Tugas Praktikum ke-9 Hari, Tanggal : Rabu, 03 Mei 2012 Mata Kuliah : Sosiologi Umum Ruang Kuliah : RCCR 1.

04 SISTEM STATUS DAN PELAPISAN MASYARAKAT SISTEM STATUS YANG BERUBAH Runtuhnya Sistem Status Kolonial dalam Abad Kedua Puluh Oleh : W.F. Wertheim dan SITUASI SOSIAL DUA KOMUNITAS DESA DI SULAWESI SELATAN Oleh : Mochtar Buchori dan Wiladi Budiharga Disusun oleh: Shindy Haquesta E34110078 Kelompok 4 Asisten: Teguh Jati Prasetyo I14090019 Ikhtisar Bacaan I Pada abad XX terjadi perkembangan dinamis yang menerobos pola kaku dan meningkatkan mobilitas sosial. Rasa tidak senang terhadap penduduk asli mengakibatkan sistem status bersendikan kelompok-kelompok suku bangsa, tidak mempunyai pengaruh yang mendalam terhadappola kemasyarakatan sebagaimana di Jawa. Pendidikan mempunyai pengaruh dinamis di luar Jawa. Pengaruh faktor-faktor di Jawa yang sepenuhnya terlindung oleh cara tradisional masyarakat. Akibatnya terasa dalam bentuk mengajar yang paling sederhana di desa. Pendidikan telah menciptakan kelas baru kaum cendekiawan atau setengah yang menduduki posisi khusus dalam masyarakat. Kaum ini mendobrak pelapisan sosial kolonial abad XIX yang berdasarkan perbedaan ras. Di antara orang-orang Indonesia, anak para pemuka adat, orang-orang Kristen Ambon dan Menado adalah yang pertama mendapat kesempatan memperoleh fasilitas pendidikan yang semakin bertambah. Tahun 1990, pendidikan terbuka untuk sejumlah besar orang Indonesia. Perbedaan pendapat masih sejalan dengan pembagian ras, dimana orang Eropa berpendapatan paling tinggi, Cina di tengah-tengah, dan Indonesia paling rendah. Tujuan utama Indonesia bergabung dalam Persatuan Indo Eropa adalah untuk mempertahankan hak istimewa kemasyarakatan yang telah mereka peroleh sendiri. Di tahun 1930, pengangguran menyebabkan banyak orang Indonesia jatuh dalam kondisi kemiskinan materi. Sebelum perang, kedudukan istimewa yang diduduki orang Eropa

1

dan Cina serta kaum bangsawan feodal, telah menjadi kurang stabil,. Terdapat kecenderungan yang kuat ke arah sistem nilai yang baru berdasarkan kemakmuran individu dan kemampuam intelektual seseorang. Ikhtisar Bacaan II Komunitas Maricaya Selatan terdiri dari lima golongan masyarakat yang menempati tiga lapisan pokok, yaitu golongan penjabat dan kelompok professional di lapisan atas, golongan alim ulama dan pedagang di lapisan menengah, dan golongan buruh di lapisan bawah. Dilihat dari segi ekonomi masyakat ini memiliki tiga lapisan masyarakat, yaitu lapisan ekonomi mampu, menengah, dan miskin. Mayoritas maysyarakat Maricaya Selatan beragama islam, masyarakat ini memandang pendidikan sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan mereka. Minat baca masyarakat selatan ini juga tinggi. Dalam masyarakat Polewali terlihat adanya tiga lapisan masyarakat yaitu kalangan atas (ulama, pemangku adat, dan pejabat), menengah (pedagang), dan bawah (buruh). Kedudukan pemangku adat dipegang oleh seorang Bugis, kelompok pejabat dan pegawai dari orang Mandat dan Toraja, kelompok pedagang dari orang Jawa dan Cina, dan kelompok buruh terdapat orang Jawa, Makassar, dan Toraja. Masyarakat Polewali pada dasarnya merupakan masyarakat yang lugas mengisi kehidupan mereka sehari-hari dengan berbagai usaha untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan nyata yang terdapat di lingkungan mereka.

2

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful