MAKALAH

Anoreksia Dan Bulimia Pada Remaja
Tugas ini diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Gizi Tumbuh Kembang

Disusun Oleh : Ayu Punarsih Rahmi Nurmadinisia Rima Zeinnamira

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432 H/ 2011 M

I.

Pendahuluan

Remaja adalah individu baik laki-laki atau perempuan yang berada pada masa atau usia antara anak-anak dan dewasa. Berbagai perubahan terjadi pada diri remaja baik perubahan psikis maupun fisik. Masa remaja merupakan periode pertumbuhan dan proses kematangan manusia, sehingga terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan. Masa remaja adalah masa mencari identitas diri, adanya keinginan untuk dapat diterima oleh teman sebaya dan mulai tertarik oleh lawan jenis yang menyebabkan remaja sangat menjaga penampilan. Anggapan mengenai bentuk tubuh yang menarik yang diciptakan oleh media, teutama melalui TV, dapat mempengaruhi terbentuknya body ideal pada remaja yang sangat menjaga penampilan mereka. Body ideal ini bukan selalu berat badan ideal yang disarankan untuk menjaga kesehatan (Body Mass Index), namun adalah memiliki tubuh yang langsing dapat menjadi body ideal pada remaja. Body ideal umumnya mengacu pada idola mereka yang biasanya para selebritis atau model yang cenderung memiliki tubuh kurus, tinggi, dan semampai yang kemudian terjebak dengan pola makan yang tidak sehat dan mengakibatkan mereka melakukan penurunan berat badan secara drastis. Yang mengagetkan, para peneliti juga menemukan bahwa sekitar 8-20 persen remaja wanita menggunakan cara-cara ekstrem untuk mencapai berat badan ideal. Antara lain dengan minum pil diet, dengan sengaja memuntahkan makanannya, hingga menggunakan obat pencahar -semua kebiasaan ini juga akan dibawa terus hingga sepuluh tahun ke depan, ketika mereka dewasa. Penyimpangan perilaku makan adalah sebuah pola makan yang abnormal terkait dengan ketidakpuasan atau tekanan dalam diri seseorang yang sehat. Penyimpangan perilaku makan, seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa pada umumnya dialami oleh wanita serta berhubungan dengan beberapa masalah kesehatan lainnya. Penyimpangan perilaku makan telah muncul menjadi salah satu penyakit kronis. Prevalensi seumur hidup dari anoreksia dan bulimia pada wanita adalah sekitar 0,5 % - 3,7 % dan 1,1% - 4,2 % (Power PS, 2003). Di Amerika Utara sendiri penduduknya secara keseluruhan mengalami penyimpangan perilaku jenis makanan ini (Wardlaw & Hampl, 2007). Sejak tahun 1980 an,prevalensi penyimpangan

perilaku makan telah ditemukan pada populasi di Asia (Fairburnn, 1999). Dalam beberapa tahun ini juga terlihat adanya peningkatan prevalensi penyimpangan perilaku makan diantara remaja wanita di Singapura. Informasi ini didapatkan dari penenlitian pada kelompok kecil pasien ataupun sampel yang ada

(Kok.1994;Ong,1982;Ung,1997). Walaupun prevalensinya masih terbilang rendah di Singapura,pihak rumah sakit menemukan adanya peningkatan jumlah kasus dari tahun 1991 sampai tahun 1996 (Ung,1997) Di Indonesia sendiri masih belum banyak dilakukan penelitian dan publikasi yang melaporkan tentang penyimpangan perilaku makan. Sebuah penelitian di kalangan remaja yang telah dilakukan oleh Tantiani (2007) membuktikan 34,8 % remaja mengalami penyimpangan perilaku makan dengan spesifikasi 11,6% menderita anoreksia nervosa dan 27 % menderita bulimia nervosa.

II.

Pengertian Bulimia dan Anoreksia Nervosa
A. BULIMIA NERVOSA Bulimia berasal dari bahasa Yunani bous yang artinya sapi atau kerbau, dan limos yang artinya rasa lapar. Gambaran dari istilah tersebut adalah makan yang terus menerus, seperti sapi yang memamah biak. Bulimia nervosa adalah gangguan makan yang melibatkan episode berulang-ulang dari tindakan makan berlebihan (binge) tak terkontrol yang diikuti dengan tindakan kompensatoris untuk mengenyahkan makanan itu (Durand dan Balow, 2007). Bulimia merupakan salah satu kelainan mental, penyebab bulimia belum diketahui secara biologis. Namun karena ini berhubungan dengan behavioral health, maka para ahli meyakini ada beberapa factor yang bisa menyebabkan penyakit ini:  Masalah keluarga  Perilaku maladaptive  Pertentangan identitas diri  Budaya yang terlalu menitikberatkan kepada penampilan fisik.

Masalah penampilan serta berat badan merupakan factor utama yang penyebab bulimia pada seorang wanita. Seorang penderita bulimia biasanya mempunyai ketahanan mental yang kurang, kurang percaya diri dan memiliki masalah dengan berat badan dan ini yang membuatnya menjadi terobsesi dengan penurunan berat badan. Hal-hal seperti di atas juga bisa menjadi akibat bulimia yang mengerikan

Pada bulimia nervosa, penderita makan sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat, lalu memuntahkan kembali makanan tersebut dengan cara tidak layak dan keadaan ini terjadi berulang-ulang.

Terdapat dua tipe penderita bulimia, yaitu: 1. Purging type Tipe yang memuntahkan kembali makanan setelah sangat kenyang. Dilakukan dengan menusukkan jari ke tenggorokan, atau dengan menggunakan obat-obatan laksatif, obat pencahar, maupun obat-obatan lain. Tujuannya agar makanan tidak sempat dicerna oleh tubuh sehingga tidak menambah berat badan. 2. Non Purging type Penderita bulimia yang berolahraga berlebihan setelah makan. Tujuannya agar energi yang dihasilkan dari makanan dapat langsung dibakar dan habis Sekitar 90% penderita bulimia berjenis kelamin wanita, terutama dewasa muda dan remaja. Mereka umumnya bekerja di bidang penampilan seperti model, artis dan peragawati. Risiko tinggi terjadi pada golongan tersebut untuk menderita penyakit ini, karena mereka perlu menjaga tubuhnya agar tetap langsing. Almarhum putri Diana dari kerajaan Inggris dan aktris Jane Ponda, adalah contoh penderita bulimia nervosa. Penyakit ini timbul karena ada perbedaan besar antara bentuk tubuh yang diinginkan dengan bagaimana pandangan mereka terhadap bentuk tubuhnya. Penderita bulimia nervosa cenderung merasa tubuhnya terlalu besar atau komentar orang lain mengenai bentuk tubuhnya yang kemudian mendorongnya untuk melakukan pengaturan makanan secara ketat. Faktor lain yang mendorong timbulnya bulimia nervosa adalah masalah keluarga, pubertas, gangguan adaptasi, lingkungan dan penerimaan teman sebaya, media dan masyarakat serta krisis identitas. Bulimia juga sering dihubungkan dengan depresi. Kebanyakan, penderita bulimia berasal dari keluarga yang tidak bahagia, umumnya mereka memiliki orang tua yang gemuk, atau mereka sendiri kegemukan pada masa kanak-kanak. Namun hingga kini masih belum jelas apakah gangguan emosional ini sebagai sebab atau akibat dari bulimia. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa pada penderita bulimia yang parah, kadar neurotransmiternya (pengantar kimia pada otak), terutama serotonin -- yang

berhubungan dengan depresi dan gangguan obsesif-kompulsif cenderung lebih rendah. Bahan kimia tersebut mengontrol tubuh dalam pembuatan hormon. Penderita bulimia memiliki kadar neurotransmitter serotonin dan norepinephrine yang sangat rendah. Keduanya berperan penting dalam mendorong kelenjar pituitari untuk membuat dan melepaskan hormon yang mengontrol sistem neuroendokrin yang mengatur emosi, perkembangan fisik, ingatan dan detak jantung. Ketika hormon tidak terbentuk, kerja beberapa fungsi tubuh tersebut menjadi terganggu. Penelitian lain menemukan rendahnya kadar asam amino triptofan dalam darah. Asam amino triptofan merupakan sejenis zat dalam makanan yang penting untuk produksi serotonin, yang bisa menyebabkan depresi dan mendorong terjadinya bulimia. Meski bulimia umumnya tidak disebabkan oleh adanya gangguan fisik, perilakunya bisa dihubungkan dengan gangguan neurologis, endokrin, dan hipotalamus. Namun masih perlu penelitian lebih lanjut sampai ditemukan bukti pasti hubungan antara sistem fisiologis tubuh dan gangguan makan. Ada kemungkinan siklus bulimia berhubungan dengan faktor biologis. Para ahli yakin, metabolisme tubuh beradaptasi terhadap siklus bulimia dengan memperlambat metabolisme, sehingga mempertinggi risiko kenaikan berat tubuh meski asupan kalori normal. Proses muntah dan penggunaan pencahar dapat merangsang pembentukan opioid alami, narkotika di dalam otak yang menyebabkan ketergantungan pada siklus bulimia. Gejala Pada umumnya tidak tampak adanya gejala telah terjadinya penyakit ini. Penderita melakukan kegiatannya diam-diam dan akan merasa kesulitan untuk melepaskan diri dari siklus bulimia. Banyak ditemukan kasus bulimia yang berkembang sejak usia remaja atau awal 20-an, namun penderitanya berhasil menyembunyikan gejalanya, dan menunda pengobatannya hingga berusia 30 atau 40an. Secara umum gejala fisik yang akan dialami penderita bulimia yaitu : Abnormalitas fungsi usus, kerusakan gigi dan gusi akibat sifat asam muntah, pembengkakan kelenjar saliva di dagu akibat tekanan pada perangsangan muntah, luka di tenggorokan dan mulut, pembengkakan, dehidrasi, sering diare tanpa sebab, kelelahan, kulit kering, detak jantung tidak teratur akibat ketidakseimbangan kimiawi (defisiensi potasium), luka atau bekas luka di buku jari/tangan akibat menusukkan jari

ke tenggorokan, menstruasi tidak teratur atau bahkan tidak mengalami menstruasi (amenorrhea). Gejala Bulimia Nervosa

1. Sering Muntah

8. Lemah, sakit kepala, pusing

2. Susah menelan, makanan lebih banyak ditahan dalam mulut 3. Kelenjar Membengkak 4. Bengkak di muka (bawah pipi)

9. Tidak komunikatif

10. Memakan apa saja 11. Sering berubah BB sesuai pergantian puasa dan pesta makan besar

5. Kerusakan pada kerongkongan 6. Pembuluh darah mata pecah 7. Kehilangan lapisan email gigi

12. Terlalu memperhatikan penampilan fisik 13. Suka Menyisihkan sedikit uang untuk pesta-pesta makan malam

Secara umum penderita bulimia berberat badan normal atau tampak sedikit kurus, namun keadaannya tidak seperti penderita anorexia. Seringkali tampak sehat dan sukses bahkan cenderung perfeksionis, namun penderita bulimia merasa rendah diri, tertekan, dan kadang berperilaku kompulsif. Seorang dokter di Amerika Serikat menyebutkan sepertiga pasiennya sering mengutil dan seperempatnya pernah terlibat penyalahgunaan alkohol. Gejala lain yang berkaitan dengan masalah emosi yaitu: Terus menerus melakukan pengaturan makan, merasa tidak dapat mengontrol kebiasaan makan, ,akan hingga merasa sakit atau tidak nyaman, memakan dalam porsi yang jauh lebih banyak dibanding yang lain, berolahraga berlebihan, menggunakan laksative, diuretik atau pencahar, terus menerus mempermasalahkan berat dan bentuk tubuh, body image negatif, pergi ke kamar mandi selama atau setelah makan, menimbun makanan, depresi, dan sering terlihat gelisah (Mayoclinic 2008).

Dampak jangka panjangnya yaitu tubuh kehilangan kalsium sehingga tulang menjadi keropos, rapuh dan mudah patah. Penurunan massa tulang dapat terjadi setidaknya memerlukan waktu 6 bulan, sedangkan efek lain yaitu penurunan tekanan darah, kulit kekuningan dan penyusutan volume otak. Denyut jantung penderita biasanya tidak teratur, sehingga dapat memicu ke gagal jantung bahkan kematian. Komplikasi jangka panjang lainnya meliputi kerusakan pada tenggorokan dan esophafus (saluran dari mulut ke perut) berupa luka dan perdarahan, berkurangnya kadar tulang dan jaringan otot, gejala kurang gizi dan kelaparan, kerusakan ginjal akibat penyalahgunaan diuretika, dan gangguan pencernaan akibat obat pencahar.

B. ANOREKSIA NERVOSA Istilah anoreksia berasal dari bahasa Yunani, “a” kata depan untuk negasi dan “orexis” nafsu makan sehingga anoreksia berarti hilangnya atau tidak adanya nafsu makan. Atau bisa juga diartikan Anoreksia Nervosa yaitu suatu gangguan khas khususnya bagi remaja putri, dimana terdapat penurunan berat badan yang hebat secara disengaja, amenorrhoea dan terdapatnya psikopatologi yang spesifik. Anoreksia Nervosa sering terjadi pada usia 14-18 tahun dan ada beberapa orang yang mengalaminya pada umur-umur yang lebih muda. Menurut penelitian pengidap gangguan ini 90-95% diderita oleh remaja putri dan banyak ditemukan pada golongan sosial-ekonomi menengah ke atas. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) IV, American Psychiatric Association (1994) menyatakan bahwa ada beberapa kriteria diagnosis untuk kejadian anoreksia nervosa. Adapun kriterianya adalah sebagai berikut : 1. Menolak untuk mempertahankan berat badan ideal atau diatas batas minimal BB menurut U dan TB. 2. Rasa takut yang hebat akan kenaikan BB nya atau menjadi kegemukan meskipun dalam kondisi kurus. 3. Adanya gangguan dalam cara bagaimana BB atau bentuk tubuh seseorang dirasakan. Adanya pengaruh BB atau bentuk tubuh yang tidak semestinya dalam penilaian diri atau adanya penyangkalan tentang betapa serius kondisinya yang kurus. Klasifikasi Anoreksi nervosa menurut DSM :

A. Restricting type, yaitu selama periode anoreksia nervosa, penderita tidak secara reguler melakukan praktek binge-eating atau purging behaviour (contoh, muntah yang disengaja, penyalahgunaan laksatif, diuresis atau enema) B. Binge eating/purging type, yaitu selama periode anoreksia nervosa, penderita secara reguler melakukan praktek binge-eating atau purging behaviour (contoh, muntah yang disengaja, penyalahgunaan laksatif, diuresis atau enema)

Gejala Anoreksia Nervosa seringkali tidak terdeteksi sejak dini karena pada awalnya penderita tidak mengeluh tentang adanya gangguan pada dirinya. Dan sampai suatu saat keluarga mengetahui bahwa putrinya telah menjadi semakin kurus dari hari ke hari. Dan saat itu pula keluarga atau orangtua baru menyadari bahwa anaknya seringkali tidak mau makan baik pagi, siang ataupun malam disebabkan alasan-alasan kesibukannya. Biasanya penderita gangguan ini siklus haidnya juga terhenti, tetapi pada mulanya penderita tidak nampak lemas dan justru menambah kegiatannya semakin padat untuk menghindari acara makan. Akhirnya karena kegiatan dan kesibukan yang semakin padat dan tidak ada makanan yang masuk maka berat badan penderita semakin menurun, sering gelisah, daya konsentrasi menurun, emosi menjadi tidak stabil, mulai menarik diri dari lingkungan, pucat, lemah, tidak dapat tidur,terdapat cekungan mata, dan sebagainya. Secara pemeriksaan fisik ditemukan bahwa kulit penderita menjadi kering dan terlihat adanya pertumbuhan lanugo di pipi, leher, tangan dan kaki. Tekanan darahnya juga menurun menjadi (90/60 mm Hg), perutnya cekung, pantatnya rata, beberapa hormon seperti LH (Luitenezing Hormon) dan FSH (Folical Stimulating Hormon) mengalami gangguan. Gejala – gejala Anoreksia Nervosa 1. Penurunan berat badan yang drastic 2. Hiperaktif 3. Latihan Berlebihan 9. sangat sensitive terhadap temperature dingin 10. denyut nadi rendah 11. memisahkan diri dari keluarga dan temanteman

4. Kerancuan gambaran tentang tubuh 5. Sangat takut menjadi gemuk

12. gugup pada waktu malam 13. mudah menangis, gelisah, sangat sensitive, kurang istirahat

6. Tidak mengalami haid bagi wanita

14. menghabiskan banyak waktu bekerja atau belajar

7. Rambut Rontok

15. memotong makanan menjadi bagian-bagian kecil dan bermain dengannya.

8. Bulu-bulu rambut memanjang

16. memakai baju longgar dan berlapis

Sindroma metabolik yang menpunyai nama lain sindroma X merupakan istilah yang digunakan untuk serangkaian gangguan metabolic yang terjadi pada satu pasien. Sindroma metabolic meliputi resistensi insulin, hiperinsulinemia, hipertensi, hipertrigleseridemia,kolesterol HDL rendah, dan Obesitas.

III.

Contoh Kasus
Isabel Caro, model dan aktris asal Prancis yang menjadi simbol internasional untuk perjuangannya dengan anoreksia meninggal dunia di usia 28 tahun. Nama Caro mulai mencuat pada 2007 setelah berpose bugil membintangi sebuah iklan kontroversial tentang pencegahan anoreksia di Italia. Model ini menggemparkan dunia saat memamerkan tubuh polosnya yang tinggal tulang berbalut kulit. Saat itu berat badannya 30,8 kg dengan tinggi sekitar 1,6 meter. Caro yang mengidap anoreksia sejak usia 13 tahun, bersedia tampil tanpa busana dalam iklan itu, karena dia berniat membuat wanita menyadari bahaya anoreksia atau kelainan pola makan lainnya. Sayangnya, karena cukup menghebohkan, iklan ini dilarang tayang di beberapa negara. Meskipun berita kematiannya baru terkuak baru-baru ini, namun mantan pelatih aktingnya Daniele Dubreuil-Prevot mengungkapkan, Caro meninggal pada 17 November 2010. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Caro dirawat selama dua minggu di rumah sakit akibat komplikasi pneumonia (radang paruparu), sepulang menyelesaikan pekerjaan di Tokyo, Jepang. Agar perjuangannya tidak sia-sia, pada 2008, Caro menulis sebuah buku bertajuk „The Little Girl Who Didn‟t Want to Get Fat‟. Ia juga sering mengampanyekan bahaya anoreksia di beberapa media. Salah satunya di acara

yang dipandu Jessica Simpson, „The Price of Beauty‟. Dalam acara itu, Caro blak-blakan mengungkapkan kisahnya yang ingin bertubuh langsing di masa remaja hingga akhirnya menjadi pengidap anoreksia. Sayangnya, ketika ia menyadari bahaya anoreksia, dan berjuang keras untuk sembuh dari kelainan pola makan itu, semuanya sudah terlambat. Ia pun meninggal di usia muda. Super model Kate Moss, badannya yang kurus tanpa daging pernah menjadi ikon kecantikan. Kalau mau dibilang cantik harus berbadan serata papan seperti dia. Mesti mengerikan, namun ternyata banyak gadis terobsesi ingin mempunyai badan sekurus Kate. Super model mantan pacar Johnny Depp ini dituding mengidap Anoreksia nervosa untuk mempertahankan badan bak tanpa daging. Kasus lainnya adalah tentang Alison Walker yang selama 18 tahun, berjuang melawan anoreksia. Berat badannya pernah merosot dari 70 kilogram ke 32 kilogram. Sedikitnya 15 kali melawan maut di rumah sakit. Dan saat berhasil mendongkrak bobotnya kembali ke level 63 kilogram, pencernaannya terlanjur rusak para. Wanita yang kini berusia 33 tahun itu tak lagi dapat memproses makanan secara normal. Ia hanya dapat makan makanan rendah kalori seperti yogurt berkadar lemak rendah. Itupun dalam jumlah sedikit. Sementara makanan dengan rasa kuat langsung membuatnya muntah. Alison mengalami gangguan pola makan sejak usia 15 tahun. Membuatnya tiga kali drop out dari universitas, tak bisa menjalin hubungan asmara dan pertemanan. “Saya sangat lelah dan merasa sepi. Saya menghabiskan 18 tahun berputar-putar dalam masalah ini. Bukan cara hidup yang bahagia," katanya seperti dikutipDaily Mail. Gejala anoreksia pertama kali muncul ketika ia tamasya bersama teman-teman sekolahnya pada 1994. "Banyak orang berpikir bahwa orang mengalami anoreksia karena tekanan media tentang citra langsing, tapi dalam kasus saya semua terjadi karena kontrol berlebihan terhadap makanan yang saya sukai." Dalam setahun berat badannya turun drastis. Ia harus menjalani perawatan selama 3,5 bulan di rumah sakit demi memenuhi kebutuhan 2.500 kalori per hari, lebih tinggi dari kebutuhan normal 2.000 kalori. Namun, kebiasaannya membatasi makanan kambuh lagi. Sejak itu, ia langganan menginap di rumah sakit, bahkan pernah sampai setahun. Di tengah perjuangannya melawan penyakit psikologis itu, Alison sempat berniat bunuh diri. Ia kesepian karena kerap ditolak oleh lingkungan sosialnya.

"Saya kesepian, saya merasa sendiri, saat ini hanya dua anjing saya yang setia menemani," kata wanita asal Egremont, Crumbia ini. Demi menstabilkan kondisinya, ia pernah menjalani operasi pemasangan alat di organ pencernaannya. Alat itu diperlukan untuk memompa cairan nutrisi 1.500 kalori, yang ia butuhkan selama 10 jam setiap malam. Baru Februari silam, ia bisa makan secara normal dengan takaran tertentu. “Saya telah menghabiskan banyak waktu menyangkali diri sendiri dari kenikmatan makanan yang tidak dapat saya makan sekarang. Tapi saya senang dengan perkembangan saya sejauh ini dan terus melatih tubuh saya agar dapat makan secara normal lagi,” katanya. "Saya rindu menikmati kue serta coklat."

IV.

Kebijakan Negara Lain untuk Menangani kasus Bulimia dan Anoreksia
Di Amerika Serikat Studi pada remaja sekolah di New England menunjukkan bahwa gangguan perilaku makan jarang ditemukan pada remaja puteri Hispanik dan Afro-Amerika daripada Kaukasian. Sebaliknya hal itu banyak ditemukan pada remaja putera non-Kaukasian meskipun secara umum jarang terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Gangguan perilaku makan terjadi karena kesan tentang bentuk tubuh ideal adalah tubuh yang kurus dan langsing. Bentuk intervensi pada remaja sekolah menengah yang dilakukan adalah promosi gizi dan pencegahan obesitas untuk menanamkan gambaran tubuh yang positif dan percaya diri dengan lima topik yaitu: 1) menurunkan rasa ketidakpuasan tubuh, 2). berpikir kritis tentang sosiobudaya dan norma peer group, 3) memahami perkembangan fisik, 4) perbaikan pengetahuan tentang gizi dan pengontrolan berat badan, dan 5) ketrampilan tentang manajemen berat badan dan perilaku makan yang sehat. Selain itu, juga diimbangi dengan monitoring IMT secara teratur, dan pengukuran lemak tubuh dengan lipatan kulit.

Faktor Penghambat dan Pendukung Program Perbaikan Gizi Anak Sekolah Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendukung kesuksesan implementasi program perbaikan gizi remaja sekolah menengah yaitu:

Fokus pada Keluar Pendidikan Membuat jaringan antara program kesehatan sekolah dan pembelajaran dengan prioritas sektor pendidikan sehingga tercipta komitmen yang tinggi dalam mendukungprogram.

Pengembangan Kebijakan Lintas Sektor Bersifat Formal Aksi sektor pendidikan dalam kesehatan membutuhkan kesepakatan sektor pendidikan secara eksplisit. Kesepakatan itu tertuang dalam tanggung jawab kedua belah pihak.

Melakukan Inisiasi Proses penyebarluasan dan konsultasi Karena banyaknya pemangku kepentingan, dan pelaksana program, maka dibutuhkan tahapan konsultasi untuk mengembangkan rasa memiliki program dan identifikasi hambatan sebelum ditemukan di tengah implementasi program. Proses itu harus melibatkan minimal organsiasasi berbasis masyarakat, LSM, dan persatuan guru.

Menggunakan Infrastruktur yang Ada Sebanyak Mungkin Pengembangan kurikulum dan jaringan guru-guru sekolah akan mempercepat implementasi dan menurunkan biaya program.7

Melakukan Tiga Pendekatan untuk Meningkatkan Keberhasilan Intervensi Gizi Remaja Sekolah Menengah yaitu:    Promosi gizi sebagai bagian dari promosi kesehatan. Pencegahan dan manajemen masalah gizi utama (malnutrisi, defisiensi zat gizi mikro, dan penyakit kronik terkait gizi) Manajemen gizi klinik pada remaja.

Faktor-faktor utama yang menghambat pelaksanaan intervensi gizi remaja sekolah menengah adalah adanya turn over/perubahan personel guru sekolah sehingga mengganggu kelangsungan implementasi intervensi, dan perubahan susunan staf guru sekolah akibat seringnya rotasi/mutasi.

V.

Pencegahan dan Penanggulangan Bulimia dan Anoreksia Nervosa

Program pemerintah terkait penganggulangan kasus anorexia dan bulimia pada remaja belum ditemukan. Namun, dapat dilakukan tindakan pencegahan yang yaitu dengan mengamati ada-tidaknya gejala pada keluarga maupun orang-orang terdekat. Ketika beberapa gejala ditemui dapat dilakukan pendekatan secara interpersonal, berempati dan mendorong untuk makan dan berolahraga secara normal, serta memberitahukan dampak negatif bulimia. penderita bulimia tidak dapat sembuh dengan sendirinya oleh karena itu tindakan pertolongan yang harus segera diberikan yaitu disarankan untuk berkonsultasi langsung ke para ahli kesehatan. Secara umum penderita penyakit ini jarang hingga perlu dirawat di rumah sakit, kecuali keadaannya sudah mengarah ke anorexia, atau terjadi komplikasi yang parah. Pengobatan pun akan berbeda antar orang. Kesesuaian dengan seseorang belum tentu akan sesuai pula dengan orang lain. Selama pengobatannya diperlukan kelompok terapis dari berbagai keahlian, yang dapat membantu pasien dalam menghadapi masalah medis, psikologis, dan gizi. Terapi nutrisi: Ahli gizi dapat mengatur jadwal makan, memberikan penjelasan mengenai tujuan terapi nutrisi, pentingnya diet sehat dan akibat buruk dari pola makan yang salah terhadap kesehatan. Konseling : Terapi ini untuk membantu pasien yang depresi, terganggu secara emosional, atau adanya faktor sosial sehingga mendorong terjadinya gangguan makan. Terapi dilaksanakan agar pasien mampu mengeluarkan perasaan dan permasalahannya sehingga terapis dapat membantu penderita perubahan hidup dan memperkuat rasa percaya diri. Psikoterapi: Umumnya dokter melakukan terapi kognitif, yang bertujuan merubah persepsi dan cara berpikir pasien mengenai tubuhnya. Dokter mendorong pasien untuk berpikir secara benar terhadap dirinya sehingga menjadi lebih obyektif melihat suatu masalah, dan menghilangkan sikap serta reaksi yang salah terhadap makanan. Pengobatan: menghadapi

Penderita bulimia umumnya diberikan obat-obatan jenis antidepresan bersama dengan pengobatan psikoterapi. Obat yang diberikan umumnya dari jenis trisiklik seperti imipramine (dengan merek dagang tofranil) dan desipramine hydrochloride (norpramin); atau jenis selective serotonin reuptake inhibitors (ssris) seperti fluoxetine (antiprestin, courage, kalxetin, nopres, dan prozac), sertraline (zoloft), dan paroxetine (seroxat). Umumnya penderita penyakit ini merasa malu dan cenderung menyembunyikan keadaannya, bahkan menyangkal menderita penyakit ini. Namun keadaan ini tidak boleh diabaikan atau dianggap penyakit ini akan hilang dengan sendirinya. Biasanya, pengobatan dilakukan setelah penderita mendapat bujukan atau paksaan dari anggota keluarga atau teman. Dalam menghadapi penderita, yang terbaik adalah dengan menyampaikan keprihatinan dan keinginan untuk membantu, terutama dengan empati , dukungan dan kesabaran. Diet Pengaturan diet untuk penderita bulimia dilakukan secara bertahap tergantung tingkat keparahan serta ada tidaknya komplikasi dengan penyakit penyerta. Kebutuhan energi disesuaikan dengan umur dan jenis kelamin, dihitung berdasarkan berat badan ideal, bukan berat badan yang sebenarnya. Selain dengan pengaturan makan yang sehat dan berimbang diperlukan pula olahraga secara tepat dan teratur. Olahraga yang teratur dapat menormalkan kembali kerja kelenjar yang abnormal sehingga akan diperoleh kadar serotonin yang sesuai dengan kebutuhan penderita Saran lain yang dapat diberikan kepada penderita bulimia yaitu: 1. Rajin berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk mendiskusikan

tentang kesehatan, berat badan dan gizi yang benar. 2. Meningkatkan rasa percaya diri dengan mengikuti kegiatan yang disukai dan

memberi kepuasan diri, misalnya mempelajari keahlian baru, mengembangkan hobi atau aktif di kegiatan sosial di lingkungan sekitar. 3. Meningkatkan dinamika lingkungan, diusahakan agar tercipta suasana yang

nyaman dan kondusif di lingkungan keluarga atau pekerjaan. 4. Bersikap realistis dengan tidak mudah percaya pada apa yang digambarkan

oleh media tentang berat dan bentuk badan ideal.

VI.

Pandangan Islam Mengenai Bulimia dan Anoreksia Nervosa
Manusia telah diberi akal untuk mensyukuri nikmat, tetapi manusia juga kadang lupa dengan nikmat tersebut. Dalam hal ini individu tidak mensyukuri bentuk tubuh yang telah diberikan Allah SWT kepadanya serta kurang percayanya individu tersebut bahwa Allah memberikan bentuk tubuh tersebut dengan sebaikbaiknya. Allah SWT berfirman :

”Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Q.S. Al Qamar(54) : 49).

35. supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

Salahnya persepsi remaja juga menjadi hal yang memberatkan gangguan ini. Dalam Islam sendiri banyak cara atau terapi yang dapat membantu individu tersebut menghadapi cobaan yang datang, bukan dengan makan secara berlebihan. Kemudian dengan kurangnya kepercayaan individu kepada ajaran Islam pula yang membuat remaja seperti kehilangan akal ataupun kontrol diri yang menyebabkan individu makan secara tidak terkontrol, serta individu juga menjadi senang menyiakan rezeki yang telah diberikan kepadanya, yaitu dengan memuntahkan kembali makanan yang telah dimakannya. Dalam Islam cara makan telah dijelaskan dalam Al Qur’an yaitu tidak berlebih-lebihan seperti dalam ayat:

31. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid[534], A‟raf : 31) makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[535].

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.(Q.S. Al

Serta Allah juga telah menegaskan jika manusia tetap bersikeras untuk meneruskan perilakunya tersebut maka mereka akan mendapat akibat dari perbuatannya.

3. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).(Q.S. Al Hijr : 3)

DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/43047111/Sindroma-Metabolik.

http://keluargacemara.com/kesehatan/anoreksia-pada-remaja-putri.html

http://tyasrara.multiply.com/journal/item/5/Bulimia_nervosa

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=program%2Bpemerintah%2Bterkait%2Bgizi%2 Bremaja&source=web&cd=5&ved=0CDsQFjAE&url=http%3A%2F%2Findonesia.digitaljou rnals.org%2Findex.php%2Fidnmed%2Farticle%2Fdownload%2F709%2F712&ei=TPu5Tvv 0JcrWrQfqiJmuBg&usg=AFQjCNHocFLfvWry_clQF8C6r4izlKjaVg&cad=rja

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=contoh%2Bkasus%2Bbulimia&source=web&cd =7&ved=0CEYQFjAG&url=http%3A%2F%2Fimages.joeliarahma.multiply.multiplycontent. com%2Fattachment%2F0%2FTBWWdwooC0gAAHdAdvc1%2FBULIMIA.rtf%3Fkey%3D joeliarahma%3Ajournal%3A14%26nmid%3D342574458&ei=3wa6ToCQDYnSrQel2jdBg&usg=AFQjCNHQNwa4l4q0JPZYYBsT6ZgibG4tZA&cad=rja

http://kosmo.vivanews.com/news/read/245931-kisah-tragis-gadis-pengidap-anoreksia

http://indonesiaindonesia.com/f/10361-anoreksia-nervosa/

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful