You are on page 1of 18

Laporan Simulasi Kasus

DISENTRI BASILER
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Farmasi Kedokteran

Oleh : Devinta Ifandari Tenno Ukaga Wida Hidayati I1A005086 I1A005042 I1A003028

Pembimbing Isnaini, Msi, Apt

Laboratorium Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Maret, 2011

1

Kebanyakan kuman penyebab disentri basiler ditemukan di negara berkembang dengan kesehatan lingkungan yang masih kurang. sanitasi lingkungan dan kondisi sosial ekonomi serta kultural yang menunjang. (2) Di dunia sekurangnya 200 juta kasus dan 650. Dan di Negara-negara 1 berkembang Shigella flexeneri dan S.000 kematian terjadi akibat disentri basiler pada anak-anak di bawah umur 5 tahun. Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri (disentri basiler) dan amoeba (disentri amoeba) (1). (2) Spesies Entamoeba menyerang 10% populasi didunia. (7) 2 . insiden disentri amoeba mencapai 1-5% sedangkan disentri basiler dilaporkan kurang dari 500. dysentriae menyebabkan 600. higiene individu.BAB I PENDAHULUAN I.000 kematian per tahun. Sedangkan angka kejadian disentri amoeba di Indonesia sampai saat ini masih belum ada. Sedangkan pada shigella di Ameriksa Serikat menyerang 15.000 kasus tiap tahunnya. Afrika dan Amerika selatan(6). Di Amerika Serikat. Disentri amoeba tersebar hampir ke seluruh dunia terutama di negara yang sedang berkembang yang berada di daerah tropis.000 kasus. 1 Latar Belakang Disentri merupakan tipe diare yang berbahaya dan seringkali menyebabkan kematian dibandingkan dengan tipe diare akut yang lain. Hal ini dikarenakan faktor kepadatan penduduk. akan tetapi untuk disentri basiler dilaporkan 5% dari 3848 orang penderita diare berat menderita disentri basiler. Penyakit ini biasanya menyerang anak dengan usia lebih dari 5 tahun. Prevalensi yang tinggi mencapai 50 persen di Asia.

makanan.bondii dan S. Shigella adalah basil non motil. Kuman Shigella secara genetik bertahan terhadap pH yang rendah. nekrosis superfisial. (2) Kolon merupakan tempat utama yang diserang Shigella namun ileum terminalis dapat juga terserang. S. family enterobacteriaceae. sedang pada ilium hanya hiperemik saja. disebabkan oleh Shigella. Kelainan yang terberat biasanya di daerah sigmoid. Penyakit ini kadang-kadang bersifat ringan dan kadang-kadang berat. yaitu S. lebam dan tebal.sonnei. maka seseorang dapat terinfeksi beberapa kali oleh tipe yang berbeda. Karena kekebalan tubuh yang didapat bersifat serotipe spesifik. disertai eksudat inflamasi yang mengandung leukosit polymorfonuclear (PMN) dan darah.I. Secara klinis mempunyai tanda-tanda berupa diare. tapi biasanya tanpa ulkus.flexneri. dan lalat yang tercemar oleh ekskreta pasien. Ditularkan secara oral melalui air. Suatu keadaan lingkungan yang jelek akan menyebabkan mudahnya penularan penyakit. gram negatif. Ada 4 spesies Shigella. perut terasa sakit dan tenesmus. 3 Patogenesis dan Patofisiologis Semua strain kuman Shigella menyebabkan disentri. Terdapat 43 serotipe O dari shigella. Genus ini memiliki kemampuan menginvasi sel epitel intestinal dan menyebabkan infeksi dalam jumlah 102-103 organisme. S. I.dysentriae.sonnei adalah satu-satunya yang mempunyai serotipe tunggal. adanya lendir dan darah dalam tinja. dengan konsistensi tinja biasanya lunak. Pada keadaan akut dan fatal ditemukan mukosa usus hiperemik. S. 2 Etiologi Disentri basiler. yaitu suatu keadaan yang ditandai dengan diare.sp. Setelah melewati lambung dan usus halus. kuman ini menginvasi sel epitel mukosa kolon dan berkembang biak didalamnya. Pada 3 . maka dapat melewati barrier asam lambung.

S. 4 Gejala Klinis Disentri Basiler memiliki masa tunas berkisar antara 7 jam sampai 7 hari. ShET2. (6) Bentuk klinis dapat bermacam-macam dari yang ringan.dysentriae. dysentriae. Pada fase awal pasien mengeluh nyeri perut bawah. Lama gejala rerata 7 hari sampai 4 minggu. Dapat terjadi perlekatan dengan peritoneum. suhu badan subnormal. Enterotoksin tersebut merupakan salah satu faktor virulen sehingga kuman lebih mampu menginvasi sel eptitel mukosa kolon dan menyebabkan kelainan pada selaput lendir yang mempunyai warna hijau yang khas. tenesmus. Sakit perut terutama di bagian sebelah kiri. Selanjutnya diare berkurang tetapi tinja masih mengandung darah dan lendir. Gejalanya timbul mendadak dan berat. Bentuk yang berat (fulminating cases) biasanya disebabkan oleh S. renjatan septik dan dapat meninggal bila tidak cepat ditolong. muntah-muntah. turgor 4 . dan S. dan nafsu makan menurun.5 cm sehingga dinding usus menjadi kaku.flexeneri. diare disertai demam yang mencapai 400C. dan neurotoksik. terasa melilit diikuti pengeluaran tinja sehingga mengakibatkan perut menjadi cekung. Akibatnya timbul rasa haus. berak-berak seperti air dengan lendir dan darah.sonei menghasilkan eksotoksin antara lain ShET1. tepi ulkus menebal dan infiltrat tetapi tidak berbentuk ulkus bergaung. yang mempunyai sifat enterotoksik. (6) I. dan toksin Shiga. dan pada selaput lendir lipatan transversum didapatkan ulkus yang dangkal dan kecil. tidak rata dan lumen usus mengecil. kulit kering dan dingin. Pada infeksi yang menahun akan terbentuk selaput yang tebalnya sampai 1. berjangkitnya cepat. sedang sampai yang berat.keadaan subakut terbentuk ulkus pada daerah folikel limfoid. sitotoksik. cepat terjadi dehidrasi. S.

Polymerase Chain Reaction (PCR). Hal ini dapat mendeteksi toksin di tinja pada sebagian besar penderita yang terinfeksi S. dapat berupa seperti gejala kolera atau keracunan makanan. Pemeriksaan tinja secara langsung terhadap kuman penyebab serta biakan hapusan (rectal swab). Perkembangan penyakit ini selanjutnya dapat membaik secara perlahan-lahan tetapi memerlukan waktu penyembuhan yang lama. terdapat serangan seperti kasus akut secara menahun.coli. Muka menjadi berwarna kebiruan. Pada kasus yang sedang keluhan dan gejalanya bervariasi. Berbeda dengan kasus yang menahun. Kadang-kadang gejalanya tidak khas. 5 . Untuk itu diperlukan tinja yang baru. mungkin dapat mengandung sedikit darah/lendir. anuria dan koma uremik. (2) I. Angka ini bertambah pada keadaan malnutrisi dan keadaan darurat misalnya kelaparan. tetapi belum dipakai secara luas. Kejadian ini jarang sekali bila mendapat pengobatan yang baik. Enzim immunoassay. ekstremitas dingin dan viskositas darah meningkat (hemokonsentrasi). 5 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan tinja.dysentriae tipe 1 atau toksin yang dihasilkan E. tinja biasanya lebih berbentuk. keluhan/gejala tersebut di atas lebih ringan. Kematian biasanya terjadi karena gangguan sirkulasi perifer. Angka kematian bergantung pada keadaan dan tindakan pengobatan. Pemeriksaan ini spesifik dan sensitif. Sedangkan pada kasus yang ringan. Untuk menemukan carrier diperlukan pemeriksaan biakan tinja yang seksama dan teliti karena basil shigela mudah mati .kulit berkurang karena dehidrasi.

Sebelum pemeriksaan sitologi ini.flexneri aglutinasi antibody sangat kompleks. 6 Diagnosis Banding Diagnosis banding untuk diare darah adalah : Disentri basiler Penyakit ini biasanya timbul secara akut. dilakukan pengerokan daerah sigmoid. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada stadium lanjut. Hal ini terjadi karena aglutinin terbentuk pada hari kedua. Kadang-kadang tertutup dengan eksudat. Aglutinasi. maksimum pada hari keenam. 6 . dan oleh karena adanya banyak strain maka jarang dipakai. Tinja biasanya kecil-kecil.Sigmoidoskopi. Sebagian besar lesi berada di bagian distal kolon dan secara progresif berkurang di segmen proksimal usus besar. tenesmus akan tetapi sakit biasanya sifatnya umum.dysentriae aglutinasi dinyatakan positif pada pengenceran 1/50 dan pada S. sering disertai adanya toksemia. Daerah yang terserang biasanya sigmoid dan dapat juga menyerang ileum. berlendir. alkalis. bila tinja berbentuk dilapisi lendir. Pada S. banyak. nanah dan berdarah. (2) I. Biasanya daerah yang terserang akan mengalami hiperemia superfisial ulseratif dan selaput lendir akan menebal. tak berbau. Endoskopi Gambaran endoskopi memperlihatkan mukosa hemoragik yang terlepas dan ulserasi.

tenesmus jarang dan sakit berbatas. nyeri kejang abdomen. terus menerus. Diare pada mulanya cair tapi beberapa hari menjadi berdarah (kolitishemoragik). ulserasi atau perdarahan dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear dengan khas edem mukosa dan submukosa. berdarah. Escherichia coli Enterohemoragik (EHEC) Manifestasi klinis dari EHEC dapat menyebabkan penyakit diare sendiri atau dengan nyeri abdomen. Meskipun gambarannya sama dengan Shigelosis yang membedakan adalah terjadinya demam yang merupakan manifestasi yang tidak lazim. jarang mengenai ileum. Eschericiae coli Escherichia coli Enteroinvasive (EIEC) Patogenesisnya seperti Shigelosis yaitu melekat dan menginvasi epitel usus sehingga menyebabkan kematian sel dan respon radang cepat (secara klinis dikenal sebagai kolitis).Disentri amuba Timbulnya penyakit biasanya perlahan-lahan. Lokasi tersering daerah sekum dan kolon asendens. asam. Toksemia ringan dapat terjadi. Manifestasi klinis berupa demam. dan diare cair atau darah. 7 . Serogroup ini menyebabkan lesi seperti disentri basiller. diare awal tidak ada/jarang. bila berbentuk biasanya tercampur lendir. tenesmus. toksisitas sistemik. Beberapa infeksi disertai dengan sindrom hemolitik uremik. Ulkus yang ditimbulkan dengan gaung yang khas seperti botol. Tinja biasanya besar.

tanda HUS dapat berupa oliguria.000/mikro liter).dysentriae tipe 1 dan S.000100. Pada fase akut infeksi Shigella. Pada disentri subakut gejala klinisnya serupa dengan colitis ulserosa.dysentriae tipe 1 adalah haemolytic uremic syndrome (HUS).000/mikro liter). Untuk memastikan diagnosis dilakukan kultur dari bahan tinja segar atau hapus rektal. (6) I. Pemeriksaan mikroskopik tinja menunjukkan adanya eritrosit dan leukosit PMN. SHU diduga akibat adanya penyerapan enterotoksin yang diproduksi oleh Shigella. perubahan kesadaran dan sikap yang aneh. trombositopenia (30. Komplikasi lain akibat infeksi S. Perbedaan utama adalah kultur Shigella yang positif dan perbaikan klinis yang bermakna setelah pengobatan dengan antibiotic yang adekuat. Tanda. Dapat pula terjadi reaksi leukemoid (leukosit lebih dari 50.I. 8 Komplikasi Beberapa komplikasi ekstra intestinal disentri basiler terjadi pada pasien yang berada di negara yang masih berkembang dan seringnya kejadian ini dihubungkan dengan infeksi S. yaitu pada saat disentri basiler mulai membaik. 8 . 7 Diagnosis Disentri basiler dicurigai adanya Shigellosis pada pasien yang datang dengan keluhan nyeri abdomen bawah. penurunan hematokrit (sampai 10% dalam 24 jam) dan secara progresif timbul anuria dan gagal ginjal atau anemia berat dengan gagal jantung. hiponatremia. Biasanya HUS ini timbul pada akhir minggu pertama disentri basiler.flexneri pada pasien dengan status gizi buruk. tes serologi tidak bermanfaat. dan diare. hipoglikemia berat bahkan gejala susunan saraf pusat seperti ensefalopati.

akan tetapi keluhan artsitis dapat berlangsung selama berbulan-bulan. walaupun hal ini jarang terjadi. mencegah atau memperbaiki dehidrasi dan pada kasus yang berat diberikan antibiotika. prolaps rectal dan perforasi juga dapat muncul. Penyembuhan dapat sempurna. Komplikasi intestinal seperti toksik megakolon. Jika frekuensi buang air besar terlalu sering. (2) I. cairan 9 . Akan tetapi jika penderita tidak muntah. bahkan dapat pula terjadi obstruksi usus. dehidrasi akan terjadi dan berat badan penderita turun. Akan tetapi peritonitis karena perforasi jarang terjadi.dysentriae yang toksik namun hal ini jarang sekali terjadi. Komplikasi lain yang dapat timbul adalah bisul dan hemoroid. Dalam keadaan ini perlu diberikan cairan melalui infus untuk menggantikan cairan yang hilang. Neuritis perifer dapat terjadi setelah serangan S. Cairan dan elektrolit Dehidrasi ringan sampai sedang dapat dikoreksi dengan cairan rehidrasi oral. Sedangkan stenosis terjadi bila ulkus sirkular pada usus menyembuh.Artritis juga dapat terjadi akibat infeksi S.flexneri yang biasanya muncul pada masa penyembuhan dan mengenai sendi-sendi besar terutama lutut. 9 Pengobatan Prinsip dalam melakukan tindakan pengobatan adalah istirahat. Kalaupun terjadi biasanya pada stadium akhir atau setelah serangan berat. Hal ini dapat terjadi pada kasus yang ringan dimana cairan sinovial sendi mengandung leukosit polimorfonuklear. Peritonitis dengan perlekatan yang terbatas mungkin pula terjadi pada beberapa tempat yang mempunyai angka kematian tinggi. Bersamaan dengan artritis dapat pula terjadi iritis atau iridosiklitis.

dapat diberikan melalui minuman atau pemberian air kaldu atau oralit. Resistensi terhadap sulfonamid. diberikan asam nalidiksik dengan dosis 3 x 1 10 . namun apabila ternyata dalam uji resistensi kuman 19 terhadap ampisilin masih peka. susu tanpa gula mulai dapat diberikan. streptomisin. Bila tidak ada perbaikan. antibiotika diganti dengan jenis yang lain. kemudian diberikan makanan ringan biasa bila ada kemajuan. bila telah terdiagnosis shigelosis pasien diobati dengan antibiotika. Kuman Shigella biasanya resisten terhadap ampisilin. Dosis siprofloksasin yang dipakai adalah 2 x 500 mg/hari selama 3 hari sedangkan azithromisin diberikan 1 gram dosis tunggal dan sefiksim 400 mg/hari selama 5 hari. kloramfenikol dan tetrasiklin hampir universal terjadi. Pengobatan spesifik Menurut pedoman WHO. Bila penderita berangsur sembuh.dysentriae tipe 1 yang multiresisten terhadap obat-obat. Pemakaian jangka pendek dengan dosis tunggal fluorokuinolon seperti siprofloksasin atau makrolide azithromisin ternyata berhasil baik untuk pengobatan disentri basiler. Pemberian siprofloksasin merupakan kontraindikasi terhadap anak-anak dan wanita hamil. Di negara-negara berkembang di mana terdapat kuman S. Amoksisilin tidak dianjurkan dalam pengobatan disentri basiler karena tidak efektif. maka masih dapat digunakan dengan dosis 4 x 500 mg/hari selama 5 hari. dosis yang diberikan 2 x 960 mg/hari selama 3-5 hari. Diet Diberikan makanan lunak sampai frekuensi berak kurang dari 5 kali/hari. Begitu pula dengan trimetoprimsulfametoksazol. terapi diteruskan selama 5 hari. Jika setelah 2 hari pengobatan menunjukkan perbaikan.

dan pasien sudah berusaha minum banyak agar tidak kekurangan cairan. BAB II SIMULASI KASUS 2.00 dengan keluhan berak-berak. agak encer. Pasien juga sudah 11 . ada lendir dan ada darah sedikit. datang ke dokter jam 18.3 Banjarmasin. 27 tahun. alamat Jalan Pramuka No. Tidak ada antibiotika yang dianjurkan dalam pengobatan stadium carrier disentri basiler. karena mual dan muntah kalau dipaksa makan. Berak-berak sudah 2 hari. Makan susah. minum bisa.1 Kasus Tn. Basith. pekerjaan satpam kantor Pemda.gram/hari selama 5 hari.

bibir agak kering Thorax Abdomen Ekstremitas : bunyi jantung S1 dan S2 tunggal.4 Daftar Kelompok Obat beserta Jenisnya untuk Disentri basiler 12 . nyeri tekan abdomen difus : dalam batas normal Pemeriksaan feses : Leukosit (+).berusaha minum obat Diapet 3 biji dalam sehari. bunyi nafas vesikuler : bising usus meningkat. terasa di seluruh perut. terutama bila mau berak. Mengatasi atau mengurangi gejala serangan disentri Pengobatan Simptomatik : • • Mencegah dan mengatasi gangguan elektrolit dan cairan (dehidrasi) Menurunkan demam 2. sehingga badan terasa agak lemas.2 Tujuan Pengobatan Pengobatan Kausatif : • • mengeradikasi Bakteri shigella dari dalam tubuh. darah. tapi masih saja berak-berak. Perut mulas-mulas tidak keruan. Pemeriksaan Fisik : Tanda vital : TD N RR T : 110/70 mmHg : 88 x/’ : 24 x/’ : 380 C Kepala dan leher : dalam batas normal. eritrosit (+). tidak ditemukan mikroba Diagnosis : Disentri basiler 2. Hari ini berak-beraknya masih 5 kali. Badan agak menggigil tadi pagi.

Keamanan dan Kecocokan Kelompok Khasiat Keamanan BSO Kecocokan (Kontra Obat/Jenisnya (efek) (Efek Samping Obat) Indikasi BSO) Penicillin Antibiotik Hipersensitivitas terhadap  . mual. (Ampisilin) penisilin penisilin encephalitis. anemia. diare.  Renal : Interstisisal nephritin (jarang)  Respiratory : Laringuela stidor  Miscellaneous : 13 . enterochollitis. SSP : Demam. stomatitis.5 Perbandingan Kelompok Obat/jenisnya menurut Khasiat. 3.  GI : Lidah hitam berambut. sakit mulut dan lidah. urticaria. muntah. glossitis.  Hepatik : AST meningkat.pseudomembr anouscollitis. eosinophilia. Antipiretik Larutan elektrolit Nama Obat Golongan Penicillin (Ampicillin) Golongan makrolid (Azitromicin) Golongan kuinolon (Siprofloksazin) Asetaminofen (Parasetamol) Garam oralit (Oralit) 2. Antibiotik 2.No Kelompok Obat 1. kejang  Kulit : Erythema multifom. leukopenia. trombocytopenia purpura. rash. hemolitik anemia.  Hematologi :Agranulositosis.

diare. 250 14 .Anaphilaxis Makrolid (Azitromisin) Antibiotik Mual. gangguan pendengaran. pusing. dan somnolen. Kuinolon (Siprofloksasin) Antibiotik Hipersensitif terhadap ciprofloksasin dan anggota kelas kuinolon lainnya. diare. kembung. kejang. insomnia. flatulens. 500 mg. fungsi hati abnormal. antipiretik Pada penderita fungsi hati kelainan Garam elektrolit Larutan Obstruksi atau perforasi (Oralit) elektrolit usus 2. Eritem atau urtikaria. agitasi. malaise. Generik : Ciprofloksasin Tablet : 250 mg Kaptab : 500 mg.6 Obat yang Tepat untuk Kasus Disentri basiler dan Alternatifnya Uraian Nama Obat BSO (generik. nekrosis hati. 1g/vial. dispepsia. Kapsul: 250 mg. drownsiness. sakit kepala. 250 mg. Injeksi : 500 mg vial. 750 mg (K) Paten : Baquinor® Obat Alternatif Ampisilin Generik : Ampisilin Tablet: 125 mg. sakit kepala. rasa tidak nyaman di perut. abdominal discomfort. 2 g/vial Sirup 125 mg/5 ml. pusing/vertigo. gangguan penglihatan. stomatitis. psikosis dan konvulsi. Jarang terjadi efek seperti depresi. kekuatan) Obat Pilihan Siprofloksasin paten. gangguan ginjal akut. nefritis interstisial. Biasanya bisa timbul nausea. kolitis pseudomembran. Asetaminofen (Parasetamol) Analgesik. halusinasi. gangguan ginjal. Pemakaian lama menyebakan anemia hemolitik. muntah. kelelahan. Hipernatremia Hipersensitif terhadap azitromisin atau makrolida lainnya. serta ruam pada kulit.

BSO yang diberikan dan Karena pasien berusia 27 alasannya tahun. 500 mg Paten : Pamol BSO : tablet 500 mg. sirup 120 mg/5 ml Tablet Pasien dewasa. Paten. Dosis referensi 2 x 500 mg/hari selama 3 hari Dosis kasus tersebut dan 500 mg sesuai dosis yang alasannya telah ditetapkan dan bentuk sediaan yang tersedia Frekwensi pemberian dan 2 x 1 hari sesuai waktu alasannya paruhnya Cara pemberian dan Oral. tidak ada gangguan menelan. karena sediaan berupa kapsul dan kondisi pasien yang masih memungkinkan untuk penggunaan obat secara oral Saat demam karena obat ini bersifat simptomatik. BSO : Tablet 250 mg dan 500 mg. 650 mg. dan mudah diminum sendiri Paten : Aspirin BSO : Tablet 100 mg dan 500 mg Tablet Pasien dewasa. dan mudah diminum sendiri mg/5 ml Paten : omnipen ® Karena pasien berusia 27 tahun. 4 x 500 mg/hari selama 5 hari 500 mg sesuai dosis yang telah ditetapkan dan bentuk sediaan yang tersedia 4 x 1 hari sesuai waktu paruhnya Oral. karena sediaan alasannya berupa tablet dan kondisi pasien yang masih memungkinkan untuk penggunaan obat secara oral Saat pemberian dan Saat demam karena obat alasannya ini bersifat simptomatik dan sebaiknya diberikan sebelum makan karena efek parasetamol akan dihambat oleh makanan Lama pemberian dan Selama 3 hari Selama 5 hari alasannya B. BSO (Generik. Kekuatan) BSO yang diberikan dan alasan 15 . keadaan umum sadar sehingga dapat diberikan sediaan dalam bentuk tablet dan harganya relatif lebih murah. tidak ada gangguan menelan. Pilihan Obat dan Alternatif Obat yang Digunakan untuk Menurunkan Demam Uraian Nama Obat Obat Pilihan Obat Alternatif Asam asetilsalisilat Asetaminofen Generik : Parasetamol Generik : Asetosal BSO : tablet 325 mg. keadaan umum sadar sehingga dapat diberikan sediaan dalam bentuk tablet dan harganya relatif lebih murah.

maksimum 4g/hr.4 Kecamatan Banjarmasin Barat . agar tidak mengiritasi lambung Selama demam PROPINSI PEMERINTAH DAERAH TINGKAT I KALIMANTAN SELATAN RUMAH SAKIT UMUM “ULIN” BANJARMASIN Nama Dokter : dr. XXIV Pro Umur Alamat : Tn Basith : 27 Tahun 16 : Sungai baru RT. X No.7 Resep yang Benar dan Rasional untuk Kasus Disentri basiler Banjarmasin.d. 21 Oktober 2006 Resep Pilihan R/ Siprofloksasin tablet 500 mg S2.d tab I pc (febris) R/ Oralit S u.5 pc R/ Parasetamol tab 500 mg tab S (prn)3. sadar dan tidak ada gangguan menelan Sesudah makan. Devi Widya NIP : I1A 001 025 UPF/Bagian : Penyakit Dalam Tanda Tangan Dokter 2. karena pasien dewasa.d tab 1. maks 6x/hr (11) 500 mg 3x sehari sesuai dengan waktu paruhnya Peroral.Dosis Referensi Dosis dalam kasus Frekuensi Pemberian dan alasan Cara Pemberian dan alasan Saat Pemberian dan alasannya Lama Pemberian 325-500 mg (5) 500 mg 3x sehari sesuai dengan waktu paruhnya Peroral. sadar dan tidak ada gangguan menelan Tidak ada aturan khusus. karena pasien dewasa. karena tidak dipengaruhi makanan Selama demam 300 – 1 gr perkali.d.c No.XV No.

17 .

18 .