OPTIMALISASI EKSPRESI PEMAIN DALAM DRAMA TELEVISI “YU NARSIH KASMARAN”

A. Latar Belakang Penciptaan

Perkembangan teknologi komoditi elektronik dewasa ini, berpengaruh terhadap kondisi sosial masyarakat di Indonesia. Akibat perkembangan teknologi komoditi ini, menyebabkan munculnya stereotip bahwa perangkat elektronik merupakan sebuah simbol status sosial. Beragam inovasi didesain sedemikian rupa guna memikat hati masyarakat dan dapat menjadi simbol status sosial bagi penggunanya. Alfathri Adlin (1997: 152) mengatakan bahwa sejauh ini produk-produk yang menggunakan teknologi canggih seringkali memiliki korelasi yang kuat dengan derajat kemampuan ekonomi

penggunanya yang terbilang cukup mapan. Maka, tidaklah mengherankan apabila muncul sebuah persepsi bahwa penggunaan teknologi canggih akan berpengaruh terhadap prestige seseorang. Dengan demikian, orang-orang akan berlomba-lomba memperbaharui hidupnya melalui produk industri perangkat elektronik. Salah satu perangkat elektronik yang “membooming” di Indonesia hingga saat ini adalah telepon genggam (handphone). Pada masa awal kemunculannya, telepon genggam dipandang oleh sebagian besar orang hanya dapat dimiliki oleh masyarakat kelas atas. Namun, pada pekembangannya kini

1

telepon genggam telah banyak dimiliki oleh berbagai lapisan masyarakat. Tak jarang kita dapat melihat tukang becak, pedagang pasar, tukang bakso, supir angkot, bahkan pembantu rumah tangga (PRT) pun memiliki perangkat elektronik ini. Penawaran harga yang relative rendah, mampu menyihir masyarakat kelas bawah untuk berbondong-bondong berusaha merubah gaya hidup mereka. Mulai dari masyarakat desa, hingga masyarakat pinggiran kota rela mengeluarkan uang demi ongkos sosial yang mereka kedepankan tanpa mengutamakan sisi fungsional dari produk tersebut. Masyarakat yang menggunakan perangkat telepon genggam tanpa mengutamakan sisi fungsionalnya, merupakan masyarakat yang menjadi korban dari industrialisasi. Mereka membeli perangkat elektronik tersebut, bukan karena nilai kemanfaatannya, namun karena gaya (hidup) dan demi sebuah citra yang diarahkan atau dibentuk oleh iklan serta mode lewat televisi, tayangan sinetron, acara infotainment, ajang kompetisi para calon bintang, gaya hidup selebriti, dan lain sebagainya. Salah satu contoh adalah masyarakat di desa yang tidak memiliki kesiapan secara ekonomi maupun mental, mereka dengan mudah terbujuk oleh rayuan iklan. Teknologi baru yang masuk, tidak diimbangi oleh edukasi dan kesiapan ekonomi maupun mental. Pada Akhirnya, lahirlah sebuah masyarakat „latah‟ yang gagap dengan teknologi.

2

Menanggapi kondisi sosial dan budaya di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkatnya ke dalam sebuah program televisi dengan format drama. Drama adalah program hiburan yang diproduksi berdasarkan realita dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dengan memproduksi drama televisi, penulis berkeinginan untuk mengapresiasi suatu realita dan hasil perenungan yang layak diangkat menjadi sebuah tayangan televisi. Program televisi drama tersebut yang akan menjadi pilihan penulis dalam menciptakan Tugas Akhir Penciptaan Karya Produksi. Penciptaan Karya berjudul Optimalisasi Ekspresi Pemain Dalam Drama Televisi “Yu Narsih Kasmaran” ditekankan pada optimalisasi ekspresi pemain. Penyampaian nilai cerita kepada penonton, tidak hanya dapat didukung melalui bahasa verbal (dialog). Namun, ekspresi adalah salah satu cara berkomunikasi yang lebih universal yang dapat mendukung penggunaan bahasa dalam berdialog. Rikrik El Saptaria (2006: 50) mengemukakan bahwa ekspresi artinya “mendorong keluar” secara alamiah, baik itu perasaan atau ide secara khas.

B. Rumusan Ide Penciptaan

Untuk mendukung optimalisasi ekspresi pemain dalam drama tetevisi “Yu Narsih kasmaran”, maka dilakukan tiga hal yang sangat penting. Pertama,

3

yaitu analisis naskah. Dalam hal ini, sutradara harus memahami naskah dengan baik. Analisis naskah dilakukan untuk menentukan tokoh yang akan memerankan dalam drama. Tokoh yang akan diperankan diantaranya adalah pemeran utama, pemeran pembantu, dan figuran. Tokoh-tokoh yang bermain dalam drama televisi “Yu Narsih Kasmaran”, adalah:
1. Yu Narsih

Yu Narsih adalah seorang pembantu rumah tangga yang berasal dari desa. Berusia 33 tahun. Ia memiliki sifat lugu, polos, periang, rajin dan mudah terpengaruh. Yu Narsih merupakan pemeran utama dalam drama ini.
2. Mas Parlan

Mas Parlan adalah suami dari Yu Narsih. Bekerja sebagai petani. Berusia 35 tahun. Ia memiliki sifat yang penyabar, penyayang, pencemburu, tanggung jawab, dan sedikit manja. Mas Parlan merupakan pemeran pembantu dalam drama ini.
3. Bu Bagyo

Bu Bagyo adalah majikan dari Yu Narsih. Bekerja sebagai PNS. Berusia 50 tahun. Ia memiliki sifat yang tegas, cerewet, baik hati, dan suka menasehati. Bu Bagyo merupakan pemeran pembantu dalam drama ini.
4. Pak Bagyo

4

Pak Bagyo adalah suami dari Bu Bagyo. Bekerja sebagai PNS. Berusia 55 tahun. Ia memiliki sifat tegas dan berwibawa. Pak Bagyo merupakan pemeran pembantu dalam drama ini.
5. Mbak Lila

Mbak Lila adalah anak pertama Bu Bagyo. Seorang mahasiswi komunikasi angkatan tua. Berusia 25 tahun. Ia memiliki sifat tomboy, judes, mudah emosi, namun pada dasarnya baik hati. Mbak Lila merupakan pemeran pembantu dalam drama ini.
6. Mbak Sinta

Mbak Sinta adalah anak kedua Bu Bagyo. Seorang mahasiswi ekonomi. Berusia 20 tahun. Ia memiliki sifat manja, mudah ngambek , suka mengadu (wadulan), namun pada dasarnya baik hati. Mbak Sinta merupakan pemeran pembantu dalam drama ini.
7. Aan

Aan adalah kenalan dari Yu Narsih. Seorang anak „alay‟ berusia 17 tahun. Aan merupakan pemeran pembantu dalam drama ini.
8. Wahyu

Wahyu adalah anak pertama dari Yu Narsih. Dia merupakan pemeran pembantu dalam drama ini

5

9. Si Soer

Si Soer adalah anak kedua dari Yu Narsih. Dia merupakan pemeran pembantu dalam drama ini.
10. Nur

Nur adalah anak bungsu Yu Narsih. Dia merupakan pemeran pembantu dalam drama ini.
11. Orang-orang di jalan.

Orang-orang di jalan merupakan figuran yang mendukung adegan dalam drama ini. Yang kedua, yaitu casting. Casting merupakan proses seleksi pemain atau pencarian tokoh dalam cerita (peran utama, peran pembantu dan figuran). Pencarian pemain dilakukan pada komunitas-komunitas teater di Yogyakarta. Biasanya, pemain yang tergabung dengan komunitas teater, telah terlatih dalam berakting, sehingga sutradara akan lebih mudah dalam pengarahan (directing). Kemudian yang ketiga, yaitu directing. Sutradara mengarahkan pemain dalam latihan. Directing merupakan pengarahan kepada pemain dalam beradegan.

6

Secara keseluruhan, gambaran program film berjudul “Yu Narsih Kasmaran” dijabarkan lebih detail dalam deskripsi berikut :
1. Judul Karya

Judul Tugas Akhir Penciptaan Karya Produksi ini adalah Optimalisasi Ekspresi Pemain Dalam Drama Televisi “Yu Narsih Kasmaran”.
a. Optimalisasi Ekspresi Pemain: Optimalisasi berasal dari kata optimal.

Pius A. Partanto mengatakan bahwa optimal berarti paling bagus/tinggi (1994: 545), ekspresi berarti ungkapan; pengungkapan; pernyataan; ungkapan jiwa yang dimanifestasikan lewat pantomimic (gerak badan dan air muka); kesan yang tergambar pada mimik (1994: 137). Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan pemain sebagai orang yang bermain (bola, biola, drama, film, dsb) (2005: 698). Jadi, yang dimaksud dengan optimalisasi ekspresi pemain adalah usaha atau proses untuk menciptakan sebuah ungkapan yang tergambar pada mimik dengan pencapaian paling bagus pada orang yang bermain drama.
b. Drama Televisi: Fitryan G. Dennis (2008: 21) mengatakan bahwa

drama merupakan format acara televisi yang diproduksi dan diciptakan melalui proses imajinasi kreatif dari kisah-kisah drama atau fiksi yang direkayasa dan dicipta ulang. Sedangkan Drs. Sulchan Yasyin (1995:

7

220) mengatakan bahwa televisi merupakan penerima siaran berupa suara dan gambar sekaligus. Jadi, yang dimaksud dengan drama televisi adalah sebuah format acara yang diproduksi melalui proses imajinasi kreatif dari kisah fiksi yang direkayasa lalu disiarkan dalam bentuk suara dan gambar.
c. Yu Narsih Kasmaran: Yu Narsih Kasmaran merupakan sebuah judul

dari drama televisi yang akan penulis produksi.
2. Format Karya

Format karya yang dipilih oleh penulis adalah drama televisi. Karena format ini merupakan jenis format yang tepat untuk menceritakan dan menggambarkan kepada seluruh masyarakat atau penonton tentang kondisi sosial yang terjadi pada masyarakat desa kelas menengah bawah dalam menghadapi budaya baru sehingga muncullah suatu gegar budaya dan gejolak sosial. Menurut hemat penulis, format drama televisi mampu menyampaikan pesan yang penting menjadi sebuah sajian yang menghibur namun sarat akan nilai.
3. Durasi Program

Karya produksi drama televisi ini berdurasi 30 menit. Selama durasi itu dipertimbangkan bahwa rangkaian cerita yang akan disajikan kepada penonton dapat dipahami. Selain itu, pesan cerita yang ingin disampaikan

8

juga dapat tercapai, karena efektifitas penyajian tidak terkesan tergesagesa atau bahkan bertele-tele sehingga membuat jenuh penonton.
4. Sasaran Program

Target audience untuk drama televisi ini adalah remaja dewasa, dari usia 15 tahun sampai 60 tahun, Ekonomi: semua kalangan dapat menikmati (kalangan atas, menengah, bawah). Dalam produksi drama televisi “Yu Narsih Kasmaran” ini tidak ada syarat-syarat khusus untuk dapat menonton dan menikmati tayangan program ini. Penulis berpendapat bahwa semua kalangan masyarakat akan dapat menikmati program ini karena konflik yang muncul dalam cerita merupakan rangkaian kejadian-kejadian yang sangat akrab terjadi di tengah masyarakat pada semua kalangan.

C. Orisinalitas

Terinspirasi dari sebuah buku yang berjudul “Life Style Ecstasy” dengan editor Idi Subandy Ibrahim. Dalam buku tersebut terdapat tulisan seorang aktivis muda bernama Alfathri Adlin dengan judul tulisannya yaitu Desain, Teknologi, Gaya Hidup : Perangkat Elektronik Sebagai Simbol Status Sosial. Tulisan ini memuat bagaimana produksi komoditi elektronik dapat membentuk hasrat dan simbol s tatus sosial. Selain itu juga terinspirasi dari

9

sebuah film layar lebar yang berjudul “Jagad Kali Code” karya Herwin Novianto. Film ini menceritakan tentang tiga anak muda yang menemukan sebuah flashdisk. Dari sumber kajian di atas, maka muncul ide untuk mengembangkan suatu cerita yang dituangkan dalam penciptaan karya drama berjudul “Yu Narsih Kasmaran”. Drama ini menceritakan tentang seorang pembantu rumah tangga yang menjadi korban industrialisasi teknologi (handphone).

D. Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dan manfaat dalam Tugas Akhir Penciptaan Karya Produksi Optimalisasi Ekspresi Pada Aktor Dalam Produksi Drama “Yu Narsih Kasmaran” adalah :
1. Tujuan

Menciptakan sebuah karya dengan optimalisasi ekspresi pemain dalam drama televisi “Yu Narsih Kasmaran”.
2.

Manfaat
a. Bagi Penulis

10

Penulis mampu mengaplikasikan ilmu-ilmu baik teori maupun praktik yang telah diperoleh selama di bangku kuliah ke dalam sebuah karya program drama mulai dari tahap pra produksi hingga paska produksi.
b. Bagi Masyarakat

Masyarakat memperoleh hiburan yang segar dan sarat akan nilai kehidupan yaitu bagaimana menentukan sikap dalam menghadapi budaya baru (dalam hal ini adalah teknologi) dengan merubah sikap pasif yang hanya menerima saja, namun manfaat dari budaya baru tersebut.
c. Bagi Sekolah Tinggi Multi Media MMTC

harus aktif mengambil

Karya yang penulis produksi dapat menambah inventarisasi bagi lembaga Sekolah Tinggi Multi Media MMTC dan dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa lain yang menuntut ilmu penyiaran.

E. Kajian Sumber Penciptaan

Proses penggalian ide atau riset dalam pengembangan dan penciptaan karya “Yu Narsih Kasmaran”, yaitu dengan teknik pencarian data sebagai berikut :
1. Studi Pustaka

11

Untuk memperoleh data-data yang diinginkan, produksi ini tidak lepas dari studi kepustakaan. Dalam memperoleh data-data tersebut, penulis mencari literatur-literatur yang berkaitan dengan objek/subjek yang akan diangkat. Beberapa literatur tersebut diantaranya:
a. Buku Penyutradaraan

Referensi tentang lingkup penyutradaraan produksi program televisi.
b.

Buku Dramaturgi Referensi tentang penceritaan dalam drama (struktur drama, naskah, out line, dan story telling)

c. Buku Film

Referensi tentang persoalan-persoalan dalam produksi film.
d. Buku Sosial dan Budaya

Referensi tentang persoalan-persoalan yang terjadi di kalangan budaya dan masyarakat.
2. Karya Acuan

Buku “Life Style Ecstasy” dengan editor Idi Subandy Ibrahim. Mengangkat persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat, ketika mereka menghadapi suatu budaya baru. Budaya baru dibentuk oleh

12

industri teknologi berupa perangkat elektronik yang melahirkan sebuah gaya hidup pada masyarakat. Buku tersebut menyebutkan salah satu aktivis muda bernama Alfathri Adlin dengan artikelnya yang berjudul Desain, Teknologi, Gaya Hidup : Perangkat Elektronik Sebagai Simbol Status Sosial. Tulisan ini tentang produksi komoditi elektronik yang dapat membentuk hasrat dan simbol status sosial. Film “Jagad Kali Code” sebagai acuan karya produksi mengisahkan tentang tiga anak muda pengangguran yang tinggal di kampung Kali Code Yogyakarta. Mereka adalah Jagad, Bayu, dan Gareng berusaha mewujudkan keinginannya masing-masing. Jagad ingin membelikan mesin cuci bagi ibunya, Bayu ingin mempunyai sendiri lapak jualan buku dan majalah, serta Gareng ingin membuat salon kecil untuk Menik adiknya. Tetapi, keinginan mereka tersebut terbentur oleh masalah dana. Mereka tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Tiba-tiba pertemuan yang tidak disengaja dengan tokoh preman bernama Semsar (Tio Pakusadewo) seakan-akan mengubah semuanya. Mereka dijanjikan akan mendapatkan uang sebanyak tiga puluh juta jika mampu menemukan sebuah benda yang bernama flashdisk. Tetapi karena kesenjangan teknologi, mereka tidak mengetahui tentang flashdisk. Ketika mereka mencoba bertanya kepada orang di sekitar mereka, tidak seorang pun yang mengerti flashdisk.

13

Ketika flashdisk ditemukan, mereka sadar bahwa benda kecil tersebut dicari banyak orang.

F. Landasan Teori Penciptaan

Dalam Penciptaan karya produksi yang berjudul Optimalisasi Ekspresi Pemain Dalam Drama Televisi “Yu Narsih Kasmaran”, landasan penciptaan yang akan dipergunakan sebagai acuan diantaranya :
1. Optimalisasi Ekspresi

Optimalisasi sendiri berasal dari kata optimal yang mempunyai arti paling bagus/tinggi; tertinggi; terbagus; paling menguntungkan. Mengutip dari buku Drs. Sulchan Yasyin (1995: 233) bahwa menurut kamus pintar Bahasa Indonesia, untung adalah sesuatu yang lebih. Sedangkan pengertian ekspresi sendiri adalah kesan yang tergambar pada mimik. Di sini penulis ingin menggali/menampakkan mimik muka yang paling bagus pada pemain hingga mencapai sasaran aktingnya dan memenuhi syarat teknis pemeranan, tuntutan naskah, dan konsep sutradara. Oleh karena itu, diperlukan adanya latihan agar dapat mencapai sebuah akting yang bagus. Rikrik El Saptaria (2006: 50) mengemukakan bahwa ekspresi artinya “mendorong keluar” secara alamiah, baik itu perasaan atau ide secara khas.

14

2. Sutradara

Penulis mengutip Naratama (2004: 19) tentang definisi sutradara televisi sebagai berikut: “Sutradara televisi adalah seseorang yang mampu mengarahkan dan menciptakan sebuah karya seni audio-visual dalam bentuk format acara televisi drama atau nondrama dengan menggunakan sistem rekaman gambar elektronik, baik untuk single camera maupun untuk multi camera”.

Sutradara drama harus dapat mengkoordinasi segala unsur produksi, sehingga dapat menjadikan program acara drama itu berhasil. Disamping itu, sutradara harus mengerti seluk beluk seni peran. Ia harus tahu bagaimana akting yang alami atau kaku. Fitryan G. Dennis (2008: 5) mengutip Naratama tentang modal yang harus dimiliki seorang sutradara sebagai berikut:

a. Leadership (kepemimpinan)

Sesuai dengan tugas dan wewenangnya sebagai orang yang paling bertanggung jawab pada sebuah karya produksi film / televisi / iklan / dokumenter, sutradara harus punya jiwa kepemimpinan yang kuat dan

15

mampu mengkoordinasikan proses kerja dari seluruh tim/kru produksi. Jiwa pemimpin ini harus disertai kempampuan berkomunikasi dan sosialisasi dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda-beda dalam setiap produksi, seperti artis, klien, editor, juru lampu, penata artistik, penata rias hingga ke para figuran dari berbagai status sosial masyarakat.
b. Imajinasi Kreatif

Untuk mencapai titik tertinggi dalam penciptaan sebuah karya, sutradara harus punya kemampuan berimajinasi dengan kreatif, instan, dan inovatif. Daya imajinasi kreatif ini didapat dari kepekaan atas rasa seni artistik dalam melihat warna, bentuk, karakter, komposisi hingga bahasa fiksi yang muncul di lingkungan sekitarnya, seperti membaca majalah, melihat sawah, mencium bau hingga ke dialog dengan teman.
c. Fiction Freak (panggilan dunia fiksi).

Suka menonton film, membaca novel, membuat puisi, mencipta lagu, memainkan alat musik, menari, dan berbagai hobi lainnya di dunia fiksi merupakan modal kuat untuk menjadi sutradara. Karena dunia penyutradaraan erat kaitannya dengan dunia penciptaan, di mana karya-karya yang diproduksi adalah karya-karya yang diciptakan. Berbeda dengan dunia jurnalistik yang bersifat melaporkan berita

16

secara aktual dan faktual. Atau, dunia dokumenter yang bersifat pendokumentasian dengan dukungan data/riset yang kuat. Dunia penyutradaraan mempunyai sifat penciptaan artistik audio visual yang
dapat dinikmati kapan saja tanpa mengenal batas waktu. d. Berjiwa Petualang

Karena tantangan dalam setiap produksi film/televisi selalu berbeda setiap waktu maka sutradara harus memiliki jiwa petualang. Seorang sutradara harus mampu menghadapi rintangan dan cobaan, menyukai alam, dan selalu termotivasi untuk mencipta lebih baik.
e. Wawasan dan Pengetahuan

Modal ini penting sekali. Sutradara harus punya wawasan dan pengetahuan luas, seperti tentang sejarah film, sejarah televisi, analisis media, sistem penyiaran, komunikasi massa, sosiologi, pemasaran, atau iklan televisi.
f.

Berani Menghadapi Tantangan Deadline Bila kamu tidak mampu menghadapi deadline, cepat stres dan panik, sebaiknya jangan menjadi sutradara. Biasanya, semakin mepet deadline maka sutradara justru harus semakin kreatif, bukan sebaliknya.

17

3. Drama

RMA. Harymawan (1988:1) mengatakan arti drama, antara lain:
-

Arti pertama : Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action, (segala apa yang terlihat dalam pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (exciting), dan ketegangan pada pendengar/penonton.

-

Arti kedua : Menurut Moulton, drama adalah “hidup yang dilukiskan dengan gerak” (life presented in action). Jika buku roman menggerakkan fantasi kita, maka dalam drama kita melihat kehidupan manusia diekspresikan secara langsung di muka kita sendiri. Menurut Brander Mathews : Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. Menurut Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan action. Menurut Balthazar Verhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak.

-

Arti ketiga : Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton (audience).

18

4. Tahap Produksi Drama

Fitryan G. Dennis (2008: 30) mengatakan bahwa proses pembuatan film terbagi menjadi bagian, yakni praproduksi, produksi, dan

pascaproduksi. Hal-hal yang harus dilakukan di tiap tahapan itu adalah:
1. Praproduksi

Seperti ibarat membangun pondasi sebuah bangunan. Pada saat praproduksi dibutuhkan pemikiran yang matang agar proses kerja berjalan lancar. Beberapa hal yang tercakup dalam proses kerja ini diantaranya:
a. Penulisan Skenario

Cerita dibangun berdasarkan hasil karya sebuah skenario. Pemilik cerita, yakni penulis skenario, menyerahkan ceritanya kepada produser. Kemudian, produser pun akan menunjuk sutradara yang akan mengolah cerita menjadi bentuk visual.
b. Crew Recruitment

19

Setelah skenario jadi dan sutradara telah memahaminya dengan baik, ditentukanlah head department crew. Produser dan sutradara adalah orang yang menentukannya.
c. Director’s Treatment

Sutradara mencoba mengimplementasikan visinya secara kreatif berdasarkan skenario yang ada. Pada saat ini kapabilitas dan keunikan karakter sutradara akan terlihat jelas. Pada saat ini pula akan terlihat bahwa lain sutradara akan lain pula treatment-nya.
d. Film Budgeting

Dikerjakan

oleh

produser

dan

line

producer/produser

pelaksana. Tahap pertama akan ditentukan plafon (batas tertinggi biaya yang disediakan) dari masing-masing

departemen. Hal ini tentunya harus di-double check ke masingmasing skenario.
e. Location Reccee/Hunting

head

department,

setelah

mereka

menganalisa

Yakni hunting lokasi-lokasi yang dibutuhkan untuk shooting. Seorang location manager sangat berperan besar dalam hal ini

20

karena ia akan mengakomodasi lokasi-lokasi yang ideal sesuai permintaan sutradara.
f.

Breakdown Board, Shoot List, Floor Plan, Storyboard Dibuat oleh sutradara bersama asistennya. Asisten sutradara I dan asisten sutradara II akan membedah dan membuat administrasi secara adegan (scene, sequence, shot, dll) dan secara jadwal dengan adanya sinkronisasi dan visibilitas pemain, lokasi, equipment, dan lain-lain. Sedangkan untuk floorplan yang menjelaskan tentang skema dari blocking pemain dan peletakan/arah pandang kamera dibuat oleh sutradara.

g. Blockshots

Dilakukan setelah ada kepastian dari lokasi/set yang akan digunakan. Sutradara dengan timnya melakukan konfirmasi blocking, peletakan kamera, arah cahaya, peletakan properti, dan lainnya yang disesuaikan dengan kondisi geografis lokasi yang sudah ditetapkan.
h. Casting

21

Casting adalah proses pencarian pemain. Casting director bersama dengan produser dan sutradara mencari pemain yang cocok dengan karakter yang ada. Dalam tahap casting ini, prosesnya sangat beragam. Jarang sekali bisa langsung dapat pemain yang cocok, karena harus melalui proses penyaringan yang cukup matang. Oleh karena itu, tahap casting memakan waktu lama karena rata-rata dilakukan 2 sampai 5 kali penyaringan. Untuk penentuan pemain, terutama pemain utama, harus dicapai kata sepakat antara produser dan sutradara karena dialah yang akan menjadi bintangnya.
i.

Talent Workshop dan Reading Proses ini merupakan proses pendekatan pribadi atas karakter yang akan diperankan. Pendekatan itu seperti pendalaman gerak tubuh (gesture), dialek dan artikulasi, penguasaan emosi, aksi-reaksi terhadap berbagai situasi, dan sebagainya. Jika karakter sudah terbentuk, pemain pun mencoba

mengimplementasikan dirinya dengan dialog dan adeganadegan yang ada di skenario.
j.

All Department’s Preparation

22

Seluruh departemen berusaha menyelaraskan visinya dengan visi sutradara melalui preproduction meeting. Dilaksanakan secara periodik seiring tingkat kebutuhan dan tingkat kesulitan persiapan shooting. Sutradara bersama para head department membahas scene per scene lengkap dengan director’s treatment-nya. Tidak menutup kemungkinan seorang sutradara meminta masukan dari timnya, baik itu secara teknis maupun secara kreatif. Kemudian, seorang asisten sutradara I akan mengeluarkan jadwal shooting dan shooting list yang biasanya berbentuk buklet. Pada saat ini terjadi pembahasan bersama tentang visibilitas masing-masing departemen. Sementara itu, seorang head department akan mengorganisir dan

memobilisasi kru-nya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang tujuannya tidak lain untuk mewujudkan sebuah karya film. Sedangkan produser mengontrol jalannya persiapan demi tercapainya keselarasan antara visi sutradara dengan budget yang telah direncanakan.
2. Produksi

Pada saat shooting, jadwal produksi semuanya mengacu pada jadwal yang telah dipersiapkan asisten sutradara. Seorang sutradara harus menjaga ritme kerja dan emosi para pemain

23

maupun kru. Pada saat ini, sebuah leadership menjadi tuntutan utama seorang sutradara. Seorang produser harus senantiasa mendampingi dan mendukung sutradara, terutama hal-hal yang menunjang hak kreatif sutradara. Seorang sutradara secara kreatif akan dibantu juga oleh penata fotografi/director of photography, penata artistik/production designer/art director.
3. Pascaproduksi

Pada tahapan ini, film yang sudah selesai diambil gambarnya akan masuk studio dan laboratorium film. Di laboratorium kita akan melakukan kinetransfer, yaitu proses memindahkan film ke dalam format video untuk diedit. Lalu, dilakukan juga pengoreksian warna. Setelah itu, film siap disebarkan ke bioskop. Beberapa hal yang dilakukan saat pascaproduksi adalah:
a. Tata suara

Mengedit suara, memasukkan efek suara, dan memasukkan elemen musik.
b. Editing

24

Mengedit gambar, melakukan mixing, negative cutting/ matching, optical effect, sound optical effect, married print, answer print, dan release print.
c. Penyutradaraan

Menyetujui/koreksi hasil editing dan menetapkan picture lock.
d. Produksi

Menyiapkan keperluan editing, menetapkan picture lock, menyiapkan materi promosi, dan mengontrol promosi dan distribusi.
e. Promosi/Distribusi

Jaringan

bioskop,

festival

film,

distributor

nasional/

internasional dan televisi.

G. Proses Penciptaan 1. Ide Penciptaan a. Inti Pokok Ide/Gagasan

Berawal dari membaca sebuah buku yaitu “Life Style Ecstasy”, buku suntingan tentang kebudayaan pop dalam masyarakat komoditas

25

di Indonesia. Budaya Pop merupakan budaya yang popular dan digemari banyak orang. Dalam buku suntingan Idi Subandi Ibrahim ini, terdapat tulisan seorang aktivis muda bernama Alfathri Adlin dengan judul tulisannya yaitu Desain, Teknologi, Gaya Hidup : Perangkat Elektronik Sebagai Simbol Status Sosial. Setelah membaca buku tersebut, penulis mengamati fenomena yang terjadi pada masyarakat desa menengah ke bawah, dimana masyarakat tersebut mengalami gegar budaya akibat masuknya teknologi telepon genggam. Selain itu, penulis juga menonton sebuah film yaitu “Jagad Kali Code”, film tentang sekumpulan pemuda kampung yang menghadapi beberapa masalah yang disebabkan oleh sebuah flashdisk. Dari sinilah penulis mendapat inspirasi untuk mengangkat sebuah program drama yang merepresentasikan tentang kehidupan sosial dan budaya masyarakat desa menengah ke bawah. Banyak masyarakat desa yang mengalami ketidaksiapan akan masuknya teknologi baru ke dalam lingkungan mereka. Ketidaksiapan ini ditunjukkan dengan timbulnya beberapa masalah pada diri mereka, ketika menerima teknologi tersebut tanpa mengedepankan sisi fungsional dan nilai manfaatnya. Di sini penulis merasa penasaran dan tertantang ingin membuat sebuah paket acara televisi dengan format drama tentang bagaimana penggambaran sikap masyarakat kelas menengah ke bawah dalam

26

menghadapi teknologi baru khususnya yang ada di daerah pedesaan. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, penulis melakukan penelitian atau riset dan mencari referensi film drama yang ada di dalam negeri. Setelah mencari, ternyata yang menjadi referensi penulis yaitu film “Jagad Kali Code”. Karena film ini mengambil lokasi di kota Jogja, maka penulis semakin termotivasi untuk mewujudkan karya produksi ini. Banyak masyarakat desa yang selama ini berusaha untuk merubah gaya hidup mereka melalui teknologi baru. Yang disayangkan adalah penerimaan teknologi baru tersebut tidak diimbangi dengan kesiapan ekonomi dan mental mereka. Selain itu, edukasi mengenai sisi fungsional teknologi tersebut tidak dipahami oleh masyarakat secara sadar. Akibatnya, timbullah permasalahan pada diri mereka seperti gejolak batin yang berpengaruh terhadap kondisi sosial dan budaya. Sikap seperti inilah yang ingin diluruskan penulis bahwa sebaiknya kita menghindari sifat pasif dalam menerima teknologi baru dengan lebih memahami tentang sisi fungsional dan nilai manfaat dari teknologi tersebut.
b. Sinopsis

SINOPSIS

27

IDE CERITA : SHEILA KHAIRUNNISA BS NASKAH THEMA : SHEILA KHAIRUNNISA BS : Teknologi tidak akan berarti apa-apa bagi diri kita, jika tidak disertai dengan pemahaman akan nilai manfaatnya secara tepat guna. JUDUL : YU NARSIH KASMARAN

Kisah bermula dari tokoh Yu Narsih seorang pembantu rumah tangga (PRT) yang berasal dari desa. Ia memiliki sifat yang periang, rajin, polos, lugu dan mudah terpengaruh. Suatu hari ia menginginkan sebuah telepon genggam seperti yang dimiliki oleh para tetangganya. Karena Yu Narsih selalu merengek, akhirnya dengan berat hati Mas Parlan sang suami yang memiliki sifat penyabar pun membelikannya. Awalnya, Bu Bagyo sang majikan yang memiliki watak tegas, mendukung dengan keinginan Yu Narsih untuk memiliki telepon genggam dengan alasan agar memudahkan mereka untuk

berkomunikasi masalah dapur dan hal-hal lainnya. Namun, ternyata telepon genggam tersebut justru malah menurunkan kinerja Yu Narsih. Keteledoran yang dilakukan Yu Narsih akibat telepon genggam tersebut membuat keluarga Bu Bagyo kecewa pada dirinya. Keteledoran tersebut tidak hanya terjadi sekali, atau dua kali saja.

28

Namun, acapkali terjadi sehingga Bu Bagyo mengancam Yu Narsih untuk melarang membawa telepon genggam pada saat bekerja. Ditambah lagi dengan kemunculan orang ketiga yang hadir dalam rumah tangga Yu Narsih. Orang ketiga ini adalah pria yang dikenal Yu Narsih melalui SMS. Yu Narsih semakin „kecanduan‟ dengan telepon genggamnya itu. Gelagat aneh pun mulai tercium oleh Mas Parlan. Yu Narsih mulai mengabaikan suami dan anak-anaknya hanya karena terlalu asik dengan SMS. Hingga pada suatu hari, pria kenalannya itu mengajak untuk „kopi darat‟ atau bertemu dengannya. Tidak disangka, pria yang ia kenal itu ternyata adalah anak „alay‟ atau sering juga disebut dengan Ababil (ABG labil) yang usianya masih sangat muda dan masih ingusan. Anak muda tersebut terkejut dan kecewa ketika yang dilihatnya adalah perempuan paruh baya yang lebih pantas menjadi Bibinya. Keduanya pun sama-sama kecewa dan pergi berlalu. Pada akhirnya, Yu Narsih sadar bahwa telepon genggam telah membawa dirinya pada dunia yang palsu. Ia terlalu terbuai dengan telepon genggam tanpa mengutamakan nilai manfaatnya. Ia telah melalaikan segala pekerjaannya. Dan yang tak kalah penting juga adalah ia telah mengabaikan keluarganya.

29

c. Treatment

Treatment Drama (Yu Narsih Kasmaran) IDE CERITA SHEILA KHAIRUNNISA BS SKENARIO SHEILA KHAIRUNNISA BS

Treatment
1. INT. RUANG MAKAN / PAGI

Keluarga Pak Bagyo sedang sarapan pagi. Yu Narsih sibuk melayani mereka. Lalu Bu Bagyo mengutarakan bahwa ia senang memiliki pembantu seperti Yu Narsih.
2. INT. RUANG ATAS / SIANG

30

Mbak Lila sedang mengerjakan skripsi. Lalu ia terganggu oleh dering HP Yu Narsih dan selalu menanyakan maksud dari SMS yang diterima.
3. INT. DAPUR / PAGI

Bu Bagyo dan Yu Narsih sedang memasak di dapur. Bu Bagyo mengajak bicara dengan Yu Narsih yang sambil SMS-an. Lalu Bu Bagyo geram, karena ternyata omongannya hanya ditanggapi dengan sekenanya oleh Yu Narsih.
4. EXT. TERAS RUMAH / SORE

Yu Narsih berpamitan pulang pada Bu Bagyo. Lalu Bu Bagyo memberikan lauk untuk dibawa pulang oleh Yu Narsih.
5. EXT. JALAN / SORE

Yu Narsih berjalan pulang sambil SMS-an. Sesekali ia tersenyum dan tertawa sendiri. Beberapa orang yang berpapasan, memandang heran padanya.

6. INT. KAMAR YU NARSIH / MALAM

31

Mas Parlan terlihat gelisah melihat tingkah istrinya yang tidak mempedulikannya. Sedangkan Yu Narsih sibuk SMS-an.
7. EXT. TEMPAT JEMURAN / PAGI

Yu Narsih sedang menjemur pakaian sambil bernyanyi-nyanyi riang. Tiba-tiba muncul Mbak Sinta lalu memarahi Yu Narsih karena telah membuat lubang pada bajunya yang disetrika oleh Yu Narsih.
8. INT. RUANG MAKAN / PAGI

Pak Bagyo memuntahkan makanan karena masakan Yu Narsih yang keasinan. Lalu Bu Bagyo memarahi Yu Narsih dan memperingatkan ia agar tidak mengulanginya lagi.
9. INT. KAMAR TIDUR PAK BAGYO / MALAM

Pak Bagyo dan Bu Bagyo bercengkrama di atas tempat tidur. Mereka membicarakan tentang kinerja Yu Narsih yang semakin menurun semenjak membawa HP.
10. INT. DAPUR / SIANG

Yu Narsih membantu ketiga majikannya membuat kue. Lalu ia bercerita pada ketiganya atas kegalauan yang ia alami. Ia bingung atas ajakan kenalannya untuk bertemu karena khawatir kenalannya

32

itu

akan

menjauhi

setelah

melihat

penampilannya

yang

sesungguhnya.
11. EXT. PEMATANG SAWAH / SORE

Yu Narsih menunggu seseorang sendirian. Seseorang itu adalah kenalannya. Tiba-tiba muncul seorang pria remaja yang

mengendarai motor matic lalu berdiri disampingnya. Yu Narsih belum menyadari bahwa pria remaja tersebut adalah kenalannya. Setelah keduanya saling menyadari bahwa mereka adalah orang yang dinanti, mereka saling menyapa secara bersamaan. Tak lama kemudian, pria remaja tersebut pergi meninggalkan Yu Narsih tanpa pamit. Hal yang dikhawatirkan Yu Narsih terjadi. Pria remaja tersebut terkejut melihat penampilan Yu Narsih yang sesungguhnya.
12. INT. KAMAR YU NARSIH / MALAM

Yu Narsih tertegun. Tatapannya menerawang ke luar jendela. Ia membayangkan saat-saat indah bersama Mas Parlan.
13. EXT. JALAN / SIANG

33

Di atas sepeda onthel, Yu Narsih menjerit-jerit karena Mas Parlan yang menjalankan sepedanya dengan tidak seimbang. Lalu mereka terjatuh. Sesekali mereka saling tertawa dan bercanda.
14. INT. KAMAR YU NARSIH / MALAM

Yu Narsih memeluk suami dan ketiga anaknya. Dalam hati ia berjanji akan selalu mencintai dan menyayangi mereka.

15. INT. RUANG TAMU / SORE

Yu Narsih menghampiri Bu Bagyo yang sedang membaca majalah di ruang tamu. Ia mengutarakan pada Bu Bagyo bahwa mulai besok ia tidak akan membawa HP lagi ketika bekerja. Ia menyadari, jika HP membuat kinerjanya menurun. Karena HP pula, ia jadi tidak mempedulikan suami dan anak-anaknya. Kemudian Bu Bagyo menasehati Yu Narsih agar mempergunakan HP dengan tepat, yaitu sesuai dengan situasi. Tiba-tiba Mbak Sinta pulang. Mbak Sinta menanyakan tentang pertemuan dengan temannya itu. Setelah mengobrol, Yu Narsih berpamitan pulang.
16. INT. RUANG TAMU YU NARSIH / MALAM

34

Yu Narsih membuatkan secangkir kopi untuk Mas Parlan. Mereka saling bercengkrama. Tiba-tiba Mas Parlan menanyakan sesuatu kepada Yu Narsih. Mas Parlan bertanya tentang seseorang yang selama ini sering diajak SMS-an dengan istrinya. Rupanya Mas Parlan cemburu. Lalu Yu Narsih menjelaskan semuanya pada suaminya. Ia juga meyakinkan bahwa hanya Mas Parlanlah yang ia cintai. Setelah semuanya jelas, hubungan mereka kembali menghangat. Tak lama kemudian mereka masuk ke kamar. Tibatiba HP Yu Narsih berdering. Mas Parlan mengingatkan istrinya, akan tetapi Yu Narsih tidak menghiraukan dering HP nya tersebut.

2. Media, Peralatan, Dan Teknik Produksi a. Media

Media yang digunakan untuk menuangkan ide dan gagasan Program Drama “Optimalisasi Ekspresi Pada Aktor Dalam Produksi Drama “Yu Narsih Kasmaran” ini adalah menggunakan media televisi. Seperti yang telah diketahui, televisi memiliki kekuatan yang ampuh untuk menyampaikan pesan karena media ini dapat menghadirkan pengalaman yang seolah-olah dialami sendiri dengan jangkauan yang luas dalam waktu yang bersamaan. Penyampaian isi pesan seolah-olah

35

berlangsung saat itu pula (live) antara komunikator dan komunikan. Selain itu, televisi juga memiliki sifat istimewa, yaitu merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup (gerak/live) yang bisa bersifat politis, informatif, hiburan, pendidikan atau bahkan gabungan dari unsur-unsur tersebut.
b. Peralatan

DIVISI Camera

ALAT - Kamera Sony PD 177 - Monitor 17” - Mini DV - Tripod - Tri Angle

QTY 2 2 3 2 1 5 5 5 9

Lighting

- Kino Flow - Tripod Lighting - Kabel - Filter

36

- Difuser Audio - Gun Microphone - Clip On Wireless - Headphone - Fishpole Carbon Support - Wide Lens - C Stand - Sand Bag - Reflector - Binder klip - UPS 600 v - Kaset Mini DV - Battery 9 v

9 1 2 1 1 1 2 10 3 20 1 10 30

37

c. Teknik Produksi 1. Sistem Rekaman

Sistem perekaman dilakukan secara langsung (direct) dan bersamaan baik unsur audio maupun visual.
2. Shot

Pengambilan gambar (shot) dilakukan dengan mengikuti shoting script dan storyboard yang menyesuaikan dengan waktu, lokasi, dan jadwal yang sudah disusun sebelumnya.
3. Kamera

Menggunakan multi camera, dengan pengambilan gambar (shot) berulang-ulang sembari mencatat timecode untuk keperluan editing.
4. Pencahayaan

Pengambilan gambar di dalam ruangan (indoor) menggunakan lighting knoflow 450 wattt dengan penerapan Three Point Of Light untuk mendapatkan cahaya yang natural dan tidak menimbulkan noise pada gambar dengan tetap memperhatikan nilai artistik.
5. Lokasi

38

Lokasi shooting yang digunakan bersifat out door (exterior dan interior). Mengambil tempat di dalam maupun di luar ruangan.

3. Tahapan Penciptaan

Tahapan penciptaan merupakan suatu proses kerja yang dilakuakan dalam menciptakan sebuah karya produksi. Tahapan penciptaan penulis sebagai sutradara dalam drama televisi “Yu Narsih Kasmaran” adalah sebagai berikut:
a. Pra Produksi

Pra produksi merupakan tahapan kerja terpenting dalam setiap produksi program televisi. Ibaratnya adalah seperti sedang

membangun pondasi sebuah bangunan. Kira-kira, apa sajakah yang dibutuhkan agar bangunan terlihat bagus dan menarik. Begitu juga dalam memproduksi sebuah program televisi, memerlukan pemikiran yang matang agar proses kerja berjalan lancar. Beberapa hal yang dilakukan oleh penulis sebagai sutradara dalam tahap kerja ini adalah :
1) Penggagasan Ide

39

Merupakan awal mula proses pembuatan drama televisi ini. Ide dapat berawal dari apa saja yang ada di sekitar kita. Kemudian ide dikembangkan menjadi sebuah naskah sebagai panduan bagi seluruh kru dalam melaksanakan produksi.
2) Crew Recruitment

Setelah skenario jadi dan sutradara sudah memahaminya dengan baik, ditentukanlah head departmen crew. Di sinilah peran sutradara dengan produser untuk menentukannya. Crew produksi drama televisi “Yu Narsih Kasmaran” diantaranya: Production Department Producer Unit Manager Talent Coordinator Artistic Department Art Director Ass. Art Director Props. Master Special Effect : : : : : : :

40

Make Up and Wardrobe : Dewi Handayani Chyntia Puspita. A Directing Department Programme Director Music Director Sript Department Scriptwriter Technical Director Camera Operator Lighting Operator Audio Operator Editor
3) Director’s Treatment

: Sheila Khairunnisa BS :

: Sheila Khairunnisa BS : Arya Tangkas SPT : : : :

Penulis sebagai sutradara mencoba mengimplementasikan visi secara kreatif berdasarkan skenario yang ada dalam bentuk sebuah treatment.

41

4) Location Reccee/Hunting

Meminta kepada location manager untuk mengakomodasi lokasilokasi yang ideal untuk shooting sesuai dengan yang telah ditentukan.
5) Breakdown Board, Shot List, Floor Plan, Storyboard

Dalam hal ini, penulis sebagai sutradara membedah dan membuat administrasi secara adegan (scene, sequence, shot. dll) dan secara jadwal dengan adanya sinkronisasi dan visibilitas pemain, lokasi, equipment, dan lain-lain. Sedangkan untuk floorplan menjelaskan tentang skema dari blocking pemain dan peletakkan/arah pandang kamera .
6) Blockshots

Dilakukan setelah ada kepastian dari lokasi/set yang akan digunakan. Dalam hal ini, sutradara dengan timnya melakukan konfirmasi blocking, peletakan kamera, arah cahaya, peletakan property, dan lainnya yang disesuaikan dengan kondisi geografis lokasi yang sudah ditetapkan.
7) Casting

42

Casting adalah proses pencarian pemain. Biasanya casting director bekerjasama dengan produser dan sutradara mencari pemain yang cocok dengan karakter yang ada.
8) Talent Workshop dan Reading

Jika semua pemain telah ditetapkan, maka setelah itu sutradara melakukan proses pendekatan pribadi atas karakter yang akan diperankan. Pendekatan ini seperti pendalaman gerak tubuh (gesture), dialek dan artikulasi, penguasaan emosi, aksi reaksi terhadap berbagai situasi, dan sebagainya. Jika karakter sudah terbentuk, pemain pun mencoba mengimplementasikan dirinya dengan dialog dan adegan-adegan yang ada di skenario.
b. Produksi

Pada tahapan ini, lokasi pelaksanaan produksi bersifat out door, baik exterior maupun interior. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan stamina yang kuat bagi pemain dan kru selama menjalankan produksi. Sehingga penulis, sebagai sutradara sebisa mungkin berusaha menjaga ritme kerja dan emosi para pemain maupun kru. Saat inilah sebuah leadership menjadi tuntutan utama bagi sutradara.
c. Pasca Produksi

43

Pasca produksi adalah tahap dimana film yang sudah selesai diambil gambarnya kemudian akan masuk ke studio dan laboratorium film. Dengan kata lain, tahapan ini disebut juga dengan tahap

penyempurnaan. Dalam hal ini, sutradara bekerjasama dengan editor untuk menyusun gambar dengan baik. Dua hal wewenang sutradara dalam tahap ini adalah:
1. Mengoreksi dan menyetujui hasil editing. 2. Menetapkan picture lock. 4. Konsep Penayangan

Program drama ini akan ditayangkan pada hari Minggu jam 13.00, agar tayangan ini dapat disaksikan sesuai target audience yang ditulis penulis, karena pada jam tersebut segala aktivitas pemirsa sudah tidak ada, dan hanya istirahat atau menonton televisi di rumah. Dipilih hari pada Minggu karena pada hari tersebut penonton yang ditargetkan sedang libur.

CP: Ela 085643039812

44

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful