sifat ini menyebabkan terjadinya penyerapan iodium dan apabila iodium ini dihilangkan dengan cara titrasi. Bertemunya I2 dengan amilum ini akan menyebabakan larutan berwarna biru kehitaman. Reaksi yang berlangsung adalah 2Cu2+ + 4 I. tembaga(I) tiosianat mungkin terbentuk pada permukaan tembaga(I) iodida yang telah mengendap. Selanjutnya titrasi dilanjutkan kembali hingga warna biru hilang dan menjadi putih keruh. didapatkan jumlah volume titrasi larutan natrium tiosulfat yang dibutuhkan untuk merubah larutan dari warna coklat tua menjadi kuning .→ CuSCN ↓ + IPenambahan larutan KCNS ini bertujuan sebagai larutan yang mengembalikan reaksi penambahan indikator amilum dalam larutan sehingga larutan menjadi kembali biru. maka titik akhir titrasi akan tercapai terlalu cepat.

karena tereduksinya larutan DFIF oleh vitamin C dalam suasana asam. M. Indikator yang dipakai adalah amilum karena amilum sangat peka terhadap iodium dan terbentuk kompleks amilum berwarna biru cerah. Khopkar.21 %. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Massa tembaga pada larutan diketahui sebesar 0. 1995. Buku Ajar Vogel. danspektrofotometri. sebablarutan DFIF berfungsi sebagai autoindikator yang . Penerbit UI. iodimetri.768 mg Vit. salah satu carapengujian kadar vitamin C secara kuantitatif adalah berdasarkan metode DFIF. Universitas Indonesia Press.Vitamin C akan bersifat lebih stabil pada pH rendah dibandingkan dengan suasana basaatau pH tinggi. KESIMPULAN Berdasarkan tujuan. J etc.C/100 gr vahan. sedangkan pada metodespektrofotometri sebesar 1. Dari hasil perhitungan diperoleh massa tembaga pada larutan sampel sebesar 0. 1990. S. Asas Pemeriksaan Kimia. sehingga sewaktu dititrasi dengan larutan DFIF warnanya menjadi merahmuda. DAFTAR PUSTAKA Basset.4321 gram dan kadar tembaga dalam larutan sebesar 43.4321 gram dan kadar tembaga (%Cu2+) dalam larutan sample tersebut adalah sebesar 43.Dalam titrasinya tidak digunakan indikator untuk mengetahui titik akhir titrasinya. Ada dua cara analisis menggunakan senyawa iodium yaitu titrasi iodimetri atau dengan iodometri dimana iodium terlebih dahulu dioksidasi oleh oksidator misalnya KI. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta.C/100 gr bahan. oleh karena itulah pada metode DFIF ditambahkan HPO3 yang berfungsisebagai penstabil vitamin C. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut : 1.Penentuan kadar vitamin C digunakan larutan HPO3 (metafosfat). 1994. Jakarta. VI. 4. Kadar tembaga dalam garam CuSO4. fungsinya adalah untuk mengekstraksi vitamin C dan dapat membuat suasana larutan menjadi asam sehingga vitaminC bersifat stabil. perhitungan dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya.Penentuan kadar Vitamin C pada sampel Frutang menggunakan metode DFIF diperolehkadar vitamin C 4. Harrizul. Rivai. Jakarta. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan metode titrasi iodimetri adalah sebesar 62. 2. saat ekivalen amilum terlepas kembali. 3.21 %. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.6 mg Vit.muda setelah penambahan amilum maka larutan menjadi bening dan setelah penambahan KCNS maka larutan menjadi jernih kembali.17%. Pembahasan Vitamin C merupakan salah satu vitamin yang mudah larut dalam air.5H2O dapat ditentukan dengan cara iodometri.

iod digunakan sebagai zat pengoksid (iodimetri).Iodometri Terdapat dua cara melakukan analisis dengan menggunakan senyawa pereduksi iodium yaitu secara langsung dan tidak langsung. Indikator yang dipakai adalah amilum. sampel mengalami proses penyaringan sehingga menyebabkan masih tersisanyavitamin pada peralatan.Vitamin C mudah larut dalam air. 1997.sehingga warnanya semakin pudar (tidak berwarna). metode iodimetri ini jarang dilakukan mengingat iodium sendiri merupakan oksidator yang lemah. vitamin yangdianalisa kadarnya berbeda. enzim. sampega kemungkinan hilang dan rusaknya vitamin C dapatdiminimalisasi. dan jika tereduksi tidak berwarna Dasar Teori Dalam proses analitis. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksisempurna dengan ion iodida. hal ini disebabkan proses yang dialami juga berbeda pada metodeDFIF. Karena adanya kelebihan iod sehingga apabiladitambahkan indikator akan berikatan dan menghasilkan warna biru. Day. oksidator.maka absorbannya semakin kecil. sehingga tidak ikut teranalisa pada waktu titrasi. atau pada suhu rendah(Winarno. Akhirtitrasi ditandai dengan terjadinya warna biru dari iod-amilum. L . Cara langsung disebut iodimetri (digunakan larutan iodium untuk mengoksidasi reduktor-reduktor yang dapat dioksidasi secara kuantitatif pada titik ekivalennya). Edisi V. Suatu kelebihan ioniodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan dengan larutan natrium tiosulfat. Ion iodida berlebih ditambahkan pada suatu zat pengoksid sehingga membebaskan iod. kurva yangterbentuk menunjukkan penurunan karena konsentrasi sampel yang digunakan semakin tinggidan DFIF yang ditambahkan sama.Metode yang digunakan dalam penentuan kadar vitamin C salah satunya adalahiodimetri atau titrasi secara langsung. yaitudengan terbentuknya warna merah muda tersebut. 294) . DFIF dalam larutan asam akan berwarnamerah. A. Maka jumlah penentuan iodometrik adalah sedikit. Namun. Ini berarti bahwa semakin tinggi konsentrasi vitamin C. Kurva Linier Asam AskorbatPada percobaan analisa kadar vitamin C dengan metode spektrofotometri. Analisa Kimia Kuantitatif .Penentuan blangko. .Penentuan vitamin C dapat dikerjakan dengan titrasi iodin. Hal. dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Hal.Underwood.Gambar 4. yang kemudian dititrasidengan natrium tiosulfat.Oksidasi akan terhambat bila vitamin C dibiarkan dalam keadaan basa. 133). pada larutan basa akan berwarna biru. Hal ini berdasarkan sifatbahwa vitamin C dapat bereaksi dengan iodin. (R.Berdasarkan metode DFIF dan iodometri juga terdapat adanya perbedaan. dan ion iodidadigunakan sebagai zat pereduksi (iodometri). seperti pada pembakuan DFIF berfungsi untuk mengetahui apakahlarutan HPO3 sebagai pelarut vitamin C yang mengandung zat reduksi atau tidak.dapat mengetahui titik akhir titrasi.1994). vitamin C mudah teroksidasi dan juga proses tersebutdipercepat panas. Sedangkan padametode iodimetri. sinar.Iodometri adalah suatu proses analitis tak langsung yang melibatkan iod. alkali. Jr & A. (Bassett. serta oleh katalis suatu tembaga dan besi. Hal ini disebabkan karena DFIF direduksi oleh vitamin C. Sedangkan cara tidak langsung disebut iodometri (oksidator yang dianalisis kemudian direaksikan dengan ion iodida berlebih dalam keadaan yang sesuai yang selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantitatif dan dititrasi dengan larutan natrium thiosilfat standar atau asam arsenit). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksiyang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium.

