Disleksia adalah sejenis kesulitan belajar (learning disability) yang ditandai dengan kesulitan dalam membaca.

Beberapa anak disleksia juga berkemungkinan mengalami kesulitan menulis, dan kadang-kadang juga kesulitan berbicara atau berhitung. Kita belum dapat memastikan apa sebenarnya yang menyebabkan anak menjadi disleksia. Yang kita tahu, hal itu amat mempengaruhi anak yang pada dasarnya sehat secara fisik dan emosional, memiliki kemampuan akademis, dan berasal dari lingkungan keluarga yang cukup baik. Sebenarnya, banyak anak disleksia mempunyai potensi untuk berprestasi yang amat luar biasa, kecakapan mental yang tinggi, serta orangtuanya berasal dari kalangan terdidik dan menganggap penting belajar.Masalah membaca dengan berbagai macam bentuknya merupakan masalah penting bagi para anak sekolah. Adapun, para periset telah menemukan beberapa penyebab masalah tersebut. Dewasa ini, para guru kebanyakan menerima temuan-temuan hasil riset itu untuk kemudian menggunakannya dalam penyusunan program pembelajaran. Namun, ada sebagian kecil anak yang memiliki kesulitan dalam belajar membaca tapi tidak sepenuhnya sesuai dengan hasil temuan tersebut. Anak-anak ini disebut anak disleksia. Walaupun upaya untuk memperkirakan prevalensi anak disleksia merupakan hal yang sulit, beberapa periset memperkirakan bahwa sekitar 15 persen siswa Amerika Serikat diklasifikasikan sebagai anak disleksia.

B.DefinisiDisleksia Selama beberapa tahun, istilah disleksia memiliki beragam definisi, dan dengan alasan tersebut, para guru jadi enggan menggunakan kesemua istilah itu. Bahkan, mereka telah menggunakan istilah seperti “reading disability” (kesulitan membaca) atau learning disability untuk menggambarkan kondisi yang dirasa lebih tepat sebagaimana istilah disleksia. Walau istilah disleksia sendiri belum diterima secara umum, salah satu definisi disleksia yang disajikan World Federation of Neurology memiliki cakupan yang lebih luas, yaitu “suatu gangguan berupa kesulitan dalam membaca walaupun instruksinya bersifat umum, serta memiliki inteligensi dan kesempatan sosial yang cukup baik.” C.Simptom-simptom Anak disleksia memiliki perbedaan satu sama lain. Satu-satunya sifat yang sama pada mereka adalah kemampuan membacanya yang sangat rendah dilihat dari usia dan inteligensi yang dimilikinya. Hambatan membaca ini biasanya dipilah ke dalam level-level kelas. Misalnya, anak kelas empat yang level membacanya sama dengan level membaca kelas dua disebut trtinggal dua tahun dalam kemampuan membacanya. Setiap anak memiliki kemungkinan disleksia, dan ada pula anak yang tidak disleksia tetapi mempunya

dan tulisan tangannya tidak terbaca. Siswa yang level membacanya tertinggal dua tahun saat ia duduk di kelas empat memiliki masalah belajar yang lebih serius ketimbang anak kelas 10 yang level mebacanya baru pada level kelas dua. merupakan salah satu ilmuwan pertama yang meneliti disleksia. tangan sama baiknya). Simptom-simptom lain yang diamati Orton diantaranya:   Ragu-ragu dan lambat dalam berbicara Kesulitan memilih kata yang tepat untuk menyampaikan maksud yang diucapkannya Bermasalah dalam menentukan arah (atas – bawah) dan waktu (sebelum – sesudah. Orton.pengalaaman kesulitan membaca. Terbalik saat menulis huruf atau angka yang bermiripan (p – q. b – d atau 2 – 5. Berarti pada anak kelas 10 ia sudah menguasai 8 kelas atau 80 persen kecakapan yang diperlukan untuk menjadi membaca yang baik. sekarang-kemarin)  Tampak kikuk. 6 – 9). Pemilahan kemampuan membaca seperti itu memang lumayan tepat tapi juga dapat menyesatkan. Dalam kerja sama penelitiannya dengan mahasiswa di Iowa dan New York. kebanyakan anak disleksia hanya memiliki sebagian kecil . Orton juga menemukan bahwa kebanyakan anak disleksia memiliki orangtua atau saudara yang juga disleksia. Acap kali mereka pun membaca dari kanan ke kiri. ia menemukan bahwa anak disleksia memiliki salah satu atau lebih hambatan berikut:   Kesulitan dalam mempelajari dan mengingat kata yang tertulis atau tercetak. lugu atau apa adanya saat menggunakan tangan. seorang neurolog yang tertarik pada masalah pembelajaran membaca pada tahun 1920-an. Anak kelas empat baru mempelajari sedikit kecakapan membaca ketimbang anak kelas 10. 35 – 53. Mengubah urutan angka atau huruf pada kata (12 – 21.Samuel T. misalnya saat menulis. atau sop – pos)  Menghilangkan atau menyisipkan huruf pada kata (misalnya : sekolah à seolah atau kertas à keras) Huruf vokal tidak jelas atau mengganti konsonan Selalu salah eja Kesulitan dalam menulis    Orton mencatat bahwa bayak anak disleksia yang kidal atau ambidextrous (dapat menggunakan kedua belah tangan. Sayangnya.

* Sifat Bahasa Inggris Banyak kata dalam Bahasa Inggris yang tidak mengikuti prinsip-prinsip fonetis. Sekarang banyak ahli sepakat bahwa ada banyak faktor yang mungkin saling berkombinasi menyebabkan mereka mengalami kesulitan membaca. Dan untuk mengenali katakata asing tertulis sebagaimana mengeja tulisan kata itu setelah mendengar pelafalannya. Sementara ahli membaca yang lain meyakini bahwa dengan mengkombinasikan pendekatan “kata utuh” dan metode fonetik merupakan cara paling efektif dalam pengajaran membaca. Sementara. Mereka berpikir bahwa metode fonetik. selain mengenali kata sebagai satu kesatuan (unit) anak pun akan belajar cara menerapkan aturan fonetik pada kata-kata baru. memperkuat program “membaca permulaan”merupakan upaya penting untuk mengurangi jumlah dan taraf kesulitan membaca pada anak. psikologis. Namun demikian. terutama bagi anak-anak disleksia. Terutama. D. dan biologis. setiap kata memberi kontribusi terhadap masalah . para ahli yang yakin bahwa praktek peggunaan metode itulah yang pada dasarnya menimbulkan kesulitan membaca. Kata-kata seperti cough. yaitu faktor pendidikan. were. metoden “whole-word” yang mengajarkan kata-kata sebagai satu kesatuan ketimbang mengajarkan bahwa kata merupakan bentuk bunyi dari suatu tulisan. yang mengajakan anak nama-nama huruf berdasarkan bunyinya.kesulitan-kesulitan membaca tersebut. 1. memberikan fondasi yang baik untuk membaca.Faktor-faktorPenyebab Pada awalnya. Penyebab disleksia itu bisa dikelompokkan menjadi tiga kategori faktor utama. metode apapun yang digunakan. Oleh karena itu. dan laugh merupakan beberapa contoh jenis kata yang harus diperhatikan karena pelafalannya berbeda dengan tulisannya. Dengan menggunakan kedua metode tersebut. Mereka mengklaim bahwa anak yang belajar membaca dengan etode fonetik kan lebih mudah dalam mempelajari kata-kata baru. para periset meneliti penyebab utama disleksia. Tapi dengan memiliki salah satu saja jenis kesulitan itu sudah membuat kebutuhan pendidikannya menjadi unik. Sehingga mempelajari cara membaca dan mengeja/melafalkan bahasa ini menjadi sulit. was. Faktor Pendidikan Metode Mengajar Banyak ahli setuju bahwa disleksia disebabkan oleh metode yang digunakan dalam mengajarkan membaca.

Diyakini bahwa area-area tertentu dari otak anak . kalau skor itu tepat memang bisa merefleksikan kecakapan skolastik anak. atau memiliki hubungan yang kurang baik dengan orangtua atau dengan anak lain kemungkinan memiliki masalah belajar. Anak-anak disleksia acap kali bersikap negatif terhadap segala situasi pegetesan. oleh karenanya diperkirakan kata-kata semacam itu bukan merupakan penyebab utama disleksia. Faktor Biologis Sejumlah peneliti meyakini bahwa disleksia merupakan akibat dari penyimpangan fungsi bagian-bagian tertentu dari otak. tidak memiliki orangtua. namun yang jelas stress dapat memperburuk masalah belajar. 2. 3. Stress mungkin juga mengakibatkan disleksia.membaca. namun bila saja skor itu tidak tepat maka skor itu tidak memiliki makna. seperti suasana gaduh. Bahkan pada tes yang sengaja dirancang untuk tes individual dan hanya memerlukan sedikit saja kemampuan baca-tulis pun bisa saja tidak tepat mengukur inteligensi. * Tes Inteligensi Definisi yang umum diterima adalah bahwa disleksia merupakan kesulitan membaca pada anak yang inteligensinya normal. kurangnya kerja sama dengan guru. Hasil tes inteligensi yang biasanya berupa skor IQ haruslah ditafsirkan secara hati-hati. Skor IQ bisa dipengaruhi oleh banyak faktor selain inteligensi. Kata-kata seperti itu memang tidak begitu banyak. Definisi iu didasarkan pada anggapan bahwa kita dapat mengukur inteligensi secara akurat. Di samping itu. kelelahan. kita harus memperlakukan skor IQ itu seperti skor lainnya. Artinya. sedang marah-marah. Faktor Psikologis Beberapa periset memasukkan disleksia ke dalam gangguan psikologis atau emosional sebagai akibat dari tindakan kurang disiplin. Bahkan mendorong kita untuk memberikan label yang salah pada anak. anak yang kurang ceria. Skor tes itu mungkin lebih mencerminkan lemahnya kecakapan berbahasa anak itu ketimbang inteligensinya. Dengan sedemikian banyaknya kemungkinan yang berpengaruh terhadap skor IQ. sering pindah sekolah. hasil tes juga dipengaruhi oleh banyak faktor kondisi. atau penyebab-penyebab lain. atau hal-hal tertentu yang mungkin terjadi pada saat tes. Metode treatmen yang efektif pasti dapat mengurangi kecemasan disleksia. Memang. Tes-tes IQ yang harus dilakukan dengan proses membaca atau menulis tentu saja akan menimbulkan masalah bagi anak disleksia.

Adapun jika anak itu memang disleksia. para pendidik dan psikolog sepakat bahwa remedial yang dilakukan bagi anak-anak disleksia harus difokuskan pada gangguan spesifiknya. maka metode pengajaran yang digunakan sepatutnya divariasikan. anak-anak disleksia itu berbeda satu sama lain. Karena tak ada satu metode pun yang sesuai bagi semua anak. Oleh karena itu. seperti tutuorial. si penguji akan dapat mengidentifikasi jenis kekeliruan yang kerap dilakukan anak tersebut. sekolah libur. program remediasi sebaiknya dirancang sebagai program individual.disleksia perkembangannya lebih lambat dibanding anak-anak normal. Ingat. Di samping itu kematangan otaknya pun lambat. Rancangan tersebut sebaiknya menggambarkan kecakapan-kecakapan anak yang diharapkan tercapai dalam periode waktu tertentu. Penelaahan otak ini telah menyingkap karakteristik perkembangan otak. sebaiknya dijadikan bahan pertimbanngan ketika merancang program treatmen baginya. Faktor genetik juga diperkirakan turut berperan. dan gaya belajar. Program treatmen bagi anak-anak . pola perilaku. Teori lainnya menyatakan bahwa disleksia disebabkan oleh gangguan pada struktur otak. speech teraphy. pendekatan treatmen biasanya diarahkan untuk memodifikasi metode pengajaran dan lingkungan pendidikan. Treatmen (Penanganan) Secara umum. seperti skolastik (IQ). sepanjang hal itu diperkirakan sebagai pemicu disleksianya. Ternyata. Hal ini berarti bahwa faktor genetis dan faktor lingkungan-sosial sama-sama mempunyai kontribusi terhadap masalah belajar tersebut. Teori memang dulu banyak diperdebatkan. Kelebihan dan kelemahan anak dalam bidang pendidikannya . Dari situ dieproleh gambaran bahwa gangguan struktur otak mungkin mengakibatkan sejumlah kasus penting disleksia berat. Beberapa peneliti menerima bahwa teori ini masih diyakini sampai saat diadakan penelitian penelaahan otak manusia disleksia yang meninggal. atau rekomdenasi mengenai penempatan anak tersebut di kelas khususnya. namun buktibukti mutakhir mengindikasikan bahwa teori itu memiliki validitas. Kemudian penguji pun dapat mendiagnosis apa yang menjadi masalahnya. E. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa 50 persen atau lebih anak disleksia memiliki riwayat orangtua yang disleksia atau gangguan lain yang berkaitan. dapat diajukan rekomendasi untuk penanganannya. Anak-anak yang dicurigai disleksia sebaiknya dites oleh ahli pendidikan yang terlatih atau psikolog. Dengan menggunkan beragam tes. serta meggambarkan pula materi dan metode yang digunakan untuk membantu anak mencapai penguasaan kecakapan itu. Penguji juga bisa merekomendasikan pendekatan-pendekatan khusus untuk treatmen bagi anak ini. lebih banyak anak laki-laki yang disleksia daripada anak perempuan.

korektif (pembetulan). Riset-riset terbaru membuktikan bahwa disleksia tidak aka hilang sama sekali. atau anaknya akan berkembang dengan sendirinya. Guru remedial mempertimbangkan hal tersebut sebagai dasar dalam menentukan kecakapan yang yang dirasakan anak paling menyulitkan. penglihatan untuk mengamati bentuk huruf dan kata. dan remedial (perbaikan). tetapi anak-anak ini memerlukan waktu dan perhatian yang ekstra.disleksia dapat dipilah ke dalam tiga kategori. Metode ini memiliki kelebihan. Kesulitan yang dialami memiliki dampak pada anak dan muncul dalam berbagai simptom yang taraf kesulitannya sulit diprediksi. Guru . Sayangnya. Materi disusun secara logis dan sifat Bahasa Inggris (sesuai aslinya –penterjemah). Dalam hal ini. dengan mengetahui kompleksnya disleksia. membuat kalangan pendidik kian memperketat pemilihaan metode yang paling tepat bagi setiap anak. Penerapan kelompok kecil dan pendekatan tutorial di mana guru dapat membagi perhatian pada anak secara individual. yaitu menangani masalah pendidikan dan masalah psikologis yang mengganggu kelancaran belajar. Dan kesan gerak tangan dan otot untuk memproduksi bicara dan tulisan huruf dan kata. untuk kemudian menerapkan teknik-teknik individual yang terstruktur dalam meremediasi hambatan-hambatan kemampuannya. Pendekatan Pengembangan digambarkan sebagai suatu pendekatan “more of the same”. Kalangan pendidik menganjurkan penggunaan pendekatan multisensori. yaitu pendekatan yang melibatkan semua indera dalam proses belajarnya. dan pengajaran tradisonal yang diberikan secara ekstra pun tidak banyak mengurangi kondisi disleksianya. Pendekatan Remedial terutama dikembangkan untuk menangani kelemahan dua metode di atas. Pendengaran untuk menyimak bunyi huruf atau kata. Para pegguna metode ini bermaksud untuk memberi kesempatan anak untuk mengekspresikan kemampuan khususnya untuk menangani kesulitan yang dimilikinya. Orangtua anak disleksia mungkin menganggap bahwa anaknya akan dapat membaca bila sudah sampai waktunya. yaitu pengembangan. tapi lebih menekankan pada minat dan modal yang dimiliki anak. Dalam hal ini guru meggunakan metode-metode yang sebelumnya telah digunakan dan berguna. Pendekatan Korektif juga menggunakan kelompok kecil dengan teknik tutorial. Prognosis Prognosis bagi anak disleksia merupakan suatu proses terpadu. Banyak peneliti dan kalangan pendidik percaya bahwa ini bukanlah metode yang efektif bagi sebagian besar anak (normal). tapi pelaksanaan pengajarannya langsung diarahkan pada hambatan-hambatan yang dialaminya. guru mengenali dan mengakui terlebih dahulu bahwa si anak memiliki suatu modal tertentu. Setiap program menggabungkan lebih dari satu kategori di atas.

serta mendapatkan program treatmen yang cukup memadai. Sebab. dan treatmen yang dilakukan akan menjadi kian sulit lagi. Namun mereka tetap perlu bersikap optimis. Dan sebagian lagi bisa meguasai kemampuan dasar membaca namun belum lancar. bahkan amat berputus asa dan kehilangan ambisinya. Semakin dini diagnosis dan treatmen dilakukan pada anak disleksia. diperkirakan akan meraih kemajuan yang baik. Banyak diantara mereka yang masih juga memiliki masalah ejaan. merasa bersalah. Beberapa anak disleksia memang berkembang membaik dalam waktu singkat. namun amat jarang program seperti itu diberikan pada siswa-siswa di kelas besar. Anak yang kurang optimis jarang yang yang sukses dalam mengikuti program treatmen. program remedial hanya diberikan pada anak kelas kecil. kondisi lingkungan dan sosial dapat memperlemah program treatmen. masalah yang tak tertanngaani akan terakumulasi seiring waktu dan jenjang keals yang ditempuh anak. Mereka mungkin menjadi marah. peluang keberhasilan anak akan kian besar. akan semakin banyak kecakapan berbahasa yang dapat dicapai. kesal. Namun demikian. Anak disleksia yang sudah teridentifikasi sejak dini. memiliki self imge yang kuat. Program remedial sebenarya dapat diberikan selama anak itu mau dan termotivasi untuk belajar. walaupun sebenarnya program juga remedial diperlukan anak-anak yang duduk di kelas besar. maka disleksia dapat mempengaruhi emosional adjusment (pola penyesuaian emosionalnya). Mengulangi kegagalan merupakan suatu hal yang tidak mengenakan. Waktu saat dilakukanya treatmen juga berpengarauh terhadap pelung perbaikan yang akan dicapai anak disleksia. dan hubungan dengan guru berpegaruh banyak terhadap hasil pembelajaran. Karena kemajuan kemampuan membacanya kecil. Walaupun orang dewasa juga dapat diperbaiki dengan program remedial.Taraf kemampuan anak disleksia dipegaruhiolehbeberapahal. maka pencapaian tingkat akademis dan vokasional bagi mereka pun perlu diperendah. anak disleksia akan mencapai kemajuan. Taraf disleksia bisa juga dipengaruhi oleh kepribdian dan motivasinya. Dalam lingkungan yang kondusif. Seringkali. bahkan sampai perguruan tinggi. Dengan pemberian bantuan yang beragam dan kontinyu. Sikap optimis merupakan hal penting. tapi anak yang lain perkembangannya lamban dan yang lainnya lagi masih enggan mengikuti proses pembelajaran. Program remedial yang tepat tentu saja menjadi hal yang penting. teman sebaya. Pola hubungan anak dengan keluarga.pun terlalu banyak memberikan remedial dengan rentang waktu lama. memperoleh dukungan dari kelurga dan temantemannya. . Mereka mungkin membutuhkan konseling untuk menangani gangguan emosional yang dikibatkan oleh disleksianya. karena ia enggan mengulangi kegagalan. Siswa yang duduk di kelas besar memang memiliki motivasi yang lebih kecil. Karena kemampuan membaca merupakan hal yang vital bagi anak. sehingga penanganannya pun akan kian sulit.

seperti electroencepalography dan PET-scan (Positron Emission Tomography) yaitu suatu teknik pencitraan aktivitas otak. Dukungan Riset NICHD The National Instiuteof Child and Human Development (NICHD) mendukung beberapa penelitian yang lakukan untuk menentukan bagaimana cara kebanyakan anak disleksia membaca dan apa yang menghambat mereka meraih kecakapan utamanya. Dengan demikian. Jalan menuju tujuan tersebut adalah dengan melakukan identifikasi dini pada semua anak yang beresiko disleksia sehingga dapat rancang petunjuk dan prosedur yang lebih tepat. masih banyak masalah gangguan perkembangan anak yang belum terjawab. Walau telah banyak ditemukan bukti diperoleh dari berbagai penelitiann.F. Tujuan akhir yang ingin kita tuju adalah pencegahan disleksia dan gangguan belajar spesisfik lain secara menyeluruh. gejala-gejala disleksia dapat dihilangkan atau setidaknya meminimalkan pengaruh disleksianya itu terhadap perkembangan intelektual . Beberapa peneliti tengah merancang tes-tes bahasa yang dapat memprediksi kecakapan membaca yang seharusnya dimiliki anak usia 5-6 tahun. . Kendatipun kesan tentang adanya ciri perilaku an neurologis pada anak disleksia telah terbukti. Beberapa ilmuwan memperoleh dukungan NICHD yang mengadakaan penelitian terhadap anak dari keluarga yang berpeluang lebih tinggi mengalami disleksia atau gangguan bahasa lain untuk menentukan penyebab genetis pada gangguan membaca. agaknya banyak kasus disleksia dapat dihindari. Para peneliti lain tengah berupaya mengidentifikasi anak yang memiliki resiko disleksia melalui prosedur pengujian persarafan moderen. Sedangkan para peneliti yang lainnya lebih memfokuskan pada penggambaran berbagai tipe dan subtipe disleksia dengan harapan agar rancangan treatmen yang akan diberikan menjadi lebih tepat dan terarah. penelitian lanjutan tetaplah penting. Jika upaya para peneliti ini berhasill. Semua riset medis dan riset pendidikan mengenai teknik-tekik diagnostik dan program pendidikan individual akan kian membuka luas kesempatan bagi anak disleksia menjadi anggota masyarakat yang melek huruf. dan sosialnya. akademik. psikologis.