BAB I PENDAHULUAN

Rinitis alergi merupakan inflamasi dari membran nasal dan ditandai oleh gejala-gejala yang terdiri dari kombinasi berikut ini: bersin, hidung tersumbat, rasa gatal dan rinore.2 Definisi rhinitis alergi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal, dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh Ig E.1 Alergen yang paling umum diantaranya adalah debu, binatang peliharaan, jamur dan serbuk sari. Alergen timbul dengan waktu dan tempat yang bervariasi, mengetahui alergen yang berada dalam lingkungan dengan waktu yang spesifik dalam setahun membantu diagnosis dan pengobatan serta pencegahan rinitis alergi. Terpaparnya alergen dapat menyebabkan inflamasi pada saluran nafas atas dan bawah,termasuk hidung dan paru.2 Rinitis alergi adalah penyebab paling umum dari rinitis, dan berdampak sekitar 20% dari populasi masyarakat. Walaupun termasuk penyakit yang umum dijumpai, efek pada kehidupan sehari-hari tidak dapat diremehkan. Pasien dengan rinitis alergi merasa penyakitnya sama beratnya dengan asma berat dalam penurunan aktivitas harian. Pekerja dengan riwayat alergi yang tidak kunjung sembuh dilaporkan 10% kurang produktif dibandingkan pekerja yang tidak memiliki riwayat alergi, dan pekerja yang menjalani pengobatan untuk rinitis alergi dilaporkan 3% kurang produktif. Hal ini menunjukkan bahwa pengobatan yang efektif dapat menekan keseluruhan biaya dari penurunan produktivitas.5

Rinitis Alergi

Page 1

BAB II RINITIS ALERGI

2.1

Definisi Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (Von Pirquet, 1986).1 Definisi rhinitis alergi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal, dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh Ig E.1 Alergen yang paling umum diantaranya adalah debu, binatang peliharaan, jamur dan serbuk sari. Alergen timbul dengan waktu dan tempat yang bervariasi, mengetahui alergen yang berada dalam lingkungan dengan waktu yang spesifik dalam setahun membantu diagnosis dan pengobatan serta pencegahan rinitis alergi. Terpaparnya alergen dapat menyebabkan inflamasi pada saluran nafas atas dan bawah,termasuk hidung dan paru.1

2.2

Etiologi Rinitis alergi dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini:1 a. faktor herediter (riwayat rinitis alergi dalam keluarga) b. faktor lingkungan (pajanan debu dan jamur) c. pajanan alergen (serbuk sari, bulu hewan, dan makanan) d. perokok pasif (terutama dalam masa kanak-kanak) e. polusi pabrik.

Rinitis Alergi

Page 2

Pada bayi dan balita, alergen berupa makanan seperti susu, telur, kedelai serta debu dan alergen inhalan merupakan penyebab utama dari rinitis alergi dan menjadi komorbid dari penyakit dermatitis atopi, otitis media, dan astma. Pada anak yang lebih besar, serbuk sari mejadi faktor penyebab rinitis alergi.1

2.3

Patofisiologi Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi/ reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu Immediate Phase Allergic Reaction atau Alergi Fase Cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 setelahnya dan Late Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiper-reaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam.1

Gambar 1. Patofisiologi rinitis alergi (paparan pertama pada alergen) Gambar diatas menunjukkan paparan terhadap antigen. Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah diproses, antigen akan membentuk fragmen pendek peptida dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptida MHC kelas II (Major Histo Compatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper (Th 0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (lL 1) Rinitis Alergi Page 3

yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th 1 dan Th 2. Th 2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti lL 3, lL 4, lL 5 dan lL 13. lL 4 dan lL 13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi Imunoglobulin E (lgE). lgE di sirkulasi darah akan masuk kejaringan dan diikat oleh reseptor lg E di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga ke dua sel ini menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar dengan alergen yang sama, maka kedua rantai lgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Preformed Mdiators) terutama histamin. Selain histamin juga dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrien D4 9LT D4), Leukotrien C4 (LT C4), bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF) dan berbagai sitokin. (lL3, lL4, lL6, lL6, (PAF) dan berbagai sitokin. (lL3, lL4, lL5, lL6, GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Fakor) dll. Inilah yang disebut Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC).1 Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin. Histamin juga akan menyebabkan kelenjar klukosa dan sel goblekmengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Gejala lain adalah gidung tersumbat akibat vasodilatasi sinosoid. Selain histamin merangsang ujung saraf Vidianus, juga mengakibatkan rangsangan pada klukosa hidung sehingga teri pengeluaran Inter Celluler Adhesion Molecule 1 (lCAM 1).1 Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul komotaktik yang menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. Respons ini tidak berhenti sampai disini saja, tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak 6 8 jam setelah pemaparan. Pada RAFL ini ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit, netrofil, basofil dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti seperti IL3, IL4, IL5 dan Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GMCSF) dan ICAM 1 pada sekret hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperrresponsif hidung akibat peranan eosinofil dan mediator inflamasi Rinitis Alergi Page 4

dari granulnya seperti Eosiniphilic derived protein (EDP), Major Basic Protein (MPB) dan Eosinophilic peroxidase (EPO). Pada fase ini, selain factor spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembaban udara yang tinggi.1

Gambar 2. Patofisiologi rinitis alergi ( early and late phase reaction )

2.4

Gambaran histologik Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh darah (vascular bad) dengan pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mucus. Terdapat juga pembesaran ruang interseluler dan penebalan membrane basal, seta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada jaringan mukosa dan submukosa hidung.1 Gambaran yang demikian terdapat pada saat serangan. Diluar keadaan serangan, mukosa kembali normal. Akan tetapi serangan dapat terjadi terus menerus/persisten

Rinitis Alergi

Page 5

sepanjanjang tahun, sehingga lama kelamaan terjadi perubahan yang ireversibel, yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat dan hyperplasia mukosa, sehingga tampak mukosa hidung menebal.1 Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi atas :1 1. Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan udara penapasan, misalnya tungau debu rumah (D. pteronyssinus, D.farinae, B.tropicalis), kecoa, serpihan epitel kulit binatang (kucing, anjing), rerumputan (Bermuda grass) serta jamur (Aspergillus, Alternaria). 2. Alergen ingestan yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, sapi, telur, coklat, ikan laut, udang kepting dan kacang-kacangan. 3. Alergen injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin dan sengatan lebah. 4. Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan komestik, perhiasan. Satu macam alergen dapat merangsang lebih dari satu organ sasaran, sehingga memberi gejala campuran, misalnya tungau debu rumah yang memberi gejala asma bronkial dan rinitis alergi.1 Dengan masuknya antigen asing ke dalam tuuh terjadi reaksi yang secara garis besar terdiri dari:1 1. Respons PrimerTerjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (ag). Reaksi ini bersifat non spesifik dan dapat berakhir sampai disini. Bila Ag tidak berhasil seluruhnya dihilangkan, reaksi berlanjut menjadi respons sekunder. 2. Respons SekunderReaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang mempunyai 3 kemungkinan ialah sistim imunitas selular atau humoral atau keduanya dibangkitkan. Bila Ag berhasil dieliminasi pada tahap ini, reaksi selesai. Bila Ag masih ada atau memang sudah ada defek dari sistim imunologik, maka berlanjut menjadi respons tertier. 3. Respons TertierReaksi imunologik yang terjadi ini tidak menguntungkan tubuh. Reaksi ini dapat bersifat sementara atau menetap, tergantung dari daya eliminasi Ag oleh tubuh. Rinitis Alergi Page 6

Gell dan coombs mengklasifikasikan reaksi ini atas 4 tipe, yaitu tipe 1, atau reaksi anafilaksis (immediate hypersentitivity), tipe 2 atau reaksi sitotoksik/sitolitik, tipe 3 atau reaksi kompleks imun dan tipe 4 atau reaksi tuberkulin (delayed hypersensitivity). Manifestasi klinis kerusakan jaringan yang banyak dijumpai dibidang THT adalah tipe 1 yaitu rinitis alergi.1

2.5

Klasifikasi Dahulu rinitis alergi dibedakan dalam 2 macam berdasarkan sifat berlangsungnya, yaitu:1 1. Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis). Di indonesia tidak dikenal rinitis alergi musiman, hanya ada di negara yang mempunyai 4 musim. Alergen penyebabnya spesifikm, yaitu tepungsari (pollen) dan spora jamur. Oleh karena itu nama yang tepat ialah polinisis atau rino konjungtivitis karena gejala klinik yang tampak ialah gejala pada hidung dan mata (mata merah, gatal disertai lakrimasi). 2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial). Gejala pada penyakit ini timbul intermiten atau terus menerus, tanpa variasi musim, jadi dapat ditemukan sepanjang tahun. Penyebab yang paling sering ialah alergen inhalan, terutama pada orang dewasa, dan alergen inhalan utama aladalah alergen diluar rumah (outdoor). Alergen ingestan sering merupakan penyebab pada anak-anak dan biasanya disertai dengan gejala alerg yang lain, seperti urtikaria gangguan pencernaan. Gangguan fisiologik pada golongan perenial lebih ringan dibandingkan dengan golongan musiman tetapi karena lebih persisten maka komplikasinya lebih sering ditemukan.

Saat ini digunakan klasifikasi rinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO initiative ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001, yaitu berdsarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi:1 1. Intermiten (kadang-kadang): bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atatu kurang dari 4 minggu. 2. Persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu.

Rinitis Alergi

Page 7

Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi dua: 1. Ringan bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian, bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu. 2. sedang-berat bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas.

2.6

Diagnosis Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan :1 Anamnesis Anamnesis sangat penting, karena seirng kali serangan tidak terjadi dihadapan pemeriksa. Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari Anamnesis saja.1 Pasien dengan rhinitis alergi mungkin mempunyai kondisi atopi lain seperti asma.5 Gejala rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin berulang. Sebetulnya bersin merupakan gejala yang normal, terutama pada hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning prosess). Bersin ini terutama merupakan gejala pada RAFC dan kadang-kadang pada RAFL sebagai akibat dilepaskannya histamin. Gejala lain adalah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Sering kali gejala yang timbul tidak lengkap, terutama pada anak. Kadang-kadang keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan utama atau satu-satunya gejala yang diutarakan oleh pasien.1

Pemeriksaan fisik Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat atau livid disertai adanya sekret encer yang banyak. Bila gejala persisten, mukosa inferior tampak hipertrofi. Pemeriksaan nasoendoskopi dapat dilakukan bila fasilitas tersedia. Gejala spesifik lain pada anak ialah terdapatnya bayangan gelap di daerah bawah mata yang terjadi karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. Gejala ini disebut allergic shiner. Selain dari itu sering juga tampak anak menggosok-gosok hidung, karena gatal, dengan punggung tangan. Keadaan ini disebut sebagai allergic salute. Keadaan Rinitis Alergi Page 8

menggosok hidung ini lama kelamaan akan mengakibatkan timbulnya garis melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah, yang disebut allergic crease.mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi, sehingga akan menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi geligi (facies adenoid). Dinding posterior faring tampak granuler dan edema (cobblestone appearance), serta dinding lateral faring menebal. Lidah tampak seperti gambaran peta (geographic tongue).1

Pemeriksaan penunjang In vitro: Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Demikian pula pemeriksaan IgE total (prist- paper radio immune sorbent test) sering kali menunjukan nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit, misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria. Pemeriksaan berguna untuk prediksi kemungkinan alergi pada bayi atau anak kecil dari suatu keluarga dengan derajat alergi yang tinggi. Lebih bermakna adalah pemeriksaan IgE spesifik dengan RAST (Radio immune Sorbent Test) atau ELISA (Enzym Linked Immuno Sorbent Assay Test). Pemeriksaan sitologi hidung, walaupun tidak dapat memastikan diagnosis, tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak menunjukan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil (> 5 sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel PMN menunjukan adanya infeksi bakteri.1

In vivo: Alergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukil kulit, uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point Titration/SET). SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi. Keuntungan SET, selain allergen penyebab juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui.1 Untuk alergi makanan, uji kulit yang akhir-akhir ini banyak dilakukan adalah Intracutaneus Provocative Dilutional Food Test (IPDFT), namun sebagai baku emas dapat dilakukan dengan diet eliminasi dan provokasi (“ Challenge Test”).1 Rinitis Alergi Page 9

Allergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu lima hari. Karena itu pada “Challenge Test”, makanan yang dicurigai diberikan pada pasien setelah berpantang selama 5 hari, selanjutnmya diamati reaksinya. Pada diet eliminasi, jenis makanan setiap kali dihilangkan dari menu makanan sampai suatu ketika gejala menghilang dengan meniadakan suatu jenis makanan.1

2.7

Terapi Terapi rhinitis alergi antara lain:1 1. Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan alergen penyebabnya (avoidance) dan eliminasi. 2. Farmakoterapi a. Antihistamin Antihistamin yang dipakai adalah antagonis histamine H-1, yang bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target, dan merupakan preparat farmakologik yang paling sering dipakai sebagai lini pertama pengobatan rhinitis alergi. Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral. Antihistamin dibagi dalam 2 golongan yaitu golongan antihistamin generasi-1 (kalsik) dan generasi-2 (non sedatif), antihistamin generasi-1 bersifat lipofilik, sehingga dapat menembus sawar darah otak (mempunyai efek pada SSP) dan plasenta serta mempunyai efek kolinergik. Yang termasuk kelompok ini antara lain adalah difenhidramin, klorfeniramin, prometasin, siproheptadin sedangkan yang dapat diberikan secara topikal adalah azelastin. Antihistamin generasi-2 bersifat lipofobik. Sehingga sulit menembus sawar darah otak. Bersifat selektif mengikat reseptor H-1 perifer dan tidak mempunyai efek antikolinergik, antiandrenergik dan efek pada SSP minimal (nonsedatif). Antihistamin diabsorpsi secara oral dengan cepat dan mudah serta efektif untuk mengatasi gejala pada respons fase cepat seperti rinore, bersin, gatal, tetapi tidak efektif untuk mengatasi gejala obstruksi hidung pada fase lambat. Antihistamin non sedatif dapat dibagi menjadi 2 golongan menurut keamanannya. Kelompok pertama adalah astemisol dan terfenadin yang mempunyai efek kardiotoksik. Toksisitas

Rinitis Alergi

Page 10

terhadap jantung tersebut disebabkan repolarisasi jantung yang tertunda dan dapat menyebabkan aritmia ventrikel, henti jantung dan bahkan kematian mendadak (sudah ditarik dari peredaran), kelompok kedua adalah loratadin, setirisin, fexofenadin, desloratadin dan levosetirisin. Respon terhadap pengobatan seperti antihistamin mendukung diagnosis rinitis alergi, walaupun bersin-bersin, rasa gatal, dan rinorea berhubungan dengan rhinitis nonalergi yang juga membaik dengan antihistamin.4 b. Kortikosteroid Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala terutama sumbatan hidung akibat respons fase lambat tidak berhasil diatasi dengan obat lain. Yang sering dipakai adalah kortikosteroid topikal (beklometason, budesonid, flunisolid,flutikason, mometason furoat dan triamsinolon). Kortokosteroid topikal bekerja untuk mengurangi jumlah sel mastosit pada mukosa hidung, mencegah pengeluaran protein sitotoksik dari eosinofil, mengurangi aktifitas limfosit, mencegah bocornya plasma. Hal ini menyebabkan epitel hidung tidak hiperresponsif terhadap rangsangan allergen (bekerja pada respon fase cepat dan lambat). c. Dekongestan Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergic alfa dipakai sebagai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan antihistamin atau topikal. Namun pemakaian secara topikal hanya boleh untuk beberapa hari saja untuk menghindari terjadinya rhinitis medikamentosa. d. Antikolinergik topikal Preparat antikolinergik topikal adalah ipatropium bromide, bermanfaat untuk mengatasi rinore, karena aktifitas inhibisi reseptor kolinergik pada permukaan sel efektor. e. Inhibitor leukotrien pengobatan baru lainnya untuk rhinitis alergi adalah anti leukotrien (zafirlukast/ montelukast), anti IgE, DNA rekombinan.

3. Operatif

Rinitis Alergi

Page 11

Tindakan konkotomi parsial (pemotongan sebagian konka inferior), konkoplasti atau multiple outfractured, inferior turbinoplasty perlu dipikirkan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.

4. Imunoterapi Cara pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama serta dengan pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan. Tujuan dari imunoterapi adalah pembentukan IgG blocking antibody dan penurunan IgE. Ada 2 metode imunoterapi yang umum dilakukan yaitu intradermal dan sub-lingual.

2.8

Komplikasi Komplikasi rinitis alergi yang sering ialah:1 1. Polip hidung Beberapa peneliti mendapatkan, bahwa alergi hidung merupakan slah satu faktor penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung. 2. Otitis media efusi yang sering residif, terutama pada anak-anak. 3. Sinusitis paranasal.

2.9

Prognosis Sebagian besar pasien dapat hidup normal. Hanya pasien yang mendapat imunoterapi untuk alergen spesifik yang dapat sembuh dari penyakitnya dan banyak juga pasien yang melakukan pengobatan simtomatik saja secara intermiten dengan baik. Rinitis alergi mungkin dapat timbul kembali dalam 2-3 tahun setelah pemberhentian imunoterapi. Gejala rinitis alergi akan menurun pada pasien bila mencapai umur 4 dekade.3

Rinitis Alergi

Page 12

BAB III KESIMPULAN

Rinitis alergi terjadi akibat alergen yang masuk ke dalam tubuh manusia dan alergen tersebut menimbulkan reaksi antigen – antibodi. Beberapa alergen yang sering ditemukan adalah debu rumah tangga, bulu hewan, dsb. Untuk mendiagnosis rinitis alergi, harus dilakukan anamnesis secara tepat terhadap gejala – gejala yang ada pada rinitis alergi, serta dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Rinitis alergi disebabkan oleh alergen yang masuk ke dalam tubuh manusia, sehingga pengobatan utama untuk rinitis alergi adalah pengelolaan lingkungan untuk menghindari paparan alergen. Pengobatan berikutnya dengan farmakoterapi, tetapi sampai saat ini pemberian obat – obatan hanya untuk menghilangkan gejala dari rinitis alergi saja.

Rinitis Alergi

Page 13

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi EA dkk. Rinitis Alergi, Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Kepala dan leher. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universita Indonesia.2007. 2. Boies, adam. Rinitis Alergika, Dalam: Buku Ajar Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorok. Edisi 6th. Jakarta. EGC. 1997. 3. Laurale, Sherwood. Fisiologi manusia dari sel ke system. Edisi 2th. Jakarta. EGC. 2006. 4. Hall, John E. Guyton and Textbook of Medical Physiology. Jakarta. 2010. 5. Soepardi, Arsyad dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi 6th. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2007.

Rinitis Alergi

Page 14

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful