Case Bedah Yannie&Basirah-dr Nangti Sp.B

STATUS ILMU BEDAH SMF PENYAKIT BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH R SYAMSUDIN, SH

Nama Mahasiswa

: Basirah Abu Bakar ( 11-2010-204) Yannie Purnamasari (11-2010-085)

Dokter Pembimbing : Dr Nangti Sp.B

IDENTITAS PASIEN Nama lengkap Umur Status perkawinan Pekerjaan Alamat : Tn. IR : 21 tahun : Menikah : Karyawan : Kp. Cibandung Jenis kelamin : Laki-laki Suku bangsa : Sunda Agama Pendidikan : Islam : SMP

Tgl. Masuk RS: 7 Februari 2012

I.

Anamnesis Diambil dari autoanamnesis tanggal 7 Februari 2012 jam 12.00 WIB

1. Keluhan Utama Nyeri perut kanan bawah 3 hari SMRS

2. Keluhan tambahan Mual, muntah, dan demam

3. Riwayat Penyakit 4 hari SMRS, os mengeluh demam terus menerus sepanjang hari tetapi tidak sampai menggigil. Os tidak mengukur demamnya dengan thermometer. os juga mengeluh mual dan muntah 3 kali, muntah berisi cairan berwarna kekuningan. Lalu os berobat ke dokter klinik, dokter memberikan os obat tapi os tidak tahu nama obatnya. 3 hari SMRS, os mengeluh nyeri perut kanan bawah seperti ditusuk-tusuk. Nyeri hilang timbul. Nyeri tidak menjalar. Os merasa lebih nyeri saat berjalan dan batuk. Nyeri

1

hilang timbul. konsistensi lunak. Sistem kardiovaskular : tidak pernah : tidak pernah : tidak pernah : tidak pernah f. Riwayat Masa Lampau a. Trauma terdahulu c. os mengatakan pernah nyeri di perut kanan bawah. Os juga mengatakan tidak ada mual. Os juga mengatakan masih demam sepanjang hari disertai hilang nafsu makan. tidak ada darah dan lendir. Sistem urinarius h.berkurang dengan posisi membungkuk. Operasi d. BAB 1x sehari. dan tidak nyeri. tidak ada pasir. Penyakit terdahulu : (-) Asma (-) DM (-) Batu ginjal (-) Alergi (-)TB (-) Hepatitis (-) Tonsilitis 3 bulan SMRS. Nyeri yang dirasakan os mengganggu aktifitas os sehari-hari. Os merasa tidak ada perbaikan setelah minum obat dari dokter di klinik.. nyeri perut kanan bawah masih dirasakan oleh os yang disertai dengan mual dan demam. Os mengeluh belum BAB selama 4 hari. muntah dan demam. Mual masih dirasakan tetapi tidak sampai muntah. Sistem genitalis i. Sistem saraf e. Tetapi nyeri yang dirasakan tidak terlalu mengganggu aktifitasnya dan os masih bisa berjalan. sehingga os memutuskan untuk ke RSUD Syamsudin. warna kuning jernih. b. Os berobat ke dokter klinik lalu merasa membaik. Nyeri berlangsung kurang lebih 3 minggu. dan nyeri menjalar ke perut atas dan perut kiri bawah. Sistem musculoskeletal : tidak pernah : tidak pernah : tidak pernah 2 . nyeri seperti ditusuk-tusuk. BAK 4 x sehari. 1 hari SMRS. 4. Riwayat keluarga (-) Hipertensi (-) Jantung (-) Alergi (-) DM (-) Stroke 5. Sistem gastrointestinalis : tidak pernah g.

reflex cahaya langsung +/+ . Wh (-) Vesikuler. thyromental distance 7 cm : simetris. nyeri tekan (-) Perkusi Kiri Kanan Auskultasi Kiri sonor sonor Vesikuler. tidak sianosis. mukosa basah : KGB tidak membesar. Rhonki (-).II. Rhonki (-). Wh (-) 3 .5 0 C : 120/80 mmHg : 22 x / menit : 82 x / menit : cukup : turgor normal. reflex cahaya tidak langsung +/+. nyeri tekan (-) Kanan Benjolan (-). Wh (-) Kanan Vesikuler. Rhonki (-). conjungtiva anemis (-) Hidung Mulut Leher Dada : septum nasi ditengah. Rhonki (-). nyeri tekan (-) Benjolan (-). STATUS UMUM Keadaan umum Kesadaran Suhu Tekanan darah Pernapasan Nadi Keadaan Gizi Kulit Kelenjar limfe Kepala Mata : tampak sakit sedang : compos mentis : 37. tidak ikterik : tidak membesar : normocephali : isokor. pembuluh darah tidak tampak kolateral Paru-paru Depan Inspeksi Kiri Simetris saat statis dan dinamis Kanan Simetris saat statis dan dinamis Palpasi Kiri Benjolan (-). nyeri tekan (-) Sonor Sonor Vesikuler. polip (-) : malampati 1 . sclera ikterik (-). Wh (-) Belakang Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis Benjolan (-).

Shifting dullness (-) Bising usus (+) Normal III. Obturator sign (+) 4 . datar . Teraba ictus cordis di sela iga V 1 jari medial linea midclavicula kiri. Batas kanan : ICS IV 1 jari lateral linea parasternal kanan. tidak membesar Defense muscular (-).jaringan parut (-). Rovsing sign (+). teraba massa pada region inguinal dextra sebesar 3 cm x 2 cm. nyeri ketok CVA(-/-) Murphy sign (-) Timphani. umbilicus hernia (-). Auskultasi BJ I-II reguler murni. STATUS LOKALIS Pemeriksaan Abdomen Inspeksi Palpasi : simetris.lain Perkusi Auskultasi Refleks dinding perut Tidak teraba pembesaran Tidak teraba pembesaran Ballotement (-/-). bruit (-) : Psoas sign (+). murmur (-).Jantung Inspeksi Palpasi Bentuk dada simetris. Nyeri tekan titik MC Burney (+). Perkusi Batas atas : ICS II linea parasternal kiri. massa periapendikular sebesar 3x2 cm di regio inguinal dextra Hati Limpa Ginjal Lain. simetris. tidak tampak ictus cordis. gallop (-) Perut Inspeksi Palpasi Dinding perut Datar. Perkusi Auskultasi Lain-lain : timpani di area umbilikal : Bising usus (+) normal . tumor (-).pulsasi (-) : defense muscular (-). Blumberg sign (+). nyeri tekan (+). Batas kiri : ICS V 1 jari medial linea midclavicula kiri.

tumor(-).000 /ul Bleeding time : 2 menit 15 detik Clotting time : 8 menit V. jaringan parut (-) Palpasi : defense muscular (-).1 % : 210. Rovsing sign (+).    Perkusi Auskultasi Lain-lain : timpani area umbilikal : Bising usus (+) normal . 50C : Pemeriksaan Abdomen Inspeksi : simetris. Obturator sign (+) Pada pemeriksaan Laboratorium tanggal 6 Februari 2012 didapatkan Leukosit 12. Keluhan disertai demam. RESUME Pasien laki-laki 21 tahun datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah sejak 3 hari SMRS. umbilikus hernia(-). Sebelum ini pasien pernah mengalami keluhan nyeri seperti ini selama kurang lebih 3 minggu. Blumberg sign (+). mual dan hilang nafsu makan. LABORATORIUM Tanggal 6 Februari 2012 Hb Leukosit Ht Trombosit : 12.900 / ul : 37.IV. nyeri semakin bertambah saat batuk dan berjalan namun berkurang saat pasien membungkuk. datar.bruit (-) : Psoas sign (+). Pasien sulit BAB. pulsasi(-). 5 . teraba massa pada region inguinal dextra sebesar 3 cm x 2 cm.900 /ul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: Keadaan Umum : tampak sakit sedang Kesadaran Tekanan darah Nadi Pernapasan Suhu Status lokalis   : compos mentis : 120/80 mmHg : 82 x/menit : 22 x/menit : 37. 2 g/dl : 12. Nyeri tekan titik MC Burney (+). nyeri bersifat kolik dan tidak menjalar.

Medikamentosa    X. Non Medikamentosa ■ Bed Rest 2.VI. PEMERIKSAAN ANJURAN  USG abdomen IX. KOMPLIKASI Perforasi Peritonitis PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanationam : dubia ad bonam : bonam : bonam 6 . PENGOBATAN 1. DIAGNOSIS KERJA Apendisitis infiltrate VII. DIAGNOSIS BANDING   Gastroenteritis Urolitiasis pyelum/ureter kanan VIII. Cefotaxim injeksi 2x1 g Metronidazole infuse 3x100 ml Ranitidine injeksi 2x50 mg   XI.

FISIOLOGI Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. pada bayi. apendiks terletak intraperitoneal. nyeri visceral pada apendisitis bermula di sekitar umbilicus. dibelakang kolon asendens. sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. Vagus yang mengikuti a. atau ditepi lateral kolon asendens. Pada 65% kasus. ANATOMI Appendix merupakan organ berbentuk cacing. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks. Immunoglobulin itu sangat 7 . lebar pada pangkalnya dan menyempit kea rah ujungnya. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk apendiks. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. apendiks akan mengalami gangrene.apendikularis yang merupakan arteri kolateral. Jika arteri ini tersumbat. Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada pathogenesis apendisitis. Lendir itu normalnya dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir kedalam sekum. yaitu di belakang sekum.torakalis X. misalnya karena thrombosis pada infeksi.PEMBAHASAN KASUS A. ialah IgA. appendix berbentuk kerucut. Namun demikian. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu. apendiks terletak retroperitoneal. Perdarahan apendiks berasal dari a.apendikularis. panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran 3-15 cm) dan berpangkal di sekum. Pada kasus selebihnya. B.mesenterika superior dan a. oleh karena itu. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.

PATOFISIOLOGI Patologi apendisitis dapat dimulai dimukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut. Namun demikian. Massa 8 . Usaha pertahanan tubuh adalah membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum. ETIOLOGI Apendisitis akut merupakan infeksi bacteria. serta luasnya peritonitis. pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E. D. hystolitica. usus halus atau adneksa sehingga terbentuk masa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrate apendiks. C. Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal. Didalamnya dapat terjadi proses nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. ukuran massa. Berbagai hal berperan sebagai factor pencetusnya. Pada massa periapendikular terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi pendindingan oleh omentum. dan cacing askariasis dapat pula menyebabkan sumbatan. Pasien dewasa dengan massa periapendikular yang terpancang dengan pendindingan sempurna dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotic sambil diawasi suhu tubuh. apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat. Apendisitis infiltrate terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi pendindingan oleh omentum dan atau keluk usus. Jika tidak terbentuk abses. tumor apendiks. yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Umumnya massa apendix terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila tidak terjadi peritonitis generalisata. Bila sudah tidak ada demam. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Bila terjadi perforasi akan terbentuk abses apendiks. fekalit (feses keras). Sumbatan lumen apendiks merupakan factor yang diajukan sebagai factor pencetus disamping hyperplasia jaringan limf. massa periapendikular hilang dan leukosit normal penderita boleh pulang dan apendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin.

lekosit dan netrofil normal. tetapi akan membentuk jaringan parut yang akan menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya. 2. ke titik Mc Burney.3 Selain gejala klasik. dan mengedan. Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna.2. Massa apendix dengan proses meradang telah mereda ditandai dengan keadaan umum telah membaik.apendix dengan proses radang yang masih aktif ditandai dengan keadaan umum masih terlihat sakit. suhu masih tinggi. tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium.5 -38. Gejala awal yang khas. Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah. terdapat tanda-tanda peritonitis. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual muntah.5 derajat celcius. teraba massa berbatas tegas dengan nyeri tekan ringan. Namun terkadang. tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m. tidak ada tanda peritonitis. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan sebagai mengalami eksaserbasi akut. lekositosis. Terkadang apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah sekitar 37. tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal.psoas mayor yang menegang dari dorsal. sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang. dan pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa jam. Bila apendiks terletak di rongga pelvis : 9 . yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. yaitu di belakang sekum (terlindung oleh sekum).1. GAMBARAN KLINIS Appendisitis infiltrat didahului oleh keluhan appendisitis akut yang kemudian disertai adanya massa periapendikular.4 1. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal. suhu tidak tinggi lagi. bernapas dalam. dan pergeseran ke kiri. E. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan. ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari apendisitis. Berikut gejala yang timbul tersebut. batuk.

bila suhu lebih tinggi. karena rangsangannya dindingnya. batuk. mengedan F. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses periapendikuler.50C. sehingga peristalsis meningkat. Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas. dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada waktunya. Peristaltic usus sering normal. Pada region inguinal dextra akan teraba massa dengan konsistensi kenyal yang diakibatkan karena mikroperforasi yang ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus. PEMERIKSAAN Demam biasanya ringan. Pada apendisitis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri. pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare). Bisa terdapat perbedaan suhu aksiler dan rectal sampai 1 0C.5-38.1 Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung:    Nyeri kanan bawah pada tekanan kiri (rovsing sign) Nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan (Blumberg sign) Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak.  Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih. bisa disertai nyeri lepas. berjalan. DIAGNOSIS 10 . sehingga sulit dilakukan diagnosis. seperti bernafas dalam. dengan suhu sekitar 37. G. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri diperut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing. mungkin sudah terjadi perforasi. peristaltic dapat hilang akibat ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat apendisitis perforate. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas. akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum. Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum. Nyeri tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada region iliaka dekstra. sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi perforasi. pada inspeksi perut tidak didapatkan gambaran spesifik.

3. laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal. sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG abdomen. terlebih pada kasus dengan komplikasi. yang diikuti dengan adanya massa yang nyeri di region iliaka kanan dan disertai demam. mengarahkan diagnosis ke massa atau abses apendikuler. Penegakan diagnosis didukung dengan pemeriksaan fisik maupun penunjang.3 I. apendiks dengan proses masih radang yang masih suhu aktif ditandai masih dengan: tinggi keadaan umum pasien terlihat sakit. Hiperperistaltik sering ditemukan. tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya teraba massa dengan batas jelas dengan nyeri tekan ringan 3. keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit. Massa 1. muntah mendahului rasa sakit. Foto polos 11 . Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat tanda-tanda peritonitis. Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. pemeriksaan lokal abdomen tenang. Eritrosituria sering ditemukan. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan Bayangan tubular dengan target sign dan dinding tampak menebal.Riwayat klasik apendisitis akut. laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran ke kiri. tubuh 2. Massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda dengan ditandai dengan 1. Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan apendisitis akut.  DIAGNOSIS BANDING Gastroenteritis : mual.  Urolitiasis dextra/ ureterolitiasis dextra: Riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas. H. PEMERIKSAAN ANJURAN Pemeriksaan jumlah leukosit membantu menyingkirkan adanya abses dalam rongga peritonium. Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis apendisitis infiltrate. Radiologi : terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. suhu tubuh tidak tinggi lagi 2. Pada kebanyakan kasus terdapat leukositosis.

Nyeri tekan dan defans muskuler di seluruh perut. K. oligouria. Perforasi appendix akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang ditandai dengan demam tinggi. dan bunyi usus menghilang L. nyeri makin hebat meliputi seluruh perut dan perut menjadi tegang dan kembung. dan penderita usia lanjut jika secara konservatif tidak membaik atau berkembang menjadi abses. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. PENATALAKSANAAN Apendiktomi direncanakan pada infiltrate periapendikular tanpa pus yang telah ditenangkan. lekositosis. dianjurkan operasi secepatnya. Dengan begitu. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus menyebabkan dehidrasi. Pada anak kecil. J. yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian dilakukan apendiktomi. gangguan sirkulasi. Abdomen tegang. kaku. PROGNOSIS 12 . muntah. Baru setelah keadaan tenang. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis generalisata. Jika ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun dan pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak menunjukan tanda radang dan abses dapat dipertimbangkan membatalkan tindakan bedah. nyeri tekan. peristaltik usus menurun sampai menghilang karena ileus paralitik. nyeri abdomen. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. Gejala : demam.perut atau urografi intravena dapat memastikan penyakit tersebut.  Peritonitis : Peradangan peritoneum merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. dan mungkin syok. Pielonefritis sering disertai demam tinggi. Kalau sudah terjadi abses dianjurkan drainase saja dan apendiktomi dikerjakan setelah 6-8 minggu kemudian. KOMPLIKASI Beberapa komplikasi yang dapat terjadi :  Perforasi : Keterlambatan penanganan merupakan alasan penting terjadinya perforasi. Keadaan ini biasanya terjadi akibat penyebaran infeksi dari apendisitis. nyeri kostovertebral di sebelah kanan dan piuria. menggigil. wanita hamil. Sebelumnya pasien diberi antibiotic kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob.

PENCEGAHAN Sering makan makanan berserat dan cukup minum air.Apendiktomi yang dilakukan sebelum perforasi prognosisnya baik. M. Kematian dapat terjadi pada beberapa kasus. Setelah operasi masih dapat terjadi infeksi pada 30% kasus apendix perforasi atau apendix gangrenosa. 13 .

terjadi penyebaran kontaminasi didalam ruang atau rongga peritoneum akan menimbulkan peritonitis generalisata. gangrenosa apendisitis. Apabila massa mengecil pembedahan dapat dibatalkan tetapi apabila massa tetap dan nyeri perut pasien bertambah berarti sudah terjadi abses dan massa harus segera dibuka dan dilakukan drainase. lymfoma maligna intra abdomen. pemeriksaan fisik dan penunjang yang mendukung. o terjadi apendisitis infiltrat jika pertahanan tubuh baik (massa lama kelamaan akan mengecil dan menghilang) o apendisitis kronis. 14 . Dimulai dari acute focal apendisitis. Apendisitis infiltrat adalah proses radang apendiks yang penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum dan usus-usus dan peritoneum disekitarnya sehingga membentuk massa (appendiceal mass). Umumnya massa apendiks terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila tidak terjadi peritonitis umum. adneksitis ataupun kista ovarium terpuntir. 4. apendisitis tuberkulosa. 3. Terapi appendisitis infiltrat adalah operasi elektif appendiktomy jika massa dianggap tenang dengan sebelumnya diberikan terapi konservatif dengan kombinasi antibiotik dosis tinggi untuk kuman aerob dan anaerob selama 6-8 minggu.KESIMPULAN 1. 5. Etiologi dan patofisiologi appendisitis infiltrat diawali oleh adanya apendisitis akut. amuboma. (tahap pertama dari apendisitis yang mengalami komplikasi) dapat terjadi 3 kemungkinan : o perforated apendicitis. Diagnosis apendisitis infiltrat dapat dibingungkan dengan penyakit lain pada kuadran kanan abdomen dengan massa diantaranya tumor cekum. Apendisitis infiltrat merupakan komplikasi dari apendisitis akut. Komplikasi yang dapat terjadi yaitu perforasi apendisitis yang dapat mengakibatkan peritonitis yang pada akhirnya akan terjadi kegagalan organ dan kematian. acute suppurative appendicitis. Appendisitis infiltrat dapat didiagnosis dengan didasari anamnesis adanya riwayat apendisitis akut dengan tanda khasnya. merupakan serangan ulang apendisitis yang telah sembuh. 2. Massa apendiks lebih sering dijumpai pada pasien berumur lima tahun atau lebih karena daya tahan tubuh telah berkembang dengan baik dan omentum telah cukup panjang dan tebal untuk membungkus proses radang. Komplikasi terjadi biasanya akibat keterlambatan diagnosa apendisitis akut. penyakit crohn. dan juga kelainan ginekolog seperti KET.

Blumberg sign (+). Penatalaksanaan bed rest dan konservatif dengan antibiotic kombinasi untuk bakteri aerob dan anaerob. nyeri tekan titik Mc Burney (+). Rovsing sign (+). 15 . Diusulkan pemeriksaan USG abdomen. teraba massa periapendikular berukuran 3x2 cm di region inguinal dextra.900 / ul.Berdasarkan anamnesa didapatkan pasien nyeri perut kanan bawah sejak 3 bulan lalu selama ±3 minggu dan kambuh lagi saat ini sejak 5 hari SMRS. Hasil laboratorium menunjukkan peningkatan jumlah leukosit yaitu 12. Maka kasus ini didapatkan diagnosis Apendisitis infiltrat. Nyeri kolik dan tidak menjalar. Dari pemeriksaan abdomen didapatkan defans muskuler (+).

... 139(5): 495-500 16 . Apendiks. BMJ. 9 September 2006.DAFTAR PUSTAKA i. 2005. 333: 530-536. Richards.... Humes. ReMine. I. R. J. “Usus Halus. S. “Acute Appendicitis”. dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. “Advantages of Focused Helical Computed Tomographic Scanning With Rectal Contrast Only vs Triple Contrast in the Diagnosis of Clinically Uncertain Acute Appendicitis”. Archives of Surgery.com/cgi/content/full/333/7567/530..hlm. http://archsurg. http://www. Dan Anorektum”. EGC. J.amaassn. Mittal. iii. Mei 2004.D. Jakarta. R. Patel.. V. Sjamsuhidajat. Simpson.. Goliath. ii. Edwards.F.. M.639-645. W. Edisi 2. D. Kolon.... B.K. Sabir. Alkalay. editor.M.bmj. Jong.org/cgi/content/full/139/5/495. J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful