You are on page 1of 25

Analisis Pengaruh Gross Dometic Product

,
Consumer Price Index
dan Kurs Dollar Amerika Serikat
Terhadap Total Impor Indonesia
Periode 1989-2007

TUGAS MATA KULIAH EKONOMI MANAJERIAL

RULI SATYA DHARMA
NIM : 0826000382

PROGRAM STUDI RISK MANAGEMENT
PASCASARJANA ABFI-PERBANAS JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam
perekonomian setiap negara di dunia. Melalui perdagangan internasional maka akan
tercipta suatu hubungan ekonomi yang saling mempengaruhi antara satu negara dengan
negara lainnya. Perdagangan internasional dapat diartikan sebagai transaksi dagang antara
subyek ekonomi negara yang satu dengan subyek ekonomi negara yang lain. Adapun
subyek ekonomi yang dimaksud disini adalah penduduk yang terdiri dari warga negara
biasa, perusahaan swasta dan perusahaan negara maupun departemen pemerintah yang
dapat dilihat dari neraca perdagangan.
Secara umum perdagangan internasional dapat dibedakan menjadi dua yaitu
ekspor dan impor. Ekspor adalah penjualan barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara
ke negara lainnya. Sementara impor adalah arus kebalikan dari ekspor, yaitu barang dan
jasa dari luar suatu negara yang mengalir masuk ke negara tersebut.
Ekspor dan impor akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu
negara karena dua hal tersebut menjadi komponen yang diperhitungkan dalam mengukur
total Gross Domestic Product (GDP). GDP merupakan jumlah produk barang dan jasa
yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara. Salah satu
metode untuk mengukur GDP adalah melalui pendekatan pengeluaran (expenditure
approach). Metode ini diperkenalkan oleh seorang pakar ekonomi terkemuka asal Inggris
yaitu John Maynard Keynes dalam bukunya The General Theory of Employment, Interest and
Money (New York: Harcourt, Brace, and World, 1936). Menurut Keynes, GDP terbentuk
dari empat faktor yang secara positif mempengaruhinya. Keempat faktor tersebut adalah
konsumsi (C), investasi (I), pengeluaran pemerintah (G), dan ekspor bersih (X – M). Jika
dirumuskan dalam satu formula menjadi : GDP = C + I+ G + (X - M)
Perekonomian suatu negara dimana perekonomiannaya mempunyai hubungan
ekonomi dengan negara lain dan terutama dilakukan dengan menjalankan kegiatan ekspor
dan impor disebut perekonomian terbuka (open economy). Tolak ukur yang baik untuk menilai
kadar keterbukaan suatu perekonomian adalah rasio ekspor dan impor terhadap Gross
Domestic Product (GDP). Semakin tinggi rasio ekspor dan impor suatu negara maka
perekonomiannya akan dianggap semakin terbuka. Seperti yang terjadi pada negara-

2
negara di Eropa Barat dan Asia Timur dimana rasio ekspor dan impor mereka terhadap
PDB lebih dari 50% (Asian Development Bank, 2007).

ISU-ISU UTAMA
Salah satu kebijakan pemerintah Indonesia dalam perdagangan internasional
adalah impor. Kebijakan impor ini dilakukan karena Indonesia belum dapat
memproduksi seluruh kebutuhan dalam negeri. Meskipun ekspor dapat memberikan
kontribusi yang sangat besar bagi kemajuan perekonomian suatu negara namun impor
juga memegang peranan yang tak kalah penting. Kebijakan impor sepenuhnya ditujukan
untuk mengamankan posisi neraca pembayaran, mendorong kelancaran arus perdagangan
luar negeri dan meningkatkan lalu lintas modal luar negeri untuk kepentingan
pembangunan, dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan laju pertumbuhan
ekonomi nasional.
Nilai total impor Indonesia tidak terlepas dari pengaruh total permintaan dalam
negeri untuk digunakan sebagai konsumsi rumah tangga, dunia industri maupun
pemerintah. Secara umum total impor Indonesia dibagi kedalam dua kategori yaitu impor
Minyak Bumi dan Gas Alam (migas) serta Non Migas. Impor migas digunakan untuk
memenuhi kebutuhan konsumsi bahan bakar dalam negeri yang dari tahun ke tahun
semakin meningkat. Beberapa jenis migas yang diimpor adalah premium, solar dan avtur
serta gas. Sementara impor non migas terdiri dari impor barang-barang konsumsi, bahan
baku dan bahan modal (BI: Laporan Perekonomian Indonesia 2007).
Berikut di bawah ini dapat dilihat perkembangan total impor Indonesia selama
periode 1989-2007.

3
Grafik 1 : Perkembangan Impor Indonesia
Periode 1989-2007
(Billion Rp)

1,200,000

1,000,000

800,000

600,000

400,000

200,000

-
1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007

Perkembangan nilai total impor Indonesia sejak tahun 1989 sampai dengan tahun
2007 mengalami fluktuasi. Nilai total impor sempat mengalami penurunan pada tahun
1999 sebagai dampak dari krisis ekonomi yang mulai terjadi pada tahun 1998, serta pada
tahun 2002 dan 2003 diduga akibat belum pulihnya perekonomian akibat krisis ekonomi
serta situasi politik menjelang pemilu pada tahun 2004. Setelah itu laju peningkatan total
impor terus terjadi.
Naik turunnya nilai impor Indonesia sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi
dalam negeri. Faktor-faktor yang bisa mempengaruhinya adalah daya beli masyarakat,
nilai suku bunga, inflasi dan situasi keamanan yang sangat terkait erat dengan kondisi
politik.
Menurut Keynes, bahwa perubahan pada pendapatan masing-masing individu
akan mengakibatkan perubahan pada pola konsumsi. Begitu juga halnya dengan
pendapatan nasional juga sangat mempengaruhi pola konsumsi penduduknya. Akibatnya
pola konsumsi yang meningkat di negara yang sedang berkembang akan cenderung
meningkatkan total impor. Hal ini disebabkan produktivitas di negara tersebut belum
mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhan dalam negeri. Dalam kenyataannya, amat
sulit untuk mencatat total jumlah barang dan jasa yang dihasilkan selama periode tertentu
di suatu wilayah negara. Sehingga dalam menaksir total produktivitas suatu negara (output)
angka yang digunakan adalah nilai uangnya yang tercermin dalam Gross Domestic Product
(GDP).

4
Grafik 2 : Pertumbuhan GDP Indonesia
Periode 1989-2007
(Billion Rp)

5,000,000

4,000,000

3,000,000

2,000,000

1,000,000

-
1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007

Akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1998 dan mulai
mereda pada akhir 2005 menyebabkan tingkat inflasi terjadi cukup tinggi. Inflasi adalah
kenaikan rata-rata tingkat harga umum yang diukur berdasarkan indeks harga konsumen
atau consumer price index (CPI) maupun indeks harga lainnya. Consumer price index (CPI)
dikenal juga dengan istilah Cost-of-living index. Pada umumnya sebuah Negara yang
mengalami inflasi yang tinggi akan kesulitan dalam melaksanakan perdagangan luar
negeri. Namun realita yang terjadi di Indonesia tingginya inflasi justru tidak menyurutkan
permintaan total impor.

Grafik 3 : Consumer Price Index (CPI) Indonesia
Periode 1989-2007

400

300

200

100

0
1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007

5
Dalam melakukan perdagangan internasional, maka mata uang yang digunakan
pada umumnya adalah mata uang dollar Amerika Serikat (AS). Sejak dimulainya krisis
moneter di Indonesia dan berlanjut menjadi krisis ekonomi di tahun 1998, mata uang
rupiah semakin terdepresiasi terhadap mata uang dollar AS. Sehingga menyebabkan daya
beli terhadap barang dan jasa impor semakin menurun.

Grafik 4 :Nilai Kurs Rupiah Terhadap Dollar AS
Periode 1989-2007

12,000

9,000

6,000

3,000

-
1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007

TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan uraian di atas maka penulis mencoba untuk melakukan penelitian
untuk membuktikan hal-hal berikut ini :
1. Bagaimana pengaruh Gross Domestic Product (GDP), Inflasi dan kurs Dollar
AS secara global (bersama-sama) terhadap total impor Indonesia periode
1989-2007.
2. Bagaimana pengaruh Gross Domestic Product (GDP), Inflasi dan kurs Dollar
AS secara parsial (individu) terhadap total impor Indonesia periode 1989-
2007.

6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

LANDASAN TEORI
PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Perdagangan Internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk
suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk
yang dmaksud dapat berupa antar perorangan (individu dengan individu), antara individu
dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara
lain. Bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di dalam negri, maka
perdagangan internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan ini disebabkan oleh
faktor-faktor antara lain :
1. Pembeli dan penjual terpisah oleh batas-batas kenegaraan
2. Barang harus dikirim dan diangkut dari suatu negara kenegara lainnya melalui
bermacam peraturan seperti pabean, yang bersumber dari pembatasan yang
dikeluarkan oleh masing-masing pemerintah.
3. Antara satu negara dengan negara lainnya terdapat perbedaan dalam bahasa, mata
uang, taksiran dan timbangan, hukum dalam perdagangan dan sebagainya.
Pada dasarnya ada dua teori yang yang menerangkan tentang timbulnya
perdagangan internasional yaitu teori klasik dan teori modern. Teori klasik diwakili oleh
dua orang pakar ekonomi legendaris yaitu Adam Smith dengan prinsip absolute advantage
dan David Ricardo dengan prinsip comparative advantage. Menurut Adam Smith suatu
negara akan megekspor barang tertentu karena negara tersebut bisa menghasilkan barang
dengan biaya yang secara mutlak lebih murah daripada negara lain. Ini terjadi karena
negara tersebut memiliki keunggulan mutlak dalam memproduksi barang dan jasa per
unit dengan menggunakan sumber daya yang lebih sedikit dibanding kemampuan negara-
negara lain (Deliarnov, 1995:198).
Sementara Ricardo mengatakan bahwa suatu negara hanya akan mengekspor
barang yang mempunyai keunggulan komparatif tinggi dan mengimpor barang yang
memiliki komparatif rendah.
Apa yang disampaikan oleh Adam Smith maupun David Ricardo memiliki
kelemahan. Di dalam prinsip absolute advantage perdagangan internasional yang
menguntungkan hanya dapat terjadi bila masing-masing negara memiliki keunggulan
absolut yang berbeda. Dengan demikian jika hanya ada satu negara yang memiliki

7
keunggulan absolut untuk dua jenis peroduk yang berbeda maka tidak akan terjadi
perdagangan internasional yang menguntungkan. Sedangkan comparative advantage milik
David Ricardo menyatakan bahwa perdagangan internasional hanya dapat terjadi apabila
adanya perbedaan pada harga barang sejenis diantara dua negara. Perbedaan harga ini
terjadi karena adanya perbedaan fungsi faktor produksi (tenaga kerja) dan efisiensi. Bila
tenaga kerja sebagai faktor produksi memiliki produktivitas dan efisiensi yang sama maka
tidak akan terjadi perdagangan internasional. Pada kenyataannya meskipun produktivitas
dan efisiensi diantara dua negara sama ternyata harga pada barang sejenis dapat berbeda,
sehingga perdagangan internasional tetap terjadi. Dalam hal ini Ricardo tidak dapat
menjelaskan mengapa terjadi perbedaan harga pada produk sejenis meskipun
produktivitas dan efisiensi dari faktor produksi sama di kedua negara.
Satu lagi teori yang menerangkan terjadinya perdagangan internasional adalah
teori modern yang dikembangkan oleh Heckscher-Ohlin yang menyatakan bahwa
perdagangan internasional disebabkan karena adanya perbedaan relatif yaitu perbedaan
pada faktor pemberian alam dan intensitas penggunaan faktor produksi. Kedua
perbedaan tersebut mengakibatkan perbedaan pada harga relatif komoditi perdagangan
yang saling menguntungkan. Teori ini menganggap bahwa tiap-tiap negara akan
mengekspor komoditi yang relatif murah dan melimpah di negara itu dan mengimpor
komoditi yang relatif langka dan mahal dari negara lain.

IMPOR
Secara umum perdagangan internasional dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
ekspor dan impor. Ekspor adalah penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu
negara ke negara lain. Sedangkan impor adalah arus kebalikan dari ekspor yaitu barang
dan jasa yang masuk kesuatu negara. Pada hakekatnya perdagangan luar negeri timbul
karena tidak ada satu negarapun yang dapat menghasilkan semua barang dan jasa untuk
memenuhi kebutuhan seluruh penduduk.
Dalam perekonomian terbuka (open economy) selain sektor rumah tangga, sektor
perusahaan dan pemerintah juga ada sektor luar negeri karena penduduk di negara
bersangkutan telah melakukan perdagangan dengan negara lain. Suatu negara yang
memproduksi lebih dari kebutuhan dalam negeri dapat mengekspor kelebihan produksi
tersebut keluar negeri, sedangkan yang tidak mampu memproduksi sendiri dapat
mengimpornya dari luar negeri.

8
Impor mempunyai sifat yang berlawanan dengan ekspor, dimana semakin besar
impor dari satu sisi baik karena berguna untuk menyediakan kebutuhan akan barang dan
jasa untuk kebutuhan penduduk suatu negara, namun disisi lain bisa mematikan produk
atau jasa sejenis dalam negeri dan yang paling mendasar dapat menguras pendaptan
negara yang bersangkutan.
Berdasarkan laporan indikator Indonesia komposisi impor menurut golongan
penggunaan barang ekonomi dapat dibedakan atas tiga kelompok, yaitu:
1. Impor barang-barang konsumsi, terutama untuk barang-barang yang belum dapat
dihasilkan di dalam negeri atau untuk memenuhi tambahan permintaan yang belum
mencukupi dari produksi dalam negeri, yang meliputi makanan dan minuman untuk
rumah tangga, bahan bakar dan pelumas olahan, alat angkut bukan industri, barang
tahan lama, barang setengah tahan lama serta barang tidak tahan lama.
2. Impor bahan baku dan barang penolong, yang meliputi makanan dan minuman
untuk industri, bahan baku untuk industri, bahan bakar dan pelumas, serta suku
cadang dan perlengkapan.
3. Impor barang modal, yang meliputi barang modal selain alat angkut, mobil
penumpang dan alat angkut untuk industri.

GROSS DOMESTIC PRODUCT (GDP)
Gross Domestic Product (GDP) merupakan jumlah produk berupa barang dan
jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara
(domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi
barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan atau orang asing yang beroperasi di
wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang
modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan
dari GDP dianggap bersifat bruto (kotor).
GDP didefinisikan sebagai nilai seluruh barang dan jasa dalam satuan uang.
Dalam menghitung nilai tersebut (sekian dollar, atau sekian rupiah), biasanya para ahli
ekonomi menggunakan patokan harga pasar (market price) yang berlaku dari barang dan
jasa. Namun harga senantiasa berubah karena inflasi membuat harga lebih tinggi dari
tahun ke tahun. Dengan demikian harga merupakan ukuran yang kurang akurat.
Masalah harga-harga yang selalu berubah merupakan masalah yang harus
dipecahkan oleh para ekonom manakala mereka menggunakan uang sebagai tolak ukur.
Dengan demikian diperlukan ukuran yang lebih akurat guna menghitung tingkat output

9
dan pendapatan nasional. Biasanya para ahli ekonomi tadi menggunakan tolak ukur
indeks harga (price index), yakni harga rata-rata atas sejumlah barang.
Dengan demikian maka GDP dapat dihitung berdasarkan dua harga yang telah
ditetapkan pasar yaitu :
1. Nominal GDP
Nominal GDP adalah nilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu
negara dalam periode tertentu berdasarkan harga yang berlaku pada periode
tersebut. Nominal GDP disebut juga GDP at current Price (GDP harga
berlaku). Dalam penelitian ini menggunakan data Nominal GDP sebagai
variabel yang akan diteliti.
2. Real GDP
Sedangkan Real GDP adalah nilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan
oleh suatu negara dalam periode tertentu, berdasarkan harga yang berlaku
pada suatu tahun tertentu yang dipakai dasar untuk dipergunakan seterusnya
dalam menilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan pada periode/tahun
berikutnya. Real GDP disebut juga GDP at Constant Price.
Nominal GDP
Real GDP = ×100
GDP chain price index

CONSUMER PRICE INDEX (CPI)
Inflasi adalah kecenderungan dari kenaikan harga harga secara umum dan terus
menerus. Ini tidak berarti bahwa harga berbagai macam barang itu naik dengan
persentase yang sama. Yang penting terdapat kenaikan harga umum barang secara terus
menerus selama suatu periode tertentu. Kenaikan yang terjadi hanya sekali saja (meskipun
dengan persentase yang cukup besar) bukanlah merupakan inflasi. Inflasi diukur
berdasarkan indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) maupun indeks harga
lainnya. Consumer price index (CPI) dikenal juga dengan istilah Cost-of-living index.
Di Indonesia lembaga pemerintah yang senantiasa melakukan pengukuran inflasi
dan mengumumkannya ke publik adalah Badan Pusat Statistik (BPS). Lembaga ini
mengambil sampel dari beberapa kota besar di seluruh Indonesia untuk diukur dan
dihitung perubahan harga-harga secara umum agar dapat diketahui berapa angka inflasi
setipa bulan. Banyak lembaga keuangan yang membutuhkan informasi ini baik itu pasar
modal, perbankan maupun pihak swasta. Karena dengan mengetahui tingkat inflasi maka

10
keputusan untuk menanamkan modal secara langsung ataupun disimpan dalam bentuk
tabungan dapat ditentukan.
Kondisi yang memungkinkan terjadinya inflasi adalah bila terjadi kelebihan
permintaan terhadap barang dan jasa di sektor riil. Inflasi bisa juga terjadi karena adanya
kelebihan jumlah uang yang beredar (money supply), sehingga masyarakat akan melakukan
pengeluaran lebih besar, padahal output riil sudah mencapai keadaan full employment.

NILAI KURS
Nilai kurs dollar (USD) adalah konversi niai mata uang dollar Amerika Serikat ke
nilai mata uang rupiah (IDR). Nilai kurs dollar AS pada penelitian ini diambil selama
periode 1989-2007.

PENELITIAN SEBELUMNYA
Wulan Lestari (2006) melakukan penelitian tentang pengaruh Produk Domestik
Bruto (PDB), Kurs Dollar AS dan Inflasi dalam negeri terhadap impor migas di
Indonesia selama tahun 1993 – 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PDB
memberikan pengaruh signifikan terhadap impor migas di Indonesia. Sementara Kurs
dollar AS dan inflasi ternyata tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap nilai
impor migas Indonesia periode 1993 – 2005.
Sri Hartatik (2006), meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi nilai total
impor Indonesia tahun 1991 – 2005. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa PDB,
investasi, kurs dollar AS dan tingkat inflasi berpengaruh nyata secara serempak terhadap
nilai total impor Indonesi. Namun secara parsial hanya PDB yang berpengaruh signifikan
terhadap total impor, sedangkan kurs dollar AS berpengaruh negatif terhadap total
impor. Sementara secara parsial inflasi dan investasi tidak berpengaruh terhadap total
impor Indonesia periode 1991 – 2005.
Kedua penelitian di atas menggunakan metode multiple regression. Dimana yang
menjadi variabel bebas adalah variabel-variabel dari makroekonomi seperti PDB, inflasi,
kurs dollar AS dan nilai investasi, sedangkan yang menjadi variabel terikatnya adalah nilai
impor Indonesia, baik impor migas maupun non migas.

11
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

KERANGKA PEMIKIRAN
Secara garis besar, konsep dasar dari penelitian ini adalah menguji pengaruh
Grosss Domestic Product (GDP), Inflasi dan Kurs Dollar AS terhadap Total Impor
Indonesia 1989 – 2007. Alur dari penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1 : Kerangka Pemikiran

GDP
(X1)

TOTAL
CPI IMPOR
(X2) INDONESIA
(Y)

KURS
DOLLAR AS
(X3)

Gross domestic Product (GDP), Consumer Price Index (CPI) dan Kurs Dollar AS adalah
independent variable yang mempengaruhi dependent variable yaitu Total Impor Indonesia
baik secara simultan (bersama-sama) maupun secara parsial.

IDENTIFIKASI VARIABEL
Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka pemikiran di atas, maka variabel-
variabel dalam penelitian ini, adalah :
a. Variabel tidak bebas (dependent variable)
Total Impor Indonesia (Y) adalah nilai total impor selama periode 1989 –
2007. Total impor yang dimaksud adalah gabungan impor yang berasal migas
dan non migas.

12
b. Variabel bebas (independent variable)
 GDP (X1)
 CPI (X2)
 Kurs Dollar AS (X3)

JENIS DAN SUMBER DATA
Pada penelitian ini data yang dipergunakan adalah data sekunder yang diambil dan
dicatat dari berbagai instansi dan lembaga yang berkompeten dalam meneliti dan
mempublikasikan data-data sebagai bahan penelitian. Berikut ini adalah rincian asal
sumber data yang dipergunakan dalam :

Tabel 1 : Sumber Data
NO DATA LEMBAGA SUMBER DATA
1 Gross Domestic Product ADB http://www.adb.org
2 CPI BPS http://www.bps.go.id
3 Kurs Dollar AS ADB http://www.adb.org
4 Total Impor Indonesia ADB http://www.adb.org

Seluruh data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data sekunder selama
periode 1989-2007 yang dikumpulkan dengan cara diunduh dari situs resminya di internet
untuk kemudian diseleksi dan digunakan sesuai dengan keperluan analisis.

TEKNIK ANALISIS DATA
Untuk mengetahui pengaruh GDP, Inflasi dan Kurs Dollar AS terhadap total
impor Indonesia 1989-2007, peneliti menggunakan model analisis regresi berganda
(multiple regression), dengan persamaan sebagai berikut :
Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + ε
Dimana :
Y = Total Impor Indonesia periode 1989-2007
X1 = Gross Domestic Product periode 1989-2007
X2 = CPI periode 1989-2007
X3 = Total Impor Indonesia periode 1989-2007
βi = Koefisien regresi parsial
ε = Tingkat Kesalahan (gangguan) stokastik

13
Untuk menguji validasi model tersebut maka dilakukan pengujian sebagai berikut :
a. Koefisien Determinasi (R2)
Merupakan ukuran untuk mengetahui kemampuan variabel bebas
menjelaskan variabel tidak bebas. Semakin besar nilai koefisien determinasi
semakin baik kemampuan variabel X menerangkan atau menjelaskan variabel
Y.
b. Uji Serempak atau uji global
Menguji hipotesis koefisien nilai regresi secara simultan atau serempak
dengan menggunakan F-test. Pengujian secara simultan atau menyeluruh
bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh secara serempak antara
variabel tidak bebas yaitu total impor migas Indonesia (Y) dengan variabel
bebas yaitu GDP (X1), Inflasi (X2) dan Kurs Dollar AS (X3). Signifikan
tidaknya pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel
dependen dilakukan dengan melihat probabilitas (nilai Sig.) dari F rasio
seluruh variabel bebas pada taraf uji α = 5%.
Untuk memperoleh F-hitung maka dipergunakan rumus :
R 2 /(k-1)
F=
(1-R 2 )/(n-k)
Dimana :
F = Nilai F-hitung
k = Banyaknya variabel dalam model regresi
n = Jumlah pengamatan

c. Uji Parsial
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel
bebas terhadap variabel tidak bebas secara parsial. Metode pengujiannya
dengan menggunakan t-test. Signifikan tidaknya pengaruh variabel bebas
terhadap variabel tidak bebas dilakukan melihat nilai probabilitas (nilai Sig.)
dari t rasio masing-masing variabel bebas pada taraf uji α = 5%.
Untuk memperoleh t-hitung maka dipergunakan rumus :
bi - βi
ti =
Sbi

Dimana :
ti = t-hitung

14
bi = Koefisien regresi
Sbi = Standard Deviasi dari βi
i = 1,2,....k (sebanyak jumlah variabel bebas)

d. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik adalah pengujian ekonometrika untuk menilai ada tidaknya
bias penelitian. Model regresi ini digunakan agar dapat dijadikan alat estimasi
yang tidak bias jika telah memenuhi persyaratan BLUE (Best Linier Unbiased
Estimator) yakni tidak terdapat multikolinearitas, autokorelasi, dan
heteroskedastisitas. Apabila model yang digunakan terjadi multikolinearitas,
autokorelasi, dan heteroskedastisitas maka regresi penaksir tidak efisien,
peramalan berdasarkan regresi tersebut akan bias dan uji baku yang umum
untuk koefisien regresi menjadi tidak valid. Dengan menggunakan hasil
analisis komputer dari program SPSS maka dapat digunakan untuk menguji
model ada tidaknya multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas.

15
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN
Pengaruh Gross Domestic Product (GDP), Consumer Price Index (CPI) dan
kurs dollar (AS) terhadap total impor Indonesia periode 1989-2007 menggunakan
perhitungan multiple regression dan software SPSS 15.0.0 dapat dirangkum sebagai berikut :
Tabel 2 :
Rangkuman hasil regresi antara GDP (X1), CPI (X2) dan Kurs Dollar AS (X3)
terhadap Total Impor Indonesia (Y) periode 1989-2007
Dependent Independent Standard p-
Coefficients t-hitung
Variable Variable Error value
Total Impor GDP (X1) 0.220 0.014 15.825 0.000
(Y) CPI (X2) -90.963 155.536 -0.585 0.567
KURS USD (X3) 16.489 4.372 3.772 0.002
Intercepts = -10114.8 F - hitung = 374.654
Sig. = 0.000
R Square = 0.987

Dari rangkuman tabel di atas maka persamaan multiple regression dalam penelitian
ini menjadi :
Y = -10114.8 + 0.220X1 - 90.963X2 + 16.489X3

INTERPRETASI
Persamaan multiple regresi dalam penelitian ini dapat diinterpretasikan sebagai
berikut :
1. Konstanta β0 = -10114.8 memberikan arti bahwa total nilai impor Indonesia
akan memiliki nilai -10,114.8 milyar rupiah jika GDP, CPI dan Kurs Dollar
AS diabaikan.
2. Nilai koefisien β1 = 0.220, artinya apabila CPI dan Kurs Dollar AS dianggap
konstan maka peningkatan GDP sebesar 1 milyar rupiah akan menaikkan
nilai total impor Indonesia sebesar 0.22 milyar rupiah.
3. Nilai koefisien β2 = -90.963, artinya apabila GDP dan Kurs Dollar AS
dianggap konstan maka kenaikan CPI sebanyak satu satuan maka total impor
Indonesia akan turun 90.963 milyar rupiah.
4. Nilai koefisien β3 = 16.489, artinya apabila GDP dan CPI dianggap konstan
peningatan Kurs Dollar AS sebesar 1 rupiah akan menaikkan total impor
Indonesia sebesar 16.489 milyar rupiah.

PEMBAHASAN
a. Koefisien Determinasi (R2)
Nilai R Square (R2) sebesar 0.987 pada table Model Summary di atas,
menunjukkan bahwa kemampuan dari variabel GDP, CPI dan Kurs Dollar AS sebagai
variabel bebas mampu menerangkan atau menjelaskan 98.7% terhadap total impor
Indonesia periode 1989-2007. Nilai yang ditunjukkan oleh R2 ini relative besar, dan
menunjukkan bahwa ketiga variabel bebas yang dipilih dapat menjelaskan dengan baik
terhadapa variabel tidak bebasnya yaitu total impor Indonesia 1989-2007. Sedangkan
sisanya atau residu 1.3% (100% - 98.7%) dijelaskan oleh variabel lain yang tidak
dimasukkan ke dalam penelitian ini.
Apabila diungkapkan dengan kalimat lain maka 98.7% variasi dari total Impor
Indonesia periode 1989-2007 dipengaruhi oleh GDP, CPI dan Kurs Dollar AS. Dan
hanya 1.3% saja total impor Indonesia dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti.

b. Uji Serempak atau uji global
Untuk menguji apakah variabel bebas (GDP, CPI dan Kurs Dollar AS) secara
bersama-sama memberi pengaruh terhadap variabel tidak bebas (Total Impor Indonesia).
Metode yang digunakan adalah dengan melakukan uji F-Test.
Dari tabel 2, diperoleh bahwa nilai F-hitung dalam penelitian ini adalah sebesar
374.654. Untuk mengetahui apakah nilai F-hitung tersebut menunjukkan bahwa semua
variabel bebas berpengaruh nyata (signifikan) terhadap variabel tidak bebasnya, maka
harus dibandingkan dengan F-Tabel.
Dengan jumlah observasi sebanyak 19 dan jumlah variabel bebas 3 maka dapat
ditentukan nilai F-Tabel sebagai berikut :
v1 v2
Jumlah Observasi α F-Tabel
[k] [n-(k+1)]
19 3 15 0.05 3.29

Karena nilai F-hitung = 374.654 lebih besar dari F-Tabel = 3.29 dengan taraf
nyata 5%, maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas yaitu GDP, CPI dan Kurs

17
Dollar AS secara serempak berpengaruh signifikan terhadap total impor Indonesia
periode 1989-2007.

c. Uji Parsial
Apakah pengaruh masing-masing variabel GDP, CPI dan Kurs Dollar AS secara
parsial (individu) adalah signifikan terhadap total impor Indonesia?. Untuk itu harus
dilakukan uji-t atau t-test.
Uji-t ini dimulai dengan menentukan daerah kritis dengan cara mencari nilai t-
tabel. Untuk kasus ini maka df = 19 – (3 + 1) = 15, dan taraf nyata (α) = 5%. Karena kita
melakukan pengujian dua arah maka nilai tα/2 = t0.025 dengan df = 15 adalah : 2.131.
Karena menggunakan uji dua arah maka daerah kritis berada diantara nilai -2.131 dan
2.131. Artinya apabila nantinya t-hitung berada diantara daerah kritis ini dapat kita
simpulkan bahwa variabel bebas tersebut tidak berpengaruh secara siginifikan. Sebaliknya
jika diluar range t-tabel diatas maka variabel bebas tersebut berpengaruh secara signifikan
terhadap variabel tidak bebasnya.
Pada tabel 2, diketahui nilai t-hitung untuk semua variabel bebasnya adalah
sebagai berikut :
 Nilai t-hitung GDP = 15.825
 Nilai t-hitung CPI = -0.585
 Nilai t-hitung Kurs Dollar AS = 3.772
Sehingga dapat kita simpulkan bahwa GDP dan Kurs Dollar AS secara parsial
berpengaruh signifikan terhadap total impor Indonesia periode 1989-2007 karena nilai t-
hitung-nya berada diluar range -2.131 dan 2.131. Sedangkan Consumer Price Index (CPI)
ternyata secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap total impor Indonesia
periode 1989-2007.

d. Uji Asumsi Klasik
Ada tiga pengujian yang harus dilakukan terhadap variabel bebas untuk
menghindari terjadinya multikolinearitas, autokorelasi dan heterokedasitas.
 Uji Multikolinearitas
Deteksi ada tidaknya multikolinearitas dilakukan dengan jalan melihat besaran
VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance serta koefisien korelasi antara
variabel independen. Untuk membuktikan hal ini dapat kita lihat
perbandingannya pada tabel di bawah ini :

18
Coefficientsa

Collinearity Statistics
Model Tolerance VIF
1 GDP .321 3.115
CPI .879 1.138
KURS .323 3.095
a. Dependent Variable: TOTAL_IMPOR_INDONESIA

Syarat untuk tidak terjadinya multikolinearitas adalah nilai tolerance tidak ada
yang kurang dari 0.2 (< 0.2) dan nilai VIF tidak ada yang lebih besar dari 5 (>
5). Sedangkan dari tabel diatas tidak ada satupun yang melanggar aturan di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antara
GDP, CPI dan Kurs Dollar AS. 

Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi menggunakan uji Durbin Watson (DW). Dengan bantuan
software SPSS untuk mengolah data penelitian diperoleh hasil DW = 1.784.
Angka DW berada di antara 1.65 < DW < 2.35, sehingga dapat disimpulkan
tidak terjadi autokorelasi pada model regresi yang kita gunakan dalam
penelitian ini. 

Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan varians dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain.
Salah satu cara untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas adalah dengan uji
glejser yang dilakukan dengan meregresikan nilai absolut residual terhadap
variabel bebas. Jika tidak ada satupun variabel bebas yang berpengaruh
signifikan terhadap variabel terikat (nilai absolut residual), maka tidak ada
heteroskedastisitas. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terjadi
heteroskedastisitas pada persamaan regresi dalam penelitian ini.

19
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
1. Gross Domestic Product (GDP), Consumer Price Index (CPI) dan Kurs Dollar AS
secara serempak (bersama-sama) berpengaruh signifikan terhadap total impor
Indonesia periode 1989-2007. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa variabel-
variabel yang diteliti memang memberikan pengaruh yang nyata terhadap
total impor Indonesia periode 1989-2007.

2. Gross Domestic Product (GDP) berpengaruh positif dan signifikan secara parsial
terhadap total impor Indonesia periode 1989-2007. Hasil penelitian ini yang
menyatakan bahwa GDP berpengaruh nyata atau signifikan secara parsial
terhadap total impor Indonesia periode 1989-2007 mendukung teori yang
disampaikan sebelumnya oleh John Maynard Keynes bahwa besar kecilnya
impor lebih dipengaruhi oleh pendapatan negara tersebut. Artinya realisasi
impor terkait langsung dengan kemampuannya dalam membiayai impor.
Analisis dari penelitian ini menyimpulkan bahwa makin besar pendapatan
nasional suatu negara maka semakin besar pula impornya.

3. Kurs Dollar AS berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap
total impor Indonesia periode 1989-2007. Hasil analisis ini menunjukkan
bahwa meskipun mata uang Rupiah melemah ternyata tidak memberi
pengaruh terhadap pengurangan total impor Indonesia periode 1989-2007.
Alasan yang paling logis untuk menjelaskan fenomena ini adalah ternyata
salah satunya adalah impor minyak bumi yang digunakan sebagai bahan bakar
minyak (BBM) Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal ini
terjadi akibat permintaan BBM untuk konsumsi industri dan masyarakat dari
tahun ke tahun juga semakin bertambah sementara itu defisit ini tidak diikuti
oleh peningkatan produksi minyak bumi di dalam negeri. Sehingga untuk
memenuhi kebutuhan BBM di dalam negeri maka pemerintah harus
mengimpor dari negara lain. Oleh karena itu meskipun kurs Dollar AS

20
semakin tinggi namun mau tidak mau Indonesia tetap harus mengimpor
minyak bumi dari negara lain. Akibatnya sejak tahun 2007 Indonesia
merupakan negara Net-Importir minyak bumi. Dan pada tahun 2008 ini
Indonesia secara resmi telah keluar dari organisasi OPEC yaitu organisasi bagi
kelompok negara-negara pengekspor minyak bumi. Dengan demikian dari
penelitian ini penulis menyimpulkan bahwa makin tinggi nilai mata uang
rupiah terhadap Dollar AS maka semakin tinggi pula total impornya.

4. Consumer Price Index (CPI) tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap
total impor Indonesia periode 1989-2007. Kenyataan ini tentu saja
bertentangan dengan teori-teori impor sebelumnya yang menyatakan bahwa
inflasi dalam negeri yang tinggi akan menyebabkan daya beli masyarakat
menurun dan meningkatkan impor. Sementara ditinjau dari hasil penelitian
dengan data selama periode 1989-2007 menunjukkan bahwa meskipun
koefisien variabel inflasi yang diwaklili oleh CPI adalah negatif, namun
ternyata belum cukup siginfikan pengaruhnya terhadap total impor Indonesia
periode 1989-2007. Menurut pengamatan penulis, sebagai akibat dari tingkat
inflasi yang cukup tinggi di dalam negeri maka masyarakat cenderung untuk
mencari alternatif lain bagi produk-produk yang akan dikonsumsi dengan
harga yang lebih murah dari luar negeri. Ini bisa kita lihat dengan
membanjirnya produk-produk impor terutama yang berasal dari Cina yang
harganya relatif lebih murah bila dibandingkan dengan produk lokal.

REKOMENDASI
Berdasarkan penelitian di atas dan uraian-uraian yang telah disampaikan
sebelumnya maka penulis memberikan saran berupa rekomendasi sebagai berikut :
1. Total impor Indonesia dari tahun ke tahun tidak selamanya menunjukkan
bahwa competitive advantage Indonesia itu tidak baik, justru bisa menjadi cermin
bahwa daya beli masyarakat Indonesia semakin meningkat. Tetapi impor juga
perlu dikendalikan Agar tidak terjadi defisit dalam penggunaan cadangan
devisa negara hanya untuk membayar kelebihan impor maka harus diimbangi
dengan peningkatan nilai ekspor. Pemerintah juga harus bisa memilah
produk-produk mana saja yang sebaiknya boleh diimpor. Ini bertujuan agar

21
sektor riil di dalam negeri mampu tumbuh dan bersaing dengan produk-
produk yang sama dari luar negeri. Salah satunya dengan cara meningkatkan
pajak impor dan pembatasan jumlah barang yang diimpor.

2. Defisit produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat permintaan yang terus
meningkat di dalam negeri menyebabkan pemerintah tidak punya pilihan
selain melakukan impor guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Akibatnya
dari tahun ke tahun total impor Indonesia terus meningkat tajam. Tentu saja
hal ini secara jangka panjang akan berpengaruh pada makroekonomi
Indonesia. Harga minyak mentah di pasaran Internasional yang melambung
dapat membuat perekonomian menjadi terpukul akibat ongkos produksi yang
ikut meningkat, sehingga inflasi tidak dapat terelakkan. Oleh karena itu
penulis menyarankan agar program Bio Fuel di dalam negeri segera
ditindaklanjuti dengan meningkat produksi agar dapat menjadi solusi
alternatif energi di masa depan serta secara perlahan impor BBM dari negara
lain dapat dikurangi.

22
DAFTAR PUSTAKA

Mason, Robert D, Lind, Douglas A. Teknik Statistika untuk Bisnis & Ekonomi,
Erlangga, 1996.

Samuelson, Paul A. & William D. Nordhaus. Makro Ekonomi. Jakarta: Erlangga, 2003

Suharyadi, Purwanto SK. Statistika Untuk Ekonomi & Keuangan Modern, Jakarta :
Salemba Empat, 2004.

Tucker, Irvin B. Economics For Today’s World, Ohio: Thomson, 2007.

23
LAMPIRAN

Data Total Impor Indonesia, GDP, CPI, Kurs Dollar AS
periode 1989-2007
IMPORT GDP
TAHUN CPI KURS
(milyar Rp) (milyar Rp)
1989 38,443 179,582 330.30 1,770
1990 50,046 210,866 112.50 1,843
1991 60,249 249,969 123.00 1,950
1992 70,481 282,395 132.30 2,030
1993 78,383 329,776 145.10 2,087
1994 96,953 382,220 157.40 2,161
1995 125,657 454,514 172.30 2,249
1996 140,812 532,568 185.90 2,342
1997 176,600 627,695 106.20 2,909
1998 413,058 955,754 168.30 10,014
1999 301,654 1,099,732 202.45 7,855
2000 423,318 1,389,770 221.37 8,422
2001 506,426 1,684,280 249.15 10,261
2002 480,815 1,821,833 274.10 9,311
2003 465,941 2,013,675 106.78 8,577
2004 632,376 2,295,826 113.25 8,939
2005 816,406 2,784,960 125.57 9,705
2006 870,090 3,338,196 141.53 9,159
2007 1,000,604 3,957,404 150.55 9,140
Sumber : www.adb.org dan www.bps.go.id

Hasil pengolahan data dengan menggunakan Software SPSS 15.0 :

Model Summaryb

Adjusted Std. Error of Durbin-
Model R R Square R Square the Estimate Watson
1 .993a .987 .984 38272.666 1.784
a. Predictors: (Constant), KURS_DOLLAR_AS, CPI, GDP
b. Dependent Variable: TOTAL_IMPOR_INDONESIA_1989_2007

ANOVAb

Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 1.6E+012 3 5.488E+011 374.654 .000a
Residual 2.2E+010 15 1464796929
Total 1.7E+012 18
a. Predictors: (Constant), KURS_DOLLAR_AS, CPI, GDP
b. Dependent Variable: TOTAL_IMPOR_INDONESIA_1989_2007

24
Coefficientsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) -10114.8 29493.553 -.343 .736
GDP .220 .014 .828 15.825 .000
CPI -90.963 155.536 -.018 -.585 .567
KURS_DOLLAR_AS 16.489 4.372 .197 3.772 .002
a. Dependent Variable: TOTAL_IMPOR_INDONESIA_1989_2007

Coefficientsa

Collinearity Statistics
Model Tolerance VIF
1 GDP .321 3.115
CPI .879 1.138
KURS .323 3.095
a. Dependent Variable: TOTAL_IMPOR_INDONESIA

25