SINOPSIS TUTORIAL Blok : 23 Nama : Darliana br.

Surbakti

UP : 3 No. Mhs. : 08/269400/KH/06036

Learning Objectives: 1. Mengetahui tentang kajian surveilance. 2. Mengetahui tentang leptospirosis. Ringkasan Belajar: 1. Mengetahui tentang monitoring dan surveilance. Surveilans merupakan jenis Studi Epidemiologi Observasional yang ditandai dengan kegiatan monitoring secara terus - menerus tarhadap kejadian penyakit dalam suatu populasi. Dengan mengamati secara terus-menerus dan sistematis maka perubahan-perubahan kecenderungan penyakit dan faktor yang mempengaruhinya dapat diamati atau diantisipasi, sehingga dapat dilakukan langkah-langkah investigasi dan pengendalian penyakit dengan tepat. Menurut WHO Surveilans adalah : Pengumpulan, pengolahan, analisis data kesehatan secara sistematis dan terus menerus, serta desiminasi informasi tepat waktu kepada pihak – pihak yang perlu mengetahui sehingga dapat diambil tindakan yang tepat. Menurut Centers for Disease Control (CDC) Surveilans adalah : Pengumpulan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis dan terus menerus, yang diperlukan untuk perencanaan, implementasi dan evaluasi upaya kesehatan masyarakat, dipadukan dengan desiminasi data secara tepat waktu kepada pihak – pihak yang perlu mengetahuinya. Menurut Vaughan & Morrow : Surveilans merupakan komponen penting dalam Manajemen Upaya Kesehatan Masyarakat, karena menyediakan input informasi yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi masalah – masalah yang sedang timbul serta mengevaluasi efektivitas tindakan pengendalian masalah lama. Penyediaan informasi ini memungkinkan otoritas kesehatan mengambil tindakan yang tepat dan cepat untuk pengendalian penyakit atau melakukan investigasi lebih mendalam. Pada umumnya, Surveilans Epidemiologis dilakukan pada : a. Penyakit yang dapat menimbulkan wabah b. Penyakit kronis c. Penyakit Endemis d. Penyakit baru yang dapat menimbulkan masalah epidemiologis e. Penyakit yang dapat menimbulkan Epidemi ulang Surveilans Epidemiologis, secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : a. Surveilans Pasif adalah pengumpulan data yang diperoleh dari laporan bulanan sarana pelayanan kesehatan di daerah. Dari data yang diperoleh, dapat diketahui distribusi geografis tentang berbagai penyakit menular, dan perubahan – perubahan yang terjadi serta kebutuhan tentang penelitian sebagai tindak lanjut.

Adanya penyebarluasan informasi. Mengidentifikasi kebutuhan riset dan investigasi lebih lanjut. Monitoring kecenderungan penyakit Endemis dan mengestimasi dampak penyakit di masa mendatang. Pola Makanan . Terdapat tindakan masyarakat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut c. Hasil yang diperoleh sepadan dengan upaya yang dilakukan ( pertimbangan efisiensi ). Beban Penyakit ( Burden of Disease ) tinggi. dan memperbaiki program pencegahan dan pengendalia penyakit. Ciri khas dari Kegiatan Surveilans Epidemiologi adalah : a. kontinu dan rutin b. Sebagai sumber informasi untuk penentuan prioritas. perencanaan. Surveilans Aktif dilakukan apabila :  Ditemukan kasus baru. b. jenis kelamin. dan alokasi sumber daya kesehatan. Surveilans beralasan untuk dilakukan jika dilatari oleh kondisi – kondisi berikut : a. Data yang relevan mudah diperoleh d. d. Tujuan Surveilans Epidemiologis adalah sebagai berikut : a. Tempat Kejadian yang berkaitan dengan penyakit tertentu dan Pencatatan ini tetap dilakukan walaupun tidak ditemukan kasus baru. c.  Penelitian tentang cara penyebaran yang baru suatu penyakit tertentu. Adanya kegiatan analisa dan interpretasi data c.  Penyakit tertentu yang timbul di daerah baru atau akan menimbulkan pengaruh pada kelompok penduduk tertentu atau penyakit dengan insidensi yang rendah mendadak terjadi peningkatan.  Resiko tinggi terjadinya penyakit musiman. pengambilan kebijakan. Analisis data dan interpretasi data . Pencatatan meliputi Variabel Demografis seperti: Umur.b. b. Pengumpulan data b. e. Surveilans Aktif adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung untuk mempelajari penyakit tertentu dalam waktu yang relatif singkat ( seminggu sekali atau 2 minggu sekali ) yang dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencatat ada atau tidaknya kasus baru penyakit tertentu. implementasi. Dalam melakukan Pengamatan / Surveilans Epidemiologis terdapat empat kegiatan pokok sebagai berikut : a. Pengolahan data c. mengevaluasi. Adanya kegiatan pengumpulan data yang sistematis. pekerjaan. Saat / Waktu timbulnya gejala . Memonitor. Memprediksi dan mendeteksi dini Epidemi ( Outbreak ). sosial ekonomi. sehingga merupakan masalah penting kesehatan masyarakat.

. Monitoring melibatkan perhitungan dan pengamatan atas kualitas dari apa yang kita lakukan. Lebih aktif dan dinamis mencakup penggunaan data yang telah dikumpulkan untuk upaya pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan. Monitoring yang digunakan untuk memotivasi keterlibatan para pelaksana. dan penyalahgunaan. b. Bakteri Leptospira merupakan Spirochaeta aerobik (membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup). Sedangkan Monitoring/Survey/Auditing mengamati secara Intermiten. Episodik dan Kasuistik serta kurang dinamis. sebagai berikut: a. Monitoring yang digunakan untuk mengukur penampilan tugas pelaksana. Bakteri penyebab Leptosirosis yaitu bakteri Leptospira sp. d. gram negatif. dan terpilin dengan ketat. dimana Surveilans melakukan pengamatan secara kontinu dan terus menerus . Monitoring adalah proses rutin pengumpulan data dan pengukuran kemajuan atas objektif program. Monitoring yang digunakan untuk mengamankan harta kekayaan organisasi atau lembaga dari kemungkinan gangguan. ukuran sel darah merah hanya 7 µm. yang fokus pada proses dan keluaran. Bakteri Lepstospira berukuran panjang 6-20 µm dan diameter 0. Monitoring digunakan pula untuk memperbaiki kegiatan yang menyimpang dari rencana. pencurian. Monitoring yang digunakan langsung untuk mengetahui kecocokan antara kualitas suatu hasil dengan kepentingan para pemakai hasil dengan kemampuan tenaga pelaksana./ Memantau perubahan. Monitoring yang digunakan untuk mengetahui ketepatan pendelegasian tugas dan wewenang yang harus dilakukan oleh staf atau bawahan. Leptospira mempunyai ±175 serovar.1-0. Jadi. serta untuk mengupayakan agar tujuan dicapai seefektif dan seefisien mungkin. Penyebaran informasi Surveilans berbeda dengan Survey/Monitoring /Auditing. bahkan ada yang mengatakan Leptospira . Monitoring yang digunakan untuk memelihara dan membakukan pelaksanaan suatu rencan dalam rangka meningkatkan daya guna dan menekan biaya pelaksanaan program. mengoreksi penyalahgunaan aturan dan sumber-sumber. Bakteri ini dapat bergerak maju dan mundur.d. Kegiatan monitoring dimaksudkan untuk mengetahui kecocokan dan ketepatan kegiatan yang dilaksanakan dengan rencana yang telah disusun. pemborosan. f. c. ukuran bakteri ini relatif kecil dan panjang sehingga sulit terlihat bila menggunakan mikroskop cahaya dan untuk melihat bakteri ini diperlukan mikroskop dengan teknik kontras. Monitoring yang digunakan untuk mengetahui ketepatan antara pelaksanaan dengan perencanaan program.2 µm. William Travers Jerome menggolongkan monitoring menjadi delapan macam. g. Monitoring yang digunakan untuk mengetahui berbagai ragam rencana dan kesesuaiannya dengan sumber-sumber yang dimiliki oleh organisasi atau lembaga. bentuknya dapat berkerut-kerut. motil (dapat bergerak). e. Berdasarkan kegunaannya. h. Sebagai pembanding.

L. Gejala Klinis Pada hewan. telah tersedia vaksin terhadap Leptospira yang mengandung biakan serovar L. canicola dan L. maka pada tubuh penderita dalam waktu 6-12 hari akan terbentuk zat kebal aglutinasi. dan tubular lumen menyebabkan nefritis interstitial (radang ginjal interstitial) dan nekrosis tubular (kematian tubuli ginjal). Pada kondisi ini. Pada hewan. icterohemorrhagica yang telah dimatikan. Selanjutnya akan terjadi leptospiremia. gryppothyphosa. Serovar yang dapat menyerang sapi yaitu L. dan L. L. L. pomona. Babi dapat terserang L. ichterohemorarhagica. Di ginjal kuman akan migrasi ke interstitium. dan L. bratislava.memiliki lebih dari 200 serovar. Gejala ini terjadi pada 50 persen kasus. Leptospira juga dapat menginvasi akuos humor mata dan menetap dalam beberapa bulan. Setelah infeksi menyerang seekor hewan. terutama jika penyababnya L. yakni penimbunan bakteri Leptospira di dalam darah sehingga bakteri akan menyebar ke berbagai jaringan tubuh terutama ginjal dan hati. pomona. Gejala lain yaitu . Pada konsisi ini akan terjadi perbanyakan sel Kupffer dalam hati. L. pamona dan L. Leptospira juga dapat menginvasi otot skeletal menyebabkan edema. tubulus renal. dalam arti hewan akan tetap terlihat sehat walaupun sebenarnya dia sudah terserang Leptospirosis. pomona. Patogenesis Setelah bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir. australis. interogans. ichterohaemorhagicae. Leptospirosis pada anjing disebabkan oleh infeksi satu atau lebih serovar dari Leptospira interrogans. pamona dan L. L. Leptospira tidak memiliki aktifitas patogenik. grippotyphosa. meskipun hewan tersebut telah sembuh. L. ballum. tanaman dan lumpur. biasaya dalam tubuhnya akan tetap menyimpan bakteri Leptospira di dalam ginjal atau organ reproduksinya untuk dikeluarkan dalam urin selama beberapa bulan bahkan tahun. hardjo. batislava. Pada kasus berat akan menyebabkan kerusakan endotelium kapiler dan radang pada pembuluh darah. dan nekrosis fokal. L. Leptospira dapat hidup dalam waktu lama di air. L. Pada anjing. Gangguan sirkulasi mikro muskular dan peningkatan permeabilitas kapiler dapat menyebabkan kebocoran cairan dan hipovolemia sirkulasi. Gangguan hati berupa nekrosis sentrilobular dengan proliferasi sel Kupffer. karena pecahnya butir darah merah (eritrosit) sehingga ada hemoglobin dalam urin. Serovar yang diketahui terdapat pada kucing adalah L. Gejala klinis yang dapat tampak yaitu ikterus atau jaundis. sering mengakibatkan uveitis kronis dan berulang. hipovolemia karena dehidrasi dan peningkatan permeabilitas kapiler. bakteri dapat kolaps menjadi bola berbentuk kubah dan tipis. canicola. tarassovi. Bila terkena bahan kimia atau dimakan oleh fagosit. Serovar yang telah diketahui dapat menyerang anjing yaitu L. L. Kucing yang terinfeksi biasanya tidak menunjukkan gejala walaupun ia mampu menyebarkan bakteri ini ke lingkungan untuk jangka waktu yang tidak pasti. tanah yang lembab. Infeksi dapat disebabkan oleh satu atau lebih serovar sekaligus. L. autumnalis. Bila infeksi terjadi. Gagal ginjal biasanya terjadi karena kerusakan tubulus. vakuolisasi miofibril. sedangkan tikus dapat terserang L. ballum dan L. yakni warna kekuningan. canicola. gryptosa. Leptospirosis kadangkala tidak menunjukkan gejala klinis (bersifat subklinis). maka bakteri akan mengalami multiplikasi (perbanyakan) di dalam darah dan jaringan.

dan kadang kematian.26 hari. dan mungkin tidak dapat didapatkan lagi dari darah atau cairan serebrospinalis. pembesaran hati (hepatomegali). Fase Imun. warna telinga maupun hidung yang menjadi hitam. Pada 30 persen pasien terjadi diare atau kesulitan buang air besar (konstipasi). gangguan mental. jaundis. kecemasan. Pada periode peralihan fase selama 1-3 hari kondisi penderita membaik. penderita akan mengalami gejala mirip flu selama 4-7 hari. radang hidung (rhinitis). dan kelemahan otot. interrogans dapat berupa infeksi subklinis yang ditandai dengan flu ringan sampai berat . Masa inkubasi Leptospirosis pada manusia yaitu 2 . Pada pemeriksaan fungsi hati didapatkan jaundis. nyeri kepala. infeksi Leptospirosis lebih parah dan lebih banyak terjadi pada pedet dibandingkan sapi dewasa dengan gejala demam. Dalam keadaan demikian gejala yang muncul yaitu penimbunan cairan di abdomen (ascites). dan tanda koagulopati.Gangguan hematologi berupa peradarahan dan pembesaran limpa (splenomegali). Infeksi L. dan gangguan paru-paru pada 20-70 persen . kedinginan. sedangkan 5-10 persen jaundis berat yang sering dikenal sebagai penyakit Weil. Angka kematian (mortalitas) akibat Leptospirosis pada hewan mencapai 5-15 persen. muntah. nyeri dada. gagal ginjal. ditandai dengan demam. Gejala lain adalah sakit tenggorokan. batuk. Kadang-kadang terjadi perdarahan di bawah kelopak mata dan gangguan ginjal pada 50 persen pasien. takut cahaya. tidak nafsu makan. hati. Pada Manusia. batuk dan sesak napas. Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu seperti selaput otak. anemia. dan sakit kepala. gangguan kesuburan. lemah. Fase Imun sering disebut fase kedua atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari urin. Leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama 24-48 jam setelah timbul jaundis. depresi. dan sulit bernapas. seperti berjalan kaku dan berputar-putar. Pada babi muncul gejala kelainan saraf. Infeksi Leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang tanpa gejala. batuk darah. Sekitar 90 persen penderita jaundis ringan. Pada anjing yang sembuh dari infeksi akut kadangkala tetap mengalami radang ginjal interstitial kronis atau radang hati (hepatitis) kronis. Pada sapi. Kelainan jantung ditandai gagal jantung atau perikarditis. serta pembesaran limpa dan hati. dan kematian (Bovine Leptospirosis). banyak urinasi. radang selaput otak (meningitis). Hampir 15-40 persen penderita terpapar infeksi tidak bergejala tetapi serologis positif. banyak minum. Perjalanan penyakit Leptospira terdiri dari 2 fase. sehingga sering terjadi kesalahan diagnosa. Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi. radang tonsil (tonsillitis). Gangguan paru-paru berupa batuk. Jika yang diserang adalah selaput otak. Selain itu ada Sindrom Weil yang merupakan bentuk infeksi Leptospirosis yang berat. yaitu fase septisemik dan fase imun. Meningitis aseptik merupakan manifestasi klinis paling penting pada fase imun. Apabila penyakit ini menyerang ginjal atau hati secara akut maka gejala yang timbul yaitu radang mukosa mata (konjungtivitis). cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Fase Septisemik. muntah darah. nyeri pada bagian-bagian tubuh. maka akan terjadi depresi. dan kadang-kadang penurunan nafsu makan. mata atau ginjal. sedangkan angka kesakitannya (morbiditas) mencapai lebih dari 75 persen . turun berat badan dan gejala saraf. Fase Septisemik dikenal sebagai fase awal atau fase leptospiremik karena bakteri dapat diisolasi dari darah.demam. Pada stadium ini.

icterohaemorrhagiae mengalami ikterus. Sistem kekebalan sesudah vaksinasi bertahan selama 6 bulan. Namun. Cairan tubuh lainnya yang mengandung Leptospira adalah darah. Selain itu dapat dilakukan isolasi bakteri Leptospira dari jaringan lunak atau cairan tubuh penderita. terutama hewan kesayangan. Antibiotik yang dapat diberikan yaitu doksisiklin.pasien.Vaksin Leptospira pada anjing diberikan saat anjing berumur 12 minggu dan diulang saat anjing berumur 14-16 minggu. Hewan. serebrospinal tetapi rentang peluang untuk isolasi bakteri sangat pendek. yakni kasus yang terjadi secara cepat dengan gejala klinis yang parah. antara lain dapat dilakukan pemeriksaan urin dan darah. ampisillin. Namun. sehingga anjing perlu divaksin lagi setiap enam bulan. canicola sering menyebabkan radang selaput otak (meningitis). Sebanyak 83 persen penderita infeksi L. Sedangkan Leptospirosis yang berat dapat diobati dengan . Untuk mendiagnosa Leptospirosis. Infeksi L. antimuntah. Antibodi dapat ditemukan di dalam darah pada hari ke-5-7 sesudah adanya gejala klinis. Diagnosa Bakteri Leptospira secara mikroskopis pada jaringan ginjal menggunakan metode pewarnaan perak. kulit dan mata. Selain itu diperlukan terapi suportif dengan pemberian antidiare. Vaksin Leptospira pada anjing yang beredar di Indonesia terdiri atas dua macam serovar yaitu L. grippotyphosa umumnya menyebabkan gangguan sistem pencernaan. dan infus. Sebagai diagnosa penunjang. ichterohemorrhagiae. Sedangkam L. Pengobatan dan Pengendalian Pada Hewan. pomona. Untuk mengukuhkan diagnosa Leptospirosis biasanya dilakukan pemeriksaan serologis. enrofloksasin. maka hal yang perlu diperhatikan adalah riwayat penyakit. yang terinfeksi parah perlu diberikan perawatan intensif untuk menjamin kesehatan masyarakat dan mengoptimalkan perawatan. pomona atau L. diagnosa juga dapat dilakukan melalui pengamatan bakteri Leptospira pada spesimen organ yang terinfeksi menggunakan imunofloresen . ciprofloksasin atau kombinasi penisillin-streptomisin. Pemeriksaan urin sangat bermanfaat untuk mendiagnosa Leptospirosis karena bakteri Leptospira terdapat dalam urin sejak awal penyakit dan akan menetap hingga minggu ketiga. dan 30 persen pada L. Leptospirosis yang ringan dapat diobati dengan antibiotik doksisiklin. Pada Manusia. misalnya distemper dan hepatitis. atau amoksisillin. MAT tidak dapat digunakan secara spesifik pada kasus yang akut. Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan vaksin Leptospira.Vaksin Leptospira untuk hewan adalah vaksin inaktif dalam bentuk cair (bakterin) yang sekaligus bertindak sebagai pelarut karena umumnya vaksin Leptospira dikombinasikan dengan vaksin lainnya. Kultur atau pengamatan bakteri Leptospira di bawah mikroskop berlatar gelap umumnya tidak sensitif. gejala klinis dan diagnosa penunjang. Tes ini mengukur kemampuan serum darah pasien untuk mengagglutinasi bakteri Leptospira yang hidup. Tes serologis untuk mengkonfirmasi infeksi Leptospirosis yaitu Microscopic agglutination test (MAT). otot. misalnya jaringan hati. Gejala juga ditentukan oleh serovar yang menginfeksi. isolasi Leptospira termasuk sulit dan membutuhkan waktu beberapa bulan. Selain itu. canicola dan L.

Selain itu. DAFTAR PUSTAKA Anonim.comdiakses pada 25 April 2011. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia NOMOR 1479/MENKES/SK/X/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular Dan Penyakit Tidak Menular Terpadu Dinas Kesehatan Kota Semarang-. kandang. 2003. Profil Dinas Kesehatan Kota Semarang. 2004 . _________.blogspot. Feses ternak perlu diarahkan ke suatu sumber khusus sehingga tidak mencemari lingkungan terutama sumber air. Pengertian Kejadian Luar Biasa dalam: http://kesmasunsoed.Manusia yang memelihara hewan kesayangan hendaknya selalu membersihkan diri dengan antiseptik setelah kontak dengan hewan kesayangan. ampisillin. 2010. Manusia rawan oleh infeksi semua serovar Leptospira sehingga manusia harus mewaspadai cemaran urin dari semua hewan. maupun lingkungan di mana hewan berada. 2. amoksisillin dan eritromisin.penisillin G.Pemberantasan tikus terkait langsung dengan pemberantasan Leptospirosis. Manusia harus mewaspadai tikus sebagai pembawa utama dan alami penyakit ini.Perilaku hidup sehat dan bersih merupakan cara utama untuk menanggulangi Leptospirosis tanpa biaya. para peternak babi dihimbau untuk mengandangkan ternaknya jauh dari sumber air.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful