You are on page 1of 7

Konsep Akuntabilitas (Accountability Theory

)

Ditulis oleh: Fuad Setiawan Khabibi

Masiswa Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2011

1. Definisi Akuntabilitas

Akuntabilitas atau accountability merupakan sebuah prinsip dari konsep good corporate governance, yaitu sebuah konsep tata kelola pemerintahan baru yang diadopsi oleh berbagai Negara berkembang di Dunia. Sebagai salah satu prinsip dari konsep good corporate governance, Kaihatu mendefinisikan akuntabilitas sebagai sebuah kejelasan fungsi, struktur, sistem, dan pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif. 1 Penerapan konsep ini semata-mata untuk meningkatkan kinerja perusahaan melalui supervisi atau pemantauan kinerja manajemen dan adanya akuntabilitas manajemen terhadap pemangku kepentingan lainnya, berdasarkan kerangka aturan dan peraturan yang berlaku.

Definisi yang disampaikan oleh Kaihatu ini mengarah pada akuntabilitas pada perusahaan atau lembaga swasta. Dimana kinerja pegawai perusahaan diawasi oleh supervisi untuk menjamin kualitas kinerja perusahaan. Perusahaanatau lembaga swasta terkadang memang mampu menjaga akuntabilitas pegawainya dengan baik, karena pemantauan kinerja pegawai dilakukan oleh pihak internal dan eksernal dengan metode professional yang terbebas dari
1

Thomas S. Kaihatu. 2006. Good Corporate Governance dan Penerapannya di Indonesia. Jurnal Manajemen dn Kewirausahaan, Vol.8, No. 1, Maret 2006. Halaman 1-9. Diakses dalam http://www.petra.ac.id/~puslit/journals/dir.php?DepartmentID=MAN

1|P ag e

bentuk-bentuk subyektifitas penilaian. Selain itu, kinerja pegawai memang menjadi sebuah hal yang sangat diperhatikan karena tercapai tidaknya target kemajuan perusahaan ada ditangan kinerja pegawai.

Berbeda dengan Kaihatu yang mendefinisikan akuntabilitas menurut perspektif swasta, Dykstra justru mendefinisikan akuntabilitas menurut perspektif pemerintahan. Menurut Dykstra akuntabilitas adalah sebuah konsep etika yang dekat dengan administrasi publik pemerintahan (lembaga eksekutif pemerintah, lembaga legislatif parlemen dan lembaga yudikatif-kehakiman) yang mempunyai beberapa arti antara lain, hal ini sering digunakan secara sinonim dengan konsep-konsep seperti yang dapat dipertanggungjawabkan (responsibility), yang dapat dipertanyakan (answerability), yang dapat dipersalahkan (blameworthiness) dan yang mempunyai ketidak-bebasan (liability) termasuk istilah lain yang mempunyai keterkaitan dengan harapan dapat menerangkannya salah satu aspek dari administrasi publik atau pemerintahan, hal ini sebenarnya telah menjadi pusat-pusat diskusi yang terkait dengan tingkat problembilitas di sektor publik, perusahaan nirlaba, yayasan dan perusahaan-perusahaan.2 Walaupun konsep mengenai akuntabilitas sering digunakan secara sinonim dengan konsep seperti responsibility, namun konsep tentang akuntabilitas secara harfiah memiliki makna yang berbeda dengan responsibility. Dalam bahasa inggris akuntabilitas biasa disebut dengan accountability yang diartikan sebagai “yang dapat dipertanggungjawabkan”. Atau dalam kata sifat disebut sebagai accountable. Lalu apa bedanya dengan responsibility yang juga diartikan sebagai “tanggung jawab”. Pengertian accountability dan responsibility seringkali diartikan sama. Padahal maknanya jelas sangat berbeda. Beberapa ahli menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan birokrasi, responsibility merupakan otoritas yang diberikan atasan untuk melaksanakan suatu kebijakan. Sedangkan accountability merupakan kewajiban untuk menjelaskan bagaimana realisasi otoritas yang diperolehnya tersebut. Seperti yang dikemukakan The Liang Gie dkk., akuntabilitas (accountability) adalah kesadaran dari seorang pengelola kepentingan publik untuk melaksanakan tugasnya dengan

2

Dykstra, Clarence A. 1939. "The Quest for Responsibility". American Political Science Review 33 (1). Page 1-25.

2|P ag e

sebaik-baiknya tanpa menuntut untuk disaksikan oleh pihak-pihak lain yang menjadi sasaran pertanggungjawabannya. 3 Perbedaan antara responsibility dengan accountability adalah tanggung jawab dalam konteks responsibility ditujukan oleh seorang pengelola kepentingan publik kepada pihak-pihak lain, sedangkan tanggung jawab dalam konteks accountability ditujukan oleh seorang pengelola kepentingan publik kepada dirinya sendiri. Senada dengan hal tersebut, Deklarasi Tokyo juga memberikan definisi yang seragam mengenai akuntabilitas. Deklarasi Tokyo mengenai petunjuk akuntabilitas publik menetapkan pengertian akuntabilitas yakni kewajiban-kewajiban dari individu-individu atau penguasa yang dipercayakan untuk mengelola sumber-sumber daya publik dan yang bersangkutan dengannya untuk dapat menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggungjawaban fiskal, manajerial dan program. 4 Ini berarti bahwa akuntabilitas berkaitan dengan pelaksanaan evaluasi (penilaian) mengenai standar pelaksanaan kegiatan, apakah standar yang dibuat sudah tepat dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dan apabila dirasa sudah tepat, manajemen memiliki tanggung jawab untuk mengimlementasikan standar-standar tersebut. Selain itu, Deklarasi Tokyo juga menambahkan bahwa akuntabilitas juga merupakan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam pencapaian hasil pada pelayanan publik. Dalam hubungan ini, diperlukan evaluasi kinerja yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pencapaian hasil serta cara-cara yang digunakan untuk mencapai semua itu. Pengendalian (control) sebagai bagian penting dalam manajemen yang baik adalah hal yang saling menunjang dengan akuntabilitas. Dengan kata lain pengendalian tidak dapat berjalan efisien dan efektif bila tidak ditunjang dengan mekanisme akuntabilitas yang baik demikian juga sebaliknya. 5 Definisi mengenai akuntabilitas yang disampaikan oleh Deklarasi Tokyo ini juga mendapat dukungan definitif dari LAN dan BPKP RI. Kontekstual definisi yang disampaikan
3

The Liang Gie dkk., dalam Alimaturahim. 2001. Pengelolaan Pembangunan yang Akuntabel: Pengalaman ORNOP di Lapangan. Bahan diskusi yang disajikan dalam Lokakarya Nasional tentang Akuntabilitas Publik dan Ornop yang diselenggarakan oleh SMERU bekerjasama dengan FES dan Universitas Satya Wacana di Hotel Century Saphyre, Yogyakarta, tanggal 14 Nopember 2001. Halaman 4.
4

http://www.dppka.jogjaprov.go.id/document/artiakuntabilitas.doc diakses pada 1 september 2011. Ibid.,

5

3|P ag e

dalam Deklarasi Tokyo seragam dengan apa yang disampaikan oleh LAN dan BPKP RI. Menurut Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan RI, akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/pimpinan suatu unit organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau yang berwenang meminta pertanggungjawaban. Akuntabilitas adalah hal yang penting untuk menjamin nilai-nilai seperti efisiensi, efektifitas, reliabilitas dan prediktibilitas. Suatu akuntabilitas tidak abstrak tapi kongkrit dan harus ditentukan oleh hukum melalui seperangkat prosedur yang sangat spesifik mengenai masalah apa saja yang harus dipertanggungjawabkan. 6

Dari semua definisi yang yag diungkapkan oleh para pakar, definisi yang disampaikan oleh LAN dan BPKP RI inilah yang dianggap lebih riil dan sesuai dengan kontekstual penelitian. Dengan skema seperti yang disampaikan oleh LAN dan BPKP RI , jelaslah bahwa definisi akuntabilitas berfungsi untuk menjamin poin-poin penting dalam organisasi seperti -nilai seperti efisiensi, efektifitas, reliabilitas dan prediktibilitas. Akuntabilitas yang disampaikan oleh LAN dan BPKP RI ini juga dapat melengkapi dan merangkum seluruh definisi yang disampaikan oleh beberapa pakar sebelumnya.

2. Mengukur Akuntabilitas Berkaitan dengan konsep akuntabilitas, menurut DPPKA Yogyakarta, media

akuntabilitas yang memadai dapat berbentuk laporan yang dapat mengekspresikan pencapaian tujuan melalui pengelolaan sumber daya suatu organisasi, karena pencapaian tujuan merupakan salah satu ukuran kinerja individu maupun unit organisasi. Tujuan tersebut dapat dilihat dalam rencana strategis organisasi, rencana kinerja, dan program kerja tahunan, dengan tetap berpegangan pada Rencana Jangka Panjang dan Menengah (RJPM) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

6

Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan RI. 2000. Akuntabilitas dan Good Governance, Modul 1-5, Modul Sosialisasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). LAN BPKP RI: Jakarta.

4|P ag e

Selain itu pemerintah juga mewajibkan pegawai untuk membuat Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAK). Dengan LAK seluruh instansi pemerintah dapat menyampaikan

pertanggungjawabannya dalam bentuk yang kongkrit ke arah pencapaian visi dan misi organisasi. Media akuntabilitas lain yang cukup efektif dapat berupa laporan tahunan tentang pencapaian tugas pokok dan fungsi dan target-target serta aspek penunjangnya seperti aspek keuangan, aspek sarana dan prasarana, aspek sumber daya manusia dan lain-lain. 7 Berbeda dengan pemerintah yang menggunakan LAK untuk mengukur akuntabilitas kinerja kepegawaian, menurut Alimaturahim, dalam upaya mewujudkan akuntabilitas secara internal, NGO seperti LSM telah merancang dan menerapkan sejumlah prosedur tetap (protap) yang akuntabel sehingga kinerja organisasi lebih memuaskan bagi para anggota. Protap-protap yang telah disusun dan diterapkan antara lain adalah protap pencarian dana (fundraising), protap pengelolaan keuangan, protap penetapan personil proyek, dan sebagainya. 8 Semua protap ini terus-menerus dievaluasi dan direvisi agar lebih akuntabel, akseptabel, dan efektif. Dalam pengelolaan kegiatan-kegiatan pembangunan, NGO pun telah mendesain dan menerapkan sejumlah instrumen pengelolaan pembangunan yang juga akuntabel.

3. Jenis-jenis Akuntabilitas

Menurut Bruce Stone, O.P. Dwivedi dan Joseph G. Jabbra terdapat 8 jenis akuntabilitas. Pada umumnya 8 jenis akuntabilitas yang disampaikan oleh Bruce dan Jabbra tersebut berkaitan dengan akuntabilitas moral, administratif, politik, manajerial, pasar, hukum dan peradilan, hubungan dengan konstituen dan profesional. 9 Akuntabilitas politik adalah akuntabilitas administrasi publik dari lembaga eksekutif pemerintah, lembaga legislatif parlemen dan lembaga yudikatif Kehakiman kepada publik. Sedangkan akuntabilitas administrasi adalah akuntabilitas administrasi publik dari aparatur pemerintahan yang diatur dalam aturan atau norma internal.
7

Ibid., Alimaturahim. Op.,cit.

8

9

Jabbra, Joseph G. 1989. Public Service Accountability: A Comparative Perspective. Kumarian Press: Hartford, CTs. ISBN 0783775814, 978-0783775814.

5|P ag e

Aturan norma tersebut akan dipertanggungjawabkan baik kepada atasan ataupun masyarakat secara luas. Dalam literatur lain, Jabbra dan Dwivedi justru membagi akuntabilitas hanya menjadi 5 jenis. Akuntabilitas Jabbra ini disusun berdasarkan kacamata pelayanan publik. Menurut Jabbra setidaknya ada 5 rincian perspektif akuntabilitas pelayanan publik. Adapun kelima jenis akuntabilitas tersebut adalah: 10 a. Administrative or Organizational accountability: Hubungan hierarkis yang tegas antara accountability pusat-tanggungjawab dengan unit pelaksana perintah baik dalam hubungan formal ataupun hubungan informal. b. Political accountability: The power of political authority to regulate, set priorities, redistribute resources and to ensure compliance with orderds the legitimacy of public program and eventually the survival of organization responsible for it, are matters of political accountability. c. Legal accountability: Legal accountability relates action in the legal accountability relates action in the public domain to the established legislative and judicial process (by court action or yudicial review as an administrative action). d. Professional accountability: Professional accountability demands that professionals in the public service should balance the code of their professions with the larger context of protecting the public interest. e. Moral accountability: Moral accountability wich subsumes administrative legal, political and professional dimensions, will then possible and only then can one hope to secure moral government. Secara terperinci teori yang disampaikan oleh Jabbra dan Dwivedi tentang 5 perspektif akuntabilitas pelayanan publik dapat digambarakan dalam gambar dibawah ini. Berikut merupakan ilustrasi gambarnya:
10

Jabbra, Dwivedi (Ed.). Akuntabilitas Pelayanan Publik. Dalam http://eprints.undip.ac.id/24290/1/Agus_Subroto.pdf diakses pada 1 september 2011.

6|P ag e

Gambar 1. Lima Perspektif Akuntabilitas Pelayanan Publik.

(Sumber: Jabbra dan Dwivedi Akuntabilitas Pelayanan Publik. 2011).

Berbeda dengan Dwivedi dan Jabbra yang membagi akuntabilitas menjadi 5 jenis, Sirajudin H Saleh dan Aslam Iqbal hanya membagi akuntabilitas menjadi dua, yaitu akuntabilitas internal dan eksternal. Akuntabilitas internal merupakan pertanggungjawaban seseorang kepada Tuhan-nya. Sedangkan akuntabilitas eksternal seseorang adalah akuntabilitas seseorang kepada lingkungannya baik lingkungan formal (atasan-bawahan) maupun lingkungan masyarakat.11 Kedua akuntabilitas ini harus dipertanggungjawabkan oleh seseorang sebaik mungkin, baik kepada Tuhan ataupun lingkungannya, sebagai salah satu bentuk pelaksanaan tugas yang telah diamanahkan kepada orang tersebut.

11

Sirajudin H Saleh & Aslam Iqbal. 1995. Accountability, Chapter I in a Book Accountability The Endless Prophecy edited by Sirajudin H Saleh and Aslam Iqbal. Asian and Pacific Develompent Centre.

7|P ag e