You are on page 1of 9

Pajak merupakan sumber pendapatan negara yang memiliki kontribusi yang signifikan sehingga sumber pendapatan pajak menjadi

andalan bagi pembangunan nasional. Pajak dapat menjadi salah satu instrumen bagi pemerintah untuk mengukur seberapa besar kesadaran masyarakat untuk membayar pajak atau mendanai peyelenggaraan negara dan mengukur tentang nilai pendapatan dan kesejahteraan riil masyarakat. Semakin tinggi kesadaran masyarakat dan semakin

meningkat jumlah wajib pajak menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan negara semakin tinggi dan sikap nasionalisme atau merasa memiliki negara juga semakin tinggi. Sebagai suatu instrumen keberhasilan pembangunan dan

kesejahteraan, pajak yang dimenejemen secara profesional dapat berfungsi untuk menunjang dan mempercepat tercapainya suatu

masyarakat yang adil dan makmur. Oleh sebab itu, dalam pemungutan pajak benar-benar memperhatikan beberapa hal, yaitu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang jelas dan pasti, prinsip keadilan dan proporsional berdasarkan kemampuan, dan prinsip pembangunan atau kegiatan ekonomi yang berkelanjutan (pajak tidak boleh mematikan dunia usaha). Dana yang bersumber dari pajak adalah dana amanah rakyat yang harus dikelola secara efektif dan efisien dan dikembalikan lagi kepada rakyat dalam bentuk program pembangunan nasional yang akhirnya manfaatnya bisa langsung segera dirasakan dan dinikmati oleh rakyat. Akhir-akhir ini masalah mengenai manajemen pengelolaan dana pajak (pajak) menjadi problem nasional sehubungan dengan adanya berita tindak pidana terhadap dana wajib pajak yang menjadi topik utama di media masa yang melibatkan oknum petugas pajak, telah memberikan dampak negatif secara luas terhadap masyarakat, terutama para wajib pajak.

Karya Tulis Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Padjajaran

1

Seperti apa yang dinyatakan dalam Jurnal Legislasi Indonesia Vol. Tindak Pidana Korupsi yang Terkait Tindak Pidana Perpajakan Terkait dengan penerapan tindak pidana korupsi dalam tindak pidana di bidang perpajakan. Kontribusi pemasukan dana yang bersumber dari wajib pajak merupakan masukan pendapatan yang berarti dan memiliki makna yang luas bagi pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia.April 2011 bahwa tindak pidana di bidang perpajakan adalah termasuk tindak pidana di bidang hukum administrasi (administrative criminal law atau dependent crimes) yang dikenal sederhana dalam penegakan hukumnya. Beberapa problem hukum di bidang perpajakan antara lain seperti. bahkan problem hukum mengenai tindak pidana (korupsi) di bidang perpajakan. tindak pidana umum atau tindak pidana khusus yang berkaitan dengan terjadinya tindak pidana perpajakan adalah berdiri sendiri dengan segala konsekuensi penegakan hukumnya. 8 No. yaitu masing-masing berdiri sendiri dan tidak saling berkaitan. Penggunaan hukum pidana umum atau hukum pidana khusus terhadap tindak pidana di bidang perpajakan adalah tidak tepat dan dapat menimbulkan problem hukum dan keadilan. 1 . waib pajak yang enggan membayar pajak yang seharusnya menjadi pendapatan negara. dapat dilakukan dua model. sebagaimana dimuat dalam Pasal 43A ayat (3) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 memuat ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 31 Karya Tulis Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Padjajaran 2 . Oleh sebab itu.Problem hukum yang perlu menjadi perhatian di masa datang adalah pengaturan dan penegakan hukum mengenai penyelesaian sengketa pajak yang berpotensi merugikan terhadap pendapatan negara dan tindak pidana di bidang perpajakan serta penyalahgunaan dana yang bersumber dari pendapatan negara yang berasal dari pajak.

Berdasarkan ketentuan Pasal 14 tersebut secara acontrario. Maka sesuai dengan asas penerapan hukum pidana terhadap undang-undang yang mengatur tindak pidana dengan objek yang sama. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam Pasal dikutip selengkapnya: Pasal 14 Setiap orang yang melanggar ketentuan Undang-undang yang secara tegas menyatakan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan Undangundang tersebut sebagai tindak pidana korupsi berlaku ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. Sementara tindak pidana korupsi sebagaimana yang dimuat dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 juga merumuskan timbulnya akibat yaitu “dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara”. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. diberlakukan hukum yang secara khusus mengatur materi tindak pidana tersebut. Karya Tulis Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Padjajaran 3 . tindak pidana yang diatur dalam undang-undang lain tidak dapat menjadi tindak pidana korupsi apabila ketentuan dalam yang undang-undang menyatakan tersebut tidak bahwa “pelanggaran mencantumkan terhadap ketentuan Undang-undang tersebut sebagai tindak pidana korupsi”. Dalam Undang-Undang Tindak Pidana di bidang Perpajakan secara tegas menyatakan bahwa tindak pidana di bidang perpajakan adalah “dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara” yang maknanya adalah tercakup dalam pengertian “dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara”. Dengan menggunakan argument hukum sebagaimana dimuat dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo.Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

laporan. Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan pemeriksaan bukti permulaan Karya Tulis Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Padjajaran 4 . dan pengaduan berwenang melakukan pemeriksaan bukti permulaan sebelum dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. data.Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dimuat ketentuan yang isinya sama dengan materi yang dimaksud dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yaitu dimuat dalam Pasal 43A. data. (3) Apabila dari bukti permulaan ditemukan unsur tindak pidana korupsi. Ketentuan tersebut memuat prosedur pemeriksaan tindak pidana perpajakan yang pelakunya adalah petugas pada Direktorat Jenderal Pajak terdapat indikasi tindak pidana korupsi dilakukan sebagai berikut: 1. Menteri Keuangan dapat menugasi unit pemeriksa internal di lingkungan Departemen Keuangan untuk melakukan pemeriksaan bukti permulaan. dan pengaduan. (4) Tata cara pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang tersangkut wajib diproses menurut ketentuan hukum Tindak Pidana Korupsi. (2) Dalam hal terdapat indikasi tindak pidana di bidang perpajakan yang menyangkut petugas Direktorat Jenderal Pajak. laporan. dikutip selengkapnya: Pasal 43A (1) Direktur Jenderal Pajak berdasarkan informasi. Berdasarkan informasi.

Tindak Pidana Korupsi yang terjadi bukan bersumber dari pajak penghasilan yang disetorkan masyarakat. 2. Menteri Keuangan dapat menugasi unit pemeriksa internal di lingkungan Kementerian Keuangan untuk melakukan pemeriksaan bukti permulaan. Tata cara pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Jadi tindak pidana korupsi yang disebutkan dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan termasuk sebagai tindak pidana korupsi (Pasal 14). Pembayaran pajak dilakukan melalui Bank atau kantor pos tersebut secara langsung masuk ke rekening Kas Negara yang tidak dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak. Tindak Pidana Korupsi oleh Petugas Direktorat Jenderal Pajak Tindak Pidana Korupsi yang dilakukan oleh Petugas (oknum) Direktorat Jenderal Pajak telah banyak terjadi. 3. Karya Tulis Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Padjajaran 5 .sebelum dilakukan penyidikan terhadap tindak pidana di bidang perpajakan. Berdasarkan bukti permulaan tersebut ditemukan unsur tindak pidana korupsi. Penyetoran pajak penghasilan langsung masuk ke Bank dimana wajib pajak menyetorkan dana pajaknya. 4. apabila tindak pidana itu dilakukan oleh petugas Direktorat Jenderal Perpajakan yang bersifat berdiri sendiri. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tidak pernah menerima setoran tunai pajak. Jika terdapat indikasi tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan petugas Direktorat Jenderal Pajak. pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang tersangkut wajib diproses menurut ketentuan Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Julkifli Marbun mengutip pendapat Indonesia Corruption Watch (ICW) dalam Jurnas. Petugas pajak itu bisa termakan bujuk rayu wajib pajak setelah mengadakan beberapa kali pertemuan dan pembicaraan. Sedangkan DW adalah Pegawai Negeri Sipil mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak golongan 3C yang menjadi tersangka kepemilikan “rekening gendut” yang diperkirakan mencapai 60 milyar rupiah. orang melakukan korupsi karena kebutuhan.com yang menyatakan bahwa terdapatnya “rekening gendut” Pegawai Negeri Sipil yang disinyalir sebagai hasil korupsi di tubuh Direktorat Jenderal Pajak dinilai bukan karena program renumerasi yang gagal. Transaksi yang dilakukan DW adalah transaksi pada tahun 2008. Metropolitan Retailmart dan sejumlah uang terkait "sunset policy" atas pajak PT. tetapi karena program remunerasi hanya dapat mengurangi korupsi kecil. DW dikenakan pasal 5 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dan saat ini ditahan Kejaksaan Agung di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba Cabang Kejagung. karena ada istilah corruption by need. Remunerasi hanya salah satu bagian dari upaya untuk mencukupkan kebutuhan pokok para Pegawai Negeri Sipil. Arutmin. Harian Antara terbitan Kamis. Beberapa contoh nyata yang terjadi di Indonesia adalah mengenai kasus tindak pidana di badan Direktorat Jenderal Pajak yang dilakukan oleh Gayus Tambunan dan petugas pajak beninisial DW.5 juta dolar AS terkait keberatan pajak PT.Korupsi dan Kolusi yang terjadi di bidang Perpajakan disebabkan oleh wajib pajak yang meminta keringanan pembayaran pajak kepada petugas pajak. 8 Maret 2012 menjelaskan Gayus Tambunan yang sebelumnya menjabat sebagai petugas (pegawai) Direktorat Jenderal Pajak dihukum karena menerima uang Rp 925 juta dan 3. Jenis korupsi Karya Tulis Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Padjajaran 6 . Dari permulaan itulah terjadi kolusi oleh kedua pihak. Kaltim Prima Coal dan PT.

Seluruh pegawai dan masyarakat diminta berperan aktif untuk menjadi pelapor pelanggaran yang terjadi di bidang perpajakan. Selain itu.seperti ini baru bisa diobati dengan remunerasi. Diketahuinya terdapat oknum petugas Direktorat Jenderal Pajak yang melakukan tindak pidana berarti telah ada pengawasan dari Direktorat Jenderal Pajak itu sendiri. penerapan hukuman disiplin kepada pegawai yang menyalahgunakan wewenang terus diberlakukan dengan tegas. Direktorat Jenderal Pajak telah memperkenalkan Whistle Blowing System. Tetapi corruption by greed. Whistleblowing System Direktorat Jenderal Pajak juga dimaksudkan untuk membangun kembali public trust (kepercayaan publik) terhadap Direktorat Jenderal Pajak. Whistleblowing System ini mengajak seluruh pegawai Direktorat Jenderal Pajak untuk mengubah budaya permisif menjadi budaya korektif yang berarti tidak akan mentolerir adanya pelanggaran dengan cara melaporkannya melalui sarana Whistleblowing System. Hal tersebut harus diobati dengan penegakan hukum yang keras dan perbaikan sistem yang rusak. sebagai salah satu aspek Reformasi Birokrasi yang dijalankan di Direktorat Jenderal Pajak sejak tahun 2002. Hl ini terlihat dari table sebagai berikut: Karya Tulis Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Padjajaran 7 . Dasar hukum penerapan Whistle Blowing System adalah Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-22/PJ/2011 tanggal 19 Agustus 2011 tentang Kewajiban Melaporkan Pelanggaran dan Penanganan Pelaporan Pelanggaran (Whistleblowing) di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Selain untuk menghindari penyelewengan wewenang yang dilakukan oleh oknum petugas. Untuk itu sejak tahun 2011. korupsi karena kerakusan itu tidak bisa diobati dengan remunerasi.

Itu semua realisasi dari dijalankannya program Reformasi Birokrasi di Direktorat Jenderal Pajak. Dalam Jurnal Ekonomi Nasional terbit November 2005. tetap saja fakta tersebut tidak boleh menjadi pembenaran.Tahun Pegawai Pajak yang Mendapat Hukuman Disiplin 210 pegawai 196 pegawai 406 pegawai 516 pegawai 657 pegawai 263 pegawai 39 pegawai 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Di samping penerapan hukuman disiplin. Direktorat Jenderal Pajak adalah unit organisasi yang berada dalam rangking atas unit organisasi pemerintahan yang rentan akan korupsi. Itu semua untuk mewujudkan institusi Direktorat Jenderal Pajak yang bersih dan terpercaya. Karya Tulis Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Padjajaran 8 . Apapun kendala dan hambatan yang akan dihadapi. Meski demikian. Gill menyampaikan bahwa sebenarnya kondisi ini juga terjadi di berbagai negara.S. Persoalan Korupsi. sistem pelayanan sebaiknya lebih ditingkatkan. Kolusi dan Nepotisme harus diperhatikan dalam pembenahan Direktorat Jenderal Pajak. Direktorat Jenderal Pajak sebaiknya terus bertekad untuk menjalankan Reformasi Birokrasi. Jit B.

Pemasukan negara Indonesia yang terbanyak berasal dari pajak dengan jumlah yang cukup signifikan. Berkembangnya kesadaran membayar pajak dan pengelolaan penerimaan pajak pada sektor yang mendukung pembangunan akan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat yang pada akhirnya dapat mendorong iklim investasi yang lebih baik. Karya Tulis Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Padjajaran 9 . dibutuhkan suatu upaya yang luar biasa. Dengan demikian. pada akhirnya sistem perpajakan dapat memiliki daya dorong bagi pembangunan. dimulai dari penciptaan aparat dan lembaga pajak yang bersih dan berwibawa dan didukung oleh kesadaran masyarakat wajib pajak yang semakin baik. Seperti yang kita ketahui bahwa sektor pajak merupakan sektor yang menentukan tumbuh kembangnya Indonesia. Namun kunci dari seluruh persoalan ini adalah pembenahan aspek sumber daya manusia secara integral.Untuk menjalankan agenda pemberantasan KKN di Direktorat Jenderal Pajak. Juga mengenai indikasi korupsi yang dilakukan oknum Direktorat Jenderal Pajak sehingga kewajiban pajak oknum wajib pajak dapat direkayasa dengan jalan tertentu. Angka penegakkan disiplin yang ditunjukkan Dirketorat Jenderal Pajak belum cukup memadai dibandingkan keluhan masyarakat yang terus mengalir mengenai pelayanan kurang memuaskan dan biaya klaim hak pajak masyarakat Wajib Pajak yang masih tinggi. pemerintah harus bekerja ekstra keras dan tidak hanya berlindung pada angka penegakan disiplin yang mungkin menyesatkan. Untuk itu.