Oksidasi tiosulfat oleh udara berlangsung lambat. Kalium Iodat (KIO3) yang ditambahkan pada garam dapur agar tubuh kita memeperoleh iodine b. Sebaliknya ion iodida merupakan suatu pereaksi reduksi yang cukup kuat. Larutan yang terjadi disimpan pada tempat yang tidak terkena cahaya matahari. perubahan warna yang terjadi pada larutan akan semakin jelas dengan penambahan indikator amilum/kanji. (Underwood. Kegunaan iodine dalam alcohol yang di sebut tingtur yodium. Tiosulfat diuraikan dalam larutan asam dengan membentuk belerang sebagai endapan mirip susu. Analisa Kimia Kuantitatif. Perak Iodida (AgI) yang juga di gunakan dalam film fotografi. Belerang ini akan menyebabkan kekeruhan. Biasanya air yang digunakan untuk menyiapkan larutan tiosulfat dididihkan agar steril. 1981) Penggunaan air yang masih mengandung CO2 sebagai pelarut akan menyebabkan peruraian S2O32. dan proses metaboliknya akan mengakibatkan belerang koloidal. Erlangga.larutan I2 dalam air dipakai untuk mengindentifikasi amilum.senyawa iodine yang penting yaitu : a. dengan pembebasan iodium. Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama (Day & Underwood.5H2O . Senyawa. Tetapi runutan tembaga yang kadang-kadang terdapat dalam air suling akan mengkatalis oksidasi oleh udara ini. Menambahkan 3 tetes kloroform (CHCl3) atau 10 mg merkuri klorida (HgCl2) dalam 1 liter larutan 3. Dalam proses analitik iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri).membentuk belerang bebas.merupakan obat antiseptic bagi luka-luka agar tidak terkena infeksi. dan sering ditambahkan boraks atau natrium karbonat sebagai pengawet. 1994) Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium thiosulfat. Pembuatan natrium thiosulfat dapat ditempuh dengan cara : 1. sebab I2 dengan amilum akan memberikan warna biru. Iodoform (CHI3) suatu zat organic yang penting c. Melarutkan garam kristalnya pada aquades yang mendidih 2.maizena dan terigu. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida. tetapi harus distandarisasi dengan standar primer. Dalam industry tapioca. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan. bila timbul kekeruhan larutan harus dibuang. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung. Belerang ini menyebabkan kekeruhan. Metode titrasi iodometri tak langsung (iodometri) adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia Iodium merupakan oksidator lemah. edisi 4. dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Terjadinya peruraian itu juga dipicu bakteri Thiobacillus thioparus. Metode titrasi iodometri langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat. Maka jumlah penentuan iodometrik adalah sedikit.Dengan kontrol pada titik akhir titrasi jika kelebihan 1 tetes titran. Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Bakteri yang memakan belerang akhirnya masuk kelarutan itu. . Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.

→ 2I. Larutan baku ion dapat langsung dibuat dari unsur murninya. dengan larutan standar Na2S2O3. Misal : Natrium dan Hidrogen Peroksida. Tetapi apabila larutan iodine ditambahkan kedalam larutan thiosulfat maka hasil akhirnya berupa perubahan penampakan dari berwarna menjadi berwarna biru. yaitu larutan kanji.natrium Bismutat (NaBiO3). . C) dan sangat larut dalam pelarutan yang mengandung ion iodide. Iodin mengoksidasi tiosulfat menjadi ion tetrationat: I2 + 2S2O32. atau sedikit alkalin. yaitu : 1.17.Reduksimetri Yaitu titrasi redoks dengan menggunakan larutan baku yang bersifat reduktor.+ S4O62Reaksinya berjalan cepat. Ada dua metode titrasi iodometri. Tiosulfat teroksidasi secara parsial menjadi sulfat: 4I2 + S2O32. Secara langsung (iodimetri) Disebut juga sebagai iodimetri. H2O2 + 2HCl → I2 + 2KCl + 2H2O.S2O32. Menurut cara ini suatu zat reduksi dititrasi secara langsung oleh iodium. 5H2O adalah berat molekulnya. Na2S2O3. Cara titrasi oksidasi reduksi yang dikenal ada dua : .+2H+ → H2S2O3 → H2SO3 + S Tetapi reaksi itu lambat dan tak terjadi bila tiosulfat dititrasikan kedalam larutan iod yang asam. oksidasi menjadi sulfat tidak muncul. asal larutan diaduk dengan baik. misal pada penentuan suatu zat oksidator ini (H2O2). 248. sampai selesai. dan tidak ada reaksi sampingan. Misal: Sulfur dioksida dan hydrogen sulfide.+ 10H+ Dalam larutan yang netral. logam dan amalgam. Reaksi antara iod dan tiosulfat jauh lebih cepat dari pada reaksi penguraian. Berat ekivalen dari Na2S2O3.Oksidimetri Yaitu titrasi redoks dengan menggunakan larutan baku yang bersifat oksidator.+ 5H2O → 8I. hasil akhirnya berupa perubahan penampakan dari tak berwarna menjadi berwarna biru. Kalium dan amonium peroksidisulfat. Secara tak langsung (iodometri) Disebut juga sebagai iodometri. Apabila larutan thiosulfat ditambahkan pada larutan iodine. Jadi cara iodometri digunakan untuk menentukan zat pengoksidasi.Dalam hal ini ion iodide sebagai pereduksi diubah menjadi iodium-iodium yang terbentuk dititrasi.00134 mol/liter pada 25 Berdasarkan reaksi : I2 + I. Pada oksidator ini ditambahkan larutan KI dan asam hingga akan terbentuk iodium yang kemudian dititrasi dengan larutan. 2.+ 2SO42. timah (II) klorida .°Iodium sedikit larut dalam air (0. yaitu : 1. Proses-proses iodometrik langsung Pada Iodometri langsung sering menggunakan zat pereduksi yang cukup kuat seperti . terutama jika iodin dipergunakan sebagai titran. misal pada titrasi Na2S2O3 oleh I2.→ I3dengan tetapan kesetimbangan pada 25 ºC. Ada dua proses metode titrasi iodometri. 2Na2S2O3 + I2 → 2NaI + Na2S4O6 Indiator yang digunakan pada reaksi ini.

Stibium (III). sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan bilangan oksidasi. Banyak agen pengoksidasi yang kuat dapat dianalisa dengan menambahkan kalium iodida berlebih dan menitrasi iodin yang dibebaskan. Karena banyak agen pengoksidasi membutuhkan suatu larutan asam untuk bereaksi dengan iodin. atom yang terkandung mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Na2S2O3. Sebaliknya pada reduktor. Oksidator adalah senyawa di mana atom yang terkandung mengalami penurunan bilangan oksidasi. Oksidasireduksi harus selalu berlangsung bersama dan saling menkompensasi satu sama lain. Menurut cara ini suatu zat reduksi dititrasi secara langsung oleh iodium. Underwood. sulfite. Jadi cara iodometri digunakan untuk menentukan zat pengoksidasi.L. (R. Pada oksidator ini ditambahkan larutan KI dan asam hingga akan terbentuk iodium yang kemudian dititrasi dengan larutan. A. H2O2 + 2HCl → I2 + 2KCl + 2H2O. Timah (II). dengan larutan standar Na2S2O3. dan reaksi dengan iodin baru dapat dianalisis secara kuantitatif hanya bila kita melakukan penyesuaian pH yang repot.” Edisi keenam. dengan pembebasan iodium. dalam keadaan pH 3-4. misal pada penentuan suatu zat oksidator ini (H2O2).A Day. Istilah oksidator reduktor mengacu kepada suatu senyawa. Proses-proses Tak Langsung atau Iodometrik Dalam ion iodida sebagai pereduksi diubah menjadi iodium-iodium yang terbentuk dititrasi. Ferasianida. 2003). Kekuatan reduksi yang dimiliki oleh beberapa dari substansi ini tergantung pada konsentrasi ion hidrogen. Tetapi apabila larutan iodine ditambahkan kedalam larutan thiosulfat maka hasil akhirnya berupa perubahan penampakan menjadi berwarna biru. yaitu larutan kanji. kelebihan ini dapat dititrasi dengan Natrium Tiosulfat.tiosulfat. Arsen (III). misal pada titrasi Na2S2O3 oleh I2. Apabila larutan thiosulfat ditambahkan pada larutan iodin. 2Na2S2O3 + I2 → 2NaI + Na2S4O6 Indikator yang digunakan pada reaksi ini. Sulfida. Dalam proses iodometri langsung ini reaksi antara iodium dan thiosulfat dapat berlangsung sempurna.Berarti proses oksidasi disertai hilangnya elektron sedangkan reduksi memperoleh elektron. 2.hal: 298) TINJAUAN PUSTAKA Istilah oksidasi mengacu pada setiap perubahan kimia dimana terjadi kenaikan bilangan oksidasi. Titrasi dengan arsenik (III) (di atas) membutuhkan sebuah larutan yang sedikit alkalin. hasil akhirnya berupa perubahan penampakan dari tak berwarna menjadi berwarna biru. “ Analisa Kimia Kuantitatif. 2002. natrium tiosulfat biasanya dipergunakan sebagai titrannya. Oksidator lebih jarang ditentukan dibandingkan . Kelebihan ion Iodida yang ditambahkan pada pereaksi oksidasi yang ditentukan. Antimon (II). tidak kepada atomnya saja (Khopkar.

Cara titrasi redoks yang menggunakan larutan iodium sebagai pentiter disebut iodimetri. Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung. Namin demikian. tetapi agak larut dalam larutan yang mengandung ion iodida.5H O. yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat. oksidator dapat ditentukan dengan reduktor. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan. dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida. ion besi(II). Larutan iodium standar dapat dibuat dengan menimbang langsung iodium murni dan pengenceran dalam botol volumetrik. Iodium. 1986). yang ditimbang dengan teliti sebelum dan sesudah penembahan iodium. dengan pembebasan iodium. Iodium hanya sedikit larut dalam air (0. dimurnikan dengan sublimasi dan ditambahkan pada suatu larutan KI pekat. 1986). As O yang paling biasa digunakan. Sejumlah zat . Garam ini biasanya tersedia sebagai pentahidrat Na S O . iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). ion titanium(III).reduktor. 1995). Akan tetapi biasanya larutan distandarisasikan terhadap suatu standar primer. Maka jumlah penentuan iodimetrik adalah sedikit. Larutan standar yang dipergunakan dalam kebanyakan proses iodometrik adalah natrium tiosulfat.00134 mol per liter pada 25 C). sedangkan yang menggunakan larutan iodida sebagai pentiter disebut iodometri (Rivai. Reduktor yang lazim dipakai untuk penentuan oksidator adalah kalium iodida. tetapi harus distandarisasi terhadap standar primer. Dalam proses analitik. Reaksi antara iodium dan tiosulfat berlangsung secara sempurna (Underwood. (Underwood. dan ion vanadium(II).

tetapi jarang digunakan karena kesukaran dalam penanganan dan penimbangan. kalium dikromat. reaksi sel setengah ini akan terjadi. Reaksi sel setengah itu lebih baik ditulis sebagai: I + 2e 3I Dan potensial reduksi standarnya adalah 0. Metode titrasi iodometri langsung (kadangkadang dinamakan iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Untuk tepatnya. dan karena itu spesi reaktifnya adalh ion tri-iodida. terbentuklah ion triiodida: I+II Karena iod mudah larut dalam larutan iodida. Iodium murni merupakan standar yang paling nyata. misalnya. Maka. dan serium(IV) sulfat (Bassett. Dalam kebanyakan titrasi langsung dengan iod (iodimetri). menjelang akhir titrasi iodida dengan suatu zat pengoksid seperti kalium permanganat. 1994). digunakan suatu larutan iod dalam kalium iodida. adlaah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia. bila ion iodida terdapat dengan berlebih. atau dalam kebanyakan titrasi iodometri. Persamaan di atas mengacu kepada suatu larutan air yang jenuh dengan adanya iod padat. J.5355 volt. dkk. Metode titrasi iodometri tak langsung (kadang-kadang dinamakan iodometri).. 1986). Dekat permulaan.5345 volt. semua persamaan yang melibatkan reaksi-reaksi iod seharusnya ditulis dengan I dan bukan dengan I . Potensial reduksi normal dari sistem reversibel: I 2e 2I adalah 0. I .padat digunakan sebagai standar primer untuk larutan natrium tiosulfat. suatu proses iodometrik (Underwood. Lebih sering digunakan pereaksi yang kuat yang membebaskan iodium dari iodida. ketika konsentrasi ion iodida menjadi relatif rendah. iod atau ion tri-iodida merupakan zat pengoksid yang jauh lebih lemah ketimbang kalium permanganat. misalnya: I + 2S O = 3I + S O akan lebih akurat daripada: I + 2S O = 2I + S O .

. 1. J. dkk. Namun kekurangan utama dari garam ini sebagai standar primer adalah bahwa bobot ekivalennya yang rendah. 1994). Pembahasan Garam KIO mampu mengoksidasi iodida menjadi iod secara kuantitatif dalam larutan asam. Pembakuan Larutan Na S O . karena warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium. 1. ia tak dapat digunakan dalam medium yang netral atau memiliki keasaman rendah. dalam penetapan kandungan asam dari larutan secara iodometri.1 N dibuat dengan melarutkan beberapa gram massa kristal KIO yang berwarna putih dengan menggunakan aquades dan mengencerkannya. Reaksi ini sangat kuat dan hanya membutuhkan sedikit sekali kelebihan ion hidrogen untuk melengkapi reaksinya. Iodium juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut sebagai karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Oleh karena itu digunakan sebagai larutan standar dalam proses titrasi Iodometri ini. Larutan standar ini sangat stabil dan menghasilkan iod bila diolah dengan asam : IO + 5I + 6H 3 I + 3H O Larutan KIO memiliki dua kegunaan penting. Larutan baku KIO 0. ia harus ditambahkan kepada larutan yang mengandung asam kuat. atau dalam standarisasi larutan asam keras. Yang kedua.1 N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. Akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji. 1986). Selain itu juga karena sifat Iod itu sendiri yang mudah teroksidasi oleh oksigen dalam lingkungan sehingga iodida mudah terlepas. pertama. Warna larutan 0. adalah sebagai sumber dari sejumlah iod yang diketahui dalam titrasi. Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida (Underwood.(Bassett.

karena sifat flouresen atau melapuk-lekang dari garam itu dan karena alasan-alasan lainnya. Dan setelah ditambahkan dengan kalium iodida. Namun pada percobaan ini senyawa yang digunakan dalam proses pembakuan natrium tiosulfat adalah kalium iodat standar.dengan Larutan Baku KIO Percobaan ini menggunakan metode titrasi iodometri yaitu titrasi tidak langsung dimana mula-mula iodium direaksikan dengan iodida berlebih. dengan persamaan reaksi sebagai berikut : 2S O S O + 2e Pembakuan larutan natrium tiosulfat dapat dapat dilakukan dengan menggunakan kalium iodat. kalium kromat. Fungsi penambahan asam sulfat pekat dalam larutan tersebut adalah memberikan suasana asam. Karena itu. zat ini tidak memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai larutan baku standar primer. Reaksinya adalah sebagai berikut : IO + 5I + 6H → 3I + 3H O Indikator yang digunakan dalam proses . Natrium tiosulfat merupakan suatu zat pereduksi. larutan berubah menjadi coklat kehitaman. kemudian iodium yang terjadi dititrasi dengan natrium thiosulfat. Larutan kalium iodat ini ditambahkan dengan asam sulfat pekat. tembaga dan iod sebagai larutan standar primer. Larutan thiosulfat sebelum digunakan sebagai larutan standar dalam proses iodometri ini harus distandarkan terlebih dahulu oleh kalium iodat yang merupakan standar primer. namun selalu ada saja sedikit ketidakpastian dari kandungan air yang tepat. atau dengan kalium permanganat atau serium (IV) sulfat sebagai larutan standar sekundernya. sebab larutan yang terdiri dari kalium iodat dan klium iodida berada dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah. warna larutan menjadi bening. Larutan baku yang digunakan untuk standarisasi thiosulfat sendiri adalah KIO dan terjadi reaksi: Oksidator + KI I I + 2Na S O 2NaI + Na S O Natrium tiosulfat dapat dengan mudah diperoleh dalam keadaan kemurnian yang tinggi.

standarisasi ini adalah indikator amilum 1%. Tembaga murni dapat digunakan sebagai standar primer untuk natrium thiosulfat dan direkomendasikan jika thiosulfat harus digunakan untuk menetapkan tembaga. sehingga umumnya ditambahkan pada titik akhir titrasi. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. Penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Potensial standar pasangan Cu(II) – Cu(I) adalah +0. maka : I + 2S O 3I + S O S O + I S O I + 2I 2S O I + I S O + I SOI+SOSO+I Dari hasil perhitungan diketahui besarnya konsentrasi natrium thiosulfat yang digunakan sebagai larutan baku standar sebesar 6. 1. Tetapi bila ion iodida ditambahkan ke dalam larutan Cu(II) akan terbentuk endapan Cu(I). Kompleks iodium-amilum memiliki kelarutan yang kecil dalam air. Pada titik akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran sehingga warna biru mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas.15 V dan karena itu iod merupakan pengoksidasi yang lebih baik dari pada ion Cu(II). Penggunaan indikator ini untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat titik akhir titrasi. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin. hal ini disebabkan sifat I yang mudah menuap. 2. 2Cu + 4I 2CuI + I Penentuan kadar Cu dalam larutan dengan bantuan larutan natrium tiosulfat yang dilakukan mengencerkan 5 mL sampel garam hingga 100 mL dan mengambil 10 mL hasil pengenceran . Penentuan Kadar Cu dengan Larutan Baku Na S O Pada penentuan kadar Cu dengan larutan baku Na S O akan terjadi beberapa perubahan warna larutan sebelum titik akhir titrasi.25 N. Jika larutan iodium dalam KI pada suasana netral dititrasi dengan natrium thiosulfat.

Kemudian larutan tersebut ditambahkan dengan 4 mL larutan amilum 1 % menghasilkan larutan yang semula berwarna kuning muda menjadi biru tua. Selain itu. Penambahan indikator amilum 1% ini dimaksudkan agar memperjelas perubahan warna yang terjadi pada larutan tersebut. Oleh karena itu. kemudian larutan tersebut dititrasi kembali dengan larutan natrium tiosulfat hingga warna biru pada larutan tepat hilang. maka titik akhir titrasi akan tercapai terlalu cepat. Reaksinya sebagai berikut: CuI ↓ + SCN → CuSCN ↓ + I Penambahan larutan KCNS ini bertujuan sebagai larutan yang mengembalikan reaksi penambahan .tersebut untuk ditambahkan dengan larutan KI 10% dan menitrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat hingga larutan yang semula berwarna coklat tua menjadi larutan yang berwarna kuning muda. Penambahan KCNS menyebabkan larutan kembali berwarna biru. Bertemunya I dengan amilum ini akan menyebabakan larutan berwarna biru kehitaman. I + amilum I -amilum I -amilum + 2S O 2I + amilum + S O Hal yang perlu diperhatikan setelah penambahan amilum adalah adanya sifat adsorpsi pada permukaan endapan tembaga(I) iodida. yaitu pada saat warna larutan yang dititrasi dengan Na S O akan berubah dari biru menjadi bening. Sifat ini menyebabkan terjadinya penyerapan iodium dan apabila iodium ini dihilangkan dengan cara titrasi. sebelum titik akhir titrasi tercapai. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: 2Cu + 2I + 2SCN → 2CuSCN ↓ + I Endapan tembaga(I) tiosianat yang terbentuk mempunyai kelarutan yang lebih rendah daripada tembaga(I) iodida sehingga dapat memaksa reaksi berjalan sempurna. Untuk lebih memperjelas terjadinya reaksi tersebut. ke dalam larutan ditambahkan amilum. dilakukan penambahan kalium tiosianat KCNS. tembaga(I) tiosianat mungkin terbentuk pada permukaan tembaga(I) iodida yang telah mengendap. Selanjutnya titrasi dilanjutkan kembali hingga warna biru hilang dan menjadi putih keruh.

Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. didapatkan jumlah volume titrasi larutan natrium tiosulfat yang dibutuhkan untuk merubah larutan dari warna coklat tua menjadi kuning muda setelah penambahan amilum maka larutan menjadi bening dan setelah penambahan KCNS maka larutan menjadi jernih kembali. Penerbit UI. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2. . Kadar tembaga dalam garam CuSO . Ada dua cara analisis menggunakan senyawa iodium yaitu titrasi iodimetri atau dengan iodometri dimana iodium terlebih dahulu dioksidasi oleh oksidator misalnya KI. DAFTAR PUSTAKA Basset. Harrizul. Reaksi yang berlangsung adalah 2Cu + 4 I 2CuI + I 2S O + I S O + 2I dari hasil pengamatan dan perhitungan. 3. Dari hasil perhitungan diperoleh massa tembaga pada larutan sampel sebesar 0. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut : 1. 1990. M. S.21 %. Indikator yang dipakai adalah amilum karena amilum sangat peka terhadap iodium dan terbentuk kompleks amilum berwarna biru cerah. Asas Pemeriksaan Kimia. Buku Ajar Vogel. Jakarta. perhitungan dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya. 4. Rivai.4321 gram dan kadar tembaga dalam larutan sebesar 43. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta. saat ekivalen amilum terlepas kembali. KESIMPULAN Berdasarkan tujuan. 1995. Khopkar.4321 gram dan kadar tembaga (%Cu ) dalam larutan sample tersebut adalah sebesar 43.5H O dapat ditentukan dengan cara iodometri. Universitas Indonesia Press. Jakarta. VI. 1994. J etc. Massa tembaga pada larutan diketahui sebesar 0.21 %.indikator amilum dalam larutan sehingga larutan menjadi kembali biru.

mudah dikeringkan dan tidak bersifat higroskopis 3. Cara ini mudah dilakukan tetapi hasilnya seringkali kurang tepat. Landasan Teori Mempelajari titrasi amatlah penting bagi mahasiswa yang mengambil jurusan kimia dan bidang-bidang yang berhubungan dengannya.+ S4O62- 1. larutan standar dibuat dengan cara melarutkan sejumlah berat tertentu bahan kimia pada sejumlah tertentu pelarut yang sesuai. Larutan yang distandarisasi Standar primer Reaksi stoikiometri 2 Cu2+ + 4 II2 + 2 S2O32- .1. Stabil secara kimiawi. karena hanya sedikit jenis zat kimia bahan titran yang diketahui dalam keadaan murni.02 % 2. Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu. Larutan yang dipergunakan untuk penentuan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di dalam buret dan larutan ini disebut sebagai larutan standar atau titran atau titrator. Biasanya.+ 6 I. Larutan yang distandarisasi Standar primer Reaksi stoikiometri Cr2O72. Memiliki berat ekivalen besar sehingga meminimalkan kesalahan akibat penimbangan Beberapa bahan kimia standar primer untuk menitrasi larutan standar sekunder pada oksidometri dan persamaan redoksnya adalah sebagai berikut: 1.+ S4O62: Na2S2O3 : Cu2+ : 2 CuI(s) + I2 2 I. dimana penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat. Benar-benar ada dalam keadaan murni dengan kadar pengotor < 0. Bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan membuat larutan standar primer harus memenuhi 3 (tiga) persyaratan berikut: 1. sedangkan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di Erlenmeyer dan larutan ini disebut sebagai analit (Indigomorie. 2009).+ 14 H+ I2 + 2 S2O32: Na2S2O3 : K2Cr2O7 : 2 Cr3+ + 3 I2 + 7 H2O 2 I.

dimana zat ini akan mengoksidasi iodida yang ditambahkan membentuk iodin. 2009). Na2S2O3: Reduksi Oksidasi Redoks : I2(aq) + 2e: 2S2O32-(aq) : I2(aq) + 2S2O32-(aq) 2 I-(aq) S4O62-(aq) + 2e2 I-(aq) + S4O62-(aq) I2 + 2eNaI + Na2S2O6 Titik ekivalen ditunjukkan dengan indikator amilum yang memberi warna biru dengan iod. Persamaan reaksinya adalah: Oksidator + KI I2 + Na2S2O3 (Zultiniar. 2003: 54). 2004: 97-98). 2010). Iodide pada konsentrasi < 10-5 M dapat dengan mudah ditekan oleh amilum. Titrasi redoks melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi antara titran dan analit. dank arena itu spesi reakstifnya adalah ion triiodida. tembaga II. Titrasi redoks banyak dipergunakan untuk penentuan kadar logam atau senyawa yang bersifat sebagai oksidator atau reduktor. Dalam kebanyakan titrasi langsung dengan iod (iodometri). Dengan iodometri dapat ditentukan kadar zat-zat yang dapat bereaksi dengan iod atau zatzat yang bereaksi dengan iodide (KI) membebaskan iod (Purba.(Ibnu dkk. Iodometri adalah titrasi (penetapan kadar) yang berdasarkan reaksi redoks antara iod dan natrium tiosulfat. Kompleks iodium-amilum mempunyai kelarutan yang kecil dalam air sehingga biasanya ditambahkan pada titik akhir titrasi. digunakan suatu larutan iod dalam kalium iodide (KI). atau penentuan kadar alkohol dengan menggunakan kalium dikromat. semua persamaan yang melibatkan reaksi-reaksi iod seharusnya ditulis dengan I3. Biasanya indikator yang digunakan adalah kanji/amilum. 1990: 52). iodimetri. Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang bersifat oksidator seperti besi III. I3-. permanganometri menggunakan titran kalium permanganat untuk penentuan Fe2+ dan oksalat. Aplikasi dalam bidang industri misalnya penentuan kadar alkohol dengan menggunakan iodin. misal: . Iodin yang terbentuk akan ditentukan dengan menggunakan larutan baku tiosulfat. Metode titrasi iodometri tak langsung adalah berkenaan dengan titrasi dan iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia. Kalium dikromat dipakai untuk titran penentuan Besi(II) dan Cu(I) dalam CuCl (Indigomorie. Dengan formamida penyerangan kanji oleh mikroorganisme paling sedikit (Khopkar.dan bukan dengan I2. Contoh titrasi yang terkenal adalah iodometri. Untuk tepatnya. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan.

ketumbar 51. Prinsip pengukuran X-ray Flourescense berdasarkan atas terjadinya proses eksitasi electron pada kulit atom bagian dalam ketika atom suatu unsur tersebut dikenai sinar X. Iodometri hanya dapat menganalisis iodium dalam bentuk iodat saja sedangkan dalam matrik bumbu dapur yang mengandung senyawa-senyawa kimia kemungkinan iodat berada dalam beberapa bentuk senyawa. Nelson Saksono menjelaskan bahwa program iodisasi garam dengan cara fortifikasi iodium ke dalam garam merupakan cara yang paling tepat guna dan ekonomis untuk menanggulangi masalah Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI).+ 2e- Larutan K2Cr2O7 merupakan larutan standar primer yang digunakan dalam percobaan ini karena merupakan suatu zat pengoksidasi yang cukup kuat. Prinsip metode iodometri adalah terjadinya perubahan warna setelah sampel dititrasi.+ S4O62. kita menentukan konsentrasi larutan standar sekunder. Dari hasil pengujian metode iodometri terjadi penurunan kandungan iodat untuk masing-masing bumbu dapur yaitu cabai sebesar 75.+ 2 S2O32- 3 I. 1. Analisis ini sangat sulit dilakukan secara langsung untuk sampel yang berwarna seperti bumbu dapur.I3.43% dan merica 20. Dalam suatu jurnal penelitian. Reaksi kalium dikromat berproses sebagai berikut: K2Cr2O7 2 K+ + Cr2O72- . Tetapi dalam perkembangannya ada beberapa isu yang menyatakan bahwa penggunaan garam beriodium tidak efektif karena kadar iodiumnya akan berkurang bahkan hilang bila dicampur dengan bumbu dapur. 2002 Vol. 1994: 75). sangat stabil dan dapat diperoleh dalam derajat kemurnian yang tinggi dan tidak bersifat higroskopis. maka perlu dilakukan analisis keberadaan iodat dalam bumbu dapur dengan metode iodometri. Selain itu.3).6 No. Pembahasan Standarisasi larutan Na2S2O3. Tetapi untuk lebih mengetahui hasil yang sudah didapat kiranya perlu juga dilakukan pengujian menggunakan metode iodometri selain menggunakan metode lain yaitu metode X-ray Flourescense (XRF). Natrium tiosulfat merupakan suatu zat pereduksi dengan persamaan reaksi sebagai beikut: Na2S2O3 2 S2O322 Na+ + S2O32S4O62. kekosongan elektron akan diisi oleh elektron bagian luar (Saksono.5%. Larutan Na2S2O3 perlu distandarisasi karena konsentrasinya mudah berubah dalam penyimpanan. Natrium tiosulfat memiliki sifat flouresen atau melapuk-lekang yang menyebabkan larutan ini mudah berubah konsentrasinya.99%. Salah satu penerapan iodometri adalah pengujian analisis iodat dalam bumbu dapur. Metode X-ray Flourescense dapat dipergunakan untuk menganalisis unsure iodium dalam sampel yang berwarna seperti halnya iodium dalam bumbu dapur. Untuk mengetahui lebih jauh.(Bassett dkk. adanya bakteri dikhawatirkan akan memakan kandungan belerangnya pada saat penyimpanan yang membuat larutan ini tidak dapat digunakan lagi. Kestabilan larutan mudah dipengaruhi oleh pH rendah dan sinar matahari.

K2Cr2O7 bersifat stabil dan inert terhadap HCl. KI berfungsi sebagai zat pereduksi. reaksi lengkapnya adalah: K2Cr2O7 + 6 KI + 14 HCl 8 KCl + 2 CrCl3 + 3 I2 + 7 H2O Titrasi harus dilakukan dengan cepat untuk meminimalisasi terjadinya oksidasi iodida oleh udara bebas. Iodida tidak dipakai sebagai titran karena faktor kecepatan reaksi dan kurangnya jenis indikator yang dapat dipakai untuk iodida. Senyawa iodida yang digunakan di dalam percobaan ini adalah KI yang ditambahkan secara berlebih pada larutan oksidator sehingga terbentuk I2. iodometri merupakan proses titrasi yang sangat baik untuk titrasi yang melibatkan iodida. Sehingga. Terbentuknya reaksi ini dapat diamati dengan adanya belerang dan larutan menjadi bersifat koloid. maka banyak I2 yang teradsorbsi oleh amilum jika amilum ditambahkan pada awal titrasi. karena penumpukan konsentrasi tiosulfat dapat menyebabkan terjadinya dekomposisi tiosulfat untuk menghasilkan belerang.Cr2O72. Adanya perubahan . Iodida adalah reduktor lemah dan dengan mudah akan teroksidasi jika direaksikan dengan oksidator kuat. Hal ini ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi merah bata. dalam praktikum ini digunakan HCl yang dapat memberikan suasana asam pada larutan yang dapat mengakibatkan reaksi berlangsung lebihcepat. dimana hal ini ditandai dengan warna larutan menjadi kuning muda. biasanya iodometri dilakukan pada media asam kuat sehingga akan menghindari terjadinya hidrolisis amilum.33 V Zat ini mempunyai keterbatasan dibandingkan KMnO4.+ 14 H+ + 6e: Cr2O72. Pengocokan pada saat melakukan titrasi iodometri sangat diwajibkan untuk menghindari penumpukan tiosulfat pada area tertentu. Larutan yang akan dititrasi berada dalam suasana basa. Hal ini disebabkan oleh kompleks amilum I2 terdisosiasi sangat lambat akibatnya. penambahan amilum sebaiknya dilakukan pada saat menjelang akhir titrasi. maka akan membentuk senyawa hipoyodat.+ 14 H+ + 6e- 2 Cr3+ + 7 H2O Eo = 1. yaitu kekuatan oksidasinya lebih lemah dan reaksinya lambat. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut: K2Cr2O7 KI Oksidasi Reduksi Redoks K+ + I: 2 II2 + 2e2 Cr3+ + 7 H2O 2 Cr3+ + I2 + 7 H2O (x3) (x1) 2 K+ + Cr2O72- : Cr2O72. Selain itu. Penggunaan indikator amilum pada percobaan ini disebabkan oleh kemampuan amilum menekan dengan mudah iodida pada konsentrasinya < 10-5 M.+ 14 H+ + 6 I- Sehingga. yakni membebaskan iod dari iodida. Akhir titrasi ditandai dengan hilangnya warna biru pada saat penetesan indikator. Oleh sebab itu.

+ 2e2 IS4O62.warna menandakan bahwa semua iod yang dibebaskan telah bereaksi dengan natrium tiosulfat. reaksi lengkapnya adalah: 2 CuSO4 + 4 KI 2 K2SO4 + Cu2I2 + I2 I2 yang dibebaskan akan bereaksi dengan larutan Na2S2O3 melalui titrasi yang menghasilkan perubahan warna menjadi putih yang menandakan bahwa semua iod yang dibebaskan telah bereaksi dengan natrium tiosulfat. Perubahan warna ini menunjukkan adanya reaksi antara KI dengan larutan CuSO4.menjadi I2.+ 2 I- Sehingga reaksi lengkapnya adalah: 2Na2S2O3 + I2 Na2S4O6 + 2 NaI Penentuan Cu menggunakan larutan CuSO4 sebagai larutan sampel dalam percobaan ini. CuSO4 mengalami reduksi menghasilkan tembaga (I) iodida. KI CuSO4 Oksidasi Reduksi Redoks : 2 I: Cu2+ + 2e: Cu2+ + 2 IK+ + ICu2+ + SO42I2 + 2eCu Cu + I2 Sehingga. Reaksi yang terjasi adalah reaksi redoks. I2 berfungsi sebagai agen pengoksidasi pada saat dititrasi . Persamaan reaksinya adalah: KI Na2S2O3 Oksidasi Reduksi Redoks K+ + I2 Na+ + S2O32: 2 S2O32: I2 + 2e: 2 S2O32. Fungsi dari KI adalah penyedia iod. Penentuan kadar Cu melibatkan KI yang terbentuk sebagai agen pereduksi karena mengalami oksidasi dengan melepas iod.+ I2 S4O62. CuSO4 berfungsi sebagai oksidator karena mengoksidasi I. yang dapat dilihat pada reaksi sebagai berikut. Larutan CuSO4 yang berwarna biru ditambahkan dengan larutan KI yang mengakibatkan larutan berubah warna menjadi coklat. Reaksi ini juga membebaskan I2.

(http://chemtutorial. Kesimpulan dan Saran 2. Diharapkan kepada praktikan selanjutnya agar memanfaatkan waktu seefisien mungkin agar semua praktikum dapat selesai sebelum bata waktu yang ditentukan. Iodometri dan Iodimetri.web. Saksono. Michael. Ibnu. S. 1. Diakses pada tanggal 17 November 2011). Diakses pada tanggal 17 November 2011). 1990. 6 No. Hasil percobaan standarisasi larutan Na2S2O3 0. 3 (2002). (http://kimiaanalisa.196 N dan penentuan Cu dalam CuSO4 diperoleh kadarnya sebesar 3. 2004. . Vol. Kadar Cu yang diperoleh dari percobaan ini adalah 3. 2. Jakarta: Buku Kedokteran.id. Shodiq dkk. 2009. Khopkar. Kesimpulan 3. Purba. 2009. Diharapkan alat dan bahan yang akan digunakan pada saat praktikum disiapkan secara lengkap agar praktikum dapat berjalan lancar dan memberikan hasil yang maksimal. Indigomorie.sedangkan Na2S2O3 berfungsi sebagai agen pereduksi karena mengalami oksidasi dan mereduksi iod menjadi iodida.blogspot.M. 6. Apa Itu Titrasi? (http://kimiaanalisa. Normalitas larutan Na2S2O3 yang diperoleh pada percobaan ini adalah 0. Zultiniar. Konsep Dasar Kimia Analitik.98 mg/ml. Makassar: Universitas Negeri Makassar.196N.1 N diperoleh normalitas tio sebesar 0. Indigomorie.com. 1994.98 mg Cu. Jakarta: Universitas Indonesia.98 mg/ml. dkk. Nelson. artinya bahwa dalam 1 ml larutan sampel CuSO4 terdapat 3. Malang: Universitas Negeri Malang. Jakarta: Erlangga.web. Ilmu Kimia. 2003.id. Titrasi yang dilakukan pada percobaan ini yaitu titrasi secara tidak langsung dimana zat direaksikan dulu dengan zat lai sebelum dititrasi. Titrasi Redoks. 2009. 2011 Penuntun Praktikum Kimia Analitik I. DAFTAR PUSTAKA Bassett. Teknologi. Buku Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. IX. 4. 5. Saran 1. Tim Dosen Kimia Analitik. Kimia Analitik I.karena mengalami reduksi menjadi I. Diakses pada tanggal 17 November 2011).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful