(

BAB III IDENTIFIKASI, POTENSI, DAN MASALAH DESA KRUENG JULI BARAT

3.1.2 Rona Lingkungan
Rona lingkungan di Desa Krueng Juli Barat akan dijabarkan berdasarkan luas wilayah desa, topografi, kedalaman efektif tanah, jenis tanah, daerah rawan banjir, dan daerah rawan gempa dan tsunami. Rona lingkungan ini berdasarkan review RTW Kabupaten

3.1

Geografis dan Orientasi Wilayah A.

Bireuen.

Luas Wilayah Desa
Desa Krueng Juli Barat memiliki luas desa 61,38 ha berdasarkan hasil survai dan

3.1.1 Letak Geografis
Desa Krueng Juli Barat merupakan wilayah yang tidak berbatasan langsung dengan pantai, dilalui oleh Alur Sungai Kuala,sebagian besar wilayahnya merupakan wilayah datar. Secara administratif batas Desa Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala berbatasan dengan desa sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. Sebelah Utara bersebelahan dengan Pantai Selat Malaka. berdasarkan data Map Frame 3 luas desa 91,03 ha. Desa Desa Krueng Juli Barat merupakan salah satu desa yang memiliki tipe lokasi wilayah dekat dengan pantai.

B.

Topografi
Kondisi topografi Desa Krueng Juli Barat berada pada kemiringan lahan 0%-3% dengan ketinggian 0-5 meter dpl, kondisi ini relatif datar.

Sebelah Selatan bersebelahan dengan Desa Teumpak Tunang. Sebelah Timur Sebelah Barat bersebelahan dengan Desa Krueng Juli Timur. bersebelahan dengan Desa Beurawang.

C.

Kedalaman Efektif Tanah
Kedalaman efektif tanah di Desa Krueng Juli Barat, sebagian memiliki kedalaman efektif antara 30–60 cm (53,55%), dan sebagian lagi memiliki kedalaman efektif > 90 cm (46,46%).

Letak geografis Desa Krueng Juli Barat sesuai dengan penyelusuran koordinat Foto Udara yang dikeluarkan oleh BAKOSURTANAL versi UTM (Universal Transverse Mercator), dengan Zone 47 N.
ORIENTASI utara timur selatan barat X_COORD 232330,3974 233972,7784 231892,2406 231674,5757 Y_COORD 575947,6295 575119,3719 574797,1147 575158,9474 KETERANGAN Selat Malaka Desa Krueng Juli Timur Desa Teumpak Tunang Desa Beurawang, Desa Lipah Cut

D.

Jenis Tanah
Jenis tanah di Desa Krueng Juli Barat, meliputi: Aluvial, Hidromorf kelabu, dan Podsolik Merah Kuning. Jenis tanah Aluvial umumnya relatif subur dan sesuai untuk pengembangan pertanian, jenis tanah Podsolik Merah Kuning sesuai untuk tanaman perkebunan atau tahunan.

Desa Krueng Juli Barat dibagi menjadi 2 dusun, yaitu sebagai berikut. 1. 2. Dusun Nelayan Dusun Batee Beutong

E.

Daerah Rawan Banjir
Desa Krueng Juli Barat berpotensi rawan banjir karena daerah ini relatip datar 0-5 meter dpl, meliputi daerah sekitar muara sungai Kuala Kuala yang kondisinya mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan akresi yang menimbulkan penyempitan “Bottle Neck“ di bagian hilir (muara). Faktor penyebab lain adanya penebangan hutan di wilayah hulu sungai.

Untuk lebih jelasnya mengenai batas administrasi Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala dapat dilihat pada Gambar 3.1.

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-1

( -

Gambar 3.1

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-2

F.

Daerah Rawan Gempa dan Tsunami
No Jenis Penggunaan Lahan Kebun Makam Permukiman Sawah/Lahan Pertanian Tambak Ikan/Udang Total Luas

Desa Krueng Juli Barat berpotensi mengalami bencana kegempaan ditinjau dari tatanan struktur geologi tektonik regional Pulau Sumatra yang sewaktu-waktu dapat
3 4 5 6 7

Sebelum Bencana Persentase Luas (Ha) (%) 3,07 5,00 0,35 12,26 35,23 8,41 61,38 0,57 19,98 57,40 13,70 100,00

Setelah Bencana Luas (Ha) 3,35 0,35 12,06 35,23 8,59 61,38 Persentase (%) 5,46 0,57 19,65 57,40 14,00 100

menimbulkan gempa tektonik dengan skala 6-7 reichter, patahan-patahan tersebut. Desa Krueng Juli Barat juga berpotensi rawan tsunami yang beresiko sedang. Faktor penyebab di sepepanjang pesisir pantai tidak terdapat zona penyanggah (buffer zone) hutan mangrove, yang mampu menahan laju gelombang tsunami secara alamiah serta kedalaman toporafi daerah perairan pantai Kuala 20–60 meter yang juga berpengaruh terhadap laju kecepatan rambat gelombang C = L/T terhadap kedalaman laut dan semakin ke darat cepat rambat gelombang semakin melemah (refraksi gelombang).

Sumber: Survai Lapangan Desa, Bireuen-3, Tim Survai VP, Binacitra KG, 2007

I.

Vegetasi
Jenis Vegetasi yang tumbuh di Desa Krueng Juli Barat adalah: kelapa, kedondong,

G.

Kelautan dan Lingkungan Pesisir
Abrasi di sepanjang pesisir pantai,membentuk tanah timbul, dan kerusakan hutan mangrove. Berdasarkan permasalahan ini, maka perlu mereboisasai kawasan pantai dengan menanam kembali tanaman bakau (mangrove).

pinang, mangga, dan jambu. Di pekarangan rumah ditanami dengan pohon jambu dan pohon mangga. Vegetasi tersebut pada saat ini masih banyak yang utuh, sebagian tercerabut dan perlu dilakukan suatu penanaman ulang, terutama untuk mengembalikan ekosistem di sepanjang pesisir pantai (bagian utara desa) sebagai sabuk hijau penahan gelombang dan angin serta vegetasi sekitar tambak.

H.

Pola Penggunaan Lahan 3.1.3 Orientasi dan Integrasi Desa dengan Wilayah Sekitarnya
Penggunaan lahan setelah bencana untuk Desa Krueng Juli Barat termasuk kedalam wilayah Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen yang terhubung dengan desa-desa disekitarnya oleh jaringan jalan utama desa. Berikut jarak dan waktu tempuh dari wilayah Desa Krueng Juli Barat terhadap Ibukota Kecamatan dan Ibukota Kabupaten. Berdasarkan data jarak dan waktu tempuh di atas maka keterhubungan Desa Krueng Pola penggunaan lahan desa sebelum terjadi bencana Juli Barat terhadap Ibukota Kecamatan dan Ibukota Kabupaten termasuk memiliki keterhubungan yang tinggi. Untuk lebih jelasnya mengenai aksesibilitas orientasi dan integrasi desa dengan wilayah tsunami dan setelah bencana selengkapnya disajikan dalam Tabel III.1 dan Gambar 3.2. sekitarnya dapat dilihat pada Tabel III.2 dan Gambar 3.3. pertanian/sawah menempati urutan terbesar, sebesar 57,40% atau 35,23 Ha, berikutnya untuk perumahan penduduk sebesar 19,98% atau 12,26 Ha.

Penggunaan terkecil untuk fasos-fasum 0,12% atau sebesar 0,07 Ha.

Foto: Tata Guna Lahan Sawah di Desa Krueng Juli Barat

Tabel III.1

Luas Penggunaan Lahan Desa Krueng Juli Barat Sebelum dan Setelah Bencana
Sebelum Bencana Persentase Luas (Ha) (%) 0,07 0,12 1,98 3,23 Setelah Bencana Luas (Ha) 0,12 1,68 Persentase (%) 0,19 2,74

No 1 2

Jenis Penggunaan Lahan Fasilitas Sosial dan Fasilitas Umum Bangunan Hatchery Udang

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-3

Gambar 3.2

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-4

Gambar 3.3 Peta Orientasi Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-5

Tabel III.2
Tujuan Ibukota Kecamatan Kuala Desa Teumpak Tunang Desa Desa Krueng Timur Desa Beurawang

Aksesibilitas Komunitas Desa Desa Krueng Juli Barat
Akses Jalan Utama Jalan Utama Jalan Utama Jalan Utama Tipe Angkutan Sepeda motor dan mobil Sepeda motor dan mobil Sepeda motor dan mobil Sepeda motor dan mobil Jarak 1,7 km 800 m 1 km 1,2 km Waktu 37 menit 20 menit 35 menit 35 menit Kebutuhan untuk Distribusi Barang, jasa, ekonimi, sosial Barang, jasa, ekonimi, sosial Barang, jasa, ekonimi, sosial Barang, jasa, ekonimi, sosial

e. Kepala dusun adalah pimpinan dusun yang dipercaya oleh warga dusun untum memimpin dusun. Untuk selengkapnya mengenai struktur pemerintahan desa dapat dilihat pada Gambar 3.4. Gambar 3.4
Tuha Peut

Struktur Organisasi Pemerintahan Desa Krueng Juli Barat
Keuchik Tuha Lapan Keurani Gampong Imum Gampong

Sumber: Analisis Tim Teknis PT. BKG, 2007

Sebelum bencana aksesibilitas komunitas desa ke sumber daya eksternal khususnya ke pusat kecamatan dan pusat kegiatan cukup baik, untuk mencapai pusat kecamatan yang berjarak 1,7 km, dapat dicapai dengan kendaraan bermotor selama kurang lebih 37 menit dengan melalui jalan utama desa. Sedangkan untuk mencapai pusat
Kadus Nelayan Kadus Batee Beutong Keur. Agama & Adat Keur. Pemerintahan Keur. Pembangunann

kegiatan/pasar yang berjarak 1,7 km dan terletak dipusat kecamatan dapat di capai selama 37 menit dengan kendaran bermotor. Aksesibilitas komunitas desa ke sumber daya internal seperti sekolah, menasah, air bersih, listrik sebelum dan sesudah bencana umumnya mudah di capai dengan kendaraan bermotor atau berjalan kaki dengan jarak yang sangat dekat dengan permukiman penduduk, karena lokasinya di kawasan permukiman. Pranata sosial lain yang tidak termasuk adalah panglima laot yang bertugas mengatur organisasi atau kelompok nelayan dalam melakukan aktifitasnya, panglima laot ini berskala mukim atau kecamatan yang juga memiliki kewenangan untuk mengatur nelayan yang ada di desa.

3.2

Pemerintahan Desa Krueng Juli Barat
Desa Krueng Juli Barat adalah desa pesisir yang sistem pemerintahannya dipimpin oleh keuchik (kepala desa) yang dipilih oleh warga setempat secara demokratis untuk urusan komunitas ke dalam sistem pemerintahan yang ada di atasnya yaitu tingkat Kecamatan. Untuk membantu jalannya pemerintahan desa keuchik atau kepala desa dibantu oleh sistem pranata sosial desa yang terdiri dari: tuha peut, tuha lapan, imum gampong, dan kepala dusun. keterangan masing masing sistem sosial desa tersebut adalah sebagai berikut. a. Tuha peut adalah kepala adat. b. Tuha lapan adalah kaum cerdik pandai desa. c. Imum gampong adalah ulama atau ahli agama yang dipercaya untuk menjadi imam meunasah atau masjid dan menyelesaikan persoalan-persoalan agama. d. Keur/kepala urusan adalah staf kepala desa dalam menjalankan roda pemerintahan desa.

3.3

Tata Ruang Desa Krueng Juli Barat

3.3.1 Pola Keterkaitan Lokal dan Regional Desa
Pola keterkaitan lokal dan regional desa dapat dilihat dari hubungan atau pola kegiatan masyarakat desa dalam ruang-ruang kegiatan tertentu. Yang dimaksud dengan ruangruang tertentu adalah ruang-ruang aktivitas tempat di mana terjadinya transaksi sosial maupun ekonomi masyarakat. Sedangkan keterkaitan regional desa, dilihat dalam konteks yang lebih besar. Yaitu ruang atau pusat kegiatan masyarakat melakukan transaksi sosial ekonomi yang lebih besar. Pusat kota memiliki ruang-ruang kegiatan sosial dan ekonomi yang sangat beragam dan lebih modern, seperti kegiatan perbankan atau keuangan, perbelanjaan, pemerintahan dan lainya. Pusat kota memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan desa-desa yang ada, karena merupakan pusat transaksi ekonomi dan sosial yang sangat tinggi. Desa Krueng Juli III-6

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

Barat Kecamatan Kuala terletak di antara desa-desa sekitar, yaitu: Desa Meunasah Blang, Desa Beurawang, Desa Limpah Cut, Desa Cot Trieng, dan Desa Krueng juli Timur. Beberapa permasalahan pascatsunami yang lalu, jalan-jalan yang menghubungkan antardesa rusak, sehingga menghambat kegiatan antardesa dalam melakukan kegiatan sosial dan ekonomi. Beberapa potensi yang dimiliki oleh Desa Krueng Juli Barat adalah sebagai berikut.

Potensi Berdasarkan hasil survai bersama masyarakat dapat diketahui kerangka sistem desa dibentuk melalui kerangka jalan di Desa Krueng Juli Barat, adalah sebagai berikut. a. Jalan Juli Barat sebagai Jalan Lokal Primer yang menghubungkan Desa Krueng Juli Barat dengan wilayah desa tetangga, b. Jalan Lingkar Desa sebagai Jalan Lokal Sekunder sebagai jalan utama desa yang menghubungkan Dusun nelayan dan Dusun Batee Beutong, c. Jalan Hacthery 1, jalan lingkungan yang menghubungkan antar kawasan

a. Hasil pertanian sawah yang sangat tinggi dan pertambakan serta perkebunan
membutuhkan segera jalan-jalan dan jembatan penghubung antardesa dan dusun untuk dapat mendistribusikan hasil pertanian dan tambak,

permukiman utama desa. Sedangkan struktur ruang Desa Krueng Juli Barat yaitu Pusat Primer yang terdiri dari lokasi sekitar meunasah. Keterhubungan Desa Krueng Juli Barat dengan desa sekitarnya dihubungkan oleh jaringan jalan utama desa (Jl. Juli Barat). Berdasarkan dari hasil survai, maka ruang utama Desa Krueng Juli Barat adalah meunasah yang terletak di Dusun Nelayan; kondisi bangunan baik (sedang direhabilitasi), tidak mengalami

b. Adanya keterkaitan garis keturunan yang sangat erat dengan penduduk desa
lainnya, di mana kecenderungan sebaran penduduk antardesa dapat dipastikan memiliki garis keturunan yang sama.

3.3.2 Struktur Utama Pembentuk Desa
Pola ruang Desa Krueng Juli Barat terdiri dari permukiman yang tersebar mengikuti jalan utama desa (Jalan Lokal Primer) yang menghubungkan wilayah Krueng Juli Barat ke desa tetangga (Desa Beurawang, Desa Cot Trieng) serta jalan lingkungan dan jalan lorong yang dikelilingi oleh lahan budidaya tambak dan pertanian yang menghubungkan elemen-elemen pembentuk ruang utama desa. Tipologi Desa Krueng Juli Barat merupakan kawasan pesisir yang masih kental dengan karakteristik perdesaan dan pertanian padi menjadi mata pencaharian utama setelah mata pencaharian nelayan dan tambak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.5. A. Jalan Utama Desa Permasalahan Permasalahan jalan utama desa adalah tidak dilengkapi jalan dengan saluran drainase. Dengan kondisi jalan utama desa tersebut, maka permasalahan jalan utama memerlukan pembuatan saluran drainase. Dampak dari bencana memerlukan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya fungsi dan peran jalan selain sebagai sarana untuk aktivitas sehari-hari juga sebagai sarana mitigasi (escape route). Dalam perencanaan desa di Desa Krueng Juli Barat melalui proses sosialisasi dan partisipasi warga menyadari arti penting dan manfaat sarana mitigasi.
LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

kerusakan parah dan dapat dijadikan Escape Area, selama ini berfungsi sebagai pusat desa. Ketersediaan lahan di sekitar meunasah masih mencukupi untuk pembangunan fasilitas polindes,, balai pertemuan dan Taman Kanak-Kanak. Area Meunasah dan bangunan sekelilingnya dapat difungsikan sebagai Civic Centre (Pusat Desa). B. Saluran Utama Irigasi dan Sungai Permasalahan Tidak adanya saluran drainase di Desa Krueng Juli Barat dan mendangkalnya saluran utama irigasi menyebabkan jalan lingkungan dan jalan utama desa terjadi genangan air apabila turun hujan. Penanganan saluran drainase di Desa Krueng Juli Barat merupakan hal yang penting di masa mendatang setelah terjadinya tsunami terkait dengan kualitas prasarana lingkungan permukiman penduduk yang semakin menurun. Potensi Sumber Daya Air Permukaan di Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala meliputi Sumber Daya Air Sungai, Rawa/paya dan waduk, diantaranya Krueng/Sungai (Kuala 185 Ha, Bugeng 40 Ha dan Kukue 35 Ha), Paya/Rawa (Paya Kameng 7 Ha dan Pinto Rimba 3,5) dan Waduk Paya Lot 7 Ha.

III-7

Gambar 3.5 Peta Pola Struktur Ruang Desa Juli Barat Kecamatan Kuala

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-8

3.3.3 Ruang Utama Desa
Ruang-ruang utama Desa Krueng Juli Barat terdiri dar beberapa ruang, yaitu sebagai berikut. 1. 2. Pusat Pelayanan Desa (meunasah, Poskeslit/Puskesmas Pembantu), Pemakaman umum dan keluarga. Letak makam di desa ini berada di pinggiran perumahan dan di areal perkebunan dengan kondisi yang tidak terawat,

Penyebaran area pemukiman merata di sepanjang jalan utama, jalan lingkungan, dan lorong yang membentuk pola radial konsentris dan sudah sesuai dengan struktur jaringan jalan, yang menghubungkan antardusun dan desa tetangga. Permasalahan 1. Sistem penyebaran perumahan masih terkait dengan hubungan persaudaraan sehingga tidak dilengkapi dengan akses langsung ke jalan. 2. Warga belum menyadari pentingnya lebar jalan dan GSB (Garis Sempadan Bangunan). 3. Kondisi pemukiman warga yang terkesan kumuh karena merupakan perkampungan nelayan.

3. Area permukiman, tambak dan persawahan sebagai salah satu unsur pembentuk
struktur Desa Krueng Juli Barat.

3.4 Pola Pemanfaatan Ruang
Pola pemanfaatan ruang desa di Desa Krueng Juli Barat berbentuk konsentris, yang terdiri dari permukiman yang tersebar dibagian tengah desa dan dikelilingi oleh sungai, area persawahan dan area tambak. Penataan pemanfaatan lahan sangat penting untuk mempercepat pemulihan dan perbaikan pembangunan desa. Pemanfaatan lahan Desa Krueng Juli Barat adalah untuk kawasan permukiman, perdagangan, pertanian, perikanan, perkebunan, peribadatan, kesehatan, pendidikan, RTH, dan olah raga. Bila dilihat dari dominasi pemanfaatan lahan di Desa Krueng Juli Barat, maka di Dusun Nelayan didominasi oleh area pertanian, Dusun Batee Beutong juga didominasi oleh area sawah. Lihat pada Gambar 3.2 di atas.

4. Dalam satu kapling ditemukan lebih dari 2 rumah. 5. Masih adanya bantuan rumah yang belum terselesaikan/terhenti pembangunannya dan juga masih terdapat beberapa permohonan rumah yang perlu mendapat perhatian. Potensi 1. Hampir sebagian besar seluruh area pemukiman adalah milik warga sehingga memudahkan proses perencanaan dan sertifikasi. 2. Memiliki batas kapling yang jelas sehingga mengurangi konflik antarmasyarakat yang berkaitan dengan tanah. 3. Terdapat lahan baru yang telah memiliki struktur jaringan jalan yang jelas.

3.4.1 Area Permukiman
Luas area permukiman di Desa Krueng Juli Barat sebesar 12,26 ha sebelum tsunami dan 12,06 setelah tsunami. Pemanfaatan ini bercampur dengan kegiatan area ibadah (meunasah), area kuburan, dan area kesehatan. Kondisi topografi area permukiman ini relativ datar dengan kemiringan 0%-3% dengan ketinggian 1-3 m dpl. Area permukiman warga di Desa Krueng Juli Barat saat terjadi tsunami tidak mengalami kerusakan parah sehingga kondisi permukiman tidak mengalami perubahan yang signifikan antara sebelum dan sesudah tsunami. Area permukiman di Desa Krueng Juli Barat menyebar secara merata yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat akan mata pencaharian.
Polindes di samping Meunasah Polindes di samping Meunasah
Foto: Rumah bantuan dari REKOMPAK Foto: Warga yang mendapatkan rumah bantuan

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-9

3.4.2 Area Pertanian
Luas area pertanian di Desa Krueng Juli Barat setelah dan sebelum tsunami sebesar 35,23 ha. Area persawahan ini terdapat di Dusun Nelayan dan di Batee Beutong dengan sistem irigasi teknis dan nonteknis kemudian hasil tanaman tersebut digunakan untuk kebutuhan makanan pokok sehari-hari dan dijual. Permasalahan 1. Pendangkalan saluran utama mengakibatkan terhambatnya aliran air irigasi bila musim kemarau. 2. Area persawahan sering diserang hama tikus dan wereng. Polindes di samping Meunasah Potensi 1. Sudah terdapatnya saluran irigasi teknis dan saluran nonteknis. 2. Masa panen dapat dicapai 2-3 kali panen pertahun. 3. Mudahnya mendapatkan pupuk, bibit, dan pembasmi hama.
Foto: Lahan persawahan di Desa Krueng Juli Barat

Permasalahan 1. Belum dibangunnya kembali tempat pembibitan udang. 2. Harga bibit yang tinggi menyebabkan nelayan tambak mengalami kesulitan membelinya. 3. Kurangnya modal. 4. Kurangnya sarana pendukung seperti pompa air untuk meningkatkan hasil produksi. 5. Masih banyaknya area tambak yang belum dimanfaatkan atau terbengkalai. 6. Lahan tambak masih ada yang dikelola secara alami sehingga produktivitasnya rendah. 7. Belum adanya pelatihan untuk meningkatkan hasil produksi tambak. 8. Pendangkalan saluran utama mengakibatkan terhambatnya pasokan air dari Sungai/Krueng Krueng Juli Barat bila musim kemarau. Potensi 1. Sumber Daya Air Permukaan di Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala meliputi Sumber Daya Air Sungai, Rawa/paya dan waduk, diantaranya Krueng/Sungai (Kuala 185 Ha, Bugeng 40 Ha dan Kukue 35 Ha), Paya/Rawa (Paya Kameng 7 Ha dan Pinto Rimba 3,5) dan Waduk Paya Lot 7 Ha. 2. Mudahnya mendapatkan bibit udang dan ikan banden serta pakan ikan/udang. 3. mudahnya menjual hasil panen udang dan ikan bandeng.

3.4.3 Area Tambak 3.4.4 Area Kebun
Luas area tambak di Desa Krueng Juli Barat sebesar 8,41 ha sebelum terjadi tsunami dan mengalami peningkatan setelah tsunami, yaitu sebesar 8,59 ha. Penggunaan lahan tambak di Desa Krueng Juli Barat terdapat di sebelah timur dan barat Dusun Nelayan, sebelah timur pada Dusu Batee Beutong. Saat ini areal tambak di Desa Krueng Juli Barat berupa pembesaran udang dan ikan bandeng. Bila sebelum terjadi
Foto: Area tambak di Desa Krueng Juli Barat

Luas area kebun di Desa Krueng Juli Barat sebesar 3,07 ha sebelum terjadi tsunami dan setelah bencana tsunami luas penggunaan mengalami lahan untuk

perkebunan

peningkatan,

yaitu 3,35 ha. Kondisi alam di Desa Krueng Juli Barat sangat cocok untuk usaha perkebunan, adapun perkebunan yang dominan di desa ini adalah
Foto: Area kebun kelapa di Desa Krueng Juli Barat

tsumani di Desa Krueng Juli Barat merupakan

wilayah yang memiliki pembibitan udang windu di sebelah utara Desa Krueng Juli Barat, tepatnya di Dusun Nelayan dan kini telah hancur dan belum dibangun kembali tempat pembibitan tersebut. Areal tambak yang ada di Desa Krueng Juli Barat memerlukan penanganan yang tepat untuk meningkatkan perekonomian warga.
Polindes di samping Meunasah LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

Mangga, Sawo, Kopi, Coklat, Pepaya, Pisang, Belimbing, Kelapa, dan Manggis.

III-10
Polindes di samping Meunasah

Permasalahan 1. Rusaknya area perkebunan kelapa karena terletak di pinggir pantai. 2. Lahan kebun yang rusak belum pulih karena tidak mendapat bantuan rehabilitasi kebun. Potensi 1. Semua lahan kebun dimiliki oleh warga. 2. Dapat dijadikan sebagai tambahan penghasilan warga. 3. Dapat dikembangkan menjadi lahan perkebunan dengan komoditas tanaman tahunan (sawo, kopi, coklat, pepaya, pisang, belimbing, kelapa, dan manggis) dengan konsep rumah kebun.

Potensi 1. Luas lahan di Desa Krueng Juli Barat masih cukup luas sehingga kebutuhan untuk area pemakaman masih dapat disediakan. 2. Memiliki batas kapling yang jelas sehingga mengurangi konflik antarmasyarakat yang berkaitan dengan tanah. 3. Terdapat lahan baru yang telah memiliki struktur jaringan jalan yang jelas.

3.4.7 Area Pantai
Letak Desa Krueng Juli Barat yang berbatasan dengan Selat Malaka mempengaruhi mata pencarian penduduk selain sebagai petani

3.4.5 Area Perdagangan
Kegiatan perdagangan di Desa Krueng Juli Barat berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari warganya. Jenis perdagangan yang terdapat di Desa Krueng Juli Barat berupa kios. Usaha perdagangan biasanya dilakukan warga di dalam area rumahnya, sehingga pola perletakan area perdagangan menyatu dengan lingkungan permukiman. Sementara untuk pemenuhan kebutuhan lainnya warga Desa Krueng Juli Barat berorientasi ke pusat Kecamatan Kuala dan Kota Bireuen.

tambak juga sebagai nelayan. Para nelayan ini lebih banyak melaut seadanya meskipun tidak ada bantuan. Permasalahan dihadapi warga adalah
Foto: Area pantai di Desa Krueng Juli Barat

peralatan yang tidak memadai, penggunaan jaring yang seadanya, cuaca yang kurang menentu dan perahu yang sudah tua. Akibatnya hasil tangkapan ikan yang diperoleh tidak optimal atau sama dengan ketika sebelum terjadi tsunami. Berdasarkan informasi dari warga bahwa mereka hanya mampu menghasilkan tangkapan ikan dengan nilai antara Rp 30.000,-s/d Rp 50.000,-untuk sekali melaut. Polindes di samping Meunasah Masyarakat berharap ada kemudahan untuk mengakses modal guna memperbaiki perahu dan jaring untuk menangkap ikan. Penduduk Desa Krueng Juli Barat berharap bantuan pelatihan dalam rangka mempermudah akses modal dengan cara membentuk sebuah kelompok nelayan (koperasi nelayan).

3.4.6 Area Pemakaman
Luas area pemakaman di Desa Krueng Juli Barat sebelum dan sesudah tsunami sebesar 0,35 ha. Pemanfaatan ini bercampur dengan kegiatan area ibadah area perumahan dan area pertanian. Area pemakaman di Desa Krueng Juli Barat saat terjadi tsunami tidak mengalami kerusakan parah sehingga kondisi pemakaman tidak mengalami perubahan yang signifikan antara sebelum dan sesudah tsunami.

3.5
Permasalahan 1. Kondisi pemakaman tidak terawat. 2. Lahan pemakaman sebagian besar merupakan milik warga untuk pemakaman keluarga mereka.

Kependudukan dan Sosial Budaya

3.5.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Jumlah Penduduk Desa Krueng Juli Barat pada tahun 2007 adalah 1.342 Jiwa dengan jumlah KK sebesar 268 KK. Sedangkan sebelum bencana 1.354 Jiwa dengan Jumlah KK, 339 KK (tahun 2004). Kenaikan jumlah KK yang signifikan dari tahun 2005 ke tahun 2006 dikarenakan penduduk yang mengungsi setelah tsunami kembali ke desanya.

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-11

Tercatat berdasarkan informasi dari geuchik sejumlah 37 KK yang mengungsi dan setelah masa tanggap darurat selesai penduduk kembali menempati rumahnyaHal ini menunjukan bahwa kepadatan penduduk di Desa Krueng Juli Barat sangat jarang atau tidak terlalu padat.

No 3 4 5 6

Jenis Mata Pencaharian Karyawan Swasta Wiraswasta Pedagang Petani/Buruh Tambak Pemilik Tambak Petani/Peladang Nelayan Bengkel Pengangguran Lain-lain/Pensiunan TOTAL

Sebelum Bencana Jumlah Jiwa 74 87 20 19 35 558 334 18 43 26 1.354 % 5,5 6,4 1,5 1,4 2,6 41,2 24,7 1,3 3,2 1,9 100,0

Setelah Bencana Jumlah Jiwa 50 76 38 21 19 588 313 17 56 25 1.327 % 3,8 5,7 2,9 1,6 1,4 44,3 23,6 1,3 4,2 1,9 100,0

3.5.2 Pertumbuhan Penduduk
Berdasarkan data jumlah penduduk dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 tingkat pertumbuhan penduduk tahun 2004-1,2%, hal ini karena setelah bencana banyak penduduk yang meninggalkan desanya untuk mengungsi ke luar wilayah desa. Untuk lebih jelasnya rincian pertumbuhan jumlah penduduk dari tahun 2003-2007 dapat dilihat pada Tabel III.3.

7 8 9 10 14 15

Sumber: Draf RTRW Kabupaten Bireuen. 2006, Data Statistik Map Frame 3 dan Survai Lapangan, 2007

Tabel. III.3

Pertumbuhan Penduduk di Desa Krueng Juli Barat
Sebelum Bencana 2002 1343 336 0,81 2003 1354 339 -0,81 2004 1343 336 -1,20 Setelah Bencana 2005 1327 231 1,04 2006 1341 268 0,07 2007 1342 268 0,81

3.5.4 Struktur Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Jumlah penduduk perempuan di Desa Krueng Juli Barat lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki berbanding 60% jumlah penduduk perempuan dan 40% penduduk laki-laki. Pada tahun 2007 jumlah penduduk perempuan sebanyak 805 jiwa sedangkan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 537 jiwa. Untuk lebih rincinya lihat padat Tabel III.5. Tabel III.5 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Desa Krueng Juli Barat
Jumlah Penduduk (Jiwa) No Jenis Kelamin Sebelum Bencana 2002 2003 542 2004 537 Sesudah Bencana 2005 531 2006 536 2007 537

No 1 2 3

Uraian Jumlah Penduduk Jumlah KK Pertumbuhan Penduduk

Sumber: Draf RTRW Kabupaten Bireuen. 2006, Data Statistik Map Frame 3 dan Survai Lapangan, 2007

3.5.3 Struktur Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Berdasarkan data dari geuchik dan sekretaris desa mayoritas mata pencaharian penduduk desa bergerak di bidang pertanian sebagai petani (44,3%) sejumlah 588 jiwa dan sebagai nelayan (23,6%) sejumlah 313 jiwa. Peningkatan jumlah penduduk yang bergerak di bidang pertanian dari sebelum bencana ke setelah bencana menunjukan bahwa pertanian merupakan mata pencaharian andalan penduduk desa. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel III.4.

1

Laki-laki

537

2 Perempuan 806 812 806 796 805 805 Sumber: Draf RTRW Kabupaten B Sumber: Draf RTRW Kabupaten Bireuen. 2006, Data Statistik Map Frame 3 dan Survai Lapangan, 2007ireuen. 2006, Data Statistik Map Frame 3 dan Survai Lapangan, 2007

3.5.5 Struktur Pendukduk Menurut Pendidikan
Tabel III.4 Struktur Penduduk Desa Krueng Juli Barat Berdasarkan Mata Pencaharian Sebagian besar masyarakat Desa Krueng Juli Barat memiliki tingkat pendidikan yang
No 1 2 Jenis Mata Pencaharian PNS TNI/POLRI Sebelum Bencana Jumlah Jiwa 69 70 % 5,1 5,2 Setelah Bencana Jumlah Jiwa 68 56 % 5,1 4,2

relatif rendah. Rata-rata pendidikan masyarakat adalah tamatan SD, dan sebagian kecil lulus SMA atau Perguruan Tinggi. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat diakibatkan

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-12

oleh rendahnya kemampuan orangtua untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

pengembangan dan penataan sosial budaya dan agama desa Krueng Juli Barat dapat bersifat fisik maupun nonfisik. Pengembangan bidang sosial budaya harus mampu menerjemahkannya menjadi kebutuhan ruang bagi terselenggaranya berbagai kegiatan

3.5.6 Proyeksi Penduduk
Perkiraan jumlah penduduk di wilayah perencanaan Desa Krueng Juli Barat yang akan datang sangat penting untuk menghitung atau mengetahui jumlah kebutuhan fasilitas dan utilitas dalam lingkup pelayanan pedesaan, sehingga dengan demikian dapat menentukan jumlah kebutuhan fasilitas dan utilitas yang harus disediakan untuk memenuhi kebutuhan pemakai di masa yang akan datang. Adapun jumlah penduduk di Desa Krueng Juli Barat pada tahun 2007-2017 dapat dilihat pada Tabel III.6. Tabel III.6 Proyeksi Penduduk Desa Krueng Juli Barat Tahun 2007–2017
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Tahun Proyeksi 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Jumlah Penduduk (Jiwa) 1.342 1.354 1.362 1.371 1.377 1.385 1.390 1.398 1.407 1.414 1.420

sosial, budaya, dan agama. Kondisi sosial masyarakat Desa Krueng Juli Barat adalah desa yang mempunyai tingkat kemiskinan yang relatif rendah, meskipun mata pencaharaian penduduk sangat bergantung pada hasil pertanian. Penduduk yang berprofesi sebagai nelayan sebanyak 85 KK atau 66,41%. Ditinjau dari sisi tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk Desa Krueng Juli Barat adalah rata-rata lulusan SD untuk usia produktif (15-55 tahun). Desa ini termasuk desa yang tertinggal, karena lokasinya yang jauh dari pusat kota. Ditinjau dari etnisnya bahwa masyarakat desa Krueng Juli Barat adalah kebanyakan berasal dari Suku Aceh, salah satu ciri khas yang dapat ditemui pada masyarakat yang mencerminkan status sosial di antara mereka adalah kekhasan bahasa dan budaya.

B.

Kegiatan Keagamaan
Kondisi sosial budaya masyarakat Desa Krueng Juli Barat sehari-hari umumnya dipusatkan di meunasah yang difungsikan sebagai tempat ibadah agama Islam. Meunasah juga digunakan sebagai balai pertemuan baik yang berkaitan dengan pelayanan aparat pemerintah maupun kegiatan kemasyarakatan. Di tempat inilah kegiatan menghimpun orang banyak, seperti rapat desa dan pertemuan masyarakat. Berdasarkan hasil survai bersama masyarakat, maka masyarakat sangat mengharapkan dibangun sarana kegiatan keagamaan berupa balai pengajian yang berada di samping meunasah. Balai pengajian ini bisa dimanfaatkan untuk pengajian ibu-ibu rumah tangga, pengajian remaja dan pengajian anak-anak, serta kegiatan PKK. Pengajian yang telah dilakukan secara rutin di meunasah adalah setiap hari Jum’at dan Sabtu menjelang (ba’da ) maqrib dengan bimbingan ustadz dari dalam dan luar desa. Sementara, untuk

Sumber: Analisis Tim Teknis PT. BKG, 2007

Berdasarkan tabel tersebut, maka pertumbuhan penduduk Desa Krueng Juli Barat dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2017 menunjukkan angka yang tidak begitu tinggi. Pada tahun 2017 jumlah penduduk Desa Krueng Juli Barat sebesar 1.420 jiwa.

3.5.7 Sosial Budaya A. Kondisi Sosial
Pembangunan bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan penguatan adat setempat dalam rangka pengembangan partisipasi masyarakat melibatkan segenap lapisan masyarakat termasuk di dalamnya kelompok kepemudaan dan wanita. Konsep
LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

pengajian anak-anak dibimbing oleh ustadz yang ada di desa.

C.

Kepemudaan
Kegiatan kepemudaan yang ada di Desa Krueng Juli Barat adalah lebih banyak pada kegiatan olah raga badminton dan bola voly. Kondisi lapangan yang ada perlu dilakukan rehabilitasi, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan olah raga. Di samping itu,

III-13

kegiatan olah raga ini sangat digemari oleh masyarakat desa mulai dari anak-anak hingga dewasa. Hasil FGD dengan masyarakat potensi yang dapat dikembangkan untuk kegiatan para kaum muda ini adalah sangat besar. Masyarakat sangat ingin ada pemberdayaan kaum muda ini dengan berbagai bentuk pelatihan keterampilan, misalnya keterampilan perbengkelan, pertukangan, atau bentuk keterampilan lain yang bermanfaat.

baik ini, dapat dijadikan sebagai modal sosial untuk membangun masyarakat menjadi lebih mempunyai rasa keterikatan dan kekeluargaan yang tinggi. Salah satu ciri khas dari masyarakat desa adalah budaya gotong royong. Budaya ini harus dipertahankan untuk kepentingan pembangunan desa ke arah yang lebih baik. Budaya ini juga menjadi modal dasar pembangunan desa, untuk itu harus terus diberi pengarahan/bimbingan melalui kegiatan-kegiatan yang menyangkut kepetingan publik, misalnya bhakti sosial, menjaga kebersihan lingkungan, dan sebagainya.

D.

Ikatan Remaja Meunasah
Kegiatan keagamaan pemuda dapat disalurkan melalui kegiatan ikatan remaja meunasah (IRM). Masyarakat berharap ada pemberdayaan organisasi ini untuk membina dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh generasi penerus desa. Mengingat jumlah penduduk usia muda juga lebih besar diandingkan dengan jumlah penduduk tua serta mengerahkan para pemuda pada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk bekal di masa tuanya. Pola pembinaan dapat dilakukan dengan memberikan keterampilan dan akses permodalan yang sifatnya stimulan.

F.

Kearifan Lokal

Kearifan lokal berupa tradisi, petatah-petitih, maupun semboyan hidup dimasyarakat sangat menunjang bagi terciptanya kerukunan kehidupan dan mencegah timbulnya konflik. Kearifan yang selaras dengan pesan perdamaian dan kerukunan agama tersebut, ada yang dikenal sejak dahulu dan merupakan kesepakatan baru yang dicapai bersama. Sebagai masyarakat yang sebagian besar beragama Islam, kearifan lokal lebih dipengaruhi oleh religius dan tradisi Islam yang mengajarkan hidup rukun dan damai. Agama menjadi alat ukur utama budaya di desa Krueng Juli Barat. Sebuah budaya yang tidak sesuai dengan agama (Islam), dengan sendirinya tidak dianggap sebagai budaya Aceh. Namun demikian ada juga kearifan lokal yang merupakan tradisi dalam pelaksanakan kegiatan ekonomi misalnya adanya sebutan panglima laut di nelayan. Panglima laut dianggap sebagai pemimpin yang harus dilaksanakan perintahnya ketika lagi melaut. Kedudukannya merupakan pimpinan tertinggi di kapal. Sedangkan pranata-pranata lokal dikehidupan masyarakat juga sangat penting, seperti gampong (desa adat), meunasah, atau tuha peut (dewan orang-orang tua) memiliki makna dan peran penting agar kehidupan bermasyarakat dapat berjalan secara selaras.

E.

Budaya Gotong Royong
Budaya gotong royong warga hingga kini masih terpelihara dengan baik, karena masyarakat selalu melakukan gotong royong setiap hari Jum’at. Hari jum’at merupakan hari libur bagi masyarakat petani, nelayan, petambak dan sebagainya, sehingga dapat dengan mudah mengumpulkan warga. Biasanya kegiatan kerja bhakti (gotong royong) dilakukan untuk membersihkan atau membangun meunasah, membersihkan sekitar rumah, membersihkan selokan, dan sebagainya. Terpeliharanya sikap masyarakat yang

Tabel III.7

Identifikasi Permasalahan dan Pengembangan Sosial Desa Krueng Juli Barat
Kondisi Eksisting Sikap masyarakat relatif baik.

Kegiatan Sikap Masyarakat terhadap Pembangun.

Karakteristik Sikap.

Permasalahan Seringkali salah interpretasi masyarakat terhadap kebijakan masyarakat terhadap pembangunan.

Keinginan Warga Sosialisasi terhadap program dan kebijakan pembangunan oleh pemerintah.

Sasaran Seluruh masyarakat.

Potensi Kesadaran masyarakat sebagai modal dasar.

Keterangan

Nasyid.

Tidak Terdapat

Seni Budaya

Belum adanya alat (seragam) nasyid.

Bantuan peralatan Nasyid.

Kaum muda.

Prestasi tingkat

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-14

Kegiatan

Kondisi Eksisting kelompok Nasyid

Karakteristik Islami.

Permasalahan

Keinginan Warga

Sasaran

Potensi kecamatan dan pelestarian seni buadaya Islami.

Keterangan Belum ada bantuan peralatan. Belum ada bantuan peralatan. Belum ada bantuan untuk kegiatan kepemudaan.

Dalail Khairat. Organisasi.

Tidak ada kegiatan Terdapat organisasi pemuda Karang Taruna.

Seni Islami. Budaya Organisasi.

Kurangnya peralatan dan perlengkapan dalail khairat. Organisasi yang tidak memiliki kegiatan.

Bantuan peralatan Dalail Khairat. 1. Pemberdayaan pemuda melalui organisasi kepemudaan. 2. Pelatihan keterampilan manajemen organisasi.

Kaum muda. Pemuda.

Pelestarian buadaya. Dukungan ketua pemuda.

Gotong Royong.

Budaya gotong royong tumbuh dan berkembang.

Budaya Gotong Royong.

Jarangnya kegiatan.

Banyak kegiatan membangun fasilitas umum, kerja bakti dan menjaga kebersihan lingkungan.

Seluruh masyarakat.

Penguatan modal dasar pembangunan.

Sumber: Hasil rembug desa Tim VP PT. BKG (2007)

3.6

Perekonomian dan Jasa
Perekonomian masyarakat sebelum bencana tsunami terjadi lebih banyak digerakkan oleh bidang pertanian. Sektor ini dapat menyerap tenaga kerja dari sebagian besar warga desa setempat. Kegiatan perekonomian yang masih berlangsung di Desa Krueng Juli Barat ini adalah pertanian, peternakan, perdagangan, perikanan darat (tambak), dan perikanan laut (nelayan). Bencana gempa bumi dan tsunami telah menghancurkan kegiatan ekonomi masyarakat, yang berakibat pendapatan masyarakat semakin menurun dari rata-rata Rp. 750.000, 00 menjadi rata-rata Rp. 350.00,00 dibandingkan dengan sebelum tsunami. Sebab, pascatsunami masyarakat beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya hanya seadanya. Mata pencaharaiaan masyarakat selama ini yang menjadi penggerak ekonomi desa masih belum berjalan dengan baik. Kegiatan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami sebenarnya telah memberikan peluang lapangan pekerjaan bagi pekerja (tukang, buruh bangunan, atau warung makan). Namun, dampak yang diakibatkan terhadap peninggkatan pendapatan masih belum optimal, jika dibandingkan dengan sebelum tsunami. Sedangkan jika dilihat dari perbandingan persentase mata pencaharian penduduk desa Krueng Juli Barat di mana seluruh jenis mata pencaharian lebih rendah persentasenya dibandingkan sebelum tsunami, kecuali perdagangan, yakni dari 2,90% sebelum tsunami

menjadi 6,85% setelah tsunami. Hal ini diakibatkan oleh banyaknya warga yang tidak beralih profesi atau hanya sedikit yang beralih profesi. Berdasarkan dari hasil diskusi dengan warga, bahwa rata-rata pendapatan masyarakat pasca tsunami tidak lebih dari Rp.350.000,00. Jumlah tersebut masih lebih rendah dibandingkan sebelum tsunami yang dapat mencapai rata-rata Rp.750.000,00 perbulan. Untuk itu perlu dilakukan perencanaan sektor ekonomi yang diarahkan pada peningkatan pendapatan masyarakat. Masyarakat desa Krueng Juli Barat ini sangat tergantung pada pertanian, karena lebih dari 80% penduduknya sebagai petani. Jumlah penduduk yang bekerja sebagai nelayan adalah sebanyak 85 orang. Faktor pendukung wilayah, untuk infrastruktur sarana dan prasarana perikanan dari segi kepemilikannya sebagian besar berusaha dengan menggunakan motor tempel, padahal apabila digunakan untuk menangkap ikan di perairan hanya akan mempunyai jangkauan yang terbatas, sedangkan untuk unit-unit penangkapan ikan mempunyai fishing base namun berukuran kecil sehingga hanya memungkinkan beroperasi di wilayah perairan pantai dengan waktu melaut hanya satu hari. Pada usaha pertanian tanpa melakukan diversifikasi usaha, sehingga pendapatan ekonomi rumah tangga sangat tergantung kepada hasil produksi padinya. Hal ini akan berakibat fatal apabila terjadi kegagalan produksi (panen), yang secara langsung akan

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-15

menurunkan pendapatan ekonomi keluarga. Hanya sebagian golongan kecil petani yang melakukan diversivikasi usaha rumah tangganya selain bertani, yaitu dengan menjadi pengrajin atau pedagang didesanya, sehingga apabila terjadi kegagalan panen, golongan ini relative “aman“ dengan pendapatan cadangan (reserve income) yang dimiliki dari diversifikasi usahanya. Adapun yang bekerja sebagai pengrajin di desa Krueng Juli Barat umumnya memproduksi keperluan alat–alat rumah tangga makanan ringan (kue) yang terbuat dari kayu, bambu, dan bahan lainnya yang tersedia di wilayah desa dan sekitarnya. Hasil produksi home industri tersebut dijual ke luar desa atau luar kecamatan, sehingga produk tersebut memiliki nilai tambah bagi pendapatan desa Krueng Juli Barat. Di samping itu terdapat industri makanan ringan (kue) khas Aceh yang dijual di desa atau di luar desa, bahkan ada sebagain yang dijual ke pasar. Dilihat dari faktor pendukung berupa kondisi jalan, jalan utama di Desa Krueng Juli Barat merupakan jalan desa dengan kondisi jalan beraspal baik. Kondisi jalan tersebut sangat mendukung kelancaran pengangkutan sarana produksi dan hasil produksi desa, begitu pula dengan sarana transportasi. Faktor pendukung fisik lainnya, berupa sarana komunikasi yang tersedia, relatif mudah untuk diakses dengan adanya jaringan telepon (telepon seluler) yang menyebar di wilayah desa. Jaringan listrik PLN telah menyebar ke seluruh desa dan sebagian besar rumah penduduk telah menggunakannya. Sarana media massa cetak, berupa surat kabar dan majalah yang beredar di desa Krueng Juli Barat, ketersediaannya sangat terbatas. Hal ini disebabkan oleh permintaan masyarakat akan media cetak tersebut masih rendah. Sedangkan infrastruktur ekonomi, seperti pasar dan perbankan tidak terdapat di Desa Krueng Juli Barat. Namun penduduk dapat mengakses ke dua lembaga ekonomi tersebut di ibukota kecamatan. Karena mudahnya sarana transportasi dari dan ke Desa Krueng Juli Barat, sedangkan untuk sarana fisik bagi pendidikan belum tersedia di desa ini. Sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat desa Krueng Juli Barat belum tersedia, sehingga perlu ke desa lain, kecuali ke puskesmas atau rumah sakit yang harus ke kota kecamatan atau kabupaten 10–25 km, tetapi karena sarana transportasi mudah dijangkau, maka untuk menjangkau sarana kesehatan/puskesmas mudah dan murah. Saluran irigasi teknis untuk areal persawahan yang terdapat di desa Krueng Juli Barat, sangat mendukung usaha pertanian masyarakatnya yang dapat mengairi sawah milik petani sebanyak dua kali dalam setahun, sehingga memberikan kesempatan kepada
LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

petani untuk melakukan penanaman padi sebanyak dua kali dalam satu masa tanam (satu tahun). Pengairan areal sawah dilakukan secara bergilir sesuai jadwal yang ditentukan oleh pihak pemerintah kabupaten. Faktor pendukung wilayah, prasarana jalan relatif baik dan beraspal, tetapi sebagian jalan di permukiman-permukiman masih jalan batu dan tanah, sarana perhubungan yang sering digunakan adalah ojek (becak motor) dan kendaraan pribadi. Sedangkan Infrastruktur ekonomi yaitu lembaga keuangan dan fasilitas pasar tidak terdapat di desa ini. Dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bireuen bagi masyarakat Desa Krueng Juli Barat, umumnya dilaksanakan pemeliharaan dan penyediaan sarana dan prasarana fisik publik, seperti pemeliharaan jalan, pemeliharaan saluran irigasi, penambahan saluran telepon, penambahan sarana pelayanan kesehatan beserta tenaga medisnya. Selain dukungan secara fisik, pemerintah daerah setempat saat ini memberikan pula dukungan nonfisik, seperti kemudahan akses kredit, meskipun pada tataran praktek masih sulit diimplementasikan. Status dan luas kepemilikan sawah menjadi dasar bagi penggolongan tingkat ekonomi, kondisi ekonomi petanian, karena hal ini erat kaitannya dengan kemampuan petani dalam pengolahan sawahnya. Sebagian besar petani adalah petani dengan luasan di bawah kepemilikan 0,195 ha dan sebagian lagi adalah petani penggarap. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian penduduk termasuk golongan miskin pedesaan, dan sebagian kecil saja yang termasuk golongan ekonomi mampu. Pada saat ini terdapat Badan Perwakilan Desa (BPD) yang dianggap sebagai pengganti LKMD pada masa lalu. Lembaga ekonomi terutama lembaga keuangan yang ada adalah koperasi Unit desa (KUD) sudah tersedia, sehingga keberadaanya sangat membantu warga, khususnya petani. Dalam usaha untuk mengembangkan potensi masyarakat desa, diperlukan bantuan teknis dan financial yang relatif lebih longgar dan luwes dalam prosedur mendapatkannya, sehingga petani memiliki kesempatan luas untuk

mengembangkan usahanya. Kelembagaan ekonomi masih belum memadai bahkan tidak ada, tetapi di lain sisi peran BPD relatif kecil karena yang lebih berperan adalah kepala desa, tokoh masyarakat, pemuka masyarakat dan biasanya para tokoh masyarakat tersebut tidak pernah membawa nama lembaga dalam rapat-rapat desa. III-16

3.6.1 Pertanian
Lahan pertanian Desa Krueng Juli Barat seluas 35,23 Ha memiliki kondisi lahan baik, memiliki saluran irigasi yang sudah teratur. Hasil panen padi di desa ini telah pulih seperti sebelum tsunami, dengan produktivitas padi per Ha 6-7 Ton.

Tabel III.8
No 1 2

Produktivitas Lahan Pertanian
Jumlah Produksi 4-6 ton/ha 4-6 ton/ha Harga Rp 2.100,-)* Rp 2.100,-)* Area 18,3 ha 14,7 ha Masa Panen 1 x (tadah hujan) setahun 2 x (irigasi) Setahun 1 x setahun Nilai Produksi 1x panen Rp. 252.000.000,-s/d Rp. 378.000.000,Rp. 504.000.000,-s/d Rp 756.000.000,Rp 480.000.000,-

Intensitas Padi Padi

3 Kacang Kedelai 4 ton/ha Rp 4.000 18,3 ha Sumber: Tim Survai VP Lapangan Desa 2007 )* Harga pada saat padi dipanen atau disebut Kering Sawah (KS).

Meskipun demikian, kegiatan pertanian di Desa Krueng Juli Barat masih memiliki permasalahan. Berdasarkan hasil dialog dengan warga permasalahan pada saat ini antara lain: a. mahalnya harga pupuk, b. tidak ada KUD, c. kelompok tani belum dapat berperan secara maksimal, d. minimnya mesin perontok padi dan, e. terbatasnya traktor pengolah lahan, f. Sementara lahan perkebunan yang juga menyatu dengan lahan halaman rumah dengan luas mencapai 3,35 Ha, kondisinya belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Tanaman yang ada di kebun sekitar rumah dibiarkan tanpa perawatan. Jenis tanaman yang tumbuh adalah pisang, pohon kelapa, pandan, lontar, sebagian kecil kopi. Dari sekian banyak jenis komoditi perkebunan yang paling banyak adalah pohon kelapa. Masyarakat masih maksimal memanfaatkan lahan kebun untuk menunjang pemenuhan kebutuhan hidup. Hal ini disebabkan oleh tingkat pengetahuan masyarakat yang relatif rendah terhadap pengelolaan lahan kebun, kurangnya permodalan dan keterbatasan akses pasar. Berikut disajikan identifikasi produksi hasil lahan pertanian, selengkapnya lihat Tabel III.8.
Polindes di samping Meunasah
Foto: Area Pertanian di Desa Krueng Juli Barat

3.6.2 Nelayan dan Tambak
Sarana dan prasarana nelayan yang hilang dan rusak, berupa boat dan alat tangkap. Saat ini sebagian besar masyarakat nelayan belum dapat melaut secara optimal, karena keterbatasan peralatan dan perlengkapan. Akibatnya hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan. Kondisi ini ditambah dengan iklim laut yang kurang bersahabat. Di desa Krueng Juli Barat sebelum bencana tsunami juga terdapat kegiatan usaha di bidang tambak yang sebagian besar masih dikelola secara tradisional dan sebagian kecil yang dikelola secara intensif. Jenis komoditi hasil tambak adalah udang dan bandeng. Setelah tsunami penghasilan dari tambak sangat menurun dibandingkan dengan sebelum tsunami. Masyarakat sangat mengharapkan bantuan dalam penanganan tambak ini agar pendapatan kembali seperti sebelum tsunami. Di samping itu, di desa ini juga terdapat area pembibitan udang yang sudah rusak akibat disapu ombak tsunami. Sebelum tsunami, kegiatan pembibitan udang ini mampu menyerap tenaga kerja yang banyak. Berdasarkan hasil diskusi dengan masyarakat, bahwa 1 lokasi pembibitan udang mampu menampung 30-40 orang tenaga kerja dengan tingkat pendapatan rata-rata Rp. 800.000,00 per bulan. Potensi pengembangan penambakan udang/bandeng dan pembibitan udang di desa Krueng Juli Barat sangat besar. Permasalahan yang ada terjadinya pedangkalan lahan tambak, saluran irigasi lahan yang kurang baik, kekurangan modal, harga yang tidak kompetitif, bahan pakan yang terus meningkat, serta lokasi pembibitan udang yang sudah tidak berfungsi lagi, bahkan hancur.

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-17

Tabel III.9
No

Jenis Tambak yang Dapat Dikembangkan
Jenis Tambak Keterangan Tambak udang merupakan salah satu jenis mata pencaharian utama masyarakat desa Krueng Juli Barat yang memerlukan pengelolaan secara baik dan profesioanal. Tambak udang dapat dikelola secara tradisional maupun secara intensif. Di samping itu dalam proses pemeliharaan seringkali terjadi penyakit udang, yang sampai sekarang masing belum diperoleh penangkalnya. Harga udang relatif stabil dan pemasaran udang lebih mudah, karena pembeli langsung datang ke lokasi tambak, jika udang sudah dipanen. Jenis tambak ini relatif lebih mudah dibandingkan dengan tambak udang, tetapi masyarakat atau pemilik tambak kesulitan modal untuk mulai menambak dan saluran irigasi masih rusak (perlu perbaikan). Pengadaan dan pemasaran juga relatif mudah. Sedangkan harga ikan bandeng juga relatif stabil. Alternatif penanaman ikan atau penglolaan tamabak, selain udang dan ikan bandeng adalah tambak air tawar, yaitu ikan kerapu. Saat ini, petambak memerlukan bantuan saluran irigasi dan permodalan untuk mengelola tambak dan pelatihan pengelolaan tambak. Hal lain yang diperlukan adalah pembentukan kelompok petambak untuk memudahkan akses modal.

3.6.3 Peternakan
Sebelum terjadi bencana tsunami sebagian masyarakat desa menggeluti usaha ternak sapi, kambing, dan unggas, hampir setiap kepala keluarga memiliki peliharaan ternak. Kendala pengembangan peternakan sesuai hasil dialog antara lain: a. masih terbatasnya pejantan sehingga pengembangan hewan ternak menjadi terhambat, b. kesulitan pakan ternak, c. sering munculnya penyakit yakni penyakit mata dan kulit (sapi). Diperlukan bantuan ternak berupa lembu, kambing dan unggas untuk meningkatkan pendapatan masyarakat seperti sebelum terjadi bencana. Selengkapnya mengenai usaha pengembangan peternakan keluarga dapat dilihat pada tabel-tabel berikut. Tabel III.12
No

1

Udang

2

Ikan Bandeng

3

Ikan Kerapu

Peternakan yang Dapat Dikembangkan
Jenis Ternak Ayam Keterangan Meskipun saat ini banyak mewabah penyakit flu burung, tetapi dapat diantisipasi dengan menjaga kebersihan kandang. Jenis ternak ini juga merupakan usaha pemeliharaan hewan sampingan yang tidak banyak memerlukan perawatan secara khusus dan jenis ternak ini lebih cepat dikembangbiakkan Kambing merupakan jenis ternak andalan sebagian warga Desa Krueng Juli Barat sebelum tsunami. Keinginan warga adalah beternak kembali sebagai usaha sambilan untuk meningkatkan pendapatan. Pola ternak dapat dilakukan dengan cara grouping yaitu mengelompokkan KK menjadi 27 group yang diberi 3 ekor kambing untuk dipelihara oleh setiap group. Setelah kambing dewasa, maka dibelikan kambing lagi sebanyak 6 kambing. Selanjutnya setiap KK dibagi per ekor untuk dipelihara. Pemeliharaan butuh waktu 1-1,5 tahun. Model peternakan sapi menggunakan model revolving, di mana bantuan sapi diberikan melalui kelompok peternak. Sebelumnya harus dibentuk kelompok peternak terlebih dahulu yang dikoordinasi oleh aparat desa. Bantuan ini diberikan kepada setiap KK sejumlah 2 ekor lembu.

Sumber: Tim Survai VP Lapangan Desa 2007

Tabel III.10
No 1 2 3

Kebutuhan Pengembangan Tambak
Bantuan/KK 20.000-50 000 bibit 5.000 bibit 5.000–7.000 bibit Masa Panen 2–3 kali setahun 2 kali setahun 2 kali setahun Jumlah Petambak 50 KK 50 KK 50 KK Kebutuhan Pakan 1 ton/ha 1 ton/ha 1 ton/ha Kebutuhan Pupuk 800 kg 800 kg 800 kg Kebutuhan Kapur 1,5 ton 1,5 ton 1,5 ton

1

Jenis Tambak Udang Bandeng Kerapu

2

Kambing

Sumber: Tim Survai VP Lapangan Desa 2007

3

Sapi

Tabel III.11
No 1 2 3

Identifikasi Tingkat Pendapatan dari Kegiatan Tambak
Jumlah Upah buruh)* Upah buruh Upah buruh Tenaga Kerja Masyarakat setempat Masyarakat setempat Masyarakat setempat Penghasilan Rp 5.000.000,-–Rp 7.000.000,/panen/ha Rp 3.000.000,-–Rp 5.000.000,/panen/ha Rp 5.000.000,-–Rp 7.000.000,/panen/ha Keterangan Hasil berupa udang dewasa Hasil berupa bandeng dewasa Hasil berupa kerapu dewasa

Sumber: Tim Survai VP Lapangan Desa 2007 Jenis Tambak Udang Bandeng Kerapu

Tabel III.13
No

Identifikasi Kebutuhan Pengembangan
Bantuan/KK Umur Ternak Jumlah Peternak 209 KK 27 group 30 KK Persentase Distribusi 60% (126 KK) 100% 100% Jumlah Kebutuhan ± 756 ekor)* ± 81 ekor)** ± 81 ekor)***

Jenis Ternak

1 2 3

Ayam Kambing Sapi/Lembu

6 ekor 3 ekor per 6 KK 2 ekor per KK

4–5 bulan 1–1,5 bulan 2–3 tahun

Sumber: Tim Survai VP Lapangan Desa 2007 )* Kadang-kadang buruh diberi upah Rp 35.000,-per hari (Hasil FGD, 2007)

Sumber: Tim Survai VP Lapangan Desa 2007 )* Diperoleh dari 60% x 209 KK x 6 ekor = 756 ekor ayam. Jadi setiap KK mendapatkan 6 ekor ayam.

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-18

)** )***

Diperoleh dari 100% x 27 group x 3 ekor = 81 ekor kambing. Jadi setiap group mendapatkan 3 ekor kambing Diperoleh dari 100% x 30 KK x 2 ekor = 60 ekor sapi.

a. terbatasnya modal usaha yang diterima dari pemberi bantuan (BRR, NGO, dan Pemerintah),

Tabel III.14
No 1

Estimasi Pendapatan dari Kegiatan Perternakan Kecil
Jumlah 6 ekor Umur Ternak 4–5 bulan Penghasilan Per Ekor -Rp 25.000 per ekor -Rp 900 per butir telur Keterangan Hasil berupa telur dan daging Hasil berupa anak dan daging Hasil berupa anak dan daging

b. menurunnya daya beli masyarakat di desa, c. kurangnya keterampilan yang dimiliki,

Jenis Ternak Ayam

d. kesulitan memperoleh bahan baku. Berikut disajikan selengkapnya mengenai identifikasi kegiatan industry kecil dan jasa (lihat tabel-tabel berikut).

2 3

Kambing Sapi

3 ekor 2 ekor

1–1,5 bulan 2–2,5

-Rp 300.000 per ekor-Rp 400.000 per ekor Rp 2.000.000 per ekor–Rp 2.700.000 per ekor

Tabel III.16
No 1

Industri Rumah Tangga (IRT) yang dapat Dikembangkan
Jenis IRT Bordir/Menjahit Keterangan Industri bordir yang ada di desa Krueng Juli Barat saat ini terdapat 3 unit. Permintaan warga adalah ada bantuan pelatihan keterampilan untuk pengrajin dan kaum perempuan, bantuan peralatan mesin bordir, serta bantuan permodalan. Industri/pengrajin dapat dikerjakan di rumah warga. Warga meminta bantuan pelatihan pemasaran, modal awal, serta bantuan peralatan. Pengadaan dan pemasaran kue relatif mudah, karena dapat dijual di lingkungan desa, luar desa, atau pasar. Para pembuatan kue berharap ada bantuan permodalan untuk pengembangan usaha. Jenis usaha ini dikerjakan di rumah-rumah warga. Kerajinan lainnya di antaranya adalah pelukis, pengrajin kayu, dan sebagainya. Saat ini para pengrajin sangat membutuhkan bantuan modal dan pelatihan pengembangan usaha.

Sumber: Tim Survai VP Lapangan Desa 2007

Tabel III.15
No 1 2 3

Identifikasi Kebutuhan Kandang Ternak
Jenis Ternak Ayam Kambing Sapi Lokasi Kandang Sekitar rumah Sekitar rumah Sekitar rumah Ukuran 2 x 3 m2 atau 2 x 4 m2 3 x 6 m2 4 x 6 m2 Kapasitas 50 ekor 5 ekor 2 ekor 3 4 Pembuatan Kue Kerajinan lainnya 2 Kerajinan Gerabah

Sumber: Tim Survai VP Lapangan Desa 2007.

3.6.4 Perdagangan
Pola perdagangan masyarakat umumnya kios, warung kopi, warung nasi, toko kelontong yang menjual kebutuhan sehari-hari, serta sebagian kecil yang berdagang ikan keliling (moge) atau berpangkalan. Dari jumlah 12 pedagang yang ada, terdapat 6 pedagang yang mempunyai tempat usaha. Setelah tsunami kegiatan usaha sudah berjalan normal perdagangannya di tempat mereka tinggal (bagian dari rumahnya dan yang terpisah dengan rumahnya) atau tempat yang belum permanen.
3 Pembuatan Kue 2 Kerajinan Gerabah No 1 Jenis IRT Bordir/Menjahit

Sumber: Tim Survai VP Lapangan Desa 2007

Tabel III.17

Kebutuhan Pengembangan Industri Rumah Tangga
Lokasi Usaha Sekitar rumah/di gedung desa Kondisi Beroperasi 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. Bantuan Mesin bordir Pelatihan pengembangan usaha Modal bergulir Pembentukan kelompk pengrajin Peralatan Pelatihan pengembangan usaha Modal bergulir Pembentukan kelompk pengrajin Alat pembuatan kue Pelatihan pengembangan usaha Modal bergulir Pembentukan kelompok pengrajin Peralatan Pelatihan pengembangan usaha Modal bergulir Pembentukan kelompk pengrajin

di rumah

Beroperasi

di Rumah

Beroperasi

3.6.5 Jasa dan Industri Kecil
Kegiatan jasa yang ada sebelum bencana adalah perbengkelan dan pertukangan. Di Desa Krueng Juli Barat terdapat 5 unit bengkel perabot (tukang kayu) dan 4 unit bengkel las. Permasalahan yang dialami pelaku usaha antara lain:
LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA
Sumber: Tim Survai VP Lapangan Desa 2007 4 Kerajinan lainnya di Rumah Beroperasi

III-19

Tabel III.18

Identifikasi Permasalahan Ekonomi Lokal Desa Krueng Juli Barat

Sektor/Subsektor Pertanian Sawah

Kondisi Eksisting 1. Sawah dapat ditanami padi 2 kali setahun dengan baik. 2. Kacang Kedelai atau Kacang Tanah atau Jagung

Karakteristik Sawah irigasi 1. 2. 3. 4.

Permasalahan Harga padi yang relatif murah. Harga pupuk yang tinggi. Pola distribusi pupuk yang kurang baik. Permbaikan saluran irgasi 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Keinginan Warga Harga padi stabil. Menekan harga pupuk. Distribusi pupuk oleh KUD Perbaikan saluran irigasi penguatan kapasitas petani melalui pelatihan bantuan perontok padi

Sasaran Petani sawah

Potensi 20 ha x 6 ton x 2 kali panen = 240 ton gabah per 3 bulan

Keterangan Perlu mendapat bantuan karena salah sartu mata pencaharian utama dan saat masih belum ada bantuan

Untuk palawija (kacang kedelai 1 ha = 4 ton dan kacang tanah 1 ha = 3 ton) Petambak  10 ha x 400 kg = 4000 kg atau 4 ton per 4 bulan udang. Sementara untuk 1 thn dapat produksi 2 kali Perlu direhabilitasi sebagian dan belum ada bantuan

Perikanan (Pertambakan)

Menambak seadanya ada sebagian tambak intensif

1. 2.

Tambak udang dan bandeng Tambak tradisional dan intensif

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Petani kekurangan modal. Penyakit yang menyerang udang. Sulit melakukan pengembangan usaha tambak Jumlah produksi yang semakin menurun Pengelolaan yang masih alamiah Harga pakan yang semakin meningkat Harga udang yang menurun hingga 50%

1. 2.

3.

4. 5. 6. 7. 1. 2. 3. 4.

Akses modal yang mudah. Penemuan penyakit udang yang sampai saat ini belum diketahui obatnya (studi oleh dinas pertanian atau lembaga riset). Pelatihan dan pembinaan dalam pengembangan usaha tambak Peningkatan produksi Pembentukan koperasi Subsidi pakan Perbaikan saluran irigasi Rehabilitasi sarana dan prasarana pembibitan udang Penyediaan modal awal untuk usaha pelatihan manajemen usaha pengembangan usaha pembibitan bandeng

Jika bandeng 500 kg/ha

Pembibitan Udang

Sarana Pembibitan Udang hancur, meskipun sebagian masih ada tetapi tidak beropreasi

Usaha produksi bibit yang menyerap tenaga kerja banyak dan bersifat padat karya

1. Sarana dan Prasarana hancur. 2. Kekuranngan modal 3. Belum adanya dukungan pembangkitan usaha. 4. keterampilan yang masih kurang

Pengusaha pemebibitan udang dan sebagian masyarakat yang tertarik untuk usaha ini

Usaha ini mampu menyerap tenaga kerja yang banyak dan dapat memberikan pendapatan rata-rata Rp 800.000 – Rp 900.000 per bulan

Usaha ini segera mendapat bantuan dari BRR karena mampu mengurangi penggangguran di desa dan meningkatkan pendapatan masyarakat Sampai saat ini belum memeperoleh bantuan

Perkebunan

Dibiarkan tumbuh alami

Perkebunan kelapa, kopi, coklat, pisang, pinang

1.

2. 3. 4.

5. Peternakan: Ternak Ayam

Masyarakat kurang peduli terhadap tanaman di perkebunan. Kurangnya pemanfaatan lahan kebun. Hanya mengambil buahnya. Tanah dibiarkan ditumbuhi semak dan rumput yang kurang bermanfaat. Belum ada pengelolaan kebun yang baik.

1.

2. 3.

Perlu ada kesadaran masyarakat untuk mengelola kebun dengan menanam tanaman yang menghasilkan uang. Pelatihan tanaman di lading Penanaman pohon pinang

Seluruh KK yang mempunyai kebun

10 ha

Belum ada bantuan

1.

Ternak alam secara alamiah

Ternak ayam sambilan

1.

Ketidaktersediaan modal pengembangan usaha ternak.

1. 2.

Kemudahan akses modal Pelatihan ternak ayam.

Masyarakat yang memiliki lahan untuk

138 KK x 10 buah x 15 butir x 3 kali pertahun Rp

Belum ada bantuan

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-20

Sektor/Subsektor

Kondisi Eksisting untuk kebutuhan sehari-hari

Karakteristik 2. 3. 4.

Permasalahan Ketidaktersediaan kandang yang memadai. Pola ternak yang sifatnya perorangan. Mayarakat beternak hanya untuk kepentingan konsumsi dan hanya sebagian yang dijual. Pengetahuan masyarakat yang masih minim tentang beternak ayam yang baik. Ketidaktersediaan modal pengembangan usaha ternak. Ketidaktersediaan kandang yang memadai. Pola ternak yang sifatnya perorangan. Mayarakat beternak hanya untuk mengisi waktu luang. Pengetahuan masyarakat yang masih minim tentang beternak ayam yang baik. 3.

Keinginan Warga Transformasi pola ternak secara tradisional ke modern. Pengadaan ayam bentina 6 buah dan 1 jantan setiap KK, di mana 1 bentina dikembangbiak-kan.

Sasaran beternak, khususnya ibu-ibu rumah tangga, pemuda, dan anakanak (100% KK mempunyai ayam dengan jumlah 25/KK)

Potensi 1000, maka punya potensi pendapatan dari ternak ayam bertelor sebesar Rp 62.100.500,atau Rp 450.000,-per tahun per KK.

Keterangan

4.

5.

2.

Ternak Kambing, Lembu

Peternakan alamiah

Ternak kambing dan lembu sambilan

1. 2. 3. 4. 5.

1. 2. 3. 4.

Kemudahaan akses modal. Pelatihan ternak kambing dan lembu Pertanian berkelompok Beternak secara modern.

Seluruh KK (pemilik lembu 80%)

Peningkatan pendapatan Rp 300.000,-s/d Rp 500.000,-per bulan terhadap 80% pemilik lembu

Belum ada bantuan

Nelayan

1.

2.

Melaut dengan kondisi perahu dan jaring seadanya dan sebagian dengan perahu dan boat bantuan hibah Nelayan hanya mampu menghasilkan tangkapan ikan dengan nilai uang sebesar Rp 25.000,-– Rp 50.000,-

Menangkap ikan di laut

1. Kekurangan modal 2. Masih banyak nelayan yang belum mendapat bantuan 3. Nelayan yang menggunakan boat kesulitan membeli BBM. 4. Kondisi laut yang masih belum baik, sehingga tangkapan ikan sedikit. 5. Rendahnya kepasitas nelayan 6. Belum adanya kelompok nelayan

1. 2. 3. 4.

Pinjaman modal Ada bantuan perahu dan jaring untuk melaut Ada subsidi khusus harga BBM untuk perahu boat. Pembentukan kelompok nelayan atau koperasi nelayan

Masyarakat nelayan 58 orang

Peningkatan penangkapan ikan.

Sebagian mendapat bantuan perahu dari BRR berjumlah 15 unit

Industri Rumah Tangga (IKRT)

Terdapat 12 industri kerajinan

industri kerajinan 1. menjahit, anyaman, dan 2. industri kecil makanan 3.

4.

Kekurangan modal Banyak pemilik yang masih kurang memiliki keterampilan Untuk industri kayu dan pembuatan perahu kesulitan pemasaran dan pengadaan bahan baku papan Khusus penjahit, mesin jahit masih tradisional Kesulitan modal untuk pengembangan usaha. Omset penjualan mengalami penurunan. Pendapatan dan jumlah konsumen menurun

1. 2.

3. 4.

Akses modal Pelatihan keterampilan menjahit ibu-ibu rumah rumah tangga dan remaja wanita. Pengadaan mesin jahit dan yang relatif modern. Bantuan akses pemasaran.

Pemilik industri kerajinan

Peluang peningkatan produksi besar dann peningkatan pendapatan

Belum ada bantuan

Perdagangan

Terdapat 15 unit kegiatan perdagangan

Perdagangan barang konsumsi

1. 2. 3.

1. 2. 3.

Pinjaman modal Membangkitkan perekonomian desa. pelatihan manajemen dagang

Pedagang

Peningkatan penjualan 20%

Belum ada bantuan

Sumber: Hasil rembug desa Tim VP PT. BKG (2007)

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-21

3.7

Perumahan
Setelah bencana gempa dan tsunami bantuan rumah yang telah diberikan oleh pihak donor (Re-KOMPAK) sejumlah 28 unit rumah. Tersebar di 2 (dua) dusun, sedangkan rehabilitasi terhadap rumah tinggal yang merangkap sebagai toko maupun kedai dilakukan secara swadaya oleh pemilik sendiri. Berikut Tabel III.19 data perumahan di Desa Krueng Juli Barat sebelum dan setelah bencana. Pola perumahan penduduk membentuk pola linier mengikuti arah jaringan jalan.

1. Sirkulasi udara di dalam rumah lancar dengan jendela di tiap ruang. 2. Pencahayaan yang baik dengan jendela yang lebar. 3. Perlengkapan standar MCK (bak mandi, tempat cuci, sumur gali dan WC). 4. Rumah berdinding bata, dengan kusen dan daun pintu/jendela dari kayu. 5. Atap dari seng ataupun metal roof dengan kerangka dari kayu atau besi. 6. Ketinggian rumah dari tanah ke lantai minimal 30 cm.

3.8

Infrastruktur dan Utilitas Desa
Infrastruktur dan utilitas desa yang ada di Desa Krueng Juli Barat, baik sebelum dan sesudah bencana, diantaranya adalah jaringan jalan, jaringan air bersih, jaringan listrik,

Tabel III.19

Perumahan Desa Krueng Juli Barat Tahun 2003 dan 2006
Setelah Tsunami 2004 Jumlah Sarana (unit) Kondisi (RB/RS/RR) Hasil Survai 2007 Jumlah Sarana (unit) Kondisi (RB/RS/ RR) Lokasi Keterangan

Sebelum Tsunami Jenis Jumlah Sarana (unit) Kondisi (RB/RS/ RR)

jaringan drainase, serta MCK.

Rumah

166

Baik

1

Rusak Sedang Rusak Sedang Rusak Sedang

110

Baik

Menyebar di 2(dua) Dusun Dusun Batee Beutong Menyebar di 2(dua) Dusun

Toko Warung /Kedai

2

Baik

2

2

Baik

8

Baik

8

8

Baik

24 Unit dibangun baru oleh ReKompak Sudah Direhab oleh Pemiliknya Sudah Direhab oleh Pemiliknya

3.8.1 Jaringan Jalan
Jaringan jalan yang ada di Desa Krueng Juli Barat sebagian ruasnya yang rusak karena tsunami telah diperbaiki melalui program PPK dan bantuan dari Re-KOMPAK. Desa ini dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. Dengan transportasi kendaraan umum pedesaan adalah ojek becak motor (RBT). Berdasarkan data hasil survai lapangan dan rembug desa beberapa ruas jalan diperbaiki dan ditingkatkan kondisi perkerasannya. Untuk lebih jelasnya lihat Gambar 3.6 dan Tabel III.20.

Sumber: Survai Lapangan Desa, Bireuen-3, Tim Survai VP, Binacitra KG, 2007

Permasalahan 1. Luasan tanah/bidang di beberapa lokasi, tidak memungkinkan untuk membuat GSB sesuai standar peraturan pemerintah yang ada. 2. 1 kapling rumah dihuni lebih dari satu kepala keluarga.
No 1 2 Jenis Transportasi Kondisi Permukaan Keterjangkauan Tipe Angkutan Umum Utama Uraian Darat Aspal, kerikil, batu dan tanah Roda 4 dan Roda 2 Ojek Sepeda Motor Keterangan

Tabel III.20

Sarana Transportasi Tahun 2007

Potensi 1. Area permukiman yang luas yang kepemilikannya adalah milik masyarakat desa sehingga memudahkan dalam mensertifikasi. 2. Area permukiman yang dengan lokasi yang sangat strategis dekat dengan pusat kota Kecamatan Kuala.

3 4

5 Terminal Tidak Ada Sumber: Survai Lapangan Tim VP, Bireuen-3, PT. Bina Citra, 2007

Untuk akses jalan ke permukiman dan ke dalam lingkungan desa, juga telah dibuat gang atau lorong-lorong untuk menghubungkan antara dusun yang satu dengan dusun yang

Rekomendasi dan diskusi bersama warga untuk standar rumah sehat adalah sebagai berikut.

lain. Informasi lebih jelas tentang kondisi jalan di Desa Krueng Juli Barat dapat dilihat pada Tabel III.21.

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-22

Tabel III.21

Data Jaringan Jalan Desa Krueng Juli Barat Keterhubungan Jalan No 1 2 3 4 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama Jalan Jl. Juli Barat Jl. Lingkar Desa Jl. Hacthery 1 Jl. Hacthery 2 Lorong Arah Mane Lorong Alatif Lorong Ridwan Lorong M. Yahya Lorong Ismail Lorong Adnan Lorong Murdani Lorong Thamrin Yahya Lorong Kuburan Lorong Hamidah Lorong T. Thaher Lorong Rusli GRG Lorong Sulaeman Wahab Lorong Tarmijah Lorong Kuburan 2 Klasifikasi Jl. Utama Desa (Jalan Lokal Primer) Jl. Utama Desa (Jalan Lokal Primer) Jl. Utama Desa (Jalan Lokal Sekunder) Jl. Utama Desa (Jalan Lokal Sekunder) Lorong Lorong Lorong Lorong Lorong Lorong Lorong Lorong Lorong Lorong Lorong Lorong Lorong Lorong Lorong Menghubungkan ke Desa Beruawang-Desa Cot Trieng-Desa Krueng Juli Timur Menghubungkan elemen pembentuk ruang di wilayah internal desa Menghubungkan lokasi industri hatchery dengan pusat desa Menghubungkan lokasi industri hatchery dengan pusat desa Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Menghubungkan antar kawasan permukiman (jalan lingkungan) Lebar (m) 5 5 4 4 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 ROW (m) 7 6 5 5 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 Konstruksi/Kondisi Perkerasan Aspal Aspal Aspal Aspal Kerikil Aspal Semen Tanah Tanah Aspal Terkelupas Aspal Terkelupas Kerikil Kerikil Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah Tanah

Sumber: Survai Lapangan Desa, Bireuen-3, Tim Survai VP, Binacitra KG, 2007

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-23

Gambar 3.6 Jaringan Jalan Eksisting Desa Krueng Juli Barat

Ruas Jalan Utama Desa (Jl. Juli Barat) sudah diperkeras aspal

Ruas Jalan Utama Desa (Jl. Juli Barat) sudah diperkeras aspal Lorong yang masih belum diperkeras aspal

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-24

Analisis Teknis a. Hirarki Jalan Jaringan jalan yang ada di Desa Krueng Juli Barat disesuaikan dengan kebutuhan kawasan. Prinsip penataan sistem jaringan jalan adalah menyesuaikan dengan blok-blok kawasan yang dapat diakses melalui jaringan jalan sesuai dengan fungsinya. Belum semua jaringan jalan yang ada disediakan untuk lalu lintas dua arah. Hirarki jalan disusun untuk membedakan kelas dan fungsi jalan, diantaranya, adalah sebagai berikut. a) Jalan Utama Desa (Jalan Krueng Juli Barat ) berfungsi sebagai jalan kolektor yang mempunyai akses ke ibukota Kecamatan Kuala dan ke desa sekitar. b) Jalan Lingkungan, yaitu jalan yang berada di dalam permukiman yang berfungsi sebagai penghubung jalan-jalan lokal desa. c) Lorong merupakan jalan yang menghubungkan antara rumah dengan rumah sekitarnya di dalam satu dusun. b. Aksesibilitas Desa Krueng Juli Barat dapat diakses dari Kota Banda Aceh melalui Jl. Kecamatan Kuala yang terhubung langsung oleh jalan utama desa (Jalan Krueng Juli Barat). Penanganan dan pembangunan jaringan jalan meliputi beberapa hal, yaitu sebagai berikut. a) Penataan pola hirarki jalan dan land consolidation untuk mempermudah jalur evakuasi menuju tempat penyelamatan (bangunan atau bukit). b) Pembuatan jalan baru dan tembus (disesuaikan dengan aspirasi masyarakat yang merelakan tanahnya untuk pelebaran jalan). c) Perbaikan dan peningkatan jaringan jalan yang mengalami kerusakan diantaranya adalah perbaikan pondasi jalan lingkungan dan peningkatan jalan lingkungan dari jalan tanah menjadi jalan aspal.

pengumpul air dari blok-blok kawasan untuk dialirkan menuju ke saluran primer. Sebagai penampung utama air hujan untuk Desa Krueng Juli Barat adalah saluran primer (sungai) yang menuju laut. Setelah terjadi bencana kondisi konstruksi saluran sekunder mengalami kerusakan pada dinding saluran (hancur) dan terputus, untuk jarinagn drainase yang sudah terbangun di jalan. a. Jl. Krueng Juli barat sepanjang 845 m. b. Jl. Lingkar Desa sepanjang 643 m. c. Jl. Hacthery 1 sepanjang 72 m. Direncanakan penambahan jaringan drainase: a. Jl. Krueng Juli barat sepanjang 679 m. b. Jl Baru I sepanjang 170 m. c. Jl. Lingkar Desa sepanjang 600 m. d. Jl. Hacthery 1 sepanjang 363 m. e. Jl. Hacthery 2 sepanjang 432 m. f. Lorong-lorong pemukiman sepanjang 1450,5 m.. Untuk lebih jelasnya lihat Tabel III.22 dan Gambar 3.7.

Tabel III.22

Saluran Drainase Eksisting di Desa Krueng Juli Barat

No 1

Nama Jalan Jl. Krueng Juli Barat Lingkar Desa Hacthery 1

Konstruksi Saluran Tanah Tanah Tanah Tanah

Kondisi Pascatsunami Belum Ada Belum Ada Belum Ada Belum Ada

Panjang Saluran (meter) 845 643 72 1450,5

2 3 4 Lorong pemukiman Sumber: Survai Lapangan Tim VP, Bireuen-3, PT. Bina Citra, 2007

Drainase adalah sarana atau prasarana untuk mengalirkan air dari suatu tempat ke tempat lain dengan beda ketinggian tertentu sehingga air dapat mengalir. Sistem

3.8.2 Saluran Drainase
Sistem drainase yang ada di Desa Krueng Juli Barat menggunakan sistem gravitasi, di mana pola pengaliran air hujan dan air limbah (buangan) rumah tangga dialirkan secara gravitasi ke tempat yang lebih rendah menuju ke saluran pembuang Sungai Krueng Juli. Jaringan drainase berupa saluran sekunder di sisi jalan berfungsi sebagai
LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

drainase harus dihubungkan dengan badan penerima dan dapat menyalurkan, atau menampung air buangan sedemikian rupa sehingga maksud pengeringan daerah dapat terpenuhi. Badan penerima dapat berupa sungai, danau atau kolam yang mempunyai daya tampung yang cukup.

III-25

Gambar 3.7 Saluran Drainase Eksisting Desa Krueng Juli Barat

Ruas Jalan Utama Desa sebelah timur yang sudah memiliki sauran drainase

Ruas Jalan Utama Desa sebelah barat yang belum memiliki saluran darinase Lorong-loromng pemukiman yan belum memiliki saluran drainase diperkeras aspal

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-26

Sistem drainase di Desa Krueng Juli Barat direncanakan untuk menampung air limpasan permukaan yang berasal dari air hujan dan air buangan rumah tangga. Sifat alamiah air selalu mengalir menuju tempat yang rendah karena itu jaringan drainase pada Desa Krueng Juli Barat menggunakan dasar-dasar Analisis gravitasi. Dasar Analisis gravitasi adalah Analisis yang mempertimbangkan topografi wilayah, di mana prinsip air akan mengalir dari tempat yang tinggi ke ketempat yang lebih rendah. Pemecahan permasalahan drainase di Desa Krueng Juli Barat, yaitu sebagai berikut. 1) Pembangunan saluran drainase baik sekunder maupun tersier. 2) Saluran drainase dibangun pada sisi kanan dan kiri jalan sebagai saluran sekunder (jalan kolektor, lokal, dan lingkungan). Saluran drainase dibangun secara permanen. Kriteria dalam perencanaan sistem drainase, adalah sebagai berikut. 1) Perencanaan drainase harus sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas drainase sebagai penampung, pembagi dan pembuang air dapat sepenuhnya berdaya guna. 2) Pemilihan dimensi dari fasilitas drainase harus mempertimbangkan faktor ekonomi dan faktor keamanan. 3) Perencanaan drainase harus mempertimbangkan pula segi kemudahan dan nilai ekonomis terhadap pemeliharaan sistem drainase. 4) Sebagai bagian sistem drainase yang lebih besar atau sungai-sungai pengumpul drainase. Potensi Ketersediaan lahan dyang Desa Krueng Juli Barat masih cukup luas untuk perencanaan saluran drainase dan dukungan warga atas perencanaan tersebut. Permasalahan Kondisi drainase yang terdapat di Desa Krueng Juli Barat sebagian besar masih berupa tanah, bahkan masih banyak jalan-jalan desa yang belum dilengkapi dengan saluran drainase. Jaringan drainase di Desa Krueng Juli Barat bermuara di aliran Sungai/Krueng Krueng Juli Barat dengan dimensi lebar 50 cm dengan segmen terbuka.

3.8.3 Saluran Irigasi
Potensi lahan pertanian di Desa Krueng Juli Barat dapat dikembangkan menjadi sektor prioritas untuk membangkitkan ekonomi masyarakat setelah tsunami. Sistem pertanian di Desa Krueng Juli Barat masih mengandalkan saluran irigasi teknis maupun nonteknis yang bersumber dari Sungai/Krueng Krueng Juli Barat. Lahan pertanian di Desa Krueng Juli Barat dapat dikembangkan menjadi sektor prioritas untuk membangkitkan ekonomi masyarakat dengan pemanfaatan lahan dan pengelolaan kegiatan pertanian yang tepat guna. Untuk menunjang produktivitas hasil pertanian yang lebih baik dibutuhkan jaringan irigasi untuk dapat mengairi sawah. Hasil survai bersama masyarakat sistem pertanian sawah di Desa Krueng Juli Barat menggunakan irigasi teknis dan irigasi nonteknis. Berdasarkan hasil kesepakatan warga menginginkan dibangunnya jaringan irigasi teknis dari nonteknis dan pengerukan saluran utama yang yang sudah dangkal.

3.8.4 Persampahan
Sarana pembuangan sampah yang memadai tidak tersedia di Desa Krueng Juli Barat, penanganan sampah yang diterapkan oleh masyarakat adalah penanganan sampah individual di tiap rumah dengan cara menggali, menimbun dan membakar sampah. Untuk lingkungan yang berada di pesisir pantai atau sungai penanganan sampah dilakukan dengan cara membuangnya langsung ke laut dan sungai. Secara umum, kondisi ini masih memenuhi standar pelayanan minimal pengelolaan sampah yang ada untuk kawasan permukiman perdesaan. Permasalahan Penanganan sampah di Desa Krueng Juli Barat ini masih dilakukan secara individu di masing-masing rumah dengan cara membakar atau menimbun. Namun seiring perkembangan pembangunan, sistem penanganan seperti ini sudah tidak sesuai lagi sehingga perlu dikembangkan sistem penanganan yang lebih terpadu.

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-27

Gambar 3.8 Saluran Irigasi Eksisting Desa Krueng Juli Barat

Sauran utama irigasi di Desa Krueng Juli Barat

Sauran irigasi teknis di Desa Krueng Juli Barat

Sauran irigasi nonteknis di Desa Krueng Juli Barat

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-28

Penyusunan Rencana Pengembangan Desa (Village Planning) di NAD Paket 1.7.4. Bireuen-3

Potensi Masyarakat mendukung penerapan pelaksanaan sistem pengelolaan sampah bersama. Hal itu tentu saja dapat terlaksana dengan baik bila peran serta masyarakat untuk membuang sampahnya di TPS (Tempat Penampungan Sementara) juga difasilitasi oleh aparat pemerintahan yang menangani masalah persampahan di wilayah tersebut sehingga pengangkutan sampah dari kontainer (TPS) dapat dilakukan tepat waktu.

No 6 7 8 9 10

Komponen sumber sampah Sekolah Jalan arteri sekunder Jalan kolektor sekunder Jalan lokal Pasar

Volume 0.10-0.15 0.10-0.16 0.10-0.17 0.05-0.10 0.20-0.60 l/org/hr l/m/hr l/m/hr l/m/hr l/m /hr
2

Berat 0.010-0.020 0.020-0.100 0.010-0.050 0.005-0.025 0.100-0.300 kg/org/hr kg/m/hr kg/m/hr kg/m/hr kg/m /hr
2

A.

Sistem Pengelolaan Persampahan
1.
2. 3. Pengelolaan sampah dilakukan secara terorganisir. Teknik operasional. Teknis Pengelolaan dilakukan mandiri oleh masyarakat (dengan membentuk lembaga pengelolaan sampah dengan fungsi , tugas dan tanggung jawab yang jelas). Pembiayaan O & M menjadi tanggung jawab masyarakat. Didukung oleh peraturan yang melibatkan wewenang dan tanggung jawab pengelola. Peran serta aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, penyuluhan, dan sosialisasi peraturan.

Sumber: Deputi Bid.Pengembangan Kawasan, 2006

Berdasarkan proyeksi jumlah penduduk di Desa Krueng Juli Barat dan faktor timbulan sampah di atas, maka dapat diproyeksikan besar timbulan sampah dalam waktu 10 tahun mendatang, untuk lebih jelasnya lihat pada Tabel III.24. Tabel III.24
No 1 2 3 4 Jumlah Penduduk Target Pelayanan Jumlah Penduduk Terlayani Timbulan Sampah Terlayani a. Permukiman (2.25 l/orang/hr) b. Komersial (0,2 l/orang/hr) m /hr m /hr m /hr m /hr m /hr m /hr m /hr
3 3 3 3 3 3 3

Proyeksi Timbunan Sampah
Uraian Satuan Jiwa % Jiwa Proyeksi Penduduk 2007 1354 100 1354 2012 1385 100 1385 2017 1420 100 1420

4. 5. 6.

3,05 0,27 0,27 0,14 0,14 0,14 3,99 33 4 33

3,12 0,28 0,28 0,14 0,14 0,14 4,09 34 4 34

3,20 0,28 0,28 0,14 0,14 0,14 4,19 35 4 35

B.

Pengelolaan Persampahan
Untuk penanganan pengelolaan sampah, terlebih dahulu perlu diketahui besarnya timbulan sampah yang ada di wilayah kelurahan ini berdasarkan angka jumlah penduduk. Sesuai dengan SNI 19-3964-1994 tentang penentuan timbulan sampah, maka timbulan sampah ditentukan berdasarkan survai sistematis. Namun bila data survai tidak diperoleh, dapat pula dihitung dengan menggunakan Tabel III.23.
5

c. Fasilitas Umum (0,2 l/orang/h) d. Jalan (0,1 l/orang/hr) e. Saluran (0,1 l/orang/hr) f. Lain-lain (0,1 l/orang/hr) Jumlah Timbulan Kebutuhan Prasarana & Sarana a. Tong/bin kapasitas 120 liter b. Gerobak sampah kap. 1 m3 c. TPS/Kontainer kap. 3 m3

unit unit unit

Tabel III.23
No 1 2 3 4 5

Standar Timbulan Sampah Berdasarkan Sumbernya
Volume 2.25-2.50 2.00-2.25 1.75-2.00 0.50-0.75 2.50-3.00 l/org/hr l/org/hr l/org/hr l/org/hr l/org/hr Berat

Sumber: Analisis Tim Teknis PT. BKG, 2007 dan Deputi Bid.Pengembangan Kawasan, 2006 Komponen sumber sampah Rumah permanen Rumah semi permanen Rumah nonpermanen Kantor Toko/Ruko

Jumlah timbulan sampah tersebut merupakan dasar untuk perencanaan pengelolaan
0.350-0.400 0.300-0.400 0.250-0.300 0.025-0.100 0.150-0.350 kg/org/hr kg/org/hr kg/org/hr kg/org/hr kg/org/hr

sampah, yaitu berkaitan dengan hal-hal berikut. 1. Pemilihan dan penentuan peralatan, misalnya wadah, alat pengumpulan dan pengangkutan. 2. Perencanaan rute pengangkutan.

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-29

3. 4.

Fasilitas untuk daur ulang. Luas dan jenis TPA.

Potensi Jaringan pipa distribusi dan sambungan rumah PDAM di Desa Krueng Juli Barat telah terpasang tetapi belum mengalir. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai potensi desa untuk

C.

Pengembangan Prasarana Persampahan
Untuk mendukung operasional pengelolaan persampahan maka perlu didukung oleh prasarana dan sarana persampahan. Kebutuhan prasarana tersebut adalah sebagai berikut. 1. 2. 3. Penyediaan tong/bak sampah kapasitas 120 l sejumlah 17 unit. Penyediaan Gerobak Sampah kapasitas 1 m , sejumlah 2 unit. Pembangunan TPS kapasitas 3 m , sejumlah 1 unit.
3 3

bisa memenuhi kebutuhan air bersih. Pemanfaatan ini tentunya disertai dengan perencanaan jaringan pipa sebaik mungkin supaya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat wilayah ini dengan debit air yang sesuai. Sistem penyediaan air bersih dibagi dua, yaitu sebagai berikut. 1. Sistem individual. a. Rumah. b. Untuk kegiatan pedesaan. 2. Sistem penyediaan air komunal, yaitu dengan menyediakan air bersih untuk seluruh desa, seperti masjid, meunasah, dan lain-lain.

3.8.5 Air Bersih
Kebutuhan air bersih untuk dikosumsi di Desa Krueng Juli Barat dengan membeli air isi ulang/air mineral dan dari sumur cincin bagi masyarakat miskin walaupun tidak layak untuk dikosumsi (berwarna dan berasa asin). Air bersih untuk keperluan mandi cuci mempergunakan air sumur cincin. Lihat Gambar 3.9. Permasalahan Kebutuhan air bersih merupakan salah satu kebutuhan utama agar mahluk hidup dapat bertahan hidup. Pemenuhan kebutuhan air bersih di Desa Krueng Juli Barat masih kurang. Berdasarkan data dan kondisi eksisting yang telah dipaparkan sebelumnya, diketahui bahwa kebutuhan air bersih pada saat ini dipenuhi oleh adanya sumur dangkal dan dengan membeli air. Sudah memiliki tendon air bersih (penampungan air bersih) akan tetapi kondisinya tidak terawat dan tidak dapat dimanfaatkan lagi oleh warga. Dengan jumlah sumur dangkal yang ada (91%) dengan kedalaman 3 m hanya dapat digunakan untuk kebutuhan mandi dan mencuci, hal ini disebabkan karena kualitas airnya pascatsunami warnanya coklat dan rasanya payau. Untuk kebutuhan minum dan memasak umumnya masyarakat membeli atau mengambil dari warga desa lain.

Di Desa Krueng Juli Barat kebutuhan air dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu sebagai berikut. 1. Kebutuhan domistik atau rumah tangga (minum, memask, mencuci, WC, dan membersihkan rumah. 2. Kebutuhan nondomestik. a. Sosial: Masjid, polindes, kantor desa, dan sekolah. b. Komersil: kios, kedai, pasar. Berdasarkan potensi yang ada untuk kebutuhan air minum Desa Krueng Juli Barat mengandalkan jaringan PDAM kab Bireuen. Dalam merencanakan sistem jaringan perpipaan untuk kebutuhan air bersih, diperlukan kriteria perencanaan sebagai berikut. a. Sistem pelayanan Kran Umum/Hidran Umum (KU) dan Sambungan rumah (SR). b. Cakupan pelayanan 60%-100% daerah pelayanan. c. Jarak minimum antara kran umum/hidran umum 200 meter. d. Faktor hari maksimum: 1,15. e. Kapasitas reservoir: 2 x hari maksimum. f. Periode desain instalasi 10 tahun.

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-30

Gambar 3.9 Air Bersih Eksisting Desa Krueng Juli Barat

Tempat Penampungan Air Bersih yang kondisinya tidak terawat dan rusak

Sumur cincin yang merupakan salah satu sarana kebutuhan air bersih bagi warga Desa Krueng Juli Barat

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-31

Tabel III.25

Proyeksi Kebutuhan Air Bersih

NO. A. 1 2 3 B. 1

URAIAN Jumlah Penduduk dan Pelayanan Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk Terlayani Tingkat Pelayanan Tingkat Pelayanan Berdasarkan Sambungan Sambungan a. Sambungan Rumah Langsung (SR) b. Kran/Hidran Umum (KU) Jumlah Pelayanan Berdasarkan a. Sambungan Rumah Langsung (SR) b. Kran/Hidran Umum (KU) Jumlah Penduduk per Sambungan Sambungan Rumah Langsung (SR) Kran/Hidran Umum (KU) Jumlah Sambungan Domestik a. Sambungan Rumah Langsung (SR) b. Kran/Hidran Umum (KU) Total Sambungan Tingkat Kebutuhan Air Kebutuhan berdasarkan Sambungan a. Sambungan Rumah Langsung (SR) b. Kran/Hidran Umum (KU) Non Domestik Faktor Kebutuhan Air Non Domestik Kebutuhan Air Kebutuhan Domestik a. Sambungan Rumah Langsung (SR) b. Kran/Hidran Umum (KU) Total Kebutuhan Domesatik Kebutuhan Non Domestik Total Domestik + Non Domestik Faktor Kehilangan Air Proses Produksi Loss pada Jaringan Pipa Kehilangan air Produksi dan Distribusi Total Kebutuhan Air Produksi Bersih Faktor Kebutuhan Maksimum Faktor Jam Puncak Kebutuhan Maksimum Harian Kebutuhan Jam Puncak Waktu Produksi Kapasitas Produksi Rata-rata

UNIT

2008 1354 812 60

2009 1362 817 60

2010 1371 823 60

2011 1377 964 70

Tahun Proyeksi 2012 2013 1385 970 70 1390 973 70

2014 1398 1118 80

2015 1407 1126 80

2016 1414 1131 80

2017 1420 1278 90

jiwa jiwa %

% % jiwa jiwa jiwa/samb. jiwa/samb.

90 10 731 81 5 50

90 10 735 82 5 50

90 10 740 82 5 50

90 10 868 96 5 50

90 10 873 97 5 50

90 10 876 97 5 50

90 10 1007 112 5 50

90 10 1013 113 5 50

90 10 1018 113 5 50

90 10 1150 128 5 50

2

C. 1 2 D. 1

samb. samb.

2 E. 1

146 2 148

147 2 149

148 2 150

174 2 175

175 2 176

175 2 177

201 2 204

203 2 205

204 2 206

230 3 233

ltr/jiwa/hr ltr/jiwa/hr % Domestik

120 30 30

120 30 30

120 30 30

120 30 30

120 30 30

120 30 30

120 30 30

120 30 30

120 30 30

120 30 30

2 F. 1

m /hr 3 m /hr

3

2 3 G. 1 2 3 H. 1 2 3 4 5 6 7

m /hr % % 3 m /hr m /hr m /hr m /hr m /hr m /hr m /hr jam m /hr ltr/det
3 3 3 3 3 3 3

3

87,7 2,4 90,2 27 117,2 1 24 28,1 145,4 146,5 1,15 1,75 167,2 11 24 167,2 1,9

88,3 2,5 90,7 27 117,9 1 24 28,3 146,2 147,4 1,15 1,75 168,2 11 24 168,2 1,9

88,8 2,5 91,3 27 118,7 1 24 28,5 147,2 148,4 1,15 1,75 169,3 11 24 169,3 2,0

104,1 2,9 107,0 32 139,1 1 24 33,4 172,5 173,9 1,15 1,75 198,3 13 24 198,3 2,3

104,7 2,9 107,6 32 139,9 1 24 33,6 173,5 174,9 1,15 1,75 199,5 13 24 199,5 2,3

105,1 2,9 108,0 32 140,4 1 24 33,7 174,1 175,5 1,15 1,75 200,2 13 24 200,2 2,3

120,8 3,4 124,1 37 161,4 1 24 38,7 200,1 201,7 1,15 1,75 230,1 15 24 230,1 2,7

121,6 3,4 124,9 37 162,4 1 24 39,0 201,4 203,0 1,15 1,75 231,6 15 24 231,6 2,7

122,2 3,4 125,6 38 163,2 1 24 39,2 202,4 204,0 1,15 1,75 232,8 15 24 232,8 2,7

138,0 3,8 141,9 43 184,4 1 24 44,3 228,7 230,5 1,15 1,75 263,0 17 24 263,0 3,0

Sumber: Hasil Analisis. 2007

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-32

Untuk kebutuhan air domestik, terdapat dua jenis sambungan ke rumah warga, sebagai berikut. a. Sambungan Rumah Langsung (SR). SR digunakan oleh penduduk yang menempati rumah permanen dan semi permanen, dengan asumsi kebutuhan air rata-rata adalah 120 l/jiwa/hari dan bahwa secara umum rumah-rumah tersebut memiliki 5 orang penghuni. b. Kran Umum/Hidran Umum (KU) KU disediakan untuk masyarakat yang menempati rumah nonpermanen. Kebutuhan air untuk dapat hidup dengan layak dan higienis adalah 30 l/jiwa/hr. Jumlah ini yang dijadikan acuan untuk merencanakan pelayanan kebutuhan air melalui hidran umum. Berikut ini adalah tabel kriteria penyediaan air minum yang dikeluarkan oleh Dirjen Cipta Karya. Tabel III.26
No 1 2 5 4 No o. Militer Nama Satuan l/det/hr Kehilangan Air -Sistem Baru -Sistem Lama Kebutuhan Jam Puncak 20% dari kebutuhan rata-rata 30% dari kebutuhan rata-rata 1.75 x kebutuhan rata-rata Metropolitan Besar 10 Sedang Kecil

Sumbe: Dirjen Cipta Karya, 1999

Kebutuhan air bersih di Desa Krueng Juli Barat diusulkan untuk dapat dilayani dengan menggunakan jaringan pipa PDAM yang telah ada. Kriteria yang digunakan dalam penentuan kebutuhan air bersih di wilayah ini adalah sebagai berikut. a. Tingkat pelayanan: 60%-90% dari total jumlah penduduk. b. Kebutuhan air domestik: 120 lt/orang/hari.

Standar Kriteria Penyediaan Air Minum
Nama Satuan % l/jiwa/hr l/jiwa/hr Kebutuhan Nondomestik Metropolitan 100 190 30 Besar 100 170 30 Sedang 100 150 30 Kecil 90 120

c. Kebutuhan air nondomestik: 30% dari kebutuhan domestik (termasuk kebutuhan air untuk fasilitas umum). d. Jumlah Sambung Langsung Rumah (SR): 4 jiwa/unit melayani 90% dari total pelayanan. e. Jumlah Kran/Hidran Umum (KU): 50 jiwa/unit melayani 10% dari total pelayanan. Jumlah penduduk di Desa Krueng Juli Barat untuk saat ini adalah 545 jiwa, sehingga bila

Tingkat Pelayanan (Target) -Sambungan Rumah (SR) -Kran Umum (KU)

30

diproyeksikan untuk kebutuhan air bersih dalam waktu 10 tahun mendatang. Dari hasil
0.50-1-00 0.25-0.50 0.15-0.00 0.10-1.00 100-200 15 40 50 80 50 1.00-2.00 1 400 1.00-2.00
1

a. Industri Berat b. Industri Sedang c. Industri Ringan d. Pasar e. Ruko f. TK 3 g. SD h. SMP i. SMU atau lebih j. Kantor pemerintahan k. Masjid l. Gereja m. Rumah Sakit n. Puskesmas

l/det/hr l/det/hr l/det/hr l/det/hr l/det/hr l/det/hr l/det/hr l/det/hr l/det/hr l/det/hr l/det/hr l/det/hr l/det/hr l/det/hr

perhitungan tersebut, maka jumlah kebutuhan air untuk Desa Krueng Juli Barat di tahun 2017 adalah 1.5 l/det. Data tersebut kemudian digunakan sebagai input dalam perencanaan dalam merencanakan pengembangan dan penambahan jaringan. Adapun persyaratan air minum1, adalah sebagai berikut. 1. Syarat fisik: Tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, temperatur sesuai dan kekeruhan: 1–5 NTU. 2. Syarat kimiawi.
15% s/d 30% dari Kebutuhan Domestik

a. Tidak ada zat-zat kimia beracun. b. Tidak ada zat-zat kimia yang merugikan dalam pengaliran air di pipa-pipa dalam penggunaan untuk industri, mandi, mencuci, memasak dan lain-lain.

c.

PH: 5–8,5.
Peraturan Pemerintah RI No.46/MENKES/PER/1X/1990 Mengenai Persayaratan Kualitas Air Bersih

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-33

d. Kesadahan (terutama Ca dan Mg): 50–80 ppm CaO (ideal), 80–50 ppm CaO (diperbolehkan). 3. Syarat bakteriologis dan radioaktif. Tidak mengandung bakteri yang berbahaya, seperti pathogen dan E. coli, yang dapat menyebabkan penyakit typhus, kolera, disentri, diare, dan lain-lain yang tidak mengandung zat-zat radioaktif. Sistem penyediaan air bersih di Desa Krueng Juli Barat dibagi dua, yaitu sebagai berikut. 1. Sistem individual: Rumah dan Untuk kegiatan pedesaan. 2. Sistem penyediaan air komunal, yaitu dengan menyediakan air bersih bagi seluruh desa, seperti masjid, meunasah, dan lain-lain. Desa Krueng Juli Barat kebutuhan air dapat dikelompokkan menjadi dua, adalah sebagai berikut. 1. Kebutuhan domestik atau rumah tangga a. Minum, masak. b. Mencuci, WC. c. Membersihkan rumah. 2. Kebutuhan nondomestic a. Sosial: meunasah, posyandu, kantor desa, sekolah. b. Komersial: kios, kedai kopi.

membuang hajat langsung di kebun, sawah, atau sungai. MCK yang ada jarang digunakan dan kondisinya tidak terawat. Pembuangan air limbah domestik di Desa Krueng Juli Barat ini belum sepenuhnya terlayani. Limbah domestik berupa air buangan yang berasal dari kegiatan rumah tangga seperti mandi, memasak dan mencuci (gray water) ada yang sudah disalurkan ke sumur gali. Sebagian besar lainnya, air buangan tersebut dibiarkan menggenang atau dibuang kelahan kosong.

Tabel III.27 Kondisi Eksisting Sarana Sanitasi dan Air Buangan
Jenis Sarana Jamban Keluarga (JAGA) MCK Umum Belum ada JAGA Jumlah (Unit) 212 76 1 Kondisi Masih berfungsi Kebun, sungai, sawah Tidak terawat

Sumber: Hasil Survai Lapangan Tim VP PT. BKG, 2007

Permasalahan Dari kondisi eksisting yang ada di lingkungan Desa Krueng Juli Barat masih ada 47 rumah yang tidak memiliki jamban keluarga (JAGA) pribadi, sedangkan untuk MCK umum yang ada saat ini tidak terawat. Air buangan dari kegiatan rumah tangga seperti mandi, memasak dan mencuci (gray water) ada yang sudah disalurkan ke sumur gali. Sebagian besar lainnya, dibiarkan menggenang. Masih banyak penduduk yang membuang hajat langsung ke sungai, kebun dan sawah dan belum ada pengelolaan air buangan. dapat menyebabkan pencemaran air

3.8.6 Sanitasi
Sarana sanitasi sebagian besar warga menggunakan Jamban

permukaan dan air tanah dangkal. Pencemaran air tanah dangkal dan air permukaan akan menyebabkan tercemarnya sumber air baku air minum penduduk. Potensi Sebagian rumah (34%) sudah memiliki jamban keluarga yang telah memenuhi syarat untuk melayani kebutuhan akan sanitasi. Hal ini tentunya mendorong pengembangan sarana sanitasi jangka panjang di wilayah ini supaya di setiap rumah dapat tersedia jamban keluarga yang layak.

Keluarga (JAGA), sebanyak 212 rumah atau 64 %, untuk rumah bantuan yang sudah terbangun JAGA tidak dilengkapi dengan sumur resapan, sedangkan 76 rumah (34 %) belum memiliki JAGA. Mereka masih
Kondisi MCK Umum depan Meunasah Desa LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-34

A. Pengelolaan Sanitasi
Untuk pelayanan kebutuhan sarana sanitasi jangka pendek, diperlukan penambahan fasilitas MCK Umum di beberapa lokasi yang penentuannya dilakukan oleh masyarakat dengan memperhatikan persyaratan umum, sebagai berikut. 1. Memperhatikan kondisi lahan, masyarakat pengguna dan ketersedian air bersih yang menunjang sarana sanitasi tersebut. 2. Mempertimbangkan kemampuan lembaga dan partisipasi masyarakat setempat dalam pengelolaan MCK. 3. Merencanakan pembuangan air limbah dari MCK Umum melalui unit pengolahan sehingga tidak mencemari air, udara, dan tanah di lingkungan pemukiman.

Luas penampang melintang dan penampang saluran. Jumlah penduduk. Kondisi pengaliran. Ada atau tidaknya rintangan, belokan dan lain-lain. Karekteristik cairan.

Sedangkan untuk kriteria penanganan air limbah sebagai berikut. a. Pembuangan limbah domestik menggunakan sistem setempat (on site sanitation) melalui penyediaan jamban keluarga di masing-masing rumah dilengkapi dengan tangki septik dan bidang resapan, mengingat tingkat kepadatan penduduk kurang dari 200 jiwa/ha dan masih tersedianya lahan untuk tangki septik dan peresapan. b.

Air bekas mandi, cuci dan dapur disalurkan ke bidang resapan atau saluran pembuangan.

B. Prinsip dan Pertimbangan Pengelolaan Sanitasi
Beberapa pertimbangan prinsip dan pertimbangan dalam pengelolaan sanitasi, yaitu sebagai berikut. a. Teknologi yang dipilih ramah lingkungan, sehingga tidak mencemari air tanah dangkal yang banyak digunakan masyarakat sebagai sumber airnya (sumur gali atau sumur pompa dangkal). b. Teknologi yang dipilih murah tapi dapat diandalkan kualitas efluennya. c. Masyarakat dapat membiayai pengoperasian dan pemeliharaannya.

D. Analisis dan Kebutuhan prasarana Air Buangan
Untuk menangani pembuangan air limbah terdapat beberapa sistem, yaitu sebagai berikut.
Sistem sanitasi pembuangan setempat, yaitu dengan membuat cubluk atau tangki septik di halaman rumah sesuai dengan persyaratan teknis yang berlaku. Sistem sanitasi pembuangan terpusat yaitu dengan membangun jaringan saluran air limbah yang akan mengalirkan limbahnya ke suatu tempat pengolahan.

Berdasarkan tingkat kepadatan penduduk kurang dari 200 jiwa/hektar masih tersedia
tangki septik dan bidang resapan, maka pengelolaan limbah rumah tangga dilakukan dengan sistem pembuangan setempat (on site) yaitu pembuangan tinja dari jamban masingmasing rumah ke tangki septik dan resapan sedangkan air buangan mandi cuci dan dapur dialirkan ke bidang resapan atau saluran drainase.

Air limbah rumah tangga dapat dibagi menjadi 2 kategori sebagai berikut. Black water, air limbah yang terdiri dari tinja, air seni, dan air. Gray water, air limbah dari kamar mandi, air cucian, dan dapur.

C. Kriteria Penanganan Air Buangan
Air buangan yang disalurkan kedalam saluran harus mengalir dengan lancar menuju lokasi badan penerima (sungai, danau, dan Instalasi Pengolahan Air Buangan). Saluran harus dapat mengalir baik dalam keadaan debit minimum atau debit maksimal. Untuk itu perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu sebagai berikut.
Kemiringan saluran.

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-35

Tabel III.29

Ukuran Bidang Resapan
Dimensi Bak Resapan Tinggi Media Resapan Tinggi 0.64 0.96 0.96 0.96 Urugan Tanah 0.13 0.19 0.19 0.19 Lapisan Ijuk 0.13 0.19 0.19 0.19 Krikil 0.19 0.29 0.29 0.29 Pasangan Batu kosong 0.19 0.29 0.29 0.29

Panjang 0.64 0.96 0.96 0.96

Lebar 0.60 0.70 0.80 1.00

Sumber: Dirjen Cipta Karya, 1999

3.8.7 Listrik dan Telepon
Fasilitas listrik (PLN) sudah masuk di Desa Krueng Juli Barat. Jaringan listrik terdapat tiang-tiang listrik di jalan utama desa, untuk rumah-rumah warga yang tidak berdekatan dengan jalan utama dengan dicangkok arus listriknya dan untuk fasilitas sarana

telekomunikasi khususnya telepon kabel belum masuk di Desa Krueng Juli Barat. Dengan masuknya jaringan
Foto: Jaringan Listrik di Jalan PDG Desa Krueng Juli Barat

GSM dan CDMA membuat masyarakat menggunakan telepon genggam. Letak BTC jaringan GSM dan CDMA (Simpati, Mentarai, IM3, XL, Flexsi) terdapat di

Ilustrasi Sistem Pengelolaan Limbah Domestik

Kecamatan Kuala. Untuk fasilitas kantor pos belum ada sehingga untuk jasa pengiriman surat dan barang harus ke kantor pos di desa terdekat atau ke Kota

Tabel III.28

Ukuran Tangki Septik
DIMENSI SEPTIK TANK Panjang A = 2/3 P B = 1/3 P 0.4 0.5 0.5 0.6 A+B 1.2 1.4 1.5 1.8 Lebar 0.6 0.7 0.8 1.0 Tinggi 0.8 1.2 1.2 1.2 Tinggi Sekat 0.64 0.96 0.96 0.96 Foto: BTC GSM dan CDMA di Kecamatan Kuala

Bireuen. Kondisi fasilitas penerangan di Desa Krueng Juli Barat bersumber dari PLN dan nonPLN baik sesudah maupun sebelum bencana tsunami dan gempa bumi. Di Desa Krueng Juli Barat jumlah pengguna listrik dari PLN sebesar 80 KK dan sisanya tidak menggunakan listrik atau tidak terlayani oleh PLN (berdasarkan survai lapangan ,2007). Untuk lebih jelasnya lihat Gambar 3.10.

Jumlah Penghuni (Jiwa) 5 10 15 20 0.8 0.9 1.0 1.2

Sumber: Dirjen Cipta Karya, 1999

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-36

Gambar 3.10 Jaringan Listrik Eksisting Desa Krueng Juli Barat

Jaringan Listrik yang melintasi sepanjang Jalan Utama Desa (Jalan Krueng Juli Barat)

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-37

Untuk menindak lanjuti energi listrik pada tahun rencana, diperlukan pengembangan jaringan yang didapat dari hasil perhitungan kebutuhan listrik. Perkiraan kebutuhan energi listrik pada masa 5-10 tahun mendatang dihitung dengan berdasarkan kebutuhan sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. 5. Tabel III.30
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Penggunaan fasilitas telepon Desa Krueng Juli Barat dari jaringan TELKOM belum masuk, masyarakat Desa Krueng Juli Barat masih menggunakan perangkat telepon selular, seperti GSM Simpati, Mentarai, IM3, XL) dan CDMA (Flexi). Untuk perencanaan 10 tahun kedepan sambungan telpon dari TELKOM difokuskan pada penggunaan jaringan telepon nirkabel (Telkom Flexi dan operator telepon seluler).

Diasumsikan setiap keluarga terdiri dari 4–5 jiwa. Standard kebutuhan listrik antara 450–1200 Watt untuk rumah tangga. Standar kebutuhan kegiatan sosial dan ekonomi 25% dari kebutuhan rumah tangga. Standar kebutuhan penerangan jalan 15% dari kebutuhan rumah tangga. Daya listrik untuk industri besarnya disesuaikan dengan kebutuhan. Proyeksi Listrik
Uraian Satuan 2007 Jiwa (Jumlah Penduduk/5) x 10% (Jumlah Penduduk/5) x 30% (Jumlah Penduduk/5) x 60% 1300 Watt 900 Watt 450 Watt KW 25% Jumlah Listrik Untuk rumah 15% Jumlah listrik Untuk Rumah KW Tahun Proyeksi 2012 1385 21 63 126 27 KW 57 KW 57 KW 141 KW 55 KW 21 KW 198 2017 1420 25 75 150 33 KW 68 KW 68 KW 168 KW 42 KW 25 KW 235

3.9

Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial
Tingkat kerusakan bangunan fasilitas sosial dan fasilitas umum bervariasi dari rusak ringan sampai rusak berat, selengkapnya mengenai data tingkat kerusakan dan ketersediaan fasilitas sosial dan fasilitas umum di Desa Krueng Juli Barat dapat dilihat pada bahasan berikut.

3.9.1 Fasilitas Pemerintahan
Fasilitas pemerintahan yang ada adalah Kantor Desa merangkap bangunan Posyandu bantuan dari UNDP. Fasilitas pemerintahan di Desa Krueng Juli Barat berupa meunasah yang juga merupakan kantor. Berdasarkan standar kebutuhan fasilitas kantor desa, yaitu jumlah pendukung 10.000 jiwa dan berdasarkan data jumlah penduduk eksisting (2007) yaitu hanya 682 jiwa serta hasil proyeksi jumlah penduduk pada tahun 2007, yaitu 1342 jiwa, maka tidak memenuhi standar kebutuhan, akan tetapi karena pemerintahan desa, maka diperlukan 1 (satu) kantor desa sebagai pusat pemerintahan penduduk di Desa

Jumlah Penduduk Jumlah Rumah Type Besar Jumlah Rumah Type Sedang Jumlah Rumah Type Kecil Daya Rumah Type Besar Daya Rumah Type Sedang Daya Rumah Type Kecil Jumlah Kebutuhan Untuk Rumah Sarana (Fasos Fasum) Penerangan Jalan Total Kebutuhan Daya Listrik

1342 17 51 102 22 KW 46 KW 46 KW 114 KW 29 KW 17 KW 160

Krueng Juli Barat. Untuk rencana tahun 2008 diperlukan pembangunan kantor desa yang akan diletakkan di dekat bangunan meunasah. Berikut ini mengenai kebutuhan fasilitas pemerintahan dapat dilihat pada Tabel III.31.

Sumber: Analisis Tim Teknis PT. BKG, 2007

Dari tabel di atas, dapat diketahui energi listrik yang diperlukan di wilayah perencanaan sampai dengan tahun 2017 adalah sebesar 235 kilowatt (KW). Perhitungan ini merupakan kebutuhan minimum masyarakat yang harus terpenuhi, bila tingkat kebutuhan energi listrik semakin meningkat karena adanya penambahan kegiatan di kelurahan, maka jumlah daya listrik yang harus tersedia juga tentunya akan semakin besar.
No. 1. 3.

Tabel III.31

Kebutuhan Fasilitas Pemerintahan di Desa Krueng Juli Barat
Jenis Fasilitas Pemerintahan Kantor Desa Gedung Posyandu Jumlah 1 1 Keterangan Bantuan dari UNDP Bantuan dari UNDP

Sumber: Analisis Tim Teknis PT. BKG, 2007

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-38

3.9.2 Fasilitas Pendidikan
Fasilitas pendidikan yang ada adalah TK, sedangkan Sekolah Dasar (SD) dan SMP dilayani oleh SD dan SMP di Desa Krueng Juli Timur dan Desa Beurawang. Berikut disajikan data fasilitas pendidikan yang terdapat di Desa Krueng Juli Barat sebelum dan setelah bencana, selengkapnya lihat tabel. Lihat Tabel III.32. Untuk memenuhi pelayanan pendidikan bagi warga Desa Krueng Juli Barat diperolah dari desa sekitar dan Kota Bireun dengan jarak tempuh bervariasi berdasarkan lokasi fasilitas pendidikan berada. Untuk fasilitas TK harus menempuh jarak 2 km (di Kecamatan Kuala), SD menempuh jarak 1 km, SMP menempuh jarak 2 km (di Kecamatan Kuala) dan 1 km (di Kota Bireuen), SMU menempuh jarak 2 km (di Kecamatan Kuala) dan untuk perguruan tinggi (Al-Muslim) menempuh jarak 3 km, Pendidikan Guru TK di Kota Bireuen dengan jarak tempuh 3 km. Akses untuk menempuk fasilitas penduduk tersebut mudah. Tabel III.32 Fasilitas Pendidikan Desa Krueng Juli Barat
Sebelum Tsunami Jenis Fasilitas Peribadatan Jumlah Sarana (unit) 1 Kondisi (RB/RS/R R) Baik Sesudah Tsunami 2004 Jumlah Sarana (unit) 1 Kondisi (RB/RS/ RR) Baik Hasil Survai 2007 Jumlah Sarana (unit) 1 Kondisi (RB/RS/R R) Baik Lokasi Luas (m2) Keterangan

3.9.3 Fasilitas Peribadatan
Berdasarkan hasil survai di lapangan (tahun 2007) di Desa Krueng Juli Barat hanya fasilitas peribadatan berupa langgar atau meunasah dan bila didasarkan pada hasil Analisis, maka kebutuhan fasilitas peribadatan di Desa Krueng Juli Barat dari tahu 20072017 sudah mencukupi dan ada penambahan 1 unit langgar/meunasah pada tahun 2017, dengan luas lahan 0,05 ha. Lihat Tabel III.34. Tabel III. 34
Jenis Fasilitas Peribadat an Mesjid

Fasilitas Peribadatan Desa Krueng Juli Barat
Sesudah Tsunami 2004 Jumlah Sarana (unit) Kondisi (RB/RS/ RR) Hasil Survai 2007 Jumlah Sarana (unit) Kondisi (RB/RS/R R) Lokasi Luas (m2) Keterangan

Sebelum Tsunami Jumlah Sarana (unit) Kondisi (RB/RS/ RR)

Dusun Nelayan dan Dusun Batee Beutong -

-

-

Musholla /Meunasah

2

Baik

2

Rusak Sedang

2

Proses

15x19

Sedang proses direhab Usulan untuk dibangun

Balai Pengajian

2

Baik

-

Hancur

-

Hancur

-

Sumber: Survai Lapangan Desa, Bireuen-3, Tim Survai VP, Binacitra KG, 2007

TK (Taman Kanak-Kanak)

Dusun Nelayan

-

Bantuan ReKOMPAK

Tabel III.35 Kebutuhan Fasilitas Peribadatan di Desa Krueng Juli Barat Tahun 2007–2017
Jumlah Tahun Penduduk (jiwa) 2007 1.342 1.385 1.420 Langgar Unit 2 2 2 (ha) 0,025 0,025 0,05 Jenis Sarana Peribadatan Masjid Unit 0 0 0 (ha) 0,00 0,00 0,00 Gereja Unit 0 0 0 (ha) 0,00 0,00 0,00 Vihara Unit 0 0 0 (ha) 0,00 0,00 0,00 Total Unit 1 1 2 (ha) 0,03 0,03 0,05

Sumber: Survai Lapangan Desa, Bireuen-3, Tim Survai VP, Binacitra KG, 2007

Tabel III.33

Kebutuhan Fasilitas Pendidikan di Desa Krueng Juli Barat Tahun 2008-2017
Jenis Sarana Pendidikan SD SLTP SMU Unit (ha) Unit (ha) Unit (ha) 0 0,00 0 0,00 0 0,00 0 0 0,00 0,00 0 0 0,00 0,00 0 0 0,00 0,00

Tahun 2007 2012 2017

Jumlah Penduduk (jiwa) 1.342 1.385 1.420

TK Unit 1 1 1 (ha) 0,00 0,00 0,05

PT Unit (ha) 0 0,00 0 0 0,00 0,00

Total Luas Unit (ha) 0 0,00 0 1 0,00 0,05

2012 2017

Sumber: Analisis Tim Teknis PT. BKG, 2007 Keterangan: Pddk Pendukung Luas (Ha) TK 1000 0,05 SD 6000 0,35 SLTP 25000 0,4 SMU 30000 0,4 PT 70000 1

Sumber: Analisis Tim Teknis PT. BKG, 2007 Keterangan: Penduduk Pendukung Langgar/Mushala 500 1 masjid 3000 2 gereja 80000 4 viihara 80000 5

Luas (ha) 0,025 0,2 0,3 0,3

Berdasarkan hasil kesepakatan saat dilakukan FGD (Focus Group Discussion) oleh Tim Village Planning warga menginginkan agar bangunan meunasah yang ada perlu perbaikan dan pembangunan tempat wudhu.

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-39

3.9.4 Fasilitas Kesehatan
Fasilitas kesehatan yang ada di Desa Krueng Juli Barat adalah Posyandu dan Tempat praktek bidan desa. Selama ini pelayanan kesehatan masyarakat dilayani oleh Puskesmas yang ada di Desa Batee Timoh, sekitar 2 Km dari Desa Krueng Juli Barat. Tabel III.36 Fasilitas Kesehatan Desa Krueng Juli Barat
Sebelum Tsunami Jenis Fasilitas Kesehatan Jumlah Sarana (unit) 1 Kondisi (RB/RS/ RR) Baik Sesudah Tsunami 2004 Jumlah Sarana (unit) 1 Kondisi (RB/RS/ RR) Hancur Rusak Ringan Hasil Survai 2007 Jumlah Sarana (unit) 1 Kondisi (RB/RS/R R) Baik Lokasi Luas (m2) Keterangan

Tabel III.38
Jenis Fasilitas Peribadatan Lap. Bulu Tangkis Lapangan Volly Lapangan Bola Kaki

Fasilitas Ruang Terbuka Hijau dan Olah Raga Desa Krueng Juli Barat
Sesudah Tsunami 2004 Jumlah Sarana (unit) 1 1 Kondisi (RB/RS/R R) Rusak Berat Rusak Berat Rusak Hasil Survai 2007 Jumlah Sarana (unit) 1 1 Kondisi (RB/RS/R R) Proses dibangun Baik Lokasi Luas (m2) Keterangan

Sebelum Tsunami Jumlah Sarana (unit) 1 1 Kondisi (RB/RS/ RR) Baik Baik

Dusun Dusun nelayan Dusun Nelayan Dusun Batee Beutong

13x25 13x25 80x 100

Proses dibangun Bantuan dari UNDP Masih Lapangan Sementara

1

Baik

1

1

Baik

Rumah Sakit Posyandu Tempat Praktek Bidan

Dusun Blang Pulo Dusun Blang Pulo

-

Usulan untuk Dibangun Sudah Direhab Sudah Direhab

Sumber: Survai Lapangan Desa, Bireuen-3, Tim Survai VP, Binacitra KG, 2007

3.10 Mitigasi Bencana Tsunami dan Gempa Bumi
Berdasarkan pengalaman dari warga Desa Krueng Juli Barat elevasi gelombang tsunami tertingi di daerah pantai yaitu setinggi 10 meter dan 3 meter pada daerah permukiman. Gelombang tsunami ini merupakan bencana yang terbesar dan pertama kali terjadi di

1

Baik

1

1

Baik

-

Sumber: Survai Lapangan Desa, Bireuen-3, Tim Survai VP, Binacitra KG, 2007

Tabel III.37

Kebutuhan Fasilitas Kesehatan di Desa Krueng Juli Barat Tahun 2008–2017
Jumlah Jenis Sarana Kesehatan Apotik Unit 682 843 1.001 0 0 0 (ha) 0,0 0,0 0,0 Bp/Klinik Unit 0 0 0 (ha) 0,0 0,0 0,0 Pus. Pemb Unit 0 0 0 (ha) 0,0 0,0 0,0 Puskesmas Unit 0 0 0 (ha) 0,0 0,0 0,0 Total Unit 0 0 0 (ha) 0,0 0,0 0,0

Desa Krueng Juli Barat khususnya sehingga belum ada pengetahuan tentang tandatanda bencana gelombang tsunami. Jumlah warga yang meninggal sebanyak 10 (sepuluh) orang menghancurkan bangunan rumah, fasilitas umum dan sosial, serta infrastruktur desa. Berdasarkan pengalaman dari warga Desa Krueng Juli Barat serta berdasarkan analisis faktor penyebab kerusakan bangunan dan korban jiwa di Desa Krueng Juli Barat adalah sebagai berikut. 1. Tidak terdapat sabuk hijau (green belt) yang menahan laju arus tsunami sehingga gelombang tsunami langsung menerjang kawasan permukiman dan merusak bangunan.

Tahun

Penduduk (jiwa)

2007 2012 2017

Sumber: Analisis Tim Teknis PT. BKG, 2007 Keterangan: Pddk Pendukung Apotik 10000 Bp/Klinik 3000 Puskesmas Pembt. 10000 Puskesmas 30000 Luas (Ha) 0,04 0,03 0,02 0,24

3.9.5 Fasilitas Olah Raga
Ruang terbuka hijau (Lapangan Olah Raga/Sepak Bola) kondisinya masih sementara, memerlukan bantuan rehabilitasi. Lapangan ini merupakan salah satu fasilitas utama kegiatan oleh raga warga desa.. Untuk perincian kebutuhan fasilitas tersebut dapat dilihat pada Tabel III.38.
LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

2. Tidak terdapat tempat khusus sebagai tempat penyelamatan warga, sehingga warga menyelamatkan diri secara sporadis. 3. Tidak terdapat jalur penyelamatan yang mengarahkan warga ke tempat-tempat penyelamatan atau ke daerah-daerah aman.

III-40

4. Lebar jalan maupun lorong yang tidak begitu lebar untuk menampung warga secara serentak/bersamaan melarikan diri menuju ke lokasi yang cukup aman, sehingga banyak warga yang tidak leluasa untuk berlari menyelamatkan diri. 5. Tidak terdapat bukit yang berdekatan dengan Desa Krueng Juli Barat sehingga tidak ada tempat alami bagi warga untuk menyelamatkan diri dari terjangan arus tsunami. Berdasarkan analisis di atas maka perlu adanya arahan rencana mengenai teknik penanganan bencana gempa dan tsunami dengan tujuan untuk memperkecil jatuhnya korban jiwa. Beberapa arahan rencana yang harus dipertimbangkan dalam proses mitigasi atau penangan bencana adalah sebagai berikut.

B. Bangunan Penyelamatan
Berdasarkan letak Desa Krueng Juli Barat yang dekat dengan area pantai maka desa ini tidak memiliki bangunan penyelamatan sehingga saat terjadi bencana gempa dan tsunami warga menuju masjid yang terdapat di Desa Masjid untuk berkumpul.

C. Sistem Peringatan Dini
Desa Krueng Juli Barat dan desa lainnya di seluruh Propinsi Aceh khususnya dan seluruh Indonesia umumnya, belum dilengkapi dengan sistem peringatan dini terhadap datangnya gelombang tsunami. Sehingga umumnya masyarakat Desa Krueng Juli Barat tidak cukup waktu untuk menyelamatkan diri/evakuasi ke tempat yang lebih aman. Berdasarkan pengalaman dari bencana yang lalu datangnya gelombang tsunami berkisar 15-20 menit sejak terjadinya gempa sehingga perlu diciptakan suatu sistem peringatan yang memberi kesempatan yang cukup bagi warga dalam proses evakuasi, yaitu dengan memberdayakan kepedulian, pengetahuan, dan keterampilan warga desa dalam

A.

Arah Penyelamatan
Berdasarkan hasil survai bersama masyarakat dan pengalaman dari warga ketika menyelamatkan diri dengan menjauhi area pantai dan sungai secara cepat ke jalan utama desa arah selatan menuju simpang Peunayo. Potensi Topografi Desa Krueng Juli Barat memiliki kontur tertinggi ± 6 m dpl, maka Desa Krueng Juli Barat tidak memiliki area penyelamatan bencana sendiri dan harus keluar desa. Oleh karena itu ketika terjadi becana tsunami warga desa berlarian menjauhi gelombang tsunami ke luar desa untuk menyelamatkan diri. Adapun area penyelamatan atau arah pelarian ke desa tetangga, sebagai berikut. Ke Kota Bireun a. Jarak jangkauan dan waktu tempuh b. Kepemilikan c. Aksesibilitas d. Bentuk

menghadapi bencana.

3.11 Bencana Banjir/Genangan
Setelah terjadi bencana gelombang tsunami dan gempa bumi yang menghancurkan bangunan dan menelan korban jiwa, maka air laut yang masuk kawasan permukiman tersebut tidak langsung surut, melainkan menggenang sampai ke jalan utama desa dari

= = = =

± 3 km meter, 25–50 menit. lahan warga. Mudah karena akses ke Desa Masjid memiliki lebar jalan 4 m. Masjid.

arah pantai selama 30 hari. Genangan air laut tersebut mengakibatkan warga desa mengungsikan diri ke daerah yang aman yaitu di masjid Desa Munasah Masjid yang lokasinya berdekatan dengan Desa Krueng Juli Barat. Selain menghancurkan bangunan dan infrastruktur desa, gelombang tsunami tersebut juga menghancurkan vegetasi, area pertanian, pertambakan, dan perkebunan warga.

Permasalahan Beberapa permasalahan yang menjadi kendala penyelamatan mitigasi. a. Desa Krueng Juli Barat terletak di pinggir pantai sehingga sulit menghindari gelombang tsunami. b. Kurangnya tanaman pengaman di pantai sebagai penahan ombak. c. Minimnya bangunan yang bisa dijadikan bangunan penyelamatan.

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-41

Gambar 3.11

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-42

Gambar 3.12

LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

III-43

3.12 Konsep Pengembangan Desa Krueng Juli Barat
Berpijak pada potensi dan masalah di Desa Krueng Juli Barat, maka dapat dirumuskan Konsep pengembangan desa yang meliputi beberapa hal, yaitu sebagai berikut. a. Konsep Pengembangan Struktur Tata Ruang Desa. Desa Krueng Juli Barat memiliki potensi strategis karena terletak di tepi laut (Selat Malaka) dengan potensi persawahan yang potensial. Pengembangan Struktur Tata Ruang diarahkan terhadap pengembangan aksesibilitas ke pusat pertumbuhan di bagian selatan desa serta peningkatan akses ke desa-desa sekitarnya. Untuk menunjang struktur tata ruang desa tersebut perlu peningkatan kondisi jaringan jalan ke bagian utara Desa dan Timur-Barat Desa khususnya ke arah Desa Meunasah Blank sebagai desa induk. Pengembangan Jaringan jalan tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kegiatan jasa perdagangan di sepanjang jalan tersebut. Fasilitas sosial ekonomi desa dapat pula dikembangkan sepanjang jalan utama menuju Desa Meunasah Blank, disamping lokasinya strategis juga relatif lebih aman dari gelombang tsunami, karena lokasinya menjauhi pantai. Pusat Desa Krueng Juli Barat dikembangkan di sekitar lokasi Meunasah yang memiliki akses cukup baik ke berbagai penjuru desa dan daerah sekitarnya. b. Konsep Pengembangan Pemanfaatan Ruang. Disamping sebagai desa nelayan, Desa Krueng Juli Barat juga berfungsi sebagai desa pertanian karena hampir 80% luas Desa Krueng Juli Barat berupa lahan pertanian dengan irigasi teknis dan nonteknis. Oleh karena itu pengembangan Desa Krueng Juli Barat akan diarahkan guna mengoptimalkan pemanfaatan ruang untuk fungsi pertanian. Pertumbuhan kawasan terbangun khususnya permukiman akan diarahkan untuk menempati kawasan permukiman yang ada. d. Permukiman diarahkan tumbuh secara alami dengan pola intensifikasi dan ekstensifikasi di sekitar lingkungan permukiman yang ada. Fasilitas sosial dan fasilitas umum diarahkan untuk menempati pusat desa yang terletak di Dusun Teumereu. Jalur Hijau berupa Hutan Mangrove perlu dikembangkan disepanjang sempadan pantai minimal selebar 100 m, disamping berfungsi sebagai areal konservasi, hutan mangrove juga dapat berfungsi sebagai sarana mitigasi bencana tsunami. Jalur hijau
LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

juga perlu dikembangkan di sepanjang sempadan sungai, sebagai areal konservasi dan sarana ruang terbuka hijau yang berfungsi rekreatif. Jalur hijau juga perlu dikembangkan sepanjang jaringan jalan sebagai peneduh, elemen lansekap dan meningkatkan kesejukan iklim mikro. Ruang terbuka hijau dapat dikembangkan di sekitar lokasi Meunasah, Balai Desa, Fasilitas Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Olah Raga serta ruang publik lainnya. c. Konsep Pengembangan Sistem Infrastruktur Permukiman di Desa Krueng Juli Barat tumbuh secara linier sepanjang Jalan Utama Desa (Jalan Krueng Juli Barat) yang melintang dari arah Barat ke Timur dan arah Utara ke Selatan. Pola permukiman linier tersebut memudahkan pengembangan infasruktur Desa. Konsep pengembangan infrastuktur meliputi beberapa kegiatan pengembangan, yaitu sebagai berikut. a) Peningkatan kualitas konstruksi jaringan jalan dari tanah menjadi aspal penetrasi (semua Jalan Lingkungan) dan peningkatan kualitas konstruksi lorong dari tanah menjadi beton/talud. (semua lorong). b) Peningkatan kualitas sistem irigasi dari nonteknis (tanah) menjadi menjadi irigasi teknis (perkerasan beton) diseluru saluran irigasi nonteknis. c) Peningkatan saluran drainase pada semua ruas jaringan jalan yang tidak memiliki saluran drainase. d) Peningkatan pelayanan jaringan listrik. e) Peningkatan pelayanan persampahan. f) Peningkatan pelayanan jaringan air bersih. g) Peningkatan sanitasi. h) Pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sesuai kebutuhan Desa Krueng Juli Barat. Konsep Pengembangan Sosial, Ekonomi dan Budaya meliputi beberapa aspek pengembangan, yaitu sebagai berikut. a) Pengembangan lapangan pekerjaan di sektor pertanian, peternakan, perikanan, industri kecil, dan perdagangan. b) Meningkatan pendidikan dan keterampilan masyarakat khususnya dalam hal industri kecil, pertambakan, perikanan tangkap dan perdagangan.

III-44

c) Meningkatkan kegiatan gotong royong oleh warga desa, khususnya dalam mengembangan infrastruktur desa seperti rehabilitasi jalan, pembangunan balai desa, pembangunan fasilitas pendidikan dsb. e. Konsep pengembangan perumahan di Desa Krueng Juli Barat meliputi beberapa aspek, yaitu sebagai berikut. a) Mengatur tata letak bangunan sesuai kaidah perencanaan yang berlaku yaitu seperti GSB, Ketinggian Bangunan, orientasi bangunan. b) Menanam tanaman di perkarangan rumah dengan tanaman produktif yang berfungsi pula sebagai sarana penghijauan desa. c) Membangun perumahan yang sesuai dengan mitigasi bencana seperti bangunan tahan gempa bumi. f. Konsep Mitigasi Bencana di Desa Krueng Juli Barat memiliki beberapa aspek, yaitu sebagai berikut. a) Mengembangan Jalur penyelamatan kearah Selatan, menjauhi lokasi pantai di bagian utara. Jalur penyelamatan didisain agar pada saat bencana terjadi, masyarakat dapat menyelamatkan diri dengan mudah dan cepat karena ramburambu penunjuk arah dan fasilitas lainnya seperti lampu jalan cukup tersedia. b) Mengembangan area penyelamatan, berupa lapangan terbuka dan lokasi-lokasi alami lainnya yang memiliki topografi lahan cukup tinggi seperti perbukitan yang terletak di bagian selatan desa. c) Mengembangan bangunan penyelamatan, berupa bangunan tahan gempa dan bertingkat untuk mengantisipasi kemungkinan bencana tsunami. d) Mengembangan sabuk hijau berupa hutan mangrove di sepanjang sempadan pantai serta jalur konservasi di sepanjang sempadan sungai. e) Mengembangan prasarana peringatan dini, khususnya untuk mengantisipasi gelombang tsunami dan gempa bumi. g. Konsep Rehabilitasi Alam dan Lingkungan di Desa Krueng Juli Barat meliputi beberapa aspek pengembangan, yaitu sebagai berikut. a) penanaman pohon pada sepanjang jalan dan lorong, b) penanaman pohon di pematang tambak, c) penanaman pohon di sepanjang pantai, d) penanaman pohon di pekarangan rumah. h. Konsep rehabilitasi dan rekonstruksi desa meliputi bebera aspek, yaitu sebagai berikut.
LAPORAN FINAL RENCANA PENGEMBANGAN DESA

a) Perbaikan sarana dan prasarana ekonomi seperti pertambakan, sarana perikanan, perahu/kapal, pemberdayaan ekonomi masyarakat, perbaikan saluran irigasi, rehabilitasi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami. b) Perbaikan bangunan rumah yang rusak dan pembangunan rumah baru yang hancur akibat tsunami. c) Perbaikan dan pembangunan bangunan-bangunan sosial budaya.

III-45

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful