You are on page 1of 27

LAPORAN PENDAHULUAN CEDERA KEPALA A.

Anatomi fisiologi Kulit Kepala Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu; skin atau kulit, connective tissue atau jaringan penyambung, aponeurosis atau galea aponeurotika, loose conective tissue atau jaringan penunjang longgar dan pericranium

Sistem persarafan terdiri dari otak, medula spinalis, dan saraf perifer. Strukturstruktur ini bertanggung jawab untuk kontrol dan koordinasi aktifitas sel tubuh melalui impuls-impuls elektrik. Perjalanan impuls-impuls tersebut melalui serat-serat saraf dan jaras-jaras secara langsung dan terus menerus. Responnya seketika sebagai hasil dari perubahan potensial elektrik, yang mentransmisikan sinyal-sinyal. Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistern ini meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Reseptor adalah satu atau

sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh. Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan terhadap rangsangan. Saraf merupakan sistem koordinasi pada tubuh kita. Sistem saraf merupakan sistem kontrol tubuh yang memberitahukan bagian-bagian tubuh. Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan serta terdiri terutama dari jaringan saraf. Sistem persarafan merupakan salah satu organ yang berfungsi untuk menyelenggarakan kerjasama yang rapi dalam organisasi dan koordinasi kegiatan tubuh Fungsi sistem saraf yaitu : 1. Mendeteksi perubahan dan merasakan sensasi 2. Menghantarkan informasi dari satu tempat ke tempat yang lain. 3. Mengolah informasi sehingga dapat digunakan segera atau menyimpannya untuk masa mendatang sehingga menjadi jelas artinya pada pikiran.

a. Otak Dibagi menjadi tiga bagian besar: serebrum, batang otak, serebelum terdapat tiga lapisan dalam otak yaitu: durameter, arakhnoid dan pirameter. Durameter Lapisan paling luar, menutup otak dan mendulla spinalis,sifatnya liar,tebal dan tidak elastis, berupa serabut dan berwarna abu-abu. Jika tekanan dirongga otak meningkalt, jaringan tertekan kearah tentarium atau berpindah kebawah, keadaan ini disebut herniasi. Arakhoid Membran bagian tengah yang bersifat tipis dan lembut, menyerupai sarang laba-laba, oleh itu disebut arakhnoid, berwarna putih karena tidak dialairi darah. Pada dinding arakhnoid terdapat pleksus khoroid yang bertanggung jawab memproduksi cairan serebrosfinal (css). Pada usia dewasa normal css diproduksi 500 ml perhari, tetapi 150ml diabsorbsi oleh villi. Villi mengabsorbsi css juga pada saat darah masuk kedalam sisem (akibat trauma, pecahnya aneurisma, stroke dan lain-lain) dan yang mengakibatkan sumbatan. Bila villi arakhnoid tersumbat dapat menyebabkan hidrosepalus.

Lobus serebrum antara lin lobus frontal yang terletak pada fossa anterior. Lobus parietal (lobus sensori).Piameter Membran yang paling dalam berupa dinding yang tipis. Area inilah yang mengontrol fungsi motorik tertinggi. Lobus aksipital terletak pada lobus posterior hemisfer serebri. Mempertahankan keseimbangan cairan. mengontrol . Substansia alba menutupi dinding serebrum bagian dalam dan terdiri dari sel-sel saraf yang menghubungkan bagian-gabian otak dengan yang lain. Area ini menginterprestasikan sensasi. Bagian ini bertanggung jawab mengintepretasikan penglihatan Dien sefalon Fosa bagian tengah atau dien sefalon berisi talamus. 1) Talamus berada pada salah satu sisi pada sepertiga ventrikel dan aktifitas primernya sebagai pusat penyambung sensasi bau yang diterima semua impus memori. Area ini mengontrol perilaku individu. transparan yang menutupi otak dan meluas kesetiap lapisan daerah otak. hipotalamus dan kelenjar hipofisis. Lobus temporal berfungsi mengintegrasikan sensasi kecap. sensasi rasa yang tidak berpengaruh adalah bau. kepribadian dan menahan diri. nukleus dan basal gang lia. sebagai pusat lapar. mempertahankan pengaturan suhu tubuh melalui peningkatan vasokontruksi atau vasodilatasi dan mempengaruhi sekresi horonal dengan kelenjar hipofisis. Lobus parietal mengatur individu maupun mengetahui posisi dan letak bagian tubuhnya. 2) Hipotalamus berfungsi mengontrol dan mengatur sistem syaraf autonom. bau dan pendengaran. ingatan jangka pendek sangat berhubungan dengan daerah ini. 1) Serebrum Terdiri dari dua hemisfer yaitu substansia grisea terdapat pada bagian luar dinding serebrum yang terbentuk dari badan-badan sel saraf memenuhi kortek serebri. membuat keputusan. yaitu terhadap fungsi individu dan intelegensia. Sebagian besar hemisfer serebri (teten sefalon) berisi jaringan sistem saraf pusat (ssp). sensasi dan nyeri melalui bagian ini.

hormon perangsang tiroid (TSH). otak tengah menghubungkan pons dan serebelum dengan hemisfer serebelum. prolaktin. depresi. Hormon folikel (FSH) dan luteinizing hormon (LH). pons dan medulla oblongata. beberapa akson lain menyambung dengan sel-sel syaraf otak. Pons berisi pusat-pusat terpenting dalam mengontrol jantung. .berat badan. marah. Beberapa akson-akson ini membuat hubungan dengan akson-akson dari serebelum. pernapasan dan tekanan darah dan sebagai asal usul saraf otak kelima sampai kedelapan. mengatur tidur. basal ganglia. Medulla oblongata meneruskan serabut-serbaut motorik dari otak ke medulla spinalis dan serabur-serabut sensorik dari medulla spinalis ke otak. dan juga antara medulla dan serebelum. Dua syndrom yang sering muncul dihubungkan dengan abnormalitas ADH adalah diabetes insipidus (DI) dan syndrom ketidak tepatan ADH (SIADH) Serabut syaraf dari semua bagian korteks membentuk bundel yang padat yang disebut kapsul internal masuk pons dan medulla dengan masingmasing bundel secara bersamaan menyilang ke posisi yang berlawanan. panik dan takut). Serabut-serabut syaraf lain dari korteks dan pusat subkortikal melalui saluran pons dan medulla menuju medulla spinalis. 2) Batang otak Terdiri dari otak tengah. talamus dan hipotalamus. perilaku agresif dan seksual dan respon emosional (malu. tekanan darah. Pons terletak di depan serebelum antara otak tengah dan medulla dan merupakan jembatan antara bagian serebelum. Bagian ini berisi jalur sensorik dan morotik dan sebagai pusat refleks pendengaran dan penglihatan. 3) Kelenjar hipofisis Hipofisis lobus anterior memproduksi hormon pertumbuhan. Lobus posterior berisi hormon antidiuretik (ADH) yang mengatur sekresi dan retensi cairan pada ginjal. hormon adrenakortikatropil (Acth). Pons berisis jaras sensorik dan motorik.

kemudian bercabang membentuk arteri serebri anterior dan media yang menyuplai bagian anterior dan medial hemisfer serebri. Arteri basalis ini. batang otak dan serebrum mendapat supali darah dari dua buah arteri vertebralis yang memasuki foramen magnum untuk membentuk arteri basalis.3) Serebelum Terletak pada fossa pasterior dan terpisah dari hemisfer serebral. Autoregulasi didalam arteriola serebral memungkinkan distribusi aliran darah regional yang tepat pada bagian daerah otak. Drainase darerah vena terjadi secara langsung dari jaringan otak melalui pembuluh vena ke dalam sinus venosus yang berada diantara dua lapisan durameter. . Bagian posterior hemisfer serenri yang meliputi lobus oksipitalis. Siklus ini memungkinkan pembentukan sirkulasi kolaterar jika terjadi okulasi pembuluh darah serebral. pembuluh arteri karotis memasuki cranium dibagian anterior pada setiap sisinya melalui basis kranii. kemudian bercabang membentuk dua buah arteri serebri posterior. posisi dan mengintegrasikan input sensorik. Ditambah mengontrol getaran yang benar. Sirkulasi serebral Otak memerlukan aliran darah sekitar 750 mL/mnt agar dapat berfungsi penuh. selanjutnya mengalirkan darah vena ke vena jugularis eksterna. lipatan durameter nentorium serebelum. b. Arteri komunikan anterior dan posterior bergabung dengan dua sirkulasiini membentuk lingkaran pembuluh darah yang disebut siklus wilisi. keseimbangan. Serebelum mempunyai dua aksi yaitu merangsang dan menghambat dan tanggung jawab yang luas terhadap koordinasi dan getaran halus. Artei dan cabangnya di dalam otak menerima suplai darah dari arteri karotis interna kanan dan kiri.

Secara normal CSS mempunyai sedikit sel-sel darah putih dan tidak mengandung sel darah merah. anggota badan dan bagian kepala . Panjangnya rata-rata 45 cm dan menipis pada jari-jari. sakral dan tulang belakang koksigius. Kolumna vertebra melindung medula Spinalis. 5 Sakral dan 5 segmen koksigeus. Cairan Serebrospinal Merupakan cairan bersih dan tidak berwarna dengan berat jenis 1. Terdapat di masing-masing ventikel lateral. Saraf-saraf Spinal medula Spinalis.c. 5 Lumbal. Medula Spinalis. tersusun dari 33 segmen yaitu 7 segmen Servikal . juga mengandung immunoglobulin. glukosa dan klorida. Vertebra terpisah oleh potongan-potongan kecuali servikal pertama dan kedua.007. Fungsi sumsum tulang belakang adalah : 1. 15 sampai 25 ml dari CSS. Sistem ventrikular dan subarakhnoid mengandung kira-kira 150 ml air. diproduksi didalam pleksus koroid pada ventrikel lateral ketiga dan keempat. Organ ini mengurus persyarafan tubuh. dan menstabilkan struktur tulang untuk ambulasi. CSS mengandung protein. 12 segmen Torakal. Memungkinkan jalan terpendek pada gerak refleks 3. d. Penghubung impuls dari dan ke otak 2. mempunyai 31 pasang saraf spinal. memungkinkan gerakan kepala dan tungkai. Medulla Spinalis Penghubung otak dan saraf perifer. seperti kulit dan otot.

