You are on page 1of 17

Sigmoidoskopi fleksibel (lentur) Sigmoidoskopi fleksibel (lentur) memungkinkan suatu pemeriksaan yang lebih teliti dari rektum dan

kolon sigmoid hingga ke kolon desenden dan telah menggantikan sigmoidoskopi yang kaku. Diperkirakan bahwa sigmoidoskopi lentur ini dapat mendeteksi 60%-83% kanker dan polip yang biasanya ditemukan dengan kolonoskopi. Kaiser-Permanente melakukan penelitian terhadap hal tersebut, dan terdapat pula beberapa studi dari sigmoidoskopi fleksibel yang memperkirakan penurunan angka kematian dan insidensi yang cukup besar dari deteksi dini terhadap individu-individu yang asimptomatik. Meskipun demikian, studi penelitian tersebut tidak dapat mengendalikan bias yang melekat pada evaluasi deteksi dini. Percobaan dalam dua skala besar acak, satu di Amerika Serikat dan satu di Inggris, saat ini menggunakan metode deteksi dini tersebut. Penelitian ini dapat memberikan perkiraan yang lebih baik mengenai keunggulan dari sigmoidoskopi sebagai alat deteksi dini, sementara terus menjadi bagian dari pedoman dalam deteksi dini kanker kolorektal. Kolonoskopi Kolonoskopi yang memungkinkan pemeriksaan lengkap dari rektum dan kolon hingga ke sekum, telah menjadi metode skrining kanker kolorektal yang lebih disukai oleh para ahli gastroenterologi, dokter serta kesehatan masyarakat. Meskipun kurangnya bukti langsung, antusiasme terletak inferensi dari yang lain, yaitu bukti tidak langsung. Sebanyak 15%-33% pengurangan angka kematian dari skrining darah pada tinja yang disebabkan oleh kolonoskopi hampir seluruhnya diikuti hasil tes positif. Tidak hanya kanker yang ditemukan dan secara awal diobati dengan menggunakan kolonoskopi pada penelitian ini, tetapi adenoma prekanker yang ditemukan selama pemeriksaan telah dibuang dan kemungkinan besar menyebabkan pengurangan angka kejadian yang terlihat pada setidaknya satu penelitian. Disamping itu, studi observasional yang positif baik dari sigmoidoskopi dan kolonoskopi mendukung kemanjuran kolonoskopi sebagai metode skrining. Namun, karena efek yang sebenarnya pada kematian dan kejadian tidak diketahui, analisis keefektifitasan biaya dalam membandingkan metode skrining yang berbeda tersebut bergantung pada perkiraan yang tidak dapat diandalkan. Saat ini dalam pedoman di Amerika Serikat, kolonoskopi dianjurkan setiap 10 tahun pada individu yang beresiko. Alasannya berdasarkan bukti dari penelitian observasional, karena keunggulan dari kolonoskopi belum diteliti secara langsung. Umumnya dipercaya bahwa waktu rata-rata dari pengembangan polip untuk berkemban menjadi keganasan invasif minimal 10 tahun. Karena sensitifitas kolonoskopi terhadap kanker dan polip sangat tinggi, dengan deteksi dini setiap 10 tahun maka hampir semua polip dapat terdeteksi sebelum berubah menjadi keganasan dan beberapa diantaranya ditemukan dalam stadium awal.

Trecca et al. Rex membahas masalah variabilitas yang luas dalam kinerja skrining kolonoskopi diantara para ahli gastroenterologi. menunjukkan bahwa 21% adenoma tidak terdeteksi: 26% diantaranya adenoma berukuran 1-5 mm dan 2% adenoma berukuran 10 mm atau lebih. Van Rijn et al. CT spiral memungkinkan suatu cara noninvasif untuk membuat gambaran tiga dimensi dari kolon dan rektum sehingga dapat digunakan untuk melihat polip dan kanker. Karena persiapan usus untuk kolonoskopi baik virtual maupun optik dapat mengganggu dan menyakitkan bagi pasien. Dengan penggunaan zat kontras seperti barium dan persiapan usus untuk meminimalisir sisa tinja. Suatu alternatif yaitu mengembangkan pusat-pusat yang memungkinkan kolonoskopi optikal langsung diikuti dengan kolonoskopi virtual sehingga dengan persiapan yang sama akan digunakan untuk kedua prosedur . mengevaluasi kromoendoskopi disamping kolonoskopi konvensional untuk mendeteksi neoplasma datar dan menunjukkan bahwa kromoendoskopi. cukup lambat dan hati-hati selama penarikan. Bahkan lebih besar lagi. dimana studi tandem atau back-to-back kolonoskopi dilakukan. tapi waktu dan biaya untuk prosedur ini akan meningkat. Temuan utama tersebut disajikan dalam Tabel 2.Menariknya. namun pada pasien yang menunjukkan lesi yang signifikan harus menjalani kolonoskopi optikal untuk meniadakan pemeriksaan patologi. Nilai utamanya adalah bahwa kolonoskopi virtual kurang invasif dan berpotensi memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi dibandingkan kolonoskopi. Dalam sebuah pengamatan baru-baru ini. suatu tes diagnostik untuk kanker kolorektal bukanlah tanpa masalah. Beberapa peneliti sedang mempelajari metode persiapan untuk kolonoskopi virtual dengan cara menandai usus dan dengan demikian lebih mudah untuk mengidentifikasi sisa tinja. Kesempurnaan metode tersebut hanya akan mengharuskan pasien pemeriksaan kolonoskopi virtual untuk melakukan persiapan bilas usus sebagai tindak lanjut dari kolonoskopi optikal. beberapa masalah dapat ditangani. mereka berpendapat bahwa perbaikan dalam teknologi akan membantu. Dia menyarankan bahwa ahli kolonoskopi terbaik harus mencapai persiapan usus yang efektif dan aman. kolonoskopi. maka sebaiknya hanya dilakukan sekali tiap skrining. terutama untuk lesi nonpolipoid. penelitian eksperimental multisenter saat ini sedang dilakukan untuk mengevaluasi lebih lanjut tentang kolonoskopi virtual sebagai metode skrining yang layak. dapat mendeteksi lesi dengan jaringan yang lebih lanjut yang tidak terjawab oleh kolonoskopi konvensional. dan mengidentifikasi semua adenoma. ahli radiologi telah mencapai kinerja deteksi yang mirip dengan kolonoskopi optikal dalam percobaan yang cukup besar. PENCITRAAN COMPUTED (KOLONOSKOPI VIRTUAL) TOMOGRAPHY KOLONOGRAFI Pencitraan CT untuk mendeteksi kanker kolorektal telah diusulkan sejak tahun 1980.

Fiore et al mengevaluasi Magnetic Resonance (MR) kolonografi pada pasien berisiko tinggi (riwayat keluarga/riwayat dahulu menderita polip atau kanker kolorektal) supaya dilakukan kolonoskopi optikal.7]) 1138/1185 (96.9-95. konsensus atau kesepakatan penggunaan kolonoskopi virtual secara rutin bertambah. Hal yang terkait adalah menentukan kriteria untuk kolonoskopi optikal berdasarkan ukuran atau jumlah lesi yang ditemukan dengan kolonoskopi virtual.3[90.2-96.5[83. secara berturut-turut adalah 65% dan 67% dan untuk polip yang lebih besar dari 10 mm.9[78.8]) virtual .8[82.0]) 366/1233 (29.3]) 47/51 (92.8-95. Meskipun demikian.2-97.3]) Analisis berdasarkan polip 180/210 sensitivitas kolonoskopi (85.0]) 1061/1151 (92.7[85.8-98.1]) 1169/1233 (94.0-82.5[6.9[93.0-98.3[87.8]) 100/110 (90.2[7.1-9.9[94. sensitivitas dan spesifitasnya secara berturutturut sebesar 75% dan 93%.6-83. Kolonoskopi optikal lebih baik dilakukan dibandingkan dengan CT kolonografi terutama untuk polip kecil.2[81.tersebut.7[82.0[83.3-89.5[83.7-89.6[85.6]) 75/82 (91.2]) 1081/1233 (87.1]) 1183/1233 (95. Suatu zat kontras oral ditambahkan ke semua makanan besar.8-97.8[81.6[17.1]) 119/133 (89.4[85.1]) 1116/1176 (94.5]) 53/57 (93.7-15.0]) 56/61 (91.6]) 981/1123 (87.2[90.9-93.5]) 242/1233 (19. CT kolonografi lebih unggul dengan kontras barium enema-udara.5[74.4-96.7-93. Penulis menyimpulkan bahwa hasilnya adalah sederhana.7[80.4-97.7]) 167/1233 (13. Untuk polip dengan ukuran lebih besar dari 6 mm.3-98.9]) 51/57 (89.5-96. terutama dalam kasus dimana kolonoskopi optikal mungkin sulit dilakukan karena kelemahan atau keengganan pasien.9[83. Rosman dan Korsten melakukan metaanalisis dari 30 studi CT kolonografi dan menentukan bahwa sensitivitas tinggi untuk polip kecil lebih besar daripada CT kolonografi dua dimensi atau tiga dimensi yang dilakukan di sekitarnya. sebagian besar terdiri dari diet rendah serat dan mengonsumsi 12 gram bubuk laktosa (dalam paket 6 gram) yang terlarut dalam air sebanyak satu kali sehari. Tabel 2.6-10.6]) 77/82 (93.5[11.0[94.1]) 42/48 (87.3]) 155/168 (92.2-90.5-96.6[77.0-94.0]) 997/1233 (80.1-95.9[83.0]) 92/1233 (7. Untuk mengatasi persiapan usus yang luas serta paparan radiasi yang terkait dengan CT kolonografi.4-22.7[27.1-97.0]) 100/110 (90. sensitivitas dan spesifitas CT kolonografi.1-32.8[93.1]) 848/1065 (79.7-97.9[86.0]) 45/48 (93.0]) 113/1233 (9. dan penggunaan MR kolonografi untuk skrining harus menunggu perkembangan teknik lebih lanjut.7]) 1138/1233 (92.1]) 88/95 (92.9-95. Karakteristik Penggunaan Kolonoskopi Virtual dan Kolonoskopi Optikal untuk Mendeteksi Adenoma Variabel ≥ 6 mm ≥ 7 mm Kategori Lesi ≥ 8mm ≥ 9 mm ≥ 10 mm Nomor / Total nomor 1% [95% CI] Analisis berdasarkan pasien Virtual kolonoskopi sensitivitas spesifisitas ketepatan tingkat test positif Sensitivitas kolonoskopi optikal 149/168 (88. Suatu persiapan usus yang minimal digunakan.5[78.5-93.

7% dari semua polip dengan ukuran tersebut terdeteksi pada pemeriksaan dengan kolonoskopi virtual.1-93. contohnya sensitivitas dari kolonoskopi virtual untuk polip berukuran ≥ 6 mm menunjukkan bahwa sebanyak 88. beberapa pasien mungkin berada pada rata-rata yang lebih tinggi untuk risiko kanker kolorektal.7% dari seluruh pemeriksaan menemukan polip berukuran ≥ 6 mm. bersifat noninvasif yang terdiri dari sirkuit nirkabel untuk mencari dan mentransmisikan sinyal.8]) 55/61 (90.1-95. pengkajian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah metode ini memiliki potensi untuk skrining kanker kolorektal. Tidak ada kematian yang dilaporkan dan hanya sejumlah kecil efek samping dari endoskopi kapsul yang ada saat ini.sensitivitas kolonoskopi optikal 189/210 (90.9% dari seluruh pemeriksaan dilaporkan secara tepat terdapat polip berukuran ≥ 6 mm atau bahwa tidak terdapat polip berukuran ≥ 6 mm. Penggunaan paling umum untuk endoskopi kapsul ini yaitu dalam kasus-kasus perdarahan gastrointestinal jelas yang menetap setelah endoskopi menunjukkan hasil negatif. Rekomendasi skrining ini ditujukan khusus untuk individu berisiko tinggi.7]) 85/95 (89.2[76. DETEKSI DINI KANKER KOLOREKTAL UNTUK PASIEN BERISIKO TINGGI Berdasarkan berdasarkan faktor-faktor risiko keluarga atau keturunan.5[81. Telah ada beberapa upaya penggunaan endoskopi kapsul untuk skrining kanker kolorektal. Vijan et al menemukan bahwa CT kolonografi dalam segi biaya lebih mahal dan kurang efektif daripada kolonoskopi optik.7]) 120/133 (90.6]) CI: confidence interval.7% dari semua polip berukuran ≥ 6 mm dilaporkan oleh pemeriksaan tersebut. Ketepatan: persentase dari seluruh pemeriksaan yang memberikan ketepatan hasil menurut kategori ukuran polip. contohnya spesifitas kolonoskopi virtual untuk polip berukuran ≥ 6 mm menunjukkan bahwa sebanyak 79.2[79.6% dari semua pemeriksaan pada individu tanpa polip dilaporkan tidak ada polip berukuran ≥ 6 mm. Untuk analisis berdasarkan polip: Sensitivitas: persentase dari semua polip dengan berbagai kategori ukuran yang dilaporkan dengan pemeriksaan tersebut. contohnya sensitivitas dari kolonoskopi virtual menunjukkan bahwa sebesar 85. Pemeriksaan ini memiliki potensi untuk mendeteksi lesi pada usus halus. Data untuk studi kolonoskopi virtual dianggap positif pada setiap kategori ukuran. TEKNOLOGI PENCITRAAN YANG LAINNYA Endoskopi kapsul. rentang kepercayaan Untuk analisis berdasarkan pasien: Sensitivitas: persentase dari seluruh pemeriksaan pada individu dengan sekurang-kurangnya satu ukuran polip yang tercatat telah dilaporkan memiliki sekurang-kurangnya satu pemeriksaan.9-94. Data untuk kolonoskopi optikal adalah untuk kolonoskopi optikal yang dilakukan sebelum hasil kolonoskopi virtual didapat.5-94. contohnya ketepatan dari kolonoskopi virtual untuk polip berukuran ≥ 6 mm menunjukkan bahwa sebesar 80.8-96. tetapi implementasinya merupakan sebuah tantangan. Spesifitas: persentase dari seluruh pemeriksaan pada individu tanpa polip dalam kategori ukuran yang tidak dilaporkan pada kategori ukuran tersebut. Dalam sebuah .0[85. Prosedur ini dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien. Tingkat tes positif: persentasi dari seluruh pemeriksaan yang melaporkan sekurang-kurangnya satu polip dalam kategori ukuran. contohnya tingkat tes positif untuk polip berukuran ≥ 6 mm menunjukkan bahwa sebesar 29. dan bahwa perbaikan lebih lanjut akan perlu dibuat untuk menemukan pemeriksaan yang dapat menjadi pilihan skrining yang efektif biaya.3]) 45/51 (88.2[83. suatu kapsul tanpa kabel.

Tabel 3. menemukan bahwa kurang dari setengah dari pasien dengan sejarah keluarga yang kuat terhadap kanker kolorektal yang diskrining secara tepat. Rekomendasi Skrining Kanker Kolon untuk Individu dengan Risiko Kanker pada Keluarga atau Keturunan Kategori Risiko Keluarga tingkat pertama yang terkena kanker kolorektal atau polip adenomatosa saat usia ≥60 tahun. Tabel 3. atau dua keluarga tingkat kedua yang terkena kanker kolorektal Dua atau lebih keluarga tingkat pertamaa dengan kanker kolon. Bagi individu yang diduga memiliki kanker usus besar nonpolyposis yang diwariskan dalam keluarga mereka. memberikan pedoman bagi pasien berisiko tinggi. bagaimanapun.c dengan kanker kolorektal Gen pembawa atau berisiko untuk poliposis adenomatosa familial d Gen pembawa atau berisiko untuk HNPCC Skrining yang Direkomendasikan Sama seperti risiko pada umumnya. Fletcher et al. Namun. tapi dimulai saat usia 40 tahun Kolonoskopi setiap 5 tahun. penggunaan alkohol. tetapi malah menggunakan kata ‘surveilans’. orang-orang dalam kelompok risiko tertinggi memiliki rasio kemungkinan 15. ada kondisi lain yang berisiko tinggi dan tetap memerlukan skrining. atau seorang keluarga tingkat pertama dengan kanker kolon atau polip adenomatosa saat usia <60 tahun Seorang keluarga tingkat kedua atau ketigab.penelitian terbaru tentang pasien yang dipilih secara acak di sebuah kelompok praktik multispesialis besar. Dalam satu aplikasi dengan menggunakan data dari studi kesehatan dokter.3. Kondisi klinis dikenal seperti penyakit radang usus (penyakit Crohn atau kolitis ulserativa) atau familial adenomatosa poliposis (FAP) menempatkan individu tersebut pada risiko tinggi untuk penyakit. Penting untuk mengumpulkan secara teliti tentang riwayat kanker pada seluruh keluarga saat mengevaluasi rejimen skrining bagi seorang individu. Metode lain yang lebih diusulkan untuk mengidentifikasi individu berisiko tinggi kanker kolorektal untuk target program skrining adalah penggunaan skor risiko berdasarkan faktor risiko seperti usia. dimulai saat usia 10-12 tahune Kolonoskopi setiap 1-2 tahun dimulai saat usia 20-25 tahun atau 10 tahun lebih muda dari kasus pertama dalam keluarga . Istilah ‘skrining’ biasanya tidak digunakan pada situasi tersebut. ada beberapa situasi dimana pola kanker kolorektal dalam keluarga meningkatkan risiko ke titik dimana skrining lebih awal atau lebih sering mungkin diperlukan. status merokok. skrining awal dan sering dengan kolonoskopi direkomendasikan. dan indeks massa tubuh. Bahkan jika pasien tidak memenuhi kriteria ini. dimulai saat usia 40 tahun atau 10 tahun lebih muda dari anggota keluarga yang pertama terdiagnosis Sama seperti risiko pada umumnya Sigmoidoskopi rutin setiap tahun. dan ini merupakan faktor genetika atau penanda fenotipik yang meningkatkan kemungkinan kanker kolorektal sejauh bahwa skrining perlu dilakukan lebih awal atau dengan lebih tepat.

seperti penderita sirosis. sepupu. tetapi pandangan jangka pendek untuk teknologi skrining baru agak sulit. Untuk lambung. kanker memberikan kontribusi signifikan terhadap morbiditas dan mortalitas. kanker gastrointestinal lain yang tidak terkait dengan metode yang dapat diterima dengan skrining untuk penyakit tanpa gejala. RINGKASAN Di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Skrining kolonoskopi pada APCC sebaiknya dimulai pada akhir masa remaja atau awal usia 20an. bibi. tidak ada pilihan yang layak di masa depan. a Keluarga tingkat pertama: orang tua. attenuated adenomatous polyposis coli. Demikian. beberapa dokter menganjurkan pelaksanaan jadwal surveilans endoskopi. yang ditandai dengan penggantian sel endotel dengan sel skuamosa. KANKER GASTROINTESTINAL LAINNYA Sayangnya. sindrom Gardner. beberapa penelitian yang menjanjikan telah dilakukan. APCC. c Keluarga tingkat ketiga: buyut. maupun bukti bahwa surveilans tersebut efektif dalam mengurangi angka kematian kanker. anak. harus terfokus pada individu berisiko tinggi. e Pada APCC. saudara kandung. Penelitian berskala kecil dan ketergantungan pada bias waktu kasus kelangsungan hidup daripada perbandingan kematian membuat hasil tersebut sampai saat ini tidak dapat diandalkan. Untuk kanker hati. hereditary nonpolyposis colon cancer. b Keluarga tingkat kedua: kakek-nenek. dan kanker hati. pencarian untuk biomarker telah difokuskan pada histologi dan genetika molekular karsinogenesis. usus halus. pekerjaan yang paling difokuskan pada skrining endoskopi bagi mereka yang berisiko tinggi akibat kronis dan parahnya penyakit refluks gastroesofageal. ditemukan. Penurunan terkini dalam insiden kanker dan kematian diantara warga Amerika Serikat sebagian terjadi karena penurunan tingkat . pankreas. paman. namun tidak ada data yang kuat untuk membimbing dokter pada seberapa sering pemeriksaan tersebut harus dilakukan.HNPCC. Untuk kanker esofagus. d Termasuk subkategori dari poliposis adenomatosa familial. Untuk kanker pankreas. kolonoskopi harus dilakukan dibanding sigmoidoskopi sebab lebih banyaknya kasus adenoma kolon proksimal. sindrom Turcot dan APCC. Keperluan untuk penelitian kohort berskala besar dengan sampel biologis yang telah diikuti studi secara prospektif membuat penelitian tersebut menjadi sulit. Jika kondisi yang dikenal sebagai esofagus Barrett.

tapi sejauh bukti-bukti tidak mendukung penggunaan rutin endoskopik atau metode skrining molekul untuk kanker ini. terbatasnya ketersediaan kohort besar dengan koleksi sampel jaringan prospektif dan kesulitan dan biaya melakukan percobaan besar prosedur penyaringan endoskopik akan terus menantang bukti akhirnya metode tersebut. Kombinasi antara nomor 1 dan 2 4. Teknik pencitraan baru memperbaiki barium enema x-ray dengan menggunakan CT spiral dengan rekonstruksi tiga dimensi dari lumen usus dikombinasikan dengan penandaan tinja serta media kontras barium. Tes imunokimiawi darah yang terdapat pada tinja memberikan spesifisitas yang lebih besar dengan bereaksi hanya untuk darah manusia. dan kanker hati sedang berlangsung. Penelitian tentang skrining untuk esofagus. Metode skrining yang lebih baru sudah dapat diterima. Sigmoidoskopi lentur 3. Skrining kanker kolorektal di Amerika Serikat telah diterima dengan baik.kanker gastrointestinal. Pemeriksaan foto Rontgen barium enema dobel kontras Frekuensi Setiap tahun Setiap 5 tahun Setiap tahun untuk pemeriksaan darah pada tinja dan setiap 5 tahun untuk sigmoidoskopi lentur Setiap 10 tahun Setiap 5 sampai 10 tahun Skrining awal atau lebih intensif diperlukan untuk individu berisiko tinggi karena alasan keluarga atau keturunan. dan tingkat skrining di Amerika Serikat telah meningkat menjadi lebih dari 50% dalam dekade terakhir. tetapi skrining untuk kanker kolorektal telah ditunjukkan oleh kedua penelitian yang dirancang dengan baik. dirangkum dalam Tabel 4. yaitu studi observasional serta uji acak ketat untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah penyakit. pankreas. terutama pada kanker kolorektal. Metode skrining untuk kanker gastrointestinal lainnya tidak digunakan saat ini. yaitu tes berbasis guaiac. Penelitian pengujian DNA dalam sampel tinja telah menunjukkan beberapa harapan dari teknologi itu. Lima metode berbeda dari skrining untuk individu yang rata-rata berisiko yang saat ini direkomendasikan oleh The United States Multisociety Task Force on Colorectal Cancer. Rekomendasi Skrining Kanker Kolorektal untuk Individu yang Berisiko Jenis Pemeriksaan Skrining 1. sementara tetap mempertahankan sensitivitas tes yang lebih terdahulu. Kolonoskopi 5. Tabel 4. Evaluasi seksama sejarah keluarga sangat penting untuk mengidentifikasi individu tersebut. Pemeriksaan darah pada tinja 2. Teknologi ini dapat memberikan . Beberapa penurunan tersebut adalah karena perbaikan dalam pengobatan.

Melanjutkan pengembangan teknologi skrining akan meningkatkan ketepatan percobaan serta penerimaan yang luas di kalangan penduduk yang menjadi target.sensitivitas yang lebih tinggi daripada kolonoskopi optikal untuk beberapa lesi. SESI 3 KANKER-KANKER GINEKOLOGIK KANKER SERVIKS .

Terdapat pengakuan bahwa pemeriksaan Pap smear telah menurunkan angka kejadian kanker serviks. Rekomendasi yang paling sering untuk menghentikan skrining yaitu pada usia 65 atau 70 tahun atau setelah histerektomi.Kebijakan skrining kanker serviks mengikuti sistem triase dalam mendeteksi. tergantung pada rekomendasi khusus yang diikuti dan metode pengumpulannya. sensitivitas tes kumulatif tahunan tinggi nilainya. Tes skrining utama untuk kanker serviks di negara maju adalah Pap smear. bagaimana menerapkan pengujian DNA human papilloma virus (HPV) ke dalam prosedur skrining. Para waanita yang menjalani Pap smear kemudian akan mengambil hasil dan diterapi sesuai hasil tersebut. dan kurangnya penerapan skrining tersebut untuk Negara-negara Dunia Ketiga. dapat diidentifikasi. ada kontroversi untuk banyaknya frekuensi tes harus dilakukan. The Canadian Task Force on Preventive Health Care (www. Sampai dengan usia 30 tahun. dan setelah dua tes Pap smear yang normal. American College of Obstetricians dan Gynecologists. Hal ini didasarkan pada bukti bahwa penurunan angka kematian kanker leher rahim sebanding dengan pelaksanaan Pap smear selama 50 tahun terakhir. dimana sekitar 3%-5% asam asetat diberikan pada serviks dan diperiksa di bawah perbesaran dengan cahaya terang untuk memperjelas lesi yang akan dibiopsi. pemberian obat. Penggunaan sebuah spatula ektoserviks dan sikat atau swab endoserviks secara bersamaan tampaknya menjadi metode terbaik untuk mendapatkan sel-sel serviks untuk spesimen . sebagian besar perempuan di negara-negara Amerika terus mendapatkan skrining Pap smear tahunan. skrining setiap 3 tahun sampai usia 69. Pedoman konsensus tentang frekuensi Pap smear telah dikembangkan oleh American Cancer Society (ACS). Setelah usia 30 tahun. Perubahan morfologik dari sel pre-kanker. skrining dianjurkan pada interval 1 sampai 3 tahun. Namun. neoplasia intraepitelial serviks (CIN). Rekomendasi saat ini mendukung inisiasi skrining pada usia 21 tahun atau dalam kurun waktu 3 tahun sejak hubungan seksual pertama. Spesimen sitologi serviks dapat dikumpulkan dengan berbagai alat. dan United States Preventive Task Force (Tabel 5). Frekuensi skrining dapat meningkat pada wanita dengan faktor risiko tinggi. interval skrining dapat diperpanjang hingga 2 sampai 3 tahun jika pasien memenuhi kriteria spesifik risiko rendah. Sistem Kesehatan Nasional Program Pemeriksaan Serviks di Inggris (cancerscreening. dan tidak lanjutnya. Pasien dengan hasil Pap smear yang abnormal dirujuk untuk pemeriksaan kolposkopi. dimana spesimen selular dari serviks diperiksa dan diwarnai pada suatu apusan untuk interpretasi visual.ctfphc.nhs.uk) meliputi skrining serviks untuk wanita antara usia 25 dan 64 tahun setiap 3 sampai 5 tahun. Meskipun tes Pap smear tunggal dapat memiliki sensitivitas yang relatif rendah. Meskipun rekomendasi oleh organisasi-organisasi internasional. mana yang lebih dulu.org) merekomendasikan tes Pap smear tahunan untuk wanita yang aktif secara seksual atau berusia 18. Data pengamatan menunjukkan efektivitas skrining meningkat saat pemeriksaan Pap smear dilakukan lebih sering.

Berdasarkan cairan atau sistem persiapan lapisan tipis− ThinPrep System (Cytyc Corporation) dan SurePath (TriPath Imaging. seperti bentuk dan kepadatan optik dari sel-sel. Dua sistem skrining yang dibantu dengan komputer yang saat ini tersedia yaitu FocalPoint Slide Profiler (TriPathImaging.tripathimaging. Apusan diwarnai dan diperiksa secara manual.html). Dengan Focal-Point Slide Profiler (www.konvensional. Analisis dan pengumpulan sitologi berbasis cairan yang dimiliki penyedia perawatan kesehatan menempatkan sel-sel serviks dalam botol kecil berisi larutan fiksatif dibandingkan membuat persiapan apusan langsung. Tabel 5. Setelah ahli teknologi sel memasukkan pendapatnya.com/pap. alat tersebut memeriksa kembali materi pada apusan dan. Pedoman Konsensus untuk Skrining Pap smear ACS Mulai skrining awal ≤ 30 tahun ACOG USPSTF Dalam 3 tahun setelah hubungan seksual pertama. Keduanya disetujui untuk digunakan dengan apusan Pap smear berbasis cairan.thinprep. Algoritma ini mencakup berbagai karakteristik visual. diagnosis "dalam batas normal" kemudian diberikan. berdasarkan algoritma. Sampel dikirim ke laboratorium sitologi mana sampel tersebut disaring atau disentrifugasi untuk menghilangkan kelebihan darah dan kotoran. Ketika resensi manusia dan komputer sepakat bahwa tidak ada tinjauan yang diperlukan. BD)− yang dirancang untuk menghapus sel nonepitelial yang mengaburkan dan mendistribusikan sel secara merata pada apusan.test/thinprep-imaging. Peninjauan manual diperlukan untuk kasus apapun jika ditunjuk baik oleh ahli sitologi maupun peringkat komputer. The ThinPrep Imaging System (www. alat tersebut akan menampakkan penentuanya berdasarkan peringkat.com/physicians/focal_biblio.html) dikembangkan untuk skrining primer dan menyajikan gambar komputer dari 22 bidang yang mengandung sel-sel yang dikehendaki menggunakan suatu pewarnaan DNA kuantitatif.setelah 3 kali berturutturut hasil normal turut hasil normal pada Pap smear pada Pap smearb Usia 70 tahun setelah Usia 65 tahun diikuti 3 kali berturut-turut dengan hasil yang hasil normal pada Pap normal pada Pap smear dan tidak ada smear terakhir hasil yang abnormal dalam 10 tahun Tidak adac Tidak adac Tidak ada > 30 tahun Berhenti Skrining a Setelah histerektomi . tidak kurang dari usia < 21 tahun Setiap tahun untuk Setiap tahun Setiap 3 tahun setelah Pap smear biasa. Sel-sel kemudian ditransfer ke apusan dalam satu lapisan. BD) dan ThinPrep Imaging System. 2-3 kali berturut-turut setiap 2 tahun untuk hasil normal pada Pap Pap smear cair smear Setiap 2-3 tahun Setiap 2-3 tahun setelah 3 kali berturut. menilai apusan untuk kemungkinan suatu kelainan yang tampak. seperti apakah penilaian secara manual dapat dibenarkan atau tidak.

Kelainan sel kelenjar saat ini diklasifikasikan sebagai “sel atipikal endoserviks. dilakukan setiap 3 tahun bersamaan dengan pemeriksaan sitologi Tidak cukup bukti untuk direkomendasikan atau terhadap pengujian ACS. a Skrining direkomendasikan bagi wanita usia tua yang belum pernah diskrining atau bagi mereka dengan informasi tentang skrining sebelumnya yang tidak tersedia. “sel skuamosa atipikal-tak terkecuali lesi tingkat tinggi” atau “ASC-H”. Klasifikasi kelainan kelenjar telah direvisi. dan lebih dari 90% laboratorium di Amerika Serikat menggunakan sistem Bethesda.. Di samping itu. namun menghilangkan “memuaskan tetapi dibatasi oleh . seperti yang dilakukan oleh laboratorium-laboratorium di banyak negara lain. cWanita dengan riwayat neoplasia intraepitelial serviks− CIN 2 atau 3 harus terus skrining sampai 3 kali berturut-turut hasil negatif pada Pap smear. Sistem Bethesda mencakup diagnosis deskriptif dan suatu penilaian yang adekuat terhadap spesimen (Tabel 6). pernah terdiagnosa mengalami kanker serviks sebelumnya. endometrial atau kelenjar− tidak spesifik atau mendukung neoplastik”. terpapar DES in utero.” karena penandaan seperti itu dianggap membingungkan bagi banyak dokter dan memerlukan pengulangan tes yang tidak perlu. Sistem Bethesda Tipe spesimen Menunjukkan Pap smear biasa versus Pap smear berbasis-cairan versus lainnya.Tes DNA HPV untuk skrining Pilihan bagi wanita usia >30 tahun. b Setiap 3 tahun jika menggunakan kombinasi tes DNA HPV dan pemeriksaan sitologi. Frekuensi yang lebih sering mungkin diperlukan bagi wanita yang berisiko tinggi. USPSTF. ACOG. Bethesda 2001 menambahkan kategori baru untuk sel atipikal pada risiko yang lebih tinggi dari gabungan prakanker. Ditemukannya sel glandular atipikal penting secara klinis karena 10% sampai 39% kasus berhubungan dengan mendasari penyakit tingkat tinggi. Sistem tersebut telah diperbaharui pada tahun 1991 dan 2001 untuk menggabungkan antara pengalaman klinis dan laboratoris. yaitu immunosupresi atau terinfeksi HIV. kategori “sel skuamosa atipikal mendukung reaktif” dan “perubahan seluler jinak” telah dieliminasi.. Kategori ini menyoroti 5% sampai 10% sel skuamosa atipikal yang tidak dapat ditentukan secara signifikan darimana asalnya (ASCUS) yang lebih mungkin mengandung lesi skuamosa intraepitelial tingkat tinggi. Sistem Bethesda yang digunakan untuk pelaporan hasil sitologi serviks secara seragam awalnya dikembangkan pada tahun 1988. Human Papilloma Virus. Tabel 6. . United States Preventive Services Task Force. Panduan ini didukung oleh lebih dari 40 perkumpulan internasional. Sistem Bethesda 2001 mempertahankan kategori “memuaskan untuk evaluasi” dan “tidak memuaskan untuk evaluasi”. American College of Obstericians and Gynecologists. American Cancer Society. HPV. menghilangkan kategori “sel glandular atipikal yang tidak dapat ditentukan secara signifikan darimana asalnya” atau “AGUS” untuk mencegah kebingungan dengan ASCUS.

cenderung neoplastik Adenokarsinoma endoserviks in situ . Lainnya: lihat “Interpretasi/Hasil” (contohnya. Pemeriksaan tambahan Memberikan gambaran singkat tentang metode pengujian dan melaporkan hasilnya sehingga mudah dipahami oleh dokter. apakah ada atau tidak organisme atau temuan non-neoplastik lainnya ). spesifik dan hasil yang otomatis. cenderung neoplastik Sel-sel kelenjar. tulislah dalam “Kategori umum” di atasnya dan/atau dalam “Interpretasi/Hasil” sebagai bagian dari laporan.Kecukupan spesimen Memuaskan untuk dievaluasi (menjelaskan ada atau tidaknya komponen endoserviks/zona transformasi serta petunjuk kualitas lainnya seperti sebagian tertutup darah. Pemeriksaan otomatis Suatu kasus yang diperiksa dengan alat otomatis. peradangan. sel endometrium pada wanita usia >40 tahun). Interpretasi/Hasil Negatif untuk lesi intraepitelial/keganasan (jika tidak terdapat bukti adanya sel neoplasia. tidak termasuk dalam daftar): Perubahan selular reaktif yang berhubungan dengan Peradangan (termasuk juga perbaikan khasnya) Radiasi Alat kontrasepsi dalam rahim (Intrauterine device. CIS/CIN 2 dan CIN 3 dengan tanda kecurigaan invasi (jika ada suspek invasi) Karsinoma sel skuamosa Sel kelenjar Atipikal Sel-sel endoserviks (NOS atau tidak diuraikan secara spesifik) Sel-sel endometrium (NOS atau tidak diuraikan secara spesifik) Sel-sel kelenjar (NOS atau tidak diuraikan secara spesifik) Atipikal Sel-sel endoserviks. Kategori umum Negatif untuk lesi intraepitel atau keganasan.ASC-H) Lesi intraepitel skuamosa derajat rendah (LSIL) mencakup: HPV/displasia ringan/CIN 1 HSIL mencakup: displasia sedang dan berat. Organisme: Trichomonas vaginalis Jamur yang secara morfologi terdiri dari Candida spp Pergeseran flora sugestif dai vaginosis bakterialis Bakteri yang secara morfologi terdiri dari Actinomyces spp Perubahan selular yang terdiri dari herpes simplex virus Temuan non-neoplastik lainnya (dapat dilaporkan atau tidak. dsb). IUD) Status sel kelenjar pasca histerektomi Atrofi Lain-lain Sel endometrium (pada wanita usia di atas 40 tahun) (Tentukan apakah terdapat suatu “temuan negatif terhadap lesi intraepitel skuamosa”) Sel Epitel Abnormal Sel skuamosa Sel skuamosa atipikal Signifikan-Tidak diketahui asalnya (ASCUS) Tidak dapat dimasukkan dalam lesi intraepitel skuamosa derajat tinggi (HSIL. Tidak memuaskan untuk dievaluasi (alasan tertentu. Sel intraepitel yang abnormal: lihat “Interpretasi/Hasil” (sesuai dengan “skuamosa” atau “kelenjar”). seperti spesimen ditolak/tidak diproses atau spesimen diproses dan diperiksa tetapi tidak memuaskan untuk evaluasi keabnormalitasan epitel karena suatu alasan tertentu).

Sensitivitas pengujian DNA HPV untuk deteksi biopsi− dikonfirmasi CIN 2 dan grade yang lebih tinggi− dengan ASCUS adalah 96% dan lebih tinggi dari sensitivitas tes ulang tunggal sitologi serviks. Percobaan ini menyimpulkan bahwa triase HPV pada pasien dengan ASCUS Pap smear sebelum dirujuk untuk kolposkopi lebih efektif untuk mendeteksi penyakit dibandingkan mengulang pemeriksaan sitologi atau dirujuk langsung menjalani pemeriksaan kolposkopi. Oleh karena itu. Human Papilloma Virus NOS. deteksi klinis HPV telah menjadi alat diagnosis yang penting untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami kanker serviks.Adenokarsinoma Endoserviks Endometrium Ekstrauterina NOS Neoplasma maligna lainnya (spesifik) HPV. Mengingat pentingnya HPV dalam perkembangan kanker serviks. Studi ini menunjukkan perlunya perbaikan dalam sistem skrining. Uji klinis ALTS membantu menentukan kegunaan klinis dari pengujian HPV yang dikombinasikan dengan skrining Pap smear tahunan. Hasil HPV positif hanya dapat menunjukkan infeksi dibandingkan probabilitas tinggi penyakit serviks. Program skrining yang terbebani oleh batas potensi ganas Pap smear yang tidak pasti. program skrining sitologi serviks untuk mendeteksi neoplasia intraepitelial serviks grade 3 atau kanker telah dilaporkan berbagai sensitivitas (50% sampai 70%) dan spesifitas (69% sampai 94%). yang mengevaluasi metode triase untuk Pap smear yang abnormal ringan. not otherwise specified: tidak spesifik Secara keseluruhan. tes HPV dapat digunakan sebagai pendekatan alternatif untuk tindak lanjut dari . Apalagi. menegaskan reproduktifitas yang buruk terhadap pembacaan sitologi oleh ahli patologi: 45% dari rujukan pembacaan Pap smear yang menjadi sengketa oleh kelompok kontrol kualitas patologi. Sensitivitas dari sitologi terbatas pada kesalahan sampling (sampling error). Kebanyakan dari infeksi HPV bersifat sementara. multicenter acak National Cancer Institute ASCUS LSIL Triage Studi (ALTS). yang mahal untuk diikuti dan menyebabkan kecemasan untuk perempuan yang terlibat. Sitologi juga memiliki masalah dengan spesifisitas. Namun. dimana sel-sel abnormal tidak bisa dikumpulkan. dimana terdapat sedikit sel-sel abnormal yang tidak teridentifikasi diantara sel-sel normal atau terhalang oleh darah atau kotoran. menetap hanya dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan. Kegunaan klinis dari skrining berbasis HPV (Human Papilloma Virus) untuk penyakit serviks diakibatkan oleh nilai prediktif negatif yang dihasilkannya. dan kesalahan membaca hasil (reading error). wanita yang mengalami infeksi persisten dengan HPV onkogenik memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk menderita neoplasia dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan di Amerika Serikat telah menyetujui penggunaan tes HPV yang dikombinasikan dengan skrining Pap smear sebagai deteksi utama untuk penyakit serviks pada wanita usia 30 tahun atau lebih disamping untuk uji refleks dalam populasi pasien ASCUS. Hingga saat ini masih belum jelas apakah tes HPV akan menjadi lebih atau kurang penting pada populasi perempuan yang divaksinasi terhadap HPV16 dan 18. dimana prevalensi yang tinggi dan akan membutuhkan penelitian terhadap tindak lanjut. Tes dilakukan pada spesimen sitologi berbasis cairan asli atau sampel yang dikumpulkan pada kunjungan awal untuk menghindari pasien datang kembali ke klinik untuk mengulang. Disesuaikan untuk wanita 35 tahun ke atas. Tindak lanjut jangka pendek telah tersedia untuk sebagian kecil pasien. Seorang wanita dengan hasil tes HPV negatif tetapi memiliki hasil . spesifisitasnya sebesar 93%. namun tindak lanjut jangka panjang untuk mengidentifikasi angka kejadian dan kematian dari kanker yang invasif belum tersedia. harus diskrining ulang dengan kedua tes tersebut dalam 6 hingga 12 bulan dan harus dievaluasi lebih lanjut dengan kolposkopi jika hasil Pap smear abnormal (ASCUS atau lesi yang lebih parah) atau jika HPV onkogeniknya menetap saat dilakukan tes ulang. Gambaran studi pada tes skrining HPV terhadap kanker primer serviks menunjukkan sensitivitas rata-rata untuk mendeteksi CIN 2 atau lesi grade lebih tinggi yaitu sebesar 96%. hasil pemeriksaan sitologi cenderung mendominasi pengelolaan pasien. Pasien dengan hasil sitologi ASCUS dan tes HPV positif memiliki prevalensi 15% mengalami lesi skuamosa intraepitelial grade tinggi dibandingkan 1% atau kurang untuk pasien dengan hasil ASCUS dan tes HPV negatif. Perkumpulan Kolposkopi dan Patologi Serviks Amerika mengadakan sebuah panel pakar pada tahun 2001 untuk memberikan panduan konsensus berbasis-bukti (evidence-based) untuk pengelolaan wanita dengan kelainan sitologi serviks dan prekursor kanker serviks. “refleks tes HPV DNA” menawarkan keuntungan yang signifikan karena perempuan tidak perlu menjalani pemeriksaan klinis tambahan untuk mengumpulkan spesimen. Seorang wanita dengan hasil pemeriksaan sitologi yang normal tetapi terdeteksi DNA HPV secara onkogenik. Pembaharuan pedoman diharapkan pada musim semi 2007.ASCUS dalam rangka untuk menentukan siapa yang lebih lanjut akan dirujuk untuk kolposkopi. Badan Pengawasan Obat dan Makanan menyimpulkan bahwa tes HPV lebih sensitif dibandingkan pemeriksaan sitologi tetapi mengkhawatirkan tentang spesifitas pengujian utama. terutama pada wanita muda. Mayoritas studi ini didasarkan pada desain cross-sectional yang menilai prevalensi penyakit yang terdeteksi baik oleh HPV pengujian maupun pemeriksaan sitologi. dan 40% sampai 60% wanita akan terhindar pemeriksaan kolposkopik. dimana hal ini tidak terpengaruh oleh usia pasien. Spesifisitas (untuk lesi kurang dari CIN 2) bervariasi antara 76% dan 96% dan signifikan pada ujung bawah grade pada wanita muda. Saat kombinasi antara pemeriksaan sitologi dan tes DNA HPV digunakan sebagai skrining kanker serviks.

terbatasnya persediaan alat. Pengecualian yaitu untuk perempuan muda. Di samping itu. Wanita dengan sel kelenjar atipikal dan tidak melakukan pemeriksaan kolposkopi. . Kolposkopi diindikasikan untuk wanita HPV positif dengan hasil sitologi berupa ASCUS atau wanita dengan lesi intraepitelial skuamosa grade berapa pun tanpa memperhatikan status tes HPV. Eksisi pada seluruh zona trasformasi dengan eksisi lingkaran besar dari zona transformasi (Large Loop Excision of the Transformation Zone. serta wanita selama kehamilan. Kolposkopi. Percobaan ALTS juga menyoroti tentang kurangnya tingkat ketelitian dari kolposkopi dimana 47% biopsi serviks yang dilakukan atas arahan dari kolposkopi tidak menunjukkan lesi patologik. secara luas dilakukan pada pada wanita dengan Pap smear yang abnormal tetapi memiliki sensitivitas yang buruk (34%-43%) dan spesifisitas (68%) bila digunakan sebagai tes skrining untuk neoplasia serviks pada wanita tanpa gejala. Informasi lebih lanjut tentang pengelolaan sitologi dan histologi serviks dapat didapatkan di American Society for Colposcopy and Cervical Pathology website (www. serta memerlukan waktu serta keahlian untuk melakukan prosedur tersebut. Servikografi adalah suatu foto serviks yang diperiksa di lokasi pusat untuk lesi atipikal. tetapi akurasi dan persyaratan teknis kurang optimal. dimana serviks dilihat dengan diperbesar secara langsung setelah pemberian asam asetat. dan biopsi endometrium (bagi mereka dengan perdarahan vagina abnormal atau lebih dari usia 35 tahun) dapat ditindaklanjuti dengan tes Pap smear serial. dan sekitar 10% sampai 15% servigram tidak memuaskan. Wanita dengan lesi intraepitelial skuamosa grade tinggi tanpa melakukan pemeriksaan kolposkopi memerlukan tindakan eksisi untuk diagnosis. maka diindikasikan untuk kolposkopi ulang. LLETZ) atau eksisi kerucut (cold knife conization) digunakan untuk mendiagnosa lesi yang tidak tampak atau CIN dalam endoserviks.asccp. memiliki sensitivitas yang sebanding dengan Pap smear tetapi spesifisitasnya jauh lebih rendah.pemeriksaan Pap smear yang menunjukkan adanya ASCUS dapat dievaluasi ulang dengan pemeriksaan sitologi dalam kurun waktu 1 tahun. Jika pada Pap smear serial tersebut didapatkan hasil ASCUS atau lesi yang lebih parah lagi.org). Wanita yang tidak melakukan pemeriksaan kolposkopi setelah adanya lesi intraepitelial skuamosa atau ASCUS baik dengan atau tanpa HPV harus ditindaklanjuti dengan tes Pap smear dalam 6 sampai 12 bulan atau dengan tes DNA HPV dalam kurun waktu 12 bulan. yang mungkin diamati dengan pemeriksaan sitologi serial dan kolposkopi. kuretase endoserviks. kinerja servikografi buruk pada wanita lebih dari 50 tahun. Servikografi dan kolposkopi telah dievaluasi sebagai tes skrining primer. Pengelolaan bagi wanita dengan hasil pemeriksaan sitologi abnormal tetapi tidak dilakukan kolposkopi akan tergantung pada hasil Pap smear sebelumnya. Kerugian lainnya dari pemeriksaan kolposkopi mencakup biaya yang tinggi.

diagnosis.000 wanita di pedesaan Cina dengan mengerahkan ahli ginekologi terlatih untuk VIA. Program tersebut jauh lebih mahal dan tidak dapat mencapai seluruh lingkup secara adekuat. VIA) dalam program skrining berskala besar. dukungan teknis. Diperlukan upaya khusus agar dapat menjangkau wanita-wanita yang kurang mungkin untuk diskrining. khususnya mereka yang memiliki kecenderungan terpapar infeksi HPV dan HIV. Dalam penelitian tersebut. et al.gov). sebanyak 10. Sensitivitas VIA adalah 76. Apalagi. CDC menghimpun dana untuk kualifikasi lembaga kesehatan (50 negara. . Kolposkopi dan biopsi. Skrining kanker serviks secara teratur perlu domotivasi kepada semua wanita. VIA berperan di daerah dengan sumber daya yang terbatas.7% sedangkan pemeriksaan sitologi sebesar 44. Serviks dilihat dengan menggunakan mata telanjang atau dengan alat pembesar berkekuatan rendah setelah serviks diberi 3%-5% asam asetat.Program skrining sitologi yang tersebar luas dan berfungsi baik di daerah industri rupanya tidak layak di negara berkembang. Setengah dari seluruh jumlah kasus kanker serviks dapat terjadi pada wanita yang tidak pernah diskrining. Universitas Zimbabwe dan JHPIEGO mengevaluasi pemeriksaan visual serviks dengan asam asetat (visual inspection with acetic acid. mencatatkan hal serupa terhadap sensitivitas (71%) dan spesifitas (74%) dalam penelittian mereka terhadap sekitar 2. VIA dan Pap smear dilakukan secara bersamaan dan sensitivitas serta spesifitas keduanya pun dibandingkan. sesuai dengan indikasinya. adalah program kesehatan masyarakat nasional yang membantu perempuan yang tidak diasuransikan dan terlayani untuk mendapatkan akses ke layanan skrining untuk deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks (http://cdc. miskin.934 wanita diperiksa oleh enam perawat dan bidan terlatih menggunakan VIA. Spesifitas VIA sebesar 64. the District of Columbia.6%. yang diberikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit− CDC. berpendidikan rendah. seperti pada wanita yang usianya lebih tua.gov/gov/cancer/nbccedp/). dan keahlian untuk menjamin hasil yang akurat. Terdapat variasi yang besar dalam rata-rata sensitivitas dan spesifisitas (80% dan 80%) yang dilaporkan untuk pemeriksaan visual langsung.1% sedangkan pemeriksaan sitologi sebesar 90. 6 negara bagian Amerika. VIA lebih sensitif namun kurang spesifik dibanding pemeriksaan sitologi. mungkin karena variasi dalam pelatihan dan kinerja test itu sendiri serta kegagalan untuk mengatur pembuktian adanya bias. Target Masyarakat Sehat 2010 untuk skrining kanker serviks meningkat dari 79% menjadi 90% dengan proporsi pada wanita di atas usia 18 tahun yang telah melakukan Pap smear dalam kurun waktu 3 tahun terakhir (http://healthypeople. digunakan sebagai uji referensi. Prosedur ini tidak memerlukan infrastruktur laboratorium dan dapat memberikan hasil segera serta memungkinkan untuk skrining. pemeriksaan visual langsung telah dievaluasi sebagai tes skrining satu-satunya atau kombinasi dengan sitologi.3%. dan imigran. Belinson. dan terapi dalam satu kali kunjungan. Program Nasional Deteksi Dini Kanker Payudara dan Serviks. Dalam keadaan sumber daya yang rendah. negaranegara miskin sering kekurangan sumber daya.

. Tantangan skrining kanker serviks terus berlanjut yaitu melakukan pengujian Pap Smear kepada mereka yang paling membutuhkannya. program terfokus pada skrining Pap smear pada mereka yang belum diuji selama 5 tahun dan interval skrining meningkat untuk setiap 3 tahun.dan 15 Indian Amerika atau suku asli Alaska dan persatuan suku-suku) untuk melaksanakan program skrining yang komprehensif. Untuk memaksimalkan efisiensi penggunaan sumber daya yang terbatas.