You are on page 1of 39

2010

BAHAN PENGISI TABLET

ADAM DZULFAQIH AMRI ADE FITHROTINNADHIROH AJENG AYU FEBRIANI BAYYINAH DEWANTI ROSYANA SIVIA NURULLIANA PHARMACY 4- A UIN SYAHID JAKARTA 3/16/2010

TABLET Adalah sediaan padat, dibuat secara kempa cetak, berbentuk rata atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. (Moh. Anief; 1997)  Kriteria Sediaan Tablet (Moh. Anief; 1997) 1. Memenuhi keseragaman ukuran Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet. 2. Memenuhi keseragaman bobot 3. Memenuhi waktu hancur 4. Memenuhi keseragaman isi zat berkhasiat 5. Memenuhi waktu larut Tablet harus diuji menegenai kekerasan tablet dengan alat Hardness tester dan juga kerapuhan tablet dengan alat Friability tester.  Keuntungan Sediaan Tablet (The Theory & Practice of Industrial Pharmacy 2 edisi ke-3, Lachman Hal 644 ) 1. Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih 2. Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis 3. Bebas dari air sehingga potensi adanya hidrolisis dapat dicegah atau diperkecil 4. Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil sehingga memudahkan proses pembuatan, pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan 5. Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat (merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak), memudahkan pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan

6. Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan volume yang kecil 7. Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih stabil 8. Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sukar larut dalam air 9. Zat aktif yang rasanya tidak enak akan berkurang rasanya dalam tablet yang telah disalut 10.Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana, cepat, sehingga biaya produksinya lebih rendah 11.Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik

 Kerugian Sediaan Tablet (The Theory & Practice of Industrial Pharmacy 2 edisi ke-3, Lachman Hal 645) 1. Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam keadaan tidak sadar, para lansia, dan anak-anak dibawah umur) 2. Formulasi tablet cukup rumit, antara lain : • Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat karena sifat amorfnya, flokulasi atau rendahnya berat jenis • Zat aktif yang sulit dibasahi (hidrofob), lambat melarut, dosisnya cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran cerna, atau kombinasi dari sifat tersebut, akan sulit untuk diformulasi (harus diformulasi sedemikian rupa). • Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak disenangi, atau zat aktif yang peka terhadap oksigen, atmosfer dan kelembaban udara, memerlukan enkapsulasi sebelum dikempa. Dalam hal ini sediaan kapsul menjadi lebih baik daripada tablet.

 Permasalahan Dalam Pembuatan Tablet

1. OTT zat aktif (meleleh, berubah warna, terurai, dan sebagainya) 2. Stabilitas zat aktif : • Untuk zat yang rusak oleh adanya air dibuat dengan metode pembuatan tablet yang tidak menggunakan air dan perlu diperhatikan pelarut yang digunakan untuk granulasi. • Untuk zat yang mudah teroksidasi dengan pemanasan dan sinar UV dibuat dengan metode pembuatan tablet yang tidak memakai pemanasan dan sinar UV dalam prosesnya. • Untuk zat yang higroskopis jangan menggunakan metode granulasi basah memakai mucilago amyli karena massa cetak yang terjadi sulit untuk dikeringkan. Hal ini dapat diatasi dengan menambahkan adsorben seperti aerosol < > 30%, dapat dibuat dengan GK (granulasi kering).

3. Pemilihan bahan pembantu yang cocok Untuk pemilihan eksipien perlu diperhatikan OTT dengan zat aktif. Di samping itu, bahan pembantu yang digunakan harus mempunyai titik leleh yang cukup tinggi sehingga pada pencetakan tidak meleleh. 4. Jumlah fines total Jumlah fines yang ditambahkan pada masa cetak maksimal 30%, idealnya 15%. Jika lebih besar akan menyusahkan pada pencetakan tablet. 5. Perbandingan bobot jenis dengan zat pembawa, jika terlalu jauh hendaknya jumlah fines sesedikit mungkin. 6. Konsentrasi Mg stearat sebagai lubrikan maksimal 2%, jika berlebih maka akan terjadi laminasi.. 7. Penggunaan mucilago amyli sebagai pengikat pada proses pembuatan tablet akan mempersulit disolusi zat aktif dari dalam granul karena

mucilago

amyli

yang

sudah

kering

sulit

ditembus

air.

Untuk

mengatasinya perlu ditambahkan pembasah (Tween 80 0,05%-0,15%) sehingga tablet mempunyai waktu hancur yang lebih baik.

 Permasalahan Dalam Pencetakan Tablet 1. Capping : Pemisahan sebagian atau keseluruhan bagian atas atau

bagian bawah tablet dari bahan tablet. 2. Laminasi : Pemisahan bagian tablet menjadi dua bagian atau lebih 3. Chipping : Keadaan dimana bagian bawah tablet terpotong 4. Cracking : Keadaan dimana tablet pecah, lebih sering di bagian atas tengah 5. Picking : Perpindahan bahan dari permukaan tablet dan menempel

pada permukaan punch (mesin pembuat lobang) 6. Sticking adhesi) 7. Mottling : Keadaan dimana distribusi zat warna pada permukaan tablet : Keadaan dimana granul menempel pada dinding die (ada

tidak merata Masalah Lain Pada Pencetakan Tablet Secara Khusus 1. Lengket pada Cetakan

Manifestasinya : • Melekat pada die dan sulit untuk dikeluarkan • Bunyi keras pada mesin • Tablet kopak, jelek, sisi tablet kasar, kadang-kadang hitam Penyebab : ♣ Antiadheren kurang ♣ Lubrikan kurang atau tidak tepat Contoh : Tablet asetosal dengan Mg stearat lengket, seharusnya digunakan asam stearat (yang mikronize karena fungsi lubrikan adalah antar partikel sehingga kalau halus akan terselimuti oleh lubrikan).

♣ Kandungan air (aspek kadar air) tinggi akan menyebabkan penempelan pada die, sedangkan kadar air rendah dapat menyebabkan laminating atau capping. ♣ Kemungkinan karena interaksi kimia atau fisika, contoh interaksi fisika etoksi benzamin dengan kafein, gliseril guaiakolat dengan prometazin HCl, yaitu terjadinya pelelehan sehingga adhesivitas tinggi dan akhirnya menjadi lengket. ♣ Bahan baku dengan titik leleh sangat rendah, sehingga kesulitan dalam masalah pencetakan, contoh : Ibuprofen, Gliseril guaiakolat, Siprofloksasin (Antibiotik turunan Imidazol).

Penyelesaian Masalah : • Meningkatkan antiadheren dan lubrikan • Penggantian lubrikan yang cocok • Mengurangi jumlah granul yang kasar • Mengurangi jumlah air tapi jangan sampai berada di bawah optimum, karena tablet menjadi kurang baik. Jika sudah diketahui jumlah pembasah yang paling baik maka agar pembasahnya pas, dilakukan dengan menambahkan pembasah ke dalam larutan pengikat, yaitu bahan pembantu yang tidak menguap tapi basah, contoh Propilen glikol atau gliserin. • Jika terjadi lengket mungkin karena punch dan die yang rusak, sebab kalau cacat pada punch, maka akan melekat sehingga ratakan punch dan die. • Kalau mungkin pencetakan pada suhu rendah dan humuditas rendah karena khusus untuk bahan aktif dengan titik leleh rendah atau terjadi campuran eutektik maka zat campuran eutektik semakin mudah menyerap air. Contoh : Kombinasi ampisilin dengan asam klavulanat, dimana asam klavulanat mudah hancur dengan kelembaban dan temperatur yang tinggi. Oleh karena itu, pembuatannya dilakukan dalam suhu dan RH yang rendah. • Perubahan bahan pengisi, bahan pengisi dengan titik leleh tinggi dan dapat mengadsorbsi, seperti SiO2 dan aerosil (adsorben). Penambahan aerosil pada tablet akan menyebabkan penampilan tablet yang bagus, jernih dan mengkilat, namun waktu hancur semakin panjang. 2. Lengket pada pons Manifestasi : • Terkelupasnya bagian tablet karena permukaan tablet melekat pada pons.

Penyebab sama dengan tadi: • Kurangnya anti adheren • Kandungan air tinggi • Lengket pada pons Penanggulangannya sama : ♣ Ubah ukuran granul ♣ Tambah adsorben ♣ Perbaiki alat; Alat dipoles, sehingga adhesivitas tablet dan pons sangat kecil. 3. Capping/Laminating Capping : copot Laminating : belah Penyebab : ♣ Terjebaknya udara pada tablet karena granul sangat halus • Porositas tinggi, khususnya pada penggunaan pons yang baru, yaitu dengan adanya udara yang terjebak antara pons dan die ♣ Kekerasan yang terlalu rendah atau terlalu tinggi (ada yang optimal) ♣ Granul yang terlalu kering, cara : tambahkan dalam pelarut pengikat tambahkan bahan cair dan tidak mudah menguap ♣ Zat pengikat yang kurang tepat. ♣ Pengikat yang jumlahnya terlalu sedikit (tepat tetapi jumlahnya kecil) Penanggulangannya: • Pembuatan granul diulang jika penyebabnya adalah kelebihan atau kekurangan pengikat atau tidak cocok. • Tambahkan pengikat kering seperti gom arab, sorbitol, PVP, sakarin, NHPC, LHPC 21, Metilselulosa dengan konsistensi tinggi, sehingga meningkatkan kekompakan tablet. • Pengurangan ukuran partikel dari granul, karena spesifikasi ukuran harus sama. 4. Sumbing atau retak-retak pada permukaan tablet Manifestasinya : Akibat dari ketiga masalah sebelumnya : laminating, lengket atau kadangkadang karena pons yang terlalu dalam. Penyelesaian : • Pons dan die supaya di poles

• Untuk ukuran granul yang besar, kurangi partikel granul. • Diganti pons dan die • Tambahkan pengikat kering 5. Keseragaman bobot (FI III) Penyebab pertama : - Aliran kurang baik - Distribusi ukuran granul yang tidak tepat, sebab dengan demikian mungkin saja timbul porositas tinggi, yang tidak dapat menjamin keseragaman bobot karena adanya distribusi baru pada saat pencetakan. - Sistem pencampuran yang tidak benar, sehingga mesin harus terkunci baik terutama pons bawah karena dapat berubah-ubah sehingga bobot berbedabeda. Penyelesaian masalah : - Perbaiki atau ulangi proses pembuatan granul, perbaikan ukuran granul, pengikat, granulasi, perbaikan pencampuran massa cetak. - Perbaikan mesin tablet yaitu validasi mesin tablet. - Kecepatan aliran dapat menyebabkan bobot tablet yang berbeda-beda. Penyebab kecepatan aliran : kandungan air tinggi sehingga adesivitas tinggi dan aliran menjadi kurang ; porositas tinggi, udara terjebak banyak karena fines dan pengikat yang tidak cocok atau kurang. Jumlah fines meningkat, porositas meningkat, aliran tidak baik. Penyebab kedua : distribusi granul tidak baik. Penyelesaian Masalah : - Kurangi kadar air - Pembuatan granul baru sehingga menyebabkan porositas kecil, distribusi granul optimal sehingga aliran bagus. 6 Keseragaman Kandungan (FI IV hlm.999) Dilakukan bila : • Kadar bahan aktif dibawah 50 mg • Bila perbandingan kadar bahan aktif dengan bobot tablet lebih kecil dari pada 50% Penyebab jeleknya keseragaman kandungan : • Karena aliran jelek

• Pencampuran pregranulasi tidak benar maka tentukan dulu homogenitas zat aktif dalam granul (di pabrik) • Karena kadar fines tinggi maka porositas tinggi (bobot berbeda-beda) • Kandungan air yang tinggi sehingga aliran kurang baik • Kondisi mesin tidak benar. Penyelesaian masalah • Perbaikan ukuran granul meliputi pencampuran, perubahan pengikat, granulasi. • Kalibrasi mesin.  Berdasarkan Metode Pembuatan, tablet terdiri atas : 1. Tablet Kempa Dibuat dengan cara pengempaan dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan pons atau cetakan baja. 2. Tablet Cetak Dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah pada lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada pembentukan kristal yang terbentuk selama pengeringan, tidak tergantung pada kekuatan yang diberikan. 3. Granulasi Basah Zat berkhasiat, pengisi, dan penghancur dicampur baik-baik, lalu dibasahi engan larutan pengikat, bila perlu ditambahkan pewarna. Setelah itu diayak menjadi granul, dan dikeringkan dalam pengering pada suhu 400- 500C. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan bahan pelican dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet. Metode granulasi basah dan kering bertujuan untuk meningkatkan aliran campuran dan kemampuan obat untuk dikempa.(Moh. Anief;1997) 4. Granulasi Kering Zat berkhasiat, pengisi, dan penghancur bila perlu pengikat dan pelicin dicampur dan dibuat dengan cara kempa cetak menjadi tablet yang besar (slugging), setelah itu tablet yang jadi dipecah menjadi granul lalu

diayak, akhirnya dikempacetak menjadi tablet yang dikehendaki menjadi tablet. Metode ini untuk bahan-bahan yang tidak tahan terhadap panas dan kelembaban. (Moh. Anief;1997)

 Berdasarkan Tujuan Penggunaan, tablet terdiri atas (Teori dan Praktek Farmasi Industri, Lachman Hal 706-717) : 1. Tablet Kempa Tujuan Saluran Pencernaan a. Tablet Konvensional Biasa Tablet yang dibuat atau dikempa dengan siklus kompresi tunggal yang biasanya terdiri dari zat aktif sendiri atau kombinasi dengan bahan eksipien, seperti : • Pengisi (memberi bentuk) : laktosa • Pengikat (memberi adhesivitas atau kelekatan saat bertemu saluran pencernaan) : mucilago amyli, amilum • Desintegrator (mempermudah hancurnya tablet) b. Tablet Multi Kempa (Kempa Ganda) Adalah tablet konvensional yang dikompresi lebih dari satu siklus kompresi tunggal sehingga tablet akhir tersebut terdiri atas dua atau lebih lapisan, disebut juga sebagai tablet berlapis. Keuntungannya dapat memisahkan zat aktif yang inkompatible (tidak tersatukan). c. Tablet Lepas Lambat Tablet yang pelepasan zat aktifnya dimodifikasi sehingga tablet tersebut melepaskan dosis awal yang cukup untuk efek terapi yang kemudian disusul dengan dosis pemeliharaan sehingga jumlah zat aktif atau konsentrasi zat aktif dalam darah cukup untuk beberapa waktu tertentu. d. Tablet Lepas Tunda (Tablet Salut Enterik)

Adalah tablet yang dikempa yang disalut dengan suatu zat yang tahan terhadap cairan lambung, reaksi asam, tetapi terlarut dalam usus halus. e. Tablet Lepas Terkendali Yang pelepasan zat aktifnya terkendali pada waktu-waktu tertentu. f. Tablet Salut Gula Adalah tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapis lapisan gula baik berwarna atau tidak. Tujuannya adalah melindungi zat aktif terhadap lingkungan udara (O2, kelembaban), menutupi rasa dan bau yang tidak enak, menaikkan penampilan tablet. g. Tablet Salut Film Adalah tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, berwarna atau tidak dari bahan polimer yang larut dalam air, yang hancur cepat di dalam saluran cerna. Penyalutan tidak perlu berkali-kali. h. Tablet Efervescent Adalah tablet kempa yang jika berkontak dengan air menjadi berbuih karena mengeluarkan CO2. Tablet ini harus dilarutkan dalam air baru diminum. i. Tablet Kunyah Adalah tablet kempa yang mengandung zat aktif dan eksipien yang harus dikunyah sebelum ditelan.

2. Tablet Kempa Digunakan dalam Rongga Mulut a. Tablet Bucal Adalah tablet kempa biasa berbentuk oval yang ditempatkan di antara gusi dan pipi dalam rongga mulut, biasanya keras dan berisi hormon steroid. Bekerja sistemik, tererosi atau terdisolusi di tempat

tersebut dalam waktu yang lama (secara perlahan). Absorpsi terjadi melalui mukosa masuk peredaran darah. (Moh. Anief;1997)

b. Tablet Sublingual Adalah tablet kempa berbentuk pipih yang diletakkan di bawah lidah, berisi nitrogliserin. Biasanya untuk obat penyempitan pembuluh darah ke jantung (angina pectoris) sehingga harus cepat terlarut agar dapat segera memberi efek terapi. Diabsorbsi oleh selaput lendir di bawah lidah, karena bila melalui lambung akan rusak. (Moh. Anief;1997) c. Tablet Hisap atau Lozenges Adalah tablet yang mengandung zat aktif dan zat-zat penawar rasa dan bau, dimaksudkan untuk disolusi lambat dalam mulut untuk tujuan lokal pada selaput lendir mulut dan tenggorokan. Umumnya dignakan sebagai antiinfeksi. (Moh. Anief;1997) d. Dental Cones (kerucut gigi) Adalah suatu bentuk tablet yang cukup kecil, dirancang untuk ditempatkan di dalam akar gigi yang kosong setelah pencabutan gigi. Tujuannya biasanya untuk mencegah berkembang biaknya bakteri di tempat yang kosong tadi. 3. Tablet Kempa Digunakan Melalui Liang Tubuh a. Tablet Rektal Adalah tablet kempa yang mengandung zat aktif yang digunakan secara rektal (dubur) yang tujuannya untuk kerja lokal atau sistemik. b. Tablet Vaginal Adalah tablet kempa yang berbentuk telur (ovula) untuk dimasukkan dalam vagina yang di dalamnya terjadi disolusi dan melepaskan zat aktifnya. Biasanya mengandung antiseptik,

astringen. Digunakan untuk infeksi lokal dalam vagina dan mungkin juga untuk pemberian steroid dalam pengobatan sistemik. 4. Tablet Kempa Untuk Implantasi Berupa pellet, bulat atau oval pipih. Dibuat berdasarkan teknik aseptik, mesin tablet harus steril. Dimaksudkan untuk implantasi subkutan (untuk KB, 3-6 bulan, mencegah kehamilan). Sedangkan tablet hipodermik dilarutkan dalam air steril untuk injeksi dibawah kulit. (Moh. Anief;1997)

 Berdasarkan Rute Pemberian : 1. Tablet oral (dalam mulut) 2. Tablet rektal 3. Tablet Vaginal 4. Tablet Implantasi  Berdasarkan Penyalutan (Moh. Anief;1997) 1. Tablet bersalut kempa 2. Tablet salut gula 3. Tablet salut film (bersalut selaput) 4. Tablet bersalut enterik  Berdasarkan pelepasan zat aktif 1. Tablet lepas lambat 2. Tablet lepas terkendali 3. Tablet pelepasan biasa 4. Tablet lepas tunda  Komposisi Tablet

1. Zat Aktif • Zat Aktif Tidak Larut Air Cenderung digunakan untuk memberikan efek lokal pada saluran pencernaan (seperti antasida dan adsorben). Umumnya dipengaruhi oleh fenomena permukaan, maka perlu diperhatikan kemampuan redispersi bahan obat dari sediaan menghasilkan ukuran partikel yang halus dan luas permukaan yang tinggi. Contoh: Teofilin

• Zat Aktif Larut Air Cenderung digunakan untuk memberikan efek sistemik dengan terdisolusi dan teradsorbsi pada usus. Diharapkan dengan memberikan efek sistemik, rancangan bentuk sediaan harus cepat terlarut. Contoh: Parasetamol 2. Eksipien (Bahan Pembantu) Adalah zat yang bersifat inert secara farmakologi yang digunakan sebagai zat pembantu dalam formulasi tablet untuk memperbaiki sifat zat aktif, membentuk tablet, dan mempermudah teknologi pembuatan tablet. Eksipien harus memenuhi kriteria sebagai berikut : • Tidak toksik. • Tersedia secara komersial dengan mutu yang dapat diterima oleh semua negara tempat produk tersebut dikembangkan. • Harga relatif murah • Inert secara fisiologis • Tidak kontraindikasi dalam suatu golongan populasi • Stabil secara fisika dan kimia • Bebas dari kandungan bakteri patogen • Kompatible dengan zat warna dan bahan lainnya

Eksipien berdasarkan fungsinya dapat digolongkan sebagai berikut, diantaranya : a. Pengisi Adalah zat yang ditambahkan untuk menyesuaikan bobot dan ukuran tablet jika dosis zat aktif tidak cukup untuk membuat massa tablet, memperbaiki daya kohesi sehingga tablet dapat dikempa dengan baik, serta mengatasi masalah kelembaban yang mempengaruhi kestabilan zat aktif. Biasa digunakan saccharum lactis, amylum manihot, calcii phosphas, calcii carbonas, dan zat lain yang cocok. (Moh. Anief;1997) Sedangkan pada tablet khusus seperti tablet kunyah, pengisi dapat berguna untuk memberikan rasa yang lebih baik. Bahan pengisi harus memenuhi syarat sebagai berikut :(M.E Aulton:pharmaceutics, THE SCIENCE OF DOSAGE FORM DESIGN:2005) • Tidak bersifat toksik • Tersedia dalam jumlah yang cukup • Harganya cukup murah • Tidak boleh memiliki sifat yang paling berlawanan • Inert atau netral • Bebas mikroba • Tidak mengganggu warna • Stabil secara kimia dan fisika Beberapa senyawa yang dapat digunakan sebagai bahan pengisi tablet, diantaranya : (Pharmaceutical exicipient 2006)  Larut Air  Manitol Rumus molekul: C6H14O6 182.17 Pemerian: Putih, tidak berbau, serbuk Kristal atau butiran halus yang mudah

mengalir, mempunyai rasa yang manis, kira-kira semanis glukosa dan hampir semanis sukrosa, dan memberikan sensasi dingin di mulut. Secara mikroskopis, terlihat membentuk polymorphism. Contoh : Digunakan sebagai bahan pengisi pada vitamin B12 Density (bulk):
• •

0.430 g/cm3 for powder; 0.7 g/cm3 for granules.

Density (tapped):
• •

0.734 g/cm3 for powder; 0.8 g/cm3 for granules.

Density (true): 1.514 g/cm3 Konstanta diasosiasi: pKa = 13.5 at 18°C Flash point: <150°C Sifat alir: Serbuk bersifat kohesive, granul bersifat mudah mengalir. Heat of combustion: 16.57 kJ/g (3.96 kcal/g) Heat of solution: −120.9 J/g (−28.9 cal/g) at 25°C Melting point: 166–168°C Solvent Solubility at 20°C Alkalis Ethanol (95%) Ether Practically insoluble Glycerin Propan-2-ol Water 1 in 18 1 in 100 1 in 5.5 Mannitol digunakan pada aplikasi sediaan tablet kempa langsung, granul kering dan granul basah. Pada proses granulasi Soluble 1 in 83 Pada sediaan farmasi terutama digunakan sebagai pengisi pada formula tablet (10–90% b/b), bersifat tidak higroskopis. Kelarutan:

kandungan manitol memiliki keuntungan yaitu mudah kering. Pada sediaan tablet khusus dipakai pada sediaan antasid, tablet gliseril trinitrat, dan sediaan vitamin. Manitol secara umum digunakan sebagai bahan tambahan pada pembuatan tablet kunyah karena dingin, manis dan enak di mulut. Manitol stabil pada tempat kering dan larutan. Mannitol tidak mengalami reaksi Maillard. Manitol dapat menyebabkan efek laksatif bila dikonsumsi secara oral dalam jumlah yang besar. Jumlah manitol yang digunakan sebagai bahan tambahan tergantung pada tujuan pengobatan. Bagaimanapun, alergi, reaksi tipe hepersensitivitas mungkin tejadi ketika manitol digunakan sebagai bahan tambahan. Keuntungan :  Mempunyai rasa yang manis     Memberikan sensasi yang dingin di mulut. Bersifat tidak higroskopis. Granul bersifat mudah mengalir. Mudah kering pada poses granulasi.

 Selain sebagai bahan pengisi, manitol juga dapat digunakan sebagai bahan pemanis untuk menutupi rasa pahit. Kerugian :  Reaksi alergi, yang merupakan reaksi tipe hepersensitivitas

mungkin tejadi ketika manitol digunakan sebagai bahan tambahan.  Manitol dapat menyebabkan efek laksatif bila dikonsumsi

secara oral dalam jumlah yang besar. Sukrosa Sinonim : Gula bit; gula rotan; α-D-glucopyranosyl-β-Dfructofuranoside; gula murni; saccharose; gula. Nama kimia: β-Dfructofuranosyl-α-D-glucopyranoside [57-50-1]. Rumus empiris dan berat molekul: C12H22O11 342.30. Fungsi: Dasar obat yang mengandung gula; agen penyalut; agen penggranul; tambahan pelapis gula; suspending agent;

pemanis; pengikat tablet; pengisi tablet dan capsule; tablet filler; meningkatkan viskositas. Aplikasi dalam formula dan teknologi farmaseutik: Sukrosa secara luas digunakan oral dalam formula farmaseutik. Sukrosa sirup megandung 50–67% b/b sucrose, digunakan pada pembuatan tablet sebagai pengikat pada granulasi basah. Dalam bentuk serbuk, sukrosa bekerja sebagai pengikat kering (2–20% w/w) atau sebagai bulking agent dan pemanis pada tablet kunyah dan tablet isap. Tablet yang mengandung banyak sukrosa mungkin lebih keras dan sulit dihancurkan. Sirup sukrosa juga digunakan sebagai pembawa pada dosis cairan oral untuk mempertinggi kelezatan atau meningkatkan viskositas. Sukrosa juga digunakan sebagai pengisi pada freeze-dried protein products. Pemerian: Sukrosa adalah gula yang terdiri dari gula rotan (Saccharum officinarum Linné (Fam. Gramineae)), gula bit (Beta vulgaris Linné (Fam. Chenopodiaceae)), dan lain-lain. Tidak mengandung zat tambahan. Sukrosa berbentuk kristal tanpa warna, massa kristal atau serbuk kristal; tidak berbau dan mempunyai rasa yang manis. Density (bulk): 0.93 g/cm3 (crystalline sucrose); 0.60 g/cm3 (powdered sucrose). Density (tapped): 1.03 g/cm3 (crystalline sucrose); 0.82 g/cm3 (powdered sucrose). Density (true): 1.6 g/cm3 Konstanta diasosiasi: pKa = 12.62

Sifat alir: Kristal sukrosa bebas mengalir, dimana serbuk sukrosa bersifat cohesive solid. Melting point: 160–186°C (with decomposition) Moisture content: finely divided sucrose is hygroscopic and absorbs up to 1% water. Osmolarity:

a 9.25% w/v aqueous solution is isoosmotic with serum. Distribusi ukuran partikel: Serbuk sukrosa berwarna putih, serbuk granul yang tidak teratur. Material kristal terdiri dari kristal tidak berwarna, granul kubik kasar. Refractive index: n25D = 1.34783 (10% b/v aqueous solution)

Tabel kelarutan sukrosa Solubility at 20°C unless otherwise stated Practically insoluble 1 in 400 1 in 170 Sukrosa mempunyai kestabilan yang baik pada temperatur kamar dan kelembaban yang cukup, dapat menyerap sampai 1% kelembaban yang dibebaskan ketika panas mencapai 90°C. Sukrosa mengalami karamelisasi ketika panas di atas 160°C. Serbuk sukrosa dapat terkontaminasi oleh sisa logam berat, yang dapat menyebabkan ketidakstabilan bahan aktif seperti asam askorbat. Sukrosa juga dapat terkontaminasi oleh sulfat hasil proses pemurnian. Kandungan sulfat yang tinggi, dapat terjadi perubahan warna pada tablet salut. Mengkonsumsi sukrosa dapat menyebabkan kecemasan dan sebaik diperhatikan pada pasien diabetes mellitus atau metabolic sugar intolerance. Keuntungan :

Solvent

Chloroform Ethanol Ethanol (95%) Propan-2-ol Water

1 in 400 1 in 0.5 1 in 0.2 at 100°C

 Mempunyai rasa yang manis.  Sukrosa mempunyai kestabilan yang baik pada temperatur kamar dan kelembaban yang cukup, dapat menyerap sampai 1% kelembaban yang dibebaskan ketika panas mencapai 90°C.  Digunakan pada pembuatan tablet sebagai pengikat pada granulasi basah. Dalam bentuk serbuk, tablet kunyah dan tablet isap. sukrosa bekerja sebagai pengikat kering (2–20% w/w) atau sebagai bulking agent dan pemanis pada

 Sirup sukrosa juga digunakan sebagai pembawa pada dosis cairan oral untuk mempertinggi kelezatan atau meningkatkan viskositas. Sukrosa juga digunakan sebagai pengisi pada freeze-dried protein products. Kerugian :   Sukrosa mengalami karamelisasi ketika panas di atas 160°C. Waktu larutnya cepat karena bersifat higroskopis, maka perlu

dikombinasikan dengan sorbitol yang memiliki kelarutan lambat dan relatif tidak higroskopis.  Tablet yang mengandung banyak sukrosa mungkin lebih keras dan sulit dihancurkan.  Serbuk sukrosa dapat terkontaminasi oleh sisa logam berat,

yang dapat menyebabkan ketidakstabilan bahan aktif seperti asam askorbat. Sukrosa juga dapat terkontaminasi oleh sulfat hasil proses pemurnian. Kandungan sulfat yang tinggi, dapat terjadi perubahan warna pada tablet salut. Mengkonsumsi sukrosa dapat menyebabkan kecemasan.

Turunan sukrosa yang dapat digunakan untuk kempa langsung : a. b. c. Sugartab: 90-93% sukrosa, 7-10% gula invert Di Pac : 97% sukrosa, 3% modifikasi dekstrin Nu Tab : 95% sukrosa, 4% gula invert, 1% pati jagung,

Mg Stearat

 Sorbitol

Sinonim: C*PharmSorbidex; E420; 1,2,3,4,5,6hexanehexol; Liponic 70-NC; Liponic 76-NC; Meritol; Neosorb; sorbite; D-sorbitol; Sorbitol Instant; Sorbogem. Nama kimia :D-Glucitol ; Rumus empiris dan berat molekul: C6H14O6

182.17 ; Pemerian: Tidak berbau, putih atau hampir tidak berwarna, kristal, serbuk higroskopis. Mempunyai 4 gugus polymorphs dan 1 amorphous yang menunjukkan spesifikasi tersendiri bila diidentifikasikan dengan menggunakan meltingpoint. Kelarutan: Solvent Chloroform Solubility at 20°C Practically insoluble 1 in 25 Berfungsi sebagai humektan, pemanis, pengisi tablet dan kapsul. Sorbitol secara luas digunakan sebagai bahan tambahan pada formula farmaseutik, juga digunakan dengan luas pada kosmetik dan produk makanan. Sorbitol digunakan sebagai pengisi tablet baik dalam granulasi basah maupun kempa langsung. Terutama berguna pada tablet kunyah yang membrikan rasa yang manis, enak dan sensasi dingin. Pada formula kapsul digunakan sebagai pelapis dari gelatin. Sorbitol juga digunakan pada tablet salut film sebagai plasticizer. Sorbitol merupakan serbuk yang sangat higroskopis dan tingkat kelembabannya mencapai 60% pada 25°C. Sebaiknya hindari sorbitol pada formula tablet kempa langsung. Pada sediaan cair sorbitol digunakan sebagai pembawa gula bebas dan sebagai penstabil obat, vitamin, dan suspensi antacid. Sorbitol juga digunakan pada injeksi dan sediaan topical dan obat osmotic laksative. Keasaman/kebasaan: pH = 4.5–7.0 for a 10% b/v aqueous solution. Density: Water Density (bulk): 0.448 g/cm3 1 in 0.5 1.49 g/cm3

Ethanol (95%) Ethanol (82%) Ethanol (62%) Ethanol (41%) Ethanol (20%) Ethanol (11%) Ether

1 in 8.3

1 in 2.1

1 in 1.4

1 in 1.2

1 in 1.14

Practically insoluble Slightly soluble

Methanol

Density (tapped): 0.400 g/cm3 Density (true): 1.507 g/cm3 Sifat alir: Sifat alir bergantung pada ukuran partikel dan tingkat sorbitol yang digunakan. Tingkat serbuk yang halus cenderung sifat alir yang jelek, sedangkan tingkat granular mempunyai sifat alir yang baik. Heat of solution: −110.9 J/g (–26.5 cal/g) Melting point: Anhydrous form: 110–112°C; Gamma polymorph: 97.7°C; Metastable form: 93°C. Keuntungan :
 Sorbitol cocok pada kebanyakan bahan tambahan, stabil pada

udara, katalis, dan dingin, mengencerkan asam dan alkalis, tidak mudah terbakar, tidak karat, dan tidak menguap.  Mempunyai daya kompaktibilitas dan kompresibilitas yang baik karena ukuran partikelnya lebih kecil dibanding sukrosa.
 Sorbitol juga berasa manis, kira-kira 50–60% dari kemanisan

sukrosa.
 Berguna pada tablet kunyah yang memberikan rasa yang

manis, enak dan sensasi dingin. Kekurangan :
 Sorbitol merupakan gula yang relatif mahal.  Sorbitol merupakan serbuk yang sangat higroskopis dan tingkat

kelembabannya mencapai 60% pada 25°C. Sebaiknya hindari sorbitol pada formula tablet kempa langsung.

Laktosa (Gula Susu) Nama kimia : O-β-D-Galactopyranosyl-(1→4)-α-Dglucopyranose monohydrate ; Rumus empiris dan berat molekul: C12H22O11·H2O 360.31 Merupakan bahan pengisi yang banyak digunakan dalam pembuatan tablet. Biasanya digunakan

laktosa dalam bentuk serbuk sebagai bahan pengisi tablet yang dibuat secara granulasi basah. Secara signifikan berpengaruh pada kekerasan dan daya serap air. Laktosa adalah gula pereduksi bereaksi dengan amin menghasilkan reaksi Maillard. Pengisi yang paling umum memiliki dua bentuk, yaitu hidrat dan anhidrat. Untuk granulasi basah memakai laktosa hidrat. Karena laktosa anhidrat tidak mengalami reaksi Maillard (zat aktif mengandung amina dengan adanya logam stearat), tetapi menyerap lembab. Berfungsi: pengikat, pengisi untuk serbuk kering inhaler; pengikat tablet; pengisi tablet dan kapsul. Laktosa juga digunakan pengisi pada serbuk kering hirup. Berbagai tingkat laktosa mempunyai sifat yang berbeda seperti distribusi ukuran partikel dan sifat alir. Hal ini dipilih yang paling cocok dalam aplikasinya; sebagai contoh, ukuran partikel dipilih untuk kapsul sering bergantung pada tipe mesin cetak kapsul yang digunakan. Biasanya, ukuran fines laktosa digunakan dalam sediaan tablet dengan metode granulasi basah atau ketika proses penggilingan, sebaiknya ketika proses pencampuran fines dengan bahan lain menggunakan bahan pengikat. Kempa langsung laktosa monohidrat tersedia sebagai granul / gumpalan αlaktosa monohidrat, yang mengandung sejumlah kecil laktosa anhidrat. Kempa langsung sering digunakan sebagai pembawa obat dalam jumlah yang lebih rendah dalam tablet yang dibuat tanpa granulasi. Dalam keadaan padat, laktosa muncul sebagai isomerik berbagai bentuk, tergantung pada kondisi kristalisasi dan pengeringan, yaitu α-laktosa monohidrat, β-laktosa anhidrat, dan α-laktosa anhidrat. Bentuk kristal stabil

laktosa adalah α-laktosa monohidrat, β-laktosa anhidrat, dan stabil αlaktosa anhidrat. Laktosa berwarna putih sampai tak berwarna partikel Kristal atau serbuk, tidak berbau dan agak manis; α-lactose kira-kira 20% semanis sukrora sedangkan β-lactose 40% semanis sukrosa. Sudut diam: 33° for Pharmatose DCL 15; 32° for Tablettose 70 and Tablettose 80. Compression pressure: 18.95–19.10 kN/cm2 Density (true): 1.545 g/cm3 (α-lactose monohydrate) Melting point: 201–202°C (for dehydrated α-lactose monohydrate)

Kelarutan laktosa Solubility at otherwise stated 20°C unless

Solvent Chlorofor m Ethanol Ether Water

Practically insoluble Practically insoluble Practically insoluble 1 in 5.24 1 in 3.05 at 40°C 1 in 2.30 at 50°C 1 in 1.71 at 60°C

Solvent

Solubility at otherwise stated 1 in 0.96 at 80°C

20°C

unless

Ciri khas sifat fisik laktosa monohidrat yang dipilih secara komersial Density (bulk) (g/cm3) Density (tapped) (g/cm3) Water content (%)

Supplier/grade

Borculo Domo Ingredients Lactochem Coarse Crystals Lactochem Crystals Lactochem Fine Crystals Lactochem Crystals Extra Fine 0.75 0.74 0.73 0.73 0.88 0.86 0.85 0.86 — — — —

Lactochem Coarse Powder Lactochem Regular Powder Lactochem Powder Lactochem Fine Powder Lactochem Powder Lactochem Powder Extra Fine

0.71 0.62 0.64 0.61 0.45

0.95 0.92 0.89 0.84 0.74

— — — — —

Super

Fine

0.47

0.74

DMV International

Supplier/grade

Density (bulk) (g/cm3) 0.50 0.71 0.76 0.74 0.73 0.73 0.67 0.60 0.56 0.51 0.48 0.77 0.75 Fine 0.64

Density (tapped) (g/cm3) 0.64 0.83 0.91 0.89 0.88 0.89 0.86 0.88 0.84 0.80 0.75 0.95 0.90 0.89

Water content (%) 4.8 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2

Pharmatose DCL 15 Pharmatose 50M Pharmatose 80M Pharmatose 90M Pharmatose 100M Pharmatose 110M Pharmatose 125M Pharmatose 150M Pharmatose 200M Pharmatose 350M Pharmatose 450M HMS Coarse Powder HMS Extrafine Crystal HMS Regular Powder HMS Impalpable Foremost Farms USA Grade

0.58

0.85

5.2

Supplier/grade

Density (bulk) (g/cm3) 0.66 0.53 0.44

Density (tapped) (g/cm3) 0.92 0.81 0.72

Water content (%) 4.8–5.2 4.8–5.2 4.8–5.2

NF Lactose 310 NF Lactose 312 NF Lactose 313 Meggle GmbH CapsuLac 60 GranuLac 70 GranuLac 140 GranuLac 200 GranuLac 230 PrismaLac 40 SacheLac 80 SorboLac 400 SpheroLac 100 Tablettose 100 Tablettose 80 Tablettose 70 Inhalac 70

0.59 0.72 0.66 0.54 0.47 0.47 0.60 0.36 0.69 0.54 0.57 0.51 0.60

0.70 0.90 0.89 0.80 0.76 0.54 0.71 0.78 0.84 0.74 0.72 0.62 0.66

5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 5.2 — 5.2

Supplier/grade

Density (bulk) (g/cm3)

Density (tapped) (g/cm3)

Water content (%)

Inhalac 120 Inhalac 230

0.68 0.69

0.78 0.80

5.2 5.2

Quest International Inc. (Sheffield Products) Lactose 80M Monohydrate NF — — 4.5–5.5

Lactose Monohydrate Capsulating Grade Lactose Monohydrate Impalpable

NF

4.5–5.5

NF

4.5–5.5

Kekurangan : Laktosa bertentangan dengan senyawa yang sangat basa, asam askorbat, salisilamid, pyrilamine maleat, phenilephrine HCl.

Selain itu laktosa dapat berubah warna dengan adanya basa amin dan Mg stearat karena mengalami reaksi Millard.

Dextrosa Dextrose tidak berbau, manis, kristal tidak berwarna atau Kristal putih atau serbuk granular. Rumus empiris:C6H12O6 ; Berat molekul:180.16 Sinonim: anhydrous dextrose; anhydrous D-(+)glucopyranose; anhydrous glucose; dextrosum

anhydricum. Keasaman/kebasaan: pH = 3.5–5.5 (20% b/v aqueous solution)Density (bulk): 0.826 g/cm3 Density (tapped): 1.020 g/cm3 Density (true): 1.54 g/cm3 Heat of solution: 105.4 J/g (25.2 cal/g) Melting point: 83°C

Kelarutan dekstrosa monohidrat Solvent Solubility 20°C Practically insoluble 1 in 60 at Keuntungan :
 Selain digunakan sebagai bahan

Chloroform

pengisi, dapat juga digunakan sebagai bahan pengikat.  Digunakan mirip dengan sukrosa, cenderung menghasilkan tablet yang keras terutama jika menggunakan dekstrosa anhidrat.  Dekstrosa mempunyai kestabilan yang baik di bawah kondisi tempat yang kering.

Ethanol (95%) Ether

Practically insoluble Soluble 1 in 1

Glycerin Water

Kekurangan :  Dekstrosa mungkin menyebabkan kecoklatan pada tablet karena mengandung amine (reaksi Maillard).
 Dengan pemanasan tinggi dapat menyebabkan reduksi pH dan

karamelisasi dalam larutan.

 Tidak Larut Air

Kalsium Sulfat Trihidrat (Terra Alba, Snow White Filler) Serbuk atau granul berwarna putih atau tak berwarna, fines, tidak berbau, dan kurang berasa.

Calcium sulfate anhydrous: CaSO4 136.14 anhydrite; anhydrous gypsum; anhydrous sulfate of lime; Destab; Drierite; E516; karstenite; muriacite; Snow White.

Calcium sulfate dihydrate: CaSO4·2H2O 172.17 alabaster; Cal-Tab; Compactrol; Destab; E516; gypsum; light spar; mineral white; native calcium sulfate; precipitated calcium sulfate; satinite; satin spar; selenite; terra alba; USG Terra Alba. Kalsium sulfat stabil secara kimia. Kalsium sulfat anhidrat bersifat higroskopis dan lengket selama penyimpanan. Simpan pada tempat yang kering dan tertutup, hindari pemanasan. Kalsium sulfat bereaksi dengan hebat pada temperature tinggi, fosfor dan serbuk besi dan diazometana. Kalsium sulfat dihidrat digunakan sebagai bahan tambahan formula oral tablet dan kapsul. Sebagai bahan tambahan secara umum dianggap nontoksik. Garam kalsium larut dalam cairan bronchial. Berfungsi sebagai bahan pengisi tablet dan kapsul. Bentuk anhidrat digunakn sebagai penyerap debu. Kalsium sulfat dihidrat digunakan sebagai formula tablet dan kapsul. Pada bentuk granul mempunyai kekompakan yang baik dan bahan penghancur yang cukup. Kalsium sulfat hemihydrate, digunakan sebagai sediaan plaster atau perban, digunakan untuk membatasi gerak anggota badan atau fraktur (retakan); sebaiknya tidak digunakan pada formula tablet dan kapsul. Kalsium sulfat anhidrat bersifat higroskopik dan menyerap air yang dapat menyebabkan tablet menjadi sangat keras dan gagal untuk dihancurkan selama penyimpanan. Ini tidak dianjurkan untuk formula tablet, kapsul atau pemberian serbuk oral. Kalsium sulfat digunakan dalam pengobatan gigi dan prosedur pembedahan tengkorak muka. Hasil penggilingan dapat menghasilkan gangguan debu yang dapat mengganggu ke mata atau terhirup. Penggunaan respirator atau masker debu dianjurkan untuk mencegah bedak terhirup berlebihan karena terhirup berlebihan dapat menjenuhkan bronkial cairan, yang menyebabkan penyumbatan saluran udara. Keasaman/ kebasaan:

pH = 7.3 (10% slurry) for dihydrate; pH = 10.4 (10% slurry) for anhydrous material. Sudut diam: 37.6° for Compactrol. Density (bulk): 0.94 g/cm3 for Compactrol; 0.67 g/cm3 for dihydrate; 0.70 g/cm3 for anhydrous material. Density (tapped): 1.10 g/cm3 for Compactrol; 1.12 g/cm3 for dihydrate; 1.28 g/cm3 for anhydrous material. Density (true): 2.308 g/cm3 Sifat alir: 48.4% (Carr compressibility index); 5.2 g/s for Compactrol. Melting point: 1450°C for anhydrous material. Table II: Solubility of calcium sulfate dihydrate. Solvent Solubility at otherwise stated Practically insoluble 20°C unless

Ethanol (95%) Water

1 in 375 1 in 485 at 100°C

Specific gravity:

2.32 for dihydrate; 2.96 for anhydrous material. Specific surface area: 3.15 m2/g (Strohlein apparatus) Keuntungan:  Pada bentuk granul mempunyai kekompakan yang baik dan bahan penghancur yang cukup.
 Kalsium sulfat hemihydrate, digunakan sebagai sediaan plaster atau

perban, digunakan untuk membatasi gerak anggota badan atau fraktur (retakan); sebaiknya tidak digunakan pada formula tablet dan kapsul.  Bentuk anhidrat digunakn sebagai penyerap debu.  Sebagai bahan tambahan secara umum dianggap nontoksik.  Kalsium sulfat stabil secara kimia. Kerugian:  Kalsium sulfat bereaksi dengan hebat pada temperature tinggi, fosfor dan serbuk besi dan diazometana.  Kalsium sulfat anhidrat bersifat higroskopis dan lengket selama penyimpanan. Simpan pada tempat yang kering dan tertutup, hindari pemanasan.

Kalsium Posfat Dibasic Sinonim: Calcium hydrogen orthophosphate dihydrate; calcium monohydrogen phosphate dihydrate; Di-Cafos; dicalcium orthophosphate; DI-TAB; E341; Emcompress; phosphoric acid calcium salt (1 : 1) dihydrate; secondary calcium phosphate. Rumus empiris dan berat molekul: CaHPO4·2H2O 172.09 Berfungsi sebagai bahan pengisi tablet dan kapsul.

Kalsium posfat dibasic dihidrat secara luas digunakan sebagai formula tablet sebagai bahan tambahan dan sebagai sumber nutrisi kalsium dan posfat dalam suplemen, terutama dalam sector nutrisi atau kesehatan makanan, juga digunakan dalam produk farmaseutik karena

kekompakannya, sifat alir yang baik. Bagaimanapun, kalsium posfat dibasic bersifat pelincir yang dibutuhkan untuk tablet, sebagai contoh sekitar 1% b/b dari Mg stearat atau 1% dari Na stearyl fumarat adalah yang sering digunakan. Kalsium posfat dibasic dihidrat bersifat nonhigroskopik dan stabil pada temperature kamar, dapat kehilangan bentuk Kristal air dibawah 1000C. Kalsium posfat dibasic dihidrat juga digunakan pada pasta gigi. Kalsium posfat dibasic dihidrat serbuk atau Kristal padat yang berwarna putih, tidak berbau, dan dikenal sebagai kristal monoklinik. Keasaman/kebasaan: pH = 7.4 (20% slurry of DI-TAB) Sudut diam: 28.3° for Emcompress. Density (bulk): 0.915 g/cm3 Density (tapped): 1.17 g/cm3 Density (true): 2.389 g/cm3 Sifat alir: 27.3 g/s for DI-TAB; 11.4 g/s for Emcompress. Melting point: dehydrates below 100°C. Moisture content: Kalsium posfat dibasic dihidrat mengandung dua molekul Kristal air, yang dapat hilang pada temperature dibawah 100°C. Ukuran distribusi partikel: DI-TAB: average particle diameter 180 μm Fine powder: average particle diameter 9 μm Kelarutan:

Praktis tidak larut dalam etanol, eter, dan air; larut dalam asam encer. Specific surface area: 0.44–0.46 m2/g for Emcompress Kalsium posfat dibasic dihidrat sebaiknya tidak digunakan pada formula antibiotic tetrasiklin. Pada permukaan kalsium posfat dibasic dihidrat bersifat basa dan karenanya tidak digunakan pada obat yang sensitive pada PH basa. Kalsium posfat dibasic dihidrat secara luas digunakan pada produk oral farmaseutik, produk makanan, dan pasta gigi. Keuntungan :  Digunakan sebagai formula tablet sebagai bahan tambahan dan sebagai sumber nutrisi kalsium dan posfat dalam suplemen, terutama dalam sector nutrisi atau kesehatan makanan, juga digunakan dalam produk farmaseutik karena kekompakannya, sifat alir yang baik.  Secara umum dianggap material nontoksik dan noniritan.  Kalsium posfat dibasic bersifat pelincir yang dibutuhkan untuk tablet, sebagai contoh sekitar 1% b/b dari Mg stearat atau 1% dari Na stearyl fumarat adalah yang sering digunakan.
 Bersifat nonhigroskopik dan stabil pada temperature kamar, dapat

kehilangan bentuk Kristal air dibawah 1000C. Kalsium posfat dibasic dihidrat juga digunakan pada pasta gigi. Kerugian :  Pada permukaan kalsium posfat dibasic dihidrat bersifat basa dan karenanya tidak digunakan pada obat yang sensitive pada PH basa.  Penggunaan oral dalam ketidaknyamanan perut. jumlah besar dapat menyebabkan

Amilum (Starch) Mempunyai rumus molekul (C6H10O5)n 50 000–160 000, dimana n = 300–1000. Pemerian: tidak berbau dan hambar, serbuk putih yang

terdiri dari butiran yang sangat kecil berbentuk bola yang mana ukuran dan bentuknya adalah karakteristik pada setiap jenis tumbuhan. Mengandung kadar air 10-14% akan menyebabkan tablet terdisintegrasi dengan cepat. Pembuatannya harus hati-hati agar diperoleh musilago yang baik, tidak terhidrolisis, dan tidak mengarang.

Kelarutan: Praktis tidak larut dalam etanol (95%) dingin. Amilum mengembang seketika di dalam air sekitar 5-10% pada 370C. Amilum digunakan sebagai bahan tambahan pada sediaan solid sebagai pengikat, pengisi dan penghancur. Pada formula tablet, pasta amilum disiapkan dengan segar pada konsentrasi 5-25% b/b dalam granulasi tablet sebagai pengikat. Pemilihan jumlah yang dibutuhkan pada sistem dapat ditentukan pengunaan parameter seperti kerapuhan granul, kerapuhan tablet, kekerasan, waktu hancur dan disolusi obat. Amilum adalah satu dari banyak bahan yang biasa digunakan sebagai penghancur pada konsentrasi 3-15% b/b. Bagaimanapun, amilum yang tidak dimodifikasi tidak mempunyai kekerasan yang baik dan cenderung untuk meningkatkan kerapuhan tablet dan capping pada konsentrasi tinggi. Jika digunakan sebagai penghancur, amilum menunjukkan isotherm tipe II dan mempunyai kemampuan menyerap air yang tinggi. Keasaman/kebasaan: pH = 5.5–6.5 for a 2% b/v aqueous dispersion of corn starch, pada 25°C. Density (bulk): 0.462 g/cm3 for corn starch. Density (tapped): 0.658 g/cm3 for corn starch. Density (true): 1.478 g/cm3 for corn starch. Sifat alir: 10.8–11.7 g/s for corn starch;9 30% for corn starch (Carr compressibility index). Amilum jagung bersifat cohesive dan mempunyai sifat alir yang jelek.

Gelatinization temperature: 73°C for corn starch; 72°C for potato starch; 63°C for wheat starch. Distribusi ukuran partikel: Corn starch: 2–32 μm; Potato starch: 10–100 μm; Rice starch: 2–20 μm; Tapioca starch: 5–35 μm; Wheat starch: 2–45 μm. Median diameter for corn starch is 17 μm and for wheat starch is 23 μm. Specific surface area: 0.41–0.43 m2/g for corn starch; 0.12 m2/g for potato starch; 0.27–0.31 m2/g for wheat starch. Swelling temperature: 65°C for corn starch; 64°C for potato starch; 55°C for wheat starch. Viscosity (dynamic): 13.0 mPa s (13.0 cP) for a 2% b/v aqueous dispersion of corn starch at 25°C. Amilum yang kering dan tanpa pemanasan stabil jika dilindungi dari kelembaban yang tinggi. Ketika digunakan sebagai pengisi atau penghancur pada sediaan solid, amilum bergantung pada kondisi normal. Bagaimanapun, larutan amilum yang dipanaskan atau pasta secara fisik tidak stabil. Amilum secara luas digunakan sebagai bahan tambahan pada formula farmaseutik, terutama tablet oral. Amilum adalah sebuah zat makanan dan secara umum dianggap pada dasarnya material nontoksik dan noniritan. Keuntungan :

 Amilum sebagian pengisi digunakan untuk menetapkan bahan warna atau obat keras untuk memudahkan pencampuran lebih lanjut atau proses pencampuran pada saat memproduksi.
 Selain sebagai bahan pengisi, amilum juga dapat digunakan sebagai

bahan pengikat dan penghancur.  Amilum adalah sebuah zat makanan dan secara umum dianggap pada dasarnya material nontoksik dan noniritan. Kekurangan :
 Bersifat higroskopis dan dengan cepat menyerap kelembaban. Kira-

kira keseimbangan nilai kelembaban berhubungan satu sama lain adalah 50% dengan nilai kelembaban amylum maydis 11%, amylum solani 18%, amylum oryzae 14% dan amylum gandum 13%. Amylum jagung higroskopis terkecil, sedangkan amylum solani higroskopis paling besar.  Amilum yang tidak dimodifikasi tidak mempunyai kekerasan yang baik dan cenderung untuk meningkatkan kerapuhan tablet dan capping pada konsentrasi tinggi.

Starch1500 Nama kimia: Pregelatinized starch ; Rumus empiris dan berat molekul: (C6H10O5)n where n = 300–1000. Keasaman/kebasaan: pH = 4.5–7.0 for a 10% b/v aqueous dispersion. Sudut istirahat: 40.7° Density (bulk): 0.586 g/cm3 Density (tapped): 0.879 g/cm3 Density (true): 1.516 g/cm3 Sifat alir: 18–23% (Carr compressibility index) Moisture content: pregelatinized starch jagung bersifat higroskopik. Kelarutan: Praktis tidak larut dalam pelarut organic. Sukar larut dalam larutan air dingin, bergantung pada tingkat pregelatinization.

Specific surface area: 0.26 m2/g (Colorcon); 0.18–0.28 m2/g (Roquette Ltd). Viscosity (dynamic): 8–10 mPa s (8–10 cP) for a 2% b/v aqueous dispersion at 25°C.

Pregelatinized starch adalah amilum yang secara kimia dan atau proses mekanik untuk menghancurkan semua atau sebagain dari granul amilum dan membuat amilum dapat mengalir dan di kempa langsung. Sebagian tingkat pregelatinized juga digunakan secara komersil. Ciri khas pregelatinized starch mengandung 5% amylase bebas, 15% amylopektin bebas dan 80% amilum tidak dimodifikasi. USPNF 23 tidak merincikan tanaman asli dari amilum asli, tetapi PhEur 2005 merincikan bahwa pregelatinized starch berasal dari jagung, kentang, atau amilum beras. Pregelatinized starch adalah modifikasi amilum yang digunakan pada formulasi oral kapsul dan tablet sebagai pengikat, pengisi dan penghancur. Sebagai perbandingan dengan amilum, tingkat dari pregelatinized starch diproduksi untuk mempertinggi aliran dan tekanan seperti pada material pregelatinized yang digunakan untuk pengikat tablet dalam kempa kering atau pada proses kempa langsung. Seperti proses, pregelatinized starch sebagai lubrikan. Bagaimanapun, ketika digunakan dengan bahan tambahan lain perlu ditambah lubrikan dalam formula. Walaupun magnesium stearat 0.25% b/b biasanya digunakan untuk tujuan ini, konsentrasi paling besar mempunyai efek berlawanan pada kekuatan dan disolusi tablet. Karena itu, asam stearat secara umum preferred lubricant with pregelatinized starch. Pregelatinized starch juga digunakan untuk proses granulasi basah. Pregelatinized starch cukup kasar sampai halus, serbuk putih sampai tak berwarna, tidak berbau, dan mempunyai karakteristik rasa yang enteng. Pregelatinized starch stabil tetapi bersifat higroskopik. Pregelatinized starch dan amilum secara luas digunakan pada formula oral sediaan padat. Keuntungan:
 Tingkat kelembaban yang rendah pada pregelatinized starch,

Starch 1500 LM (Colorcon), yaitu mengandung kurang dari 7% air, dengan spesifik dan secara komersial digunakan sebagai pengisi kapsul.  Nontoksik dan noniritan. Kerugian:  Bersifat higroskopis  Jika ada air akan menjadi gel sehingga zat aktif terhambat, daya mengembang kurang sehingga waktu hancur menjadi jelek.
 Konsumsi oral dalam jumlah yang besar dari pregelatinized

starch berbahaya.

Avicel

Perhatian: pada konsentrasi tinggi, Avicel dapat menyebabkan tablet lengket pada lidah saat akan digunakan.

Keuntungan (The Theory & Practice of Industrial Pharmacy 2 edisi ke-3,
Lachman Hal 701)

 Sifat alirnya baik dan bagus digunakan pada kempa langsung.  Digunakan juga sebagai penghancur.  Secara kimia bersifat inert.  Digunakan sebagai pengikat kering pada tablet.

Kerugian (The Theory & Practice of Industrial Pharmacy 2 edisi ke-3,
Lachman Hal 701 )

 Cukup mahal  Bila digunakan sebagai pengisi, kadarnya harus tinggi.
 Bersifat higroskopis. DAFTAR PUSTAKA Farmakope Indonesia edisi ketiga. 1979. Jakarta: Depkes RI Moh. Anief.1997.Ilmu meracik obat teori dan praktek.Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press Martindale edisi 28 Pharmaceutical Exipient 2006 M.E Aulton.2005.pharmaseutical the science of dosage form design second edition:churcil Livingston The Theory & Practice of Industrial Pharmacy 2 edisi ke-3, Lachman