RADAR SURABAYA ● SELASA, 21 FEBRUARI 2012

HALAMAN 2

Soesantyo Tak Akan Ajukan Penangguhan
TERANCAM 20 TAHUN...
dan Juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP. Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara. Plus dakwaan subsider Pasal 3 Jo Pasal 18 UU Pemberantasan Tipikor Jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 Jo Pasal 64 Ayat 1 KUHP. Ancaman hukuman minimal satu tahun penjara. Dalam dakwaan setebal 40 halaman, jaksa memaparkan, kedua terdakwa telah mencairkan kas PD Pasar Rp 2,419 miliar untuk dana hibah Pasar Gayungsari. “Dana tersebut dicairkan oleh terdakwa Soesantyo atas sepengetahuan dan persetujuan dari terdakwa Sucipto,” kata Nur Hisyam. Pencairan dilakukan beberapa kali. Dari kas PD Pasar tahun 2010 dan tahun 2011. Rinciannya, Rp 1,759 miliar dikeluarkan dari kas PD Pasar tahun 2010 dan Rp 498 juta dikeluarkan dari kas tahun 2011. Kemudian, sambung Nur Hisyam, ada pengeluaran Rp 85,6 juta untuk dana reperesentasi direksi tahun 2010. Berikut Rp 75,4 juta pencairan dana representasi direksi tahun 2011. “Dana tersebut dipindahkan ke rekening pribadi terdakwa. Katanya, untuk rencana pembangunan dan mencari investor proyek revitalisasi Pasar Gayungsari. Ternyata, hingga dana itu habis, proyek tersebut tidak pernah terealisasi,” papar Nur Hisyam. “Dana hibah yang dijanjikan terdakwa tidak pernah masuk ke rekening PD Pasar Surya yang sengaja dibuka untuk menampung dana hibah tersebut,” imbuhnya. Usai sidang, Soesantyo menyatakan kalau dana hibah yang dijanjikannya memang ada. Hanya, ucap dia, dana itu belum dimasukkan ke rekening PD Pasar. Dimana? “Pokoknya ada. Nanti pada waktunya saya tunjukkan,” kelitnya. Karena itu pula, Soesantyo mengatakan, dia tidak ingin mengajukan penangguhan penahanan. Selain menganggap percuma, Soesantyo memaparkan, kasus yang membelitnya itu cepat selesai. “ Ndak usah lah . Saya hanya inginan agar ini cepat s e l e s a i , ” ujarnya. B e r b e d a dengan Soesantyo yang tampak tenang menghadapi sidang, Sucipto kelihatan tegang. Tapi, dia mengaku hanya kelelahan saja. Hasil pembacaan jaksa dalam sidang tentu saja membuat terdakwa kecewa. Sucipto mengakui, ia memberikan kebijakan kepada direktur keuangan untuk mencari dana hibah. Ia pun akan mengajukan eksepsi melalui kuasa hukumnya. “Kebijakan itu memang ada dan direksi lain juga tahu tapi untuk detil keuangan yang tahu hanya direktur keuangan dan direktur utama,” ujarnya. Sucipto yang ditahan sejak 1 Februari 2012 lalu mengatakan bahwa sebenarnya uang yang digunakan adalah dana talangan. Karena, dana hibah belum ada. “Direksi tahu yang digunakan bukan biaya hibah, tapi yang digunakan dana talangan,” katanya. Sementara, Hakim Ketua Suwidia akan melanjutkan siding pada Senin depan dengan agenda pembacaan eksepsi atau penolakaan dakwaan dari kuasa hukum terdakwa. (aya/rie/yud)

IST

TETAP KUMUH: Pasar Gayungsari, objek revitalisasi untuk mendapat dana hibah PD Pasar Surya. Hingga sekarang pasar ini belum dibangun.

SIDANG perdana kasus dana hibah Pasar Gayungsari senilai Rp 2,4 miliar agaknya membuat dua Direktur PD Pasar, meradang. Mereka yaitu Dwi Harry Soeryadi yang menjabat Plt Dirut, Plt Dirkeu, dan Direktur Teknik. Satu lagi, Mrabawani S Binudhi, Direktur Pembinaan Pedagang. Pasalnya, dana hibah itu disebut-sebut sepengatahuan direksi. Dikonfirmasi tadi malam, Dwi Harry bersikukuh tidak tahu menahu tentang pencairan uang dari kas PD Pasar Surya yang digunakan untuk mengurus dana hibah pembangunan Pasar Gayungsari. Ia menyatakan, penggunaan dana kas PD Pasar untuk mengurus dana hibah tak pernah ada dalam Rencana Anggaran Kerja (RAK). “Namanya hibah, mestinya tidak pernah mengeluarkan uang,” ujarnya. Dwi tak menampik ada ren-

Kenapa saya bilang tidak tahu? Sebab di RAK tidak direncanakan uang itu. Tidak direncanakan kok dikeluarkan? Kalau direncanakan, dikeluarkan, pasti semua yang lain tahu.”
DWI HARRY SOERYADI, Plt Dirut PD Pasar Surya

cana PD Pasar untuk membangun Pasar Gayungsari dengan menggunakan dana hibah. Menurutnya, hal itu memang diketahui jajaran direksi. Alasannya, rencana tersebut telah tertuang dalam RAK. Dia lalu menegaskan, acuan direksi melaksanakan program kerja adalah RAK. “Membangun Pasar Gayungsari memang masuk. Itu ada dalam RAK,” ujarnya.

Yang tidak ada adalah untuk rencana memasukkan hibah namun didahului dengan mengeluarkan uang dari kas PD Pasar Surya. “Kalau ini, kami jelas tidak tahu sebab tidak pernah ada dalam RAK,” ucap Dwi. Menurut Dwi, yang sekarang dipermasalahkan adalah uang yang telah keluar itu. Ia mengulangi bahwa yang namanya hibah, mestinya tak pernah me-

ngeluarkan uang. “Kalau tibatiba ada uang keluar, ini tak pernah dikomunikasikan. Itu tidak ada dalam RAK,” ujarnya. “Kenapa saya bilang tidak tahu? Sebab, di RAK tidak direncanakan uang itu. Tidak direncanakan kok dikeluarkan? Kalau direncanakan, dikeluarkan, pasti semua yang lain tahu,” imbuh Dwi. Sementara itu, Dwi menanggapi siapa dirut baru PD Pasar Surya. Ia mengatakan belum mengetahui keputusan wali kota. Ia hanya menyebutkan, sampai sekarang dirinya masih menjabat sebagai plt dirut tersebut. Menurutnya, sebelum ada SK lebih lanjut (baru), ia berarti belum diganti. “Dalam SK plt sudah jelas kok. Isinya, masa jabatan berlaku sampai dengan ditetapkannya dirut dan direku definitif. Jadi, sebelum ada penetapan dirut, ya masih berlaku,” ungkapnya. (jee/rie/yud)

OPINI

JLT Sangat Membahayakan
Kerusakan jalan lingkat timur (JLT) Sidoarjo semakin parah. Hampir di sepanjang jalan yang menjadi alternatif itu mengalami kerusakan. Aspal mengelupas, jalan berluban terjadi di manamana. Mulai dari Buduran sampai di Candi. Akibat kerusakan jalan ini, sering terjadi kecelakaan lalu lintar, khususnya pengenda sepeda motor. Untuk memilih jalan yang baik, pengendara motor sering tertabrak kendaraan lain. Ini belum lagi banyaknya perempatan jalan yang tidak dilengkapi traffic lihgt (lampu pengatur). Padahal arus kendaraan di jalur itu cukup ramai dan banyak yang ngebut. Kepada Bapak Bupati Sidoarjo, Bapak Saiful Illah kami berharap ada perhatian khusus untuk akses jalan ini, sebab cukup banyak warga Sidoarjo yang menjadi korban di jalan lingkar timur. Atas perhatiannya, kami sampaikan banyak terima kasih dan kami tunggu perbaiakannya. Vicky, Perumahan Candi, Sidoarjo.

Bubi Chen, Kuliner, dan Spiritualita
sentil dia dengan nada canda ketika hendak tampil di tempat kerja saya, “Om, makanan-makanan enak yang kita santap, suatu saat akan ganti menyantap kita lho”. Dia hanya tertawa sambil ’merem melek’ menikmati sate ayam kegemarannya.N a mun, terkait kegemaran makannya, Bubi Chen justru menyadari itu sebagai anugerah Tuhan dan kita perlu makan apa saja, dalam hidup yang sementara dan sekali ini. Begitu dia berargumentasi. Makanan itu tak beda jauh dengan musik, selalu menjadi bahasa universal yang merekatkan relasi antarmanusia. Lewat musik, etnisitas (ke-Tionghoa-an) yang ada pada diri Bubi Chen, tidak menjadi kendala untuk membangun jembatan relasi dengan semua orang dari beragam suku, ras, dan golongan. Dalam pandangan Islam tradisional sebagai mana dikatakan Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimension of Islam, Tuhan merupakan realitas absolut yang tak terhingga. Kalau Tuhan diibaratkan samudera tak terhingga, maka manusia hanyalah percikan dari samudera Ilahi tersebut (Simuh,1985). Maka, seorang Bubi Chen lewat karya dan kematiannya, bisa dipakai sebagai sarana untuk menunjukkan kebesaran-Nya. Tak heran, Om Bubi tidak ikut larut dalam semangat para selebritis yang memuja hedonisme. Coba simak berapa banyak artis atau musisi yang yang glamour dan harus berakhir tragis karena narkoba atau obat terlarang. Rumah tangga berantakan. Baru-baru ini, kita dikejutkan kematian Whitney Houston. Kesibukan mengejar popularitas dan uang menyebabkan hidup mereka kemrungsung dan jauh dari nuansa religius, meski mereka mengaku beragama. Di tengah-tengah absurditas serta kegersangan spiritualitas, Bubi Chen juga saya kenal agak antimodernitas– yang menjauhkan manusia dari Sang Pencipta. Memang, sejak lima tahun menjelang kematiannya, Bubi Chen mulai banyak berbicara tentang Tuhan. Seperti kita tahu, modernitas atau apapun yang disertai cap modern, justu menyeret hidup manusia dalam keterasingan.Maka, seorang bos Hyundai Korea yang kaya raya bisa bunuh diri dari lantai atas sebuah hotel hingga tewas. Memang, di tengah semangat zaman yang hanya memuja materi, seharusnya kita mau istirahat. Kita menarik diri dari kerumunan, dengan senantiasa mencoba untuk menyucikan diri. Ini agar kedamaian atau ketenteraman hidup kita tidak dikorbankan. Al Ghazali memberi resep mengembalikan ketenteraman hidup, dengan jalan membelakangi dunia. Karena, selama masih ada dunia, segala kekotoran hati dan kegelisahan akan tetap ada. Ibarat, mustahil mandi madu tanpa dikerumuni lalat atau semut. Pencucian hati dapat dijalani lewat: (1) Pengamalan maqam taubat. Taubat dalam pengertian tasawuf adalah pengalihan dari hidup yang terlena, ke arah hidup yang selalu mengingat Tuhan. Terlena mengingat Tuhan adalah pangkal dari segala dosa dan kemaksiatan. Maka, laku mengingat Tuhan adalah langkah awal pembinaan budi luhur. Dzikir lahir batin merupakan jalan pertama; 2) Sesudah taubat adalah laku wara‘ yakni satu laku rohani untuk menjauhi hal-hal yang subhad (tidak jelas halal haramnya); (3) Laku hidup yang mencari sesuatu yang jelas halalnya. Jadi, laku ini 90 persen budi pekerti luhur; (4) laku zuhud yakni menyedikitkan kebutuhan duniawi yang halal; (5) tawakal yakni menyerahkan seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan termasuk pemeliharaannya; (6) Laku sabar yakni tidak mengeluh apapun penderitaan yang ada padanya karena yakin adanya jaminan pemeliharaan Tuhan; dan (7) laku ‘rela’ atau ikhlas, bahkan penderitaan dianggapnya’sebagai satu’’kenikmatan’. Segala kekotoran duniawi ia singkirkan. Arti menyedikitkan kebutuhan duniawi berarti mengandung arti bahwa tidak dilarang untuk mencari harta, asal halal dan diambil secukupnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini artinya, menjadi ’sufi’ tidak harus mengasingkan diri dari keramaian duniawi. Orang jawa bilang, ’topo ngrame’, dan Abu yazid Al Busthami mengatakan, ’Zuhud (sufisme) adalah tidak memiliki dunia dan tidak dimiliki dunia’. Artinya, silakan mencari harta sebanyak-banyaknya (yang halal tentunya), namun jangan menjadi budak dunia. Nah, menyadari hidup begitu fana dan singkatnya kehidupan, Bubi Chen malah terdorong terus untuk berkarya dan memberikan kontribusi yang positif bagi kemanusiaan. Bila Bubi Chen bisa, kenapa kita tidak?

Oleh: MUSTOFA LIEM

N

EGERI kita sungguh merasakan kehilangan atas meninggalnya Bubi Chen. Bubi Chen meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Telogorejo, Kota Semarang, sekitar pukul 19.05 WIB pada Kamis malam, 16 Februari 2012 dalam usia 74 tahun. Sejak balita, oleh ayahnya, Tan Khing Hoo, Bubi Chen memang sudah belajar piano dari pianis berkebangsaan Italia Di Lucia (Jawa Pos, 17/2). Kontribusi Bubi Chen di blantika musik, khususnya di jalur jazz, sungguh luar biasa. Mantan pemimpin Indonesian All Stars Band ini telah merilis banyak album dan berjam session dengan banyak musisi dan vokalis.Nama Bubi dalah ’trademark’. Bubi Chen juga dikenal sebagai penggemar kuliner. Walau selama lima tahun terakhir ini sudah mengidap diabetes melitus, dia tidak pernah kapok makan enak. Pernah, saya

*Dewan Penasihat Jaringan Tionghoa untuk Kesetaraan, Tinggal di Singapura.

Opini & Surat Pembaca

Kirimkan artikel oipini dan surat Anda ke Radar Surabaya, Gedung Graha Pena Lt IV jalan A. Yani 88 Surabaya. Atau faksimili (031) 8202191. E-mail: radarsurabaya@yahoo.com. Semua surat harus dilengkapi identitas, foto, NPWP. Sertakan nomor telepon kalau Anda mengirim lewat e-mail. Panjang naskah opini maksimal 4.000 karakter.

GENERAL MANAGER: Lilik Widyantoro. PIMPINAN REDAKSI/PENANGGUNG JAWAB: Agus Wahyudi. Redaktur Pelaksana: Sumarno (Koordinator Liputan), Wijayanto. Redaktur: HM Choirul Shodiq, Rahmat Adhy Kurniawan, Yuli Setiyo Budi, Hendarmono Al Sidarto, Asikin, Ahmad Syaiku, Lambertus Lusi Hurek, Hafida Indrawati, Heti Palestina Yunani, Nofilawati Anisa. Staf Redaksi Surabaya: M Nasaruddin Ismail, M Zainuddin, Novi Triawan, Roudlon, Lainin Nadziroh, Jaini, Rochman Arief, Eko Yudiono, Wahyu Setyo Darmawan, Risang Bima Wijaya, Ratno Dwi Santo. Fotografer: Mohammad Rofiq, Abdullah Munir, Sandhi Nurhartanto. BIRO JAKARTA: Poeji Rahardjo (Kepala), M Nur Asikin, Irman Robiawan. Sidoarjo: Agung Nugroho, Rudianto, Vega Dwi Ariesta. Gresik: Aris Wahyudianto.Probolinggo: HM Saudi Hasyim, Kediri: Imam Mubarok. IKLAN: Lilik Widyantoro (Manager), M Afik MS, M Fail, Bambang Sukoco, Ibnu Rusydi Sahara, Agoes Hari Noeswantoro, Budi Susetyo, Rini Sujarwo, Ferry Sujimat, S. Yadi, Hilmi. Pemasaran: Heri Santoso, Zaenal Fatah, Fanny Ferdyan, Indra Wijanarko. LANGGANAN: Rp 50.000/bulan (Surabaya, luar kota plus ongkos kirim); TARIF IKLAN: FULL COLOUR Rp 33.000/mm kolom, B/W Rp 25.000/mm kolom, Halaman 1: 200 persen tarif normal. ALAMAT REDAKSI: Lantai IV Graha Pena, Jl Ahmad Yani 88 Surabaya, TELP; (031) 8202142, 8202277, 8202278. FAX: (031) 8202191, IKLAN: (031) 8202279, 8202280, 8202290, PEMASARAN: (031) 8202282, 8202017, MALANG: Jl Arjuna 23, TELP (0341) 363700, 340990 FAX (0341) 326888, JAKARTA: Lantai VII Graha Pena, Jl Kebayoran Lama 12 Jakarta Selatan, TELP (021) 53699523, 53699506, FAX (021) 5349205, SIUPP: Nomor 073/MENPEN SIUPP/47/1986, tgl 8 Maret 1986, PENERBIT: PT Radar Media Surabaya. DIREKTUR PELAKSANA: Nany Wijaya.
layouter: nuryono

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful