P. 1
Skenario PBL 3 Blok 30

Skenario PBL 3 Blok 30

|Views: 975|Likes:
Published by Desy Chery Maurits

More info:

Published by: Desy Chery Maurits on Apr 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

Skenario PBL 3 Blok 30 Seorang ibu muda bersama dengan seorang anak perempuannya yang baru berusia 11 tahun

datang ke poliklinik anak di sebuah Rumah Sakit. Setelah berada di dalam ruang periksa Dokter, si ibu menjelaskan bahwa anaknya mengeluh sakit bila ingin kencing sejak dua hari lalu. Dalam wawancara berikutnya dokter tidak memperoleh keterangan lain, maka dokter pun memulai melakukan pemeriksaan fisik pada si anak. Pada pemeriksan fisik dokter menemukan robekan lama selaput dara disertai dengan erosi dan peradangan jaringan vulva sisi kanan. Dokter berkesimpulan bahwa sangat besar kemungkinan telah terjadi “persetubuhan” beberapa hari sebelumnya. Dokterpun lebih intensif mengorek keterangan dari si anak dan si ibu. Akhirnya terungkaplah fakta bahwa si anak telah disetubuhi oleh seorang laki-laki yang telah lama dikenalnya sebagai pacar si ibu. Si ibu telah bercerai 3 tahun dengan suaminya (ayah dari si anak) dan saat ini sedang menjalin hubungan dengan laki-laki lain sebagai pacarnya. Si ibu meminta kepada dokter agar jangan membawa kasus ini ke polisi karena ia akan malu dibuatnya. Ia berjanji untuk memutuskan hubungan dengan laki-laki tersebut agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Dokter menilai bahwa pasien perlu dikonsultasikan kepada ahlinya. A. Pendahuluan Pemeriksaan suatu perkara pidana di dalam suatu proses peradilan pada hakekatnya adalah bertujuan untuk mencari kebenaran materiil (materiile waarheid) terhadap perkara tersebut. Undang undang No.8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pada pasal 184 ayat 1 yang menyebutkan : Alat bukti yang sah ialah : a. keterangan saksi b. keterangan ahli c. surat d. petunjuk e. keterangan terdakwa. Suatu kasus yang dapat menunjukkan bahwa pihak Kepolisian selaku aparat penyidik membutuhkan keterangan ahli dalam tindakan penyidikan yang dilakukannya yaitu pada pengungkapan kasus perkosaan. Kasus kejahatan kesusilaan yang menyerang kehormatan seseorang dimana dilakukan tindakan seksual dalam bentuk persetubuhan dengan menggunakan ancaman kekerasan atau kekerasan ini, membutuhkan bantuan keterangan ahli dalam penyidikannya. Keterangan ahli yang dimaksud ini yaitu keterangan dari dokter yang dapat membantu penyidik dalam memberikan bukti berupa keterangan medis yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai keadaan korban, terutama terkait dengan pembuktian adanya tanda-tanda telah dilakukannya suatu persetubuhan yang dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Terkait dengan peranan dokter dalam membantu penyidik memberikan keterangan medis mengenai keadaan korban perkosaan, hal ini merupakan upaya untuk mendapatkan bukti atau tanda pada diri korban yang dapat menunjukkan bahwa telah benar terjadi suatu tindak pidana
1

termasuk anak yang masih dalam kandungan. Sedangkan dalam Undang-Undang No 4 Tahun 1979 pasal 1 ayat 2 dijelaskan tentang pengertian anak adalah seorang yang belum mencapai usia 21 tahun atau belum pernah kawin.perkosaan. Dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 Tahun. Konsep dan Batasan Anak di Bawah Umur 1) Pengertian Anak Kelahiran anak (bayi) karena perkawinan mempunyai/menimbulkan akibat hukum. sedangkan dalam KUHP menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 17 tahun. sedangkan dalam KHA memberikan batasan anak di bawah umur adalah delapan belas tahun. kematangan pribadi dan kematangan mental seorang anak dicapai pada usia 21 tahun. Pembuktian terhadap unsur tindak pidana perkosaan dari hasil pemeriksaan yang termuat dalam visum et repertum. Dalam Konvensi Hak Anak menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 18 tahun. Sedangkan pengertian anak menurut pasal 45 KUHP adalah orang yang belum cukup umur. sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan memberikan batasan usia anak di bawah kekuasaan orang tua atau dibawah perwalian sebelum mencapai 18 tahun masih tergolong anak di bawah umur. 2. dengan belum cukup umur dimaksudkan adalah mereka yang melakukan perbuatan sebelum umur 16 tahun. Kejahatan Asusila terhadap Anak di bawah Umur 2 . Keterangan dokter yang dimaksudkan tersebut dituangkan secara tertulis dalam bentuk surat hasil pemeriksaan medis yang disebut dengan visum et repertum. Secara fakta psikologi anak usia 17 tahun masih labil sehingga batasan umur dalam KHA dirasa lebih tepat. C. Konsep dan Batasan anak dibawah umur Konsep dan batasan anak di bawah umur bertolak pada KUHP dan konvensi Hak-Hak Anak (KHA). Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak disebutkan bahwa anak sampai batas usia sebelum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin masih tergolong anak di bawah umur. tahap kematangan sosial. sedangkan dalam konvensi PBB tentang Hak-Hak Anak memberikan batasan anak di bawah umur adalah di bawah umur 18 tahun. Pengertian Anak. Peranan visum et repertum dalam pengungkapan suatu kasus perkosaan menunjukkan peran yang cukup penting bagi tindakan pihak Kepolisian selaku aparat penyidik. pendewasaan. Dalam lapangan hukum perdata akibat hukum ini berpokok kepada anak dan kewajiban seperti : kekuasaan orang tua. Batasan 21 tahun ini ditetapkan oleh karena berdasarkan pertimbangan kepentingan usaha sosial. dimana KUHP memberikan batasan anak di bawah umur adalah lima belas tahun. dalam Undang-Undang pemilu yang dikatakan anak di bawah umur adalah belum mencapai usia 17 tahun. perwalian. dan pengangkatan anak. B. pengakuan sahnya anak dan penyangkalan sahnya anak. menentukan langkah yang diambil pihak Kepolisian dalam mengusut suatu kasus perkosaan.

ketakutan. baik pada anak-anak maupun dewasa pada dasarnya sama dengan pada pasien lain. luka. Tindak kekerasan di sini diartikan sebagai setiap perilaku yang dapat menyebabkan keadaan perasaan atau tubuh (fisik) menjadi tidak nyaman. Tindak kekerasan dan kejahatan yang dimaksud adalah setiap perilaku yang dapat menyebabkan keadaan perasaan atau tubuh/fisik menjadi tindak nyaman. oral seks. dan sebagainya. dan kekerasan seksual (sexual abuse). kesedihan. atau kemarahan. korban dokter dan perawat terkait. Pemeriksaan pada Korban Pemeriksaan secara medis pada korban kejahatan seksual. memar. sedangkan keadaan fisik tidak nyaman bisa berupa: lecet. patah tulang. Perasaan tidak nyaman ini biasanya berupa kekhawatiran. kesedihan.  Waktu kejadian. Perasaan tidak nyaman ini bisa berupa: kekhawatiran. dan bentuk-bentuk kekerasan dan kejahatan yang pernah dialami oleh para korban berbeda-bedasa seperti perlakuan tidak senonoh. kejengkelan.  Apakah korban melawan ?  Pernah bersetubuh? Waktu  Apakah korban pingsan ? persetubuhan terakhir?  Apakah terjadi penetrasi Menggunakan kondom ?  Apakah terjadi ejakulasi ? 3 . tetapi yang menjadi pokok pembahasan penulis adalah kekerasan seksual terhadap anak-anak. perayuan. pemaksaan onani. memar. pencolekan. kekerasan fisik (physical abuse). 2) Anamnesis :  Umur. Bentuk-bentuk kekerasan dan kejahatan yang terjadi pada anak-anak dan si pelaku banyak tergantung pada kontek atau setting tempat yang memungkinkan terjadinya tindak kekerasan dan kejahatan terhadap anak-anak di bawah umur. terakhir. disusul kemudian dengan kekerasan mental dan kekerasan seksual. D.  Penyakit kelamin dan kandungan.  Tempat kejadian.Dari hasil penelitian oleh Lembaga Perlindunga Anak (LPA) jenis-jenis kekerasan yang dialami oleh anak-anak dibedakan menjadi tiga. luka. dan sebagainya. patah tulang.  Penyakit lain seperti ayan dll. kejengkelan. pemeriksaan fisik. ketakutan.  Status perkawinan. Setiap jenis kekerasan terdiri dari berbagai macam bentuk kekerasan dan kejahatan. ketersinggungan. yakni kekerasan mental (mental abuse). Keadaan fisik tidak nyaman bisa berupa lecet. atau kemarahan. yaitu anamnesis. ketersinggungan. dan pemeriksaan penunjang : 1) Ambil data-data Polisi. Jenis kekerasan fisik atau physical abuse adalah jenis kekerasan yang paling banyak dialami oleh anak-anak. anal seks dan pemerkosaan adalah bentuk kekerasan dan kejahatan yang sering dialami oleh anak-anak di bawah umur.  Haid : siklus.

pergelangan tangan. sperma. infeksi atau karena traksi labia mayor pada pemeriksaan)  Penebalan selaput dara (mungkin akibat estrogen. mungkin ada abuse. lengan. temuan tidak spesifik yaitu temuan yang mungkin sebagai akibat dari seksual abuse. paha  Trace evidence yang menempel pada tubuh. tergantung pada jarak saat pemeriksaan dan saat abuse. seperti uretra. tetapi mungkin juga akibat sebab lain atau merupakan varian yang normal  Eritema (kemerahan) vestibulum atau jaringan sekitar anus(dapat akibat zat iritan.  Tanda kekerasan : Mulut.  Pemeriksaan rutin lainnya. tetapi tidak cukup data yang menunjukkan bahwa abuse adalah satu-satunya penyebab. atau mungkin akibat infeksi vagina.  Perkembangan seks sekunder. juga ditemuka pada konstipasi)  Perdarahan pervaginam (mungkin berasal dari sumber lain.3) Periksa pakaian :  Robekan lama / baru / memanjang / melintang ?  Kancing putus.  Emosi tenang atau gelisah. Genitalia : Pada pemeriksaan fisik anak. bengkak karena infeksi ataun trauma)  Kulit genital semu (mungkin jumbai kulit atau kulit bukan genital mungkin Condyloma acuminata yang didapat bukan dari seksual)  Fisura ani (biasanya akibat konstipasi atau iritasi perianal)  Pendataran lipat anus (akibat relaksasi sfingter eksterna)  Pelebaran anus dengan adanya tinja (refleks normal)  Kongesti vena atau pooling vena (biasanya akibat posisi anak. infeksi atau iritan)  Adhesi labia ( mungkin akibat iritasi atau rabaan)  Friabilitas (retak) daerah posterior fourchette (akibat iritasi. terlipatnya tepi selaput.  Bercak darah. benda asing atau trauma yang aksidental  Dugaan kekerasan seksual (suggestive of sexual abuse) : Temuan pada anak yang telah memiliki riwayat abuse.  Tanda bekas pingsan. alkohol. 4) Pemeriksaan badan :  Rambut / wajah rapi atau kusut.  Pakaian dalam rapih atau tidak ?  Benda-benda yang menempel sebagai trace evidence. lumpur dll. Ambil contoh darah. narkotik. leher.  Tinggi dan berat badan. Riwayat sangat krusial dalam menentukan makna keseluruhannya : .

mungkin akibat keadaan medis lain seperti chron’s disease atau akibat tindakan medis sebelumnya) Pemeriksaan ekstra genital  Pemeriksaan terhadap pakaian dan benda-benda yang melekat pada tubuh  Deskripsikan luka  Pemeriksaan rongga mulut pada kasus oral sex  Scrapping pada kulit yang memiliki noda sperma  Pemeriksaan kuku jari korban untuk mencari material dari tubuh pelaku  Pemeriksaan anal 5) Deskripsikan mengenai adanya robekan. lalu beberapa waktu kemudian polisi mengajukan permintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum. atau di tempat praktek atas inisiatif korban sendiri tanpa permintaan polisi. keadaan fissura. air liur. Pembuatan Visum et Repertum Sebelum melakukan pemeriksaan. korban jangan diperiksa dahulu tetapi diminta untuk kembali kepada polisi dan datang bersama polisi.Pelebaran anus (notch atau cleft) selaput dara di daerah posterior. ada hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang dokter 1. iregularitas. Apabila terjadi hubungan seksual secara anal.  E. keadaan dermatologis seperti lichen sclerosus atau hemangioma)  Jejak gigitan atau hisapan di genitalia atau paha bagian dalam  Jaringan parut atau laserasi baru daerah posterior fourchette tanpa mengenai selaput dara( dapat akibat trauma aksidental)  Jaringan parut perianal (jarang. Apabila korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi. dan pemeriksaan pria tersangka. jaringan sekitar selaput dara atau perineum (mungkin akibat trauma aksidental. maka hasil pemeriksaan sebelumnya tidak boleh . laserasi atau memar labia. 6) Pemeriksaan laboratorium yang direkomendasikan seperti :  Pemeriksaan darah  Pemeriksaan cairan mani (semen)  Pemeriksaan kehamilan  Pemeriksaan VDRL  Pemerikaan serologis Hepatitis  Pemeriksaan Gonorrhea  Pemeriksaan HIV  Pemeriksaan rambut. dokter harus melakukannya berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. maka mungkin akibat kekerasan tumpul atau penetrasi sebelumnya)  Lecet akut. mencapai dekat dasar (sering merupakan artefak pada posisi pemeriksaan tertentu. Visum et Repertum dibuat hanya berdasarkan atas keadaan yang didapatkan pada tubuh korban pada saat permintaan Visum et Repertum diterima oleh dokter. tetapi bila konsisten pada beberapa posisi. Memiliki permintaan tertulis dari penyidik Untuk dapat melakukan pemeriksaan yang berguna untuk peradilan. Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. maka dapat terjadi perlukaan pada anus. Jika dokter telah memeriksa korban yang datang di rumah sakit.

Hasil pemeriksaan yang lalu tidak dicantumkan dalam bentuk Visum et Repertum. karena meskipun sudah ada surat permintaan dari polisi. . karena hal itu menentukan jenis delik (delik aduan atau bukan). Pada saat memeriksa. atau walinya. Pemeriksa harus menjelaskan terlebih dahulu tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan ke pengadilan. Jika korban sudah dewasa dan tidak ada gangguan jiwa. Sebagai dokter forensik pemeriksa bertugas mengumpulkan berbagai. Umur korban Umur korban amat perlu ditentukan pada pemeriksaan medis. keracunan. 2. 3. Oleh karena itu. Dalam melakukan pemeriksaan. Adanya kemungkinan terjadinya kehamilan atau penyakit akibat hubungan seksual (PHS) harus diantisipasi dan dicegah dengan pemberian obat-obatan. Pada kasus perkosaan dan delik susila lainnya perlu dikumpulkan informasi-informasi sebagai berikut : 1. tetapi dalam bentuk surat keterangan. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secepat mungkin Korban sebaiknya tidak dibiarkan menunggu dengan perasaan was-was dan cemas di kamar periksa. pemeriksa bertugas menegakkan diagnosis dan melakukan pengobatan. tempat yang digunakan sebaiknya tenang dan dapat memberikan rasa nyaman bagi korban.Visum et Repertum diselesaikan secepat mungkin agar perkara dapat cepat diselesaikan. Pengobatan terhadap luka dan keracunan harus dilakukan seperti biasanya. Informed Consent Sebelum memeriksa. korban. maka persetujuan diberikan oleh orang tuanya atau saudara terdekatnya.dicantumkan dalam Visum et Repertum karena segala sesuatu yang diketahui dokter tentang diri korban sebelum ada pemintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum merupakan rahasia kedokteran yang wajib disimpannya (KUHP pasal 322). penentuan usia korban dan pelacakan benda bukti yang berasal dari pelaku. hanya dokter. maka dia berhak memberi persetujuan. dokter harus mendapatkan surat ijin terlebih dahulu dari pihak korban. perawat. tanda persetubuhan. perlu dibatasi jumlah orang yang berada dalam kamar pemeriksaan. Sebagai dokter klinis. dan menyusun laporan visum et repertum. Selain itu. jenis pasal yang dilanggar dan jumlah hukuman yang dapat dijatuhkan. bagian yang akan diperiksa meliputi daerah yang bersifat pribadi. dan keluarga atau teman korban apabila korban menghendakinya. Sedangkan jika korban anak kecil dan jiwanya terganggu. Secara umum dokter bertugas mengumpulkan bukti adanya kekerasan. saudaranya atau pihak keluarga tidak berhak memberikan persetujuan. bukti yang berkaitan dengan pemenuhan unsur-unsur delik seperti yang dinyatakan oleh undang-undang. korban harus dibawa kembali untuk diperiksa dan Visum et Repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu permintaan diajukan. belum tentu korban menyetujui dilakukannya pemeriksaan atas dirinya. Pengobatan secara psikiatris untuk penanggulangan trauma pasca perkosaan juga sangat diperlukan untuk mengurangi penderitaan korban. Pencarian benda-benda bukti yang berasal dari pelaku pada tubuh atau pakaian korban dan tempat kejadian perkara merupakan hal penting yang paling sering dilupakan oleh dokter. Dalam hal demikian. dokter harus didampingi oleh seorang perawat atau bidan.

maka umur dapat langsung disimpulkan dari hal tersebut. Tanpa adanya kejelasan ini suatu kasus persetubuhan biasa bisa disalahtafsirkan sebagai perkosaan yang berakibat hukumannya menjadi lebih berat. Adanya penyakit keputihan akibat jamur Candida misalnya dapat menunjukkan adanya erosi yang dapat disalah artikan sebagai luka lecet oleh pemeriksa yang kurang berpengalaman. bibir kemaluan maupun daerah perineum. Adanya luka-luka jenis ini harus dinyatakan secara jelas dalam kesimpulan visum et repertum untuk menghindari kesalahan interpretasi oleh aparat penegak hukum. sedang gigi molar III pada usia 17 sampai 21 tahun. Jika setengah sampai seluruh mahkota molar III sudah mengalami mineralisasi (terbentuk) . Luka-luka yang terakhir ini memang merupakan kekerasan tetapi bukan kekerasan yang dimaksud pada delik perkosaan. Tanda penetrasi biasanya hanya jelas ditemukan pada korban yang masih kecil atau belum pernah melahirkan atau nullipara. Pada korban-korban ini penetrasi dapat menyebabkan terjadinya robekan selaput dara sampai ke dasar pada lokasi pukul 5 sampai 7. luka lecet. . luka lecet pada pergelangan tangan akibat pencekalan dsb.Dalam hal korban mengetahui secara pasti tanggal lahirnya/umurnya. Obat-obatan yang perlu diperiksa adalah obat penenang. Gigi molar II mengalami erupsi pada usia kurang lebih 12 tahun. seperti jejas bekapan pada hidung. memar sampai luka robek baik di daerah liang vagina. jejas cekik pada leher. perlu dilakukan foto ronsen gigi. Adanya luka-luka ini harus dibedakan dengan luka-luka akibat "foreplay" pada persetubuhan yang "biasa" seperti luka isap (cupang) pada leher. Tanda kekerasan Yang dimaksud dengan kekerasan pada delik susila adalah kekerasan yang menunjukkan adanya unsur pemaksaan. obat tidur. daerah payudara atau sekitar kemaluan. Kriteria sudah tidaknya wanita mengalami haid pertama atau menarche tak dapat dipakai untuk menentukan umur karena usia menarch saat ini tidak lagi pada usia 15 tahun tetapi seringkali jauh lebih muda dari itu. Pemeriksaan toksikologi untuk beberapa jenis obat-obatan yang umum digunakan untuk membuat orang mabuk atau pingsan perlu pula dilakukan. tapi akarnya belum maka usianya kurang dari 15 tahun.SIM dsb) . obat perangsang (termasuk ecstasy) dsb. karena tindakan membuat orang mabuk atau pingsan secara sengaja dikategorikan juga sebagai kekerasan. Tidak ditemukannya luka-luka tersebut pada korban yang bukan nulipara tidak menyingkirkan kemungkinan adanya penetrasi. Untuk wanita yang telah tumbuh molar IInya. mulut dan bibir. kekerasan pada kepala. luka lecet pada punggung atau bokong akibat penekanan. alkohol. Akan tetapi jika korban tak mengetahui umurnya secara pasti maka perlu diperiksa erupsi gigi molar II dan molar III. memar pada lengan atas dan paha akibat pembukaan secara paksa. cakaran pada punggung (yang sering -terjadi saat orgasme) dsb. Tanda persetubuhan Tanda persetubuhan secara garis besar dapat dibagi dalam tanda penetrasi dan tanda ejakulasi. apalagi jika dikuatkan oleh bukti diri (KTP.

kemungkinan adanya ejakulasi dapat disingkirkan. walaupun telah terbukti adanya kemungkinan perkosaan. pencegahan dengan memberikan pil kontrasepsi serta antibiotic lebih bijaksana dilakukan ketimbang menunggu sampai komplikasi tersebut muncul. Jika uji ini negatif. Khusus untuk dua hal terakhir. 1. Selain itu mereka juga sangat beresiko terhadap penyakit menular seksual dan mengalami kehamilan. kehamilan di usia dini bisa membahayakan bagi yang mengandung maupun janin yang dikandung. karena umumnya merupakan akibat ejakulasi di daerah luar vagina. Dampak Bagi Korban Dampak secara fisik yang dapat terjadi pada anak korban kekerasan seksual adalah mengalami infeksi di saluran reproduksinya. 2. Misalnya. kehamilan atau timbulnya penyakit kelamin harus dapat dideteksi secara dini. mengalami keputihan dan memar di bagian kelamin. Untuk mendapatkan informasi ini dapat dilakukan pemeriksaan kutikula rambut dan pemeriksaan golongan darah dan pemeriksaan DNA dari sampel yang positip sperma/maninya. Sebaliknya jika uji ini positif. Pelaku perkosaan Aspek pelaku perkosaan merupakan merupakan aspek yang paling sering dilupakan oleh dokter. Dengan demikian anak korban yang mengalami kehamilan membutuhkan pengawasan medis secara intensif. Jika yang akan diperiksa sampel berupa bercak peda pakaian dapat dilakukan pemeriksaan Baechi. Kendala utama pada pemeriksaan ini adalah jika sel sperma telah hancur bagian ekor dan lehernya sehingga hanya tampak kepalanya saja. Ejakulasi dibuktikan dengan pemeriksaan ada tidaknya sperma dan komponen cairan mani. F. Padahal tanpa adanya pemeriksaan ke arah ini. amatlah sulit menuduh seseorang sebagai pelaku pemerkosaan. liang vagina dan kulit yang menunjukkan adanya kerak. Adanya cairan mani dicari dengan pemeriksaan terhadap beberapa komponen sekret kelenjar kelamin pria (khususnya kelenjar prostat) yaitu spermin (dengan uji Florence). Untuk uji penyaring cairan mani dilakukan pemeriksaan fosfatase asam. Sel sperma positip merupakan tanda pasti adanya ejakulasi. Suatu temuan berupa sel sperma negatif tapi komponen cairan mani positip menunjukkan kemungkinan ejakulasi oleh pria yang tak memiliki sel sperma (azoospermi) atau telah menjalani sterilisasi atau vasektomi.Tanda ejakulasi bukanlah tanda yang harus ditemukan pada persetubuhan. Adanya rambut kemaluan yang menggumpal harus diambil dengan cara digunting. Bentuk trauma berbeda antara satu korban dengan korban . Dampak perkosaan Dampak perkosaan berupa terjadinya gangguan jiwa. Untuk mendeteksi ada tidaknya sel mani dari bahan swab dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopik secara langsung terhadap ekstrak atau dengan Pembuatan preparat tipis yang diwarnai dengan pewarnaan malachite green atau christmas tree. maka perlu dilakukan uji pemastian ada tidak sel sperma dan cairan mani. Akibat lain dari kasus kekerasan seksual adalah dampak psikologis berupa trauma yang dialami sebagian besar korban. cholin (dengan uji Berberio) dan zink (dengan uji PAN) . meskipun adanya ejakulasi memudahkan kita secara pasti menyatakan bahwa telah terjadi persetubuhan. Padahal. Usapan lidi kapas diambil dari daerah labia minora. dimana adanya sperma akan tampak berupa sel sperma yang terjebak diantara serat pakaian. Untuk mendeteksi kepala sperma semacam ini harus diyakini bahwa memang kepala tersebut masih memiliki topi (akrosom).

pelayanan medis secara intensif sangat diperlukan bagi korban. Peran Pekerja Sosial  Melakukan konseling untuk menguatkan dan memberikan rasa aman bagi korban. kepolisian. Dinas Kesehatan. Hal yang perlu ‘dikawal’ antara lain. apakah semua proses sudah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selama mendampingi proses hukum. korban juga membutuhkan pendampingan di bidang hukum. korban menjadi malu dan rendah diri. mimpi buruk atau ketakutan saat sendiri. Dengan berjaringan. LSM. Peranan LSM Untuk menangani kasus kekerasan seksual. G. apakah jaksa yang merupakan wakil korban di pengadilan juga sudah berperspektif pada korban. Sasaran : 1. .lainnya. apakah dalam penyidikan polisi sudah memperhatikan hak-hak anak. 3. Korban penganiayaan dan penelantaran anak. Korban kekerasan dalam rumahtangga. Pendampingan psikologis dapat dilakukan melalui dukungan kepada korban dan keluarga korban.  Memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan perlindungan dari kepolisian dan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. 4. Jaringan yang bisa dibangun misalnya antara rumah sakit. apakah hakim mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih berperspektif pada korban. dengan tujuan akhir adalah pemberdayaan perempuan. Banyak korban yang akhirnya harus pindah dari sekolah karena selalu menjadi bahan perbincangan guru dan teman di sekolahnya. Pusat krisis terpadu (PKT) bertujuan untuk memberikan pelayanan menyeluruh bagi parakorban kekerasan terhadap perempuan (KTP) dan anak (KTA). dalam mencapai derajat kesehatan secara optimal. Trauma ini tergantung dari usia korban serta bentuk kekerasan yang dialami korban. Korban kekerasan seksual pada anak. Dampak pada lingkungan sekitar korban Dampak lebih besar terjadi apabila lingkungan korban tidak mendukung korban. Selain dukungan medis dan psikologis. pengawalan terhadap proses hukum yang terjadi dalam setiap tahapnya sangatlah penting. medikolegal dan psikososial . Bappeda dan Masyarakat. Akibatnya. Trauma dapat berupa ketakutan bertemu dengan orang lain. Korban kekerasan seksual pada perempuan dewasa. Anak-anak korban ini rentan terhadap infeksi dan harus mendapatkan perawatan agar tidak mengganggu kesehatan reproduksi mereka di masa yang akan datang. Bahkan ada keluarga korban yang harus pindah tempat tinggal karena dianggap telah membuat cemar lingkungan tempat tinggalnya. 2. pemerintah melalui dinas terkait seperti Dinas Kesejahteraan Rakyat Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DKRPP-KB). mulai dari pendampingan di kepolisian sampai dengan proses di pengadilan. Karena itulah. 3. diperlukan kerjasama antara beberapa lembaga yang memiliki kepedulian terhadap korban. kerja yang dilakukan diharapkan akan lebih bersinergi. baik dibidang klinik. Banyak hal yang dapat dilakukan terhadap anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Dukungan ini akan menjadi kekuatan tersendiri bagi korban dan keluarga ketika menghadapi kasus tersebut.

288 dan 290 itu berakibat luka berat. 2. KUHP pasal 294 Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya.  Perkosaan . anak yang di bawah pengawasannya. Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286. pejabat. H.  Mendampingi korban di tingkat penyidikan. Untuk kasus-kasus semacam ini kita harus memilah termasuk kategori delik yang manakah kasus tersebut. atau bujangnya atau orang yang dibawah umur. Pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dibawahnya/ orang yang dipercayakan/ diserahkan kepadanya untuk dijaga. Pengurus. pemerintah daerah. Dengan itu dihukum juga: 1. atau masyarakat Peran Relawan Pendamping : Relawan Pendamping adalah orang yang mempunyai keahlian untuk melakukan konseling. Bentuk pelayanannya adalah:  Menginformasikan kepada korban akan haknya untuk mendapatkan seorang atau beberapa orang pendamping. dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun. dididiknya atau dijaganya. dan  Memberikan dengan aktif penguatan secara psikologis dan fisik kepada korban.  Mendengarkan secara empati segala penuturan korban sehingga korban merasa aman didampingi oleh pendamping. 287. 287. orang dibawah umur yang diserahkan kepadanya untuk dipelihara. dan advokasi guna penguatan dan pemulihan diri korban kekerasan. Aspek Hukum KUHP pasal 291 1. 289 dan 290 itu berakibat matinya orang. Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam apsal 285. 2. dokter. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun. yang masing masing mempunyai kriteria dan hukuman yang berbeda satu sama lain. pengurus atau bujang di penjara. dan  Melakukan koordinasi yang terpadu dalam memberikan layanan kepada korban dengan pihak kepolisian. tempat pendidikan. guru. Penentuan Jenis Delik Suatu laporan tentang seorang yang disetubuhi atau dilecehkan secara seksual oleh seseorang lainnya tidak selalu berarti kasusnya adalah perkosaan. penuntutan atau tingkat pemeriksaan pengadilan dengan membimbing korban untuk secara objektif dan lengkap memaparkan kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya. 286. Pelayanan pekerja sosial dilakukan di rumah aman milik pemerintah. di tempat bekerja kepunyaan negeri. rumah piatu. RS gila atau lembaga semua yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan kesitu. dinas sosial. lembaga social yang dibutuhkan korban. anak tirinya atau anak piaraannya. Mengantarkan korban ke rumah aman atau tempat tinggal alternatif. dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya 12 tahun. terapi.

menjadi penghubung bagi perbuatan cabul terhadap korban yang belum cukup umur diancam dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun (pasal 295 KUHP). I.  Perbuatan cabul Seseorang yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. Perbuatan cabul yang dilakukan terhadap orang yang belum dewasa oleh sesama jenis diancam hukuman penjara maksimal 5 tahun (pasal 291 KUHP). Perbuatan cabul yang dilakukan dengan cara pemberian. Diferensial Diagnosa . Termasuk dalam kategori kekerasan disini adalah dengan sengaja membuat orang pingsan atau tidak berdaya (pasal 89 KUHP). dengan bujang atau bawahan yang belum dewasa diancam dengan hukuman penjara maksimal 7 tahun. Hukuman perbuatan cabul lebih ringan. anak tiri. anak angkat. menyalahgunakan wibawa atau penyesatan terhadap orang yang belum dewasa diancam dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun (pasal 293 KUHP) . Perzinahan ini diancam dengan hukuman pen]ara selama maksimal 9 bulan. tidak berdaya. Khusus untuk yang usianya dibawah 12 tahun maka untuk penuntutan tidak diperlukan adanya pengaduan. maka ia diancam dengan hukuman penjara maksimal 9 tahun (pasal 289 KUHP). Untuk perbuatan yang terakhir ini pelakunya dapat dihukum maksimal 9 tahun penjara (pasal 286 KUHP) jika persetubuhan dilakukan terhadap wanita yang diketahui atau sepatutnya dapat diduga berusia dibawah 15 tahun atau belum pantas dikawin maka pelakunya dapat diancam hukuman penjara maksimal 9 tahun. pemeliharaan. Untuk penuntutan ini harus ada pengaduan dari korban atau keluarganya (pasal 287 KUHP) . Perbuatan cabul yang dilakukan terhadap anak.  Persetubuhan diluar perkawinan Persetubuhan diluar perkawinan antara pria dan wanita yang berusia diatas 15 tahun tidak dapat dihukum kecuali jika perbuatan tersebut dilakukan terhadap wanita yang dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya.  Perzinahan Perzinahan adalah persetubuhan antara pria dan wanita diluar perkawinan.Menurut KUHP pasal 285 perkosaan adalah dengan kekerasan atau ancaman kekerasan menyetubuhi seorang wanita di luar perkawinan. menjanjikan uang atau barang. Orang yang dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan. Khusus untuk delik ini penuntutan dilakukan oleh pasangan dari yang telah kawin tadi yang diajukan dalam 3 bulan disertai gugatan cerai/pisah kamar/pisah ranjang. yaitu 7 tahun saja jika perbuatan cabul ini dilakukan terhadap orang yang sedang pingsan. berumur dibawah 15 tahun atau belum pantas dikawin dengan atau tanpa bujukan (pasal 290 KUHP). pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya. dimana salah satu diantaranya telah kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya. anak yang belum dewasa yang pengawasan. Hukuman maksimal untuk delik perkosaan ini adalah 12 tahun penjara.

gangguan pertumbuhan serta anoreksia. muntah dan diare. kolik (anak menjerit keras). . Klebsiela. Namun demikian sulit membedakan infeksi saluran kemih bagian atas dan bagian bawah berdasarkan gejala klinis saja. buli-buli.  Pada pemeriksaan fisik lain kemungkinan ditemukan tanda kekerasan berupa memar. TBC. polakisuria. Setelah dokter memeriksa si anak ternyata ditemukan adanya robekan lama selaput dara disertai dengan adanya erosi dan peradangan jaringan vulva sisi kanan. muntah. koma. diare. Interpretasi Kasus dan Kesimpulan Pada skenario ditulis bahwa keluhan utama si ibu membawa anak perempuannya yang berusia 11 tahun ke poliklinik anak adalah karena anaknya mengeluh sakit bila ingin kencing sejak 2 hari yang lalu. 1 bln-2 thn : Panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya. anoreksia. ikterus (sepsis). air kemih berbau/berubah warna. sering buang air kecil (frequency). anoreksia. Gejala infeksi saluran kemih berdasarkan umur penderita adalah sebagai berikut : 0-1 Bulan : Gangguan pertumbuhan. gejala gejala sistemik. virus dan bentuk L bakteri protoplas. 6-18 thn: Nyeri perut/pinggang. Gejala Klinis Gejala klinis infeksi saluran air kemih bagian bawah secara klasik yaitu nyeri bila buang air kecil (dysuria). nyeri di daerah pinggang belakang. tak dapat menahan kencing. bekas gigitan. piala ginjal sampai jaringan ginjal. Stafilokokus Aureus. tanda kuku dan lain-lain. tidak dapat menahan kencing. dan ngompol. kejang. enuresis. kadang-kadang disertai nyeri perut/pinggang. Sedangkan keluhan sakit bila kencing kemungkinan merupakan sexual transmitted disease. Infeksi ini dapat berupa : Pielonefritis akut Pielonefritis kronik Infeksi saluran air kemih berulang Bakteriuria bermakna Bakteriuria asimtomatis Etiologi Kuman penyebab infeksi saluran air kemih : Kuman gram negatif : E. Gejala infeksi saluran kemih bagian bawah biasanya panas tinggi. kuman anaerob. polakisuria. J. 2-6 thn : Panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya. air kemih berbau dan berubah warna. Dokter berkesimpulan bahwa sangat besar kemungkinan telah terjadi “persetubuhan”. panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya. mulai dari uretra. disuria. gangguan pertumbuhan. Streptokokus fecalis. muntah. diare. jamur. Proteus. koma. kejang. enuresis. panas tanpa diketahui sebabnya. disuria. dan Pseudomonas. ureter. air kemih berbau dan berubah warna.  Robekan lama selaput dara disertai adanya erosi dan peradangan jaringan vulva merupakan tanda-tanda persetubuhan. Enterobakter.Infeksi Saluran kemih Infeksi saluran air kemih adalah infeksi yang terjadi pada saluran air kemih.Coli (85%).

Dokter spesialis obgyn akan memeriksa lebih teliti tentang adanya tanda-tanda persetubuhan baik dengan anamnesis. Seorang psikolog bisa membantu gangguan yang mungkin timbul pada mental korban dan bisa mengusulkan cara yang terbaik yang dapat ditempuh sebagai penyelesaian tindak pidana. pemeriksaan fisik dengan memperhatikan perkembangan tanda seks sekunder. dan swab oral. kerokan kuku jika korban mengaku mencakar pelaku) sesuai prosedur. Bila terjadi kasus seperti ini. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.pemeriksaan genitalia.Cetakan ke-2. dan dengan memudahkan terjadinya persetubuhan dan atau percabulan pada anaknya. maka dianggap persetubuhan tadi terjadi tanpa persetujuan (consent) si anak. disamping lebih penting adanya aturan untuk menjamin agar korban memperoleh kepastian dan prosedur hukum. psikologis. Disinilah pentingnya UU Perlindungan Anak dan UU KDRT harus diterapkan oleh aparat penegak hukum. serta pemeriksaan lab yang menunjang misalnya swab vagina. jadi bukan menggunakan KUHP saja Daftar Pustaka 1.1997. . bila terjadi persetubuhan. Dokter juga harus menjelaskan pada ibu si anak bahwa kasus ini adalah tindak pidana yang harus dilaporkan pada polisi. Dokter spesialis forensik akan mengumpulkan semua barang bukti yang mungkin tertinggal (pakaian korban. Ilmu Kedokteran Forensik. rehabilitasi baik selama proses hukum dan sesudahnya serta reintegrasi agar korban diterima sebagai manusia dengan hak-haknya yang harus dipenuhi di masyarakat baik oleh keluarga. masyarakat dan pemerintah. dan memuatnya dalam bentuk Visum et Repertum. ia dapat dituntut dengan delik pidana pasal 295 KUHP dengan ancaman penjara 5 tahun. Dokter juga bisa merujuk pada spesialis obgyn dan dokter spesialis forensic atau specialis jiwa ataupun seorang psikolog. tanpa memandang si anak menyetujui atau tidak persetubuhan itu. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik . Pada pemeriksaan lab bisa saja ditemukan sisa sperma atau cairan mani pada usap vagina di fornix posterior ataupun pada pakaian dalam korban. bite mark. Hukum dalam kasus ini menyebutkan bahwa tiap orang dengan umur di bawah 18 tahun yang belum menikah sebagai orang yang belum mampu membuat pertimbangan dan keputusan untuk suatu perbuatan hukum. Dalam kasus ini. sebagai dokter kita harus mengetahui bahwa persetubuhan di luar perkawinan dengan anak di bawah umur 12 tahun adalah tindak pidana sesuai pasal 287 ayat 1 dan 2 KUHP. Pengkategorian KDRTA sebagai kejahatan menjadi penting. dan menjelaskan bahwa dengan menyembunyikan suatu tindak pidana dia sendiri bisa dihukum. medis.

id .usu. 2008.go.co. Aspek-Aspek Fisik/ Medis serta Peran Pusat Krisis dan Trauma dalam Penanganan Jirban Tindak Kekerasan. Psikososial. Surja Atmadja. 5.com Bag/ SMF Ilmu Kesehatan Anak.com 2007 Syaiful Saanin. Sulaiman Zuhdi Manik . Pelecehan Seksual pada Anak. Diunduh dari www. http://focalpointgender. Djaja. Tangga. M. 8.scribd.blogspot. Di unduh dari www.com.library.2.Penanganan Kasus Kekerasan Terhadap Anak dalam Rumah 3.pediatrik.kabarindonesia. Pemeriksaan Forensik pada Kasus Perkosaan dan Delik Aduan Lainnya.id 2008 7. . pada tanggal 19 Januari 2010. Padang. Tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga. Diunduh dari www. 2007 4. Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya.kejaksaan. Diunduh dari http://reproduksiumj. Djamil. 8 Januari 2010. Infeksi Saluran Kemih diunduh dari www.com 2009 6. IRD RS Dr.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->