TUGAS KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

LAPORAN KASUS INDIVIDU

PNEUMONIA

Oleh Dian Vera Widiawaty H1A005014

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM/PUSKESMAS NARMADA 2011

BAB I PENDAHULUAN Pneumonia balita merupakan salah satu indikator program keberhasilan pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan seperti yang tertuang dalam Rencana Strategis Kementrian Kesehatan tahun 2010-2014. Dan ditargetkan persentase penemuan dan tata laksana penderita pneumonia balitapada tahun 2014 adalah sebesar 100%. Pneumonia adalah penyakit yang dapat disebabkan oleh infeksi virus ataupun bakteri. Pneumonia masih menjadi masalah yang umum dan menjadi penyakit yang sampai saat ini juga menjadi masalah kesehatan di dunia. World
Health organization (WHO) tahun 2005 memperkirakan kematian balita akibat pneumonia di seluruh dunia sekitar 19 persen atau berkisar 1,6 – 2,2 juta, dimana sekitar 70 persennya terjadi di negaranegara berkembang, terutama Afrika dan Asia Tenggara10,11. Kasus pneumonia di Negara berkembang tidak hanya lebih sering didapatkan tetapi juga lebih berat dan banyak menimbulkan kematian pada anak. Insiden puncak pada umur 1-5 tahun dan menurun dengan bertambahnya usia anak. Mortalitas pneumonia di Negara berkembang juga berkaitan dengan malnutrisi dan akses perawatan. Menurut WHO proporsi kematian balita akibat pneumonia lebih dari 20 % (di Indonesia 30 %) angka kematian pneumonia balita di atas 4 per 1000 kelahiran hidup (di Indonesia diperkirakan masih diatas 4 per 1000 kelahiran hidup) 3,10. Menurut Depkes RI (2002) kejadian kematian pneumonia pada anak balita berdasarkan SKRT 2001, urutan penyakit menular penyebab kematian pada bayi adalah pneumonia, diare, tetanus, infeksi saluran pernafasan akut sementara proporsi penyakit menular penyebab kematian pada balita yaitu pneumonia (22,5%), diare (19,2%) infeksi saluran pernafasan akut (7,5%), malaria (7%), serta campak (5,2%). Hasil survey kesehatan nasional (SUKERNAS) tahun 2004 menunjukkan bahwa proporsi kematian bayi akibat ISPA masih 28%. Hal ini menunjukkan dari 100 bayi yang meninggal 28 disebabkan oleh ISPA dan terutama 80% kasus kematian ISPA pada balita adalah akibat pneumonia. Sejak tahun 2006 hingga tahun 2009, NTB masih merupakan daerah dengan angka pneumonia >4% sehingga masuk kedalam kategori merah/tinggi6,10,11.

salah satu program dari puskesmas untuk meningkatkan upaya kesehatan masyarakat yaitu upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yang merupakan salah satu dari 6 upaya kesehatan wajib. Kejadian pneumonia didasarkan adanya interaksi antara komponen host. fisik dan sosial). Dalam hal ini. Kegiatan dari upaya pemberantasan penyakit menular termasuk dalam kegiatan promotif dan preventif. puskesmas sebagai ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat primer yang bertanggung jawab terhadap kesehatan perorangan dan kesehatan masyarakat memiliki peranan yang sangat penting demi tercapainya tujuan tersebut. mycoplasma. Dari data-data tersebut di atas. Faktor biologis adalah kuman atau mikroorganisme. agent. maka perlu dilakukan usaha-usaha untuk menurunkan angka kejadian pneumonia. laporan ini akan membahas tentang pemberantasan dan pencegahan penyakit diare di masyarakat umumnya dan di masyarakat di Kecamatan Narmada pada khususnya. . Faktor fisik misalnya adalah lingkungan rumah yang tidak sehat dan faktor sosial menyangkut perilaku hidup yang tidak sehat10. dan environment. Terkait hal tersebut. virus. Faktor risiko kejadian pneumonia balita dipengaruhi oleh faktor intrinsik (umur.Pneumonia tidak hanya disebabkan oleh satu jenis penyebab penyakit. pneumonia dapat mempunyai lebih dari 30 penyebab yang berbeda. status imunisasi) dan faktor ekstrinsik (biologis. Oleh karena itu. status gizi. pneumonia memang tidak pernah masuk ke dalam 10 pemyakit terbanyak tetapi angka kejadiannya masih cukup tinggi dan masih ditemukan kematian akibat pneumonia pada anak dan balita. jenis kelamin. infeksi agent lainya dan bahan kimia. berubahnya salah satu komponen mengakibatkan keseimbangan terganggu sehingga terjadi pneumonia. Berdasarkan data penyakit di puskesmas Narmada selama tahun 2009-2011. Ada 5 penyebab utama pneumonia yaitu bakteri.

terdapat kasus yang tidak terdeteksi. preventif.432 1. Angka kejadian ISPA pada anak-balita di puskesmas Narmada pada tahun 2011 sampai sebelas bulan terakhir ini mencapai angka 5. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya pengetahuan orang tua yang mempengaruhi perilaku pencarian pengobatan. Tabel 2. Daftar 10 Penyakit terbanyak di puskesmas Narmada tahun 2011 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 ISPA Penyakit pd system otot & jaringan ikat Gastritis Demam sebab lain Kecelakaan dan ruda paksa Penyakit tekanan darah tinggi Penyakit kulit infeksi Diare JENIS PENYAKIT JUMLAH 5. atau kurang dari 546 kasus per tahun.787 2.1.564 anak-balita diharapkan tidak melebihi 10% dari jumlah sasaran yakni kurang dari 49 anak-balita yang terinfeksi ISPA tiap bulannya (< 0.1.279 . Dalam hal ini. pneumonia tidak termasuk dalam daftar tersebut.322 3. dimana dari 5.693 kasus.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.155 1.774 1.84%). Jumlah tersebut telah melebihi yang diharapkan puskesmas Narmada. Pada tabel daftar 10 penyakit terbanyak di puskesmas narmada tahun 2011. Gambaran Penyakit Pneumonia di Puskesmas Narmada Infeksi Saluran Pernapasan Akut (bukan pneumonia dan pneumonia) sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan di wilayah puskesmas Narmada. maupun kuratif untuk menangani masalah pneumonia tersebut. Puskesmas telah melakukan beberapa upaya promotif. atau kesalahan diagnosis. terutama yang menyangkut PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) dan lingkungan. Masalah pneumonia tersebut tidak lepas dari beberapa faktor yang menjadi faktor resikonya.642 1.823 2.

9 10 Asma Penyakit lainnya 978 910 Sumber: Data rekapan P2M puskesmas Narmada Grafik 1. Kejadian ISPA bukan pneumonia dibandingkan ISPA pneumonia pada anak-balita per tahun di puskesmas Narmada 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 pneumonia non pneumonia Sumber: Data rekapan P2M puskesmas Narmada . Angka kejadian kasus ISPA di puskesmas Narmada tahun 2005-2010 Kejadian ISPA pada anak-balita 4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2637 2278 kejadian ISPA 3547 3886 3742 3943 Sumber: Data rekapan P2M puskesmas Narmada Grafik 2.

Berdasarkan grafik data rekapan P2M puskesmas Narmada tahun 2005-2010 dapat diketahui angka kejadian ISPA (bukan pneumonia maupun pneumonia) dalam 5 tahun terakhir mengalami penurunan. angka ini mengalami peningkatan pada tahun 2006 yaitu sebanyak 3886 kasus dan meningkat lagi pada tahun 2008 yaitu tercatat sebanyak 3943 kasus. KONSEP PENYAKIT PNEUMONIA 2. Sedangkan kejadian kematian akibat pneumonia masih ditemukan di wilayah kerja puskesmas Narmada tetapi tidak ada data yang merangkum angka insiden tersebut. Hal ini mengakibatkan kesukaran bernafas (Depkes RI 2007: 4). karena paru meradang secara mendadak. nanah (pus) akan mengisi alveoli tersebut sehingga terjadi kesulitan penyerapan oksigen. Selain itu gejala klinis lain ditunjukkan dengan adanya pelebaran cuping hidung. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit pada anak usia < 2 bulan. dan ronki.2. namun angka kejadiannya terbukti masih tinggi. Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronkopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak. Pneumonia adalah apabila batuk pilek disertai gejala lain seperti kesukaran bernapas. Angka kejadian pneumonia sendiri lebih kecil dibandingkan ISPA bukan pneumonia dan insidennya menurun selama 2 tahun terakhir. Pengertian Pneumonia Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) yang mengenai bagian paru (jaringan alveoli) (Depkes RI 2004: 4).2. Pada penderita pneumonia.10. 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun. Angka ISPA ini kemudian semakin menurun pada tahun 2009 sampai 2010 yaitu sebanyak 2278 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun pneumonia telah menjadi masalah kesehatan yang cukup umum di masyarakat. . retraksi dinding dada. Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu5: a. peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat). 2. Angka kejadian kasus pneumonia pada tahun 2005 tercatat sebanyak 3547 kasus. ISPA non-Pneumonia adalah dikenal masyarakat dengan istilah batuk pilek b.1. dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun2.

Imunisasi dengan polisakarida 10 tipe-spesifik dapat memberikan perlindungan 90% terhadap bakteremia pneumonia . Sedangkan prosedur pemeriksaan imunologi belum memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan adanya bakteri sebagai penyebab pneumonia. 14. bakteremia. Sedangkan di negara maju. dan proses infeksi lainnya.2. dan 23 merupakan penyebab yang paling sering. Penggunaan vaksin Hemophylus influenzae tipe B secara luas telah sangat menurunkan kejadian meningitis Hemophylus influenzae pada anak-anak10. tipe 6. Pneumonia pneumokokus kira-kira merupakan 60-80% dari semua kasus pneumonia oleh bakteri.1% hasil isolasi dari spesimen darah. 2. otitis.3. Penyakit ini adalah endemik dengan jumlah pembawa bakteri yang tinggi. yaitu: . penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa Streptococcus pneumoniae dan Hemophylus influenzae merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada penelitian tentang etiologi di negara berkembang.2.10. Pneumonitis akibat Hemophylus influenzae dapat terjadi setelah infeksi saluran pernapasan bagian atas pada anak-anak kecil dan pada orang tua atau orang yang lemah. dewasa ini pneumonia pada anak umumnya disebabkan oleh virus 2. Streptococcus pneumoniae adalah diplokokus gram-positif. bronkitis.3. sinusitis. yaitu 73. Pneumonia yang disertai bakteremia selalu menyebabkan angka kematian yang paling tinggi. Pada orang dewasa. meningitis. 19. Jenis jenis bakteri ini ditemukan pada dua pertiga dari hasil isolasi.9% aspirat paru dan 69.2.10 Dalam penentuan klasifikasi penyakit pneumonia dibedakan atas 2 kelompok. Orang dewasa dapat menderita bronkitis atau pneumonia akibat influenzae. tipe 1-8 menyebabkan kira-kira 75% kasus pneumonia pneumokokus dan lebih dari setengah kasus bakteremia pneumokokus yang fatal.2. Bakteri ini merupakan penyebab meningitis yang penting pada anakanak dan kadang-kadang menyebabkan infeksi saluran napas pada anak-anak dan orang dewasa. Hemophylus influenzae ditemukan pada selaput mukosa saluran napas bagian atas pada manusia. Organisme ini adalah penghuni normal pada saluran pernapasan bagian atas manusia dan dapat menyebabkan pneumonia. Klasifikasi pneumonia Klasifikasi pneumonia dan bukan pneumonia2. Etiologi pneumonia Diagnosis etiologi pneumonia pada balita sukar untuk ditegakkan karena dahak biasanya sukar diperoleh. pada anak-anak. Menurut publikasi WHO.

kesukaran berafas.< 1 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 50 . Gambaran rontgen toraks tidak menunjukkan kelainan yang jelas pada penderita bronkitis sedang pada penderita pnemonia atau broncopnemonia didapatkan gambaran infiltrat di paru. gejala klinis. Diagnosis pneumonia Diagnosis pneunonia didapatkan dari anamnesis. klasifikasi dibagi atas : pneumonia berat dan bukan pneumonia.4. Penentuan nafas cepat dilakukan dengan cara menghitung frekuensi pernafasan dengan menggunkan sound timer.1) Kelompok umur 2 bulan . Klasifikasi klinis pneumonia pada balita menurut kelompok umur 7 Gejala klinis Tidak ada nafas cepat dan tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah Pneumonia Adanya nafas cepat dan tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah Pneumonia berat Adanya tarikan diding dada bagian bawah ke dalam < 2 bulan Bukan pneumonia Tidak ada nafas cepat dan tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah kedalam yang kuat Pneumonia berat Adanya nafas cepat dan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam yang kuat Sumber: Ditjen P2PL. bimbingan keterampilan tatalaksana pneumonia balita Kelompok umur 2 bulan . foto toraks dan laborataritim. Diagnosis pneumonia pada balita didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat) sesuai umur2. pneumonia dan bukan pneumonia.2. 2) Kelompok umur <2 bulan. Batas nafas cepat adalah: 1) Pada anak usia 2 bulan . pemeriksaan fisis. Tabel 2.10. Diagnosis pnemonia terutama didasarkan pada gejala klinis berupa batuk.< 5 tahun. Depkes RI 2007.<5 tahun Kriteria pneumonia Batuk bukan pneumonia 2. klasifikasi dibagi atas : pneumonia berat.

Rujukan penderita pneumonia berat dilakukan dengan gejala batuk atau kesukaran bernafas yang disertai adanya gejala tidak sadar dan tidak dapat minum. hidung.Berat badan lahir rendah .Gizi kurang .Laki-laki . 2. pasien tampak toksik. tonsilitis. Infeksi virus biasanya melibatkan banyak organ bermukosa (mata. Diagnosis pneumonia berat didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai nafas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam pada anak usia 2 bulan . Faktor resiko pneumonia Berbagai publikasi melaporkan tentang faktor risiko yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas pneumonia. Jika dibuat daftar faktor risiko tersebut adalah seperti berikut10 : 1) Faktor risiko yang meningkatkan insidens pneumonia .Polusi udara . demam tidak tinggi.kali per menit atau lebih 2) Pada anak usia 1 tahun . Pneumonia viral biasanya timbul perlahan. demam tinggi disertai menggigil dan sesak memburuk dengan cepat.2.Tidak mendapat ASI memadai . atau adanya penarikan yang kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam. mulut. Untuk kelompok umur kurang 2 bulan diagnosis pneumonia berat ditandai dengan adanya nafas cepat.< 5 tahun. otitis atau penyakit lainnya 1. pasien tidak tampak sakit berat.Menempatkan kandang ternak dalam rumah .Umur < 2 bulan . Semakin banyak organ terlibat.5.10. usus). Pneumonia karena bakterial biasanya timbul mendadak.< 5 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 40 kali per menit atau lebih 3) Pada anak usia kurang 2 bulan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih. Pada klasifikasi bukan pneumonia maka diagnosisnya adalah : batuk pilek biasa (common cold). semakin besar kemungkinan virus sebagai penyebab3. pharyngitis. gejala sesak dan batuk bertambah secara bertahap. yaitu frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih. tenggorokan.

. Distribusi Pneumonia Berdasarkan Tempat (place) 2 Hasil SDKI pada tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi pneumonia di daerah perkotaan dan daerah pedesaan sedikit mengalami penurunan yaitu daerah perkotaan sebesar 8 per 100 balita dan daerah pedesaan sebesar 9 per 100 balita sedangkan berdasarkan wilayah juga mengalami sedikit penurunan yaitu pada wilayah Pulau Jawa-Bali prevalensinya adalah 8 per 100 balita dan wilayah luar pulau Jawa-Bali prevalensinya adalah sebesar 10 per 100 balita.Tingkat pendidikan ibu yang rendah .Defisiensi Vitamin A 2) Faktor risiko yang meningkatkan angka kematian pneumonia . Hasil SDKI pada tahun 2001 menunjukkan bahwa prevalensi pneumonia paling tinggi terjadi pada anak usia 1-4 tahun yaitu 33.Gizi kurang .Imunisasi yang tidak memadai .Umur < 2 bulan . Distribusi Pneumonia Berdasarkan Orang (person)2 Hasil SDKI pada tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi pneumonia pada kelompok umur 6-11 bulan mengalami penurunan menjadi sebesar 12 per 100 balita dan prevalensi menurut jenis kelamin juga mengalami penurunan.Membedung anak (menyelimuti berlebihan) .Tingkat sosio ekonomi rendah .4% sedangkan pada anak perempuan sebesar 8.Kepadatan tempat tinggal .Berat badan lahir rendah . tetapi masih lebih tinggi terjadi pada anak laki-laki yaitu sebesar 9. Distribusi pneumonia a.6.5%. 22 b.76 % dan prevalensi pada anak usia < 1 tahun yaitu sebesar 31 %.Imunisasi yang tidak memadai . .2. Hasil SDKI pada tahun 2001 menunjukkan bahwa prevalensi pneumonia di daerah pedesaan yaitu sebesar 11 per100 balita dan di daerah perkotaan yaitu sebesar 8 per 100 balita.Menderita penyakit kronis 2.Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah .Kepadatan tempat tinggal .

9 % pada tahun 1997 dan 7.10: 1. 10 % SDKI tahun 1994. dengan tujuan berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian khususnya pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh ISPA5.c. Pemeriksaan 2. tahun 1994. Pertusis. tahun 1997 dan 2001 dapat diketahui prevalensi pneumonia pada balita masing-masing tahun yaitu 10 % SDKI tahun 1991. Tetanus) sebanyak tiga kali yaitu pada usia 2. Cara kerja ini telah dianut oleh WHO dan London School of Hygiene and Tropical Medicine dalam mengontrol infeksi saluran pernapasan akut sehingga berhasil mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat pneumonia pada anak-anak.3 dan 4 bulan. Penentuan klasifikasi penyakit 4. Manajemen tatalaksana penanggulangan pneumonia Program pemberantasan ISPA secara khusus telah dimulai sejak tahun 1984. yang terintegrasi dan diterapkan sebagai acuan program penanggulangan ISPA pneumonia di pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas). Pencegahan dan deteksi dini pneumonia a. Adapun tatalaksananya adalah meliputi7: 1. pemerintah Indonesia mulai memperkenalkan manajemen tatalaksana baru yaitu Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Dari data di atas diketahui bahwa prevalensi pneumonia pada balita mengalami penurunan. Penentuan ada tidaknya tanda bahaya 3. Adapun keenam hal itu adalah2. Pengobatan dan tindakan 2. 2. Distribusi Pneumonia Berdasarkan Waktu (time) 2 Dari data SDKI tahun 1991. Pada tahun 1997.2. .6 % pada tahun 2001.8. Imunisasi Yaitu dengan meningkatkan cakupan imunisasi terhadap penyakit infeksi yang serius seperti campak dengan memberikan imunisasi campak pada usia 9 bulan dan batuk rejan dengan memberikan imunisasi DPT (Difteri.2. Pencegahan Upaya penting untuk pencegahan pneumonia pada anak balita di Negara berkembang telah diidentifikasi dalam enam hal.7.

3. Hal ini disebabkan karena ASI terjamin kebersihannya dan mengandung faktor-faktor antibodi cairan tubuh. Memperbaiki Nutrisi Untuk mencegah resiko pneumonia pada bayi dan anak-anak yang disebabkan karena malnutrisi sebaiknya dilakukan dengan pemberian ASI pada bayi neonatal sampai dengan umur 2 tahun. Manajemen kasus infeksi saluran pernapasan akut dan pemberian kemoprofilaksis (pelega tenggorokan/pereda batuk ) pada anak dengan infeksi pernapasan akut dan anak dengan mengi.2. 6. Mengurangi penyebaran kuman dan mencegah penularan langsung dengan cara menjauhkan anak dari penderita batuk. lingkungan berasap rokok dan polusi di luar ruangan. Memperbaiki cara-cara perawatan anak. Usaha untuk mencari pertolongan medis. Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek biasa (bukan pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta perihal tindakan yang perlu dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit  Memberikan pengobatan sederhana untuk kasus-kasus batuk pilek (bukan pneumonia) dengan tablet parasetamol dan obat batuk tradisional obat batuk putih. 5. memberikan pendidikan pada ibu tentang cara perawatan anak yang baik b. sehingga dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi bakteri dan virus. . Selain pemberian ASI peningkatan status gizi anak penderita pneumonia juga perlu perhatian untuk kesembuhan anak tersebut. Mengurangi polusi lingkungan seperti polusi udara dalam ruangan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan peranserta kader dalam deteksi dini dan pencegahan pneumonia adalah sebagai berikut5:   Kader dilatih untuk bisa membedakan kasus pneumonia (pneumonia berat dan pneumonia tidak berat) dari kasus-kasus bukan pneumonia. Deteksi Dini oleh Masyarakat / Kader Kader memiliki peran penting dalam mendeteksi dan mencegah penyakit pneumonia di masyarakat karena kader merupakan agen kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. 4.

  Merujuk kasus pneumonia berat ke Puskesmas/Rumah Sakit terdekat. Atas pertimbangan dokter Puskesmas maka bagi kader-kader di daerahdaerah yang terpencil (atau bila cakupan layanan Puskesmas tidak menjangkau daerah tersebut) dapat diberi wewenang mengobati kasus-kasus pneumonia (tidak berat) dengan antibiotik kontrimoksasol.  Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk .

Lombok Barat : Sasak : Islam : 12 Desember 2011 3. disertai nafas bunyi “ngik”. riwayat dirawat di Puskesmas/RS disangkal pasien. ANAMNESIS Keluhan Utama : sesak nafas Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien dikeluhkan oleh keluarga mengalami sesak nafas yang semakin berat sejak ±2 hari yang lalu. BAB (+) 12 kali sehari. BAK (+) 4-5 kali sehari. Sesak ini membuat pasien mnejadi rewel dan tidak bisa tidur. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat keluhan penyakit yang sama sebelumnya (-). riwayat penyakit jantung (-). Selain itu pasien dikeluhkan batuk dan pilek sejak ±2 minggu yang lalu.BAB III LAPORAN KASUS 3. Muhmin : 8 bulan : Laki. .laki : Gerimak indah.1. sesak nafas yang lama (-). Nafsu makan pasien berkurang sejak pasien sakit. hipertensi (-). kecamatan Narmada. riwayat batuk lama (-). IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Alamat Suku Agama Waktu Pemeriksaan : By. Menurut ibu pasien. Riwayat demam (+) sejak ±2 minggu yang lalu. suara batuk pasien seperti ada dahak tetapi tidak bisa keluar. riwayat penurunan kesadaran (-). konsistensi dan warna normal.2. Nafsu makan menurun. demam naik turun pada waktu-waktu tidak tentu dan demam turun setelah orang tua pasien memberikan sirup penurun demam. Riwayat kejang (-). warna kuning jernih.

Riwayat sakit berat selama hamil (-). 4. Vaksinasi Pasien hanya belum mendapatkan imunisasi campak. Ikhtisar Keluarga: Tn. c. Riwayat minum obat-obatan selama hamil (-) d. sayur. N Ny. Riwayat kehamilan dan persalinan a. lahir cukup bulan dengan berat 3000 gram. b. ayah dan kakak pasien menderita batuk dan pilek sejak ±2 minggu yang lalu tetapi ayah pasien sudah sembuh. 2. Makanan tambahan tersebut mulai diberikan sejak pasien berumur 6 bulan. bayinya sudah bisa merangkak dan duduk. N Anak 1 Anak 2 Keterangan: Laki-laki: Perempuan pasien: . 5. Perkembangan dan kepandaian Menurut pengakuan ibu. Lahir langsung menangis  riwayat biru setelah lahir (-). 3. telur dan snak. Riwayat Pribadi 1. nasi. Riwayat nutrisi Saat ini anak selain mendapatkan ASI sudah mendapatkan makanan tambahan berupa bubur. kuning setelah lahir (-). Os lahir spontan di polindes ditolong bidan. Ibu pasien ANC di posyandu secara tetatur sesuai jadwal.Riwayat Penyakit Keluarga : Ibu.

berdinding tembok. sedangkan di sebelah selatan rumah pasien dan sebelah barat rumah pasien berbatasan dengan rumah tetangga dan parit kecil. terdiri dari ruang tamu yang sekaligus rangkap dengan ruang keluarga. ibu dan kakak perempuannya. namun berlantai semen pada ruangan lain. Dapur terletak di belakang rumah pasien. dapur dan 1 kamar mandi. Penghasilan ini diperoleh oleh ayah pasien yang bekerja sebagai pegawai swasta di Narmada. Pasien tinggal di sebuah rumah yang berukuran ± 7 x 5 m2. jarak rumah pasien dengan rumah tetangga sangat dekat yaitu ± 1 meter. air tersebut kadangkadang langsung dikonsumsi dan tidak dimasak terlebih dahulu. Skema denah rumah pasien: F C D G A B E . dengan alasan sudah terbiasa dengan hal seperti itu dan mereka mengatakan rasa air yang dimasak tidak segar dan berbeda dengan air yang langsung dikonsumsi. ada flavon. Rumah pasien memiliki sumur untuk kebutuhan sehari-hari pasien mengambil air bersih dari sumur di dekat rumahnnya. Menurut orang tua pasien. Penghasilan ini dirasa cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari keluarga ini. Letak dapur dan kamar mandi berdekatan. Penghasilan keluarga per bulan sekitar Rp 750. tetapi untuk minum anak kedua. Sosial. Ekonomi Pasien tinggal bersama ayah. Untuk lingkungan luar rumah pasien. 2 kamar tidur.00. sebelah utara adalah halaman belakang rumah tetangga.Riwayat Lingkungan. air selalu dimasak terlebih dahulu.000. Rumah ini berlantai keramik pada teras depan dan ruang tamu.000 – Rp 1. Batas rumah pasien di sebelah barat adalah depan rumah tetangga.000. Rumah pasien ini beratap genteng. dan memiliki empat jendela.

Mushola F. Ruang tamu sekaligus ruang keluarga C. Dapur G.Ket: A. Kamar mandi Dokumentasi rumah pasien Teras depan ruang tamu sekaligus ruang keluarga ruangan tempat menyimpan barang-barang kamar tidur . Kamar tidur I D. Kamar tidur II E. Teras B.

Lorong menuju dapur dapur Dapur kamar mandi .

Sclera : ikterus (-/-). Udema (-) 5. Mata cowong :-/9. midriasis (-) : 94x/menit. Konjungtiva : anemia (-/-). bulat. Alis : normal 3.3. kuat angkat : 55 x/menit : 38 oC : 9 kg : 80 cm : sedang : CM . Simetris 2. hiperemia (-) 10. Ptosis (-) 5. Bentuk dan ukuran : normal 3. Malar rash (-) 6. Rambut : normal 4. Nystagmus (-) 6. irama teratur. Ekspresi wajah : normal 2. Udema palpebra (-) 8. Exopthalmus (-) 4. Strabismus (-) 7. Pupil : isokor. Parese N VII (-) o Mata : 1.3. PEMERIKSAAN FISIK (12 Desember 2011) Pemeriksaan umum Keadaan Umum Kesadaran Tanda vital : HR RR T ax BB PB Status General : o Kepala : 1. pterygium (-) 11. miosis (-). hyperemia (-).

Gusi : hiperemia (-).12. Bibir : sianosis (-) 3. deviasi septum (-) 2. JVP : normal 7. Simetris 2. katarak (-) o Telinga : 1.KGB (-) 5. Trakea : ditengah 6. Simetris. Lubang telinga : normal. Scrofuloderma (-) 4. 2. Mukosa : kering o Leher : 1. atropi papil lidah (-) 5. Lensa : normal. Simetris (-) 2. Pemb. Pendengaran : normal o Hidung : 1. perdarahan (-) 4. Penciuman normal o Mulut : 1. Lidah : glositis (-). Pembesaran thyroid (-) o Thorax : Cor Inspeksi : iktus kordis tidak tampak Palpasi : iktus kordis teraba ICS 5 midklavikula sinistra Perkusi : - . secret (+) 3. Kornea : normal 13. Bentuk : normal. Kaku kuduk (-) 3. Perdarahan (-). Nyeri tekan (-) 4. Pembesaran otot sternocleidomastoideus (-) 8. secret (-) 3.

murmur (-). keloid (-) Auskultasi :Peristaltik usus : meningkat Palpasi : Turgor : normal Tonus : normal Nyeri tekan (+) Hepar : tidak teraba Lien : tidak teraba Ginjal : tidak teraba Perkusi : suara timpani Inguinal-genitalia-anus : tidak diperiksa Vertebrae : Inspeksi : Bentuk : tampak normal Kulit :scar (-).Auskultasi : S1S2 tunggal regular. keloid (-) Palpasi : nyeri tekan (-) . gallop (-) Pulmo Inspeksi : Bentuk simetris Pergerakan simetris Iga dan sela iga : retraksi (+). scar (-). penggunaan otot bantu intercostal (+). Pelebaran sela iga (–) Pernafasan : frekuensi 55 x/menit Palpasi : Pergerakan simetris Fremitus raba dan vokal simetris Provokasi nyeri (–) Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru Nyeri ketok (–) Auskultasi : Suara nafas vesikuler +/+ Suara tambahan rhonki +/+ Suara tambahan wheezing +/o Abdomen : Inspeksi : Bentuk : distensi (-).

5.6.Amoxilin 25mg/kgBB 2 kali sehari . DIAGNOSIS KERJA Pneumonia berat 3.Ekstremitas atas : Akral hangat : +/+ Kulit normal Deformitas : (-) Sendi : dbn Edema: (-/-) Sianosis : (-) Kekuatan-tenaga : normal Ekstremitas bawah: Akral hangat : +/+ Kulit normal Deformitas : (-) Sendi : dbn Edema : (-/-) Sianosis : (-) 3. PEMERIKSAAN PENUNJANG : - 3. PENATALAKSANAAN   Terapi segera di UGD: Nebul combivent (Bronkodilator) Amoxilin 20-40 mg/kgBB (antibiotik) Paracetamol sirup 10mg/kgBB (antipiretik) Terapi rawat jalan .7. PROGNOSIS Bonam .Paracetamol sirup 10mg/kgBB (3 x ¾ sendok teh) 3.4.

Ventilasi udara ruangan dibuka agar sirkulasi udara dalam ruangan baik 3. Menjaga kebersihan lingkungan dan perorangan. Menjaga keadaan gizi anak agar tetap baik dengan memperhatikan asupan makanan sehari-hari. 4. 5. makanan berminyak dan pedas. Tidak memberikan jajanan/snack. KONSELING Konseling yang diberikan pada pasien : 1. Lebih aktif bekerjasama dengan pusat pelayanan kesehatan demi mencegah kembali terjadinya penyakit pneumonia . Mengubah perilaku sehari-hari menjadi perilaku hidup bersih dan sehat. Istirahat dan minum banyak cairan serta minum obat secara teratur 2.8.3.

riwayat kejang dan penurunan kesadaran. jika mengacu pada konsep kesehatan masyarakat. Umur Pasien diketahui berumur 8 bulan dimana system imun tubuhnya belum sempurna sehingga sangat rentan terserang penyakit. b. respirasi cepat yaitu 55 kali/menit dan ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam sehingga menunjang diagnosis pneumonia berat. tidak ada perdarahan. . Dari anamnesa didapatkan tidak ada penyakit penyerta lainnya. Menurut beberapa studi. Menurut beberapa penelitian. disebutkan bahwa laki-laki adalah faktor risiko yang mempengaruhi kesakitan pneumonia. Menurut ibu pasien. suara batuk pasien seperti ada dahak tetapi tidak bisa keluar. Riwayat demam (+) sejak ±2 minggu yang lalu. anak-anak berumur 0-24 bulan lebih rentan terhadap penyakit pneumonia dibandingkan anak umur diatas 2 tahun.BAB V PEMBAHASAN Pada kasus ini. Penelitian di Srilanka dan Uruguay juga mendukung pernyataan tersebut dengan menunjukkan hasil bahwa penderita pneumoni yang menjalani rawat jalan maupun rawat inap lebih banyak berjenis kelamin laki-laki. Adapun faktorfaktor yang berperan atau yang mempengaruhi terjadinya pneumonia pada pasien ini antara lain: 1. maka dapat diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi atau yang menjadi resiko terhadap penyakit yang diderita oleh pasien dalam kasus ini. Jenis kelamin Di dalam buku pedoman P2 ISPA. pasien datang dengan keluhan sesak nafas yang bertambah berat sejak 2 hari yang lalu. Berdasarkan hasil penelusuran kasus tersebut di atas. Status imunisasi Pasien diketahui belum mendapatkan imunisasi campak. c. imunisasi campak dan pertusis dapat menjadi salah satu pencegah terjadinya pneumonia. Faktor intrinsik a. Hal ini disebabkan belum sempurnanya system imunitas tubuh dan lubang pernafasan yang masih relatif sempit. Sesak disertai bunyi “ngik” Selain itu pasien dikeluhkan batuk dan pilek sejak ±2 minggu yang lalu. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik pasien ditemukan pasien dalam keadaan febris.

mushola dan kamar mandi. Ibu rajin untuk mengikuti kegiatan posyandu. Faktor ekstrinsik a. c. Polusi udara di dalam rumah Polusi udara di dalam rumah dapat menjadi faktor resiko pasien ini mengalami pneumonia. 2. selain itu polusi rumah berasal dari asap rokok ayah pasien yang diketahui memiliki kebiasaan merokok di dalam rumah bahkan saat anak-anak berada di dalam rumah. Ventilasi rumah Berdasarkan penelusuran kasus ke rumah pasien. b. Balita yang tinggal di rumah dengan ventilasi yang tidak sehat akan memiliki resiko 4. Hal ini terbukti dari sikap orang tua yang baru memeriksakan anaknya setelah kondisi anak berat.Hal ini berdasarkan pemikiran bahwa kedua penyakit tersebut dapat mengganggu system pernafasan sehingga dengan memberikan imunisasi DPT dan campak diharapkan dapat mencegah pneumonia. diketahui bahwa hampir setiap ruangan rumah pasien memiliki jendela. Pada bagian rumah yang penting seperti dapur justru minim ventilasi sehingga asap dapur masuk ke dalam ruangan lain rumah. Peran tenaga kesehatan puskesmas dan kader masih kurang dalam mendeteksi secara dini dan mengarahkan ibu untuk memahami gejala penyakit yang diderita oleh balitanya. b. Faktor pelayanan kesehatan a. Balita yang terpajan asap pembakaran beresiko 1. Pengetahuan orang tua Faktor pengetahuan orang tua yang kurang terhadap tanda-tanda bahaya anak merupakan salah satu faktor penting yang juga mempengaruhi perilaku pencarian pengobatan. Tetapi ibu pasien jarang membuka jendela di pagi hari atau bila dibuka. Polusi tersebut bisa berasal dari asap kompor dapur yang terletak di dalam rumah dan minim ventilasi udara. kecuali dapur. tetapi ibu jarang tidak pernah mendapatkan pengarahan ataupun penjelasan mengenai tanda bahaya yang bisa terjadi pada anak.2 kali lebih besar terkena pneumonia dibandingkan yang tinggal di rumah dengan ventilasi yang sehat (Herman.27 kali lebih besar untuk terkena pneumonia dibandingkan balita yang tidak terpajan (Julistiatuti. 2002 dalam annisa) 3.korden jendela tetap tertutup. 2000 dalam annisa). .

Jika dilihat dari empat determinan tersebut. dapat diketahui bahwa banyak hal yang dapat menyebabkan pasien ini menderita pneumonia. . maka faktor resiko yang paling berpengaruh pada kasus ini adalah faktor ekstrinsik berupa lingkungan rumah pasien dan perilaku orang tua sehari-hari dan perilakunya dalam mencari pengobatan. Selain itu adanya faktor-faktor dalam empat determinan kesehatan. lingkungan.Dari beberapa uraian faktor tersebut di atas. Ketidakseimbangan antara faktor penjamu. agen dan lingkungan dapat menyebabkan timbulnya suatu penyakit. Aspek perilaku untuk hidup bersih dan sehat sering menjadi penyebab suatu penyakit menjadi berulang dan menjadi salah satu faktor yang sulit untuk diubah. perilaku. Oleh karena itu upaya untuk mencegah dan mengurangi kejadian pneumonia perlu ditinjau dari berbagai aspek yang sesungguhnya saling berkaitan. dan faktor pelayanan kesehatan masyarakat dapat menjadi penyebab timbulnya suatu penyakit dalam masyarakat. seperti faktor biologis.

Kebiasaan membiarkan makanan terbuka dan tidak ditutup sehingga mudah Jenis Kelamin DIABETES Status Imunisasi LINGKUNGAN Ventilasi Rumah MELITUS DIABETES MELITUS PNEUMONIA DIABETES MELITUS PELAYANAN DIABETES KESEHATAN MELITUS Kurangnya peran seta kader dalam deteksi dini dan mencegah pneumonia Kurangnya penyuluhan tentang pneumonia dan kurangnya keinginan MELITUS orang tua pasien untuk menambah pengetahuan mengenai kesehatan. DIABETES DIABETES MELITUS DIABETES . Polusi udara di dalam rumah Tingkat pengetahuan serta pendidikan yang kurang mengenai pola hidup bersih dan sehat serta tanda-tanda bahaya pada anak dihinggapi lalat.Berdasarkan penjelasan mengenai faktor-faktor resiko pneumonia pada kasus ini maka dapat dibuat bagan faktor resiko sebagai berikut: BIOLOGIS Usia Dan Imunitas MELITUS PERILAKU PHBS YANG KURANG Kebiasaan tidak membuka jendela dipagi hari sehingga ventilasi rumah minimal Kebiasaan mengkonsumsi air mentah/tidak dimasak.

Upaya promosi dan preventif sebagai upaya pencegahan peningkatan kasus pneumonia masih perlu dilakukan. b. Berdasarkan profil penyakit terbanyak Puskesmas Narmada. Selain itu terdapat polusi udara di dalam rumah dan didukung oleh ventilasi rumah yang tidak bagus. b.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 5. c. Hal ini merupakan masalah kesehatan di masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian dari penyelenggara kesehatan. kurang mengetahui tanda-tanda bahaya anak dan mempengaruhi perilaku pencarian pengobatannya. selama 5 tahun terakhir. Terdapat beberapa faktor penting yang mempengaruhi morbiditas pneumonia pada pasien ini yaitu berupa faktor ekstrinsik berupa pengetahuan orang tua yang mempengaruhi perilaku orang tua sehari-hari seperti merokok didalam rumah. Pencatatan pasien pneumonia sebaiknya lebih teliti agar penelitian-penelitian selanjutnya bisa mendapatkan data yang lebih akurat. . 5. Kesimpulan a. penyakit ISPA masih menempati urutan pertama tetapi data spesifik pneumonia belum akurat. dan dilaporkan. Perlu untuk mealkukan pelatihan mengenai pneumonia agar kasus pneumonia dapat ditemukan.2. terutama dari aspek peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang menjadi faktor resiko utama morbiditas dan mortalitas pneumonia. Salah satunya adalah dengan kembali memberdayakan kader-kader kesehatan untuk memberikan penyuluhan kesehatan ke masyarakat. ditangani. Faktor lainnya adalah kurangnya peran petugas kesehatan dalam upaya penanganan pneumonia di masyarakat. Saran a.1.

ac.8 No. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut Untuk Penanggulangan Pneumonia Pada Balita. Makmuri MS. 2006. September 2010. Bulletin jendela epidemiologi Pneumonia Balita. Tim Penyusun. Yuwono T A.usudigitallibrary.html. 6. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Kejadian Pneumonia pada Balita yang Dirawat Inap di RSUP Persahabatan Tahun 2008. Continuing Education. Jurnal Pembangunan Manusia vol. (Accessed: 2011. Sikap dan Tindakan Ibu dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di IRNA Anak RSMH Palembang Tahun 2008. 5. 2004. 2011.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta: Departemen Kesehatan RI 10. Hubungan Pengetahuan. 2010. 9.id/bitstream/123456789/16362/4/Chapter%20II. Retno.. Rancangan Final-Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan 2005-2025. . Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat. 2009. 2010. Surabaya. Kuliah Pneumonia.2 Tahun 2009 7. 2009. 2002. 2009. ISSN 2087 – 1546.pdf. volume 3. Desember 1). Desember 1). Available from: http://kesmas-unsoed.com/2011/03/faktor-risikokejadian-infeksi-saluran.. Faktor Risiko Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Ispa) Pada Balita. Weber M. Rizkianti A. 2009. Rasmaliah. 2. Jakarta. dkk. from: (Accessed: 3. Available from: www. 2008. Asih S. Agnesa A. Riza M. Desember 1). DepKes RI. Pneumonia. 2009. FKM UI 8. Tim Penyusun. Faktor – faktor lingkungan fisik rumah yang Berhubungan dengan kejadian pneumonia pada Anak balita di wilayah kerja puskesmas Kawunganten kabupaten cilacap. Landia S. Direktorat Jenderal PPM & PLP: Jakarta.blogspot.usu. shobur S. Available http://repository. Hotel JW Marriot Surabaya 4. Anonim. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan Penanggulangannya. Profil Puskesmas Narmada 2009. (Accessed: 2011. Bibliography: 40 (1985 – 2007) 11.com/infeksi saluran pernafasan akut (ispa) dan penanggulangannya/pdf.fkm-rasmaliah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful