1

I. NOMOR PERCOBAAN : 6
II. NAMA PERCOBAAN : Penentuan Kadar Protein Secara Biuret
III. TUJUAN PERCOBAAN : Menentukan jumlah absorban protein secara
biuret dalam spektroskopi
IV. LANDASAN TEORI :
Protein banyak terkandung di dalam makanan yang sering dikonsumsi oleh
manusia. Seperti pada tempe, tahu, ikan dan lain sebagainya. Secara umum, sumber
dari protein adalah dari sumber nabati dan hewani. Protein sangat penting bagi
kehidupan organisme pada umumnya, karena ia berfungsi untuk memperbaiki sel-sel
tubuh yang rusak dan suplai nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Maka, penting bagi kita
untuk mengetahui tentang protein dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
Struktur protein tidak stabil karena mudah mengalami denaturasi yaitu
keadaan dimana protein terurai menjadi struktur primernya, baik reversibel maupun
ireversibel. Faktor-faktor yang menyebabkan denaturasi adalah pH, panas, pelarut,
kekuatan ion, terlarut, dan radiasi. Protein ada yang reaktif karena asam amino
penyusunnya mengandung gugus fungsi yang reaktif, seperti SH, -OH, NH2, dan –
COOH. Kelarutan protein di dalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik
pelarutnya. Protein seperti asam amino bebas memiliki titik isoelektrik yang berbeda-
beda. Titik Isoelektrik (TI) adalah daerah pH tertentu dimana protein tidak
mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan positif dan negatifnya sama, sehingga
tidak bergerak ketika diletakkan dalam medan listrik. Pada pH isoelektrik (pI), suatu
protein sangat mudah diendapkan karena pada saat itu muatan listriknya nol.
Protein dapat juga dibagi menjadi dua golongan utama berdasarkan bentuk
dan sifat-sifat fisik tertentu yaitu protein globular dan protein serabut. Protein
serabut bersifat tidal larut didalam air, merupakan molekul serabut panjang, dengan
rantai polipeptida yang menunjang pada satu sumbu dan tidak berlipat. Sedangkan
protein yang lain adalah Protein Globular, mempunyai rantai-rantai popipeptida
berlipat rapat-rapat menjadi bentuk globular atau bulat padat. Protein ini biasanya
larut dalam airyang segera berdifusi, hampir semua mempunyai fungsi gerak dan
dinamik. Hampir semua enzim merupakan protein globular.
2

Dalam percobaan ini kita menguji protein secara biuret yaitu yang
berdasarkan serapan cahaya oleh senyawa kompleks yang berwarna ungu. Di mana
kompleks ini terbentuk dari Cu
2+
dan gugus –CO dan –NH pada protein. Untuk
penentuan kadar protein dengan uji biuret ini, digunakan spektrofotometer UV.
Adapun penggunaannya yaitu dengan mengukur absorban senyawa pada panjang
gelombang yang rangenya sama dengan panjang gelombang UV, sedangkan range
yang digunakan pada percobaan ini adalah 540 nm..
Untuk menentukan konsentrasi dari senyawa yang akan kita ukur, maka
dalam percobaan spektrofotometer ini dilakukan pengukuran % T nya, sehingga
dapat ditentukan harga absorbansinya, dan akhirnya kita mendapatkan harga dari
konsentrasi sampel yang akan kita uji cobakan. Adapun prinsip kerja dari
spektrofotometer UV ini adalah menggunakan Teori yang dikemukakan oleh
Lambert (1760) dan Beer (1852) lebih dikenal dengan Hukum Lambert - Beer yang
dapat dituliskan hubungan sebagai berikut :
abc A
scahaya tidaktembu opasitas T
T
abc A e i T
A abc
P
Pt
T
abc
P
P
T
P
P
T
t
abc t
=
¬ =
= ÷
= =
|
|
.
|

\
|
=
÷ =
|
|
.
|

\
|
=
= =
÷
÷
) (
1
. . ) log(
log
1
log
log ) log(
10
1
0
0
0

Di mana :
A = absorban
a = koefisien ekstingsi (absorpsivitas molar) yakni tetap
b = lebar kuvet (jarak tempuh optik)
c = konsentrasi analit
T = Transmitansi
3

Penyerapan sinar UV-Vis dibatasi pada sejumlah gugus fungsional atau gugus
kromofor yang mengandung elektron valensi dengan tingkat eksutasi rendah. Tiga
jenis elektron yang terlibat adalah sigma, phi, dan elektron bebas. Kromofor-
kromofor organik seperto karbonil, alkena, azo, nitrat, dan karboksil mampu
menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak. Panjang gelombang maksimumnya
dapat berubah sesuai dengan pelarut yang digunakan. Auksokrom adalah gugus
fungsional yang mempunyai elektron bebas nseperti hidroksil, metoksi, dan amina.
Terkaitnya gugus kromofor akan mengakibatkan pergeseran pita absorpsi menuju ke
panjang gelombang yang lebih besar dan disertai dengan peningkatan intensitas
Ketika cahaya melewati suatu larutan biomolekul, terjadi dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama adalah cahaya ditangkap dan kemungkinan kedua adalah
cahaya discattering. Bila energi dari cahaya (foton) harus sesuai dengan perbedaan
energi dasar dan energi eksitasi dari molekul tersebut. Proses inilah yang menjadi
dasar pengukuran absorbansi dalam spektrofotometer.
Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya
monokromatik dari sumber sinar. Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet
(tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang diserap oleh
larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian menyampaikan ke layar pembaca.
Larutan yang akan diamati melalui spektrofotometer harus memiliki warna tertentu.
Hal ini dilakukan supaya zat di dalam larutan lebih mudah menyerap energi cahaya
yang diberikan. Secara kuantitatif, besarnya energi yang diserap oleh zat akan identik
dengan jumlah zat di dalam larutan tersebut. Secara kualitatif, panjang gelombang
dimana energi dapat diserap akan menunjukkan jenis zatnya (Cahyanto 2008).
Penentuan kandungan air dalam bahan makanan dapat dilakukan dengan berbagai
cara, dimana hal ini tergantung dari sifat bahannya. Dalam percobaan, analisa kadar
air ditentukan dengan metode pengeringan (Thermogravimetri). Prinsipnya adalah
menguapkan air yang ada dalam bahan dengan jalan pemanasan, kemudian
menimbang bahan tersebut sampai berat konstan yang berarti semua air sudah
diuapkan. Cara ini relatif mudah dan murah, akan tetapi memiliki berbagai
kelemahan.
4

V. ALAT DAN BAHAN :
Alat yang digunakan
- Pipet tetes
- Beker gelas
- Gelas ukur
- Tabung reaksi

Bahan yang digunakan
- Larutan Protein
- Reagen Biuret
- Larutan NaOH
- Spektrofotometri UV
- CuSO
4
.5H
2
O
- Aquadest

VI. PROSEDUR PERCOBAAN :
Pipet ke dalam tabung reaksi 1 ml larutan protein yang mengandung 1 – 10
mg/ml. Tambahkan 4 ml reagen biuret. Kocok dan diamkan selama 30 menit pada
suhu kamar. Baca serapannya pada 540 nm. Untuk blanko dipakai campuran 1 ml air
dan 4 ml reagen biuret yang juga didiamkan selama 30 menit pada suhu kamar.
Untuk sampel adalah larutan putih telur dengan perlakuan yang sama. Hukum
Lambert-Beer berlaku untuk larutan-larutan protein antara 1 – 10 mg/ml.






5

VII. HASIL PENGAMATAN :
Data Absorban dengan Spektrofotometri UV dengan λ = 540 nm
Tabung Konsentrasi (mg/ml) Absorban (A)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
0.025
0.069
0.102
0.132
0.136
0.167
0.173
0.209
0.217
0.314
Dengan menggunakan kurva standar tentukan konsentrasi sample jika
Absorbansinya = 0.275

VIII. PERSAMAAN REAKSI
O O
- C – N – CH – C – N – CH - + Cu
2+
OH
O = C C = O
H R H R HN NH
RCH HCR
Cu
2+

O = C

C = O
HN NH
RCH HCR
Kompleks Ungu



6

IX. ANALISA DATA :
Membuat Kurva Standar Konsentrasi Protein Vs Absorban
Dengan : X = Konsentrasi protein (c)
Y = Absorbansi (A)
A =
T
1
log
X Y XY X
2

1 0,025 0,025 1
2 0,069 0,138 4
3 0,102 0,306 9
4 0,132 0,528 16
5 0,136 0,68 25
6 0,167 1,002 36
7 0,173 1,211 49
8 0,209 1,672 64
9 0,217 1.953 81
10 0,314 3,14 100
E = 55 1,544 10,652 385

Slope (A)
∑ ∑ ∑

(∑)

() ()
() ()

7

Intersept (B)
∑ ∑

∑ ∑

(∑)

() ()
() ()

Persamaan Regresi Linier :Y = 0,026X + 0,0104
Kurva standar : Y = 0,026X+ 0,0104
X 0 2 4 6 8 10 12
Y 0.0104 0.0624 0.1144 0.1664 0.2184 0.2704 0,3224
Dengan menggunakan kurva standar konsentrasi vs absorban maka konsentrasi
sample X yang memiliki Absorbansi= 0.275 dapat ditentukan dengan rumus
berikut :

Maka konsentrasi sampel X = 8,75 dengan absorbansi = 0.275






8

X. PEMBAHASAN :
Pada percobaan kali ini digunakan protein dengan konsentrasi yang berbeda
sebagai sampel untuk penentuan kadarnya. Sampel yang digunakan sebanyak 10
macam dengan bentuk fisik yang berbeda. Digunakan cara pengukuran serapan
radiasi sinar oleh molekul pada larutan protein dengan kriteria warna atau dengan
kata lain digunakan cara spektroskopi. Digunakan alat spectrometer untuk
menghitung secara spesifik absorbansi dari senyawa yang mengandung logam ini.
Pada awal pereaksian, didapatkan campuran berwarna ungu yang didapat dari
pereaksian unsur tembaga, yang terdapat dalam larutan protein dengan tembaga dan
dalam lingkungan alkali atau pada percobaan ini digunakan NaOH. Larutan NaOH
ini merupakan basa kuat yang mampu mengikat ion H
+
pada larutan protein tersebut.
Ion H
+
yang lebih reaktif mampu diikat dan bereaksi dengan gugus amino.
Masing-masing konsentrasi didapat larutan yang berwarna ungu dimana,
semakin besar konsentrasi larutan protein tersebut, maka warna ungu dari larutannya
akan semakin pekat, begitu juga sebaliknya. Warna ungu ini terbentuk karena adanya
pembentukkan senyawa kompleks dengan Cu
2+
yang dimana akan berikatan dengan
4 gugus asam amino saat penambahan biuret. Semakin tinggi konsentrasi larutan dan
semakin pekat warna ungu pada larutan, maka akan semakin banyak ikatan peptide
yang menyebabkan pembentukan komples semakin banyak.
Saat dilakukan pendiaman larutan selama 30 menit, dimaksudkan agar
endapan dan filtrat campuran dapat terpisah dan tidak mengganggu proses
pengidentifikasian menggunakan spectrometer. Pada proses ini telah terjadi absorbsi
radiasi sinar oleh larutan yang menyebabkan transisi . Kompleks ini mengabsorbsi
pada panjang gelombang yang lebih panjang karena transfer elektron memerlukan
energy radiasi yang kecil.
Dari penggunaan alat spectrometer ini didapat hasil absorban yang berbeda
dari pengukuran yang dilakukan. Sesuai dengan hukum Lambert-Beer yang
menyatakan bahwa hubungan antara konsentrasi dengan adsorbansi yang berbanding
lurus, yaitu semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula absorbansinya. Jadi
semakin tinggi konsentrasi larutan, akan semakin besar nilai absorbansinya. Dan juga
9

dapat dikatakan, semakin tinggi konsentrasi larutan akan semakin banyak mokul
yang mengabsorbansi radiasi sinar UV sehingga sinar yang diteruskan akan semakin
sedikit.
Untuk mengidentifikasi sampel yang telah diberikan sebelumnya
menggunakan grafik, tidak menghasilkan hasil yang sama dengan hasil sampel yang
telah diidentifikasi menggunakan perhitungan. Pada perhitungan, sampel absorban
sebesar 0,275 seharusnya menghasilkan konsentrasi sekitar 8 atau lebih tepatnya
8,75. Namun ketika ditarik garis pada grafik regresi linear yang telah dibuat, titik
konsentrasi yang diinginkan melebihi angka 10. Terdapat kesalahan dalam percobaan
ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor. Salah satunya ketidak telitian praktikan
dalam melakukan penimbangan menggunakan spectrometer. blangko yang
seharusnya diisi filtrate saja, telah bercampur dengan endapan. Sehingga
mempengaruhi hasil identifikasi absorban dan juga mempengaruhi terhadap hasil
akhir dari perhitungan

XI. KESIMPULAN :
1. Digunakan alat spectrometer untuk menghitung secara spesifik absorbansi
dari senyawa yang mengandung logam
2. didapatkan campuran berwarna ungu dari pereaksian unsur tembaga, dalam
larutan protein dengan tembaga dan dalam lingkungan alkali
3. Semakin tinggi konsentrasi larutan dan semakin pekat warna ungu pada
larutan, maka akan semakin banyak ikatan peptide yang menyebabkan
pembentukan komples semakin banyak.
4. semakin tinggi konsentrasi larutan akan semakin banyak mokul yang
mengabsorbansi radiasi sinar UV sehingga sinar yang diteruskan akan
semakin sedikit.
5. Kompleks ini mengabsorbsi pada panjang gelombang yang lebih panjang
karena transfer elektron memerlukan energy radiasi yang kecil.



10

XII. DAFTAR PUSTAKA :
Anonim. 2010. Protein. http://ilmukimia.webs.com/apps/blog/show/3316253
(diakses tanggal 14 April 2012)
Bumbungan, Nober. 2011. Protein.
http://noberanagbio.blogspot.com/2011/11/protein.html (diakses tanggal 8
April 2012)
Fessenden, JR & Fessenden, JS. 1986. Kimia Organik Jilid 2 Edisi Ketiga.
Jakarta: Erlangga.
Lehninger, Albert L. 1982. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI-Press.
Panji. 2010. Spektrofotometer. http://panjicm.wordpress.com/Spektrofotometer/
(diakses tanggal 14 April 2012)
Underwood /R.A. Day, Jr. 1980. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi Keempat.
Jakarta; Erlangga.










11

XIII. GAMBAR ALAT :














12

XIV. JAWABAN PERTANYAAN :
1. Buatlah standar kurva dan tetapkan kadar protein yang diberikan?
Jawab :

2. Berikanlah penjelasan tentang Hukum Beer-Lambert!
Jawab :
Hukum ini menghubungkan ketebalan dari sel sampel (kuvet) pada
perbandingan kekuatan radiasi berkas cahaya yang masuk dan berkas cahaya
yang keluar, dan menyatakan. Juga berlaku untuk unsur yang menyerap
cahaya dengan menghubungkan konsentrasi dari jenis absorbing pada
perbandingan kekuatan radiant berkas cahaya yang masuk dan yang keluar.
Kerja spektrofotometri berdasarkan hukum Lambert Beer,bila cahaya
monokromatik (Io) melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya
tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan
(It). Hukum Beer-Lambert menyatakan hubungan antara konsentarsi dan
adsorban yang berbanding lurus, dimana semakin besar konsentrasi maka
semakin besar adsorbannya. Hal ini ditunjukkan dengan bentuk kurva yang
linear antara konsentrasi dengan adsorbannya.

0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0.3
0.35
0 2 4 6 8 10 12
Kurva standar konsentrasi vs absorban
Y
13

3. Senyawa apa yang dapat mengganggu cara Biuret seperti diatas?
Jawab :
Garam ammonia. Senyawa ini dapat membentuk endapan hitam atau merah
pada reagen.

4. Mengapa reaksi tersebut disebut reaksi Biuret?
Jawab :
Karena dalam reaksi protein ini menggunakan reagen Biuret. Yaitu Larutan
tembaga sulfat CuSO
4
.5H
2
O dan Natrium Kalium Tartrat (NaK C
4
O
6
.4H
2
O.
dalam keadaan basa (dengan ditambahNaOH).

5. Senyawa kompleks apa yang sebenarnya terjadi?
Jawab :
Senyawa kompleks Cu
2+


6. Apakah peptida juga memberikan reaksi Biuret. Jika memberikan, berikanlah
penjelasan dan bagaimana cara menentukan kadar protein yang tercampur
dengan peptida?
Jawab :
Ya, dengan menambahkan reagen Biuret pada larutan protein dan pengukuran
adsorbansi larutan tersebut dan dibandingkan dengan sampel, dicari yang
sama adsorbansinya maka akan diketahui berapa kadar proteinnya.

A  abc 1  T 1  opasitas(tidaktembuscahaya) T A  abc Di mana : A = absorban a = koefisien ekstingsi (absorpsivitas molar) yakni tetap b = lebar kuvet (jarak tempuh optik) c = konsentrasi analit T = Transmitansi 2 . Untuk menentukan konsentrasi dari senyawa yang akan kita ukur.. dan akhirnya kita mendapatkan harga dari konsentrasi sampel yang akan kita uji cobakan. Adapun penggunaannya yaitu dengan mengukur absorban senyawa pada panjang gelombang yang rangenya sama dengan panjang gelombang UV. Untuk penentuan kadar protein dengan uji biuret ini. sehingga dapat ditentukan harga absorbansinya.Beer yang dapat dituliskan hubungan sebagai berikut : T Pt  10  abc P0    abc   P log(T )  log  t P  0 log  Pt  1  log    abc  A P  T  0  log(T )i. Adapun prinsip kerja dari spektrofotometer UV ini adalah menggunakan Teori yang dikemukakan oleh Lambert (1760) dan Beer (1852) lebih dikenal dengan Hukum Lambert . Di mana kompleks ini terbentuk dari Cu2+ dan gugus –CO dan –NH pada protein. sedangkan range yang digunakan pada percobaan ini adalah 540 nm.e. digunakan spektrofotometer UV.Dalam percobaan ini kita menguji protein secara biuret yaitu yang berdasarkan serapan cahaya oleh senyawa kompleks yang berwarna ungu. maka dalam percobaan spektrofotometer ini dilakukan pengukuran % T nya.

nitrat. Prinsipnya adalah menguapkan air yang ada dalam bahan dengan jalan pemanasan. phi. Dalam percobaan. dan amina. dan elektron bebas. Terkaitnya gugus kromofor akan mengakibatkan pergeseran pita absorpsi menuju ke panjang gelombang yang lebih besar dan disertai dengan peningkatan intensitas Ketika cahaya melewati suatu larutan biomolekul. panjang gelombang dimana energi dapat diserap akan menunjukkan jenis zatnya (Cahyanto 2008). terjadi dua kemungkinan. dimana hal ini tergantung dari sifat bahannya. akan tetapi memiliki berbagai kelemahan. azo. besarnya energi yang diserap oleh zat akan identik dengan jumlah zat di dalam larutan tersebut. Hal ini dilakukan supaya zat di dalam larutan lebih mudah menyerap energi cahaya yang diberikan. alkena. Panjang gelombang maksimumnya dapat berubah sesuai dengan pelarut yang digunakan. Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang diserap oleh larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian menyampaikan ke layar pembaca. metoksi. dan karboksil mampu menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak. Penentuan kandungan air dalam bahan makanan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Auksokrom adalah gugus fungsional yang mempunyai elektron bebas nseperti hidroksil. analisa kadar air ditentukan dengan metode pengeringan (Thermogravimetri). Cara ini relatif mudah dan murah. kemudian menimbang bahan tersebut sampai berat konstan yang berarti semua air sudah diuapkan. Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya monokromatik dari sumber sinar. Tiga jenis elektron yang terlibat adalah sigma. 3 .Penyerapan sinar UV-Vis dibatasi pada sejumlah gugus fungsional atau gugus kromofor yang mengandung elektron valensi dengan tingkat eksutasi rendah. Kromoforkromofor organik seperto karbonil. Secara kuantitatif. Bila energi dari cahaya (foton) harus sesuai dengan perbedaan energi dasar dan energi eksitasi dari molekul tersebut. Kemungkinan pertama adalah cahaya ditangkap dan kemungkinan kedua adalah cahaya discattering. Secara kualitatif. Larutan yang akan diamati melalui spektrofotometer harus memiliki warna tertentu. Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet (tempat sampel/sel). Proses inilah yang menjadi dasar pengukuran absorbansi dalam spektrofotometer.

Hukum Lambert-Beer berlaku untuk larutan-larutan protein antara 1 – 10 mg/ml. PROSEDUR PERCOBAAN : Pipet ke dalam tabung reaksi 1 ml larutan protein yang mengandung 1 – 10 mg/ml. Untuk blanko dipakai campuran 1 ml air dan 4 ml reagen biuret yang juga didiamkan selama 30 menit pada suhu kamar. Baca serapannya pada 540 nm. Kocok dan diamkan selama 30 menit pada suhu kamar. 4 . Untuk sampel adalah larutan putih telur dengan perlakuan yang sama.V. Tambahkan 4 ml reagen biuret.     ALAT DAN BAHAN : Alat yang digunakan Pipet tetes Beker gelas Gelas ukur Tabung reaksi Bahan yang digunakan    Larutan Protein Reagen Biuret Larutan NaOH  Spektrofotometri UV  CuSO4.5H2O  Aquadest VI.

209 0. HASIL PENGAMATAN : Data Absorban dengan Spektrofotometri UV dengan λ = 540 nm Tabung 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Konsentrasi (mg/ml) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Absorban (A) 0. PERSAMAAN REAKSI O O + Cu2+ OH .VII.132 0.167 0.173 0.069 0.136 0.217 0.314 Dengan menggunakan kurva standar tentukan konsentrasi sample jika Absorbansinya = 0.C – N – CH – C – N – CH H R H R O=C HN RCH Cu2+ O=C HN RCH C=O NH HCR C=O NH HCR Kompleks Ungu 5 .102 0.025 0.275 VIII.

211 1.209 0.136 0.IX.68 1.652 X2 1 4 9 16 25 36 49 64 81 100 385 Slope (A) ∑ ∑ ∑ ∑ (∑ ) ( ( ) ) ( ( ) ) 6 .025 0.002 1.14 10.102 0.306 0.167 0.544 XY 0.314 1.672 1.953 3.173 0.025 0. ANALISA DATA : Membuat Kurva Standar Konsentrasi Protein Vs Absorban Dengan : X = Konsentrasi protein (c) Y = Absorbansi (A) A = log 1 T X 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10  = 55 Y 0.069 0.138 0.132 0.217 0.528 0.

2184 0.0624 0.Intersept (B) ∑ ∑ ∑ ∑ (∑ ) ∑ ( ( ) ) ( ) ( ) Persamaan Regresi Linier :Y = 0.026X+ 0.275 7 .275 dapat ditentukan dengan rumus berikut : Maka konsentrasi sampel X = 8.0104 X 0 2 4 6 8 10 12 Y 0.0104 0.026X + 0.3224 Dengan menggunakan kurva standar konsentrasi vs absorban maka konsentrasi sample X yang memiliki Absorbansi= 0.2704 0.1664 0.0104 Kurva standar : Y = 0.1144 0.75 dengan absorbansi = 0.

begitu juga sebaliknya. Dari penggunaan alat spectrometer ini didapat hasil absorban yang berbeda dari pengukuran yang dilakukan. Digunakan cara pengukuran serapan radiasi sinar oleh molekul pada larutan protein dengan kriteria warna atau dengan kata lain digunakan cara spektroskopi. Dan juga 8 . Sampel yang digunakan sebanyak 10 macam dengan bentuk fisik yang berbeda. Larutan NaOH ini merupakan basa kuat yang mampu mengikat ion H+pada larutan protein tersebut. didapatkan campuran berwarna ungu yang didapat dari pereaksian unsur tembaga. maka akan semakin banyak ikatan peptide yang menyebabkan pembentukan komples semakin banyak. Semakin tinggi konsentrasi larutan dan semakin pekat warna ungu pada larutan. Warna ungu ini terbentuk karena adanya pembentukkan senyawa kompleks dengan Cu2+ yang dimana akan berikatan dengan 4 gugus asam amino saat penambahan biuret. Pada awal pereaksian. Masing-masing konsentrasi didapat larutan yang berwarna ungu dimana. Saat dilakukan pendiaman larutan selama 30 menit.X. Sesuai dengan hukum Lambert-Beer yang menyatakan bahwa hubungan antara konsentrasi dengan adsorbansi yang berbanding lurus. yang terdapat dalam larutan protein dengan tembaga dan dalam lingkungan alkali atau pada percobaan ini digunakan NaOH. Kompleks ini mengabsorbsi pada panjang gelombang yang lebih panjang karena transfer elektron memerlukan energy radiasi yang kecil. semakin besar konsentrasi larutan protein tersebut. yaitu semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula absorbansinya. Digunakan alat spectrometer untuk menghitung secara spesifik absorbansi dari senyawa yang mengandung logam ini. Ion H+ yang lebih reaktif mampu diikat dan bereaksi dengan gugus amino. dimaksudkan agar endapan dan filtrat campuran dapat terpisah dan tidak mengganggu proses pengidentifikasian menggunakan spectrometer. PEMBAHASAN : Pada percobaan kali ini digunakan protein dengan konsentrasi yang berbeda sebagai sampel untuk penentuan kadarnya. Jadi semakin tinggi konsentrasi larutan. Pada proses ini telah terjadi absorbsi radiasi sinar oleh larutan yang menyebabkan transisi . akan semakin besar nilai absorbansinya. maka warna ungu dari larutannya akan semakin pekat.

dalam larutan protein dengan tembaga dan dalam lingkungan alkali 3. Sehingga mempengaruhi hasil identifikasi absorban dan juga mempengaruhi terhadap hasil akhir dari perhitungan XI.75.275 seharusnya menghasilkan konsentrasi sekitar 8 atau lebih tepatnya 8. Terdapat kesalahan dalam percobaan ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor. Salah satunya ketidak telitian praktikan dalam melakukan penimbangan menggunakan spectrometer. KESIMPULAN : 1. didapatkan campuran berwarna ungu dari pereaksian unsur tembaga. Pada perhitungan. sampel absorban sebesar 0. 9 . blangko yang seharusnya diisi filtrate saja.dapat dikatakan. telah bercampur dengan endapan. 5. Semakin tinggi konsentrasi larutan dan semakin pekat warna ungu pada larutan. maka akan semakin banyak ikatan peptide yang menyebabkan pembentukan komples semakin banyak. semakin tinggi konsentrasi larutan akan semakin banyak mokul yang mengabsorbansi radiasi sinar UV sehingga sinar yang diteruskan akan semakin sedikit. Digunakan alat spectrometer untuk menghitung secara spesifik absorbansi dari senyawa yang mengandung logam 2. Untuk mengidentifikasi sampel yang telah diberikan sebelumnya menggunakan grafik. semakin tinggi konsentrasi larutan akan semakin banyak mokul yang mengabsorbansi radiasi sinar UV sehingga sinar yang diteruskan akan semakin sedikit. tidak menghasilkan hasil yang sama dengan hasil sampel yang telah diidentifikasi menggunakan perhitungan. 4. Namun ketika ditarik garis pada grafik regresi linear yang telah dibuat. titik konsentrasi yang diinginkan melebihi angka 10. Kompleks ini mengabsorbsi pada panjang gelombang yang lebih panjang karena transfer elektron memerlukan energy radiasi yang kecil.

Jakarta. A. Jakarta: UI-Press. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. Spektrofotometer. Poedjiadi.html (diakses tanggal 8 April 2012) Fessenden.blogspot.com/apps/blog/show/3316253 (diakses tanggal 14 April 2012) Bumbungan. 10 . 1980. 2010. http://noberanagbio.wordpress.com/Spektrofotometer/ (diakses tanggal 14 April 2012) Underwood /R. Nober.A. Jr. 1986. Jakarta: Erlangga. Panji. 2010. 1982. Protein.webs. JS. Albert L.XII. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi Keempat. JR & Fessenden. Protein. http://ilmukimia. Jakarta: Erlangga. Lehninger.com/2011/11/protein. DAFTAR PUSTAKA : Anonim. 2011. Erlangga. Day. Dasar-dasar Biokimia. http://panjicm. Kimia Organik Jilid 2 Edisi Ketiga. 1994.

XIII. GAMBAR ALAT : 11 .

dimana semakin besar konsentrasi maka semakin besar adsorbannya.XIV. maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia).25 0.15 0.2 0. Berikanlah penjelasan tentang Hukum Beer-Lambert! Jawab : Hukum ini menghubungkan ketebalan dari sel sampel (kuvet) pada perbandingan kekuatan radiasi berkas cahaya yang masuk dan berkas cahaya yang keluar.1 0. dan menyatakan. 12 . sebagian dipantulkan (Ir). Hukum Beer-Lambert menyatakan hubungan antara konsentarsi dan adsorban yang berbanding lurus. Hal ini ditunjukkan dengan bentuk kurva yang linear antara konsentrasi dengan adsorbannya.05 0 0 2 4 6 8 10 12 Y 2.3 0. JAWABAN PERTANYAAN : 1. Juga berlaku untuk unsur yang menyerap cahaya dengan menghubungkan konsentrasi dari jenis absorbing pada perbandingan kekuatan radiant berkas cahaya yang masuk dan yang keluar.bila cahaya monokromatik (Io) melalui suatu media (larutan). Kerja spektrofotometri berdasarkan hukum Lambert Beer. dan sebagian lagi dipancarkan (It). Buatlah standar kurva dan tetapkan kadar protein yang diberikan? Jawab : Kurva standar konsentrasi vs absorban 0.35 0.

Senyawa ini dapat membentuk endapan hitam atau merah pada reagen. 4.5H2O dan Natrium Kalium Tartrat (NaK C4O6.3. 13 . Yaitu Larutan tembaga sulfat CuSO4. Senyawa kompleks apa yang sebenarnya terjadi? Jawab : Senyawa kompleks Cu2+ 6. berikanlah penjelasan dan bagaimana cara menentukan kadar protein yang tercampur dengan peptida? Jawab : Ya. dengan menambahkan reagen Biuret pada larutan protein dan pengukuran adsorbansi larutan tersebut dan dibandingkan dengan sampel. dalam keadaan basa (dengan ditambahNaOH). Mengapa reaksi tersebut disebut reaksi Biuret? Jawab : Karena dalam reaksi protein ini menggunakan reagen Biuret. Apakah peptida juga memberikan reaksi Biuret. Senyawa apa yang dapat mengganggu cara Biuret seperti diatas? Jawab : Garam ammonia. dicari yang sama adsorbansinya maka akan diketahui berapa kadar proteinnya. Jika memberikan.4H2O. 5.