Jaras Visual Serabut-serabut yang berhubungan dengan saraf optik berakhir pada pangkal masing-masing hemisfer. Piramida atau penyilangan traktus piramida. menurun melalui kapsul internal. UMN seluruhnya berada dalam sistem syaraf pusat (ssp). Menurun melalui trakrus kartikospinal dan ujungnya berakhir pada sinaps LMN. UMN mulai di dalam korteks pada sisi yang berlawanan di otak. menyilang ke sisi berlawanan di dalam batang otak. LMN berakhir didalam otot. Berbeda dengan UMN. f. Sel-sel penerima ini bertanggunga jawab terhadap penglihatan.e. Ciri-ciri klinik pada lesi di UMN dan LMN dibicarakan pada bagian sebelumnya yang terdapat dalam tabel berikut : Akibat lesi Neuron Motor Atas (UMN) versus Neuron Motor Bawah (LMN) LESI UMN Kehilangan kontrol volunter Peningkatan tonus otot Spastisitas otot Tidak ada atrofi otot Refleks hipertaktif dan abnormal LESI LMN Kehilangan kontrol volunter Penurunan tonus otot Paralisis flaksid otot Atrofi otot Tidak ada / penurunan refleks . Jaras motorik dari otak ke medulla spinalis dan juga dari sereberum ke batang otak dibentuk oleh (UMN). Yang pertama disebut sebagia neuron motorik atas (upper motor neuron [UMN]) dan yang terakhir disebut sebagai neuron motorik bawah (lower motor neuron (LMN)). Penglihatan pasien harus diperiksa dengan dan tanpa koreksi lenda. Saraf Motorik Atas dan Bawah Setiap serabut otot yang mengatur gerakan disadari melalui dua kombinasi sel-sel syaraf. serabut-serabutnya berada tepat pada traktus. LMN menerima impuls di bagian ujung posterior dan berjalan menuju sambungan mioneural. Pengkajian penglihatan pasien dilakukan melalui uji ketajaman penglihatan dengan menggunakan kartu snellen dan cara biasa dengan membaca koran. Salah satunya terdapat pada kortek motorik. dan serat lainnya berjalan menuju otot. Setiap syaraf motorik yang menggerakkan setiap otot merupakan komposisi gabungan ribuan saraf-saraf motorik bawah.

Kontrol Motor Ekstrapiramidal Gerakan – gerakan otot yang halus. h. yang tidak dimiliki oleh respon neurologik lainnya. gerakan refleks (tidak disadari) tidak dihambat. Kedua respon yang muncul tidak cepat tetapi hanya setelah periode yang lambat. terutama pada trauma serebri. . decerebrate atau tubuh flaksid. SSA berpusat pada serebelum dan basal ganglia. sekresi semua digesti dan kelenjar keringat dan aktivitas organ-organ endokrin dikontrol oleh sebagian besar komponen sistem saraf yang dikenal sebagai sistem syaraf autonom (SSA). paralisis (kehilangan gerakan yann disadari) karena pengaruh hambatan dari UMN utuh pada keadaan ini mengalami kerusakan. Keunikan dari sistem ini adalah : pertama SSA mempengaruhi pengaturan dimana sel-selnya tidak bersifat indivudial tetapi meluas pada sebagian besar jaringan dan seluruh organ. tepat dan kuat pada orang normal diakibatkan oleh pengaruh serebelum dan basal ganglia. abses atau tumor) dapat menyebabkan kehilangan tonus otot. tetapi sebaliknya tetap lebih tegang secara permanen daripada normal dan menunjukkan paralisis spastik. Sistem Saraf Autonomik Kontraksi otot-otot yang tidak di bawah kontrol kesadaran.Jika UMN rusak atau hancur sering menyebabkan stroke. Respon ini bersifat terus-menerus dengan jangka waktu yang panjang. seperti otot jantung. Distinesia akibat adanya cedera pada intrakranial atau beberapa tipe perluasan massa (mis: hemoragi. Akibat dari rusaknya LMN adalah otot menjadi lumpuh dan orang tersebut tidak mampu menggerakkan otot. lemah dan kelelahan pasien terlihat decorticate. Paralisis flaksid (kelumpuhan dan atrofi) pada otot-otot adalah tanda spesifik pada penyakit LMN g. Contohnya : pembuluh darah dan isi rongga perut. Akibat otot tidak atrofi atau menjadi lumpuh.

1985) Cedera kepala meliputi trauma kulit kepala. Wilson. cedera paling sering dan merupakan penyakit neuroligist yang serius diantara penyakit neurologist dan merupakan proporsi epodemik sebagai hasil kecelakaan jalan raya. Nettima. otak.B. 2002) Cedera kepala adalah cedera neurologik yang diakibatkan oleh suatu benda atau serpihan tulang yang menembus atau merobek suatu jaringan otak oleh pengaruh suatu kekuatan atau energi yang diteruskan ke dalam otak dan akhirnya oleh efek percepatan. 2002) . 2006) Cedera kepala atau (cedera otak) adalah gangguan fungsi otak normal karena trauma (trauma tumpul atau trauma tusuk) (Sandra. tengkorak. M. (Bruner & Suddart. Pengertian Cedera Kepala Cidera kepala adalah kerusakan neurologi yang terjadi akibat adanya trauma pada jaringan otak yang terjadi secara langsung maupun efek sekunder dari trauma yang terjadi (Sylvia Anderson Price. perlambatan pada otak yang terbatas pada kompartemen yang kaku. J.(Price.

cedera saat berolah raga. Kerusakan terjadi ketika energi atau kekuatan diteruskan ke substansi otak.staroncology. kepala. seperti luka tembus peluru. tengkorak dn otak. serta notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan. terjatuh. (Arif Mansjoer. 1999) Cidera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak. percepatan dan perlambatan (accelerasi decelerasi ) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan. Etiologi a. Klasifikasi cedera kepala Klasifikasi cedera kepala dapat dibagi menjadi 2. kulit. otak yang diakibatkan oleh suatu benda atau serpihan tulang yang menembus atau merobek suatu jaringan otak. Menurut jenis luka atau cedera 1) Cedera kepala terbuka Trauma yang menembus tengkorak dan jaringan otak 2) Cedera kepala tertutup Dapat disamakan pada pasien dengan gagar otak ringan dengan edema serebral yang luas . dan lain-lain yang dapat menyebabkan cedera menyeluruh (difus). yaitu : a. D. Energi diserap oleh lapisan pelindung yaitu rambut. dkk. C. (http//www. pisau. Trauma oleh benda tumpul Contoh : Pukulan.) Jadi dapat disimpulkan bahwa cedera kepala merupakan suatu cedera atau trauma pada kulit kepala. b.Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecatatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian terjadi akibat kecelakaan lalulintas. tabrakan mobil. Trauma oleh benda tajam Menyebabkan cedera setempat. merupakan penyakit neuroligis yang seirus diantara penyakit neurologis karena menyebabkan kematian / kecacatan terutama pada kelompok usia produktif. tengkorak.

dapat terjadi kehilangan kesadaran ( pingsan ) kurang dari 30 menit atau mengalami amnesia retrograde. 3) Cedera kepala berat (CKB) GCS lebih kecil atau sama dengan 8. Gejala-gejala yang terjadi : 1) Penurunan kesadaran 2) Nyeri kepala 3) Muntah 4) Hemaparesis . Dapat mengalami kontusio cerebral. pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena itu sangat berbahaya. kehilangan kesadaran atau amnesia retrograd lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam. tidak ada kontusio cerebral maupun hematoma 2) Cedera kepala sedang: (CKS) GCS 9 –12. Tidak ada fraktur tengkorak. laserasi atau hematoma intracranial. Menurut berat ringannya berdasarkan GCS (Gaslow Coma Scale) 1) Cedera kepala ringan (CKR) GCS 13– 15. Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah atau cabang-cabang arteri meningeal media yang terdapat di duramater. benda aktif mendekati kepala benda 2) Deselerasi Kepala aktif mendekati kepala benda E. Lokasi yang paling sering yaitu dilobus temporalis dan parietalis. Dapat mengalami fraktur tengkorak.b. kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam. Menurut aktif tidaknya kepala 1) Akselerasi Kepala diam. Epidural hematoma Perdarahan di ruang epidural diantara tulang tengkorak dan durameter. c. MANIFESTASI KLINIS Berdasarkan letak perdarahan tanda dan gejalanya sebagi berikut : a. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 – 2 hari.

Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak. kapiler. Perdarahan didalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak. dapat terjadi akut dan kronik.5) Dilatasi pupil ipsilateral 6) Pernapasan dalam cepat kemudian dangkal irregular 7) Penurunan nadi 8) Peningkatan suhu b. vena. Gejala yang terjadi yaitu : 1) Nyeri 2) Penurunan kesadaran 3) Hemiparese 4) Dilatasi pupil ipsilateral 5) Kaku kuduk d. Periode akut terjadi dalam 48 jam – 2 hari atau 2 minggu dan kronik dapat terjadi dalam 2 minggu atau beberapa bulan. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena/jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater. Gejala yang terjadi yaitu : . Hematoma intraserebral Perdarahan pada jangka otak karena pecahnya pembuluh darah arteri. Gejala yang terjadi yaitu : 1) Nyeri kepala 2) Bingung 3) Mengantuk 4) Menarik diri 5) Berpikir lambat 6) Kejang 7) Odem perut c. Subaraknoid hematoma Perdarahan di ruang subaraknoid antara araknoid dengan piameter. Subdural hematoma Perdarahan di ruang subdural antara durameter dengan araknoid. perdarahan lambat dan sedikit. hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat.

Adanya fraktur tengkorak biasanya dapat menimbulkan dampak tekanan yang kuat. Kerusakan otak tidak dapat pulih dan sel-sel mati dapat diakibatkan karena darah yang mengalir tanpa henti hanya beberapa menit saja dan kerusakan neuron tidak dapat mengalami regenerasi. juga sering menimbulkan hemorragi dari hidung. .1) Nyeri kepala 2) Penurunan kesadaran 3) Perubahan tanda-tanda vital 4) Dilatasi pupil F. CEDERA KEPALA SEDANG Fraktur tengkorak Fraktur tengkorak adalah rusaknya kontinuitas tulang tengkorak disebabkan oleh trauma. Fraktur dasar tengkorak dicurigai ketika CSS keluar dari telinga dan hidung. Fraktur kubah kranial menyebabkan bengkak pada sekitar fraktur dan karena alasan yang kurang akurat tidak dapat ditetapkan tanpa pemeriksaan dengan sinar X. Ini dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan otak. fraktur dasar tengkorak cenderung melintas sinus paranasal pada tulang frontal atau lokasi tengah telinga di tulang temporal. Bila fraktur terbuka maka dura rusak dan fraktur tertutup dura tidak rusak. faring atau telinga dan darah terlihat di bawah konjungtiva. Trauma dapat menimbulkan abrasi. laserasi atau avulsi. kontisio. Cidera otak Kejadian cedera “ Minor “ dapat menyebabkan kerusakan otak bermakna. kulit kepala berdarah bila mengalami cedera dalam. Kulit kepala juga merupakan tempat masuknya infeksi intrakranial. Otak tidak dapat menyimpan oksigen dan glukosa sampai derajat tertentu yang bermakna selsel cerebral membutuhkan supalai darah terus menerus untuk memperoleh makanan. PATHOFISOLOGI CEDERA KEPALA RINGAN Cedera kulit kepala Karena bagian ini banyak mengandung pembuluh darah. Fraktur tengkorak diklasifikasikan terbuka/tertutup.

Hematoma Epidural (hematoma Ekstradural) Setelah terjadi cedera kepala.CEDERA KEPALA BERAT Komosio Komosio cerebral setelah cedera kepala adalah kehilangan fase neuologik sementara tanpa kerusakan struktur. hemoragi karena arteri ini menyebabkan penekanan pada otak. kulit dingin dan pucat. Hematoma subdural kronik: dapat terjadi karena cedera kepala . Hemoragi sub dural lebih sering terjadi pada vena dan merupakan akibat putusnya pembuluh darah kecil yang menjembatani ruang subdural. Hematoma Subdural Hematoma subdural adalah pengumpulan darah diantara dura dan dasar otak. denyut nadi lemah. Hematoma subdural dapat terjadi akut. yang pada keadaan normal diisi oleh cairan. Jika jaringan otak dan lobus frontal terkena. Keadaan ini sering diakibatkan dari fraktur tulang tengkorak yang menyebabkan arteri meningkat tengah putus atau rusak (laserasi). dimana otak mengalami memar dan kemungkinan adanya daerah hemoragi. Pasien terbaring kehilangan gerakan. Hematoma subdural akut: dihubungkan dengan cedera kepala mayor yang meliputi kkontusio atau laserasi. Pasien berada pada periode tidak sadarkan diri. 2. Hemoragi cranial Hematoma ( pengumpulan darah ) yang terjadi dalam tubuh kranial adalah akibat paling serius dari cedera kepala. dimana arteri ini berada diantara dura dan tengkorak daerah frontal inferior menuju bagian tipis tulang temporal. sub akut atau kronik tergantung pada ukuran pembuluh darah yang terkena dan jumlah perdarahan yang ada. darah berkumpul di dalam ruang epidural (ekstradural) diantara tengkorak di dura. Kontusio Kontusio cerebral merupakan CKB. Ada 3 macam hematoma : 1. pasien dapat menunjukkan perilaku yang aneh dimana keterlibatan lobus temporal dapat menimbulkan amnesia disoreantasi. pernafasan dangkal. Hematoma subdural subakut: sekrela kontusio sedikit berat dan dicurigai pada bagian yang gagal untuk menaikkan kesadaran setelah trauma kepala.

Analisa Gas Darah: medeteksi ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial. Hemoragi Intra cerebral dan hematoma Hematoma intracerebral adalah perdarahan ke dalam substansi otak. KOMPLIKASI 1. i. MRI : mengidentifikasi kerusakan saraf spinal.minor dan terjadi paling sering pada lansia. AGP : menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan sirkulasi e. edema dan kompresi c. Elektrolit: untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrakranial. X-Ray : mendeteksi dan mengidentifikasi fraktur d. Hemoragi ini biasanya terjadi pada cedera kepala dimana tekanan mendesak kepala sampai daerah kecil. CT-Scan : untuk menentukan tempat luka atau jejas. Hemoragi in didalam menyebabkan degenerasi dan ruptur pembuluh darah. BAER (Brain Auditory Evoked Respon) : menentukan fungsi korteks dan batang otak. mengevaluasi gangguan strukrutal b. 3. Hidrosefalus : akibat peningkatan akumulasi cairan serebrospinal 3. Herniasi otak : akibat dari edema dan peningkatan TIK 2. yang diperkirakan akibat proses penuaan. g. SIADH : terjadi bila lesi mengenai hipotalamus H. ruptur kantong aneorima vasculer. penyebab sistemik gangguan perdarahan. G. tumor infracamal. Cerebral Anglography : menunjukkan kelainan sirkulasi serebral. h. Lumbal fungsi : untuk menentukan ada atau tidaknya darah dalam CSS. PET (Positron Emission Tomography) : menunjukkan perubahan aktivitas metabolisme pada otak. EEG : untuk memperlihatkan keadaan atau berkembangnya gelombang patologis. perdarahan. k. j. . Lansia cenderung mengalami cedera tipe ini karena atrofi otak. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a. seperti pergeseran jaringan otak akibat edema. trauma. Infeksi : terjadi pada cedera kepala terbuka 4. f.

ukur dan catat frekuensi denyut jantung dan tekanan darah. perhatikan secara khusus adanya cedera intraabdomen atau dada. ambil darah vena untuk meperiksaan darah perifer lengkap. Jika tidak beri oksigen melalui masker oksigen.nilai gas darah dipertahankan pada nilai yang diinginkan. dan nilai . selidiki dan atasi cedera dada berat seperti pneumotorak. . 3) Menilai sirkulasi : otak yang rusak tidak mentolerir hipotensi. 2) Menilai pernafasan : tentukan apakah pasien bernafas spontan atau tidak. PENATALAKSANAAN Semua terapi diarahkan untuk mempertahankan hemastatis otak dan mencegah kerusakan otak sekunder. Jika pasien bernafas spontan. 4) Menilai tingkat kesadaran : a) Cedera kepala ringan (GCS13-15) b) Cedera kepala sedang (GCS 9-12) c) Cedera kepala berat (GCS 3-8) b. pertahankan tulang servikal segaris dengan badan memasang kolar servikal. maka pasien harus diintubasi. glutosa dan analisa gas darah arteri. Pasang jalur intravena yang besar. Hemoragi terkontrol. lepaskan gigi palsu. Hentikan semua perdarahan dengan menekan arterinya. Tindakan ini mencakup stabilisasi kardiovaskuler dan fungsi pernafasan untuk mempertahankan perfusi serebral adekuat. I. Pasang oksimetri nadi jika tersedia dengan tujuan menjaga saturasi oksigen minimun 95%. ureum. Pemeriksaan toksikologi : mendeteksi obat yang mungkin bertanggungjawab terhadap penurunan kesadaran.l. a. pasang guedel bila ditolerir. pasang alat pemantau dan EKG. hipovotemia diperbaiki. Pedoman Resusitasi dan Penilaian Awal 1) Menilai jalas nafas : Bersihkan jalas nafas dari debris atau muntahan. Mengontrol TIK pada cedera kepala : 1) Tinggikan kepala tempat tidur sampai 30 derajat 2) Pertahankan kepala dan leher pasien dalam kesejajaran sentral (tidak memutar). jika pasien cedera orofasial mengganggu jalan nafas. elektrolit.

3) Respon motorik (M) 6 : mematuhi perintah misal ”angkat tangan” 5 : melokalisasi nyeri : tidak mematuhi perintah tetapi berusaha menunjukkan nyeri dan menghilangkan nyeri tersebut 4 : reaksi fleksi : lengan fleksi bila diberikan rangsang nyeri dan tanpa posisi fleksi abnormal 3 : fleksi abnormal terhadap nyeri : lengan fleksi disiku dan pronasi tangan mengepal (postur dekortitasi) 2 : ekstensi abnormal terhadap nyeri : ekstensi lengan disiku. 3 : kata-kata yang diucapkan tidak tepat : percakapan tidak dapat bertahan.3) Memberikan medikasi yang diserarkan untuk menurunkan TIK (misal : diuretik. 1 : tidak ada atau mata tidak membuka terhadap rangsang apapun. mengetahui siapa dirinya.kata yang dapat dikenal. 3 : terhadap rangsang suara atau membuka mata bila dipanggil atau diperintah. 2 : tidak dapat dimengerti atau mengeluarkan suara (msl : merintih) tetapi tidak ada kata . Glasgow Coma Scale (GCS) 1) Membuka mata (E) 4 : spontan atau membuka mata spontan. lengan biasanya adduksi dan bahu berotasi ke dalam (postur deserebrasi) . bulan dan tahun. 2 : terhadap rangsang nyeri membuka mata bila ada tekanan pada jari. 4 : bingung : dapat bercakap-cakap. 1 : tidak ada : tidak mengeluarkan kata-kata. 2) Respon verbal (V) 5 : orientasi baik : dapat bercakap-cakap. tetapi ada disorientasi. kortikosteroid) 4) Mempertahankan suhu tubuh normal 5) Hiperventilasi pasien pada ventilasi mekanik : memberikan O2 6) Mempertahankan pembatasan cairan 7) Memberikan sedasi untuk menurunkan kebutuhan metabolik c. dimana berada. susunan kata-kata kacau atau tidak tepat.

Koordinasi tangan dan ekstremitas atas dikaji dengan cara meminta pasien melakukan gerakan cepat.1 : tidak ada : tidak ada respon terhadap nyeri : flaksid. berselang-seling dan ini manunjuk satu titik ke titik lain. dan 0 mengindikasikan ketidakmampuan sama sekali dalam melakukan kontraksi. 1) Kekuatan otot Kekuatan otot diuji melalui pengkajian kemampuan pasien untuk melakukan fleksi dan ekstremitas sambil dilakukan penahanan. masing-masing tagan diuji secara terpisah. nilai 4 untuk kekuatan sedang. Beberapa dokter mempunyai lima angka untuk menilai ukuran kekuatan otot. Keadaan atrofi atau gerakan tidak beraturan (tremor) perlu dicatat. 2) Keseimbangan dan koordinasi Pengaruh serebelum pada sistem motorik terliaht pada kontrol keseimbangan dan koordiasi. nilai 1 mengindikasikan kekuatan kontraksiminimal. Pasien diintruksikan untuk berjalan menyilang di dalam ruangan . Pertahankan seuruh gerakan tetap dicatat dan didokumentasikan . Lihat keadaan ototnya. nilai 3 indikasi kekuatan hanya cukup untuk mengatasi kekuatan gravitasi. Pertama pasien diminta untuk menepukkan tangan ke paha secepat mungkin . tonus atot. Nilai 5 adalah indikasi terhadap kekuatan konstraksi maksimal. d. Pemeriksaan sistem motorik Mencakup pengkajian pada ukuran otot . nilai 2 menunjukkan kemampuan untuk menggerakkan tapi tidak dapat mengatasi kekuatan gravitasi. . sementara pengkaji mencatat postur dan gaya berjalan. simetris dan derajat kesulitan. keadaan tonus yang tidak normal mencakup spastisitas (kejang). kekuatan otot. Tonus otot dievaluasi dengan palpasi yaitu dengan berbagai variasi pada saat otot istirahat dan selama gerakan pasif. Kemudian pasien diinstruksikan untuk membalikkan tangan dari posisi telentang ke posisi telungkup dengan gerakan cepat. koordinasi dan keseimbangan. rigititas (kaku atau fleksiditas).catat setiap gerakan cepat. Selanjutnya pasien diperintahkan untuk menyenyuh masing-masing jari dengan ibu jarisecara berurutan. dan bila perlu lakukan palpasi untuk melihat ukuran dan keadaan simetris.

Saraf optikus Ketajam penglihatan Pemeriksaan dengan kartu snellen. pasien diperintahkan mengeidentifikasikan bau yang sudah dikenal (kopi. 2) Refleks kornea Pemeriksaan : pada saat pasien melihat ke atas. sementara kaki yang satu diangkat dan tangan yang satunya dinaikkan ke atas. kaji reflek pupil dan periksa kelopam mata terhadap adanya ptosis V. e. Pemeriksaan saraf kranial I. Masing-masing lubang hidung di uji secara terpisah. pipi dan dagu. tembakau). abdusen) Fungsi saraf kranal III. Saraf olfaktorius. sentuhkan kapas pada dahi. Pemeriksaan : kaji rotasi akular. kontrol otot pada pupil dan otot siliaris dengan mengontrol akomodasi pupil. III. pemeriksaan oftalmoskopi. dan VI dalam pengaturan gerakan-gerakan mata : Syaraf kranial III turut dalam pengaturan gerakan kelopak mata. bila terjadi kedipan mata keluarnya air mata adalah respons yang normal. lakukan sentuhan ringan dengan sebuah gumpalan kapas kecil di daerah temporal masing – masing kornea. bandingkan kedua sisi yang berlawanan. lakukan pengkajian dengan benda tajam dan tumpul secara bergantian. IV. lapang pandang. mengkonjugasikan gerakan nistagmus. (Trigeminal) 1) Sensasi pada wajah Pemeriksaan : anjurkan pasien menutup kedua mata. Traklear. Sensasi terhadap bau-bauan. II. Sensitivitas terhadap nyeri daerah permukaan diuji dengan menggunakan benda runcing dan diakhiri dengan spatel lidah yang tumpul. Pemeriksaan dilakukan dengan mata tertutup. .Tes Romberg dilakukan dengan menginstruksikan pasien berdiri dengan menggunakan satu kali dengan tangan diturunkan pada sisi yang sama. IV. VI (Okulomotorius.

kemampuan lidah membedakan rasa gula dan garam. XI. (Fasial) Gerakan otot wajah. ekspresi wajah. Gerakan simetris dari pita suara. sekresi air mata dan ludah. Aksesorius spinal Gerakan otot sternokleidomastoid dan trapezius Palpasi dan catat kekuatan otot trapezius pada saat pasien mengangkat bahu sambil dilakukan penekanan. Palpasi dan catat kekuatan otot sternokleidomastoid pasien saat memutar kepala sambil dilakukan penahanan dengan tangan penguji ke arah yang berlawanan. VIII. Glosofaringeus Rasa kecap : sepertiga lidah bagian pasterior. Vestibulokoklear (auditorius) Keseimbangan dan pendengaran Pemeriksaan : uji bisikan suara / bunyi detak jam. Vagus Konstraksi faring dengan tekan spatel lidah pada lidah posterior.Palpasi otot maseter dan temporal. gerakan simetris palatum mole minta pasien mengatakan ah. Hipoglosus Gerakan lidah . uji untuk lateralisasi (weber). mengerutkan dahi. mengangkat alis. bersiul. observasi terhadap peninggia ovula simetris dan palatum mole. VII. saat menutup mata rapat-rapat. X. atau menstimulasi faring posterior untuk menimbulkan refleks menelan. XII. Observasi simetrisitas gerakan wajah saat : tersenyum. apakah kekuatannya sama atau tidak sama.3) Mengunyah Pegang daerah rahang pasien dan rasakan gerakan dari sisi ke sisi. Rasa kecap : dua pertiga anterior lidah. uji untuk konduksi udara dan tulang (Rinne). IX. Pasien mengekstensikan lidah.

. terdapat devlasi atau tremor. Kekuatan lidah dikaji dengan cara pasien menjulurkan lidah dan menggerakkan ke kiri atau kanan sambil diberi tahanan.Bila pasien menjulurkan lidah keluar.

Pasien mengatakan tidak mengetahui siapa yang mengantarnya sampai dirumah sakit.ASUHAN KEPERAWATAN CEDERA KEPALA A. 22. Pasien mengatakan cemas akan penyakitnya. Pasien mengatakan mual muntah. PENGKAJIAN Data Subjektif 1. Pasien mengatakan batuk-batuk tanpa disertai dahak. 7. Pasien mengatakan tidak nafsu makan. Pasien mengatakan ada suara nafas yang aneh. 19. Pasien mengatakan nyeri di bagian kepalanya. Keluarga mengatakan di sekitar kepala pasien terdapat benjolan.’ 20. 14. 15. baik tempat kejadian. Pasien mengatakan tidak mengetahui dimana berada saat ini. 18. 5. Pasien mengatakan tidak mengenal salah satu keluarganya. 23. 6. 25. 8. Pasien mengatakan pusing yang sangat hebat. Pasien mengatakan nyerinya hilang timbul. Pasien mengatakan tidak nyaman. 13. 12. 10. 16. Keluarga pasien mengatakan terdapat luka robek di sekitar kepala pasien. kendaraan yang digunakan dan bagaimana kejadian tersebut berlangsung. Pasien mengatakan tidak mengingat kejadian yang dialaminya. Pasien mengatakan kesemutan di bagian tubuhnya. . Pasien mengatakan takut akan penyakitnya. Pasien mengatakan nyerinya seperti tertusuk-tusuk. Keluarga pasien mengatakan pasien tidak dapat melakukan aktivitasnya sendiri. Pasien mengatakan skala nyeri yang dirasakan dengan skala nyeri sedang (4-6) dari (0-10) skala yang diberikan. 9. Keluarga pasien mengatakan aktivitas pasien dibantu oleh keluarga dan perawat. 21. Pasien mengatakan penglihatannya kabur. 4. 11. 24. 3. 17. Pasien mengatakan menggigil. Pasien mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya. Pasien mengatakan sesak nafas. 2.

Perubahan kesadaran bisa sampai koma.Data Objektif 1. Pasien menghabiskan 1/4 makanan dari porsi yang diberikan. Masalah keseimbangan. Pasien terlihat tidak nyaman. Disorientasi waktu. Wajah pasien terlihat gelisah. 15. 23. 3. 9. TTV pasien : TTV : suhu > 36. Terdapat luka terbuka di bagian kepala pasien. 5. diastol = 60-80mmHg) RR : <16-24x/menit Nadi : < 60-100x/menit 4. Pasien terlihat berkurangnya daya ingat dan menurunnya daya kosentrasi.000-10. 20. 19. 18. 14. 12. Pasien terlihat kebingungan.6-37. Perubahan kesadaran. 17. 24. 2. 6. 16. Pasien terlihat meringis kesakitan. orang. Pasien terlihat bernafas dengan otot bantu nafas. GCS pasien <15. Pasien bertanya-tanya tentang penyakitnya. Leukosit meningkat > 5. 13.000/mm3.5oC TD : > (sistol = 100-120mmHg. Pasien terlihat menggigil. dan tempat. 7. Pasien terlihat cemas dan terlihat ketakutan. Hemiparese. Terdapat hematoma di sekitar kepala pasien. 8. Kekuatan otot menurun. 22. 21. 11. . 10. Pasien terlihat memegang bagian yang sakit. Pasien terlihat sesak nafas. Terdapat suara nafas tambahan (mengi).

Pasien menggigil. 1. Pasien mengatakan tidak mengetahui berada saat ini. TTV pasien : TTV : suhu > 36. mengatakan Pasien terlihat gemetar/menggigil Pasien mengatakan sesak nafas.6- Pola nafas tidak efektif . 4. Pasien mengatakan tidak mengenal keluarganya. BB pasien menurun 27. Pasien terlihat lemah Analisa data Data Subjektif Data Objektif Kesimpulan 1. siapa yang sampai salah satu dimana 5. kendaraan yang digunakan bagaimana dan kejadian terlihat Perubahan perfusi jaringan serebral. baik tempat kejadian. 3. Pasien terlihat kurus 26. 2. tersebut berlangsung. Pasien mengatakan tidak mengetahui mengantarnya dirumah sakit.25. Pasien mengatakan tidak Pasien mengingat kejadian yang kebingungan dialaminya.

Pasien mengatakan aktivitasnya dibantu keluarga dan perawat Pasien .Pasien tidak mampu melakukan aktivitasnya sendiri  adanya luka baru Resiko infeksi kesemutan di bagian tubuhnya . Pasien terlihat tidak nyaman. Pasien bernafas terlihat dengan terlihat otot bantu nafas 5. diastol = 60- batuk tanpa disertai dahak Pasien mengatakan ada suara nafas yang aneh 80mmHg) RR : <16- 24x/menit Nadi : < 60- 100x/menit 2. Perubahan persepsi sensori (pendengaran penciuman) .Pemenuhan ADL pasien dibantu Kerusakan mobilitas fisik dan mengatakan . Pasien sesak nafas. Terdapat suara nafas tambahan (mengi).Pasien mengatakan batuk- 37. 3. 4.5oC TD : > (sistol = 100-120mmHg.Pasien terlihat lemah .

. 4. Pasien mengatakan tidak nyaman.50C 1. Pasien mengatakan nyeri di bagian kepalanya.5oC TD : > (sistol = 100-120mmHg.BB menurun. Pasien terlihat Nyeri akut terlihat memegang bagian yang sakit. Pasien pusing hebat.. Pasien mengatakan skala nyeri dengan yang dirasakan nyeri skala 80mmHg) RR : <16- sedang (4-6) dari (0-10) skala yang diberikan. diastol = 60- nyerinya seperti tertusuktusuk. 6. . 2. Pasien mengatakan mengatakan yang sangat 1. 3.Pasien terlihat kurus 1. 2. 3.6-37. Pasien meringis kesakitan. Pasien menghabiskan 1 > Perubahan nutrisi /4 dari kebutuhan kurang makanan dari porsi yang diberikan. Pasien terlihat tidak nyaman . Pasien mengatakan tidak nafsu makan. 1. 24x/menit Nadi : < 60- 100x/menit 4.pada kulit  Leukosit 10. 2. TTV pasien : TTV : suhu > mengatakan 36.000 mm3 suhu tubuh pasien > 37. Pasien mengatakan mual muntah. Pasien nyerinya hilang timbul. 5.

Pasien tampak cemas.Pasien mengatakan cemas . DIAGNOSA KEPERAWATAN C. INTERVENSI Terlampir. E. IMPLEMENTASI Proses implementasi atau pelaksanaan merupakan langkah keempat yang dilaksanakan sesuai yang telah direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan.Pasien mengatakan tidak .Pasien bertanya-tanya tahu mengenai penyakitnya tentang penyakitnya Kurang pengetahuan B. EVALUASI . D. Pada pelaksanaan tindakan terdapat jenis tindakan yaitu tindakan mandiri dan kolaborasi. dan wajahnya tegang . Ansietas dan takut akan penyakitnya gelisah ketakutan tampak bingung..