DAFTAR ISI

TUJUAN PERCOBAAN ................................................................................................................................ 3

TEORI DASAR ............................................................................................................................................. 3 Obat tetes mata ........................................................................................................................................ 3 Atropin Sulfat ............................................................................................................................................ 6 Pilokarpin HCL ........................................................................................................................................... 9

ALAT dan BAHAN .................................................................................................................................... 11

PROSEDUR KERJA .................................................................................................................................... 11

HASIL PERCOBAAN .................................................................................................................................. 11 Atropin Sulfat .......................................................................................................................................... 12 Pilokarpin HCL ......................................................................................................................................... 12

PEMBAHASAN ......................................................................................................................................... 13

KESIMPULAN ........................................................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................... 16

KELOMPOK 3
Disusun Oleh:

Bayyinah Dwiyanti Atmajasari Irfan Taufik Maria Ulfa Putri Setyo Rini Sinthi Ayesha
Uji analgetik pada mencit dengan metode jentik ekor & hot plate

Pharmacy IV A

FAKULTAS KEDOKTERAN dan ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA APRIL 2010

TUJUAN PERCOBAAN
1. Mengetahui dan memahami kerja obat kolinergik dan antikolinergik pada hewan percobaan 2. Mengenal dan mengamati efek midriatik dan miotik pada pupil mata

TEORI DASAR Obat tetes mata
Obat tetes mata atau Guttae Opthalmicae adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola mata. (FI III, hal 10). Obat tetes mata harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:  Steril.  Larutan tetes mata harus jernih dan bebas partikel.  Sedapat mungkin isohidris dengan cairan mata yaitu pH 7,4.(Diktat Kuliah,  Teknologi Farmasi Sediaan Steril, hal 301). Sedangkan pH yang masih bisa ditolerir adalah 3,5 – 10,5. (The Pharmaceutical Codex, p. 163).  Sedapat mungkin isotonis, yang masih bisa diterima adalah 0,7 – 1,5 %. (TPC, p.163).  Peringatan : sediaan tidak dapat digunakan 30 hari setelah dibuka. www.berbagi-sehat.com Agen farmakologis oftalmik: 1. 2. 3. 4. 5. Obat midriatikum Obat miotikum Obat anti radang mata Obat antiseptik dan antiinfeksi Obat anti glukoma

1. Obat Midriatikum
   

Adalah obat yang digunakan untuk membesarkan pupil mata. Juga digunakan untuk siklopegia (dengan melemahkan otot siliari) sehingga memungkinkan mata untuk fokus pada obyek yang dekat. Obat midriatikum menggunakan tekanan pada efeknya dengan memblokade inervasi dari pupil spingter dan otot siliari. Obat untuk midriatikum bisa dari golongan obat simpatomimetik dan antimuskarinik, sedangkan obat untuk Siklopegia hanya obat dari golongan antimuskarinik.
3

Obat midriatikum-siklopegia : o Atropine, o Homatropine o Tropicamide

2. Obat Miotikum
 

Obat miotikum adalah obat yang menyebabkan miosis (konstriksi dari pupil mata). Bekerja dengan cara membuka sistem saluran di dalam mata, dimana sistem saluran tidak efektif karena kontraksi atau kejang pada otot di dalam mata yang dikenal dengan otot siliari. Contoh penggunaan : Pengobatan glaukoma bertujuan untuk mengurangi tekanan di dalam mata dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada penglihatan. Contoh obat : o Betaxolol (penghambat beta adregenik) o Pilokarpin (reseptor agonis muskarinik).

Pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan pengawet, sterilisasi dan kemasan yang tepat. Zat tambahan yang biasa dipakai adalah dapar pH, pengatur tonisitas (NaCl), pengatur viskositas (contoh PEG, PVP), pengatur tegangan permukaan, dan pengawet. Cairan mata isotonik dengan darah dan nilai isotonisitasnya sama dengan larutan NaCl P 0,9 %. Tujuan penggunaan dapar pH adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil dari wadah kaca. Kenaikan pH dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. Garam alkaloid paling efektif pada pH optimal untuk pembentukan basa bebas tidak terdisosiasi. Tetapi pada pH ini obat mungkin menjadi tidak stabil, sehingga pH harus diatur dan dipertahankan tetap dengan penambahan dapar. Air mata mempunyai kapasitas dapar yang baik. Obat mata akan merangsang pengeluaran air mata dan penetralan akan terjadi dengan cepat asalkan kapasitas dapar larutan obat tersebut kecil (jumlah mol asam dan basa konjugat dari pendapar kecil). Garam alkaloid bersifat asam lemah dan kapasitas daparnya lemah. Satu atau dua tetes larutan obat mata ini akan dinaikkan pHnya oleh air mata. Dalam menyiapkan dapar dengan pH yang diinginkan, harus dipilih sistem asamgaram yang pKa-nya mendekati pH yang diinginkan agar angka banding asam terhadap garam mendekati satu dan diperoleh keefektifan maksimal terhadap penaikan dan penurunan pH. Sediaan tetes mata mempunyai banyak persamaan dengan sediaan parenteral. Formulasi sediaan tetes mata yang stabil memerlukan bahan-bahan yang sangat murni seperti bebas dari kontaminan kimia, fisik (partikel), dan mikroba. Sediaan tetes mata digunakan
4

dalam jumlah yang besar, seperti irigan mata, atau dalam pemeliharaan peralatan seperti lensa kontak. Beberapa pertimbangan dalam pembuatan obat mata: 1. Sterilitas Sediaan harus dikerjakan seaseptis mungkin dan dilakukan proses sterilisasi yang sesuai. Cara sterilisasi yang sering digunakan untuk obat tetes mata adalah pemanasan dengan otoklaf, pemanasan dengan bakterisida, dan penyaringan. 2. Iritasi pH sediaan yang tidak cocok dengan air mata akan mengakibatkan iritasi yang disertai dengan keluarnya air mata. Difusi obat akan terhalang sehingga jumlah obat tidak efektif. 3. Pengawet Pengawet perlu ditambahkan khususnya untuk obat tetes mata dosis ganda. Syarat pengawet: efektif dan efisien, tidak berinteraksi dengan bahan aktif atau bahan pembantu lainnya, tidak iritan terhadap mata, dan tidak toksis. Akan dibuat obat tetes mata pilokarpin. Pilokarpin adalah senyawa alkaloid yang berasal dari tanaman Pilocarpus jaborandi dan Pilocarpus microphyllus, termasuk obat kolinergik parasimpatomimetik yang menyebabkan miosis bila dipakai sebagai obat tetes mata. Zat aktif yang dipilih adalah bentuk garam pilokarpin yaitu pilokarpin hydrochloridum karena mempertimbangkan bahwa alkaloid bebas kurang larut air daripada bentuk garamnya sedangkan sediaan obat tetes mata yang akan dibuat berupa larutan yang harus jernih. Tidak dipilih bentuk pilokarpin nitras karena pada pemeriannya dinyatakan beracun. (FI III, hal 499). OBAT TETES MATA STERIL(Buku pelajaran tehnologi farmasi,Voight hal 521-527) Yang dimaksud sebagai obat mata adalah tetes mata, salap mata, pencuci mata dan beberapa bentuk pemakaian yang khusus serta inserte sebagai bentuk depo, yang ditentukan untuk digunakan pada mata utuh atau terluka. Obat mata digunakan untuk menghasilkan efek diagnostik dan terapetik lokal, dan yang lain untuk merealisasikan kerja farmakologis, yang terjadi setelah berlangsungnya penetrasi bahan obat dalam jaringan yang umumnya terdapat disekitar mata.Pada umumnya bersifat isotonis dan isohidris Mata merupakan organ yang paling peka dari manusia. Oleh karena itu sediaan obat mata mensyaratkan kualitas yang lebih tajam. Tetes mata harus efektif dan tersatukan secara fisiologis (bebas rasa nyeri, tidak merangsang) dan steril.

5

Atropin Sulfat
Rumusan molekul (C17H23NO3)2,H2SO4,=694.8 H2O Organoleptis Tidak berbau, kristal tidak berwarna atau serbuk terdiri dari kristal putih. Kelarutan dapat larut 1 dalam 0.5 air, 1 dalam 2.5 air mendidih, 1 dalam 5 alkohol, dan 1 dalam 2.5 glycerol. Nama & Struktur Kimia (Sinonim) atropin adalah Atropine sulfate; a(Hydroxymethyl)benzeneacetic acid 8-mehtyl-8-azabicyclo(3.2.1)oct-3-yl ester tropine topate, d,l- hyosciamine. C17H23NO3•1/2H2O4S. Kelarutannya : 1 g larut dalam 400 ml air,50 ml air panas,3 ml etanol,60 ml eter dan dalam 1 ml kloroform. Atropin sulfat mudah larut dalam air. (mursidi, 1989) Nama Dagang: chlorpromazine hydrochloride, cimetidine hydrochloride, dimenhydrinate, diphenhydramine hydrochloride, droperidol, fentanyl citrate, glycopyrrolate, hydroxyzine hydrochloride, hydroxyzine hydrochloride dengan meperidine hydrochloride, meperidine hydrochloride, meperidine hydrochloride dengan promethazine hydrochloride, morphine supfate,opium alkaloid hydrochloride, pentazocine lactate, pentobarbital sodium, prochlorperazineedisylate, promazine hydrochloride, promethazine hydrochloride, propiomazine hydrochloride atau scopolamine hydrobromide. Atropin adalah senyawa berbentuk kristal putih,rasa sangat pahit,titik lebur 115° dan terdiri dari amine antimuscarinic tersier. Atropin merupakan antagonis reseptor kolinergik yang diisolasi dari Atropa belladona L, Datura stramonium L dan tanaman lain dari family Solanaceae. (mursidi,1989) Atropin merupakan agen preanestesi yang digolongkan sebagai antikolinergik atau parasimpatolitik. Atropin sebagai prototip antimuskarinik mempunyai kerja menghambat efek asetilkolin pada syaraf postganglionik kolinergik dan otot polos. Hambatan ini bersifat reversible dan dapat diatasi dengan pemberian asetilkolin dalam jumlah berlebihan atau pemberian antikolinesterase. (Achmad, 1986)

6

FARMAKOLOGI Pemberian atropin sebagai obat tetes mata, terutama pada anak dapat menyebabkan absorpsi dalam jumlah yang cukup besar lewat mukosa nassal, sehingga menimbulkan efek sistemik dan bahkan keracunan. Untuk mencegah hal ini perlu dilakukan penekanan kantus internus mata setelah penetesan obat agar larutan atropin tidak masuk ke rongga hidung, terserap, dan menyebabkan efek sistemik. Hal ini tidak tampak pada derivat sintetis maupun semisintetis. (Universitas Indonesia. 2008. Farmakologi dan Terapi. Departemen Farmakologi dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia)

Atropin sulfat menghambat M. constrictor pupillae dan M. ciliaris lensa mata, sehingga menyebabkan midriasis dan siklopegia (paralisis mekanisme akomodasi). Midriasis mengakibatkan fotopobia, sedangkan siklopegia menyebabkan hilangnya daya melihat jarak dekat. (http://formulasisteril.blogspot.com/2008/05/pendahuluan-obat-tetes-matasteril.html) FARMAKODINAMIKA Mula timbulnya midriasis tergantung dari besarnya dosis, dan hilangnya lebih lambat daripada hilangnya efek terhadap kelenjar liur. Pemberian lokal pada mata menyebabkan perubahan yang lebih cepat dan berlangsung lama sekali (7-12 hari), karena atropin sukar dieliminasi dari cairan bola mata. Midriasis oleh alkaloid belladona dapat diatasi dengan pilokarpin, eserin, atau DFP. Tekanan intraokular pada mata yang normal tidak banyak mengalami perubahan. Tetapi pada pasien glaukoma, terutama pada glaukoma sudut sempit, penyaliran cairan intraokular melalui saluran schlemm akan terhambat karena muaranya terjepit dalam keadaan midriasis. (Universitas Indonesia. 2008. Farmakologi
dan Terapi. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia)

Sesudah pemberian 0,6 mg atropin SK pada mulanya terlihat efek terhadap kelenjar eksokrin, terutama hambatan salivasi, serta efek bradikardi sebagai hasil perangsangan N. vagus. Mula timbulnya midriasis tergantung dari besarnya dosis. (http://formulasisteril.blogspot.com/2008/05/pendahuluanobat-tetes-mata-steril.html)

7

Mekanisme kerja Atropine memblok aksi kolinomimetik pada reseptor muskarinik secara reversible (tergantung jumlahnya) yaitu, hambatan oleh atropine dalam dosis kecil dapat diatasi oleh asetilkolin atau agonis muskarinik yang setara dalam dosis besar. Hal ini menunjukan adanya kompetisi untuk memperebutkan tempat ikatan. Hasil ikatan pada reseptor muskarinik adalah mencegah aksi seperti pelepasan IP3 dan hambatan adenilil siklase yang di akibatkan oleh asetilkolin atau antagonis muskarinik lainnya. (Jay dan Kirana, 2002) Atropin dapat menimbulkan beberapa efek, misalnya pada susunan syaraf pusat, merangsang medulla oblongata dan pusat lain di otak, menghilangkan tremor, perangsang respirasi akibat dilatasi bronkus, pada dosis yang besar menyebabkan depresi nafas, eksitasi, halusinasi dan lebih lanjut dapat menimbulkan depresi dan paralisa medulla oblongata. Efek atropin pada mata menyebabkan midriasis dan siklopegia. Pada saluran nafas, atropin dapat mengurangi sekresi hidung, mulut dan bronkus. Efek atropin pada sistem kardiovaskuler (jantung) bersifat bifasik yaitu atropin tidak mempengaruhi pembuluh darah maupun tekanan darah secara langsung dan menghambat vasodilatasi oleh asetilkolin. Pada saluran pencernaan, atropin sebagai antispasmodik yaitu menghambat peristaltik usus dan lambung, sedangkan pada otot polos atropin mendilatasi pada saluran perkencingan sehingga menyebabkan retensi urin (Hidayat, 2005) Obat tetes mata atropin sulfat/midriatik (FI IV hal 115-6) Rumus molekul : (C17H23NO3)2.H2SO4.H2O Bobot molekul : 694,84 (anh = 676,82) Pemerian : hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau; mengembang di udara kering; perlahan-lahan terpengaruh oleh cahaya. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air; mudah larut dalam etanol, terlebih dalam etanol mendidih; mudah larut dalam gliserin. Dosis : untuk dilatasi (pelebaran) pupil pada pengobatan radang akut: 1-2 tetes 0,5%-1% (3x1). (DI 88 hal 1566) Cara penggunaan : secara parenteral Volume isotonik : 1gr Atropin sulfat dalam 14,3 ml pH=3,5-6 Stabilitas Waktu paruh atropin sulfat dalam larutan tetes mata adalah 1 jam pada pH 6,8.
8

Pilokarpin HCL
o pilokarpin monohidroklorida, C11H16N2O2 .HCl, BM 244.72. Pemerian: hablur tidak berwarna, agak transparan, tidak berbau; rasa agak pahit; higroskopis dan dipengaruhi oleh cahaya, bereaksi asam terhadap kertas lakmus. o Jarak lebur: antara 199 dan 205 o Kelarutan: sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol; sukar larut dalam kloroform; tidak larut dalam eter. Larut 1 dalam 0,3 air; 1 dalam alkohol; dan 1 dalam 360 kloroform. o Wadah dan penyimpanan: dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya. o pH larutan 5 % dalam air antara 3,5 dan 4,5. (Martindale, p. 1396). o pH larutan tetes mata 3,5 – 5,5. (TPC, p. 1005). o Stabilitas: mengalami hidrolisis yang dikatalisis oleh ion hidrogen dan hidroksida, terjadi epimerisasi pada pH basa. Peningkatan temperatur akan meningkatkan kecepatan hidrolisis bila pH larutan 10,4. pH stabilitas maksimum 5,12. o Inkompatibilitas: inkompatibel dengan klorheksidin asetat dan garam fenilmerkuri, juga dengan alkali, iodin, garam perak dan klorida merkuri. o Ekivalensi NaCl untuk Pilokarpin HCl 2 % = 0,23 dan Tf-nya = 0,26 .

9

Obat tetes mata sebagai miotika (Pilokarpin HCL) (Martindale Hal. 1724) Pemerian : Hablur tidak berwarna, agak transparan, tidak berbau, rasa agak pahit, higroskopis dan dipengaruhi oleh cahaya, bereaksi asam terhadap kertas lakmus. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol, sukar larut dalam kloroform, tidak larut dalam eter. Dosis : 1 – 4% (DI 88 hal 1564)) Khasiat : Glaukoma dan mata kering Sterilisasi : Kalor basah pH : 3,5 – 5,5 Ekivalensi : 0,24 Stabilitas : Disimpan pada wadah kedap udara, terlindung dari cahaya dan pada suhu 2 - 8˚C. Pilokarpin HCl dibuat sedian tetes mata karena berfungsi sebagai miotik untuk pengobatan glaucoma. Sediaan tetes mata merupakan sediaan dosis ganda sehingga diperlukan bahan pengawet seperti Benzalkonium klorida Glaukoma adalah penyakit mata dimana terdapat peninggian tekanan intraokuler, yang bila cukup lama dan tekanannya cukup tinggi dapat menyebabkan kerusakan anatomis dan fungsional. Pilokarpin HCl merupakan bahan obat yang khas digunakan pada mata (opthalmologika) dengan kerja penyempit pupil (miotika) Pilokarpin merupakan obat kolinergik golongan alkaloid tumbuhan, yang bekerja pada efektor muskarinik dan sedikit memperlihatkan sedikit efek nikotinik sehingga dapat merangsang kerja kelenjar air mata dan dapat menimbulkan miosis dengan larutan 0,5 - 3%. Obat tetes mata dengan zat aktif Pilokarpin berkhasiat menyembuhkan glaukoma dan mata kering. Dosis Pilokarpin yang paling umum digunakan untuk sediaan tetes mata adalah 1 – 4% (DI Hal. 2680).

10

ALAT dan BAHAN
Alat: - Penggaris - Sarung tangan - Stopwatch Bahan: - Tikus satu ekor - Atropin sulfat - Pilokarpin HCL

PROSEDUR KERJA

Tikus Diukur diameter mata normal kanan dan kiri. Mata kiri diberi tetes mata pilokarpin sebanyak 2 tetes, diamkan 1 menit. Diukur diameter pupil mata kiri tikus. Ukur diameter pupil mata kiri tikus selang 1 menit berikutnya, ulangi sampai menit ke -5. Sedangkan pada mata kanan diberi tetes mata atropin sulfat sebanyak 2 tetes, diamkan 1 menit. Diukur diameter pupil mata kiri tikus. Ukur diameter pupil mata kiri tikus selang 1 menit berikutnya, ulangi sampai menit ke -5.

HASIL PERCOBAAN

11

Atropin Sulfat
Kontrol: Pupil mata kanan = 0,3cm Setelah diteteskan atropine sulfat. Menit ke1. 2. 3. 4. 5. Ukuran pupil mata 0,2 cm 0,3 cm 0,4 cm 0,4 cm 0,5 cm

Pilokarpin HCL
Kontrol: Pupil mata kiri = 0,3 cm Setelah diteteskan pilokarpin HCL Menit ke1. 2. 3. 4. 5. Ukuran pupil mata 0,4 cm 0,4 cm 0,38 cm 0,3cm 0,2 cm

12

PEMBAHASAN
Pada percobaan, untuk dapat melihat antagonis obat, obat yang pertama diberikan pada mata tikus adalah pilokarpin. Dalam suatu konsentrasi agonis tertentu, peningkatan konsentrasi antagonis kompetitif secara progresif menghambat respon dari agonis, sedangkan konsentrasi-konsentrasi antagonis yang tinggi akan mencegah respons secara keseluruhan. Sebaliknya konsentrasi agonis yang lebih tinggi, yang cukup, dapat mengatasi efek dari pemberian konsentrasi antagonis secara keseluruhan, yaitu Emax untuk agonis tetap sama pada setiap konsentrasi antagonis tertentu. Karena antagonisme bersifat kompetitif, keberadaan antagonis meningkatkan konsentrasi agonis yang dibutuhkan untuk pemberian suatu tingkatan respon tertentu, dan kemudian kurva konsentrasi-efek agonis bergeser ke kanan. Menurut Katzung beberapa antagonis reseptor mengikat reseptor dengan cara yang bersifat ireversibel, atau hampir ireversibel. Afinitas antagonis reseptor dapat demikian tinggi sehingga untuk tujuan praktis, resptor tersebut tidak dapat lagi berikatan dengan agonis. Antagonis lain dalam kelompok ini menghasilkan efek yang ireversibel karena setelah berikatan pada reseptor, antagonis tersebut membentuk ikatan-ikatan kovalen dengannya. Setelah kedudukan reseptorreseptor pada proporsi yang besar oleh antagonis jenis ini, jumlah reseptor yang tidak diduduki bisa sedemikian rendah sehingga agonis dengan konsentrasi tinggi tidak dapat mengatai antagonisme yang ada, dan respons agonis yang maksimal tidak dapat dicapai. Berdasarkan percobaan didapat hasil bahwa pemberian tetes mata pilokarpin sebanyak 2 tetes menghasilkan efek miosis, yaitu mengecilnya diameter pupil mata hewan percobaan (tikus). Hal ini adalah sesuai dengan teori, karena kerja pilokarpin sebagai obat golongan agonis muskarinik (agonis kolinergik yang sifatnya menyerupai asetilkolin), yang dapat menurunkan kontraksi otot siliaris dan tekanan intraokuler bola mata. Sesuai dengan

13

pendapat Tan Hoan Tjay (2002), obat golongan kolinergik seperti pilokarpin dapat menimbulkan penurunan kontraksi otot siliaris mata sehingga menimbulkan efek miosis dengan cepat, serta merangsang sekresi kelenjar yang terikat pada kelenjar keringat, mata dan saliva. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan pengaruh rute pemberian (tetes mata) dan dosis obat yang diberikan. Selain itu, pada pemberian tetes mata atropin dengan jumlah yang sama pada tikus, segera terjadi efek yang berlawanan dengan pilokarpin, yaitu terjadi efek midriasis (dilatasi pupil mata) sehingga diameter pupil mata tikus yang mengecil kembali membesar. Sementara tikus kontrol yang hanya diberi pilokarpin tanpa pemberian atropin, pupil matanya tetap mengalami miosis. Ini sesuai dengan pendapat Mary J. Mycek, dkk (1997) bahwa kerja atropin adalah menyekat semua aktivitas kolinergik mata. Pada pengujian refleks cahaya mata tikus, diperoleh hasil bahwa setelah pemberian pilokarpin, refleks mata tikus terhadap cahaya menjadi lebih cepat daripada respon normal, hal ini sesuai dengan teori bahwa pilokarpin menimbulkan miosis dan menyebabkan peningkatan kepekaan mata terhadap cahaya. (Kemungkinan peningkatan kepekaan disebabkan efek miosis, pengecilan diameter pupil menyebabkan pengurangan cahaya yang dapat melewati pupil untuk sampai ke retina, sehingga untuk mengkompensasi hal ini, mata meningkatkan kepekaannya terhadap cahaya). Namun pada pengujian refleks cahaya setelah pemberian atropin, hasil yang diperoleh agak kurang sesuai dengan teori, dimana menurut Mycek, kerja atropin adalah menyekat semua aktivitas kolinergik mata dan seharusnya mata menjadi tidak bereaksi sama sekali terhadap cahaya (tidak ada kedipan mata). Namun dari percobaan diperoleh bahwa tikus masih menunjukkan refleks terhadap cahaya, walaupun refleks menjadi lambat. Selama percobaan terlihat bahwa refleks mata tikus makin melambat seiring waktu, dan kemudian
14

sekitar menit ke-30, refleks mata tikus sedikit menjadi lebih cepat, walaupun hal ini kurang terlihat dengan pengamatan visual saja, dan mungkin saja dipengaruhi oleh subjektivitas si pengamat. Kemungkinan ketidaksesuaian ini dipengaruhi oleh dosis atropin yang diberikan, dimana dosis yang diberikan sedikit kurang sehingga tidak semua reseptor pilokarpin terokupasi oleh atropin. Hal ini juga dapat disebabkan oleh cara pemberian yang kurang baik, sehingga mengakibatkan tidak semua obat mengenai bola mata.

KESIMPULAN
 Pemberian pilokarpin secara tetes mata pada tikus menghasilkan efek miosis (mengecilnya diameter pupil mata) yang dapat dilihat secara visual dan diukur dengan alat bantu penggaris, serta peningkatan refleks mata terhadap cahaya yang ditandai dengan kecepatan mata berkedip.  Pemberian atropin secara tetes mata pada tikus menghasilkan efek midriasis (membesarnya diameter pupil mata) yang dapat dilihat secara visual dan diukur dengan alat bantu penggaris, serta penurunan refleks mata terhadap cahaya, yang ditandai dengan perlambatan kedipan mata (walaupun secara teori harusnya tidak ada refleks cahaya).  Atropin dan pilokarpin merupakan obat-obat yang memiliki efek antagonisme, dalam hal ini antagonis kompetitif. Mekanisme kerjanya ialah atropin merupakan antagonis yang bekerja pada organ yang sama (reseptor yang sama) dengan pilokarpin, yaitu reseptor muskarinik, dimana atropin bekerja dengan cara menginhibisi pilokarpin dari menduduki reseptor, yang dibantu oleh afinitas atropin-reseptor yang lebih kuat. Atropin menduduki reseptor tetapi tidak menimbulkan aktivitas intrinsik. Antagonis kompetitif memiliki sifat reversibel sehingga apabila dosis dari agonis dapat ditingkatkan, agonis tersebut dapat kembali menduduki reseptor.

15

DAFTAR PUSTAKA
Martindale edisi 35 Nurmeilis, dkk. 2009. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi Farmasi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mursyidi, achmad. 1989. Analisis metabolit sekunder. UGM. Yogyakarta. Achmad.S. A. 1989. Analisis Metabolit Sekunder. UGM press. yogyakarta. Amrun Hidayat. M. 2005. Alkaloid Turunan Triptofan. (di akses tanggal 8 juni 2009). http://www.wikipedia.com/turunan-triptofan.html Jay,than hoon dan kirana,raharja. 2002. Obat-obat penting. Gramedia Jakarta. http://formulasisteril.blogspot.com/2008/05/pendahuluan-obat-tetes-matasteril.html Brown, Michael, dkk, (2005), (Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach), Sixth Edition, McGraw-Hill Companies: United States of America, hal : 1.713 (e- book version of the text). Katzung, Bertram G, (2004), Basic & clinical pharmacology, 9th Edition, Lange Medical Books/Mcgraw-Hill: New York, Hal : 6, 152 (e-book version of the text). Universitas Indonesia. 2008. Farmakologi dan Terapi. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kumar, Vinay, dkk, (2005), (Robbins and Cotran Pathologic Basis Of Disease), Seventh Edition, Elsevier Inc: USA, hal 1486 (e-book version of the text). S.B, Zunilda, (1995), Pengantar Farmakologi dalam buku Farmakologi Dan Terapi, Edisi Keempat, Editor: S.G Ganiswara,Jakarta: Fakutas Kedokteran Universitas Indonesia, halaman 18-19. Tan, Hoan, Tjay., & Kirana R., (2002), Obat-Obat Penting, Edisi Kelima, Cetakan Kedua, Jakarta: Gramedia, halaman 47. Anonim,www.medicastore, 2006 www.sinarharapan.co.id.htm (Dr.NicoA.Lumenta,K.Nefro, www.sinarharapan.co.id.2002.html
16