Edisi Mei 2012

GRATIS BACA UNTUK YANG BERPIKIR MERDEKA

Sapa Redaksi...!!!
SETELAH sekian lama kevakuman membekukan diri PRIMA, akhirnya kesempatan itu datang juga. Moment yang begitu haru karena telah lama impian untuk menerbitkan buletin (lagi) bisa juga terealisasi. Kevakuman yang tentunya tak disengaja karena sebagian dari kami pun tak menginginkan hal itu terjadi. Dengan sisa-sisa semangat yang ada kami berniat mempergunakannya semaksimal mungkin. Memang mengeluh itu lebih mudah! Kami sadar kekurangan kami selama ini, maka dari itu karya ini modal momentum untuk bangkit dan eksis kembali. Edisi perdana yang ada di tangan pembaca adalah wacana lama yang kami perbarui dengan sentuhan kontekstual yang terjadi saat ini. Suara Mahasiswa. Itu lah tema buletin Escape edisi kali ini. Dengan segala motif mahasiswa mengenyam pendidikan tinggi, ternyata terdapat sisi misteri yang patut dibuka lebar-lebar agar tak terjadi kesalahpahaman terhadap apa yang disebut mahasiswa. Sumbangan penting ini tak lain dan tak bukan merupakan sumbangsih dan inisiatif dari seluruh warga FISIP yang selalu menampakkan dinamika yang tak bisa diterka oleh logika positivis. Namun kami sadar menjaring dinamika mahasiswa (individu mobile) tak semudah layaknya copas (copy-paste) pada perangkat lunak. Kami sekuat tenaga saling berpaham-memahamkan teori sosial, prinsip logika, dan berkutat dengan teks dan sejarah agar bisa menghasilkan karya-karya yang layak baca oleh para pembaca dengan tingkat analisa dan intelegensia yang cukup mumpuni. Pada Edisi ini kami ada beberapa rubrik yang kami tambahkan mengingat para pembaca cukup haus menanti kepastian yang tak pasti soal HIMAISTRA. Rubrik Isu juga menemani pembaca untuk bergulat dengan perkembangan sosial-politik saat ini. Kemudian ada rubrik sosok yang mungkin membuat pembaca lebih memahami subyek tanpa tendesi. Dan ditutup karya sastra oleh kawan-kawan pecinta sastra yang berdomisili di FISIP, karena tanpa sastra hidup akan terasa begitu kering, kawan. Terima kasih kepada seluruh awak PRIMA dan berbagai pihak yang telah sekuat tenaga berkontribusi terhadap kelancaran buletin ini. Sungguh gebrakan menawan di awal kepengurusan PRIMA saat ini, semoga kekonsistenan tidak hanya dalam ucapan melainkan juga dalam tindakan. Harmonisasi keduanya-lah yang hanya dapat menghidupkan PRIMA agar dapat menjadi rujukan informasi komponen FISIP. Akhirnya, inilah yang bisa kami persembahkan. Kritik dan saran pembaca sangat kami butuhkan untuk perkembangan buletin Escape ini. Salam Persma!
Fasilitas kampus FISIP sangat minim. contoh, tempat parkir seharusnya dibangun lagi, biar kalau hujan gak becek. Kampus yg seharusnya nyaman buat belajar namun pd kenyataan bnyk gepeng, org2 jualan, dan hewan2 seperti, kambing, ayam berkeliaran. wifi jg lemot. +6285732299xxx

obby Menulis !! Ekspresikan Karyamu dengan mengirimkan tulisan berupa cerpen, puisi, esai, dan sejenisnya ke sekret PRIMA. Ketentuan penulisan, diketik rapi, Arial 11 spasi 1,5, max. 4 halaman A4. bagi karya terpilih akan ditampilkan pada buletin Escape edisi berikutnya dan kompensasi yang layak tentunya.
Kepada Pembaca, Kami menerima Kritik dan Saran apa saja tentang kampus. Kirim ke 085746300827 Cantumkan identitas ya!

H

2

Pimpinan Redaksi: Reporter: Ferio Pristiawan E. Alifian Rizalul Ahmad Risky Dian Eka Pembina: Karikatur: Guntur Rahmatullah Dr. Edy Wahyudi, S.Sos, MM. Abdul Rois Jos Rizal Pimpinan Umum: Layouter: Mauludin Syah Sulton Fe Pelindung: Dekan FISIP UJ

Berebut Testimoni
danya forum pertemuan dan forum komunikasi yang diadakan segenap elemen kampus FISIP akhir-akhir ini sekiranya menimbulkan tanda tanya besar dan beberapa catatan. Pertama, mengapa arus untuk duduk bersama dengan harapan agar ada titik temu terhadap kekisruhan yang terjadi pada mahasiswa, dosen, dan sistem perkuliahan (kurikulum) begitu padat sehingga serasa vital dan banyak menguras energi? Bagi sebagian orang tentu ini terasa wajar, namun kegaduhan internal kampus bukan seharusnya menjadi fokus yang harus mengenyampingkan substansi akademik yang lain. Kedua, apabila pertemuanpertemuan itu hanya dimaknai sebagai formalitas belaka untuk menambal sulam segala permasalahan yang terjadi bisa dipastikan harapan untuk perbaikan itu sekedar angan-angan utopis yang hanya menyenangkan hati untuk beberapa saat saja. Ketiga, pertemuan yang menyita waktu, pikiran, dan konsentrasi tersebut harusnya bisa ditekan dengan hadirnya Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang ada pada setiap jurusan (minus jurusan administrasi). Apabila HMJ yang seharusnya menjadi jembatan antara mahasiswa dengan mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, dan mahasiswa dengan jurusan tidak berfungsi sebagaimana mestinya (beserta reasoning dan apology-nya), maka bisa dipastikan komunikasi dan koordinasi akan terputus tak bisa dielakan lagi. Gerbong awal kiranya dikumandangkan oleh jurusan sosiologi yang telah berhasil menduduk-bersamakan para mahasiswa dan dosen untuk membahas perihal kualitas akademik jurusan sosiologi sendiri. Merujuk pada berita portal pada blog PRIMA (3 Maret 2012), dimana Kajur

EditoriaL

A

Sosiologi sangat bersemangat untuk menggaungkan serta merekomendasikan jurusannya dengan alasan bahwa elemen yang ada pada jurusan sosiologi saat ini adalah kekuatan terbaik yang dapat menggeser asumsi dangkal perihal jurusan sosiologi yang berkembang selama ini. Maka dari itu acara yang dikemas dalam ”Sosiology Gathering” itu serasa hangat dengan ditemani suguhan barbeque corn dan live perfomance musik. Dengan dihadiri para elit kampus, Pak Dekan (yang notabene juga dosen sosiologi) beserta PD III dengan seksama mengikuti jalannya pertemuan hangat tersebut. Tidak berhenti sampai disitu, ternyata kekisruhan mahasiswa dan dosen juga menambah daftar panjang jurusan sosiologi untuk lebih berbenah lagi. Beberapa mahasiswa mengeluhkan sulitnya menimba ilmu pada jurusan sosiologi karena tugas, materi, dan perkuliahan terlalu ketat sehingga membuat para mahasiswa kesusahan, dan yang lebih parah esensi pendidikan yang harusnya mencerahkan dan sebagai bentuk humanisasi pun kurang mendapat perhatian. Anggapan pro dan kontra pun cepat merebak, hingga muncul asumsi bahwa kampus FISIP yang seharusnya kaya wacana dan ladang ilmu pengetahuan menjadi kering akhir-akhir ini. Perlu disadari, pendekatan sistem pendidikan ala anglo amerika-eropa yang ketat hanya menjadi peruncing konflik dan tidak bisa menyeleseikan persoalan. Intinya, FISIP UJ masih belum siap dengan sistem yang sedemikian ketat dengan argumen bahwa motif para mahasiswa berkuliah di FISIP sangat beragam. Tapi yang jelas ketika pilihan itu telah dieksekusi maka konsekuensi yang harus diterima adalah mengikuti alur dan aturan yang berlaku. Itu di sosiologi bagaimana di jurusan yang

Edisi Mei 2012

3

EditoriaL
lain? Ternyata serupa, di jurusan administrasi yang notabene tidak memiliki wadah atau HMJ, kiranya cukup berkontribusi terhadap kekisruhan yang ada pada tubuh administrasi. Mulai dari banyak dosen yang jarang mengajar karena berbagai kesibukan diluar hingga permasalahan kurikulum yang memberatkan mahasiswa angkatanangkatan atas yang hampir mengakhiri masa kuliahnya. Maka dari itu, berangkat dari fenomena beserta keluhan yang beragam, diawali oleh Program Studi Administrasi Negara pada tanggal 3 maret 2012 lalu juga melakukan hal yang sama untuk berembuk bersama dengan segenap komponen yang ada pada Prodi Administrasi Negara. Dikemas dalam acara Temu Akrab komponen Administrasi Negara pun terlaksana dengan menghasilkan beberapa kesepakatan yang kiranya dapat dipahami tentang tata aturan, mekanisme perkuliahan, pengajaran, dan kurikulum perkuliahan. Walau kemudian pada akhirnya acara ini lagi-lagi menimbulkan banyak pertanyaan bagi saya. Ya, pertanyaan memang selalu ada karena dengan pertanyaan atau bertanya, motifmotif terselubung yang ada pada setiap aktivitas individu maupun kelompok dapat kita bongkar. Apakah pembaca tidak pernah bertanya, mengapa Jurusan Administrasi selalu menjadi santapan untuk dijadikan rawan konflik (entah itu horizontal atau vertikal) di kampus? Dan pada akhirnya kekacuan itu perlahan-lahan menjadi mitos yang kerap mengkooptasi daya kritis, kreativitas, dan inovasi dari kawan-kawan administrasi karena seringnya mendapat hambatan, terutama yang paling berkontribusi besar dalam hal ini dari birokrasi kampus. Lihat saja, ketika acara yang digagas oleh dosen-dosen dengan menggandeng mahasiswa, proses persiapan selalu lancar tanpa hambatan yang berarti. Birokrasi kampus pun selesai pada tataran komunikasi non-formal. Tetapi ketika mahasiswa yang ingin maju, ingin belajar lebih, ingin berkarya, selalu dipersulit dengan proses formal yang ketat dan prosedural. Sehingga membuat kawan-kawan pada jurusan administrasi selalu berfikir kembali ketika ingin mengadakan acara-acara di kampus. Ada kecenderungan memang jurusan Administrasi selalu digerayahi oleh oknum-oknum yang ingin mengambil keuntungan dari keributan pada tubuh Administrasi. Dan itu yang tak pernah dibaca oleh kawan-kawan administrasi! Sekali lagi, kekompakan dan kesolidan Jurusan Administrasi dipertaruhkan disini. Pada akhirnya adalah bahwa ada sebagian yang mengharapkan kampus kita menjadi lahan wacana dengan segala aktivitas ilmu pengetahuannya, pada bagian lain lagi ada yang ingin merubah sistem pendidikan, karena melihat sistem perkuliahan yang ada saat ini masih carutmarut dan acak-adut. Akhirnya perubahan yang mungkin dapat ditawarkan dalam kondisi saat ini adalah perubahan secara cepat, radikal (revolusi) atau secara perlahan dengan berbagai penyesuaian (reformasi). Atau bahkan tidak ada sama sekali yang perlu harus dirubah.


Semoga harapan itu masih ada, dan langkah progressif perubahan mengiringi langkah kita untuk menjadi pribadi dan individu yang mencerahkan.


Semoga! Selamat Mbaca!

4

Edisi Mei 2012

Sajian Utama

Musuh Bersama HMJ FISIP UJ
*Alifian Rizzalul Ahmad
MJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) adalah wadah bagi tiap mahasiswa jurusan. Di FISIP ada 5 HMJ yang menaungi seluruh mahasiswa yaitu HMJ HI (HIMAHI), KS (HIMAKES), Administrasi (HIMAISTRA) yang menaungi prodi Administrasi Negara dan Administrasi Bisnis yang saat ini vakum, Sosiologi (HIMASOS) dan D3 (HIMADITA) yang menaungi prodi pajak dan pariwisata. Wadah-wadah tersebut yang bekerjasama dengan prodi masing-masing untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan Tri Darma Perguruan Tinggi (Peneletian, Pengembangan dan Pengabdian kepada masyarakat) lalu di breakdown dalam program kerja dengan asumsi dapat menambah nalar kritis mahasiswa dalam menanggapi fenomenafenomena yang ada disekitarnya. Namun terjadi permasalahan dalam seluruh HMJ setiap mengadakan acara untuk mahasiswa yang bisa dikatakan “musuh bersama HMJ”. Sikap apatis mahasiswa terhadap hal-hal yang berbau ilmiah ternyata menjadi momok HMJ. Terjadi kemorosotan intelektual pada mahasiswa. Seperti dikatakan Budiyono ketua HIMASOS “kita dari HMJ semakin kebingungan dalam menyikapi permasalahan ini, diskusi-diskusi rutin yang kita lakukan tidak disrespon secara masif oleh mahasiswa sosiologi”. Namun ada tanggapan lain dari beberapa mahasiswa sosiologi yang tidak masuk dalam struktur HIMASOS “kami hampir tidak pernah mengikuti diskusi-diskusi, jadi kami tidak pernah mendapatkan apa-apa dari kegiatan yang dilakukan HIMASOS”. Terjadi hal yang tidak jauh serupa di HIMAKES yakni permasalaha “loe lagi,, loe lagi” kata Rusdi TB. Setiap agenda rutin yang diadakan di kampus, yang datang hanya beberapa mahasiswa itu-itu saja, seolah

H

tidak pernah mengalami kenaikan yang progress. Ia merasa sia-sia ketika melakukan acara karena tidak minoritas sekali mahasiswa yang melakukan follow up dari acara tersebut seperti seminar mengundang JAMSOSTEK sekitar 2 bulan yang lalu. Minoritas sekal mahasiswa yang benarbenar memperhatikan dan memahami acara tersebut, bahkan ada yang bercanda tawa diluar ruangan saat acara tersebut. Kondisi ini semakin memprihatinkan jika melihat HMJ HIMAISTRA yang telah vakum setahun yang lalu. Walaupun HIMAISTRA vakum beberapa mahasiswa Administrasi lantas tidak ingin mengikuti arus kevakuman tersebut. Bagaimana caranya harus ada kegiatan agar iklim intelektual di kampus tidak mati, tandas Aida mahasiswa Administrasi Negara 2010 tersebut. Lebih lanjut ia tidak memungkiri bahwa memang terjadi degradasi pemikiran dan kepekaan pada mahasiswa saat ini. Untuk diajak diskusi dan memikirkan sesuatu hal di luar disiplin ilmunya sangatlah susah. Mahasiswa sekarang lebih mengedepankan proses akademik formal demi mengejar ijazah dan cepat lulus, namun miskin substansi keilmuannya. Tandasnya dengan raut serius. Sedikit sekali mahasiswa yang mau membicarakan masyarakat bahkan kampus sekalipun. Kebanyakan dari mereka hanya berputar-putar yang membentuk segitiga setan (kampus, warung, kos-kosan atau rumah) ada juga yang menyebutnya mahasiswa KUPU-KUPU (KUliah PUlang). Kebiasaan-kebiasaan tersebut membuat para birokrat FISIP nyaman duduk di ruangan ber-AC karena tidak ada yang mengkritisi mereka dan melakukan tindakan yang mampu membuat mereka sedikit tergelitik. Bila dalam lingkungan kampus sudah terjadi hal seperti ini, maka tidak diragukan lagi kehancuran negara tinggal menunggu waktu.

Edisi Mei 2012

5

Sajian Utama

Mahasiswa Limbung
*Mauludin Syah Sulton
enyikapi tulisan Goenawan Mohamad yang disampaikan pada moment peringatan Nurcholis Majid memorial lecture II di Jakarta 23 Oktober 2008, dengan tema demokrasi dan disilusi, Robertus Robert diawal tulisannya membaca dua (2) hal utama pada tajuk ilmiah GM. Sebuah ilusi demokrasi sebab tergelincirnya yang politis menjadi politik. Mulanya demokrasi kita bangun dengan harapan bahwa sistem ini yang dapat mencerahkan bangsa kita. Belakang hari setelah tiga kali terjadi pemilihan secara standar demokrasi pengharapan itu tak kunjung terwujud, rakyat Indonesia masih dipaksa menjadi miskin, fakir dan bodoh. Demokrasi kita mulai dari yang politis, gerakan masa tahun 1998 yang dikawal mahasiswa merupakan kehadiran dari sang politis ini. Pada moment itu, kuatnya energi perubahan begitu kental, gelombang penuntutan, pembubaran, kehendak, berkonflik, dan konfrontasi dengan rezim orde baru mewarnai hari-hari mereka yang turun di jalan-jalan Jakarta. Inilah reaksi kehadiran sang politis, bentuk dari pencerahan bangsa ke kesadaran yang lebih otentik. Namun apa yang diharakan tak sepenuhnya lengkap terpenuhi, sang politis telah tergelincir menjadi yang politik. Dalam tulisannya, Robertus Robert mengenai ketergelinciran ini, terjadi sebab ketika konflik, kontradiksi, tuntutan akan perubahan di lembutkan tiba-tiba oleh tindakan penyatuan atau konsensus, tindakan konstitusianalisasi dan institusionalisasi yang berarti kehendak kompromis mengakhiri sang politis. Matinya sang politis dan digantikan oleh politik, fenomenanya dapat dengan mudah kita lihat. Kita menjadi bangsa Indonesia yang kualitas demokrasinya di akui

M

masyarakat dunia. Setiap moment demokrasi kita, sikap kompromi dan musyawarah adalah penting untuk menentukan kebijakan. Kebebsan individu di jaga tetap baik tanpa ada yang mengusik. Secara prosedur maupun subtansial hal ini adalah tuntutan demokrasi. Dalam keadaan demikian, rupanya terjadi hal yang paradoksal. Kita mengharap demokrasi dapat menghilangkan otoritarianisme politik, namun kesetaraan hak politik dalam rupa kebebasan memilih yang menjadi tuntutan demokrasi malah menghadirkan jenis baru dari otoritarianism. Otoritarianisem jenis baru ini digawangi oleh mereka orang orang kaya, pemilik kapital yang punya akses kepada kekuasaan lebih massif ketimbang masyarakat pada umumnya. Lebih paradoksal lagi kenyataan bahwa otoritarian ini hampir tak menyediakan ruang untuk di robohkan sebab jenis otoritarian ini dibangun diatas konsensus mayoritas. Bukan berarti yang mayoritas mesti tidak baik, namun faktanya korupsi yang kerap terjadi di negeri ini memang banyak melibatkan para wakil rakyat yang didukung suara mayoritas Apa yang terjadi kemudian adalah buruknya kualitas bernegara kita, reformasi birokrasi tak berjalan baik dengan masih banyaknya pejabat terlilit kasus korupsi. Kesejahteraan rakyat buruk, rakyat telah dimiskinkan dan difakirkan oleh pemerintahnya sendiri. Ini adalah ironi. Dimana mahasiswa? Kemudian menjadi penting untuk menyoal kembali posisi mahasiswa. Banyak pihak memahami reformasi adalah proyek politik mahasiswa. Mereka kaum muda menjadi penggagas dan penggerak reformasi. Ditengah keterpurukan berbangsa dan bernegara, banyaknya suara yang menyoal eksitensi mahasiswa, adalah bukti bahwa energi mahasiswa dinantikan

6

Edisi Mei 2012

Sajian Utama

untuk berbenah kembali. Bila reformasi di ibaratkan sebagai proyek pembangunan jalan, mengutip Gus Dur, proyek itu belum selesai. Baru setengah jalan saja. Tentu proyek ini harus dituntaskan. Namun sayangnya mahasiswa lupa akan tugas ini. Fenomena sekarang, lebih mudah untuk menemukan mahasiswa yang kulit formal saja, mahasiswa yang asyik dengan diri mereka sendiri ketimbang mahasiswa dengan keresahan-keresahan ketika menyikapi kehidupan bernegara. Mereka terlibat identitas geng motor, penikmat dugem malam dan lebih jauh ada yang asyik dengan budaya alkholik.

Pada diri mahasiswa seperti nampak terjadi keterputusan. Mereka mahasiswa saat ini dengan mereka mahasiswa dulu seperti tak punya hubungan, akhiranya susah untuk mengatakan “kita”, kita yang utuh untuk berbangsa. Mahasiswa telah terkotak-kotak, subyektifitas identitas mereka membawa ciri kepentingan tertentu yang sepertinya susah untuk menggunakan nama bangsa untuk berjalan seirama.

Edisi Mei 2012

7

Sajian Utama Dibalik Nama “Mahasiswa” Kini
*Rizky D.E.
“Era globalisasi dan modernisasi telah memberikan perubahan drastis bagi struktur sosial masyarakat yang ada, tidak terkecuali Indonesia sebagai Negara plural dan demokratis. Dari waktu ke waktu, perubahan setahap demi setahap dapat dilihat dari tingkah laku, cara berbicara dan cara berfikir manusia.” udaya sosial yang selama ini Universitas Jember periode 2012-2013, rabu diagung-agungkan seolah (25/04) kemarin. “memang terjadi perubahan pada terlupakan dengan perubahan perilaku mahasiswa sekarang dibandingkan dengan keseharian yang berfokus pada kesenangan. mahasiswa dulu”, kata Karim. Ia mengakui bahwa Kaum intelektual pun tidak luput dari pengaruh UKM Mapalus yang bergerak pada kegiatanperubahan-perubahan budaya sosial yang ada. kegiatan Pencinta Alam mengalami kesulitan Apalagi bagi perilaku mahasiswa, the agen of dalam proses regenerasi karena semakin change, saat ini berubah menjadi abu-abu, bukan sedikitnya mahasiswa yang ingin mendaftar lagi sebagai kaum intelektual, yang seharusnya menjadi anggota. “padahal kita kuliah kan tidak tampak beda dari kalangan masyarakat biasa. selalu hanya di kampus untuk mendapatkan ilmu Lupakah anda tentang Era 1998 pengetahuan, infrastruktur seperti UKM-UKM merupakan peristiwa besar yang mencitrakan seharusnya menjadi salah satu wadah bagi mahasiswa sebagai the agen of change, yang mahasiswa yang ingin belajar berorganisasi dan mampu menggulingkan rezim otoriter yang bersosialiasasi dengan orang lain”, tambahnya berkuasa selama puluhan tahun. Namun predikat Nonkrong di café, main game di game itu kini tidak sesuai dengan budaya mahasiswa centre, belanja ke swalayan dan pergi tempat yang sekarang. Mahasiswa tidak lagi hiburan lainnya menjadi pilihan bagi sebagian memfokuskan diri kepada penelitian, mahasiswa untuk menghabiskan waktu luangnya pengembangan dan pengabdian pada daripada berkecimpung di dunia jurnalistik, masyarakat. Tetapi malah sering asyik bersenda keagamaan, pecinta alam dan kegiatan lain dalam gurau di kantin, café, nge-game di rental PS, UKM di kampus. Kegiatan yang hanya belanja-belanja dan pergi ke tempat hiburan menghabiskan uang dengan gaya hidup boros malam bahkan sering bolos kuliah. Sedangkan seperti itu menjadi diperkuat dengan penampilan perpustakaan dan ruang baca menjadi kosong, mahasiswa saat pergi ke kampus untuk kegiatan sunyi dan senyap, nyaman untuk dibuat kuburan. belajar-mengajar sampai-sampai pihak kampus “mudah terprovokasi dan bertindak membuat kebijakan tata cara berbusana yang anarki”, kata Emmil, mahasiswa jurusan terpampang dengan latar belakang berwarna administrasi Negara ini (22/04). “mahasiswa merah di depan. Apakah sebegitu jaman sekarang gampang terjebak oleh issuemengkhawatirkannya mahasiswa saat ini ??? issue seperti politik alias mudah dan sering Kebiasaan seperti di atas seharusnya berdemo serta kurang kritis”, tambahnya. dikurangi dan berganti dengan berkegiatan yang Kemudian Mantan pengurus UKM Prima, Fisip, lebih bermanfaat bagi masyarakat, melakukan Universitas Jember, ini menegaskan bahwa kegiatan dan bergabung dalam UKM, ikut serta mahasiswa saat ini tidak mampu untuk dalam Bakti Sosial atau Donor Darah misalnya. menerapkan pengetahuan yang dimilikinya pada Dengan memaksimalkan infrastruktur yang ada di lingkungan masyarakat dan sering bolos kuliah kampus seperti perpustakaan dan UKM hanya untuk jalan-jalan atau berbelanja dengan merupakan keputusan yang dapat menjadi teman-temannya. perbaikan citra mahasiswa yang sudah terlihat Hal se-nada dilontarkan oleh Saiful mengenaskan dan kurang bermoral. Karim, ketua umum UKM Mapalus, Fisip,

B

8

Edisi Mei 2012

Sajian Utama

Ada Politik di Kampus

*Ferio Pristiawan E.
endidikan pada level perguruan tinggi ternyata menyimpan misteri yang perlu dibedah secara serius, karena pada dasarnya dunia kampus tidak hanya melulu pembelajaran formal seperti perkuliahan yang biasa mahasiswa enyam sehari-hari, melainkan ada kombinasi dari pembelajaran non-formal diluar kampus yang ikut mempengaruhi jalannya aktivitas kampus itu sendiri. Kampus sebagai tempat belajar semua mahasiswa ternyata diharapkan pada posisi obyektif yang bebas nilai dan bebas kepentingan. Tapi apakah cukup hanya itu? Ternyata impian untuk mengidealkan suasana kampus yang obyektif tidaklah mudah. Terdapat sekat pembatas yang kabur disana sehingga tidak terlalu jelas batasannya. Institusi pendidikan pun memiliki etika agar keobyektifan pendidikan selalu terjaga. Ya, terjaga dari kepentingan dan nilai-nilai yang dibungkus rapi oleh politik kampus. Adanya peraturan menteri yang tidak memperbolehkan organisasi ekstra beraktivitas di kampus adalah salah satunya untuk mencegah berkembangnya pengaruh-pengaruh yang mengakibatkan tidak obyektifnya lembaga pendidikan. Kita semua tidak bisa memungkiri bahwa dunia kampus berjalan sangat dinamis, dari komponen yang menyertai hingga fenomena yang terjadi di dalamnya. Bagaimana kita seharusnya memandang dunia kampus? Semua pandangan tentang ini akan tergantung dari pembacaan dan pengetahuan masing-masing individu. Pujo mahasiswa Administrasi Bisnis 2009 memandang kampus biasa-biasa saja karena seharusnya kampus, khususnya pada level strata satu (S1) adalah sarana untuk pengembangan wacana masingmasing bidang ilmunya. Ditanyai tentang bagaimana pandangannya perihal politik kampus, mahasiswa Administrasi Bisnis ini lagi-lagi menanggapi dengan sederhana, ia menjawab ketika berpolitik dikampus yang utama adalah

P

profesional, perfeksionis, dan bisa menempatkan diri, tandasnya. Ngomong politik kampus tidak bisa dilepaskan dari hadirnya organisasi-organisasi ekstra. Organisasi ekstra memang tumbuh subur di lingkungan kampus, karena selain para komponen didalamnya telah mentas dari tubuh omek itu sendiri, ternyata kampus juga lahan potensial untuk menjaring para mahasiswa yang akhirnya dilanjutkan menjadi bagian dari omek tersebut. Nah, dari mahasiswa yang terjaring oleh omek tersebut ternyata berefek pada aktivitasnya selama di kampus. Secara ideologi dan pandangan tentu sudah tidak seperti mahasiswa yang tidak beromek. Dari situ lahirlah politik kampus, dimana politik itu sendiri adalah cara bagaimana untuk mempengaruhi dan mengendalikan orang sesuai apa yang diinginkan, kemudian dapat menjaga dan mempertahankan kuasa tersebut agar tetap langgeng. Sehingga tidak ayal sering ditemukan mahasiswa yang ber-omek selalu menghiasi pospos struktural yang ada di kampus dengan kadar ideologi yang dibawanya masing-masing. Dari sini timbullah masalah yang pelik karena ada rasa kebosanan ketika orang-orang omek selalu berkuasa dan ketika berkuasa tidak berpihak untuk kepentingan mahasiswa keseluruhan tetapi hanya golongannya dan kelompok tertentu saja. Sehingga ada pihak-pihak yang merasa dirugikan akibat tidak masuk lingkaran politik di kampus. Perlu diketahui dengan bijak pada hakikatnya sebagai manusia secara sadar atau tidak, politik selalu inheren pada setiap diri individu manusia. Permasalahannya adalah apakah mahasiswa yang tidak ber-omek dapat mengganti peran serta posisi anak-anak omek yang terlanjur mendominasi? Apa memang orang-orang yang tidak ber-omek sudah mengambil pilihan untuk apolitis? Politik dan Kampus

Edisi Mei 2012

9

Sajian Utama
Kampus sebagai arena politik diawali segera setelah Indonesia merdeka. Pendirian kampus itu sendiri dilatari oleh pertimbangan politik, yakni sebagai penolakan terhadap sisasisa kolonial di bidang ilmu pengetahuan khususnya di dunia perguruan tinggi. Kita mungkin dapat memafhumkan kondisi pada waktu itu dimana upaya peng-Indonesia-an kampus atau perguruan tinggi harus ditempuh lewat jalan politis. Akibatnya, dimensi profesional dan berkualitas yang biasa lekat dengan kampus menjadi terlupakan karena upaya peng-Indonesia-an perguruan tinggi lewat jalan politis. Menjelang pemilu pertama tahun 1955, pola intervensi politik menampakkan wajah baru. Jika sebelumnya kampus menerima pengaruh politik non-kampus secara pasif, maka pada periode ini kampus bereaksi secara aktif. Kampus membuka diri terhadap partai-partai politik yang ingin menarik warga kampus untuk ambil bagian menjadi tokoh, pemikir, pemimpin, dan basis massanya lewat peningkatan aktivitas organisasi ekstra (omek) universitas. Tak ayal pada saat itu Soekarno menyindir kampus, terutama para dosen sebagai berwatak konservatif dan bahkan kontra revolusi karena enggan berfikir diluar kelainan ilmu (text box thinking). Kampus dituding sebagai menara gading. Setelah runtuhnya sistem politik demokrasi terpimpin dan kemenangan orde baru harapan datang untuk mengembalikan kemandirian kampus pada titik idealnya. Oleh karena itu kampus turut ambil bagian dalam proses pembangunan yang dilaksanakan orde baru itu sendiri. Kampus berubah yang dulunya berwatak konservatif karena pengaruh peng-Indonesia-an lewat jalan politis kini menjadi sumber tenaga ahli dan pemikir bagi pembangunan di segala bidang. Akhirnya, terciptalah kerjasama yang mesra antara kampus dan penguasa rezim. Namun sejalan dengan watak dunia kampus yang berfikir rasional dalam upaya mendekati kebenaran (corak ilmiah), maka kecenderungannya untuk mengevaluasi hasil pembangunan orde baru tidak terhindarkan. Disinilah awal pemicu perbedaan yang tajam antara kampus dan pemerintah, yang kemudian menyadarkan kampus untuk mempertanyakan sistem yang mewadahi pembangunan itu sendiri. Kritik terhadap kemandirian dalam pembangunan bangsa dengan banyaknya hutang atau pinjaman luar negeri yang dilakukan pemerintah serta distribusi penghasilan nasional menjadi senjata kampus untuk membredel kebusukkan orde baru. Akhirnya pemerintah beserta aparatnya mulai menyusun langkah strategis untuk mengantisipasi lahirnya suatu gerakan kampus yang membahayakan stabilitas rezim. Dua langkah penting diambil pemerintah, yakni melakukan intervensi yang bersifat kebirokrasian dan mengadakan pembenahan politik yang melibatkan unsur-unsur dalam kehidupan kampus. Pada birokrasi, Departemen P & K (kalau sekarang Kementrian Pendidikan) dijadikan senjata utama untuk mematikan kampus dengan ikut menentukan kebijakan kampus itu sendiri. Mulai dari penetapan rektor, kepala jurusan, kurikulum, kebijakan anggaran, dan membatasi dosen-dosen dalam mempublikasi gagasan serta pemikirannya di media massa yang tak lepas dari permainan birokrasi. Gejala ini masih bisa dirasakan sampai sekarang, minimnya seminar-seminar, loka-karya, dan segala kegiatan yang berkaitan dengan substansi akademik selalu dirumitkan oleh proses birokrasi. Seakan-akan langkah prosedural birokrasi dan administrasi menjadi pengganjal dalam proses aktualisasi kreatifitas dan inovasi warga kampus. Kampus menjadi kering tak berisi! Langkah selanjutnya adalah upaya untuk memisahkan kampus dan politik dengan membubarkan lembaga kemahasiswaan dan melarang pengatasnamaan kampus untuk aktivitas politik. Kampus tertekan dan tak bebas dengan seabrek kebijakan represi oleh pemerintah. Pemerintah memahami bahwa jika institusi ini dibiarkan liar dan bebas maka akan menggangu status-quo itu sendiri. Adegium, “maju tidaknya suatu negara ditengarai dari kualitas pendidikan yang ada di negaranya” ternyata cukup beralasan jika ingin menyibak akar masalah pada bangsa ini. Mahasiswa dan Politik: Urgensi Peran Politik Mahasiswa Dari pengamatan saya, ada kondisi dimana kampus harus terlibat dalam kehidupan politik. Pertama, efek dari laju pembangunan pada orde baru yang hingga sekarang masih sangat terasa menggejala membuat kampus seakan melupakan tugas dan fungsi utamannya. Malahan kampus dibuat sebagai tenaga ahli dan teknokrat untuk memenuhi kebutuhan sistem ekonomi dan industri lewat orde pembangunan tersebut. Jadi

10

Edisi Mei 2012

Sajian Utama
ada anggapan bahwa setelah selesei proses kuliah atau keluar dari kampus kita akan mendapat pekerjaan sesuai dengan disiplin ilmu yang kita geluti. Padahal apabila sedikit cermat, kita tak ubahnya buruh yang harus mengikuti aturan yang ada di bursa/pasar kerja dan industri. Bisa dikatakan intelektual yang selesai mengenyam kuliah tak bisa merdeka atas kondisi dirinya. Padahal esensi dari pendidikan adalah proses pencerahan itu sendiri. Kondisi sangat bersebrangan jika melihat kampus sebagai usaha lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat kegiatan mendidik untuk merealisasikan peranannya sebagai pembaharu dan perangsang bagi perbaikan kondisi kehidupan masyarakat dan bangsa. Sebab itu yang membuat kampus ikut terlibat dalam kehidupan politik, karena usaha tersebut akan selalu terkait dengan struktur kekuasaan, betapapun kecilnya. Kedua, kampus sebagai sumber daya politik, dimana di dalamnya tersedia potensi kepemimpinan dan keahlian yang berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Ketiga, menyangkut watak kemandirian kampus yang tumbuh dari metode kerja ilmiah mendorong insan kampus untuk selalu berfikir kritis dalam menilai keadaan di sekitarnya. Disini Pemerintahlah yang menjadi pusat atau sentrum perhatian kampus. Namun semua ini menjadi usang tatkala birokrasi turut campur tangan dalam mengkonstruksi kampus. Kuatnya tekanan dan pengawasan birokrasi dalam pertumbuhan daya kreatifitas warga kampus menimbulkan kekhawatiran yang mendalam untuk berbuat “salah”. Oleh karena itu untuk meminimalisir kesalahan tersebut, maka pengamanan mulai dari menyensor pikiran atau pendapat yang sekiranya “salah” atau tidak sesuai yang diharapkan oleh birokrasi dan pendapat umum hingga sampai tidak mengumumkan atau mempublikasinya kepada siapapun. Lebih dari itu mereka dalam artian ini warga kampus tidak melakukan pemikiran sama sekali. Rasa kurang aman akibat kontrol birokrasi menjadikan problem tersendiri bagi mahasiswa untuk melibatkan diri dalam perbincangan tentang problema negara dan kemasyrakatan. Bisa dilihat sampai saat ini gambaran apatisme mahasiswa sangat mencolok di lingkungan akademis. Hal ini menjadi problem ketika pada saat mahasiswa jarang dan enggan membicarakan tentang sosiokemasyarakatan dan beragam persoalan bangsa, tetapi kemudian berhasil menduduki posisi struktural kekuasaan dan profesi. Bisa dipastikan mereka akan kurang dapat diandalkan untuk merancang dan mengelola pertumbuhan politik dan masyarakat ke arah idealisme tanpa perlu mengenyampingkan kenyataan yang ada. Tugas yang berat dan muskil bagi para mahasiswa yang apatis dan menganggap politik bukan ranah mahasiswa. Sampai-sampai ada anggapan “Mahasiswa ya mahasiswa, tugasnya hanya belajar agar mendapat nilai yang tinggi.” “Politik bukanlah ranah mahasiswa, politik ya urusan para elit negara” timpal, Aida Muji mahasiswa Administrasi Negara 2010. Selanjutnya dengan wajah serius, ia menerangkan bahwa politik jangan dimaknai sekedar perebutan kekuasaan semata. Tidak sesederhana itu, politik akan selalu berbicara di semua segi kehidupan. Maka, menurutnya politik yang sehat dengan naluri idealisme ala mahasiswa menjadi alternatif di tengah kondisi politik praktis yang kerap dipertunjukkan oleh pejabat elit negara dalam membuat perubahan itu sendiri. Lalu bagaimana kita seharusnya memandang politik kampus tersebut? M. Hadi Makmur, dosen Administrasi Negara yang juga alumni PRIMA ini menjelaskan bahwa politik itu harusnya dimaknai sebagai media bagi mahasiswa untuk mengartikulkasikan kepentingan mahasiswa itu sendiri, dengan melalui mekanisme yang telah disepakati secara demokratis tentunya. Bukan bahasa kekuasaan yang lebih dominan disitu. Jadi mindset yang dikedepankan seharusnya adalah belajar. Ya, belajar untuk mengartikulasikan kepentingan mahasiswa sendiri lewat organisasi mahasiswa yang ada di kampus. Terlepas ada tidaknya politik di kampus sepenuhnya tergantung dari mahasiswa sendiri. Pasalnya, ketika ada organisasi mahasiswa di kampus, di sana lah tempat bagi mahasiswa untuk mengaktualisasikan dirinya secara lebih. Sambungnya kemudian yang menjadi persoalan apakah mahasiswa benar-benar paham atas kepentingannya tersebut? Jangan-jangan mahasiswa nggak paham. Karena pembacaan M. Hadi Makmur atas mahasiswa cenderung merasa nyaman, mapan enjoy dalam ketidakberdayaannya. itu Intinya, kesadaran kritis mahasiswa saat ini masih lemah. Apabila seperti ini realitanya, bisa dibuktikan sampai sekarang, ada atau tidak adanya organisasi mahasiswa di kampus tidak menjadi soal, karena sama saja!

Edisi Mei 2012

11

Sajian Khusus
SISI LAIN SANG JURU SELAMAT
*Jos Rizal
Berasal dari berbagai lapisan masyarakat, dari desa maupun kota, dan menempati kasta tertinggi dalam dunia pendidikan. beberapa kalimat di atas mungkin masih belum cukup untuk menggambarkan sosok sang juru selamat. Mahasiswa dalam pelbagai hal selalu dipandang sebagai intelektualis yang bisa diandalkan kelak di masa yang datang oleh masyarakat. Sehingga tak heran masyarakat menempatkan mahasiswa sebagai seseorang yang teladan dan pandai. Mahasiswa sebagai sang juru selamat ini sangat diharapkan oleh masyarakat keberadaannya karena dirasa bisa menjadi pembawa kesejahteraan bagi semua. Tak heran, menjadi seorang mahasiswa merupakan kebanggaan dan kemewahan tersendiri bagi segelintir orang. Akan tetapi apakah agen pembaharu ini benar-benar demikian adanya ? Selalu ada Sumbangsih mahasiswa disegala lini kehidupan. Entah itu dalam konteks pelestarian lingkungan, kemasyarakatan dan berbagai hal lainnya. Tak terelakan juga terhadap dunia malam. Dunia malam yang identik dengan hedonisme, identik dengan dentuman musik beat, lampu kelap-kelip, dan minuman beralkohol ternyata tak luput dari intervensi mahasiswa. Apalagi kini tempat semacam diskotik dan cafe semakin tersebar dan mudah dijangkau oleh siapa saja. Diskotik yang pada umumnya hanya terdapat di kotakota besar seperti Surabaya, Jakarta dan kota besar lainnya kini mulai menjamur di kota tembakau. Selain itu masyarakat juga memiliki kacamata bahwa diskotik yang pada dasarnya sebagai tempat hiburan memiliki peran ganda sebagai tempat berkumpulnya anak-anak nakal. Diskotik mendapat tempat khusus di hati mahasiswa. Ruangan yang pada awalnya digunakan sebagai tempat untuk mendengarkan musik dari piringan hitam kini ikut berevolusi mengikuti tantangan zaman. Mereka ( para pemilik diskotik) mencoba menngikuti laju zaman yang kini berkiblat pada liberalisasi atau dunia yang bebas saat ini. Diskotik pada umumnya buka setiap hari terkecuali hari-hari besar nasional. Beberapa diantaranya tidak memiliki jam buka dan jam tutup yang sama. Penat akan kehidupan kampus, Pemuda dan pemudi merasa bosan akan kehidupan sehari-harinya. Merasa jenuh, tak sedikit dari meraka yang memilih diskotik untuk tempat menyegarkan kembali otaknya. Harga tiket masuk diskotik sendiri cenderung relatif karena tiap diskotik tidak memasang harga tiket masuk yang sama antara yang satu dan lainnya. Kendati demikian ada salah satu diskotik ternama di Jember yang dalam 1 minggu sekali menggelar event “campus night”. Dalam acara itu mahasiswa bebas masuk diskotik alias gratis. Akan tetapi mereka para mahasiswa harus menunjukan kartu pengenal mahasiswa pada para penjaga pintu. Tak heran bila tiap selasa malam atau malam rabu, diskotik yang menggelar acara campus night ini digandrungi oleh banyak mahasiswa. Di Malam itu kedapatan banyak para mahasiswa yang berasal dari fakultas hukum, fakultas ekonomi, fakultas sastra, fakultas keguruan ilmu pendidikan dan tak mau kalah fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Jember mendominasi lantai dansa. Tak jarang juga disana bisa kita temukan mahasiswa yang berasal dari fakultas lain dan perguruan tinggi lainnya

12

Edisi Mei 2012

Sajian Khusus

yang ada di Jember. Jalan mulai sepi kendaraan. Lampu lalu lintas di persimpangan jalan raya kini hanya berwarna kuning dan berkelap kelip tanda waktu tengah malam akan segera tiba. Sementara itu di kost atau rumah tempat tinggal mahasiswa, para pemuda pemudi sudah mulai bersolek mempersiapkan diri dan segera menuju ke diskotik. Tak hanya mahasiswa yang memang berniat untuk pergi ke diskotik dari kediamannya, remaja lain yang sejak beberapa jam lalu sempat nongkrong di pinggir jalan saat itu juga ikut meramaikan tempat penuh lampu itu. Para remaja ini biasanya meneguk beberapa minuman beralkohol sebelum mereka memasuki diskotik. Diskotik kini mulai pengap dan dipenuhi banyak orang. Suasana yang dipenuhi asap rokok serta di beri tambahan sinar laser dan lampu berbagai warna menambah gairah para pemuda untuk ber ngak ngik nguk ria. musik yang bermelodi pelan secara perlahan menjadi musik disco seiiring DJ (disc jokey) mengganti piringan hitamnya. Pengunjung ahirnya dapat meikmati musik yang mereka harapkan. Tak sedikit pula mahasiswa yang berdisko sambil meneguk botol minuman di tangannya. Malam semakin larut,pengunjung diskotik kian bertambah. Kali ini bukan hanya mahasiswa yang turut meramaikan acara campus night itu. Para lelaki dan perempuan yang berdasar penampilan sudah berkepala 3 hingga 4 juga ikut andil dalam suasana yang semakin riuh itu. Takut tidak kebagian tempat duduk tak jarang pula dari mereka yang memesan tempat duduk yang berharga Rp 250.000 per blok. Kursi berjenis sofa itu memiliki formasi berbentuk huruf U yang berhadapan langsung dengan dance floor. Jika Pengunjung Haus, tempat tersebut telah

menyediakan beberapa jenis minuman beralkohol maupun non alkohol serta memiliki kualitas Impor dan lokal, Harganya pun berkisar antara 30 ribu hingga jutaan rupiah. Tinggal panggil saja para penyaji yang rata-rata berusia belia itu untuk datang ke meja anda. Atau pengunjung bisa memesan sendiri langsung di tempat yang disediakan. Beberapa dari Mahasiswa yang kedapatan sedang bersuka-ria itu mengaku bahwa mereka jenuh akan kehidupan kampus. Dirasa perlu baginya untuk refreshing. Mereka memilih tempat tersebut karena tempat tersebut free. Selain itu tawaran yang diberikan oleh diskotik sangat diminati oleh mahasiswa itu sendiri yaitu “dugem”. Kemudian Nilai lebih yang menjadi pertimbangan mahasiswa memilih diskotik ialah ia dapat bergaul atau sekedar berkenalan dengan lawan jenis. Dan tak jarang pula yang mencari pasangan di tempat itu entah itu bersifat homoseksual atau normal seperti manusia lainnya. Setelah puas menikmati music, meminum beberapa teguk minuman, dan mendapat teman baru tibalah saatnya untuk pulang. Lantaran capek pasca berjoget ria, beberapa dari mahasiswa juga terkadang menyewa blok/bangku kursi untuk tempat mereka tidur. Tak hanya malam rabu itu saja, mahasiswa ternyata juga sering mengunjungi diskotik di luar event campus night.

Edisi Mei 2012

13

SOROT
Kemelut Berlanjut, HIMAISTRA Kalang Kabut
*Rizky D.E.


Isu vakumnya HIMAISTRA setahun ini telah menjadi bahan perbincangan di ruang publik.


Jember, FISIP UNEJ, 5 Maret 2012, kabar vakumnya Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Administrasi memang diamini oleh sejumlah mahasiswa jurusan ilmu administrasi. Ada 2 pihak yang berselisih dalam tubuh HIMAISTRA yaitu anggota dari jurusan ilmu administrasi sore dan pagi yang menjadi latar belakangi vakumnya HIMAISTRA. Pihak AN Sore menyatakan bahwa mereka memiliki hak suara dalam pemilu yang diadakan oleh KPU HIMAISTRA periode 2011-2012 berdasarkan kepada program studi mereka yang termasuk dalam naungan jurusan ilmu administrasi. Namun hal itu dibantah oleh pihak AN Pagi yang berpendapat bahwa dari dulu AN Sore tidak pernah mengikuti serangkaian proses kegiatan yang wajib bagi anggota HIMAISTRA. A.M (bukan nama sebenarnya), salah satu mahasiswa jurusan ilmu administrasi Negara non-reguler atau biasa disebut AN sore, mengatakan bahwa keputusan dekanat yang menyatukan program studi regular dan non-reguler berimbas pada rancunya siapa yang menjadi anggota HIMAISTRA yang sebenarnya. Apakah hanya kelas regular yang memang notabene mengikuti serangkaian kegiatan HIMAISTRA dari awal yang menjadi anggota ataukah kelas non-reguler juga mendapat kesempatan yang sama ?

“Secara teori, kami memiliki kesempatan yang sama dengan Prodi ilmu admin pagi, karena kami termasuk dalam naungan jurusan ilmu administrasi FISIPUNEJ, setiap warga negara berhak bersuara dalam forum dan memiliki hak yang sama dalam proses pemilihan Umum, DAN KAMI A D A L A H WA R G A J U R U S A N I L M U ADMINISTRASI, setara dengan prodi ilmu AN pagi,” tambah A.M. Dalam proses pemilu periode 20112012 memang pihak administrasi sore tidak mendapatkan hak suara memilih ketua HMJ HIMAISTRA. Pihak AN pagi yang selama ini menjadi KPU dari pemilu HIMAISTRA membenarkan hal tersebut dengan alasan bahwa AN sore tidak mengikuti kegiatan HIMAISTRA seperti SE (Study Excusie). “tentunya Seorang warga Negara juga memiliki kewajiban jika ingin meminta haknya, jika tidak maka hal tersebut dirasa tidak adil”, bantah pihak AN pagi. Kewajiban yang dimaksud adalah mengikuti serangkaian proses dari kegiatan keanggotaan HIMAISTRA. Selama ini AN sore menolak mengikuti proses dan alur dari HIMAISTRA misalnya dalam kegiatan Study Excursie yang merupakan prasarat utama menjadi anggota HIMAISTRA. “Lagipula sampai saat ini pihak dekanat tidak ada tindakan untuk menyelesaikan perselisihan kedua pihak tersebut, sebenarnya perselisihan tersebut bisa diselesaikan jika ada mediator yang baik dari dekanat selaku penanggung jawab semua Himpunan Mahasiswa Jurusan di FISIP UNEJ”, kata A.M. Beberapa bulan ini memang tidak ada kebijakan yang dibuat oleh dekanat mengenai HIMAISTRA periode

14

Edisi Mei 2012

SOROT

2011-2012. Kemudian muncul Keputusan dekanat untuk tidak menurunkan SK HIMAISTRA mungkin adalah kebijakan diam yang dipilih guna menghindari permasalahan yang timbul secara lebih lanjut dan mereda amarah kedua pihak, yaitu AN pagi dan AN sore. Memang belum jelas apa saja yang telah dilakukan dekanat dan jurusan ilmu administrasi mengenai hal ini karena keterbatasan waktu dari kami selaku peliput. Kelas non-reguler atau kelas sore sebenarnya dibentuk sebagai kelas ekstensi, kelas yang diperuntukan bagi mahasiswa lulusan D3 atau yang telah bekerja dengan menunjukan surat keterangan sedang bekerja. Menurut ketua Program Studi Administrasi Niaga tentang terbentuknya kelas sore dilatarbelakangi oleh keinginan dosen ilmu administrasi untuk mendapat penghasilan tambahan daripada para dosen mengajar di tempat lain.

Namun sekarang, ketika ada kebijakan dekanat tentang penyatuan kedua prodi tersebut tentunya menjadi dasar yang kuat bagi pihak AN sore untuk mendapat posisi yang sama dalam jurusan. Karena merasa sudah menjadi tanggung jawab jurusan, Ketua prodi ilmu administrasi niaga pun enggan menangani dan ikut campur t e n t a n g m a s a l a h Va k u m n y a H M J HIMAISTRA. Sampai berita ini ditulis, belum ada penjelasan dari dekanat khususnya pembantu dekan III selaku yang berwenang mengurusi masalah kemahasiswaan tentang vakumnya HMJ HIMAISTRA tersebut.

Banyak Teriakan.. Pertanda Kepedulian..

Edisi Mei 2012

15

SOROT

Administrasi Sore Mengusik !!!
*Guntur Rahmatullah


Berawal dari para pendahulu AN Sore yang tidak mempergunakan hak suaranya dalam pemilu yang kemudian menjadi budaya yang salah tafsir.


Tidak adanya Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi (HIMAISTRA) itu dikarenakan oleh gagalnya penyelenggaraan pemilu HIMAISTRA pada tahun 2010. Kegagalan ini disebabkan oleh keinginan AN Sore ikut serta dalam pemilu tersebut. Jurusan Ilmu Administrasi sendiri terbagi atas AN Pagi (reguler) dan AN Sore (non reguler) dimana keduanya itu dalam satu-kesatuan dibawah Jurusan Ilmu Administrasi. Menurut Pembantu Dekan III FISIP Universitas Jember, Drs. Sutrisno mengatakan bahwa terbentuknya AN Sore berawal dari inisiatif untuk menyediakan ruang belajar bagi orang yang telah mempunyai pekerjaan (golongan tua), tetapi ingin mempelajari Ilmu Administrasi jadi dibentuklah program ekstensi yakni AN non reguler (AN Sore) dan tidak ada pembedaan antara keduanya, semuanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Namun dalam perkembangannya, AN Sore tidak hanya diisi oleh golongan tua, tetapi juga golongan muda (orang yang belum mempunyai pekerjaan dan atau baru lulusan SMA) pada saat ini. Drs. Sutrisno menambahkan AN Sore itu sebenarnya mempunyai hak suara dalam pemilu, sama seperti AN Pagi. Tetapi, para pendahulu AN Sore yang terdiri atas

golongan tua itu tidak mempergunakan hak suaranya dalam pemilu karena merasa telah tua dan menganggap hal itu dalam lingkup AN Pagi. Lebih parahnya lagi, para pendahulu ini tidak memberitahukan kepada generasi berikutnya bahwa sebenarnya dia mempunyai hak suara tetapi tidak mempergunakannya, sehingga hal ini menjadi budaya yang salah tafsir, dalam artian budaya tidak mempergunakan hak suara dalam pemilu di kalangan generasi berikutnya tanpa tahu bahwa mereka sebenarnya memiliki hak suara dalam pemilu. Dengan adanya budaya itu dimana AN Sore tidak pernah mengikuti pemilu maka AN Pagi memandang bahwa AN Sore itu tidak memiliki hak suara dalam pemilu. Keadaan seperti ini terus menerus terjadi tanpa tahu sebuah kebenaran di balik budaya itu antara AN Sore dan AN Pagi. Disamping itu, AN Sore juga tidak pernah mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh HIMAISTRA dengan alasan bahwa AN Sore tidak setuju dengan produk hukum dari HIMAISTRA. Ilustrasinya jika masyarakat tidak mempergunakan hak suaranya dalam memilih wakilnya dalam kursi pemerintahan, maka semestinya mereka merasa malu jika mereka tidak setuju dengan produk hukum yang dihasilkan wakil rakyat tersebut karena mereka sebenarnya mempunyai hak suara tapi tidak menggunakan haknya dalam memilih wakilnya dalam pemerintahan. Ketidaksetujuan AN Sore terhadap produk hukum yang dihasilkan oleh HIMAISTRA itu mangakibatkan banyak masalah baru. Masalah itu diantaranya AN Sore juga tidak mengikuti Study Excursie (SE) dimana hal itu merupakan prasyarat menjadi warga HIMAISTRA. Bahkan menurut mahasiswa AN Sore, Andi Irawan

16

Edisi Mei 2012

SOROT

mengatakan dirinya pernah mendengar cerita bahwa dulu AN Sore sempat akan mendeklarasikan HMJ sendiri yakni HIMAISTRA SORE. Namun hal itu gagal karena menurut peraturan DIKTI itu dalam satu jurusan hanya ada satu HMJ saja. HIMAISTRA sendiri banyak diisi oleh AN Pagi karena mayoritas yang mengikuti Study Excursie adalah AN Pagi. Dengan gagalnya AN Sore mendeklarasikan HIMAISTRA SORE maka AN Sore menyatakan bersedia bergabung kembali dengan HIMAISTRA. Namun hal itu ditolak oleh HIMAISTRA dengan alasan bahwa AN Sore tidak pernah mengikuti kegiatan dalam HIMAISTRA serta tidak mengikuti Study Execursie sebagai prasyarat menjadi warga HIMAISTRA. Dari sinilah terjadi perselisihan antara AN Sore dan AN Pagi dimana AN Sore yang mau bergabung dengan HIMAISTRA tetapi tidak pernah mengikuti kegiatan di dalamnya dan AN Pagi yang telah menjadi warga HIMAISTRA karena telah mengikuti kegiatan di dalam HIMAISTRA.

HIMAISTRA memberi prasyarat kepada AN Sore jika mau bergabung lagi yakni harus mengikuti Study Excursie dan kegiatan-kegiatan dalam HIMAISTRA, tetapi hal ini belum dilaksanakan oleh AN Sore. Pada pemilu 2010, AN Sore berniat untuk ikut serta dalam pemilu tetapi hal itu gagal mengingat; Pertama, terdapat budaya yang salah tafsir mengenai penggunaan hak suara dalam pemilu di tubuh AN Sore; Kedua, AN Sore sendiri tidak mengikuti kegiatankegiatan HIMAISTRA, sehingga hal ini malah menjadi faktor gagalnya pelaksanaan pemilu 2010.

Kalau ada yang minta buruh bersabar dan menahan diri pasti datangnya dari pihak yang tak kenal apa itu Buruh. Apalagi buruh Indonesia. Sudah terlalu lama mereka bersabar dan menahan diri, yang tak bisa menahan diri justru para majikan. karena serakah dan tak sabar ingin cepat kaya. Jadi kalau mau menghimbau, himbau saja para majikan, kalau sama-sama sabar dan menahan diri pasti sip deh. enggak bakal ada demo. karena nggak perlu.

Nge-Pul

Ngemeng-Pulitik

Edisi Mei 2012

17

FIGUR

ANTARA KEBIJAKAN DAN EKSISTENSI : HIMAHISTRA
*Susetya Tegar tetapi kelas sore juga ingin memberikan kontribusi dalam pemilu ini,” tambahnya. Perbedaan pendapat antara administrasi kelas pagi dan kelas sore serta belum turunnya SK inilah yang kemudian digunakan sebagai dasar oleh Zen untuk menunda pelaksanaan pemilu tersebut. Kebijakan Zen tersebut juga dilandasi oleh KEPMEN RI NOMOR 155/U/1998 pasal 8 yang menyebutkan bahwa “Keanggotaan organisasi kemahasiswaan pada masing-masing tingkat adalah seluruh mahasiswa yang terdaftar dan masih aktif dalam kegiatan akademik.” Adanya peraturan ini yang makin membulatkan keputusan yang diambil olehnya. Ditanyai lebih lanjut tentang kebijakan menunda pelaksanaan pemilu yang dibuatnya, Zen menyatakan “Ketika tidak melibatkan kelas sore, maka hal ini akan bertentangan dengan KEPMEN RI NOMOR 155/U/1998 pasal 8 yang menyatakan bahwa Keanggotaan organisasi kemahasiswaan pada masing-masing tingkat adalah seluruh mahasiswa yang terdaftar dan masih aktif dalam kegiatan akademik dan itu juga akan benar-benar membunuh hak mereka. Tetapi ketika melibatkan mereka, hal ini akan menyimpang dari hasil keputusan pada rapat pemilihan ketua KPU saat itu.” Problematika yang dihadapi oleh mahasiswa administrasi bahkan sampai saat ini belum bisa terselesaikan, sehingga sampai saat ini pula pemilu untuk HIMAISTRA masih belum bisa dilaksanakan. Muncul banyak tekanan yang ditujukan kepada Zen untuk segara melaksanakan pemilu HIMAISTRA. “Saya sendiri masih berharap pemilu ini dapat terlaksana, sehingga HIMAISTRA tidak lagi vakum.” Ujarnya sembari tersenyum.

Mungkin tak banyak yang mengenal sosok seorang Zeni Mustafa atau yang biasa di panggil Zen. Ia menjadi sosok orang yang kontroversial di mata mahasiswa jurusan administrasi baik niaga maupun negara karena kebijakannya. Apa dan Mengapa? Zeni Mustafa atau yang dikenal dengan panggilan Zen adalah seorang mahasiswa program studi Ilmu Administrasi Niaga Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember. Dia adalah seorang ketua KPU untuk pemilu HIMAISTRA pada periode tahun 2010-2011. HIMAHISTRA itu sendiri adalah organisasi yang mewadahi mahasiswa-mahasiswa administrasi yang berada dibawah naungan fakultas, baik mahasiswa dari administrasi negara maupun administrasi niaga. Zen terpilih menjadi ketua KPU melalui serangkaian proses yang panjang. Ia bersama dengan Khusnil (mahasiswa Administrasi Negara) ditunjuk untuk menjadi kandidat ketua KPU oleh forum yang di hadiri oleh mahasiswa dari seluruh jurusan administrasi. Zen terpilih menjadi ketua setelah ia memperoleh suara terbanyak dalam rapat pemilihan saat itu. Rapat pemilihan tersebut dihadiri oleh seluruh mahasiswa administrasi dan juga pengurus HIMAISTRA periode 2009-2010. Saat Zen menjabat menjadi ketua KPU untuk pemilu HIMAISTRA periode 20102011 ternyata yang terjadi ia tidak melaksanakan kegiatan pemilu tersebut, dikarenakan SK (surat keputusan) tidak diturunkan oleh Pembantu Dekan III. “SK tidak diturunkan oleh Pembantu Dekan III ketika belum ada kesepakatan antara kelas pagi dan kelas sore,” ujar Zen saat dikonfirmasi. “Kelas pagi dalam rapat pemilihan menyepakati bahwa yang boleh mengikuti pemilu hanya kelas pagi, akan

18

Edisi Mei 2012

Membaca UU PEMILU Dalam Perspektif Sistem Politik Indonesia
erdebatan sengit dan panjang mengenai Rancangan UndangUndang Pemilihan Umum (RUU PEMILU) akhirnya berhasil dituntaskan. Melalui alur pembahasan yang begitu alot, rapat paripurna DPR pada Kamis, 12 April 2012 lalu telah sampai pada titik akhir pengesahan RUU Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD menjadi Undang-Undang. Dengan demikian, maka pemilihan umum tahun 2014 mendatang secara resmi sudah mendapat payung hukum terkait dengan mekanisme pelaksanaannya. Dalam UU Pemilu yang baru disahkan DPR disepakati empat poin krusial, yakni: 1. Sistem Pemilu proporsional terbuka; 2. Ambang parlemen 3,5 persen yang berlaku nasional; 3. Metode konversi suara kuota murni; 4. Alokasi kursi per daerah pemilihan untuk DPR 3-10 kursi, sementara untuk DPRD 3-12 kursi. Tak lama setelah disahkannya UU PEMILU ini banyak partai-partai gurem (kecil) mengajukan permohonan uji materi ke Mahkamah Konstitusi, yang kebanyakan tak bersepakat perihal Parliamentary Threshold dan verifikasi partai oleh KPU. Kira-kira sebanyak 22 partai kecil berbondongbondong mengajukan gugatan ke MK yang diwakili oleh Pakar Hukum Tata Negara, Yusril Ihzra Mahendra. Argumentasi seputar gugatan ini menjelaskan bahwa banyak klausul dalam UU PEMILU ini yang bertolak belakang dan rancu. Setidaknya ada dua norma berbeda yang sengaja disatukan dalam salah satu paket UU tersebut. Salah satunya adalah terkait aturan ambang batas parlemen dan keikutsertaan partai politik (parpol) dalam pemilu yang tidak ada

ISU
*Ferio Prist. E.

P

korelasinya. Pasal 8 Ayat 1 UU Pemilu. Pasal 8 Ayat 1 UU Pemilu berbunyi “Partai politik peserta pemilu pada pemilu terakhir yang memenuhi ambang batas perolehan suara dari jumlah suara sah secara nasional ditetapkan sebagai partai politik peserta pemilu pada pemilu berikutnya”. Selain itu, beberapa parpol nonparlemen juga menggugat Pasal 8 Ayat 1 dan 2 serta Pasal 208 yang mengamanatkan PT (Parliamentary Threshold) berlaku secara nasional akan merugikan partai-partai nonparlemen yang tidak memiliki basis politik dan massa nasional. **** Idealnya adalah DPR harus memikirkan bagaimana sistem politik di Indonesia lebih baik. Mendahulukan kepentingan masyarakat sehingga pembahasannya tidak hanya berhenti pada pasal-pasal yang tidak memiliki urgensi, seperti ambang batas parlementary threshold, alokasi kursi per daerah pemilihan (dapil) 3-10 ,dan sistem pemilu proporsional terbuka. Apalagi ujung-ujungnya melalui mekanisme voting, mekanisme yang dinilai sering menghilangkan akal sehat akibat lebih mengutamakan tuntutan partai dari pada moralitas. Menurut, Robertus Robert semangat awal pembahasan RUU Pemilu adalah untuk mengatasi berbagai persoalan dalam sistem pemilu lama dan membuat sistem baru yang ideal. Salah satu targetnya, UU ini diharapkan bisa memperkuat sistem presidensial yang selama ini dihambat oleh sistem multipartai. Target lainnya adalah untuk mengatasi politik berbiaya tinggi, politik uang, pengelolaan dana kampanye dan transaksi politik. Tetapi malah DPR hanya memperdebatkan kepentingan partai-partai dan masih jauh dari usaha menata ulang desain institusi ketatanegaraan kita.

Edisi Mei 2012

19

ISU
(Kompas, Sabtu 14 April 2012). Selanjutnya suatu sistem politik harus memiliki kapabilitas dalam menghadapai kenyataan dan tantangan terhadapnya. Pada era modern ini prestasi sistem politik di ukur dari kemampuannya melakukan penyelesaian dalam menghadapi masalah bangsa, dan tantangannya. Atau lebih berorientasi pada hal yang bersifat nyata (riil), seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas sosial, politik, dan lainnya. Oleh karena itu sistem politik haruslah memiliki kemampuan untuk menyeleseikan persoalan yang menjerat bangsa dan pencapaian atau mewujudkan tujua negara seperti yang diamanatkan konstitusi. Semua ini menjadi sinkron ketika masuk dalam terminologi sistem seperti yang Gabriel Almond maksudkan bahwa sistem politik adalah merupakan sistem interaksi yang ditemui dalam masyarakat merdeka, yang menjalankan fungsi integrasi dan adaptasi. Kemudian juga Robert Dahl yang turut menyinggung perdebatan seputar system politik menyatakan bahwa system politik mencakup dua hal yaitu pola yang tetap dari hubungan antar manusia, kemudian melibatkan sesuatu yang luas tentang kekuasaan, aturan dan kewenangan. Dalam hal ini sistem politik Indonesia diartikan sebagai kumpulan atau keseluruhan berbagai kegiatan dalam negara Indonesia yang berkaitan dengan kepentingan umum termasuk proses penentuan tujuan, upayaupaya mewujudkan tujuan, pengambilan keputusan, seleksi dan penyusunan skala prioritasnya. Sejarah Sistem Politik Indonesia bisa dilihat dari proses politik yang terjadi di dalamnya. Namun dalam menguraikannya tidak cukup sekedar melihat sejarah Bangsa Indonesia tapi diperlukan analisis sistem agar lebih efektif. Dalam proses politik biasanya di dalamnya terdapat interaksi fungsional yaitu proses aliran yang berputar menjaga eksistensinya. Sistem politik merupakan sistem yang terbuka, karena sistem ini dikelilingi oleh lingkungan (ekologi) yang memiliki tantangan dan tekanan. Setiap menjelang pemilihan umum (Pemilu), setelah reformasi pada 1998 lalu, Indonesia seolah selalu dalam keadaan darurat: belum jelas sistem Politik seperti apakah yang akan digunakan. Pada Pemilu 2009 lalu, misalnya, Indonesia baru mempunyai UU Pemilu pada 3 Maret 2008. Untuk Pemilu 2014 nanti, Indonesia kemungkinan besar sudah mempunyai Undang-undangnya pada Kamis, 12 April 2012. Tipikal untuk selalu tidak jelas di saat-saat dekat dengan pemilu menimbulkan banyak spekulasi, apakah kita memang tidak memiliki system politik yang pasti dan permanen hingga membuat semua elemen bangsa dapat menatap dan mempersiapkannya ke masa depan? Inilah yang menjadi permasalahan ketika negara ini tidak memiliki sistem politik yang pasti dan permanen dan cenderung berubaha-ubah sesuai dengan konstelasi politik yang diselenggarakan lewat pemilu itu sendiri. Dan disini menjadi kecenderungan bangsa kita terutama yang dipancarkan oleh elit politik dan para pejabat untuk mengkonstruksi system politik (termasuk di dalamnya system pemilu), utamanya lewat pemenang pemilu sebelumnya. Kondisi ini sunggug sangat miris jika sampai terjadi pada saat ini. Dimana terdapat beberapa partai besar yang saling kongkalikong dengan partai besar yang lain untuk memantapkan atau mengamankan posisi kekuasaan yang telah susah payah didapatkan sebelumnya. Alih, untuk perbaikan kondisi bangsa lewat system politik yang tangguh dan stabil. Proyek UU PEMILU terbaru ini apakah memiliki muatan perubahan jika dinamika yang telah diperlihatkan begitu sarat dengan kepentingan pribadi dan golongan tertentu, bukan untuk kepentingan rakyat dan negara.End.

20

SAHUT The Power of Kepepet
*Guntur Rahmatullah
Kehidupan kampus merupakan media yang dirancang untuk mengarahkan individu agar dapat menentukan arah hidupnya sendiri setelah menerima pendidikan yang disuguhkan dalam kampus tersebut. Menentukan arah kehidupan berarti menentukan impiannya di masa depan. Disinilah mental seorang mahasiswa diuji dengan berbagai kebebasan yang ada di dalam kampus untuk menentukan arah kehidupannya dengan pilihannya sendiri. Peran kampus hanya fasilitator bagi mahasiswa dimana mahasiswa merupakan decision maker bagi dirinya sendiri. Impian berbeda dengan keinginan. Impian mempunyai kekuatan yang mendalam, melibatkan gelombang emosi dan memberikan tambahan energi sehingga sangaat tahan terhadap problema. Sedangkan keinginan sangat rentan terhadap problema. Impian itu bukan untuk memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri, melainkan untuk kebahagiaan orang-orang lain. Impian bisa sangat kuat powernya karena impian manusia itu sangat erat kaitannya dengan orang-orang yang dicintainya yakni keluarga. Impian inilah yang nantinya menjadi penyemangat kehidupan kita. Dalam mencapai sebuah arah kehidupan tentulah dihadapkan pada berbagai macam rintangan yang harus dilewati. Begitu juga dengan kehidupan mahasiswa, kurang lengkap rasanya bila kehidupan mahasiswa tidak dipenuhi oleh tumpukan tugas kuliah. Itulah rintangannya, fungsinya untuk meningkatkan kualitas hidup mahasiswa. Banyaknya tugas dalam kehidupan mahasiswa merupakan hal yang wajar, apalagi menjelang UTS dan UAS. Skill dalam mengatur waktu pun terus diuji dari diri seorang mahasiswa, tapi dalam kenyataannya banyak mahasiswa untuk memilih menunda tugas kuliah dengan alasan “masih lama deadlinenya”. Ini merupakan potret buram mengenai waktu yang dibuang sia-sia. Pepatah China mengatakan lebih baik membuang kekayaan kita di sumur yang dalam dari pada membuang sia-sia waktu yang kita miliki Ternyata dalam tugas pun masih ada ujian yang tersirat di dalamnya. Ujian itu adalah pertanyaan mengenai keputusan apa yang akan dikeluarkan dalam diri mahasiswa terhadap tugas tersebut. Segera mengejakannya kah atau menunda kah? akhirnya berkaitan lagi sama komitmen kita dalam mewujudkan impian itu. Seberapa kuat impian itu ada di benak kita dan seberapa besar komitmen kita untuk mewujudkannya? Dalam perjalanan kehidupan kita ini itu diawali oleh impian dan jika kita tanamkan impian itu dalam benak kita dengan kuat maka seorang mahasiswa akan bersegera melakukan yang terbaik, dalam hal ini mengerjakan tugasnya jauh sebelum deadline nya karena mahasiswa tersebut punya impiannya yang kuat untuk memiliki kehidupan yang nantinya membahagiakan orang-orang yang dicintainya. “Kepepet”, inilah istilah dimana seseorang melakukan sesuatu hal dalam waktu terdesak, contohnya mahasiswa baru mengerjakan tugas kuliahnya dalam waktu yang sempit menjelang deadline pengumpulan tugas. Anehnya kepepet ini

Edisi Mei 2012

21

SAHUT

terkadang memberikan kinerja baik dan cepat pada otak manusia mahasiswa dalam mengerjakan tugasnya. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan di saat mahasiswa mengerjakan tugas pada saat kepepet (sangat mendekati deadlinenya) menuntut untuk bertindak secara cepat yang secara tidak langsung memberikan instrumen kepada otak bawah sadar. Otak bawah sadar mempunyai power yang lebih besar dari pada otak sadar dimana perbandingannya 80:20. Otak bawah sadar sering memberikan keputusan kepada otak sadar anda yang menjalankan mekanisme tubuh anda. Halhal yang akan direkam dalam otak bawah sadar anda adalah hal yang diulang-ulang dan emosional. Nah dalam aktifitas mengerjakan tugas pada waktu kepepet adalah aktifitas yang mempunyai kekuatan emosional.

Contoh lainnya misalnya ada orang yang dikejar seekor anjing, maka dia akan lari kemana pun juga agar dapat terlepas dari kejaran seekor anjing tadi, meskipun pada saat berlari melewati jalan buntu dimana dihadapkan pada tembok yang tinggi yang di luar jangkauannya itu masih bisa terlewati karena kekuatan emosional pada waktu yang mendesak. Bertindak, berfikir dengan cepat itulah power yang dihasilkan dari waktu kepepet ini. Tapi apakah bisa tepat sasaran? Jawabannya ada pada mereka yang pernah memanfaatkan istilah kepepet itu sendiri.

Flash Back
Jember, Senin 8 Noember 1993. Sekitar 1500 mahasiswa yang tergabung dalam Hamas (Himpunan Aksi Mahasiswa anti-SDSB) berdemo d halaman kantor Pemda Jember. Gagal menemui Bupati Jember, Wibowo. Mereka menyobeki dan mencopot papan nama SDSB di jalan-jalan. Kantor agen SDSB Jember di jalan Trunojoyo juga jadi sasaran perusakan. Bupati Jember, Wibowo yang sedang menikuti sidang pleno DPRD, terpaksa menemui para demonstran. Dia meminta para demonstran untuk menghentikan perusakannya.

22

Edisi Mei 2012

Masih Ada “Toleransi”
Keterlambatan jangan selalu dinilai negatif, Mengapa demikian ? Bagi mahasiswa terlambat waktu kuliah bukanlah hal fatal yang dapat menghancurkan harkat dan martabatnya sebagai kaum intelektual. Selama ini belum ada mahasiswa yang di-Drop Out dari kampus karena terlambat saat kuliah. Bahkan masih ada beberapa dosen yang memberi toleransi waktu keterlambatan, misalnya 15 menit setelah kuliah dimulai mahasiswa yang terlambat masih dapat mengikuti kuliah dan melakukan absen. Menghargai waktu merupakan hal yang baik dilakukan dalam kehidupan, tidak terkecuali mahasiswa sebagai personal yang berpengetahuan. Sikap menghargai waktu mengajarkan kepada kita untuk tidak melakukan perbuatan yang sia-sia. Time is money, waktu adalah uang, sehingga dinilai berharga. Membuang waktu sama dengan membuang uang. Terlambat itu bukan membuang waktu, tetapi masih dapat diartikan mengalokasikan waktu, maka jangan langsung mengatakan bahwa keterlambatan adalah membuang waktu. Kita lihat terlebih dahulu konteks yang dibahas. Setiap peristiwa pasti ada penyebabnya, “Tidak ada asap kalau tidak ada api”. Langsung men-judge bahwa ketelambatan merupakan salah satu sikap yang buruk belum tentu merupakan sikap yang terbaik. Masih mungkin keterlambatan seseorang dalam suatu acara, mahasiswa yang menghadiri belum tentu karena dia tidak menghargai waktu atau didorong rasa malas. Keterlambatan mungkin disebabkan karena peristiwa yang tidak terduga atau yang tidak diinginkan seperti ban kendaraan bocor, kerusakan mesin kendaraan, kecelakaan dan lain sebagainya. Selain alasan di atas, mungkin saja mahasiswa terlambat kuliah karena melakukan kegiatan yang diselenggarakan

SAHUT
*Rizky D.E.

oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dalam kampus tersebut yang dia ikuti. Kegiatan belajar tidak hanya di dalam kelas, mendengarkan ceramah dosen dan membaca buku di perpustakaan, tetapi juga dengan mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra kampus, seperti kegiatan pecinta alam, kesenian, keagamaan, jurnalistik dan lain sebagainnya. Misalnya ketika mahasiswa melakukan kegiatan UKM yang merupakan kewajiban dia untuk menyelesaikannya terlebih dahulu kemudian berangkat kuliah dan terlambat, peristiwa semacam itu besar kemungkinannya terjadi. Maka dengan menanyakan terlebih dahulu alasan mahasiswa tersebut terlambat merupakan sikap yang baik bagi dosen dan mahasiswa itu sendiri. Jika alasan tersebut masih dapat ditolerir, mengapa tidak ??? Dosen sebaiknya mentolerir alasan mahasiswa yang terlambat seperti itu. Keterlambatan memang dapat dinilai sebagai salah satu perbuatan yang kurang baik jika dibandingkan dengan budaya orang barat yang kelihatannya lebih disiplin dan menjadikan mereka lebih maju serta memiliki intelektualitas yang lebih tinggi dari kita. Namun keterlambatan bukan salah satu indikator yang baik dalam mengukur tingkat intelektualitas mahasiswa. Masih banyak indikator lain misalnya, keaktifan mahasiswa di kelas, jawaban saat ujian, tugas-tugas yang telah dikerjakan dan lain sebagainya. Sedangkan mahasiswa yang terlambat tidak dapat dinilai secara langsung bahwa dia bodoh. Sikap atau kebijakan dosen seperti mempertimbangkan alasan keterlambatan mahasiswa perlu dilakukan mengingat bahwa mahasiswa juga manusia yang tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu sikap toleransi kepada mahasiswa yang terlambat merupakan langkah yang bijak dalam mengambil keputusan.

Edisi Mei 2012

23

Puisi
Diam bungkam Diam
*Priska Puspita Iriadini
Mati satu tumbuh seribu begitu kiranya yang aku tau dulu Tak mati satu tapi tumbuh beribu – ribu itu yang aku tau sekarang Ditanya maka hanya akan . . . D i a m _ D i a m _D i a m _D i a m Ingin mendengar jawabannya pun, hanya akan . . B u n g k a m _B u n g k a m _B u n g k a m _B u n g k am Rupanya yang demikian ingin menjadikan borok yang ada.. Benar – benar membusuk dan akhirnya tiada. Oh Negeriku… .Oh Ngeri aku… . Maka kami tak buta hey tuan – tuan..!!! Ingin bermain sulap tapi rupanya… Kau tak pandai… !!!!! Mata para awam coba kau alihkan kesana – kemari.. Ketika terpengarah dengan borok busuk yang sudah berbelatung, kau hadirkan lagi Borok – borok yang lain, kau perlihatkan kebusukan yang lain.. Ditanya maka hanya akan . . . D i a m _ D i a m _D i a m _D i a m Ingin mendengar jawabannya pun, hanya akan . . B u n g k a m _B u n g k a m _B u n g k a m _B u n g k am Ooooooh Negeriku … Oooooh Ngeri aku Aku mau wajar – wajar saya hey tuan - tuan Aku mau jujur – jujur saja, kita berbicara apa adanya… Bukannya tak mematikan satu tapi menumbuhkan seribu… Bukankah bau busuk negeri ini dengan hal demikian sudah cukup menganggu ? Atau kau tak bisa mengendus bau busuk negerimu sendiri? Maka apakah hanya akan diam? maka apakah hanya akan bungkam? Muak aku dengan cekokan.. Isu isu isu Isu isu isu isu I s u I s u I s u I su Tak pernah selesai satu… Terkubur saja dengan hal yang sama I S U.!!! Ooooh Negeriku… oooh ngeri aku… ..

*MAHASISWA ADMINISTRASI NEGARA 2010

24

Edisi Mei 2012

Puisi

Aku dan Cerita Negeriku

Akulah kaum yang telah kehabisan kata-kata Yang telah dirampok oleh birokrasi! Akulah kaum yang telah kehilangan suara Yang telah dijarah orasi para demonstran Akulah kaum yang telah menikmati kematian demokrasi Yang telah dibunuh oleh retorika Akulah kaum yang telah hangus dibakar oleh sebuah Kapitalisme dan Nepotisme Akulah kaum yang telah ditembaki di tengah-tengah kekuasaan penguasa! Dan akulah kaum yang telah ditelanjangi di atas papan catur dunia Akulah kaum yang telah terabaikan Tiap detik yang penuh dengan kepiluan Ingin aku berlari, namun jangan pun berlari, menjerit saja aku tak mampu! Aku telah terbungkam oleh kepalsuan, kemunafikan, keegoisan dan kekuasaan Aku bahkan telah kehilangan arah tujuan Kehilangan langkah Aku bagaikan sebuah debu tak berarti Yang sewaktu-waktu akan terhempas oleh kekejaman penguasa Menghilang selamanya tanpa arti dan sisa Dan inilah bagai cerita Negeriku

*Iin Isnaini Mahasiswa Administrasi Negara 2011 Edisi Mei 2012

25

Campus Corner

Coming Soon.. APLIKASI WISMA GITA XIV 17-19 Mei 2012 di Gedung PKM Universitas Jember “Bara Negeri Reformasi” Present: Tari, Gitaborasi, Puisi, Teater, Rupa, Musik Lets Join Us !!

FREE !!

Community Entrepreneur (COMMENT) Present: School Of Entrepreneur Materi Entrepreneur dan Studi Lapangan ke Berbagai Perusahaan dan Instansi.

26

PRIBADI-MERDEKA

27

GRATIS BACA UNTUK YANG BERPIKIR MERDEKA

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga Masa Depan Pendidikan Indonesia Makin Mencerahkan...

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful