BAB II MASALAH-MASALAH YANG SERING DITEMUI DI MASYARAKAT PERKOTAAN (KEKERASAN, NAPZA, STRES DAN DEPRESI) 2.1.

Masalah Kekerasan di Komunitas Maraknya tindakan kekerasan di Indonesia akhir-akhir ini merupakan masalah bangsa yang cukup mengkhawatirkan. Ini menunjukkan bahwa tindakan kekerasan membudaya dalam masyarakat Indonesia. Seolah-olah semua persoalan bisa diselesaikan dengan jalan kekerasan, seperti main pukul, main hakim sendiri, kroyokan, tawuran, bentrok antar warga kampung, tindakan terorisme yang berkedok agama, dan tindakan-tindakan kekerasan lainnya. Masyarakat yang selalu berorientasi pada materialisme yang berlebihan, melahirkan banyak kekerasan dan tekanan hidup. Hal ini tampak dalam gaya hidup yang dipilih oleh generasi muda kita saat ini seperti, gejala maraknya remaja mall, pornografi, narkoba, geng motor dan geng sekolah di kalangan pelajar SMU. Hasilnya, jadilah generasi hari ini sebagai generasi yang penuh kekerasan yang memiliki sifat apatis, gelisah, resah, pemarah, culas, arogan, kasar, tidak menghargai sopan-santun, cenderung pada kekerasan, stress, depresi, dan berkrepribadian ganda. Remaja kita adalah produk dari kekerasan, stress dan frustasi. Bentuk frustasi ini disebabkan oleh kerasnya tantangan kehidupan dalam mencari penghidupan. Seluruh kehidupan para remaja kita disuguhkan dengan kekerasan, baik di rumah, di kelas, di sekolah, di kampus dan di masyarakat. Penggunaan narkoba, dan alkohol juga merupakan faktor munculnya kekerasan. Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah kemiskinan dan kesenjangan sosial. Masih banyak lagi sebab dan faktor lainnya termasuk pengaruh lingkungan. Semua itu akan menimbulkan ketidak-seimbangan penalaran, perasaan, dan kejiwaan masyarakat. Oleh karena itu, banyak hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah untuk menanggulangi perluasan kekerasan dalam masyarakat. Maraknya kekerasan/tawuran yang bersifat destruktif dilihat dari sudut pandang lain juga merupakan wujud kegagalan dari pendidikan kita. Betapa para pelajar kita tidak cukup hanya diajari mata pelajaran tertentu, atau semata didorong hanya untuk lulus ujian. Pelajar dan remaja membutuhkan sesuatu yang lebih, yakni moral dan etika secara practical. Karenanya, pendidikan harus kembali benar-benar diarahkan untuk tidak sekedar menggenjot capaian-capaian pada aspek kognitif semata, namun harus diseimbangkan dengan aspek afeksi dan psikomotorik. Nilai bagus memang penting, namun tentu tidak hanya itu.

Salah satunya dengan membenahi peran orangtua dalam memberikan kepedulian dan kasih sayang. (Soekanto. Kemudian. Sistem sosial yang stabil dan berkesinambungan senantiasa terpelihara apabila terdapat adanya pengawasan melalui dua macam mekanisme sosial dalam bentuk sosialisasi dan pengawasan sosial (kontrol sosial). pembinaan. Hal ini penting. karena sebelum kita melangkah ke tahap selanjutnya. Pengendalian dapat dilakukan dengan pendekatan sebagai pihak ketiga. Oleh .Pengajaran dan pemantauan terhadap budi pekerti pelajar juga tidak kalah penting untuk dilakukan secara intensif. Masalah Kekerasan Akibat Stress dan Depresi Kekerasan dapat disebabkan oleh terganggunya jiwa seseorang. tahap selanjutnya adalah bagaimana kita bisa melakukan pengarahan. sehingga lambat laun yang bersangkutan akan merasa menjadi bagian dari kelompok yang bersangkutan. atau bimbingan terhadap masyarakat. proses yang direncanakan atau tidak direncanakan yang bertujuan untuk mengajak. Pengertian tersebut dipertegas menjadi suatu pengendalian atau pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggotanya. karena tidak memihak kepada kedua pihak yang bertikai. artinya mengembalikan kelompok yang bertikai kepada norma-norma yang berlaku di daerahnya. “Back to habits” adalah tahap pertama dalam mengupayakan pengendalian masyarakat yang bertikai. Pengawasan sosial adalah. 1985 : 113) Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. bisa berperan dalam usaha mengendalikan masalah sosial seperti ini. Peran ini setidaknya bisa diterima secara rasional. Untuk mengakhiri kebiasaan kekerasan/tawuran di kalangan siswa. setiap kelompok harus menyadari terlebih dahulu bahwa diantara mereka terjadi situasi konflik yang melanggar norma-norma yang berlaku. Seseorang yang tidak sedang dalam keadaan jiwa yang stabil akan mudah terpancing untuk melakukan kekerasan. perlu upaya penanaman nilai-nilai agama terutama tentang akhlak (moral dan etika). 2. serangkaian upaya harus dilakukan.2. Pengendalian ini berusaha untuk mengendalikan setiap individu atau kelompok untuk “back to habits”. 1. mendidik atau bahkan memaksa warga masyarakat. Sosialisasi maksudnya adalah suatu proses di mana individu mulai menerima dan menyesuaikan diri kepada adat istiadat (norma) suatu kelompok yang ada dalam sistem sosial. 2. Selain itu. Dengan begitu anak akan mengetahui mana yang layak dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. agar mematuhi norma dan nilai. Peran sebagai pihak ketiga atau mediator adalah bentuk pengendalian secara kultural.

mempunyai harga diri yang wajar. intelektual. Merasa nyaman berhubungan dengan orang lain serta mampu mencintai orang lain. tidak berlebihan. Mampu memenuhi tuntutan hidup serta menetapkan tujuan hidup yang realistis. puas dengan kehidupannya sehari-hari. mempunyai hubungan pribadi yang tetap. Stres merupakan reaksi yang tidak diharapkan yang muncul karena tingginya tuntutan lingkungan pada seseorang. Sedangkan stressor yang berdampak baik bagi kehidupan seseorang dikenal dengan nama eustress (Clemen-Stone et al. meilai dirinya secara realistis. mampu merancang masa depan. 2009). mampu mngambil keputusan. Menurut Undang-Undang nomor 3 tahun1966. Selye dalam Mumtahinnah (2008) mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Apabila seseorang mengalami perubahan maka akan terjadi reaksi baik secara jasmani maupun kejiwaan yang disebut stres (Efendi. 2002). Pengaruh lingkungan terutama keluarga sangat penting dalam membina jiwa yang sehat. dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain (Efendi. mampu mengatasi kekecewaan dalam hidup. Keseimbangan antara kekuatan dan kemampuan terganggu. Merasa senang terhadap dirinya serta mampu menghadapi situasi. c. tidak menipu orang lain dan juga tidak membiarkan orang lain menipu dirinya. penting sekali bagi seseorang untuk selalu dalam keadaan sehat jiwa sehingga terhindar dari perilaku kekerasan. . 2008) menyatakan bahwa keadaan stres muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak mengancam kesejahteraan atau integritas seseorang. puas dengan pekerjaannya. dikenal dengan nama distress. Seseorang yang dalam keadaan sehat jiwa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: a. Suatu stressor yang dapat juga menimbulkan penyakit. dapat menerima ide dan pengalaman baru. Sedangkan Korchin dalam Prabowo (Mumtahinnah. dan tidak pula merendahkan b.karena itu. Sesuatu hal yang menyebabkan stres dinamakan stressor. merasa bagian dari suatu kelompok. 2009). yang dimaksud dengan kesehatan jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik. Stres berasal dari kata latin yaitu “stingere” yang berarti ketegangan dan tekanan. mampu menerima tanggungjawab. dapat menghargai pendapat orang lain yang berbeda.

Resistance (perlawanan) Seseorang memobilisasi sumber. 2008) membedakan sumber-sumber stres. Ada beberapa tahapan yang dilalui ketika seseorang mengalami stress. komunitas dan masyarakat. Holahan dalam Prabowo (Mumtahinnah. maka sumber-sumber penyesuaian ini mulai habis dan seseorang akan kehabisan tenaga. b. Setiap hal yang berada di sekitar seorang individu dapat menjadi sumber stres bagi diri individu tersebut. 2008) mengidentifikasi 3 tahap dalam respon sistemik tubuh terhadap kondisi-kondisi penuh stress yang diistilahkan dengan General Adaptation Syndrome (GAS). b. Stres pada seseorang tidak terjadi begitu saja. a. keluarga. yaitu systemic stress dan psychological stress sebagai berikut. 2008) menyebutkan jenis stres yang dibedakan menjadi dua bagian. Sumber-sumber stres di dalam diri seseorang . yaitu dalam diri individu. Systemic stress Systemic stress didefinisikan oleh Selye sebagai respon non spesifik dari tubuh terhadap tuntutan lingkungan. Selye dalam Munandar (Mumtahinnah. yaitu : a. maka reaksi badan itu sendiri dapat menimbulkan penyakit (diseases of adaptation).Stres terdiri dari 2 jenis. 2008) psychological terjadi ketika individu menjumpai kondisi lingkungan yang penuh stres sebagai ancaman yang secara kuat menantang atau melampaui kemampuan kopingnya. Jika reaksi badan tidak cukup. Sarafino dalam Smet (Mumtahinnah. a. c. berlebihan. Alarm Reaction Seseorang berorientasi pada tuntutan yang diberikan oleh lingkungannya dan mulai menghayatinya sebagai ancaman. Kondisi stres dalam diri seseorang dipengaruhi oleh keadaan lingkungan tempat di mana ia berada. Exhaustion Jika tuntutan berlangsung lama. atau salah. Psychological Stress Menurut Lazarus dalam Prabowo (Mumtahinnah.sumber yang ada di dalam dirinya supaya mampu menghadapi tuntutan.

Beberapa pengalaman stres orangtua bersumber dari pekerjaannya dan lingkungan yang sifatnya stresfull. menarik diri dari teman dan keluarga. Di dalam pekerjaan. seperti: kebisingan. 2008) secara umum. yaitu perilaku. kognitif dan fisik. c. emosi yang meledak dan agresi. a. Pekerjaan Stres yang berasal dari lingkungan Diantara faktor-faktor yang membuat suatu pekerjaan itu stressfull adalah tuntutan kerja. serta penurunan produktifitas dalam diri seseorang. Lingkungan yang dimaksudkan di sini adalah lingkungan fisik. Gejala lainnya yaitu frustrasi. kesesakan. Sumber-sumber stres di dalam keluarga Sumber-sumber stres di dalam komunitas dan lingkungan Stres di sini dapat bersumber dari interaksi di antara para anggota keluarga. gejala stres diidentifikasi ke dalam 4 tipe yang berbeda. stres ditunjukkan dengan kehilangan semangat dan penurunan kepuasan kerja. d. melalaikan tanggungjawab. kehilangan nafsu makan dan tenaga. perasaan yang tidak menentu dan kehilangan kontrol. Menurut Vlisides. b.Menurut Sarafino dalam Smet (Mumtahinnah. emosi. suhu terlalu panas. Eddy dan Mozie dalam Rice (Mumtahinnah. Gejala perilaku Perilaku-perilaku yang menunjukkan stres seperti penundaan dan menghindar. ketakutan. Gejala emosi Sebagian besar gejala emosi pada stres adalah kecemasan. 2008) terkadang sumber stres itu ada di dalam diri seseorang. c. e. memulai atau peningkatan penggunaan obat-obatan secara dramatis. Tingkatan stres yang muncul tergantung pada keadaan rasa sakit dan umur individu. Gejala kognitif . cepat marah dan depresi. Stres menimbulkan gejala-gejala yang dapat dikenali dalam diri seseorang. perubahan pola tidur. b.

terjadi pengurangan daya tahan tubuh dalam membuat keputusan. kesalahan persepsi. baik fisik maupun psikis yang akan berdampak pada penurunan kesehatan individu. Gejala fisik Gejala fisik yang dapat ditimbulkan dari stres adalah kelelahan secara fisik dan keadaan fisik yang lemah. Kesehatan Sistem kekebalan tubuh manusia bekerja sama secara integral dengan sistem fisiologis lain dan semuanya berfungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh. orang bisa menjadi depresi. kehilangan rasa percaya diri dan harga diri. baik fisik maupun psikis yang cara kerjanya diatur oleh otak. lemah dalam menyelesaikan masalah terutama selama krisis. Dampak stres bagi individu adalah munculnya masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan. c. 2008). hipertensi dan proses aterosklerotik yang buruk. sakit punggung.Gejala kognitif yang dapat timbul dari seseorang yang terganggu kesehatan jiwanya adalah kehilangan motivasi dan konsentrasi. Psikologis Stres berkepanjangan akan menyebabkan ketegangan dan kekuatiran yang terus-menerus. mengasihani diri sendiri. b. ketegangan otot yang ditandai dengan gemetaran dan kekejangan. Akibatnya. tidak lagi mengikuti kegiatan yang biasa . migran dan kepala pusing. Interaksi interpersonal Orang stres cenderung mengaitkan segala sesuatu dengan dirinya. psikologis dan interaksi interpersonal (Mumtahinnah. stres ditandai dengan percepatan denyut jantung. ia lebih banyak menarik diri dari lingkungan. Stres dapat berdampak positif dan negatif. Ketika kerja otak terganggu. Stres yang dialami seseorang pada akhirnya berdampak dalam setiap segi kehidupan individu. d. kehilangan ingatan. Pada tingkat stres yang berat. a. maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam tubuh. Gejala mental lainnya adalah kecemasan yang berlebihan. Hal ini terlihat pada seseorang yang kehilangan kemampuan untuk memusatkan perhatian pada tugas yang diberikan dan kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Seseorang yang mengalami stres berkepanjangan akan terus-menerus merasa tertekan dan kehilangan harapan. kehilangan harapan. kebingungan. Dalam sistem kardiovaskuler.

Salah satu efek perilaku dari stres adalah berupa kemunculan perilaku kekerasan. termasuk penolakan untuk Resentment. menjerit. Penyerangan. Tingkat kekerasan yang dilakukan juga berbeda. c. Buss dan Durkee dalam Edmunds & Kendrick (Mumtahinnah. Moore dan Fine dalam Koeswara (Mumtahinnah. Selain dampak stres yang telah dijabarkan di atas. yaitu berdebat. yaitu tingkah laku menantang. yaitu menyebarkan gosip yang berkonotasi negatif. f. bekerjasama. yaitu kesiapan untuk marah meliputi emosi yang cepat naik dan Negativisme. e. yaitu ketidakpercayaan dan proyeksi permusuhan terhadap orang lain. termasuk perusakan properti. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh individu dapat dipicu oleh stres. baik fisik maupun perilaku. b. lebih suka menyendiri. yaitu iri dan rasa benci terhadap orang lain. jarang berkumpul dengan sesamanya. baik stres internal maupun stres eksternal. Menurut Koeswara (Mumtahinnah. menolak untuk patuh dan pembangkangan.dilakukan. 2008) mendefinisikan kekerasan sebagai tingkah laku kekerasan secara fisik ataupun secara verbal terhadap individu lain atau terhadap objek. Munculnya perilaku kekerasan juga beraneka ragam oleh setiap individu. tidak Agresi tidak langsung. mengancam dan memaki. mudah tersinggung. Stres internal dapat disebabkan oleh kegagalan ego untuk mengadaptasi hambatan-hambatan sekaligus sebaai upaya untuk memelihara keseimbangan intrapsikis. Kecurigaan. gurauan Irritability. Agresi verbal. bentuk ekstrim dari kecurigaan ini adalah paranoia. Sedangkan stres eksternal biasanya didapatkan dari pengaruh lingkungan di mana individu itu . g. d. 2008) menggolongkan beberapa bentuk tindakan kekerasan yang secara operasional dapat digunakan untuk mengukur agresi yaitu sebagai berikut a. 2008). dampak negatif lain dari stres adalah munculnya kecenderungan perilaku agresi. yang negatif dan tepertantrum. stres bisa muncul berupa stimulus eksternal (sosiologis atau situasional) dan bisa berupa stimulus internal (intrapsikis) yang diterima atau dialami individu sebagai hal yang tidak menyenangkan atau menuntut penyesuaian dan menghasilkan efek. kekasaran. mudah marah dan mudah emosi. yaitu kekerasan fisik terhadap manusia termasuk perkelahian. berteriak.

Ibu rumah tangga lebih berisiko melakukan tindak kekerasan karena mereka dituntut untuk mengerjakan berbagai macam pekerjaan rumah tangga dalam setiap harinya dengan jam kerja yang tidak terbatas dan berlangsung terusmenerus. Jadi. f. Kondisi-kondisi yang bisa menjadi sumber stres eksternal yang pada gilirannya bisa memicu kemunculan kekerasan antara lain: a. Menurut Smet (Mumtahinnah. 2008). stres sangat erat sekali kaitannya dengan masalah kekerasan. Tindakan kekerasan ini lazim terjadi di masyarakat perkotaan pada . tetapi juga secara fisik. Menurut Krahe (Mumtahinnah. beberapa sumber menunjukkan bahwa perempuan lebih sering terlibat dalam penganiayaan anak dibandingkan laki-laki. c. e. orang lain. dampak ini juga akan mengganggu individu-individu di sekitarnya. maupun lingkungan sekitar (Stuart & Sunden. dalam hubungannya dengan jenis kelamin pelaku penganiayaan. 2008). Tidak hanya secara psikologis akan terganggu. tidak sedikit dampak stres yang bersifat negatif yang akhirnya berdampak buruk pada kehidupan seseorang. b. tuntutan kerja yang terlalu banyak dan beban kerja yang berat dapat menimbulkan stres.3. Risiko paling tinggi yang dapat terkena stres yang memunculkan kekerasan adalah pada kaum ibu rumah tangga yang bekerja dengan pola yang sama dan jam kerja yang berlangsung terus menerus yang rentan sekali terhadap kejenuhan.berada. baik terhadap diri sendiri. 1995). Masalah Kekerasan Akibat Penyalahgunaan NAPZA Kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik. 2. Walaupun ada dampak stres yang bersifat positif. Hal ini antara lain karena merekalah yang kebanyakan bertanggung jawab mengasuh anak. Isolasi Kepadatan penduduk dan atau sempitnya ruang hidup Kekurangan privacy Ketidakbebasan Irama kehidupan yang rutin dan monoton Perpindahan tempat tinggal atau mobilisasi sosial d. Apabila sudah menimbulkan perilaku kekerasan. mereka pulalah yang lebih berkemungkinan menghadapi masalah-masalah dalam interaksinya dengan anak. terutama anak-anak yang masih kecil. yang kemudian mengarah pada kekerasan. Dengan demikian.

Amphetamine sering disebut dengan speed. harapan peran seksual yang kaku. isolasi sosial. dan jumlah anak sebanyak dua orang atau lebih. dan fenfluramin. Faktor sosial dan komunitas. terlibat geng. menghilangkan atau mengurangi hilang rasa atau nyeri dan perubahan kesadaran yang menimbulkan ketergantungna akan zat tersebut secara terus menerus. pekerjaan keras dan pengangguran. eksposure media terhadap kekerasan. Masalah penyalahgunaan NAPZA ini semakin banyak dibicarakan. 1996): 1. yang terlihat dari orangtua yang semakin sering memukuli anaknya ataupun maraknya tawuran yang terjadi. psikotropika. memiliki senjata api. NAPZA merupakan singkatan dari narkotika. Berdasarkan faktor-faktor risiko tersebut. Zat yang tergolong dalam psikotropika (Hawari. 3. stress individu yang tinggi. Kekerasan dalam komunitas dapat disebabkan oleh beberapa faktor. shabu-shabu. pendidikan. dan lain-lain. meliputi: riwayat pemakai NAPZA pada 3 generasi. populasi. whiz. yaitu (Stanhope & Lancaster. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kekerasan merupakan hal yang penting dan harus ditanggulangi. ancaman verbal orangtua pada anak. Golongan stimulan lainnya adalah halusinogen yang dapat mengubah perasaan dan pikiran sehingga perasaan dapat terganggu. stres keluarga yang tinggi. Faktor keluarga. 4. 2006) adalah stimulansia yang membuat pusat syaraf menjadi sangat aktif karena merangsang syaraf simpatis. terlibat NAPZA. meliputi: pemakaian NAPZA. dan zat adiktif lainnya. Faktor psikologi. Termasuk dalam golongan stimulan adalah amphetamine. Sedative dan hipnotika seperti barbiturat dan benzodiazepine merupakan golongan . baik sintesis maupun semisintesis yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. dan sulph. kokain.zaman sekarang. meliputi: status ekonomi rendah. media. heroin. dan fasilitas di komunitas. 2. Faktor sosiologi. Contoh narkotika yang terkenal adalah seperti ganja. baik di kota besar maupun kota kecil di seluruh wilayah Republik Indonesia. Narkotika adalah suatu obat atau zat alami. Psikotropika adalah zat atau obat. ektasy (metamfetamin). meliputi: pekerjaan. pengendalian diri yang buruk. agama. tekanan dari teman. morfin. amfetamin. NAPZA merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi timbulnya perilaku kekerasan. sintetis maupun sintetis yang dapat menyebabkan turunnya kesadaran.

Beberapa tipe keluarga yang berisiko tinggi anggota keluarganya terlibat penyalahgunaan narkoba. dan solvent/inhalasia. 2004). dorongan kenikmatan dan perasaan ingin tahu. serta pemecahan masalah (pengaruh narkoba yang dapat menurunkan tingkat kesadaran dan membuatnya lupa pada permasalahan yang ada). Adapun yang termasuk zat adiktif ini antara lain: minuman keras (minuman beralkohol) yang meliputi minuman keras golongan A (kadar ethanol 1% sampai 5%) seperti bir. terlihat dari pelaksanaan aturan Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada upaya yang tidak konsisten yang dijalankan oleh ayah dan ibu. yaitu: • • • Keluarga yang memiliki riwayat mengalami ketergantungan narkoba. Keluarga dengan manajemen yang kacau. teratogenik. usia (mayoritas remaja). . votaile. bahan kimia. tetapi mempunyai pengaruh dan efek merusak fisik seseorang jika disalahgunakan (Wresniwiro. mutagenik. Bahanbahan berbahaya ini adalah zat adiktif yang bukan termasuk ke dalam narkotika dan psikoropika. Zat adiktif lainnya adalah nikotin. a. minuman keras golongan B (kadar ethanol lebih dari 5% sampai 20%) seperti anggur malaga. perkembangan emosi yang terhambat. Keluarga. Zat dalam alkohol dapat mengganggu aktivitas sehari-hari bila kadarnya dalam darah mencapai 0. harga diri rendah. green sand. Penyalahgunaan NAPZA ini juga disebabkan oleh beberapa faktor yang meliputi: 1. Zat adiktif lainnya adalah zat. dan iritasi. penyelesaian yang memuaskan semua pihak yang berkonflik. wine.5% dan hampir semua akan mengalami gangguan koordinasi bila kadarnya dalam darah 0. dan minuman keras golongan C (kadar ethanol lebih dari 20% sampai 55%) seperti brandy. Faktor internal. korosif. Faktor eksternal.stimulan yang dapat mengakibatkan rusaknya daya ingat dan kesadaran. Keluarga merupakan faktor yang paling sering menjadi penyebab seseorang menjadi pengguna narkoba. 2. dan biologi dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat membahayakan kesehatan lingkungan hidup secara langsung dan tidak langsung yang mempunyai sifat karsinogenik. intelegensia (pada umumnya berada pada taraf di bawah rata-rata). depresi). whisky. Yang termasuk ke dalam faktor internal adalah faktor kepribadian (konsep diri negatif. ketergantungan secara fisik dan psikologis bila digunakan dalam waktu lama.10%.

menurunnya nilainilai. kekambuhan. Sedangkan penyalahgunaan NAPZA dalam keluarga dapat mengakibatkan suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu. bangsa. gangguan perilaku (mental sosial). rusaknya barang-barang sekolah dan meningkatnya perkelahian. yaitu keluarga yang diliputi kecemasan dengan alasan yang kurang kuat. dan masalah ekonomi dan hukum. merasa putus asa karena pengeluaran yang meningkat akibat pemakaian narkoba ataupun melihat anak yang harus berulangkali dirawat atau bahkan menjadi penghuni di rumah tahanan maupun lembaga pemasyarakatan. Penyalahgunaan NAPZA mengakibatkan terciptanya hubungan pengedar narkoba dengan korbannya sehingga terbentuk pasar gelap perdagangan NAPZA yang sangat sulit diputuskan mata rantainya. dan berusaha menutupi perbuatan anak mereka. yaitu keluarga yang menuntut anggotanya dominan. gangguan kesehatan. mencapai kesempurnaan dengan standar tinggi yang harus dicapai dalam banyak Keluarga yang neurosis. Stres keluarga meningkat. overdosis (OD).• • hal. serta sering berlebihan dalam menanggapi sesuatu. serta bagi masyarakat. NAPZA akan merusak disiplin dan motivasi yang sangat tinggi untuk proses belajar. Dalam dunia pendidikan. mudah cemas dan curiga. dimana peran orang tua sangat Keluarga yang perfeksionis. intoksikasi (keracunan). Dimana orang tua akan merasa malu karena memilki anak pecandu. yang dapat menyebabkan kematian karena terhentinya pernapasan dan perdarahan otak. Penyalahgunaan NAPZA berhubungan dengan kejahatan dan perilaku asosial lain yang menganggu suasana tertib dan aman. Akibatnya negara mengalami kerugian karena . dengan anak yang tidak diberi kesempatan untuk berdialog. Faktor kesempatan Penyalahgunaan NAPZA ini memiliki dampak negatif yang sangat luas. b. pihak sekolah (pendidikan). tetapi juga bagi keluarga. Masyarakat yang rawan narkoba tidak memiliki daya tahan dan kesinambungan pembangunan terancam. Faktor kelompok teman sebaya (peer group). penyalahgunaan NAPZA dapat mengakibatkan terganggunya fungsi otak dan perkembangan moral pemakainya. c. Bagi diri sendiri. merasa bersalah. • Keluarga dengan orangtua yang otoriter. dan negara. tidak hanya bagi diri si pemakai itu sendiri.

Sarana rehabilitasi yang disediakan harus memiliki tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan (Depkes. Detoksisfikasi merupakan upaya untuk mengurangi atau menghentikan gejala putus zat. yang dapat dilakukan dengan pencegahan. dan menghimbau masyarakat untuk dengan tegas menolak mencoba narkoba. agar pengguna NAPZA yang menderita sindroma ketergantungan dapat mencapai kemampuan fungsional seoptimal mungkin. Berdasarkan uraian di atas. psikologis. pengobatan. yaitu: detoksifikasi tanpa substitusi (klien tidak diberi obat untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut) dan detoksifikasi dengan substitusi (pemberian substitusi adalah dengan cara penurunan dosis secara bertahap sampai berhenti sama sekali atau dapat juga dengan memberikan obat yang menghilangkan gejala simptomatik. baik fisik. deteksi dini perubahan perilaku. khususnya dalam membantu masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan tentang perawatan dan pencegahan kembali penyalahgunaan NAPZA. . Penanggulangan masalah NAPZA dilakukan mulai dari pencegahan. Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan informasi dan pendidikan yang efektif tentang NAPZA. Tenaga kesehatan sangat berperan penting dalam upaya menanggulangi penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA. Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan terpadu melalui pendekatan non medis. Dengan penanggulangan masalah penyalahgunaan NAPZA ini diharapkan dapat mengurangi perilaku kekerasan di masyarakat. Penanggulangan masalah NAPZA dalam komunitas ini diharapkan dapat juga mengatasi masalah perilaku kekerasan di masyarakat. Terapi pengobatan bagi klien NAPZA dapat dilakukan misalnya dengan detoksifikasi. sosial. sosial. dan spiritual. 2001). Tujuannya adalah pemulihan dan pengembangan pasien. mental. dapat disimpulkan bahwa penyalahgunaan NAPZA memiliki pengaruh yang cukup besar dalam memicu munculnya masalah kekerasan. pengobatan. Penanggulangan yang ketiga yaitu dengan rehabilitasi. sampai pemulihan (rehabilitasi). dan rehablitasi. Perawat diharapkan dapat menanggulangi masalah penggunaan NAPZA di masyarakat. kejahatan meningkat serta sarana dan prasarana yang harus disediakan untuk mengatasi masalah tersebut.masyarakatnya tidak produktif. dan religi. Terapi ini dapat dilakukan dengan dua cara. Hal ini diakibatkan oleh efek yang ditimbulkan zat-zat yang terkandung di dalam NAPZA tersebut yang mempengaruhi pusat saraf individu yang mengkonsumsinya.

scribd. (2002). MCguire.J.depsos.id/library/articles/graduate/psychology/2008/Artikel_10502173. Gail Wiscarz. Comprehensive Community Health Nursing: Family. Narkoba musuh bangsa. (2009).php?name=News&file=print&sid=688 http://www. S. Wresniwiro. Jurnal Hubungan Antara Stres Dengan Agresi Pada Ibu Rumah Tangga Yang Tidak Bekerja. (2001). Aggregate.com/doc/43627443/Peran-Fungsi-Dan-Tugas-Perawat-Komunitas pada 28 maret 2012 pukul 21. Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang pedoman penyelenggaraan sarana pelayanan rehabilitasi penyalahgunaan dan ketergantungan narkotika. Bahaya NAPZA dan penanggulangannya. Louis: Mosby Year Book Stuart. and Community Practice. Mental health nursing”. (2009). Jakarta: Salemba Medika Hawari. M.html http://www.W. Jeanne. “Community violence”. Principles and practice of psychiatric nursing.. Budi Ana. fifth edition.id/myblog/alim-sumarno/fenomena-tawuran-antar-pelajar http://elearning.unesa. Mumtahinnah. and Eigisti.id/modules.unesa. “Community violence. G.gunadarma. (1995).go.ac. and Sundeen. (2000).48 WIB . St. (1996). Noviyani. Jakarta: Rajawali.24 WIB) Stuart. Ferry dan Makhfudli. Mouri: Mosby Elsevier.haluankepri. alkohol dan zat adiktif).ac. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan. D. Jakarta: Yayasan Mtra Bintibmas. Penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA (narkotik. (2009). Jakarta: Departemen Kesehatan RI. (2004).ac.id/tag/konflk-kekerasan-tawuran http://www. (2011).p df (Diunduh tanggal 28 Maret 2012. http://www. pk 00.DAFTAR PUSTAKA Clemen-Stone. St. http://elearning. Efendi. Principle & practice of psychiatric nursing. Tucker. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Keliat. psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). USA: Mosby Depkes. (2008).com/opini-/17864-tawuran-dan-kekerasan-di-sekolah. 9th ed. Maslim.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful