1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Orde baru telah membangun suatu pemerintahan nasional yang menempatkan stabilitas politik terpusat sebagai landasan acuan dari seluruh kebijakan pemerintah, terutama kebijakan bidang ekonomi. Sistem pemerintahan sentralistik yang terjadi telah mengakibatkan terpuruknya perekonomian Indonesia dan terjadi ketimpangan pembangunan antar daerah dan ketimpangan antar sektor ekonomi. Berdasarkan UU No 5 tahun 1974, pemerintah pusat terlihat dominan terhadap pemerintahan daerah dalam hal pembagian kekuasaan. Pemerintah pusat mengontrol hampir semua pendapatan daerah yang menjadi sumber penerimaan negara. Ketidakadilan inilah yang menjadi pemicu ketidakpuasan daerah yang memiliki potensi sumber daya alamnya besar, sehingga muncul masalah ketimpangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebagai penghasil sumber daya alam. Menanggapi ketidakpuasan dari pemerintah daerah tersebut, maka pemerintah pusat pada masa reformasi mengeluarkan Undang-undang No 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan UU No 25 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. UU Nomor 32 Tahun 2004 merupakan koreksi total atas kelemahan yang terdapat dalam UU Nomor 22 Tahun 1999. UU ini dilengkapi dengan sistem pemilihan langsung kepala daerah. Melalui Undang-Undang ini, berdasarkan prinsip otonomi daerah pemerintah pusat memberikan wewenang yang luas pada 2 pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan. Penyerahankewenangan dari pusat ke daerah diikuti juga dengan penyerahan kewenangan pembiayaan bagi penyelenggaraan pemerintah daerah. Salah satu kelebihan dari UU ini adalah memberikan akses yang lebih luas kepada daerah terhadap pengolahan sumber daya alam dan kebijakan pembangunan yang sesuai dengan harapan masyarakat daerah yang bersangkutan (Setiawan, 2006) Tujuan dari pemberian otonomi daerah adalah: (1) untuk mengembangkan mekanisme demokrasi di tingkat daerah dalam bentuk menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, baik untuk kepentingan daerah setempat maupun untuk mendukung kebijakan politik nasional dalam era reformasi, (2) membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan kebijakan regional dan lokal dengan 1

mengoptimalkan pendayagunaan potensi ekonomi daerah, (3) memudahkan lahirnya berbagai prakarsa pemerintah daerah untuk menawarkan fasilitas investasi, memudahkan proses perizinan usaha dan membangun berbagai infrastruktur yang menunjang perputaran ekonomi daerah,dan (4) meningkatkan prakarsa, kreativitas dan partisipasi masyarakat, serta menetapkan regulasi untuk memperkokoh basis perekonomian daerah (Ilyas, 2001). Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa pemerintah daerah masingmasing memiliki kemampuan untuk merencanakan dan mengelola pembangunan secara mandiri serta lebih mengenal dan mengetahui potensi serta keunggulan daerahnya. Adanya kebijakan otonomi daerah diharapkan pemerintah daerah lebih efektif dan mampu memenuhi pelayanan publik yang dibutuhkan, membangun sarana perekonomian serta dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, dan dapat pula meningkatkan produksi sektor ekonomi yaitu dengan memberikan perhatian yang lebih terhadap sektor yang mampu bersaing dengan kabupaten lain. Pelaksanaan pembangunan tersebut, pemerintah daerah menentukan sektor yang menjadi priorotas pembangunan dengan menyesuaikan pada kondisi dan potensi yang dimiliki daerah. Oleh karenanya investasi pada sektor yang menjadi prioritas pembangunan harus ditentukan sebagai mesin pertumbuhan, dan menjadi sektor unggulan, sehingga sektor-sektor tersebut diharapkan mampu untuk merangsang dan mendorong perluasan sektor-sektor lainnya. Masa pemulihan ekonomi daerah yang saat ini sedang berlangsung,aktivitas perdagangan dan investasi lokal merupakan mesin penggerak yangpaling baik bagi pertumbuhan. Menurut Brodjonegoro, modal merupakan komponen penting dalam pembangunan daerah di Indonesia, berdasarkan hasil estimasi pertumbuhan antar daerah, modal memberikan sumbangan sekitar 80 persen, sehingga daerah dengan modal yang lebih besar akan diuntungkan dalam proses produksi (Pardede, 2004). Dengan demikian informasi tentang sektor mana yang memiliki pertumbuhan dan daya saing berguna untuk memudahkan bagi pemerintah dan investor untuk menanamkan modalnya. Otonomi daerah diimplememtasikan dari mulai propinsi sampai ke kabupaten/kota yang ada di Indonesia. Salah satunya Kabupaten Tasikmalaya dengan ibu kota Singaparna setelah mengimplementasikan kebijakan otonomi daerah, diharapkan dapat menentukan arah pembangunannya. Secara geografis Kabupaten Tasikmalaya berada pada lintasan jalur ekonomi selatan Jawa Barat, Kabupaten Tasikmalaya dapat diuntungkan akan kuatnya permintaan terhadap produk home industry yang akan membuka peluang pasar bagi produk-produk unggulan. Jika dilihat dari perolehan PDRB Jawa Barat, maka Kabupaten Tasikmalaya tergolong daerah kurang berkembang, dengan Pendapatan Regional 2

90 3.33 1.23 4.13 4. perdagangan dan jasa-jasa dengan proporsi dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 1.98 3.58 100 2004 36.Bruto (PDRB) menempati posisi ke-19 dari 25 kabupaten/kota di Jawa Barat Struktur perekonomian Kabupaten Tasikmalaya pada saat setelah terjadi pemekaran didominasi oleh sektor pertanian.25 4.56 0.35 100 2005 36.36 18.91 3.81 23.86 3.57 persen pertahun untuk sektor pertanian.03 4. dan 23.44 18.55 0.42 0.44 18.66 4.74 persen pertahun untuk perdagangan.80 100 2003 36.27 6.75 23. terlihat bahwa kontribusi sektor pertanian dan perdagangan terhadap PDRB sangat besar.26 6.26 6.72 0.78 24.78 23.77 23.97 4. pada era otonomi daerah kontribusinya yaitu 36.08 4.29 4.58 0.50 18.48 100 Berdasarkan Tabel 1.26 6.86 100 Masa otonomi daerah 2002 36. Persentase PDRB Kabupaten Tasikmalaya Pada Era Otonomi Daerah dengan Harga Konstan Tahun 2000 No Sektor 2001 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian pertambangan Industri pengolahan Listrik gas Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa -jasa Total 37.30 1.27 6.96 4.39 18.88 3.33 1.21 4.09 1. Kebijakan otonomi daerah di Kabupaten Tasikmalaya diharapkan sudah dapat mengatur dan merencanakan pembangunan perekonomiannya sesuai dengan potensi daerah yang memiliki daya saing 3 .38 1.

1. Bagaimana pertumbuhan sektor-sektor perekonomian Kabupaten Tasikmalaya pada era otonomi daerah? 2. 1. Bagaimana profil pertumbuhan PDRB dan pergeseran bersih sektor-sektor ekonomi Kabupaten Tasikmalaya pada era otonomi daerah? 1. yaitu sektor yangmemiliki daya saing yang akan menjadi mesin pertumbuhan. Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan masukan kepada pemerintah.1.5.4 Manfaat Penelitian 1. Tahun 2001 dijadikan sebagai tahun dasar analisis dan tahun 2005 sebagai tahun akhir analisis. Bagaimana daya saing sektor ekonomi Kabupaten Tasikmalaya pada era otonomi daerah? 3. Dalam hal ini sangat ditentukan oleh ketepatan dalam penentuan sektor yang menjadi prioritas pembangunan. Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai bahan masukan dan informasi bagi penelitian selanjutnya. dengan tujuan khusus sebagai berikut:” Menganalisis daya saing sektor-sektor perekonomian Kabupaten Tasikmalaya pada era otonomi daerah”. khususnya pemerintah daerah Kabupaten Tasikmalaya dalam rangka merumuskan kebijakan peningkatan perekonomian daerahnya. Tahun yang dianalisis adalah lima tahun (2001-2005) periode otonomi daerah. maka penelitian ini secara umum bertujuan mempelajari pertumbuhan dan daya saing sektor perekonomian Kabupaten Tasikmalaya pada era otonomi daerah. 2.Berdasarkan uraian di atas.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas. Dengan demikian perlu diteliti dari sembilan sektor tersebut. sektor mana yang memiliki daya saing. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini melihat perkembangan dan daya saing sektor-sektor perekonomian di Kabupaten Tasikmalaya. maka menimbulkan beberapa pertanyaan sebagai berikut: 1.2 Perumusan Masalah. 4 .

1 Kerangka Pemikiran Teoritis 2. Pemerintah pusat tidak lagi mendominasi daerah.22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah. Peraturan Perundang-Undangan Tentang Pemerintahan Daerah Sejak Tahun 1945-2004 NO 1 2 3 TAHUN 1945 1948 1950 PERUNDANG-UNDANGAN UU no 1 UU no 22 UU no 44 SUBJEK Pemerintah daerah Pemerintah daerah Pemerintah daerah 5 .1. yakni melalui UU Nomor 1 tahun 1945 tentang pemerintahan daerah.33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan daerah antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Untuk merespon tuntutan tiap daerah. pemerintah dan masyarakat di daerah dipersilakan mengurus rumah tangganya sendiri secara bertanggung jawab. KERANGKA PEMIKIRAN 2. dan mengevaluasi pelaksanaan otonomi daerah. Otonomi Daerah dan Pembangunan Ekonomi Daerah Beberapa tahun belakangan ini menunjukan bahwa masyarakat menuntut hasil pembangunan yang lebih merata dan mengharapkan agar potensi yang dimiliki daerah dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan daerahnya. Dengan diberlakukannya UU No. Artinya. kewenangan itu didesentralisasikan ke daerah.II. Pemerintah memberlakukan otonomi daerah sebagai solusi alternatif dalam mengatasi permasalahan ketimpangan pembangunan.22 Tahun 1999) yang telah disahkan pada tanggal 29 september 2004 bahwa penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus segala urusan pemerintah dalam sistem NKRI dan UU No. Tabel 2.32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah (sebagai revisi UU No. pemerintah mengeluarkan UU No.1. memantau. terutama dalam masalah pemberdayaan pemerintah derah yang selama ini dipandang hanya sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat. mengawasi. Padahal konsep otonomi sebenarnya sudah muncul sejak Indonesia merdeka. peran pemerintah pusat dalam konteks desentralisasi adalah melakukan supervisi.

3.4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1956 1957 1959 1960 1965 1974 1999 1999 2004 2004 UU no 32 UU no 1 UU no 6 UU no 5 UU no 18 UU no 5 UU no 22 UU no 25 UU no 32 UU no 33 Hubungan keuangan pusat dan daerah Pemerintah daerah Pemerintah daerah Pemerintah daerah Pemerintah daerah Pemerintah daerah Pemerintah daerah Perimbangan keuangan pusat dan daerah Pemerintah daerah Perimbangan keuangan pusat dan daerah Sumber: Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah dalam Otonomi. Pada awalnya analisis Shift Share digunakan untuk mengidentifikasikan sumber pertumbuhan ekonomi wilayah di Amerika Serikat. Analisis Shift Share memiliki tiga kegunaan. 6 . Suatu wilayah dibandingkan dengan wilayah lainnya. analisis Shift Share dapat juga digunakan untuk mengidentifikasi pertumbuhan sektor sektor/wilayah yang lamban di Iindonesia dan Amerika Serikat. yaitu untuk melihat perkembangan : 1. bila daerah itu memperoleh kemajuan sesuai dengan kedudukannya dalam perekonomian nasional. Manfaat lain dari analisis Shift Share dapat menduga dampak kebijakan wilayah ketenagakerjaan (Budiharsono. Pertumbuhan Ekonomi Sektoral dan Analisis Shift Share Analisis Shift Share pertama kali diperkenalkan oleh Perloff et all pada tahun 1960.2. 2001). Juli Panglima Saragih. sehingga dapat membandingkan besarnya aktifitas suatu sektor pada wilayah tertentu danpertumbuhan antar wilayah. Selain itu.1. dapat ditunjukan adanya Shift(pergeseran) hasil pembangunan perekonomian daerah. Sektor perkonomian wilayah terhadap perkemabangan ekonomi wilayah yang lebih luas. hal 20. 2. Dengan demikian. 2. Sektor-sektor perekonomian jika dibandingkan secara relatif dengan sektor lainnya.

2. 3. maka dapat dikatakan bahwa sektor ekonomi dalam wilayah tersebut memiliki keunggulan kompetitif. analisis Shift Share dapat digunakan untuk membandingkan laju pertumbuhan ekonomi nasional serta sektor-sektornya dan mengamati penyimpangan-penyimpangan dari perbandingan terssebut. Sementara itu jika PP + PPW < 0 menunjukan bahwa pertumbuhan sektor ke i pada wilayah ke j tergolong pertumbuhan lambat. maka dapat dikatakan bahwa pertumbuhan sektor I ke j termasuk ke dalam kelompok progresif (maju). akses ke pasar. dukungan kelembagaan. peruhan kebijakan ekonomi regional atau perubahan dalam hal yang mempengaruhi perekonomian semua sektor dan wilayah. perbedaan dalam ketersediaan bahan mentah. Komponen Pertumbuhan Regional (Regional Growth Component)Komponen pertumbuhan regional (PR) adalah perubahan produksi/kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh perubahna produksi/kesempatan kerja regional secara umum.Selain itu juga. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (Regional Share Growth Component) komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW) timbul karena peningkatan atau penurunan produksi/kesempatan kerja dalam suatu wilayah dibandingkan dengan wilayah lainnya. Cepat lambatnya suatu pertumbuhan suatu wilayah dibandingkan dengan wilayah lain ditentukan oleh keunggulan komparatif. subsidi dan price support) dan perbedaan dalam strukrur dan keragaman pasar. Pertumbuhan sektor perekonomian pada suatu wilayah dipengaruhi oleh beberapa komponen yaitu: 1. Komponen Pertumbuhan Proporsional (Proporsional Growth Component)komponen pertumbuhan proporsional (PP) tumbuh karena sektor dalam permintaan produk akhir. Berdasarkan ketiga komponen pertumbuhan wilayah tersebut dapat ditentukan dan diidentifikasikan perkembangan suatu sektor ekonomi pada wilayah. Model analisis shift-share disajikan pada gambar 1 sebagai berikut: 7 . prasarana sosial ekonomi serta kebijakan ekonomi regional pada wilayah tersebut. perbedaan dalam kebijakan industi (seperti kebijakan perpajakan. Apabila PP + PPW ≥ 0. Bila penyimpangan tesebut bersifat positif.

Komponen Pertumbuhan Nasional Maju PP=PPW≥0 Wilayah ke j sektor ke i Wilayah ke j sektor ke i Lamban PP=PPW<0 Komponen Pertumbuhan Proporsional Komponen Pertumbuhan Wilayah 8 .

komponen pertumbuhan proporsional (PP). 2. misalnya pengaruh keunggulan kompetitif adalah positif di beberapa wilayah. Kemampuan teknis analisis shift share untuk memberikan dua indikator positif yang berarti bahwa suatu wilayah mengadakan spesialisasi di sektor-sektor yang berkembang secara nasional. 6. 5. dan bahwa sektor-sektor dari perekonomian wilayah telah berkembang lebih cepat daripada rata-rata nasional untuk sektorsektor itu. dapat diketahui laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dibandingkan laju pertumbuhan nasional. Metode Shift share merupakan teknik pengukuran yang mencerminkan suatu sistem perhitungan semata dan tidak analitik. tidaklah lepas dari kelemahan-kelemahan. Jika persentase PP dan PPW dijumlahkan. yang mana satu titik waktu dijadikan sebagai dasar analisis. maka dapat ditunjukan adanya shift (pergeseran) hasil pembangunan perekonomian daerah. 3. Analisis shift share tidak lebih daripada suatu teknik pengukuran atau prosedur baku untuk mengurangi pertumbuhan suatu variabel wilayah menjadi komponen-komponen. Komponen PPW dapat digunakan untuk melihat daya saing sektor-sektor ekonomi dibandingkan dengan sektor ekonomi pada wilayah lainnya. Kelemahan-kelemahan analisis shift share adalah : 1.dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW). 9 . Persamaan shift share hanyalah identity equation dan tidak mempunyai implikasi-implikasi keprilakuan. Analisis Shift Share dapat melihat perkembangan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah hanya pada dua titik waktu tertentu. Perubahan PDRB di suatu wilayah antara tahun dasar analsis dapat dilihat melalui tiga komponen pertumbuhan wilayah. Komponen PP dapat digunakan untuk mengetahui pertumbuhan sektorsektor perekonomian di suatu wilayah. kelebihan-kelebihan dari analisis Shift Share adalah : 1. sedangkan satu titik waktu lainnya dijadikan sebagai akhir analisis.Menurut Soepono (1993). Metode shift share tidak untuk menjelaskan mengapa. yakni komponen pertumbuhan regional (PR). Berdasarkan PR. Hal ini berarti bahwa suatu wilayah dapat mengadakan spesialisasi di sektor-sektor yang berkembang secara nasional dan bahwa sektor-sektor dari perekonomian wilayah telah berkembang lebih cepat daripada rata-rata nasional untuk sektor-sektor itu. 4. tetapi negatif diwilayah lain.

10 . 2001). padahal tidak semua demikian. sehingga tidak dapat berkembang dengan baik. yaitu tahun dasar analisis dan tahun akhir analisis.4. Peningkatan kemampuan pengambilan kepustusan untuk investasi dan strategi pembangunan. maka barang itu tidak dapat bersaing dengan wilayah-wilayah lain yang menghasilkan barang yang sama. 2. Metode Analisis Shift Share Analisis shift share menganalisis berbagai perubahan indikator kegiatan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan sektor-sektor ekonomi yang ada di wilayah tersebut. Perubahan indikator kegiatan ekonomi dilihat dari dua titik waktu. sehingga tidak mempengaruhi permintaan agregat.2. 3. Analisis shift share menggunakan data PDRB yang terjadi pada dua titik waktu yaitu. Hasil analisis dapat menunjukan berbagai perkembangan suatu sektor di suatu wilayah jika dibandingkan secara relatif dengan sektor-sektor lainnya. Bila pasar suatu wilayah bersifat lokal. Kedua kelompok pertumbuhan wilayah (PP dan PPW) berkaitan dengan hal-hal yang sama seperti perubahan penawaran dan permintaan. Teknik analisis Shift Share secara implisit mengambil asumsi bahwa semua barang dijual secara nasional. apakah berkembang dengan cepat atau lambat. tahun dasar analisis dan tahun akhir analisis. seperti produksi dan kesempatan kerja pada dua titik waktu yang berbeda di suatu wilayah. yang akan merangsang peningkatan investasi yang selanjutnya mendorong peningkatan output dari suatu sektor yang akhirnya dapat mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi wilayah dan mendorong terjadinya pembangunan. Hasil analisis ini juga dapat menunjukan bagaimana perkembangan suatu wialayah jika dibandingkan dengan wilayah lainnya. Komponen pertumbuhan nasional secara implisit mengemukakan bahwa laju pertumbuhan suatu wilayah hendaknya tumbuh pada laju nasional tanpa memperhatikan sebab-sebab laju pertumbuhan wilayah. Perlu off merumuskan berbagai perubahan indikator kegiatan ekonomi guna untuk mengidentifikasi sumber pertumbuhan ekonomi wilayah (Budiharsono. perubahan teknologi dan perubahan lokasi.

Nama-nama kecamatan dapat dilihat pada Tabel 3. Nama-nama Kecamatan Kabupaten Tasikmalaya NO 1 2 3 4 5 6 7 8 NAMA KECAMATAN Cipatujah Karangnunggal Cikalong Pancatengah Cikatomas Cibalong Parungponteng Bantarkalong NO 21 22 23 24 25 26 27 28 NAMA KECAMATAN Karangjaya Manonjaya Gunungtanjung Singaparna Sukarame Manguraja Cigalontang Leuwisari 11 . sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Ciamis. Sebagian besar wilayahnya berada pada ketinggian antara 25-800 m di atas permukaan laut. Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Majalengka. Kabupaten Tasikmalaya merupakan daerah pegunungan dengan puncaknya Gunung Galunggung dan Gunung Telaga Bodas. GAMBARAN UMUM WILAYAH 3. Setelah adanya pemekaran.71Km2. Secara administrasi wilayah. dan secara astronomis terletak antara 7010'7049' Lintang Selatan serta 107056'-10808' Bujur Timur.251. Tabel 3. Luas keseluruhan sekitar 271. Kabupaten Tasikmalaya umumnya beriklim tropis dengan temperatur normal ratarata 20°-34° C. sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Ciamis. dengan pusat pemerintahan terletak di Singaparna.195 mm dengan jumlah hari efektif selama satu tahun sebanyak 84 hari. maka kecamatan Bojonggambir dan Taraju merupakan wilayah yang paling tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya dengan ketinggian rata-rata sebesar 800 m dari permukaan laut. sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Garut. Wilayah yang terendah adalah kecamatan Cikalong dengan ketinggian hanya 25 m dari permukaan laut. Temperatur di dataran rendah pada umumnya 34° C dan di dataran tinggi 18°-22° C.1.III. Kondisi geografis Kabupaten Tasikmalaya Secara geografis Kabupaten Tasikmalaya terletak di sebelah tenggara Propinsi Jawa Barat. Curah hujan rata-rata 217. kabupaten Tasikmalaya secara wilayah administratif terdiri dari 39 kecamatan dan 351 desa.

649. Sekitar 1. Keadaan Sosial Budaya a.01 persen. setelah mengalami penurunan pada tahun 2002.9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Bojongasih Culamega Bojonggambir Sodonghilir Taraju Salawu Puspahiang Tanjungjaya Sukaraja Salopa Jatiwaras Cineam 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Sariwangi Padakembang Sukaratu Cisayong Sukahening Rajapolah Jamanis Ciawi Kadipaten Pagerageung Sukaresik 3. sedangkan yang sebagian besar atau sebanyak 11.94 persen atau sebanyak 506 orang yang sudah ditempatkan. Jumlah PNS di Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2005 sebanyak 14. Seluruh pencari kerja yang tercatat hanya 7.867 orang pada tahun 2005. 432 ribu jiwa(26. Jumlah pencari kerja pada tahun 2005 tercatat sebanyak 12. Penduduk miskin pada tahun 2005 kembali mengalami kenaikan.800 orang sedang menunggu penempatan. turun kebawah garis kemiskinan dan meningkatkan jumlah penduduk miskin.498 orang terdiri dari 8. dengan rata-rata kepadatan penduduk 642 jiwa per kilo meter persegi yang tersebar di 39 kecamatan dan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.659 12 .859 orang pada tahun 2001 menjadi 1.045 perempuan.535.6 juta jiwa penduduk Kabupaten Tasikmalaya.sehingga banyak masyarakat yang semula disekitar garis kemiskinan.20%) masuk dalam kategori miskin.2. Kependudukan dan ketenagakerjaan Penduduk Kabupaten Tasikmalaya setelah terpisah dengan Kota Tasikmalaya berkembang dari 1.306 orang yang tediri dari 6. Hal ini disebabkan oleh kenaikan BBM yang hampir mencapai 100 persen.261 laki-laki dan 6. Kenaikan BBM tersebut secara tajam menurunkan kemampuan daya beli masyarakat.

03 100 JUMLAH b.938 PERSENTASE (%) 47.782 142.316 orang dan lebih dari setengahnya(56.42 5. di Kabupaten Taikmalaya tidak memiliki rumah sakit umum pemerintah maupun rumah sakit swasta.320 42.73 persen) laki-laki dan 5.38 0.31 13.078 87.06 4.540 2.51 persen yaitu 219 orang.Indeks kesehatan mengalami kenaikan dari 67.834 3. sehingga pelayanan kesehatan bertumpu pada puskesmas yang ada. Tabel 4. 13 .721 orang pegawai laki-laki yang berpendidikan Diploma/Akademi.85 0.36persen golongan III.839 (40.90 pada tahun 2001 menjadi 69. Kesehatan Secara umum pencapaian derajat kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya sudah semakin meningkat. Adapun tempat pelayanan kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya adalah Puskesmas pembantu. Bila dilihat persentase yangmengenyam pendidikan tertinggi hampir setengahnya (49. sedangkan golongan I hanya 1.(59.002 38.selebihnya tersebar pada golongan II dan IV.5 6.2 0. Adapun penyebaran penduduk Kabupaten Tasikmalaya menurut lapangan usaha tertera pada Tabel 4.8 21.45 0. Distribusi Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2003 di Kabupaten Tasikmalaya NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 JENIS LAPANGAN USAHA Pertanian Pertambangan Industri pengolahan Listrik.77 persen) atau sebanyak 4.458 412 31. Bila dirinci menurut golongan maka sebagian besar yaitu 57. Semenjak pemisahan kota dan kabupaten.70 Persen)berpendidikan Diploma/Akademi yaitu 8. Gas dan Air Bangunan Perdagangan Angkutan Keuangan Jasa Kemasyarakatan Lainnya JUMLAH JIWA 314.57 pada tahun 2005.2 7 persen)perempuan. Puskesmas keliling dan Posyandu. walaupun tidak mencapai target yang ditentukan.306 206 662.

14 persen dari total anak usia 7-12 tahun anak yang tidak berada disekolah. Pada tingkat SMP/MTS anak-anak usia 13-15 tahun yang berada disekolah baru mencapai sekitar 50 persen. bangunan air 498 buah (99 14 .89 km dengan kondisi yang baik baru sekitar 30 persen dari seluruh panjang jalan yang ada di Kabupaten Tasikmalaya.3. dan 5. pengambilan bebas 32 buah (8 buah rusak ringan dan 3 buah rusak berat).902 m (sepanjang 36. pengambilan bebas 2 buah.051. siswa rawan drop out. Jaringan transportasi ke daerah-daerah sentra produksi pertanian di pedesaan sebagian besar dalam keadaan rusak.183 m (sepanjang 7. Kabupaten Tasikmalaya memiliki jaringan sepanjang 1. dan penunjang pendidikan lainnya. keadaan sumber daya manusia pendididkan.350 buah (668 buah rusak ringan.c. dan 458 buah rusak berat). b. Sarana Irigasi Jaringan irigasi di Kabupaten Tasikmalaya terdiri dari irigasi teknis PU dan irigasi pedesaan.803 m rusak berat).187. pada tahun 2005 sekitar 3.877 m rusak berat). 3. sedangkan untuk tingkat SLTA/MI baru sekitar 15 persen anak usia 16-18 tahun yang melanjutkan ketingkat SLTA atau yang sederajat. Jaringan irigasi PU meliputi : Bendung sebanyak 30 buah (9 buah dalam keadaan kondisi rusak ringan). saluran pembawa 355. Hal ini berarti hampir semua anak usia 7-12 tahun berada di sekolah dan sisanya 2.Pendidikan Pendidikan merupakan sarana utama untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan sumber daya manusia (SDM). Sarana Jalan dan Jembatan Dalam menunjang perhubungan darat. saluran pembuang 39. Indeks pendidikan sangat ditentukan oleh beberapa indikator di lapangan. Sedangkan jaringan irigasi pedesaan terdiri dari : Bendung sebanyak 102 buah (10 buah dalam kondisi rusak ringan). Sementara dalam keadaan rusak baik berat maupun ringan mencapai 50 persen. Keadaan Sarana dan Prasarana a.60 meter dalam kondisi baik dan 596 meter dalam keadaan rusak. keberadaan sarana dan prasarana pendidikan.027 m rusak ringan. bangunan air 3. sehingga biaya pengangkutan hasil pertanian menjadi mahal dan kurang bersaing di pasaran. Perkembangan kondisi jembatan lebih baik bila dibandingkan dengan kondisi jalan. minat belajar masyarakat.Target pencapaian pada tingkat SD/MI angka partisipasi umum telah mendekati100 %.836 rusak ringan. dan 25. seperti wajar diksar 9 tahun.

410 m rusak berat).buah rusak ringan. serta Kompetitif dalam Bidang 15 .766 m rusak ringan. Listrik Layanan konsumen dari PLN di Wilayah Kabupaten Tasikmalaya masih belum dapat melayani seluruh wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Tabel 5. Program tersebut disusun sesuai dengan properda (program pembangunan daerah) Kabupaten Tasikmalaya tahun 2006-2010. Program Pembangunan Daerah Program pembangun pemerintah daerah Kabupaten Tasikmalaya disusun berdasarkan visi dan misi pembangunan daerah. yakni "Tasikmalaya yang Religius/Islami.44 5. sebagai Kabupaten yang Maju dan Sejahtera.99 3.84 3.5. c.39 3. Perkembangan Perekonomian Kabupaten Tasikmalaya Salah satu indikator untuk melihat perkembangan suatu wilayah adalah pertumbuhan ekonomi.83 5 4. Jumlah bendungan dalam keadaan baik sebanyak 21 buah dapat mengairi sawah seluas 26 ribu hektar.12 4. saluran pembawa 228. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya dan Propinsi Jawa Barat Tahun 2001-2005 (Persen) No 1 2 3 4 5 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat 2.92 3.23 4.828 m (sepanjang 45. dan 55 buah rusak berat). Untuk melihat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tasikmalaya dapat dilihat pada Tabel 5. 3. maka pemerintah daerah menentukan visi dalam pembangunannya. Atas dasar pertimbangan melihat kondisi masyarakat dan potensi sumber daya alam Kabupaten Tasikmalaya.4. Masih ada sebagian dari penduduk Kabupaten Tasikmalaya yang tidak memakai layanan PLN. dan 22.95 3.

Produksi tahun 16 pertanian. Koperasi dan lembaga keuangan lainnya 4. dengan misi sebagai berikut "Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Pengembangan Agribisnis dengan Didukung Pengembangan Peran Wilayah Pedesaan sebagai Basis Pertumbuhan Ekonomi Daerah". Mangureja. Mengembangkan peran BUMD. Pembangunan dan pengembangan sarana prasarana kawaasan sentra pengembangan ekonomi 7. Sodong Hilir. Pengembangan kawasan ekonomi dengan pendekatan wilayah dan komoditas unggulan 2. dan Sapi. TJ.5. 1. Lada. Pengembangan kawasan ekonomi dengan pendekatan wilayah dan potensi unggulan 3.798 ha (17 persen). Komoditas unggulan di sektor agribisnis yaitu: Manggis. Jaya. Manggis Manggis banyak dibudidayakan di kecamatan Puspahiang. Peningkatan ketahanan pangan 6. pengembangan potensi berbasiskan pada sumber daya lokal yaitu karakteristik dan potensi unggulan daerah. Sektor Agribisnis Komoditas unggulan agribisnis identik dengan komoditas unggulan disektor pertanian.Agribisnis Di Jawa Barat Tahun 2010". Pembinaan usaha pertambangan mineral dan batubara 8. sektor industri kecil dan sektor pariwisata (Bapeda Tasikmalaya. Atas dasar visi dan misi pembangunan. sektor kelautan. 2002) a. Pengembangan kawasan ekonomi dengan pendeketan wilayah dan komoditas unggulan 5. Gurame. sektor . Potensi lahan 10. Sektor Unggulan Berdasarkan kebijakan pembangunannya. dan Jatiwaras. sehingga terdapat peluang pengembangan sebesar 8. Mengembangkan arus investasi 3. pemerintah Kabupaten Tasikmalaya mengambil kebijakan yaitu "Terbangunnya Perekonomian Kabupaten Tasikmalaya yang Berbasiskan pada Sumberdaya Lokal dengan Menciptakan Komoditas Unggulan Berdaya Saing Global" dengan program sebagai berikut: 1. Sukaraja.952 ha. Salawu. yang dapat dimanfaatkan 1.750ha. Pesutra alam. Kabupaten Tasikmalaya telah menetapkan core bisnis yang terdiri dari: sektor pertambangan.

Singaparna: sementara kecamatan yang masih potensial untuk pengembangan usaha tani pasuteraan alam diantaranya kecamatan Jatiwaras. dan Ciawi. sedangkan produksi/suply sapi potong lokal sebesar 2100 ekor pertahun.141.47 ha tersebar di 19 kecamatan. pemeliharaan ulat sutera. Indihiang. Kawalu. Saudi Arabia.328. b. meliputi Kecamatan Cibalong. pembibitan. sisanya didatangkan dari luar daerah. Peluang usaha pengembangan komoditi pandan sangat terbuka karena 80 persen atau sebesar 370. 5.000 ekor pertahun. Manonjaya dan Cisayong. Cibeureum. Volume ekspor tersebut memberikan kontribusi sebesar 45. Sentra penanaman pandan di Kabupaten Tasikmalaya. Salopa. Gurame Sentra budaya ikan gurame di Tasikmalaya tersebar di beberapa kecamatan antara lain : Kecamatan Singaparna. yang digunakan sebagai bahan baku industri kerajinan anyaman. Sodonghilir. Rajapolah.2001 sebesar 5.742 ton. pemintalan benang. Kecamatan Puspahiang sebagai sentra penghasil dan pemasaran Manggis. sampai pada pemasaran. Leuwisari. dan Tanjungjaya. Produksi pesutra alam tahun 2001 sebesar 8. Sapi Potong Sapi potong banyak diusahakan di wilayah selatan. penenunan kain.178 ton. 3. Pagerageung. produksi benih 7. Pesutraan Alam Pesutraan alam merupakan rangkaian kegiatan agroindustri yang dimulai dari penanaman murbei. Produksi ikan gurame konsumsi 512 ton pertahun. Rajapolah.56 ton/tahun kebutuhan bahan baku serat pandan masih didatangkan dari luar Tasikmalaya dengan harga yang tinggi dan pasokan terbatas. Luas tanaman murbei di Tasikmalaya 11. Permintaan sapi potong Kabupaten Tasikmalaya sebesar 14. 4. Malaysia.000 ekor pertahun. Sektor Kelautan 17 . Taiwan. sekitar 45 persen sudah diekspor ke luar negri dengan negara tujuan Korea. Pandan Pandan merupakan komoditi spesifik yang mempunyai keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.65 persen dari volume ekspor nasional. Jepang dan Belanda. Salawu. Kadipaten. antara lain di Kecamatan Pagerageung. 2.

kakap merah. kerapu. Eksploitasi zeolit sebagian besar dilakukan oleh rakyat berupa penambangan rakyat. pemasaran 90 persen dalam negeri dan 10 persen luar negeri. anyaman bambu.Wilayah pantai selatan Kabupaten Tasikmalaya sangat potensial untuk pengembangan usaha tambak dengan komoditi udang karang. 3. sampai Cipatujah. 2. produk makanan. Fosfat Produksi Fosfat digunakan untuk pembuatan pupuk. Sektor Industri Kecil dan Menengah Kabupaten Tasikmalaya terkenal dengan industri kecil kerajinan anyaman. Anyaman Pandan Lokasi sentra anyaman pandan di Rajapolah. fospat. Anyaman Mendong Kabupaten Tasikmalaya memiliki 890 unit usaha dan 17 sentra produksi anyaman mendong. dan Cikalong. Cibalong. Cibalong. Cikatomas. Cipatujah. Nilai investasi Rp 5. Zeolit Cadangan zeolit di Kabupaten Tasikmalaya merupakan bagian dari pegunungan selatan yang membentang mulai dari Kecamatan Cikalong. c. Cipatujah dan Cikalong. anyaman pandan. Parungponteng. dan batu gamping. mampu menyerap tenaga kerja sebanyak lima ribu orang. Taraju. Karangnunggal. ikan tuna udang windu dan benur. Batu Gamping Wilayah-wilayah yang memiliki cadangan batu gamping adalah kecamatan Cibalong. Cadangan deposit fosfat cukup besar terdapat di Deudeul.Karangnunggal. Nilai investasi Rp 2. mampu menyerap tenaga kerja 18 . Karangnunggal dan Manonjaya. 2. dan bordir.36 Milyar. alopa. c. makanan tambahan ternak. 1.89 Milyar. Oleh sebab itu produk kerajinan yang menjadi andalan antara lain : anyaman mendong. Sektor Pertambangan Bahan tambang yang potensial dikembangkan di Kabupaten Tasikmalaya antara lain Zeolit. 1. dan Manonjaya. antara lain di Rajapolah. dan minuman.

antara lain di Leuwisari. Bordir Terdapat 1. Gunung Galunggung Gunung Galunggung merupakan gunung berapi yang menjadi maskot pariwisata Kabupaten Tasikmalaya. 19 . Lokasi khas wisata budaya Kampung Naga terletak pada ruas jalan yang menghubungkan Tasikmalaya dan Garut. antara lain di Sukaraja. terdapat banyak fasilitas aktivitas wisata yang ditawarkan saat ini. Pamijahan dan Pantai Selatan.167 m dpl. Kampung Naga. Secara administratif Kampung Naga termasuk kampung Legok Dage Desa Neglasari Kecamatan Salawu. Singaparna.sebanyak 14 ribu orang. Anyaman Bambu Kabupaten tasikmalaya memiliki 1. dan Cikatomas. Karangnunggal. 3.043 unit usaha di 26 sentra produksi. pemasaran 80 persen dalam negeri dan 20 persen luar negeri.4. Nilai investasi mencapai Rp. dan Singaparna. antara lain : Daya tarik wanawisata meliputi areal seluas 120 ha. Salopa. 2. e. 1.197 unit usaha di 24 sentra produksi. serta kandungan belerang pada air panas untuk pengobatan dan kesehatan (Cure Tourism). Salawu.4 Milyar.97 Milyar. Mempunyai ketinggian 2. Sektor Pariwisata Obyek wisata yang potensial dikembangkan di Kabupaten Tasikmalaya yaitu : Gunung Galunggung. industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 12 ribu orang. Kampung Naga Kampung Naga merupakan perkampungan tradisional dengan luas areal sekitar 1. mampu n menyerap tenaga kerja sebanyak 13 ribu orang. pemasarannya sebesar 60 persen dalam negeri dan 40 persen luar negeri. 4.5 ha. pemandian air panas (Cipanas). Nilai investasi mencapai Rp12. pemasarannya 70 persen dalam negeri dan 30 persen luar negeri.

15971838 0.1463 Comp .59 85. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.31 886.295.96 1.31 886.823.045.208630921 Kabupaten Growth Sector Pertanian Pertambangan dan galian Industri dan pengolahan Listrik.286425113 0.325.601.375986 -0.408407438 0.3179887 -0.08 644.08 644.299042688 0.140.503.506.26 318.9813 29393.720.11 33.38 23478.34701 24564.780.17 7. jasper Jasa-Jasa TOTAL 1.368.57625 184954.26 8.669.691.62856 -183357.009332 -0.10 163.016481827 0.12 195.208630921 0.366901236 0.28 5.773.576.915.55 203.000386191 -0.8103 1316.62 14.742.316.649962 128776.65 7.6733 -6701.2901 -2314.307.30445 2419.284451 Value 25320.023845668 1.72 10.724.969.000.75 JAWA BARAT 2001 (juta) 2005 (juta) average change (thX2/ThX1)-1 0.011855806 Value 163511.854.025802806 0.189043 35850.633.8697 2005.570.506.59645 7035.73871 -7214.123956102 0.199776516 Value -176064. dan air bersih Bangunan Perdag.367.621 Total Change rate -0.0897143 52236.70 39.855.234433727 0.886.000092 0.742.782.000409942 -0.50 6.143. persewaan.208630921 0.764.271.547.59 140.72 47.1458993 31.50 6.208630921 0.649.239.63859 134483.89 7.095.739.886.35 245.58443E-05 -0.026655 0. gas.191160911 0.Advantage (Mix) rate 0.82 117.936.000037 55465.3899 1007.12 1.65999 79902.614.091743434 -0.532.061.208630921 0. persewaan.720.886.805912 -7086. dan air bersih Bangunan Perdag.997.22996 20 .307.315.200492829 0.59 140.47 52761.10855373 0.89 104.229507242 0.008138092 0.11 33.41 5.056918 -0.855.208630921 0.116887487 -0.17 20.798.055.271.02 3.0168103 0.208630921 0.601.829.IV HASIL DAN PEMBAHASAN TASIMALAYA INDUSTRI 2001 (juta) 2005 ( juta) average change (thX2/ThX1)-1 Pertanian Pertambangan dan galian Industri dan pengolahan Listrik.194.91002 -19020.919.98 0.74 724.925.46 5.164035926 0.311.158270315 0.512620426 0.303989504 -0.5099 23110.74 171.06998 10324.000923793 -0.208630921 Value 314254. jasper Jasa-Jasa 2001 1.18 44.02 rate 0.776.198457987 0.135007 -0.25 4. gas.33595 4381.10124 -64608.505 -8272.79 265. Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.517.259.090411767 0.616.016.985.0717393 -0.859.306172996 0.97 34.82 117.525.517.225112748 0.20 4.208630921 0.208630921 0.74 171.266.136633948 0.561324 12737.468.36 7.82628 9159.7045 Industrial Mix rate -0.80999 169467.32 144.777981 870.999.024341062 -0.324.837.837.62 7.49999 27022.002546591 -0.077794192 0.885.79 265.

yang masih menggunakan alat-alat tradisional.1. tahun 2001-2005. investasi di sektor pertambangan masih relatif kecil karena tidak adanya kepastian hukum. maka kontribusi subsektor tanaman bahan makanan terhadap PDRB Kabupaten Tasikmalaya akan mengalami perubahan. Secara sektoral. Hal ini berarti bahwa apabila terjadi perubahan kebijakan regional. Sektor pertambangan yaitu subsektor pertambangan tanpa gas mengalami peningkatan kontribusi paling kecil terhadap PDRB Kabupaten Tasikmalaya. tetapi sektor tersebut memberikan kontribusi relatif kecil terhadap PDRB Kabupaten Tasikmalaya. 3. Sedangkan sektor yang memiliki pertumbuhan lamban adalah subsektor tanaman bahan makanan terdapat pada sektor pertanian. Sedangkan sektor yang memiliki pertumbuhan rata-rata terkecil adalah sektor pertanian. maka kontribusi subsektor pertambangan tanpa gas tidak akan mengalami perubahan. KESIMPULAN DAN SARAN 5.V. rendahnya kemampuan dan akses petani terhadap pasar yang dikarenakan sarana dan prasarana transportasi yang kurang mendukung. 21 . 2. Peningkatan kontribusi terbesar berasal dari sektor pertanian yang berasal dari subsektor tanaman bahan makanan. tetapi sektor tersebut memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB Kabupaten Tasikmalaya. Walaupun sektor pertanian rata-rata pertumbuhannya paling kecil. belum optimalnya pemanfaatan serta pengelolaan pertambangan daerah. perkembangan PDRB Kabupaten Tasikmalaya dipengaruhi pertumbuhan ekonomi Propinsi Jawa Barat. yaitu : 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian analisis pertumbuhan dan daya saing sektor-sektor perekonomian Kabupaten Tasikmalaya pada era otonomi daerah. Hal ini dikarenakan menurunnya ketersediaan air dan daya dukung prasarana irigasi. Sektor listrik. hotel dan restoran. gas dan air bersih memiliki pertumbuhan paling besar. dan sektor perdagangan. dapat disimpulkan beberapa hal. sektor bangunan. gas dan air bersih. kontribusi pada subsektor pertambangan tanpa migas dan penggalian masih merupakan pertambangan dan galian rakyat. Berdasarkan pertumbuhan Regional. gas dan air bersih. Sektor yang memiliki rata-rata pertumbuhan terbesar adalah sektor listrik. sektor yang memiliki pertumbuhan cepat adalah sektor industri pengolahan. sektor pengangkutan dan komunikasi. Jika terjadi perubahan kebijakan ekonomi regional. sektor keuangan. subsektor pertambangan tanpa migas terdapat pada sektor pertambangan dan galian. persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. sektor listrik.

pengangkutan. belum optimalnya pemanfaatan potensi pariwisata. Namun demikian sektor pertanian dan pertambangan mempunyai pertumbuhan yang lamban dan sektor listrik pertumbuhannya cepat. Dengan demikian di Kabupaten Tasikmalaya hanya sektor listrik. dan subsektor listrik dan subsektor air bersih pada sektor listrik. Sektor ekonomi di Kabupaten Tasikmalaya yang dapat bersaing dengan sektor ekonomi pada wilayah lain adalah subsektor tanaman bahan makanan. sektor bangunan. sektor keuangan. 5. yang berarti sektor perdagangan memiliki pertumbuhan lambat dan tidak berdaya saing. gas dan air bersih yang memiliki keunggulan (pertumbuhan cepat dan berdaya saing) dan berada di kuadran I. bangunan. sektor pengangkutan dan komunikasi. 5.2. yang berarti sektor-sektor tersebut memiliki pertumbuahan cepat tetapi tidak dapat bersaing. sektor perdagangan. keuangan dan jasa-jasa. gas dan air bersih. sektor pertambangan dan galian dan sektor listrik. hotel dan restoran. Sebagian besar sektor perekonomian di Kabupaten Tasikmalaya tidak dapat bersaing dengan sektor ekonomi pada wilayah lainnya. persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. menentukan sentra perdagangan yang baru. Di kuadran III ditempati sektor perdagangan. Di kuarran II terdapat sektor industri pengolahan. Oleh karena itu pemerintah kabupaten diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan sektor-sektor yang memiliki daya saing yaitu dengan cara memperbaiki sarana prasarana transportasi dan irigasi. Hal ini dikarenakan belum melakukan perbaikan sarana prasarana transportasi dan tidak terdapatnya perumahan atau akses pasarnya masih rendah. gas dan air bersih. bahwa sektor yang memiliki daya saing adalah sektor pertanian. 22 . sementara sektor pertanian dan sektor pertambangan memiliki daya saing tetapai pertumbuhannya lambat yang berarti kedua sektor tersebut berada di kuaran IV. Sektor yang dimaksud antara lain sektor industri pengolahan. tanaman perkebunan dan kehutanan pada sektor pertanian. dan kurangnya promosi wisata. Kabupaten Tasikmalaya belum memiliki sektor unggulan (pertumbuhan cepat dan berdaya saing) yang dapat meningkatkan perekonomian dengan mengecualikan sektor listrik. memberikan investasi berupa pinjaman modal tidak berbunga pada sektor pertanian dan pertambangan.4. subsektor penggalian pada sektor pertambangan dan galian. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas.

sehingga sektor tersebut dapat mendorong pertumbuhan dan daya saing sektor-sektor yang lainnya dan menjadi sektor unggulan yang akan meningkatkan pendapatan daerah. 23 .meningkatkan promosi daerah dan meningkatkan penegasan hukum.

24 .