Maserasi Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa Latin, artinya merendam) : adalah sediaan cair yang dibuat

dengan cara mengekstraksi bahan nabati yaitu direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut nonpolar) atau setengah air, misalnya etanol encer, selama periode waktu tertentu sesuai dengan aturan dalam buku resmi kefarmasian (Farmakope Indonesia, 1995). Apa yang disebut “bahan nabati”, dalam dunia farmasi lebih dikenal dengan istilah “simplisia nabati”. Langkah kerjanya adalah merendam simplisia dalam suatu wadah menggunakan pelarut penyari tertentuk selama beberapa hari sambil sesekali diaduk, lalu disaring dan diambil beningannya. Selama ini dikenal ada beberapa cara untuk mengekstraksi zat aktif dari suatu tanaman ataupun hewan menggunakan pelarut yang cocok. Pelarut-pelarut tersebut ada yang bersifat “bisa campur air” (contohnya air sendiri, disebut pelarut polar) ada juga pelarut yang bersifat “tidak campur air” (contohnya aseton, etil asetat, disebut pelarut non polar atau pelarut organik). Metode Maserasi umumnya menggunakan pelarut non air atau pelarut non-polar. Teorinya, ketika simplisia yang akan di maserasi direndam dalam pelarut yang dipilih, maka ketika direndam, cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam sel yang penuh dengan zat aktif dan karena ada pertemuan antara zat aktif dan penyari itu terjadi proses pelarutan (zat aktifnya larut dalam penyari) sehingga penyari yang masuk ke dalam sel tersebut akhirnya akan mengandung zat aktif, katakan 100%, sementara penyari yang berada di luar sel belum terisi zat aktif (nol%) akibat adanya perbedaan konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar sel ini akan muncul gaya difusi, larutan yang terpekat akan didesak menuju keluar berusaha mencapai keseimbangan konsentrasi antara zat aktif di dalam dan di luar sel. Proses keseimbangan ini akan berhenti, setelah terjadi keseimbangan konsentrasi (istilahnya “jenuh”). Dalam kondisi ini, proses ekstraksi dinyatakan selesai, maka zat aktif di dalam dan di luar sel akan memiliki konsentrasi yang sama, yaitu masing-masing 50%. Keuntungan dari metode ini : 1. Unit alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam 2. Beaya operasionalnya relatif rendah 3. Prosesnya relatif hemat penyari 4. Tanpa pemanasan Kelemahan dari metode ini : 1. Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu terekstraksi sebesar 50% saja 2. Prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari.

Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencegah timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada awal penyarian. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian cara maserasi adalah pengerjaanya lama,dan penyariannya kurang sempurna. Maserasi dapat dilakukan modifikasi misalnya : 1. Digesti Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu 400 – 500C. Cara maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap pemanasan. Dengan pemanasan diperoleh keuntungan antara lain: 1. Kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya lapisanlapisan batas. 2. Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga pemanasan tersebut mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan. 3. Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolute dan berbanding terbalik dengan kekentalan, sehingga kenaikan suhu akan berpengaruhpada kecepatan difusi. Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan. 4. Jika cairan penyari mudah menguap pada suhu yang digunakan, maka perlu dilengkapi dengan pendingin balik, sehingga cairan akan menguap kembali ke dalam bejana. 2. Maserasi dengan Mesin Pengaduk Penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus-menerus, waktu proses maserasi dapat dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam. 3. Remaserasi Cairan penyari dibagi menjadi, Seluruh serbuk simplisia di maserasi dengan cairan penyari pertama, sesudah diendapkan, tuangkan dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan penyari yang kedua. 4. Maserasi Melingkar Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan penyari selalu bergerak dan menyebar. Dengan cara ini penyari selalu mengalir kembali secara berkesinambungan melalui sebuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya. 5. Maserasi Melingkar Bertingkat

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik 1. 2.1 Pengertian Galenika Sediaan galenik adalah sediaan yang di buat dari bahan baku hewan atau tumbuhan yang di ambil sarinya. Oleh karena itu cara ini harus di sesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia.kemudian. Serbuk simplisia sebelum dikeluarkan dari bejana penyari. dilakukan penyarian. Temperatur suhu dan lamanya waktu Suhu harus di sesuaikan dengan sifat dari obat. Bahan penyari dan cara menyari Setiap simplisia atau bahan obat mempunyai cara dan bahan penyari yang berbeda-beda.Cairan penyari masuk kedalam zat-zat berkhasiat utama dari pada simplisia yang akan di ambil sarinya. Mempunyai kelarutan zat dalam menstrum 2. setelah itu larutan yang mengandung zat berkhasiat dipisahkan dari bagian simplisia lain yang kurang bermanfaat. GALENIKA 2. 4. ataupun sebaliknya. d. Pada contoh di atas dilakukan 3 kali.dengan cairan penyari baru. Dengan ini diharapkan agar memberikan hasil penyarian yang maksimal Hasil penyarian sebelum diuapkan digunakan dulu untuk menyari serbuk simplisia yang baru. Serbuk simplisia mengalami proses penyarian beberapa kali.Pada maserasi melingkar.Penyarian yang dilakukan berulang-ulang akan mendapatkan hasil yang lebih baek daripada yang dilakukan sekalidengan jimlah pelarut yang sama. yang akan didapatkan : 1. sesuai dengan bejana penampung. Tidak menyebabkan simplisia menjasi rusak atau hilang zat . Konsentrasi/kepekatan Pada umumnya untuk menentukan penggunaan cairan penyari mengacu/ memperhatikan beberapa faktor antara lain: 1.M. apakah bmudah menguap atau tidak. penyarian tidak dapat dilaksanakan secara sempurna.hingga memberikan sari dengan kepekatan yang maksimal. mudah tersari atau tidak 3. karena pemindahan massa akan berhenti bila keseimbangan telah terjadi masalah ini dapat diatasi dengan maserasi melingkar bertingkat (M. Derajat kehalusan Derajat kehalusan ini harus di sesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat yang terkandung tersebut untuk disari. zat berkhasiat tersebut akan terbawa larut dengan cairan penyari. Zat-zat yang tersari (berkhasiat) biasanya terdapat dalam selsel bagian tumbuh-tumbuhan yang umumnya dalam keadaan kering.B). 2. jumlah tersebut dapat diperbanyak sesuai dengan keperluan. Semakin halus simplisianya itu akan mempermudah proses penyarian.

Suhu penarikan juga sangat mempengaruhi hasil penarikan. Colatura.. Zat-zat berkhasiat tersebut antara lain alkaloida. Harga yang ekonomis 4.2 Penarikan ( Extraction ) Extractio adalah cara menarik satu atau lebih zat-zat dari bahan asal yang umumnya zat berkhasiat tersebut tertarik dalam keadaan (khasiatnya) tidak berubah. Decocta / Infusa 2. lemak. selulosa yang pada umumnya mempunyai daya larut dalam cairan pelarut tertentu dimana sifat-sifat kelarutan ini dimanfaatkan dalam extractio. suhu penarikan untuk : • Maserasi : 15 – 25 0C • Digerasi : 35 – 45 0C • Infundasi : 90 – 98 0C • Memaksak : Mendidih Dalam beberapa hal sebelum sediaan yang dimaksud dibuat. zat pati. Solution. Jenis sediaan yang akan di buat Bentuk-bentuk sediaan galenik : 1. ampasnya disebut marc atau faeces. Hasil Penyulingan/ pemerasan : Aqua aromatika. albumin. Syrup. olea. Istilah extractio hanya dipergunakan untuk penarikan zat-zat dari bahan asal dengan menggunakan cairan penarik/ pelarut. simplisia perlu diolah terlebih dahulu. Secale cornuti. Perkolat. supaya lebih mudah digunakan dari pada simplisia asal. Umumnya extractio dikerjakan untuk simplisia yang mengandung zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu. Cairan penarik yang dipergunakan disebut menstrum. Begitu juga penyimpanan dan tujuan pengobatannya terjamin sebab pada umumnya simplisia terdapat dalam keadaan tercampur yang memerlukan cara-cara penarikan dan cairan-cairan penarik tertentu yang nantinya akan menghasilkan sediaan galenik sesuai dengan pengolahannya. protein. zat lendir. minyak atsiri. Selain itu juga jenis-jenis gula. Cara menghilangkan isi simplisia yang tidak berguna : . damar. Ini dilakukan supaya zat-zat yang tidak berguna / merusak tidak ikut tertarik bersama-sama dengan zat-zat yang berkhasiat. Hasil Penarikan : Extracta. glukosida. resina. olea pinguia (minyak lemak) 3. Misalnya mengawal lemakkannya seperti: Strychni. 2.berkhasiatnya 3. Tujuan utama extractio adalah :untuk mendapatkan zat-zat berkhasiat pengobatan sebanyak mungkin dari zat-zat yang tidak berfaedah. pectin. olea velatilia (minyak menguap). Cairan yang dipisahkan disebut Macerate Liquid. atau menghilangkan zat pahitnya seperti : Lichen islandicus. Tinctura.

Jadi kesimpulan dalam extractio ini adalah memilih salah satu cara penarikan yang tepat dengan cairan yang pantas dan memisahkan ampas dengan hasil penarikan yang akan menghasilkan sebuah preparat galenik yang dikehendaki.1. Tidak menyebabkan nantinya zat-zat berkhasiat tersebut rusak atau akibat-akibat yang tidak dikehendaki (perubahan warna. Jenis preparat yang akan dibuat Adapun macam-macam cairan penyari. pengendapan. kadangkadang juga yang segar. Untuk kemudahan simplisia yang kering ini dilembabkan terlebih dahulu / di maserer dalam batas waktu tertentu. Harga yang murah 4. antara lain : 1. 2. Dengan memakai bahan pelarut yang tepat dimana bahan berkhasiatnya mudah larut. glikosida. sedangkan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut dalam cairan penyari tersebut. Dengan menarik / merendam pada suhu tertentu dimana bahan berkhasiat terbanyak larutnya. Kelarutan zat-zat dalam menstrum 2. 3. 2. Dengan menggunakan jarak waktu menarik yang tertentu dimana bahan berkhasiat dari sipmlisia lebih banyak larutnya. Dengan memurnikan / membersihkan memakai cara-cara tertentu baik secara ilmu alam maupun ilmu kimia.3 Cairan-cairan Penarik Untuk menentukan cairan penarik apa yang akan digunakan harus diperhitungkan betul-betul dengan memperhatikan beberapa faktor. 4. Air Pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam alkaloida. Simplisia yang dipergunakan umumnya sudah dikeringkan. sehingga menyebabkan proses difusi dari zat-zat berkhasiat lebih cepat dari pada melalui dinding-dinding sel yang utuh (proses osmose). antara lain : 1. asam tumbuhtumbuhan. hidrolisa) 3. Disamping itu simplisia ini ditentukan derajat halusnya untuk memperbesar atau memperluas permukaannya. zat warna dan garam-garam mineral. sedangkan bahan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut. Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia .

karena efek farmakologinya. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan. minyak atsiri. Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. damar. Solvent hexane Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. 5. Acetonum Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam. Glycerine Cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. 2. Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. 6. gula dan albumin. Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya. minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis gom.sedemikian rupa. Eter Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama. Karena cairan ini tidak atsiri.F.4 Metode Penarikan Metode penarikan yang sering digunakan adalah : a) Maserasi Adalah cara penarikan sari dari simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa yaitu pada suhunya 15-25 0C. Etanol Umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida. Maserasi juga merupakan proses pendahuluan untuk pembuatan secara perkolasi. damardamar. Chloroform Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam. Kecuali di nyatakan lain masersi dilakukan dengan cara sebagai berikut : . minyak lemak dan minyak atsiri. sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik. glikosida. tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering. sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet. 4. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N. 3. damar.XI) 7. 2. pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida.

Dengan demikian maserat sudah bisa di saring.lalu di tuangi 75 bagian cairan penyari. Cara-cara perkolasi : 1. untuk ekstrak cair disari samapi tersari sempurna.Sepuluh bagian simplisia atau campuran simplisia denggan derazat halus yang cocok di masukan ke dalam sebuah bejana. Gambar Perkolator : perkolator perkolasi biasa perkolasi kontinyu 2. Disinilah banyak para ilmuan yang putus asa dalam percobaan mereka yang gagal karena tidak memperhitungkan keuntungan dan kerugian dari pada metode digerasi tersebut c) Perkolasi Perkolasi ialah suatu cara penarikan. b) Digerasi Cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia dengan cairan penyari pada suhu 35o – 45o.dicuci ampasnya dengan cairan penyari secukupnya hingga di peroleh 100 bagian. Biasanya simplisia dibagi dalam tiga bagian dalam . Perkolasi biasa Simplisia yang telah ditentukan derajat halusnya direndam dengan cairan penyari. Perkolasi bertingkat. Lalu maserat dipindah ke dalam bejana yang tertutup dan di biarkan di tempat sejuk. reperkolasi. terlindung dari cahaya selama dua hari. tetapi dipakai beberapa perkolator. Dengan sendirinya simplisia di bagi-bagi dalam beberapa porsi dan ditarik tersendiri dalam tiap perkolator. diperas. masukkan kedalam perkolator dan diperkolasi sampai didapat perkolat tertentu. yang simplisianya terendam dalam cairan penyari dimana zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. memakai alat yang disebut perkolator. fractional percolation Reperkolasi adalah suatu cara perkolasi biasa. Untuk pembuatan tingtur disari sampai diperoleh bagian tertentu. di tutup dan di biarkan selama lima hari terlindung cahaya dam sambil sering di aduk. Kemudian maserat di suling atau di uapkanpada tekanan rendah dalam suhu tidah lebih dari 50° C hingga konsistensi yang di kehendaki.setelah lima hari cairan tersebut di serkai. Cara ini sekarang sudah jarang dilakukan karena disamping membutuhkan alat-alat tertentu juga pada suhu tersebut beberapa simplisia menjadi rusak dan hilang zat berkhasiat utamanya. Perkolasi umumnya digunakan untuk pengambilan sari zat-zat yang berkhasiat keras.

tiga perkolator. Contoh : Tingtur yang dibuat secara maserasi 1. Kecuali dinyatakan lain. Untuk itu perlu ditambah alat penghisap supaya perkolat dapat turun ke bawah. Tingtur Asli : Adalah tingtur yang dibuat secara maserasi atau perkolasi. Opii Aromatica Tinctura FI III 6. Capsici Tinctura FI II 4. Valerianae Tinctura FI III 3. Tingtur ( Tinctura ) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masingmasing monografi. continous extraction. memakai alat soxhlet. di tempat sejuk. Opii Tinctura FI III 2. tingtur dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10 % untuk zat berkhasiat. contoh : . Perkolasi persambungan. Asaefoetida Tinctura.Alat tersebut dinamakan diacolator. Perkolasi dengan tekanan. 2. Tingtur Menyan. Dan lain-lain Tingtur yang dibuat secara perkolasi.5 Macam-macam sediaan galenika Sediaan galenika dapat digolongkan berdasarkan cara pembuatanya sebagai berikut : a. 3. Polygalae Tinctura Ext. Pembagian Tinctur : 1. FI 1974 7. Menurut Cara Pembuatan A. perkolat-perkolat dari tiap perkolator diambil dalam jumlah yang sudah ditetapkan dan nantinya dipergunakan sebagai cairan penyari untuk perkolasi berikutnya pada perkolator yang kedua dan ketiga. untuk bahan dasar yang mengandung harsa digunakan cairan penyari etanol 90% dan pada umumnya cairan penyari adalah etanol 70%. Myrrhae Tinctura FI II 5. terlindung dari cahaya. Capsici Tinctura. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat. Sediaan tingtur harus jernih. Tingtur yang mengandung harsa / damar adalah Mira Tinctura. 4. pressure percolation Digunakan jika simplisia mempunyai derajat halus yang sangat kecil sehingga cara perkolasi biasa tidak dapat dilakukan.

Contoh : Tingtura Valerianae Aetherea. c.Contoh : 1. Secalis Cornuti Tinctura FI III 2. FI 1974 B. 6. Valerianae Tinctura FI III 3. 5. Contoh : Tinctura Rhei Vinosa (Vinum Rhei). Belladonae Tinctura FI III Cinnamomi Tinctura FI III Digitalis Tinctura FI III Lobeliae Tinctura FI II Strychnini Tinctura FI II Ipecacuanhae Tinctura Ext. Digitalis Tinctura FI III 3. Tingtur Tidak Asli (Palsu) : Adalah tingtur yang dibuat dengan jalan melarutkan bahan dasar atau bahan kimia dalam cairan pelarut tertentu. Cinnamomi Tinctura FI III 2. FI 1974 B. 4. 2. Ipecacuanhae Tinctura Ext. Tingtur Keras : Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 10 % simplisia yang berkhasiat keras. Menurut Kekerasan (perbandingan bahan dasar dengan cairan penyari) A. Iodii Tinctura FI III 2. Berdasarkan Cairan Penariknya a. Lobeliae Tinctura FI II 5. Tingtura Vinosa. Stramonii Tinctura FI II 6. Contoh : pada . jika ke dalam aethanol yang dipakai sebagai cairan penarik ditambahkan suatu asam sulfat. Myrrhae Tinctura FI II 3. FI 1974 4. jika cairan penariknya adalah aether atau campuran aether dengan aethanol. Strychnin Tinctura FI II 7. Tinctura Acida. Opii Tinctura FI III 4. Contoh : 1. Belladonae Tinctura FI III 2. Polygalae Tinctura Ext. Contoh : 1.1. Tingtura Aetherea. Tingtur Lemah : Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 20 % simplisia yang tidak berkhasiat keras. 3. b. jika cairan yang dipakai adalah campuran anggur dengan aethanol.

Ekstrak ( Extracta ) Extrak adalah sediaan yang dapat berupa kering. Tingtur Beladon (Belladonnae Tinctura b. d. jika sebagai cairan penarik dipakai air. Tingtur Valerian (Valerianae Tinctura) 14. Tingtur Cabe (Capsici Tinctura) 13. Tingtur Kemenyan ( Benzoes Tinctura ) 9. Tingtur Lobelia (Lobeliae Tinctura) 10. Tingtur Opium (Tinctura Opii) 18. contoh : Tinctura Rhei Aquosa.kental dan cair. Tingtur Iodium (Iodii Tinctura) 17. Tingtur Ipeka (Ipecacuanhae Tinctura) 3. e. Tingtur Mira (Myrrhae Tinctura) 11.atau . Tingtur Sekale Cornutum (Secalis Cornuti Tingtur) 20. contoh : Tinctura Chinae Composita. atau penyeduhan dengan air mendidih. perkolasi. Tingtur Poligala (Polygalae Tinctura) 5. adalah tingtur yang didapatkan dari jika penarikan dilakukan dengan cairan penarik selain aethanol hal ini harus dinyatakan pada nama tingtur tersebut. Tinctura Composita. Tingtur Opium wangi (Opii Tinctura Aromatica) 19. Tingtur Ratania (Ratanhiae Tinctura) 6. Tingtur Stramonii (Stramonii Tinctura) 7. dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai yaitu maserasi. Tingtur Gambir (Catechu Tinctura) 4.Sebagi cairan penyari digunakan air. Contoh sediaan tinctura : 1. Tingtur Strichni (Strychni Tinctura) 8. Tingtur Kayu Manis (Cinnamomi Tinctura) 15. Tingtur Jeruk Manis (Aurantii Tinctura) 12.eter.pembuatan Tinctura Acida Aromatica. Tingtur Digitalis ( Digitalis Tinctura) 16. Tinctura Aquosa. Tingtur Kina (Chinae Tinctura) 2. misalnya campuran simplisia.

e. Pembuatan sediaan extrak dimaksudkan agar zat berkhasiat yang terdapat di dalam simplisia terdapat dalam bentuk yang mempunyai kadar yang tinggi dan hal ini memudahkan zat berkhasiat dapat di atur dosisnya. Serkai selagi panas melalui kain flanel. Contoh-contoh extrak: a. f. h. Cara Pembuatan : Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya. j. i. d. Penyarian dilakukan di luar pengaruh cahaya matahari langsung. tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki.Dlam sediaan extrak dapat di standardisasikan kadar zat berkhasiat sedangkan kadar zat berkhasiat dalam simplisia sukar di dapat yang sama. c. n. g. l. c.campuran etanol dan air.penyarian dengan air dilakukan dengan cara maserasi.penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi. Extrak Extrak Extrak Extrak Extrak Extrak Extrak Extrak Extrak Extrak Extrak Extrak Extrak EXtrak Belladonnae Hyoscyami Timi Strici Pule pandak Kelembak Straoinium Frangulae Jadam Kecambah Hati Kina Kola Opium dll.penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi. panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 0C sambil sekali-sekali di aduk.atau disiram dengan air mendidih. . perkolasi. Infus ( Infusa ) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 0C selama 15 menit. k. m. b. Beda penyarian pada extrak dengan tingtur ialah pada extrak di sari sampai zat berkhasiat dalam simplisia habis sedangkan pada tingtur hanya sesbagian zat berkhasiat tersari.

Pemerian aqua aromatika : cairan jernih.Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infus : 1. bebas bau empirematic atau bau lain. terlindung dari cahaya. 2. Larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam masingmasing monografi dalam 60 ml etanol 95%. 4. Khasiat : zat tambahan. Derajat halus simplisia 3. d. Encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air. atau agak keruh. adalah larutan jenuh minyak adas dalam air . saring. Aqua Foeniculi. Cara menyerkai 5. kocok. Etanol disini berguna untuk menambah kelarutan minyak atsiri dalam air. Air Aromatik ( Aqua Aromatica ) Adalah larutan jenuh minyak atsiri atau zat-zat yang beraroma dalam air. Jumlah simplisia 2. Syarat untuk resep : jika air aromatik keruh. ada yang mempunyai daya terapi yang lemah. Diantara air aromatika. Penyimpanan : dalam wadah terttutup rapat. 3. bau dan rasa tidak boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal. Talc berguna untuk membantu terdistribusinya minyak dalam air dan menyempurnakan pengendapan kotoran sehingga aqua aromatik yang dihasilkan jernih. tetapi terutama digunakan untuk memberi aroma pada obat-obat atau sebagai pengawet. Air aromatika harus mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal. tidak berwarna dan tidak berlendir. Aqua aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat dicegah pembusukannya dengan cara mendidihkan dalam wadah tertutup rapat yang tidak terisi penuh di atas penangas air selama 1 jam. Banyaknya ekstra air 4. kocok kuat-kuat sebelum digunakan. di tempat sejuk. Air aromatika yang tertera dalam FI II ada 3 yaitu : 1. Tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml sambil dikocok kuat-kuat. Tambahkan 500 mg talc. Cara pembuatan : 1. diamkan. Penambahan bahan-bahan lain • untuk menambah kelarutan • untuk menambah kestabilan • untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain.

oleum ricini. terisi penuh. adalah larutan jenuh minyak permen dalam air. Kecuali dinyatakan lain harus larut dalam segala perbandingan dalam CHCl3. Harus jernih. Penyimpanan minyak lemak : Kecuali dinyatakan lain. harus disimpan dalam wadah tertutup baik. penyimpanan sama seperti aqua aromatik. terlindung dari cahaya. Eter dan Eter minyak tanah. Minyak Lemak (Olea Pinguia) Adalah campuran senyawa asam lemak bersuku tinggi dengan gliserin (gliserida asam lemak bersuku tinggi) Cara-cara mendapatkan minyak lemak 1. Aqua Menthae Piperitae = air permen. Cara identifikasi minyak lemak : Pada kertas meninggalkan noda lemak Penggunaan minyak lemak : 1. 2. 3. minyak harsa dan minyak-minyak asing lainnya. penyimpanan dan syarat untuk resep sama seperti aqua aromatika. adalah larutan jenuh minyak mawar dalam air. Aqua foeniculi bila menghablur harus dipanaskan pada suhu 25 0C dan kemudian dikocok kuat-kuat. Sebagai pelarut 3. Sebagai obat Minyak lemak dibagi dalam dua golongan. begitupun yang padat sesudah dihangatkan (diatas suhu leburnya) tidak boleh berbau tengik. sebelum digunakan harus disaring. misalnya : oleum arachidis. yaitu : 1. 2. yang cair harus jernih. diperas pada suhu biasa. Minyak-minyak yang tidak dapat mengering. oleum sesami. Syarat untuk resep : seperti aqua aromatik dan sebelum digunakan harus disaring lebih dahulu. Aqua Rosae = air mawar. oleum olivae. kalau keruh kocok dulu sebelum digunakan. Sebagai zat tambahan 2. misalnya : oleum arachidis. oleum amygdalarum. Khusus untuk aqua foeniculi jangan disimpan ditempat sejuk karena etanol akan menghablur. Harus memenuhi syarat-syarat minyak mineral.Pemerian. oleum olivarum. Contoh-contoh minyak lemak : 1. jadi disimpan pada suhu kamar. oleum cocos Syarat-syarat untuk minyak lemak antara lain : 1. Pemerian. diperas pada suhu panas. 2. Minyak-minyak yang dapat mengering misalnya : oleum lini. e. 3. oleum ricini 2. senyawa belerang dan logam berat. Minyak kacang ( Oleum Arachidis ) . misalnya : oleum cacao.

Minyak Kaulmogra/ Minyak Hidnokarpi ( Oleum Hydnocarpi ) f. Minyak Pala (Oleum Myristicae expressum ) 12. larut dalam pelarut organik. Minyak zaitun ( Oleum olivae ) 7. Misalnya : Minyak kayu putih (Oleum Cajuputi) yang murni tidak berwarna. Minyak Jagung ( Oleum Maydis ) 13. 2. Minyak atsiri diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. Minyak Wijen ( Oleum sesami ) 9. disebabkan adanya zat-zat asing dalam minyak atsiri tersebut.2. Warna kuning atau kuning coklat terjadi karena adanya penguraian. teteskan 1 tetes minyak di atas air. Minyak Kelapa Murni (Oleum Cocos purum ) 10. yang diperoleh baik dengan cara penyulingan atau perasan simplisia segar maupun secara sintetis. . Rasa yang tajam 3. Minyak kelapa ( Oleum Cocos ) 4. hijau ataupun biru. terisi penuh. Pemerian : • Cairan jernih • Bau seperti bau bagian tanaman asal. bunga. Wangi yang khas 4. Minyak jarak ( Oleum ricini ) 8. Warna coklat. Minyak Atsiri (Olea Volatilia) Minyak atsiri disebut juga minyak menguap atau minyak terbang. sedikit kuning muda. Identifikasi : 1. terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk. Minyak ikan ( Oleum Iecoris Aselli ) 5. Minyak coklat ( Oleum Cacao ) 3. kocok sejumlah minyak dengan larutan NaCl jenuh volume sama. Mudah menguap 2. Contoh : daun. Tidak larut dalam air. Minyak Tengkawang (Oleum Shoreae) 11. permukaan air tidak keruh. buah atau dibuat secara sintetis. Warna hijau yang ada seperti yang terlihat diperdagangan karena adanya : klorophyl dan spora-spora Cu (tembaga). Minyak atsiri yang segar tidak berwarna. 5. Minyak Lini ( Oleum Lini ) 6. Olea Volatilia adalah campuran bahan-bahan berbau keras yang menguap. pada sepotong kertas teteskan 1 tetes minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan uap tidak terjadi noda transparan 3. kulit buah. • Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. Sifat-sifat minyak atsiri : 1.

5. 5. Hal ini dibuktikan dengan cara meneteskan keatas kertas perkamen tidak meninggalkan noda transparan. tidak berwarna. Contoh-contoh minyak atsiri : 1. hanya beberapa yang sesui dengan warna aslinya. Cara tidak langsung ( destilasi uap) 3.Kejernihan dapat dibuktikan dengan cara meneteskan 1 tetes minyak atsiri keatas permukaan air. 7. Harus kering. 3. Ada 2 cara penyulingan. Rasa diperiksa dengan mencampur satu tetes minyak atsiri dengan 2 gram gula. Oleum Oleum Oleum Oleum Oleum Oleum Oleum foeniculi (minyak adas) Anisi (minyak adas manis) Caryophylli (minyak cengkeh) Citri (minyak jeruk) Aurantii (minyak jeruk manis) Rosae ( minyak mawar) Menthae piperitae (minyak permen) . karena air akan mempercepat reaksi oksidasi sehingga minyak akan berwarna. Minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan uap harus bebas minyak lemak. antara lain : 1. Minyak menguap umumnya tidak berwarna. Harus jernih. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dengan kandungan minyak atsiri yang rendah dan tidak tahan pemanasan. Cara-cara mendapatkan/memperoleh minyak atsiri. Bau dan rasa seperti simplisia.biarkan memisah. 4. 4. Cara penyulingan ( destilasi). Cara pemerasan yaitu cara yang termudah dan masih dapat dikatakan primitif. kalau perlu setelah pemanasan. volume air tidak boleh bertambah. Contoh : minyak jeruk 2. 2. 2. biarkan memisah. Cara langsung ( menggunakan api langsung) 2. Cara ini hanya dapat dipakai untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan. Mudah larut dalam Chloroform atau Eter. 6. Syarat – syarat minyak atsiri : 1. permukaan air tidak keruh. Cara Enfleurage Biasanya untuk minyak atsiri yang berasal dari daun bunga yang digunakan untuk kosmetik. 3. Kekeringan dibuktikan dengan cara mengocok sejumlah minyak atsiri dengan larutan Natrium Klorida jenuh vbolume sama. Bau diperiksa dengan cara mencampurkan satu tetes minyak atsiri dengan 10 ml air. yaitu: 1. volume air tidak boleh bertambah.

2. Oleum Eucalypti (minyak kayu putih) g. colatura misalnya sirupus Senae d. maserat misalnya sirupus Rhei b. • Gula invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sakarosa yang memutar bidang polarisasi kekiri. Syrup (Sirupi) Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. buang busa yang terjadi.25 % b/v atau pengawet lain yang cocok. tetapi bila lebih rendah dari 62 % sirup akan membusuk. sirup . panaskan. tetapi mencegah terjadinya oksidasi dari bahan obat. • Gula invert tidak dikehendaki dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan berwarna tua ( terbentuk karamel ). bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan. • Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66 % sakarosa. Cara pembuatan sirup : Buat cairan untuk sirup.3 • Pada penyimpanan dapat terjadi inversi dari sakarosa ( pecah menjadi glukosa dan fruktosa ) dan bila sirup yang bereaksi asam inversi dapat terjadi lebih cepat. Oleum Citronellae ( minyak sereh) 10. kedalam mana gulanya akan dilarutkan dapat dibuat dari : 1. Larutan atau campuran larutan bahan obat misalnya : methydilazina hydrochloridi sirupus. pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben 0. jika perlu didihkan hingga larut. Beberapa catatan : • Pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon di tambahkan Na2CO3 sejumlah 10% bobot simplisia. • Kecuali dinyatakan lain. • Pemanasan sebaiknya dihindari karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert. Hasil-hasil penarikan dari bahan dasar : a. tambahkan gula. Cairan untuk sirup. • Bj sirup kira-kira 1. perkolat misalnya sirupus Cinnamomi c. serkai. Kadar sakarosa (C12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%. Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki. sari buah misalnya rubi idaei 3.8. Aqua destilata : untuk sirupus simplex. sirup-sirup dengan nama patent misalnya yang mengandung campuran vitamin. • Pada sirup yang mengandung sakarosa 62 % atau lebih. Oleum Cinnamommi ( minyak kayu manis) 9.

• Bila kadar sakarosa turun karena inversi.25% atau pengawet lain yang cocok. Mengisikan sirup panas-panas kedalam botol panas ( karena sterilisasi ) sampai penuh sekali sehingga ketika disumbat dengan gabus terjadi sterilisasi sebagian gabusnya. supaya awet (tidak berjamur ) sebaiknya sirup disimpan dengan cara : 1. 2. Maka untuk kestabilan sirup. Sterilisasi sirup. Ada beberapa cara menjernihkan sirup : 1. sirup diencerkan dengan air dapat pula ditumbuhi jamur. meskipun jamur tidak mati. • Kadang-kadang gula invert dikehendaki adanya misalnya dalam pembuatan sirupus Iodeti ferrosi. • Bila cairan hasil sarian mengandung zat yang mudah menguap maka sakarosa dilarutkan dengan pemanasan lemah dan dalam botol yang tertutup. Didihkan sambil diaduk. Bila dalam resep. • Untuk mencegah sirup tidak menjadi busuk. • Maksud menyerkai pada sirup adalah untuk memperoleh sirup yang jernih. aurantii corticis sirupus. Untuk cinnamomi sirupus sakarosa dilarutkan tanpa pemanasan.tidak dapat ditumbuhi jamur. dapat ditambahkan bahan pengawet misalnya nipagin. Dalam ilmu farmasi sirup banyak digunakan karena dapat berfungsi . Tetapi pada pendinginan ada kemungkinan terjadinya cemaran sehingga terjadi juga penjamuran. Hal ini disebabkan karena sirup merupakan media yang mereduksi. zat putih telur akan menggumpal karena panas. disini harus diperhitungkan pemanasan 30 menit apakah tidak berakibat terjadinya gula invert. maka jamur dapat tumbuh. mencegah bentuk ferro menjadi bentuk ferri. seperti pada pembuatan Thymi sirupus dan Thymi compositus sirupus. FI III juga menuliskan tentang panambahan metil paraben 0. Menambahkan kocokan zat putih telur segar pada sirup . 2. Cara memasukkan sirup ke dalam botol : Penting untuk kestabilan sirup dalam penyimpanan. 3. Sirup yang sudah dingin disimpan dalam wadah yang kering. Dari ketiga cara memasukkan sirup ke dalam botol ini yang terbaik adalah cara ketiga. Menambahkan bubur kertas saring lalu didihkan dan saring kotoran sirup akan melekat ke kertas saring. Gula invert disini dipercepat pembuatannya dengan memanaskan larutan gula dengan asam sitrat. lalu sumbat gabus dicelup dalam lelehan parafin solidum yang menyebabkan sirup terlindung dari pengotoran udara luar.

dinginkan dengan cepat sehingga suhu lebih kurang 20 oC.0 ml. tambahkan campuran 79 bagian volume asam klorida p dan 21 bagian vol. Sirupus Simplex = Sirup Gula . Obat. Air secukupnya hingga 50. Masukkan + 45.300 x ( C = (144 – 0. Pengawet. Corigensia saporis. 2. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk. • Jika perlu hilangkan warna dengan menggunakan tidak lebih dari 100 mg arang penyerap. tambahkan 50 ml air dan sedikit larutan Aluminium hidroksida p. misalnya : sirupus aurantii Corigensia coloris.0 ml filtrat kedalam labu tentukur 50 ml. Hitung kadar dalam %. sirupus rubi idaei 3.0 ml saring.0 cm pada suhu pengukur yang sama antara 10 o dan 25 o C. C12H22O11 dengan rumus : 2)1 . • Tambahkan air secukupnya hingga 100.sebagai : 1. misalnya : sirupus Rhoedos.5 t) C 1 2 t = Kadar sacharosa dalam % = Rotasi optik larutan yang belum di inversi = Rotasi optik larutan yang sudah di inversi = Suhu pengukuran Contoh-contoh Sediaan Sirup : 1. • Ukur rotasi optik larutan yang belum di inversi dan sesudah inversi menggunakan tabung 22. Panaskan labu dalam tangas air pada suhu antara 68 o dan 70 oC selama 10 menit. misalnya : chlorfeniramini maleatis sirupus. misalnya : sirupus simplex Corigensia odoris. Tambahkan larutan timbal ( II ) sub asetat p tetes demi tetes hingga tetes terakhir tidak menimbulkan kekeruhan. Penetapan kadar sakarosa : • Timbang seksama + 25 gram sirup dalam labu terukur 100 ml. Ferrosi Iodidi Sirupus 2. misalnya sediaan dengan bahan pembawa sirup karena konsentrasi gula yang tinggi mencegah pertumbuhan bakteri. buang 10 ml filtrat pertama.

Piperazini citratis sirupus e. Sirupus simplex Dalam perdagangan dikenal “dry syrup” yaitu syrup berbentuk kering yang kalau akan dipakai ditambahkan sejumlah pelarut tertentu atau aqua destilata. dengan campuran Etanoldan Air. Spirtus Aromatici Spiritus aromatici dibuat dengan maserasi sejumlah simplisia dengan campuran sejumlah etanol dan air selama 24 jam. Myristicae Semen. Lalu di destilasi dan akhirnya di destilasi dengan uap hingga di peroleh 1000 bagian. Cochlearie Herba dan Armoraciae Radix . Spiritus aromaticus Maserasi selama 24 jam Majoranae Herba. Kadar etanol Spiritus aromatici adalah 65% v/v. Spiritus Cochlearie Maserasi selama 24 jam. h. biasanya berisi zat yang tidak stabil dalam suasana berair. yaitu : 1. Dalam farmakope belanda terdapat sediaan. Auranti Sirupi = Sirup Jeruk Manis 4. Sirupus Thymi = Sirup Thymi Sirup-sirup yang tercantum dalam FI ed III : a. 3.Cinamomi Cortex.Dari cairan tersebut lalu si destilasihingga di peroleh 1000 bagian. 2. Caryopyllum dan Coriandry Fructus. Citi Fructus Cortex segar dengan etanol. sebruk Cinamommi Cortex dengan campuran Etanol dan Air. Masterat lalu di destilasi sampai di peroleh 1000 bagian. yang mengandung hanya bagian yang mudah menguap tidak mengandung tannin dan harsa. Dextrometorphani hydrobromidi sirupus d. Spiritus Cinamommi Maserasi selama 24 jam. 4. Methidilazini hydrochloridi sirupus g. Spiritus aromatici harus jernih tidak boleh berwarna.karena minyak menguap yang di kandung kurang larut dalam air. Cyproheptadini hydrochloridi sirupus c. Spiritus Citri Maserasi selama 24 jam. Pengenceran Spiritus aromatici dengan air akan menjadi keruh. Dari cairan ini lalu di destilir hingga di peroleh 1000 bagian. cairan berbau aroma dan berasa. Chlorpheniramini maleatis sirupus b.3. Prometazini hydrochloridi sirupus f.

. Tujuan Ekstraksi Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik semua komponen kimia yang terdapat dalam simplisia... kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut.Semua artikel diambil dari berbagai sumber yang terpercaya.!!!!!!!! 6.. .lalu di destilir hingga di peroleh 1000 bagian.448. Spiritus Lavandulae Larutkan 1 bagian Olleum Lavandulae dalam 150 bagian etanol 90% v/v dan 49 bagian air MEDICAFARMA Informasi-informasi tentang dunia kedokteran dan farmasi dapat anda akses disini. dikasih makan ya... 2. 5. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat ke dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka. Adapun tujuan dari ekstraksi yaitu untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam simplisia.. Pengertiaan Ekstraksi adalah penyarian zat-zat aktif dari bagian tanaman obat.dengan campuran etanol dan air. Free Blog Content peliharaanku.163 Friend's Blogger     home Kedokteran farmasi About Us Ekstraksi 1..

Proses ini harus ditiru sedekat mungkin jika ekstrak akan melalui kajian ilmiah biologi atau kimia lebih lanjut. Hal ini diikuti dengan uji kimia atau kromatografik yang sesuai untuk kelompok senyawa kimia tertentu 3. Dalam kasus ini. prosedur yang telah dipublikasikan dapat diikuti dan dibuat modifikasi yang sesuai untuk mengembangkan proses atau menyesuaikan dengan kebutuhan pemakai. maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu. flavanoid atau saponin. 3. Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. misalnya Tradisional Chinese medicine (TCM) seringkali membutuhkan herba yang dididihkan dalam air dan dekok dalam air untuk diberikan sebagai obat. Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari organisme. khususnya jika tujuannya untuk memvalidasi penggunaan obat tradisional. 2. zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel. terdapat empat situasi dalam menentukan tujuan ekstraksi: 1. Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya dengan cara apapun. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah ( proses difusi ). 4. Dalam situasi seperti ini. Prinsip ekstraksi Prinsip Maserasi Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan tradisional. dan biasanya dibuat dengan cara. meskipun struktur kimia sebetulnya dari senyawa ini bahkan keberadaannya belum diketahui. Situasi ini (utamanya dalam program skrining) dapat timbul jika tujuannya adalah untuk menguji organisme. baik yang dipilih secara acak atau didasarkan pada penggunaan tradisional untuk mengetahui adanya senyawa dengan aktivitas biologi khusus. metode umum yang dapat digunakan untuk senyawa kimia yang diminati dapat diperoleh dari pustaka. Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman yaitu pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari. misalnya alkaloid.Secara umum. .

Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna. uap-uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat. cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampai keadan jenuh. uap air akan masuk ke dalam labu sampel . demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna. · Prinsip Destilasi Uap Air Penyarian minyak menguap dengan cara simplisia dan air ditempatkan dalam labu berbeda. tidak tampak noda jika di KLT. Perkolat yang diperoleh dikumpulkan. Prinsip Refluks Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan. Prinsip Soxhletasi Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia ditempatkan dalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa.Prinsip Perkolasi Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia dimaserasi selama 3 jam. akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat. atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali. dan berat cairan di atas dikurangi gaya kapiler yang menahan gerakan ke bawah. cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekulmolekul cairan penyari yang jatuh ke dalam klonsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan jika cairan penyari telah mencapai permukaan sifon. penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan. lalu dipekatkan. Air dipanaskan dan akan menguap. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan. Gerakan ke bawah disebabkan oleh karena gravitasi. kohesi. seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi. kemudian simplisia dipindahkan ke dalam bejana silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui simplisia tersebut.

Pada UV 254 nm .  Prinsip Penampakan Noda a. Dengan bantuan pompa vakum. uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung.  Prinsip Ekstraksi Cair-Cair Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen kimia di antara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur di mana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut pada fase kedua. dan akan memisah antara air dan minyak atsiri. lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok. komponen kimia bergerak naik mengikuti fase gerak karena daya serap adsorben terhadap komponen-komponen kimia tidak sama sehingga komponen kimia dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda berdasarkan tingkat kepolarannya. campuran air dan minyak menguap akan masuk ke dalam corong pisah.  Prinsip Kromatografi Lapis Tipis Pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip adsorbsi dan partisi.sambil mengekstraksi minyak menguap yang terdapat dalam simplisia. lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fase cair. yang ditentukan oleh fase diam (adsorben) dan fase gerak (eluen). lalu akan melewati pipa alonga. cairan penyari dapat menguap 5-10º C di bawah titik didih pelarutnya disebabkan oleh karena adanya penurunan tekanan. uap air dan minyak menguap yang telah terekstraksi menuju kondensor dan akan terkondensasi. dan komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fase tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap. · Prinsip Rotavapor Proses pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat. hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan.

. 4. Pereaksi Semprot H2SO4 10% Prinsip penampakan noda pereaksi semprot H2SO4 10% adalah berdasarkan kemampuan asam sulfat yang bersifat reduktor dalam merusak gugus kromofor dari zat aktif simplisia sehingga panjang gelombangnya akan bergeser ke arah yang lebih panjang (UV menjadi VIS) sehingga noda menjadi tampak oleh mata. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi.Penampakan noda pada lampu UV 254 nm adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan indikator fluoresensi yang terdapat pada lempeng. c. Ekstraksi secara dingin · Metode maserasi Maserasi merupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya. Sehingga noda yang tampak pada lampu UV 366 terlihat terang karena silika gel yang digunakan tidak berfluororesensi pada sinar UV 366 nm. lempeng akan berflouresensi sedangkan sampel akan tampak berwarna gelap. Pada UV 366 nm Pada UV 366 nm noda akan berflouresensi dan lempeng akan berwarna gelap. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi. Penampakan noda pada lampu UV 366 nm adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor yang terikat oleh auksokrom yang ada pada noda tersebut. b. Jenis Ekstraksi 1.Pada UV 254 nm.

tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai tekstur keras seperti benzoin. tiraks dan lilin. tiraks dan lilin. cairan penyari yang digunakan lebih banyak. cairan penyari dipanaskan sehingga menguap. Digunakan pelarut yang lebih sedikit Pemanasannya dapat diatur o o Kerugian dari metode ini : . uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul-molekul air oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia dalam klongsong dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa sifon Keuntungan metode ini adalah : o Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak tahan terhadap pemanasan secara langsung. Sedang kerugiannya antara lain waktu yang diperlukan untuk mengekstraksi sampel cukup lama. tidak mengandung benzoin. Keuntungan dari metode ini adalah peralatannya sederhana.Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komonen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari. Metode maserasi dapat dilakukan dengan modifikasi sebagai berikut : Modifikasi maserasi melingkar Modifikasi maserasi digesti Modifikasi Maserasi Melingkar Bertingkat Modifikasi remaserasi Modifikasi dengan mesin pengaduk Metode Soxhletasi Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan.

ekstrak yang terkumpul pada wadah di sebelah bawah terus-menerus dipanaskan sehingga dapat menyebabkan reaksi peruraian oleh panas. atau pelarut yang diasamkan atau dibasakan. Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk melarutkannya. Bila dilakukan dalam skala besar.Keuntungan metode ini adalah tidak memerlukan langkah tambahan yaitu sampel padat (marc) telah terpisah dari ekstrak. Metode Perkolasi Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. karena uapnya akan mempunyai komposisi yang berbeda dalam pelarut cair di dalam wadah.o Karena pelarut didaur ulang. seperti metanol atau air. Metode destilasi uap Destilasi uap adalah metode yang popular untuk ekstraksi minyak-minyak menguap (esensial) dari sampel tanaman . misalnya heksan :diklormetan = 1 : 1. dan pelarut menjadi dingin selama proses perkolasi sehingga tidak melarutkan komponen secara efisien. Kerugiannya adalah membutuhkan volume total pelarut yang besar dan sejumlah manipulasi dari operator.. mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut dengan titik didih yang terlalu tinggi. Kerugiannya adalah kontak antara sampel padat tidak merata atau terbatas dibandingkan dengan metode refluks. 2. karena seluruh alat yang berada di bawah komdensor perlu berada pada temperatur ini untuk pergerakan uap pelarut yang efektif. Ekstraksi secara panas Metode refluks Keuntungan dari metode ini adalah digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang mempunyai tekstur kasar dan tahan pemanasan langsung. Metode ini terbatas pada ekstraksi dengan pelarut murni atau campuran azeotropik o o dan tidak dapat digunakan untuk ekstraksi dengan campuran pelarut.

. "Sediaan Galenik". M. 25 Desember 2008 11:43 Dinda mengatakan.. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 24-26. Diposkan oleh Dinda di 11/09/2008 11:16:00 AM Label: FARMASI 2 komentar: Anonim mengatakan. 3-5. (1986). (1986). Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi..tapi sokhletasi bisa diatur suhux. Sumber :  Ditjen POM.. Sudjadi. Hembing (1992). Cet 1 . Jakarta . ”Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia”.. 1985.. ITB: Bandung. UGM Press.Metode destilasi uap air diperuntukkan untuk menyari simplisia yang mengandung minyak menguap atau mengandung komponen kimia yang mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara normal. bukannya sokletasi termasuk cara panas coz plarutnya dipanasin. Egon. Jakarta.. Stahl. Penuntun Praktikum Fitokimia. . Memang benar..      Wijaya H. Drs. 2007.. Gemini dan Abdul Rahim. UIN Alauddin: Makassar. "Metode Pemisahan". Yogyakarta Alam.

lalu di tuangi 75 bagian cairan penyari.16 September 2009 12:04 Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) Label FARMASI (60) KEDOKTERAN (30) Search Thousands of lines of free code at Advanced Search Browse daftar link           CDK Download Naruto eMedicine farmacia ilmu kedokteran info-sehat it's my life medicapharma medicastore pharmacy Tinggalkan Pesan disini <a href="http://www4. dip .com/?dinda-m2m">View shoutbox</a> Free chat widget @ ShoutMix METODE PENARIKAN YANG SERING DI GUNAKAN MASERASI Adalah cara penarikan sari dari simplisia dengan merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada ssuhu biasanya 15-25° C.setelah lima hari cairan tersebut di serkai. Kecuali di nyatakan lain masersi dilakukan dengan cara sebagai berikut: sepuluh bagian simplisia atau campuran simplisia denggan derazat halus yang cocok di masukan ke dalam sebuah bejana. di tutup dan di biarkan selama lima hari terlindung cahaya dam sambil sering di aduk. Maserasi uga merupakan proses pendahuluan untuk pembuatan secara perkolasi.shoutmix.

Untuk mengendapkan putih telur.eras. .Lalu maserat dipindah ke dalam bejana yang tertutup dan di biarkan di tempat sejuk. Kemudianmaserat di suling atau di uapkanpada tekanan rendah dalam suhu tidah lebih dari 50° C hingga konsistensi yang di kehendaki.dicuci ampasnya dengan cairan penyari secukupnya hingga di peroleh 100 bagian. Maserat yang di buat di maserasi dengan air segera di panasi pada suhu 90° C. agar sediaan dapat tahan lama.Dengan demikian maserat sudah bisa di saring.terlindung dari cahaya selama dua hari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful