You are on page 1of 21

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

[Type the abstract of the document here. The abstract is typically a short summary of the contents of the document. Type the abstract of the document here. The abstract is typically a short summary of the contents of the document.]

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMASETIK dan FARMAKOKINETIK

Bayyinah Dewanti Rosyana Fitri Ratna Dewi Hesty Priska Aprina Nur Ikhlas PHARMACY 4A KELOMPOK 4

PEMBUATAN KURVA KALIBRASI

PERCOBAAN I PEMBUATAN KURVA KALIBRASI


I. TUJUAN PRAKTIKUM
Dapat mengetahui tahap-tahap dalam pembuatn kurva kalibrasi Dapat menggunakan kurva kalibrasi dalam analisa obat

II.

DASAR TEORI

A. Parasetamol Parasetamol atau asetaminophen, N-asetil-4Aminofenol (C8H9NO2), dengan BM 151,16 dan mengandung tidak kurang dari 98% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2. Pemerian: hablur atau serbuk hablur berwarna putih tidak berbau dan rasa pahit. Kelarutan: Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%), dalam 13 bagian aseton, dalam 40 bagian gliserol dan dalam 9 bagian propilenglikol; larut dalam larutan alkalihidroksida. Khasiat dan kegunaan yaitu analgetikum, antipiretikum. (Farmakope Indonesia edisi ketiga tahun 1979)

Asetaminofen adalah metabolit fenasetin yang bertanggung jawab atas efek analgesiknya. Obat ini menghambat prostaglandin yang lemah pada jaringan perifer dan tidak memiliki efek anti-implamasi yang bermakna. Absorpsi asetaminofen tergantung pada kecepatan pengosongan lambung, dan kadar puncak di dalam darah biasanya tercapai dalam waktu 30-60 menit. Asetaminofen sedikit terikat dengan protein plasma dan sebagian dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati dan diubah menjadi asetaminofen sulfat dan glukuronida, yang secara farmakologi tidak aktif. Kurang dari 5%

diekskresikan dalam bentuk tidak berubah. Suatu metabolit minor tetapi sangat reaktif (N-asetil p-benzo kuinon), penting pada dosis besar, karena toksisitasnya yang besar terhadap hati dan ginjal. Waktu paruh asetaminofen 2-3 jam dan relative tidak dipengaruhi oleh fungsi ginjal. Pada jumlah toksik atau adanya penyakit hati, wktu paruhnya bisa meningkat dua kali lipat atau lebih. Pada pemakaian 15 gram asetaminofen bisa berakibat fatal; kematian disebabkan oleh hepatotoksisitas yang berat dengan nekrosis lobules sentral, kadang berhubungan dengan nekrosis tubulus ginjal akut. (Bertram G. Katzung; Farmakologi dasar dan klinik edisi VI) Natrium Hidroksida Natrium hidroksida mengandung tidak kurang dari 97,5% alkali dihitung sebagai NaOH dan tidak lebih dari 2,5% Na2CO3 ; Pemerian: Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur; putih; mudah meleleh ; basah. Sangat alkalis dan korosif, segera menyerap karbondioksida. Kelarutan: Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%). ( FI ed. 3 ; 412) Sinonim: soda api; E524; lye; soda lye; sodium hydrate. Rumus molekul dan berat molekul: NaOH 40.00 Berfungsi sebagai: Agent alkali dan agen buffer. (Pharmaceutical excipient 5th edition) Spektrofotometri

Molekul-molekul dapat mengabsorbsi atau mentransmisi radiasi gelombang elektromagnetik. Berkas cahaya putih adalah kombinasi semua panjang gelombang spektrum tampak. Perbedaan warna yang kita lihat sebenarnya ditentukan dengan bagaimana gelombang cahaya tersebut diabsorbsi dan di transmisikan (dipantulkan) oleh objek atau suatu larutan.

Sebuah spektrofotometer adalah suatu instrumen untuk mengukur transmitans atau absorbans suatu contoh sebagai fungsi panjang gelombang. Spektrofotometri tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinue, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blangko, dan untuk

mengukur perbedaan absorpsi antara sampel dan blangko ataupun pembanding. Instrumen yang beroperasi dalam daerah spektrum mempunyai komponen-komponen sebagai berikut: a) Sumber radiasi Sebagai sumber radiasi pada spektrofotometer, haruslah memiliki pancaran radiasi yang stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber energy cahaya yang biasa untuk daerah tampak, ultraviolet dekat, dan inframerah dekat adalah sebuah lampu pijar dengan kawat rambut terbuat dari wolfram (tungsten). Lampu iampu pijar biasa, daerah panjang gelombang (l) adalah 350 2200 nanometer (nm).

Gambar Lampu wolfram Keluaran lampu wolfram itu tidak memadai untuk spektrofotometer dan harus digunakan sumber yang berbeda. Paling lazim adalah lampu tabung tidak bermuatan (discas) hidrogen (atau deuterium) 175 ke 375 atau 400 nm. Lampu hidrogen atau lampu deuterium digunakan untuk sumber pada daerah ultraviolet (UV).

Gambar Lampu deuterium Kebaikan lampu wolfarm adalah energi radiasi yang dibebaskan tidak bervariasi pada berbagai panjang gelombang. Lampu deuterium untuk daerah UV dari 190 sampai 350nm. Sumber cahaya untuk spektrofotometer inframerah, sekitar 2 ke 15 mm menggunakan pemijar Nernst (Nernst glower). b) Peralatan optik Kebanyakan spektrofotometri melibatkan larutan, dan karenanya kebanyakan wadah sampel adalah sel yang menaruh cairan ke dalam berkas cahaya spektrofotometer. Sel itu haruslah meneruskan energy cahaya dalam daerah

spektral yang diminati, jadi sel kaca melayani daerah tampak, sel kuarsa atau kaca silika tinggi istimewa untuk daerah ultraviolet, dan garam dapur alam untuk inframerah. Dalam instrument yang kurang mahal, tabung reaksi silindris kadang-kadang digunakan sebagai wadah sampel. Pada pengukuran di daerah tampak kuvet kaca atau kuvet kaca corex dapat digunakan, tetapi untuk pengukuran pada daerah UV kita harus menggunakan sel kuarsa karena gelas tidak tembus cahaya pada daerah ini. Umumnya tebal kuvetnya adalah 10 mm, tetapi yang lebih kecil ataupun yang lebih besar dapat digunakan. Sel yang biasa digunakan berbentuk persegi, tetapi bentuk silinder dapat juga digunakan. Kita harus menggunakan kuvet yang bertutup untuk pelarut organik. Sel yang baik adalah kuarsa atau gelas hasil leburan serta seragam keseluruhannya. Bahan lensa harus sesuai dengan daerah panjang gelombang yang digunakan. Gunanya agar dapat melewatkan daerah panjang gelombang yang digunakan. UV Visible IR : fused silika, kuarsa : gelas biasa, silika atau plastik : KBr, NaCl, IRTRAN atau kristal dari senyawa ion

Peralatan optik sesuai panjang gelombang Bahan Silika Gelas Plastik Daerah panjang gelombang (nm) 150 3000 375 2000 380 800

Peralatan optik pada spektrofotometer

c) Detektor Peranan detektor penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang. Detektor akan mengubah cahaya menjadi sinyal listrik yang selanjutnya akan ditampilkan oleh penampil data dalam bentuk jarum penunjuk atau angka digital. Jenis detektor dari berbagai spektrofotometer sebagai berikut: Enrollment in local colleges, 2005 Jenis detector Range panjang Sifat pengukuran Penggunaan gelombang (nm) arus listrik UV arus listrik UV/Vis berbagai macam berbagai macam arus listrik IR hambatan listrik IR

Phototube 150 1000 Photomultiplier 150 1000 Solid state 350 3000 Thermocouple 600 20.000 Thermistor 600 20.000 d) Pemilihan panjang gelombang

Berbagai satuan digunakan untuk panjang gelombang, bergantung pada daerah spektrum, untuk radiasi UV dan tampak digunakan satuan 0angstrom dan nanometer dengan meluas. Sedangkan micrometer merupakan satuan yang lazim untuk daerah inframerah. Satu mikrometer, m, didefinisikan sebagai 10-6m dan satu nanometer (nm) yaitu 10-9m atau 25x10-7 cm. angstrom (A) adalah 10-10m atau 10-8cm. Jadi 1 nm = 10A Satu satuan

Gambar Spektrum elektromagnetik

Benda bercahaya seperti matahari atau bohlam listrik memancarkan spektrum yang lebar terdiri atas panjang gelombang. Panjang gelombang yang dikaitkan dengan cahaya tampak itu mampu mempengaruhi selaput pelangi mata manusia dan karenanya menimbulkan kesan subyektif akan ketampakan (vision). Namun, banyak radiasi yang dipancarkan oleh benda panas terletak di luar daerah di mana mata itu peka, mengenai daerah UV dan inframerah dari spectrum yang terletak di kiri dan kanan daerah tampak. Dalam analisis secara spektrofotometri terdapat tiga daerah panjang gelombang elektromagnetik yang digunakan, yaitu: Daerah UV ; l = 200 380 nm Daerah visible (tampak); l = 380 700 nm Daerah inframerah (IR); l = 700 0,3

Manusia dengan ketampakan warna yang normal, dapat mengkorelasikan panjang gelombang cahaya yang mengenai mata dengan indera subjektif mengenai warna, dan memang warna kadang-kadang digunakan agar tidak repot untuk menandai porsi-porsi spectrum tertentu, seperti dipaparkan dalam klasifikasi kasar dalam tabel 4 di bawah ini.

Spektrum Tampak dan Warna-warna Komplementer Enrollment in local colleges, 2005 Panjang gelombang (nm) 400 435 435 480 480 490 490 500 500 560 560 580 580 595 595 610 610 750 Warna Warna Lembayung (violet) Biru Hijau-biru Biru-hijau Hijau Kuning-hijau Kuning Jingga Merah Komplementer Kuning-hijau Kuning Jingga Merah Ungu (purple) Lembayung (violet) Biru Hijau-biru Biru-hijau

Tabel Spektrum cahaya tampak (visible) Warna Red Orange Yellow Green Cyan Blue Violet Interval l 625 to 740 nm 590 to 625 nm 565 to 590 nm 520 to 565 nm 500 to 520 nm 430 to 500 nm 380 to 430 nm Interval n 480 to 405 THz 510 to 480 THz 530 to 510 THz 580 to 530 THz 600 to 580 THz 700 to 600 THz 790 to 700 THz

Kebanyakan molekul obat menyerap radiasi dalam daerah spectrum ultraviolet. Meskipun sebagian diwarnai sehingga menyerap radiasi dalam daerah visible, misalnya suatu zat berwarna biru menyerap merah pada daerah spectrum tersebut. Spektrofotometri UV/Visibel adalah metode standar untuk menentukan sifat fisikokimia molekul obat sebelum formulasi dan untuk mengukur pelepasannya dari formulasi. Serapan radiasi UV/visible terjadi melalui eksitasi elektro-elektro di dalam struktur molecular menjadi keadaan energy yang lebih tinggi. Transisi-transisi ini terjadi dari keadaan vibrasional bawah pada keadaan dasar elektronik molekul ke salah satu sejumlah tingkat vibrasi pada keadaan tereksitasi elektronik. Transisi dari suatu keadaan dasar ke salah satu dari sejumlah keadaan tereksitasi memberikan lebar pada spectrum UV. Struktur halus vibrasi dapat dilihat melalui pita-pita yang saling tumpang tidih secara ekstensif; pita vibrasi itu sendiri memiliki lebar akibat transisi rotasi yang merukan perantara energy pada setiap transisi vibrasi. Energi relative transisi elektronik:vibrasi:rotasi adalah 100:1:0,01 . Pada sebagian besar molekul perilaku vibrasi bersifat kompleks dan derajat tumpang tindih energy yang berbeda pada transisi vibrasi terlalu besar untuk teramatinya struktur halus vibrasi.

Radiasi di daerah UV/Visibel diserap melalui eksitasi electron-elektron yang terlibat dalam ikatan-ikatan antara atom-atom pembentuk molekul sehingga awan elektron menahan atom-atom bersama-sama mendistribusikan kembali atom-atom itu sendiri dan orbital yang ditempatioleh electron-elektron pengikat tidak lagi tumpang tindih. Radiasi panjang gelombang pendek <150nm (>8.3eV) dapat menyebabkan putusnya ikatan paling kuat di dalam molekul organic sehingga sangat membahayakan organisme hidup. Ikatan-ikatan yang lebih lemah di dalam molekul kaena ikatan tersebut dapat dieksitasi dengan radiasi UV panjang gelombang yang lebih panjang >200nm (<6.2eV) yang terdapat pada panjang gelombang yang lebih panjang daripada daerah di tempat udara dan pelarut-pelarut umum mengabsorpsi. Jika lebih banyak ikatan rangkap pada struktur dalam konjugasi (yaitu dua ikatan rangkap atau lebih dalam suatu seri yang dipisahkan oleh ikatan tunggal), serapan yang terjadi pada gelombang yang lebih panjang dan dengan insentitas yang lebih besar. Sistem ikatan rangkap yang diperpanjang tersebut dikenal sebagai kromofor. Kromofor yang paling umum ditemukan dalam molekul obat adalah cincin benzene. Cincin benzene sendiri memiliki panjang gelombang maksimumnya pada gelombang yang lebih pendek daripada triena linier seperti heksatriena (panjang gelombangnya (275nm) dan absorbansi terkuatnya adalah panjang gelombang serapan ikatan rangkap terisolasi pada 180nm. Benzene tersebut uga memiliki pita serapan yang kuat pada 204nm. Hal ini disebabkan oleh kesimetrisan benzene; mustahil memiliki tereksitasi yang melibatkan ketiga ikatan dalam benzene karena hal ini berarti bahwa dipol atau polarisasi kromofor suatu konsep 2 dimensi yang dibentuk pada keadaan tereksitasi , akan simetris sehingga akan ada dalam keadaan tiga dimensi dan bukan 2 dimensi.terdapat serapan lemah dalam spektrum benzen yang mendekati panjang maksimum untuk heksatriena dan hal ini dapat terjadi karena fibrasi cincin benzen pada arah tertentu dapat mengubah simetrinya sehingga memungkinkan ketiga rangkap tertentu terlibat pada keadaan tereksitasi .jika simetri cincin benzen diturunkan oleh substitusi pita pita pada spekltrum benzen mengalami pergeseran batokronik pergeseran kepanjang gelombang yang lebih panjang.subtitusi dapat melibatkan baik pemanjangan kromofor atau penempelan suatu ausokrom (suatu gugus yang mengandung 1 atau lebih pasangan elektron sunyi) pada cincin tersebut atau keduanya. Auksokrom gugus hidroksil dan gugus amino dipengaruhi oleh ph, mengalami pergeseran batokronik (pindah ke panjang gelombang yang lebih panjang) dan hiperkronik(menyerap lebih kuat jika suatu proton dihilangkan pada kondisi basa, melepaskan satu pasangan elektron sunyi tambahan.efek tersebut paling

jelas untuk gugus amin aromatik.spektrum serapan molekul obat disebabkan oleh kombinasi khusus auksokrom dan kromofor yang terdapat didalam strukturnya.

e) Aspek kuantitatif absorpsi Spektra serapan dapat diperoleh dengan menggunakan sampel dalam berbagai bentuk gas, lapisan tipis cairan, larutan dalam pelbagai pelarut, dan bahkan zat padat. Kebanyakan analitis melibatkan larutan, dengan cara mengembangkan pemerian kuantitatif dari hubungan antara konsentrasi suatu larutan dan kemampuannya menyerap radiasi.Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan hukum Lambert Beer, bila cahaya monokromatik (Io) melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It). Besarnya Ia oleh media

tergantung pada kepekatan dan jenis media serta panjang media yang dilalui. Biasanya panjang media sudah tetap dalam suatu alat.

Salah satu jenis spektrofotometer yang sering digunakan dalam kegiatan analisa adalah spektrofotometer UV-Vis. Panjang gelombang yang secara maksimal diabsorbsi adalah panjang gelombang yang khusus akan digunakan. Setelah cahaya melewati larutan uji, energy cahaya strike phototube dinyatakan sebagai ratio transmitansi cahaya I T(cahaya yang melewati sample) terhadap cahaya incident I 0 (intensitas cahaya dari sumber sebelum melewati sample). Cahaya diterima phototube adalah diukur sebagai persen transmitansi (%T) atau sebagai log kebalikannya, absorbansi (A). Kita dapat mengukur nilai %T dan A dengan persamaan berikut: %T persentase transmitansi= A (absorbansi) =log ...................................*)

Spectrometer visible Ketika cahaya dari panjang gelobang melalui larutan kimia yang diujikan, sebagian cahaya tersebut akan diabsorbsi oleh larutan. Hokum Lambert Beers yang dikembangkan pada tahun 1852 oleh J.Beer & Lambert menyatakan secara kuantitatif adsorbsi ini sebagai : .................................................*)

Keterangan : Io = intensitas cahaya sebelum melewati sample It = intensitas cahaya setelah melewati sample = koefisien ekstingsi , yaitu konstanta yang tergantung pada sifat alami dari senyawa substansi dan panjang gelombang yang digunakan untuk analisis. L = panjang atau jarak cahaya yang melewati sample C = konsentrasi dari larutan yang dianalisa

Hubungan

akan lebih cepat dipahami dengan melihat kebalikan dari sebagai transmitansi (T) dari larutan. Sedangkan

perbandingan tersebut yakni log

dikenal sebagai absorbansi (A) larutan.

Pernyataan ini menghasilkan persamaan A = -log T dengan A = .L.C. Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa persamaan ini menyerupai atau setipe dengan persamaan garis lurus Y = mx + b. Absorbansi cahaya dari larutan secara langsung berbanding lurus dengan konsentrasi larutan.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan berkaitan dengan satuan-satuan persamaan Lambert- Beers diatas yakni : T (transimttansi), T tidak memiliki satuan karena ini merupakan rasio intensitas cahaya. It dan I0 memiliki satuan yang sama oleh karenanya saling meniadakan. A (absorbansi), A juga tidak memiliki satuan karena hubunganya dengan T. L (pathlength), L biasanya memiliki satuan cm berdasarkan fakta kita menstandarkan panjang menggunakan tempat larutan yang dinamakan kuvet, memiliki satuan dengan lebar biasanya 1,0 cm. C (concentration), C memiliki satuan konsentrasi seperti M(molaritas) memiliki satuan mg/ml. atau ppm (parts per million) (the extincition coefficient), memiliki satuan yang berkebalikan dengan C dan L, sebagai contoh cm-1 dan M-1.

Persamaan hukum Lambert Beer adalah: Transmitans adalah perbandingan intensitas cahaya yang ditransmisikan ketika melewati sampel (It) dengan intensitas cahaya mula-mula sebelum melewati sampel (Io). adalah absorpsifitas molar atau koefisien molar extinction, nilainya dipengaruhi oleh sifat-sifat khas dari materi yang diradiasi. Jika

konsentrasi dalam satuan gram/liter maka, dapat diganti dengan a disebut sebagai absorpsivitas spesifik. Jadi, A= a.b.c .

Persyaratan hukum Lambert Beer, antara lain: 1. Radiasi yang digunakan harus monokromatik, 2. Energi radiasi yang diabsorpsi oleh sampel tidak menimbulkan reaksi kimia, jadi proses yang terjadi benar-benar absorpsi, 3. Sampel (larutan) yang mengabsorpsi harus homogen, 4. Tidak terjadi fluoresensi atau phosporesensi, dan 5. Indeks refraksi tidak berpengaruh terhadap konsentrasi, jadi larutan tidak pekat (harus encer).

Kita dapat mempersiapkan satu serial larutan yang memiliki substansi yang sama dalam konsentrasi yang diketahui dan jika kita plotkan A dan C, akan diperoleh garis lurus/linier. Hokum Lambert-Beers bekerja baik untuk larutan dengan konsentrasi rendah, tetapi menjadi tidak linier jika konsentrasi terlalu tinggi.

APLIKASI SPEKTROFOTOMETRI Koefisien Partisi Koefisien partisi suatu obat antara air dan pelarut organic dapat ditentukan dengan mengocok pelarut organic dan lapisan air bersama-sama dan menentukan jumlah obat baik dalam lapisan air maupun dalam pelarut organic dengan spektrofotometri UV. Kelarutan Kelarutan suatu obat di dalam, misalnya air mudah ditentukan dengan mengocok kelebihan obat tersebut di dalam air atau dapar sampai tercapai kesetimbangan dan kemudian menggunakan spektrofotometri UV untuk

menentukan konsentrasi obat yang telah hilang ke dalam larutan. Mtode lain untuk menentukan kelarutan dengan gugus dapat-terionisasi terdapat di dalam obat tersebut, adalah melarutkan berbagai konsentrasi bentuk garam obat di dalam air dan kemudian menambahkan kelebihan asam ke dalam larutan garam obat yang bersifat asam dan kelebihn basa ke dalam larutan garam obat yang bersifat basa, sehingga mengubah obat dalam bentuk yang tak terionisasi. Jika kelarutan obat tak terionisasi di dalam air berlebihan, akan dihasilkan larutan keruh dan spektrofotometri UV dapat digunakan untuk menentukan derajat kekeruhannya dengan penghamburan cahaya yang dapat diukur pada hampir semua panjang gelombang, misalnya 250nm.

Pelepasan obat dari formulasi spektrofotometri UV digunakan secara rutin untuk memantau pelepasan in vitro bahan - bahan aktif dari formulasi. Untuk formulasi sederhana, obat cukup dipantau pada panjang gelombang maksimumnya. Jika eksipien penyerap UV terdapat didalam formulasi tersebut, panjang gelombang UV yang digunakan perlu dipilih dengan hati-hati atau dapat juga menggunakan kromatografi cair tekanan tinggi (KCTT) yang dikombinasikan dengan detector UV. Untuk pengujian tersebut, pengambilan sampel pada medium disolusi dapat seluruhnya terotomatisasi sehingga mdium tersebut disaring dan dipompa ke dalam spektrofotometri UV pada interval waktu yang telah diatur untuk melihat hasil pembacaannya.

III.

ALAT DAN BAHAN


Alat Becker Glass Spektrofotometer uv-visible Labu ukur 1L Labu ukur 100ml Labu ukur 50ml Pipet tetes Batang Pengaduk Pipet 1ml, 5ml, 10ml

Bahan Aquades NaOH 4 gram Parasetamol 0,1007 gram

IV.

CARA KERJA
1. Alat dan bahan disiapkan, 2. Larutan NaOH dibuat, dengan ditimbang 4 gram NaOH dalam 1L aquades. 3. 0,1007 gr paracetamol ditimbang kemudian dilarutkan dalam larutan baku NaOH 100 mL (1000 ppm) 4. Larutan induk dari parasetamol dibuat sebanyak 1mg/ml parasetamol = 1000ppm yang diencerkan menjadi 100ppm. 5. Membuat parasetamol 10 ppm yang diencerkan 100x , dengan mengambil menggunakan pipet volume sebanyak 5 ml larutan induk parasetamol 100 ppm, dimasukan kedalam labu ukur 50ml dengan menambahkan NaOH ad 50ml kedalam labu ukur , 6. Menyiapkan alat spektrofotometer UV-Visible, 7. Menguji larutan NaOH sebagai blanko, terlebih dahulu dengan alat spektrofotometer, 8. Mengambil larutan sampel (parasetamol) yang akan di uji kedalam kuvet, kuvet tersebut dimasukkan kedalam spektrofotometer UV-Vis dengan perlakuan yang sama kami menguji sampel berikutnya dengan konsetrasi yang berbeda secara urut yaitu 2ppm,4ppm,8ppm, 10ppm,15 ppm dan 20 ppm 9. Mengamati kurva kalibrasi yang di tampilkan pada alat spektrofotometer UV-Visible.

V.

HASIL PENGAMATAN
: Parasetamol : 257 nm (menurut referensi )

Zat aktif zat aktif

paracetamol hasil pengamatan adalah 305,78 nm

Buat larutan NaOH 0,1N ; yaitu dengan menimbang 4 gram NaOH dengan menambahkan ad 1 liter aquadest. Buat larutan induk parasetamol 1000ppm (didapat dengan menimbang 100mg parasetamol dalam 100ml NaOH 0,1N ) =100mg/100ml = 1mg/ml = 1mg/10-3L = 1000mg/L = 1000ppm

Pengenceran larutan induk parasetamol 100ppm yaitu dengan pipet 10ml dari larutan induk 1000ppm lalu tambahkan dengan NaOH 0,1N ad 100ml. Kelompok 4 membuat parasetamol dengan kadar 10ppm yaitu:

V1 x N1 = V2 x N2 V1 x 100ppm = 50ml x 10ppm V1 = 5ml artinya 10ppm didapat dengan pipet 5ml larutan induk parasetamol 100ppm, lalu tambahkan dengan larutan NaOH ad 50ml Absorbansi (A) = a x b x c Keterangan: a = Slop b = ketebalan kupet (1 cm) c = Konsentrasi DATA PENGAMATAN Konsentrasi Absorban Paracetamol (A) 2 ppm 0,1399 Nilai (r) 0,998 Korelasi Daya Serap (a) A = a.b.c a = A/(b . c) = 0,1399/(1 . 2)

= 0,06995 4 ppm 0,2727 0,998 a = A/(b . c) = 0,2727/(1 . 4) = 0,068175 8 ppm 0,6036 0,998 a = A/(b . c) = 0,6036/ (1 . 8) = 0,07545 10 ppm 0,6652 0,998 a = A/(b . c) = 0,6652/ (1 . 10) = 0,06652 15 ppm 1,0314 0,998 a = A/b . c = 1,0314/ (1 . 15) = 0,06876 20 ppm 1,3591 0,998 a = A/b . c = 1,3591/ (1 . 20) = 0,067955 Berdasarkan data absorban pada sample, didapatkan nilai : a b r : 0,0141 : 0,0676 : 0,998

Maka persamaan kalibrasinya : Y = a bx = 0,0141 0,0676X

KURVA KALIBRASI PARASETAMOL


1.6000 1.4000 1.2000 Absorban 1.0000 0.8000 0.6000 0.4000 0.2000 0.0000 2 ppm 4 ppm 8 ppm 10 ppm 15 ppm 20 ppm konsentrasi parasetamol Series 1

VI.

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini kelompok kami menguji larutan paracetamol untuk mengetahui kurva kalibrasi, dan parasetamol yang kami gunakan sebanyak 5 ml dengan konsentrasi 10 ppm yang di encerkan dengan NaOH 1 M hingga 50 ml pada labu ukur. Pada tahap selanjutnya larutan tersebut kami uji dengan menggunakan alat spektrofotomer UV-visible untuk mengukur jumlah cahaya yang di absorbsi atau di transmisikan oleh molekul-molekul dalam larutan. Ketika panjang gelombang cahaya ditransmisikan melalui larutan, sebagian energi cahaya tersebut akan diserap (diabsorbsi), dan panjang gelombang yang dihasilkan adalah 305,78 nm. Panjang gelombang tersebut jauh dari panjang gelombang paracetamol menurut literatur yaitu 257nm. Menurut Hukum Lamber bear panjang minimal absorban yang baik yaitu 0,2-0,8nm dalam referensi lain menyebutkan 0,15-0,85nm. Disini dapat terlihat bahwa terjadi kesalahan pada percobaan. Menurut Miller & Miller (2001) tipe kesalahan dalam pengukuran analitik dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: 1. Kesalahan serius (Gross error) Tipe kesalahan ini sangat mempengaruhi panjang gelombang, sehingga konsekuensinya pengukuran harus diulangi. Contoh dari kesalahan ini adalah kontaminasi reagent yang digunakan, peralatan & sampel yang terbuang, dan lain lain. Indikasi dari kesalahan ini cukup jelas dari gambaran data yang sangat

menyimpang, data tidak dapat memberikan pola hasil yang jelas, tingkat reprodusibilitas yang sangat rendah dan lain lain.

2. Kesalahan acak (Random error) Golongan kesalahan ini merupakan bentuk kesalahan yang menyebabkan hasil dari suatu perulangan menjadi relatif berbeda satu sama lain, dimana hasil secara individual berada di sekitar harga rata-rata. Kesalahan ini memberi efek pada tingkat akurasi dan kemampuan dapat terulang (reprodusibilitas). Kesalahan ini bersifat wajar dan tidak dapat dihindari, hanya bisa direduksi dengan kehati-hatian dan konsentrasi dalam bekerja.

3. Kesalahan sistematik (Systematic error) Kesalahan sistematik merupakan jenis kesalahan yang menyebabkan semua hasil data salah dengan suatu kemiripan. Hal ini dapat diatasi dengan: a. Standarisasi prosedur b. Standarisasi bahan c. Kalibrasi instrument

Pada praktikum kali ini terjadi kesalahan acak, dimana terdapat bahan pengotor pada sampel. Namun, data yang dihasilkan masih terlihat jelas dengan menunjukkan residual eror sekitar 0,026169 dan correlation coefficient yaitu 0,998. Aspek- aspek yang yang dapat mempengaruhi posisi dan intensitas pita serapan molekul pada spektrofotometri UV/ Visibel yakni pelarut yang digunakan untuk melarutkan sampel, konsentrasi, PH, dan suhu. Pemuaian pelarut organic akibat suhu dapat menyebabkan perubahan dalam pembacaan, seperti yang terjadi pada penguapan maka sel sampel harus tertutup, terutama jika yang digunakan adalah pelarut organic. Hal inilah yang terjadi pada saat percobaan yang menyebabkan kesalahan, dimana pada saat ingin melakukan pengukuran panjang gelombang NaOH pada rasetamol kontak dengan udara sehingga terjadi pemuaian. Kesalahan juga terjadi

karena factor human eror pada saat pembuatan larutan induk parasetamol 100ppm.

VII.

KESIMPULAN
a. Metode yang digunakan untuk penentuan slop yaitu dengan metode Least-squares merupakan suatu cara yang berguna untuk mendapatkan grafik yang paling sesuai dari suatu set titik-titik data, dimana pada metode ini dianggap bahwa ada suatu hubungan linier antara variable-variabel. ( Shargel. L biofarmasetika dan farmakodinamika terapan; 14) b. Pada praktikum ini nilai absorban berubah, sedangkan panjang gelombang tidak berubah karena panjang gelombang bersifat spesifik untuk setiap zat. c. Absorban berbanding lurus dengan konsentrasi. Semakin tinggi konsentrasi, semakin besar nilai absorban d. Panjang gelombang maksimal parasetamol yaitu 305,78nm e. Factor korelasi yang didapat antara konsentrasi dan nilai absorban adalah 0,998

VIII.

DAFTAR PUSTAKA

Shargel, Leon. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi II. Surabaya: Airlangga University Press. Bertram G. Katzung. Farmakologi dasar dan klinik edisi VI. Farmakope Indonesia edisi ketiga tahun 1979 David G.Watson Analisis farmasi (buku ajar untuk mahasiswa farmasi dan praktisi kimia farmasi edisi 2. Jakarta: EGC Handbook of pharmaceutical excipient 5th edition Paper seri Manajemen Laboratorium Drs. Iqmal Tahir, M.Si iqmal@ugm.ac.id ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN pHMETER DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis Miller, J.N and Miller, J.C., 2000, Statistics and Chemometrics for Analytical Chemistry, 4th ed, Prentice Hall, Harlow.