Perseroan Terbatas (PT) Syariah (?

) Dikirim/ditulis pada 19 November 2007 oleh asyafrani ARTIKEL HUKUM PERDATA/BISNIS Oleh: Andi Syafrani Salah satu ‘terobosan’ UU Perseoran Terbatas (PT) yang baru saja disahkan dan diundangkan dengan Nomor 40 tahun 2007 adalah diakomodasinya secara hukum Dewan Pengawas Syariah (DPS) sebagai salah satu organ perseroan bagi perusahaan yang menjalankan usahanya berdasar prinsip syariah (Pasal 109). Pengakomodasian ini mengingatkan memori kita pada proses awal pengakomodasian perbankan syariah dalam sistem perbankan nasional pada awal 1990-an. Pada awalnya perbankan syariah hanyalah “prinsip ikutan” yang ditempelkan pada sistem perbankan nasional. Dalam perjalanannya kemudian perbankan syariah berhasil menegaskan identitas dirinya sebagai satu entitas perbankan tersendiri, berdampingan dengan sistem konvensional yang telah dikenal. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah roda politik-hukum akomodasi DPS ini akan bergulir menuju usaha pendemarkasian identitas yang tegas antara PT label Islam dan non-Islam seperti yang terjadi pada perbankan Islam yang sedang dalam proses pengesahan RUU Perbankan Syariah di parlemen? Dengan kata lain apakah dimungkinkan akan muncul RUU PT Syariah seperti RUU Perbankan Syariah di masa akan datang? Menjawab pertanyaan di atas tidak akan bisa dilakukan tanpa mengetahui bagaimana sesungguhnya wacana PT dalam khazanah keislaman. Tidak Ada PT dalam Islam Secara prinsip, Islam tidak mengenal konsep perseroan dalam pengertian perseroan sebagai sebuah legal entity. Lima karakter utama sebuah korporasi seperti yang dikemukakan oleh Henry Hansmann and Reinier Kraakman (2004) yaitu legal personality, limited liability, transferable shares, delegated management with a board structure dan investor ownership adalah karakter hukum yang sangat asing bagi Islam. Untuk mengambil salah satu contoh saja, legal personality adalah konsep yang ahistoris dan tidak ditemukan presedennya dalam tradisi hukum Islam. Dalam Islam relasi hukum yang berlaku hanyalah relasi antar pribadi (natural person) (hablumminannas) dan pribadi dengan Tuhannya (hablumminallah). Atas dasar ini pulalah, keyakinan pendirian negara sebagai sebuah entitas hukum tidak memiliki pijakan yuridis maupun historis dalam Islam. Jika pun ada tradisi kelembagaan ekonomi yang berkembang dalam sejarah Islam seperti lembaga Wakaf yang disebut Marshall Hodgson (1974) sebagai

“vehicle for financing Islam as society”, institusinya tidak bisa memiliki kapasitas hukum yang mutlak sebagaimana kapasitas hukum yang dimiliki oleh seseorang pribadi. Lembaga Wakaf misalnya tidak dapat melakukan kontrak atas dirinya dengan orang atau lembaga lain. Segala tindakan hukum dalam kelembagaan wakaf hanya dapat dilakukan atas nama pribadi sang Mutawwali/Nazir (pengelola wakaf). Absennya diskursus legal personality, dan lebih umum lagi masalah PT dalam Islam pada dasarnya amat dimaklumi mengingat inovasi hukum ini baru muncul pada masa modern di belahan dunia Barat. Tingginya arus perdagangan antar negara sejak tahun 1600-an, sebagaimana dicatat oleh Timur Kuran (2005), mengawali masa terinstitusionalisasinya bisnis-bisnis di Eropa. Dan di pertengahan akhir abad ke-19, Inggris memelopori pengembangan hukum korporasi dengan pertama kali melegislasi undang-undang perseroan Companies Act 1844. Konsep legal personality sendiri baru muncul belakangan dalam kasus klasik yang sangat terkenal yaitu Solomon v. Solomon &Co.Ltd. pada tahun 1897, juga di Inggris (John Farrar, 2005). Dari kronologis sejarah di atas, tidak mengherankan kemudian jika dalam khazanah klasik intelektual Islam tidak ditemukan pergulatan wacana seputar PT dan juga konsep derivatif darinya seperti legal personality. Catatan historis atas perseroan yang didirikan pertama kali dalam dinasti Islam adalah perseroan yang didirikan oleh Sultan Abdulmecit pada masa Ottoman pada tahun 1851 yang bernama Sirket-i Hayriye. Mengikuti pendirian perusahaan ini, pada tahun 1908, Parlemen Ottoman mengeluarkan undang-undang tentang korporasi yang merupakan produk hukum tentang korporasi yang pertama dalam tradisi Islam (Timur Kuran, 2005). Yang mengherankan adalah pasca Dinasti Ottoman melakukan transplantasi hukum PT dari Eropa, diskursus PT dalam Islam sama sekali tidak berkembang, untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada. Kejumudan ijtihad dalam Islam yang sudah terjadi jauh hari sebelum keruntuhan khilafah Islam terakhir tersebut tampaknya membuat kekosongan literature Islam dalam masalah PT bertahan hingga saat ini. Masa Depan PT Syariah Karena konsep PT bukanlah sesuatu yang intrinsik dan berkembang dalam Islam, maka sinyal pasal 109 UU PT No.40/2007 tidaklah dapat dipahami sebagai sebuah lonceng kebangkitan atau batu loncatan bagi munculnya gerakan islamisasi atau syari’ahihasi PT sebagaimana yang terjadi pada dunia perbankan. Jika pun ada kelompok yang mencoba untuk menggulirkan ide syari’ahisasi PT, maka sejak mula gerakan itu akan mengalami kesulitan. Kesulitan dalam menggali literature keislaman tentang masalah hukum PT dan kelembagaan ekonomi hukum lainnya, dan terlebih akan terjebak dalam upaya kebuntuan untuk mencari alternatif lain untuk model hukum korporasi. Karena

saat ini kiblat inovasi hukum korporasi hanya berporos pada satu sumbu yaitu American Model. Meski terdapat beberapa variasi model hukum korporasi yang berkembang di dunia saat ini seperti model Jepang, Jerman, Inggris, Kanada, dan juga Australia, model yang menjadi mainstream dalam dunia hukum perseroan adalah model yang bersumber dari negeri Paman Sam. Atas dasar inilah, dalam salah satu artikelnya yang cukup kontroversial, Henry Hansmann dan Reinier Kraakman (2001)memproklamirkan telah terjadi “the End of History for Corporate Law”. Dan Islam, jika pun ingin menjadi pemain dalam diskursus tema-tema hukum korporasi hanya akan lebih banyak mengikuti prinsip-prinsip utama yang sudah jamak berlaku. Pengakomodasi DPS dalam UU PT karenanya, sekali lagi, tidak akan menjadi menjadi pintu masuk bagi bergulirnya ide syari’ahisasi hukum PT di kemudian hari yang bisa melahirkan produk hukum seperti RUU Perbankan Syariah. Masuknya pasal 109 dalam UU PT tidak lebih untuk menghargai eksistensi DPS yang memang sudah beroperasi dalam perseroan yang berbasis syariah. Dus, kehadiran DPS sebagai sebuah entitas hukum diberikan cantolan payung hukum yang lebih kuat agar perusahaan yang menjalankan prinsip syariah betulbetul menjalankan sesuai prinsip yang telah disepakati dan dipantau oleh lembaga atau individu yang kompeten. DPS dan Good Corporate Governance Yang menjadi tantangan ke depan dengan diakomodasinya eksistensi korporasi berasas syariah dalam UU PT adalah pembuktian bahwa perusahaan berlabel Islam dapat menjadi contoh dalam pewujudan Good Corporate Governance (GCG). Sebagaimana dinyatakan dalam penjelasan UU bahwa tujuan utama dari reformasi hukum perseroan salah satunya adalah untuk menciptakan iklim perusahaan yang sehat yang menjalankan tata kelola yang baik (GCG). Keberadaan DPS sebagai lembaga pengawas perseroan karenanya tidak hanya terbatas sebagai pengawal prinsip-prinsip syariah dalam perusahaan dan produk-produk bisnisnya. DPS semestinya dapat menjadi agen dalam mentransformasikan nilai-nilai syariah yang berlaku dalam bisnis sebagai pedoman (code of conducts) yang sejalan dengan prinsip-prinsip GCG. Dengan demikian, peran DPS akan lebih dihargai eksistensinya, dan tidak akan dilihat hanya sebagai lembaga stempel ‘penghalalan’ semata. Jika hal ini dapat dipraktekkan, maka prinsip-prinsip Islam bisa mengambil peran dalam proses inkorporasi hukum korporasi sebagai nilai-nilai fundamental, meski tidak sebagai prinsip hukum positif yang mengikat. [Penulis (Andi Syafrani) adalah Mahasiswa program Master of Comparative Commercial Law (MCCL) di Victoria University, Melbourne. Penulis dapat dihubungi di asyafrani@yahoo.com]

3550 reads sanggahan terhadap pendapat tidak adanya PT dalam Islam Pada 17 November 2008 syamsul hidayat, SE, SHI (not verified) mengirim komentar: kpd yth pembaca Musllim yg budiman assalamu alaikum wr wb salam sejahtera bismillahirrahmanirrahim Kita perlu mempelajari pandangan Islām terhadap badan hukum (misalnya dalam topik kali ini adalah PT). Dalam hukum positif di negara Arab terdapat istilah : ‫الشخسية المجرد ة، الشخسية المعنوية، الشخسية العتبارية‬ Ketiga istilah tersebut mempunyai makna yang sama yaitu badan hukum. Ketiga istilah tersebut belum digunakan para ahli fiqh dalam buku-buku fiqh dahulu . Beberapa ahli fiqh masa kini seperti Dr.Wahbah az-Zuhailī menyimpukan bahwa sebenarnya fiqh al-Islām mengakui apa yang disebut Badan Hukum . Diantara buktinya ialah as-Sunnah Rasulullah bersabda : ‫.عن علي رضي ال عنه قال : قال النبي صلى ال علييه و سلم : وذمة المسلمين واحد ة يسعى بها اد ناهم‬ Maksud ḥadīṡ ini sebagaimana dijelaskan Ibnu al-Ḥājar bahwa perjanjian pemberian keamanan yang diberikan kaum muslimīn atas orang kafir, baik diberikan satu orang atau lebih, baik diberikan laki-laki atau perempuan tidak boleh dilanggar oleh orang Islām yang lain karena kaum muslimīn itu bagaikan satu jiwa. Konsep satu jiwa ini telah berlaku dalam skala seluruh umat muslimin dan ini berarti juga berlaku dalam skala-skala di bawahnya, misalnya dalam skala sebuah lembaga. Tentang badan Hukum dalam Islam, hal ini sudah diwacanakan di dalam pengeloaan wakaf, jika nazir lebih dari satu orang maka semua orang di dalamnya satu jiwa untuk bersama-sama mengelola wakaf. Sehingga kumpulan orang-orang ini berada di bawah satu panji yang disebut lembaga nazir, lembaga ini dapat berupa lembaga non-hukum seperti unit usaha dagang, firma, dan Commanditaire Vennootschap (CV). Atau lembaga berbadan hukum seperti yayasan, koperasi dan Perseroan Terbatas (PT). Tapi untuk alasan profesionalitas kerja dan kepercayaan masyarakat maka lebih baik lembaga nazir itu berupa badan hukum yang mana diakui dan dilindungi oleh undangundang Pemerintah. Secara khusus Mundzir Qahaf telah menjelaskan peran Badan Hukum dalam pengelolaan wakaf, misalnya sebuah perusahaan dapat dianggap sebagai nāẓir, atau sebuah panitian pengumpulan dana pembangunan masjid yang selanjutnya panitia tersebut dapat ditetapkan sebagai nāẓir. Jika kemudian ada wacana baru tentang PT Syariah, WHY NOT?. Jadi, PT atau badan hukum mutlak telah ada dan diakui dalam Islam.

Demikian, trimakasih. saya dapat dihubungi melalui email saya: syamhid@mti.ugm.ac.id, atau telp 081328788503. saat ini saya sedang menempuh studi pascasarjana MTI di Fakultas Teknik Jurusan Elektro UGM wassalamu alaikum wr wb ttd syamsul hidayat, SE, SHI reply Tanggapan saya Pada 17 March 2009 Andi Syafrani (not verified) mengirim komentar: Mas Syamsul, Terima kasih atas tanggapannya. Apa yg saudara kemukakan ttg PT dlm Islam dgn mengutip pandangan hadis yg ada, menurut saya, msh sangat lemah. Pandangan wakaf sbg sebuah badan hukum memang ada spt yg ada sampaikan, tp bukan badan hukum bisnis spt PT. Saya pun telah mengupas ini sedikit. Apa yg saya kemukakan jauh lbh historis dan faktual dgn mengutip perkembangan PT sebagai entitas hukum ekonomi pd masa Dinasti Usmaniyyah/Ottoman. Pandangan ulama yg anda sampaikan msh spekulatif, dgn menggunakan hadis umum ttg jaminan zimmy yg menurut saya kurang relevan. Terus terang sy kurang dpt menangkap analogi mas ttg konsep satu jiwa dengan konsep badan hukum. Justru dlm bdn hkm, dikenal prinsip legal entity yg membuat split posisi antar pendirinya dgn entitas lembaga yg diciptakannya. Tdk ada konsep satu jiwa di dlm badan hkm PT, yg ada justru pemisahan. Sekali lagi, mohon satukan dulu persepsi ttg definisi PT yg saya berikan. Jika kita berbeda definisi, pastinya diskusi kita bisa beda kesimpulannya. Pengelan konsep syakhsiyah yang diperluas dgn mencakup individual (fardy), kias (maknawy) atau proximity (i'tibary) saya kira muncul belakangan dan sangat baru. Ini pun saya kira dibuat setelah konsep legal entity PT terlebih dahulu berkembang dan muncul di negeri Inggris. Syirkat haririe saya kira adalah PT pertama dalam sejarah Islam yg lahir setelah konsep ini berkembang terlebih dahulu di negeri Eropa. Saya akan sgt sangat senang sekali jika Mas Syamsul dpt memberikan saya argumen dan fakta historis yg jauh lbh empirik ttg eksistensi PT ini di dunia/sejarah Islam.

Masalah argumen fikih pun jika ada dgn elaborasi ushul fikih yg kuat tentunya akan dpt saya terima. Saya sgt menyenangi kajian ushul fikih sejak dr pesantren dulu termasuk dalil2 dan perdebatannya. Sayang, saya blm menemukan pandangan yg menurut saya mu'tabarah ttg masalah PT ini dlm diskursus Islam. Sekali lagi saya akan sgt senang jika Mas Syamsul dpt membantu saya. Mengingat saya juga senang sekali dgn diskusi hkm Islam krn saya juga lulusan Perbandingan Mazhab di UIN jakarta selain Fak. Hukum. Salam hormat, Terima kasih atas tanggapannya, Salam kenal, Andi Syafrani reply yang benar? Pada 21 March 2009 Antong (not verified) mengirim komentar: saya pikir cukup menarik ulasan saudara, tetapi saya kurang sepaham jika konsep PT tidak dikenal dalam islam, bagi saya ketika ingin mengkaji dengan benar maka sangat perlu melihat secara komprehensip tentang ajaran islam itu sendiri. jangan karena keterbatasan kita sehingga kita pun membatasi nilai-niali keilmuan yang seharusnya. NB: teruslah berkarya kawan dengan sepenuh aqidah insya Allah kebenaran pasti mendekat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful