1C/~-i -.

~ PARTAI GOLKAR ~; DALAM PERGOLAKAN POUTIK ERA REFORMASI:t'I l ~_
....
".

TANTANGAN

DAN RESPONS

Ringkasan Disertasi
I~_~. __... .. _.~

~

I __ VCIVB·
...

; Cl"r PF.Rl'{iSTA !(A.-\ i,'

i

1
...

.,.,.

.

-,

~ ~.-~

~.~-

---

Oleh

Akbar Jandiung OS/1616IPS

UNIVERSITAS GADJAH MAnA YOGYAKARTA l007
~-~---~ -- --- ----~-~--

-

Tim Promotor:

Prof. Dr. Icblasul Amal, MA
Promotor

Prof. Dr. Mobtar Mas'oed. MA
Ko--promotor

Dr. Burban D. Magenda. MA
Ko-promotor

-_._---

Tim Penguji: 1. 2. 3. 4. Prof. Dr. Irwan Abdullah, MA Prof. Dr.lchlasul Amal, MA Prof. Dr. Mohtar Mas'oed, MA Dr. Burhan D. Magenda, MA Prof. Dr. Bahtiar Effendy, MA Dr. Purwo Santese, MA Dr. I Ketut Putra Erawan, MA Dr. Nanang Pamudji. MA Dr. Pratikno, M.Soc.Sc

5.
6. 7. 8. 9.

_-_-- -_----_-

--

--

_-

Ringkasan PARTAI GOLKAR DALAM PERGOLAKAN POLITIK ERA REFORMASI: TANTANGAN DAN RESPONS

A.

Latar Belakang Partai politik memiliki arti yang sangat penting dan telah menjadi

fenomena

umum dalam kehidupan

politik yang demokratis.

Dalam
I

kehidupan politik modem keberadaan partai politik menjadi keharusan. Sebab fungsi utama partai politik adalah bersaing untuk memenangkan

pernilu, mengagregasikan berbagai kepentingan masyarakat, menyediakan altematif kebijakan, dan mempersiapkan para calon pemimpin yang akan duduk dalam pemerintahan' Terrninologi partai politik, menurut Paige Johnson Tan dan juga Giovanni Sartori, adalah kelompok politik apa saja yang ikut serta dalam pemilu dan mampu menempatkan orang-orangnya dalam jabatan-jabatan publik.' Tujuan didirikannya partai politik adalah untuk meraih jabatan politik, mendapatkan kekuasaan politik, dan mengontrol proses perumusan kebijakan." Partai politik dengan dernikian menjadi sarana penghu~ng kepentingan demokrasi' Dalam sistem politik yang demokratis, partai politik memiliki peranan yang penting terutama dalam rangka proses konsolidasi demokrasi," Karena itu, ketika demokrasi berkembang ke seluruh penjuru dunia pada 1990-an, peran partai politik mengalami perkembangan yang pesat pula.' Peran penting partai politik ini semakin nyata ketika demokratisasi semakin meluas ke negara-negara berkembang antara 1970rakyat dan pembuat kebijakan dalam pemerintahan

2

an

sampai

1990-an.

Periode
8

tru

oleh

Huntington

disebut

sebagai

'gelombang

ketiga demokrasi' .

Pada tahun 1997, Diamond dunia, sebanyak mencatatkan melakukan era

mencatat

dari 191 negara yang ada di Indonesia bam setelah

117 (61.3%) menganut dalam jajaran

sistem demokrasi," negara-negara

kembali reformasi 1999,

demokrasi

pada 1998 dan melaksanakan yang diikuti 48 partai disebut-sebut

Pemilu pertarna pada Bahkan saat ini

reforrnasi

politik,

Indonesia, dari ukuran populasinya,

sebagai negara demokrasi

terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat. Arti konsolidasi pentingnya demokrasi, partai politik sebagai penentu keberhasilan

dapat disimpulkan

studi Clapham (1993), Sanbrook (1989) di Asia;

(1996) keduanya

melakukan

studinya di Afrika; Diamond

Dix (1992), Rueshemeyer Amerika

dan kawan-kawan

(1992), serta Norden (1998) di

Latin. Namun menurut Vicky Randall dan Lars Svasand (2002), tidak sependapat tentang kriteria yang hams dimiliki

para ahli tersebut

partai politik secara individual, juga sistem politik seperti apa yang paling kondusifbagi tumbuh dan berkembangnya itu menurut partai politik tersebut.l" (2002), dengan

Sementara meluasnya menguatnya antara

Frans Beker dan Rene Cuperus tidak senantiasa linier

konsolidasi

demokrasi

peran partai politik sebagai lembaga intermediasi

kepentingan maju

rakyat

dan pemerintah,
menunjukkan

Sejumlah

kasus

di negara politik
II

dan

berkembang rakyatnya,

kian merosotnya

citra partai

di rnata

sehingga

sikap anti partai politik kian rnenguat,

Di sejumlah

negara, peran partai politik bahkan mulai digantikan mediasi yang menjadikan

organisasi-organisasi

dirinya sebagai perantara opini antara rnasyarakat

dan

negara.12

3

Hasil studi Pridham (1990), Rose dan Mishler (1998), Morlino (1998) menunjukkan semakin lemahnya keterkaitan partai politik dengan masyarakat di negara-negara Eropa.l'' Di sebagian negara-negara Amerika Latin, partai politik disebut-sebut terseret dalam krisis peranan, sehingga demokrasi di negara-negara ini dalam kondisi bahaya. Di Peru, selain dianggap gagal memuaskan rakyatnya, partai politik juga dianggap gagal memuaskan para politisi itu sendiri." Kondisi demikian tentu mengakibatkan eksistensi dan survival partai politik berada dalam kondisi yang rawan. Sementara itu, sejalan dengan berlangsungnya transisi menuju konsolidasi demokrasi menunjukkan, tidak banyak partai politik pendukung rezim lama yang otoriter, mampu bertahan hidup (survive) dan berperan dalam kepolitikan baru yang demokratis. Sebab, transisi politik ini biasanya ditandai dengan pergolakan yang melibatkan berbagai kekuatan politik baik yang berkuasa maupun di luar kekuasaan, bersifat dramatis, kompleks, dan multidimensional, serta diwarnai berbagai hujatan yang mendiskreditkan para politisi dan partai politik pendukung utama rezim otoritarian yang
digulingkan."

Di Indonesia, Golkar yang kemudian berubah menjadi Partai Golkar, merupakan salah satu diantara pactai politik pendukung utama rezim lama (Orde Baru) yang mampu meraih dukungan suara dan kursi dalam jumlah yang signifikan di parlemen dan mampu berperan ketika terjadi transisi politik menuju demokrasi (reformasi). Kasus serupa dialami The Socialist Democratic Left/SDL (Polandia), kemudian The Peronist Justice Party/Pl (Argentina), The Democratic Action/AD (Venezuela).

Sebailknya The Communist Party Df Ukraine/CPU, (Ukraina), The

4

American Popular Revolutionary Aliiance/APhA tajam."

(Peru), dan The New

Society MovementIKBL (Filipina), mengalami kemerosotan peranan secara

Kasus Golkar, dengan demikian merupakan salah satu fenomena menarik yang perlu diteliti, karena seperti dikatakan oleh Busse (2002); There are few examinations of how established organizations survive and adapt succesfully to environmental changes that often undermine the very grounds for their existence. 17 Atas dasar itulah penelitian ini diberi judul: 'Partai Golkar Dalam Pergolakan Politik Era Reformasi: Tantangan dan Respons'.

B.

Perumusan Masalab Reformasi politik 1998 membalikkan situasi politik di Indonesia.

Meskipun Soeharto menyerahkan jabatan presiden kepada wakilnya B.J. Habibie yang juga dari Golkar, namun Soeharto tidak mewariskan struktur politik Orde Baru, karen a struktur politik Orde Baru dan sistem kepartaian yang telah melembaga selama 32 tahun runtub bersama jatuhnya kekuasaan Presiden Soeharto. Jatuhnya Soeharto dan rezim Orde Baru yang menjadi patron politik Golkar, menyebabkan organisasi politik terbesar ini, seakan kehilangan pegangan dan haluan politiknya. Kemudian, berbagai tekanan politik mulai dialamatkan kepada Golkar, terutama dianggap sebagai penyebab utama krisis. Di internal Golkar pun terjadi keretakan, dan sejumlah pengamat, politisi, ilmuwan, membuat prediksi bahwa Golkar

5

tidak akan mampu kekuasaan

bertahan

hidup dan akan segera menyusul

runtuhnya

Soeharto dengan rezim Orde Baru-nya, sebagai pakar politik, tokoh reformasi, (PAN) dan kemudian hari terpilih setelah

Amien Rais yang dikenal Ketua menjadi mundumya Vmum Ketua Partai MPR Amanat RI

Nasional

peri ode

1999-2004,

beberapa

Soeharto

pada akhir Mei

1998 meramalkan

akan bubamya

Golkar. Lebih lanjut Amien Rais rnengatakan: "Saya kira dengan turun panggungnya Pak Harto, otomatis Golkar akan mengecil, kalau tidak malah bubar. Golkar sudah tidak ada pamomya lagi. Lagi pula apa yang anda harapkan dari orang-orang seperti Hannoko, Hartono, dan Tutut? Artinya, saya kira, pilar-pilar Golkar sudah hancur. Jadi lebih baik dibuka lembaran barn sarna sekali.,,18 Prakiraan Lembaga serupa disampaikan Indonesia A.S Hikam, pakar politik, peneliti (LIP I), yang kemudian bergabung pada

IImu Pengetahuan

dengan PKB, dan menjadi Menteri Riset dan Teknologi (Men-Ristek) pemerintahan Presiden Wahid, mengatakan:

"Golkar menjadi besar dan solid pada masa Orde Bam karena tidak lepas dari dukungan militer, birokrasi, dan kendali mantan Presiden Soeharto yang bertindak sebagai Ketua Dewan Pembina ....Golkar dengan sendirinya akan peeah dan haneur, kalau tidak nanti juga akan digulung rakyat dan zaman sendiri .... Kalau pemilunya demokratis dan pelaksanaannya fair Golkar pasti akan kalah dan dalam waktu tidak lama akan bubar"."

Sementara terhadap reformasi agar Golkar

itu, masyarakat

beranggapan

bahwa dukungan Masyarakat Golkar

Golkar

dinilai hanya kepura-puraan. ikut Pemilu

menghendaki yang telah

dilarang

1999 _2o Bahkan

6

berubah

menjadi

Partai Golkar

pun dianggap

sarna saja dengan musuh reformasi

Golkar yang

masa Orde Bam.l1 Partai Golkar dituduh sebagai harus dibubarkan atau dibekukan.r'

Usep Ranuwidjaja,

politisi senior Partai

Demokrasi Indonesia menyatakan:

"Kalau ada yang meminta persetujuan terhadap saya soal pembekuan Golkar, saya tegaskan saya sangat setuju. Alasannya Golkar adalah partai politik yang seharusnya paling bertanggungjawab dengan terjadinya multikirisis yang melanda sekarang ini, Dan semasa Orde Barn Golkar dan Soeharto itu tidak bisa dilepaskan".23 Bahkan upaya pembekuan Partai Golkar juga dilakukan oleh Presiden Abdurrahman Wahid melalui Maklumat Presiden pada 23 Juli 2001, namun Maklumat Presiden

kemudian gagal karena Mahkarnah Agung menganggap

atau Oekrit tersebut bertentangan dengan hukum yang berlaku?4 Di tengah-tengah tekanan politik yang kerns tersebut, Golkar temyata 1999, dan mampu meraih dukungan 120

berhasil lolos sebagai peserta Pemilu

suara terbesar kedua, yaitu 23.741.749 suara (22,4 %) serta memperoleh kursi di OPR. Pada Pemilu 2004, Partai Golkar babkan pemenang pertama, dengan memperoleh suara terbanyak, mampu

menjadi

yakni 24.461.104

(21,62 %) atau 128 kursi di OPR. Dengan demikian

Partai Golkar mampu

survive dalam era transisi yang kerns dan penuh dengan tantangan.
Bertolak diajukan

dari kondisi
'Mengapa hidupnya

di atas, dan

maka

pertanyaan Partai

penelitian Golkar

yang mampu era

adaIah:

bagaimana

mempertahankan

(survive) dan berperan

dalam kepolitikan

reformasi menuju konsolidasi demokrasi?'

7

C.

Tujnan dan Manfaat Penelitian Penelitian nu bertujuan mengungkap faktor-faktor yang

menyebabkan Partai Golkar bertahan hidup (survive) dan mampu berperan dalam lingkungan politik barn yang demokratis. Seiain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengisi kekosongan studi tentang survival politik pada era reformasi di Indonesia. Adapun manfaat dari peneiitian ini adalah tersusunnya sebuah basil studi yang terkait dengan survival partai politik pendukung rezim lama yang otoriter pada era transisi menuju konsolidasi demokrasi. Hasil studi ini juga diharapkan bermanfaat bagi upaya partai politik dalam memperkuat kelembagaan partai. D.
partai

Review Literator
Sejumlah studi yang telah ada terkait dengan eksistensi Golkar

selama Orde Baru dapat direview

sebagai berikut: Penelitian yang

dilakukan Nishihara (1972) yaitu mencoba mengaitkan eksistensi Golkar dengan adanya dukungan mekanisme politik yang dirancang rezim Orde Barn. Kemudian, Boileau (1983), mengaitkan eksistensi Golkar tersebut dengan dukungan militer dan birokrasi. Selanjutnya studi yang dilakukan David Reeve (1985), mengaitkan eksistensi Golkar dengan dukungan nilainilai kolektif dan kekeluargaan yang mengakar kuat dalam masyarakat. Demikian pula Afan Gaffar (1992), mengaitkan eksistensi Golkar dengan sistem kepartaian hegemoniJ!5 dan dukungan permerintah Orde Barn yang represif. Leo Suryadinata (1992), mengaitkan eksistensi Golkar dengan budaya politik abangan-priyayi, yang mewakili budaya politik dominan

8

Indonesia (Pancasila). Studi Ryaas Rasyid (1994). mengaitkan eksistensi Golkar dengan posisi politiknya yang dominan sehingga memberi peluang bagi Golkar untuk berperan penting apabila terjadi perubahan politik menuju demokrasi. Akhimya, Roni (2006), mengaitkan eksistensi Golkar dengan demokratisasi internal yang dilakukan Partai Golkar, yang sejalan dengan proses reformasi yang berlangsung.

E.

Kerangka Teori Teori yang memberikan inspirasi penelitian ini terutama sekali

yang dikemukakan Samuel P. Huntington, yang menyatakan pentingnya kelembagaan politik yang kuat agar partai politik survive. Tolok ukurnya adalah tingkat Semakin tinggi adaptabilitas, derajat kompleksitas, otonomi, politik dan koherensi. akan semakin kelembagaan partai

memudahkan partai tersebut beradaptasi terhadap lingkungannya. Umur, kompleksitas, tingkat otonomi, tingkat koherensil kepaduan organsiasi, juga menjadi tolok ukur bagi kuatnya kelembagaan partai politik tersebut. Pendapat Huntington diatas, selain dikritisi juga diperkuat oleh basil kajian Panebianco, yang mengemukakan arti pentingnya pemimpin (yang kharismatik maupun tidak), terutama ketika organisasi didirikan atau menghadapi perubahan. Peran pernimpin tersebut terutama sekali diperlukan dalam menentukan arah organisasi; ideologi dan basis sosial organisasi, dengan memperhitungkan sumberdaya internal yang dimiliki. Sejalan dengan Huntington, Panebianco menekankan perlunya otonomi dan systemness (koherensi struktural internal suatu organisasi). Indikator tingkat kesisteman ini adalah kesaling-tergantungan antar sub-sub sistem yang

9

didukung

kontrol

pusat

organisasi,

atas sumberdaya

dan proses

tawar-

menawar terhadap lingkungannya. Kritik dan penguatan terhadap teori Huntington pentingnya juga dilakukan nilai (value

Randall dan Svasand, yang menekankan

penanaman

infusion) dan perlunya agar partai politik tersebut tertanam dibenak publik (reifled). Kedua
menyangkut konsep tersebut hampir sarna, tetapi reifikasi lebih

bagaimana partai politik dipersepsikan

masyarakat

secara lebih

luas. Mereka kemudian melihat partai politik ke dalam dimensi internal dan ekstemal. disebut Dimensi kesisteman internal yang terkait dengan yang struktur terkait

(structural),
dengan sikap

(systemness). Kemudian

(attitudinal), disebut penanaman
eksternal yang terkait dengan yang

nilai (value infusion). Sedangkan struktur

dimensi otonomi

(structural)
aspek

adalah

(autonomy), sedangkan

terkait

dengan

sikap

(attitudinal),

adalah reiftkasi (reiflcation). Selanjutnya terpecahkan, yakni ada persoalan terkait dengan yang masalah menurut dua ahli ini belum

adaptabilitas

(adaptability).
waktu, karena berkonotasi panjang, lembaga, ini

Secara implisit konsep pelembagaan pelembagaan daya tahan membutuhkan dan

politik ini berdimensi

waktu. Di pihak lain pelembagaan demikian, hidup dalam sebagai

stab iiitas, Dengan politik bertahan

jangka sebuah

kemampuan menunjukkan merupakan Selain

partai

kemampuan

partai politik tersebut beradaptasi. dibanding proses bertahan

Adaptasi

konsep yang lebih proaktif, menunjukkan

dan stabilitas, diri terhadap

itu adaptasi juga

penyesuaian

tekanan yang muncul baik dari eksternal maupun internal partai, Selanjutnya penjelasan O'Donnel dilakukan terkait dengan dengan transisi politik menuju demokrasi,

mengacu Linz dan

pada pendapat Stepan, dan

para ahli seperti terutarna Samuel

dan

Schmitter,

10

Huntington demokrasi, replacement

yang menyebutkan yaitu

pola-pola

transisi

politik

menuju

sistem

transformation

(inisiatif

rezim

yang

berkuasa),

(pengambilalihan (tawar-menawar

kekuasaan

oleh kekuatan prodernokrasi),

transplacement kekuatan tersebut,

antara rezim yang berkuasa dan kekuatanBerdasarkan pola-pola transisi

prodemokrasi

dalam masyarakat).

maka perubahan

yang terjadi di Indonesia

masuk dalam kategori

transplacement.

F.

Hipotesis Hipotesis dati permasalahan penelitian ini adalah bahwa: Go/kar yang

kemudian

berubah menjadi Partai Golkar mampu bertahan hidup (survive) dalam kepolitikan nasional era reformasi. karen a Go/kar kuat da/am kebijakan

dan berperan
mampu

mendayagunakan

kelembagaan

yang telah mengakar berbagai

masyorokat, penyesuaian

dan patio saat yang sama melakukan

{adaptasi) terhadap sistem po/itik yang demokratis.

G.

Metode Peoelmao
Jenis penelitian ini adalah

kualitatif, yang

dianalisis

adalah

dinamika politik dan sosial. Fokusnya adalah proses atau kejadian-kejadian yang saling berinteraksi kuncinya. Lokasi penelitian terutama adalah Jakarta dan Y ogyakarta, sumber-sumber Pengumpulan informasi berada dan peneliti melakukan dimana studio dimana keaslian (authenticity) informasi menjadi

data dilakukan

Maret-Desember

2006,

dan

proposal

II

penelitian disiapkan sejak Februari 2005. Fokus penelitian adalah masalah survival Partai Golkar pada era reformasi 1998-2004 (dua kali pemilu). Adapun unit analisisnya, adalah Partai Golkar. Teknik memperoleh data sekunder (informasi yang

terdokumentasi) adalah dengan studi kepustakaan. Sedang untuk data primer (informasi yang langsung diperoleh dari para narasumber yang relevan dengan tema penelitian ini) diperoleh melalui teknik wawancara. Analisis data dilakukan secara simultan dengan proses pengumpulan data tersebut. Sementara itu, seperti lazim terjadi dalam penulisan sebuah karya ilmiah, proses penulisan disertasi ini tidak mudah pula, terutarna karena peneliti juga sebagai pelaku ketika kasus yang diteliti ini terjadi, yaitu sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Karenanya, agar syarat obyektivitas ilmiah terpenuhi, penulis memperlakukan pengalamannya itu dalam posisi sebagai partisipan, sesuai dengan fakta-fakta yang ada. Selanjutnya, sebagai observer penulis membuat analisis dan penilaian secara obyektif berdasarkan data dan informasi yang berimbang.

H.

Pembahasan Berdasarkan data-data yang berhasil dikumpulkan dan kemudian

dianalisis, dapat dijelaskan bahwa Golkar mampu bertahan hidup (survive)
dan berperan pada era reformasi, karena kekuatan politik pendukung utarna

rezim Orde Barn ini dapat secara efektif mendayagunakan kelembagaan yang telah dibangun selarna rezim Orde Baru berkuasa, yaitu berupa

struktur dan jaringan organisasi yang mencakup seluruh wi\ayah nasional,

12

maupun nilai-nilai yang berhasil dibangun dan menjadi jatidiri

serta

perekat

bagi soliditas organisasi. Ini dimungkinkan terjadi karena perubahan politik yang berlangsung pada 1998, tidak serta-merta menghancurkan struktur organisasi dan jaringan Golkar, sehingga modal politik ini masih dapat didayagunakan secara efektif. Meskipun faktor-faktor tersebut diatas penting bagi survival Golkar, akan tetapi faktor-faktor itu belum mencukupi bagi Golkar untuk dapat berperan dalam kepolitikan baru yang demokratis, Karena itu Golkar melakukan adaptasi dengan perombakan struktur maupun kultur organisasi, sehingga sejalan dengan nilai-nilai reformasi. Proses adaptasi terhadap lingkungan politik baru yang demokratis tersebut dilakukan Golkar dengan penataan ulang (restrukturisasi) kesisteman (systemness) organisasi. Langkah penyesuaian organiasi yang dilakukan Golkar ini dilandasi paradigma baru, sebagaimana diamanatkan dalam Munaslub Golkar 1998. Seperti diketahui, jatuhnya rezim Soeharto kemudian direspons Golkar dengan jalan melaksanakan Munas Luar ·Biasa (Munaslub), 1998. Momentum ini digunakan Golkar untuk menetapkan putusan-putusan penting dan strategis seperti perombakan organisasi, terutama sekali penghapusan Dewan Pembina, yang diketuai oleh Soeharto, pemilihan ketua umum partai secara demokratis, serta menyiapkan diri menjadi partai politik (dalam perkembangannya semng dengan disahkannya UU tentang Partai Politik, Golkar kemudian mendeklarasikan diri menjadi Partai Golkar pada 7 Maret 1999). Selanjutnya, dengan kebijakan baru pemerintahan transisi di bawah Presiden B.J. Habibie, Golkar harus melepaskan keterkaitannya dengan kekuatan-kekuatan politik yang pada masa lalu menjadi pendukung utamanya dalam memenangkan setiap pemilu. Kekuatan politik yang dimaksud adaIah birokrasi dan militer karena adanya ketentuan netralitas politik. Sebagai tindaklanjut Munaslub

13

1998, Golkar segera menggelar rangka konsolidasi organisasi

Musda-Musda dan sosialisasi

di seluruh Indonesia paradigma

dalam

barn, agar seluruh

jajaran organisasi dapat memahami perubahan Pasca perpecahan (berpindah ormas-ormas internal organisasi Munaslub, Partai Golkar

yang sedang berlangsung. juga menghadapi ancaman

organisasi,

yang ditandai

dengan

keluarnya

sejumlah

kader
baik

ke partai lain atau mendirikan pendukung. eksternal, rangka yang Dalam Partai

partai bam) dan juga perpecahan berbagai melakukan dan keutuban antara lain masalah

menghadapi Golkar terus

maupun dalam

konso1 idasi organisasi. melakukan

memperkuat diambil Partai

soliditas Golkar

Langkah-langkah komunikasi

intensif

dengan

segenap

jajaran

pengurus

dan kader-kader organisasi-

partai di berbagai daerah, pendataan organsiasi Sejalan sayap, serta pembentukan dengan langkah

keanggotaan,

pembentukan

kelompok-kelompok organisasi dan

kader (Pokkar). dilakukan

perombakan

tersebut pola

demokratisasi Demokratisasi umum

dalam

pengambilan

keputusan diawali

kepemimpinan. pemilihan ketua faktor

internal di tubuh Golkar

dengan

pada Munaslub

1998. Selanjutnya, organisasi pola-pola

mengingat

pentingnya

kepemimpinan

bagi keberhasilan

dalam melewati

masa transisi,

Partai Golkar juga menerapkan ke depan dan responsif. Disadari sumber-sumber Untuk

kepemirnpinan

yang berorientasi

bahwa, kernandirian pendanaan

dalam pengambilan

keputusan

dan

partai merupakan menjadi mandiri

dua hal yang sangat penting. terutama dalam pengambilan

itu, agar mampu

keputusan,

maka Partai Golkar menghapus kekuasaan organisasi

lembaga Dewan Pembina yang mutlak, bahkan dapat

pada rnasa lalu memiliki
membatalkan keputusan

yang sangat

(DPP). Dengan demikian,

Golkar pada

era Orde Baru sangat tergantung

pada figur Soeharto, sebagai Ketua Dewan

14

Pembina. birokrasi, kekuatan dengan Golkar Golkar

Selain itu, sebagai kekuatan perilaku ekstemal netralitas benar-benar Golkar tersebut. militer

politik yang didukung

militer dan pada

pada era Orde Baru sangat Kebijakan

tergantung

pada era reformasi dalam politik,

yang terkait Partai Partai

dan birokrasi

menuntut tersebut,

harus mandiri.

Dengan

kemandirian ditengah

lebih leluasa daJam mengambil secara dinarnis. kemampuan

keputusan

situasi politik

yang terns berkembang Selain pendanaan partai itu,

untuk politik,

menyediakan merupakan

sumber-sumber yang sangat

bagi kegiatan

faktor

penting pula bagi terwujudnya Golkar membiayai akses sebagaian yang

kernandirian besar

partai. Ketika era Orde Baru, kegiatan politiknya Orde dengan Baru,

memanfaatkan Dalam

dimiliknya

pada

pemerintahan juga mendapat

perkembangan dari Yayasan oleh

berikutnya,

Golkar

dukungan yang secara jatuhnya

pendanaan khusus

Dana Abadi Karya Bakti (Dakab), Presiden Soeharto. Namun,

didirikan

menyusul

Presiden Soeharto, Golkar tidak lagi dapat mernanfaatkan pemerintah, demikian pula dana yang dari Yayasan

aksesnya kepada oleh partai

Dakab diputus pendanaan

Soeharto. Untuk itu, Partai Golkar harus mengoptirnalkan yang berasal dari sumbangan para kader dan simpatisan. Terkait dengan masalah nilai-nilai masa lalu, Partai Golkar melakukan

yang rnenjadi jatidiri nilai-nilai hanya

Golkar di
dasar dan

revitaiisasi tidak

melakukan perubahan tuntutan

perubahan struktur

paradigma.

Reformasi

menyangkut

politik

tetapi juga

membawa

nilai-nilai

baru, seperti dan

demokratisasi,

partisipasi

politik,

transparansi,

akuntabilitas,

keadilan sosial, yang kesernuanya Golkar. Sebagai organisasi

ini menjadi tantangan

serius bagi Partai

politik yang menyandang

stigma buruk akibat penyesuaian

keterkaitannya

dengan rezim Orde Barn, rnaka langkah-langkah

15

dan pengenalan

nilai-nilai

barn yang demokratis

terus dilakukan

di tubuh nilaidan

Partai Golkar. Pada awaJ Orde Barn, Golkar hadir dengan membawa nilai yang bers ifat progresif, seperti modernisasi, pembangunan,

pembaruan

segala bidang. Namun kemudian, dengan adanya pmktik-praktik otoriter, akhimya serta sentralisasi mengakibatkan kekuasaan Gob yang dilakukan aJat bagi

politik yang bersifat rezim Orde Baru

menjadi

kepentingan kekuasaan (the ruler's party). Sejalan Partai Golkar demokrasi dengan terjadinya perubahan politik menuju demokrasi, nilai-nilai

merumuskan

paradigma

barn yang mengandung

sebagai pedoman

dan sekaligus

citra baru Partai Golkar. Nilaipedoman bertindak perubahan Paradigma dan yang Barn

nilai barn yang diperkenalkan bersikap bagi kader-kader terjadi. Nilai-nilai

tersebut merupakan

Partai Golkar dalam menghadapi kemudian dikenal sebagai

tersebut

Partai Golkar. Paradigma adalah aspirasi

baru tersebut menyebutkan mandiri, berakar

bahwa Partai Golkar terhadap

partai yang demokratis, dan kepentingan

dan responsif

rakyat. Intemalisasi

nilai-nilai

baru inilah yang

oleh Randall dan Svasand disebut sebagai value infusion. Faktor lain yang terkait dengan

survival Partai

Golkar

adalah proses

kebijakan-kebijakan refonnasi. dukungan

yang dilakukan Partai Golkar dalam mendukung

Sebagai partai politik yang besar, da1arn arti jumlah

kursi dan

suara yang diraih dalam pemilu, Partai Golkar ikutserta berperan politik yang strategis khususnya

dalam menetapkan berbagai putusan-putusan da1am lembaga perwakilan demokrasi,

yang menjadi dasar bagi proses transisi menuju UUD 1945 di MPR dan pembahasan senantiasa menyampaikan UU

seperti amandemen

Politik di DPR, dimana

Partai Gob

pikiran-

pikiran yang bersifat reformis.

16

Sementara yang dimulai Munaslub

itu secara internal Partai Gob pemilihan ketua umumnya

melakukan

demokratisasi

dengan

secara demokratis Penetapan

pada
Calon

1998, kemudian

penyelenggaraan

Konvensi

Presiden Partai Golkar 2004, dan dilanjutkan pada Munas VII 2004 di Bali. Oemokratisasi peluang bagi segenap jajaran kepemimpinan maupun Kabupaten/Kota keputusan menunjukkan penting

pada pemilihan

ketua umum membuka

internal tersebut

Partai Golkar tingkat Provinsi

untuk mengambil bagian dalam proses pengambiIan Berbagai Partai kebijakan inovasi politik tersebut, Bahkan

partai.

kesungguhan

Gob

melakukan

reformasi,

dalam konvensi penetapan calon presiden, inovasi yang hanya dilakukan oleh Partai Golkar, mendapat apresiasi yang luas dari masyarakat, sehingga

mampu meningkatkan Upaya

citra partai ini. terhadap lingkungan politik demokratis yang

adaptasi

dilakukan Partai Go1kar ini merupakan proses yang panjang. Proses ini tidak: mungkin terjadi secara seketika, apabila di dalam diri Golkar tidak: ada benihbenih demokrasi. Dengan sistem politik otoriter

dan hegemonik

yang

dirancang demokratis

pemerintah

Orde Baru tidak: memungkinkan Namun dengan adanya

kekuatan-kekuatan politik yang

ini muncul.

perubahan

demokratis, maka benih-benih demokrasi yang ada di internal Golkar tersebut muncul membawa transisi.

dan berkembang
Partai

menjadi

kekuatan dalam

demokrasi

yang

berhasil

Golkar berperan

kepolitikan

nasional

pada era

17

I.

Kesimpulan Golkar dalam era Orde Baru berhasil membangun kelembagaan

politik yang kuat, tercermin dalam jaringan kesisteman dan organisasi yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Golkar yang didirikan pada 20 Oktober 1964, kemudian diposisikan sebagai kekuatan politik altematif dari sistem kepartaian yang bersifat sektarian pada awal Orde Baru. Dalam perkembangaannya., Golkar menjadi kepanjangan tangan rezim yang berkuasa, sehingga selalu mendapatkan kemenangan pada setiap pemilu. Walaupun demikian Golkar bukan merupakan "partai yang memerintah"
(the ruling party), tetapi "partainya orang-orang yang berkuasa" (the ruler 's

party)_26 Ketika terjadi reformasi dan perubahan politik, Golkar dianggap paling bertanggung-jawab atas berbagai keterpurukan yang dihadapi bangsa Indonesia. Golkar dihadapkan pada berbagai tekanan politik yang sangat keras dari berbagai kelompok masyarakat dan kekuatan politik, yang berrnuara pada tuntutan pembubaran Golkar. Berbagai privilege diterapkannya yang dimiliki Golkar selama Orde Baru juga hams ditanggalkan sejalan dengan sistem politik demokratis. Golkar tidak. lagi mendapat dukungan rniliter dan birokrasi yang pada masa lalu menjadi jalur-jalur pendukungnya. GoJkar dengan dernikian ibarat kapal besar yang akan kararn (like the sinking Titanic). Golkar dihadapkan pada masalah "hidup dan mati" (struggle to survive) yang harus diperjuangkannya. Perubahan politik yang bersifat gradual (pola trans placement), sangat menguntungkan Golkar daJam mempertahankan hidupnya. Naiknya B.J. Habibie yang berasal dari Golkar, memberi kesernpatan untuk melakukan konsolidasi, guna mengantisipasi kemungkinan terburuk yang

18

dapat jaringan

menghancurkan

partai

ini, Relatif

masih

kuatnya

pengaruh

dan

Golkar baik di pemerintahan,

DPR dan MPR (legislatif),

maupun yang

dalam masyarakat,

menjadi modal politik (political capital) penting,

menjadi jaring pengaman

bagi Golkar untuk tidak ikut jatuh bersama rezim Untuk dapat berperan dalam kepolitikan organisasi

Orde Baru yang didukungnya, baru, Golkar melakukan serta jaringan. Terkait dengan adaptasi

nilai-nilai

dan restrukturisasi

infrastruktur, restrukturisasi

jaringan

organisasi

dan kesisteman, organisasi, yang Partai mandiri,

Partai Golkar melakukan diselaraskan dengan

dan pembenahan

semangat

paradigma

bam yang diperkenalkan

Golkar, yang bertekad menjadi kekuatan politik yang demokratis, berakar dan responsif terhadap aspirasi rakyat. Lembaga

Dewan Pembina

yang memiliki kewenangan

mutlak atas Golkar dihapuskan

dan digantikan

dengan lembaga Penasehat, yang memiliki kewenangan Penataan netra1itas birokrasi organisasi dan sayap dilakukan, militer. menyesuaikan

terbatas. dengan prinsip

Pendataan

keanggotaan kader rumput

dilakukan, (Pokkar)

organisasi-organisasi dibentuk, komunikasi

dan kelompok-kelompok
ke tingkat akar

intensif

(grass-root)

dilakukanjajaran fungsional dengan

kepemimpinan

partai. Badan-badan kerjasama

dan lembaga-lembaga
dan kornunikasi historis intensif terns

dibentuk dan dikembangkan,

organisasi-organisasi Penataan (Musda) organisasi, di

yang memiliki

kaitan

Golkar

dilakukan. Daerah jaringan

tersebut disertai percepatan seluruh serta wilayah

pelaksanaan untuk

Musyawarah memperkokoh

Indonesia,

mensosialisasikan

paradigma
Musyawarah

baru.

Penataan

organisasi dan kesisteman ini menempatkan sebagai instansi pengambilan keputusan

Nasional (Munas)

tertinggi

partai, yang dilakukan

19

secara demokratis dengan melibatkan seluruh jajaran partai tingkat pusat, propinsi, dan kabupatenlkota. Golkar di masa Orde Barn adalah organisasi yang tidak otonom. Ketika situasi politik berubah dan patron politik Golkar jatuh, tidak ada altematif lain bagi Golkar kecuali harus menjadikan dirinya mandiri. Dengan kemandirian tersebut partai ini secara efektif melakukan adaptasi terhadap lingkungan yang sedang berubah. Partai Golkar juga membangun sistern dan mekanisme kaderisasi berdasarkan merit system, sehingga hanya kader yang benar-benar berprestasi, berdedikasi, loyal, serta tidak tercela, yang diberikan peluang mengembangkan karir politiknya melalui Partai Golkar. Dalam hal kemandirian bidang pendanaan, setelah tidak lagi mendapat aliran dana dari Yayasan Dakab, Partai Golkar rnengefektifkan dukungan sumberdana yang berasal dari kader-kader, anggota maupun calon-calon anggota legislatif, serta para pengusaha dan simpatisan. Nilai-nilai dan kultur menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidup Partai Golkar, terutarna dalam kaitannya dengan identitas dan kohesivitas partai ini, Untuk itu Partai Golkar tetap mempertahankan nilainilai dasar yang menjadi jatidiri Golkar selama Orde Baru. Namun demikian, Partai Golkar juga menyadari adanya kelemahan-kelemahan yang terjadi selama Orde Barn, seperti tidak mandiri, non-demokratis, dan patron-client. Untuk itu Partai Golkar melakukan berbagai perubahan dengan menerapkan nilai-nilai baru yang demokratis, mandiri, berakar dan responsif terhadap aspirasi rakyat (Paradigrna Barn Partai Golkar). Dengan demikian, meskipun ada perubahan (change) namun jatidiri partai ini tetap dipertahankan (continuity) sehingga Partai Golkar tetap mendapat dukungan dari masyarakat dalam pemilu.

20

Dengan sistem yang berlaku pada era Orde Bam, Golkar mampu menghimpun sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas. Dengan sumberdaya tersebut, Golkar relatif cepat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan politik baru. Oleh karena itu meskipun sedang menjadi "musuh bersama" tetapi keberadaan Partai Golkar beserta kader-kademya dapat diterima di lingkungan politik bam, karena para politisi dan fungsionaris partai ini dikenal sebagai orang-orang yang memiliki pengalaman dan kemampuan dalam bidang politik, organisasi, dan pemerintahan. Demikian pula secara internal, demokratisasi yang dilakukan sejak Munaslub 1998, memberikan dampak positif terhadap citra Partai Golkar, sebagaimana terbukti dalarn berbagai hasil jajak pendapat yang dilakukan berbagai lembaga swvey_27 Dalam rangka menghadapi lingkungan politik bam yang penuh dengan tantangan kepemimpinan dan tekanan, Partai Golkar mengembangkan visi perubahan menggerakkan (kepemimpinan seluruh dan mampu pola yang yang memiliki

fransjormational)28

sendi-sendi

organisasi. Khusus dalam menghadapi tekanan-tekanan politik, kepimpinan partai juga tidak bersikap reaktif dan emosional, sehingga dapat dihindari terjadinya konflik secara terbuka yang dapat merugikan Partai Golkar. Demikian pula di dalam menghadapi isu-isu politik yang krusial seperti di lembaga parlemen, kepemimpinan Partai Golkar selalu berusaha mencari titik temu dari berbagai perbedaan dan kepentingan yang ada, melalui konsensus. Pola kepemimpinan tersebut tidak mengurangi sikap tegas Partai Golkar, apabila dihadapkan pada ancaman terhadap integritas dan kewibawaan partai.

..'"

21

Implikasi dari kasus Partai Golkar menunjukkan, kuat merupakan

kelembagaan

politik yang

hal yang penting dan dapat menjadi modal politik (political dibutuhkan hidupnya partai

capital)

yang

(necessary

condition)
politik

dalam yang

mempertahankan

(survive). Namun,

kelembagaan

kuat saja belum mencukupi karena selain faktor-faktor menentukan Panebianco,

(insufficient) bagi Golkar untuk bertahan hidup,
kelembagaan masih ada faktor lain yang sangat organisasi. Sebagaimana dikatakan

yaitu faktor kepemimpinan pemimpin

berperan memberikan

arah dan pedoman nilai-nilai
organisasinya, Karena itu,

yang akan diterapkan terutarna ketika

partai politik dalam mengembangkan menghadapi dan lingkungan yang baru.

organisasi kuat

kelembagaan perubahan

yang

kepemimpinan

mampu

melak.ukan

internal sejalan dengan perubahan

ekstemal, menjadi hal penting

yang harus dimiliki agar survive dalam masa perubahan. Pentingnya selaras dengan pelembagaan teori politik dan adaptasi bagi Partai Golkar, yang dikemukakan Samuel P.

kelembagaan

Huntington. terhadap eksternal Golkar, struktur

Namun

dalam hal kemandirian

partai, ketergantungan

Golkar

Dewan

Pembina,

bukan ketidakmandirian oleh Huntington. adalah merupakan adalah

Golkar dati kekuatan Karena dalam kasus

sebagaimana lembaga organisasi

dijelaskan

Dewan Pembina Golkar.

bagian integral dari

Implikasinya

bahwa ketidakmandirian politik eksternal, itu sendiri,

suatu partai politik tidak selalu terkait dengan kekuatan

tetapi juga bisa terkait dengan kekuatan internal suatu organisasi yaitu bilamana kewenangan dalam menentukan

kebijakan-kebijakan berada di

organisasi

yang penting dan bersifat

strategis tidak sepenuhnya

tangan kepemimpinan Golkar pluralis,

partai sehari-hari. nilai-nilai seperti wawasan kebangsaan

memiliki

dan dan

serta berorientasi

pada pembangunan

yang menjadi jatidiri

.._-_._----------------

22

daya benak

rekat

internal

organisasi, treified).

sebagairnana dengan

kemudian perubahan

tertanam politik,

dalam Golkar

masyarakat

Sejalan

memperkenalkan pedoman

nilai-nilai

barn (Paradigma bersikap

Baru Partai Golkar) sebagai bagi seluruh jajaran Partai Golkar adalah, tetap

dan acuan dalam nilai-nilai

dan bertindak tersebut,

partai, Dengan mendapat

dan citra barunya

dukungan

dari masyarakat.

Implikasinya

partai-partai perubahan, Hal uu

politik yang ingin survive dalam sistem politik yang mengalami membutuhkan dimaksudkan identitasnya, Kasus Partai Golkar menunjukkan dengan lingkungan demokrasi, penyesuaian untuk membangun nilai-nilai yang dimilikinya,

citra barn partai tersebut tanpa kehilangan

partai ini rnampu beradaptasi proses transisi menuju diri sebagai kekuatan ideologi politik

politik yang sedang mengalami

karena sejak awal Golkar memposisikan

politik yang terbuka

(catch-all party) dan tidak menganut

yang ekstrim (baik kiri atau kanan) atau dapat juga disebut sebagai "partai tengah". membuat perubahan Sikap politik yang moderat dan terbuka tersebut (partai tengah) diri terhadap

Partai Golkar dapat secara fleksibel menyesuaikan yang sedang berlangsung. Implikasinya

adalah bahwa bilamana paham

situasi politik tersebut (ideologi) sektarian

dialarni patai-partai

politik yang menganut

serta tertutup (eksklusif), adaptasi terhadap mengharuskan

rnaka akan sulit bagi partai lingkungan partai-partai politik barn yang tersebut untuk

tersebut untuk melakukan terbuka dan plural,

karena

merubah pahamnya Sebagai sebenarnya

secara drastis, party, di internal Golkar pada era Orde Baru yang bersifat laten,

catch-all

terdapat

kekuatan-kekuatan kesulitan

demokratis

namun mengalami politiknya

dalam mengaktualisasikan Oleh karena

diri akibat sistem yang

tidak demokratis,

itu, ketika sistem politik

23

otoriter diganti dengan sistem yang demokratis, maka Golkar tidak mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri karena potensi demokrasi tersebut sebenamya telah ada dalam diri Golkar. Implikasi dari kasus yang dialami Partai Golkar tersebut adalah bahwa penyesuaian bukanlah proses yang berlangsung secara tiba-tiba (ujug-ujug). Bilamana suatu partai politik sarna sekali tidak memiliki potensi kekuatan-kekuatan demokrasi, maka partai tersebut akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dan berperan apabila terjadi perubahan yang menuju kepada sistem demokrasi.

***
Saran-saran yang dapat disampaikan terkait dengan hasil penelitian ini adalah, meskipun Partai Golkar mampu bertahan hidup dan berperan dalam sistem kepolitikan yang demokratis, serta meraih dukungan signifikan pada dua kali pemilu era reforma si, namun ke depan, Partai Golkar perlu terus memperkuat kelembagaan dan mengkonsolidasikan seluruh sumberdayanya, serta menerapkan strategi yang mudah disesuaikan (adjustable) dalam menghadapi lingkungan politik yang terus berubah dan persaingan antar-partai yang semakin tajam. Partai Golkar hams merubah pola pikir dan sikapnya yang sematamata hanya berorientasi pada kekuasaan, dan secara sungguh-sungguh menerapkan paradigma barunya yang responsif terhadap aspirasi dan kepentingan rakyat. Ini sejalan dengan semakin meningkatnya kemampuan bersaing (competitiveness) partai-partai politik lain dalam sistem kepolitikan era demokrasi ini. Sehingga jangan sampai terjadi hal-hal seperti yang disinyalir Dirk Tomsa, bahwa "terpilihnya Wakil Presiden

Jusuf Kalla sebagai ketua umum Partai Golkar pacta tahun 2004

--------------------------

24

menunjukkan berorientasi

Partai

Golkar

masih Karena,

dipenuhi

orang-orang

yang

sangat

pada kekuasaan",

lanjut Tomsa, "pada kenyataannya

Jusuf Kalla meraih pucuk pimpinan program politik yang meyakinkan, pemerintah

Partai Golkar bukan lantaran program.etapi karena dia menjanjikan
,,29

akses

langsung ke sumberdaya Mencermati partai tidak

yang menguntungkan.

Partai Golkar pada saat ini, terlihat bahwa kepemimpinan pola dan perencanaan yang sistematis dalam

memiliki

menghadapi agenda politik ke depan, khususnya pemilihan umum 2009. Juga tidak terlihat sikap-sikap nyata bertentangan "bertindak responsif terhadap aspirasi rakyat, sehingga nyatapolitik yang pernah itu, faksi-faksi ditawarkan yaitu

dengan jargon

cepat untuk rakyat", Sementara

di dalam Partai

Golkar semakin mengemuka

yang pada gilirannya

akan dapat mengancam

soliditas partai yang dapat menempatkan rentan (fragile). Demikian ukuran-ukuran menguatnya Untuk

Partai Golkar pada kondisi yang kader semakin jauh dari

pula pola rekrutmen

obyektif berdasarkan praktik-praktik

prinsip merit system. terutama dengan

nepotisme dalam lingkungan elite Partai Golkar. konkrit guna menghadapi pemenangan agendapemilu

itu diperlukan

langkah-langkah

agenda politik ke depan, seperti reneana operasional 2009, aktualisasi kepemimpinan organisasi, sikap-sikap partai responsif

terhadap aspirasi rakyat, penerapan mekanisme dan aturan-aturan berdasarkan yang

yang sesuai

dengan

serta mekanisme

rekrutmen

kader secara obyektif

prinsip merit system. Semua itu sangat membutuhkan visioner, teguh (firm), dan konsisten. Partai mampu Golkar dengan kelembagaan yang politik dan

kepemimpinan

paradigma dan yang

barunya, sekaligus berubah dan

mengatasi

tantangan-tantangan lingkungan Partai

dihadapi nasional

menyesuaikan menjadi

diri terhadap sehingga

demokratis,

Golkar

dapat

bertahan

hidup

25

berperan dalam era reformasi. Tetapi nilai-nilai yang terkandung dalam paradigma baru itu belum terintemalisasi, belum diresapi oleh segenap kader Partai Golkar, khususnya yang berkaitan dengan tujuan berpolitik, karena Partai Golkar memandang politik adalah instrumen untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan, bukan sematamata untuk meraih kekuasaan dan materi. Karena itu intemalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam Paradigma Baru Partai Golkar perlu dilanjutkan, sehingga benar-benar dijiwai dan diaktualisasikan oleh seluruh kader Partai Golkar. Berkenaan dengan putusan Munas VII Partai Golkar 2004 di Bali terjadi inkonsistensi dalam pelaksanaannya. Dalam Munas tersebut diputuskan bahwa Partai Golkar adalah kekuatan penyeimbang. Namun dalam perkembangannya, Partai Golkar menyatakan diri sebagai kekuatan pendukung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBYJK). Dengan posisi seperti ini Partai Golkar tidak menunjukkan konsistensinya dalam melaksanakan amanat Munas terse but. Sementara itu, dukungan terhadap pemerintahan SBY-JK ini mengakibatkan Partai Golkar dihadapkan pada situasi yang dilernatis; apabila pemerintahan SBY-JK dianggap berhasil, Partai Golkar belum tentu mendapat keuntungan politik, tetapi apabila pemerintahan SBY-JK gagal, Partai Golkar akan mendapat dampak dari kegagalan terse but. Pasalnya, pemerintahan sekarang ini dikenal rnasyarakat sebagai "pemerintahan Presiden SBY", dan Partai Golkar pada pemilu presiden 2004 tidak mendukung pasangan SBY -JK. Partai Golkar baru menyatakan sebagai pendukung pemerintahan SBY-JK, setelah Jusuf Kalla menjadi ketua umum. Kalaupun Partai Golkar hendak konsisten sebagai kekuatan penyeimbang, juga akan dihadapkan pada dilerna berikutnya, karena ketua umum Partai Golkar adalah wakil presiden,

26

sehingga

tidak rnungkin Partai Golkar memposisikan

diri sebagai oposisi.

Dilema ini tidak akan terjadi apabila para kader Partai Golkar menghayati dan konsisten dernokratis. dalam terhadap keputusan pelajaran Munas yang telah ditetapkan ke depan implikasi secara agar dan

lni merupakan

bagi Partai Golkar memahami

mengambil

satu keputusan

hendaknya

keputusan pendek

tersebut dan jangan hanya berpikir secara pragmatis

dan jangka

Inovasi politik konvensi penetapan Ini terlihat demokratisasi dan

dernokratis

yang dilakukan

Partai Golkar

melalui

calon presiden berhasil mengangkat apresiasi masyarakat Partai terhadap Golkar

citra Partai Golkar. langkah-Iangkah

luasnya

politik

yang dilakukan

terse but, dan Partai pemilu

Golkar mampu meraih tambahan legislatif 2004. Konvensi, de mokratisasi

dukungan

suara serta memenangi merupakan Partai Golkar

dengan demikian yang dilakukan

bagian terpenting sejak Munaslub

dari proses

1998 sampai Munas VII 2004, di Bali. Oleh karena itu, ke depan, inovasi politik yang telah berhasil meningkatkan citra partai ' tersebut perlu

diteruskan,

agar konsistensi

dalam kebijakan-kebijakan

partai senantiasa

terjaga, dan citra partai dapat dipertahankan, Sebagaimana dijelaskan

bahkan ditingkatkan. ini, fokus dari

pada bagian awal penelitian kemampuan

studi ini lebih menekankan Partai Golkar dan perannya sering disebut sebagai

pada masalah

hidup

(survival)
yang

dalam masa transisi

menuju demokrasi,

Era Reforrnasi.

Sejalan dengan

hal itu, fokus dan penting yang politik yang tidak

lokus penelitian ini membatasi terkait dengan kelembagaan kurun

diri terutama pada aspek-aspek Partai waktu Golkar

dan dinamika
Dengan

berlangsung

dalam

1998-2004.

demikian

tertutup kemungkinan ini dijelaskan

survival dan peran Partai Golkar pada era reformasi

dari perspektif lain, seperti perspektif sistem kepartaian atau

27

perspektif rezim, yang tidak dijadikan sebagai perspektif utama dalam pembahasan penelitian ini. Untuk ito, perspektif-perspektif terbuka bagi peneliti-peneliti kepartaian. lain untuk digunakan lain tersebut mengkaji obyek

penelitian yang sarna, dalam rangka memperkaya kajian tentang masalah

28

Endnotes Alan Ware, Political Parties and Party Systems, (New York, Oxford University Press Inc, 1999), hal.I. Juga lihat Ichlasul Amal, "Pengantar", dalam Ichlasul Amal (ed), Teori-Teori Mutakhir Partai Politik, (Yogyakarta, Tiara Wacana, 1988), hal. xi. 2 Team National Democratic Institute for International Affairs (NOI), "Political Parties and the Transition to Democracy: A Primer in Democratic Party Building for Leaders, Organizers and Activists", Working Paper, September 1997, hal. 3. 3 Paige Johnson Tan, ''Political Parties and the Consolidation of Democracy in Indonesia", Working Paper, Department of Political Science, University of North Carolina, Wilming' , 'ton, tanpa tahun, haL 6. Lihat juga, Giovanni Sartori, Parties and Party Systems: A Framework for Analysis, (Cambridge, Cambridge University Press, 1976), 4 Gregory S. Mahler, Comparative Politics: An Institutional and CrossNational Aprroach (Second edition), (Englewood Clift, New Jersey Prentice Hall, 1992), hal. 147. S Lawson, Political Parties and Linkage: A Comparative Perspective, (New Haven, Yale University, 1995), hal., 3. 6 Upaya membangun kembali, struktur dan mekanisme kerja sistem politik yang sejalan dengan nilai-nilai demokrasi. Lihat S.P Huntington, The Third Wave: Democatization in The Late Twentieth Century, (Norman, University of Oklahoma Press, 1993), hal. 109-163. 7 Team National Democratic Institute for International Affairs (NOI), A Guide to Political Party Development, 2001 8 Huntington,Op.cit. 9 Larry Diamond, Developing Democracy: Toward Consolidation, Baltimore, The John Hopkins University Press, 1999, hal., 24-63. 10 Vicky Randall dan Lars Svasand, Party Institutionalization in New Democracies", Party Politics, Vol. 8. No. I, (London, Sage Publication, 2002) hal 5-29. II Larry Diamond dan Richard Gunther (eds)., "Introduction" dalam Political Parties and Democracy, (Baltimore, The John Hopkins University Press, 2001), hal. x-xiv, 12 Kay Lawson, "When Linkage Fails" dalam Kay Lawson dan Peter Merkl (eds.,), When Parties Fail: Emerging Alternative Organizations, (princeton, Princeton University Press), hal. 13 13 Ingrid Van Biezen, "On the Internal Balance of Party Power: Party Organization in New Democracy", Party Politics, Vol. 6. No, 4. (London, Sage Publication, 2000), hal. 395-417.
I

29

14

15

Steven Levitsky dan Maxwell A. Cameron, "Democracy Without Parties? Political Parties and Regime Change in Fujimori's Peru", Paper, Latin American Politics and Society, Fall 2003; 45, 3; Academic Research Library, hal., 1. Kelangsungan hidup (survival) ini berarti kontinyuitas organisasi atau menurut Golosov kinerja yang baik pada pemilu, atau partai politik yang mampu melanjutkan keberadaannya dan meraih kursi mencukupi dalam dua kali pemilu secara berturut-turut sejak partai politik tersebut didirikan. Lihat Ishiyama, 'The Formerly Dominiant Marxist-Leninist Parties in the Developing World After the Collapse of Communism', Journal oj Communist Studies and Transition Politics, 20 (4), 2004:
42-60.

Lihat Anna M. Grzmala-Busse, Redeeming the Communist Past: The Regeneration of Communist Parties in East Central Europe, (Cambridge, Cambridge University Press, 2002), hal. 1-18 17 Ibid. 18 Suara Pembaruan 25 Mei 1998, sebagaimana dikutip dalam Patmono SK, dkk., Golkar Baru Dalam Fakta dan Opini, (Jakarta, Lembaga Studi Demokrasi, 2001), hal. 100. 19 Harian Bisnis Indonesia. 16 Januari 1999. 20 Beberapa politikus pendukung reformasi, antara lain: Faisal Basri dari PAN dan Roy B8. Janis dari PDl-P sera politikus dari partai kecil lain secara terang-terangan menyatakan supaya Golkar tidak diperbolehkan mengikuti pemilu 1999 dengan alasan Golkar belum melakukan perubahan. Dinyatakan pula, "keikutsertaan Golkar dalam pemilu justru akan menjadi hambatan terbesar rakyat dalam mencapai citaeita". Lihat, Kholid Novianto dkk, Akbar Tandjung dan Partai Golkar ... hal. 97. 21 Arbi Sanit, pakar politik dari Universitas Indonesia dalam Talk show bertema "Membangun Kultur Bangsa Pasca Orde Baru", I1uni-UI, Balairung Kampus VI Depok, Sabtu, 1 Mei 1999. Para Fungsionaris Partai politik turut hadir dalam diskusi tersebut adalah: Roy BB Janis (PDIP). John Pieris (Ketua PKP), Hadidjojo Nitimihardjo (Partai Murba), Faisal Basri (Sekjen PAN), Bambang Sulistomo (Partai PADI), Yudilherry Justarn (Sekjen PUI), serta Nasir Tamara (PPP). Lihat Harian Kompas, 2 Mei 1999. 22 Aspirasi semacam ini terlihat dalam berbagai pernyataan Forum kota (Forkot), Keluarga Besar VI (KBUI), Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred), Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB), dan sebagainya. Lihat Kholid Novianto dkk, Op.Cit. hal. 95. 23 Harian Merdeka, 24 Maret 1999.
16

30

24

25

27

28

29

KeJuamya Surat Mahkamah Agung itu menanggapi surat dari Ketua DPR RI yang juga Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung, yang menolak dekrit presiden terse but dan meminta Mahkamah Agung untuk mengeluarkan fatwa. Afan merujuk Sartori (1976), bahwa dalam sistem kepartaian yang hegemonik pemerintah tidak memberi peluang partai-partai lain kedudukan setara (second class) dan tidak mengizinkan partai-partai lain tersebut melakukan kompetisi terhadap partai negara tpartai hegemonik). Lihat Afan Gaffar, Javanese Voters: Case Study of Election under a Hegemonic Party System, Gadjah Mada University Presss, 1992, hal. 37. Riswandha Imawan, Membedah Politik Orde Baru, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hal., 169. Lembaga-lembaga tersebut adalah LP3ES (Mei 2003), DRI (Oktober, 2003), IRI (Desember, 2003), LSI (Maret, 2004) IFES (Maret, 2004), SSS (Maret, 2004). Model kepemimpinan yang mampu membawakan organisasi kepada perubahan-perubahan dalam visi, strategi, dan budaya organisasi. Lihat Yohanes Budiarto dan Koentjoro dalam "Studi Terhadap Tiga Jenis Komitmen Partai Politik Berdasarkan Dua Jenis Gaya Kepemimpinan Serta Menurut Kohesivitas kelompok" dalam Jurnal Psikologi Sosial, Vol. 10 No. 03, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Desember 2003, hal. 29. "Golkar seems destined to remain a party primarily driven by its immense appetite for power. Kalla did not win the leadership contest because he had a convincing political program, but because he promised direct access to lucrative government resources". Lihat Dirk Tomsa (Pengajar dan Pengamat politik Indonesia dari School of GovernmentUniversity of Tasmania, Australia), "Bloodied but unbowed: Golkar stili dominates Indonesian politics", Inside Indonesia (Jul-Sep 2005), http://www.insideindonesia.org/edit83/p 17-18 tomsa.html.

31

BIODATA Nama Tempat/Tgl. Lahir Agama Alamat Ir. Akbar Tandjung Sibolga, 14 Agustus 1945 Islam JI. Purnawarman No.I8, Jakarta Selatan

PENDIDIKAN SR SMP SMA Perguruan Tinggi Faku1tas

Sorkam - Medan Medan - Jakarta Jakarta Teknik, Universitas Indonesia

Tamat Tamat Tamat Tamat

KELUARGA Ora. Krisnina Maharani, MSi Istri Solo, 5 April 1960 Tempat/T gl, Lahir Anak 1. Fitri Krisnawati, 25 tahun, Guru di SD Global Jaya, Tangerang. 2. Karmia Krissanti, 20 tahun, Mahasiswi, di University of Oregon, Eugene, USA. 3. Triana Krisandini, 17 tahun, Mahasiswi, di University of Oregon, Eugene, USA. 4. Sekar Krisnauli, 11 tahun, Siswi SD Global Jaya, Tangerang.

KEGIAT AN ORGANISASI 1966 Aktif dalam gerakan mahasiswa pada saat pengganyangan G 30S PKI melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Universitas Indonesia (KAMIUI) dan LASKAR AMPERA AriefRahman Hakim. 1967-1968 Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Aktif dalam Dewan Mahasiswa Universitas 1968 Indonesia dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Indonesia. Ketua Umum HMI Cabang Jakarta 1969-1970 1972-1974 Ketua Umum Pengurus Besar HMI

1912

lkut Mendirikan Forum Komunikasi Orgamsasi
Mahasiswa Ekstra Universiter (GMNI, PMKRI,

32

1973 1978-1981 1978 1978-1980 1983-1988 1998-2004

PMII. GMNI. HMI) dengan nama Kelompok Cipayung. llrut Mendirikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPl). Ketua Umum DPP KNPI. lkut Mendirikan Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPl). Ketua DPP Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI). Wakil Sekretaris Jenderal OPP GOLKAR. Ketua Umum DPP Partai GOLKAR.

PENGALAMAN 1977-1988 1982-1983 1987-1992 1992-1997 1997-1998 1999-2004

DI DPR/MPR RI Anggota FKP OPR RI Mewakili Propinsi Jawa Timur. Willi Sekretaris FKP DPR RI. Sekretaris FKP-MPR RI. Anggota Badan Pekerja MPR RI. Sekretaris FKP MPR RI. Anggota Badan Pekerja MPR RI. Wakil Ketua FKP MPR RI. Wakil Ketua PAH II Badan Pekerja MPR RI. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI.

PENGALAMAN 2002 -2003 2003 - 2004

ORGANISASI PARLEMEN DUNIA President of AIPO (Asean Inter Parliamentary Organization) President of PUOICM (Parliamentary Union ojOle Members)

DEWAN PEMBINA GOLONGAN KARYA 1988-1993 Anggota Dewan Pembina. 1993-1998 Sekretaris Dewan Pembina.

33

PENGALAMAN 1988-1993 1993-1998 1998 1998-1999

OJ PEMERINTAHAN Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga, Kabinet Pembangunan V. Menteri Negara Perumahan Rakyat, Kabinet Pembangunan VI. Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Pemukiman. Kabinet Pembangunan VII. Menteri Sekretaris Negara, Kabinet Reformasi Pembangunan, INTERNASIONAL Mengikuti Asia and Pacific Students Leaders Program-Departement of State USA, selama tiga bulan. Memimpin Delegasi Indonesia dalam Dialog Malaysia Indonesia (Malinde), di Kuala Lumpur. Mengikuti Seminar Federasi Real Estat Sedunia (FIABCI), di Paris, Perancis. Mengikuti Kongres Habitat II di Nairobi, Afrika. Mengikuti KIT ASEAN di Hanoi. Memimpin Delegasi untuk Mengikuti Sidang International Parliament Union (IPU) di Yordania, Oktober. Memimpin Delegasi pada Sidang Inter Parliamentary Union (IPU) di Jakarta. Mernirnpin Delegasi pada Sidang AIPO di Singapura. Mernimpin Delegasi pada Konferensi Ketua-Ketua Parlemen Se-Dunia, di New York. Memimpin Delegasi pada Sidang AIPO di Thailand. Memimpin Delegasi pada Sidang All'O di Vietnam. YANG OJPEROLEH Mernperoleh Penghargaan Bintang Mahaputra Adi Pradana dari Pemerintah Republik Indonesia. Memperoleh Penghargaan Kruis in de Orde van Oranje-Nassau dari Pemerintah Kerajaan Belanda. Memperoleh Bintang Republik dari Pemerintah Republik Indonesia.

PENGALAMAN 1972

1990 1995 1996 1998 1999

2000

2001 2002
PENGHARGAAN 1992 1996 1998

---------------

-----

34

2003

SEJUMLAH PENGHARGAAN MASY.ARAKA T ADAT Gelar kehonnatan adat masyarakat Luwu, To Tinule,
2004 Kota Palopo, Sulawesi Selatan Gelar Sesebatan Kanjeng Pangeran Aryo Tandyonagoro dari Sri Susuhunan Pakoe Boewono XII di Sasono Andrawina Keraron Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

--------

-~-

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful