LAPORAN PRAKTIKUM

PROSES EKSTRAKSI SOKLETASI “EKSTRAKSI MINYAK BIJI PINANG”
OLEH KELOMPOK 3 KELAS A
ARBHY INDERA I FAJRINA QAISHUM NOFERI YANLI YOPALIM ZANSTRA 1007113576 1007113681 1007121556 1007135110

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSTAS RIAU PEKANBARU 2011

LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK Laporan ini telah diperiksa dan dinilai oleh dosen pembimbing Mata kuliah praktikum kimia organik

Disusun Oleh: 1. 2. 3. 4. Arbhy Indera I Fajrina Qaishum Noferi Yanli Yopalim Zanstra

Pekanbaru, 9 November 2011 Menyetujui Asisten Dosen Pembimbing

Salamun Qaulan NIM 0807135304

Drs. Irdoni, HS. MS NIP 195704151986091001

ABSTRAK Biji pinang rasanya pahit, pedas dan hangat serta mengandung 0,3 - 0,6%, alkaloid, selain itu juga mengandung red tannin 15%, lemak 14% (palmitic, oleic, stearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), kanji dan resin. Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu bahan dari campurannya, biasanya dengan menggunakan pelarut yang didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran. Bahan yang digunakan adalah biji pinang dengan heksan sebagai pelarutnya. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari dan mengamati proses ekstraksi suatu komponen dari suatu bahan alam dengan metode sokletasi, yaitu ekstraksi dengan pelarut organik yang dilakukan secara berulang-ulang dan menjaga jumlah pelarut konstan, dan menghitung rendemen. Setelah proses sokletasi selesai dilanjutkan dengan destilasi yang bertujuan untuk memisahkan heksan dengan minyak yang didapat. Lalu dioven untuk menghilangkan heksan yang masih tertinggal dalam minyak, dan didapat 0,917 gram minyak biji pinang sampai berat konstan dari 38,255 gram bahan baku. Biji pinang yang digunakan dihaluskan terlebih dahulu untuk memperluas permukaannya sehingga heksan lebih mudah mengikat komponen minyak. Heksan dilewatkan pada biji pinang dalam bentuk uap yang nantinya akan mengikat komponen minyak dan membawanya. Rendemen yang didapat adalah 2,38%, rendemen ini lebih sedikit dari teori yaitu sekitar 14%. Kata kunci : ekstraksi, heksan, minyak, sokletasi ABSTRACT Nut seeds are bitter, spicy and warm, and contain from 0.3 to 0.6%, alkaloids, but it also contains red tannin 15%, 14% fat (palmitic, oleic, stearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), starch and resin. Extraction is the process of separation of a mixture of materials, usually by using a solvent which is based on the solubility of the component to other components in the mixture. The material used is a seed nut with hexane as a solvent. These experiments aimed to study and observe the process of extraction of a component of a material nature with sokletasi methods, namely extraction with organic solvents are carried out repeatedly and keep a constant amount of solvent, and calculate the yield. Once the process is completed followed by distillation sokletasi which aims to separate the oil obtained by hexane. Then dioven hexane to remove oil still left in, and obtained 0.917 grams of areca seed oil until get constant weight from 38.255 grams of raw materials. Nut seeds used smoothed beforehand to expand their surface that bind easier hexane oil components. Hexane is passed on areca seed in the form of steam which will be binding component of the oil and take it. The yield obtained was 2.38%, the yield is less than the theory which is about 14%. Key words: extraction, hexane, oil, sokletasi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tanaman pinang (Areca catechu LINN), termasuk salah satu jenis palma yang sampai saat ini belum memperoleh penelitian yang serius, dibanding tanaman palma lainnya. Di Indonesia tanaman pinang banyak terdapat di pulau Sumatera (Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat), Kalimantan (Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat), Sulawesi (Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara) dan Nusa Tenggara (Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur) (Ferry, 1992). Tanaman ini umumnya tumbuh secara alami dan kalaupun ditanam hanya sebagai pembatas kebun. Mungkin hal ini disebabkan pemanfaatannya yang masih terbatas, misalnya pemanfaatan biji pinang secara tradisional yang telah berlangsung secara luas sejak ratusan tahun lalu adalah pada kegiatan menyirih. Dilaporkan bahwa biji pinang mengandung tanin, lemak, gula, air, dan minyak yang mengandung alkoloid. Beberapa penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa tanin dan alkoloid dalam minyak biji pinang adalah komponen yang memiliki manfaat bagi kesehatan (Barlina, 2007). Tanin dilaporkan dapat digunakan sebagai bahan baku obat kumur dan juga sebagai penyamak kulit kerena kemampuanya untuk mengendapkan protein tanpa merubah sifat fisik dan kimia (Mujumdar et al., 1982 dalam Rumokoy). Sedangkan alkaloid yang tekandung dalam minyak biji pinang telah teruji dapat digunakan untuk mengobati cacingan, terutama untuk mengatasi cacing pita. Namun alkaloid pada minyak biji pinang juga memiliki efek samping berupa rasa mual, sakit perut, pening, dan menimbulkan gelisah (Barlina, 2007). Metoda ekstraksi yang digunakan dalam percobaan ini adalah solvent extraction, yaitu sokletasi. Metoda ini merupakan salah satu metoda pengambilan komponen minyak dalam sampel dengan menggunakan pelarut. Sokletasi dipilih menjadi metoda percobaan karena pelarut yang diperlukan relatif sedikit dan dapat direfluks sehingga bisa diambil kembali untuk kemudian dapat digunakan

berulang ulang. Karena pelarutnya dapat digunakan berulang-ulang maka metode sokletasi menjadi lebih murah dan efisien. Selain itu, metoda sokletasi juga merupakan yang paling efektif untuk mengekstrak minyak karena dengan metoda ini hampir 99% minyak dalam sampel dapat diekstrak (Ketaren, 1986). Atas dasar itulah, maka pengambilan komponen minyak dilakukan dengan metoda solvent extraction, sokletasi.

1.2 Tujuan Percobaan 1. Mempelajari dan mengamati proses ekstraksi suatu komponen dari suatu bahan alam dengan metode sokletasi 2 Menghitung rendemen

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pinang Pinang adalah sejenis palma yang tumbuh di daerah Pasifik, Asia dan Afrika bagian timur. Pinang juga merupakan nama buahnya yang diperdagangkan orang. Berbagai nama daerah di antaranya adalah pineung (Aceh), pining (Batak Toba), penang (Md.), jambe (Sd., Jw.), bua, ua, wua, pua, fua, hua (aneka bahasa di Nusa Tenggara dan Maluku) dan berbagai sebutan lainnya. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Betel palm atau Betel nut tree, dan nama ilmiahnya adalah Areca catechu. Biji pinang rasanya pahit, pedas dan hangat serta mengandung 0,3 - 0,6%, alkaloid, seperti arekolin (C8H13NO2), arekolidine, arekain, guvakolin, guvasine dan isoguvasi-ne. Selain itu juga mengandung red tannin 15%, lemak 14% (palmitic, oleic, stearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), kanji dan resin. Biji segar mengandung kira-kira 50% lebih banyak alkaloid dibandingkan biji yang telah mengalami perlakuan. Arekolin selain berfungsi sebagai obat cacing juga sebagai penenang, sehingga bersifat memabukkan bagi penggunanya.

2.2 Prinsip ekstraksi

Metoda – metoda ekstraksi terdiri dari maserasi, sokletasi, perkolasi serta refluks. Secara umum, terdapat empat situasi dalam menentukan tujuan ekstraksi: 1. Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari organisme. Dalam kasus ini, prosedur yang telah dipublikasikan dapat diikuti dan dibuat modifikasi yang sesuai untuk mengembangkan proses atau menyesuaikan dengan kebutuhan pemakai. 2. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu, misalnya alkaloid, flavanoid atau saponin, meskipun struktur kimia sebetulnya dari senyawa ini bahkan keberadaannya belum diketahui. Dalam situasi seperti ini, metode umum yang dapat digunakan untuk senyawa

kimia yang diminati dapat diperoleh dari pustaka. Hal ini diikuti dengan uji kimia atau kromatografik yang sesuai untuk kelompok senyawa kimia tertentu 3. Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan tradisional, dan biasanya dibuat dengan cara, misalnya Tradisional Chinese medicine (TCM) seringkali membutuhkan herba yang dididihkan dalam air dan dekok dalam air untuk diberikan sebagai obat. Proses ini harus ditiru sedekat mungkin jika ekstrak akan melalui kajian ilmiah biologi atau kimia lebih lanjut, khususnya jika tujuannya untuk memvalidasi penggunaan obat tradisional. 4. Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya dengan cara apapun. Situasi ini (utamanya dalam program skrining) dapat timbul jika tujuannya adalah untuk menguji organisme, baik yang dipilih secara acak atau didasarkan pada penggunaan tradisional untuk mengetahui adanya senyawa dengan aktivitas biologi khusus. Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman yaitu pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel. (APP, 2010)

2.2.1 Prinsip Maserasi Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah ( proses difusi ). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan

dan penggantian cairan penyari setiap hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan.

2.2.2 Prinsip Perkolasi Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia dimaserasi selama 3 jam, kemudian simplisia dipindahkan ke dalam bejana silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui simplisia tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampai keadan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh karena gravitasi, kohesi, dan berat cairan di atas dikurangi gaya kapiler yang menahan gerakan ke bawah. Perkolat yang diperoleh dikumpulkan, lalu dipekatkan.

2.2.3 Prinsip Sokletasi Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia ditempatkan dalam selonsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa, cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang jatuh ke dalam klonsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan jika cairan penyari telah mencapai permukaan sifon, seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi. Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna, tidak tampak noda jika di KLT, atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.

2.2.4 Prinsip Refluks Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan, uap-uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat, akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat, demikian

seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna, penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.

2.2.5 Prinsip Destilasi Uap Air Penyarian minyak menguap dengan cara simplisia dan air ditempatkan dalam labu berbeda. Air dipanaskan dan akan menguap, uap air akan masuk ke dalam labu sampel sambil mengekstraksi minyak menguap yang terdapat dalam simplisia, uap air dan minyak menguap yang telah terekstraksi menuju kondensor dan akan terkondensasi, lalu akan melewati pipa alonga, campuran air dan minyak menguap akan masuk ke dalam corong pisah, dan akan memisah antara air dan minyak atsiri.

2.2.6 Prinsip Rotavapor Proses pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat, cairan penyari dapat menguap 5-10º C di bawah titik didih pelarutnya disebabkan oleh karena adanya penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung.

2.2.7 Prinsip Ekstraksi Cair-Cair Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen kimia di antara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur di mana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut pada fase kedua, lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok, lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fase cair, dan komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fase tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap.

2.2.8 Prinsip Kromatografi Lapis Tipis Pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip adsorbsi dan partisi, yang ditentukan oleh fase diam (adsorben) dan fase gerak (eluen), komponen kimia bergerak naik mengikuti fase gerak karena daya serap adsorben terhadap komponen-komponen kimia tidak sama sehingga komponen kimia dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda berdasarkan tingkat kepolarannya, hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan.

2.2.9 Prinsip Penampakan Noda 2.2.9.1 Pada UV 254 nm Pada UV 254 nm, lempeng akan berflouresensi sedangkan sampel akan tampak berwarna gelap.Penampakan noda pada lampu UV 254 nm adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan indikator fluoresensi yang terdapat pada lempeng. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi.

2.2.9.2 Pada UV 366 nm Pada UV 366 nm noda akan berflouresensi dan lempeng akan berwarna gelap. Penampakan noda pada lampu UV 366 nm adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor yang terikat oleh auksokrom yang ada pada noda tersebut. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi. Sehingga noda yang tampak pada lampu UV 366 terlihat terang karena silika gel yang digunakan tidak berfluororesensi pada sinar UV 366 nm.

2.2.9.3 Pereaksi Semprot H2SO4 10% Prinsip penampakan noda pereaksi semprot H2SO4 10% adalah berdasarkan kemampuan asam sulfat yang bersifat reduktor dalam merusak gugus kromofor dari zat aktif simplisia sehingga panjang gelombangnya akan bergeser ke arah yang lebih panjang (UV menjadi VIS) sehingga noda menjadi tampak oleh mata.

2.3 Ekstraksi Sokletasi Ekstraksi yang dilakukan menggunakan metoda sokletasi, yakni sejenis ekstraksi dengan pelarut organik yang dilakukan secara berulang- ulang dan menjaga jumlah pelarut relatif konstan, dengan menggunakan alat soklet. Minyak nabati merupakan suatu senyawa trigliserida dengan rantai karbon jenuh maupun tidak jenuh. Minyak nabati umumnya larut baik dalam pelarut organik, seperti benzen dan heksan. Untuk mendapatkan minyak nabati dari bagian tumbuhan dapat dilakukan metode sokletasi dengan menggunakan pelarut yang sesuai (Nazarudin, 1992). Proses sokletasi digunakan untuk ekstraksi lanjutan dari suatu senyawa dari material atau bahan padat dengan pelarut panas. Alat yang digunakan adalah labu didih, ekstraktor dan kondensor. Sampel dalam sokletasi perlu dikeringkan sebelum disokletasi. Tujuan dilakukannya pengeringan adalah untuk

mengilangkan kandungan air yang terdapat dalam sample sedangkan dihaluskan adalah untuk mempermudah senyawa terlarut dalam pelarut. Didalam sokletasi digunakan pelarut yang mudah menguap. Pelarut itu bergantung pada tingkatannya, polar atau non polar (Nazarudin, 1992). Bila penyaringan telah selesai maka pelarut yang telah di uapkan kembali adalah zat yang bersisa. Dietil eter merupakan pelarut yang baik untuik hidrokarbon danuntuk senyawa yang mengandung oksigen proses penyaringan yang berulang ulang pada proses sokletasi bergantung pada tetesan yang mengalir pada bahan yang di ekstraksi. Sampel pelarut yang digunakan bening atau tidak berwarna lagi. Umumnya prosedur sokletasi hanya pengulangan,sistematis dan pemisahan dengan menggunakan labu untuk ekstraksi sederhana tetapi lebih

merupakan metoda yang spesial,dan alat yang digunakan lebih kompleks. Oleh karena itu alat soklet cenderung mahal. Syarat-syarat pelarut yang digunakan dalam proses sokletasi:      Pelarut yang mudah menguap, misalnya n-heksana, eter, petroleum eter, metil klorida dan alkohol; Titik didih pelarut rendah; Pelarut dapat melarutkan senyawa yang diinginkan; Pelarut tersebut akan terpisah dengan cepat setelah pengocokan; dan Sifat sesuai dengan senyawa yang akan diisolasi (polar atau nonpolar)

Keuntungan metode ini adalah :  Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak tahan terhadap pemanasan secara langsung.  Digunakan pelarut yang lebih sedikit  Pemanasannya dapat diatur Kerugian dari metode ini :  Karena pelarut didaur ulang, ekstrak yang terkumpul pada wadah di sebelah bawah terusmenerus dipanaskan sehingga dapat menyebabkan

reaksi peruraian oleh panas.  Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk melarutkannya.  Bila dilakukan dalam skala besar, mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut dengan titik didih yang terlalu tinggi, seperti metanol atau air, karena seluruh alat yang berada di bawah kondensor perlu berada pada temperatur ini untuk pergerakan uap pelarut yang efektif. Metode ini terbatas pada ekstraksi dengan pelarut murni atau campuran azeotropik dan tidak dapat digunakan untuk ekstraksi dengan campuran pelarut, misalnya heksan : diklormetan = 1 : 1, atau pelarut yang diasamkan atau

dibasakan, karena uapnya akan mempunyai komposisi yang berbeda dalam pelarut cair di dalam wadah. (Fessenden & Fessenden, 1991).

2.4 Heksan Heksana (C6H14) atau CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3 merupakan pelarut non polar yang tidak berwarna dan mudah menguap dengan titik didih 69 oC, pada T dan P normal berbentuk cair. Senyawa ini merupakan fraksi petroleum eter yang ditemukan oleh Castille da Henri. Secara umum Heksana merupakan senyawa dengan 6 rantai karbon lurus yang didapatkan dari gas alam dan minyak mentah. Heksana biasanya digunakan dalam pembuatan makanan termasuk ekstraksi dari minyak nabati

Tabel 2.4.1 Karakteristik pelarut heksana Karakteristik Pelarut Heksan Rumus Molekul Massa Molar Titik Leleh Titik Didih Densitas Viskositas C6H14 86,18 gr/mol 0,6548 gr/mol -95o C (178 K) 69o C (342 K) 0,294 Cp pada 25o C

Sumber: http://abangroy1.blogspot.com/2011/02/karakteristikheksana.html

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 ALAT-ALAT 1. Satu set alat soklet 2. Test tube 3. Corong 4. Pipet tetes 5. Gelas piala 100 ml 6. Erlenmeyer 100 ml 3 buah 7. Gelas ukur 50 ml 1 buah 3.2 BAHAN-BAHAN 1. Biji pinang 2. Heksana 3. KMnO4 4. Kertas saring 3.3 PROSEDUR PERCOBAAN 1. Bersihkan soklet, masukkan 3 butir batu didih dan keringkan, timbang, catat berat labu + batu didih. 2. 3. Siapkan contoh dari biji pinang. Biji pinang digiling halus. Buat selongsong (timbel) dari kertas saring, ukurannya disesuaikan dengan besarnya tabung soklet. Timbang berat selongsong kosong. 4. Isi selongsong dari kertas saring dengan contoh. Timbang berat selongsong + contoh. Berat contoh saja dapat dihitung. 5. 6. Masukkan selongsong yang berisi contoh kedalam tabung soklet. sambungkan tabung soklet yang berisi contoh dengan labu soklet, jangan lupa mengolesi bagian ujung yang disambungkan dengan vaselin, untuk memudahkan waktu membukanya nanti. 7. Berdirikan labu pada mantel pemanas, dan tabung soklet yang tersambung pada labu di klem kan pada standar, posisinya harus berdiri tegak lurus.

8.

Masukkan pelarut n-heksana dari mulut tabung soklet, sampai terisi penuh. Setelah penuh, pelarut dengan sendirinya akan turun ke labu soklet.

9.

pasangkan pendingin pada mulut tabung soklet. Jangan lupa mengolesi bagian yang disambung dengan vaselin.

10. Alirkan air pendingin dari kran, periksa kalau ada kebocoran, kalau ada, harus diperbaiki sebelum pekerjaan dilanjutkan. 11. Hidupkan mantel pemanas, dan proses sokletasi dimulai. 12. Pelarut yang ada dalam labu akan menguap karena pemanasan. Uap naik kebagian atas, dan diembunkan oleh pendingin, menetes kedalam tabung soklet dan menumpuk dalam tabung sambil merendam contoh. Waktu merendam inilah n-heksana akan menarik minyak jarak dari jaringan biji buaj jarak. Bila tabung soklet penuh oleh pelarut yang telah melarutkan minyak jarak, maka dengan sendirnya pelarut akan turun kelabu. Di labu pelarut kembali menguap dan meninggalkan minyak. Pelarut yang menguap kembali naik dan mengembun kedalam tabung soklet untuk merendam contoh sekaligus melarutkan minyak yang masih tersisa dalam biji jarak. Setelah penuh kembali turun kelabu sambil membawa minyak. Sirkulasi tersu terjadi selama proses, sehingga akhirnya semua minyak terlarutkan oleh n –heksana. 13. Bila proses dipandang telah siap, amka mantel pemanas dimatikan. Biarkan beberapa saat, kemudian selongsong contoh dikeluarkan dari dalam tabung soklet, diremas, sehingga kering pelarut, pelarut hasil remasan dimasukkan kedalam tabung soklet. 14. setelah contoh dikeluarkan, unit alat dipasangkan kembali, dan matel pemanas dihidupkan lagi. Dimulai proses pengambilan pelarut. Amati dengan teliti, bila tabung sudah hampir penuh, pemanas cepat dimatikan, dan pelarut yang ada dalam tabung diambil, disimpan dalam botol tersendiri. Kalau terlambat, tabung sempat penuh, maka semua pelarut akan turun kelabu dibagian bawah, sedangkan sekarang kita pada tahap pengambilan pelarut.

15. bila proses pengambilan pelarut sudah dianggap selesai, yakni minyak dalam labu sudah terlihat lebih pekat, maka pemanas dimatikan, dan alat dilepas menjadi bagian–bagiannya. 16. minyak yang ada dalam labu, dikeringkan lagi dari pelarutnya dengan cara memanaskan dalam oven pada suhu diatas titik didih pelarut. Diovenkan selama 15 menit, kemudian dinginkan dan ditimbang. 17. pekerjaan seperti nno. 16 dilakukan beberapa kali, sampai didapat berat tetap. 18. berat minyak dapat dihitunh, sehingga persentase minyak dalam biji buah jarak juga dapat dihitung. 19. minyak hasil sokletasi disimpan pada botol tersendiri.

3.4 RANGKAIAN ALAT
Air Keluar
Air Keluar

Kondensor Air Keluar Soklet Thimble
Air Keluar Soklet Kondensor

Labu Didih

Labu Didih

Mantel Pemanas

Mantel Pemanas

Gambar 3.4.1 Proses Sokletasi.

Gambar 3.4.2 Proses Destilasi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Selama proses sokletasi, suhu mantel pemanas diatur diatas titik didih nheksana. Dimana dengan demikian, pelarut heksana akan menguap dan akan kembali mencair sewaktu masuk kedalam kondensor. Biji pinang dihaluskan bertujuan untuk membesar luas permukaannya. Dengan demikian heksan lebih mudah mengikat dan membawa minyak dalam biji pinang. Ketika heksan dalam bentuk uap dilewatkan ke biji pinang, heksan akan mengikat dan membawa minyak sampai ke kondensor. Sampai ke kondensor, uap heksan yang telah mengikat minyak tadi berubah fasa menjadi cairan dan turun merendam biji pinang dalam tabung soklet. Setelah heksan serta minyak dalam tabung soklet penuh maka secara otomatis akan turun ke labu didih. Begitu seterusnya sampai dirasa minyak dalal biji pinang telah habis. Selama proses sokletasi digunakan batu didih yang bertujuan mempercepat proses pendidihan, meratakan panas, dan mencegah terjadinya bumping (letupan panas akibat panas yang tidak merata). Pelerut Heksan digunakan karena bersifat nonpolar sehingga dapat mengikat molekul minyak biji pinang yang nonpolar juga. Proses sokletasi dihentikan apabila minyak dari sampel dirasa sudah terekstrak habis, yaitu dengan mengambil selongsong pada tabung soklet dan kemudian diperas dan ditampung, setelah itu dilakukan pengujian kadar minyak yang masih terkandung dalam hasil perasan dengan larutan KMnO4. Apabila suatu larutan sampel dicampur dengan KMnO4 berubah warna berarti kandungan minyak masih ada dan begitu sebaliknya. Minyak yang didapat adalah sebesar 0,917 gram dengan rendemen sebesar 2,38%, hal ini disebabkan karena pada biji pinang minyak yang terkandung cukup sedikit yaitu sekitar 14% (Anonim, 2010), disamping itu biji pinang yang digunakan juga tidak dihaluskan secara merata sehingga penarikan komponen minyak dari jaringan biji pinang belum maksimal. Hal lain yang turut mempengaruhi adalah proses sokletasi yang belum maksimal (dibituhkan waktu yang lebih lama lagi). Menurut [Nazaruddin, 1992] semakin

lama waktu proses sokletasi, maka semakin maksimal proses penarikan komponen minyak dalam bahan yang digunakan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan  Ekstraksi dengan metode sokletasi merupakan ekstraksi dengan pelarut organik yang dilakukan secara berulang-ulang dalam keadaan panas.  Rendemen yang didapat adalah sebesar 2,38 %.

5.2 Saran

Sebaiknya oven dan neraca analitik yang ada di laboratorium harus dicek dan di pastikan dalam keadaan baik sebelum digunakan dalam praktikum

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Pinang. http://id.wikipedia.org/wiki/Pinang. Diakses tanggal 19 November 2011 Anonim. 2009. Minyak Pinang. http://forperta.co.cc/articles.php?article_id=10. Diakses tanggal 19 November 2011 Anonim. 2009. Minyak Biji Jarak Pagar.http://id.wikipedia.org/wiki/Jarak_pagar. Diakses pada 9 Desember 2011 Anonim. 2010. Rubber Seed Oil. http://translate.google.co.id/translate?hl=id& langpair=en%7Cid&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Rubber_seed_oil. Diakses pada 9 Desember 2011 Anonim. 2011. Karakteristik Heksana. http://abangroy1.blogspot.com/2011/02/ karakteristik-heksana.html. Diakses pada 19 November 2011 APP. 2010. Biji Karet. http://forperta.co.cc/articles.php?article_id=10. Diakses tanggal 22 November 2011. Bailey, A. E, 1950. “Industrial Oil and Fat Products”, Interscholastic Publishing, Inc, New York Barlina, Rindengan. 2007. Peluang Pemanfaatan Buah PinangUntuk Pangan. Buletin Palma No. 33 Dwinurhaya. 1999. Isolasi Minyak Sereh Wangi. http://fpk.unair.ac.id/jurnal/ dwinurhaya-isolasi-minyak serai-wangi.pdf. Diakses pada 10 Desember 2011 Fessenden & Fessenden. 1991. Kimia Organik. Jakarta: Eralangga Irdoni HS & Nirwana HZ. 2010. Modul Praktikum Kimia Organik. Universitas Riau. Nazarudin, dkk: .1992. Pengembangan Minyak Biji Karet di Indonesia. Surabaya:. Indonesian Press. tkk_handout_minyak _nabati

LAMPIRAN A DOKUMENTASI PRAKTIKUM

Labu didih dan batu didih

Selongsong berisi biji pinang

Proses Sokletasi

Heksan yang telah bercampur minyak

Proses Destilasi

Penujian Kandungan minyak dalm

perasan selongsong dengan KMnO4

Minyak biji pinang yang didapat

LAMPIRAN B HASIL DAN PERHITUNGAN
1. Berat Labu didih + Batu Didih = 188,255 gram Berat sampel (biji pinang) = 38,392 gram Berat Kertas Saring = 3,72 gram Heksan = 250 ml 2. Pemanasan dan proses sokletasi dimulai pada pukul 07.52 WIB. Proses refluks terjadi sebanyak 24 kali dan rata- rata waktu refluks adalah 12 menit. Dan berakhir pada pukul 13.00 WIB. Proses destilasi dimulai pada pukul 15.00 – 16.00 WIB. 3. Proses pengkonstanan dilakukan sebanyak 9 kali dalam 2 hari, yaitu pada hari selasa 8 November 2011 yang di mulai pada pukul 16.00 – 17.30 WIB dan pada hari rabu 9 November 2011 dengan cara dipanaskan dan ditimbang. 4. Setelah pengkonstanan selesai, didapat : Berat labu + batu didih + berat minyak = 189,172 gram Jadi berat minyak adalah 189,172 – 188,255 = 0,917 gram Rendemen yang didapat
189,172 – 188,255 38,392

= 2,38%

LAMPIRAN C TUGAS
A. Perbedaan Ekstraksi dan Isolasi Ekstraksi adalah proses menarik atau mengeluarkan sejenis komponen tertetu dari suatu bahan, hasil ekstraksi biasanya komponen yang terdiri dari berbagai jenis zat yang masih dat diisolasi dari komponennya. Isolasi itu sendiri adalah suatu proses memisahkan sejenis zat dan atau menarik sejenis zat dari suatu bahan tertentu. Contoh ekstraksi adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ekstraksi CPO dari buah saiwit Ekstraksi minyak biji jarak pagar Ekstraksi minyak biji pinang Ekstraksi minyak minyak kedelai Ekstraksi minyak jagung Ekstraksi minyak beras Ekstraksi minyak biji karet Ekstraksi minyak wijen Ekstraksi minyak biji nunga matahari

10. Ekstraksi minyak kelapa Contoh solasi adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Isolasi zat warna dari tumbuhan Isolasi asam amino Isolasi Eugenol dari bunga cengkeh Isolasi DNA / RNA dari sel Isolasi minyak atsiri daun sereh wangi Isolasi senyawa sitotoksik dari spon kaliapsis Isolasi minyak ikan Isolasi senyawa alkaloid dari tepung gadung Isolasi senyawa flavonoid dari daun dewandaru

10. Isolasi vitamin C dari jeruk

B. Macam-macam Minyak Nabati 1. Minyak Kacang Tanah Minyak kacang tanah seperti juga minyak nabati lainnya merupakan salah satu kebutuhan manusia yang dipergunakan baik sebagai bahan pangan (edible purpose) maupun bahan non pangan (non edible purpose). Sebagai bahan pangan minyak kacang tanah dipergunakan untuk minyak goreng, bahan dasar pembuatan margarin mayonnaise, salad dressing dan mentega putih (shortening), dan mempunyai keunggulan bila dibandingkan dengan minyak jenis lainnya, karena dapat dipakai berulang-ulang untuk menggoreng bahan pangan. Sebagai bahan non pangan, minyak kacang tanah banyak digunakan dalam industri sabun, face cream, shaving cream, pencuci rambut dan bahan kosmetik lainnya. Dalam bidang farmasi minyak kacang tanah dapat digunakan untuk campuran pembuatan adrenalin dan obat asma.

Komposisi Kimia Polong kacang tanah yang sudah matang (cukup tua) mempunyai ukuran panjang 1,25 - 7,50 cm dan berbentuk silinder. Tiap-tiap polong kacang tanah terdiri dari kulit (shell) 21 - 29 %, daging biji (kernel) 69-72 , 40 %, dan lembaga (germ) 3,10 - 3,60 %. Dari jumlah 9,1 persen kadar nitrogen kacang tanah, sebesar 8,74 persen diantaranya terdiri dari fraksi albumen, gluten dan globulin. Kacang tanah mengandung asam-asam amino esensial, yaitu arginin (2,72 %), fenilalanin (1,52 %), histidin (0,51 %), isoleusin (0,99 %), leusin (1,92 %), lisin (1,29 %), methionin (0,33 %), tritophan (0,21 %) dan valin (1,33 %). Tabel 1.1 Komposisi Daging Kacang Tanah

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

Komposisi Minyak Minyak kacang tanah mengandung 76-82 % asam lemak tidak jenuh, yang terdiri dari 40-45 % asam oleat dan 30-35 % asam linoleat. Asam lemak jenuh sebagian besar terdiri dari asam palmitat, sedangkan kadar asam miristat sekitar 5 %. Kandungan asam linoleat yang tinggi akan menurunkan kestabilan minyak. Kestabilan minyak akan bertambah dengan cara hidrogenasi atau dengan penambahan anti-oksidan. Dalam minyak kacang tanah terdapat persenyawaan tokoferol yang merupakan anti-oksidan alami dan efektif dalam menghambat proses oksidasi minyak kacang tanah.

Tabel 1.2 Komposisi Asam Lemak Minyak Kacang Tanah

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati Di dalam kacang tanah terdapat karbohidrat sebanyak 18 persen dengan kadar pati 0,5 – 5,0 persen dan kadar sukrosa 4 – 7 persen. Vitamin-vitamin yang terdapat adalah riboflavin, thiamin, asam nikotinat, vitamin E dan K. Sebagian besar kandungan mineral terdiri dari kalsium, magnesium, fosfor dan sulfur. Racun di dalam kacang tanah yang disebut aflatoksin, dihasilkan oleh cendawan Aspergillus flavus. Aflatoksin ini terdiri dari B1, B2, G1, G2. Kode B dan G menunjukkan intensitas fluorecence biru (blue) dan hijau (green) jika disinari dengan sinar ultra violet. Kacang tanah berumur tua, yang digunakan sebagai bibit kadang-kadang mengandung aflatoksin.

Sifat Fisik dan Kimia Minyak kacang tanah merupakan minyak yang lebih baik daripada minyak jagung, minyak biji kapas, minyak olive, minyak bunga matahari, untuk dijadikan salad dressing, dan disimpan di bawah suhu -11oC. Hal ini disebabkan karena minyak kacang tanah jika berwujud padat berbentuk amorf, dimana lapisan padat tersebut tidak pecah sewaktu proses pembekuan. Minyak kacang tanah yang didinginkan pada suhu -6,6oC, akan menghasilkan sejumlah besar trigliserida padat. Berdasarkan flow test, maka fase padat terbentuk dengan sempurna pada suhu -6,6oC. Sifat fisika-kimia minyak kacang tanah sebelum dan sesudah dimurnikan dapat dilihat pada Tabel berikut Tabel 1.3 Sifat Fisika-Kimia Ninyak Kacang Tanah Sebelum dan Sesudah Dimurnikan

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

Tabel 1.4 Sifak Kimia Minyak Kacang Tanah

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

2. Minyak Wijen Berdasarkan catatan pustaka, produk minyak wijen atau sesame oil yang diperoleh dengan cara memeras biji tanaman wijen sudah dikenal sejak zaman baheula. Salah satu sumber pustaka yang memuat tentang minyak wijen adalah kitab Hindu Ayur-Veda dari Tanah India. Sedangkan bangsa-bangsa yang sejak lama menggunakan minyak wijen, selain mereka yang berasal dari India, juga bangsa-bangsa Timur Tengah, Cina, Jepang, Amerika, dan Kanada. Minyak wijen yang diproses dari biji wijen hitam atau putih sangat kaya dengan kandungan protein, vitamin, dan mineral. Minyak wijen yang diketahui sangat kaya zat gizi itu, sekaligus mengandung senyawa asam lemak esensial, omega 6, omega 9, antioksidan, dan lecithin yang berkasiat baik bagi pencegahan penyakit jantung, kolesterol, kanker, dan lain-lain. Manfaat minyak wijen atau sesame oil sendiri, selain secara konvensional digunakan sebagai minyak makan (minyak goreng) juga banyak dimanfaatkan industri kimia, farmasi, dan obat-obatan. Pemanfaatan minyak wijen sebagai minyak kesehatan disebabkan di dalam minyak wijen terkandung asam lemak esensial, asam lemak dengan omega 6 dan omega 9, tokoferol, dan kandungan antioksidan lainnya. Itu sebabnya, perdagangan wijen dan minyak wijen di dunia terus mengalami peningkatan.

Sifat-Sifat Minyak Wijen Biji wijen murni 100% dipilih, dipanaskan pada temperatur sedang dan dengan menggunakan dua tahap penyaringan untuk menghasilkan minyak yang diharapkan. Minyak mentah yang dihasilkan adalah dasar yang diyakini sebagai RBDW minyak wijen. Minyak wijen memiliki sifat yang khas, berwarna kuning keemasan jernih dan beraroma lembut. Minyak ini memiliki kesetimbangan yang tinggi dan ketahanan dari kerusakan dan oksidasi. Keuntungan dari minyak wijen bahwa pada temperatur tinggi tidak terbakar secepat minyak lain, dan keuntungan yang lain adalah memiliki anti oksida yang disebut Sesamol. Minyak wijen memiliki 87% lemak tidak jenuh yang 41%-nya merupakan asam linoleat.

Tabel 2.1 Spesifikasi Kualitas

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

Tabel 2.2 Profil Asam Lemak Bebas

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

Sebagai catatan, minyak wijen yang bukan berasal dari hasil pembakaran biji wijen, kadangkadang dapat kita jumpai disupermarket dan tidak bagus digunakan sebagai pengganti minyak wijen yang digunakan pada bahan makanan

makanan/masakan. Karena minyak wijen yang digunakan pada

dihasilkan dari biji wijen yang dipress. Minyak yang mudah terbakar ini dapat ditemukan pada masakan Indian saat negara-negara Asia belum mengenalnya. Minyak wijen dapat disimpan untuk beberapa bulan jika disimpan ditempat yang kering dan dingin. Salah satu yang terbaik adalah minyak wijen Kadoya dari Japan. Selain digunakan pada masakan minyak wijen dijumpai pada pengolahan apapun dengan perlakuan stimulan. Dapat juga dilakukan pada pembuatan oksidan.

Tanaman sesame memiliki beberapa keuntungan dalam hal agrikultur seperti biji dan hasil berada pada kondisi baik pada suhu tinggi, dapat ditanam pada tempat penyimpanan yang lembab tanpa air hujan dan sistem irigasi, dapat tumbuh baik pada area murni atau digabung dengan tanaman lain, akarnya dapat menetralkan tanah dan meningkatkan perambahan air. Buah sesame berbentuk kapsul dan setiap kapsul mengandung 50 hingga 100 biji. Biji inilah yang diolah untuk diambil asam lemak bebasnya. Berat dari 1000 biji adalah sekitar 2 hingga 4 g. bijinya lembut dan dapat berwarna putih, kuning, coklat kemerahan atau hitam. Bersifat dikotiledon, albumin, dan oleagin. Sesame dapat beradaptasi pada wilayah ekuator dan daerah subtropis. Dan tumbuh baik pada wilayah panas yang kering dan memiliki akar yang dapat mencapai lapisan air bawah tanah. Di Afrika, sesame umumnya ditanam pada tanah yang sedikit berpasir dengan curah hujan sekitar 380 mm. Di India, tanaman ini ditanam pada tanah yang lebih ringan pada pH sekitar 5,5 - 8,2 dan biji matang dalam 80 hingga 140 hari.

3. Minyak Kelapa Minyak kelapa diperoleh dari buah tanaman kelapa atau Cocos nucifera L., yaitu pada bagian inti buah kelapa (kernel atau endosperm). Inti buah tanaman kelapa ini memiliki kandungan minyak kelapa sebanyak 34% dengan kelembaban 6-8%. Kandungan asam lemak minyak kelapa yang paling banyak adalah asam laurat C12:0 (asam lemak jenuh / saturated fatty acid). Pada pembuatan minyak kelapa yang menjadi bahan baku utamanya adalah daging kelapa. Minyak kelapa berdasarkan kandungan asam lemak digolongkan ke dalam minyak asam laurat, karena kandungan asam lauratnya paling besar jika dibandingkan dengan asam lemak lainnya. Berdasarkan tingkat ketidakjenuhannya yang dinyatakan dengan bilangan iod (iodine value), maka minyak kelapa dapat dimasukkan ke dalam golongan non drying oils, karena bilangan iod minyak tersebut berkisar antara 7,5 - 10,5. Minyak kelapa yang belum dimurnikan mengandung sejumlah kecil komponen bukan minyak, misalnya fosfatida, gum sterol (0,06 -0,08%), tokoferol

(0,003) dan asam lemak bebas (kurang dari 5%), sterol yang terdapat di dalam minyak nabati disebut phitosterol dan mempunyai dua isomer, yaitu beta sitoterol (C29H50O) dan stigmasterol (C29H48O). Stirol bersifat tidak berwarna, tidak berbau, stabil dan berfungsi sebagai stabiliuzer dalam minyak. Tokoferol mempunyai tiga isomer, yaitu α-tokoferol (titik cair 158o-160oC), β-tokoferol (titik cair 138o-140oC) dan γ-tokoferol. Persenyawaan tokoferol bersifat tidak dapat disabunkan, dan berfungsi sebagai anti oksidan. Warna coklat pada minyak yang mengandung protein dan karbohidrat bukan disebabkan oleh zat warna alamiah, tetapi oleh reaksi browning. Warna ini merupakan hasil reaksi dari senyawa karbonil (berasal dari pemecahan peroksida) dengan asam amino dari protein, dan terjadi terutama pada suhu tinggi. Warna pada minyak kelapa disebabkan oleh zat warna dan kotoran - kotoran lainnya. Zat warna alamiah yang terdapat pada minyak kelapa adalah karoten yang merupakan hidrokarbon tidak jenuh dan tidak stabil pada suhu tinggi. Pada pengolahan minyak menggunakan uap panas maka warna kuning yang disebabkan oleh karoten akan mengalami degradasi.

Tabel 3.1 Komposisi Daging Buah Kelapa Pada Berbagai Tingkat Kematangan Dalam 1000 gram Bahan

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

Daging buah kelapa dapat diolah menjadi santan (juice extract). Santan kelapa ini dapat dijadikan bahan penganti susu atau dijadikan minyak.

Tabel 3.2 Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

4. Minyak Bunga Matahari Bunga matahari diketahui telah tumbuh di Arizona, New Mexico pada tahun 3000 SM dan di lembah Missisipi-Missouri pada tahun 900 SM. Tanaman ini dibawa ke Eropa oleh penjelajah muda dan telah dikembangkan sebagai sumber Edible Oil di Rusia. Kandungan asam oleat berbanding terbalik dengan proses maturasi biji. Bunga matahari banyak dibudidayakan di Eropa. Prosesing awal dari biji bunga matahari dari kulit menghasilkan minyak kuning dengan aroma yang lembut. Minyak biji bunga matahari ini (refined oil) digunakan sebagai minyak salad atau sebagai minyak goreng dan sebagai sumber pembuatan margarin. Untuk minyak salad yang digunakan hanya bunga matahari yang dihasilkan dari daerah Minnesota dan Dakota yang beriklim dingin, karena minyak yang dihasilkan berbeda untuk tiap daerah tergantung pada keadaan iklim. Produksi minyak biji bunga matahari relatif besar di Rusia, Argentina dan Hungaria. Perkembangan popularitas biji bunga matahari terutama berhubungan dengan : 1. Kestabilan rasanya tanpa perlu hidrogenasi Hal ini menjadikan biji bunga matahari lebih alami 2. Ketinggian kandungan asam linoleatnya (55-70%)

Minyak lain yang mengandung asam linoleat tinggi adalah minyak kedelai dan minyak jagung. Kedua minyak ini dalam rangkaian prosesnya sering kali merupakan by-produk (hasil samping). Hal ini menyebabkan produsen dapat memberi potongan harga kepada konsumen. Berbeda dengan minyak biji bunga matahari yang jauh lebih mahal harganya. Proses pengolahan minyak biji bunga matahari diawali dengan proses ekstraksi. Minyak mentah yang dihasilkan masih mengandung materi-materi pengotor yang kemudian disingkirkan melalui proses refining (Degumming,

Neutralizing, Washing, Drying, Bleaching dan Deoderizing). Komposisi minyak biji bunga matahari adalah sebagai berikut : 1. Kandungan asam lemak %         

Miristat Palmitat Palmitoleat Stearat Oleat Linoleat Linolenat Arachidinat Behenat α – linoleat

: C - 14 : 0 : C - 16 : 0 : C - 16 :1 : C - 18 : 0 : C - 18 : 1 : C - 18 : 2 : C - 18 : 3 : C - 20 : 0 : C - 22 : 0

0,1 7,0 0,1 4,5 18,7 67,5 0,8 0,4 0,7

: C 18 : 3(9, 12, 15)0,5

2. Kandungan minyak biji (% berat) = 25 - 30 % 3. Kandungan tocopherol dan tocotrienol dalam minyak biji bunga matahari α – Tocoperol α – Tocotrienol δ – Tocopherol δ - Tocopherol 48,7 5 5,1 0,8

Rumus molekul tocopherol R=H2C-CH2-CH2-CHCH3-CH2-CH2-CH2-CHCH3-CH2-CH2-CH2-CHCH3-CH3 Rumus molekul tocotrienol R=H2C-CH2-CH=CCH3-CH2-CH2-CH=CCH3-CH2-CH2-CH=CCH3-CH3

5. Minyak Lobak Rapeseed oil (minyak lobak) adalah minyak yang diperoleh dari biji

lobak yang biasanya diperdagangkan dengan nama minyak kanola (canola oil). Minyak ini dulunya hanya ada di Eropa dan Timur Tengah. Minyak lobak telah diolah lebih lanjut untuk memperbaiki keseimbangan ataupun kondisi tingkat sterol dan ikatan jenuh yang lebih seimbang daripada minyak lainnya, kecuali minyak zaitun (olive oil). Canola oil merupakan nama dagang dari minyak lobak, yang mungkin diasumsikan dari nama lobak sendiri yang artinya “diambil dari biji lobak”. Menurut suatu alasan, nama ini diganti menjadi canola oleh industri minyak di Kanada. Minyak kanola sebenarnya adalah minyak yang paling banyak digunakan di Kanada. Pada umumnya hal ini merujuk pada lear oil (minyak yang diambil dari bagian daun), untuk minyak lobak dengan asam erusi rendah. Popularitas dari minyak kanola berkembang dengan cepat di Amerika Serikat, yang mungkin dikarenakan ditemukannya minyak jenuh yang lebih rendah (kira-kira 6%) daripada minyak lainnya. Perbandingan ini sangat jauh bila dibandingkan dengan minyak jenuh dari minyak kacang tanah (kurang lebih 18%) dan minyak kelapa sawit (sangat tinggi, sekitar 79%). Minyak kanola memiliki titik jual untuk kandungan sterol yang rendah dan keseimbangan dari asam lemak tak jenuh (satu ikatan rangkap) daripada minyak lainnya, kecuali minyak zaitun. Minyak ini juga memiliki kandungan asam lemak Omega-3, keberadaan atau

kandungan asam lemak dengan ikatan rangkap yang banyak tidak hanya merendahkan kandungan kolesterol ataupun trigliserida, tapi juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan otak dengan baik. Minyak kanola sangat sesuai untuk memasak dan pelengkap salad. Minyak lobak sangat baik digunakan untuk memasak dan menggoreng. Secara relatif memiliki level yang tinggi untuk asam tak jenuh dengan satu ikatan rangkap, membuat minyak robusta ini merupakan salah satu yang terbaik dimana memiliki toleransi yang tinggi untuk suhu yang tinggi. Ketika dijual sebagai minyak goreng, akan sering mengandung suatu anti - foam (anti buih) serta metil polisilooksana. Walaupun biasanya dijual dalam bentuk cair, minyak lobak dapat

dipadatkan dengan proses hidrogenasi,

dan bertambah dengan adanya dalam

bentuk semi padat ataupun dalam bentuk padat penuh. Komposisi dasar : - Asam lemak jenuh - Asam lemak tak jenuh dengan satu ikatan rangkap - Asam lemak tak jenuh dengan banyak ikatan rangkap : : : 7% 63% 30%

Komposisi kimia dari rapeseed oil atau canola oil per 100 gram minyak adalah dapat dilihat seperti pada tabel berikut.

Tabel 5.1 Komposisi Kimia per 100 gram Bahan

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

6. Minyak Jagung Minyak jagung diperoleh dari biji tanaman jagung atau Zea mays L., yaitu pada bagian inti biji jagung (kernel) atau benih jagung (corn germ). Tanaman jagung ini memiliki : Famili : Poaceae Genus : Zea

Inti biji jagung (benih jagung atau corn germ) ini memiliki kandungan minyak jagung sebanyak 83 % dengan kelembaban 14 %. Kandungan asam lemak minyak jagung yang paling banyak adalah asam linoleat C18:2 (asam lemak tak jenuh / unsaturated fatty acid). Minyak ini ditemukan pertama kali di Meksiko Tengah pada 5000 SM.

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati Gambar 6.1 Biji Jagung

Komposisi Kimia Biji Jagung Jagung sebagai bahan makanan, mengandung nilai gizi yang cukup tinggi jika dibanding dengan bahan pangan lainnya, terutama jagung kuning yang banyak mengandung vitamin A. Lemak terdapat pada bagian bawah dari butiran biji jagung beratnya sekitar 9-12 persen dari berat butiran. Karbohidrat terdapat pada endosperm sekitar 73-79 persen, kadar protein dalam endosperm sekitar 10-19 persen dan 22,4 persen pada kulit ari. Hasil analisis menunjukkan kandungan protein pada jagung biji sebesar 8.6-9.4 persen. Kandungan protein ini lebih tinggi lagi (11-15%) pada jagung hibrida yang dipupuk dengan nitrogen. Protein jagung miskin akan lisin dan tripthofan sehingga dapat menimbulkan penyakit pelagra pada orang yang makanannya hanya bersumber dari jagung. Dengan mencampur jagung dengan makanan lainnya yang mengandung lisin dan tripthofan penyakit tersebut dapat dicegah. Lemak jagung terutama terdapat dalam lembaga, dengan kadar lemak sekitar 30 persen. Kadar lemak biji jagung secara keseluruhan yaitu 4,2 - 5 persen. Komposisi mineral biji

jagung kering dapat dilihat seperti pada tabel berikut ini.

Tabel 6.1 Komposisi Mineral Biji Jagung

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

Komposisi Kimia Minyak Jagung Minyak jagung merupakan trigliserida yang disusun oleh gliserol dan asam-asam lemak. Persentase trigliserida sekitar 98,6 persen, sedangkan sisanya merupakan bahan non minyak, seperti abu, zat warna atau lilin. Asam lemak yang menyusun minyak jagung terdiri dari asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Selain komponen-komponen tersebut di atas, minyak jagung juga mengandung bahan yang tidak tersabunkan, yaitu: 1. Sitosterol dalam minyak jagung berkisar antara 0,91-18 %. Jenis sterol yang terdapat dalam minyak jagung adalah campesterol (8-12 %), stigmasterol (0,7-1,4 %), betasterol (86-90 %) dari sterol yang ada dan pada proses pemurnian, kadar sterol akan turun menjadi 11-12 %. 2. Lilin merupakan salah satu fraksi berupa kristal yang dapat dipisahkan pada waktu pemurnian minyak menggunakan suhu rendah. Fraksi lilin terdiri dari mirisil tetrakosanate dan mirisil isobehenate. 3. Tokoferol yang paling penting adalah alfa dan beta tokoferol yang jumlahnya sekitar 0,078 %. Beberapa macam gugusan tokoferol yaitu 7

metil tocol; 7,8 dimetil tococreena; 5,7,8 trimetil tokotrienol; (5,7,8)

trimetil tocol (alfa tokoferol); 7,8 dimetil tocol. 4. Karotenoid pada minyak jagung kasar terdiri dari xanthophyl (7,4 ppm) dan caroten (1,6 ppm) dan kadar tersebut akan menurun menjadi 4,8 ppm xanthophyl dan 0.5 ppm caroten pada proses pemurnian.

Tabel 6.2 Komposisi Aam Lemak Minyak Jagung

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

Komponen lainnya sebagai penyusun minyak jagung adalah triterpene alkohol. Dengan GLC dapat dianalisis beta amirin sikloaitenol, alfa amirin likloartenol, 2,4 metil sikloartenol dan sejumlah kecil hidrokarbon yaitu 28 ppm squalene, yang merupakan hidrokarbon aromatis polisiklis. Minyak jagung berwarna merah gelap dan setelah dimurnikan akan berwarna kuning keemasan. Bobot jenis minyak jagung sekitar 0,918 - 0,925, sedangkan nilai indeksnya pada suhu 25°C berkisar antara 1,4657 - 1,4659. Kekentalan minyak jagung hampir sama dengan minyak-minyak nabati lainnya yaitu 58 sentipoise pada suhu 25°C. Minyak jagung larut di dalam etanol, isopropil alkohol, dan furfural, sedangkan nilai transmisinya sekitar 280-290.

7. Minyak Kedelai Kacang Kedelai berasal dari Asia Tenggara dan pertama kali di kenal di Amerika Serikat pada tahun 1765 (Soybean Research Advisory Institute, 1984). Sekaran penghasil kacang kedelai terbesar di dunia adalah Amerika Serikat

dengan lokasi pertanian terbesar terdapat di daerah barat dan selatan Amerika Serikat. Kacang kedelai merupakan panen terbanyak kedua di Amerika Serikat di bawah jagung, dan sejak tahun 1970, Amerika Serikat sudah memproduksi kirakira lebih dari 1,5 milyar bushels (1 bushels = 36 L) kacang kedelai per tahun. Dua produk utama yang diproses dari kacang kedelai adalah minyak dan tepung. Tabel tentang komposisi kandungan kedelai dan komposisi lemaknya dapat dilihat seperti pada tabel berikut.

Tabel 7.1 Komposisi Kedelai

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

Tabel 7.2 Komposisi Asam Lemak

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

8. Minyak Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis) berasal dari Guinea di pesisir Afrika Barat, kemudian diperkenalkan ke bagian Afrika lainnya, Asia

Tenggara dan Amerika Latin sepanjang garis equator (antara garis lintang utara 15o dan lintang selatan 12o). Kelapa sawit tumbuh baik pada daerah iklim tropis, dengan suhu antara 24oC - 32oC dengan kelembaban yang tinggi dan curah hujan 200 mm per tahun. Kelapa sawit mengandung kurang lebih 80% perikarp dan 20% buah yang dilapisi kulit yang tipis. Kandungan minyak dalam perikarp sekitar 30% - 40%. Kelapa sawit menghasilkan dua macam minyak yang sangat berlainan sifatnya, yaitu : 1. Minyak sawit (CPO), yaitu minyak yang berasal dari sabut kelapa sawit 2. Minyak inti sawit (CPKO), yaitu minyak yang berasal dari inti kelapa sawit Pada umumnya minyak sawit mengandung lebih banyak asam-asam palmitat, oleat dan linoleat jika dibandingkan dengan minyak inti sawit. Minyak sawit merupakan gliserida yang terdiri dari berbagai asam lemak, sehingga titik lebur dari gliserida tersebut tergantung pada kejenuhan asam lemaknya. Semakin jenuh asam lemaknya semakin tinggi titik lebur dari minyak sawit tersebut.

Tabel 8.1 Karakteristik Minyak Sawit

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

Komponen penyusun minyak sawit terdiri dari trigliserida dan non trigliserida. Asam-asam lemak penyusun trigliserida terdiri dari asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh.

Tabel 8.2 Komposisi Komponen Trigliserida Asam Lemak pada Minyak Sawit dari Berbagau Sumber

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

Komponen non-trigliserida ini merupakan komponen yang menyebabkan rasa, aroma dan warna kurang baik. Kandungan minyak sawit yang terdapat dalam jumlah sedikit ini, sering memegang peranan penting dalam menentukan mutu minyak.

Tabel 8.3 Kandungan Monir (Non-Trigliserida) pada Minyak Sawit

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

9. Minyak Safflower Merupakan salah satu jenis bunga predator. Bunga ini diproduksi dalam skala besar di Mesir. Safflower biasanya tumbuh di daerah hangat. Bunga ini membutuhkan waktu hujan dan panas yang hampir sama. Safflower mempunyai waktu tumbuh sekitar 120 hari, sekitar 300-500 mm, di daerah hutan hujan atau irigasi. Disamping itu, Safflower merupakan tanaman yang tidak bisa bersaing dengan rumput liar, memperoleh zat makanan dari tanah, sehingga tempat tumbuhnya harus cukup tanpa ada gangguan dari rumput liar.

Dalam beberapa penelitian, diketahui bahwa didalam minyak Safflower terdapat 3% mol ikatan rangkap dua, 3% mol ikatan rangkap tiga, 23% mol ikatan rangkap empat, 19% mol ikatan rangkap lima, dan 47% mol ikatan rangkap enam atau tujuh. Disamping itu juga diketahui bahwa minyak Safflower mengandung 74,6 % mol asam linoleat.

Tabel 9.1 Komposisi Asam Laemak Minyak Safflower

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

Tabel 9.2 Sifat Fisik dam Kimia Minyak Saffower

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

10. Minyak Beras Minyak beras diperoleh dari produk samping pengilangan tanaman padi. Minyak beras (biasanya disebut juga dengan rice brand oil) merupakan bahan utama dalam membuat sereal. Sumber utama dalam pembuatan minyak beras adalah beras itu sendiri. Lebih dari 90 % asam lemak dalam minyak beras terdiri atas asam palmitat, asam oleat, dan asam linolenat. Sedangkan 4 % diantaranya terdiri atas pospolipid. Pospolipid yang terkandung didalam minyak beras itu lebih tinggi bila dibandingkan dengan minyak nabati yang lain. Pada minyak beras terdapat sterol yang merupakan kandungan asam lemak tak tersaponifikasi maksimum, yang terdiri atas sterol bebas, ester,

sterilglikosida, dan asilsteril glikosida. Lebih dari 4 % minyak beras merupakan asam lemak yang tak tersaponifikasi. Salah satu yang paling tidak diinginkan adalah β-sitosterol. Komposisi kimia dari minyak beras dapat dilihat pada tabel 10.1. Disamping itu, didalam minyak beras juga terdapat kadungan wax sekitar 1-4 %, tergantung pada jenisnya dan metode yang digunakan untuk mengekstraksi minyak tersebut. Wax itu larut didalam heksana dan tidak larut didalam aseton. Lilin yang keras mencair pada suhu 79,5°C dan terurai menjadi fatty alcohol saturated C 24, C 26, dan C 30. Sedangkan asam lemak saturatednya terdiri atas C 22, C 24, dan C 26, serta n-alkana C 29 dan C 31. Lilin yang lunak memiliki titik leleh pada suhu 74°C dan terurai menjadi fatty alcohol saturated C 24 dan C 30. Asam lemak saturatednya terdiri atas C 16 dan C 26, dan n-alkana C21 dan C 29.

Tabel 10.1 Komposisi Kimia Minyak Beras

11. Minyak Biji Kapas Minyak biji kapas diperoleh dari biji tanaman kapas. Minyak biji kapas diperoleh dari proses pengekstraksian biji kapas. Spesies yang umum dikenal dari tanaman kapas yaitu : - Gossypium hirsutum (USA dan Australia) - G. arboreum dan G. herbaceum (Asia) - G. barbadense (Egypt) Biji kapas ini memiliki kandungan minyak biji kapas sebanyak 16,14 % dengan kelembaban < 10 %. Kandungan asam lemak minyak biji kapas yang paling banyak adalah asam linoleat C18:2 (asam lemak tak jenuh / unsaturated fatty acid) Kapas adalah suatu serabut lembut yang tumbuh di sekitar suatu semak belukar yang asli kepada daerah subtropis dan tropis. Serabut kapas setelah diproses untuk memindahkan benih dan jejak lilin, protein, dll. terdiri dari selulosa suatu polimer alami. Produksi kapas sangat efisien dimana hanya

sekitar kurang dari sepuluh persen berat dari kapas yang terbuang sewaktu

dilakukan pengolahan awal sehingga menjadi bahan baku. Tanaman kapas tumbuh pada daerah tropis dan subtropis yang beriklim hangat (panas). Komposisi kandungan asam lemak yang terdapat pada minyak biji kapas dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 11.1 Komposisi Asam Lemak Minyak Biji Kapas

Sumber : tkk_handout_minyak _nabati

12. Minyak Biji Pinang Pinang adalah sejenis palma yang tumbuh di daerah Pasifik, Asia dan Afrika bagian timur. Pinang juga merupakan nama buahnya yang diperdagangkan orang. Berbagai nama daerah di antaranya adalah pineung (Aceh), pining (Batak Toba), penang (Md.), jambe (Sd., Jw.), bua, ua, wua, pua, fua, hua (aneka bahasa di Nusa Tenggara dan Maluku) dan berbagai sebutan lainnya. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Betel palm atau Betel nut tree, dan nama ilmiahnya adalah Areca catechu. Biji pinang rasanya pahit, pedas dan hangat serta mengandung 0,3 - 0,6%, alkaloid, seperti arekolin (C8H13NO2), arekolidine, arekain, guvakolin, guvasine dan isoguvasi-ne. Selain itu juga mengandung red tannin 15%, lemak 14% (palmitic, oleic, stearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), kanji dan resin. Biji segar mengandung kira-kira 50% lebih banyak alkaloid dibandingkan biji yang telah mengalami perlakuan. Arekolin selain berfungsi sebagai obat cacing juga sebagai penenang, sehingga bersifat memabukkan bagi penggunanya.

13. Minyak Biji Jarak Pagar Jarak pagar dipandang menarik sebagai sumber biodiesel karena kandungan minyaknya yang tinggi, tidak berkompetisi untuk pemanfaatan lain (misalnya jika dibandingkan dengan kelapa sawit atau tebu), dan memiliki karakteristik agronomi yang sangat menarik. Tumbuhan ini diintroduksi ke Indonesia oleh administrasi pendudukan Jepang dengan maksud sebagai sumber bahan bakar murah. Minyak dari bijinya dapat diolah menjadi biodiesel. Seusai kemerdekaan, pemanfaatannya

terbengkalai. Kandungan minyak bijinya dapat mencapai 63%, melebihi kandungan minyak biji kedelai (18%), linseed (33%), rapa (45%), bunga matahari (40%) atau inti sawit (45%). Minyaknya didominasi oleh asam oleat (44.7%) dan asam linoleat (32.8%) sementara asam palmitat (14.2%) dan asam stearat (7%) adalah tipe asam lemak jenuhnya.

14. Minyak Biji Karet Minyak biji karet minyak diekstrak dari biji dari pohon karet . Dalam lateks proses manufaktur, bibit karet tidak historis dikumpulkan dan dikomersialisasikan. Analisis terbaru menunjukkan bahwa minyak biji karet

berisi berikut asam lemak : Asam lemak Palmitat Stearat Oleat Linoleat Linolenat Tata Nama C16: 0 C18: 0 C18: 1 C18: 2 C18: 3 Persen 10,2% 8,7% 24,6% 39,6% 16,3%

15. Minyak Sereh Wangi Sereh Wangi di Indonesia ada 2 jenis yaitu jenis mahapengiri dan jenis lenabatu. Maha pengiri dapat dikenal dari bentuk daunnya lebih pendek dan lebih luas dari pada daun yang lenabatu. Dengan destilasi jenis ini memberikan hasil

minyak yang lebih tinggi dari pada lenabatu, juga kualitasnya lebih baik, artinya kandungan geraniol dan sitronellelal lebih tinggi dari pada lenabatu (Ketaren dan B, Djatmiko, 1978). Nama Nama Latin Sumber Minyak : Sereh Wangi : Cymbopogon citrate : Daun

Komponen kimia dalam minyak sereh wangi cukup komplek, namun komponen yang terpenting adalah sitronellal dan garaniol. Kedua komponen tersebut menentukan intensitas bau, harum, serta nilai harga minyak sereh wangi. Kadar komponen kimia penyusun utama minyak sereh wangi tidak tetap, dan tergantung pada beberapa faktor. Biasanya jika kadar geraniol tinggi maka kadar sitronellal juga tinggi (Harris, 1987). Komposisi minyak sereh wangi ada yang terdiri dari beberapa komponen, ada yang mempunyai 30 - 40 komponen, yang isinya antara, lain alkohol, hidrokarbon, ester, alaehid, keton, oxida, lactone, terpene dan sebagainya., Menurut Guenther (1950), komponen utama penyusun minyak sereh wangi adalah sebagai berikut, Geraniol ( C H 0 )
10 18

Geraniol merupakan persenyawaan yang terdiri dari 2 molekul isoprene dan 1 molekul air, dengan rumus bangun adalah sebagai berikut : CH - C = CH - CH - CH - C = CH - CH - OH
3 3 2 2 2

CH CH

3 10 20

Sitronellol ( C H 0 ) Rumus bangunnya adalah sebagai berikut: CH3 - C = CH - CH - CH - CH - CH - CH - OH
2 2 2 2

CH CH
3

3

Sitronellal (C10H16O) Rumus bangunnya adalah sebagai berikut: CH3 C = CH - CH2 - CH2 - C = CH - C - H

CH CH
3

3

Tabel 15.1 Susunan Kimia Sereh Wangi Senyawa Penyusunan Sitronellal Geraniol Sitronellol Geraniol Asetat Sitronellil Asetat L – Limonene Elemol & Seskwiterpene lain Elemene & Cadinene Kadar (%) 32 – 45 12 – 18 12 – 15 3–8 2–4 2–5 2–5 2–5 Sumber : Ketaren, 1985

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful