Tumor jinak kelenjar saliva BAB.

I PENDAHULUAN Neoplasia atau tumor adalah pembentukan jaringan baru yang abnormal dan tidak dapat terkontrol oleh tubuh. Ada dua tipe neoplasia, yaitu neoplasia jinak (benign) dan neoplasia ganas (malignant). Banyak faktor penyebab yang dapat merangsang terjadinya tumor. Faktor ini digolongkan kedalam dua kategori yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Tumor bisa mengenai seluruh organ tubuh termasuk pada tumor kelenjar saliva. Pada tumor kelenjar saliva bisa bersifat tumor jinak dan tumor ganas. Sebagian besar tumor kelenjar saliva adalah jinak. Adapun tumor jinak yang sering ditemukan antara lain adalah adenoma pleomorfik yang merupakan tumor kelenjar liur yang paling sering terjadi. Selain itu, tumor jinak lain yang mungkin terjadi adalah: kistadenoma papiler limfomatosa atau dikenal juga dengan nama tumor Warthin yang sering terjadi pada orang tua.

Kira-kira 80% dari tumor kelenjar liur terjadi di kelenjar parotid. Di antara tumor-tumor ini, kira-kira 75-80% adalah jinak. Tidak terdapat korelasi yang konsisten diantara kadar pertumbuhan tumor dan tumor itu jinak ataupun ganas. Secara umum, hanya 15% dari penyakit kelenjar submandibular adalah neoplastik. Dibandingkan dengan tumor parotid, kira-kira 50-60% tumor submandibular adalah jinak. Tumor kelenjar liur minor adalah kira-kira 15% dari kesemua tumor kelenjar liur. Telah diperkirakan hanya kira-kira 35% tumor kelenjar liur minor adalah jinak dengan adenoma pleomorfik sebagai neoplasma yang paling sering diikuti dengan adenoma sel basal. Karsinoma lain yang dapat terdapat di kelenjar liur mayor adalah karsinoma sel asinar, adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa dan tumor malignan campuran, walalupun beberapa karsinoma dari jaringan lain dapat saja timbul di kelenjar liur mayor.

1

Tumor jinak kelenjar saliva BAB. II ANATOMI KELENJAR SALIVA Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Saliva 1. Anatomi Regional Kelenjar Saliva Kelenjar liur atau kelenjar saliva adalah kelenjar yang mensekresikan cairan saliva, terbagi menjadi dua golongan, yaitu mayor dan minor. Kelenjar saliva mayor terdapat tiga pasang, yaitu kelenjar parotis, kelenjar submandibular, dan kelenjar sublingual. Kelenjar saliva minor terutama tersebar dalam rongga mulut, sinus paranasal, submukosa, trakea dan lain lain.

Gambar 1. Anatomi Kelenjar Liur

Kelenjar Parotis Terletak di lateral wajah, berbadan kelenjar tunggal tetapi sering kali dengan batas nervus fasialis dibagi menjadi dua lobus, yaitu lobus profunda dan superficial. Lobus superficial lebih besar, bentuk tidak beraturan, terletak di superficial dari bagian posterior otot masseter ke atas hingga ke arkus zigomatik dan ke bawah mencapai margo inferior os mandibular. Lobus profunda lebih kecil, ke atas berbatasan dengan kartilago meatus akustikus eksternal, mengitari posterior ramus asendens os mandibular menjulur ke dalam dan bersebelahan dengan celah parafaring. Duktus primer kelenjar parotis terletak di superficial fasia otot maseter hampir tegak lurus menuju 2

Traktus nervus fasialis keluar dari foramen stilomastoideus di antara kartilago meatus akustikus eksternal dan venter posterior otot digastrikus. Nervus sublingualis melintasi fasies profunda venter posterior otot digastrik. Duktus kelenjar submandibular muncul dari bagian internal kelenjar. Di dalam parenkim kelenjar tersebut nervus fasialis bercabang dua menjadi trukus temporofasialis dan trunkus servikofasialis. cabang bukal. berjalan ke superior. trunkus temporofasialis lebih besar. fasies profunda arteri aurikularis posterior. melalui celah antara otot mylohioid dan hioglosus sampai ke bagian bawah lidah. berjalan kurang lebih sejajar margo posterior ramus asendens os mandibular. melintasi bagian superficial radiks prosesus stiloideus dari bagian posterior kelenjar parotis memasuki kelenjar parotis. fasies profunda otot platisma melintasi vena fasialis posterior. Dari trunkus tersebut timbul lima percabangan. yaitu cabang temporal. bermuara di papilla di bawah lidah. berhubungan dengan ujung posterior kelenjar sublingual. bagian profunda timbul dari sisi internal bagian superficial. trunkus servikofasialis lebih halus. terbagi menjadi dua bagian. Nervus linguialis dari lateral menuju medial melintasi bagian inferior duktus kelenjar submandibular memasuki lidah. di inferior kelenjar parotis. profunda dan superficial. ke arah anterosuperior masuk lidah. di posterior. Bagian superficial lebih besar. Arteri maksilaris eksternal melalui venter posterior otot digastrik dan fasies profunda kelenjar submandibular menuju ke superior.Tumor jinak kelenjar saliva ke dalam membentuk otot businator dan bermuara di mukosa bukal. mengitari margo inferior korpus mandibular. dekat gigi Molar 2 atas dan disebut Stensen’s Duct. melintasi vena fasialis anterior dan arteri maksilaris eksternal dan menyebar di bibir bawah. di margo anterior otot maseter mencapai daerah muka. vena fasialis posterior berjalan ke inferior. Kelenjar Submandibular Terletak di tengah trigonum mandibular. Kelenjar Sublingual 3 . Cabang mandibular nervus fasialis sejak muncul dari trunkus servikofasialis. di sekitar 1 cm dari angulus mandibular menuju anterior. 1 cm superior prosesus mastoideus. bagian superficial otot hioglosus. cabang mandibular marginal dan cabang servikal. cabang zigomatik.

1500mL saliva diproduksi oleh sel acinar setiap hari dan ditransportasi lewat elemen duktus dengan kadar rata-rata 1 mL per menit. Kelenjar parotis hanya memiliki sel-sel 4 . 2. terletak di area sublingual. Kira-kira 500 . Kelenjar saliva memiliki unit sekresi yang terdiri dari asinus. bibir. Fisiologi Kelenjar Saliva Produksi Saliva Kelenjar saliva berperan memproduksi saliva. garam inorganik dan beberapa faktor antimikroba. Kebanyakan adalah duktus kecil. Sel-sel asini dan duktus proksimal dibentuk oleh sel-sel mioepitelial yang berperan untuk memproduksi sekret. Saliva manusia secara umum adalah bersifat alkali. Bagaimanapun kelenjar ini juga terletak di kavum oral. Sel-sel mioepitel mengelilingi asinus dan mencapai hingga duktus intercalata. terbentuk dari banyak kelenjar kecil. Kelenjar Liur Minor Palatum durum dan palatum mole mengandung konsentrasi kelenjar liur minor yang terbanyak. Duktus sublingual ada dua jenis. dimulai dari proksimal oleh asinus dan kemudian dimodifikasi di bagian distal oleh duktus. enzimenzim( ptyalin dan maltase). besar dan kecil. Saliva diproduksi oleh sel-sel asinar yang berkelompok dan mengandung elektrolit. Unit duktus ini menggabungkan beberapa elemen duktus yang mencapai hingga asinus : suktus striata dan duktus ekskretori. Kelenjar liur mengandung beberapa unit sekretori yang meliputi asinus di ujung proksimal dan unit duktus distal. Sel-sel mioepitel ini berkontraksi sehingga membolehkan sel glandular mengeluarkan sekresinya. sedangkan kelenjar sublingual memiliki sistem sekresi yang lebih sederhana.Tumor jinak kelenjar saliva Kelenjar sublingual berbentuk pipih panjang. Kelenjar liur minor bisa diidentifikasi dalam berkelompok seperti kelenjar lingual anterior Blandin-Nuhn. bermuara di mukosa bawah lidah. protein. karbohidrat. ujung posteriornya berhubungan dengan perpanjangan kelenjar submandibular. duktus besar mengikuti sisi medial badan kelenjar mengikuti duktus submandibular dan keduanya kebanyakan bersatu bermuara di papilla di bawah lidah. Sel asini menghasilkan saliva yang akan dialirkan dari duktus interkalasi menuju duktus interlobulus. kemudian duktus intralobulus dan berakhir pada duktus kolektivus. tubulus sekretori dan duktus kolektivus. Kelainan benigna dari kelenjar liur mencakup kelainan produksi dan sekresi saliva. Kelenjar submandibula dan parotis mempunyai sistem tubuloasiner. lidah dan orofaring.

Sekresi serous yang mengandung ptyalin (suatu α-amilase).Tumor jinak kelenjar saliva asini yang memproduksi sekret yang encer. BAB. Sekresi mucus yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan dan perlindungan permukaan. 2. Kelenjar submandibula dan sublingualis mendapatkan persarafan parasimpatis dari korda timpani (cabang n. serta bersama dengan arteri fasialis yang memperdarahi kelenjar sublingualis. Saraf ini menstimulasi kelenjar saliva untuk menghasilkan sekret kental yang kaya akan kandungan organik dan anorganik. Sistem saraf simpatis Serabut saraf simpatis yang menginervasi kelenjar saliva berasal dari ganglion servikalis superior dan berjalan bersama dengan arteri yang mensuplai kelenjar saliva. yang merupakan enzim untuk mencernakan serat. Inervasi autonom dan sekresi saliva 1. sedangkan kelenjar sublingual memiliki sel-sel asini mukus yang memproduksi sekret yang lebih kental. Kelenjar saliva minor juga memiliki kedua jenis sel asini yang memproduksi kedua jenis sekret. III 5 . VII). dan bersama arteri lingualis yang memberikan suplai darah ke kelenjar submandibula. Kelenjar parotis mendapat persarafan parasimpatis dari nervus glosofaringeus (n. Serabut saraf simpatis berjalan bersama dengan arteri karotis eksterna yang memberikan suplai darah pada kelenjar parotis. Kelenjar submandibula memiliki kedua jenis sel asini sehingga memproduksi sekret baik serosa maupun mukoid. Sistem saraf parasimpatis Sistem saraf parasimpatis menyebabkan stimulasi pada kelenjar saliva sehingga menghasilkan saliva yang encer. 2. Saliva mengandung dua tipe sekresi protein yang utama: 1.IX).

Ada dua jenis neoplasia. disebut juga neoplasma. Faktor internal. faktor genetik. dan tidak bermetastasis (anak sebar). dingin. dan karsinoma pada dada. dimana 75% . Neoplasia ganas sering disebut kanker . infiltrasi ke jaringan sekitarnya. Neoplasma atau neoplasia adalah pembentukan jaringan baru yang abnormal dan tidak dapat dikontrol oleh tubuh. Epidemiologi Tumor pada kelenjar saliva relatif jarang terjadi. dan dapat menyebar ke organorgan lain (bermetastasis). faktor eksternal seperti bakteri.85% dari seluruh tumor berasal dari parotis dan 80% dari tumor ini adalah adenoma pleomorphic jinak (benign pleomorphic adenomas) 3. Faktor-faktor ini digolongkan kedalam dua kategori. radiasi. Definisi Tumor didefinisikan sebagai pertumbuhan baru suatu jaringan dengan multiplikasi sel-sel yang tidak terkontrol dan progresif. Presentasi Tumor kelenjar saliva baik itu jinak atau ganas akan muncul sebagai suatu massa 6 . persentasenya kurang dari 3% dari seluruh keganasan pada kepala dan leher. Banyak faktor penyebab atau pendukung yang dapat merangsang terjadinya neoplasma. obat-obatan. trauma. tembakau.Tumor jinak kelenjar saliva TUMOR JINAK KELENJAR SALIVA TUMOR JINAK KELENJAR SALIVA 1. terlokalisir. yaitu faktor yang berhubungan dengan herediter dan faktor-faktor pertumbuhan dan (2). Neoplasia ganas adalah tumor yang tumbuhnya cepat. ekspansif. atau alkohol . panas. yaitu neoplasia jinak (benign neoplasma) dan neoplasia ganas (malignant neoplasma). Keganasan pada tumor kelenjar saliva berkaitan dengan paparan radiasi. Neoplasia jinak adalah pertumbuhan jaringan baru yang lambat. bahan kimia. 2. Sebagian besar tumor pada kelenjar saliva terjadi pada kelenjar parotis. Para ahli onkologis masih sering menggunakan istilah tumor untuk menyatakan suatu neoplasia atau neoplasma . jamur. yaitu : (1). berkapsul. virus.

Epstein-Barr virus mungkin merupakan salah satu faktor pemicu timbulnya tumor limfoepitelial kelenjar liur. berkembang diantara sel-sel pada kelenjar yang terkena.VII) umumnya sebagai indikator dari keganasan. Keterlibatan saraf fasialis (N. Tumor ganas dapat bermetastasis ke kelenjar limfe melalui ruangan parapharyngeal dan ke rangkaian jugular bagian dalam dan ke pre-post facial nodes. dan peminum alkohol. sindroma Cushing. myxoedema. melewati ruangan parapharyngeal. sebanyak 16 % dari pasien dengan tumor parotis dan 8% pasien dengan tumor pada submandibula atau sub lingual secara klinis menunjukkan keterlibatan kelenjar limfe pada penampilannya. kanal auditorius eksternal. Tumor ganas pada kelenjar parotis dapat meluas ke area retromandibular dari parotis dan dapat menginvasi lobus bagian dalam. kelainan genetik. Teori multiseluler Teori ini menyatakan bahwa tumor kelenjar saliva berasal dari diferensiasi sel-sel matur dari unit-unit kelenjar saliva. dicurigai adanya keterlibatan faktor lingkungan dan faktor genetik. 4. keterlibatan dari saraf kranial bagian bawah dapat terjadi berupa disfagia. dan sendi temporomandibular. Patofisiologi 1. 5.Tumor jinak kelenjar saliva berbentuk soliter. Pasien dengan tumor jinak atau keganasan derajat rendah dapat menampilkan gejala pertumbuhan massa yang lambat untuk beberapa tahun. Seperti tumor asinus berasal dari sel-sel asinar. Menurut Armstrong et al. Pertumbuhan yang cepat dari massa dan rasa sakit pada lesi itu berkaitan dengan perubahan ke arah keganasan. misalnya monosomi dan polisomi sedang diteliti sebagai faktor timbulnya tumor kelenjar liur. onkotik tumor berasal 7 . tetapi bukan sebagai alat diagnostik. Paparan radiasi dikaitkan dengan tumor jinak warthin dan tumor ganas karsinoma mukoepidermoid. Pembesaran menyeluruh atau berulang dari kelenjar yang terkena sepertinya akibat kalkulus atau peradangan dan pembesaran kelenjar saliva global yang jarang dapat dilihat pada penyakit sistemik seperti diabetes melitus. Lebih lanjut lagi dapat melibatkan struktur disekitarnya seperti tulang petrosus. Akibatnya.walaupun gejala ini hanya nampak pada 3% dari seluruh tumor parotis dan prognosisnya buruk. sakit dan gejala pada telinga. Pembesaran kelenjar parotis juga dapat dilihat pada anorexia nervosa. Etiologi Penyebab pasti tumor kelenjar saliva belum diketahui secara pasti.

CT scan dan MRI dapat membantu mengidentifikasi tumor lobus dalam jika dicurigai secara klinis. Tumor jinak kelenjar saliva biasanya bersifat mobile dan untuk massa atau tumor jinak yang berasal dari parotis tidak ada gangguan fungsi nervus fasialis. karsinoma adenoid kistik. insidens tertinggi dari tumor kelenjar liur terdapat pada dekade ke enam hingga tujuh. 64-80% dari tumor primer kelenjar saliva terjadi di kelenjar saliva. 8 . Teori biseluler Teori ini menerangkan bahwa sel basal dari glandula ekskretorius dan duktus interkalated bertindak sebagai stem sel.Tumor jinak kelenjar saliva dari sel-sel duktus striated. Kadar ini lebih tinggi apabila digunakan untuk mendeteksi sesuatu lesi itu berasal dari jaringan parotid atau tidak. hemoragik atau malignansi. Kadar akurasi adalah kira-kira 85% dalam menentukan tumor parotid adalah maligna atau benigna. mixed tumor berasal dari sel-sel duktus interkalated dan mioepitelial. Penegakkan diagnosis 1. Aspirasi jarum halus pada tumor kelenjar saliva. 2. pembesaran ukuran massa yang cepat mengarah pada kelainan seperti infeksi. 54-80% dari tumor adalah jinak. pertumbuhan yang cepat. Stem sel dari duktus interkalated dapat menimbulkan terjadinya karsinoma acinous. walaupun tidak sensitif atau spesifik seperti pada tumor –tumor lain ( contohnya tiroid) adalah sangat berguna untuk membedakan antara proses maligna dan benigna. 2. 6. 7. degenerasi kistik. Lesi malignansi biasanya menimbulkan gejala seperti gangguan nervus fasialis. Tumor parotid benigna sering muncul sebagai massa tidak nyeri dan pertumbuhan lambat sering di bagian kaudal kelenjar parotid. Gejala Klinik Gejala klinik yang ditimbulkan adalah timbulnya massa pada daerah wajah (parotis). lesi yang terfiksir dan pembesaran kelenjar getah bening cervikal. pada angulus mandibula (parotis dan submandibula). parastesia. 3. 7-15% terjadi di kelenjar submandibular dan kurang dari 1% di kelenjar sublingual. leher (submandibula) atau pembengkakan pada dasar mulut (sublingual). mixed tumor. squamous dan mukoepidermoid karsinoma berasal dari sel-sel duktus ekskretori. sedangkan stem sel dari duktus ekskretorius menimbulkan terbentuknya skuamous dan mukoepidermoid karsinoma. onkotik tumor dan Warthin's tumor.

konsistensi. Palpasi secara sistematis dari leher untuk limfadenopati dan tumor Warthin yang jarang terjadi juga harus dilakukan. 8.Tumor jinak kelenjar saliva 4. dan langsung tampak adanya trismus. untuk dapat melihat asimetrisitas yang mungkin lolos dari perhatian kita. Palpasi yang dilakukan dengan teliti dapat mengarah ke penilaian lokalisasi tumor dengan tepat. pembesaran massa soliter yang perlahan dan tidak nyeri di kelenjar liur tumor lobus parotid yang dalam dapat muncul sebagai pembengkakan palatum mole yang tidak simetris dan tidak nyeri. Dengan inspeksi dalam keadaan istirahat dan pada gerakan dapat ditentukan apakah ada pembengkakan abnormal dan dimana. sirosis. dan hubungan dengan sekelilingnya. 6. operasi yang pernah dilakukan pada kelenjar ludah dan penyakit tertentu yang dapat menimbulkan pembengkakan kelenjar ini (diabetes. ukuran (dalam cm). alkoholisme). diazepam. bagaimana keadaan kulit dan selaput lendir di atasnya dan bagaimana keadaan fungsi nervus fasialis. Juga obatobat seperti opiate. Penderita juga harus diperiksa dari belakang. antihipertensi. sitologi aspirasi jarum halus dan pencitraan dapat membantu dalam diagnosis operasi eksisi total adalah terapi yang paling kuratif. bentuknya. Berikut ini kelainan patologi yang dapat terjadi : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Penyakit dengan metastase ke kelenjar lymph Reactive lymph nodes HIV infection Sarcoidosis Masseteric hypertrophy Prominent transverse cervical process of C1 9 . karena obat-obat ini menurunkan fungsi kelenjar ludah. Jika mungkin palpasi harus dilakukan bimanual. derivate fenotiazin. Kadang-kadang pada inspeksi sudah jelas adanya fiksasi ke jaringan sekitarnya. dan klordiazepoksid dapat menyebabkan pembengkakan. 5. Pemeriksaan Pada anamnesis harus ditanyakan mengenai radiasi terdahulu pada daerah kepala-leher. hepatitis. 7.

Foto rontgen kepala dan leher dapat menunjukkan ada atau tidak ada gangguan tulang atau mungkin penting juga untuk diagnostik diferensial (batu kelenjar ludah. Pilihan terapi dapat ditentukan berdasarkan penemuan ini. Aspirasi jarum halus adalah sangat berguna dalam menentukan massa asimtomatik di regio kelenjar parotid atau di ruang submandibular adalah kelenjar yang asli atau tidak. kelenjar limfe yang mengalami kalsifikasi). hemangioma kavernosus dan jaringan ekstraglandular ektopik. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan sitologik (biopsi jarum kecil) sangat penting dalam diagnostik pembengkakan yang dicurigai tumor kelenjar ludah. adenoma duktus papilla. adenoma sebasea. Dengan ekografi atau CT. lokalisasi. Diagnosis banding Diagnosis banding dari tumor kelenjar saliva bukan hanya dari golongan benigna tapi seorang dokter harus juga memikirkan tipe maligna. schwannoma klasik. Bermacam neoplastik benigna lain yang melibatkan kelenjar saliva harus difikirkan.Tumor jinak kelenjar saliva 7) 8) 9) Chronic parotitis Lymphangioma (paediatric) Haemangioma 9. 10. tumor epitelial kongenital. Metode ini tidak dapat membedakan antara tumor benigna dan maligna. 11. Adenoma pleomorfik dapat dibedakan dari tumor kelenjar ludah yang lain dengan MRI. Pemeriksaan dengan rontgen kontras glandula parotidea dan glandula submandibularis (sialografi) diperlukan untuk pemeriksaan lebih lanjut inflamasi (kronik) atau kalsifikasi dan dapat mempunyai arti untuk diagnosis diferensial. Dengan metode ini pada umumnya dapat dicapai diagnosis kerja sementara dan pada mayoritas tumor klinis dan sitologik benigna. tidak diperlukan lagi pemeriksaan tambahan dengan pencitraan. letaknya di dalam atau di luar kelenjar limfe. tetapi lebih baik lagi dengan MRI dapat diperoleh gambaran mengenai sifat pembatasan dan hubungan ruang tumornya: ukuran. Penanganan Operasi eksisi total tanpa melibatkan batas adalah terapi yang direkomendasikan pada 10 . Foto toraks diperlukan untuk menemukan kemungkinan metastasis hematogen.

Neoplasma ini terjadi lebih banyak pada wanita dibandingkan laki-laki dan sering pada dekade ketiga dan keenam. Eksisi total memastikan prognosis yang baik. Apabila lobus dalam parotid dalam terlibat. 12. Biasanya parotidektomi superfisial dengan memelihara nervus fasial sudah adekuat kecuali jika lobus dalam turut terlibat. eksisi submandibular total dengan memelihara batas saraf mandibular. bagaimanapun rekurensi dapat terjadi jika terdapat ruang yang positif. lingual dan hipoglossal adalah merupakan terapi pilihan. Prognosis Dengan pembuangan total tumor dan eksisi kelenjar yang terlibat. TUMOR JINAK KELENJAR SALIVA ADENOMA PLEOMORFIK Adenoma pleomorfik atau tumor campuran benigna adalah neoplasma kelenjar saliva yang paling sering.Tumor jinak kelenjar saliva tumor jinak kelenjar saliva. Hanya sedikit informasi yang diketahui tentang insidens transformasi maligna tumor pada kelenjar submandibular. Radiasi tidak diindikasikan pada tumor kelenjar saliva yang jinak. Tumor yang kambuh biasanya multinodular. resiko pada nervus fasial meningkat. Tumor ruang parafaringeal memerlukan reseksi dengan pendekatan transservikal. Komplikasi Komplikasi dari adenoma pleomorfik adalah jarang dan termasuk transformasi maligna menjadi karsinoma bekas adenoma pleomorfik. Transformasi maligna dan rekurensi adalah jarang. adenoma 11 . Dengan eksisi yang berulang pada rekurensi. prognosisnya adalah sangat baik. Enukleasi saja tidak mencukupi untuk tumor kelenjar parotid. Ia merupakan 60-70% dari semua tumor parotid dan 90% dari tumor jinak submandibular. adenoma monomorfik dan tumor kelenjar liur benigna. 13. Rekurensi dapat disebabkan oleh margin yang tidak adekuat ataupun multisentrik pada kasus tumor Warthin. Transformasi maligna adalah jarang pada tumor Warthin.

12 .susah mengunyah. Apabila tumor ini di jumpai pada kelenjar saliva minor. Gambar 1 Gambaran klinis penderita Adenoma pleomorfik (kanan). Meskipun Adenoma Pleomorfik tumor “jinak” tumor ini adalah aneuploid. Gejala yang timbul seperti : dysphagia. dan epistaxsis. tetapi mempunyai kapasitas tumbuh membesar dan berubah menjadi malignant membentuk carsinoma. bulat. bergerak (mobile). keras. Gejala dan tanda tumor ini tergantung pada lokasinya. bermetastase jauh dalam jangka waktu yang lama. Ketika di jumpai pada kelenjar parotid kelumpuhan nervus fasialis jarang di jumpai. menyerang jaringan normal. Ia tampak sebagai pembengkakan terisolasi ataupun massa di kelenjar submandibular dengan disertai sedikit rasa nyeri. Potongan diseksi Adenoma pleomorfik (kiri Adenoma Pleomorfik mempunyai gambaran klinis massa tumor tunggal. Ketika ditemukan di ekor kelenjar parotid. serak . nodul tunggal. kecuali di palatum dapat menyebabkan atropy ramus mandibula jika lokasinya pada kelenjar parotid. tumor ini akan menunjukkan satu bentuk cuping telinga (ear lobe). gejala yang timbul bermacammacam tergantung pada lokasi tumor. Meskipun Adenoma Pleomorfik digolongkan sebagai tumor jinak. dan dapat kambuh setelah reseksi. dyspnea. Faktor etiologinya belum diketahui. Adenoma Pleomorfik biasanya mobile. Suatu nodul yang terisolasi umumnya tumbuh di luar dari pada normal. tetapi apabila tumor ini bertambah besar mungkin kelumpuhan nervus fasialis bisa di jumpai. dari suatu nodul utama dibandingkan dengan suatu multinodular.Tumor jinak kelenjar saliva pleomorfik dapat terlihat sebagai tumor ruang parafaringeal dengan pembengkakan palatum mole. Seperti ketika tumor ini menjadi malignant. pertumbuhan lambat. tanpa rasa sakit.

Adenoma Pleomorfik biasanya dikelilingi oleh sebuah kapsul yang fibrous. spindle. Pada beberapa studi. apabila Adenoma Pleomorfik malignant secara alami dengan keakuratan sekitar 90%. dan papillary. Area squamous metaplasia dan ephitel pearls bisa di lihat. Aspirasi preparat sebelum teknik citology dilakukan. 20mL syringe. Adenoma Pleomorfik tidak mempunyai kapsul. oncocytic. tipe myoepitel sel lebih sering muncul dengan bentuk sel plasmasytoid kemudian tipe spindle sel. tetapi diselubungi oleh pseudocapsul yang berserat dari bermacam-macam ketebalannya. Secara klasik Adenoma Pleomorfik adalah bifasik dan karakteristiknya merupakan satu campuran epitel poligonal dan elemen myoepitel spindle-shaped membentuk unsur dengan latar belakang stroma oleh mukoid. solid. spindle atau stellate-shaped cells (bentuk pleomorphism). pseudopodia. Alat-alat FNAB ini terdiri dari 22-25 gauge needle. dengan bermacam-macam ketebalan yang tidak sempurna terutama dalam tumor-tumor mukoid (gambar 4. A dan B). FNAB ini sangat akurat dan merupakan satu cara yang dilakukan untuk mendiagnosa tumor dari inflamasi sebelum reseksi bedah dilakukan. tubular. Sel-sel mioepitel memperlihatkan gambaran plasmasytoid. Penyebab kambuhnya Adenoma Pleomorfik dalam kasus perawatan dengan simple enuclease atau pada kasus dimana reseksi bedah inadekuat dalam membuka margin. Diagnosa histopatologi Adenoma Pleomorfik dapat juga dilakukan dengan prosedurprosedur sampling termasuk fine needle aspiration biopsy (FNAB) dan coore nedlee biopsy (bigger needle comparing to byopsi). dan penetrasi kapsul bisa dilihat diluar kapsul. myxoid. cystic. Tumor ini meluas dari keadaan normal melalui parenkim kedalam bentuk pseudopodia seperti jari.2 FNAB juga dapat mendeteksi tumor primer kelenjar saliva dari metastase. Core needle biopsy lebih akurat dibanding dengan FNAB dengan ketelitian diagnostik lebih besar dari 97%. Semua elemen seluler muncul dengan cytologic lembut tanpa akivitas mitotik. Diagnosis banding untuk adenoma pleomorfik harus termasuk neoplasma maligna 13 . Elemen-elemen epitel disusun membentuk struktur seperti duktus. epiteloid. Pada kelenjar parotid. FNAB dioperasikan dengan mengunakan tangan. Komponen epitel terdiri dari epitel dan mioepitel sel dengan pertumbuhan yang menyimpang. Kedua prosedur ini bisa dilakukan pada pasien rawat jalan. kartilago atau hyalin. Pada kelenjar saliva minor tidak adanya kapsul bisa di lihat. lembaranlembaran yang poligonal. dan bentuk sel jernih. Sel epitel murni dan sebagian kuboidal.dan syringe holder spesial untuk vakum yang baik.Tumor jinak kelenjar saliva Gambaran Histopatologi Adenoma Pleomorfik mempunyai gambaran yang bervariasi. Secara mikroskopis satelit tumor dengan nodul kecil-kecil. Tetapi bukan suatu tanda perubahan bentuk yang malignant. sheets. termasuk trabekular.

ia telah digunakan sewaktu-waktu untuk mengawal kekambuhan adenoma pleomorfik. Ia muncul dari epitelium duktus ektopik. parotidektomi superfisial dengan margin yang jelas adalah terapi untuk adenoma pleomorfik yang terletak di lobus superior kelenjar parotid. Tumor ini lebih sering ditemukan pada laki-laki sekitar usia dekade kelima dan resikonya berhubungan dengan perokok. Komplikasi yang jarang pada adenoma pleomorfik termasuk transformasi maligna menjadi tumor yang dikenali sebagai karsinoma bekas adenoma pleomorfik atau kadang-kadang tumor campuran metastasis benigna. Benigna di sini menjelaskan secara histologis tetapi tidak menjelaskan sifat patologis. Secara histologis ia tampak sebagai struktur papilar yang mengandung dua lapisan sel-sel eosinofilik granular atau onkosit. Walaupun radiasi tidak terindikasi dalam terapi tumor kelenjar liur benigna. Prognosis untuk adenoma pleomorfik adalah baik dengan kadar 96% tidak terjadi kekambuhan.Tumor jinak kelenjar saliva seperti karsinoma kistik adenoid. perubahan kistik dan inflitrasi lomfositik matur. neoplasma adneksa letak dalam dan neoplasma mesenkimal. Operasi eksisi total pada tumor ini tanpa melibatkan margin/ruang adalah terapi yang direkomendasikan. 14 . adenokarsinoma gred-rendah polimorfosa. Sebagai contoh. TUMOR WARTHIN Tumor Warthin juga dikenal sebagai limfomatosum kistadenoma papilar dan sering ditemukan di kelenjar parotid. Tumor Warthin merupakan kira-kira 5% dari semua tumor kelenjar liur dan kira-kira 12% dari tumor benigna kelenjar parotid.

Tumor warthin Kira-kira 5.Tumor jinak kelenjar saliva Gambar 2. Diagnosis tumor Warthin mudah ditentukan berdasarkan penemuan histologis dengan hanya sedikit kekeliruan dengan tumor lain. Adenoma monomorfik telah di subklasifikasikan kepada kelompok neoplasma epitelial dan mioepitelial yang mencakup adenoma sel basal. 1. adenokarsinoma sel basal dan ameloblastoma. ADENOMA MONOMORFIK Tumor yang pertumbuhannya lambat seperti ini adalah kurang dari 5% dari semua tumor kelenjar liur. CT scan dapat memberi gambaran massa yang jelas di bagian posteroinferior pada lobus superfisial kelenjar parotid. terlihat peningkatan aktivitas yang berhubungan dengan adanya onkosit-onkosit dan peningkatan isi mitokondria. Tipe histologis termasuk tubular. Adenoma monomorfik berbeda dari adenoma pleomorfik yaitu ia hanya mengandung satu jenis morfologis sel. Kelenjar parotid adalah kelenjar yang sering terkena. Adenoma sel basal terjadi sama diantara laki-laki dan wanita dan biasanya sekitar usia dekade keempat dan kesembilan. silindroma dan solid.0-7. adenoma kanalikular. Adenoma sel basal harus dapat dibedakan dengan karsinoma kistik adenoid. 2. onkositoma atau adenoma oksifilik dan mioepitelioma. Adenoma Kanalikuler Adenoma kanalikuler adalah neoplasma benigna yang mengenai kelenjar liur minor. Terapinya memerlukan eksisi total dari bagian kelenjar yang terkena disertai dengan margin yang tidak terlibat. Tipe solid adalah yang paling sering.5% adalah bilateral dan 14% multisentrik pada tumor Warthin. Jika radiosialografi dilakukan. 15 . trabekular. Adenoma Sel Basal Adenoma sel basal merupakan 2% dari semua neoplasma kelenjar liur epitelial.

3. Adenoma kanalikuler mudah menjadi multifokal dan sering terdapat pada mukosa bibir atas terutama pada lanjut usia. radiosialografi dapat mendemonstrasikan pengambilan teknetium-99m yang tinggi. Patogenesisnya masih dalam perdebatan dan adakah tumor ini adalah neoplasma sejati. Ia juga harus dibedakan dari adenokarsinoma. adenokarsinoma sel asinik. Dengan adanya kadar mitokondria yang tinggi di dalam sel. karsinoma sel ‘clear’ dan sel renal metastase atau karsinoma tiroid. Bagaimanapun sekarang ia dikenali sebagai entiti yang berbeda berdasarkan gambaran histologis. Operasi eksisi tanpa melibatkan margins adalah terapi yang dianjurkan dan onkositoma adalah bersifat radioresisten. Tidak ada 16 . 4. karsinoma kistik adenoid. Sitoarsitektur pada tumor ini lebih jelas dilihat dengan mikroskopis elektron.Tumor jinak kelenjar saliva Tumor ini pernah menjadi subtipe dari adenoma sel basal. tumornya muncul sebagai massa yang tumbuh lambat dan tidak nyeri yang sering keras dan kadang-kadang kistik. Onkositoma mudah dibedakan dari tumor Warthin dan adenoma pleomorfik. Onkositoma merupakan kurang dari 1% dari semua neoplasma kelenjar liur. Kelenjar parotid adalah tempat yang paling sering terjadinya onkositoma diikuti dengan kelenjar submandibular. Bagaimanapun. Tumor multipel juga pernah dilaporkan. Ia mengandung hampir semuanya sel-sel mioepitelial. Onkositoma Tumor jinak ini mengandung sel-sel epitelial berbentuk polihedron yang besar yang dikenali sebagai onkosit. Onkositoma dapat terjadi akibat proses hiperplasia. ia juga harus dibedakan dengan karsinoma mukoepidermoid. Eksisi total intraoral adalah bersifat kuratif walaupun multifokal pada penyakit ini dapat mempredisposisi rekurensi jika semua fokal tidak dibuang. Di tempat-tempat ini. Mioepitelioma Mioepitelioma adalah subtipe dari adenoma monomorfik yang merupakan kurang dari 1% dari neoplasma kelenjar liur. proses metaplasia atau keduaduanya. yang penuh dengan sitoplasma eosinofilik bergranular dan mitokondria. Tidak ada predileksi jenis kelamin dan terjadi pada dekade keenam hingga kelapan. Pembengkakan kelenjar parotid dapat difus dengan kira-kira 7% terjadi bilateral.

schwannoma. Secara histologis. Pada anak-anak. Klinis Hemangioma biasanya muncul pada waktu lahir sebagai massa unilateral dan tidak nyeri. hemangioma kapiler adalah tumor kelenjar liur yang paling sering yaitu lebih dari 90% tumor kelenjar liur terjadi pada anak-anak di bawah usia 1 tahun. Karena ia berpotensi ke arah maligna. Pemeriksaan histopatologis memberikan gambaran sel-sel poligonal dengan sitoplasma granular eosinofilik yang banyak dan nukleus-nukleus pleomorfik ringan yang berbentuk bulat hingga oval. HEMANGIOMA Pendahuluan Walaupun bukan berasal dari glandular.Tumor jinak kelenjar saliva predileksi jenis kelamin dan mioepitelioma sering terjadi pada dekade ketiga hingga keenam. Tumor ini terjadi di kelenjar parotid sebanyak 40%. Aspirasi jarum halus dapat menunjukkan proses neoplastik. Tumor jinak ini berasal dari sel endotelial dan merupakan kurang dari 5% dari semua tumor kelenjar liur. Tumor in mengenai perempuan lebih banyak dari laki-laki dan sering terdapat pada kelenjar parotid. mioepitelioma adalah terkapsulasi. TUMOR SEL GRANULAR Tumor sel granula adalah benigna dengan potensi menjadi maligna dan sering berhubungan dengan kelenjar liur minor. mudah digerakkan dan tidak nyeri. 17 . plasmasitoma. Diagnosis bandingnya termasuk tumor campuran. Terdapat tipe sel spindel dan sel plasmasitoid. kombinasi dari eksisi lokal yang luas dan observasi yang ketat merupakan terapi yang paling berkesan. Pertumbuhannya proliferatif dan cepat yang sering menyebabkan deformitas kosmetik. leiomioma. karsinoma sel spindel dan histiositoma fibrosa. Tumor ini cenderung terjadi pada kavum oral dan sangat tersirkumsrip. hemangioma adalah signifikan sebagai diagnosis banding massa parotid terutama pada anak-anak.

MRI atau keduanya dapat menunjukkan gambaran vaskularisasi pada lesi. Diagnosis banding termasuk kelainan proliferatif vaskular seperti limfangioma dan hemangioma kavernosa. Pada anak-anak semakin superfisial lokasi dari nervus fasial dibandingkan pada orang dewasa yang mana penting untuk dipertimbangkan dalam mengidentifikasi saraf tersebut sewaktu intraoperatif. IV KESIMPULAN 18 . jika terdapat gangguan fungsional ataupun kosmetik. BAB.Tumor jinak kelenjar saliva Aspirasi jarum halus biasanya tidak penting. Penanganan Kemungkinan untuk regresi spontan ada dan karena itu operasi eksisi dapat ditunda. CT scan. eksisi total melalui parotidektomi dengan memelihara nervus fasial adalah indikasi. Transformasi maligna belum pernah dilaporkan. Bagaimanapun.

Tumor jinak kelenjar liur biasanya bersifat mobile dan untuk massa atau tumor jinak yang berasal dari parotis tidak ada gangguan fungsi nervus fasialis. Operasi eksisi total tanpa melibatkan batas adalah terapi yang direkomendasikan pada tumor jinak kelenjar saliva. Dengan pembuangan total tumor dan eksisi kelenjar yang terlibat. Jakarta : EGC. Boies.Tumor jinak kelenjar saliva Neoplasia adalah pembentukan jaringan baru yang abnormal dan tidak dapat terkontrol oleh tubuh. Tumor bisa mengenai seluruh organ tubuh termasuk pada tumor kelenjar saliva. degenerasi kistik. leher (submandibula) atau pembengkakan pada dasar mulut (sublingual). parastesia. Adapun tumor jinak yang sering ditemukan antara lain adalah adenoma pleomorfik yang merupakan tumor kelenjar liur yang paling sering terjadi. Buku Ajar Penyakit THT edisi 6. Lesi malignansi biasanya menimbulkan gejala seperti gangguan nervus fasialis. et al. prognosisnya adalah sangat baik. henoragik atau malignansi. pembesaran ukuran massa yang cepat mengarah pada kelainan seperti infeksi. Ada dua tipe neoplasia. Banyak faktor penyebab yang dapat meransang terjadinya tumor. Pada tumor kelenjar saliva bisa bersifat tumor jinak dan tumor ganas. Lawrence R. Gejala klinik yang ditimbulkan adalah timbulnya massa pada daerah wajah (parotis). 1997. pertumbuhan yang cepat. Transformasi maligna dan rekurensi adalah jarang. DAFTAR PUSTAKA 1. tumor jinak lain yang mungkin terjadi adalah: kistadenoma papiler limfomatosa atau dikenal juga dengan nama tumor Warthin yang sering terjadi pada orang tua. Tumor ruang parafaringeal memerlukan reseksi dengan pendekatan transservikal. Selain itu. 19 . Sebagian besar tumor kelenjar saliva adalah jinak. Faktor ini digolongkan kedalam dua kategori yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Biasanya parotidektomi superfisial dengan memelihara nervus fasial sudah adekuat kecuali jika lobus dalam turut terlibat. yaitu neoplasia jinak (benign) dan neoplasia ganas (malignant). lesi yang terfiksir dan pembesaran elenjar getah bening cervikal. pada angulus mandibula (parotis dan submandibula).

Elsevier : Mosby.gif. Protokol Penatalaksanaan Tumor/ Kanker Kelenjar Liur.com/2010/01/.2011 8. Accesed May 14. Available at : http://www. 2nd Edition.blogspot. Departement og General Surgey Rich Medical College. Moh. Paul. Flint W.Tumor jinak kelenjar saliva 2.L.info/kanker-kelenjar-liurpengobatan-20110203. New York. Spiro Ronald.aboutcancer. et al. Salivary Anatomy Figure. Available at: http://karikaturijo. Cancer. 5th. Lange Mc Graw-Hill. com/salivary_anatomy_nett. 5. Vol. Ed. Malignant Tumor of Salivary Gland.62-67. Fikih. Dennis. 2011 20 . Accesed June 5. Dalam : Springer. Anonymous. Fidelia Yuan-Shin Butt. Cumming Otolaryngology Head and Neck Surgery. The indications for the elective treatment of the neck in cancer of the major salivary glands. Jakarta: Penerbit FKUI:2007. Surgical Oncology An Algorithmic Approach. Tumor Kelenjar Liur. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1992. Abdurrahman B. Accesed May 14. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Available at: http://ilmubedah. Jakarta. 2011. Benign diseases of the salivary glands.html. Hermani B. Kartosudiro S. 9. 1. 2007 3. Harrison LB. Thaler HT. Salivary Glands. 2008. 69: 615–19 10. Chicago:2001. Edisi keenam. Wan. 7. Current Diagnosis and Treatment. 2010 6. Anonymous. 304-307 4. Otolaryngology Head and Neck Surgery. Section V. Kanker Kelenjar Liur. Armstrong JG. Desen. Anil K. Dalam : Buku Ajar Onkologi Klinis Edisi 2. Lim.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful