P. 1
Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter

|Views: 122|Likes:
Published by alif fikri
“Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, & anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram & kecewa sekalipun telah hidup dalam 1 negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh & beratus tahun yang lampau… Semua orang menghitung pengorbanannya, & minta dihargai... Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu, & merajalela sifat serakah… Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya....” --M. Natsir
“Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, & anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram & kecewa sekalipun telah hidup dalam 1 negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh & beratus tahun yang lampau… Semua orang menghitung pengorbanannya, & minta dihargai... Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu, & merajalela sifat serakah… Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya....” --M. Natsir

More info:

Published by: alif fikri on May 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

08/27/2015

pdf

opini

Adian Husaini
Konsultan Pendidikan Pesantren

REPUBLIKA

Halaman>> Senin > 14 Juni 2010

4

Pendidikan Karakter

>> tajuk <<

M

ohammad Natsir, salah satu pah lawan nasional, tampaknya percaya betul dengan ungkapan Dr GJ Nieuwenhuis: ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.” Menurut rumus ini, dua kata kunci kemajuan bangsa adalah ‘guru’ dan ‘pengorbanan’. Maka itu, awal kebangkitan bangsa harus dimulai dengan mencetak ‘guru-guru yang suka berkorban’. Guru yang dimaksud Natsir bukan sekadar ‘guru pengajar dalam kelas formal’. Guru adalah para pemimpin, orang tua, dan juga pendidik. Guru adalah teladan. ‘Guru’ adalah ‘digugu’ (didengar) dan ‘ditiru’ (dicontoh). Guru bukan sekadar terampil mengajar bagaimana menjawab soal Ujian Nasional, tetapi diri dan hidupnya harus menjadi contoh bagi murid-muridnya. Mohammad Natsir adalah contoh guru sejati, meski tidak pernah mengenyam pendidikan di fakultas keguruan dan pendidikan. Hidupnya dipe nuhi dengan idealisme tinggi untuk memajukan dunia pendidikan dan bangsanya. Setamat AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung, dia memilih terjun langsung ke dalam perjuangan dan pendidikan. Ia mendirikan Pendis (Pendidikan Islam) di Ban dung. Di sini, Natsir memimpin, mengajar, mencari guru dan dana. Terkadang, ia keliling ke sejumlah kota mencari dana untuk keberlangsungan pendidikannya. Kadangkala, perhiasan istrinya pun diga daikan untuk menutup uang

kontrak tempat sekolahnya. Di samping itu, Natsir juga melakukan terobosan dengan memberikan pelajaran agama kepada murid-murid HIS, MULO, dan Kweekschool (Sekolah Guru). Ia mulai mengajar agama dalam bahasa Belanda. Kumpulan naskah pengajarannya kemudian dibukukan atas permintaan Sukarno saat dibuang ke Endeh, dan diberi judul Komt tot Gebeid (Marilah Shalat). Pada 17 Agustus 1951, hanya enam tahun setelah kemerdekaan RI, M Natsir melalui sebuah artikelnya yang berjudul Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut, Natsir mengingatkan bahaya besar yang dihadapi bangsa Indonesia, yaitu mulai memudarnya semangat pengorbanan. Melalui artikelnya ini, Natsir meng gambarkan betapa jauhnya kondisi manusia Indonesia setelah kemerdekaan dengan prakemerdekaan. Sebelum kemerdekaan, kata Natsir, bangsa Indonesia sangat mencintai pengorbanan. Hanya enam tahun sesudah kemerdekaan, segalanya mulai berubah. Natsir menulis: “Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, ru mahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau… Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai…Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu, dan merajalela sifat serakah… Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya....” Peringatan Natsir hampir 60 tahun lalu itu perlu dicermati oleh para elite bangsa, khususnya para pejabat dan para pendidik. Jika ingin bang-

sa Indonesia menjadi bangsa besar yang disegani di dunia, wujudkanlah guru-guru yang mencintai pengorbanan dan bisa menjadi teladan bagi bangsanya. Beberapa tahun menjelang wafatnya, Natsir juga menitipkan pesan kepada sejumlah cendekiawan yang mewawancarainya, ”Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.” Lebih jauh, kata Natsir: ”Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang ‘baru’, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi, geja la yang ‘baru’ ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, melainkan bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.” Seorang dosen fakultas kedokteran pernah menyampaikan keprihatinan kepada saya. Berdasarkan survei, separuh lebih mahasiswa kedokteran di kampusnya mengaku, masuk fakultas kedokteran untuk mengejar materi. Menjadi dokter adalah baik. Menjadi ekonom, ahli teknik, dan berbagai profesi lain, memang baik. Tetapi, jika tujuannya adalah untuk mengeruk kekayaan, dia akan melihat biaya kuliah yang dikeluarkan sebagai investasi yang harus kembali bila lulus kuliah. Ia kuliah bukan karena mencintai ilmu dan pekerjaannya, melainkan berburu uang! Dunia Pendidikan di Indonesia kini sedang memasuki masa-masa yang sangat pelik. Kucuran dana besar disertai berbagai program terobosan sepertinya belum mampu me-

mecahkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana mencetak alumni pendidikan yang unggul, beriman, bertakwa, profesional, dan berkarakter. Dr Ratna Megawangi dalam bukunya, Semua Berakar pada Karakter (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2007), mencontohkan, bagaimana kesuksesan Cina dalam menerapkan pendidikan karakter sejak awal tahun 1980-an. Menurut dia, pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good. Yakni, suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands. Banyak program pendidikan gagal, karena memang tidak serius untuk diamalkan. Dan lebih penting, tak ada contoh! Kini, sebagaimana dikatakan Natsir, yang dibutuhkan bangsa ini adalah ‘guru-guru sejati’ yang cinta berkorban untuk bangsanya. Bagaimana murid akan berkarakter; jika setiap hari dia melihat pejabat mengumbar kata-kata, tanpa amal nyata. Bagaimana anak didik akan mencintai gurunya, sedangkan mata kepala mereka menonton guru dan sekolahnya materialis, mengeruk keuntungan sebesar-besarnya melalui lembaga pendidikan. Pendidikan karakter adalah perkara besar. Bukan urusan Kementerian Pendidikan semata. Presiden, menteri, anggota DPR, dan para pejabat lainnya harus memberi teladan. Jangan minta rakyat hidup sederhana, hemat BBM, tapi rakyat dan anak didik dengan jelas melihat, para pejabat sama sekali tidak hidup sederhana dan mobil-mobil mereka –– yang dibiayai oleh rakyat –– adalah mobil impor dan sama sekali tidak hemat. I

Listrik Gratis
Masalah listrik sepertinya tidak pernah selesai dibahas di negeri ini. Mulai dari distribusi yang tidak merata sehingga di beberapa daerah masih biarpet sampai pada besaran subsidi yang harus diberikan. Dari situ, kemudian yang tak pernah selesai dirembuk adalah tarif listrik. Setiap tahun, selalu terjadi tarik-menarik berapa subsidi listrik yang pantas. Pada APBN 2010 ini, subsidi listrik ditetapkan Rp 56 triliun. Angka yang cukup besar untuk sebuah subsidi. Apalagi, sebagian penerima subsidi adalah kalangan mampu. Dirut PLN, Dahlan Iskan, memberikan usulan menarik terkait dengan kenaikan listrik ini. Pertama, dia mengusulkan bahwa untuk membantu masyarakat kecil pelanggan listrik, akan diberikan bantuan langsung tunai (BLT). Jadi, kira-kira, nantinya, pelanggan 450 watt dan mungkin juga 900 watt akan diberi potongan yang nilai rupiahnya ditentukan. Misalnya, mereka diberi potongan Rp 20 ribu. Jika tagihan listrik Rp 50 ribu, yang harus dibayar hanya RP 30 ribu. Dengan perhitungan semacam itu, kelak subsidi listrik bisa terukur dan lebih tepat sasaran. Usulan kedua yang kemarin dilontarkan lebih mengejutkan: berikan listrik gratis kepada rakyat miskin. Para pelanggan 450 watt dibebaskan sama sekali dari pembayaran listrik. Sementara itu, pelanggan yang berada di atas itu diberikan harga setara dengan harga keekonomian. Bagi pemerintah dan PLN, itu lebih menguntungkan karena hanya mengeluarkan Rp 1,5 triliun, tapi memperoleh Rp 30 triliun. Dahlan menantang anggota DPR dan juga pemerintah untuk melaksanakan itu. Terobosan-terobosan (meski baru bersifat usulan) seperti ini memang menarik untuk dikaji. Ini masalah keberpihakan kepada rakyat sekaligus mengakhiri perdebatan yang tidak pernah tuntas atas masalah subsidi listrik. Masalahnya, tidak semua rakyat miskin menjadi pelanggan listrik. Menjadi tidak adil jika hanya pelanggan listrik yang memperoleh subsidi, sementara rakyat miskin bukan pelanggan masih bergelap gulita. Kecuali, ada jaminan dari pemerintah bahwa dalam waktu dekat semua rakyat Indonesia bisa menikmati listrik sehingga subsidi pun menjadi merata. Lepas dari itu, sebetulnya yang menjadikan listrik kita mahal karena sebagian besar pembangkit listrik digerakkan oleh bahan bakar minyak (BBM). Dengan kecenderungan harga minyak yang terus naik, biaya untuk membangkitkan listrik menjadi tinggi. Padahal, negeri kita ini memiliki banyak sumber energi lain yang bisa menjadi pembangkit listrik, seperti batu bara, gas, panas bumi, dan bahkan juga nuklir. Jika seluruh sumber daya alam itu dikerahkan, biaya pembangkit tenaga listrik bisa ditekan dan akhirnya harga listrik pun bisa lebih rendah atau paling tidak subsidi akan bisa terpangkas. Pembangunan listrik 10.000 MW sebagian sudah mengarah ke penggunaan energi nonBBM, tapi belum optimal sebagaimana yang kita inginkan. Pemerintah wajib memberikan listrik untuk rakyat. Untuk rakyat kecil, tak salah kalau kemudian diberikan gratis. Tapi, yang tak kalah pentingnya adalah mengoptimalkan sumber daya alam yang kita miliki untuk kesejahteraan kita sendiri, termasuk untuk kepentingan listrik. Dengan begitu, kalaupun ada kenaikan listrik untuk pemakai kelas menengah, tidak terlalu mencekik pendapatan masyarakat. I

Kaya Dulu, Baru Nonton Piala Dunia
S Sahala Tua Saragih
Dosen Fikom Unpad

>> suarapublika <<
HOTEL ARYADUTA Terima Kasih
Sehubungan dengan permasalahan saya, pihak manajemen Hotel Aryaduta Jakarta dan penyelenggara The American Studies Center The Center of International Relations Studies (CIReS) Universitas Indonesia telah menyelesaikan dengan baik.

W

isatawan asing umumnya ketika berkunjung ke negeri kita niscaya senantiasa membawa peta kota/daerah yang mereka tuju. Mereka tidak mempunya tradisi bertanya, tetapi punya tradisi membaca peta. Maklum, mereka telah lama berada pada peradaban baca. Jangan bandingkan dengan kita yang masih terbelenggu tradisi lisan (dalam hal ini bertanya). Dengan membaca peta yang sangat PErinci, mereka pasti tak tersesat. Para petualang atau pencinta alam bebas yang suka masuk-keluar rimba raya juga selalu menggunakan peta dan kompas. Kalau tidak, pastilah mereka tersesat, terus berputar-putar di tengah belantara luas. Miliaran penduduk bumi selama 11 Juni-11 Juli dengan senang hati tiap malam secara langsung dan tak langsung menonton peristiwa akbar tahun ini, Piala Dunia (PD) 2010 di Afrika Selatan (Afsel). Kegiatan olahraga terpopuler empat tahunan itu pastilah sangat kaya fakta dan makna. Peristiwa yang diikuti 32 negara tersebut pastilah menjadi sumber inspirasi berharga bagi banyak pencinta sepak bola, termasuk kita, penduduk negeri ini, yang berstatus penonton belaka. Dalam dunia jurnalisme, ada ungkapan terkenal, yaitu

kekayaan objek sangat bergantung kepada kekayaan subjek. Objek adalah peristiwa atau realitas, sumber-sumber berita, dan narasumber. Sementara itu, subjek adalah wartawan yang meliputnya. Bila sang wartawan benar-benar kaya secara intelektual, rohaniah, sosial, dan emosional; objek yang diliputnya pastilah kaya pula. Laporan yang kaya (bermutu tinggi) pastilah dapat memperkaya khalayaknya. Hal yang sama juga berlaku dalam menonton PD 2010. Peristiwa akbar itu pastilah sangat kaya bila kita (penonton) sangat kaya. Artinya, sebelum menyaksikan pertadingan demi pertandingan tiap hari, kita sudah terlebih dahulu mem perkaya diri dengan membaca buku-buku panduan PD 2010, di samping panduan di media massa cetak. Sejak awal tahun ini, terlebih sebulan menjelang PD tersebut, pasar buku dibanjiri buku panduan PD 2010 dan buku sejarah PD sejak pertama (1930) di Uruguay hingga PD 2006 di Jerman, terutama yang menyangkut berbagai peristiwa unik, lucu, tragis, dramatis, dan sebagainya. Sebagian buku tersebut memang benar-benar panduan bagi pembaca. Namun, sebagian lagi cuma informasi dangkal, tanpa komentar dan pemaknaan pula. Sebagian penulis buku PD 2010 tergolong penulis dadakan, penganut aji mumpungisme, dan terkesan sok tahu, terutama dalam hal membuat prakiraan juara PD 2010. Bagaimana kita dapat

memercayai panduan dan prakiraan mereka? Sebagian penulis cuma mengumpulkan berbagai informasi dari laman Wikipedia dan berbagai media/lembaga lainnya. Mereka sama sekali tak merujuk kepada buku-buku yang telah diakui sebagai acuan PD selama ini. Mereka sama sekali tak menunjukkan kreasi orisinal mereka sendiri. Mereka layak disebut kompilator semata. Bahkan, sebagian buku PD itu tak memuat nama penulis dan penerbitnya. Identitas penulisnya disebut team (tim) anu saja. Mungkin, mereka takut ketahuan identitas sebagai penjiplak karya-karya orang lain. Harga buku-buku PD rupa-rupa, dari Rp 40.000 hingga Rp 99.000/buku. Di pasar buku dan toko-toko buku tertentu, pastilah ada potongan harga 20-30 persen. Di dalam sebagian buku itu, terdapat poster lebar berisi jadwal lengkap PD 2010. Entah mengapa, sebagian besar buku tersebut tak memuat informasi tentang tiadanya PD pada 1942 dan 1946 (gara-gara Perang Dunia II). Syukurlah, sebagian penulis buku PD 2010 memang seharihari berprofesi wartawan olahraga dan menggunakan berbagai buku sebagai acuan sehingga kita memercayai panduan dan prakiraan mereka. Sebagian isi buku-buku ter sebut tak akurat karena dicetak sebelum pengumuman resmi nama-nama para pemain tiap tim. Contohnya, dalam banyak buku, dipastikan sejumlah bintang akan tampil

cemerlang. Dari belasan buku PD, menurut saya, yang terbaik adalah karya Keir Radnedge yang berjudul, 2010 FIFA World Cup South Africa, Buku Resmi (terjemahan Damaring Tyas), terbitan Erlangga, Jakarta. Buku ini dicetak warna-warni di atas kertas mewah dengan tata letak yang sangat bagus, lengkap dengan fotofoto bagus, dan bersejarah pula. Maklumlah, penulisnya wartawan olahraga (terutama sepak bola) kelas dunia selama lebih dari 40 tahun. Keir Radnedge menjadi wartawan olahraga di berbagai media massa ternama Inggris, antara lain The Daily Mail, The Guardian, World Soccer, radio dan televisi BBC London, CNN Amerika Serikat, dan SportsFeatures.com. Tiap topik ditulis dengan ringkas, tetapi padat informasi penting. Sayang, ada sedikit kesalahan sang penerjemah. Contohnya, pada alinea pertama pendahuluan dan sampul belakang, dia menggunakan kata terakbar. Dalam bahasa Arab, akbar berarti paling besar. Lalu, apa jadinya arti terakbar? Buku panduan lain yang cukup bagus,World Cup Guide 2010, Bedah Kekuatan 32 Kontestan, dan Sejarah Piala Dunia 1930-2006 karya Candra Wahyudi dkk dari Grup Jawa Pos Surabaya. Aneka informasi bagus disajikan di atas kertas mewah penuh warna plus foto-foto bagus. Namun, dalam hal tata letak, buku resmi PD 2010 karya Keir lebih bagus. I

Husni Amriyanto Wakil Rektor Bidang III KAPK & PMB Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

LION AIR Mengecewakan
Pada Kamis, 27 Mei 2010, saya terbang dari Denpasar menuju Surabaya dengan menggunakan maskapai Lion Air bernomor penerbangan JT 053 dan jadwal keberangkatan pesawat pukul 13.20 WITA. Saya terbang dengan membawa satu tas yang saya masukkan ke bagasi pesawat dengan nomor bagasi (tag number): 003 198 385. Di dalam tas tersebut, terdapat dua buah ponsel saya, yaitu Ponsel Sambung Omnia B7320 warna cokelat dan Samsung SGH-L700 warna silver. Pada saat check-in, saya lupa mengambil kedua ponsel tersebut dari tas sehingga masuk ke dalam bagasi pesawat. Ketika menunggu boarding di ruang tunggu, saya baru teringat bahwa ponsel saya tertinggal di dalam tas yang telah masuk ke dalam bagasi pesawat. Setelah pesawat mendarat di Surabaya, saya segera mengambil tas saya di baggage claim. Saya pun langsung mencari ponsel saya di tas tersebut. Ternyata, ponsel saya sudah hilang dicuri orang. Saya langsung melaporkan kehilangan tersebut ke counter Lion Air di Bandara Juanda, Surabaya. Saya dilayani oleh petugas dari Lion Air yang sangat baik dan ramah, yaitu Bapak Edwyn. Oleh Bapak Edwyn, saya dibuatkan berita kehilangan (Lost of Unchecked Article Report Courtesy Tracing). Pak Edwyn juga menjelaskan bahwa pihak Lion Air akan segera mengusut atau menindaklanjuti kehilangan ini dan akan mengabarkan perkembangan selanjutnya. Jumat pagi, 28 Mei 2010, saya menghubungi Lion Air di nomor (031) 8688 527 untuk menanyakan keberadaan ponsel saya, apakah sudah ditemukan atau belum. Saya juga meninggalkan nomor telepon agar bisa dihubungi pihak Lion Air. Menurut petugas Lion Air (yang menjawab telepon saya), mereka sudah melakukan penelusuran di Denpasar atau di Surabaya, tetapi hasilnya negatif. Saya menunggu sampai hari Senin, 1 Juni 2010, pihak Lion Air tidak pernah menghubungi saya lagi. Edi Raharjo KPP Pratama Denpasar Barat Jl. Raya Puputan No13, Denpasar, Bali
Penerbit: PT. Republika Media Mandiri. Alamat Redaksi: Jl. Warung Buncit Raya No. 37, Jakarta 12510, Alamat Surat: PO Box 1006/JKS-Jakarta 12010. Tel: 021-780.3747 (Hunting), Fax: 021-780.0649 (Seluruh Bagian). Fax Redaksi: 021-798.3623, E-mail: sekretariat@republika.co.id. Bagian Iklan: Jl. Warung Buncit Raya No. 37, Jakarta 12510. Tel: 021-794.4693, Fax: 021-798.1169. Alamat Perwakilan Iklan: Jl. Gajahmada No. 95, Jakar ta 11140. Tel: 021633.6410. Fax: 021-633.7470. Sirkulasi dan Langganan: Tel: 021-791.98441, Fax: 021-791.98442. Online: http://www.republika.co.id. Alamat Perwakilan: Bandung: Jl. LL RE Martadinata No. 126 Tel: 022-420.7671, 420.7672, 420.7675, Fax: 022-426.2829, Yogyakarta: Jl. Perahu No. 4, Kota Baru, Tel: 0274-544.972, 566028, Fax: 0274541.582, Surabaya: Jl. Barata Jaya No. 51, Tel: 031-501.7409, Fax: 031-504.5072. Direktur Utama: Erick Thohir. Wakil Direktur Utama: Daniel Wewengkang. Direktur Operasional: Tommy Tamtomo. Direktur Keuangan: Rachmat Yuliwinoto. GM Keuangan: Didik Irianto. GM Marketing dan Sales: Ismed Adrian. Manager Iklan: Yulianingsih. Manager Produksi: Nurrokhim. Manager Sirkulasi: Dedik Supardiono. Manager Keuangan: Hery Setiawan. Harga Langganan: Rp. 69.000 per bulan, harga eceran Pulau Jawa Rp 2.900. Harga Eceran Luar Jawa: Rp. 3.500 per eksemplar (tambah ongkos kirim). Rekening Bank a.n PT Republika Media Mandiri: Bank BSM, Cab. Warung Buncit, No. Rek. 0030113448 ( Bank Mandiri, Cab. Warung Buncit, No. Rek. 1270004240642 ( Bank Lippo, Cab. Warung Buncit, No. Rek. 727.30.028988 ( Bank BCA, Cab. Graha Inti Fauzi, No. Rek. 375.305.666.8. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers: SK Menpen No. 283/SK/MENPEN/SIUPP/A.7/1992, Anggota Serikat Penerbit Surat Kabar: Anggota SPS No. 163/1993/11/A/2002.

HARIAN UMUM

REPUBLIKA
MAHAKA MEDIA

Semua naskah yang dikirim ke Redaksi dan diterbitkan menjadi milik HU Republika. Semua wartawan HU Republika dibekali tanda pengenal dan tidak menerima maupun meminta imbalan dari siapa pun. Semua isi artikel/tulisan yang berasal dari luar, sepenuhnya tanggung jawab penulis yang bersangkutan. (Semua isi artikel/tulisan yang terdapat di suplemen daerah, menjadi tanggung jawab Kepala Perwakilan Daerah bersangkutan.

Pemimpin Redaksi: Ikhwanul Kiram Mashuri. Wakil Pemimpin Redaksi: Nasihin Masha. Redaktur Pelaksana: Agung Pragitya Vazza. Kepala Newsroom: Arys Hilman. Kepala Republika Online: Irfan Junaidi. Redaktur Senior: Anif Punto Utomo. Wakil Redaktur Pelaksana: Elba Damhuri, M Ir wan Ariefyanto, S Kumara Dewatasari. Asisten Redaktur Pelaksana: Nurul S Hamami, Subroto, Rakhmat Hadi Sucipto, Nina Chairani Ibrahim, Bidramnanta, Selamat Ginting, Syahruddin El-Fikri. Staf Redaksi: Alwi Shahab, Agus Yulianto Budi Utomo, Burhanuddin Bella, C Purwatiningsih, Damanhuri Zuhri, Darmawan Sepriyossa, Djoko Suceno, Darmawan,Edi Setyoko, Eko Widiyatno,Endro Cahyono, Firkah Fansuri, Harun Husein, Heri Pur wata, Heri Ruslan, Ir wan Kelana, Johar Arief, Joko Sadewo, Khoirul Azwar, Maghfiroh Yenny, Muhammad Subarkah, M Ghufron, Natalia Endah Hapsari, M As’adi, Neni Ridarineni, Andi Nur Aminah, Nur Hasan Murtiaji, Priyantono Oemar, Siwi Tri Puji Budiwiyati, Stevy Maradona,Sunarwoto, Taufiqurrahman Bachdari, Teguh Setiawan, Wachidah Handasah, Yeyen Rostiyani, Yusuf Assidiq. Andri Saubani, Anjar Fahmiarto, Budi Rahardjo, Cepi Setiadi, Desi Susilawati, Dewi Mardiani, Didi Purwadi, Dyah Ratna Meta Novia, EH Ismail, Endro Yuwanto, Fernan Rahadi, Ferry Kisihandi, Indah Wulandari, Indira Rezkisari, M Ikhsan Shiddieqy, Mansyur Faqih, Mohammad Akbar, M Anis Fathoni, Mohamad Amin Madani, Nidia Zuraya, Palupi Annisa Auliani, Prima Restri Ludfiani, R Hiru Muhammad, Rachmat Santosa Basarah, Rahmat Budi Harto, Ratna Puspita, Reiny Dwinanda, Rosyid Nurul Hakim, Rusdy Nurdiansyah, Susie Evidia Yuvidianti, Teguh Firmansyah, Wardianto, Wulan Tunjung Palupi, Yogi Ardhi Cahyadi, Yoebal Ganesha Rasyid,Yogie Respati, Zaky Al Hamzah. Kepala Desain: Sarjono. Kepala Perwakilan Jawa Barat: Maman Sudiaman. Kepala Perwakilan DIY - Jawa Tengah: Indra Wisnu Wardhana. Kepala Perwakilan Jawa Timur: Asep Nurzaman. Nian Poloan (Medan), Maspril Aries (Palembang), Ahmad Baraas (Bali). Sekretaris Redaksi: Fachrul Ratzi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->