You are on page 1of 544

Seminar Denpasar, Bali, 2002

Pengukuhan Guru Besar Unsri, 1992

LIMA DIMENSI

MACHMUD HASJIM

DALAM

Penerima Penghargaan 50 Tahun Emas Unsri, 2010

MACHMUD HASJIM CUP II 2010

MACHMUD HASJIM

DALAM
Kunjungan Kerja di Bangkok, Thailand, 1996 Tembagapura, 2008

LIMA DIMENSI

MACHMUD HASJIM
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya 1991 - 2011

MACHMUD HASJIM dalam LIMA DIMENSI

Penulis Prof. Ir. Machmud Hasjim,.MME Editor PD. Sarana Desain Cover : Arwin. Jr Penerbit : PD. Sarana Jl. Cek Syech No. 83 Palembang Telp. 0711-312166 Cetakan Edisi Pertama : September 2011 Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

ISBN-987-602-19008-0-2

SAMBUTAN REKTOR UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Assalamu'alaikum Wr. Wb Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang senantiasa membentangkan karunia ilmu dan pengetahuan kepada setiap makhluk ciptaan-Nya. Oleh sebab itu, sepatutnya, sebagai hamba kita berkewajiban menggali, melestarikan, mengembangkan, dan mewujudkan ilmu dan pengetahuan ini untuk ditebarkan bagi kemanfaatan semua orang, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Prof. Ir. H. Machmud Hasjim, M.M.E. Beliau seorang Guru Besar pada Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya yang sejak lama menekuni bidang energi dan pertambangan guna pembangunan di Sumatera Selatan dan di tanah air. Gagasan Prof. H. Machmud Hasjim yang saat ini di tangan pembaca merupakan perwujudan seorang khalifah di bumi, yang tetap menjaga komitmennya sebagai ilmuwan dan pakar di bidangnya. Di masa mendatang karya ini bisa dijadikan pijakan dasar bagi semua pihak untuk membangun negeri. Sejumlah karya ilmiah Prof. H. Machmud Hasjim yang dibuat sejak tahun 20002010 merupakan buah pikir dan keinginan luhur yang didasari oleh tanggung jawab moral sosok akademisi, baik terhadap daerahnya sendiri yaitu Sumatera Selatan, maupun terhadap bangsanya. Dengan demikian, generasi mendatang mampu membaca realitas politik, sosial, dan budaya di negeri ini dengan pandangan jernih, jujur, dan cerdas. Selain dapat menambah khazanah intelektual di dunia akademik, terbitnya buku ini juga sebagai bentuk testimoni Prof. H. Machmud Hasjim terhadap sejumlah potensi di negeri ini, baik dalam bentuk lokal, regional, dan global untuk dapat disikapi dengan gagasan inovatif dalam membangun negeri. Melalui buku ini, Prof. H. Machmud Hasjim sebagai penulis, tengah mengajak kita "keluar" dari kebiasaan kebanyakan orang yang lebih memilih berjibaku dengan dunianya sendiri, daripada melakukan tindakan kreatif demi membangun moralitas anak negeri yang mandiri, tangguh, tanggon, dan trengginas. Menebar ilmu pengetahuan untuk kemanfaatan banyak orang melalui buku ini adalah satu poin penting yang saat ini telah dilakukan Prof. H. Machmud Hasjim. Membaca sejumlah karya ilmiah dalam buku inni, kita akan semakin mengenal sosok Prof. H. Machmud Hasjim yang merupakan sosok akademisi

i

yang terus berpartisipasi aktif memberikan kontribusi pemikirannya. Buku ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi memiliki latar belakang yang panjang. Proses menulis yang telah dilakukan Prof. H. Machmud Hasjim memerlukan komitmen dan konsistensi, terutama dalam merawat kesetiaannya terhadap ide dan gagasan untuk dituangkan ke dalam sebuah karya ilmiah. Karya ini akan menjadi simbol keteladanan bagi seorang Guru Besar yang patut menjadi panutan bagi insan akademik dan masyarakat melalui buah pikiran yang tidak pernah berhenti. Ucapan terima kasih kepada Prof. H. Machmud Hasjim tentu tidak akan hilang dari lintasan pikiran dan batin kami. Sebab, kami menyadari, kehadiran karya ilmiah ini merupakan sumbangsih yang tidak ternilai harganya secara materi. Bahkan, sejumlah karya dalam buku ini akan menjadi referensi bagi semua pihak yang bukan hanya mencerdaskan intelektual, namun juga dapat mendorong kecerdasan emosional dan spiritual di kalangan masyarakat. Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Inderalaya, September 2011 Rektor Universitas Sriwijaya,

Badia Perizade

ii

SAMBUTAN DEKAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Pertama-tama saya ingin menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada Prof. H. Machmud Hasjim yang pada masa purna baktinya masih tetap memberikan sumbangsihnya bagi pendidikan melalui penerbitan buku ini. Merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan dapat memberikan sambutan pada karya Sesepuh Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya yang luar biasa ini. Penulis buku ini adalah Profesor pertama dari Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, sosok yang sangat religius, berpandangan luas, rendah hati, disiplin, tegas dan konsisten serta menjadi kebanggaan dan teladan bagi Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Saya menyambut baik terbitnya buku “Machmud Hasjim dalam Lima Dimensi” yang merupakan kumpulan karya tulis beliau yang memuat ide dan pemikirannya yang cemerlang, kreatif, konstruktif demi kemajuan bangsa dan negara. Buku ini sangat bermanfaat bagi praktisi, dosen, mahasiswa, penyusun kebijakan, dan masyarakat pada umumnya. Dengan bahasa yang tegas, lugas dan mudah dimengerti, dalam buku ini kita akan mendapatkan tulisan yang menyangkut mineral dan batubara, energi dan lingkungan, pembangunan dan kebijakan, sumberdaya manusia, dan pendidikan. Sangat jarang diterbitkan sebuah buku yang memuat secara mendetail dan komprehensif mencakup begitu banyak bidang. Bidang-bidang yang sangat erat kaitannya dan saling menunjang satu sama lain. Saya berharap, penerbitan buku ini akan dapat diikuti dan menjadi tradisi bagi Dosen Fakultas Teknik Univesitas Sriwijaya yang memasuki masa purna bakti. Agar pemikiran dan karya mereka dapat terus dipelajari, digali dan dikembangkan generasi penerus dan membawa manfaat bagi pembangunan nasional dan kesejahteraan umat manusia.

Inderalaya, September 2011 Dekan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya,

Prof. Dr. Ir. H. M. Taufik Toha, DEA NIP 195308141985031002

iii

PROF. MACHMUD HASJIM SOSOK TOKOH MENYEJARAH Komentar Sahabat

Dalam menapak perjalanan hidupnya, setiap orang dihadapkan pada dua alur kehidupan, yakni dalam sejarah atau hidup menyejarah. Tipe pertama, adalah orang yang di masa hidupnya hanya habis mengikuti perjalanan zaman. Hidupnya yang dijalani layaknya sebuah “robot” yang dengan patuh menjalani pola kehidupan yang sudah tersistem secara mapan. Terus saja mengalur datar, menelusuri perjalanan hidupnya. Tidak ada “geliat” dalam bentuk apapun. Hidupnya hanya mengikuti perjalanan sejarah.

Beda dengan tipe kedua, sosok manusia yang “hidup menyejarah”. Tipe manusia berpotensi. Dirinya dipadati oleh gagasan, kaya kreativitas, serta pemikiranpemikiran inovatif yang subur. Dengan potensi itu pula, kemudian mereka menggeliat. Selalu termotivasi untuk ingin muncul dan berada di luar tatanan system yang sudah mapan. Terus menerus berkreasi dan berinovasi, untuk mewujudkan sesuatu yang baru.

Segala bentuk gagasan, maupun pemikiran yang bernas dan jernih tidak untuk dinikmati sendiri. Sama sekali bukan untuk dijadikan sarana popularitas pribadi, melainkan untuk kepentingan orang banyak. Selalu berorientasi pada nilai-nilai manfaatnya. Oleh sebab itu sosok manusia-manusia seperti ini, akan tetap jadi bahan kenangan. Baik semasa hidup maupun setelah tiada. Alur hidup yang dijalaninya, ibarat goresan tinta di lembaran buku catatan. Tersimpan dalam kenangan banyak orang. Hidupnya menyejarah.

Mencermati semuanya itu, secara jujur, barangkali tidak sulit untuk menyepakati, kalau Prof. Ir. H. Machmud Hasjim MME., terkategorikan sebagai tipe kedua. Sosok manusia menyejarah. Banyak faktor pendukung yang mengacu kepada kesimpulan ini. Bila saja disimak secara arif, faktor-faktor dimaksud, seluruhnya termuat secara utuh dalam daftar riwayat hidup beliau selama 70 tahun ini.

iv

Jenjang jarir Pak Machmud Hasjim terintis mulai dari bawah. Terus menanjak, mengalur anak tangga hingga mencapai puncaknya. Sebagai akademisi, dirintis dari status sebagai guru sekolah menengah atas, dosen, hingga menyandang Guru Besar. Begitu pula dalam karir jabatannya yang diawali dari jenjang kepangkatan II/c dengan status kepegawaian sebagai Pengatur, hingga mencapai jenjang tertinggi, yakni Pembina Utama IV/e. Kemudian di luar jabatan resmi yang disandang, Pak Machmud Hasjim juga selalu diminta ikut berperanaktif dalam berbagai aktivitas keilmuan, pengembangan dan pembangunan. Baik untuk tingkat regional, nasional, maupun internasional.

Di rentang perjalanan meniti karir itu, geliat Pak Machmud Hasjim selalu tampil dalam beragam bentuk. Buah pemikiran bernas tidak hanya tersimpan sebatas gagasan dan retorika. Didukung oleh tekad dan berbagai pendekatan yang strategis, boleh dibilang hampir gagasan yang terobsesi dalam diri Pak Machmud Hasjim berhasil diwujudkan. Terkadang, gagasan-gagasan kreatif yang inovatif itu bernuansa lintas kawasan. Bukan hanya terbatas pada bidang kepakaran yang beliau sandang, melainkan pula mengembang ke bidang-bidang di luarnya. Bahkan juga mencakup bidang sosial keagamaan.

Ketokohan, maupun sosok Pak Machmud hasjim sebagai Pemimpin yang inovatif dan visioner, setidaknya dapat dicermati dalam konteks gagasan serta wujud karya nyata beliau. Adapun lintas gagasan tercermin dari cuplikan sejumlah judul tulisan beliau, antara lain: Universitas Sriwijaya Menjelang Tahun 2000 (1995), Membangun Sumatera Selatan dengan Nafas Reformasi Total (1998), Pokokpokok Pikiran tentang Penyiapan Sumber Daya Manusia yang Berwawasan Nusantara Guna Mendukung Pembangunan Kelautan Daerah Sumatera Selatan 5 Tahun Mendatang (1998). Pengembangan dan Pemanfaatan SDE-SS sampai Tahun 2025. (2005).

Keempat karya tulis ilmiah tersebut diprensentasikan oleh Prof. Ir. H. Machmud Hasjim MME, masing-masing pada Lustrum ke-7 Unsri tahun 1995, acara kuliah kerja Perwira Seskoal Pendidikan Reguler 1998, dan seminar tahun 2005. ditengarai dari tahun penyampaiannya, terlihat jelas bahwa pemikiran yang

v

termuat dalam tuliasan tersebut merupakan gambaran dari visi ke depan seorang pemimpin dan ilmuwan. Sosok yang menyatu dalam diri Pak Machmud Hasjim.

Usia 70 tahun merupakan batas masa bakti seorang Guru Besar. Hal ini mengisyaratkan, bahwa status kepegawaian Pak Machmud Hasjim sudah sebagai pensiunan, dan Guru Besar Luar Biasa. Namun dengan status yang disandang itu, sama sekali tidak bakal “meninabobokkan” geliat bakti sosok tipe manusia menyejarah. Pak Machmud Hasjim masih terus terlibat aktif dalam sejumlah aktifitas, khusus yang berkaitan dengan pendidikan, sosial dan keagamaan. Setiap langkah dalam tapakan kehidupan Pak Machmud Hasjim selalu menyebarkan nilai manfaat.

Peribahasa menyatakan : Harimau mati meninggalkan belang; Gajah mati meninggalkan gading; Manusia mati meninggalkan nama. Perumpamaan yang bersumber dari kearifan lokal ini, tampaknya menyerasi dalam kehidupan Pak Machmud Hasjim. Meminjam konsep logopsikoloogi, beliau merupakan sosok yang selalu mendalami hakikat tentang makna hidup, dan sekaligus menjadikan hidup bermakna. Khazanah keagungan Al – Qur’an mengungkapkan. “Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (Q. 13 : 17).

Mudah-mudahan dalam mengawali masa pensiunnya, Pak Machmud Hasjim akan terus dan tetap setia dengan komitmen, maupun alur yang telah dijalaninya selama ini. Tetap jadi tokoh yang menyejarah.

Palembang,

September 2011

Prof. Dr. H. Jalaluddin Mantan Rektor IAIN Raden Fatah

vi

PRAKATA

Assalamualaikum Wr.Wb.

Segala puja dan puji saya persembahkan hanya ke hadirat Allah SWT, Tuhan Penguasa alam semesta. Sholawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW, pencerah serta teladan bagi umat yang berakhlakul karimah

Sangat menyadari cukuplah Allah SWT yang menjadi Pelindung dalam hidup ini. Tidak ada sedikitpun kekuatan dalam arti menyeluruh, selain kekuatan yang diberikan atas izin-Nya. Semoga kiranya amal/ perbuatan yang dilakukan mendapat Ridho Allah SWT, amin.

Waktu terus berjalan atas kekuasaan-Nya, tidak ada manusia manapun yang dapat memperlambat atau mempercepatnya. Tentu demikian juga Al Faqir, hamba Allah ini, insya Allah akan mencapai usia 70 tahun pada 18 Desember 2011.

Dari ilmu yang sedikit berupa anugerah yang Maha Kuasa, saya ingin menerbitkan karya ilmiah yang pernah dibuat pada periode utamanya 2000 – 2010, karena pada periode inilah ada kesempatan untuk dapat menyiapkan pemikiran dalam bentuk makalah, pada seminar daerah, nasional dan internasional. Pada periode sebelumnya, 1970 – 1999, kegiatan banyak tercurah pada pengorbanan amanah sebagai Ketua Jurusan, Sekretaris Fakultas, Dekan Fakultas, Direktur Pendidikan Ahli Teknik, Direktur Politeknik, Pembantu Rektor Bidang Akademik dan Rektor UNSRI. Karya ilmiah ini meliputi 5 (lima) bidang yaitu mineral dan batubara, energi dan lingkungan, pembangunan dan kebijakan, sumber daya manusia dan pendidikan. Tentu tidak semua karya ilmiah dapat saya sajikan dalam buku ini, karena kesulitan mendapatkan kembali soft copy/hard copynya.

vii

Mudah-mudahan kumpulan makalah yang dibukukan ini ada manfaatnya utamanya sivitas akademika pada Perguruan Tinggi. Kepada semua pihak yang telah membantu terbitnya buku ini terutama Prof. Dr. Hj. Badia Parizade, MBA, Prof. Dr. Ir. H. Taufik Toha, DEA, Prof. Dr, H. Jalaluddin, Prof. Dr. H. Waspodo, Ir. Resta Juniah, MT, Prof. Dr. Ir. Edy Sutriyono, M.Sc, Bohori, ST, MT, Novi, STP, Astuti, SP, Dra. Hesma dan yang lainnya yang tidak saya cantumkan namanya disini, saya sampaikan terima kasih. Secara khusus tentunya saya sampaikan terima terima kasih kepada Penerbit yang telah dapat dengan tekun menyusun tulisan ini.

Billahi Taufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Wr. Wb.

Palembang,

September 2011

Machmud Hasjim

viii

DAFTAR ISI
Halaman Sambutan Rektor Unsri Sambutan Dekan FT Unsri Machmud Hasjim Sosok Menyejarah Prakata DIMENSI KESATU MINERAL DAN INDUSTRI PERTAMBANGAN 1. Mineral Deposits and Their Development Opportunities Toward The Government Paradigm 2. Batubara sebagai energi alternative di Indonesia 3. Strategi Pengembangan Sumberdaya Mineral Sumatera Selatan 4. Peranan Perusahaan Tambang Batubara dalam aspek Percepatan Pembangunan Daerah DIMENSI KEDUA ENERGI, LINGKUNGAN DAN BATUBARA 1. Peluang dan tangangan Batubara Sumatera Selatan 2. The Prospect of The Development of Mine Mouth Coal Fired Power Plant in Musi Banyuasin, South Sumatra Province 3. Pertimbangan Penerapan Tarif Listrik Regional (Non Uniform Tarif) di Sumatera Selatan 4. Utilization Opportunity of South Sumatra Low Rank Coal 5. Prospect of South Sumatra to Export Electricity To The South East Asia 6. Pengelolaan Energi Sumatera Selatan Secara Arif Untuk Kesejahteraan Masyarakat 7. Pandangan Terhadap RUU Tentang Energi 8. Pencairan Batubara Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan dengen Tehnologi Improved BCL 9. Prospek Pencairan Batubara Peringkat Rendah Sumatera Selatan 10. Mineral Exploitation And Its Envirotmental Impacts; A Case Study Of PT. Freeport Indonesia in Papua, Indonesia. 11. Strategi Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan untuk Percepatan Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional

1 4 15 29 38

54 57 70

82 88 98 105 131 138 153 170

181

ix

12. PLTU Batubara Mulut Tambangn Meningkatkan Keandalan Sistem Ketenagalistrikan Nasiona; 13. Upaya Penangulanganan Krisis Energi di Indonesia 14. Dilemma of Multi Energy Resource in South Sumatra Province 15. Regional Preparations in Development of BLAnko Coal Liquefaction Plant South Sumatra 16. Prospek Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Sumatera Selatan 17. Overcoming The Energy Crisis in Indonesia 18. Prospek Sumatera Selatan sebagai Pusat Penghasil Energi 19. Batubara Sebagai Energi Alternatif di Indoneisa 20. Peluangan dan tantangan Pengembangan Energi Non BBM 21. Aspek Lingkungan Pemakaian Briket Pada Industri Mikro Kecil, Menengah dan Rumah Tangga 22. Strategi Pengelolaan Energi Sum Sel DIMENSI KETIGA PEMBANGUNAN DAN KEBIJAKAN 1. Pembangunan Daerah dengan aparatur yang bersih dan berwibawa dalam rangka menyongsong otonomi daerah 2. Kajian kebijakan pusat dan daerah di sektor pertambangan umum Sumatera Selatan 3. Prospek Sumatera Selatam Sebagai Pusat Penghasil Energi 4. Implementasi dan Pengebangan Hasil Riset Dalam Rangka Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangkitkan Perekonomian Rakyat 5. Mengharapkan dukungan Pemerintah Pusat terhadap Program Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi DIMENSI KEEMPAT SUMBER DAYA MANUSIA 1. Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan 2. Pokok Pikiran Penyiapan Sumber Daya Manusia yang berwawasan guna mendukung pembangunan Kelautan Sumatera Selatan 3. Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi 4. Pengembangan Masyarakat (Community Development) PT. Tambangan Batubara Bukit Asam (Persero) 5. Pembangunan Daerah dengan aparatur yang bersih dan berwibawa dalam rangka menyongsong otonomi daerah 6. Prospek kerjasama bidang Pendidikan dan Agama Dunia Melayu Dunia Islam

213 219 239 252 262 271 282 305 319 329 345

369 372

379 386 408

418

423 425 435

446 450

463

470

x

7. Implementasi dan pengembangan hasil Riset dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangkitkan perekonomian rakyat 8. Kegiatan pertambangan dan Otonomi Daerah 9. Pembahasan Tentang Peningkatan Peran Perkeretaapian di Sumatera Selatan DIMENSI KELIMA PENDIDIKAN 1. Link and Match The Higher Education and The Mining Indsutry 2. Mengelola Pendidikan Tinggi di Indonesia 3. Pengembangan Pendidikan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir 4. Development of Higher Education 5. Perencanaan Kurikulum dan Keterkaitan serta Kesepakatan Pendidikan Tinggi Pertambangan dengan Industri Pertambangan

488

497 504

507 510 514 524 532 538

xi

DIMENSI KESATU
1. Mineral Deposits and Their Development Opportunities Toward The Government Paradigm 2. Batubara sebagai energi alternative di Indonesia 3. Strategi Pengembangan Sumberdaya Mineral Sumatera Selatan 4. Peranan Perusahaan Tambang Batubara dalam aspek Percepatan

Pembangunan Daerah 5. Pengolahan Mineral secara Flotasi, Tahun 1978 6. Dewan Timah Internasional, Tahun 1979 (makalah seminar) 7. Feasibility Study Penambangan Batu Granit di Daerah OKI, Tahun 1980 (Penelitian) 8. Penelitian Recovery dan Kinetis pada Proses Flotasi Mineral Kwarsa, Tahun 1981 (Penelitian) 9. Penelitian Recovery dan Kinetis pada Proses Flotasi Mineral Spalerite, Tahun 1981 (Penelitian) 10. Studi Pengembangan Industri Kecil Pengerjaan Logam di OKI, Tahun 1983 (Penelitian) 11. Pengembangan Industri Kecil Pengerjaan Logam di Sumatra Selatan Guna Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Pedesaan, Tahun 1983 (makalah, seminar Dies UNSRI) 12. Recovery dan Selectivity Index Logam Tembaga dan Besi pada Flotasi Bijih Tembaga dengan menggunakan “Denver Flotation Cell” dan “Hallimond Tube”, Tahun 1985 (Penelitian) 13. Korelasi Recovery dari Logam Tembaga dan Besi pada Flotasi Bijih Tembaga dengan menggunakan Denver Flotation Cell dan Hallimond Tube, Tahun 1985 (makalah seminar) 14. Recovery dan Kinetis Flotasi Mineral Galena dengan menggunakan Denver Flotation Cell dan Hallimond Tube, Tahun 1985 (Penelitian) 15. Kinetika Flotasi Bijih Tembaga, Tahun 1986 (Penelitian) 16. Kondisi Industri Pertambangan di Indonesia saat ini, Tahun 1987 (majalah Teknologi, Jakarta)

2

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

17. Sekilas tentang Industri Pertambangan di Indonesia, Tahun 1989 (majalah Universitas Sriwijaya) 18. Penurunan Kadar Abu Batubara dengan Proses Oil Agglomeration, Tahun 1989 (Penelitian) 19. Flotasi Mineral Bukan Logam, Tahun 1990 (Jurnal Teknik Kimia) 20. Flotasi Batubara, Tahun 1990 (Jurnal Teknik Kimia) 21. Kajian Pembuatan Briket Batubara, Tahun 1990 (Penelitian) 22. Penggunaan Persenyawaan Sulfur Dalam Upaya Mengurangi Caking Batubara Bituminus, Tahun 1990 (Penelitian) 23. Optimasi Proses Sianidasi Bijih Emas Soreang - Jawa Barat, Tahun 1991 (Jurnal Teknik Kimia) 24. Beberapa Alternatif Ekstraksi Logam Emas dari Bijih Emas Cigaru - Sukabumi, Tahun 1991 (Makalah, Seminar UNSRI) 25. Peningkatan Recovery Emas pada Tambang Rakyat Lebong Tambang, Bengkulu, Tahun 1991 (Penelitian) 26. Usaha Perbaikan Ekstraksi Emas dan Perak pada Proses Amalgamasi di Tambang Rakyat Lebong Tambang, Tahun 1991 (Penelitian) 27. Bahan Bakar Bersih dari Batubara dan Kemungkinannya pada Batubara Indonesia, Tahun 1992 (Makalah, Konferensi Persatuan Insinyur Indonesia di Surabaya dan Majalah Persatuan Insinyur Indonesia, Februari 1992) 28. Ekstraksi Logam Ikutan dalam Bijih sebagai Nilai Tambah: Tantangan Teknologi Mineral Masa Depan, Tahun 1992 (Pidato Pengukuhan) 29. Prospek Nilai Tambah Industri Pengolahan Bijih Timah, Tahun 1993 (Makalah Seminar Pertambangan) 30. Pengurangan Kadar Abu Batubara Bukit Asam dengan Proses Flotasi, Tahun 1994 (Penelitian) 31. “Flotasi”, Universitas Sriwijaya, November 1999, (Buku Bacaan)

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

3

MINERAL DEPOSITS AND THEIR DEVELOPMENT OPPORTUNITIES TOWARD THE GOVERNMENT NEW PARADIGM Machmud Hasjim

I.

INTRODUCTION • GEOLOGICALLY, INDONESIA IS A VERY INTERESTING SITE WITH RESPECT TO MINERAL DEPOSITS (FIGS 1 AND 2). • THE REGION IS CONSIDERED TO BE ONE OF FIVE COUNTRIES THROUGHOUT THE WORLD OWING ABUNDANT MINERAL RESOURCES. • INDONESIA IS THE 2ND TIN PRODUCING COUNTRY, THE 4TH PRODUCING COPPER COUNTRY, THE 5TH NICKLE PRODUCING COUNTRY, THE 7TH GOLD PRODUCING COUNTRY, AND THE 8TH COAL PRODUCING COUNTRY IN THE WORLD. • HOWEVER, THE COUNTRY SEEMS LESS INTERESTING IN TERMS OF EXPLORATION INVESTMENT, HENCE MINING SECTORS. • MORE FRIGHTENING, IN THE LAST FIVE YEARS, EXPLORATION INVESTMENT IN INDONESIA HAS DROPPED SIGNIFICANTLY FROM THE LEVELS REACHED BETWEEN 1995-1997. • MINERAL EXPLORATION EXPENDITURE DURING 1995-1997 TOTALED US$134 MILLION; FROM 1998-2000 IT TOTALED $80 MILLION AND FROM 2001-2004 IT DROPPED TO A MERE $33 MILLION. • FIGURE 3 SHOWS CONFIGURATION OF INVESTMENT IN INDONESIA’S MINING SECTOR (Resosudarmo et al., 2009). • SUCH A CONDITION RELATES CLOSELY TO INVESTMENT ATTRACTIVENESS.

4

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

Investmen In Indonesia’s Mining Sector (Resosudarmo et al., 2009) II. DEVELOPMENT OPPORTUNITY INVESTMENT ATTRACTIVENESS. • THIS CAN BE EVALUATED ON THE BASIS OF: – MINERAL POTENTIAL INDEX. – POLICY POTANTIAL INDEX. MINERAL POTENTIAL INDEX IS CONSTRUCTED MAINLY BASED ON GEOLOGICAL ATTRACTIVENESS, AND THIS SHOWS WHETHER OR NOT A JURISDICTION’S MINERAL POTENTIAL UNDER THE CURRENT POLICY CLIMATE ENCOURAGES OR DISCOURAGES EXPLORATION POLICY POTENTIAL INDEX A MEASURE OF: • UNCERTAINTY CONCERNING THE ADMINISTRATION, INTERPRETATION, AND ENFORCEMENT OF EXISTING REGULATIONS. ENVIRONMENTAL REGULATIONS. REGULATORY DUPLICATION AND INCONSISTENCIES. TAXATION. UNCERTAINTY DEALING WITH LAND CLAIMS AND PROTECTED AREAS. INFRASTRUCTURE. 5

• • • • •

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

• • • • •

SOSIO-ECONOMIC AGREEMENTS. POLITICAL STABILITY. LABOR ISSUES. GEOLOGICAL DATABASE. SECURITY.

Uncertainty Concerning the Administration, Interpretation and enforcement of existing regulations
40 30 20 10 0

37 9 Encourages investment 19

22

13 Would not pursue investment due to this factor

Not a Deterrent to Investment

Mild Deterrent

Strong Deterrent

E nvironmental R eg ulation
50 40 30 20 10 0 47 31 8 11 3 W ould not purs ue inves tment due to this fac tor

E nc ourages inves tment

Not a Deterrent to Inves tment

Mild Deterrent

S trong Deterrent

6

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

R eg ulatory Duplic ation and Inc ons is tenc ies
50 40 30 20 10 0 E nc ourages inves tment Not a Deterrent to Inves tment Mild Deterrent S trong Deterrent W ould not purs ue inves tment due to this fac tor 4 20 44 26 6

T axation R eg ime
60 50 40 30 20 10 0 57 31 1 E nc ourages inves tment Not a Deterrent to Inves tment Mild Deterrent 9 S trong Deterrent 1 W ould not purs ue inves tment due to this fac tor

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

7

Uncertainty Concerning Native Land Claims
60 50 40 30 20 10 0

57 11 Encourages investment Not a Deterrent to Investment 23 9 Strong Deterrent

0 Would not pursue investment due to this factor

Mild Deterrent

Uncertainty over which areas will be protected
50 40 30 20 10 0

43 6 Encourages investment Not a Deterrent to Investment

34 16 1 Mild Deterrent Strong Deterrent Would not pursue investment due to this factor

8

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

Quality of Infras truc ture
60 50 40 30 20 10 0 53 26 16 1 E nc ourages inves tment Not a Deterrent to Inves tment Mild Deterrent S trong Deterrent 3 W ould not purs ue inves tment due to this fac tor

S oc ioec onomic ag reements /c ommunity development c onditions
2 E nc ourages inves tment 30 Not a Deterrent to Inves tment 47 Mild Deterrent 17 S trong Deterrent 5 W ould not purs ue inves tment due

50 0

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

9

P olitic al S tability
70 60 50 40 30 20 10 0 58

26 3 E nc ourages inves tment 9 4 Mild Deterrent S trong Deterrent W ould not purs ue inves tment due to this fac tor

Not a Deterrent to Inves tment

L abor R eg ulations /E mployment ag reements
50 40 30 20 10 0 47 30 17 2 E nc ourages inves tment Not a Deterrent to Inves tment Mild Deterrent S trong Deterrent 5 W ould not purs ue inves tment due to this fac tor

10

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

Quality of G eolog ic al Databas e
51 20 7 E nc ourages inve s tment Not a Deterrent to Inves tment Mild Deterrent S trong Deterrent 21 2 W ould not purs ue inves tment due to this fac tor

60 50 40 30 20 10 0

S ec urity S ituation
50 40 30 20 10 0 E nc ourages inve s tment Not a Deterrent to Inves tment Mild Deterrent S trong Deterrent W ould not purs ue inves tment due to this fac tor 2 15 3 44 36

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

11

Room For Improvement

Indonesia is placed at the top 20 jurisdictions with the greatest room to improve

The greater the score, the greater the gap between in current regulation and “best practices” mineral potential, and the greater the “room for improvement

12

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

III. INDONESIA’S NEW PARADIGM LAW OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER 4 OF 2009 CONCERNING MINERAL AND COAL MINING IS A NEW PARADIGM ENABLING TO ATTRACT INVESTMENT IN MINING SECTORS. ACCORDING TO BAMBANG GATOT ARIYONO (Direktur Pengembangan dan Pengusahaan Mineral dan Batubara) STATED THAT THERE HAVE BEEN 3 (THREE) MINING COMPANIES APPLIED FOR MINING PERMIT (IUP) IN FOUR PROJECT LOCATIONS. THESE ARE RIO TINTO (AUSTRALIA), BARRICK GOLD (CANADA), SOUTHERN ARC (CANADA) OR INDOTAN. RIO TINTO APPLIED FOR GOLD MINING PERMIT IN LEMONGAN (WEST NUSA TENGGARA), BARRICK FOR GOLD PROJECT IN BENGKULU (SMUATRA), AND RIO TIMTO FOR NICKLE IN LASAMPHALA (SOUTH AND SOUTH WEST SULAWESI).

IV. DISCUSSION • AS MOST MINERS’PERSPECTIVE TOWARD LAW OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER 4 OF 2009 CONCERNING MINERAL AND COAL MINING THAT THIS IS GREAT IMPROVEMENT IN MINING SECTOR. • HOWEVER, THE IMPLEMENTATION OF THE LAW MAY NEED TO CONSIDER SERIOUSLY SEVERAL ASPECTS SUCH AS: – THE EFFECTIVENESS AND MONITORING SYSTEM FOR CORPORATE SOSIAL RESPONSIBILITY (CSR) PROGRAMS. THIS SHOULD CLEARLY BE DEFINED INTO ZONE ONE (THE CLOSEST AREA TO MINING PROJECT), AND ZONE 2 (THE OUTER AREA). – CSR SHOULD BE ABLE TO IMPROVE SIGNIFICANTLY EDUCATION, HEALTH, SOCIO-ECONOMICS OF LOCAL PEOPLE. – IT IS SUGGESTED THAT CSR HAS NET PROFIT MARGIN ABOUT 2%5%. DISCUSSION (continued) – IN THE CASE OF SPECIAL MINING PERMIT, GOVERNMENT, AND REGIONAL GOVERNMENT SHOULD PAY ATTENTION SERIOUSLY TO THE IMPACTS OF MINING PROJECT ON ENVIRONMENT AND LOCAL COMMUNITY EMPOWERMENT. – MINING COMPANIES SHOULD OFFER AN OPPORUTNITY TO REGIONAL GOVERNMENT, LOCAL AND NATIONAL COMPANIES TO HAVE SHARE.

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

13

THERE MUST BE SKILL IMPROVEMENT IN MANY ECONOMIC SECTORS FOR LOCAL COMMUNITIES SURROUNDING MINING PROJECT. – IT SHOULD BE ATTEMPTED TO ENHANCE ADDED VALUES FOR MINERALS UP TO DOWN-STREAM SEGMENTS. – THE MINE COMPANIES SHOULD INVOLVE THE LOCAL UNIVERSITIES IN PROSPECTIN, EXPLORATION, AND CONSULTING ACTIVITIES. V. CONCLUSIONS – • • GEOLOGICALLY, INDONESIA IS KNOWN AS A MINERAL RICH CONTRY IN THE WORLD. HOWEVER, THE COUNTRY SHOULD ENSURE SEVERAL ASPECTS SUCH AS FOR EXAMPLES UNCERTAINTY CONCERNING THE ADMINISTRATION, INTERPRETATION, AND ENFORCEMENT OF EXISTING REGULATIONS, ENVIRONMENTAL REGULATIONS, REGULATORY DUPLICATION AND INCONSISTENCIES, TAXATION, AND OTHERS REMAIN INTERESTING FOR MINERS, HENCE THIS COULD ATTRACT INVESTMENT. LAW OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER 4 OF 2009 CONCERNING MINERAL AND COAL MINING IS A ROOM FOR IMPROVEMENT IN MINING SECTORS.

14

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

BATUBARA SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF DI INDONESIA*)
H. Machmud Hasjim**)., dan H. M. Taufik Toha***)

A.

PENDAHULUAN Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi serta keberhasilan pembangunan yang telah dicapai, kebutuhan akan energi terus meningkat dari waktu ke waktu. Selama ini minyak bumi (BBM) merupakan energi yang paling dominan digunakan baik di sektor industri, transportasi, maupun rumah tangga. Di sisi lain sejalan dengan eksploitasi yang dilakukan, cadangan minyak bumi nasional dan dunia terus menipis yang mengakibatkan meningkatnya harga komoditi tersebut secara signifikan. Dalam rangka mengantisipasi menipisnya cadangan minyak bumi dan tingginya harga BBM guna menjamin penyediaan energi untuk kepentingan nasional, maka dominasi penggunaan minyak bumi (BBM) perlu dikurangi secara bertahap dan mengembangkan pemanfaatan energi lainnya. Untuk itu Pemerintah telah menyusun Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2005 – 2025 dengan sasaran mengurangi pemakaian minyak bumi dan meningkatkan penggunaan sumberdaya energi lainnya dalam energy mix nasional secara bertahap, yakni peran minyak bumi dalam energy mix nasional menurun dari 54,4% pada tahun 2003 menjadi 26,2 % pada tahun 2025 dan peningkatan peran batubara dari 14,1 % menjadi 32,7 % (Tabel 1). Tabel 1 Sasaran Energy Mix Nasional 2025 Energy Mix Nasional Jenis Energi Existing (2003) Minyak Bumi Gas Bumi Batubara EBT dll 54,4% 26,5% 14,1% 5,0% Sasaran (2025) 26,2% 30,6% 32,7% 10,5%

Dalam memilih energi alternatif non-BBM yang akan dikembangkan terdapat tiga kriteria yang menjadi dasar pertimbangan yaitu sumberdaya energi tersebut harus banyak tersedia dan mudah didapat, harganya murah dan ramah lingkungan. Cadangan batubara nasional sekitar 57,85 milyar ton (22,24 milyar ton Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan 15

terdapat di Sumatera Selatan) merupakan sumberdaya energi yang banyak tersedia dan mudah didapat. Harga batubara lebih rendah dibandingkan harga minyak bumi, yang berarti dapat dikategorikan energi yang murah. Selain itu sebaran batubara yang terdapat di banyak lokasi di Indonesia mengindikasikan komoditi ini akan dapat dimanfaatkan dengan harga yang relatif murah karena biaya angkut yang relatif rendah (dekat dengan konsumen). Perkembangan teknologi batubara bersih (clean coal technology) yang telah berkembang pesat akhir-akhir ini telah memungkinkan pemanfaatan batubara yang ramah lingkungan. Dengan demikian berdasarkan ketiga kriteria energi alternatif yang potensial dikembangkan, maka batubara memiliki peluang yang besar untuk mengambil peranan sebagai energi alternatif di Indonesia.

B. 1.

POTENSI DAN PRODUKSI BATUBARA Nasional Indonesia mempunyai cadangan batubara sebesar 57,85 milyar ton yang tersebar 47,35 % di Sumatera (terbesar di Sumatera Selatan), 52,15 % di Kalimantan dan sedikit di Papua, Sulawesi dan Jawa. Jumlah cadangan terukur baru 12,47 milyar ton dan cadangan tertambang 6,98 milyar ton. Cadangan terunjuk adalah 20,53 milyar ton dan cadangan inferred 24,85 milyar ton. Sebagian besar cadangan batubara tersebut masuk pada peringkat rendah (lignit) 58,7 %, subbituminus 26,7 % bituminus 14,35 % dan antrasit 0,3 %. Produksi batubara pada tahun-tahun terakhir meningkat dengan tajam dari 27,8 juta ton pada tahun 1993 menjadi 127,2 juta ton pada tahun 2004. Pemakaian batubara dalam negeri juga meningkat dari 2,2 juta ton menjadi 31 juta ton pada tahun 2004. Demikian juga ekspor meningkat dari 5,8 juta ton menjadi 96 juta ton pada tahun 2004. Peran pemakaian batubara dalam negeri sebagai energy mixed juga sangat menggembirakan mencapai 16 % dan sebagai energi pembangkit 30,1 % pada tahun 2003. Diperkirakan pada tahun 2010 produksi batubara Indonesia mencapai 171 juta ton dengan kegunaan 47,7 juta ton untuk pembangkit listrik, 10,8 juta ton untuk industri semen. Peran batubara sebagai energi-mix juga meningkat menjadi 18 % dan energi pembangkit mencapai 46,3 %. Bila dilihat dari perkembangan pemakaian batubara tersebut dan prakiraan tahun 2010, terlihat jelas dan meyakinkan terjadinya diversifikasi energi di Indonesia dari minyak bumi ke batubara.

16

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

2.

Sumatera Selatan Cadangan batubara di Sumatera Selatan sebanyak 22,24 milyar ton yang terdiri dari cadangan terukur 5,3 milyar ton, cadangan terunjuk 6,8 milyar ton dan cadangan tereka 10,01 milyar ton. Cadangan tersebut tersebar di berbagai Kabupaten di Sumatera Selatan. Kabupaten yang memiliki cadangan batubara terbesar adalah Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Lahat (Gambar 1). Kualitas batubara yang ditemukan di wilayah Sumatera Selatan adalah sangat bervariasi, baik dilihat dari sifat kimia maupun sifat fisik. Perbedaan kualitas ini erat hubungannya dengan lingkungan dan waktu pengendapan batubara tersebut. Batubara yang terbentuk lebih awal pada umumnya memiliki peringkat (rank) lebih tinggi dari batubara yang diendapkan kemudian. Sebagian besar batubara Sumatera Selatan (lebih dari 80 %) masuk kategori Low Rank Coal (LRC). Produksi batubara Sumatera Selatah dilakukan oleh PTBA yang telah melakukan produksi batubara sejak tahun 1939 sampai sekarang. Namun produksi batubara oleh PTBA baru berkembang dengan sangat pesat di era tahun 1990-an. Tingkat produksi batubara PTBA dari unit penambangan Bukit Asam (Tanjung Enim) meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990 misalnya, produksi batubara baru mencapai sekitar 3,3 juta ton dan meningkat drastis menjadi 7,0 Juta ton pada tahun 1995.

325.00 836.79

3,491.71 1,235.00

OKI OKU Ma. Enim

2,714.97 13,636.53

Lahat MURA MUBA

Cadangan : 22.240,0 Juta ton

Gambar 1. Cadangan Batubara Sumatera Selatan (Juta Ton) Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan 17

Produksi batubara PTBA selama lima tahun terakhir relatif konstan, berkisar sekitar 9 juta ton (Gambar 2). Hal ini dikarenakan kendala transportasi batubara. Untuk dapat memenuhi potensi permintaan batubara baik dari pasar domestik maupun ekspor di masa yang akan datang, infrastruktur transportasi dan distribusi batubara (jalan kereta api, jalan darat, sarana lalu lintas sungai/laut, pelabuhan bongkar muat, terminal) yang ada perlu ditingkatkan. Bila masalah transportasi (kereta api) telah teratasi, tingkat produksi batubara PTBA dari lapangan batubara Tanjung Enim dan sekitarnya akan terus meningkat untuk tahun-tahun mendatang sejalan dengan kebutuhan batubara di dalam negeri yang terus meningkat terutama untuk pembangkit listrik. Disamping itu, batubara tersebut juga dialokasikan untuk ekspor dalam rangka menambah devisa negara.

10 Produksi (juta ton) 8 6 4 2 0

8.94

8.42

9.19

8.60 6.65

2001

2002

2003 Tahun

2004

2005

Gambar 2. Produksi Batubara Sumatera Selatan (Juta Ton) *) Data tahun 2005, realisasi sampai Bulan Oktober Produksi batubara Sumatera Selatan sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Data penjualan PTBA tahun 2004 menunjukkan dari total penjualan sebesar 9.952.353 ton, penjualan domestik sebesar 7.125.918 ton (1.238.134 ton diantaranya dijual di Sumatera Selatan) dan penjualan ekspor sebesar 2.826.617 ton. (Tabel 2). Hal ini berarti permintaan batubara di Sumatera Selatan relatif kecil dibandingkan di daerah lain. Kondisi ini memungkinkan Sumatera Selatan mengekspor atau mengirimkan batubara ke lokasi lain di tanah air. Untuk dapat meningkatkan produksi batubara tentunya dibutuhkan prasarana transportasi yang memadai. Pemerintah telah merencanakan akan membangun rel kereta api jalur ganda untuk pengangkutan batubara jalur Tanjung Enim – Palembang dan Tanjung Enim – Lampung. Selain 18 Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

itu juga telah direncanakan untuk membuat kanal agar batubara produksi Tanjung Enim dapat dibawa dengan transportasi air ke Sungai Musi atau ke Selat Bangka untuk selanjutnya di ekspor. Tabel 2. Produksi dan Pemakaian Batubara Sumatera Selatan Produksi & Penjualan Produksi PTBA • Sumsel • Luar Sumsel Tahun 2001 9.500.249 8.939.536 560.713 2002 8.782.675 8.420.352 362.323 2003 9.207.185 9.191.710 15.475 2004 8.681.259 8.597.251 84.008 2005 6.700.349 6.645.964 54.385

Penjualan Total • Penjualan Domestik - Sumsel - Luar Sumsel • Penjualan Ekspor

10.033.110 8.208.990 1.251.945 6.957.045 1.824.120

9.430.415 7.575.763 1.289.660 6.286.103 1.854.652

9.818.554 7.579.823 1.266.730 6.313.093 2.238.731

9.952.535 7.125.918 1.238.134 5.887.784 2.826.617

8.024.876 5.968.355 1.055.806 4.912.549 2.056.521

C.

PEMANFAATAN DAN TEKNOLOGI Batubara dapat digunakan sebagai bahan bakar langsung maupun bahan bakar tidak langsung melalui proses konversi batubara menjadi bahan bakar berbentuk cair, padat dan gas (Gambar 3). Teknologi pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar langsung telah banyak diterapkan, antara lain pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara, pabrik semen, industri dan lainlain. Saat ini teknologi konversi batubara telah berkembang cukup pesat, misalnya teknologi pembriketan, pengkokasan, upgrading brown coal (UBC), gasifikasi dan likuifaksi batubara serta coal water fuel (CWF) dan sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian, satu ton batubara muda bila dikonversikan akan menghasilkan energi listrik sebesar 700 kWh, dan bila dikonversikan menjadi bahan bakar cair akan menghasilkan produk sebanyak 160 liter (Gambar 4).

1.

PLTU Batubara Batubara Sumatera Selatan umumnya termasuk peringkat nilai kalori yang rendah dan kadar air yang tinggi. Hal ini kesulitan dalam pemasaran dan biaya operasional (khususnya biaya pengangkutan) menjadi tinggi, sementara

rendah dengan mengakibatkan penambangan harga batubara 19

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

relatif rendah. Untuk mengatasi kendala tersebut perlu diupayakan pemanfaatan batubara langsung di sekitar lokasi penambangan. Salah satu pemanfaatan yang potensial adalah dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara mulut tambang. Pembangunan PLTU akan dapat meningkatkan pemanfaatan Batubara Sumatera Selatan dan sekaligus memberikan sumbangsih bagi pemenuhan kebutuhan energi nasional. Sehubungan dengan hal tersebut, beberapa perusahaan swasta nasional maupun asing telah mendapat persetujuan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk membangun PLTU batubara. Total kapasitas rencana PLTU yang telah disetujui atau dalam tahap tender adalah 1000 MW, sementara 5500 MW lainnya masih dalam kajian. Untuk menunjang hal tersebut diperlukan pengadaan jaringan transmisi listrik yang menghubungkan pembangkit listrik dengan pusat-pusat beban. Pemerintah telah memprogramkan pengembangan jaringan transmisi dengan mengembangkan sistem interkoneksi sumatera (sitem saluran udara tegangan tinggi) dan sistem interkoneksi Jawa – Sumatera melalui kabel laut. 2. Briket Batubara Upaya meningkatkan pangsa pemakaian batubara selain pada PLTU dan pabrik semen, telah dirintis melalui pembuatan briket batubara pada tahun 1992. Briket batubara diharapkan dapat digunakan luas di sektor rumah tangga dan sektor industri kecil-menengah untuk mengimbangi dominasi BBM di sektor ini. Hingga saat ini Indonesia telah memiliki empat pabrik briket batubara yang siap memproduksi dan memasarkan briket batubara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, kesemuanya milik PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero). Keempat pabrik briket tersebut adalah : - Pabrik Briket Batubara Tanjung Enim I (kapasitas 7.500 ton/tahun), menerapkan teknologi proses briket terkarbonisasi secara konvensional yang menghasilkan briket tipe telur kualitas biasa / standar - Pabrik Briket Batubara Tanjung Enim II (PTBA-NEDO), kapasitas 10.000 ton per tahun, menerapkan teknologi proses briket terkarbonisasi yang menghasilkan briket tipe telur kualitas tinggi (briket super). - Pabrik Briket Batubara Tarahan, kapasitas 5.000 ton per tahun, pabrik briket batubara terkarbonisasi yang menghasilkan briket telur kualitas biasa

20

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

Pabrik Briket Batubara Gresik, kapasitas 120.000 ton per tahun, menerapkan teknologi proses briket tidak terkarbonisasi yang menghasilkan briket sarang tawon tipe kubus. Produksi briket batubara (briket super) terus meningkat dari 590 ton pada tahun 1993 menjadi 19.496 ton pada tahun 2003, bahkan pernah mencapai 23.248 ton pada tahun 2001 (Gambar 5). Peningkatan produksi ini merupakan indikasi peningkatan pemanfaatan briket batubara di Indonesia. Gambar 3. Pohon Batubara

Sumber : PPTM Bandung Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan 21

Listrik 700 kWh

Briket 400 kg

Methanol 280 lt BATUBARA 1000 Kg

Batubara Halus 360 kg

Kokas 250 kg

Bahan Bakar Cair 160 lt

Gas Kota 150 m3

Gas Sintetis 550 m3

Gambar 4. Perkiraan Produk Konversi Batubara

25,000 20,290 20,955 20,000

23,248 21,833 19,496

Produksi (Ton)

14,898 15,000 12,907 8,310 3,694

10,000

5,000 590 0

2,555

1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003

Tahun

Gambar 5. Produksi Briket Super Indonesia 22 Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

Lebih dari sepuluh tahun telah berlalu sejak briket batubara diperkenalkan dan dipromosikan, namun perkembangan pemanfaatan bahan bakar ini di sektor rumah tangga masih sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari pangsa pasar briket batubara. Pemanfaatan briket batubara untuk rumah tangga masih menghadapi beberapa kendala, antara lain butuh waktu untuk penyalaan, penggunaan yang harus kontinu (sampai briket habis terbakar seluruhnya), adanya isu negatif yang berkaitan dengan kesehatan (emisi gas beracun), dan lain-lain. Di pihak lain pemanfaatan briket batubara pada industri kecil-menengah mulai memasyarakat dan telah diterima. Penggunaan briket batubara nasional pada tahun 2004 menunjukkan pengguna briket terbesar adalah peternakan ayam dan disusul oleh rumah makan (sektor industri), sedangkan sektor rumah tangga hanya menggunakan briket batubara sebesar 1% dari total penjualan briket tahun 2004 (Gambar 6). Data penjualan briket batubara nasional (kumulatif sampai tahun 2004) menunjukkan pemakaian terbesar briket batubara adalah wilayah Jabotabek (44.780,10 ton) dan disusul oleh Jawa Timur sebesar 32.107,00 ton. Untuk wilayah Sumatera, pengguna briket terbesar adalah Sumatera Selatan disusul oleh Lampung (Gambar 7). Kebutuhan minyak tanah (kerosene) saat ini sekitar 11,5 juta kilo liter (untuk rumah tangga). Nilai kalori minyak tanah sekitar 9.200 kcal/kg dan nilai kalori batubara lignit sekitar 4.500 kcal/kg. Berarti kebutuhan 11,5 juta kilo liter minyak tanah tersebut setara dengan (9200/4500) x 11,5 juta kilo liter = 23,5 juta ton batubara. Bila dijadikan briket batubara akan menghasilkan 40% x 23,5 juta ton = 9,4 juta ton briket batubara. Bila pertumbuhan kebutuhan minyak tanah diperkirakan 3% per tahun, maka pemakaian minyak tanah pada tahun 2025 sekitar : = {11,5 + (57% x 11,5)} =18,055 juta kilo liter atau setara dengan (9200/4500) x 18,055 juta kl = 36,9 juta ton batubara. setara dengan 40% x 36,9 juta ton batubara = 14,76 juta ton briket. Bila diasumsikan 50% kebutuhan minyak tanah rumah tangga pada tahun 2025 dapat dialihkan pada briket batubara, maka dibutuhkan 7,38 juta ton briket batubara. Ini merupakan lahan baru yang sangat menarik untuk bisnis.

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

23

5% 1% 9% 20%

1%
Peternak Ayam Rumah Makan Pondok Pesantren

64%

Industri Kecil Rumah Tangga Lainnya

Gambar 6. Pangsa Briket Batubara Indonesia

1861

160

10

Sumut Riau Sumbar Sumsel Bengkulu Lampung Bangka Jabotabek Jabar Jateng & DIY Jatim

16384 32107

10 13164 30

27982 44780

9437

Gambar 7. Pemasaran Briket Batubara di Indonesia Beberapa waktu setelah kenaikan harga minyak 1 Oktober 2005, Presiden mensosialisasikan penggunaan briket batubara sebagai salah satu energi alternatif untuk mengatasi mahalnya harga minyak tanah. Lebih lanjut program tersebut ditindaklanjuti dengan program produksi massal kompor briket 10 juta tungku (hingga 2009). Namun pada pertengahan Mei 2006 lalu, kebijakan tersebut dialihkan oleh Wakil Presiden yang ingin 24 Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

mengembangkan gas bumi dan merencanakan untuk menyediakan 121 juta tabung gas dalam tiga tahun ke depan, dan merencanakan untuk meniadakan minyak tanah secara bertahap dengan percontohan pertama di empat kota Jakarta, Batam, Bali dan Makasar. Program mengalihkan penggunaan minyak tanah menjadi LPG merupakan program yang sangat menjanjikan dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap BBM, akan tetapi beberapa hal masih harus dicermati secara mendalam, misalnya produksi gas alam Indonesia yang sebagian besar telah committed, sehingga sulit untuk menyediakan gas alam dalam jumlah besar secara mendadak. Di lain pihak sebagian masyarakat di lokasi terpencil masih menggunakan minyak tanah untuk sumber penerangan sehingga penggunaan minyak tanah tidak dapat dihindari. Program penggunaan LPG untuk menggantikan minyak tanah di rumah tangga tampaknya hanya cocok untuk kalangan menengah ke atas, sedangkan pada golongan ekonomi lemah akan mengalami kesulitan untuk membeli LPG yang relatif mahal dan tidak dapat dibeli secara eceran. Sehubungan dengan hal tersebut briket batubara mutlak tetap perlu dikembangkan karena pengalihan minyak tanah seluruhnya ke gas alam tidak mungkin dapat dilaksanakan. Dengan demikian kedua program tersebut dapat saling menguatkan dalam mencapai tujuan yang sama yakni mengurangi ketergantungan terhadap BBM dan menjamin ketersediaan energi nasional. 3. Upgrading Brown Coal (UBC) Teknologi upgrading brown coal (UBC) yang merupakan teknologi untuk meningkatkan kualitas batubara, sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar batubara peringkat rendah. Teknologi ini telah dikuasai dengan baik, bahkan telah didirikan pilot plant UBC di Palimanan, Cirebon pada tahun 2004-2005. Biaya produksi UBC sekitar US $ 10/ton. Tingginya harga batubara dewasa ini menjadikan penerapan teknologi ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan. Direncanakan tahun 2006 akan dibangun pabrik skala demo plant di Sumatera Selatan. Pada skala demo ini produk UBC yang dihasilkan telah dapat dipasarkan dan diperkirakan pada tahun 2009 telah dapat memasuki tahap komersial plant. Gasifikasi dan Likuifaksi Teknologi likuifaksi batubara merupakan teknologi yang telah lama dikenal. Percobaan pertama dilakukan oleh Dr. Friedrich Begius pada tahun 1913 di 25

4.

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

5.

Jerman (Berkowitz, 1985), selanjutnya para peneliti dari berbagai negara telah melanjutkannya dengan menyempurnakan serta mengembangkan teknologi tersebut. Di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral telah menjadikan pengkajian pencairan batubara menjadi salah satu program penelitian dalam Proyek Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pemanfaatan Batubara pada tahun anggaran 1995/1996. Melalui program tersebut, berbagai penelitian seputar teknologi likuifaksi batubara telah dilakukan. Selain itu, lembaga penelitian lainnya dan kalangan perguruan tinggi juga ikut ambil bagian dalam penelitian teknologi likuifaksi tersebut. Secara umum, teknologi likuifaksi batubara telah dapat dikuasai dengan baik dan tidak ada masalah yang berarti. Dampak lingkungan teknologi pencairan batubara dan gasifikasi batubara relatif lebih kecil dibandingkan pembakaran batubara secara langsung. Emisi gas SO2 hasil pembakaran secara langsung di PLTU berkapasitas 2540 MWe misalnya adalah 88,2 x 103 ton/tahun, sedangkan emisi SO2 pada liquefaction plant dengan kapasitas yang sama adalah 4,4 x 103 ton/tahun dan emisi SO2 pada saat penggunaan minyak adalah 11,9 x 103 ton SO2/tahun. Jumlah tersebut jauh lebih kecil bila dibandingkan emisi pada pembakaran batubara secara langsung di PLTU yang dilengkapi flue gas desulfurization. Demikian juga pada emisi NOx, particulate dan karbon monoksida, konversi batubara menjadi bahan bakar gas atau cair menghasilkan limbah tersebut dalam jumlah yang jauh lebih sedikit (Hadi N & Nining S Ningrum, 1998). Penelitian terhadap pencairan batubara Tanjung Enim, Sumatera Selatan menunjukkan hasil yang cukup baik dengan biaya produksi sebesar US $ 18,6/barrel. Dengan kondisi harga minyak bumi sekarang ini yang berada pada kisaran US $ 50 - 70 /barrel, teknologi likuifaksi merupakan pilihan yang sangat menarik. Secara umum teknologi gasifikasi dan likuifaksi batubara telah dikuasai, namun hingga saat ini masih dalam taraf penelitian skala laboratorium. Diperkirakan pilot plant likuifaksi akan didirikan sekitar tahun 2009. Coal Water Fuel (CWF) Teknologi Coal Water Fuel (CWF) hingga saat ini juga masih dalam tahap penelitian skala laboratorium dan belum diaplikasikan. Prioritas pemanfaatan batubara sebagai energi alternatif yang potensial berdasarkan tingkatan pengembangan teknologi konversi yang telah dicapai dan pertimbangan keekonomiannya serta kemungkinan perkembangannya

26

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

di masa mendatang adalah pemanfaatan langsung (PLTU, industri) dan pemanfaatan setelah konversi (briket batubara, UBC, gasifikasi dan likuifaksi, serta CWF). D. PENUTUP Keterbatasan cadangan minyak bumi dan harga BBM yang semakin tinggi serta mulai terjadinya kelangkaan, mengingatkan kita akan perlunya energi alternatif non-BBM. Energi alternatif tersebut harus memenuhi tiga kriteria yaitu jumlahnya banyak dan mudah didapat, harganya murah dan ramah lingkungan. Menilik potensi batubara Sumatera Selatan dan Nasional yang besar, harganya yang lebih rendah dari harga BBM dan juga perkembangan teknologi batubara bersih yang telah dikembangkan, batubara merupakan salah satu energi yang potensial untuk dikembangkan sebagai energi alternatif di Indonesia. Pemanfaatan batubara di Indonesia saat ini umumnya masih terbatas pada pembakaran langsung (PLTU, Industri Semen, dan industri lainnya). Status pemanfaatan batubara konversi tergantung pada jenis konversi yang diterapkan, yang telah mencapai tahap komersial adalah briket batubara, sementara Upgraded Brown Coal (UBC) telah memasuki tahap pilot plant, sedangkan gasifikasi, likuifaksi dan coal water fuel (CWF) masih dalam tahap penelitian skala laboratorium. Prioritas pemanfaatan batubara antara lain sebagai bahan bakar langsung (PLTU, Industri), briket batubara, Upgraded Brown Coal (UBC), gas sintetis dan minyak sintetis, serta batubara cair (coal slurry). Pengembangan teknologi konversi batubara perlu terus digalakkan dan ditumbuhkembangkan baik dari segi teknologi maupun ekonomi serta upaya pendekatan/sosialisasi agar dapat diterima dan digunakan masyarakat. Sosialisasi penggunaan briket batubara di sektor rumah tangga perlu mencakup juga perubahan pola masak agar masyarakat dapat menggunakan briket batubara secara efisien. Dengan pengembangan energi alternatif, diharapkan ketersediaan energi dapat dipertahankan dan ketergantungan terhadap BBM dapat dikurangi secara bertahap.

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

27

DAFTAR PUSTAKA Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia., “Kebijakan Batubara Nasional Tahun 2004 – 2020”, Jakarta 2004. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia, “Kebijakan Energi Nasional 2003 – 2020”, Jakarta, 2004. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia, “Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2003 – 2025”, Jakarta 2004. Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Propinsi Sumatera Selatan, “Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan”, Palembang, 2004. Machmud Hasjim., “Peluang dan Tantangan Batubara Sumatera Selatan”, Makalah Seminar Nasional Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi”, Jakarta, Nopember 2000. Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., dan Taufik Toha., “Utilization Opportunity of South Sumatra Low Rank Coal”, The 4th International Conference and Exhibition on Coal Tech 2003, Indonesian Coal Society, 2003. Wimpy S. Tjetjep, “Strategic Planning of Low Rank Coal Utilization in Indonesia”, Indonesian – Japan Joint Seminar on UBC Technology, Jakarta, 21 Maret 2005.

28

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

STRATEGI PENGEMBANGAN SUMBERDAYA MINERAL SUMATERA SELATAN

Machmud Hasjim

Sumatera Selatan memiliki potensi sumberdaya mineral yang cukup besar, baik dari segi jenis maupun jumlahnya. Sumberdaya mineral yang terdapat di Sumatera Selatan antara lain : granit, andesit, obsidian, batu gamping, marmer, pasir kuarsa, pasir sungai dan lain-lain. Selain potensi yang besar, sumberdaya mineral Sumatera Selatan juga memiliki prospek yang cukup baik mengingat di era industrialisasi ini kebutuhan pasar akan mineral industri terus meningkat. Pemanfaatan bahan galian sangat tergantung pada kualitas bahan galian tersebut. Potensi sumberdaya mineral di Sumatera Selatan baru sebagian kecil yang diusahakan (dimanfaatkan/ditambang). Hal ini dikarenakan berbagai hal antara lain : keterbatasan data mengenai potensi dan kualiltas bahan galian, keterbatasan infrastruktur dan lain-lain. Seiring dengan otonomi daerah dewasa ini, potensi bahan galian merupakan salah satu modal dasar pemerintah daerah untuk membiayai pembangunan daerah dan mewujudkan sebesar-besar kemakuran rakyat. Mengingat potensi yang dapat diandalkan, sumberdaya yang ada perlu diupayakan untuk memanfaatkan guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pemanfaatan perlu diupayakan seoptimal mungkin dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

A.

POTENSI SUMBERDAYA MINERAL Berdasarkan hasil penyelidikan terdahulu, potensi sumberdaya mineral Sumatera Selatan terdiri dari 18 (delepan belas) jenis, yaitu : andesit, batu apung, belerang, bentonit, basal, pospat, batu gamping, granit, lempung, marmer, obsidian, pasir kuarsa, perlit, pasir-batu, trass, zeolit, batu mulia (Tabel 1). Umumnya penyelidikan terhadap potensi sumberdaya mineral di Sumatera Selatan hanya berupa inventarisasi atau penyelidikan pendahuluan. Khusus untuk Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan 29

bahan galian terntentu saja yang telah mencapai tingkatan penyelidikan yang lebih tinggi (eksplorasi). Dengan demikian sebagian besar potensi sumberdaya mineral di Sumatera Selatan hanya diketahui keberadaannya (lokasi) namun belum diketahui jumlah (cadangan) dan kualitasnya. Biasanya penyelidikan potensi bahan galian yang bersifat inventarisasi/ penyelidikan pendahuluan dilakukan oleh pemerintah daerah dan selanjutnya untuk lebih rinci lagi dilakukan oleh pihak yang akan mengeksploitasinya (menambang). Seiring dengan semangat otonomi daerah sekarang ini, beberapa Pemerintah Kabupaten telah memulai untuk menyajikan data potensi bahan galian yang lebih terinci guna menarik minat investor berkiprah di sektor pertambangan. Beberapa penelitian yang dilakukan di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupten Lahat, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir telah memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Tabel 1. Potensi Sumberdaya mineral Sumatera Selatan Lokasi 3 4 5 Tahap Penyelidikan Inventarisasi/ Peny. Umum Inventarisasi/ Peny. Umum Inventarisasi/ Peny. Umum Inventarisasi Inventarisasi Inventarisasi Eksplorasi pendahuluan Inventarisasi/ Ekplorasi pendahuluan

No 1 2 3 4 5 6

Bahan Galian Andesit Batuapung Belerang

1

2

6

7

Keterangan Belum diusahakan Belum diusahakan Belum diusahakan Belum diusahakan Belum diusahakan Belum diusahakan Sebagian diusahakan PT. Semen Baturaja Di OKI eksplorasi pendahuluan, diusahakan oleh PT. Bende

Bentonit Basal

Posfat Batugamping

7

8

Granit

30

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

9

Lempung

Eksplorasi lanjutan

10 11

Marmer Obsidian

Inventarisas/ Peny. Umum Inventarisasi Inventarisasi/ Eksplorasi pendahluan Penyelidikan Pendahuluan Eksplorasi lanjutan Penyelidikan Pendahuluan

12

Pasir Kuarsa Perlit Sirtu

13 14

15

Trass

16 17 18

Zeolit Kaolin Batumulia

Inventarisasi Inventarisasi Inventarisasi/ Eksplorasi pendahuluan

Seguguk Diusahakan penduduk sebagai bahan batubata/genteng Belum diusahakan Belum diusahakan Di OKU diusahakan PT. Semen Baturaja Belum diusahakan Diusahakan oleh penduduk Di OKU diusahakan penduduk sebagai bahan batubata/genteng Belum diusahakan Belum diusahakan Kerajinan rakyat

Lokasi : 1) Kabupaten Muara Enim 2) Kabupaten Lahat 3) Kabupaten Musi Banyuasin 4) Kabupaten Musi Rawas

5) Kabupaten Ogan Komering Ilir 6) Kabupaten Ogan Komering Ulu 7) Kota Palembang

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

31

1.

Marmer Penelitian potensi marmer di Kabupaten Ogan Komering Ulu dilakukan di tiga lokasi yang berbeda, yakni : Desa Peninjauan Kecamatan Muaradua, Desa Tanjungsari Kecamatan Simpang dan Desa Tanjung Harapan Kecamatan Pulau Beringin. Cadangan marmer di Desa Peninjauan sebesar 7.600.630 m3, Desa Tanjung Sari sebesar 1.192.364 m3 dan di Desa Tanjung Harapan sebesar 143.980.996 m3. Kualitas marmer di ketiga lokasi tersebut tergolong kualitas tinggi dengan kuat tekan berkisar 42 – 51MPa.

2.

Trass Penelitian terhadap endapan tras dilakukan di Kecamatan Muaradua meliputi empat desa yaitu Desa Bumi Agung, Desa Pelawi, Desa Talang Pelangki dan Desa Serakat Jaya. Cadangan trass di lokasi penelitian cukup besar, pada lokasi yang diukur, meliputi areal seluas 74,2 ha cadangannya sebesar 11.061.381,657 m3 dan untuk di Kecamatan Muara Dua, meliputi areal seluas 1.250 ha diperkirakan sebesar 131.005.828,275 m3. Cadangan tersebut masih menerus hingga ke Kecamatan Banding Agung dan Kecamatan Simpang. Kualitas trass dari hasil uji komposisi kimia tergolong baik dengan kadar SiO2 +70 % dan silika relatif +7 % (Tabel 2). Tabel 2. Kualitas Trass Kab. OKU dan Kab. Lahat KOMPOSISI KIMIA RATA-RATA (%)

Lokasi

SiO2

Al2O3 Fe2O3 CaO

MgO

Hilang Pijar

H2O

Silika Reaktif

Kab. OKU Bumi Agung Pelawi Talang Pelangki Serakat Jaya Kab. Lahat Air Kelingsar Spg. Perigi 72,57 63,73 13,30 2,36 25,35 1,37 1,65 0,51 0,36 0,06 6,32 4,46 3,37 0,41 3,36 0,00 68,21 70,1035 71,16 15,60 3,95 15,73 2,5 15,35 1,979 2,47 2,75 1,73 1,826 0,58 0,61 0,411 0,45 3,10 2,531 3,8805 2,95 2,469 7,09 6,81 7,14 7,14 7,9075

70,489 16,1955 1,603

8,124 11,3655

32

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

3.

Batu Gamping Penyelidikan potensi batugamping dilakukan di Daerah Desa Sukajadi Kecamatan Kota Lahat dan Desa Pulau Beringin Kecamatan Kecamatan Kikim, Kabupaten Lahat. Potensi batugamping di kedua lokasi tersebut cukup besar yakni sebesar 40.323.030 m3 di Desa Sukajadi dan 81.743.722 m3 di Desa Pulau Beringin. Kualitas batugamping di kedua lokasi tersebut cukup tinggi (Tabe3) dan dapat dimanfaatkkan sebagai bahan baku semen portland. Di Kabupaten Ogan Komering Ulu, potensi Batukapur telah dimanfaatkan sebagai bahan baku semen oleh PT. Semen Baturaja dengan total cadangan di sekitar Daerah Pusar sekitar 50 juta ton. Tabel 3 Kualitas Batugamping Kab. Lahat dan Kab. OKU Lokasi SiO2 (%) Al2O3 (%) Fe2O3 (%) CaO (%) MgO (%) Hilang Pijar ( % ) H2O (%)

Kab. Lahat
Sukajadi P. Beringin Kab. OKU Daerah Pusar 3,55 1,96 0,39 51,33 0,51 4,75 6,08 1,16 2,15 0,41 0,72 51,88 49,51 0,57 0,41 40,55 40,26 0,69 0,88

4.

Pasir Kuarsa Penyelidikan potensi pasir kuarsa dilakukan di Daerah Desa Sungai Pasir Kecamatan Tulung Selapan Kabuapten Ogan Komering Ilir. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, pasir kuarsa di daerah ini berada di permukaan tanpa tanah penutup. Jumlah cadangan diperkirakan sebesar 98.020.000 m3. Kualitas pasir kuarsa di daerah Desa Sungai Pasir merupakan kualitas tinggi dengan kadar silika (SiO2) berkisar antara 95,6 % hingga 98,3%.

5.

Granit Lokasi penelitian potensi granit meliputi Desa Air Rumbai Kecamatan Pampangan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Penelitian dilakukan di tiga bukit granit yakni Bukit Tarum, Bukit Batu dan Bukit Asem. 33

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

Potensi batu granit di Bukit Batu sebesar 44.328.125 m3, sedangkan kedua Bukit lainnya diidentifikasi sebagai bukit granit namun belum dihitung cadangannya.

B.

PROSPEK PENGEMBANGAN Prospek pengembangan bahan galian sangat tergantung pada jumlah cadangan dan kualitas bahan galian. Jumlah cadangan berkaitan dengan umur tambang (lifetime) yang tentunya berpengaruh dengan besarnya investasi, sedangkan kualitas bahan galian berkaitan dengan pemasaran yang merupakan faktor penting dalam industri. Sumberdaya mineral marmer, trass, batugamping, pasir kuarsa dan granit sangat potensial untuk dimanfaatkan (ditambang). Hal ini didasarkan pada jumlah cadangan yang besar dan kualitas yang tinggi. Marmer di Kabupaten Ogan Komering Ulu memiliki prospek yang baik untuk dimanfaatkan secara besar-besaran (pembuatan pabrik keramik) maupun dimanfaatkan secara kecil-kecilan untuk kerajinan masyarakat. Hal ini mengingat jumlah cadangan yang besar dan kualitas (kuat tekan) yang tinggi. Potensi trass di Kabupaten Ogan Komering Ulu juga merupakan salah satu sumberdaya mineral yang potensial ditambang. Cadangan yang besar dan menerus dari Kecamatan Muaradua hingga Kecamatan Banding Agung dan Kecamatan Simpang dengan kualitas yang tinggi. Potensi trass tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembutan semen pozzoland, baik semen portland pozzoland maupun semen pozzoland kapur. Lokasi potensi yang terletak di tepi jalan raya merupakan faktor yang menguntungkan karena tidak membutuhkan investasi prasarana pengangkutan. Selain itu overburden deposit trass tergolong tipis (< 2m). Pemanfaatan dapat dilakukan dengan pembangunan pabrik semen atau pun secara kecil-kecilan untuk keperluan masyarakat. Potensi batu kapur di Kabupaten Lahat potensial dimanfaatkan. Jumlah cadangan yang besar dengan kualitas yang memenuhi persyaratan bahan baku semen tentunya menjadikan sumberdaya mineral ini potensial dimanfaatkan sebagai bahan baku semen portland maupun semen tipe lainnya. Di masa mendatang, seiring dengan pembangunan yang terus berjalan tentunya permintaan pasar akan semen akan terus meningkat. Hal ini merupakan

34

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

salah satu faktor yang menguntungkan dalam rangka pemanfaataan potensi batugamping yang ada di Sumatera Selatan. Potensi pasir kuarsa di Kabupaten Ogan Komering Ilir tergolong cukup besar dan kualitas tinggi. Dengan kualitas yang baik tersebut, bahan galian ini dapat digunakan oleh berbagai industri antara lain : industri kaca, sebagai bahan sand blasting, bahan abrasive dan sebagainya. Peluang pasar yang terbuka lebar merupakan salah satu faktor yang menguntungkan dalam upaya pemanfaatan potensi pasir kuarsa di Kabupaten Ogan Komering Ilir.

C. 1.

KENDALA DAN STRATEGI Kendala Salah satu kendala utama dalam pemanfaatan sumberdaya mineral di Sumatera Selatan khususnya dan Indonesia pada umumnya adalah kurangnya data mengenai potensi bahan galian. Selama ini pemerintah hanya menyediakan data inventarisasi potensi bahan galian dan untuk mendapatkan data lebih rinci diserahkan pada pihak yang akan menambangnya. Kebijakan ini berjalan dengan baik untuk bahan galian yang memiliki nilai ekonomis tinggi misalnya mineral-mineral logam dan batubara. Hal ini dikarenakan investor yang berkiprah di bidang tersebut memiliki permodalan yang kuat dan umumnya adalah penanaman modal asing (PMA). Khusus untuk sumberdaya mineral (bahan galian industri), kebijakan ini kurang dapat berjalan efektif mengingat investor umumnya memiliki modal yang terbatas. Mengingat tingkat resiko kegiatan pertambangan yang relatif tinggi dibandingkan industri lainnya, maka investor kurang berminat berinvestasi bila harus melakukan eksplorasi terlebih dahulu. Selain kendala data, kendala lain yang umum dijumpai adalah keterbatasan infrastruktur, masalah perolehan lahan, konflik dengan masyarakat sekitar, dan sebagainya. Sebagai contoh potensi marmer di Kabupaten Ogan Komering Ulu, potensi batugamping di Kabupaten Lahat, potensi pasir kuarsa di Kabuapten Ogan Komering Ilir walaupun jumlahnya besar dan berkualitas tinggi sampai

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

35

sekarang belum dimanfaatkan (ditambang). Hal ini disebabkan tidak adanya sarana transportasi (jalan) ke lokasi deposit bahan galian tersebut. 2. Strategi Sebagai upaya untuk mengatasi kendala yang ada, perlu diupayakan berbagai pendekatan, antara lain dengan menyediakan data yang lebih rinci dan lengkap tentang potensi sumberdaya mineral Sumatera Selatan dan prospek pemanfaatannya. Kegiatan ini perlu ditindaklanjuti dengan promosi oleh pemerintah daerah. Selain itu pemerintah daerah juga perlu menyederhanakan prosedur perizinan, memfasilitasi perolehan lahan dan menengahi konflik antara investor dan masyarakat setempat. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah perlu menganggarkan dana untuk melaksanakan penelitian potensi bahan galian. Dana tersebut nantinya dapat dibebankan pada investor yang berminat ataupun diperhitungkan sebagai saham pemerintah daerah dalam industri penambangan yang dilakukan nantinya. Mengingat eksplorasi membutuhkan dana yang cukup besar sedangkan kemampuan keuangan pemerintah daerah sangat terbatas, perlu diprioritaskan kegiatan eksplorasi pada sumberdaya mineral yang memiliki nilai ekonomis tinggi atau yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Dengan demikian secara bertahap data potensi sumberdaya mineral akan terus dilengkapi guna menarik minat investor. Pemerintah daerah juga perlu mengupayakan pembangunan prasarana (jalan dan jembatan) ke arah lokasi potensi bahan galian yang potensial. Pembangunan ini tidak saja akan menarik minat investor namun juga akan memperlancar dan membuka isolasi daerah terpencil dalam kaitannya dengan pemerataan hasil-hasil pembangunan. Dengan adanya prasarana yang cukup, investor hanya perlu menyiapkan prasarana yang dibutuhkan dari desa terdekat ke lokasi bahan galian. Dengan demikian akan memperkecil biaya investasi. Hal ini tentunya akan dapat menarik minat investor khususnya investor golongan menengah. Sebagai contoh kasus potensi pasir kuarsa di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Cadangan pasir kuarsa di daerah Sungai Pasir Kabupaten Ogan Komering Ilir cukup besar dengan kualitas tinggi (melebihi kualitas di Pulau Bangka dan Pulau Belitung), namun kegiatan penambangan pasir kuarsa justru terkonsentrasi di Bangka Belitung. Hal ini disebabkan sarana pengangkutan belum ada, pengangkutan lewat darat terlalu jauh sedangkan pengangkutan

36

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

lewat sungai dihadapkan pada kendala sungai yang sempit dan pada muara sungai banyak perumahan penduduk. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah daerah perlu mengupayakan membuat kanal sebagai sarana pengangkutan alternatif. Selain untuk menarik minat investor menambang pasir kuarsa, kanal tersebut juga dapat dipergunakan oleh masyarakat untuk pengangkutan hasil kehutanan, perkebunan, pertanian, perikanan dan lain-lain. Biaya pembuatan kanal tersebut nantinya dapat dibebankan pada industri yang memanfaatkan kanal tersebut, misalnya dengan pembayaran setiap kali lewat seperti di jalan tol maupun dengan sistem kontrak dalam jangka waktu tertentu.

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

37

PERANAN PERUSAHAAN TAMBANG BATUBARA DALAM ASPEK PERCEPATAN PEMBANGUNAN DAERAH * Machmud Hasjim

A.

PENDAHULUAN Perusahaan Tambang di Indonesia dibagi dalam 2 bagian yaitu Tambang Fosil dan Non Fosil. Tambang Fosil yang ada di Sumatera Selatan meliputi minyak, gas dan batubara dan non fosil adalah bijih dan bahan galian industri (bahan galian golongan C). Tulisan/paper ini dibatasi pada batubara sebagai energi untuk percepatan pembagunan daerah. Kepemilikan sumber daya energi terbagi atas dua kepemilikan yaitu kepemilikan pribadi dan kepemilikan umum. Kepemilikan pribadi dengan karakteristik seperti kondisi pemaksaan (enforceability), pengambilalihan (transferability), eksklusif (exclusivity) dan pembagian (divisebility). Kepemilikan pribadi ini banyak terdapat di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Kepemilikan umum, biasa disebut dengan open access seperti yang terdapat di Indonesia. Pasar sumber energi sulit terbentuk tanpa intervensi pemerintah. Kepemilikan sumber daya energi di Indonesia merujuk pada UndangUndang Dasar 1945 pasal 33 ayat 2 yang berbunyi “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara“, dan ayat 3 “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat“. Ini berarti eksplorasi dan eksploitasi bahan tambang tersebut harus dikelola oleh pemerintah dan hasilnya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Dengan kata lain regulator, fasilitator dan operatornya adalah pemerintah. Pada era otonomi sekarang ini sebaiknya pemerintah hanya memegang kendali sebagai regulator dan fasilitator saja, sedangkan operator sebaiknya dari swasta dan masyarakat, guna memberikan peran dan andil pada swasta dan masyarakat pada pembangunan. Untuk melaksanakan peran tersebut, diperlukan beberapa data serta petunjuk teknis yang jelas yang merupakan turunan dari peraturan dan perundang-undangan yang ada. Untuk itu paling tidak ada 2 aspek yang perlu dipersiapkan yaitu dari sisi batubara itu sendiri dan dari sisi pembangunan daerah. Dari sisi batubara, diperlukan road map/master plan perbatubaraan Sumatera Selatan untuk jangka menengah dan jangka panjang. Dari sisi pembangunan daerah juga diperlukan 38 Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

master plan pembangunan daerah secara menyeluruh, baik kabupaten/kota maupun propinsi. Yang perlu disiapkan bahwa semua non renewable resources seperti batubara akan habis pada masanya, sedangkan pembangunan itu sendiri akan terus berjalan. Dengan demikian, perlu direncanakan secara pembangunan/ kehidupan yang berkelanjutan dengan menjadikan non renewable resources yang potensial sebagai prime mover (penggerak mula) pembangunan. Bila batubara dikelola secara baik, dan berorientasi untuk menumbuhkembangkan peran swasta dan masyarakat dalam pembagunan akan didapat modal yang sangat besar dalam aspek finansial dan SDM. Untuk mencapai ini diperlukan inward looking dan outward looking yang baik. Pada inward looking perlu diketahui secara mantap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, terutama yang berkaitan dengan kewenangan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Juga kemampuan memprediksi dalam pemanfaatan batubara ke depan sehingga dapat terjual dengan menguntungkan. Pada outward looking, perlu dapat melihat trend pemakaian serta harga batubara dunia termasuk konversinya ke depan dan kemampuan bernegosiasi dalam bisnis serta pengelolaan yang dilakukan tepat waktu. Bila semuanya berjalan bersinergi, diharapkan peran batubara dalam percepatan pembangunan daerah akan dapat terwujud.

B.

POTENSI BATUBARA DI INDONESIA Indonesia mempunyai cadangan batubara sebesar 57,85 milyar ton yang tersebar 47,35 % di Sumatera (terbesar di Sumatera Selatan), 52,15 % di Kalimantan dan sedikit di Papua, Sulawesi dan Jawa. Jumlah cadangan terukur baru 12,47 milyar ton dan yang dapat di tambang 6,98 milyar ton. Cadangan terunjuk adalah 20,53 milyar ton dan cadangan inferred 24,85 milyar ton. Sebagian besar cadangan batubara tersebut masuk pada peringkat rendah (lignit) 58,7 %, subbituminus 26,7 % bituminus 14,35 % dan antrasit 0,3 %. Produksi batubara pada 12 tahun terakhir meningkat dengan tajam dari 27,8 juta ton tahun 1993 menjadi 127,2 juta ton pada tahun 2004. Pemakaian batubara dalam negeri juga meningkat dari 2,2 juta ton menjadi 31 juta ton pada tahun 2004. Demikian juga ekspor meningkat dari 5,8 juta ton menjadi 96 juta ton pada tahun 2004. Peran pemakaian batubara dalam negeri sebagai energi mixed juga sangat menggembirakan mencapai 16 % dan sebagai energi pembangkit 30,1 % pada tahun 2003. Diperkirakan pada tahun 2010 produksi batubara Indonesia mencapai 171 juta ton dengan kegunaan 47,7 juta ton untuk pembangkit listrik, 10,8 juta ton

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

39

untuk industri semen. Peran batubara sebagai energi-mix juga meningkat menjadi 18 % dan energi pembangkit mencapai 46,3 %. Bila dilihat dari perkembangan pemakaian batubara pada 12 tahun terakhir rencana 2010, terlihat jelas dan meyakinkan terjadinya diversifikasi energi di Indonesia dari minyak bumi ke batubara. Pemerintah telah menyiapkan perencanaan strategi dari pemakaian batubara terutama batubara peringkat rendah (lignit). Batubara peringkat rendah dengan kandungan air yang tinggi sekitar 20 % - 40 % serta nilai kalor yang rendah kurang dari 4500 cal/gr, akan dimanfaatkan untuk PLTU mulut tambang, Upgraded Brown Coal, likuifaksi dan grasifikasi. Perencanaan strategi ini telah dimulai studi kelayakannya di BPPT dan Tekmira Bandung bekerjasama dengan NEDO, JCoal, Kobe. Steel Coal dan lain-lain dari Jepang. Diharapkan PLTU mulut tambang sudah dapat beroperasi pada tahun 2009, UBC pada tahun 2010, gasifikasi dan likuifaksi pada 2011.

C.

POTENSI BATUBARA SUMATERA SELATAN Dari 57,8 milyar ton cadangan batubara Indonesia, 47,35 % atau 27,39 milyar ton berada di Sumatera. Dari jumlah tersebut sebagian besar berada di Sumatera Selatan, 22,24 milyar ton. Hampir semua batubara di Sumatera Selatan tersebut termasuk batubara peringkat rendah (lignit) dengan kualifikasi berdasarkan proximate dan ultimate analysis seperti pada tabel 1. Penyebaran batubara di Sumatera Selatan berada pada beberapa daerah kabupaten sebagai berikut, Kabupaten Muaraenim 13,636 milyar ton, Kabupaten Musi Banyuasin dan Banyuasin 3,491 milyar ton, Kabupaten Lahat 2,715 milyar ton, Kabupaten Musi Rawas 1,235 milyar ton, Kabupaten Ogan Komering Ulu 837 juta juta ton, Kabupaten Ogan Komering Ilir 325 juta ton.

Tabel I*) Analisis Proksimat, Ultimat, Fisik dan Petrografi Batubara Sumatera Selatan
Lokasi (Kabupaten) Lahat MUBA 4.40 – 29.80 2.72 – 7.05 35.43 – 41.09 25.01 5.15 35.93

Parameter Proksimat (% adb) - Air Lembab - Abu - Zat Terbang

Muara Enim 12.57 – 41.04 3.88 – 8.79 33.65 – 42.48

MURA 17.90 5.00 35.40

40

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

-

Karbon Tertambat

28.24 – 41.49 4,140 – 6,867 0.15 – 0.57 40.63 – 68.66 3.39 – 5.70 0.50 – 1.10 8.45 – 21.79 47 – 62 80 – 83 4–8 5–6 6–7 0.46 – 0.55

33.60 – 51.65 4,694 – 7,185 0.18 – 0.61 49.67 – 64.11 3.92 – 8.83 0.63 – 1.10 9.84 – 19.31 48 – 65 87 3 5 5 0.38 – 1.10

33.91 4,870 0.69 50.96 6.93 1.06 35.21 48 88 4 4 4 0.42

35.52 5,090 0.20 50 84 5 6 5 0.41

Nilai Kalor, kal/gr (adb) Ultimat (%) - Total Sulfur - Karbon - Hidrogen - Nitrogen - Oksigen HGI Petrografi (%) - Vitrinit - Inertinit - Liptinit - Mineral - Rvmax

*) PPPTM, Bandung Seperti halnya diketahui, pemanfaatan batubara peringkat rendah ini dipakai sebagai bahan energi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) seperti di PLTU Tanjung Enim dan PLTU Suralaya. Selama masa 15 tahun terakhir, kebutuhan listrik di Indonesia meningkat rata-rata 7 % per tahun dan kecenderungan ini akan terus berlangsung kedepan. Kapasitas pembangkit sekarang 24.019 MW dan akan meningkat menjadi 31.058 MW pada tahun 2010. Konsumsi batubara akan meningkat dari 19,6 juta ton pada tahun 2003 menjadi 47,7 juta ton pada tahun 2010, atau peningkatan peran batubara dan batubara sebagai energi primer meningkat dari 30,1 % menjadi 46,3 %. Penambahan kapasitas pembangkit sebesar 7000 MW ini adalah peluang untuk perusahaan tambang batubara bersama pemda di Sumatera Selatan untuk memanfaatkannya. Kapasitas pembangkit 7000 MW membutuhkan sekitar 20 juta ton per tahun. Bila 7000 MW dapat di bangun di Sumatera Selatan (mulut tambang) berarti adanya peningkatan produksi batubara dari 10 juta ton per tahun menjadi 30 juta ton per tahun Konversi batubara lignit menjadi Upgraded Brown Coal, juga merupakan harapan devisa, karena batubara Upgraded Brown Coal dapat diekspor. Pilot plant Upgraded Brown Coal di Palimanan dengan kapasitas produksi 5 ton per hari dapat dijadikan referensi bahwa batubara Upgraded Brown Coal juga sangat menjanjikan dengan biaya produksi sekitar 7 – 9 dollar per ton. Pemda harus berusaha untuk mendapatkan kesempatan pembangunan demonstration plant dengan kapasitas 5000 ton per hari dapat dibangun di lokasi tambang di Sumatera Selatan. Keuntungan dengan batubara UBC antara lain adalah kandungan air Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan 41

turun hingga 4 % - 7 %, nilai kalor meningkat menjadi > 6000 cal/gr, meningkatkan efisiensi pembakaran dan mengurangi emisi CO2. Selain itu juga konversi batubara peringkat rendah ini juga memungkinkan untuk menjadi bahan bakar cair melalui proses likuifaksi dan gas melalui proses gasifikasi. Kedua proses ini juga telah dilakukan di BPPT, Tekmira dan Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya pada skala laboratorium. Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Tekmira, BPPT dan NEDO Jepang, biaya produksi per barrel Crude Sintesis Oil (CSO) sekitar 22 – 25 dollar. Dengan harga Crude Oil sekarang mencapai 57 dollar per barrel, maka CSO juga sangat menjanjikan. Menurut Hartiniati BPPT, kebutuhan batubara dengan skala komersial 30.000 ton /hari dibutuhkan 52.000 ton batubara Banko yang kering (± 20.000.000 ton) dengan hasil 133.400 barrel CSO per hari menurut penelitian terakhir dibutuhkan sekitar 40 juta ton batubara per tahun. Jumlah ini hampir sama dengan produksi minyak bumi (crude oil) dari Sumatera selatan dan Jambi pada saat sekarang ini sekitar 90.000100.000 barrel per hari. Dengan demikian, ada peluang untuk meningkatkan produksi batubara Sumatera Selatan pada masa ke depan (jangka menengah – panjang). Dengan adanya PLTU mulut tambang, batubara UBC, dan likuifaksi, dari 10 juta ton menjadi 50 – 60 juta ton. Jumlah yang signifikan ini tentu menjanjikan sekali bila adanya manajemen perbatubaraan khususnya energi umumnya dikelola secara profesional melalui perencanaan dan kebijaksanaan energi yang memihak kepada kesejahteraan rakyat/masyarakat (amanat UUD 1945). Impian ini dapat tercipta bila perencanaan yang dilakukan secara komprehensif baik dari aspek SDM, teknologi, penawaran, dan permintaan energi, keterkaitan dengan sektorsektor lainnya yang sudah ada atau yang perlu dipersiapkan. D. PERENCANAAN ENERGI

Sektor terbesar pemakaian energi adalah pada sektor industri, sektor transportasi dan sektor rumah tangga. Untuk pemakaian energi ini diperlukan perencanaan energi yang baik dengan adanya keseimbangan antara penawaran dan permintaan energi yang dilakukan secara terpadu Ada 2 macam perencanaan energi : Perencanaan energi sebagai perencanaan makro nasional jangka pendek maupun menengah. Fokusnya mengkaji dan mengevaluasi pilihan-pilihan strategis yang sejalan dengan kebijakan ekonomi, sosial dan politik nasional. Perencanaan energi dengan perspektif jangka panjang, hasil dari berbagai informasi yang tersedia saat ini. Perencanaan seperti ini biasanya berbentuk sektoral yang terkait dengan rencana induk energi. Tujuannya memberikan Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

1.

2.

42

masukan sektor energi untuk membentuk kebijakan energi tertentu. Dengan demikian definisi perencanaan energi untuk suatu negara dapat bervariasi. Prinsip dasar perencanaan energi sangat memperhatikan kegiatan manusia dalam sistem yang lebih kompleks dan akan terkait erat dengan interaksi produksi, transformasi, konversi dan konsumsi energi. Pergeseran energi (pemakaian) dari tradisional ke komersial juga perlu diperhatikan, supaya dapat ditentukan tingkat pertambahan permintaan energi diperlukan cara mengukur energi dalam bentuk kuantitatif yang selanjutnya di tabulasikan dalam bentuk tabel neraca energi. Dapat digambarkan perencanaan energi secara umum seperti pada gambar 1 berikut ini Situasi Sekarang Sejarah (Past) Sasaran Permintaan (Demand)

Peluang Kendala

Perencanaan

Peramalan

Sekarang (Present)

Strategi

Penawaran (Supply)

Kebijaksanaan

Umum

Permintaan DSM

Penawaran SSM

Program

Implementasi Gambar 1 PERENCANAAN ENERGI SECARA UMUM Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan 43

Perencanaan energi yang baik harus dapat menghasilkan semua sub sektor energi, termasuk sektor energi pedesaan dan aspek-aspek yang terkait dengan sektor energi sebagai satu kesatuan. Aspek terkait diantaranya adalah sosioekonomi, lingkungan, neraca pembayaran dan sebagainya. Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan energi terpadu dengan mempersiapkan data dasar yang akurat untuk menghasilkan perencanaan energi yang baik seperti pada gambar 2 di bawah ini.

Skenario Pertum buhan Ekonomi

Skenario Investasi

Proyeksi Permintaan

Data Dasar

Keseim – bangan Penawaran Permintaan

Analisa Dampak

Rencana Energi Terpadu

Proyeksi Penawaran dan Cadangan

Skenario Teknologi

Manajeman Penawaran Permintaan

Gambar 2 PERENCANAAN ENERGI TERPADU

44

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

1.

2. 3.

4. 5.

Untuk itu diperlukan : Membuat/menyiapkan permintaan energi. Gambaran permintaan energi dapat ditunjukkan dengan perkembangan konsumsi berdasarkan sub sektor ekonomi : industri, pertanian, perumahan dan properti, transportasi dan sebagainya. Cara paling sederhana memproyeksikan permintaan energi adalah menghubungkan tingkat konsumsi energi saat ini dengan efektivitas dan tingkat pertumbuhan ekonomi. PDB bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi permintaan energi. Faktor lain seperti inovasi teknologi selama periode perencanaan, kemungkinan substitusi, harga energi dunia dan sebagainya Mengkaji Sumber Daya Energi (SDE) tujuannya adalah menentukan ketersediaan SDE suatu negara Mengevaluasi teknologi sisi persediaan pengkajian teknologi yang dapat mentransformasikan bahan baku energi menjadi energi yang dapat dipakai konsumen. Neraca penawaran-permintaan, perlu adanya tabel neraca energi. Melakukan analisa dampak a. Analisa dampak ekonomi b. Analisa dampak lingkungan

Beberapa teknik pendekatan dalam perencanaan energi antara lain, pendekatan modular, pendekatan trend, pendekatan elastisitas, pendekatan ekonometri dan pendekatan input-output. Selanjutnya ada beberapa model energi yang sudah dikenal dan pemakaian disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Model-model energi tersebut adalah sebagai berikut : 1. Markal (Market Allocation) Cara mengendalikan beban dengan menggunakan fasa waktu, rancangan model program linear untuk menganalisa perolehan sistem suplai energi dan distribusi yang diberikan dalam waktu terjauh. EFOM (Energy Flow Optimization Model) Untuk memberikan gambaran yang baik bagi energi demand suatu negara digunakan program linear, baik dari energi primer (batubara) sampai energi sekunder (listrik). BESOM (Brookhaven Energy System Optimization Model) Hampir sama dengan Markal, dengan menggunakan program linear. TESOM (Time Stepped Energy System Optimization Model) 45

2.

3.

4.

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

Membuat kesimpulan atas BESOM tipe optimisasi untuk satu tahun. hasil tahun pertama untuk input tahun kedua dan selanjutnya. 5. MESSAGE (Model for Energy Supply System Alternative and Their General Environmental Impact) Model ini menggunakan program linier dengan multi periode dimana kebutuhan beban (demand) seperti berbagai bentuk energi. MODEST (Model for Optimization Dynamic Energy System with Time Dependent Components and Boundary Condition) Metode ini untuk sistem energi dinamis dengan waktu yang tergantung komponen dan kondisi batas. MEDEE-S Merupakan model dengan desain fleksibilitas yang maksimal, disertai dengan data base yang berhubungan dari jenis energi dan pemakaiannya. Perencanaan Pemakaian Batubara : Beberapa hal yang perlu menjadikan dasar pertimbangan dari pemakaian batubara sebagai energi primer maupun energi sekunder adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Kebijakan energi nasional yang diikuti dengan kebijakan energi daerah. Jumlah cadangan batubara yang dapat ditambang Kompetisi harga dengan bahan energi lainnya Peningkatan pemakaian energi nasional / daerah Pemilihan jenis bahan energi yang menguntungkan untuk pembangunan nasional / daerah 6. Pemakaian energi nasional / daerah dan untuk ekspor (devisa) 7. Biaya produksi konversi batubara (Upgraded Brown Coal, likuifaksi dan gasifikasi), mengingat sektor transportasi dominan menggunakan bahan bakar cair 8. Berpedoman kepada UUD 1945 pasal 33 ayat 2 dan 3 dengan kata kunci kemakmuran rakyat. Berikut dapat dilihat pada gambar 3 pohon batubara dengan menampilkan derivatif batubara, gambar 4 menunjukkan perkiraan volume/berat konversi batubara dan gambar 5 perencanaan pemakaian batubara, untuk berbagai kegunaan mulai rumah tangga, industri, juga bahan bakar industri.

6.

7.

46

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

SUMBERDAYA BATUBARA
EKSPOR

KOMODITAS BATUBARA

KEBUTUHAN DALAM NEGERI

Bahan Bakar

Bahan Baku Industri

Petrokimia Karbon Aktif Pengisi (filter)

Bahan bakar langsung

Bahan bakar tak langsung

Pembakaran Langsung

Briket (Non Karbonisasi)

Boiler

Briket ( Karbonisasi)

Konversi

Pandai Besi

Kapur
Bata/ genting Ind. Gerabah Semen, dll

T Industri kecil
/Makanan

Rumah

Pemb.Listrik Tekstil Pulp/ kertas dll

T Industri
kecil / Makanan

Rumah

Gasifikasi Pencairan

Gambar 5. PERENCANAAN PEMAKAIAN ENERGI

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

47

E.

PERANAN PERUSAHAAN TAMBANG BATUBARA Amanat UUD 45 pasal 33 ayat 2 dan 3, menyatakan batubara merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia yang harus dikuasai oleh negara. Ini berarti pembuatan regulasi maupun operasinya disiapkan oleh negara/pemerintah. Pada era otonomi sekarang ini, peran swasta dan masyarakat perlu ditingkatkan dalam turut serta membangun. Oleh karena itu perlu juga dibuka kesempatan yang lebih luas kepada swasta dan masyarakat untuk ikut pada kegiatan operasi/penambangan dan pengolahan batubara. Kelihatannya kegiatan ini sudah mulai meningkat secara signifikan. Namun yang penting diperhatikan adalah penyerapan SDM dan pertumbuhan ekonomi daerah yang perlu direncanakan sejak persiapan. Oleh karena itu, semua stake holders (pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat dan swasta) sudah dapat terlibat sejak awal yaitu dari studi kelayakan, perencanaan, development, pembangunan dan operasional dari porsi, kewenangan dan keahlian masing-masing. Dengan demikian diharapkan suasana yang sejuk sejak awal sampai berproduksi dan pemasaran dapat tercipta. Pada masa mendatang kegiatan penambangan batubara di Sumatera Selatan akan meningkat sejalan dengan persiapan Sumatera Selatan sebagai lumbung energi 2010. Ini berarti produksi batubara akan meningkat dengan tajam untuk tahun-tahun yang akan datang. Bila produksi batubara sekarang sekitar 10 juta ton per tahun, dan dengan adanya rencana penambahan pembangkit listrik Indonesia sekitar 7000 MW, ini akan membutuhkan sekitar 20 juta ton batubara LRC per tahun. Seandainya PLTU mulut tambang yang menyediakan listrik, jelas kesempatan Sumatera Selatan untuk menjadi sumber energi listrik akan sangat besar sekali, karena pemakai energi listrik terbesar di Indonesia berada di P. Jawa, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Sumatera Selatan. Kesempatan yang lain (kedua) adalah peningkatan kualitas batubara Sumatera Selatan (LRC) menjadi sekelas dengan batubara bituminus melalui Upgraded Brown Coal Technology yang sudah ada Pilot plant di Palimanan, Jawa Barat. Dengan memproduksi batubara UBC yang layak untuk ekspor akan mendatangkan devisa untuk negara. Kesempatan pengkonversian mendapatkan bahan bakar cair dan gas juga terbuka, karena teknologinya juga sudah eksis. Dengan demikian, peranan perusahaan pertambangan yang sudah ada maupun yang akan berpartisipasi sangat besar sekali dalam waktu dekat ini. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah sudah harus mempersiapkan Peraturan dan Perundang-undang yang terkait dengan rencana kegiatan tersebut secara jelas dengan juknisnya supaya dapat memberikan keuntungan kepada semua pihak yaitu pemilik dan investor dengan secara arif untuk pengamalan UUD 45 pasal 33 tersebut.

48

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

Untuk mereduksi biaya produksi energi sekunder, mungkin akan lebih ekonomis bila Perusahaan Tambang yang sudah mampu sekaligus menjadi Perusahaan Energi. Dengan demikian eksploitasi bahan energi primer (batubara) dan konversinya menjadi energi sekunder berada dalam satu manajemen. Tentu akan lebih baik lagi bila Pemda Sumatera Selatan dan masyarakat/swasta turut juga menjadi pemilik perusahaan tersebut. Peran Pemerintah Daerah Sumatera Selatan Pemerintah Daerah Sumatera Selatan berperan sebagai regulator dan fasilitator bersama pemerintah pusat. Mungkin UU Energi yang akan dikeluarkan oleh Pemerintah dapat memuat hubungan kewenangan, koordinasi dan kerja sama yang jelas antara Pemerintah Pusat dan Daerah, termasuk kewenangan untuk menentukan kebijakan dengan sektor yang lain yang terkait. Sebagai contoh pengaturan penempatan lokasi pembangkit listrik, UBC, likuifaksi dan gasifikasi serta lainnya, memerlukan suatu ketentuan yang jelas, sehingga mengurangi friksi antar daerah Kabupaten /Kota didaerah Sumsel. Namun semuanya, harus berorientasi kepada win win solution, sehingga masing-masing daerah mempunyai kesempatan untuk membangun daerahnya. Masing-masing daerah (propinsi, kabupaten, kota) sudah dapat berperan untuk melakukan tugasnya, misalnya propinsi mempunyai peran utama melaksanakan koordinasi Ke daerah (kabupaten/kota) dan ke atas (pemerintah pusat) yang berkaitan dengan rencana permintaan/kebutuhan dan penyediaan/penawaran batubara sebagai energi primer atau juga kebutuhan/ penyediaan energi sekunder. Dengan demikian Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota perlu menyiapkan Master Plan Perbatubaraan di daerah masingmasing dan Master Plan Pembangunan Daerah dari sektor lainnya yang menggunakan batubara sebagai energi primer maupun konversinya. Pemerintah propinsi juga perlu menyiapkan Master Plan Perbatubaraan dari referensi kabupaten/kota serta proyeksi kebutuhan energi di daerah lain di Sumatera, Jawa dan Negara Tetangga. Mungkin tidak berlebihan bila pemerintah propinsi berwacana untuk dapat membangun kereta api listrik (KRL) Sumatera Selatan dari input PLTU mulut tambang. Ini secara langsung akan menambah volume bisnis di Sumatera Selatan. Dengan demikian akan terjadi percepatan pembangunan bersamaan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pada ujungnya terciptanya masyarakat yang makmur dalam kehidupannya. F. KESIMPULAN/PENUTUP Di dalam pembangunan daerah Sumatera Selatan, Pemda perlu menyiapkan master plan yang mantap sebagai bahan rujukan untuk menyiapkan Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan 49

master plan perbatubaraan Sumatera Selatan. Para pengusaha pertambangan batubara (yang sudah ada atau investor baru) akan siap berkolaborasi bila aturan main (peraturan dan perundang-undangan) sudah ada termasuk beberapa insentif yang disiapkan oleh Pemerintah. Pemerintah dalam waktu dekat sudah dapat merencanakan pemakaian / demand batubara serta konversinya yaitu batubara sebagai bahan bakar langsung, UBC, likuifaksi, gasifikasi, dan lainnya. Ini berarti perlu melakukan hubungan dengan calon-calon investor dan sektor terkait lainnya sebagai supplier maupun pemakai energi, baik di dalam maupun luar negeri. Kesemuanya akan berjalan secara kondusif bila semua stake holders diikutsertakan sejak dini dan insya Allah kemakmuran rakyat Sumatera Selatan akan dapat terwujud, sebagai Amanah UUD 1945.

50

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

REFERENSI

…………., “Energy, Outlook & Statistics 2004”, Pengkajian Energi, Universitas Indonesia. Machmud Hasjim., “Peluang dan Tantangan Batubara Sumatera Selatan”, Makalah Seminar Nasional Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi”, Jakarta, Nopember 2000. Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., dan Taufik Toha., “The Prospect of the Development of Mine-Mouth Coal Fired Power Plant in Musi Banyuasin, South Sumatra”, Third International Conference and Exhibition of Coal Technology, Bali, 13-14 June 2002. Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., dan Taufik Toha., “Utilization Opportunity of South Sumatra Low Rank Coal”, The 4th International Conference and Exhibition on Coal Tech 2003, Indonesian Coal Society, 2003. Machmud Hasjim., Syarfiuddin Ismail., dan Taufik Toha., “Prospect of South Sumatra to Export Electricity to the South East Asia”, The 5th International Conference and Exhibition on Coal Technology, Kuala Lumpur, Malaysia, 2004. Machmud Hasjim., dan Taufik Toha., “Prospek Sumatera Selatan sebagai Pusat Penghasil Energi”, Temu Profesi Tahunan XIII Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Palembang, 2004. Purnomo Yusgiantoro, Dr., “Ekonomi Energi”, LP3ES, 2000. Wimpy S. Tjetjep, Dr., “Strategic Planning of Low Rank Coal Utilization in Indonesia”, Seminar UBC Teknology, 21 Maret 2005, Jakarta.

Pengelolaan Mineral dan batubara serta industri pertambangan

51

Energi, Lingkungan dan Batubara

53

DIMENSI KEDUA
1. Peluang dan tantangan Batubara Sumatera Selatan 2. The Prospect of The Development of Mine Mouth Coal Fired Power Plant in Musi Banyuasin, South Sumatra Province 3. Pertimbangan Penerapan Tarif Listrik Regional (Non Uniform Tarif) di Sumatera Selatan 4. Utilization Opportunity of South Sumatra Low Rank Coal 5. Prospect of South Sumatra to Export Electricity To The South East Asia 6. Pengelolaan Energi Sumatera Selatan Secara Arif Untuk Kesejahteraan Masyarakat 7. Pandangan Terhadap RUU Tentang Energi 8. Pencairan Batubara Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan dengen Tehnologi Improved BCL 9. Prospek Pencairan Batubara Peringkat Rendah Sumatera Selatan 10. Mineral Exploitation And Its Envirotmental Impacts; A Case Study Of PT> Freeport Indonesia in Papua, Indonesia. 11. Strategi Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan untuk Percepatan Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional 12. PLTU Batubara Mulut Tambangn Meningkatkan Keandalan Sistem

Ketenagalistrikan Nasiona; 13. Upaya Penangulanganan Krisis Energi di Indonesia 14. Dilemma of Multi Energy Resource in South Sumatra Province 15. Regional Preparations in Development of BLAnko Coal Liquefaction Plant

South Sumatra 16. Prospek Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Sumatera Selatan 17. Overcoming The Energy Crisis in Indonesia 18. Prospek Sumatera Selatan sebagai Pusat Penghasil Energi 19. Batubara Sebagai Energi Alternatif di Indoneisa 20. Peluangan dan tantangan Pengembangan Energi Non BBM 21. Aspek Lingkungan Pemakaian Briket Pada Industri Mikro Kecil, Menengah dan Rumah Tangga 54 Energi, Lingkungan dan Batubara

22. Strategi Pengelolaan Energi Sum Sel 23. Penggunaan Teknologi Aglomerasi Dalam Lingkungan 24. Pembangkit Energi Listrik dan Masalah Lingkungan, Tahun 1990 (Makalah) 25. Industrialisasi dan Masalah Lingkungan, Tahun 1990 (Makalah) 26. Seminar SDA di Sum Sel ” Prospek Pemanfaata Batubara Peringkat Rendah di SumSel (Makalah disampaikan pada Seminar SDA pada tanggal 24 Jun 2002, DRD-SS Palembang ) 27. Seminar Nasional Likuifaksi Batubara, “Kesiapan Sumatera Selatan Dalam Pembangunan Pabrik Pencairan Batubara” (Makalah yang disampaikan pada tanggal 12 Desember 2002, Jakarta) 28. Due Diligence”, (Pra Studi Kelayakan Likuifaksi Batubara Banko Tengah oleh NEDO, Desember 2002) 29. Kick off Meeting, Master Plan Energi Sumatra Selatan. Makalah “Current Rangka Minimasi Dampak

Status Keenergian Sumatra Selatan” (disampaikan tanggal 4 Mei 2005 di Jakarta). 30. Workshop BPPT-Unsri, makalah “Pengembangan dan Pemanfaatan Sumber Daya Energi Sumatra Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional”

(disampaikan tanggal 12 Desember 2005 di Jakarta 31. Seminar: Makalah Energi Alternatif yang Potensial Pasca Bahan Bakar Minyak“, Pemda Banjarbaru Kalimantan Selatan, 22 Agustus 2007. 32. Seminar Nasional Forum rektor Perguruan Tinggi Indonesia; 33. Makalah : “Revitalisasi Kebijakan dan Perencanaan Energi Indonesia“. Yogyakarta, 17 Januari 2009 34. IMA dan Perhapi: Save Indonesian Coal Seminar Internasional, Jakarta 26 – 28 April 2010.

Energi, Lingkungan dan Batubara

55

PELUANG DAN TANTANGAN BATUBARA SUMATERA SELATAN
Machmud Hasjim ABSTRAK Untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dan mengantisipasi cadangan minyak dan gas bumi yang semakin menipis, perlu diupayakan pengembangan energi alternatif lainnya. Kriteria pemilihan energi alternatif didasarkan atas pertimbangan : sumber daya energi tersebut mudah didapat dan jumlahnya relatif besar, harganya relatif murah, dan ramah lingkungan. Sumber daya batubara di Indonesia cukup besar dengan total cadangan sekitar 38 milyar ton yang sebagian besar tersebar di Sumatera (64%) dan Kalimantan (35%). Cadangan batubara di Sumatera Selatan sebesar 12.795,68 juta ton yang tersebar di Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Lahat, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten Ogan Komering Ulu. Sebagian besar (kurang lebih 60%) dari cadangan batubara Sumatera Selatan tersebut berperingkat rendah (lignit – sub-bituminus) yang mengalami kesulitan dalam pemasarannya. Berdasarkan hasil penelitian, batubara peringkat rendah tersebut potensial sebagai bahan baku teknologi batubara bersih (likuifaksi, gasifikasi, karbonisai/coal upgrading). Menipisnya cadangan minyak dan gas bumi serta besarnya cadangan batubara di Sumatera Selatan memberikan peluang untuk pemberdayaan dan pemanfaatan batubara Sumatera Selatan sebagai sumber energi alternatif, baik sebagai bahan bakar langsung maupun bahan bakar konversi. Peluang tersebut juga didukung kebijaksanaan pemerintah melalui UU No. 22/ 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah, dan dalam rangka otonomi pemerintah daerah mempunyai kewenangan untuk mengelola sumber daya batubara yang ada di daerahnya. Tantangan yang dihadapi dalam pemberdayaan Batubara Sumatera Selatan antara lain : pemanfaatan lahan karena sebagian besar deposit batubara Sumatera Selatan berada di kawasan perkebunan sawit/ karet yang produktif yang dikelola oleh PT. Perkebunan (PTP) dan Perkebunan Inti Rakyat (PIR), kesiapan sumber daya manusia, teknologi konversi batubara belum dapat bersaing dengan bahan bakar minyak dan gas bumi, kesiapan infrastruktur serta stabilitas keamanan. *) Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional “Pemanfaatan Batubara
Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi”, Tanggal 9 Nopember 2000. **) Guru Besar Universitas Sriwijaya

56

Energi, Lingkungan dan Batubara

A.

PENDAHULUAN Sejalan dengan tuntutan hidup dan pertumbuhan industri nasional yang pesat, mengakibatkan meningkat pula permintaan akan energi. Untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri di sektor indusri, transportasi dan rumah tangga selama ini digunakan energi minyak dan gas bumi. Di samping itu minyak dan gas bumi merupakan salah satu komoditi ekspor untuk meningkatkan perolehan devisa negara yang cukup besar. Sehubungan dengan cadangan minyak dan gas bumi yang semakin terbatas, untuk menjamin penyediaan energi dalam negeri di masa mendatang (mempertahankan ekspor minyak dan gas bumi), perlu dikembangkan sumber daya energi alternatif lainnya. Kriteria pemilihan energi alternatif didasarkan atas pertimbangan : sumber daya energi tersebut mudah didapat dan jumlahnya relatif besar, harganya relatif murah; dan ramah lingkungan. Sumber daya batubara di Indonesia cukup besar dengan total cadangan kurang lebih 38 milyar ton. Lokasi cadangan pada umumnya berda di Sumatera (64%) dan Kalimantan (35%). Cadangan batubara yang berada di Sumatera Selatan sebesar 12.795,68 juta ton (33,7 %) dari total cadangan batubara Indonesia. Batubara terdiri dari campuran komplek senyawa yang mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, belerang dan senyawa-senyawa inorganik. Selama ini pemanfaatan batubara dilakukan dengan pembakaran secara langsung, karena lebih praktis (hanya memerlukan proses preparasi). Pembakaran batubara secara langsung menimbulkan limbah padat cair dan gas yang mengandung unsur-unsur tersebut. Lebih kurang 60 % limbah SOx dan kira-kira 25% limbah NOx di atmosfir ditimbulkan oleh kegiatan manusia berasal dari pembakaran batubara secara langsung di PLTU. Termasuk ke dalam limbah yang mengotori atmosfir di samping gas-gas tersebut adalah emisi unsur runutan. Dengan menerapkan teknologi batubara bersih (clean coal technology), dan potensi cadangan batubara Sumatera Selatan yang cukup besar, maka batubara merupakan sumber daya energi alternatif yang mempunyai peluang besar untuk dimanfaatkan dan dikembangkan. Dalam memberdayakan potensi batubara, masih dihadapi beberapa kendala, antara lain mengenai kualtias batubara Indonesia yang bervariasi dimana sebagian besar terdiri dari kualitas rendah/ lignit (58,6%), diikuti dengan subbituminus (26,5%), bituminus (14,4%) dan antrasit (0,4 %) dan juga kendala mengenai kebijaksanaan pemerintah di bidang energi.

Energi, Lingkungan dan Batubara

57

Upaya untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi dampak lingkungan batubara kualitas rendah dapat dilakukan melalui teknologi batubara bersih (gasifikasi, likuifaksi, kokas/ semi-kokas briket batubara/ coal upgrading). B. PERKEMBANGAN PERTAMBANGAN BATUBARA DI SUMATERA SELATAN Produksi batubara Sumatera Selatan telah meningkat dengan cepat dalam lima tahun terakhir, yakni dari 6,4 juta ton pada tahun 1993 mencapai 10,6 juta ton pada tahun 1999 atau mengalami pertumbuhan rata-rata 10,9 % per tahun. Pelaku ekonomi perbatubaraan di Sumatera Selatan saat ini sebanyak 21 Perusahaan yang terdiri dari 1 BUMN, 19 PKP2B dan 1KP, 8 perusahaan diantaranya telah selesai eksplorasi (Tabel I) yang tersebar di beberapa kabupaten (Gambar 1). Seiring dengan kebijakan pemerintah yang memberikan prioritas kepada pusat pembangkit listrik, pabrik semen dan industri lainnya untuk menggunakan batubara sebagai bahan bakar, maka penjualan batubara dalam negeri rata-rata naik 10,5 % per tahun atau rata-rata 0,6 juta ton per tahun dalam 5 tahun terakhir (Tabel II). Tabel I. Perusahaan Batubara di Propinsi Sumatera Selatan*) No 1 Nama Perusahaan PT BA Bentuk Perusahaan BUMN Lokasi Muara Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Baturaja (OKU) Musi Banyuasin Enim, Status Produksi

2 3 4 5

PT. Barasentosa Lestari PT. Dutaputra Tanaratama PT. Ramdany Coal Mining PT. Energi Batubara Sumatera

PKP2B, Generasi II PKP2B, Generasi II PKP2B, Generasi II PKP2B, Generasi III

Eksplorasi Eksplorasi Eksplorasi Peny. Umum Peny. Umum Eksplorasi Peny.

6

PT. Adimas Cemerlang PT. Astaka Dodol PT. Bara Mutiara Prima

Baturaja

PKP2B, Generasi III

OKU

7 8. 58

PKP2B, Generasi III PKP2B, Generasi III

Musi Banyuasin Musi Banyuasin

Energi, Lingkungan dan Batubara

Umum 9 PT. Bara Utama Unggul PKP2B, Generasi III Musi Banyuasin Peny. Umum Peny. Umum Eksplorasi Eksplorasi Peny. Umum Peny. umum

10

PT. Batualam Selaras

PKP2B, Generasi III

Lahat

11 12 13

PT. Baturona Adimulya PT. Benakat Energi PT. General Sakti Kreasindo

PKP2B, Generasi III PKP2B, Generasi III PKP2B, Generasi III

Musi Banyuasin Muara Enim Musi Banyuasin

14

PT. Hulubalang Inti Bumi

PKP2B, Generasi III

Musi Rawas, Musi Banyuasin

15

PT. Pinangjaya Sarana Bara

PKP2B, Generasi III

Lahat, Rawas

Musi

Peny. Umum Eksplorasi Peny. Umum Peny. Umum Peny. Umum Peny. Umum Eksplorasi

16 17

PT. Mitrajaya Timuragung PT. Pendopo Energi Batubara

PKP2B, Generasi III PKP2B, Generasi III

Musi Banyuasin Muara Enim

18

PT. Trimata Benua

PKP2B, Generasi III

Musi Banyuasin

19

PT. Trimata Coal Perkasa

PKP2B, Generasi III

Musi Banyuasin

20

PT. Selo Argodedali

PKP2B, Generasi III

OKU

21

PT. Triaryani

KP

Musi Banyuasin

*) PPPTM, Bandung

Energi, Lingkungan dan Batubara

59

Tabel II. Produksi dan Penjualan PTBA (Tanjung Enim)*) Produksi, Tahun Juta Ton 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999** Jumlah
)

P e n j u a l a n, Juta Ton Domestik 5,0 5,8 5,7 5,5 5,8 6,7 8,1 8,6 9,3 60,5 Ekspor 0,6 0,5 0,7 0,5 1,3 1,3 1,3 1,1 1,7 9,0 Total 5,6 6,3 6,4 6,0 7,1 8,0 9,4 9,7 11,0 69,5

5,5 6,2 6,4 5,7 7,0 8,2 9,3 9,5 10,6 72,8

* PPPTM, Bandung ** = Realisasi sampai Nopember 1999 Pada saat ini pangsa ekspor mencapai 15,4% dari total produksi atau sekitar 1,7 juta ton pada tahun 1999 (Tabel II). Pertumbuhan ekspor batubara dalam lima tahun terakhir cukup tinggi, rata-rata sebesar 23,8 % per tahun. C. PELUANGAN BATUBARA SUMATERA SELATAN 1. Cadangan dan Kualitas Pada masa yang akan datang dominasi migas akan berkurang, sehingga penganekaragaman pemakaian batubara akan berkembang. Ini akan terjadi oleh sebab sumber daya batubara yang sangat besar sehingga dapat bertahan untuk waktu yang lama, sebelum energi nonkonvensional yang aman, bersih dan murah dapat dipakai/ digunakan. Disamping cadangan batubara yang sangat besar (Tabel III, Gambar 2), batubara Sumatera Selatan mempunyai kualitas yang tinggi dalam arti kandungan abu dan belerangnya yang rendah. Satu-satunya yang menurunkan nilai kalori batubara Sumatera Selatan adalah kadar air yang relatif tinggi (Tabel IV). Meskipun demikian dengan kualitas seperti ini batubara mempunyai potensi yang baik sebagai bahan baku teknologi batubara. 60 Energi, Lingkungan dan Batubara

Tabel III. Cadangan Batubara Sumatera Selatan*)

No 1 2 3 4 5

Lokasi (Kabupaten) Muara Enim Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ulu

C a d a n g a n, J u t a T o n Terukur 4.026,09 892,42 355,86 48,55 5.322,92 Terunjuk 3.413,12 241,55 2.840,21 120,00 227,24 6.842,12 Tereka 325,00 10,00 295,64 630,64

J u m l a h (Juta Ton) 7.764,21 1.143,97 3.491,71 120,00 275,79 12.795,68

JUMLAH *) PPPTM, Bandung

TABEL IV. Analisis Proksimat, Ultimat, Fisik dan Petrografi Batubara Sumatera Selatan*)

Lokasi (Kabupaten) Parameter Muara Enim Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas

Proksimat (% adb) - Air Lembab - Abu - Zat Terbang - Karbon Pada Nilai Kalor, kal/gr (adb) Ultimat (%) - Total Sulfur

12.57 – 41.04 3.88 – 8.79 33.65 – 42.48 28.24 – 41.49 4140 – 6867

4.40 – 29.80 2.72 – 7.05 35.43 – 41.09 33.60 – 51.65 4694 – 7185

25.01 5.15 35.93 33.91 4870

17.90 5.00 35.40 35.520 5090

0.15 – 0.57

0.18 – 0.61

0.69

0.20 61

Energi, Lingkungan dan Batubara

- Carbon - Hidrogen - Nitrogen - Oksigen HGI Petrografi (%) Vitrinit Inertinit Lilptinit Mineral Rvmax *) PPPTM, Bandung 2.

40.63 – 68.66 3.39 – 5.70 0.50 – 1.10 8.45 – 21.79 47 – 62 80 – 83 4–8 5–6 6–7 0.46 – 0.55

49.67 – 64.11 3.92 – 8.83 0.63 – 1.10 9.84 – 19.31 48 – 65 87 3 5 5 0.38 – 1.10

50.96 6.93 1.06 35.21 48 88 4 4 4 0.42

50 84 5 6 5 0.41

Tekologi dan Analisis Ekonomi Pada prinsipnya semua peringkat batubara dapat diubah menjadi teknologi batubara menjadi bahan bakar cair dan gas atau padat yang lebih ramah lingkungan. Perkiraan jumlah produk yang dapat dihasilkan dari batubara peringkat rendah (Gambar 3). Teknologi batubara dapat dikelompokkan dalam konversi batubara menjadi kokas/ semi-kokas briket batubara melalui proses karbonisasi batubara, dan likuifaksi batubara dan gasifikasi batubara yang menghasilkan minyak dan gas sintetis. Teknologi kokas briket batubara sudah dikembangkan di Indonesia untuk industri pengecoran logam dengan harga kurang lebih 37,5 % lebih murah dibandingkan harga impor untuk kualitas yang sama (Herry, 1999). Demikian juga teknologi semi-kokas briket batubara telah diprogramkan oleh pemerintah sebagai energi alternatif pengganti minyak dan gas bumi untuk sektor industri kecil dan rumah tangga. Berdasarkan hasil penelitian pencairan batubara, batubara peringkat rendah akan menghasilkan minyak sintetis yang lebih banyak dibandingkan batubara peringkat tinggi. Hal yang sama juga berlaku untuk gasifikasi dan pembuatan kokas/semi-kokas. Namun untuk Coal Water Mixer lebih sesuai bila digunakan batubara peringkat tinggi (kadar air rendah).

62

Energi, Lingkungan dan Batubara

Untuk memperkirakan harga batubara dan minyak bumi pada pasca tahun 2000 telah digunakan metoda Brown’s Exponential Smoothing (Tabel V). Tabel V. Perkiraan Harga Batubara dan Ongkos Produksi Minyak Sintetis Dibandingkan Dengan Harga Minyak Bumi*)

BROWN Tahun Batubara US$/ton 33 38 40 46 Minyak Sintetis US$/barel 35 37 38 40

Minyak Bumi US$/barel 32 36 40 43

2000 2005 2010 2020

*) Hadi N & Nining S Ningrum, 1998 Berdasarkan perhitungan dengan metoda Brown tersebut, maka dapat diperkirakan harga batubara dan biaya produksi minyak sintetis dibandingkan dengan harga perkiraan minyak bumi pada tahun-tahun berikut seperti terlihat pada tabel V. Berdasarkan perkiraan Pertambangan Umum menjelang tahun 2000, harga batubara akan berada pada tingkat US$ 33/ton. Pada tingkat harga tersebut, biaya produksi minyak sintetis akan berkisar pada US$ 35/barel. Pada tahun 2000, tampaknya harga minyak sintetis akan berada pada tingkat US$ 35 – US$ 38/ barel. Apabila dibandingkan terhadap perkiraan harga minyak bumi (metoda Brown) sebesar US$ 32/barel, maka biaya produksi minyak sintetis masih lebih mahal dari minyak bumi sebesar US$ 3 – US$ 6/barel. Pada tahun 2020, biaya produksi minyak sintetis sekitar US$ 40/barel, sedangkan harga minyak bumi (Metode Brown) sekitar US$ 43/barel. Nampaknya biaya produksi minyak sintetis lebih murah US$ 3/barel dibandingkan dengan harga minyak bumi. Akan tetapi, apabila harga jual minyak sintetis sebesar US$ 44/ barel (keuntungan 10%), maka biaya produksi minyak sintetis masih lebih mahal US$ 1/barel terhadap minyak bumi. Apabila kondisi cadangan minyak bumi yang semakin berkurang, sementara permintaan dalam negeri makin meningkat pada pasca tahun Energi, Lingkungan dan Batubara 63

2000, nampaknya pencairan batubara mempunyai peluang besar untuk dilaksanakan. Dari hasil evaluasi yang telah dikemukakan, maka posisi pencairan batubara Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor berikut : a. Dominasi minyak bumi dan pemenuhan kebutuhan energi komersial primer dalam negeri masih terus berlanjut sampai pasca tahun 2000. penggunaan ini terutama untuk bahan bakar dalam transportasi dan industri. b. Cadangan minyak bumi dan gas bumi akan terus menurun apabila tidak diketemukan cadangan baru. c. Kebijaksanaan pemerintah di bidang energi terus dilanjutkan. d. Cadangan batubara di Sumatera Selatan cukup besar untuk waktu yang lama, yaitu sebesar 12.795,68 juta ton. e. Secara teknologi pencairan, gasifikasi dan upgrading batubara tidak ada masalah 3. Aspek Lingkungan Dampak lingkungan teknologi pencairan batubara dan gasifikasi batubara relatif lebih kecil dibandingkan pembakaran batubara secara langsung. Emisi gas SO2 hasil pembakaran secara langsung di PLTU berkapasitas 2540 MWe misalnya adalah 88,2 x 103 ton/tahun, sedangkan emisi SO2 pada liquefaction plant dengan kapasitas yang sama adalah 4,4 x 103 ton/tahun dan emisi SO2 pada saat penggunaan minyak adalah 11,9 x 103 ton/tahun, atau 16,3 x 103 ton SO2/tahun. Jumlah tersebut jauh lebih kecil bila dibandingkan emisi pada pembakaran batubara secara langsung di PLTU yang dilengkapi flue gas desulfurization. Demikian juga pada emisi NOx, particulate dan karbon monoksida, konversi batubara menjadi bahan bakar gas atau cair menghasilkan limbah tersebut dalam jumlah yang jauh lebih sedikit (Hadi N & Nining S Ningrum, 1998). D. TANTANGANTANTANGAN BATUBARA SUMATERA SELATAN

Tantangan yang dihadapi dalam pemberdayaan dan pemanfaatan batubara Sumatera Selatan antara lain : 1. Pemanfaatan Lahan Sebagian besar deposit batubara Sumatera Selatan yang potensial berada di Kawasan Perkebunan sawit/ karet yang produktif yang dikelola oleh PTP dan PIR (Gambar 4). 64 Energi, Lingkungan dan Batubara

Kondisi ini tentunya menimbulkan masalah dalam hal ganti rugi lahan yang relatif tinggi. Sehubungan dengan kondisi tersebut, diperlukan koordinasi yang baik antar instansi terkait (perkebunan, pertambangan, aparat dan masyarakat setempat) serta pendekatan masyarakat yang bijak guna mendapatkan jalan tengah yang saling menguntungkan (memberikan kemudahan perolehan lahan). Untuk mengatur pemanfaatan lahan secara bijak perlu dibuat : a. Undang-Undang dan Perda yang mengatur conflict of interest antara sektor pertambangan dengan sektor perkebunan atau pertanian. b. Perda yang mengatur hak ulayat secara teknis harus jelas. 2. Sumberdaya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Usaha pemberdayaan dan pemanfaatan batubara memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mengelolanya agar mendapatkan hasil yang optimal. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola perbatubaraan, perusahaan tambang batubara dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi dan konsultan guna mengadakan pelatihan dan bimbingan teknis serta mencari pemecahan permasalahan yang berkembang di lapangan. Selain sumber daya manusia pengelola perbatubaraan, sumber daya manusia masyarakat lokal juga perlu diperhatikan dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan masyarakat, para investor perlu meningkatkan kepedulian terhadap pengembangan masyarakat di sekitar lokasi penambangan. Umumnya dalam melibatkan masyarakat lokal sebagai pekerja di perusahaan sering mengalami kendala berupa kurangnya keahlian/ketrampilan masyarakat lokal, sehingga perusahaan lebih banyak menerima pekerja dari daerah lain yang telah trampil. Sehubungan dengan semangat pemberdayaan masyarakat, perusahaan dan instansi terkait perlu mencari solusi yang baik, misalnya dengan mengadakan pelatihan bagi masyarakat setempat yang akan diterima sebagai pekerja (bekerja sama dengan instansi terkait dan perguruan tinggi). Terhadap masyarakat lokal juga perlu dilakukan pendekatan untuk memberikan bimbingan dan pengertian sehingga terpacu untuk terus mengembangkan diri dalam berbagai keahlian yang dibutuhkan industri perbatubaraan.

Energi, Lingkungan dan Batubara

65

3. Teknologi Konversi Batubara Batubara Sumatera Selatan umumnya berperingkat rendah, hal ini mengakibatkan pemasaran terhambat karena pangsa pasar yang tidak bervariasi (khusus pembakaran langsung PLTU, Pabrik semen dsb). Untuk mengantisipasi kendala di atas, telah banyak dilakukan penelitian konversi batubara sehingga pemakai batubara dapat lebih banyak lagi. Penelitian konversi batubara yang telah dilakukan antara lain likuifaksi (minyak sintetis), gasifikasi (gas sintetis), pembuatan kokas/ semi-kokas/ coal upgrading ( coal water mixer, briket batubara) secara teknis tidak mengalami kendala yang berarti, namun demikian tetap belum dapat bersaing dengan minyak dan gas bumi. Oleh karena itu pada masa mendatang usaha konversi batubara akan tergantung pada beberapa faktor, diantaranya : a. Kebijaksanaan Energi Nasional - Harga batubara; dengan sendirinya batubara sebagai bahan baku akan mempengaruhi usaha konversi batubara. - Harga minyak dan gas bumi; apabila harga minyak dan gas sintetis akan selalu diatas harga minyak dan gas bumi, maka usaha pencairan dan gasifikasi batubara akan terus tertunda. - Subsidi pemerintah; apabila ada subsidi pemerintah pada batubara, usaha pencairan dan gasifikasi batubara mungkin dapat dilaksanakan atau harga migas diserahkan kepada harga pasar (tanpa subsidi). - Pengembangan energi non-konvensional; apabila pengembangan energi non-konvensional demikian pesatnya, maka usaha pencairan dan gasifikasi batubara akan terhambat. b. Biaya investasi (instalasi pabrik, jaringan pipa, dll) dan biaya produksi yang relatif mahal c. Kesiapan sumber daya manusia di berbagai bidang yang terkait. 4. Infrastruktur

Untuk menunjang pengembangan pemanfaatan batubara Sumatera Selatan perlu dipersiapkan prasarana pengangkutan (jalan darat dan air), jembatan, pelabuhan dan lain-lain). Diharapkan Pemerintah Daerah yang memiliki potensi batubara dapat mendukung pengembangan infrastruktur yang diperlukan.

66

Energi, Lingkungan dan Batubara

5. Stabilitas keamanan Dalam rangka menarik minat investor, Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat perlu menciptakan stabilitas keamanan guna memberikan kenyamanan kepada para investor.

‘Gambar 1. Lokasi Perusahaan Perbatubaraan Sumatera Selatan

Gambar 2. Sebaran Deposit Batubara Sumatera Selatan Energi, Lingkungan dan Batubara 67

Listrik 790 KWh

Briket 400 k

Methanol 280 ltr

Batubara Halus 360 kg

Bahan Bakar cair 160 ltr

BATUBARA 1000 KG

Kokas 20 kg

Gas Kota 150 m3

Gas Sintetis 550 m3

Gambar 3. Perkiraan Produk Konversi Batubara Peringkat Rendah

Gambar 4a. Singkapan Deposit Batubara 68 Energi, Lingkungan dan Batubara

Gambar 4b. Lahan Perkebunan Sawit di atas Deposit Batubara

Energi, Lingkungan dan Batubara

69

THE PROSPECT OF THE DEVELOPMENT OF MINE-MOUTH COAL FIRED POWER PLANT IN MUSI BANYUASIN, SOUTH SUMATRA PROVINCE

H. Machmud HASJIM*), H. Syarifuddin ISMAIL*), M. Taufik TOHA**) *) Professor at Faculty of Engineering, Sriwijaya University, Inderalaya Campus (OKI) 30662, South Sumatra, ph. (0711) 580137-580303; fax. (0711) 580062 ) ** Head of Mining Department, Faculty of Engineering, Sriwijaya University, Inderalaya Campus (OKI) 30662, South Sumatra, ph. (0711) 442693-580137; fax. (0711) 445086-580137; email : taufik_toha@yahoo.com

ABSTRACT Less of electricity presently occurs in South Sumatra Province and surrounding, it is indicated from regular shutting-down especially at peak loading. In other side, energy demand is always increase up to 10 – 12% annually. To fulfill the electric demand, it is considered necessary to develop new electrical power supply. Considering that oil and natural gas resources in getting lesser in quantity, it is suggested to develop the power supply without using petroleum or natural gas as the fuel. South Sumatra Province owns a large amount of coal potency (35,1% of national coal potency). Based on the condition, development of mine-mouth coal fired power plant will be a potential alternative. Based on technical analysis of feasibility study, which has been done, including coal availability, water supply, geology and geotechnic condition and initial condition of environment, Musi Banyuasin District is one of potential locations for developing mine-mouth coal fired power plant in South Sumatra. Development of mine-mouth coal fired power plant, beside to fulfill electricity demand particularly in South Sumatra and System Interconnection Sumatra generally, it is also an effort to utilize South Sumatra coal which generally in low quality. By this paper, it is hope that the prospects of development South Sumatra mine-mouth coal fired power plant can be socialize to take investor attention. 70 Energi, Lingkungan dan Batubara

BACKGROUND In the accordance to fulfill the demand of electrical energy, which always increase by year (10 – 12 % per year), it is considered necessary to develop new electrical power supply. Considering that the petroleum oil and natural gas reserves is getting lesser in quantity, it is suggested to develop the power supply without using petroleum or natural gas as the fuel. The potency of coal in South Sumatra is considered quite good, around 12.8 billion of ton (35.1 % of national coal potency), so that the development of Steam Power Generator (PLTU) with the coal as the fuel will be a good alternative to be developed to fulfill the energy demand of electricity. The development of this mine-mouth coal fired power plant will be influenced by some factors, among other things : the potential location of mine-mouth coal fired power plant, synchronizing with the coal sources and the water, interconnection of transmission lines, the consumers’ needs, and the available infra-structure. Due to the above factors, Musi Banyuasin is considered as one of the potential location to the development of mine-mouth coal fired power plant.

ELECTRICAL ENERGY DEMAND The total obtained power of PT.PLN in South Sumatra is about 364.100 kW, which consist of two sectors : Keramasan Sector and Bukit Asam Sector. The supplied power of Keramasan Sector is 91.500 kW, which consists of 2 units of Steam Power Generator, 4 units of Gas Power Generator, and 2 units of Diesel Power Generator, while the Bukit Asam Sector has 272.600 kW of supplied power, which consists of 4 units of Steam Power Generator and 2 units of Diesel Power Generator. Those mentioned power has not been able to fulfill the demands of electrical energy in South Sumatra, and it is indicated from the regular shutting-down of the electrics in Palembang and surrounding, mainly on the period when the peak loading happen. The average loading in the year of 2000 is 136,116 MW, while the peak loading is 322,026 MW (See : Table.1 and Figure.1). If we make a comparison between those two data, the existing generator is to be said enough, but, in the system of interconnection, those power is also transmitted to other sectors and region, not only in Palembang, so that’s why there is still be the regular shutting down of electric circuit in Palembang. Energi, Lingkungan dan Batubara 71

COAL POTENCY 1. Reserves Based on the quite strong exploration activity, done by the government, the state company and the private company for about the last 20 years, the Indonesia coal reserves was estimated to be up to 36.5 billion of tons. These coal reserves are spread all over the island in Indonesia, mainly in the western part of Indonesia. The coal reserve centered in Sumatra Island is about 18.03 billion of tons. South Sumatra coal reserve up to 12.68 billion of tons, where 3.41 billion of tons of it is located in Musi Banyuasin (See : Table.2). 2. Quality The coal quality found in South Sumatra is varied, both physically and chemically. The divergence of the coal quality is strongly depending on the environment and the length time of decay process of the coal. The coal which is formed earlier (such as Miocene) generally has the higher grade (rank) from the coal decayed later (in this case Pliocene) The average result of the proximate test of coal located in Musi Banyuasin is : Moisture content : 25,01% (adb), ash content : 5,15 % (adb), volatile matter : 33% (adb), Fixed Carbon : 33,91% (adb) and the caloric value : 4870 cal/gram. The Ultimate analysis of the coal give as follow result : Total Sulfur : 0,69%, Carbon : 50,96%, Hydrogen : 6,93%, Nitrogen : 1,06%, Oxygen : 35,21%. The physical analysis of the coal sample from Musi Banyuasin gives detail result as follow : Hardgrove Grindability Index (HGI) =48 (See : Table.3). Based on those quality mentioned above, the coal from Musi Banyuasin can be exploited and used as the fuel for mine-mouth coal fired power plant.

LOCATION The location of the plant being considered based on the technical consideration such as the land supporting, water availability, the usage of the land, hard tools and equipment accessibility (such as : boiler, turbine, generator, etc), economic consideration, and the environment. The Location of the potential mine-mouth coal fired power plant is placed on the sub-district of Sungaililin, the district of Musi Banyuasin, the province of South Sumatra, toward Jambi (See : Figure 2), can be reached by Sumatra cross-road

72

Energi, Lingkungan dan Batubara

with not so good condition of the road. It takes around 3,5 hours to reach this place by using 4-wheel vehicle. 1. Region of Talang Benulih This place can be reached via river by using speedboat or trail-way. It takes ± 15 minutes to travel from the Sungaililin Port to Talang Benulih by using speedboat along the Dawas River. But if one wants to take trail-way it takes ± 20 minutes to pass the distance of 25 km. This region is the villagers’ farmland, swamps, and the palm farmland. 2. Region of Parit IV, Muara Tungkal This region is placed on the eastern part of Sungaililin Port. It takes ± 40 minutes to travel along the Dawas and Tenggulang river sides by speedboat, to reach this place, or people can also takes trail way, around 12 km from the quarter of PT. Hindoli. This region of Parit IV, Muara Tungkal and the surrounding are the villagers’ farmland, swamps, and pools. On the proposed location, the transportation for the equipments for the Steam Power Plant is via the Calik riverside, from Java Island, so that the accessibility of the equipments can be smooth, without so big trouble, especially for the location of region of Parit IV Muara Tungkal. For Talang Benulih, there will be some barrier to be faced that is the transportation will have to pass the bridge of Sungaililin, which is relatively low bridge. The proposed location is actually the secondary forest and the grass shrubs but it is not included in the protected area, so that it will be possible to develop this area to be the land for Steam Power Plant (PLTU).

WATER POTENCY The proposed location to be developed for the Steam Power Plant in The Sub-district of Sungaililin which make it possible to be used not only as transportation facilities but also as the water reserves for the Steam Power Plant (PLTU) The water debit of Dawas River is up to 873.180 m3/hour, while the debit of Tungkal River is 1.549.125 m3/hour. The needs of water for the steam Power Plant with the efficiency of 100 MW without cooling system is 50.000 m3/hour while the plant with the cooling system is 1000 m3/hour. It means that Dawas River is able to supply the water for the plant with capacity of 1,7 GW and Tungkal River is 3 GW. GEOLOGY AND GEOTECHNIC Energi, Lingkungan dan Batubara 73

The geo-physics investigation shows that in Talang Benulih and Parit IV Muara Tungkal, there are coal layer, mainly around 200 meters from the river-side. There’s no coal detected in the distance of more than 200 meters away from the riverside, but still it is potential for the water defend. By those consideration, the development of mine-mouth coal fired power plant will be better and more efficient to be done in the area of 200 meters from the river side, besides, this also considering the factor of the 100 meters area from the river is included as the green belt of the river itself. INITIAL CONDITION OF THE ENVIRONMENT Water quality of Dawas River and Tungkal River is good enough and is still under the permitted limit of the water quality (See : Table.4), and so does the air quality of this region. (See : Table.5) From the biotic aspect it is mentioned that the vegetation around the location is agriculture and natural vegetation in form of secondary forest and the shrubs. The animals can be found here are : mammals, reptiles, birds, and others, which mostly conservative. The society’s economic depend on the agriculture, fishing, labor, trading, and other sectors. The trading sectors of this district is growing fast, which is influenced by some factors, mainly, the location of this village is very strategic, placed on the cross-road between Palembang – Jambi and the river line of Dawas Rivers which connecting villages around it. This condition has eased the villagers to sell or to buy the crops needed and able to make this village as the center of trading. The good economic prospect of this village has already stimulated the growth of other supporting sectors such as transportation facilities, labor, market place and others. The social sectors of the villagers are also conducive enough which can be seen from the villagers’ tolerance and hospitality to the new-comers (immigrant). The villagers of Sungaililin is a heterogeneous society, coming from many kinds of ethnics such as Java, Madura, Minangkabau, Bugis, and also original from South Sumatra. The trading activities are still centered in local society, without the participant of other ethnics such as Arabic, China, and India.

74

Energi, Lingkungan dan Batubara

CONCLUSION In order to anticipate the electric energy demand, it is needed to build new power plant. Considering the existing potency, the mine-mouth power plant is one of good potential alternatives. Musi Banyuasin as a part of South Sumatra is one of the district with quite good coal potency, supported also by the good water supply condition, and the advantage geographic condition. The potential location for the Steam Power Plant (PLTU) is the sub-district of Talang Benulih and Parit IV Muara Tungkal. The development of mine-mouth coal fired power plant is not only for the effort to fulfill the electric power demand but also for exploiting and converting the coal reserves in Musi Banyuasin. So far before, this district’s potency of coal was not exploited efficiently because of the low of caloric value of the coal, which make it difficult to be marketed. By the developing of the coal-fired power plant and the exploitation of coal, it is to be hoped that it will be able to open job field and enforcement of manpower for the people living around and it will also be the factor to support the development and improvement of the district.

Energi, Lingkungan dan Batubara

75

PEFFERENCES Bappeda of South Sumatra and Center of Statistic of South Sumatra, 2000, “South Sumatra in 1999”, Palembang. Division of Mining and Energy development of South Sumatra, “General Planning of Electricity in South Sumatra”, Palembang 2001 Machmud Hasjim, 2001, “The Opportunity Utilize Low Rank South Sumatra Coal as Fuel of Steam Power Plant”, Mining Innovation Journal, Vol. I No. 1, December 2001, Mining Department, Engineering Faculty, Sriwijaya University, 2001. Mining Engineering Department, Faculty of Engineering, Sriwijaya University, 2001, “Study of the Development of Mine-mouth Coal Fired Power Plant in Musi Banyuasin, South Sumatra “, Palembang. PT.PLN Generation and Transmission South Sumatra and around, 2000, “Profile of Electricity Development of PT.PLN, line of South Sumatra region”, Palembang. PT.PLN Generation and Transmission South Sumatra and around, 2001, “Estimation of Condition of Electrical System in South Sumatra Region”, Palembang. PT.PLN Wilayah IV, 2000, “Electricity in South Sumatra Region : Growth and Business Prospect”, Palembang. PT.PLN Wilayah IV South Sumatra and surrounding, 2001 “General Planning of Electric supply 2001 – 2010 PT. PLN Wilayah IV”, Palembang. Sub Division of Electricity and Energy Development, Division of Mining and Energy Development of South Sumatra, 2000, “Statistic of Electricity 2000”, Palembang. Widartojo and Syarifuddin, 1998, “Indonesian Coal Mining Company Profiles 1998”. Indonesian Coal Mining Association, Jakarta.

76

Energi, Lingkungan dan Batubara

Tabel 1. Estimated Average And Peak Load Load Composition Year Average Load (MW) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 136.12 163.98 198.00 239.68 290.88 353.99 431.99 528.70 648.93 798.83 986.20 Peak Load (MW) 322.03 383.20 457.22 547.11 656.64 790.60 955.00 1,157.46 1407.61 1,717.69 2,103.27 Power Plant Needed Average Load (MW) -123.88 -96.02 -62.00 -20.32 30.88 93.99 171.99 268.70 388.93 538.83 726.20 Peak Load (MW) -42.07 19.1 93.12 183.01 292.4 426. 590.9 793.36 1,043.51 1,353.59 1,739.17

Energi, Lingkungan dan Batubara

77

Table 2. Musi Banyuasin Coal Reserves Reserves, million tons Location Measured 1. PT. Dutaputra Tanaratama 2. PT. Astaka Dodol 3. PT. Baramutiara Prima 4. PT. Bara Utama Unggul 5. PT. Baturona Adimulya 6. PT. Generalsakti Kreasindo 7. PT. Hulubalang Inti Bumi 8. PT. Mitrajaya Timuragung 9. PT. Trimata Benua 10.PT. Energi Batubara Sumatera 11. PT. Triaryani TOTAL 51.21 143.20 2.70 76.86 43.35 317.32 Indicated 245.65 286.40 441.29 287.25 47.68 1,336.16 86.70 2,731.13 Inferred 0 (million Ton) 296.86 429.60 441.29 287.25 50.38 1,413.02 130.05 3,048.45 Total

78

Energi, Lingkungan dan Batubara

Table 3 Musi Banyuasin Coal Quality
PARAMETER Proximate (% adb) - Moisture - Ash - Volatile matter - Fixed Carbon Calorific value, kal/gr (adb) Ultimate (%) - Total Sulphur -Carbon - Hydrogen - Nitrogen - Oxygen HGI Petrography (%) - Vitrinit - Inertinit - Lilptinit - Mineral - Rvmax MUARA ENIM 12.57 – 41.04 3.88 – 8.79 33.65 – 42.48 28.24 – 41.49 4140 – 6867 0.15 – 0.57 40.63 – 68.66 3.39 – 5.70 0.50 – 1.10 8.45 – 21.79 47 – 62 80 – 83 4–8 5–6 6–7 0.46 – 0.55 LOCATION (DISTRICT) MUSI LAHAT BANYUASIN 4.40 – 29.80 2.72 – 7.05 35.43 – 41.09 33.60 – 51.65 4694 – 185 0.18 – 0.61 49.67 – 64.11 3.92 – 8.83 0.63 – 1.10 9.84 – 19.31 48 - 65 87 3 5 5 0.38 – 1.10 25.01 5.15 35.93 33.91 4870 0.69 50.96 6.93 1.06 35.21 48 88 4 4 4 0.42 MUSI RAWAS 17.90 5.00 35.40 35.520 5090 0.20 50 84 5 6 5 0.41

Source : PPPTM, Bandung

South Sum atra Electricity Ba la nce 2000-2010
2500 2250 2000 Electric Power (MW) 1750 1500 1250 1000 750 500 250 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 A dded Non-s team Gen. Existing Non-Steam Gen. A dded Steam Gen. Existing Steam Gen. Peak Load A verage Load

Ye ar

FIGURE 1. ELECTRICITY SUPPLY AND DEMAND IN SOUTH SUMATRA Energi, Lingkungan dan Batubara 79

FIGURE 2. POTENCIAL LOCATION FOR DEVELOPMENT MINE-MOUNTH COAL FIRED POWER PLANT

TABLE 4. WATER QUALITY AT SURROUNDING AREA PARAMETER (mg/L)
SO42NO3Cl
-

No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

HINDOLI HARBOUR
13.00 0.062 12.496 0.068 0.0026 75 268 5.766 Not detected 0.0155

SUNGAILILIN HARBOUR
6.25 0.175 12.246 0.046 0.0102 63 71 4.257 Not detected 0.0158

DAWAS RIVER
4.50 0.115 6.248 0.151 0.0054 86 16 5.017 Not detected 0.0139

STANDARD
400 10 600 0.5 0.1 500 100 5–9 0.1 1.0

NH3 N NO2
-

Salinity COD PH Pb Cu

80

Energi, Lingkungan dan Batubara

TABLE 5. AIR QUALITY AT SURROUNDING AREA Location Muara Tungkal Parit IV
32
-4

No

Parameter

Unit

Talang Benulih
33 2.60 x 10 1.24 x 10-4 0.80 Not detected Not detected Not detected 0.0085 42-48

Sungaililin Harbor
30

Standard

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Temperature Sulphurdioxide (SO2) Nitrogen oxide (NOx) Carbon monoxide (CO) Hydrocarbon (HC) Hydrogen (H2S) Lead (Pb) Dust particulate Noise Sulphide

°C Ppm Ppm Ppm ppm Ppm mg/m3 mg/m3 dBA

-3

1.18 x 10 1.06 x 10-4 0.25 Not detected Not detected Not detected 0.0062 45-50

-4

5.63 x 10 3.48 x 10-3 6.55 1.54 X 10-3 6.18 x 10-4 1.70 x 10-8 0.1895 62-75

0.10 0.05 20 0.02

6 x 10-6 0.26 70

Energi, Lingkungan dan Batubara

81

PERTIMBANGAN PENERAPAN TARIF LISTRIK REGIONAL (NON-UNIFORM TARIFF) DI SUMATERA SELATAN*) Machmud Hasjim

A.

PENDAHULUAN Kebutuhan energi listrik di Sumatera Selatan dewasa ini diperkirakan

sebesar ± 1.415 GWh, yang terdiri dari sektor rumah tangga (±800 GWh), sektor industri (±395 GWh), sektor komersial (±145 GWh), dan sektor publik (±75 GWh). Kebutuhan listrik terus meningkat dari waktu ke waktu dengan pertumbuhan berkisar 10% hingga 12% per tahun. Pembangkit tenaga listrik yang ada di Sumatera Selatan dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yakni : 1) Pembangkit milik PT. PLN (Persero) yang tergabung dalam sistem interkoneksi Sumatera Selatan – Lampung dengan kapasitas ±363,6 MW (Sektor Keramasan ±91 MW dan Sektor Bukit Asam 272,6 MW; 2) Pembangkit milik PT. PLN (Persero) yang tidak tergabung dalam sistem interkoneksi (pembangkit “isolated”) dengan kapasitas 28,1 MW (Cabang Palembang ±9,2 MW dan Cabang Lahat ±18,9 MW); dan 3) pembangkit listrik untuk kepentingan sendiri milik industri (“captive power”) dengan total kapasitas 765 MW. Selama ini penentuan Tarif Dasar Listrik (TDL) ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan berlaku secara nasional. Kebijakan tersebut didasarkan pada semangat persatuan dan kebijakan subsidi silang. Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah, sektor pertambangan dan energi khususnya ketenagalistrikan juga melakukan berbagai penyesuaian untuk memuat semangat otonomi daerah tersebut. Kewenangan pengaturan ketenagalistrikan sebagian telah dilimpahkan ke Pemerintah Daerah agar dapat mengelola sektor ketenagalistrikan sesuai dengan kondisi dan potensi setempat. Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 semangat otonomi daerah ini tercermin dengan adanya peluang bagi pemberlakukan tarif listrik regional (“non-uniform tariff”). Penetapan tarif listrik regional tidaklah dimaksudkan untuk mengesampingkan semangat persatuan yang selama ini dijalankan dalam kebijakan ketenagalistrikan, namun lebih ditekankan pada memberikan kesempatan bagi masyarakat dalam menikmati sumberdaya alam/sumberdaya energi yang ada di daerahnya dalam bentuk tarif listrik yang lebih sesuai. 82 Energi, Lingkungan dan Batubara

Dengan tarif listrik regional, diharapkan Pemerintah Daerah dapat berperan lebih aktif dalam meningkatkan rasio elektrifikasi di daerahnya sebagai bentuk percepatan dan pemerataan pembangunan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional menuju masyarakat adil dan makmur sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Biaya produksi listrik bervariasi, tergantung pada jenis pembangkit (biaya investasi), jenis, harga, konsumsi bahan bakar, efisiensi, dan sebagainya. Sebagai contoh, PLTU Batubara Bukit asam membutuhkan batubara 0,624 kg / kWh produksi, sedangkan PTLU Batubara Ombilin hanya membutuhkan 0,378 kg. Hal ini dipengaruhi oleh kualitas batubara. Penerapan tarif listrik regional membutuhkan kerjasama Pemerintah Daerah, badan usaha penyedia tenaga listrik (BUMN/BUMD/Swasta/Koperasi), termasuk badan usaha penyedia energi, masyarakat dan lembaga terkait lainnya. Transparansi dalam berbisnis/ berkompetisi akan sangat menunjang peran Pemerintah Daerah dalam menetapkan tarif listrik regional dengan memperhitungkan biaya produksi listrik, keuntungan, fungsi sosial, dan daya beli masyarakat. Dengan demikian tarif listrik regional yang ditetapkan tidak memberatkan dan dapat disetujui para “stake holders”. Tarif listrik regional hanya dapat diterapkan pada sistem “isolated” (yang tidak termasuk dalam sistem interkoneksi), dengan demikian faktor keandalan tenaga listrik perlu diperhatikan dengan cermat sebelum konsep ini diterapkan. B. TARIF LISTRIK REGIONAL Penerapan tarif listrik regional merupakan konsep baru dalam sistem ketenagalistrikan di Indonesia. Tarif listrik regional dapat diterapkan pada sistem ketenagalistrikan listrik yang tidak tergabung dalam sistem interkoneksi (sistem “isolated”). Dalam hal ini sistem pembangkitan dan jaringan listrik dapat diusahakan oleh PT. PLN (persero), Pemerintah Daerah, maupun investor yang berminat. Kebijakan tarif listrik regional dimaksudkan untuk memberikan kewenangan bagi Pemerintah Daerah untuk turut serta mengelola sektor ketenagalistrikan, khususnya pada sistem “isolated”. Dalam hal ini tarif listrik regional ditetapkan melalui peraturan daerah (Perda) dengan memperhitungkan biaya produksi listrik, keuntungan perusahaan penyedia tenaga listrik, dan daya beli masyarakat. Dalam hal Pemerintah Daerah sebagai penyelenggara penyediaan listrik (pembangkit dan jaringan), penentuan tarif listrik lebih ditekankan pada fungsi sosial yang mulai ditinggalkan PT. PLN (Persero) seiring dengan kebijakan “multi buyer-multi seller” dan peningkatan tarif listrik nasional menuju harga pasar. Dengan demikian fungsi sosial PT. PLN (Persero) akan berkurang dan Energi, Lingkungan dan Batubara 83

Pemerintah Daerah yang akan meneruskan fungsi sosial tersebut melalui Peraturan Daerah yang akomodatif, dengan tentunya memperhatikan biaya produksi, guna keseimbangan usaha.

C.

PEMBANGKIT DAN JARINGAN SISTEM “ISOLATED” Pembangkit yang ada di Sumatera Selatan sebagian besar telah tergabung dalam sistem interkoneksi Sumatera Selatan – Lampung. Dengan demikian pada sistem ini tarif listrik regional tidak dapat diterapkan. 1. Pembangkit dan Jaringan Milik PT. PLN (Persero) Peluang penerapan tarif listrik regional adalah pada daerah yang belum terjangkau sistem interkoneksi. Dalam hal ini bila di daerah tersebut telah ada pembangkit dan jaringan listrik milik PT. PLN (Persero), maka penetapan tarif listrik regional dapat diterapkan dengan penetapan tarif yang wajar sesuai dengan biaya produksi, keuntungan yang diraih dan daya beli masyarakat. Diharapkan memperhatikan saran-saran/pendapat para “stake holders” dan transparansi dalam bisnis kelistrikan ini. Perlu diingat bahwa beban di sistem “isolated” relatif kecil, karena selama ini bila beban mulai bertambah besar, maka PT. PLN (Persero) berupaya menggabungkan sistem “isolated” tersebut ke sistem interkoneksi untuk meningkatkan keandalannya. Jadi pembangkit milik PT. PLN (Persero) yang berada di sistem “isolated” sangat terbatas. Untuk meminta PT. PLN (Persero) membangun pembangkit baru di sistem “isolated” juga mengalami kendala karena kemungkinan PT. PLN (Persero) akan lebih berkonsentrasi dalam listrik yang tergabung dalam sistem interkoneksi. Kesulitan PT. PLN (Persero) untuk menambah jumlah pembangkit tergambar dari rendahnya rasio elektrifikasi (di Sumatera Selatan ±46%). 2. Pembangkit dan Jaringan Milik Pemda. Pemerintah Daerah dapat membangun pembangkit dan jaringan dalam rangka pelayanan publik, bila segala sesuatunya memungkinkan – antara lain prioritas dan keuangan Pemda karena pembangunan pembangkit dan jaringan memerlukan biaya investasi dan perawatan yang cukup besar serta sumberdaya manusia yang memadai. Dalam pengoperasiannya Pemerintah Daerah dapat bekerjasama dengan PT. PLN (Persero). Pembangkit dan Jaringan Milik Investor

3.

84

Energi, Lingkungan dan Batubara

Pemerintah Daerah dapat berupaya untuk menarik minat investor untuk membangun pembangkit dan jaringan dalam rangka meningkatkan rasio elektrifikasi sebagai bentuk pelayanan publik dan pemerataan pembangunan. Kendala dalam alternatif ini adalah beban listrik di sistem “isolated” relatif kecil, dengan demikian pembangkit yang diperlukan juga relatif kecil. Untuk itu mungkin sulit mencari investor yang berminat membangun pembangkit skala kecil. Hal ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Pemerintah Daerah berupaya menetapkan tarif listrik regional yang rendah (sehubungan dengan fungsi sosial), jelas akan makin mengurangi minat investor berkiprah di bidang kelistikan, khususnya pada sistem “isolated”. Akan terdapat situasi dimana investor ketenagalistrikan dan investor industri lainnya saling menunggu. Investor ketenagalistrikan akan berminat memulai usahanya bila terdapat permintaan/kebutuhan listrik yang cukup besar, sebaliknya investor industri akan memulai usahanya bila tersedia energi listrik dalam jumlah yang cukup dan harga yang murah. Berdasarkan kondisi tersebut kemungkinan sulit diharapkan akan adanya investor yang berminat berkiprah di bidang ketenagalistrikan sistem “isolated”. Namun demikian dengan memperherhatikan sumberdaya energi di Sumatera Selatan terutama batubara dan gas tersedia di lokasi, memungkinkan biaya produksi dapat lebih kecil. 4. “Captive Power” Selama ini karena keterbatasan kemampuan PT. PLN (Persero) dalam menyediakan energi listrik dalam jumlah besar sesuai kebutuhan industri, maka industri besar umumnya membangun pembangkit untuk kebutuhan sendiri (“captive power”). Jalan tengah yang dapat ditempuh dalam rangka penetapan tarif listrik regional dan peningkatan rasio elektrifikasi, antara lain dengan memanfaatkan “captive power” yang ada. Dengan demikian Pemerintah Daerah dapat memintakan industri untuk membangun pembangkit dengan kapasitas yang melebihi kebutuhannya untuk didistribusikan pada masyarakat di sekitarnya. Untuk menyederhanakan, kelebihan daya listrik tersebut dijual kepada PLN (Persero) dan PT. PLN (Persero) atau instansi lain yang ditunjuk Pemerintah Daerah menjalankan fungsi pemasaran listrik tersebut ke masyarakat. Dengan pola ini industri dapat tetap berkembang, peningkatan rasio elektrifikasi dapat dicapai dan meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap keberadaan industri di sekitarnya. Energi, Lingkungan dan Batubara 85

D.

KEANDALAN SISTEM “ISOLATED” Masalah utama yang timbul dalam penerapan tarif listrik regional adalah hal tersebut diberlakukan pada sistem “isolated”. Berarti keandalan listrik di sistem tersebut sangat rentan. Bila terjadi kerusakan pembangkit atau pemeliharaan rutin maka seluruh kawasan mengalami pemutusan arus listrik secara total. Untuk pembangkit milik PT. PLN (Persero) atau Pemerintah Daerah, hal ini perlu menjadi pertimbangan tersendiri dalam penerapan tarif listrik regional, karena untuk menyediakan pembangkit cadangan tentunya memerlukan biaya investasi yang lebih besar lagi. Bila ditinjau dari kondisi tanpa listrik sama sekali, untuk tahap-tahap awal keandalan mungkin belum menjadi pertimbangan utama masyarakat dan masyarakat masih dapat mentolerir pemutusan arus yang terjadi. Pada pembangkit “captive power”, dapat diharapkan keandalan listrik yang relatif tinggi, karena hal tersebut berpengaruh langsung pada produksi perusahaan. Dan tentunya perusahaan telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan keandalan listriknya.

E.

PENUTUP Sejalan dengan semangat otonomi daerah dan implementasi UndangUndang Nomor 20 Tahun 2002 maka tarif listrik regional perlu diterapkan. Penerapan tersebut akan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk turut menikmati hasil pembangunan sebagai bentuk pelayanan publik pemerintah. Tarif listrik regional hanya dapat diterapkan pada sistem “isolated”, pembangkit dan jaringan dapat diusahakan oleh PT. PLN (Persero), Pemerintah Daerah atau investor. Pembangunan pembangkit dan jaringan di sistem “isolated” oleh PT. PLN (Persero) dihadapkan pada kendala keuangan dan PT. PLN (Persero) lebih berkonsentrasi pada sistem interkoneksi. Di sisi lain anggaran Pemerintah Daerah untuk pembangunan pembangkit dan jaringan di sistem “isolated” mungkin masih terbatas, sedangkan investor yang berminat untuk membangun pembangkit skala kecil relatif sedikit. Pengembangan sistem “isolated” berpeluang dilakukan oleh “captive power” perusahaan industri di sekitar lokasinya masing-masing. Kelemahan sistem ini adalah jumlah “captive power” sangat terbatas tergantung pada potensi sumberdaya alam setempat.

86

Energi, Lingkungan dan Batubara

Keandalan listrik sistem “isolated” untuk pembangkit dan jaringan milik PT. PLN (Persero) atau Pemerintah Daerah perlu dipertimbangkan dengan seksama mengingat pengadaan pembangkit cadangan akan memperbesar biaya investasi yang dibutuhkan. Pada sistem “isolated” yang dibangun “captive power”, dapat diharapkan keandalan listrik yang lebih baik, karena penyediaan listrik tersebut berkaitan langsung dengan proses produksi perusahaan yang bersangkutan. Untuk di Sumatera Selatan, perlu adanya kajian yang mendalam serta dapat disetujui bersama antara para “stake holders” yang akhirnya dapat dimantapkan melalui Peraturan Daerah.

Energi, Lingkungan dan Batubara

87

UTILIZATION OPPORTUNITY OF SOUTH SUMATRA LOW RANK COAL H. Machmud HASJIM*), H. Syarifuddin ISMAIL*), H. M. Taufik TOHA**) *) Professor at Faculty of Engineering, Sriwijaya University, Inderalaya Campus (OKI) 30662, South Sumatra, ph. (0711) 580137-580303; fax. (0711) 580062 **) Head of Mining Department, Faculty of Engineering, Sriwijaya University, Inderalaya Campus (OKI) 30662, South Sumatra, ph. (0711) 442693-580137; fax. (0711) 445086-580137; email : taufik_toha@yahoo.com

ABSTRACT South Sumatra has a large number of coal reverses, that is 12.8 billion tons or about 48.3% of national coal reserves. Most of South Sumatra coal categorized as low rank coal therefore faced some difficulties in marketing. That’s why most of South Sumatra coal reserves have not yet been use (mined). Coal can be used as fuel and raw material. Utilization of coal as fuel could be classified as direct fuel and conversion fuel. Coal usage as direct fuel at coal-fired electric power plant, cement plant, and small-medium scale industries are very limited, besides the narrow marketplace, this method of coal utilization is also caused significant environment problems. Coal used as raw material is also a little. Thus potential utilization of South Sumatra low rank coal is by the use of coal conversion technology to convert the coal to be briquette, up-grading brown coal, synthetic oil, and gas. Technically the conversion technology has been ready, but still could not compete another fuels due to high production cost. Through science and technology innovation and others analysis to reduce production cost, coal conversion has potential opportunity in utilization of South Sumatra low rank coal.

A.

BACKGROUND

Indonesia has a large number of coal reserves, which is 26.5 billion tons. In general, the reserves are located in Sumatra (64%) and Kalimantan (35%). Coal reserve in South Sumatra is up to 12,795,68 million tons (48.29%) of total Indonesian coal reserves. 88 Energi, Lingkungan dan Batubara

South Sumatra coal usually classified as low rank coal therefore faced some difficulties in marketing. Thus most of South Sumatra coal potency has not yet been use (mined). As South Sumatra Government Policy that placed mining sector as one of priority sectors in regional development, the huge coal potency should be utilized to support development achievement and increasing nation prosperity. So far, Indonesian coal is used as direct combustion fuel in coal-fired electric power plant and cement plant. The narrow Marketplace limiting the small amount of mined coal compared to the available reserves. Coal consists of complex chemical compounds that contain carbon, hydrogen, oxygen, nitrogen, sulfur, and other inorganic compounds. Direct coal combustion will produce solid, liquid and gas wastes that contain the above components. Approximately 60% of SOx and about 25% of NOx excesses in the atmosphere caused by human activities originate from direct coal burning in the Steam Power Electric Generator. The compounds categorized as waste that contaminate the atmosphere, besides these gasses are derivative components emission. B. 1. COAL POTENCY AND UTILIZATION Coal Potency In the future domination of petroleum and gas will be decrease, so diversification of coal utilization will develop. This could be happen due to the large number of coal reserves that could be used for a long time, before a save, clean and cheap non-conventional energy could be used. Besides the huge coal reverses (Table I), South Sumatra coal has an eligible quality in the mean of low ash and sulfur contents. The only factor that diminishes South Sumatra coal quality is relatively high moisture content (Table II). Coal Utilization Coal can be used as fuel as well as raw material in many industries. Utilization as fuel could be direct combustion and conversion to be another form of fuel (Figure 1). The simplest coal utilization is direct combustion because it only needs size reduction. South Sumatra coal has a good potency to used as direct fuel due to the low ash and sulfur content, so it produce relatively low negative effect to the environment. Deficit of electric power in South Sumatra especially and in South SumatraLampung Interconnection System generally give a chance for utilization of South Sumatra coal by developing mine-mouth coal-fired power plant. 89

2.

Energi, Lingkungan dan Batubara

Besides as electric power plant fuel, coal utilize as direct fuel can also be applied in cement plant and small-medium industries. Market place of coal used as direct fuel relative small, only limited to electric power plant, cement plant, and small-medium industries. Besides it, environment problem caused by direct coal combustion is also caused side effect that need to be considered in development coal utilization in this manner. Coal utilization as indirect fuel by convert coal to be another liquid, gas, and solid fuel that saver to the environment by applying clean coal technology. Principally coal in all rank could be converted by clean coal technology to be liquid, gas, and solid fuel that saver to the environment. Approximate product of coal technology yielded from low rank coal can be seen on Figure 2. Coal technology could be classified in coal conversion to be coal briquette coke/semi-coke through coal carbonization, Up-grading Brown Coal (UBC) technology, coal liquefaction and coal gasification that produce synthetic oil and gas. Beside as fuel, as describe above, coal can also be used as raw material in many industries such as petrochemical, active carbon, filter, and electrode. Environment issues that intensively appear in the last decade surely will increase the amount of active carbon industry in the purpose of handling various environment impacts that come out. As a result, coal utilized as raw material is a potential utilization for South Sumatra coal. From the three methods of coal utilization above, marketplace for coal utilization as direct fuel is limited to electric power plant, cement plant, and small-medium scale industries. Besides the small marketplace, this kind of utilization is also produce serious environment impact. Coal used as raw material is relatively small in quantity. This matter surely will limited coal production/mining. It seems the most potential utilization opportunity is coal utilization as raw material in conversion, where the technology had been understood. RESEARCH, SCIENCE AND TECHNOLOGY INNOVATION Coal technology could be classified in coal conversion to be coal briquette coke/semi-coke through coal carbonization, Up-grading Brown Coal (UBC) technology, coal liquefaction and coal gasification that produce synthetic oil and gas. C.

90

Energi, Lingkungan dan Batubara

Briquette coke technology has been develop in Indonesia for metal smelting and the price is about 37.5% lower than import one for the sama quality (Herry, 1999). Moreover semi-coke coal briquette has been programmed by the government as alternative energy to substitute petroleum and gas for small industry and household sector. Based on result of coal liquefaction researches, low rank coal will produce more synthetic oil than the high rank coal. The same condition is also acceptable for the gasification and coke/semi-coke. But Coal Water Mixer more suitable for high rank coal (low moisture content). Coal liquefaction technology has been known for a long time. The first research done by Dr. Friedrich Begius in 1913 in Germany (Berkowitz, 1985), then researcher from many countries took a part continuing, improving, and developing the technology. In Indonesia, Center for Mineral Technology Research and Development has determined coal liquefaction analysis to be on of research program in Project Analysis and Development of Coal Utilization in the funded year 1995/1996. In the program many researches about coal liquefaction technology had been done. Beside that, other research institutions and higher education institutions are also participate in the research of liquefaction technology. Generally, coal liquefaction technology has been understood and there is no problem about it. Environment impact of coal liquefaction technology is smaller than those on direct combustion. SO2 gas emission produced by direct combustion on 2540 MWe electric power plant, for example, is up to 88.2 x 103 tons/year, while SO2 emission on liquefaction plant with the same capacity is about 4.4 x 103 tons/year and SO2 emission when used petroleum is 11.9 x 103 tons/year or 16.3 x 103 ton SO2/year. The emission is much smaller compare to the emission on direct coal combustion on electric power plant equipped with glue gas desulfurization. Similar to the NOx emission, particulate, and carbon monoxide, coal convert to be gas or liquid fuel produce the emission in much smaller quantity (Hadi N & Nining S Ningrum, 1998). Technically coal conversion technology to be another form of fuel can already be done, but generally still have not ready yet to operate in commercial stage. The Up-grading Brown Coal (UBC) technology had been researched and obtains a favorable result. UBC production cost is about US $ 10/ton. Achievement in implementing UBC technology in commercial stage is depends on other fuel Energi, Lingkungan dan Batubara 91

price. For domestic market, it is affected by the fuel oil subsidize policy that government applied. If fuel oil price reach the market price, UBC price will be able to compete the fuel oil price. To increase economic feasibility of UBC technology, innovation of research, science and technology play a significant role in technology improvement, material substitution, and so on. The innovation is expected to be able to reduce production cost, so the UBC price can compete other energy price, especially petroleum and gas. In coal liquefaction, research on Tanjung Enim coal, South Sumatra has gain a good result with production cost is up to US $ 18.6/barrel. Though the production cost relatively high, there is a chance to reduce production cost by set a plan to build coal liquefaction plant in the coastal side, for instance in Musi Banyuasin District to reduce transportation line of product, raw material and plant equipment. Beside substituting auxiliary material by material that present in South Sumatra. Due to research, science and technology innovation and other analysis, coal conversion technology has potential chance in utilizing South Sumatra Coal. Coal conversion technology has been developing, further research is required for reduce production cost to increase competing ability of the coal conversion product to other fuels.

D.

CONCLUSION In the mean of regional autonomy, coal potency in South Sumatra has an important chance to be used as alternative energy resources. Numerous coal conversion researches on South Sumatra coal had been done and technically gain acceptable result, but generally the researches are laboratory scale and some of them have reach pilot plant stage (UBC and liquefaction), but the production cost still can not compete to another fuels. Coal conversion technology should be continued by research, science and technology innovation and other analysis to reduce cost and increasing competing ability of the conversion product to other fuels.

92

Energi, Lingkungan dan Batubara

REFERENCES Arsyad R., “Lay-out and infrastructure arrangement for Mine-mouth Coal-fired Power Plant in South Sumatra”, Presented on National Seminar of Low Rank Coal Utilization Anticipating Post Petroleum Energy, November 2000, Jakarta. Arsyad R, “The Implementation of Coal Liquefaction Technology: a New Challenge for Investment Opportunity in South Sumatra”, Seminar of Coal Liquefaction Technology, February, 2002. Azahari HL., “Chance of Coal Briquette Socialization Analysis from Market Segment Aspect” Presented on Seminar and Exhibition of Coal Briquette and Save Energy Stove, Energy Research Center, Research Institution, Sriwijaya University, Palembang, May, 1999. BPPT, NEDO and Kobe Steel Ltd., “Feasibility Study on Direct Liquefaction on Banko Coal in Indonesia” March 2002. Hasjim M., “Opportunity and Threat of South Sumatra Coal”, Presented on National Seminar of Low Rank Coal Utilization Anticipating Post Petroleum Energy, Jakarta, November 2000. Hasjim M., Ismail S., Toha T., “The Prospect of the Development of Mine-Mouth Coal Fired Power Plant in Musi Banyuasin, South Sumatra”, Third International Conference and Exhibition of Coal Technology, Bali, June 1314, 2002. Indonesian Coal Society, “Coal Technology 2000”, Proceedings International Conference and Exhibition on Low Rank Coal Utilization, Jakarta, November 2000. Ismail S, "Coal Gasification Technology”, Presented on One Day Seminar of Coal Technology, Energy Research Center, Research Institution, Sriwijaya University, September 21, 1998. Morrison Knudsen Indonesia, PT., “South Sumatra Energy Development Central Banko Project”, Tanjung Enim, South Sumatra, Indonesia, October 1997. Ningrum NS., Huda M., Sumiati T., Rochayati Y., Saputra R., Astiti MW., “Analysis of Tanjung Enim Coal Liquefaction, South Sumatra”, Research and Development Center for Mineral Technology, Bandung, 1996. Ningrum NS., Rijwan I., Syahrial., “Research on Creating Active Carbon from Banjarsari Coal, South Sumatra”, Research and Development Center for Mineral Technology, 1999. Energi, Lingkungan dan Batubara 93

Ningrum NS., Sofaeti Y., Diniyati D., Hernawati T., Slamet., “Clean Coal Technology in Decreasing Moisture Content of Banjarsari Coal”, Research and Development Center for Mineral Technology, Bandung, 2000. Nursaya H., Ningrum NS., “Coal Liquefaction Technology”, Presented on One Day Seminar of Coal Technology, Energy Research Center, Research Institution, Sriwijaya University, September 21, 1998. Purba AC., "Status of Coal Briquette Development in Indonesia " Presented on One Day Seminar of Coal Technology, Energy Research Center, Research Institution, Sriwijaya University, September 21, 1998. Research and Development Center for Mineral Technology, “ Potency and Possibility of Low Calorie Coal Utilization in South Sumatra” Seminar of Coal-Fired Power Plant on May 17, 2000, Jakarta. Silaban A., "Improved Coal Gasification Technology", Presented on One Day Seminar of Coal Technology, Energy Research Center, Research Institution, Sriwijaya University, September 21, 1998. Sriwijaya Technology Institution, “Due Diligence of Feasibility Study on Banko Coal Liquefaction South Sumatra”, Faculty of Engineering, Sriwijaya University, Palembang, 2002. Suganal, Karta W., Sofaeti Y, Diniyati D, Supriatna W., Paidi., “Analysis of Powder form of Banjarsari and Jelawatan Coal Burning (South Sumatra) as fuel in power plant”, Research and Development Center for Mineral Technology, Bandung, 2000. Supriyanto HR., “Briquetted Coke Technology Process for Metal Smelting”, Presented on One Day Seminar of Coal Technology, Energy Research Center, Research Institution, Sriwijaya University, September 21, 1998. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), PT., “Central Banko Development Planning for Coal Liquefaction”, Paper, September 4, 2002. Tirtosoekotjo S., “Indonesian Coal Policy in the Perspective of National Energy Development”, Presented on One Day Seminar of Coal Technology, Energy Research Center, Research Institution, Sriwijaya University, September 21, 1998.

94

Energi, Lingkungan dan Batubara

Table I..South Sumatra Coal Reserves*)

No 1 2 3 4 5

Location (District) Muara Enim Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Ulu Komering

Reserves, million ton Measured 4,.026.09 892.42 355.86 48.55 5,322.92 Indicated 3,413.12 241.55 2.840.21 120.00 227.24 6,842.12 Inferred 325.00 10.00 295.64 630.64

Total (Million ton) 7,764.21 1,143.97 3,491.71 120.00 275.79 12,795.68

TOTAL * PPPTM, Bandung
)

Table II. South Sumatra Coal Quality*) Location (District) Lahat Musi Banyuasin 4.40 – 29.80 2.72 – 7.05 35.43 – 41.09 33.60 – 51.65 4,694 – 7,185 0.18 – 0.61 49.67 – 64.11 3.92 – 8.83 0.63 – 1.10 9.84 – 19.31 48 – 65 25.01 5.15 35.93 33.91

Parameter Proximate (% adb) - Water content - Ash - Volatile Matter - Fixed Carbon

Muara Enim

Musi Rawas 17.90 5.00 35.40 35.520

Calorific Value, kal/gr (adb) Ultimate (%) - Total Sulfur - Carbon - Hydrogen - Nitrogen - Oxygen

12.57 – 41.04 3.88 – 8.79 33.65 – 42.48 28.24 – 41.49 4,140 – 6,867 0.15 – 0.57 40.63 – 68.66 3.39 – 5.70 0.50 – 1.10 8.45 – 21.79 47 – 62

4,870

5,090

0.69 50.96 6.93 1.06 35.21

0.20 -

HGI

48

50

Energi, Lingkungan dan Batubara

95

Petrography (%) - Vitrinite - Inertinite - Lilptinite - Mineral - Rvmax *) PPPTM, Bandung

80 – 83 4–8 5–6 6–7 0.46 – 0.55

87 3 5 5 0.38 – 1.10

88 4 4 4 0.42

84 5 6 5 0.41

COAL

FUEL DIRECT Electric Power Plant Cement Plant Small-Medium Industry Household CARBONIZATION Coke Briquette Chemical Compound (Tar, Ammonia, Phenol) LIQUEFACTION Synthetic Oil Chemical Compound (Ammonium Sulfate, sulfur) CONVERSION

RAW Petrochemical Industry Active Carbon Filter Electrode

GASIFICATION Synthetic Gas Chemical Compound (Methanol, Ethanol,

-

Ammonia)

Figure 1 Utilization of Coal

96

Energi, Lingkungan dan Batubara

Electricity 790 KWh

Briquette 400 kg

Methanol 280 ltr COAL 1000 KG

Fine Size Coal 360 kg

Liquid Fuel 160 ltr

Coke 20 kg

City Gas 150 m3

Synthetic Gas 550 m3

Figure 2. Approximately Low Rank Coal Conversion Product

Energi, Lingkungan dan Batubara

97

PROSPECT OF SOUTH SUMATRA TO EXPORT ELECTRICITY TO THE SOUTH EAST ASIA . Machmud HASJIM*), H. Syarifuddin ISMAIL*), H. M. Taufik TOHA**) *) Professor at Faculty of Engineering, Sriwijaya University, Campus Inderalaya (OKI) 30662, South Sumatra, Indonesia, ph. +62 0711 580137-580303; fax. +62 711 580062 **) Vice Dean III Faculty of Engineering, Sriwijaya University, Campus Inderalaya (OKI) 30662, South Sumatra, Indonesia, ph.+62 0711 442693-580062; fax. +62 711 445086 - 580062; email : taufik_toha@yahoo.com

ABSTRACT Electricity system is a system that provide and transmitting energy that influence of plenty people. Nowadays the electric power has become a basic need in daily live and electric power demand has been increase from one time to another. South Sumatra has a large amount of coal potency whose quality is suitable for coal-fired power plant, so there is a chance for South Sumatra to fulfill the national electricity demand. Furthermore the strategic location of South Sumatra makes it possible to play a part as electric power exporter to the South East Asia region.

A.

BACKGROUND Electricity system is a system that provide and transmitting energy that influence of plenty people. Nowadays the electric power has become a basic need in daily live for most of people. Providing and transmitting electric power should be managed to provide high-quality, sustainable and environmental-oriented electric power for the highest citizen prosperity. Due to the economic growth in South East Asia region, electric power demand is increase from year to year. The high growth of electric demand should be synchronized with the increasing of electric power generator.

98

Energi, Lingkungan dan Batubara

The growth of electric power demand in South Sumatra is about 10 – 12 % annually, another area which has a higher economic growth will have higher energy demand (Java Island, Malaysia, Singapore, and others). If conversed to required electric energy quantity, the percentage surely will yield a large number of energy demand. The high energy demand is a good chance for South Sumatra as one of the provinces that has big primary energy potency (coal about 20.2 billion tons and natural gas about 7,239 BSCF) to play a role as electric power exporter. Generally, South Sumatra coal is low quality so there are some problem in marketing (low price and high transportation cost), that is why most of the coal potency in South Sumatra has not been mined. By act as electric power exporter to the South East Asia region, South Sumatra has a chance to support its coal potency and simultaneously gives a considerable contribution for fulfilling national and South East Asia region electric power demand. This will provide local, national, and regional economic growth. B. COAL POTENCY South Sumatra Province has a large number of coal resources that is about 20 billion tons (Table 1). The resources distributed in almost all area in South Sumatra Province (Figure 1). In general, South Sumatra coal categorized as low rank coal (low calorific value), but has low sulphur and ash content (Table. 2). So the gas emission formed from burn of South Sumatra coal is lower than that of coal from another area/country. The above described coal quality have some problems in marketing (low price due to low calorific value and high moisture content). This is the reason why most of South Sumatra coal potency has not been mined. One of potential utilization method for South Sumatra coal is as fuel in electric power plant (Table 3).

C.

POWER PLANT AND TRANSMISSION So far, coal-fired power plant is dominant power plant type in South Sumatra – Lampung electricity system. Based on data in Bukit Asam coal-fired power plant the specific fuel consumption is about 0.638 kg/kWh (Table 4).

From the specific fuel consumption based, large number of South Sumatra coal resources will ensure the continuity of fuel supply for a long time.

Energi, Lingkungan dan Batubara

99

By generate coal-fired power plant near the coal mine (mine-mouth coal-fired power plant), can reduce the operational cost of coal mine (coal transportation cost) so the electric power generation cost can also be reduced in order to increase the competitiveness of South Sumatra Electricity. From the electric power transmitting based, presently Sumatra Island Interconnection System (Figure 2) has been developing and there is a plan to improve to be Sumatra-Java-Bali System (will be realized in the year of 2007 or 2008).. Due to South Sumatra location that relatively close to Singapore and Malaysia, development of electric power transmittion to such country is possible. The underwater wire technology could be adopted to connect electric power plant in South Sumatra to the consumers in Singapore and Malaysia.

D.

INVESTOR Based on the growth of electric power demand nationally especially and in South Asia in general, there is a chance to construct electric power plant. The chances are such as the inadequate of existing power plant capacity, high-growth of electric power demand, and the presence of primary energy and also the location of South Sumatra that relatively close to Singapore and Malaysia. To fulfill national energy demand, the bright chances has interested some investors to invest in electricity sector, such as: PT. Indonesia Power, PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) and PT. Ridho Utama Abadi will construct mine-mouth coal-fired power plant in Banjarsari area Lahat District with planned capacity 2 x 100 MW 2. PT. Tri Aryani, Kobe Steel Ltd, Nissho Iwai Corporation; Babbock – Hitachi KK, Nippon Koei Corp, Department of Energy and Mineral Resources and Analysis and Applied Technology Agency cooperatively will construct coal-fired power plant in Sungai Malam area Musi Rawas District with planned capacity of 600 MW and will be gradually improve up to 4200 MW. 3. PT. Bumi Daya Nusantara and Government of Musi Banyuasin District will construct coal-fired power plant in Sekayu area with planned capacity 2 x 50 MW. 4. PT. Meta Epsi and the Government of South Sumatra Province will construct gas power plant in Borang area in Musi Banyuasin District with planned capacity of 2 x 45 MW. 1.

100

Energi, Lingkungan dan Batubara

Some of the investors have achieve Memorandum of Understanding (MOU) and pre-feasibility study and some of them have already made Environmental Impact Analysis Report (AMDAL) for the power plant as well as the mine. If South Sumatra becomes electric power exporter to the South East Asia region, the required power plant capacity is much higher. This is very interesting for the investors to invest in electricity sector in South Sumatra especially and Indonesia generally.

Figure 1. Distribution of South Sumatra Coal Potency

Figure 2. The Sumatra Interconnection System Energi, Lingkungan dan Batubara 101

Table 1. South Sumatra Coal Reserves *) No 1 2 3 4 5 6 Location (District) Muara Enim Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu TOTAL Reserves (Million Ton) 11,581.21 2,714.97 3,565.50 1,235.00 325.00 836.79 20,258.47

South Sumatra Province Mining and Energy Development Office, 2003

Table 2. South Sumatra Coal Quality *)
Parameter Proximate (% adb) - Moisture - Ash - Volatile matter - Fixed carbon Calorific value, kal/gr (adb) Ultimate (%) - Sulphur - Carbon - Hydrogen - Nitrogen - Oxygen HGI Petrography (%) - Vitrinite - Inertinite - Lilptinite - Mineral - Rvmax Muara Enim 12.57 – 41.04 3.88 – 8.79 33.65 – 42.48 28.24 – 41.49 4,140 – 6,867 0.15 – 0.57 40.63 – 68.66 3.39 – 5.70 0.50 – 1.10 8.45 – 21.79 47 – 62 80 – 83 4–8 5–6 6–7 0.46 – 0.55 Location (District) Lahat Musi Banyuasin 4.40 – 29.80 2.72 – 7.05 35.43 – 41.09 33.60 – 51.65 4,694 – 7,185 0.18 – 0.61 49.67 – 64.11 3.92 – 8.83 0.63 – 1.10 9.84 – 19.31 48 – 65 87 3 5 5 0.38 – 1.10 25.01 5.15 35.93 33.91 4,870 0.69 50.96 6.93 1.06 35.21 48 88 4 4 4 0.42 Musi Rawas 17.90 5.00 35.40 35.520 5,090 0.20 50 84 5 6 5 0.41

*) PPPTM, Bandung

102

Energi, Lingkungan dan Batubara

Table 3. Specification of Coal as Coal-fired Power Plant Fuel*)
Parameter Proximate analysis Volatile matter Fixed carbon Moisture content Ash content Hardgrove Grindability Index Relative Density Calorific Value Net Calorific Value Gross Calorific value Ultimate analysis Carbon Hydrogen Nitrogen Oxygen Sulphur Unit as received % weight % weight % weight % weight % weight % weight as received (kCal/kg) (kCal/kg) as received % weight % weight % weight % weight % weight Minimal Maximum

15.00 28.00 7.00 10.00 59.40 1.25

40.00 62.00 28.00 17.00 64.20 1.35

4,200.00 4,590.00

6,400.00 7,060.00

48.00 4.00 0.70 8.00 0.30

65.00 5.50 1.10 11.00 1.20

Ash Analysis Silica (SiO2) % berat Iron (Fe2O3) % berat Aluminum Oxide (Al2O3) % berat Calcium Oxide (CaO) % berat Magnesium Oxide (MgO) % berat Natrium Oxide (Na2O) % berat Calium Oxide (K2O) % berat Fusion Temperature (oC) (in reducing atmosphere) o Initial C o C Softening o C Fluid Particle size : Pass 32 mm screen 97 % (the other 3 % maximum 50 mm) Smaller than 2,38 mm, maximum 20 %

50.00 3.00 10.00 1.00 0.50 0.60 0.20

75.00 7.00 33.00 3.00 1.50 3.50 0.70

1,010.00 1,190.00 1,350.00

1,500.00 1,510.00 1,620.00

*) PT. PLN (Persero) Bukit Asam Sector

Energi, Lingkungan dan Batubara

103

Table 4. Power Plant Specific Fuel Consumption (SFC) *) SECTOR FUNCTION UNIT KERAMASAN 0,569 0,017 0,274 0,235 0,404 0,017 BUKIT ASAM 0,624 0,267 BANDAR LAMPUNG 0,262 0,536 PADANG BUKIT TINGGI OMBILIN TOTAL KITLUR SBS 0,569 0,589 0,017 0,267 0,235 0,420 0,017

PLTU MFO PLTU Batubara PLTU Alam Gas

Liter / kWh Kg / kWh MSCF / kWh Liter / kWh Liter / kWh Liter/ kWh MSCF/ kWh

0,280 0,564 -

0,378 -

PLTD HSD PLTD IDO PLTG HSD PLTG Alam Gas

*) PT. PLN (Persero) Generation and Transmitting Southern Sumatra

Energi, Lingkungan dan Batubara

104

PENGELOLAAN ENERGI SUMATERA SELATAN SECARA ARIF UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Machmud Hasjim PIDATO ILMIAH DISAMPAIKAN PADA WISUDA SARJANA XXXIV PROGRAM S1, WISUDA SARJANA XLVIII DIPLOMA III, WISUDA III MM DAN DIES NATALIS XXI UNIVERSITAS TRIDINANTI PALEMBANG SABTU, 30 APRIL 2005 I. PENDAHULUAN

Energi berfungsi sebagai bahan bakar dan bahan baku industri, berperan dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan. Oleh karena itu pengelolaan energi ini diatur melalui Kebijakan Energi Nasional (KEN) 2003-2020 sebagai pengganti KUBE 1998 yang mempertimbangkan perubahan lingkungan strategis pada tingkat nasional, regional dan internasional. Dengan adanya KEN ini dapat terciptanya keamanan pasokan energi (energy security of supply) nasional secara berkelanjutan. Pada KEN ini pemenuhan kebutuhan energi nasional menjadi prioritas utama dan pemberdayaan daerah dalam pengelolaan energi akan ditingkatkan. Ini berarti pengelolaan sumber daya energi di Sumatera Selatan dapat juga dilakukan oleh daerah. Kebijakan energi nasional 2003-2020 dengan visinya, “terjaminnya penyediaan energi untuk kepentingan nasional”, dan misi (1) menjamin ketersediaan energi domestik, (2) meningkatkan nilai tambah energi, (3) mengelola energi secara etis dan berkelanjutan termasuk memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup, (4) menyediakan energi yang terjangkau untuk kaum dhuafa (masyarakat tidak mampu) dan daerah belum berkembang, dan (5) mengembangkan kemampuan dalam negeri, memerlukan sasaran dalam pengelolaan energi. Sasaran pengelolaan energi tersebut antara lain (1) meningkatnya peran bisnis energi yang mengarah kepada mekanisme pasar, (2) tercapainya rasio elektrifikasi sebesar 90 % pada tahun 2020, (3) meningkatnya pangsa energi, terutama energi terbarukan seperti panas bumi, biomassa dan mikro/minihydro, (4) terwujudnya infrastruktur energi yang mampu memaksimalkan akses masyarakat terhadap energi dan pemanfaatan untuk ekspor, (5) meningkatnya kemitraan antara perusahaan energi domestik dengan internasional, (6) menurunnya intensitas penggunaan energi sebesar 1 % per tahun dan (7) meningkatnya penggunaan kandungan lokal dan meningkatnya peran sumber Energi, Lingkungan dan Batubara 105

daya manusia nasional dalam industri energi. Diharapkan pengelolaan energi Sumatera Selatan dengan visi dan misi KEN tersebut, akan dapat menyiapkan kebijakan energi Daerah Sumatera Selatan dengan sasaran relatif sama seperti pada sasaran pengelolaan energi nasional. Keadaan ini sangat diperlukan mengingat keinginan masyarakat Sumatera Selatan yang disampaikan gubernur dan disambut dengan deklarasi Presiden R.I. pada peresmian PLTGU tanggal 9 Nopember 2004 untuk menjadikan Sumatera Selatan sebagai lumbung energi nasional pada tahun 2010. Potensi sumberdaya energi Propinsi Sumatera Selatan cukup besar, baik sumber daya energi konvensional (minyak bumi, gas bumi, dan batubara), maupun sumber daya energi non-konvensional (energi terbarukan). Hingga saat ini ketergantungan terhadap minyak bumi sangat besar dibandingkan dengan ketergantungan terhadap sumber energi lainnya. Hal ini dapat dilihat baik di sektor rumah tangga, sektor transportasi, dan sektor industri. Ini dikarenakan penggunaan minyak bumi lebih praktis dan telah lama dikenal masyarakat. Kondisi ini mengakibatkan ketidakseimbangan pemanfaatan sumberdaya energi yang menyebabkan pemanfaatan sumber daya energi lainnya menjadi kurang optimal. Sebagai contoh, penggunaan gas bumi dan batubara di sektor rumah tangga masih sangat terbatas. Dewasa ini cadangan minyak bumi semakin menipis, dan oleh karenanya harga minyak bumi di pasar internasional terus meningkat. Di dalam negeri, Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menetapkan harga minyak bumi secara bertahap mengikuti harga pasar, oleh karena itu harga bahan bakar minyak (BBM) sebagai produk turunan dari minyak bumi juga terus mengalami kenaikan harga menuju mekanisme pasar. Naiknya harga BBM secara tidak langsung membawa dampak peningkatkan daya saing sumberdaya energi lainnya terhadap minyak bumi, misalnya gas bumi dan batubara. Sebagai contoh di sektor rumah tangga, diperkirakan biaya penggunaan gas bumi akan lebih rendah dibandingkan biaya pemakaian elpiji, namun untuk penerapannya masih terkendala sistem distribusi (sistem perpipaan dari stasiun ke konsumen). Biaya penggunaan briket batubara secara ekonomis juga lebih murah dibandingkan penggunaan minyak tanah, namun pelaksanaannya masih kurang praktis dan masyarakat telah terbiasa menggunakan minyak tanah, sehingga penggunaan briket batubara di sektor rumah tangga relatif sangat kecil. Energi terbarukan (energi air, energi surya, energi angin, energi biomassa, energi biogas) di Sumatera Selatan pemanfaatannya masih sangat terbatas dan masih belum memasyarakat. Pengembangan dan pemanfaatan energi perlu dilakukan secara arif agar keberadaan sumberdaya energi tersebut dapat dirasakan manfaatnya secara 106 Energi, Lingkungan dan Batubara

langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat terutama di sekitarnya. Pada akhirnya pengelolaan yang arif diharapkan akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang merupakan amanat UUD 1945 Pasal 33 Ayat 2 dan Ayat 3. II. INSTRUMEN KEBIJAKAN

Untuk melaksanakan pengelolaan energi Sumatera Selatan, memerlukan instrumen kebijakan meliputi instrumen legislasi dan instrumen kelembagaan. Instrumen legislasi yang sudah ada yaitu (1) UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, (2) UU No. 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan, (3) UU No. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi, (4) UU No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, (5) UU No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, (6) UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, (7) UU No. 3 Tahun 2002 tentang Ketahanan Negara, (8) UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, (9) UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, (10) UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, (11) UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Pengganti UU No. 22 Tahun 1999), (12) UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, (13) UU No. 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri, (14) UU No. 34 Tahun 2000 tentang Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Pajak Kendaraan Bermotor, (15) UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, (16) UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, (17) UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, (18) UU No. 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan Kerangka Kerja PBB tentang Konvensi Perubahan Iklim, dan (19) UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Undang-undang yang baru yang terkait yang diperlukan sesuai dengan perkembangan kebutuhan ke depan misalnya Undang-undang tentang Energi, Undang-undang tentang Pertambangan Umum (pengganti UU No. 11 Tahun 1967), dan Undang-undang tentang Investasi. Semua Undang-undang tersebut memerlukan Peraturan Pemerintah dan Keputusan-keputusan yang sifatnya lebih teknis. Instrumen kebijakan meliputi (1) Pembuat Kebijakan (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral), (2) Regulator (untuk Migas, Batubara, Panas Bumi, Energi Terbarukan Lainnya, Tenaga Air, Nuklir, Listrik), (3) Pelaksana (Kegiatan Usaha Hulu Migas, Kegiatan Usaha Hilir Migas, Industri Nuklir), (4) Pelaksana Pengkajian, Penelitian, Pengembangan dan Rekayasa, (5) Pelaku Usaha (BUMN, BUMD, Energi, Lingkungan dan Batubara 107

BHMN, Swasta, Koperasi, Bentuk Usaha Tetap Khusus Migas dan Swadaya Masyarakat), (6) Kelembagaan Sektor Energi Masa Depan. Pemerintah Daerah Sumatera Selatan / Kabupaten / Kota bersama DPRD perlu menyiapkan Peraturan-Peraturan Daerah untuk mengakomodasi semua kegiatan-kegiatan keenergian dan yang terkait berlandaskan kepada peraturan perundang-undangan yang ada dan disosialisasikan secara luas dan transparan melalui media informasi. III. POTENSI ENERGI NASIONAL

Potensi energi konvensional dan energi non konvensional di Indonesia sangat menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa dan masyarakat. Potensi energi konvensional Indonesia terbesar saat ini adalah batubara diikuti gas dan minyak bumi. Cadangan batubara Indonesia sekitar 57,85 milyar ton dan tersebar di Sumatera 47,35% dan Kalimantan 52,15% dan sebagian besar yaitu sekitar 58,7% adalah lignit yang termasuk pada batubara peringkat rendah (LRC), 26,7% subbituminus, 14,3% bituminus dan 0,3% antrasit. Jumlah cadangan batubara Indonesia ini adalah sekitar 2 – 3 % cadangan batubara dunia. Cadangan terbukti minyak bumi Indonesia sudah sangat terbatas sekitar 5 milyar barrel atau sekitar 0,5 % cadangan minyak bumi dunia (sekitar 63 % cadangan minyak bumi berada di Timur Tengah) dan cadangan gas 90 Tcf atau sekitar 1,7 % cadangan dunia. Bila tidak diketemukan cadangan baru terutama minyak bumi, maka dalam waktu 10 tahun lagi minyak bumi kita akan habis dan Indonesia akan menjadi negara pengimpor minyak bumi dengan jumlah yang sangat besar. Oleh karena itu harapan ke depan terpusat pada batubara dan gas. Andil energi batubara pada tahun 2003 sekitar 16 % dari energy-mixed nasional dan 30,1 % untuk pembangkit listrik. Pada 2010 produksi batubara akan meningkat dari 127 juta ton tahun 2004 menjadi 171 juta ton pada tahun 2010, dengan memberikan kontribusi sebesar 18 % untuk energy-mixed nasional dan 46,3% untuk energi pembangkit. Cadangan gas sebesar 90 tcf akan habis juga dalam waktu 30 tahun dengan besar produksi 3 tcf per tahun. Dengan demikian pemakaian energi primer (konvensional) ini harus diikuti oleh energi non konvensional (energi terbarukan dan energi baru) yang merupakan diversifikasi energi seperti energi tenaga air, panas bumi, biomassa, coal bed methane dan nuklir. Khusus coal bed methane (CBM) dapat diharapkan menjadi energi alternatif pada masa mendatang, karena cadangan di Indonesia cukup besar sekitar 450 tcf, dan 183 tcf berada di Sumatera Selatan.

108

Energi, Lingkungan dan Batubara

Pemakaian / konsumsi energi untuk sektor transportasi agak sulit digantikan dari bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas atau batubara. Oleh karena itu perlu dipersiapkan strategi bahan bakar / energi untuk sektor transportasi masa depan seperti bahan bakar cair dari batubara, tenaga listrik dari PLTU batubara atau bahan bakar gas. Bila tidak, begitu besar impor minyak bumi atau BBM, karena proyeksi kebutuhan energi untuk transportasi pada tahun 2010 sebesar 198 juta BOE dari 167 juta BOE pada tahun 2004. jumlah porsi sektor transportasi ini sekitar 30 % - 32 % dari jumlah energi yang terpakai pada 4 sektor terbesar (sektor industri, komersial, rumah tangga, dan transportasi). Pemakaian energi minyak bumi dalam negeri pada tahun 2003 telah mencapai 413 juta barrel, sedangkan produksi pada tahun yang sama hanya 430 juta barrel, dengan kata lain pada saat ini produksi minyak bumi dengan konsumsi dalam negeri sudah impas. Perubahan ini begitu cepat bila dibandingkan pada kondisi tahun 1995, konsumsi dalam negeri sekitar 299 juta barrel, sedangkan produksi 575 juta barrel. Keadaan ini menunjukkan bahwa era minyak bumi kita sudah hampir selesai, bila cadangan baru belum diketemukan dan teknologi enhanced oil recovery (EOR) belum memberikan kontribusi yang signifikan. IV. POTENSI ENERGI SUMATERA SELATAN Minyak dan Gas Bumi i. Lokasi, Potensi dan Cadangan Potensi minyak dan gas bumi di Propinsi Sumatera Selatan dijumpai di berbagai Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan, antara lain meliputi Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Lahat, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Kabupaten Banyuasin. Cadangan minyak bumi Propinsi Sumatera Selatan hingga tanggal 1 Januari 2004 adalah sebesar 503,30 MMSTB atau sekitar 9,87% dari total cadangan minyak bumi nasional. Sementara cadangan gas bumi sebesar 7.239,16 BSCF atau sekitar 7,10% dari total cadangan nasional. Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Musi Banyuasin (termasuk Kabupaten Banyuasin) memiliki cadangan minyak bumi terbesar di Propinsi Sumatera Selatan (Gambar 1). Sedangkan Kabupaten yang memiliki cadangan gas bumi terbesar adalah Kabupaten Musi Banyuasin (termasuk Kabupaten Banyuasin) dan Kabupaten Musi Rawas (Gambar 2). Jumlah cadangan gas ini akan lebih besar lagi bila dimasukkan cadangan coal bed

Energi, Lingkungan dan Batubara

109

methane (CBM) di Sumatera Selatan sebesar 183 tcf atau sebesar 40 % cadangan CBM secara nasional.

12.83 30.27 125.59

35.04 5.69 293.88

OKI

OKU

Ma. Enim

Lahat

MURA

MUBA

Gambar 1. Cadangan Minyak Bumi Sumatera Selatan (MMSTB)

89.05 484 1,383.68

2,785.67

210.29

2,286.47

OKI

OKU

Ma. Enim

Lahat

MURA

MUBA

Gambar 2. Cadangan Gas Bumi Sumatera Selatan (BSCF) ii. Produksi Minyak dan Gas Bumi Produksi minyak bumi di Propinsi Sumatera Selatan terus meningkat dari tahun ke tahun sampai 2001. Pada tahun 1997 produksi minyak bumi 110 Energi, Lingkungan dan Batubara

Sumatera Selatan sebesar 21.826.259 Barrel dan pada tahun 2001 produksi minyak bumi meningkat hingga mencapai 41.609.309 Barrel (Gambar 3). Kecenderungan yang sama juga terjadi pada produksi gas bumi, pada tahun 1997 produksi gas bumi Sumatera Selatan sebesar 151.091 MMSCF dan pada tahun 2001 meningkat hingga mencapai 270.753 MMSCF (Gambar 4). Namun sesudah tahun 2001 produksi minyak bumi dan gas Sumatera Selatan menurun, menjadi 26.811.770 barrel untuk minyak bumi dan 126.714 MMSCF untuk gas pada tahun 2003.
50,000 45,000 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 0 1997 1998 1999 2000 Tahun 2001 2002 2003

Produksi Minyak (MSTB)

Gambar 3. Produksi Minyak Bumi Sumatera Selatan (MSTB)

300,000 Produksi (MMSCF) 250,000 200,000 150,000 100,000 50,000 0 1997 1998 1999 2000 Tahun 2001 2002 2003

Gambar 4. Produksi Gas Bumi Sumatera Selatan (MMSCF) Energi, Lingkungan dan Batubara 111

V.

Batubara i. Cadangan Berdasarkan hasil eksplorasi yang cukup intensif, cadangan batubara di Sumatera Selatan sebanyak 22,24 milyar ton yang terdiri dari cadangan terukur 5,3 milyar ton, cadangan terunjuk 6,8 milyar ton dan cadangan tereka 10,01 milyar ton. Cadangan tersebut tersebar di berbagai Kabupaten di Sumatera Selatan. Kabupaten yang memiliki cadangan batubara terbesar adalah Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Lahat (Gambar 5).

325.00 3,491.71 1,235.00 836.79

2,714.97 13,636.53

OKI

OKU

Ma. Enim

Lahat

MURA

MUBA

Gambar 5. Cadangan Batubara Sumatera Selatan (Juta Ton)

ii. Kualitas Kualitas batubara yang ditemukan di wilayah Sumatera Selatan adalah sangat bervariasi, baik dilihat dari sifat kimia maupun sifat fisik. Perbedaan kualitas ini erat hubungannya dengan lingkungan dan waktu pengendapan batubara tersebut. Batubara yang terbentuk lebih awal pada umumnya memiliki peringkat (rank) lebih tinggi dari batubara yang diendapkan kemudian. Sebagian besar (lebih dari 80 %) masuk kategori Low Rank Coal (LRC).

112

Energi, Lingkungan dan Batubara

1. Sifat Kimia Sifat kimia dari batubara ditentukan dari analisis proksimat yang terdiri dari kandungan air lembab (moisture), abu (ash), zat terbang (volatile matter) dan karbon padat (fixed carbon), ultimat (kandungan karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen dan total sulfur), nilai kalor dan komposisi abu. Batubara Sumatera Selatan mempunyai kandungan air lembab sangat bervariasi dari 4,40% – 41,04%, nilai kalor berkisar dari 4104 7185 kal/gr, karbon total bervariasi 40,63% - 68,66% (Tabel 1). Kandungan abu batubara Sumatera Selatan yang merupakan bahan pengotor dalam pemanfaatan batubara pada umumnya cukup rendah (<10,00%), demikian juga kandungannya sulfur, yaitu <1,00%. 2. Sifat Fisik Sifat fisik batubara yang umum diuji adalah berat jenis sesungguhnya (true specific gravity/TSG), sifat ketergerusan (hardgrove grindability index/HGI), sifat pengkokasan yang ditentukan dari nilai muai bebas (free swelling index/FSI) dan titik leleh abu (ash fusion temperature). Batubara Sumatera Selatan mempunyai berat jenis sesungguhnya antara 1,32 – 1,45 dan nilai ketergerusan bervariasi antara 42 dan 65 (sifat ketergerusan yang menunjukkan bahwa batubara tersebut mempunyai sifat sedang-mudah untuk digerus). Sifat pengkokasan batubara Sumatera Bagian Selatan yang ditentukan oleh FSI adalah 0 (nol). Ini berarti batubara tersebut tidak mempunyai sifat untuk mengkokas/ mengembang sehingga batubara tersebut tidak dapat dipergunakan sebagai bahan baku kokas. Batubara kokas (coking coal) mempunyai nilai FSI berkisar dari 4 sampai 7.

Tabel 1*) Analisis Proksimat, Ultimat, Fisik dan Petrografi Batubara Sumatera Selatan Lokasi (Kabupaten) Lahat MUBA 4.40 – 29.80 2.72 – 7.05 35.43 – 41.09 25.01 5.15 35.93

Parameter Proksimat (% adb) - Air Lembab - Abu - Zat Terbang

Muara Enim 12.57 – 41.04 3.88 – 8.79 33.65 – 42.48

MURA 17.90 5.00 35.40 113

Energi, Lingkungan dan Batubara

- Karbon Tertambat Nilai Kalor, (adb) Ultimat (%) - Total Sulfur - Karbon - Hidrogen - Nitrogen - Oksigen HGI Petrografi (%) - Vitrinit - Inertinit - Liptinit - Mineral - Rvmax kal/gr

28.24 – 41.49 4,140 – 6,867

33.60 – 51.65 4,694 – 7,185

33.91 4,870

35.52 5,090

0.15 – 0.57 40.63 – 68.66 3.39 – 5.70 0.50 – 1.10 8.45 – 21.79 47 – 62 80 – 83 4–8 5–6 6–7 0.46 – 0.55

0.18 – 0.61 49.67 – 64.11 3.92 – 8.83 0.63 – 1.10 9.84 – 19.31 48 – 65 87 3 5 5 0.38 – 1.10

0.69 50.96 6.93 1.06 35.21 48 88 4 4 4 0.42

0.20 50 84 5 6 5 0.41

*) PPPTM, Bandung iii. Produksi Perkembangan produksi batubara Indonesia selama tahun- tahun terakhir ini telah menunjukkan peningkatan yang sangat pesat. Pada tahun 1991 produksi batubara nasional baru mencapai 13,92 juta ton. Namun pada tahun 1996, 1997, 1998 dan 1999 produksi batubara telah meningkat pesat masing-masing menjadi 50,35 juta ton, 54,82 juta ton, 61,16 juta ton dan 73,65 juta ton. Pada tahun 2002, produksi batubara Indonesia mencapai 103,3 juta ton, bahkan pada tahun 2004 mencapai 127,2 juta ton dan diperkirakan pada tahun 2010 menjadi 171 juta ton. Produksi batubara terbesar berasal dari Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Untuk wilayah Sumatera Selatan produksi batubara dilakukan oleh PTBA yang telah melakukan produksi batubara sejak tahun 1939 sampai sekarang. Namun produksi batubara oleh PTBA baru berkembang dengan sangat pesat di era tahun 1990-an. Tingkat produksi batubara PTBA dari unit produksi Bukit Asam (Tanjung Enim) meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990 misalnya, produksi batubara baru mencapai sekitar 3,3 juta ton dan meningkat drastis menjadi 7,0 Juta ton pada tahun 1995. Produksi batubara PTBA selama enam tahun terahir relatif konstan, berkisar sekitar 10 juta ton (Gambar 6). Hal ini dikarenakan kendala 114 Energi, Lingkungan dan Batubara

transportasi batubara. Untuk dapat memenuhi potensi permintaan batubara baik dari pasar domestik maupun ekspor di masa yang akan datang, infrastruktur transportasi dan distribusi batubara (jalan kereta api, jalan darat, sarana lalu lintas sungai/laut, pelabuhan bongkar muat, terminal) yang ada perlu ditingkatkan. Bila masalah transportasi (kereta api) telah teratasi, tingkat produksi batubara PTBA dari lapangan batubara Tanjung Enim dan sekitarnya akan terus meningkat untuk tahun-tahun mendatang sejalan dengan kebutuhan batubara di dalam negeri yang terus meningkat terutama untuk pembangkit listrik. Disamping itu, batubara tersebut juga dialokasikan untuk ekspor dalam rangka menambah devisa negara.

10.5 Produksi (Juta Ton) 10.0 9.5 9.0 8.5 1997 1998 1999 2000 Tahun 2001 2002 2003

Gambar 6. Produksi Batubara Sumatera Selatan (Juta Ton)

iv. Pemakaian Domestik dan Ekspor Sebagian besar (80 – 90%) produksi batubara PTBA dijual di dalam negeri, terutama untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang kapasitasnya terus bertambah setiap tahun. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, persentasi penjualan terbesar di dalam negeri terjadi pada tahun 1994, yaitu mencapai sekitar 91,67% dari total penjualan pada tahun tersebut sebesar 6,0 juta ton. Sedangkan persentasi penjualan terkecil di dalam negeri (walaupun sebenarnya jumlah tonase bertambah) terjadi pada tahun 2003 yaitu sekitar 77,02% dari total penjualan tahun tersebut sebesar 9,74 juta ton. Sebagian besar batubara dari PTBA dipergunakan oleh pembangkit listrik Suralaya (Jawa Barat), karena PLTU Energi, Lingkungan dan Batubara 115

tersebut dibangun disesuaikan dengan karakteristik batubara Tanjung Enim (PTBA). Pemakaian batubara Sumatera Selatan akan dapat meningkat bila kebijakan PLTU dan batubara UBC (batubara LRC ditingkatkan kualitasnya) dapat dibangun di mulut tambang, dan pada saatnya disusul dengan likuifaksi dan gasifikasi batubara. Tingkat ekspor batubara PTBA dari tahun ke tahun juga meningkat. Namun sehubungan dengan tingginya penjualan batubara PTBA di dalam negeri dan kualitas batubara yang rendah maka ekspor batubara tersebut hanya berkisar dari 10 sampai 20% dari total produksi. Negara tujuan ekspor batubara PTBA adalah Jepang, Thailand dan Malaysia.

vi. Energi Terbarukan Potensi energi terbarukan yang telah dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik skala kecil di Sumatera Selatan yakni Energi Surya (Tabel 2) dan Tenaga Air (Tabel 3). Propinsi Sumatera Selatan memiliki berbagai potensi energi terbarukan yang bervariasi dan dalam jumlah yang cukup. Potensi tersebut terdiri dari potensi air (Tabel 4), potensi panas bumi (Tabel 5), potensi biomassa (Gambar 7), potensi biogas (Gambar 8) dan potensi kayu bakar (Gambar 9). Tabel 2. PLTS di Propinsi Sumatera Selatan (1991 – 2003) TAHUN ANGGARAN 91/92 250 250 92/93 93/94 40 40 94/95 11 16 41 2 38 17 125 95/96 32 8 7 5 4 105 161 96/97 14 15 6 4 1244 8 1291 97/98 60 62 122 98/99 75 75

NO 1 2 3 4 5 6

LOKASI OKU OKI Ma. Enim Lahat MURA MUBA JUMLAH

116

Energi, Lingkungan dan Batubara

NO 1 2 3 4 5 6

LOKASI OKU OKI Ma. Enim Lahat MURA MUBA JUMLAH

TAHUN ANGGARAN 1999 83 83 2000 40 40 80 2001 140 60 115 123 130 568 2002 74 86 160 2003 46 24 70

Jumlah (Unit) 427 389 114 201 1532 362 3025

Tabel 3. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Propinsi Sumatera Selatan

NO 1 2 3 4 5 6

LOKASI Desa Ulu Danau Kec. Pulau Beringin Kabupaten Ogan Komering Ulu Desa Muara Sindang Kec. Muara Dua Kisam Kabupaten Ogan Komering Ulu Desa Cahaya Alam Kec. Pembantu Aremantai Kabupaten Muara Enim Desa Tunggul Bute Kecamatan Kota Padang Kabupaten Lahat Desa Tanjung Tiga Kec. Semendo Darat Ulu Kabupaten Muara Enim Desa Talang Sejumput Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten Lahat

KAPASITAS 30 kW 20 kW 40 kW 60 kW 40 kW 40 kW

TAHUN BANGUN 1997/1998 1998/1999 1999/2000 2000/2001 2003 2004

Energi, Lingkungan dan Batubara

117

Tabel 4. Potensi Sumber Energi Air Propinsi Sumatera Selatan WILAYAH/ KECAMATAN 2 Kab. Lahat - Kota Agung NAMA SUNGAI/ DESA 3 Perigi S. Salak/ Tj. Krg Ilir S. Ayun/ Tj. Krg Ilir S. Endikat/Tg. Bute Lawang Agung Tanjungan S. Betung/ Tangsi S. Cawang S. Kikim Kanan Air Betung Tanjung Beringin Talang Padang Prahu Pematang Bango Mingkik Suka Jadi HEAD (m) 4 40 16 6 21 DEBIT (m3/dtk) 5 2,4 1,32 9,88 2,34 DAYA (kW) 6 470,4 103,49 290,47 194,92 JARAK DARI KEC. (KM) 7 5 15 15 15

NO 1 1

- Kec. Jarai

30 10 4,49

1,2 1,5 4,8

176,40 73,50 105,60

10 7 14

- Lahat Kota

2,24 5 4,49 60 8 60 40 50 50

1,7 3,03 5 2,88 0,84 0,95 1,4 1,5 -

18,66 74,24 105,60 846,72 32,928 279,3 274,4 367,5 -

15 18 30 35 7,5,20,1 5

- Pj. Bulan - Ulu Musi

- Pagar Alam

118

Energi, Lingkungan dan Batubara

- Pl. Pinang - Dempo Slt 2 Kab. MURA - Muara Beliti

Talang Sejemput Tebat Benawa

30 10

2,2 0,83

323,4 40,67

27 12

Lekok/Jakung Layang/Niling Temam II

10 76 5

2,7 4,8 0,8

132,3 1787,5 2 19,6

11 14 13

- Rawas Ulu

Napal Licin - Sungai Kerali - Bukit Bukok Jangkat

4 25

1,4 0,1

27,44 12,25

Tabel 4 (Lanjutan) Potensi Energi Air Propinsi Sumatera Selatan
N O 1 WILAYAH/ KECAMATAN 2 NAMA SUNGAI/ DESA 3 - Sungai Kejatan 3 Kab. OKU - Pl. Beringin HEAD (m) 4 2 DEBIT (m3/dtk) 5 5 DAYA (kW) 6 49,00 JARAK DARI KEC. (KM) 7

Pmtg. Danau Ulu Danau Aromante Cukuhnau - S. Kepyg Kcl - Way Telema - Air Kenik

5 2,5 7 4 15 10 12

9,4 6 2 22,75 0,39 1,72 11,7

230,30 73,50 68,60 445,90 28,67 84,28 687,96

23

- Banding Ag.

- Ma.Dua Ksm 4 Kab. Ma Enim

Energi, Lingkungan dan Batubara

119

- Tj. Agung - Induk Semendo

Bedegung Aik Dingin/ Babatan Penindaian Tanjung Agung/Siring S. Basung/ Gunung Agung Air Bodor/ Cahaya Alam Segamit/ Tanjung Tebat

100 7 5 8 16 12 5

3,53 0,43 0,41 0,39 0,92 1,87 0,34

1729,70 14,75 10,05 15,29 72,13 109,96 8,33

2 15 17 18 15 30 22

- Pemb. Aremantei

*) Sumber data Laporan Survey Potensi Air Tim Teknis Kanwil DESDM Prop. Sumsel Tabel 5. Indikasi Potensi Energi Panas Bumi di Sumatera Selatan

N

Lokasi

Kab/Kodya

Potensi

Keterangan

1

Rantau Dadap, Segamit

Lahat

250 Mwe (Hipotesis)

2

Bukit Balai

Lumut

Lahat

220 Mwe (Terduga)

Penyelidikan terpadu Geologi, Geokimia dan Landaian Suhu. Luas daerah prospek = 20 km2 dengan temperatur bawah permukaan 2600 C . Penyelidikan terpadu Geologi, Geokimia dan Geofisika dan Landaian Suhu. Luas daerah prospek = 10 km2 dengan temperatur bawah permukaan 2600 C. Anomali Hg dijumpai di sekitar sumber mata air panas 228 – 300 ppb, anomali CO2 dalam tanah adalah 0,36 – 0,72 % CO2 Mannifestasi panas bumi berupa

3

Ulu Danau (Pulau Beringin)

Ogan Komering Ulu (OKU)

6 Mwe (Spekulatif)

120

Energi, Lingkungan dan Batubara

mata air panas dengan suhu 32 – 420 C, debit 8 – 10 liter/menit, muncul pada 3 lokasi sepanjang struktur secara searah dengan sungai Air Luas. 4 Marga Bayur (Lawang Agung) Ogan Komering Ulu (OKU) 35 Mwe (Hipotesis) Anomali Hg = 400 s.d 20.000 ppb, dan anomali CO2 dalam tanah 0,2 s.d 0,93 %. Anomali resistivity (rendah) 3 – 10 ohm – meter dengan luas 3 – 4 km2. Manifestasi panas bumi terdapat sepanjang sungai Alahan berarah Baratlaut – Tenggara terdapat berupa fumarola dengan temperatur 96 – 1060 C, kubangan lumpur panas mata air panas dengan suhu subsurface berdasarkan geothermometer SiO2 adalah 199 – 2830 C dan berdasarkan geothermometer Na/K dijumpai di Gemurak Alahan, Gemuruk Bubur, Gemuruk Keniningan dan Gemurak Balirang. Anomali Hg dijumpai di sekitar sumber mata air panas 228 – 496 ppb, dan anomali CO2 dalam tanah adalah 0,36 – 0,72 % CO2. Manifestasi panasbumi muncul berupa mata air panas pada beberapa lokasi di tebing sungai Selunbung dengan temperatur 60 – 650 C dengan debit liter/menit.

5

Way Selabung

Ogan Komering Ulu (OKU)

6 Mwe (Spekulatif)

*) Sumber Direktorat Vulkanologi dan Divisi Panasbumi Pertamina, Januari 2000

Energi, Lingkungan dan Batubara

121

340.81

361.87

209.07

65.82 101.76

485.81

OKU

OKI

Ma. Enim

Lahat

MURA

MUBA

Gambar 7. Potensi Biomassa Sumatera Selatan (GWh)

12.84 26.47 12.98

11.72 10.76

10.64

OKU

OKI

Ma. Enim

Lahat

MURA

MUBA

Gambar 8. Potensi Biogas Sumatera Selatan (GWh)

122

Energi, Lingkungan dan Batubara

1,111

3,731

3,202

1,369

410

755

OKU

OKI

Ma. Enim

Lahat

MURA

MUBA

Gambar 9. Potensi Kayu Bakar Sumatera Selatan (GWh) STRATEGI PENGELOLAAN ENERGI SUMATERA SELATAN Strategi pengelolaan energi di Sumatera Selatan berlandaskan pada peraturan perundang-undangan yang sudah ada dan yang akan keluar. Sebelum melakukan strategi ini, perlu melakukan identifikasi permasalahan dengan SWOT analysis, yaitu menghimpun kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang ada di Sumatera Selatan. 1. Kekuatan a. Potensi sumber daya energi (SDE) konvensional yaitu minyak, gas dan batubara masih besar, tetapi tingkat pemanfaatannya belum optimal b. Potensi SDE non konvensional seperti tenaga air, biomassa dan panas bumi cukup memadai. c. Cadangan coal bed methane (CBM) yang juga menjanjikan untuk energi alternatif masa mendatang. d. Sumber daya manusia yang dihasilkan melalui perguruan tinggi dari Sumatera Selatan atau dari tempat lain. e. Konversi energi primer ke energi sekunder dan final. 2. Kelemahan a. Lokasi SDE terpisah dengan konsumen b. Infrastruktur energi untuk akses keluar sangat kurang c. Cadangan minyak bumi yang makin berkurang sedangkan teknologi EOR belum memadai. d. Sebagian besar produk gas bumi masih diekspor. Energi, Lingkungan dan Batubara 123 VI.

e. Selalu adanya ego sektoral sehingga tidak/kurang terintegrasinya kegiatan penelitian dan pengembangan energi. 3. Peluang a. Perkembangan ekonomi nasional sudah membaik setelah krisis ekonomi 1997. b. Pemanfaatan energi dapat mendorong kegiatan-kegiatan perekonomian di desa yang selanjutnya dapat menghadirkan kekuatan ekonomi baru. c. Penganekaragaman pemakaian SDE di Sumatera Selatan masih sangat terbuka, karena jumlah dan jenis energi cukup mamadai. d. Peluang pemanfaatan gas alam untuk masyarakat, terutama rumah tangga. e. Harga batubara peringkat rendah yang murah yang memungkinkan PLTU mulut tambang. f. Batubara LRC dapat menjadi HRC dengan teknologi UBC, dapat diekspor. g. Meningkatnya harga energi dunia, merupakan angin segar untuk energi batubara. h. Terbuka peluang untuk likuifaksi dan gasifikasi batubara untuk masa mendatang. 4. Ancaman a. Keterbatasan infrastruktur energi seperti kereta api, pelabuhan dan lainnya, menyulitkan akses keluar. b. Ketergantungan sektor transportasi kepada BBM masih sangat tinggi untuk masa mendatang sedangkan produksi terus menurun. c. Intensitas energi yang masih tinggi, menunjukkan bahwa efisiensi pemakaian energi masih rendah. d. Iklim investasi yang belum kondusif. Dari SWOT analysis ini akan didapatkan isu-isu kritis energi dalam pembangunan. 1. Minyak dan gas bumi merupakan andalan untuk penerimaan devisa, namun minyak akan habis dalam 10 tahun dan gas dalam 30 tahun bila tidak ditemukan cadangan baru dan teknologi lifting yang baru. 2. Pemakaian minyak bumi dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun terutama sektor transportasi. 3. Pemakaian gas bumi dalam negeri masih terbatas karena kurangnya infrastruktur.

124

Energi, Lingkungan dan Batubara

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

11. 12. 13. 14.

Cadangan batubara sangat menggembirakan, namun kurangnya infrastruktur untuk akses keluar. Kualitas batubara yang rendah, tidak dapat dijual ke luar negeri. Teknologi UBC sudah ada, namun tidak mudah untuk mengajak investor untuk menanamkan modalnya. Teknologi likuifaksi dan gasifikasi batubara sudah ada, tapi biaya investasinya sangat tinggi. PLTU mulut tambang dapat dibangun, namun perlu sarana infrastruktur dan konsumen dalam negeri atau pun luar negeri. Memungkinkan kereta listrik (KRL) dengan menggunakan listrik dari PLTU mulut tambang, tapi biaya investasinya sangat tinggi. Potensi panas bumi dan tenaga air cukup memadai dan tidak dapat diekspor serta merupakan energi bersih, sedangkan penggunaan masih sedikit, dan juga pembebasan lahan yang cukup luas. Potensi sumber energi terbarukan cukup besar, tapi biaya produksi yang belum kompetitif. Teknologi energi masih dikuasai oleh ahli luar negeri. Harga energi menuju pada tingkat keekonomian tapi daya beli masyarakat masih rendah. Masalah lingkungan baik secara fisik maupun sosial masih sering terabaikan.

Dari isu-isu kritis ini dapat dilakukan perencanaan pengelolaan energi dengan memilih isu-isu yang paling kritis, namun semuanya harus mengemban amanat UUD 1945 Pasal 33 Ayat 2 dan Ayat 3. Langkah-langkah pengelolaan yang perlu dipersiapkan adalah : 1. Memahami peraturan perundang-undangan yang ada serta mengeluarkan Perda untuk landasan petunjuk pelaksanaan kegiatan sektor energi sebagai instrumen legislasi. 2. Menyiapkan/membuat instrumen kelembagaan untuk mengatur/ mengawasi/ melaksanakan kegiatan-kegiatan keenergian atau yang terkait. 3. Menyiapkan Master Plan Energi Sumatera Selatan yang terkait dengan jumlah dan jenis cadangan energi, baik energi konvensional maupun nonkonvensional, pembangunan daerah Kabupaten/ Kota di Sumatera Selatan dan kemungkinan untuk pasar luar Sumatera Selatan termasuk luar negeri. 4. Pengaturan eksploitasi energi primer yang ada, mengingat minyak bumi sudah hampir habis, sedangkan cadangan gas dan batubara masih cukup mamadai.

Energi, Lingkungan dan Batubara

125

5. 6.

7.

8. 9.

Pemakaian batubara untuk PLTU mulut tambang, karena LRC yang lebih murah dan teknologinya sudah ada. Karena memungkinkan LRC menjadi HRC dengan teknologi UBC yang sudah ada, perlu dibangun juga pabrik UBC pada mulut tambang, dan produknya dapat diekspor. Pengelolaan energi harus memperhatikan sektor transportasi yang tetap akan menggunakan BBM dalam porsi yang besar. Perlu pemikiran pemakaian bahan bakar cair atau gas dari batubara. Perlu dipelajari kemungkinan pemakaian kereta listrik (KRL) antar kota di Sumatera Selatan memakai energi listrik dari PLTU mulut tambang. Terus diupayakan penelitian dan pengembangan energi non-konvensional di Sumatera Selatan, terutama coal bed methane (CBM) yang cadangannya sangat besar.

Semua langkah-langkah di atas di dalam pengelolaannya harus mengikutsertakan semua stake holders termasuk masyarakat, guna tercapainya sasaran pembangunan sektor energi. VII. PENGELOLAAN ENERGI SECARA ARIF

Pengelolaan energi secara arif mencakup upaya mempertahankan sumber daya energi (SDE) selama mungkin (konservasi energi) dan menjamin pemenuhan kebutuhan energi serta keberadaan sumberdaya energi dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat sekitar. Dengan demikian perlu ada regulasi yang menyangkut eksplorasi dan eksploitasi SDE, guna terdapatnya keseimbangan antara supply dan demand energi primer maupun sekunder. Penyiapan sumber daya manusia yang handal untuk dapat mengelola SDE perlu dilakukan sehingga peran tenaga ahli Indonesia (termasuk yang berasal dari daerah cadangan energi primer dan energi sekunder/ final) secara berangsur menggantikan tenaga asing. Pemerintah secara aktif melaksanakan tugas sebagai fasilitator selain regulator baik dari aspek keamanan dan insentif untuk menciptakan suasana kondusif. Biaya lingkungan (fisik dan sosial) harus diperhitungkan secara baik, dimasukkan pada biaya produksi. Perlu dihindari tidak terjadi masyarakat enklaf dari perusahaan tambang, sehingga terjadi pembauran dengan masyarakat setempat membentuk community kebersamaan. Community development perusahaan sejalan dengan pengembangan daerah/ wilayah di mana perusahaan berada dengan menciptakan kondisi saling membutuhkan antara Pemda, Perusahaan dan Masyarakat setempat, misalnya terbentuknya kegiatan bisnis masyarakat yang saling menunjang. Perusahaan, Pemerintah Daerah, dan 126 Energi, Lingkungan dan Batubara

Masyarakat harus bersama-sama memikirkan/ menyiapkan sendini mungkin kegiatan ekonomi yang tetap berjalan pada masa pasca tambang (SDE habis). Keberadaan SDE di Sumatera Selatan dapat menerapkan tarif listrik yang lebih rendah untuk daerah sumber energi primer sekaligus energi final (energi listrik), atas pertimbangan biaya transportasi energi ke konsumen lebih murah. Dengan adanya tarif listrik yang relatif lebih murah, dapat merupakan daya tarik masyarakat sekitar tambang untuk meningkatkan kegiatan perekonomian daerah, yang sekaligus membuka peluang kerja/ peluang usaha guna menunjang pengembangan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan meningkatnya harga minyak bumi dunia pada saat ini, menyebabkan harga BBM juga meningkat, akan membuka peluang pemakaian batubara/ briket sebagai bahan bakar rumah tangga, sekaligus dapat membuka peluang untuk koperasi atau pengusaha kecil berbisnis. Juga akan terbuka peluang adanya PLTU mulut tambang, batubara UBC, perusahaan pencairan dan gasifikasi batubara, kesemuanya membuka peluang kerja bagi masyarakat. Oleh karena itu seyogyanya karunia Allah SWT menjadikan Sumatera Selatan menjadi Lumbung Energi Nasional dapat dikelola secara arif untuk kemaslahatan hambaNya sebagai khalifah di bumi-Nya ini. VIII. PENUTUP Sumber daya energi Propinsi Sumatera Selatan yang potensial untuk dikembangkan untuk saat ini adalah Gas Bumi dan Batubara, mengingat cadangan minyak bumi sudah menipis. Untuk jangka panjang energi terbarukan merupakan energi alternatif seperti energi air, energi surya, energi biomassa, biogas, dan coal bed methane (CBM). Jumlah cadangan batubara yang besar di Sumatera Selatan termasuk Low Rank Coal (LRC), dapat dipakai secara langsung untuk PLTU mulut tambang, untuk High Rank Coal dengan proses UBC technology, likuifaksi dan gasifikasi. Listrik dari PLTU dapat digunakan untuk kereta listrik (KRL) antar kota di Sumatera Selatan (dapat juga lebih luas). Selain untuk kebutuhan industri dan rumah tangga yang memungkinkan dijual ke P. Jawa, Sumatera dan Negara Tetangga. Gas yang ada dapat dikirim ke luar Sumatera Selatan, selain kegunaan di wilayah ini untuk bahan bakar industri, rumah tangga, dan transportasi. Kesemuanya memerlukan kearifan dalam pengelolaan SDE, guna memenuhi amanah UUD 1945 dengan kata kunci “Kemakmuran rakyat”.

Energi, Lingkungan dan Batubara

127

DAFTAR PUSTAKA Arpaden Silaban., "Improved Coal Gasification Technology", Disampaikan pada Seminar Sehari Teknologi Batubara, Pusat Penelitian Energi Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya, 21 September 1998. BPPT, NEDO dan Kobe Steel Ltd., “Feasibility Study on Direct Liquefaction on Banko Coal in Indonesia” March 2002. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia., “Kebijakan Batubara Nasional Tahun 2004 – 2020”, Jakarta 2004. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia, “Kebijakan Pengembangan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Energi Hijau)”, Jakarta, 2003. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia, “Kebijakan Energi Nasional 2003 – 2020”, Jakarta, 2004. Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Propinsi Sumatera Selatan, “Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan”, Palembang, 2003. ….., “Energy Outlook & Statistics 2004”, Pengkajian Energi Universitas Indonesia, 2004. Indonesian Coal Society, “Coal Technology 2000”, Proceedings International Conference and Exhibition on Low Rank Coal Utilization, Jakarta, November 2000. Lembaga Teknologi Sriwijaya, “Due Diligence Studi Kelayakan Pencairan Batubara Banko Sumatera Selatan”, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Palembang, 2002. Machmud Hasjim., “Peluang dan Tantangan Batubara Sumatera Selatan”, Makalah Seminar Nasional Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi”, Jakarta, Nopember 2000.

128

Energi, Lingkungan dan Batubara

Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., dan Taufik Toha., “The Prospect of the Development of Mine-Mouth Coal Fired Power Plant in Musi Banyuasin, South Sumatra”, Third International Conference and Exhibition of Coal Technology, Bali, 13-14 June 2002. Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., dan Taufik Toha., “Utilization Opportunity of South Sumatra Low Rank Coal”, The 4th International Conference and Exhibition on Coal Tech 2003, Indonesian Coal Society, 2003. Machmud Hasjim., Syarfiuddin Ismail., dan Taufik Toha., “Prospect of South Sumatra to Export Electricity to the South East Asia”, The 5th International Conference and Exhibition on Coal Technology, Kuala Lumpur, Malaysia, 2004. Machmud Hasjim., dan Taufik Toha., “Prospek Sumatera Selatan sebagai Pusat Penghasil Energi”, Temu Profesi Tahunan XIII Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Palembang, 2004. Macmud Hasjim., “Peran Perusahaan Pertambangan dalam Mempercepat Pembangunan Daerah”, Lokakarya PWI tentang Perbatubaraan, Palembang, 11–12 April 2005. Rosihan Arsyad, “The Implementation of Coal Liquefaction Technology: a New Challenge for Investment Opportunity in South Sumatra”, Seminar Teknologi Pencairan Batubara, Jakarta, Pebruari 2002. Wimpy S. Tjetjep, “Strategic Planning of Low Rank Coal Utilization in Indonesia”, Indonesian – Japan Joint Seminar on UBC Technology, Jakarta

Energi, Lingkungan dan Batubara

129

PANDANGAN TERHADAP RUU TENTANG ENERGI Dilihat dari Aspek Teknologi, Hukum, Lingkungan, Sosial dan Budaya Kemasyarakatan Konsultasi Publik Dalam Rangka Sosisalisasi RUU Tentang Energi Hotel Horison Palembang, 6 November 2006 Machmud Hasjim

A. PENDAHULUAN

PENGUASA

ENERGI : PENTING, STRATEGI
PENYEDIAA PEMANFAAT PENGUASA

RUU ENERGI

LINGKUNGA KESELAMAT LITBANG

KETERSEDIAAN ENERGI NASIONAL

SDM DAN LAIN-

B.

KONDISI ENERGI Kebutuhan energi meningkat Energi mix nas : dominan minyak bumi (54,4%) Cadangan minyak bumi : menipis, harga tinggi Import minyak bumi dan BBM meningkat

130

Energi, Lingkungan dan Batubara

Berdampak pada Perekonomian nasional

Mengurangi ketergantungan terjadap BBM Mengembangkan energi alternatif Melakukan konservasi energi C. POTENSI ENERGI

Cadangan Minyak Bumi Nasional

Energi, Lingkungan dan Batubara

131

Cadangan Gas Bumi Nasional

35,000 30,000 25,000 Juta Ton 20,000 15,000 10,000 5,000 0 14.2

32220.1 28653.2 Jaw a Sumatra Kalimantan Sulaw esi Maluku 233.1 2.1 151.3 Papua

1

Lo kasi

ya Batubara (61,27 miliar ton)

132

Energi, Lingkungan dan Batubara

Coal Bed Methane (Sumberdaya 337 TSCF)

JENIS ENERGI Energi Air Panas Bumi Biomassa Mini/Mikrohidro

SUMBERDAYA 75,67 GW 27,15 GW 49,81 GW 458,75 MW

Sumberdaya Energi Terbarukan

Energi, Lingkungan dan Batubara

133

D.

PENYEDIA ENERGI

Produksi Minyak Bumi

Produksi Gas Bumi

134

Energi, Lingkungan dan Batubara

TAHUN 1993 2004 2005 2010 (Perkiraan)

PRODUKSI 27,8 juta ton 127,2 juta ton 132,0 juta ton 171,0 juta ton Produksi Batubara

E.

PEMANFAATAN ENERGI (ENERGI MIX NASIONAL)

5 14,1 54,4 26,5
32,7

10,5 26,2

30,6

Minyak Bumi Gas Bumi F. PANDANGAN TERHADAP RUU ENERGI

Batubara EBT

Aspek Teknologi : - Peran Teknologi : Pencarian, penyediaan, pengolahan, pemanfaatan, perlindungan lingkungan - Batubara : Briket, UBC, Likuifaksi, Gasifaksi, Coal, Slurry dan lain-lain - EBT : Panas bumi, biomassa (biodiesel, bioetanol, biogas), nuklir, coal bed methane, tenaga air dll Telah diatur dalam RUU Energi - Bab IX Pasal 15 dan 16 (Penelitian dan Pengembangan ) - Bab X Pasal 17 dan 18 (Pengembangan SDM) Aspek Lingkungan

Energi, Lingkungan dan Batubara

135

- Penyediaan dan pemanfaatan enrgi akan mengakibatkan dampak lingkungan - Teknologi berperan dalam mengurangi dampak terhadap lingkungan Telah diatur dalam RUU energi - Bab VII Pasal 13 (Lingkungan dan Keselamatan) Aspek Hukum - Penyediaan dan Pemanfaatan ebergi berkaitan dengan hampir semua sektor lain - RUU perlu mengacu dan diselaraskan dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di berbagai sektor (UU Migas, Panas Bumi, Ketenaganukliran, Pertambangan, Lingkungan dll) Aspek Sosial dan Budaya Kemasyarakatan - Perlu dilakukan sosialisasi keenergian kepada masyarakat luas - Kegiatan konsultasi publik dan sosialisasi Rancangan Undang-Undangan tentang energi merupakan salah satu bentuk penyebarluasan informasi kepada masyarakat - Hal-hal yang perlu disosialisasikan kepada masyarakat antara lain : peraturan perundang-undangan, kebijakan, program, strategi, teknologi energi, konservasi energi dan sebagainya. G. PENUTUP - RUU tentang energi mengatur banyak aspek secara komprehensif (penguasaan, penyediaan, pemanfaaan, pengusahaan, lingkungan dan keselamatan, litbang, SDM dll), didasarkan pada kondisi energi saat ini dan prediksi ke depan dengan mempertimbangkan kondisi energi nasional dan global, termasuk aspek teknologi, aspek lingkungan, aspek hukum dan aspek sosial dan budaya kemasyarakatan. - Sumberdaya energi harus dikelola secara bijak dan berkelanjutan serta berwawasan lingkungan - Dalam pengelolaan energi secara optimal diperlukan perauran perundang-undangan yang akomodatif, yaitu enguntungkan semua pihak (Pemerintah, Pelaku Usaha dan Kemasyarakatan)

136

Energi, Lingkungan dan Batubara

PENCAIRAN BATUBARA KABUPATEN MUSI BANYUASIN SUMATERA SELATAN DENGAN TEKNOLOGI IMPROVED BCL
M. Hasjim1, H. Basri1, T. Toha1, L.H. Silalahi2, dan S.D.S. Murti2 1.Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Palembang 2.Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta Kontak Person: Dr. Ir. H. M. Taufik Toha, DEA Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Jl. Raya Palembang – Prabumulih Km. 32 Inderalaya, Ogan Ilir, 30662 Telp: 0711-580739, Fax: 0711-580062, E-mail: taufik_toha@yahoo.com

ABSTRAK Pencanangan Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional oleh Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 9 November 2004 yang lalu ditindaklanjuti oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi dengan menunjuk Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya sebagai Lembaga Pengelola Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) Bidang Pengembangan Energi. Berdasarkan kondisi potensi Sumatera Selatan dan ketersediaan teknologi serta pertimbangan kebutuhan energi di masa mendatang, maka ditetapkan salah satu topik RUSNAS Pengembangan Energi adalah Pencairan Batubara dengan metode Improved Brown Coal Liquefaction (Improved BCL). Teknologi improved BCL cocok untuk diterapkan pada batubara peringkat rendah dengan kadar sulfur rendah (<1%) dan kadar abu rendah (<10%), sehingga sangat sesuai untuk batubara Sumatera Selatan. Lokasi Kabupaten Musi Banyuasin termasuk coastal site memberikan keunggulan dalam hal aksesibilitas untuk pengangkutan peralatan untuk pabrik pencairan batubara, atas pertimbangan tersebut telah dilakukan penelitian teknologi pencairan batubara dengan metode improved BCL untuk batubara Kabupaten Musi Banyuasin. Penelitian yang dilakukan meliputi pemetaan potensi batubara yang dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran umum kondisi di sekitar potensi batubara seperti kondisi geologi, kondisi iklim, kondisi kependudukan, aksesibilitas dan sebagainya. Selanjutnya dilanjutkan dengan pengambilan sampel batubara. Pengujian laboratorium dilakukan dengan riset pengembangan untuk meneliti kondisi proses yang optimum (temperatur, tekanan, jumlah dan jenis

Energi, Lingkungan dan Batubara

137

katalis dan sebagainya) guna meningkatkan efisiensi dan menekan biaya produksi pencairan batubara. Hasil pengujian pencairan batubara Kabupaten Musi Banyuasin dengan metode Improved BCL menunjukkan destilate berkisar 39,2% hingga 51,7%. Hasil pre-feasibility study pencairan batubara menunjukkan biaya produksi berkisar antara 30 USD/barrel (untuk daerah coastal site) hingga 35 USD/barrel (mine mouth). Mengingat lokasi potensi batubara Kabupaten Musi Banyuasin yang dekat pantai dan hasil pengujian pencairan batubara yang memberikan hasil yang besar, maka batubara Kabupaten Musi Banyuasin Potensial untuk digunakan sebagai bahan baku pencairan batubara dengan teknologi Improved BCL. Kata kunci : pencairan batubara, improved BCL, coastal site, Musi Banyuasin.

ABSTRACT Announcement of South Sumatra as National Energy Stockpile by the President of Republic of Indonesia, Mr. Susilo Bambang Yudhoyono on November 9th, 2004 carried on by State Minister of Research and Technology by directing Faculty of Engineering, University of Sriwijaya to be Manager Institution of National Strategic Priority Research (RUSNAS) on Energy Development Sector. Based on South Sumatra potency and technology availability and considering energy demand in the future, decided that one of RUSNAS of Energy Development topic is coal liquefaction using Improved Brown Coal Liquefaction (Improved BCL) method. The Improved BCL technology is suitable for low range coal with low sulphur content (<1%) and low ash content (<10%), so it is suitable for South Sumatra Coal. Location of Musi Banyuasin Regency categorized as coastal site have advantages in case of accessibility for equipment transportation for coal liquefaction plant, based on the consideration a research of coal liquefaction technology using Improved BCL method is performed using coal of Musi Banyuasin Regency. Research being performed including mapping of coal potency to describe general condition around the coal potency such as geologic, climate, demography, accessibility, etc. Furthermore coal sampling being performed.

138

Energi, Lingkungan dan Batubara

Laboratory testing performed using research development to examine optimum condition processes (temperature, pressure, amount and type of catalyst, etc) to increase efficiency and compress production cost of coal liquefaction. Result of liquefaction of Musi Banyuasin Regency coal using Improved BCL for distillate is approximately 39.2% to 51.7%. Pre-feasibility study of coal liquefaction resulting production cost about 30 US$/barrel (coastal site) to 35 US$/barrel (mine mouth). Considering location of coal potency on Musi Banyuasin Regency that near to the beach and coal liquefaction research that give a considerable result, the coal on Musi Banyuasin Regency is potential to be use as raw material for coal liquefaction using Improved BCL technology. Keywords: coal liquefaction, Improved BCL, coastal site, Musi Banyuasin.

Energi, Lingkungan dan Batubara

139

I.

PENDAHULUAN

Pada tanggal 9 November 2004 Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional. Sejalan dengan hal tersebut Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah menyusun program tersebut melalui percepatan pembangunan di sektor keenergian. Program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional tersebut ditindaklanjuti oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi dengan menetapkan bidang energi sebagai salah satu bidang dalam Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS). Lebih lanjut Menteri Negara Riset dan Teknologi menunjuk Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya sebagai Lembaga Pengelola RUSNAS Bidang Pengembangan Energi. Mendapat tugas strategis tersebut, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya segera mempersiapkan diri dan menggalang kerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Berdasarkan hasil pemikiran dan diskusi dengan berbagai pihak yang terkait, ditetapkan topik penelitian RUSNAS Bidang Pengembangan Energi adalah Pencairan Batubara dengan metode Improved Brown Coal Liquefaction (Improved BCL) dan Biodiesel dari Crude Palm Oil (CPO). Penentuan topik pencairan batubara dengan metode Improved BCL didasarkan atas beberapa pertimbangan kondisi perminyakan, cadangan batubara, ketersediaan teknologi dan sebagainya. Cadangan minyak nasional dan dunia yang semakin menipis, tingginya harga minyak mentah serta mulai terjadinya kelangkaan BBM mengingatkan kita untuk segera mencari energi alternatif. Melihat potensi sumberdaya energi yang dimiliki, maka cadangan batubara yang besar merupakan salah satu energi alternatif yang potensial untuk digunakan sebagai pengganti minyak bumi di masa mendatang. Hal ini ditunjang dengan ketersediaan teknologi pencairan batubara yang memungkinkan pemanfaatan batubara peringkat rendah secara ekonomis dan lebih berwawasan lingkungan. Teknologi pencairan batubara telah dipelajari dan telah dilakukan penelitian skala laboratorium dan telah termasuk kategori terbukti (proven). Hasil penelitian skala laboratorium menunjukkan batubara Indonesia (Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur) menghasilkan yield yang besar. Penelitian terdahulu menunjukkan biaya produksi batubara cair dengan metode Improved BCL berkisar 30 – 35 USD, dengan harga minyak mentah dunia akhir-akhir ini yang mencapai kisaran 70 USD, hal ini merupakan peluang yang menjanjikan dalam keekonomian pencairan batubara dan pemenuhan kebutuhan energi nasional. 140 Energi, Lingkungan dan Batubara

Pemanfaatan batubara sebagai pengganti minyak bumi juga sejalan dengan Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2003 – 2025 yang menargetkan untuk menekan pangsa minyak bumi secara bertahap dari 54,4% pada tahun 2003 menjadi 26,2% pada tahun 2025, dan sebaliknya meningkatkan pangsa batubara dari 14,1% menjadi 32,7%. RUSNAS bidang pengembangan energi melakukan riset pengembangan terhadap teknologi BCL guna mengetahui kondisi proses optimum untuk masingmasing jenis batubara agar dapat meningkatkan efisiensi proses dan menekan biaya produksi batubara cair. II. POTENSI BATUBARA Nasional Indonesia mempunyai cadangan batubara sebesar 61,27 milyar ton yang tersebar 46,76 % di Sumatera (terbesar di Sumatera Selatan), 52,58% di Kalimantan dan sedikit di Papua, Sulawesi dan Jawa “Gambar 1”. Jumlah cadangan terukur baru 10,31 milyar ton dan cadangan tertambang 6,76 milyar ton. Cadangan terunjuk adalah 12,68 milyar ton dan cadangan tereka 34,32 milyar ton. Sebagian besar cadangan batubara tersebut masuk pada peringkat rendah (lignit) 58,7 %, subbituminus 26,7 % bituminus 14,35 % dan antrasit 0,3 %. Produksi batubara pada tahun-tahun terakhir meningkat dengan tajam dari 27,8 juta ton pada tahun 1993 menjadi 127,2 juta ton pada tahun 2004 dan 132 juta ton pada tahun 2005. Pemakaian batubara dalam negeri juga meningkat dari 2,2 juta ton menjadi 31 juta ton pada tahun 2004. Demikian juga ekspor meningkat dari 5,8 juta ton menjadi 96 juta ton pada tahun 2004. Peran pemakaian batubara dalam negeri sebagai energy mixed juga sangat menggembirakan mencapai 16 % dan sebagai energi pembangkit 30,1 % pada tahun 2003. Diperkirakan pada tahun 2010 produksi batubara Indonesia mencapai 171 juta ton dengan kegunaan 47,7 juta ton untuk pembangkit listrik, 10,8 juta ton untuk industri semen. Peran batubara sebagai energi-mix juga meningkat menjadi 18 % dan energi pembangkit mencapai 46,3 %. Bila dilihat dari perkembangan pemakaian batubara tersebut dan prakiraan tahun 2010, terlihat jelas dan meyakinkan terjadinya diversifikasi energi di Indonesia dari minyak bumi ke batubara.

Energi, Lingkungan dan Batubara

141

32220.1 35,000 30,000 25,000 Juta Ton 20,000 15,000 10,000 5,000 0
1

28653.2

Jawa Sumatra Kalimantan Sulawesi Maluku Papua 14.2 233.1 2.1 151.3

Lokasi

Gambar 1. Cadangan batubara nasional (juta ton) Sumatera Selatan Cadangan: Cadangan batubara di Sumatera Selatan sebanyak 22,24 milyar ton yang terdiri dari cadangan terukur 5,3 milyar ton, cadangan terunjuk 6,8 milyar ton dan cadangan tereka 10,14 milyar ton. Cadangan tersebut tersebar di berbagai Kabupaten di Sumatera Selatan. Kabupaten yang memiliki cadangan batubara terbesar adalah Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Lahat “Gambar 2”.
325.00 3,491.71 1,235.00 2,714.97 836.79 OKI OKU Ma. Enim 13,636.53 Lahat MURA MUBA

Cadangan : 22.240,0 Juta ton

Gambar 2. Cadangan batubara Sumatera Selatan (juta ton) Kualitas: Kualitas batubara yang ditemukan di wilayah Sumatera Selatan adalah sangat bervariasi, baik dilihat dari sifat kimia maupun sifat fisik “Tabel 1”. Perbedaan kualitas ini erat hubungannya dengan lingkungan dan waktu pengendapan batubara tersebut. Batubara yang terbentuk lebih awal pada umumnya memiliki peringkat (rank) lebih tinggi dari batubara yang 142 Energi, Lingkungan dan Batubara

diendapkan kemudian. Sebanyak 58,7% batubara Sumatera Selatan termasuk kategori lignit (nilai kalori <5.100 kal/gr) , 26,7% sub bituminus (5.100 – 6.100 kal/gr), dan 14,3% bituminus ( nilai kalori 6.100 – 7.100 kal/gr) dan sisanya 0,3% antrasit (nilai kalori >7.100 kal/gr).

Tabel 11. Analisis proksimat, ultimat, fisik dan petrografi batubara Sumatera Selatan Lokasi (Kabupaten) Lahat MUBA 4.40 – 29.80 2.72 – 7.05 35.43 – 41.09 33.60 – 51.65 4,694 – 7,185 0.18 – 0.61 49.67 – 64.11 3.92 – 8.83 0.63 – 1.10 9.84 – 19.31 48 – 65 87 3 5 5 0.38 – 1.10 25.01 5.15 35.93 33.91

Parameter Proksimat (% adb) - Air Lembab - Abu - Zat Terbang - Karbon Tertambat

Muara Enim 12.57 – 41.04 3.88 – 8.79 33.65 – 42.48 28.24 – 41.49 4,140 – 6,867 0.15 – 0.57 40.63 – 68.66 3.39 – 5.70 0.50 – 1.10 8.45 – 21.79 47 – 62 80 – 83 4–8 5–6 6–7 0.46 – 0.55

MURA 17.90 5.00 35.40 35.52

Nilai Kalor, kal/gr (adb) Ultimat (%) - Total Sulfur - Karbon - Hidrogen - Nitrogen - Oksigen

4,870

5,090

0.69 50.96 6.93 1.06 35.21

0.20 -

HGI Petrografi (%) - Vitrinit - Inertinit - Liptinit - Mineral - Rvmax

48 88 4 4 4 0.42

50 84 5 6 5 0.41

1

Neraca Sumber Daya Energi Sumatera Selatan, 2004 143

Energi, Lingkungan dan Batubara

III.

PENELITIAN LAPANGAN 3.1. Pemetaan Batubara Kegiatan pemetaan batubara meliputi survey ke lokasi cadangan batubara. Di lokasi potensi batubara dilakukan penelitian kondisi geologi, kesampaian daerah, dan ketersediaan infrastruktur dan kondisi umum di sekitar lokasi (pemanfaatan lahan, kemasyarakatan, dan sebagainya). Lokasi survey batubara terletak di desa Cinta Damai Kecamatan Sungaililin Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Lokasi tersebut dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat dari Palembang maupun Jambi. Daerah studi terletak ± 143 km dari Palembang ke arah Barat Laut ”Gambar 3”. Jalan antara Palembang-Jambi merupakan Jalan Nasional dengan kondisi aspal hotmix, sedangkan jalan masuk ke lokasi merupakan jalan aspal kelas 2 dan sebagian merupakan jalan tanah yang diperkeras dan dalam kondisi hujan hanya dapat dilalui oleh kendaraan four wheel drive (4WD). Lokasi singkapan batubara hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki.

Gambar 3. Lokasi studi 3.2. Sampling Batubara Parit uji (Trenches): Pembuatan parit uji dilakukan dengan menggunakan cangkul untuk menggali lapisan tanah penutup hingga membentuk parit yang searah dengan strike batubara (lebar 1,5 m kedalaman 1 m dan panjang ± 100 m). Jumlah parit uji yang dibuat sebanyak tiga buah dan berjarak ± 100 meter satu sama lain. Selanjutnya setelah ditemukan lapisan batubara, dilakukan pengambilan sampel di dinding dan di dasar parit uji. Dalam satu parit, sampel diambil dengan interval (mendatar) 144 Energi, Lingkungan dan Batubara

10 meter. Berat sampel yang diambil dari setiap titik pada parit uji berkisar 25 kg. Untuk pengambilan sampel, lapisan batubara yang paling atas dibuang ± 40 cm untuk menghindari pengotoran. Sumur uji (test pits): Pembuatan sumur uji dilakukan secara manual dengan menggunakan cangkul, dan ember untuk membuang lapisan tanah penutup. Sumur uji yang dibuat berbentuk persegi dengan ukuran 1,5 m x 1,5 m dengan kedalaman berkisar 8 – 10 m. Jumlah sumur uji yang dibuat sebanyak 9 buah dengan interval masing-masing 100 meter dengan pola bujur sangkar. Sampel batubara diambil dari keempat sisi dinding sumur uji dengan berat yang relatif sama dan total berat sampel dari satu sumur uji berkisar sekitar 100 kg. Seperti pada pengambilan sampel pada parit uji, lapisan batubara yang paling atas juga dibuang ± 40 cm agar mendapatkan batubara yang bersih. Penanganan sampel:Sampel dari parit uji seberat ± 750 kg dan sampel dari sumur uji seberat ± 900 kg dicampur hingga didapatkan sampel total ± 1.650 kg. Selanjutnya dilakukan pengerucutan dan perempatan beberapa kali hingga didapat sampel yang homogen. Sampel seberat 1.650 kg yang telah homogen tersebut dengan cara perempatan (quarterring) dibagi menjadi 4 (empat) bagian yang relatif sama. ¼ bagian (± 412,5 kg) diambil untuk dilakukan penanganan lebih lanjut sementara ¾ bagian lainnya (± 1.237,5 kg) disimpan. Terhadap seperempat bagian yang diambil tersebut kembali dilakukan pengerucutan dan perempatan hingga homogen dan selanjutnya dibagi lagi menjadi 4 bagian. ¼ bagian (± 100 kg) diambil sebagai sampel yang akan dikirim untuk ke laboratorium sedangkan ¾ sisanya (± 300 kg) disimpan. PENELITIAN LABORATORIUM Pengujian pencairan batubara dilakukan di Laboratorium Pencairan Batubara BPPT – Serpong dengan menggunakan reaktor autoclave 1 liter ”Gambar 4”. Setelah direaksikan, produk slurry dan residu dikeluarkan dari reaktor ”Gambar 5” dan selanjutnya di destilasi dan difraksinasi ”Gambar 6” IV.

Energi, Lingkungan dan Batubara

145

Gambar 4. Reaktor Improved BCL (kapasitas autoclave 1 liter)

Gambar 5. Recovery slurry dan residu

146

Energi, Lingkungan dan Batubara

Gambar 6. Destilasi dan Fraksinasi

4.1. Kondisi Operasi Kondisi operasi pencairan batubara Kabupaten Musi Banyuasin secara ringkas adalah sebagai berikut: Batubara yang diumpan : 75 gram Rasio pelarut/mafc : 2,0 berat/berat Katalis (basis Fe) : 3,0 %bt mafc S/Fe : 3 mol/mol Temperatur : 450 oC (standard) Tekanan awal gas H2 : 12 MPa Waktu reaksi : 60 menit Kecepatan pengaduk : 1000 rpm 4.2. Feed Material Batubara Moist. VM FC Ash O : 20.9 wt% (daf) Solvent : Heavy oil Fraction Moist LO MO HO

: 45.2% (ar) : 48.9% (db) : 45.4% (db) : 5.7% (db)

C H N S

: 71.4 wt% (daf) : 4.61 wt% (daf) : 2.70 wt% (daf) : 0.44 wt% (daf)

Catalyst : Limonite Fe Content : 0.0 % Fe : 46.96% (db) : 0.66% Fe compound : 14.85% FeOOH : 79.43% FeNiS2

Energi, Lingkungan dan Batubara

147

4.3. Hasil Pengujian Hasil pengujian pencairan batubara Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan dengan metode Improved BCL process menunjukkan kondisi operasi yang optimum dicapai pada temperatur 430 °C dan tekanan 12 MPa serta waktu 60 menit “Tabel 2 dan Gambar 7”. Tabel 2. Hasil pengujian pencairan batubara Kabupaten Musi Banyuasin A 450 12 60 46,7 10,5 24,3 11,2 11,9 -4,5 100,0 B 430 12 60 51,7 15,6 20,4 9,9 8,4 -6,0 100,0 C 470 12 60 37,5 21,9 12,5 13,0 23,1 -8,0 100,0 D 450 10 60 39,2 20,6 17,9 12,7 13,7 -4,1 100,0

Temp.(oC) Press (Mpa) Time (min) Distillate H20 CLB CO + CO2 C1 - C 4 delta H Total

100% delta H 80% 60% 40% H2O 20% 0% -20% 1 2 3 4 Distillate C1 - C4 CO+CO2 CLB

Gambar 7. Hasil pengujian pencairan batubara V. PENUTUP Potensi sumberdaya batubara muda Sumatera Selatan cukup besar sebagai energi alternatif pengganti BBM. Batubara Musi Banyuasin adalah batubara muda dengan kalori 4000-4200 kcal/kg dan memiliki kandungan air yang cukup tinggi, 45 wt%.

148

Energi, Lingkungan dan Batubara

Batubara Muba cenderung memberikan produk air yang cukup tinggi 1520wt%. Parameter proses pencairan batubara Kabupaten Musi Banyuasin dengan teknologi improved BCL yang optimum adalah temperatur 430 °C dan tekanan 12 MPa dan waktu 60 menit. Hasil pengujian pencairan batubara Kabupaten Musi Banyuasin dengan teknologi Improved BCL menunjukkan hasil yang cukup baik (destilate 51,7%) Batubara Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan potensial digunakan sebagai bahan baku pencairan batubara. Lokasi potensi batubara yang berada di coastal site akan dapat menekan biaya transportasi peralatan pembangunan pabrik pencairan batubara.

Energi, Lingkungan dan Batubara

149

DAFTAR PUSTAKA
….., “Indonesian Coal and Power Including Regional Energy News,”, A Barlow Jonker Publication, Edition June 2000. Boni, S., “Coal Development and Its Challenges in Indonesia,” the fifth APEC Coal Flow Seminar, Yokohama, Japan, February 3-5, 1999. Dhebyshire; Frank J., “Catalyst in Coal Liquefaction : New Directon for Research”, IEA Coal Research, London, June 1988. Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Propinsi Sumatera Selatan, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, Palembang, 2004 . Guo, C.S., Holdgate, S., Uhlherr, P., “A New Upgrading Process for Low Rank Coal” 8th Australian Coal Science Conference, Sydney, 7 – 9 December 1998. Hasjim, M., “Peluang dan Tantangan Batubara Sumatera Selatan”, Seminar Nasional Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi, Jakarta, Nopember 2000. Hasjim, M., Ismail, S., Toha, T., “Utilization Opportunity of South Sumatra Low Rank Coal”, The 4th International Conference and Exhibition on Coal Tech 2003, The Indonesian Coal Society, 2003. Hasjim, M., Toha, T., “Prospek Sumatera Selatan sebagai Pusat Penghasil Energi”, Temu Profesi Tahunan XIII Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Palembang, 2004. Hasjim M., “Kontribusi Sumberdaya Energi Sumatera Selatan pada Pembangunan Nasional”, Pertemuan Tahunan dan Forum Diskusi IATSRI 2005, Palembang, 17 Desember 2005. Oesman, S., “Sasaran Program Pembangunan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional 2009”, Workshop Master Plan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional, Jakarta 12 Desember 2005. Tjetjep, W.S., “Strategis Planning of Low Rank Coal Utilization in Indonesia,” Indonesian – Japan Joint Seminar on UBC Technology, Jakarta, 21 Maret 2005. 150 Energi, Lingkungan dan Batubara

PROSPEK PENCAIRAN BATUBARA PERINGKAT RENDAH SUMATERA SELATAN 2 Machmud Hasjim2., dan M. Taufik Toha 3 ABSTRAK Cadangan minyak bumi nasional dan dunia semakin menipis, hal ini mengakibatkan tingginya harga minyak bumi dan mulai terjadi kelangkaan. Mengingat minyak bumi (dan turunannya) merupakan sumber energi yang paling dominan digunakan saat ini, perlu segera diupayakan energi alternatif dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional. Perlunya energi alternatif telah disadari Pemerintah yang telah menetapkan Blue Print Pengelolaan Energi Nasional, dimana pangsa minyak bumi dalam energy mix nasional diupayakan untuk ditekan dari 54,4% (tahun 2003) menjadi 26,2% (2025) dan meningkatkan pangsa energi lainnya. Salah satu sumber energi yang diunggulkan untuk menggantikan pangsa minyak bumi dalam energy mix nasional adalah batubara, hal ini dapat dilihat dari tingginya target peningatkan pangsa batubara yang diharapkan yaitu dari 14,1% (2003) menjadi 32,7% (2025), yang berarti pangsa batubara ditargetkan mengalami peningkatkan lebih dari 100%. Dalam rangka menunjang program Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional yang telah dicanangkan Bapak Presiden pada tanggal 9 Nopember 2004 lalu, Kementerian Negara Riset dan Teknologi menindaklanjuti dengan menetapkan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya sebagai Lembaga Pengelola Riset Unggulan Strategis Nasional Bidang Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (Rusnas PEBT). Salah satu topik Rusnas PEBT adalah pencairan batubara dengan Teknologi Brown Coal Liquefaction (BCL). Banyaknya yield (produk) pencairan batubara tergantung pada karakteristik dan kualitas batubara yang digunakan sebagai bahan baku. Penelitian pencairan batubara telah dilakukan di Indonesia sejak pertengahan tahun 1990-an dengan menggunakan batubara kualitas menengah (sub bituminus). Sebagian besar batubara Sumatera Selatan termasuk kualitas rendah (lignit) dan belum dimanfaatkan, oleh karena itu Rusnas PEBT melakukan penelitian pencairan batubara peringkat rendah dengan tujuan untuk percepatan pencapaian

2 3

Makalah Disampaikan pada TPT Perhapi XVI, Makasar 2007 Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Lembaga Pengelola RUSNAS PEBT 151

Energi, Lingkungan dan Batubara

sasaran sasaran energy mix nasional yang telah ditetapkan dalam blue print pengelolaan energi nasional, khususnya di sektor batubara. Hasil pengujian pencairan batubara kualitas rendah Kabupaten Musi Banyausin dan Kabupaten Lahat menunjukkan yield yang sangat menjanjikan (50 – 52%). Pengujian juga akan dilakukan terhadap batubara dari Kabupaten Muara Enim, Musi Rawas dan Ogan Komering Ulu. Memperhatikan kualitas batubara dan petrografi batubara di semua lokasi tersebut relatif sama (4500 – 5000 kkal/kg dan didominasi vitrinit) diperkirakan batubara di lokasi tersebut juga akan memberikan hasil yang baik saat pengujian. Dengan demikian seluruh batubara kualitas rendah Sumatera Selatan dapat dijadikan bahan baku pencairan batubara dengan yield yang sangat prospek. Pencairan batubara kualitas rendah Sumatera Selatan akan dapat memberdayakan potensi batubara kualitas rendah yang selama ini belum ditambang/ dimanfaatkan secara ekonomis. Dengan potensi batubara yang besar dan teknologi pencairan yang optimal dan ditunjang dengan kebijakan di tingkat nasional dan daerah serta letak geografis yang strategis dan berbagai keunggulan komparatif lainnya, Batubara kualitas rendah Sumatera Selatan memiliki prospek yang sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pencairan batubara dalam rangka percepatan pencapaian sasaran energy mix nasional dan menunjang ketersediaan energi untuk kepentingan nasional.

PENDAHULUAN Cadangan minyak bumi nasional dan dunia semakin menipis, hal ini mengakibatkan tingginya harga minyak bumi dan mulai terjadi kelangkaan. Mengingat minyak bumi (dan turunannya) merupakan sumber energi yang paling dominan digunakan saat ini, perlu segera diupayakan energi alternatif dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional. Batubara merupakan sumber energi yang potensial mengambil peran sebagai pengganti minyak bumi di masa mendatang karena penyebarannya yang relatif merata dan cadangannya yang masih besar dan mampu bertahan hingga energi baru dan terbarukan berkembang dan dapat dimanfaatkan secara komersial. Provinsi Sumatera Selatan dengan mempertimbangkan potensi energi yang dimiliki dan berbagai keunggulan komparatif lainnya telah mencanangkan diri sebagai Lumbung Energi Nasional pengembangan batubara sebagai salah satu energi unggulan.

1.

152

Energi, Lingkungan dan Batubara

Batubara Sumatera Selatan umumnya berkualitas rendah sehingga mengalami kesulitan dalam pemasaran akibat specific cost of transportation yang tinggi. Keunggulan batubara Sumatera Selatan adalah rendah kadar abu dan kadar belerang. Dengan karakteristik yang demikian, peluang pemanfaatan yang potensial adalah pemanfaatan langsung di dekat tambang, salah satunya adalah sebagai bahan bakar PLTU mulut tambang. Peluang pemanfaatan yang tidak kalah potensial adalah sebagai bahan baku konversi batubara, dimana teknologi konversi telah berkembang pesat misalnya teknologi pencairan batubara. Pencanangan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional oleh Bapak Presiden RI telah ditindaklanjuti Menteri Negara Riset dan Teknologi dengan menunjuk Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya sebagai Lembaga Pengelola Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) Bidang Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (PEBT). Dengan mempertimbangkan kondisi keenergian dan perkembangan teknologi terkini, RUSNAS PEBT difokuskan pada pencairan batubara (metode Improved BCL) dan biodiesel-CPO. Melalui kegiatan RUSNAS PEBT telah dilakukan pengujian pencairan batubara Sumatera Selatan yang menghasilkan yield yang tinggi dan secara umum batubara Sumatera Selatan memiliki prospek yang baik untuk digunakan sebagai bahan baku pencairan batubara. 2. 2.1. POTENSI BATUBARA Potensi Batubara Nasional Sumberdaya Batubara Indonesia Sebesar 65,40 miliar ton. Berdasarkan kualitasnya, 24% termasuk batubara peringkat rendah (<5.100 cal/gr), 60% peringkat sedang (5.100 – 6.100 cal/gr), 15% peringkat tinggi (6.100 – 7.100 cal/gr) serta hanya 1% yang termasuk peringkat sangat tinggi (>7.100 cal/gr) (Gambar 1). Bila ditinjau berdasarkan lokasi, Kalimantan Timur merupakan provinsi yang memiliki sumberdaya yang terbesar dan disusul Sumatera Selatan. Batubara Kalimantan Timur umumnya termasuk kategori peringkat sedang – tinggi, hanya sebagian kecil yang termasuk peringkat rendah. Sebaliknya batubara Sumatera Selatan Umumnya Termasuk peringkat rendah – sedang dan hanya sebagian kecil yang termasuk peringkat tinggi (Gambar 2).

Energi, Lingkungan dan Batubara

153

Sumber : Centre for Geo-Resources, 2007. Gambar 1. Sumberdaya Batubara Indonesia (Berdasarkan Peringkat)

Sumber : Centre for Geo-Resources, 2007. Gambar 2. Sumberdaya Batubara Indonesia (Berdasarkan Lokasi dan Peringkat) 154 Energi, Lingkungan dan Batubara

2.2.

Potensi Batubara Sumatera Selatan 2.2.1. Sumberdaya Potensi sumberdaya batubara Sumatera Selatan cukup besar yaitu 22.240,4 juta ton (Tabel I) atau sekitar 34% dari potensi sumberdaya batubara nasional (57.847,7 juta ton). Sedangkan potensi cadangan yang siap tambang di Sumatera Selatan sekitar 2.653,9 juta ton, atau sekitar 38% dari potensi cadangan siap tambang nasional (6.981,6 juta ton). Tabel I. Cadangan dan Sumberdaya Batubara Nasional (Juta Ton) 6.981,6 12.466,4 20.533,6 24.314,9 532,8 57.847,7 Sumsel (Juta Ton) 2.653,9 1.970,7 19.846,5 323,2 0 22.240,4

Potensi Cadangan Siap Tambang Terukur Terujuk Tereka Hipotetik Total

Sumberdaya

Sumber: DIM, Ditjen GSM (Status per 1 Januari 2004) Sumberdaya batubara di Sumatera Selatan tersebar di 6 kabupaten dengan jumlah sumberdaya bervariasi antara 325,00 – 13.563,21 juta ton (Tabel II). Kabupaten Muara Enim, Lahat dan Musi Banyuasin memiliki status sumberdaya terukur; Kabupaten Musi Rawas dan Ogan Komering Ulu status sumberdaya terunjuk, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir status sumberdaya tereka. Tabel II. Sumberdaya Batubara Sumatera Selatan Sumberdaya (juta ton) Terunjuk

No.

Kabupaten Terukur 13.563,21 2.714,97

Tereka

Jumlah (juta ton) 13.563,21 2.714,97 1.235,00 3.565,50 836,79 325,00 22.240,47

1. Muara Enim 2. Lahat 3. Musi Rawas 1.235,00 4. Musi Banyu Asin 3.565,50 5. Ogan Komering Ulu 836,79 6. Ogan Komering Ilir Jumlah 19.843,68 2.071,79 Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi, 2005 Energi, Lingkungan dan Batubara

325,00 325,00

155

2.2.2.

Kualitas Batubara Sumatera Selatan Kualitas batubara yang ditemukan di wilayah Sumatera Bagian Selatan adalah sangat bervariasi, baik dilihat dari sifat kimia maupun sifat fisik. Perbedaan kualitas ini erat hubungannya dengan lingkungan dan waktu pengendapan batubara tersebut. Batubara yang terbentuk lebih awal pada umumnya memiliki peringkat (rank) lebih tinggi dari batubara yang diendapkan kemudian. 2.2.2.1. Sifat Kimia Sifat kimia dari batubara ditentukan dari analisis proksimat yang terdiri dari kandungan air lembab (moisture), abu (ash), zat terbang (volatile matter) dan karbon padat (fixed carbon), ultimat (kandungan karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen dan total sulfur), nilai kalor dan komposisi abu. Batubara Sumatera Bagian Selatan mempunyai kandungan air lembab sangat bervariasi dari 4,40% – 41,04%, nilai kalor berkisar dari 4104 - 7185 kal/gr, karbon total bervariasi 40,63% - 68,66%. Kandungan abu batubara Sumatera Bagian Selatan yang merupakan bahan pengotor dalam pemanfaatan batubara pada umumnya cukup rendah (<10,00%). Demikian juga kandungannya sulfur, yaitu <1,00% (Tabel III).

2.2.2.2.

Sifat Fisik Sifat fisik batubara yang umum diuji adalah berat jenis sesungguhnya (true specific gravity/TSG), sifat ketergerusan (hardgrove grindability index/HGI), sifat pengkokasan yang ditentukan dari nilai muai bebas (free swelling index/FSI) dan titik leleh abu (ash fusion temperature). Batubara Sumatera bagian selatan mempunyai berat jenis sesungguhnya antara 1,32 – 1,45 dan nilai ketergerusan bervariasi antara 42 dan 65 (sifat ketergerusan yang menunjukkan bahwa batubara tersebut mempunyai sifat sedang-mudah untuk digerus). Sifat pengkokasan batubara Sumatera Bagian Selatan yang ditentukan oleh FSI adalah 0 (nol). Ini berarti batubara tersebut tidak mempunyai sifat untuk mengkokas/ mengembang sehingga batubara tersebut tidak dapat dipergunakan sebagai bahan baku kokas. Batubara kokas (coking coal) mempunyai nilai FSI berkisar dari 4 sampai 7. Energi, Lingkungan dan Batubara

156

Tabel III. Analisis Proksimat, Ultimat, Fisik dan Petrografi Batubara Sumatera Selatan Lokasi (Kabupaten) Lahat MUB A
4.40 – 29.80 2.72 – 7.05 35.43 – 41.09 33.60 – 51.65 4,694 – 7,185 25.01 5.15 35.93 33.91 4,870

Parameter
Proksimat (% adb) - Air Lembab - Abu - Zat Terbang - Karbon Tertambat Nilai Kalor, kal/gr (adb) Ultimat (%) - Total Sulfur - Karbon - Hidrogen - Nitrogen - Oksigen HGI Petrografi (%) - Vitrinit - Inertinit - Liptinit - Mineral - Rvmax

Muara Enim

MURA

12.57 – 41.04 3.88 – 8.79 33.65 – 42.48 28.24 – 41.49 4,140 – 6,867

17.90 5.00 35.40 35.52 5,090

0.15 – 0.57 40.63 – 68.66 3.39 – 5.70 0.50 – 1.10 8.45 – 21.79 47 – 62 80 – 83 4–8 5–6 6–7 0.46 – 0.55

0.18 – 0.61 49.67 – 64.11 3.92 – 8.83 0.63 – 1.10 9.84 – 19.31 48 – 65 87 3 5 5 0.38 – 1.10

0.69 50.96 6.93 1.06 35.21 48 88 4 4 4 0.42

0.20 50 84 5 6 5 0.41

Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi, 2005

3. 3.1.

TEKNOLOGI PENCAIRAN BATUBARA Perkembangan Teknologi Produksi cairan dari batubara sebagai hasil sampingan dari pembuatan kokas dimulai di Jerman dan Inggris pada tahun 1840-an. Cairan tersebut mempunyai berbagai kegunaan antara lain sebagai pelarut, pengawet kayu, bahan bakar, dan sejak 1850-an, sebagai dasar pewarnaan coal-tar yang masih digunakan hingga sekarang. Cairan tersebut merupakan bahan baku bagi pengembangan industri petrokimia, dimana aromatik turunan batubara digunakan dalam jumlah yang signifikan hingga sekarang. Energi, Lingkungan dan Batubara 157

Pada tahap awal pengembangan, terdapat pendekatan teknis yang berbeda. Proses yang pertama melibatkan temperatur tinggi dan tekanan tinggi dimana batubara dilarutkan dalam pelarut untuk menghasilkan cairan dengan titik didih yang tinggi. Belum digunakan hidrogen dan katalis pada waktu itu. Pendekatan ini dikenal sebagai pencairan batubara langsung (direct liquefaction), dan dipatenkan pada tahun 1913 dan dikomersialkan pada awal tahun 1920-an. Pendekatan ini juga dikenal dengan Proses Pott-Broche atau I.G. Farben. Pada tahun 1925 sebuah paten didapat oleh Fischer dan Tropsch untuk proses alternatif, yang dikenal sebagai pencairan tidak langsung (indirect liquefaction). Proses ini melibatkan gasifikasi batubara untuk menghasilkan gas sitentis yang mengandung hidrogen dan karbon monoksida. Gas sintetis tersebut direaksikan dengan katalis Cobalt untuk menghasilkan cairan. Proses tersebut dikomersialkan oleh Ruhrchemie pada pertengahan 1930-an. 3.1.1. Pencairan Batubara Langsung Untuk menghasilkan cairan langsung dari batubara, struktur makromolekuler batubara harus diperkecil ke ukuran yang memungkinkan penanganan lebih lanjut. Hal ini umumnya didapat dengan mereaksikan batubara dalam bentuk slurry dalam pelarut. Proses yang berbeda mungkin menggunakan hidrogen bersama dengan pelarut, dan berlangsung dengan atau tanpa katalis reaksi. Kondisi proses yang digunakan pada tahap ini bervariasi, dengan temperatur antara 370470ºC, dan tekakan 50-300 bar (735-4.400 psig). Proses yang tidak menggunakan hidrogen pada titik ini cenderung berlangsung pada temperatur rendah. Kondisi yang lebih berat umumnya berasosiasi dengan proses yang menghasilkan pelarutan batubara dan hydro-cracking pada produk terlarut dalam reaktor tunggal. Beberapa proses menunjukkan cairan yang dihasilkan melampaui 70% berat dari umpan batubara bebas mineral yang kering (dry, mineral matter free coal feed). Jumlah batubara yang dapat dihancurkan dan dilarutkan tergantung pada banyak faktor, antara lain asal batubara, peringkat, dan komposisi petrografi. Sebagaian besar proses dapat mengubah setidaknya 90% dari bahan organik batubara yang sesuai. Bahan mineral (mineral matter) yang terkandung dalam batubara umumnya tidak terpengaruh reaksi pelarutan, dan harus dibuang dengan batubara tak terlarut pada beberapa tahap dalam proses. Cara pembuangan ini merupakan fitur kunci yang membedakan antara proses (Tabel IV).

158

Energi, Lingkungan dan Batubara

3.1.2.

Pencairan Batubara Tidak Langsung Pencairan tidak lansung melibatkan, pada tahap pertama, pemutusan struktur batubara keseluruhan dengan gasifikasi menggunakan uap dan oksigen. Komposisi produk gasifikasi selanjutnya diatur agar memenuhi kebutuhan campuran higdrogen dan karbon monoksida, dan dibersihkan untuk menghilangkan pengotor, terutama racun dari katalis yang mengandung sulfur. Gas sintetis yang dihasilkan direaksikan dengan katalis pada tekanan dan temperatur rendah. Dalam tahap syntetis, temperatur operasi berkisar 200-350ºC, dengan tekanan operasi berkisar 20-30 bar (300-450 psig). Pengoperasiannya menggunakan sistem unggun tetap (fixed bed) dan unggun terfluida (fluidized bed). Unggun tetap beroperasi pada ujung bawah kisaran temperatur dan menghasilkan produk yang didominasi parafinik, proporsinya yang terbesar adalah minyak berat dan wax. Unggun terfluida beroperasi pada temperatur tinggi, menghasilkan porduk yang lebih ringan dan lebih banyak olefinik, dan memberikan keuntungan teknik untuk instalasi skala besar. Lebih lanjut, beberapa proses telah dikembangkan dengan tujuan menghasilkan destilat menengah (middle distillates). Setelah oksidasi parsial, gas sintetis direaksikan dengan katalis metallocene atau basis cobalt. Bahan bakar diesel dengan kualitas sangat tinggi, dengan bilangan oktan lebih dari 70, sebesar 70-80% dari produk slate dan sisanya naphtha 20-30%. Naphtha tersebut merupakan bahan baku produksi olefin dan bahan kimia lainnya, dan mungkin merupakan bahan bakar yang penting untuk mesin-mesin yang lebih maju.

3.2.

Riset dan Pengembangan di Indonesia Sejarah riset dan pengembangan pencairan batubara di Indonesia telah dimulai sejak penelitian tahap pertama (1994-1997) dengan mengkaji proses Advance Brown Coal Liquefaction berkapasitas 30.000 ton/hari dengan menggunakan batubara Banko dan katalis pirit. Hasil riset menunjukkan harga jual pada waktu itu berkisar US$ 18,2 per barrel. Penelitian dilanjutkan dengan tahap kedua (1997-1999) dengan menerapkan teknologi Improved BCL dengan cara goal gasification untuk batubara Banko dengan hasil harga jual berkisar US$ 18,6 per barrel dan US$ 17,8 per barrel, dan sekarang telah memasuki tahap kelima (2003 – 2005) dengan menerapkan Improved BCL untuk batubara Berau dengan menggunakan katalis limonit (Tabel V).

Energi, Lingkungan dan Batubara

159

Tabel IV. Berbagai Teknologi Pencairan Batubara
Mild Pyrolysis • Liquids from Coal (LFC) Process – Encoal • Coal Technology Coorporation • Univ. of North Dakota Energy and Environmental Research Centre (EERC)/AMAX R&D Process • Institute of Gas Technology • Char, Oil Energy Development (COED) Single-Stage Direct Liquefaction • Solvent Refined Coal Processes (SRC-I and SRC-II) – Gulf Oil • Exxon Donor Solvent (EDS) Process • H-Coal Process – HRI • Imhausen HighPressure Process • Conoco Zinc Chloride Process • Kohleoel Process – Ruhrkohle • NEDO Process Two-Stage Direct Liquefaction • Consol Synthetic Fuel (CSF) Process • Lummus ITSL Process • Chevron Coal Liquefaction Process (CCLP) • Kerr-McGee ITSL Work • Mitsubishi Solvolysis Process • Pyrosol Process – Saarbergwerke • Catalytic TwoStage Liquefaction Process – DOE and HRI • Liquid Solvent Extraction (LSE) Process – British Coal • Brown Coal Liquefaction (BCL) Process – NEDO • Amoco CC-TSL Process • Supercritical Gas Extraction (SGE) Process – British Coal Co-Processing and Dry Hydrogenation • MITI Mark I and Mark II Co- Processing • Cherry P Process – Osaka Gas Co. • Solvolysis CoProcessing – Mitsubishi • Mobil Co-Processing • Pyrosol CoProcessing – Saabergwerke • Chevron CoProcessing • Lummus Crest CoProcessing • Alberta Research Council CoProcessing • CANMET CoProcessing • Rheinbraun CoProcessing • TUC Co-Processing • UOP SlurryCatalysed CoProcessing • HTI Co-Processing Indirect Liquefaction • Sasol • Rentech • Syntroleum • Mobil Methanol-toGasoline (MTG) Process • Mobil Methanol-toOlefins (MTO) Process • Shell Middle Distillate Synthesis (SMOS)

160

Energi, Lingkungan dan Batubara

Tabel V. Perkembangan R & D Pencairan Batubara di Indonesia

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap batubara Berau, Mulia dan Banko menunjukkan untuk pabrik pencairan batubara berkapasitas 6.000 ton per hari, dibutuhkan batubara sebesar 15.000 – 20.000 ton per hari dan akan menghasilkan produk minyak sintetis ± 27.000 barrel per hari. Selain itu juga dihasilkan produk sampingan seperti ammonia, phenols, sulphur dan LPG (Gambar 3).

Gambar 3. Material Balance Pabrik Pencairan Batubara Energi, Lingkungan dan Batubara 161

4.

PENCAIRAN BATUBARA SUMATERA SELATAN Pencairan batubara Sumatera Selatan telah dilakukan (kerjasama NEDOBPPT) menggunakan bahan baku Batubara Banko (Muara Enim) yang termasuk batubara peringkat menengah (sub bituminous) dengan nilai kalori berkisar 5.4005.600 cal/gr. Pencairan tersebut dilakukan dengan teknologi Brown Coal Liquefaction (BCL). Sedangkan pada Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (PEBT) yang dilaksanakan atas kerjasama Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya dengan BPPT dilakukan pencairan batubara yang menggunakan batubara peringkat rendah (lignit) dengan nilai kalori berkisar 4.600 – 4.800 cal/gr. Dalam rangkaian kegiatan RUSNAS PEBT Tahun 2006 telah dilakukan pengujian pencairan batubara peringkat rendah Sumatera Selatan tepatnya batubara dari Kabupaten Musi Banyuasin. Pengujian pencairan batubara dilakukan di Laboratorium Pencairan Batubara BPPT – Serpong dengan menggunakan reaktor autoclave 1 liter. Kondisi operasi pencairan batubara Kabupaten Musi Banyuasin secara ringkas adalah sebagai berikut: Batubara yang diumpan : 75 gram Rasio pelarut/mafc : 2,0 berat/berat Katalis (basis Fe) : 3,0 %bt mafc S/Fe : 3 mol/mol Temperatur : 450 oC (standard) Tekanan awal gas H2 : 12 MPa Waktu reaksi : 60 menit Kecepatan pengaduk : 1.000 rpm

Karakteristik feed batubara yang digunakan adalah sebagai berikut: Moist. : 45.2% (ar) C : 71.4 wt% (daf) VM : 48.9% (db) H : 4.61 wt% (daf) FC : 45.4% (db) N : 2.70 wt% (daf) Ash : 5.7% (db) S : 0.44 wt% (daf) O : 20.9 wt% (daf) NK : 4.600 cal/gr (adb) Solvent yang digunakan adalah heavy oil dengan komposisi terdiri dari minyak ringan 0,66%, minyak sedang 14,85% dan minyak berat 79.43%. Katalis

162

Energi, Lingkungan dan Batubara

yang digunakan dalam pencairan batubara adalah Limonit dengan kandungan Fe sebesar 46.96% dalam bentuk FeOOH dan FeNiS2. Kondisi operasi yang diterapkan adalah temperatur 450ºC, tekanan 12 MPa, waktu reaksi 60 menit dan kecepatan pengaduk 1000 rpm. Sebagai pelarut digunakan minyak berat dan katalis yang digunakan adalah limonit dengan karakteristik sebagaimana telah diuraikan di atas. Setelah direaksikan, produk slurry dan residu dikeluarkan dari reaktor dan selanjutnya didestilasi dan difraksinasi. Pengujian dilakukan sebanyak 4 (empat) run dengan variasi tekanan dan temperatur (Tabel VI). Hasil pengujian pencairan batubara menunjukkan destilat yang dihasilkan berkisar 50% (Gambar 4), hal ini berarti batubara tersebut cukup potensial untuk digunakan sebagai bahan baku pencairan batubara.

Tabel VI. Kondisi Operasi Pencairan Batubara

1 Temp.(oC) Press (Mpa) Time (min) 450 12 60

2 430 12 60

3 470 12 60

4 450 10 60

100% delta H 80% 60% 40% H2O 20% 0% -20% 1 2 3 4 Distillate C1 - C4 CO+CO2 CLB

Gambar 4. Hasil Pengujian Pencairan Batubara Energi, Lingkungan dan Batubara 163

5.

PENUTUP Batubara merupakan energi alternatif yang potensial sebagai pengganti minyak bumi yang cadangannya kian menipis dan harganya pun semakin tinggi. Cadangan batubara yang besar memungkinkan sumber energi ini bertahan hingga energi baru dan terbarukan dapat dimanfaatkan secara komersial. Batubara Sumatera Selatan umumnya berkualitas rendah sehingga kesulitan dalam pemasaran. Peluang pemanfaatan yang potensial adalah pemanfaatan langsung di dekat tambang, untuk menekan specific cost of transportation. Pemanfaatan sebagai bahan bakar PLTU masih menghadapi kendala keterbatasan jaringan transmisi dan distribusi listrik. Peluang pemasaran yang potensial adalah sebagai bahan baku pencairan batubara. Ketersediaan teknologi pencairan yang terus berkembang dan semakin kompetitif terhadap bahan bakar lain merupakan prospek yang menjanjikan bagi pemanfaatan batubara Sumatera Selatan guna memenuhi kebutuhan Energi Nasional. Hasil pengujian pencairan batubara peringkat rendah Sumatera Selatan menunjukkan yield yang tinggi (>50%). Hal ini mengindikasikan prospek yang sangat baik untuk pemanfaatan batubara Sumatera Selatan sebagai bahan baku pencairan batubara di masa mendatang. Prospek pencairan batubara Sumatera Selatan didukung oleh beberapa faktor yang menguntungkan, antara lain : karakteristik batubara yang sesuai untuk bahan baku pencairan batubara, hasil pengujian pencairan yang menunjukkan yeild yang tinggi, lokasi Sumatera Selatan yang strategis, dukungan Pemerintah terhadap pencairan batubara, teknologi pencairan yang terus berkembang, ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar dalam bentuk cair.

164

Energi, Lingkungan dan Batubara

DAFTAR PUSTAKA

Boni, S., “Coal Development and Its Challenges in Indonesia,” the fifth APEC Coal Flow Seminar, Yokohama, Japan, February 3-5, 1999. Centre for Geo-Resources, “Current Status of CBM Resources in Indonesia”, Makalah Disampaikan pada Workshop CBM Indonesia: Preparing the Awake of CBM Industry in Indonesia, Bali, July 4-5th, 2007. Dhebyshire; Frank J., “Catalyst in Coal Liquefaction : New Directon for Research”, IEA Coal Research, London, June 1988. Lepinski, J.A., “Overview of Coal Liquefaction”, U.S.-India Coal Working Group Meeting, Washington, D.C., November 18, 2005 Hasjim, M., “Peluang dan Tantangan Batubara Sumatera Selatan”, Makalah Seminar Nasional Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi”, Jakarta, Nopember 2000. Hasjim M., Ismail, S., dan Toha, T., “Utilization Opportunity of South Sumatra Low Rank Coal”, The 4th International Conference and Exhibition on Coal Tech 2003, Indonesian Coal Society, 2003. Hasjim, M., dan Toha, T., “Prospek Sumatera Selatan sebagai Pusat Penghasil Energi”, Temu Profesi Tahunan XIII Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Palembang, 2004. Hasjim, M., “Kontribusi Sumberdaya Energi Sumatera Selatan pada Pembangunan Nasional”, Pertemuan Tahunan dan Forum Diskusi IATSRI 2005, Palembang, 17 Desember 2005. Hasjim, M., Basri, H., Toha T., Silalahi, L.H., Murti, SDS., “Pencairan Batubara Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan dengan Teknologi Improved BCL” Seminar Nasional XIII Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, 6-7 Maret 2007. Malhotra, R., “Direct Coal Liquefaction: Lessons Learned”, Presented at GCEP Advanced Coal Workshop, BYU, Provo, UT; Mar 16, 2005 Energi, Lingkungan dan Batubara 165

Miller, C.L., “Coal Conversion – Pathway to Alternate Fuels”, U.S. Congressional Briefing, Washington, DC, January 19, 2007 Arsyad, R., “The Implementation of Coal Liquefaction Technology: a New Challenge for Investment Opportunity in South Sumatra”, Seminar Teknologi Pencairan Batubara, Jakarta, Pebruari 2002. Oesman, S., “Sasaran Program Pembangunan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional 2009”, Workshop Master Plan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional, Jakarta 12 Desember 2005. Tjetjep, W.S., “Strategic Planning of Low Rank Coal Utilization in Indonesia”, Indonesian – Japan Joint Seminar on UBC Technology, Jakarta, 21 Maret 2005. World Coal Institute ”Coal : Liquids Fuels”, United Kingdom, October 2006.

166

Energi, Lingkungan dan Batubara

MINERAL EXPLOITATION AND ITS ENVIRONMENTAL IMPACTS; A CASE STUDY OF PT. FREEPORT INDONESIA IN PAPUA, INDONESIA Edy Sutriyono1, Machmud Hasjim1, Wahyu Sunyoto2 1 Mining Engineering Department of Engineering Faculty and Environmental Postgraduate Study Program of Sriwijaya University, Inderalaya and Palembang Campuses, South Sumatra, Indonesia 2 PT Freeport Indonesia, Papua, Indonesia ABSTRACT This study is to discuss PT Freeport Indonesia (PTFI)’s operation and its environmental impacts, based on field reconnaissance and laboratory data. Since 1989, PTFI has exploited the Grasberg ore, consisting of economic minerals such as copper, gold, and silver. There are two main environmental impacts in parts of PTFI’s operation, overburden stockpiles and tailings. The overburden is stockpiled in highlands, whilst tailings are deposited and managed in lowlands through the modified Ajkwa Deposition Area. The company uses Slope Stability Radar instrument to monitor the movement of the overburden stockpiles around the open pit. In the permanent stockpile area, PTFI has conducted reclamation and revegetation by planting native species, and built a permanent drainage system to drain the runoff water. In the tailings area, the company has employed geotechnical and bio-retention methods in order to reclaim, reuse, and retain these materials on land. The implemented geotechnical approaches include levees system, gabion groundsills and groynes; whilst bio-retention approaches include the formation of a green-belt zone and reclamation. Recent development on tailings is the utilization of these materials for infrastructures and other civil constructions. This fact is a new paradigm; tailings considered previously as waste materials are now resources. PTFI is also committed to providing better job opportunities to Papuans, and to contributing financial benefits to the Papuan communities, as well as the government. By January 2007 there are 2463 Papuans in the PTFI’s workforce. Under its financial obligations as set out in the 1991 Contract of Work, from 1992 to 2007, Freeport Indonesia has paid a total of US$ 6.9 billion to the Government of Indonesia. This sum is made up of payments for Corporate Income Tax, Employee Income Tax, Regional Taxes, and other taxes and levies totaling US$ 5.5 billion, US$ 731 million in royalties, and US$ 654 million in dividends.

Energi, Lingkungan dan Batubara

167

BACKGROUND Administratively, PT Freeport Indonesia (PTFI) is located in the Mimika Regency of Papua Province, situated in the island of New Guinea. The island has generally been attributed to different tectonic regimes, ranging from a compressional regime due to an arc-continental collision (Henage, 1993; Simanjuntak and Barber, 1996) to an extensional regime causing exhumation of metamorphic core complexes in the northern New Guinea region (Hill et al., 1993; Hill and Raza, 1999). Within the PTFI’s project area in particular a concentration of copper-gold (Cu-Au) mineralization has been identified to be associated with porphyry igneous rocks intruded in late Pliocene at ~3 Ma. These intrusions are, within errors, consistent with cooling episodes revealed by apatite fission track studies at 2-4 Ma in the vicinity of Grasberg mine (Weiland and Cloos, 1996), and at 4±0.5 Ma throughout the Papuan-Lengguru Fold Belts (Hill and Gleadow, 1989; Sutriyono, 2005). PTFI’s mineral exploitation began in 1973. The first ore body called Ertsberg was first discovered in 1936 by a Dutch geologist – Jean Jacques Dozy on his journey to the tropical glacier in the Jayawijaya mountain range. Since then, further developments were made when the company’s exploration team discovered the large Grasberg ore body. The Grasberg mining operations were started in 1989. The Grasberg mine is located in the Alpine zone at an elevation of about 4,000 m above sea level. PTFI’s current concession covers an area of >100 km total distance, extending from the hilly-mountainous range of the Alpine zone to the north to the Ajkwa estuary to the south (Figure 1). In relation to its operations, PTFI has changed the environment in parts of the area in which it operates. These changes have been in both the physical and socio-economic environments. The present study aims at discussing those environmental changes based mainly on the results of field reconnaissance and laboratory monitoring data analyses. The emphasis of this paper is on environmental management systems employed to retain, reuse, and reclaim overburden in highlands and tailings in the Modified Ajkwa Deposition Area (ModADA). Discussion on PTFI’s commitments to socio-economic development is based principally on in-house reports, as well as those presented by independent audits.

A.

168

Energi, Lingkungan dan Batubara

Figure 1. Location of PTFI’s project area in Papua.

B.

MATERIALS AND METHODS PTFI’s operations include exploration and development, mining and milling of ore, as well as marketing concentrates consisting of copper (Cu), gold (Au), and silver (Ag). Currently, the mining rate is approximately 230,000 metric tons of ore per day, employing both open pit and underground methods. The total overburden material moved in Grasberg open pit is roughly 500,000 metric tons per day. With the current mining rate, the company extracts economic minerals from both openpit and underground ore of about 80 millions tons per year. The current mineable reserve is about 2.813 billions tons. The average grade of the mineable ore is estimated about 1.04% Cu, 0.90 gram/ton Au, and 4.16 gram/ton Ag. The average production in 2006 was over 230,000 metric tons of ore per day, containing 0.85% Cu, 0.85 gram/ton Au, and 3.8 gram/ton Ag from both open pit and underground mines. The average concentrate production was 6,000 tons/day, containing 27.5% Cu, 25 gram/ton Au, and 76 gram/ton Ag. C. RESULTS AND DISCUSSION There is no doubt the mine brings economic benefits, but like all mines has environmental impact including landscape changes and socio-economic impacts. Therefore, it is essential for the company operating mineral development to have strong commitment to providing a comprehensive and effective environmental management system, covering issues associated with those impacts. In the case of PTFI, its mining operation is designed to minimize environmental issues and, where practical, protect and enhance the quality of the environment in all areas where it operates. The shift of landscape relates directly to overburden stockpiled in highlands and tailings management in lowlands; whereas, socio-economic

Energi, Lingkungan dan Batubara

169

implications deal primary with local communities, as well as local, provincial and central governments. In its open-pit operation, PTFI must remove overburden to reach the ore. It is estimated that 3-4 billion metric tons of overburden will be produced from the Grasberg open pit by 2014, hence there will be a large amount of the stockpiled overburden around the open-pit. Within the region, a permanent drainage system has been built to drain the runoff water. This technique is able to lessen erosion and infiltration of surface runoff water into the overburden stockpiles, and consequently to improve their slope stability. To manage and monitor slope stability, the company has employed Slope Stability Radar instruments, prisms with three robotic stations and slide minders to monitor the slope stability of overburden storage areas. This also serves as an early warning system for the pit walls. In addition, the company has conducted land reclamation and revegetation of permanent overburden stockpiles in the highlands and has showed that native species can easily grow on these stockpiles. In addition, natural succession within the overburden areas stabilized the slope of the overburden stockpiles. PTFI uses a river system for tailings transport to an engineered designated area in the lowlands called the ModADA, where tailings and natural sediments are contained, controlled and eventually revegetated. The program applies internationally accepted methods and standards for environmental management. The system is designed, constructed and operated as approved by the Government of Indonesia in the 1997 300K ANDAL. In 2007, the ModADA received approximately 220,000 tons of tailings per day or 80 million metric tons annually. These tailings were composed of ~180,000 tons material from open pit and ~45,000 tons material from deep ore zone or DOZ (Sunyoto, 2007). It has been estimated that PTFI’s mining operations will probably last till 2040 (Soehoed, 2002), thus a significant volume of tailings and natural sediment will be accumulating along the river basin and form a positive landscape, meaning that the river bed will be higher. Importantly, tailings and natural river sediments in the ModADA are monitored continually and will be reclaimed for a variety of end uses at the end of mine life. The company has also constructed stony-based levees, gabion groundsills, and bio-retention areas in order to improve management of the ModADA environment (Figures 2 and 3). The management is aimed principally to retain, to reuse, and to reclaim the tailings deposits. In addition, the prime objectives of tailings management system are four-fold: (1) protecting lowlands from possible floods, (2) increasing sedimentation and limiting lateral spread of tailings between the levees, (3) managing geochemical nature of deposits inside the ModADA system, and (4) applying an emergency response system inside the ModADA 170 Energi, Lingkungan dan Batubara

environment (Subagyo, 2007). There are two levee systems extending parallel along the eastern and western edges of the tailings management area. The levee construction system includes: (1) sequencing construction over time in response to an increase height in the river bed, (2) downstream construction methods are use to ensure that the levees are stable, and (3) usage of compacted excavated materials consisting of sand, gravel, pebble, and larger rocks in levee construction. The dynamic stability of the levees during earthquake has also been taken into account for risk assessment. At the end of mine life, levees could be 20-25 meters in areas of highest deposition but generally will be no more than 5-10 meters high. A gabion groundsill structure has been built in several layers crossing the tailings management area. It is designed to fail whenever strong flood conditions occur. There are two constructed layers which have been overflowed by tailings. The 3rd layer is under construction right now, whilst the 4th and 5th layers will be completed at the end of 2008. Therefore, there will be five layers of gabion groundsills with 2.5 m total height and 1,900 m total length. It has been observed in the field that the method seems effective in terms of depositing coarser sediments and retaining them on land, and only suspended materials of silts and/or mud can flow through these barriers. It is anticipated that gabion groundsills will be able reduce total suspended solids (TSS) at the two monitoring outlets of the ModADA. As a typical braided river that possesses excessive sediment loads, point bars have developed within the ModADA river system. About 20% of these areas have been revegetated naturally by Phragmites karka grass (natural succession), preventing some low areas of the back swamp from receiving tailings. This phenomenon has resulted in some lessening of the capacity of deposition area within the river system. In order to optimize the available deposition area, PTFI has built trench systems by excavating the point bars up to the back swamp. The excavated channels allow tailings to flow through and ultimately to accumulate into the back swamp areas.

Energi, Lingkungan dan Batubara

171

Figure 2. Schematic cross-sections of levees (left) and gabion groundsills (right). Also shown are the localities of each structure within the ModADA (modified from Subagyo, 2007).

Figure 3. Location of a green belt zone within the ModADA (modified from Subagyo, 2007). The application of groundsills in the ModADA has two main purposes, (1) to decelerate velocity of river flow and (2) to prevent levee erosion at meandering channels. The structures are constructed in meandering areas. Therefore, a decrease in velocity of river flows permits more suspended tailings to accumulate in these particular areas. PTFI previously applied several methods for reducing the river flows in order to increase tailings deposition on land. These included the usage of used tires, permeable wood dikes and groynes, and tailings concrete hexapods. Importantly, PTFI’s commitment to providing proper environmental management relies not only on a geotechnical method, but also on a biological approach, or bio-retention. One of bio-retention methods implemented in the ModADA is the formation of a green-belt zone. The green-belt project includes principally mangrove transplanting. A total of 140,000 mangrove trees were planted within the zone from April to mid May 2007. The system appears to be effective as bio-filter to retain more tailings on land, especially in downstream areas. It is important to note that laboratory data generated from vegetation planted on tailings have proven that there is no significant level of toxic elements such as mercury and arsenic, and the dissolved copper and/or other metal contents are at well below the threshold level (Table 1). Recent studies have shown that tailings can be utilized for civil constructions such as road concretes and bridges. Tailings concrete uses polymer as binderadditive, and for road application it does not require wire mesh or iron rebar. It has been noted that the tailings concrete hardens quicker than the conventional concrete. The company has implemented this finding to construct infrastructures 172 Energi, Lingkungan dan Batubara

such as road concretes, road access, and bridges. This fact is a new paradigm, tailings considered previously as waste materials are now considered as resources. Again, this has proved that the tailings do not always cause environmental problems but they can also be invaluable resources of other practical application. Table 1. Laboratory monitoring data showing the level of several elements (ppm) analyzed for several kinds of vegetable and fruit planted in the tailings lands a. Samples Chilies Tomatoes Plant eggs Cucumbers Oranges Melons Rice (IR-64) Threshold level b
a

Arsenic (As) <0.08 <0.08 <0.08 <0.08 <0.08 <0.08 <0.08 1.00

Mercury (Hg) <0.002 <0.002 <0.002 <0.002 <0.002 <0.002 <0.002 0.03

Copper (Cu) 1.08-4.72 0.25-1.63 0.68-1.12 0.21-0.47 0.21-0.45 0.88-1.49 2.48-3.59 5.00

Lead (Pb) <0.08 <0.08 <0.08 <0.08 <0.08 <0.08 <0.08 2.00

Zinc (Zn) 1.83-5.17 0.88-5.05 1.26-2.32 0.89-1.74 0.59-1.28 0.59-2.08 10.30-17.70 4.00

Source: PTFI (2006); bStandard from Director General of Food and Drugs Supervision No.03725/B/SK/VII/89.

Since 1996, PTFI has committed a portion of its gross revenues to benefit the Papuan communities through the Freeport Partnership Fund for Community Development, which is known as Institute of Amungme and Kamoro Development. This institute is managed by a board of local community leaders, consisting of representatives from the Local Government, Papuan ethnic groups, Amungme and Kamoro leaders, and PTFI. In 2006, the company contributed its revenues to the institution approximately USD 52 million, and since inception the total contributions to the fund have been approximately USD 242 million. This institution has built two modern hospitals, providing health cares for all communities. Other public facilities that have been expanded are those of schools, community facilities and housing, as well as scholarship, training and business opportunities. In order to increase the number of Papuans in the PTFI’s workforce (by January 2007, there are 2463 Papuans or 27% out of PTFI’s employees), the company is committed to improving the quality of local human resources by establishing Nemangkawi Mining Institute in 2003. This educational institution has implemented standard occupational assessment to determine a person’s suitability to enter its apprenticeship. Furthermore, PTFI has also contributed substantial Energi, Lingkungan dan Batubara 173

benefits for both the central and local governments. There are two main types of benefits provided by the company. The first type is direct benefits, including the payment of taxes, royalties, fees and other support. The second form is indirect benefits, which include wages to employees and contractors, the purchase of goods and services from national and local suppliers, investments in infrastructures such as roads, port and airport facilities, utility and communication systems, schools, hospitals, and community facilities. In 2007, PTFI provided direct financial contributions to the Government of Indonesia of US$ 1.8 billion, or approximately Rp 17 trillion according to the current exchange rate, comprising US$ 1.4 billion in Corporate Income Tax, Employee Income Tax, Regional Taxes and other taxes and levies, US$ 164 million in royalties, and US$ 216 million in dividends. For the last three years, the PTFI’s direct contributions to the government have totaled more than USD 4 billion. D. (1) (2) CONCLUSIONS It can be concluded: PTFI has mined the Grasberg and underground deposits at an elevation of ~4000 m above sea level since 1989. There are two main environmental impacts due to PTFI’s mineral development, physical impacts caused by overburden stockpiles in the highlands and the deposition of tailings in the ModADA in the lowlands, and socio-economic impacts towards Papuans as well as local, provincial, and central governments. PTFI has employed both geotechnical and bio-retention methods to manage the physical environment, and continuously monitors the affected environment. These efforts are in compliance with environmental statutes and regulations and continuous improvement of PTFI’s environmental performance. PTFI conducts environmental audits to verify environmental compliance, management systems and practices. Importantly it works with the government, the local population and responsible NGOs to enhance its environmental performance, including long-term monitoring, waste management, recycling, contemporaneously reclamation and biodiversity research program . PTFI has provided both direct and indirect educational, health, social, as well as financial benefits to the Papuans, local, provincial, and central governments.

(3)

(4)

174

Energi, Lingkungan dan Batubara

E.

ACKNOLEDGEMENTS The present study was sponsored by PT Freeport Indonesia. Special thanks are due Ir. Armando Mahler (CEO) for supporting this study. The authors would also like to thank to many other PTFI’s staff members who have assisted us during field visits. Laboratory monitoring data have been made available by the company. This paper is published with the permission of the President Director of PT Freeport Indonesia.

Energi, Lingkungan dan Batubara

175

REFERENCES Henage, L.F., 1993. Mesozoic and Tertiary tectonics of Irian Jaya: evidence for non-rotation of Kepala Burung. Proceedings 22nd Annual Convention, IPA, 763-792. Hill, K.C. and Gleadow, A.J.W. (1989). Uplift and thermal history of the Papuan Fold Belt, Papua New Guinea: apatite fission track analysis. Australian Journal of Earth Sciences, 36: 515-539. Hill, K.C. and Raza (1999). Arc-continent collision in Papua Guinea – constraints from fission track thermochronology. Tectonics, 18: 950-966. Hill, K.C., Grey, A., Foster, D., and Barret, R. (1993). An alternative model for the Oligo-Miocene evolution of the northern PNG and the Sepik-Ramu basin. In G.J. Carman and Z. Carman (eds): Petroleum exploration in Papua New Guinea. Proceedings 2nd PNG Petroleum Convention, 241-259. PTFI (2006). Metal up-take data Oktober 2006 compared to standard from Director General of Food and Drugs Supervision No. 03725/B/SK/VII/89 (in-house report). Summary, 1 p. Simanjuntak, T.O. and Barber, A.J. (1996). Contrasting tectonic styles in the Neogene orogenic belts of Indonesia. In R. Hall and D.J. Blundell (eds): Tectonic evolution of SE Asia. The Geological Society of London, Special Publication, 38: 351-379. Soehoed, A.R. (2002). Limbah tambang dan pengelolaannya. PT Freeport Indonesia, number 3, 155 pp. Subagyo, D. (2007). Tailings and River Management Project (TRMP). Briefing materials (unpublished). PT Freeport Indonesia, 42 pp. Sunyoto, W. (2007). Overview of PT Freeport Indonesia. Briefing materials (unpublished). PT Freeport Indonesia, 46 pp. Sutriyono, E. (2005). Thermochronological constraints on cooling and uplift episodes in the Lengguru fold belt of western Papua. Journal JTM, ITB, 12: 65-75. Weiland, R.J. and Cloos, M. (1996). Pliocene-Pleistocene asymmetric unroofing of the Irian Jaya Fold Belt, Irian Jaya, Indonesia: apatite fission track thermochronology. Geological Society of America Bulletin, 108: 1436-1449.

176

Energi, Lingkungan dan Batubara

STRATEGI PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN UNTUK PERCEPATAN SUMATERA SELATAN SEBAGAI LUMBUNG ENERGI NASIONAL Machmud Hasjim

A.

PENDAHULUAN Kebutuhan energi nasional terus meningkat, seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, keberhasilan pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi. Jenis energi primer yang paling dominan digunakan selama ini adalah minyak bumi (termasuk bahan bakar minyak/ BBM). Di sisi lain, produksi dan cadangan minyak bumi nasional akhir-akhir ini cenderung menurun. Bahkan Pemerintah telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari organisasi negara pengekspor minyak (Organization of Petroleum Exporting Countries/ OPEC). Selain itu harga minyak mentah dunia akhir-akhir ini meningkat tajam mengakibatkan beban subsidi melampaui jumlah yang dianggarkan dalam APBN. Pemerintah baru-baru ini telah menaikkan harga BBM bersubsidi sekitar 28% dan mengalihkan subsidi BBM ke bentuk subsidi yang langsung dirasakan oleh masyarakat menengah kebawah (misalnya dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai, pendidikan, kesehatan dan sebagainya). Selain mengurangi subsidi BBM, Pemerintah juga telah menetapkan untuk mengurangi dominasi minyak bumi dalam energi mix nasional. Dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 ditetapkan pangsa minyak bumi akan dikurangi secara bertahap (dari 51,66% pada tahun 2006 menjadi 20% pada tahun 2025) dengan mengembangkan pemanfaatan energi non minyak bumi. Dalam peraturan tersebut, terlihat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi salah satu fokus pemanfaatan energi di masa depan, dengan penetapan sasaran pangsa EBT dari 4,43% (2006) menjadi 17% (2025). Di Sumatera Selatan, Presiden telah mencanangkan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional, program ini tentunya merupakan bagian integral dan mengacu pada Kebijakan Energi Nasional dalam rangka menjamin ketersediaan energi untuk kepentingan Nasional. Oleh karenanya pengembangan EBT di Sumatera Selatan perlu dimanfaatkan guna menunjang Kebijakan Energi Nasional. Pengembangan energi baru dan terbarukan perlu direncanakan dengan baik, mengingat keterdapatan dan karakteristik energi baru dan terbarukan bersifat spesifik di tiap daerah. Selain itu tingkat teknologi yang dibutuhkan juga sangat bervariasi, mulai dari teknologi sederhana sampai yang sangat kompleks. Untuk itu Energi, Lingkungan dan Batubara 177

diperlukan strategi pengembangan yang optimal agar pengembangan EBT dapat dilaksanakan sesuai kondisi daerah setempat (ketersediaan, pengembangan teknologi, kemungkinan penerapannya) sehingga dapat membawa manfaat di tingkat lokal, regional dan nasional. Dengan strategi yang optimal diharapkan potensi energi baru dan terbarukan di Sumatera Selatan dapat dimanfaatkan dan berdaya guna serta berhasil guna secara optimal dalam rangka memberikan kontribusi dalam mensukseskan Program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional dan menjamin ketersediaan energi untuk kepentingan nasional. B. KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL Dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional tanggal 25 Januari 2006, ditetapkan tujuan dan sasaran Kebijakan Energi Nasional sebagai berikut: Tujuan Kebijakan Energi Naisonal adalah untuk mengarahkan upaya-upaya dalam mewujudkan keamanan pasokan energi dalam negeri. Saranan Kebijakan adalah: a. Tercapainya elastisitas energi lebih kecil dari 1 (satu) pada tahun 2025 b. Terwujudnya energi (primer) mix yang optimal pada tahun 2025, yaitu peranan masing-masing jenis energi terhadap konsumsi energi nasional: 1) Minyak bumi menjadi kurang dari 20% (dua puluh persen). 2) Gas bumi menjadi lebih dari 30% (tiga puluh persen). 3) Batubara menjadi lebih dari 33% (tiga puluh tiga persen). 4) Bahan bakar nabati (biofuel) menjadi lebih dari 5% (lima persen). 5) Panas bumi menjadi lebih dari 5% (lima persen). 6) Energi baru dan energi terbarukan lainnya, khususnya biomassa, nuklir, tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin menjadi lebih dari 5% (lima persen). 7) Batubara yang dicairkan (liquefied coal) menjadi lebih dari 2% (dua persen). Untuk mencapai sasaran Kebijakan Energi Nasional tersebut, dicapai melalui 2 (dua) kebijakan yaitu Kebijakan Utama dan Kebijakan Pendukung. Kebijakan utama meliputi: a. Penyediaan energi melalui: 1) Penjamin ketersediaan pasokan energi dalam negeri; 2) Pengoptimalan produksi energi; 3) Pelaksanaan konservasi energi; 178 Energi, Lingkungan dan Batubara

b. Pemanfaatan energi melalui: 1) Efisiensi pemanfaatan energi; 2) Diversifikasi energi. c. Penetapan kebijakan harga energi ke arah harga keekonomian, dengan tetap mempertimbangkan kemampuan usaha kecil, dan bantuan bagi masyarakat tidak mampu dalam jangka waktu tertentu. d. Pelestarian lingkungan dengan menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan. Kebijakan pendukung meliputi: a. Pengembangan infrastruktur energi termasuk peningkatan akses konsumen terhadap energi; b. Kemitraan pemerintah dan dunia usaha; c. Pemberdayaan masyarakat; d. Pengembangan penelitian dan pengembangan serta pendidikan dan pelatihan. Dalam Peraturan Presiden No. 5/ 2006 tersebut juga diatur mengenai harga energi, sebagai berikut: (1) Harga energi disesuaikan secara bertahap sampai batas waktu tertentu menuju harga keekonomiannya. (2) Pentahapan dan penyesuaian harga energi harus memberikan dampak optimum terhadap diversifikasi energi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai harga energi dan bantuan bagi masyarakat tidak mampu dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. C. POTENSI ENERGI SUMSEL 1. Minyak Bumi Cadangan Minyak Bumi Sumatera Selatan pada status 1 Januari 2004 kurang lebih sebanyak 704.518,0 MSTB (atau 9,87% dari total cadangan Minyak Bumi nasional). Jumlah ini terdiri dari cadangan terbukti 404.271,2 MSTB, cadangan mungkin 128.880,8 MSTB, dan cadangan harapan 171.366,0 MSTB. Bila dirinci berdasarkan lapangan yang telah beroperasi dan belum beroperasi, maka cadangan tersebut terdiri dari 657.605,8 MSTB berada di lapangan yang telah beroperasi, dan sisanya 47.312,2 MSTB berada di lapangan yang belum operasi. Kabupaten Musi Banyuasin dan Muara Enim tercatat merupakan kabupaten yang memiliki potensi minyak bumi paling besar di Sumatera Selatan (Gambar 1).

Energi, Lingkungan dan Batubara

179

Cadangan Total Minyak Bumi (MMSTB)
14,83 83,87 11,77 29,71 Banyuasin Lahat 252,40 272,50 Muara Enim Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir

Gambar 1. Cadangan Minyak Bumi di Sumatera Selatan 2. Gas Bumi Cadangan gas bumi di Sumatera Selatan kurang lebih 24.015,46 BSCF (sekitar 7,10% dari total cadangan nasional) yang terdiri dari cadangan terbukti 7.489,21 BSCF, cadangan mungkin 5.406,30 BSCF, dan cadangan harapan 11.119,95 BSCF. Cadangan gas bumi terbesar dijumpai di Kabupaten Muara Enim, MUBA, dan Musi Rawas (Gambar 2). Bila dirinci berdasarkan lapangan yang telah beroperasi dan belum beroperasi, maka cadangan tersebut terdiri dari 21.720,81 BSCF berada di lapangan yang telah beroperasi, dan sisanya 2.294,65 BSCF berada di lapangan yang belum operasi.

Cadangan Gas Bumi (BSCF)
18,6 1.563,0 101,3 206,1 Banyuasin Lahat Muara Enim 9.383,63 12.477,07 MUBA Musi Rawas OKI

Gambar 2. Cadangan Gas Bumi Sumatera Selatan 180 Energi, Lingkungan dan Batubara

3. Batubara Sumberdaya Batubara Indonesia Sebesar 65,40 miliar ton. Berdasarkan kualitasnya, 24% termasuk batubara peringkat rendah (<5.100 cal/gr), 60% peringkat sedang (5.100 – 6.100 cal/gr), 15% peringkat tinggi (6.100 – 7.100 cal/gr) serta hanya 1% yang termasuk peringkat sangat tinggi (>7.100 cal/gr) (Gambar 3). Bila ditinjau berdasarkan lokasi, Kalimantan Timur merupakan memiliki sumberdaya yang terbesar dan disusul Sumatera Selatan (23,68 miliar ton). Batubara Kalimantan Timur umumnya termasuk kategori peringkat sedang – tinggi, hanya sebagian kecil yang termasuk peringkat rendah. Sebaliknya batubara Sumatera Selatan Umumnya termasuk peringkat rendah – sedang dan hanya sebagian kecil yang termasuk peringkat tinggi (Gambar 4).

Gambar 3. Sumberdaya Batubara Indonesia (Berdasarkan Peringkat)

Gambar 4. Sumberdaya Batubara Indonesia (Berdasarkan Lokasi dan Peringkat)

4. Coal Bed Methane (CBM) Sumberdaya Coal Bed Methane (CBM) atau Gas Metana Batubara (GMB) Nasional sebesar 453,3 TCF yang terdiri dari 11 Cekungan CBM. Sumberdaya terbesar terdapat di Cekungan Sumatera Selatan (183 TCF), disusul Cekungan Barito dan Cekungan Kutei (Gambar 5).

Energi, Lingkungan dan Batubara

181

Gambar 5. Sumberdaya Coal Bed Methane Nasional 5. Energi Biomassa Cadangan biomassa di Sumatera Selatan diperkirakan setara dengan 12.229,25 GWh yang terdiri dari biomassa 1.565,15 GWh, Biogas 85,4 GWh dan kayu Bakar 10.578,7 GWh 6. Panas Bumi Wilayah Sumatera Selatan memiliki potensi sumberdaya panas bumi yang terletak di bagian barat, tepatnya di lajur Pegunungan Bukit Barisan dimana busur vulkanik aktif membentang di sepanjang rangkaian perbukitan ini. Kegiatan survei di daerah prospek Sumatera Selatan pertama kali dilaksanakan oleh Pertamina pada tahun 1988. Berdasarkan pada hasil survei yang pernah dilakukan di Sumatera Selatan, potensi energi panas bumi Sumatera Selatan keseluruhan berkisar 517 MWe (Tabel 4). Tabel 4. Indikasi Potensi Panas Bumi Sumatera Selatan No 1 2 3 4 5 2000 Lokasi Rantau dadap, Segamit Bukit Lumut Balai Ulu Danau (Pulau Beringin) Marga Bayur (Lawang Agung) Way Selabut Kab/Kota Lahat Lahat OKU OKU OKU Potensi 250 Mwe (Hipotesis) 220 Mwe (Terduga) 6 Mwe (Spekulatif) 35 Mwe (Hipotesis) 6 Mwe (Spekulatif)

Sumber : Direktorat Vulkanologi dan Divisi Panasbumi Pertamina, Januari

182

Energi, Lingkungan dan Batubara

7. Energi Air Potensi energi air yang ada di Sumatera Selatan cukup besar, menyebar di paling tidak di 4 Kabupaten yaitu Kabupaten Lahat, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Kabupaten Muara Enim. Potensi energi air tersebut baru sebagian kecil yang dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air /PLTA. Di Kabupaten Lahat, potensi energi air terbesar ditemukan di Tanjung Beringin, Kecamatan Ulu Musi dengan kapasitas berkisar 846 MW, sedangkan di Kabupaten Musi Rawas, potensi energi air terbesar dijumpai di Layang, Kecamatan Muara Beliti, dengan kapasitas sekitar 1787,52 MW. Untuk Kabupaten Ogan Komering Ulu, potensi terbesar dijumpai di Air Kenik, Kecamatan Muaradua Kisam dengan kapasitas sekitar 687,96 MW. Di Kabupaten Muara Enim, potensi terbesra terletak di air terjun Bedegung, Kecamatan Tanjung Agung dengan kapasitas 1729,7 MW. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang telah dibangun antara lain PLTA Lematang (83,2 MW) dan PLTA Enim (47 MW) di Kabupaten Muara Enim dan PLTA Ranau (34 MW) di Kabupaten Ogan Komering Ulu.s Pemanfaatan energi air skala kecil telah dimulai di Sumatera Selatan dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro khususnya pada lokasi yang memiliki potensi air namun jauh dari jangkauan listrik PLN. Beberapa PLTMH yang telah dibangun antara lain di Desa Ulu Danau kecamatan Pulau Beringin dan Desa Muara Sindang Kecamatan Muara Dua Kisam Kabupaten Ogan Komering Ulu, Desa Cahaya Alam Kecamatan Pembantu Aremantai, Desa Tanjung Tiga Kecamatan Semendo Darat Ulu Kabupaten Muara Enim, Desa Tunggul Bute Kecamatan Kota Padang dan Desa Talang Sejumput Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten Lahat. 8. Energi Surya Sebagaimana daerah lain di Indonesia yang terletak di sekitar garis katulistiwa, energi surya merupakan salah satu energi alternatif terbarukan yang tersedia dalam jumlah yang cukup besar. Namun pemanfaatannya masih sangat terbatas khususnya berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya/ PLTS. Sejak tahun 1991 hingga 2003 telah dibangun sebanyak 3.205 PLTS yang tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ulu (427 unit), Kabupaten Ogan Komering Ilir (389 unit), Kabupaten Muara Enim (114 unit), Kabupaten Lahat (201 unit), Kabupaten Musi Rawas (1532 unit) dan Kabupaten Musi Banyuasin (362 unit).

Energi, Lingkungan dan Batubara

183

D.

KAJIAN SWOT SUMBERDAYA ENERGI SUMATERA SELATAN

Berdasarkan analisis potensi, pemanfaatan dan teknologi energi, dalam rangka pengembangan energi secara optimal guna memenuhi kebutuhan energi nasional dan mencapai sasaran energy mix nasional 2006-2025, perlu disusun suatu strategi pengembangan energi agar pengembangan EBT dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi keenergian Sumatera Selatan, terarah, terencana dan dapat berhasil guna secara optimal. Untuk mendapatkan strategi yang optimal dan sesuai kondisi keenergian daerah, perlu dilakukan analisis SWOT terhadap masing-masing jenis energi yang dimiliki. Dengan demikian akan didapatkan karakteristik dari masing-masing jenis energi sebagai dasar dalam menetapkan strategi pengembangannya. Analisis SWOT dilakukan dengan menilai secara objektif kondisi masingmasing jenis energi, baik kondisi internal (kekuatan dan kelemahan) maupun kondisi eksternal (peluang dan tantangan). Selanjutnya dengan mengkombinasikan faktor internal dan faktor eksternal dapat disusun strategi atau program, yang meliputi program kekuatan-peluang (memanfaatkan kekuatan untuk meraih peluang), program kelemahan-peluang (memanfaatkan peluang meminimalisir kelemahan), program kekuatan-tantangan (memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi tantangan) dan program kelemahan-tantangan (meminimalisir kelemahan dan mengatasi tantangan). MATRIKS SWOT POTENSI ENERGI KEKUATAN (STRENGTH) S W • Potensi

KELEMAHAN (WEAKNESS) • Kualitas SDE beragam, sebagian tidak dapat dikembangkan secara ekonomis • Eksplorasi dan eksploitasi masih sangat terbatas • Penguasaan teknologi masih rendah (W-O) • Pengembangan teknologi untuk nilai tambah

O T

-

energi beragam • Letak potensi tersebar di berbagai kabupaten • Kualitas memenuhi permintaan pasar

sumberdaya besar dan

PELUANG (OPPORTUNITY)
• Kebutuhan

(S-O) • Sosialisasi potensi energi kepada investor

energi

184

Energi, Lingkungan dan Batubara

meningkat
• Banyak

investor yang berminat untuk eksplorasi dan eksploitasi

• Ambil bagian dalam berbagai expo di tingkat nasional dan internasional

sumberdaya energi • Peningkatan energi infrastruktur

• Peningkatan kualitas manusia di khususnya di bidang teknologi energi • Kerjasama dengan institusi energi dalam dan luar negeri

TANTANGAN THREATS) • Potensi SDE daerah lain yang dekat pusat kebutuhan energi • Potensi kerusakan lingkungan

(S-T) • Percepatan eksplorasi dan ekploitasi SDE (kemudahan perizinan, dll) • Penerapan pembangunan sektor keenergian yang berwawasan lingkungan • Peningkatan SDM di lingkungan kualitas bidang

(W-T) • Penyusunan prioritas pengembangan energi per daerah • Penguasaan energi dan lingkungan teknologi teknologi

E.

STRATEGI PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN

Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Sumatera Selatan merupakan salah satu fokus dan Program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional. Pengembangan EBT tersebut didasarkan pada sasaran energy mix nasional 2006 – 2025 (Gambar 6).

Energi, Lingkungan dan Batubara

185

Gambar 6. Sasaran Energy Mix Nasional 2006 – 2025 Berdasarkan analisis SWOT terhadap kondisi sumberdaya energi Sumatera Selatan saat ini dapat disusun program pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) Sumatera Selatan, sebagai berikut: 1. Minyak Bumi Program-program dalam pengembangan minyak bumi, antara lain : peningkatan kuantitas dan kualitas kegiatan eksplorasi dalam rangka penemuan sumber minyak baru, revitalisasi sumur minyak tua, penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), peningkatan efisiensi pengolahan minyak, pemanfaatan fasilitas produksi secara efisien. Pengembangan minyak bumi dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kebutuhan dalam negeri dalam masa transisi sementara menunggu energi baru dan terbarukan dapat diterapkan secara komersial. 2. Gas Bumi Program pengembangan gas bumi antara lain : sosialisasi potensi gas ke tingkat nasional dan internasional, peningkatan eksplorasi dan eksploitasi gas bumi, pemanfaatan fasilitas secara optimal, percepatan gasinisasi untuk rumah tangga dan transportasi, percontohan mobil berbahan bakar BBG, peningkatan recovery gas, percepatan eksplorasi dan eksploitasi (kemudahan perizinan, dll), percepatan diversifikasi dari BBM ke gas bumi, pengadaan infrastruktur untuk pemanfaatan gas sektor rumah tangga dan transportasi serta prioritas pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestic. Pengembangan gas bumi diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan energi di Sumatera Selatan dalam energi rumah tangga (gas kota, elpiji) dan 186 Energi, Lingkungan dan Batubara

sektor transportasi (SPBG) serta sektor industri. Untuk jangka panjang diprioritaskan untuk bahan bakar PLTG dan industri skala menengah-besar. 3. Batubara Program pengembangan batubara antara lain: percepatan eksplorasi dan eksploitasi, promosi potensi batubara ke tingkat nasional dan internasional, kemudahan perizinan untuk menarik investor, pengembangan PLTU batubara, penelitian, pengembangan dan penerapan teknologi konversi batubara (briket, UBC, gasifikasi dan likuifaksi batubara serta coal water fuel), penyediaan infrastruktur pengangkutan batubara, penyediaan data perbatubaraan Sumatera Selatan, penerapan penambangan berwawasan lingkungan, penyediaan lokasi untuk pertambangan batubara, pengembangan infrastruktur batubara. Pengembangan pada jangka pendek diprioritaskan untuk bahan bakar sektor rumah tangga dan industri kecil-menengah (briket batubara). Selain itu, teknologi upgrading brown coal (UBC) perlu diterapkan untuk meningkatkan nilai tambah batubara Sumatera Selatan untuk dijual ke luar daerah (baik antar pulau maupun untuk ekspor). Pengembangan jangka menengah dan jangka panjang dengan menerapkan teknologi pencairan batubara, gasifikasi batubara dan batubara cair (coal water fuel). Coal Bed Methane (CBM) Program pengembangan CBM antara lain: mengintensifkan eksplorasi CBM, mempromosikan potensi CBM ke tingkat nasional dan internasional, menjalin kerjasama dengan negara penghasil CBM dalam hal alih teknilogi, pelatihan SDM di bidang CBM, pengembangan litbang CBM dan pengembangan infrastruktur CBM, sosialisasi regulasi CBM, kemudahan perizinan. Pengembangan CBM pada jangka pendek diprioritaskan penelitian dan pengembangan untuk menunjang eksplorasi dan ekploitasi CBM. Pada jangka panjang diprioritaskan untuk menunjang gas bumi dalam memenuhi kebutuhan energi di Sumatera Selatan, khususnya untuk pembangkit listrik skala kecil dan sektor rumah tangga Biomassa Program pengembangan biogas antara lain : sosialisasi keekonomian, teknologi dan estetika pemanfaatan biogas, dan percontohan instalasi biogas.

4.

5.

Energi, Lingkungan dan Batubara

187

Program pengembangan bahan bakar nabati (bio fuel) antara lain: promosi potensi kepada investor, mengintensifkan litbang bahan bakar nabati, pengembangan pabrik dan road show serta percontohan kendaraan berbahan bakar nabati, pengaturan melalui Perda tentang alokasi untuk bahan baku biodiesel bagi perkebunan, kerjasama dengan lembaga litbang bahan bakar nabati, penyiapan lahan untuk pengembangan bahan baku untuk bahan bakar nabati, dan percontohan kebun energi. Pengembangan jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan sektor rumah tangga secara mandiri melalui pembuatan biogas. Pengembangan jangka panjang untuk industri gas dalam kemasan (korek api gas dan sejenisnya). Pengembangan bahan bakar nabati yang meliputi biodiesel dan bioetanol. Pengembangan jangka pendek untuk sektor transportasi kota (angkot, bus kota) dengan percontohan dengan mobil dinas Pemprov. Sumsel Pengembangan jangka panjang dengan litbang untuk meningkatkan daya saing teknis dan ekonomis agar dapat digunakan secara luas. 6. Panas Bumi Program pengembangan panas bumi antara lain: mengintensifkan eksplorasi dan eksploitasi panas bumi, pengembangan PLTU terapu dengan lokasi wisata alam, pelatihan dan pengembangan SDM di bidang PLTP, prioritas untuk lokasi yang jauh dari jangkauan jaringan distribusi PLN. Pengembangan jangka pendek diprioritaskan untuk sumber energi pada pembangkit listrik panas bumi (PLTP). Pengembangan jangka panjang untuk peningkatan PLTP skala menengah-besar. Energi Air Program pengembangan energi air antara lain: mengintensifkan studi potensi energi air, memprioritaskan pemanfaatan untuk kelistrikan daerah terpencil, pengembangan pembangkit sekaligus sebagai tempat wisata, pemanfaatan terintegrasi dengan energi mekanik, peralatan dan bahan diusahakan dari lokasi setempat, pembangunan infrastruktur lokasi secara gotong royong, pengembangan pembangkit skala kecil sesuai dengan beban, pelatihan pemeliharan dan reparasi bagi masyarakat sekitar, bantuan peremajaan secara berkala dan sosialisasi guna menumbuhkan rasa memiliki di kalangan masyarakat. Pengembangan jangka pendek diprioritaskan untuk menunjang industri kecil-menengah dan pertanian (energi mekanik) dan pengembangan PLTMH untuk kelistrikan di daerah terpencil. Pengembangan jangka panjang dengan Energi, Lingkungan dan Batubara

7.

188

meningkatkan pemanfaatan energi air pada lokasi-lokasi yang memiliki potensi air. 8. Energi Surya Program pengembangan energi surya antara lain: memprioritaskan pemanfaatan untuk lokasi terpencil, pengadaan sel photovoltaic, sosialisasi pada masyarakat, mengintensifkan litbang di bidang photovoltaic, studi radiasi matahari di berbagai lokasi, percontohan PLTS skala kecil pada fasilitas pemerintah (puskesmas, dll) di daerah terpencil, peningkatan SDM di bidang produksi pemeliharaan dan reparasi serta instalasi sel photovoltaik. Untuk jangka pendek diprioritaskan pengembangan surya thermal (pengering, pemanas air, penyuling air, oven surya, kompor surya) untuk menunjang sektor rumah tangga dan industri kecil-menengah. Selain itu juga untuk menunjang kelistrikan di daerah terpencil. Pengembangan jangka panjang diprioritaskan pada listrik dan kendaraan bermotor. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan perlu melakukan terobosan guna percepatan penggunaan briket batubara dan gas alam untuk sektor rumah tangga. Percepatan pemanfataan gas alam untuk sektor rumah tangga dilakukan dengan perluasan jaringan pipa transmisi dan distribusi gas alam. Sedangkan untuk lokasi yang sulit dijangkau pipanisasi (jauh dari sumber gas alam/jalur pipa transmisi/distribusi) perlu digalakkan penggunaan briket untuk sektor rumah tangga. Sebagai langkah awal, diawali dengan sosialisasi dan percontohan. Penerapan terobosan tersebut akan meningkatkan porsi penggunaan energi alternative secara signifikan, dan bagi masyarakat pengguna akan dapat menikmati ketersediaan energi untuk sektor rumah tangga dengan harga yang lebih murah. Untuk memberikan landasan konstitusional yang kuat untuk menunjang pelaksanaannya di lapangan, terobosan tersebut perlu ditatapkan dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan. STRATEGI PENGELOLAAN ENERGI SUMATERA SELATAN

F.

Energi berfungsi sebagai bahan bakar dan bahan baku industri, berperan dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan. Oleh karena itu pengelolaan energi ini diatur melalui Kebijakan Energi Nasional (KEN) 2003-2020 sebagai pengganti KUBE 1998 yang mempertimbangkan perubahan lingkungan strategis pada tingkat nasional, regional dan internasional. Dengan adanya KEN ini dapat terciptanya keamanan pasokan energi (energy security of supply) nasional secara Energi, Lingkungan dan Batubara 189

berkelanjutan. Pada KEN ini pemenuhan kebutuhan energi nasional menjadi prioritas utama dan pemberdayaan daerah dalam pengelolaan energi akan ditingkatkan. Ini berarti pengelolaan sumber daya energi dapat juga dilakukan oleh daerah. Pada waktu kunjungan kerja Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang pertama ke Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 9 Nopember 2004 yang lalu, saat peresmian PLTG Borang di Kabupaten Banyuasin dan peresmian Interkoneksi Transmisi Sumbagsel – Sumbar – Riau 275 KV, saat itu Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono telah mendukung keinginan masyarakat Sumatera Selatan menjadikan Provinsi Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional. Untuk mensukseskan program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional diperlukan pengelolaan energi secara arif melalui strategi yang tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi daerah yang selanjutnya diformulasikan dalam kegiatan-kegiatan yang dapat memacu perkembangan keenergian di Sumatera Selatan dalam rangka menjamin penyediaan energi untuk kepentingan nasional. POTENSI SUMBERDAYA ENERGI SUMSEL Sumatera Selatan memiliki potensi sumber daya energi dalam jumlah besar, baik sumberdaya energi tidak terbarukan (minyak bumi, gas bumi, dan batubara), maupun sumberdaya energi tidak terbarukan (panas bumi, air, biomassa). 1. Minyak Bumi Cadangan Minyak Bumi Sumatera Selatan pada status 1 Januari 2004 kurang lebih sebanyak 704.518,0 MSTB (atau 9,87% dari total cadangan Minyak Bumi nasional). Jumlah ini terdiri dari cadangan terbukti 404.271,2 MSTB, cadangan mungkin 128.880,8 MSTB, dan cadangan harapan 171.366,0 MSTB (Tabel 1 dan Gambar 1). Bila dirinci, lapangan yang telah beroperasi dan belum beroperasi, maka cadangan tersebut terdiri dari 657.605,8 MSTB berada di lapangan yang telah beroperasi, dan sisanya 47.312,2 MSTB berada di lapangan yang belum operasi. Kabupaten Musi Banyuasin dan Muara Enim tercatat merupakan kabupaten yang memiliki potensi minyak bumi paling besar di Sumatera Selatan. Tabel 1. Cadangan Minyak Bumi Sumatera Selatan Cadangan (MSTB) No 1 2 Daerah Banyuasin Lahat Terbukti 11.008,6 4.007,9 Mungkin 400,0 11.196,4 Harapan 359,0 14.504,6 Jumlah 11.767,6 29.708,9 G.

190

Energi, Lingkungan dan Batubara

3 4 5 6 7 8

Muara Enim Musi Banyuasin

130.820,4 174.075,8 61.786,6 12.528,3 8.628,4 1.415,2 404.271,2

37.287,4 55.091,6 10.728,0 2.298,7 10.463,6 1.415,1 128.880,8

84.289,5 43.335,2 11.357,0 0,0 17.065,0 455,7 171.366,0

252.397,3 272.502,6 83.871,6 14.827,0 36.157,0 3.286,0 704.518,0

Musi Rawas Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Prabumulih
Jumlah Se - Sumsel
)

* Sumber : Ditjen Migas, ESDM, 1 Januari 2004

Cadangan Total Minyak Bumi (MMSTB)
14,83 83,87 11,77 29,71 Banyuasin Lahat 252,40 272,50 Muara Enim Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir

Gambar 1. Cadangan Minyak Bumi di Sumatera Selatan 2. Gas Bumi Cadangan gas bumi di Sumatera Selatan kurang lebih 24.015,46 BSCF (sekitar 7,10% dari total cadangan nasional) yang terdiri dari cadangan terbukti 7.489,21 BSCF, cadangan mungkin 5.406,30 BSCF, dan cadangan harapan 11.119,95 BSCF (Tabel 2 dan Gambar 2). Cadangan gas bumi terbesar dijumpai di Kabupaten Muara Enim, MUBA, dan Musi Rawas. Bila dirinci berdasarkan lapangan yang telah beroperasi dan belum beroperasi, maka cadangan tersebut terdiri dari 21.720,81 BSCF berada di lapangan yang telah beroperasi, dan sisanya 2.294,65 BSCF berada di lapangan yang belum operasi.

Energi, Lingkungan dan Batubara

191

Tabel 2. Cadangan Gas Bumi Sumatera Selatan
No Daerah Banyuasin Lahat Muara Enim MUBA Musi Rawas OKI OKU Jumlah Terbukti Assoc Non Ass 83,98 5,76 153,23 491,64 3.306,37 159,57 2.022,06 585,94 537,02 7,26 10,01 13,58 112,79 1.347,73 6.141,48 7.489,21 Cadangan Mungkin Harapan Asso Non Ass Assoc Non Ass c 0,21 5,12 0,78 42,35 0,03 0,66 2.422,87 50,64 6.134,89 28,67 2.354,49 13,46 4.805,38 152,18 260,10 14,17 13,60 1,36 15,22 54,41 15,73 53,93 72,08 5.134,22 12,15 11.007,8 5.406,30 11.119,95 Jumlah Non Ass

Assoc

1 2 3 4 5 6 7

101,31 10,57 195,58 612,94 11.864,13 201,70 9.181,93 752,29 810,72 8,62 10,01 44,53 221,13 1.731,96 22.283,5 24.015,46

Keterangan :
Assoc Non Ass Sumber = Associated = Non Associated = Ditjen Migas, ESDM, 1 Januari 2004

Cadangan Gas Bumi (BSCF)
18,6 1.563,0 101,3 206,1 Banyuasin Lahat Muara Enim 9.383,63 12.477,07 MUBA Musi Rawas OKI

Gambar 2. Cadangan Gas Bumi Sumatera Selatan 3. Batubara Cadangan sumberdaya Batubara Indonesia diperkirakan 53 milyar ton lebih. Dari jumlah cadangan tersebut 41,5% atau 22.240,47 Milyar ton dijumpai di wilayah Sumatera Selatan. Jumlah ini terdiri dari cadangan terukur 5,32 milyar ton, cadangan terunjuk 6,84 milyar ton dan cadangan tereka 10,07 milyar ton (Tabel 3 dan Gambar 3). Dari cadangan tersebut sebagian besar (60%) adalah peringkat rendah dengan nilai kalori dibawah 5.000 k.cal/kg yang sulit dipasarkan ke pasar internasional. Namun Energi, Lingkungan dan Batubara

192

kelemahan ini sekaligus menjadi keunggulan Sumsel yaitu dengan mengoptimalkan pemanfaatan Batubara untuk PLTU di Mulut Tambang. Cadangan batubara paling banyak ditemukan di kabupaten Muara Enim, di Kabupaten ini juga telah didirikan PT. Bukit Asam untuk mengoptimalkan pemanfaatan batubara. Dari batubara ini, juga diindikasikan terdapatnya potensi Gas Metan yang berasosiasi dengan Batubara di Sumsel yang jumlahnya cukup besar yaitu ± 180 Trilyun Kaki Kubik sangat jauh melampaui cadangan terbukti Gas Sumsel yang hanya berkisar ± 7 trilyun kaki kubik.

Tabel 3 Cadangan Batubara Sumatera Selatan No 1 2 3 4 5 6 Daerah Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin 48,55 4.026,09 892,42 355,86 5.322,92 Cadangan, Juta Ton Terukur 227,24 3.413,12 241,55 120,00 2.840,21 6.842,12 Terunjuk Tereka 325,00 561,00 6.197,32 1.581,00 1.115,00 295,64 10.074,94 Jumlah (Juta Ton) 325,00 836,79 13.636,53 2.714,97 1.235,00 3.491,71 22.240,00

JUMLAH

*) Sumber : Ditjen Pengembangan dan Pengusahaan Batubara, ESDM

Cadangan Total Batubara (Juta ton)
325,00 3.565,50 1.235,00 2.714,97 13.563,21 836,79 OKI OKU M. Enim Lahat MURA MUBA

Gambar 3. Cadangan Batubara Sumatera Selatan

Energi, Lingkungan dan Batubara

193

4.

Panas Bumi Potensi energi panas bumi diperkirakan setara dengan 517 MWe (Tabel 4). Tabel 4. Indikasi Potensi Panas Bumi Sumatera Selatan No 1 2 3 4 5 Lokasi Rantau Dadap, Segamit Bukit Lumut Balai Ulu Danau (Pulau Beringin) Marga Bayur (Lawang Agung) Way Selabung Kab/Kota Lahat Lahat OKU OKU OKU Potensi 250 Mwe (Hipotesis) 220 Mwe (Terduga) 6 Mwe (Spekulatif) 35 Mwe (Hipotesis) 6 Mwe (Spekulatif)

*) Sumber Direktorat Vulkanologi dan Divisi Panasbumi Pertamina, Januari 2000

5.

Tenaga Air Potensi sumber energi air di Sumatera Selatan cukup besar dan kapasitasnya bervariasi tersebar di beberapa Kabupaten (Tabel 5). Tabel 5. Potensi Sumber Energi Air No I Wilayah/Pembangkit Kab. Muara Enim 1. PLTA Lematang 2. PLTA Enim II. Kab. OKU 1. PLTA Ranau *) Sumber RUKD Sumsel 2004 83,2 MW 47 MW 34 MW Potensi Kapasitas

6.

Biomassa Cadangan biomassa di Sumatera Selatan diperkirakan setara dengan 12.229,25 GWh yang terdiri dari biomassa 1.565,15 GWh, Biogas 85,4 GWh dan kayu Bakar 10.578,7 GWh (Tabel 6). Tabel 6. Potensi Biomassa Sumatera Selatan Biomassa Biogas Kayu Bakar Kabupaten GWh GWh GWh OKU 361,87 26,47 1.111 OKI 485,81 10,64 3.202 Ma. Enim 101,76 10,76 755 Lahat 65,82 11,72 410 Energi, Lingkungan dan Batubara

No 1 2 3 4 194

5 MURA 209,07 12,98 1.369 6 MUBA 340,81 12,84 3.731 JUMLAH 1.565,15 85,40 10.578,70 *) Sumber Neraca Sumberdaya Energi Sumatera Selatan, 2004

H.

PROGRAM SUMSEL LUMBUNG ENERGI Program Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional difokuskan pada dua komoditi energi unggulan, yaitu Gas dan Batubara. Pemanfaatan Gas diarahkan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), untuk Ekspor dan Antar Pulau serta Gasifikasi untuk rumah tangga, industri, dan transportasi, serta eksplorasi dan ekploitasi gas methan. Pemanfaatan Batubara diarahkan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mulut tambang, untuk Ekspor dan Antar Pulau serta Briket Batubara. 1. Pengembangan Gas Bumi Pengembangan gas bumi Sumatera Selatan difokuskan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Gasifikasi, dan Eksplorasi dan Eksploitasi gas methan. Beberapa PLTG yang telah dibangun dan akan dibangun dalam waktu dekat adalah : PLTG 2 x 18 MW (mobile unit) di Borang oleh PT. Guna Cipta Mandiri PLTG 50 MW (combined cycle) di Borang oleh PT. AsRigita, Ceng Da PLTG 2 x 40 MW di Gunung Megang oleh PT. Meta Epsi PLTG 2 x 40 MW di MUBA oleh PT. Dika Karya LN., Petro MUBA., dan PT. Indo Power PLTG 2 x 100 MW di Blimbing Muara Enim oleh PT. Energi Musi Makmur Peningkatan penggunaan gas bumi di Sumatera Selatan melalui program gasifikasi untuk sektor industri, komersial, rumah tangga dan transportasi. Untuk pengembangan sektor industri, komersial dan rumah tangga, dewasa ini sedang digalakkan pengembangan jaringan distribusi gas bumi di Sumatera Selatan agar pemanfaatan gas bumi dapat ditingkatkan. Di sektor transportasi dalam waktu dekat akan dilakukan sosialisasi dengan pemakaian bahan bakar gas (BBG) pada 100 unit mobil dinas Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan 50 unit mobil taxi. Selanjutnya secara bertahap akan dikembangkan stasiun BBG dan SPBG sesuai perkembangan penggunaan gas bumi di sektor transportasi.

Energi, Lingkungan dan Batubara

195

Program eksplorasi dan ekploitasi gas methan saat ini sedang dilakukan melalui kegiatan drilling test dan akan dilanjutkan dengan pembangunan pilot plant di daerah Rambutan, Kabupaten Muara Enim. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (Balitbang ESDM). 2. Pengembangan Batubara Pengembangan batubara Sumatera Selatan difokuskan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Ekspor dan Antar Pulau serta pengembangan briket batubara.

Beberapa PLTU yang telah commited dan akan dibangun dalam waktu dekat adalah : PLTU Banko Tengah 4 x 600 MW oleh PT. Indika, China Hudian Corp., PTBA., PT. PLN dan Pemprov. Sumsel PLTU 2 x 100 MW oleh Baturaja Adimas C PLTU 2 x 100 MW di Musi Banyuasin PLTU 2 x 100 MW di Musi Rawas oleh PT. Sriwijaya B.E. PLTU 2 x 100 MW di Muara Enim oleh PT. Musi Prima Coal PLTU 2 x 600 MW dan 3 x 1000 MW di Musi Rawas oleh PT. Triaryani PLTU 4 x 100 MW di Muara Enim oleh PT. Rajawali Croasia, PTBA, Korea Investor Service, IKEC & KEPCO PLTU 2 x 100 MW di Gunung Megang oleh Bumi Resources, Refaco Finlandia PLTU 4 x 600 MW di Lahat oleh PT. Mitrajaya Group, PTBA, IL & FS India Untuk peningkatan ekspor dan antar pulau, direncanakan penyediaan infrastruktur pengangkutan batubara, antara lain : Transportasi sistem kombinasi KA – Kanal – Sungai (Tanjung Enim – Sungai Musi – Bangka) dengan kapasitas maksimal 20 juta ton oleh PT. Trimitra, Sinar Mas Group, PTBA, CNC Corp Citic Bank china. Pembangunan double track kereta api jalur Tanjung Enim – Tarahan dan Kertapati dengan kapasitas maksimul 20 juta ton oleh PT. Trans Pasific S, PTBA, China Rail Way Eng. Co. Penambahan kapasitas kereta api Tanjung Enim – Tarahan dan Tanjung Enim – Kertapati oleh PT. Mitrajaya, PTBA, PT. Indo Power & Leasing & Financial Services (India).

196

Energi, Lingkungan dan Batubara

Program pengembangan briket batubara dilaksanakan dengan pengadaan desa percontohan pemanfaatan briket batubara di Muara Enim. Selain itu juga dilakukan sosialisasi briket batubara tingkat nasional dan ditindaklanjuti dengan sosialiasasi tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Sumatera Selatan.

I.

KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL 1. Visi dan Misi Visi : Terjaminnya penyediaan energi untuk kepentingan nasional Misi : Menjamin ketersediaan energi domestik - Menyediakan akses terhadap sumber energi domestik dan internasional agar pasokan energi terjamin. - Mengatur pengelolaan energi yang seimbang antara kebutuhan dan penyediaan; dan antara pemakaian dalam negeri dan ekspor - Memaksimalkan pemanfaatan sumber energi baru dan energi terbarukan sehingga perannya terhadap penyediaan energi nasional meningkat, sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan hidup. - Mengembangkan skema pendanaan untuk dapat meningkatkan investasi dalam dan luar negeri. Meningkatkan nilai tambah sumber energi - Mengelola dan mengembangkan sumber energi, baik dari sumber dalam negeri maupun impor, sebagai bahan bakar, bahan baku industri dan komoditi ekspor dengan prioritas yang mempunyai efek ganda (multiplier effect) terbesar. - Mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi yang tidak dapat diekspor untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dan mengupayakan energi sekunder yang dihasilkan dapat diekspor. Mengelola energi secara etis dan berkelanjutan termasuk memperhatikan pelestarian fungsi lingkungan hidup - Mengembangkan sumber daya dan proses transformasi energi secara optimal. - Meningkatkan penerapan pengelolaan lingkungan hidup secara bertanggung jawab dan konsisten termasuk teknologi yang ramah lingkungan dalam proses penyediaan energi.

Energi, Lingkungan dan Batubara

197

- Memanfaatkan energi secara efisien di semua sektor untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan. - Menerapkan prinsip good governance dalam pengelolaan energi. Menyediakan energi yang terjangkau untuk kaum dhuafa (masyarakat tidak mampu) dan daerah belum berkembang. - Menyediakan bantuan untuk meningkatkan ketersediaan energi kepada masyarakat dhuafa (tidak mampu). - Membangun infrastruktur energi untuk daerah belum berkembang sehingga dapat mengurangi disparitas antar daerah. Mengembangkan kemampuan dalam negeri - Mengembangkan bisnis energi yang berbasis sumber daya manusia, teknologi dan finansial dalam negeri untuk mewujudkan industri energi yang mandiri. - Mengembangkan bisnis energi yang mampu bersaing secara internasional. - Meningkatkan kemampuan di bidang litbang dan diklat sektor energi untuk mendukung terciptanya industri energi dan SDM nasional yang tangguh. 2. Sasaran Meningkatnya peran bisnis energi yang mengarah kepada mekanisme pasar untuk meningkatkan nilai tambah agar memberikan kontribusi yang lebih besar dalam perekonomian nasional dan tercipta industri energi yang efisien. Tercapainya rasio elektrifikasi sebesar 90% pada tahun 2020, dengan didukung oleh peningkatan investasi untuk membangun pembangkit listrik beserta jaringan transmisi dan distribusinya mengingat pembangunan listrik merupakan kegiatan padat modal. Meningkatnya pangsa energi, terutama untuk energi terbarukan nonhidro skala besar menjadi sekurang-kurangnya 5% pada tahun 2020. Energi terbarukan yang diharapkan dapat memenuhi target tersebut adalah panas bumi, biomasa dan mikro/minihidro. Terwujudnya infrastruktur energi yang mampu memaksimalkan akses masyarakat terhadap energi dan pemanfaatan untuk ekspor. Meningkatnya kemitraan strategis antara perusahaan energi domestik dengan internasional untuk mencari sumber-sumber energi di dalam dan luar negeri. Diharapkan perusahaan energi domestik dapat “go international” dan dapat bersaing dalam pasar global. Menurunnya intensitas penggunaan energi sebesar 1% per tahun. 198 Energi, Lingkungan dan Batubara

Meningkatnya penggunaan kandungan lokal dan meningkatnya peran sumber daya manusia nasional dalam industri energi sehingga ketergantungan terhadap luar negeri makin berkurang. 3. Strategi Restrukturisasi sektor energi - Menerapkan struktur pasar yang kompetitif dan aturan pasar secara konsisten untuk mewujudkan industri energi yang efisien. - Menciptakan skema pendanaan, rezim fiskal, perpajakan dan insentif lainnya yang kondusif untuk meningkatkan investasi. Pemberlakukan ekonomi pasar, dengan tetap memperhatikan kelompok masyarakat tidak mampu - Menetapkan harga energi pada sisi produsen dan sisi konsumen berdasrakan mekanisme pasar agar dicapai harga yang paling menguntungkan bagi konsumen dan produsen. - Membentuk kompetisi pada sisi produsen untuk melayani kepentingan konsumen sehingga konsumen mempunyai banyak pilihan. - Menciptakan open access pada sistem penyaluran energi khususnya untuk BBM, gas dan listrik. Pemberdayaan daerah dalam pengembangan energi - Mengembangkan perencanaan energi yang berbasis daerah sebagai bagian dari perencanaan energi nasional dengan memprioritaskan energi terbarukan. - Memberlakukan harga energi menurut wilayah yang disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi wilayah yang bersangkutan. Pengembangan infrastruktur energi - Mengembangkan infrastruktur energi yang terpadu terutama di daerah yang tingkat konsumsi energinya tinggi. Infrastruktur BBM meliputi kilang minyak, depot BBM, pipa BBM, dan SPBU; infrastruktur penyaluran gas meliputi pipa transmisi, terminal LNG dan fasilitas regasifikasinya, sarana pengangkutan Compressed Natural Gas (CNG), kilang LPG, pipa distribusi dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG); infrastruktur batubara meliputi sarana penimbunan dan transportasi batubara; serta infrastruktur tenaga listrik meliputi pembangkit, transmisi, dan distribusi.

Energi, Lingkungan dan Batubara

199

- Meningkatkan kemitraan Pemerintah dan swasta dalam pengembangan infrastruktur energi. Peningkatan efisiensi energi - Melaksanakan Demand Side Management (DSM) melalui peningkatan efisiensi pemanfaat listrik, penerapan standar dan pengendalian pemakaian energi. - Melaksanakan Supply Side Management (SSM) melalui peningkatan kinerja existing pembangkit, jaringan transmisi dan distribusi listrik. Peningkatan peran industri energi nasional - Menyiapkan sumber daya manusia dalam negeri yang andal di bidang energi. - Meningkatkanpenguasaan teknologi energi yang mengutamakan industri manufaktur nasional. - Meningkatkan kemampuan perusahaan nasional dalam industri energi. Peningkatan usaha (ndustri dan jasa) penunjang energi nasional - Mendorong industri penunjang energi agar lebih efisien dan mandiri sehingga dapat bersaing baik di dalam maupun luar negeri. - Meningkatkan kualitas jasa penunjang energi nasional agar dapat bersaing baik di dalam maupun luar negeri. Pemberdayaan masyarakat - Menciptakan skema kemitraan dalam rangka pengembangan sarana energi. - Meningkatkan kemitraan pemerintah dan swasta dalam pengembangan industri energi. - Meningkatan peranan swadaya masyarakat, usaha kecil menengah dan koperasi dalam industri energi. 4. Langkah Kebijakan Agar sasaran dan strategi dapat tercapai maka langkah kebijakan yang ditempuh adalah intensifikasi, diversifikasi, dan konservasi. Langkah intensifikasi dilakukan untuk meningkatkan cadangan energi dalam rangka meningkatkan ketersediaan energi sejalan dengan meningkatnya laju pembangunan dan populasi. Langkah diversifikasi dilakukan untuk meningkatkan pangsa penggunaan batubara dan gas yang cadangannya relatif lebih banyak serta meningkatkan pangsa energi terbarukan karena 200 Energi, Lingkungan dan Batubara

potensinya melimpah dan termasuk energi bersih baik yang berasal dari dalam dan luar negeri, dan antar berbagai jenis energi untuk menciptakan campuran energi yang optimal dan manfaat ekonomi. Langkah konservasi dilakukan dengan meningkatkan efisiensi pemakaian energi dengan mengembangkan dan memanfaatkan teknologi hemat energi baik di sisi hulu maupun sisi hilir. Pelaksanaan ketiga langkah tersebut perlu diikuti dengan langkahlangkah pendukung : Pembangunan infrasruktur energi untuk meningkatkan ketersediaan energi agar lebih banyak konsumen mempunyai akses terhadap energi. Penetapan mekanisme pasar untuk setiap kegiatan energi dari sisi produksi sampai konsumsi. Perlindungan masyarakat tidak ampu terutama masyarakat miskin perkotaan, daerah terpencil dan pedesaan. Pelestarian lingkungan untuk menjaga agar dampak kegiatan energi terhadap lingkungan sekecil mungkin. Kemitraan Pemerintah dan swasta untuk melaksanakan pembangunan sektor energi terutama yang bersakala besar. Pemberdayaan masyrakat untuk mengembangkan energi secara mandiri terutama di pedesaan dan daerah terpencil. Pengembangan litbang dan diklat untuk mempersiapkan teknologi dan SDM dalam pengembangan energi. Pemberdayaan fungsi koordinasi berbagai sektor energi agar tercapai penggunaan energi mix yang optimal. STRATEGI PENGELOLAAN ENERGI SUMSEL Salah satu akselerasi pembangunan Sumatera Selatan dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah membangun Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional dengan memanfaatkan potensi sumber daya energi yang tersedia. Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional telah dicanangkan pada saat Peresmian PLTG Borang 9 Nopember tahun 2004 oleh Presiden RI Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Sumatera Selatan sebagai provinsi yang diberkahi dengan sumberdaya mineral dan sumberdaya energi relatif banyak, memberi peluang dan sekaligus tantangan untuk bagaimana mengelola sumberdaya yang tersedia ini agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat antara lain melalui penyediaan sumber energi yang mencukupi. Energi, Lingkungan dan Batubara 201 J.

Sesuai dengan Visi dan Misi pembangunan Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi sebagai berikut: Visi Terwujudnya Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi tahun 2009 melalui pemanfaatan energi gas bumi dan batubara secara optimal berkelanjutan dan ramah lingkungan Misi 1. Menjadikan sumber daya energi sebagai potensi riel kekuatan ekonomi daerah dalam rangka pembangunan dan peningkatan pendapatan daerah 2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat 3. Mengupayakan agar energi/ketenagalistrikan menjadi pendukung kegiatan ekonomi 4. Mengupayakan agar energi/ketenagalistrikan yang berwawasan lingkungan 5. Mengembangkan penelitian sumber daya energi dan submer daya manusia untuk peningkatan kualitas

Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut maka kebijakan energi daerah Sumatera Selatan selayaknya sinergi dan sesuai dengan misi yang ingin dicapai dalam kebijakan energi nasional. Kebijakan yang akan ditempuh adalah mendorong pemanfaatan sumber energi yang dekat dengan sumber energi setempat seperti batubara untuk PLTU Mulut Tambang dan pemanfaatan gas bumi untuk pembangkit listrik PLTG, industri, transportasi dan rumah tangga.

1.

Analisis SWOT a. Strength - Potensi SDE besar - Tersedianya lahan yang luas - SDM bidang Energi Tersedia - Prospek pertumbuhan ekonomi cukup baik - Lokasi Sumsel strategis - Kemungkinan cadangan CBM yang potensial - Konversi energi primer ke energi sekunder dan final b. Weakness - Batubara peringkat rendah - Demand gas bumi sebagian besar di luar Sumsel - Infrastruktur energi terbatas Energi, Lingkungan dan Batubara

202

2.

EBT belum berkembang Cadangan minyak bumi yang makin berkurang sedangkan teknologi EOR belum memadai - Selalu adanya ego sektoral sehingga tidak/kurang terintegrasinya kegiatan penelitian dan pengembangan energi c. Opportunity - Kebutuhan energi terus meningkat - Perkembangan ekonomi nasional sudah membaik setelah krisis ekonomi 1997 - Pemanfaatan energi dapat mendorong kegiatan perekonomian di desa yang selanjutnya dapat menghadirkan kekuatan ekonomi baru - Penganekaragaman pemakaian SDE Sumsel masih sangat terbuka - Peluang pemanfaatan gas alam untuk industri, rumah tangga dan transportasi - Harga batubara peringkat rendah yang murah yang memungkinkan PLTU mulut tambang - Batubara LRC dapat menjadi HRC dengan teknologi UBC, untuk ekspor - Meningkatnya harga energi dunia merupakan angin segar untuk energi batubara - Terbuka peluang untuk likuifaksi dan gasifikasi batubara untuk masa mendatang - Teknologi energi berkembang - Pengurangan subsidi BBM d. Threat - Pengembangan energi di daerah lain - Ketergantungan sektor transportasi kepada BBM masih sangat tinggi - Intensitas energi yang masih tinggi, menunjukkan bahwa efisiensi pemakaian energi masih rendah - Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional tentang PLTN - Iklim investasi yang belum kondusif Isu Kritis Dari analisis SWOT didapat isu kritis berikut : a. Minyak dan gas bumi merupakan andalan untuk penerimaan devisa, namun minyak akan habis dalam jangka waktu 15 tahun dan gas bumi 30 tahun, bila tidak ditemukan cadangan baru dan teknologi lifting yang baru b. Pemakaian minyak bumi dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun, terutama sektor transportasi 203

Energi, Lingkungan dan Batubara

c. Pemakaian gas bumi masih terbatas, karena kurangnya infrastruktur d. Cadangan batubara sangat menggembirakan, namun kurangnya infrastruktur untuk keluar. e. Kualitas batubara rendah f. Teknologi UBC sudah ada namun para investor belum tertarik g. Teknologi likuifaksi dan gasifikasi batubara sudah ada tapi biaya investasi masih tinggi h. PLTU mulut tambang dapat dibangun, namun perlu sarana infrastruktur dan konsumen dalam negeri dan luar negeri i. Memungkinkan kereta listrik dengan menggunakan tenaga listrik dari mulut tambang, tapi biaya investasi sangat tinggi j. Potensi panas bumi dan tenaga air, cukup memadai dan tidak dapat diekspor serta penggunaan saat sekarang masih sedikit, juga kesulitan dalam penyediaan lahan. k. Potensi EBT cukup besar tapi biaya produksi belum kompetitif l. Teknologi energi secara umum masih dikuasai oleh ahli dari luar m. Harga energi menuju pada tingkat perekonomian, tapi daya beli masyarakat masih rendah n. Masalah lingkungan, baik fisik maupun sosial masih sering terabaikan. 3. Pengelolaan Energi Dari isu-isu kritis yang ada, dapat dilakukan perencanaan pengelolaan energi dengan memilih isu yang paling kritis. Namun semuanya harus dapat mengemban amanat UUD 1945 pasal 33 ayat 2 dan 3 Oleh karena itu langkah-langkah pengelolaan SDE, perlu dipersiapkan sebagai berikut : a. Memahami peraturan perUU yang ada, serta mengeluarkan peraturan daerah untuk landasan petunjuk pelaksanaan kegiatan sektor energi sebagai instrumen legislasi b. Menyiapkan atau membuat instrumen kelembagaan untuk mengatur, mengawasi dan melaksanakan kegiatan-kegiatan keenergian atau yang terkait. c. Menyiapkan masterplan energi Sumsel yang terkait dengan jumlah dan jenis energi, baik energi konvensional dan non-konvensional, pembangunan daerah kabupaten/kota di Sumsel dan kemungkinan untuk pasar luar Sumsel termasuk luar negeri d. Perlu adanya pengaturan eksploitasi energi primer yang ada, mengingat minyak bumi jumlah cadangannya sudah sangat terbatas

204

Energi, Lingkungan dan Batubara

e. Pemakaian batubara untuk PLTU mulut tambang karena LRC yang ada lebih murah dan teknologinya sudah ada f. Dengan prospek LRC menjadi HRC dengan teknologi UBC yang ada, perlu dibangun pabrik UBC pada mulut tambang dan produknya dapat diekspor g. Sektor transportasi secara dominan akan tetap menggunakan BBM dalam porsi yang besar, oleh karena itu perlu pemikiran pemakaian bahan bakar cair dari batubara h. Perlu dipelajari kemungkinan pemakaian kereta listrik antar kota di Sumsel dengan memakai listrik dair PLTU mulut tambang i. Perlu terus diupayakan dan dikembangkan penelitian energi non konvensional di Sumsel j. Perlu terus dilakukan penelitian cadangan CBM di Sumsel 4. Skenario Pengembangan Dasar pertimbangan penentuan skenario pengembangan energi di Sumatera Selatan pasca minyak bumi, yaitu : potensi sumberdaya energi, teknologi, dan aspek lingkungan. a. Potensi sumberdaya energi (Cadangan dan kualitas sumberdaya energi) Cadangan batubara cukup besar dan kualitas abu dan sulfur relatif rendah sehingga cocok untuk bahan bakar PLTU, sedangkan gas bumi cadangannya tidak begitu besar dan sebagian besar telah ada kontrak penjualan. Selain itu cadangan energi baru dan terbarukan (dan CBM) di Sumatera Selatan relatif cukup besar dan ramah lingkungan. b. Teknologi, Batubara : Untuk batubara, briket batubara sudah diuji coba, teknologi sudah proven. Untuk PLTU teknologi sudah ada (masa konstruksi 3 – 4 tahun) Untuk bahan bakar industri teknologi sudah tersedia Untuk teknologi konversi batubara (bahan bakar tidak langsung), prospek pengembangan konversi batubara yang potensial adalah upgraded brown coal (UBC), mengingat penelitian dan pengembangannya sudah sejak 2004 sampai 2005 sudah masuk tahap pilot plant dan pada tahun 2006 sudah akan masuk ke tahap demonstration plant dan diperkirakan pada tahun 2009 sudah akan memasuki tahap commercial plant. Sedangkan untuk minyak dan gas Energi, Lingkungan dan Batubara 205

sintetis dari proses likuifaksi dan gasifikasi batubara serta coal slurry (CWM), untuk batubara Sumatera Selatan masih dalam skala laboratorium. Walaupun sebetulnya teknologi likuifaksi sudah ada dan diterapkan di Afrika Selatan, namun penerapan teknologi tersebut untuk batubara Sumatera Selatan masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Minyak Bumi : Penggunaan minyak bumi dalam negeri secara bertahap perlu dikurangi mengingat cadangan yang sudah sangat terbatas dan rendahnya kegiatan eksplorasi. Untuk mengurangi penggunaan minyak bumi, perlu dikembangkan energi non-BBM melalui diversifikasi energi (batubara, gas bumi dan EBT). Dalam rangka meningkatkan produksi minyak bumi diperlukan teknologi enhance oil recovery (EOR) Gas Bumi : Pemanfaatan gas bumi untuk sektor industri dan PLTG teknologinya telah ada dan masa konstruksinya lebih cepat (1-2 tahun) dibandingkan PLTU batubara. Dan untuk sektor rumah tangga dan transportasi teknologi pemanfaatannya telah tersedia. Dalam pengembangan gas bumi Sumatera Selatan perlu dipertimbangkan bahwa cadangan gas bumi yang ada di Sumsel tidaklah terlalu besar dan itu pun sudah ada kontrak penjualan (committed), sehingga peluangnya untuk dikembangkan sudah tidak begitu besar lagi, kecuali apabila ditemukan cadangan baru. Pemanfaatan untuk PLTG masih memungkinkan, namun dalam jumlah yang tidak terlalu besar dan akan diutamakan untuk sektor rumah tangga dan tansportasi.

Energi Baru dan Terbarukan : Teknologi bahan bakar nabati biodiesel (dari sawit dan jarak) sudah dikembangkan dan sudah diuji coba dengan hasil yang cukup menggembirakan dan potensial untuk dikembangkan bersama-sama dengan batubara dan gas bumi, Mengingat potensi bahan baku biodiesel di Sumatera Selatan cukup besar. Selanjutnya EBT yang potensial untuk dikembangkan yaitu air, panas bumi, dan coal bed methane (CBM). Biaya investasi PLTMH relatif murah, sedangkan PLTP relatif mahal, kedua jenis pembangkit tersebut tidak membutuhkan biaya energi

206

Energi, Lingkungan dan Batubara

primer. Di samping itu Sumatera Selatan memiliki sumberdaya CBM yang cukup signifikan untuk dikembangkan sebagai diversifikasi energi. c. Aspek lingkungan Pemakaian batubara sebagai bahan bakar langsung akan ada dampak, namun sudah ada teknologi untuk mengurangi emisi dan debu batubara. Untuk konversi batubara (likuifaksi, gasifikasi, dan coal slurry) merupakan teknologi batubara bersih. Emisi gas relatif kecil (ramah lingkungan). Energi baru dan terbarukan merupakan energi yang sangat ramah lingkungan Dalam mencapai sasaran pengembangan energi di Sumatera Selatan pasca minyak bumi berdasarkan analisis SWOT dan pertimbangan teknis, ekonomi, dan lingkungan maka diprioritaskan sumberdaya energi yang akan dikembangkan dengan beberapa skenario sebagai berikut : Skenario Pesimis 2005 – 2009 Batubara : PLTU, Briket Batubara, UBC Minyak bumi : Enhanced Oil Recovery (EOR) Gas bumi : PLTG, Industri, Rumah Tangga, Transportasi EBT : Air, Minyak bakar nabati/ biodiesel

Skenario Optimis 2005 – 2009 Batubara : PLTU, Briket Batubara, UBC Minyak bumi : Enhanced Oil Recovery (EOR) Gas bumi : PLTG, Industri, Rumah Tangga, Transportasi EBT : Air, Minyak bakar nabati/ biodiesel, gasohol, bio oil, panas bumi, Coal Bed Methane (CBM) Skenario 2005 - 2025 Batubara : PLTU, Briket Batubara, UBC, likuifaksi, gasifikasi, coal slurry Minyak bumi : Enhanced Oil Recovery (EOR) Gas bumi : PLTG, Industri, Rumah Tangga, Transportasi EBT : Air, Minyak bakar nabati/ biodiesel, gasohol, bio oil, panas bumi, Coal Bed Methane (CBM)

Energi, Lingkungan dan Batubara

207

PLTU BATUBARA MULUT TAMBANG MENINGKATKAN KEANDALAN SISTEM KETENAGALISTRIKAN NASIONAL Machmud Hasjim

A.

PERMASALAHAN Dewasa ini energi listrik telah menjadi kebutuhan yang mendasar untuk menunjang kehidupan umat manusia. Berbagai aktivitas manusia dari pagi hingga malam hari berhubungan dengan pemanfaatan energi listrik. Energi listrik telah menjadi salah satu energi utama yang digunakan di rumah tangga, perkantoran hingga proses produksi di pabrik-pabrik. Untuk menunjang aktivitas perekonomian dan industri diperlukan energi listrik dalam jumlah yang cukup dan keandalan yang terjamin dalam arti energi listrik tersedia terus-menerus (tanpa pemadaman). Sistem Pembangkitan energi listrik merupakan kunci pertama dalam penyediaan energi listrik, oleh karenanya diperlukan perencanaan yang komprehensif dalam mengembangkan sistem pembangkitan energi listrik dan didukung dengan sistem penyaluran/distribusi yang memadai agar konsumen dapat memanfaatkan energi listrik dengan nyaman. Berdasarkan jenis bahan bakar yang digunakan, sekarang ini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara merupakan salah satu jenis pembangkit yang dominan digunakan dalam sistem ketenagalistrikan nasional. Hal ini sejalan dengan Kebijakan Energi Nasional untuk mengkonversikan penggunaan BBM ke bahan bakar lain (terutama batubara). Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batubara sangat tergantung pada ketersediaan batubara sebagai bahan bakar, oleh karenanya perlu penyediaan batubara dengan spesifikasi yang sesuai untuk PLTU yang bersangkutan dalam jumlah yang cukup. Terganggunya pasokan batubara ke PLTU akan mengakibatkan berhentinya operasi PLTU tersebut yang berakibat pada kurangnya jumlah energi listrik yang disediakan dan pada gilirannya akan berdampak pada pemadaman energi listrik. 1. Faktor Cuaca Perencanaan sistem pembangkitan tenaga listrik perlu mengambil pelajaran berharga dari berhenti operasinya PLTU Tanjung Jati B (2x600MW) pada 31 Desember 2007 yang berbuntut pada pemberhentian Direktur Pembangkitan dan Energi Primer PT. Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN).

208

Energi, Lingkungan dan Batubara

Cuaca buruk yang terjadi di akhir Desember 2007 lalu mengakibatkan kapal yang mengangkut batubara untuk kebutuhan PLTU tersebut tidak dapat merapat ke dermaga dan pembongkaran batubara tidak dapat dilaksanakan. Hal ini mengakibatkan stok batubara di PLTU kian menipis yang berakhir pada pemberhentian operasi PLTU Tanjung Jati B Unit 1 dan pengoperasian pada setengah kapasitas untuk PLTU Tanjung Jati B Unit 2. Untuk menghindari pemadaman di sistem ketenagalistrikan Jawa-Bali akibat menurunnya pasokan listrik dari PLTU Tanjung Jati B, PT. PLN meningkatkan pembangkit yang berbahan bakar BBM. Konsekuensinya adalah pembengkakan biaya hingga mencapai Rp 15 miliar per hari. 2. Masalah Lingkungan Pembakaran batubara secara langsung pada PLTU akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan antara lain : akan menghasilkan sisa pembakaran yang berupa abu batubara, ceceran batubara yang terjatuh dari alat angkut dan debu yang beterbangan pada saat transportasi batubara maupun emisi gas pada pembakaran. - Dampak berupa abu batubara akan berbanding lurus dengan banyaknya jumlah batubara yang dibakar dan tergantung pada kadar abu batubara yang digunakan sebagai bahan bakar PLTU. Permasalahan abu batubara ini dihadapi baik oleh PLTU Mulut Tambang maupun PLTU non-Mulut Tambang. Perbedaannya adalah pada PLTU non-Mulut Tambang yang berlokasi di dekat sentra industri dan pemukiman, akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan tempat penimbunan abu batubara. Perkembangan teknologi dan hasil-hasil penelitian telah menunjukkan bahwa abu batubara ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangun. - Transportasi batubara dari lokasi tambang batubara ke PLTU juga akan memberikan dampak berupa peningkatan kepadatan lalu lintas, debu dan kemungkinan terjadinya ceceran batubara yang terjatuh selama proses pengangkutan. Dampak transportasi batubara ini berbanding lurus dengan jarak angkut dan frekwensi pengangkutan. Dengan demikian dampak ini relatif kecil pada PLTU Mulut Tambang. - Emisi gas pembakaran batubara juga merupakan dampak lingkungan yang penting dalam suatu PLTU. Besaran (magnitude) dampak ini berbanding lurus dengan jumlah batubara yang dibakar atau berbanding lurus dengan kapasitas PLTU. Selain itu dipengaruhi juga oleh

Energi, Lingkungan dan Batubara

209

karakteristik batubara yang digunakan dan proses pembakaran yang diterapkan. Pada PLTU non-Mulut tambang yang berlokasi di dekat sentra pemukiman dan industri, dampak ini akan saling menguatkan dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh industri, sedangkan daya dukung lingkungan pada lokasi tersebut relatif rendah. Kondisi ini akan mengakibatkan dampak yang signifikan di masa mendatang. Pada PLTU Mulut tambang yang berlokasi di lokasi yang jauh dari pemukiman dan industri (remote area) maka daya dukung lingkungan masih cukup baik (alamiah) dan diharapkan lebih dapat menetralisir dampak yang terjadi. Selain itu letak yang jauh dari pemukiman juga meminimalisir dampak turunannya terhadap masyarakat. Terlepas dari apakah pembakaran batubara tersebut dilakukan di PLTU non-Mulut Tambang maupun PLTU Mulut Tambang, dampak emisi gasgas hasil pembakaran perlu diminimalisir dengan berbagai pendekatan. Perkembangan teknologi dewasa ini telah memungkinkan berbagai pembakaran batubara yang lebih ramah lingkungan. SOLUSI Untuk menghindari terjadinya kehabisan stock batubara di PLTU dan meningkatkan keandalan sistem ketenagalistrikan nasional dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu manajemen stock batubara yang lebih baik pada PLTU nonMulut Tambang dan memprioritaskan pembangunan PLTU batubara Mulut Tambang untuk masa mendatang. 1. Manajemen Stock Batubara pada PLTU non-Mulut Tambang PLTU batubara yang berlokasi jauh dari tambang perlu meningkatkan stock batubara sesuai dengan standar minimum untuk kebutuhan 1 bulan. Upaya untuk peningkatan stok batubara PLTU memang menghadapi berbagai kendala, antara lain keterbatasan lahan yang akan digunakan sebagai lokasi stockpile batubara, resiko swabakar (spontaneous-combustion) yang semakin besar dan sebagainya. Cuaca buruk yang terjadi secara periodik perlu diantisipasi dengan perencanaan sistem dermaga yang diatur agar posisi dermaga tidak tegak lurus dengan arah angin dan perencanaan teknis lainnya. Peningkatan stock batubara harus dilaksanakan karena resiko kehabisan batubara mengakibatkan harus digantikan dengan BBM. Pada kondisi sekarang ini dimana harga BBM begitu tinggi tentunya pembakaran BBM untuk pembangkit listrik perlu diminimalisir. 2. Prioritaskan PLTU Mulut Tambang 210 Energi, Lingkungan dan Batubara B.

PLTU batubara yang jauh dari tambang menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan stock batubara dan kendala dalam meningkatkan stock batubara serta kemungkinan kesulitan operasional pengangkutan batubara ke stockpile karena cuaca buruk dan sebagainya. Perencanaan pengembangan pembangkit listrik ke depan perlu memprioritaskan lokasi pembangunan PLTU di dekat lokasi tambang batubara atau yang lebih dikenal dengan istilah PLTU mulut tambang. Dengan PLTU mulut tambang, kendala transportasi batubara dapat teratasi. Sebagai contoh pengangkutan batubara dengan kereta api di jalur darat akan mengakibatkan tingginya traffic kereta api yang meningkatkan resiko kecelakaan. Selain itu peningkatan traffic kereta api akan membutuhkan peningkatan infrastruktur perkereta-apian seperti stasiun, rel, pengaman jalan raya/pintu perlintasan dan sebagainya. Pengangkutan melalui jalur air dengan kapal secara periodik akan terkendala dengan cuaca buruk yang beresiko kapal yang telah sampai di tujuan tidak dapat merapat ke dermaga sehingga batubara tidak dapat dibongkar. Supplai batubara di PLTU mulut tambang lebih terjamin, sehingga penghentian operasional PLTU dapat diminimalisir dan keandalan sistem ketenagalistrikan dapat ditingkatkan. Beberapa keunggulan lain dari PLTU mulut tambang dibandingkan dengan PLTU yang jauh dari tambang (di dekat pusat beban) antara lain: lokasi tambang umumnya berada di lokasi yang tidak padat penduduk sehingga tersedia lahan yang luas dengan harga yang lebih rendah, disamping itu karena berada di lokasi yang jauh dari keramaian dan industri maka daya dukung lingkungan masih lebih baik sehingga dampak pembakaran batubara masih dapat dinetralisir oleh lingkungan dan tidak berdampak terhadap masyarakat/penduduk. Dengan berbagai keunggulan tersebut, pengembangan PLTU mulut tambang perlu diprioritaskan dalam perencanaan sistem pembangkitan tenaga listrik di masa mendatang. C. CRASH PROGRAM PLTU 10.000 MW Dalam rangka memenuhi kebutuhan energi listrik yang terus meningkat pesat, Pemerintah telah memprogramkan Crash Program pembangunan PLTU Batubara dengan total kapasitas 10.000 MW. Pembangunan pembangkit tersebut diprogramkan untuk mampu memenuhi kebutuhan listrik nasional hingga 20092010. PLTU yang akan dibangun sehubungan dengan Crash Program tersebut, sebesar 6.900 MW akan dibangun di Pulau Jawa yang terdiri dari 10 proyek, yaitu Energi, Lingkungan dan Batubara 211

di Suralaya, Paiton, Rembang, Indramayu, Tanjung Awar-Awar, Labuhan, Tanjung Jati, Pacitan, Teluk Naga dan Pelabuhan Ratu. Sedangkan di Luar Pulau Jawa PLTU yang direncanakan sebanyak 25 PLTU dengan total kapasitas 3.100 MW yang tersebar di Sumatera (10 proyek), Kalimantan (4 proyek), Sulawesi (4 proyek), Sulawesi (4 proyek), Nusa Tenggara (3 proyek), Maluku (2 proyek), dan Papua (2 proyek). Bila dikaitkan dengan keberadaan sumberdaya batubara di lokasi PLTU yang dibangun tersebut dapat dikatakan semua PLTU di Pulau Jawa dapat dikategorikan PLTU non-Mulut Tambang. Sumberdaya batubara di Pulau Jawa sebesar ± 15 juta ton (semuanya sumberdaya tereka). Dengan demikian seluruh kebutuhan batubara PLTU tersebut praktis akan didatangkan dari pulau lain. Jelas terlihat kebijakan pembangunan PLTU di Pulau Jawa didasarkan atas kemudahan mengalirkan listrik yang dihasilkan ke pengguna yang memang sebagian besar berada di Pulau Jawa. Pembangunan PLTU di luar Pulau Jawa akan membutuhkan pengembangan jaringan transmisi listrik untuk dapat mencapai pusat-pusat beban yang terkonsentrasi di Pulau Jawa. Dengan kondisi yang demikian, PLTU crash program yang dibangun di Pulau Jawa tersebut (6.900 MW) potensial akan menghadapi kendala cuaca dalam penyediaan batubaranya. Untuk itu perlu diterapkan manajemen stock dengan lebih terencana. D. PROGRAM SUMATERA SELATAN LUMBUNG ENERGI NASIONAL Provinsi Sumatera Selatan telah ditetapkan sebagai Lumbung Energi Nasional, dimana Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah menetapkan salah satu jenis energi yang diunggulkan adalah batubara. Dalam program tersebut, pembangunan PLTU batubara merupakan salah satu agenda yang diutamakan. Dengan sumberdaya batubara Sumatera Selatan sebesar 23,68 miliar ton, sangat ideal untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar bagi PLTU batubara skala besar maupun kecil. Program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional akan mendukung keandalan sistem ketenagalistrikan nasional dengan pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang. Sejalan dengan Program Sumatera Selatan Sebagai Energi Nasional tersebut, saat ini telah terdapat beberapa investor dalam dan luar negeri yang merencanakan akan membangun PLTU Batubara Mulut Tambang di Sumatera Selatan dengan kapasitas total sebesar 6.614 MW, dengan perincian sebagai berikut : PLTU Banjarsari PLTU Bangko 212 (2 x 100 MW) (4 x 600 MW) Energi, Lingkungan dan Batubara

PLTU MUBA PLTU Baturaja PLTU OKU Timur PLTU Arahan PLTU MURA PLTU Baturaja PLTU Muara Enim PLTU Bangko Barat

(2 x 100 MW) (2 x 7 MW) (2 x 100 MW) (4 x 600 MW) (2 x 100 MW) (2 x 100 MW) (4 x 100 MW) (4 x 100 MW)

Sistem ketenagalistrikan Pulau Sumatera saat ini masih terbagi dalam Sistem Sumatera Bagian Selatan, Sistem Sumatera Bagian Tengah dan Sistem Sumatera Bagian Utara. Ketiga Sistem Interkoneksi di Pulau Sumatera tersebut nantinya akan tergabung dalam Sistem Interkoneksi Pulau Sumatera yang memungkinkan PLTU mulut tambang yang baru dibangun mengalirkan listrik ke seluruh Pulau Sumatera. Untuk menyalurkan energi listrik yang dihasilkan dari PLTU Batubara Mulut Tambang di Sumatera Selatan hingga mencapai pusat-pusat beban di Pulau Jawa memang masih dibutuhkan kabel laut (sub marine cable) Jawa-Sumatera. Biaya investasi yang dibutuhkan untuk membangun kabel laut sepanjang 37 km dengan tegangan 500 kV tersebut diperkirakan sekitar 980 juta dolar Amerika Serikat. Apabila dibandingkan dengan biaya transportasi batubara dari Tanjung Enim ke Suralaya sebagaimana yang dilakukan selama ini (±10 juta ton per tahun), maka biaya investasi tersebut sebanding biaya pengangkutan selama ± 8 tahun. Memperhatikan perbandingan biaya tersebut, sangat jelas pengembangan kabel laut Jawa-Sumatera sangat ekonomis untuk dilaksanakan. PLTU mulut tambang akan dapat beroperasi tanpa kekuatiran kehabisan stock batubara akibat ganggungan transportasi dan cuaca buruk sebagaimana yang dihadapi oleh PLTU non-Mulut Tambang. Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang dalam Program Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional akan meningkatkan supplai energi listrik dan sekaligus meningkatkan keandalan sistem ketenagalistrikan nasional.

Energi, Lingkungan dan Batubara

213

UPAYA MENGATASI KRISIS ENERGI DI INDONESIA*) Machmud Hasjim

A.

PENDAHULUAN Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Allah menciptakan manusia dengan sarana kehidupannya berupa tanah, air dan udara. Di dalam tanah dan air juga diberikan-Nya sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui. Kesemuanya memerlukan ilmu pengetahuan, keterampilan serta sikap arif untuk mengelolanya, guna kesejahteraan manusia, sebagai tanda bersyukur kepada-Nya. Sumber daya alam, yang di dalamnya termasuk sumber daya energi, perlu dilakukan eksplorasi guna mengetahui besarnya cadangan, kualitas cadangan dan lokasi cadangan tersebut. Setiap kegiatan manusia memerlukan energi, secara umum paling tidak ada 4 sektor dalam pemakaiannya, yaitu sektor industri, transportasi, rumah tangga, dan komersial. Energi fosil, energi yang tidak dapat diperbaharui pada 3 dekade ini (sampai 2030) masih mendominasi dalam pemakaian pada energi mix nasional (BAUR). Kebutuhan energi nasional terus meningkat, seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, keberhasilan pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi. Jenis energi primer yang paling dominan digunakan selama ini adalah minyak bumi (termasuk bahan bakar minyak/ BBM). Di sisi lain, produksi dan cadangan minyak bumi nasional akhir-akhir ini cenderung menurun. Bahkan Pemerintah telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari organisasi negara pengekspor minyak (Organization of Petroleum Exporting Countries/ OPEC). Selain itu harga minyak mentah dunia akhir-akhir ini berfluktasi tajam mengakibatkan beban subsidi melampaui jumlah yang dianggarkan dalam APBN. Krisis energi tidak hanya dialami Indonesia, namun secara umum krisis ini menjadi perhatian dunia. Pada akhir tahun 2007 rasio cadangan terbukti terhadap produksi minyak bumi menunjukkan minyak bumi hanya mampu bertahan selama 41,6 tahun. Hal ini perlu diantisipasi mengingat konsumsi minyak bumi dunia meningkat sekitar 1,1% (2006 – 2007) . Dengan kondisi yang demikian sumber daya energi masa mendatang tertumpu pada gas bumi (60,3 tahun) dan batubara (133 tahun). Life time tersebut ke depan akan semakin singkat mengingat konsumsi gas meningkat 3,1% (2006-2007) dan konsumsi batubara meningkat 4,5% (2006-2007) . Di Indonesia, Pemerintah telah menaikkan harga BBM bersubsidi sekitar 28% dan mengalihkan subsidi BBM ke bentuk subsidi yang langsung dirasakan oleh masyarakat menengah kebawah (misalnya dalam bentuk Bantuan Langsung 214 Energi, Lingkungan dan Batubara

Tunai, pendidikan, kesehatan dan sebagainya). Selain mengurangi subsidi BBM, sebagai salah satu upaya untuk mengatasi krisis energi, Pemerintah telah menetapkan untuk mengurangi dominasi minyak bumi dalam energi mix nasional. Dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 ditetapkan pangsa minyak bumi akan dikurangi secara bertahap (dari 51,66% pada tahun 2006 menjadi 20% pada tahun 2025) dengan mengembangkan pemanfaatan energi non minyak bumi. Dalam peraturan tersebut, terlihat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi salah satu fokus pemanfaatan energi di masa depan, dengan penetapan sasaran pangsa EBT dari 4,43% (2006) menjadi 17% (2025). Upaya untuk mengatasi krisis energi antara lain dengan intensifikasi dan konservasi sumberdaya energi serta pengembangan pemanfaatan sumberdaya energi non minyak bumi, baik batubara, gas bumi maupun energi baru dan terbarukan (EBT). Pengembangan energi baru dan terbarukan perlu direncanakan dengan baik, mengingat keterdapatan dan karakteristik energi baru dan terbarukan bersifat spesifik di tiap daerah. Selain itu tingkat teknologi yang dibutuhkan juga sangat bervariasi, mulai dari teknologi sederhana sampai yang sangat kompleks. Untuk itu diperlukan strategi pengembangan yang optimal agar pengembangan EBT dapat dilaksanakan sesuai kondisi daerah setempat (ketersediaan, pengembangan teknologi, kemungkinan penerapannya) sehingga dapat membawa manfaat di tingkat lokal, regional dan nasional. B. 1. POTENSI ENERGI Potensi Energi Fosil Dunia a. Minyak Bumi Cadangan terbukti minyak bumi dunia pada akhir 2007 sebesar 1.237,9 miliar barrel yang tersebar di Amerika Utara 69,3 miliar barrel, Amerika Selatan dan Tengah 111,2 miliar barrel, Eropa dan Eurasia 143,7 miliar barrel, Timur Tengah 755,3 miliar barrel, Afrika 117,5 miliar barrel, dan Asia Pacific 40,8 milliar barrel (Gambar 1). Dengan ditemukannya lokasi cadangan minyak baru, cadangan minyak dunia terus meningkat dari 910,2 miliar barrel pada tahun 1987 menjadi 1069,3 miliar barrel pada tahun 1997 dan 1237,9 miliar barrel pada tahun 2007.

Energi, Lingkungan dan Batubara

215

Gambar 1. Cadangan Terbukti Minyak Bumi Dunia 2007 (Miliar Barrel) b. Gas Bumi Cadangan terbukti gas bumi dunia pada akhir tahun 2007 sebesar 177,36 trilyun meter kubik, cadangan terbesar berada di Timur Tengah ± 41,3% dan Eropa dan Eurasia ± 33,5% (Gambar 2). Sejarah juga mencatat peningkatan cadangan terbukti gas bumi dari 106,86 trilyun meter kubik pada tahun 1987 menjadi 146,46 trilyun meter kubik di tahun 1997 dan meningkat lagi mencapai 177,36 trilyun meter kubik pada tahun 2007.

Gambar 2. Cadangan Terbukti Gas Bumi Dunia 2007 (Trilyun Meter Kubik) 216 Energi, Lingkungan dan Batubara

c. Batubara Cadangan terbukti batubara dunia pada akhir 2007 mencapai 847,49 miliar ton yang terdiri dari antrasit dan bituminus 430,90 miliar ton dan subbituminus dan lignit 416,59 miliar ton. Cadangan terbesar terdapat di wilayah Eropa dan Eurasia sebesar 272,25 miliar ton (32,1%) dan disusul wilayah Asia Pasifik dengan cadangan 257,47 miliar ton (30,4%) dan Amerika Utara 250,51 miliar ton (29,6%), sisanya terdapat di Afrika, Amerika Selatan dan Tengah serta di Timur Tengah (Gambar 3).

Gambar 3. Cadangan Terbukti Batubara Dunia 2007 (Miliar Ton) 2. Potensi Energi Fosil Indonesia a. Minyak Bumi Daerah yang memiliki potensi minyak bumi yang besar di Indonesia adalah Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Total cadangan terbukti minyak bumi Indonesia pada tahun 2007 adalah 3,99 miliar barrel atau sekitar 0,32% dari cadangan terbukti dunia. Selain cadangan terbukti tersebut, Indonesia juga memiliki cadangan potensial sebesar 4,41 miliar barrel. Dengan memperhitungkan cadangan terbukti dan cadangan potensial, maka total potensi minyak bumi Indonesia sebesar 8,40 miliar barrel (Gambar 4).

Energi, Lingkungan dan Batubara

217

Gambar 4. Cadangan Minyak Bumi Indonesia (Juta Barrel) b.Gas Bumi Daerah yang memiliki potensi gas bumi yang besar di Indonesia adalah Natuna, Sumatera, Papua, Kalimantan dan Jawa. Total cadangan terbukti gas bumi Indonesia pada tahun 2007 adalah 106,01 triliun kaki kubik atau sekitar 1,70% dari cadangan terbukti dunia. Selain cadangan terbukti tersebut, Indonesia juga memiliki cadangan potensial sebesar 58,98 triliun kaki kubik. Dengan memperhitungkan cadangan terbukti dan cadangan potensial, maka total potensi gas bumi Indonesia sebesar 164,99 triliun kaki kubik (Gambar 5).

Gambar 5. Cadangan Gas Bumi Indonesia (Triliun Kaki Kubik) c. Batubara

218

Energi, Lingkungan dan Batubara

Sumberdaya batubara Indonesia sebesar 93,40 miliar ton terdiri dari 23,63 miliar ton sumberdaya hipotetik, 35,20 miliar ton sumberdaya terindikasi, 13,66 miliar ton sumber daya tereka dan 20,91 miliar ton sumberdaya terukur. Cadangan terbukti batubara Indonesia sebesar 5,46 miliar ton dan cadangan mungkin 6,39 miliar ton (Tabel 1). Penyebaran batubara di Indonesia terutama di Kalimantan dan di Sumatera.

Tabel 1. Sumberdaya dan Cadangan Batubara Indonesia
LOCATION RESOURCES (million tons) HYPOTHETIC INFERRED INDICATED MEASURED TOTAL RESERVES (million tons) PROBABLE PROVEN

Sumatra Java Kalimantan Sulawesi Maluku Papua TOTAL

20,148.46 5.47 3,389.28 89.40 23,632.61

13949,28 6.65 21,028.92 146.91 2.13 64.02 35,197.91

10,734.67 2,893.82 33.09 13,661.59

7,699.17 2.09 13,156.04 53.10 20,910.39

52,531.58 14.21 40,468.07 233.10 2.13 153.42 93,402.51

3,781.44 2,605.99 6,387.43

904.80 4,556.99 0.06 5,461.79

3.

Potensi Energi Baru dan Terbarukan Indonesia Indonesia selain memiliki sumber daya energi fosil, juga memiliki sumber daya energi baru dan terbarukan seperti energi air, panas bumi, mini/mikro hidro, biomassa, energi surya, energi angin, uranium dan Coal Bed Methane (CBM) dalam jumlah yang cukup besar (Tabel 2).

Tabel 2. Potensi Sumber Daya Energi Baru dan Terbarukan Indonesia Equivalent Value 75.67 GW 27.00 GW 0.45 GW 49.81 GW 4.80 kWh/m2/day 9.29 GW Existing Utilization 4.2 GW 0.8 GW 0.084 GW 0.3 GW 0.008 GW 0.0005 GW -

Types Hydro Geothermal Mini/Micro Hydro Biomass Solar Wind Uranium

Resources 845.00 juta BOE 219.00 juta BOE 0.45 GW 49.81 GW 9.29 GW 24.112 ton e.q. 3 GW for 11 years

Energi, Lingkungan dan Batubara

219

C. 1.

PRODUKSI ENERGI Produksi Energi Dunia a. Minyak Bumi Produksi minyak bumi dunia tahun 2007 sebesar 81,53 juta barrel per hari, yang berarti mengalami penurunan sebesar 0,2% dari produksi tahun 2006 (81,67 juta barrel per hari). Produsen minyak terbesar berada di wilayah Timur Tengah dengan persentasi produksi sebesar 30,8% dari produksi dunia, dan Eropa dan Eurasia dengan kontribusi 22% dari produksi dunia (Gambar 6).

Gambar 6. Produksi Minyak Bumi Dunia (Juta Barrel per Hari) b.Gas Bumi Produksi gas bumi dunia tahun 2007 sebesar 2,94 triliun meter kubik, yang berarti mengalami peningkatan sebesar 2,4% dari produksi tahun 2006 (28,72 trililun meter kubik). Produsen gas terbesar berada di wilayah Eropa dan Eurasia dengan persentasi produksi sebesar 36,5% dari produksi dunia, dan Amerika Utara dengan kontribusi 26,6% dari produksi dunia (Gambar 7).

220

Energi, Lingkungan dan Batubara

Gambar 7. Produksi Gas Bumi Dunia (Miliar Meter Kubik) c. Batubara Produksi batubara dunia tahun 2007 sebesar 3,14 miliar setara ton minyak (± 6,40 miliar ton batubara), yang berarti mengalami peningkatan sebesar 3,3% dari produksi tahun 2006 (3,03 setara ton minyak atau ± 6,19 miliar ton batubara). Produsen batubara terbesar berada di wilayah Asia Pacific dengan persentasi produksi sebesar 59,0% dari produksi dunia, dan Amerika Utara dengan kontribusi 20,1% dari produksi dunia (Gambar 8). Produksi batubara sejak tahun 2002 sampai 2007 menunjukkan peningkatan yang pesat yaitu berturut-turut 4,85 miliar ton, 5,19 miliar ton, 5,58 miliar ton, 5,90 miliar ton, 6,19 miliar ton dan 6,40 miliar ton.

Energi, Lingkungan dan Batubara

221

Gambar 8. Produksi Batubara Dunia (Juta Setara Ton Minyak) d.Ethanol Pada akhir 2007, produksi ethanol dunia mencapai 25,97 juta setara ton minyak. Hal ini cukup menggembirakan mengingat pada tahun 2001 produksi ethanol dunia baru mencapai 9,12 juta setara ton minyak. Produksi ethanol dunia didominasi oleh Amerika Serikat dengan produksi sebesar 47,7% dari produksi dunia dan Brazil dengan produksi 44% dari produksi dunia. e. Photovoltaik Hingga akhir 2006, energi surya yang dimanfaatkan dengan teknologi photovoltaik berkisar 5,70 GW. Sebagian besar pembangkit listrik tenaga surya tersebut terdapat di Jerman (50,2%), Jepang (30%), dan Amerika (10,9%). f. Tenaga Angin Hingga akhir 2007, kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Angin di dunia sebesar 94,0 GW. Sebagian besar pembangkit listrik tenaga angin tersebut terdapat di Jerman (23,7%), Amerika Serikat (18%), dan Spanyol (15,7%). 2. Produksi Energi Indonesia Produksi minyak bumi nasional terus mengalami penurunan dari 549,18 juta barel pada tahun 1996 menjadi 348,36 juta barel pada tahun 2006. Pada Energi, Lingkungan dan Batubara

222

periode yang sama produksi gas bumi sedikit berfluktuasi namun secara umum menunjukkan trend penurunan yaitu dari 568,28 juta SBM menjadi 529,29 juta SBM. Sebaliknya pada periode tersebut, produksi batubara menunjukkan peningkatan yang tajam dari 215,32 juta setara barel minyak (SBM) menjadi 743,48 juta SBM. Dari sisi energi terbarukan, perkembangan produksi pembangkit listrik tenaga air nasional secara umum relatif konstan pada kisaran 22 juta SBM, sedangkan produksi biomassa meningkat dari 209 juta SBM di tahun 1996 menjadi 322,90 juta SBM pada tahun 2007. Produksi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi juga meningkat dari 4,58 juga SBM di tahun 1996 menjadi 7,18 juta SBM di tahun 2006, dan bahkan pernah mencapai 12,31 juta SBM pada tahun 2003 (Gambar 9).
800 700 600 500

M B S 400 a t u J
300 200 100 0 1993 Batubara 1996 1998 2000 2001 2002 Tenaga Air 2003 2004 Geothermal 2005 2006

Minyak Bumi

Gas Bumi

Biomasa

Gambar 9. Produksi Energi Nasional (Juta Setara Barel Minyak)

D. 1.

KONSUMSI ENERGI Konsumsi Energi Dunia Konsumsi Energi Dunia tahun 2007 mencapai 11,10 miliar setara ton minyak. Jenis energi yang dikonsumsi masih di dominasi oleh energi fosil yaitu minyak bumi 35,61%, batubara 28,62% dan gas 23,76%. Jenis energi lainnya yaitu nuklir dan energi air masing-masing kurang dari 10% (Gambar 10).

Energi, Lingkungan dan Batubara

223

Konsumsi minyak dunia tahun 2007 mencapai 85,22 juta barel per hari dimana 30% dikonsumsi Asia Pasifik dan 23,9% dikonsumsi Amerika Serikat. Konsumsi Gas dunia 2007 mencapai 2,92 triliun meter kubik yang sebagian besar dikonsumsi di Eropa dan Eurasia 39,4%, Amerika Serikat 22,6%, dan Asia Pasifik 15,3%. Pada tahun yang sama, konsumsi batubara mencapai 3,18 miliar setara ton minyak yang sebagian besar dikonsumsi di Asia pasifik (59,7%) dan Amerika Serikat (18,1%).

Gambar 10. Konsumsi Energi Dunia (Juta Setara Ton Minyak) 2. Konsumsi Energi Nasional Konsumsi energi nasional pada tahun 2005 mencapai ± 850 juta setara barel minyak. Jenis energi yang dikonsumsi masih didominasi oleh energi fosil, yaitu minyak bumi, gas bumi dan batubara (Gambar 11). Berdasarkan sektor pemakai energi, sektor pemakai energi terbesar adalah sektor rumah tangga dan komersial, disusul sektor industri dan sektor transportasi (Gambar 12).

224

Energi, Lingkungan dan Batubara

Gambar 11. Konsumsi Energi Nasional (Berdasarkan Jenis Energi)

Gambar 12. Konsumsi Energi Nasional (Berdasarkan Sektor)

E.

KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan Kebijakan Umum Bidang Energi pada tahun 1981 dengan empat kebijakan utama yaitu intensifikasi, diversifikasi, konservasi dan indeksasi. Seiring perjalanan waktu dan perkembangan zaman, kebijakan tersebut terus diperbaharui yaitu pada tahun 1987, 1991, dan 1998. Selanjutnya pada tahun 2003 Kebijakan Umum Bidang Energi diperbaharui lagi dan diubah namanya menjadi Kebijakan Energi Nasional.

Energi, Lingkungan dan Batubara

225

Terakhir pada tahun 2006 ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional tanggal 25 Januari 2006, ditetapkan tujuan dan sasaran Kebijakan Energi Nasional sebagai berikut: Tujuan Kebijakan Energi Naisonal adalah untuk mengarahkan upaya-upaya dalam mewujudkan keamanan pasokan energi dalam negeri. Saranan Kebijakan adalah: Tercapainya elastisitas energi lebih kecil dari 1 (satu) pada tahun 2025 Terwujudnya energi (primer) mix yang optimal pada tahun 2025, yaitu peranan masing-masing jenis energi terhadap konsumsi energi nasional : 1. Minyak bumi menjadi kurang dari 20% (dua puluh persen). 2. Gas bumi menjadi lebih dari 30% (tiga puluh persen). 3. Batubara menjadi lebih dari 33% (tiga puluh tiga persen). 4. Bahan bakar nabati (biofuel) menjadi lebih dari 5% (lima persen). 5. Panas bumi menjadi lebih dari 5% (lima persen). 6. Energi baru dan energi terbarukan lainnya, khususnya biomassa, nuklir, tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin menjadi lebih dari 5% (lima persen). 7. Batubara yang dicairkan (liquefied coal) menjadi lebih dari 2% (dua persen). Untuk mencapai sasaran Kebijakan Energi Nasional tersebut, dicapai melalui 2 (dua) kebijakan yaitu Kebijakan Utama dan Kebijakan Pendukung Kebijakan utama meliputi: Penyediaan energi melalui: 1. Penjamin ketersediaan pasokan energi dalam negeri; 2. Pengoptimalan produksi energi; 3. Pelaksanaan konservasi energi; Pemanfaatan energi melalui: 1. Efisiensi pemanfaatan energi; 2. Diversifikasi energi. Penetapan kebijakan harga energi ke arah harga keekonomian, dengan tetap mempertimbangkan kemampuan usaha kecil, dan bantuan bagi masyarakat tidak mampu dalam jangka waktu tertentu. Pelestarian lingkungan dengan menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan. Kebijakan pendukung meliputi: Energi, Lingkungan dan Batubara

a.

b.

c.

d. e. 226

Pengembangan infrastruktur energi termasuk peningkatan akses konsumen terhadap energi; g. Kemitraan pemerintah dan dunia usaha; h. Pemberdayaan masyarakat; i. Pengembangan penelitian dan pengembangan serta pendidikan dan pelatihan. Dalam Peraturan Presiden No. 5/ 2006 tersebut juga diatur mengenai harga energi, sebagai berikut: 1. Harga energi disesuaikan secara bertahap sampai batas waktu tertentu menuju harga keekonomiannya. 2. Pentahapan dan penyesuaian harga energi harus memberikan dampak optimum terhadap diversifikasi energi. 3. Ketentuan lebih lanjut mengenai harga energi dan bantuan bagi masyarakat tidak mampu dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. F. 1. MENGATASI KRISIS ENERGI Kebijakan Energi Nasional dan Daerah Untuk mengatasi krisis energi yang terjadi, Pemerintah Daerah perlu menindaklanjuti Kebijakan Energi Nasional dengan menetapkan Kebijakan Energi Daerah mengacu kepada kebijakan di tingkat nasional. Pemerintah Daerah diberi keleluasaan untuk menetapkan Kebijakan Energi Daerah sesuai dengan potensi sumber daya energi yang dimiliki dan kondisi daerah setempat. Konservasi Energi Selain kebijakan energi yang merupakan landasan hukum dalam pembangunan di bidang keenergian, upaya untuk mengatasi krisis harus dilakukan dengan cara melakukan konservasi energi secara nasional. Konservasi dilakukan baik di sektor hulu (penghasil energi) maupun di sektor hilir (pengguna energi). Di sektor hulu pada kegiatan pertambangan sumber daya energi (misalnya batubara) perlu ditetapkan batasan margin profit yang harus ditaati pelaku pertambangan batubara. Hal ini dimaksudkan agar para pelaku pertambangan batubara tidak hanya menambang batubara yang dekat permukaan saja akan tetapi harus menambang hingga kedalaman sesuai dengan batas keekonomian (margin profit yang ditetapkan) dengan demikian batubara yang ditambang akan lebih banyak. Di sisi hilir (pengguna energi) juga harus dilakukan pemasyarakatan gerakan hemat energi mulai dari hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, misalnya 227

f.

2.

Energi, Lingkungan dan Batubara

dalam penggunaan peralatan rumah tangga seperti televisi, AC, penerangan, dan sebagainya. Membudayakan untuk mematikan lampu, televisi dan AC sewaktu ruangan tidak digunakan merupakan langkah awal yang harus ditempuh, dan ini membutuhkan partisipasi aktif semua pihak. Penggunaan sensor juga akan sangat membantu konservasi di bidang ketenagalistrikan misalnya sensor cahaya matahari untuk lampu-lampu di luar rumah, sensor infra merah untuk ekskalator dan sebagainya. Di sektor transportasi misalnya dengan cara memanaskan mesin kendaraan secukupnya, perawatan secara berkala agar penggunaan bahan bakar tidak boros dan sebagainya. 3. Intensifikasi Kegiatan eksplorasi perlu terus dilakukan secara intensif dengan melibatkan teknologi terkini dalam upaya menemukan sumber daya energi baru guna menjamin ketersediaan energi nasional. Kegiatan eksplorasi dan penelitian dan pengembangan teknologi dilakukan baik untuk pengembangan pemanfaatan energi fosil maupun energi non fosil. Pengembangan berbagai sumberdaya energi a. Sektor Minyak dan Gas Bumi Di sektor minyak dan gas bumi perlu dilakukan intensifikasi berupa kegiatan eksplorasi untuk menemukan lapangan-lapangan minyak dan gas bumi yang baru maupun untuk meningkatkan status cadangan ada ke tingkatan keyakinan geologi yang lebih tinggi. Selain penemuan cadangan baru, juga perlu diupayakan pemanfaatan sumur-sumur tua yang tidak lagi berproduksi dan ditinggalkan dengan menerapkan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). Penerapan teknologi EOR ini akan dapat memproduksi minyak dari lapangan minyak yang sebelumnya telah dianggap habis dan tidak dapat diproduksikan lagi. b. Sektor Batubara Pemanfaatan batubara saat ini terutama untuk bahan bakar pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap dan sebagian pada industri. Perkembangan pemanfaatan batubara yang lain adalah pemanfaatan sebagai briket batubara untuk memenuhi kebutuhan energi di sektor rumah tangga dan industri kecil dan menengah.

4.

228

Energi, Lingkungan dan Batubara

Mengingat banyaknya teknologi yang tersedia dalam pemanfaatan batubara, perlu dikembangkan penerapan teknologi derivatif batubara misalnya dengan teknologi Upgrading Brown Coal (UBC) yang akan dapat meningkatkan nilai kalori batubara yang awalnya termasuk peringkat rendah. Dengan penerapan teknologi UBC ini batubara peringkat rendah yang tadinya tidak dapat dimanfaatkan akan dapat ditambang dan dimanfaatkan secara ekonomis dengan demikian akan meningkatkan ketersediaan energi nasional. Pemanfaatan produk UBC dapat untuk mensupplai kebutuhan batubara antar pulau maupun ekspor. Teknologi gasifikasi batubara telah pernah diperkenalkan dan dilakukan percontohan gasifikasi batubara untuk sektor rumah tangga. Dengan kondisi krisis energi sekarang ini, hasil percontohan tersebut perlu ditindaklanjuti dan dikembangkan agar dapat menunjang kebutuhan energi di sektor rumah tangga dan industri kecil dan menengah. Teknologi likuifaksi batubara saat ini memang belum memasuki tahap komersial, walaupun teknologinya telah tersedia. Untuk itu perlu dilakukan percepatan penelitian dan pengembangan agar dapat dimanfaatkan. Likuifaksi batubara akan sangat bermanfaat dalam menyediakan minyak sintetis yang semakin langka karena krisis energi. c. Sektor Biofuel Biofuel dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di sektor transportasi dan sektor industri. Teknologi biofuel telah proven dan bahkan telah memasuki tahap komersial. Saat ini biosolar telah tersedia di pasaran dengan perbandingan 10% biofuel dan 90% minyak solar. Dengan penelitian dan pengembangan serta kerjasama dengan pabrikan otomotif, persentase biofuel dapat ditingkatkan (misalnya hingga 30% – 40%) agar porsi minyak bumi dapat ditekan. Dengan pertumbuhan produksi dan konsumsi biodiesel tersebut perlu disiapkan bahan baku biodiesel. Oleh karena itu diperlukan suatu kebijakan yang menjamin suplai bahan baku biodiesel. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengupayakan penanaman bahan baku biofuel di pulau-pulau yang tidak berpenghuni. Hal ini akan menjadi kontinuitas suplai bahan baku biofuel. Sebagai bahan bakar yang masih tergolong baru, penggunaan biofuel perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat luas baik di tingkat nasional maupun daerah. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan energi baru tersebut. Energi, Lingkungan dan Batubara 229

d.

Sektor Energi Baru dan Terbarukan Lainnya Pengembangan energi baru dan terbarukan lainnya juga perlu dilaksanakan dalam rangka menjamin ketersediaan energi nasional. Coal Bed Methane perlu terus dieksplorasi lebih intensif (percepatan) agar dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan energi nuklir secara teknologi telah terbukti di berbagai negara, oleh karenanya penggunaan energi nuklir di Indonesia perlu terus disosialisasikan. Salah satu cara yang dapat ditempuh pada tahap awal adalah dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di pulau yang tak berpenghuni yang terletak dengan dengan pusat-pusat pengguna listik. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya gejolak di masyarakat sekaligus menjadi test case. Setelah PLTN beroperasi tanpa adanya dampak yang ditakutkan, maka masyarakat akan dapat menerima PLTN. Peningkatan pemanfaatan energi air, energi surya, energi angin, biomass, dan biogas difokuskan untuk memenuhi kebutuhan energi setempat.

G.

PENUTUP Indonesia memiliki potensi sumberdaya energi fosil maupun sumber daya energi non fosil dalam jumlah yang cukup besar. Untuk mengatasi krisis energi yang terjadi, perlu diupayakan pemanfaatan energi non fosil yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk percepatan mengatasi krisis Energi, perlu kebijakan yang kondusif di tingkat nasional untuk memicu daerah melaksanakan pemanfaatan potensi sumberdaya energi setempat.

1.

Prioritas pengembangan energi: Jangka Pendek • Pemanfaatan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan industri melalui pengembangan gas kota untuk daerah penghasil gas bumi, sedangkan untuk daerah bukan penghasil minyak bumi menggunakan elpiji. • Pengembangan briket batubara, upgrading brown coal (UBC) untuk memenuhi kebutuhan sektor rumah tangga dan industri.

230

Energi, Lingkungan dan Batubara

Pengembangan synthetic gas batubara untuk memenuhi kebutuhan gas kota dan industri. Hasil percontohan yang pernah dilakukan perlu ditindaklanjuti Pengembangan pemanfaatan bahan bakar nabati untuk memenuhi kebutuhan energi di sektor transportasi dan sektor industri. Untuk menjadi kontinuitas suplai bahan bakar nabati, perlu dilakukan penanaman bahan baku untuk bahan bakar nabati di pulau-pulau yang belum berpenghuni. Hal ini sekaligus sebagai bentuk pemanfaatan sumber daya lahan secara optimal. Pengembangan pemanfaatan biogas difokuskan padah daerah peternakan. Dengan demikian akan meningkatkan ketersediaan energi setempat dan sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Pemanfaatan potensi panas bumi perlu dilakukan dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi guna memenuhi kebutuhan listrik di industri dan rumah tangga.

2.

Jangka Panjang • Perlu dilakukan intensifikasi di bidang minyak dan gas bumi, meliputi kegiatan eksplorasi dan penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery pada lokasi-lokasi minyak tua yang telah ditinggalkan. • Pengembangan crude synthetic oil dari batubara untuk memenuhi kebutuhan energi di sektor transportasi dan rumah tangga. • Pemanfaatan Coal Bed Methane (CBM) untuk bahan bakar pada pembangkit listrik tenaga gas skala kecil. • Pemanfaatan energi nuklir untuk menghasilkan energi listrik untuk memenuhi kebutuhan energi di sektor industri, rumah tangga dan transportasi. Revitaliasi Kebijakan Energi Kebijakan Energi yang telah ditetapkan perlu dikaji secara berkala dan disesuaikan dengan kondisi keenergian baik di tingkat nasional maupun global. Secara konsisten dapat melaksanakan perubahan energi mix nasional pada Peraturan Presiden No. 5/2006 untuk pemanfaatan batubara, gas, dan EBT secara optimal.

3.

Energi, Lingkungan dan Batubara

231

DAFTAR PUSTAKA

BP Statistical Review of World Energy, June 2008 Pusat Data dan Informasi, DESDM RI 2008 Indonesian Coal Book 2008/2009, Indonesia Coal Mining Association, 2008 Direktori Industri Penunjang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, DJLPE, DESDM RI, 2005

232

Energi, Lingkungan dan Batubara

DILEMMA OF MULTI ENERGY RESOURCES IN SOUTH SUMATRA PROVINCE*) Machmud Hasjim

INTRODUCTION Energy serves as fuel and industrial raw materials, contribute to sustainable national development. Therefore, energy management is governed by the General Policy of Energy Sector in 1981 with four main policies; those are intensification, diversification, conservation and indexation. With the passage of time, the policy is kept up to date is in 1987, 1991, and 1998. Subsequently in 2003 the General Policy of Energy Sector renewed again and changed its name to National Energy Policy. Finally in 2006 established the Presidential Regulation No. 5 of 2006 on National Energy Policy. In the Presidential Regulation No. 5 / 2006 on National Energy Policy dated on January 25, 2006, the objective of National Energy Policy is to direct efforts to achieve domestic energy supply security. It is expected that South Sumatra energy management will be able to prepare a regional energy policy in South Sumatra with relatively the same goal as the goal of national energy policy. The situation is very necessary considering the wishes of the people which is proposed by governor of South Sumatra and was greeted by the President while inauguration of PLTGU dated 9 November 2004; declares South Sumatra as the storage of national energy by 2010. Potency of energy resource of South Sumatra province is large, both conventional energy resources (petroleum, natural gas, and coal), and the resources of non-conventional energy (renewable energy). Until now, the dependence on oil is very large compared to the dependence on other energy sources. It can be seen in the household sector as well as transportation sector, and industrial sectors. This is because the use of petroleum is more practical and has long been known to the public. These conditions resulted in an imbalance in energy resources utilization that causes the utilization of other energy resources become less optimal. For example, the use of natural gas and coal in the household sector is still very limited. Nowadays oil reserves are getting less, and therefore international oil prices are rising continuously. Domestically, the Government has adopted a policy to set the price of oil is gradually following the market price, therefore the price of fuel oil (BBM) as a product derived from crude oil also continued to rise towards market mechanisms. Energi, Lingkungan dan Batubara 233

1.

Rising fuel prices are indirectly impact on increasing the competitiveness of other energy resources of petroleum, such as natural gas and coal. For example in the household sector, estimated cost of using natural gas will be lower than the cost of LPG, but for its application is still hampered by distribution system (piping system from the station to the consumer). The cost of the use of coal briquettes also economically cheaper than the use of kerosene, but the implementation is not practical and the public have been accustomed to using kerosene, so the use of coal briquettes in the household sector is relatively very small. Renewable energy (water energy, solar energy, wind energy, biomass energy, bio-gas energy) in South Sumatra is still very limited and their utilization is still not yet popular. Development and utilization of energy have to be done wisely for the existence of these energy resources can be provided benefits directly or indirectly by the public, especially in the vicinity. In the end the wise management is expected to improve the welfare of society which is the mandated on the 1945 Constitution Article 33 Paragraph 2 and Paragraph 3. 2. 2.1. ENERGY POTENCY Crude Oil The area has great potency of crude oil in Indonesia are Java, Sumatra and Kalimantan. The total proven petroleum reserves in Indonesia in 2007 are 3.99 billion barrels, or approximately 0.32% of world proven reserves. Taking into account the proven reserves and potential reserves, the total potential of Indonesian crude oil amounted to 8.40 billion barrels. Of the total national potential, which is located in South Sumatra amounted to 0.92 billion barrels, equivalent to 10.95% (Figure 1).

Source: Directorate General of Oil and Gas, Dept. of Energy and Mineral Resources 2008

Figure 1. National Oil Reserves (Million Barrels) 234 Energi, Lingkungan dan Batubara

2.2.

Natural Gas The area has great potential for natural gas in Indonesia is the Natuna, Sumatra, Papua, Kalimantan and Java. The total proven natural gas reserves in Indonesia in 2007 were 106.01 trillion cubic feet or approximately 1.70% of world proven reserves. In addition to these proven reserves, Indonesia also has potential reserves of 58.98 trillion cubic feet. Taking into account the proven reserves and potential reserves, the total potential of Indonesian natural gas amounted to 164.99 trillion cubic feet. South Sumatera gas potential is 26.68 TCF or approximately 16.17% of the national potential (Figure 2).

Source: Directorate General of Oil and Gas, Dept. of Energy and Mineral Resources 2008

Figure 2. National Gas Reserves (TSCF) 2.3. Coal Indonesian Coal Resources of 65.40 billion tons. Based on its quality, 24%, including low rank coal, 60% rated moderate, and 15% of high rank, and only 1% of which included very high ratings. In general, coal is concentrated in Kalimantan and Sumatra. East Kalimantan has the largest resources and followed by South Sumatra (23.68 billion tons). East Kalimantan Coal rank is generally categorized as high rank and only a small portion belonging to low ratings. Instead of coal of South Sumatra which generally categorized as low to moderate rank and only a small portion that includes a high ranking. South Sumatera coal resources of 23.68 billion tons or about 36.2% of national coal potential (Figure 3).

Energi, Lingkungan dan Batubara

235

Source: Directorate General of Mineral, Coal and Geothermal, Department of Energy and Mineral Resources 2008

Figure 3. National Coal Resources (Based on Location and Rank) 2.4. Coal Bed Methane National Resources of Coal Bed Methane (CBM) of 453.3 TCF consists of 11 CBM Basin. The largest resources are in the South Sumatra Basin (183 TCF, or 40.37% of national resources), followed Kutei Barito Basin (Figure 4).

Figure 4. National Coal Bed Methane Resources 236 Energi, Lingkungan dan Batubara

3.

SWOT ANALYSIS Before working out the strategy of energy management, it is necessary to identify problems with the SWOT analysis, which gather strength, weaknesses, opportunities, and threats that exist in South Sumatra. 3.1. Strengths a. The potency of energy resources (SDE) that are conventional oil, gas and coal are large, although have not yet utilize optimally. b. Potency of non-conventional energy resources such as hydropower, biomass and geothermal are sufficient. c. Reserves of coal bed methane (CBM), which also promises for alternative energy future. d. Human resources generated through universities from the South Sumatra or from elsewhere are available. e. Conversion of primary energy into secondary and the final energy and the final. Weaknesses a. Separated locations of energy resources from the consumer b. Less Energy infrastructure for transportation c. Oil reserves decrease while EOR technology is not adequate. d. Most of natural gas products are exported. e. Less integration of research and development of energy due to selfsector ego. Opportunities a. Utilization of energy will encourage economic activities in the village which can bring new economic power. b. Diversification of energy resources utilization in South Sumatra is highly possible, because the number and type of energy are sufficient enough. c. Opportunities of natural gas utilization for the community, especially the household. d. Low rank coal prices are cheap which enables to minimize the mine mouth power plant fuel cost. e. Low rank coal can be modified to be High rank coal with Upgrading Brown Coal technology, and can be exported. f. The increases in world energy price give a better opportunity for energy coal. g. Opportunities for liquefaction and gasification of coal for the future are open widely. 237

3.2.

3.3.

Energi, Lingkungan dan Batubara

3.4.

Threats a. Limitations of energy infrastructure such as rail, ports and other make difficulties to transport the energy. b. Dependency of the transport sector to oil fuel is very high for the future while production continues to decline. c. Energy intensity is still high, indicating that the efficiency of energy consumption is low. d. Unfavorable investment climate.

DILEMMA OF SOUTH SUMATRA PROVINCE South Sumatra province has a large amount of potential energy resources both fossil and non fossil energy, and has been proclaimed as the National Energy Barn. But the fulfillment of energy needs in South Sumatra itself are facing many dilemmatic obstacles, among others, difficulties in supplying natural gas to fertilizer plants, the lack of low-cost energy for households sector and also the reliability of the electricity system is still low. The magnitude of coal potency as fuel in power plant does not guarantee electricity in South Sumatra have high levels of reliability, quite the opposite this area frequently experience power failure. These contradictory conditions occur because of lack of energy transportation infrastructure such as the Java-Sumatra submarine cables, installation of piping for the supply of natural gas and so forth. 5. 5.1. STRATEGIES OF ENERGY DEVELOPMENT Natural Gas Development One of the non-petroleum energy resources that could potentially be used to offset the domination of petroleum is natural gas. Currently, the Government has implemented programs Conversion Kerosene to LPG. The program is a good program to reduce petroleum dependence. However, consider that LPG can be sourced from natural gas or from petroleum. Indonesia has much potential natural gas, but not all natural gas can be converted to LPG so that some of LPG is likely to be produced from crude oil so that efforts to reduce petroleum use become less effective. Because of this condition, consideration should be to use natural gas directly as household fuel especially in the gas producing regions, so that LPG can be diverted to be used in other areas of non-producing natural gas. Constraints in utilization of natural gas in the household sector are the lack of infrastructure / pipeline that connects the mains pipes with the consumer. Local Governments should seek a secondary pipeline investment so that range of supply of natural gas can be increased. For the user this provides Energi, Lingkungan dan Batubara

4.

238

the advantage of cheaper gas and reducing problem of run out of stock as occurred when the purchase of LPG in cylinders at retailers. Besides utilization to households, utilization of natural gas for transport sector also needs to be encouraged. Local Government of gas producer needs to do a demonstration of natural gas-fueled vehicles and simultaneously facilitate the procurement of Gas Fuel Station and infrastructure. It also should be considered to provide incentives for natural gas vehicles. 5.2. Coal Development Coal is one of the most favored energy sources in counterbalance the domination of petroleum in the national energy mix. Utilization of coal can be done through direct combustion or through the utilization of coal derivatives. 1. Electrical energy Direct coal utilization is primarily for electricity generation. The Government has established a policy to reduce the Diesel Power Plant and replace it with coal fired Power Plant. Even the Government has initiated the crash program of construct 10,000 MW coal power plant. Most of the power plant will be built in Java that is equal to 6900 MW consisting of 10 projects, namely in Suralaya, Paiton, Apex, Indramayu, Tanjung Awar-Awar, Labuhan, Tanjung Jati, Pacitan, Teluk Naga and Pelabuhan Ratu. Meanwhile, outside Java power plant planned for as many as 25 coal fired power plant with total capacity of 3100 MW, which spread in Sumatra (10 projects), Kalimantan (4 projects), Sulawesi (4 projects), Sulawesi (4 projects), Nusa Tenggara (3 projects), Maluku (2 projects), and Papua (2 projects). At the crash program, South Sumatera, coal-producing regions as well as national energy barn, completely untouched. This is because the electricity transmission infrastructure connecting South Sumatra with a central load (Java Island and surrounding area) are not yet available. Currently, the effort to provide transmission is being prepared, among others increasing capacity of 150 kV to be 275 kV and are also being conducted on the Java-Sumatra Submarine Cable. If the transmission network is already available, it is reasonable that coal power plant construction program will be focused in South Sumatra to close with the required fuel. The utilization of coal as electricity is very precise, especially for low rank coal of South Sumatra which has low ash but high water contents. With the mine-mouth utilization, it is expected to reduce the cost of 239

Energi, Lingkungan dan Batubara

transportation of coal and its impact can still be neutralized environment that is natural. To support the development of mine mouth power plant, infrastructure of transmission network is needed; including developed Java-Sumatra submarine cables and Sumatra - Singapore - Malaysia submarine cables when necessary. 2. Exports and inter-island Coal which has a high quality should be prioritized for export and interisland transportation in order to reduce costs and generate foreign exchange for the country and region income for the coal-producing areas. Utilization of coal for export and inter-island is constrained by transportation infrastructure. Limited railway and highway use would interfere with the traffic in general. For that Local Governments should facilitate the construction of roads and provide convenience to investors who are interested in making road transport of coal. It also needed a bridge and jetty for coal . Derivative of Coal Development of coal derivative that have been applied in Indonesia today are coal briquettes and Upgrading of Brown Coal (UBC), while the coal liquefaction, coal gasification and coal water fuel (CWF) is still in the stage of research in the laboratory. The development of the utilization of coal briquettes tend to slow, although in general has been accepted for the industry, but among household has not received a satisfactory response. This is mainly due to technical problems of ignition and extinction that still less practical. To increase the utilization, socialization and approaches need to be done in order to cook a continuous pattern. But in general it can be said conversion from kerosene to LPG program would be very burdensome to the development of coal briquettes. Implementation of UBC in Indonesia just entered the stage of pilot plant and demonstration plant located at Palimanan Cirebon West Java and South Kalimantan. Application of derivative technology will greatly assist in the marketing of low rank coal economically. Coal liquefaction and gasification technologies are still in research stage and may be in the near future will be built a pilot plant in

3.

240

Energi, Lingkungan dan Batubara

Indonesia. Whereas coal water fuel technology is still in early research stage. Due to the constraint in the supply of gas for fertilizer industry in South Sumatra, coal gasification potential to meet those needs. Therefore it is necessary that the application of this technology in South Sumatra in particular and Indonesia in general. In order to develop the utilization of coal derivatives, research activities of coal liquefaction and gasification and coal water fuel should be encouraged. Especially in the National Energy Policy targeted share of liquefied coal is 2% of the national energy mix.

5.3.

Coal Bed Methane CBM technology starting from exploration to determine the suitable location for CBM drilling. This exploratory phase includes the analysis of the local geological data, dissemination and quality of coal. Sometimes exploration drilling is needed in this phase. Further experiments carried out drilling of production wells at this stage of performance observed and learned as well about the development of reservoir modeling to determine the feasibility of production development. After all the data shows the feasibility for production of CBM, conducted drilling vertical and in-seam and gas pipeline on the surface. CBM production per well bore much lower than production per well in oil and gas mining, therefore to get CBM in large numbers, it takes a lot of production boreholes. In principle, the CBM has the characteristics that are relatively similar to natural gas, therefore, all gas consumers can use the CBM gas. However, because the produced CBM is relatively small compared to natural gas production, the optimal utilization of CBM is for gas power generation capacity of small-medium (PLTG 10 MW - 20 MW) or small-medium scale industries and household sector. Meanwhile, to meet the needs of largescale gas (PLTG 100 MW) and large industries, natural gas should be use.

5.4.

Renewable Energy Development Development of new and renewable energy is one of the huge potential in taking over the role of petroleum. New and renewable energy is locally so its utilization focused to meet local energy needs. New and renewable energy development potential in the medium - large includes geothermal energy, 241

Energi, Lingkungan dan Batubara

water energy and nuclear energy for electricity generation. In addition, biofuel energy is also very potential to be developed to meet the needs of national fuel. In order to develop new and renewable energy that is local for example mini and micro hydro, biogas, and so required a pilot and socializing as well as equipment procurement assistance. Through the pilot, expected to meet energy needs in the pilot areas, thereby surrounding area will follow by making energy conversion devices such as biogas reactors, water mill and so forth. 6. CLOSING Energy resource of South Sumatra province which is potential to develop for nowadays are natural gas and coal, given the oil reserve is running low. For longterm renewable energy is an alternative energy such as water energy, solar energy, biomass energy, biogas, and coal bed methane (CBM). The number of large coal reserves in South Sumatra, including the Low Rank Coal (LRC), can be used directly for mine mouth power plant, for the High Rank Coal with UBC process technology, liquefaction and gasification. Electricity from the power plant can be used for electric train (KRL) between cities in South Sumatra (or even wider). In addition to industrial and household needs that enable to be sold to Java, Sumatra and neighboring countries. Existing gas can be sent out of South Sumatra, beside to usefulness in this area for industrial fuel, household, and transportation. All of them require wisdom in the management of energy resources, in order to fulfill the mandate of the 1945 Constitution with the keyword "The wealth of the people."

242

Energi, Lingkungan dan Batubara

REFERENCES Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia, “Kebijakan Batubara Nasional Tahun 2004 – 2020”, Jakarta 2004. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia, “Kebijakan Energi Nasional 2003 – 2020”, Jakarta, 2004. Djajadiningrat, H.M., Darmansyah., Basri, H., “Konsep Masterplan Provinsi Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional”, Workshop Penyusunan Masterplan Provinsi Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional, Jakarta, 12 Desember 2005. Hasjim, M., “Peluang dan Tantangan Batubara Sumatera Selatan”, Makalah Seminar Nasional Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi”, Jakarta, Nopember 2000. Hasjim M., Ismail, S., dan Toha, T., “Utilization Opportunity of South Sumatra Low Rank Coal”, The 4th International Conference and Exhibition on Coal Tech 2003, Indonesian Coal Society, 2003. Hasjim, M., dan Toha, T., “Prospek Sumatera Selatan sebagai Pusat Penghasil Energi”, Temu Profesi Tahunan XIII Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Palembang, 2004. Machmud Hasjim., Syarfiuddin Ismail., dan Taufik Toha., “Prospect of South Sumatra to Export Electricity to the South East Asia”, The 5th International Conference and Exhibition on Coal Technology, Kuala Lumpur, Malaysia, 2004. Hasjim, M., “Kontribusi Sumberdaya Energi Sumatera Selatan pada Pembangunan Nasional”, Pertemuan Tahunan dan Forum Diskusi IATSRI 2005, Palembang, 17 Desember 2005. Hasjim, M., Boedoyo, S., Priyanto, U., Adi, A.C., “Pengembangan dan Pemanfaatan Sumberdaya Energi Sumatera Selatan”, Workshop Penyusunan Masterplan Provinsi Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional, Jakarta, 12 Desember 2005.

Energi, Lingkungan dan Batubara

243

Hasjim., M., dan Toha, T., “Strategi Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan untuk Percepatan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional”, Proceeding TPT PERHAPI 2008, Palembang 24 – 25 Juli 2008 Oesman, S., “Sasaran Program Pembangunan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional 2009”, Workshop Master Plan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional, Jakarta 12 Desember 2005. Toha. T., “Prioritas Pemanfaatan Gas Bumi di Sumsel”, Majalah RIPTEKS Dewan Riset Daerah Sumatera Selatan, Edisi 04, Oktober 2005. Toha. T., “Kajian Dampak Lingkungan Program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional”, Proceeding TPT PERHAPI 2008, Palembang 24 – 25 Juli 2008 Toha T., “Strategi Percepatan Implementasi Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional”, Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Teknik Pertambangan pada Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Universitas Sriwijaya, Palembang, 18 Juni 2009.

244

Energi, Lingkungan dan Batubara

REGIONAL PREPARATIONS IN DEVELOPMENT OF BANKO COAL LIQUEFACTION PLANT SOUTH SUMATRA Machmud Hasjim

INTRODUCTION Petroleum and gas reserves that act as main energy resources to fulfill national energy demand so far are getting less. To anticipate lack of petroleum and gas, alternative energy is needed to reduce dependence of oil and gas. From point of view energy potency of South Sumatra Province, coal is one of energy that potential to take the position over. Utilization of Indonesian coal so far is limited only as energy sources in direct fuel at electric power plants, cement industries, metal smelter plants and others. Development of coal resources in Indonesia basically is a part that cannot be separated from the national energy policy that to guarantee continuity of energy supply and demand, which support the development to increasing people’s wealthy. For that reason, coal is expected to act as energy resources to replace petroleum which reserves getting less. However direct coal utilization is not as simple as petroleum, because its solid form. This is particularly caused by pollution that formed by coal burning in large-scale industries. Coal conversion can be liquefaction, gasification and coal up grading. Attempt of coal liquefaction is one alternative for easier utilization and as environmentally save energy resources. Technically oil produced from coal liquefaction processes has more advantages than coal in solid form, because easier in handling, using and transporting. Besides liquid from coal can be processed further to produce chemical compounds that having high economic value. Conversion of coal to be liquid fuel is very important in anticipate deficit of petroleum, therefore liquefaction technology should be ready to operate commercially. Since introduction period of new technology is about 10 years after the technology technically ready to operate commercially, the government should anticipate this problem without waiting any longer. Direct coal liquefaction technology has been develop significantly in last decades due to research and development until in the stage that technically ready. Energi, Lingkungan dan Batubara 245

A.

The high technology should be implement in South Sumatra, which have enormous low rank coal that has not been utilized. Regional preparation in South Sumatra has reach the high level and ready for implement the coal liquefaction technology in South Sumatra.

B. 1.

BANKO COAL RESERVES AND QUALITY Reserves To ensure realistic limitation in coal reserves estimation, based on PreFeasibility Study Banko Tengah, PT. Morrison Knudsen Indonesia organizes a set of criteria (Table 1), exclude uncertain, narrow, dirty, oxidized, and very deep coal reserves. TABLE I. CRITERIA OF RESERVES ESTIMATION Criteria Reserves classification projection limit Minimum seam thickness Maximum ash value Seam subcrop (oxidation depth) Maximum overburden ratio Maximum parting thickness on seam Limiting Value 500 meters 2 meters 25% dry basis 10 meters 6 : 1 m3/ton 30 cm

In-place reserves estimation (reserve base) based on geological model is tabulated by seam (Table II) and by in-place overburden ratio (Table III). Coal reserve at Banko area is approximately 1 billion tons (Table II and Table III). TABLE II. RESERVES BY SEAM Group Seam Mangus Suban Petai TOTAL 246 Number of Sub Seam 5 5 3 13 Reserves (Million ton) 128 431 462 1,021 Total Percent 13 42 45 100

Energi, Lingkungan dan Batubara

TABLE III. RESERVES BY OVERBURDEN RATIO Overburden ratio (Bcm/Ton) Less than 2 : 1 2 : 1 to 3 : 1 3 : 1 to 4 : 1 4 : 1 to 6 : 1 TOTAL Measured Reserves*) (Million ton) 259 262 47 19 587 Indicated Reserves**) (Million ton) 67 223 109 35 434 Total Reserves (Million ton) 326 485 156 54 1,021 Total Percen t 32 48 15 5 100

*) Based on 250 m data point 2.

**) Based on 500 m data poin

Quality Central Banko coal is a low sulfur content and high moisture content coal. On an as-received moisture basis, the coal has an average coal calorific value is 4164 Kcal/kg, average ash content is 6,17%, average sulfur content is 0,34% and moisture content is about 35%. Generally, main seams in the concession area are typically uniform in quality with obvious contact limit between coal and other materials, but deteriorate at the area when main coal seams split into narrow seams.

C. REGIONAL PREPARATION 1. Road Road between Tanjung Enim and Palembang is part of Trans Sumatra Highway and classified as national highway. The road is in good condition and designed for 8.5 ton load. Route between Palembang-Prabumulih is wide enough and without too much curve. In line Prabumulih-Muara Enim the road is curvy and short distance between the curves. In line Muara Enim-Tanjung Enim, the road is narrower and curvy. The road can be use for transporting small equipment and construction material supply and other raw materials, which required by Banko coal liquefaction plant. Transportation of large equipment is carried out via river transportation to the nearest location and then transport through clay road (production road).

Energi, Lingkungan dan Batubara

247

2.

Railroad The railroad network in South Sumatra covers the South Sumatra Province and Lampung Province. There are three main railways in this network, that is : - Railway route with 305 km between Palembang and Lubuk Linggau, via Prabumulih and Lahat. - Railway route with 322 km between Prabumulih and Tarahan, via Baturaja, Kotabumi and Tanjung Karang. - Railway route for coal transportation between Muara Enim and Tanjung Enim. The axis load is designed at 18 tons for the line between Tanjung Enim and Tarahan and 12 tons for other line. Main cargo actually transported by railways is coal, which is about 95% of total cargo. River River condition is important from both viewpoints of transportation of equipments and supply of necessary water for the liquefaction plant and electric power plant. Palembang – Tanjung Enim is connected by Musi river, Lematang river, and Enim river. The possibility of river transportation is as the following : a. River mouth to Palembang (about 100 km via Musi river) The Musi river is important route for transporting products of Pertamina refinery and fertilizer from PT. Pupuk Sriwijaya. Generally, maximum length of the ship that can operate the Musi river is about 180 m with weight up to 10.000 DWT. To keep minimum depth (7 m), dredging work has been carried out regularly by Pertamina and Pusri. There are docks of the Pertamina and Pusri, which can be used for reshipment ship to the barge for further transportation to plant site. b. Palembang to Muara Lematang (86 km via Musi River) Average river width is 370 m and there are not so many curves and it has mostly gentle flow. The obstacle may disturb the transportation is the Ampera bridge, but 9 m clearance (between the river surface and the bridge) will be kept even in high tidy and rainy season. c. Muara Lematang to Muara Enim (186 km via Lematang river) The Musi river branch off at Muara Lematang. The Lematang river can be used for the transportation. The average width of the river is 140 m and there are many curves in some part of the river. In dry season, the width of the river will become 50 m. There are two bridges that can Energi, Lingkungan dan Batubara

3.

248

disturb the transportation of equipments and these clearance (between river surface and the bridge) are 7.3 and 4 m, respectively. d. Muara Enim to Karang Agung (30 km via Enim river) The Lematang river branch off at Muara Enim. The Enim river can not be able to use for the transportation of equipments, because the river doesn’t have enough water flow and it is too narrow. e. Transportation of equipment between Palembang and Muara Enim There is a PLN’s power plant (4 x 65 MW) in Tanjung Enim. The construction of no. 1 and no. 2 trains started in 1982 and finished in 1988 followed by the construction of no. 3 and no. 4 trains started in 1992 and finished in 1996. The heavy equipment was transported by using the Musi river and the Lematang river. The largest equipment is generator and its weight was 95 tons. Temporary jetty was constructed at 3 km Northeast from Muara Enim and equipments were transported to the construction site through Trans Sumatra Highway and production road (clay-road). Based on the experiences, the heavy equipment transportation for coal liquefaction plant can use the same manner. 4. Industrial water A 12,000 tons/day coal liquefaction plant will require Industrial water about 46,000 tons/day. These amount of water will be taken from the Enim river. The flow rate of the Enim river is 49 tons/second (4,234,000 tons/day) in the dry season. The quality of water in Enim river (Table IV) can be use for coal liquefaction plant and its power plant. Table IV. Quality Of Water In Enim River pH Total hardness Total dissolved solid (ppm) SiO2 (ppm) PO4 (ppm) Ca (ppb) Fe (ppb) 6,32 – 7,56 14,5 – 15,0 125 41 0.1 6,0 3,0

Energi, Lingkungan dan Batubara

249

5.

Electricity There is a power plant in Tanjung Enim, which has capacity 4 x 65 MW. The quality of the electricity is as follows : Voltage (Transmission : 150 kV) (Distribution : 20 kV) Frequency Voltage change Frequency change Voltage shock Planned power failure Power failure Power dip Supply capacity 50 Hz -10% < V < +5% ± 1% Less than 3 times per year; 1 hour at once Less than 8 times per year; 13 hours at once Less than 4 times per year; 4 hours at once Less than 14 times per year; 3.35 hours at once 260.000 kW

The electric power required by a 6,000 tons/day coal liquefaction plant is about 158 W and should be high quality electricity. Quality of electricity from PLN is poor (fluctuation of voltage and frequency) so it can not fulfill the requirement of liquefaction plant. Beside the electricity quality, presently electricity deficit is occurs in South Sumatra. Government and PT. PLN (Persero) keep trying to increase electricity supply and its quality. Due to the limitation of capability of government and PT. PLN (Persero) to supply large amount of electric power (for coal liquefaction plant), so the coal liquefaction plant should build private electric power plant to fulfill its requirement. 6. Human Resources Coal liquefaction technology is a new high technology and there is no such plant in Indonesia, so human resources who expert in this technology is rare. However with transfer technology Indonesian worker who have high educational background can be trained to expert in the technology. To support continuity operation, coal liquefaction plant can set up a partnership with college, research institution as well as expatriates who actively doing research in this subject. Many workers with various area of expertise are available in South Sumatra, such as chemistry experts, mining experts, petroleum experts, Energi, Lingkungan dan Batubara

250

electrical experts, and others who can support operation of coal liquefaction plant. Therefore the local worker should be given a priority at recruitment process based on their ability and skill, if worker with certain expertise that is not available in the adjacent area, then recruited from national or foreign country. B. REGIONAL POLICIES Based on identification of condition and resources potency possessed, Government of South Sumatra Province decided 6 (six) development sectors have considered superior, which are agriculture, plantation, mining, tourism, maritime, and small industry and handicraft. It is obvious that mining sector is an important sector in South Sumatra development scenario. To perform regional development, including the mining sector, Government of South Sumatra Province will utilize local potency with main aim is to enhance people, social groups and strata. In this context social enhancement means an effort to give chance as large as possible to people to participate actively in South Sumatra development based on their ability and capacity. Government of South Sumatra Province convince that accomplishment of regional development can only be gained maximally if all substance of development organizer together participate actively in development activity. Besides government administrator, development organizers whom active and constructive action is expected are businessman, professional worker, academician, politician and religion and community leader. Presently, regional government act significantly in development implementation. But it is expected in the future, regional government action will take position as development facilitator. Development in economic sector is expected will be motorized by businessmen; increasing human resources quality will be done by academicians; while enhancement of social community aspect will be carried out by politicians, religion and community leaders. Professional workers can take part in sectors that suitable with their skill. In the position as development facilitator, regional government will concentrate to generate conducive condition to support development activities, including provides of basic device and infrastructure needed, for example device and infrastructure of transportation, telecommunication, fresh water, and electricity. Principally, layout of South Sumatra Province Area will be appropriated to land usage condition (including aspect of agro climate, land geomorphology, and geology), device and infrastructure available and development planning (including that planned by Center and Districts/Cities governments), economic potency of the location and community aspiration. 251

Energi, Lingkungan dan Batubara

Government of South Sumatra Province realizes that available infrastructure should be improved to support implementation of coal liquefaction technology. Infrastructure availability should be supported includes accessibility, transportation, pier, telecommunication, fresh water, and others. To provide the infrastructures, regional government will do it himself as far as regional ability of in collaboration with another party. Government of South Sumatra Province will give many facilities to investors who participate in implementing coal liquefaction technology in South Sumatra. The facilities will be given such as easier operation licensing processes, assistance in getting land right, and others. C. CONCLUSION Government of South Sumatra Province highly support plan of implementation of coal liquefaction plant in South Sumatra. To provide development of Banko coal liquefaction plant, the plant organizer should perform a good coordination with the government, especially regional government, so development planning of infrastructure in the region could suitable with the plant need. Development of the coal liquefaction plant will increase regional original income, increasing work and business opportunity and assure continuity of energy supply in South Sumatra especially and Indonesia generally. The plan to construct Banko coal liquefaction plant should be socialized to the adjacent community, so the society could realize the important of this project and its advantages in regional and national scale. By a good socialization and government and community leader involve actively, a positive response of the community can be expected and reducing the possibility of social conflict.

252

Energi, Lingkungan dan Batubara

REFERENCES Hadi Nursarya, Nining S Ningrum., “Coal Liquefaction Technology”, Seminar of Clean Coal Technology, Energy Research Center, Sriwijaya University, Inderalaya, 21 September 1998. Machmud Hasjim., “Opportunity and Thread of South Sumatra Coal”, paper presented on National Seminar of Utilization of Low-Rank Coal Anticipating Post-Petroleum Energy”, Jakarta, November 2000. Machmud Hasjim, “Prospect of Utilization of South Sumatra Low-Rank Coal”, Paper Presented on Seminar and Workshop Prospect of South Sumatra Natural Resources in Regional Autonomy Era, Regional Research Council South Sumatra Province, Palembang, 24 June 2002. Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., and Taufik Toha., “The Prospect of the Development of Mine-Mouth Coal Fired Power Plant in Musi Banyuasin, South Sumatra”, Third International Conference and Exhibition of Coal Technology, Bali, 13-14 June 2002. Rosihan Arsyad, “The Implementation of Coal Liquefaction Technology : a New Challenge for Investment Opportunity in South Sumatra”, Seminar of Coal Liquefaction Technology, Jakarta, February 2002. Rosihan Arsyad, “Layout and Infrastructure supply for Coal-fired Power Plant in South Sumatra”, National Seminar of Utilization of Low-Rank Coal Anticipating Post-Petroleum Energy”, Jakarta, November 2000. BPPT, NEDO and Kobe Steel Ltd., “Feasibility Study on Direct Liquefaction on Banko Coal in Indonesia”, March 2002. PT. Morrison Knudsen Indonesia, “South Sumatra Energy Development Central Banko Project”, Tanjung Enim, South Sumatra, Indonesia, October 1997 PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), “Planning of Central Banko Development for Coal Liquefaction”, Paper PTBA, 4 September 2002.

Energi, Lingkungan dan Batubara

253

APPENDIX A ROAD AND RIVER MAP

MUARA BUNGO

Muaratembesi

Ranjaupanjang

JAMBI

SUMATERA SELATAN
A. Musi
a at m Le ng

Palembang

Lubuklinggau Curup Bengkulu
A.

Prabumulih

Kayuagung

A. Enim

Muara Enim Tanjung Enim

Lahat

BENGKULU
Mainna

Baturaja Martapura

KOTABUMI

LAMPUNG

Metro Bandar Lampung

%
0 50 100

Panjang

kilometers

254

Energi, Lingkungan dan Batubara

PROSPEK PEMANFAATAN BATUBARA PERINGKAT RENDAH SUMATERA SELATAN H. Machmud Hadjim Guru Besar pada Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya A. PENDAHULUAN

Sumber daya batubara di Indonesia cukup besar dengan total cadangan kurang lebih 38 milyar ton. Lokasi cadangan pada umumnya berada di Sumatera (64%) dan Kalimantan (35%). Cadangan batubara yang berada di Sumatera Selatan sebesar 12.795,68 juta ton (33,67%) dari totak cadangan batubara di Indonesia. Batubara Sumatera Selatan umumnya termasuk kategori peringkat rendah sehingga mengalami kesulitan dalam pemasaran. Oleh karenanya sebagian besar potensi batubara Sumatera Selatan belum dimanfaatkan (ditambang) Seiring dengan kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan yang menetapkan Sektor Pertambangan sebagai salah satu sektor unggulan Pembangunan Daerah, potensi batubara yang begitu besar tersebut perlu diupayakan untuk dimanfaatkan demi menunjang keberhasilan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selama ini pemanfaatan batubara di Indonesia dilakukan dengan pembakaran langsung misalnya pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan pabrik semen. Pangsa pasar yang demikian sempit mengakibatkan jumlah batubara yang diproduksi (ditambang) sangat kecil dibandingkan potensi yang ada. Batubara terdiri dari campuran komplek senyawa yang mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, belerang dan senyawa-senyawa inorganik. Pembakaran batubara secara langsung menimbulkan limbah padat, cair dan gas yang mengandung unsur-unsur tersebut. Lebih kurang 60% limbag Sox dan kirakira 25% limbag Nox di atmosfir ditimbulkan oleh kegiatan manusia berasal dari pembakaran batubara secara langsung di PLTU. Termasuk ke dalam limbah yang mengotori atmosfir di samping gas-gas tersebut adalah emisi unsur runutan. Upaya untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi dampak lingkungan batubara kualitas rendah dapat dilakukan melalui teknologi batubara bersih (gasifikasi, likuifaksi, kokas/semi kokas briket batubara/coal upgrading)

Energi, Lingkungan dan Batubara

255

B.

POTENSI BATUBARA

Pada masa yang akan datang dominasi migas akan berkurang, sehingga penganekaragaman pemakaian batubara akan berkembang. Ini akan terjadi oleh sebab sumber daya batubara yang sangat besar sehingga dapat bertahan untuk waktu yang lama, sebelum energi non-konvensional yang aman, bersih dan murah dapat dipakai/digunakan. Disamping cadangan batubara yang sangat besar (Tabel I), batubara Sumatera Selatan mempunyai kualitas yang dapat diandalkan dalam arti kandungan bau dan belerangnya yang rendah. Satu-satunya yang menurunkan nilai kalori batubara Sumatera Selatan adalah kadar air yang relatif tingi (Tabel II). Tabel I. Cadangan Batubara Sumatera Selatan*) Cadangan , Juta Ton No 1 2 3 4 5 Lokasi (kabupaten Muara Enim Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ulu JUMLAH PPPTM, Bandung Terukur 4.026,09 892,42 355,86 48,55 5.322,92 Terunjuk 3.413,12 241,55 2.840,21 120,00 227,24 6.842,12 Tereka 325,00 10,00 295,64 630,64 Jumlah (juta Ton) 7.764,21 1.143,97 3.491,71 120,00 275,79 12.795,68

*)

TABEL II. Kualitas Batubara Sumatera Selatan*) Parameter Muara Enim Proksimat (% adb) - Air Lembab - Abu - Zat Terbang - Karbon Pada Nilai Kalor, kal/gr (adb) 256 12.57 – 41.04 3.88 – 8.79 33.65 – 42.48 28.24 – 41.49 4140 - 6867 Lokasi (Kabupaten) Lahat Musi Banyuasin 25.01 5.15 35.93 33.91 4870 Musi Rawas 17.90 5.00 35.40 35.520 5090

4.40 – 29.80 2.72 – 7.05 35.43 – 41.09 33.60 – 51.65 4694 - 7185

Energi, Lingkungan dan Batubara

Ultimat (%) - Total Sulfur - Carbon - Hidrogen - Nitrogen - Oksigen HGI Petrografi (%) - Vitrinit - Inertinit - Lilptinit - Mineral - Rvmax
*)

0.15 – 0.57 40.63 – 68.66 3.39 – 5.70 0.50 – 1.10 8.45 – 21.79 47 – 62 80 – 83 4–8 5–6 6–7 0.46 – 0.55

0.18 – 0.16 49.67 – 64.11 3.92 – 8.83 0.63 – 1.10 9.84 – 19.31 48 - 65 87 3 5 5 0.38 – 1.10

0.69 50.96 6.93 1.06 35.21 48 88 4 4 4 0.42

0.20 50 84 5 6 5 0.41

PPPTM, Bandung

C.

PELUANG PEMANFAATAN

Batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar maupun bahan baku pada beberapa industri. Pemanfaatan sebagai bahan bakar dapat berupa pembakaran langsung dan konversi menjadi bentuk bahan bakar lain (Gambar 1) 1. Pembakaran Langsung Pemanfaatan batubara yang paleing sederhana adalah dengan cara pembakaran langsung karena hanya memerlukan proses pengecilan ukuran (size reduction) saja, Batubara Sumatera Selatan berpeluang besar untuk dipergunakan sebagai bahan langsung karena kadar abu dan kadar belerang yang rendah, sehingga dampak negatif terhadap lingkungan yang ditimbulkan relatif rendah. Kekurangan daya listrik di Sumatera Selatan khususnya dan Sistem Interkoneksi Sumsel-Lampung-Riau pada umumnya memberikan peluang bagi pemanfaatn batubara Sumatera Selatan dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara mulut tambang. 2. Teknologi Konversi Batubara Pada prinsipnya batubara dari semua peringkat dapat diubah dengan teknologi batubara bersih menjadi bahan bakar cair dan gas atau padat yang lebih ramah lingkungan. Perkiraan jumlah produk teknologi batubara yang dapat dihasilkan dari batubara peringkat rendah dapat dilihat pada Gambar 2. 257

Energi, Lingkungan dan Batubara

Teknologi batubara dapat dikelompokkan dalam konversi batubara menjadi kokas/semi kokas briket batubara melalui proses karbonisasi batubara, dan likuifaksi batubara dan gasifikasi batubara yang engahsilkan minyak dan gas sintetis. Teknologi kokas briket batubara sudah dikembangkan di Indonesia untuk industri pengecoran logam dengan harga kurang lebh 37,5% lebih murah dibandingkan harga impor untuk kualitas yang sama (Herry, 1999). Demikian juga teknologi semi-kokas briket batubara telah diprogramkan oleh pemerintah sebagai energi alternatif pengganti minyak dan gas bumi untuk sektor industri kecil dan rumah tangga. Berdasakan hasil penelitian pencairan batubara, batubara peringkat rendah akan menghasilkan minyak sintetis yang lebih banyak dibandingkan batubara peringkat tinggi. Hal yang sama juga berlaku untuk gasifikasi dan pembuatan kokas/semi-kokas. Namun untuk Coal Water Mixer lebih sesuai bila digunakan batubara peringkat tinngi (kadar air rendah) Teknologi likuifaksi batubara merupakan teknologi yang telah lama dikenal . Percobaan pertama dilakukan oleh Dr. Friedrich Bagius pada tahun 1913 di Jerman (Berkowitz, 1985), selanjutnya para peneliti dari berbagai negara telah melanjutkannya dengan menyempurnakan serta mengembangkan teknologi tersebut. Di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembanga Teknologi Mineral telah menjadikan pengkajian pencairan batubara menjadi salah satu program penelitian dalam Proyek Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pemanfaatan Batubara pada tahun anggaran 1995/1996. Melalui program tersebut, berbagai penelitian seputar teknologi likuifaksi batubara telah dilakukan. Selain itu, lembaga penelitian lainnya dan kalangan perguruan tinggi juga ikut ambil bagian dalam penelitian teknologi lkuifaksi tersebut. Secara umum, teknologi likuifaksi batubara telah dapat dikuasai dengan baik dan tidak ada masalah yang berarti. Dampak lingkungan teknologi pencairan batubara dan gasifikasi batubara relatif lebih kecil dibandingkan pembakaran batubara secara langsung. Emisi gas SO2 hasil pembakaran secara langsung di PLTU berkapasitas 2540 Mwe misalnya adalah 88,2 x 103 ton/tahun, sedangkan emisi SO2 pada saat penggunaan minyak adalah 11,9 x 103 ton/tahun, atau 16,3 x 103 ton SO2/tahun. Jumlah tersebut jauh lebih kecil bila dibandingkan emisi pada pembakaran batubara secara langsung di PLTU yang dilengkapi flue gas desulfurization. Demkian juga pada emisi Nox, particlate dan karbon maonoksida, konversi batubara menjadi bahan bakar gas atau cair 258 Energi, Lingkungan dan Batubara

menghasilkan limbah tersebut dalam jumlah yang jauh laebih sedikit (Hadi N & Nining S Ningsrum, 1998). 3. Bahan Baku Batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pada beberapa industri antara lain industri petrokimia, industri karbon aktif, filter dan elektroda. Isu lingkungan yang terus mencuat pada dasawarsa terakhir ini tentunya akan meningkatkan jumlah industri karbon aktif dalam upaya penanggulangan berbagai dam[ak lingkungan yang timbul. Dengan demikian pemanfaatn batubara sebagai bahan baku juga merupakan salah satu prospek pemanfaatn yang potensial bagi Batubara Sumatera Selatan. KENDALA

D.

Upaya pemanfaatan batubara Sumatera Selatan yang berjumlah besar masih dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain : 1. Suberdaya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Usaha pemanfaatn batubata memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mengelolanya agar mendapatkan hasil yang optimal Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola perbatubaraan, perusahaan tambang batubara dapat dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi dan konsultan guna mengadakan pelatihan dan bimbingan teknis serta mencari pemecahan permasalahan yang berkembang di lapangan. Selain sumber daya anusia pengelola perbatubaraan, sumber daya manusia masyarakat lokal juga perlu diperhatikan dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Untuk menciptakan hubungan yang harmonis anatar perusahaan dengan masyarakat, para investor perlu meningkatkan kepedulian terhadap pengembangan masyarakat di sekitar lokasinya. 2. Teknologi Konversi Batubara Batubara Sumatera Selatan umumnya berperingkat rendah, hal ni mengakibatkan pemasaran terhambat karena pangsa pasar yang tidak bervariasi (khusus pembakaran langsung PLTU, Pabrik semen dsb). Untuk mengantisipasi kendala di atas, telah banyak dilakukan penelitian konversi batubara sehingga pemakai batubara dapat lebih banyak lagi. Penelitian konversi batubara yang telah dilakukan antara lain likuifaksi (minyak sintetis), gasifikasi (gas sintetis), pembuatan kokas/semi-kokas/coal upgrading (coal water mixer, briket batubara) secara teknis tidak mengalami Energi, Lingkungan dan Batubara 259

kendala yang berarti, namun demikian tetap belum dapat bersaing dengan minyak dan gas bumi. Diperkirakan harga minyak sintetis menjelang tahun 2011 adalah US$ 18.6/barrel. Haga tersebut cukup ekonomis untuk dapat bersaing engan harga minyak bumi (Hartiniati, 2000). Pada masa mendatang usaha konversi batubara akan tergantung pada beberapa faktor, diantaranya : a. Kebijakan Energi Nasional - Harga batubara; dengan sendirinya batubara sebagai bahan baku akan mempengaruhi usaha konversi batubara - Harga minyak dan gas bumi, apabla harga minyak dan gas sintetis akan selalu diatas harga minya dan gas bumi, maka usaha pencairan dan gasifikasi batubara akan terus tertunda. - Subsidi pemerintah; apabila ada subsidi pemerintah pada batubara, usaha pencairan dan gasifikasi batubara mungkin dapat dilaksanakan atau harga migas diserahkan kepada harga pasar (tanpa subsidi) - Pengembangan energi non-konvensional; apabila pengembangan energi non-konvensional demikian pesatnya, maka usaha pencairan dan gasifikasi batubara akan terhambat. Biaya investasi (instalasi pabrik, jaringan pipa dll) dan biaya produksi yang relatif mahal Kesiapan sumber daya manusia di berbagai bidang yang terkait

b. c. 3.

Infrastruktur Untuk menunjang pengembangan pemanfaatn batubara Sumatera Selatan perlu disiapkan prasarana pengangkutan (jalan darat dan air), jembatan, pelabuhan dan lain-lain. Diharapkan Pemerintah Daerah yang memiliki potensi batubara dapat mendukung pengembangan infrastruktur yang diperlukan. Stabilitas Keamanan Dala rangka menarik minat investor, Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat perlu menciptakan stabilitas keamanan guna memberikan kenyamanan kepada para investor .

4.

260

Energi, Lingkungan dan Batubara

E.

PENUTUP

Dalam rangka otonomi daerah, potensi batubara Sumatera Selatan mempunyai peluang yang besar untuk digunakan sebagai sumber daya energi alternatif. Untuk menunjang pengembangan pemanfaatn batubara Sumatera Selatan perlu dipersiapkan antara lain; sumber daya manusia yang andal, pemberdayaan masyarakat setempat, infrastruktur dan stabilitas keamanan. Penelitian konversi batubara terhadap Batubara Sumatera Selatan sudah banyak dilakukan dengan hasil secara teknis cukup mengegmbirakan, namun umumnya penelitian tersebut belum mencakup masalah ekonomi (biaya konvrsi). Penguasaan teknologi batubara perlu terus dikembangkan melalui berbagai usaha, diantaranya; pengembangan tenaga kerja mellaui pendidikan dan pelatihan teknologi, penyediaan dana, peralatan dan fasilitas teknologi batubara, kerjasama dengan luar negeri dan lain-lain.

Energi, Lingkungan dan Batubara

261

DAFTAR PUSTAKA ..........Pusat Penelitian dan pengembnagna Teknologi Mineral, “Potensi dan Kemungkinan Pemanfaatn Batubara Berkalori Rendah di Sumatera Selatan”, Seminar PLTU Batubara Mulut Tambang Tanggal 17 Mei 2000, Jakarta. Arpaden Silaban., “Improved Coal Gasification Technology”, Disampaikan pada Seminar Sehari Teknologi Batubara, Pusat Penelitian Energi Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya, 21 September 1998. Hadi Nursarya, Nining S Ningrum., “Teknologi Pencairan Batubara”, Disampaikan pada Seminar Sehari Teknologi Batubara, Pusa Penelitian Energi, Lembaga Penelitian, Universitas Sriwijaya, 21 September 1998. Hasrul L. Azahari, Peluang Pemasyarakatan Briket Batubara Ditinjau dari Aspek Segmen Pasarnya”, Makalah Seminar dan Pameran Pemberdayaan Briket Batubara dan Tungku Hemat Energi, Pusat Penelitian Energi, Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya, Mei 1999. Herry Supriyanto, R., “Teknologi Proses Kokas Briket untuk Industri Pengecoran Logam”, Disampaikan pada Seminar Sehari Teknologi Batubara, Pusat Penelitian Energi, Lembaga Penelitian, Universitas Sriwijaya, 21 September 1998. Machmud Hasjim., “Peluang dan Tantangan Batubara Sumatera Selatan”, Makalah Seminar Nasional Pemanfaatn Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi”, Jakarta, November 2000. Nining Sudini Ningsrum., Yenny Sofaeti., Dahlia Diniyati., Tati Hernawati., Slamet., “Teknologi Batubara Bersih Dalam Penurunan Kadar Air Batubara Banjarsari”, Pusat Penelitian dn Pengembangan Teknologi Mneral, Bandung, 2000. Nining Sudini Ningsrum., Miftahul Huda., Teti Sumiati., Tati Rochayati., Rudi Saputra., Manik Widhi Astiti., “Pengkajian Pencairan Batubara Tanjung Enim Sumatera Selatan”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral, Bandung, 1996.

262

Energi, Lingkungan dan Batubara

Nining Sudin Ningrum., Iwan Rijwan., Syahrial., :Penelitian Pembuatan Karbon Aktif dari Batubara Banjarsari, Sumatera Selatan”, Pusat Penelitian dan Pengebangan Teknologi Mineral, Bandung, 1999. Purba, A., C., “Status Pengembangan Briket Batubara di Indoneisa” Disampaikan pada Seminar Sehari Teknologi Batubara, Pusat Penelitian Energi Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya, 21 September 1998.. Rosihan Arsyad, “Tata Ruang dan Penyediaan Insfrastruktur untuk PLTU Batubara di Sumatera Selatan”, Makalah Seminar Nasional Pemanfaatn Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi, Jakarta, Nopember, 2000. Soedjoko Tirtosoekotjo, “Kebijakan Batubara Indonesia dalam Perfektif Pengembangan Energi Nasional, Disampaikan pada Seminar Sehari Teknologi Batubara, Pusat Penelitian Energi Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya, 21 September, 1998. Suganal, Wahyu Karta, Yenny Sofaeti, Dahlia Diniyati, Wahid Supriatna, Paidi., “Pengkajian Pembakaran Batubara Banjarsari dan Jelawatan (Sumatera Selatan) Dalam Bentuk Serbuk Sebagai Bahan Bakar PLTU”, Pusat Penelitian dan Pengembangna Teknologi Mineral, Bandung, 2000. Syarifuddin Ismail, “Teknologi Gasifikasi Batubara”, Disampaikan pada Seminar Sehari Teknologi Batubara, Pusat Penelitian Energi Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya, 21 September 1998.

Energi, Lingkungan dan Batubara

263

OVERCOMING THE ENERGY CRISIS IN INDONESIA Machmud Hasjim

Thanks to the grace of God Almighty, Allah who created men with his lifenecessaries such as land, water and air. In land and water, He has given the natural resources that are renewable and un-renewable. All of which require science and technology, skills and wise attitudes to manage it, to human welfare, as a sign of gratitude to Him. Natural resources which include energy resources have to be explored in order to know the size, quality and the location of these reserves. Every human activity requires energy; in general there are at least four sectors in energy usage, namely the industrial, transport, households, and commercial sector. Fossil energy, energy that can not be renewed in three decades (until 2030) will still dominate the energy mix in national consumption. National energy demand is increasing, along with the increasing of population, development, and economic growth. Type of primary energy that most dominant used is crude oil (including fuel oil). On the other hand, the national petroleum production and reserve in recent years tended to decrease. Even the Government has decided to resign from the Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC). In addition, lately the crude oil price fluctuates, rising and falling sharply. The energy crisis is not only experienced by Indonesia, but in general this crisis has become the attention of the world. At the end of year 2007, proved reserves to production ratio of crude oil showed that the oil can only survive as long as 41.6 years. This is to be anticipated, considering the world oil consumption increased by approximately 1.1% (2006-2007). With this condition, future energy resources will relies on natural gas (60.3 years) and coal (133 years). The lifetime in the future will be shorter because of gas consumption increased by 3.1% (20062007) and coal consumption increased by 4.5% (2006-2007). In Indonesia, the Government has switched the fuel subsidy to the form of subsidies that directly perceived by the middle-and-lower people (eg in the form of direct cash assistance, education, health and so on). As one effort to solve the energy crisis, the Government has decided to reduce the domination of petroleum in the national energy mix. In Presidential Regulation No. 5 Year 2006 stipulated share of crude oil will be gradually reduced (from 51.66% in 2006 to 20% in 2025) by developing non-petroleum energy utilization. In the regulation, it can be seen that the development of new and renewable energy has become one focus of

264

Energi, Lingkungan dan Batubara

energy utilization in the future, by setting a target share of 4.43% (2006) to 17% (2025). Efforts to overcome the energy crisis, among others, with the intensification and conservation of energy resources and the development of the utilization of non-petroleum energy resources, whether coal, natural gas and new and renewable energy. New and renewable energy development should be well planned, considering that the existence and characteristics of new and renewable energy is specific in each area. Besides the required level of technology is also highly varied, ranging from the simple technology to the highly complex. For that, the optimal development strategy is needed so that development of new and renewable energy can be carried out in accordance to local conditions (availability, technology development, the possibility of its application) so that it can bring benefits at the local, regional and national levels. THE ENERGY RESERVES 1. World Fossil Energy a. Petroleum World's proven oil reserves at the end of 2007 amounted to 1237.9 billion barrels scattered in the 69.3 billion barrels of North America, South and Central America 111.2 billion barrels, Europe and Eurasia 143.7 billion barrels, the Middle East 755.3 billion barrels, 117.5 billion barrels of Africa, and Asia Pacific 40.8 billion barrels (Figure 1). With the discovery of the location of new oil reserves, the world's oil reserves continued to increase from 910.2 billion barrels in 1987 to 1069.3 billion barrels in 1997 and 1237.9 billion barrels in 2007.

Figure 1. Proven World Oil Reserves in 2007 (billion barrels)

Energi, Lingkungan dan Batubara

265

b. Natural Gas World's proven gas reserves at year end 2007 amounted to 177.36 trillion cubic meters, the largest reserves is in the Middle East ± 41.3% and Europe and Eurasia ± 33.5% (Figure 2). History has recorded an increase in natural gas proven reserves of 106.86 trillion cubic meters in 1987 to 146.46 trillion cubic meters in 1997 and increased to 177.36 trillion cubic meters in 2007.

Figure 2. Proven World Gas Reserves 2007 (Trillion Cubic Meters) c. Coal World's proven coal reserves at the end of 2007 reached 847.49 billion tons consisting of anthracite and bituminous 430.90 billion tons and subbituminous and lignite 416.59 billion tons. Location that have the largest reserves are Europe and Eurasia at 272.25 billion tonnes (32.1%) and followed by Asia-Pacific region with 257.47 billion tonnes of reserves (30.4%) and North America 250.51 billion tonnes (29.6 %), the rest are in Africa, South and Central America and the Middle East (Figure 3).

266

Energi, Lingkungan dan Batubara

Figure 3. World Proven Reserves of Coal in 2007 (Billion Tons) 2. Indonesian Fossil Energy Reserves a. Petroleum Areas that have large petroleum reserves in Indonesia are Java, Sumatra and Kalimantan. Total proven reserves of petroleum in Indonesia in 2007 are 3.99 billion barrels, or about 0.32% of world proven reserves. In addition to these proven reserves, Indonesia also has potential reserves of 4.41 billion barrels. By calculating the proven reserves and potential reserves, then the total reserves of Indonesian petroleum amounted to 8.40 billion barrels (Figure 4). b. Natural Gas Areas having potency for large natural gas in Indonesia are the Natuna, Sumatra, Papua, Kalimantan and Java. The total proven reserves of natural gas in Indonesia in 2007 was 106.01 trillion cubic feet or approximately 1.70% of world proven reserves. In addition to these proven reserves, Indonesia has potential reserves of 58.98 trillion cubic feet. By calculating the proven reserves and potential reserves, then the total reserves of Indonesian natural gas amounted to 164.99 trillion cubic feet (Figure 5).

Energi, Lingkungan dan Batubara

267

Figure 4. Indonesian Petroleum Reserves (Million barrels)

Figure 5 Indonesian Natural Gas Reserves (Trillion Cubic Feet) c. Coal Indonesian coal resources of 93.40 billion tons, consisting of 23.63 billion tonnes of hypothetical resources, 35.20 billion tonnes of indicated resources, 13.66 billion tonnes of inferred resource and 20.91 billion tonnes of measured resources. Proven coal reserves of Indonesia amounted to 5.46 billion tons and the possible reserve 6.39 billion tons (Table 1). The coal distribution Indonesia is mainly in Kalimantan and Sumatra.

268

Energi, Lingkungan dan Batubara

Table 1. Indonesian Coal Resources and Reserves
RESOURCES (million tons) HYPOTHETIC INFERRED INDICATED MEASURED TOTAL RESERVES (million tons) PROBABLE PROVEN

LOCATION

Sumatra Java Kalimantan Sulawesi Maluku Papua TOTAL

20,148.46 5.47 3,389.28 89.40 23,632.61

13949,28 6.65 21,028.92 146.91 2.13 64.02 35,197.91

10,734.67 2,893.82 33.09 13,661.59

7,699.17 2.09 13,156.04 53.10 20,910.39

52,531.58 14.21 40,468.07 233.10 2.13 153.42 93,402.51

3,781.44 2,605.99 6,387.43

904.80 4,556.99 0.06 5,461.79

3.

Indonesian New and Renewable Energy Resources

Instead of fossil energy resources, Indonesia also has new and renewable energy resources such as water, geothermal, mini / micro hydro, biomass, solar energy, wind energy, uranium and Coal Bed Methane (CBM) in large amounts (Table 2). Table 2 Indonesian New and Renewable Energy Resource Types Hydro Geothermal Mini/Micro Hydro Biomass Solar Wind Uranium Resources 845.00 million BOE 219.00 million BOE 0.45 GW 49.81 GW 9.29 GW 24. 112 tonnes eq 3 GW for 11 years Equivalent Value 75.67 GW 27.00 GW 0.45 GW 49.81 GW 4.80 kWh/m 2 /day 9.29 GW -Existing Utilization 4.2 GW 0.8 GW 0.084 GW 0.3 GW 0.008 GW 0.0005 GW --

A. 1.

ENERGY PRODUCTION World Energy Production a. Petroleum World oil production in 2007 amounted to 81.53 million barrels per day, which means a decrease of 0.2% of production in 2006 (81.67 million barrels per day). Largest oil producer in the Middle East region with an average production of 30.8% of world production, and Europe and Eurasia contributed 22% of the world production (Figure 6).

Energi, Lingkungan dan Batubara

269

b. Natural Gas World's natural gas production in 2007 amounted to 2.94 trillion cubic meters, which means an increase of 2.4% of production in 2006 (trililun 28.72 cubic meters). Largest gas producer are in Europe and Eurasia region with an average production of 36.5% of world production, and North America with a contribution of 26.6% of world production (Figure 7).

Figure 6. World Crude Oil Production (Million barrels per day)

Figure 7. World Gas Production (Billion Cubic Meters) c. Coal

270

Energi, Lingkungan dan Batubara

World coal production in 2007 amounted to 3.14 billion tons of oil equivalent (± 6.40 billion tons of coal), which means an increase of 3.3% of production in 2006 (3.03 tons of oil equivalent or ± 6.19 billion tons coal). Coal production from 2002 until 2007 showed a rapid increase in a row is 4.85 billion tons, 5.19 billion tons, 5.58 billion tons, 5.90 billion tons, 6.19 billion tons and 6.40 billion tonnes.

Figure 8. World Coal Production (Million Tons Oil Equivalent) d. Ethanol In late of 2007, world ethanol production reached 25.97 million tons of oil equivalents. It is quite encouraging, given that in the year of 2001 the world ethanol production is only 9.12 million tons of oil equivalents. World ethanol production is dominated by the United States with production amounting to 47.7% of world production and the production of Brazil with 44% of world production. e. Photovoltaik Until the end of 2006, solar energy which utilized using photovoltaic technology is about 5.70 GW. Most of these solar power plants are located in Germany (50.2%), Japan (30%), and United States (10.9%). f. Wind Power

Energi, Lingkungan dan Batubara

271

Until late 2007, the capacity of Wind Power Plant in the world amounted to 94.0 GW. Most of these wind power plants located in Germany (23.7%), United States (18%) and Spain (15.7%). Indonesian Energy Production National oil production has declined from 549.18 million barrels in 1996 to 348.36 million barrels in 2006. In the same period, natural gas production fluctuated slightly, but in general showed a decline trend from 568.28 million to 529.29 million BOE (barrel of oil equifalent). On the contrary, on the period coal production showed a sharp increase from 215.32 million barrels of oil equivalent (BOE) to 743.48 million BOE. In terms of renewable energy, production development of national hydroelectric power in general is relatively constant at around 22 million BOE, whereas biomass production increased from 209 million BOE in 1996 to 322.90 million BOE in the year 2007. Production of Geothermal Power Plant was also increased from 4.58 BOE in 1996 to 7.18 million BOE in 2006, and had even reached 12.31 million BOE in 2003 (Figure 9).
800 700 600 500

M B S 400 a t u J
300 200 100 0 1993 Batubara 1996 1998 2000 2001 2002 Tenaga Air 2003 2004 Geothermal 2005 2006

Minyak Bumi

Gas Bumi

Biomasa

Figure 9 National Energy Production (Million Barrel of Oil Equivalent)

272

Energi, Lingkungan dan Batubara

ENERGY CONSUMPTION World Energy Consumption World Energy Consumption in 2007 reached 11.10 billion tons of oil equivalents. Type of energy consumed is still dominated by fossil energy is 35.61% of crude oil, coal 28.62%, and gas 23.76%. The others types of energy that are nuclear and water energy each less than 10% (Figure 10). World oil consumption in 2007 reached 85.22 million barrels per day in which 30% are consumed in Asia Pacific and 23.9% are consumed in the United States. World gas consumption in 2007 reached 2.92 trillion cubic meters, mostly consumed in Europe and Eurasia 39.4% United States 22.6%, and 15.3% Asia Pacific. In the same year, coal consumption reached 3.18 billion tons of oil equivalents, mostly consumed in Asia Pacific (59.7%) and the United States (18.1%).

Figure 10 World Energy Consumption (Million Tons Oil Equivalent) National Energy Consumption National energy consumption in 2005 reached ± 850 million barrels of oil equivalent. Kind of energy consumed is still dominated by fossil energy, namely crude oil, natural gas and coal (Fig. 11). Based on energy user sector, sector of largest energy user are households and commercial sector, followed by the industrial sector and transportation sector (Figure 12). Energi, Lingkungan dan Batubara 273

Figure 11 National Energy Consumption (By Type of Energy)

Figure 12 National Energy Consumption (By Sector)

NATIONAL ENERGY POLICY The Government of Republic of Indonesia has established the General Policy of Energy Sector in 1981 with four main policies that are intensification, diversification, conservation and indexation. With the passage of time and changes over time, the policy is kept up to date in 1987, 1991, and 1998. Moreover, in the year 2003 the General Policy of Energy Sector is updated again and changed its name to National Energy Policy. 274 Energi, Lingkungan dan Batubara

Last in the year 2006 Presidential Regulation No. 5 of 2006 on National Energy Policy was stipulated. In the Presidential Regulation, goals and objectives of the National Energy Policy are as follows: The National Energy Policy goal is to direct efforts in realizing the domestic energy supply security. The objectives of the Policy are: a. Achievement of energy elasticity less than 1 (one) in the year 2025 b. Achieving the optimum energy (primary) mix in 2025, namely the share of each type of energy to the national energy consumption: 1. Petroleum to less than 20% (twenty percent). 2. Natural gas to more than 30% (thirty percent). 3. Coal to more than 33% (thirty three percent). 4. Biofuel to more than 5% (five percent). 5. Geothermal to more than 5% (five percent). 6. Other new and renewable energy, particularly biomass, nuclear, hydropower, solar, and wind power to more than 5% (five percent). 7. Liquefied coal to more than 2% (two percent). To achieve these objectives of the National Energy Policy, accomplished through two (2) policies: Main Policy and Supporting Policy. The main policy includes: a. Energy supply through: 1. Guarantee the availability of domestic energy supply; 2. Optimization of energy production; 3. Implementation of energy conservation; b. Energy utilization through: 1. Efficiency of energy utilization; 2. Diversification of energy. c. Stipulation of the energy pricing policy towards the economical price, taking into account the ability of small businesses, and assistance for impoverished people within a certain timeframe. d. Preservation of the environment by applying sustainable development principles. Supporting policy includes: a. Development of energy infrastructure including increasing consumer access to energy; b. Government and business partnerships; Energi, Lingkungan dan Batubara 275

c. Community Development; d. Development of research and development and education and training. On the Presidential Regulation No.5 / 2006, the energy prices are also provided, as follows: 1. Energy prices gradually adjusted until a certain time limit to the economical price. 2. Phasing and adjustment of energy prices should provide optimum impact on energy diversification. 3. Further provisions on energy prices and assistance for impoverished people to be conducted in accordance with the provisions of legislation. OVERCOMING THE ENERGY CRISIS National and Regional Energy Policy To solve the energy crisis that occurred, local government needs to follow up the National Energy Policy by establishing Regional Energy Policy refers to the policy at the national level. Local governments were given discretion to set the Regional Energy Policy based on their owned energy resources and local conditions. Therefore we need Regional Energy Board to construct the Regional Energy Planning. 1. Energy Conservation In addition to energy policy which is a legal basis for development in energy sectors, efforts to overcome the crisis must be conducted by the performing energy conservation nationally. Conservation is carried out both in the upstream sectors (energy producers) and downstream (users of energy). In the upstream sector, in mining of energy resources (eg coal) a limits of profit margins should be setted that must be adhered by coal mining practitioners. This is so that the coal mining perpetrators are not just mine coal near the surface but also have to mine to a depth in accordance with the economic limit (stipulated profit margin) so that more coal could be mined. On the downstream side (users of energy) socializing energy-saving should also be conducted, started from the little things in daily life, for example in the use of household appliances such as televisions, air conditioners, lighting, and so forth. Habituating to turn off lights, televisions and air conditioning when rooms are not used is an initial step that must be done, and this requires the active participation of all parties. The use of sensors will also be helpful 276 Energi, Lingkungan dan Batubara

in conservation of electricity such as solar light sensor for the lights outside the house, infrared sensors for escalator and so forth. In the transportation sector, for example by heating the vehicle engine sufficiently, maintenance periodically so that no improvident use of fuel and so forth. 2. Intensification Exploration activities need to be continued intensively with the latest technology in an effort to find new energy resources to ensure the availability of national energy. Exploration activities, research and technological development carried out both for the development of fossil energy use and non-fossil energy. 3. Development of Various Energy Resources a. Petroleum and Gas Sector Intensification in the oil and gas sector should be done by mean of exploration activities to find out new oil and gas fields as well as to improve the status of existing reserves to the higher level of geological confidence. In addition to the discovery of new reserves, effords should be conduct to use the old wells that are no longer in use and abandoned by applying technology Enhanced Oil Recovery (EOR). The implementation of EOR technology will be able to produce oil from oil field that was previously considered to be exhausted and can not be produced anymore. b. Coal Sector Current utilization of coal is mainly as fuel at the Steam Power Plant and some others industry. Another development of coal utilization is as coal briquette to fulfill energy needs in the household and small to medium industries sector. Considering the number of available technologies in coal utilization, it is necessary to develop the application of coal derivatives technology such as Upgrading Brown Coal (UBC) which will increase the calorific value of coal which initially categorized as low rank coal. By applying this UBC technology, low rank coal which was not able to be utilized will be able to be mined and exploited economically.

Energi, Lingkungan dan Batubara

277

Thus it will increase the availability of national energy. UBC product can be used to supply coal demand for inter-island and export. Coal gasification technology has been introduced and carried out pilot coal gasification for the household sector. With the current energy crisis conditions, the results of the pilot should be followed up and developed in order to meet the energy needs in the household sector and small to medium industries. Current coal liquefaction technology was not yet entered the commercial stage, although its technology has been available. It is necessary to carry out research and development acceleration so it can be utilized. Coal liquefaction would be useful in providing synthetic oil which is increasingly rare due to the energy crisis. c. Biofuel Sector Biofuels can be used to meet energy needs in the transportation sector and industrial sector. Biofuel technology has been proven and has even entered the commercial stage. Currently, biosolar has already been available in the market with a ratio of 10% biofuel and 90% petroleum diesel. By research and development and cooperation with automotive manufacturers, the percentage of biofuel can be increased (eg up to 50% - 80%) so that the portion of oil can be minimized. With the growth of biodiesel production and consumption, it is important to provide the raw material of biodiesel. Therefore we need a policy that ensures the supply of raw material of biodiesel. One way that can be done is by attempting the cultivation of biofuel raw materials in the islands that are uninhabited. This will provide a continuity of supply of biofuel raw materials. As the fuel is still new, the use of biofuels should to be socialized continuously to the general public both at national and regional levels. This is intended to increase the interest of the community to use the new energy.

d. Other New and Renewable Energy Sector Developments of other new and renewable energy also need to be implemented in order to guarantee the availability of national energy. Coal Bed Methane has to be more intensive explored (acceleration) in order to be utilized. Utilization of nuclear energy technology has been proven in many countries, therefore the use of nuclear energy 278 Energi, Lingkungan dan Batubara

in Indonesia should continue to be socialized. One way that can be conducted at an early stage is to build a Nuclear Power Plant (NPP) on an uninhabited island which lies far from the electric user centers. This is intended to reduce the possibility of civil unrest as well as a test case. After the nuclear power plant operates without any feared impact, and then the community will be able to accept a nuclear power plant. Increased use of water energy, solar energy, wind energy, biomass, and biogas is focused to meet local energy needs.

Energi, Lingkungan dan Batubara

279

PROSPEK SUMATERA SELATAN SEBAGAI PUSAT PENGHASIL ENERGI Machmud Hasjim

A.

PENDAHULUAN Propinsi Sumatera Selatan kaya akan potensi sumberdaya energi baik minyak bumi, gas bumi, batubara serta energi terbarukan. Potensi energi primer tersebut sangat potensial untuk dikonversikan menjadi energi sekunder (energi listrik). Kebutuhan akan energi listrik terus meningkat dari waktu ke waktu. Penyediaan energi listrik memerlukan sistem jaringan (transmisi). Ditinjau dari sistem jaringan, Sumatera Selatan merupakan lokasi yang strategis karena telah tersedianya Sistem Interkoneksi Sumatera yang hingga saat ini terus dikembangkan. Selain sebagai energi listrik, potensi energi yang ada (khususnya batubara) juga dapat dikonversikan menjadi energi sekunder lainnya (minyak dan gas sintetis, coal water mixer, upgrading brown coal dan sebagainya) guna memenuhi kebutuhan energi nasional.

B. 1.

POTENSI ENERGI PRIMER Minyak Dan Gas Bumi Cadangan minyak bumi Sumatera Selatan sebesar 5.032.994 MSTB dengan tingkat produksi tahunan rata-rata berkisar 40 juta barrel per tahun. Untuk gas bumi, jumlah cadangan sebesar 7.239,16 BSCF dengan tingkat produksi berkisar 250.000 MMSCF (Tabel 1 dan 2). Cadangan minyak dan gas bumi tersebut tersebar di berbagai Kabupaten di wilayah Propinsi Sumatera Selatan. Batubara Cadangan batubara Sumatera Selatan berkisar 20 milyar ton (Tabel 3) yang tersebar di berbagai Kabupaten di wilayah Propinsi Sumatera Selatan. Produksi batubara Sumatera Selatan berkisar 10 juta ton per tahun (Tabel 4). Secara umum Batubara Sumatera Selatan termasuk peringkat rendah (nilai kalori rendah), namun demikian memiliki kadar belerang dan kadar abu yang rendah (Tabel 5). Dengan demikian emisi gas dari pembakaran batubara

2.

280

Energi, Lingkungan dan Batubara

Sumatera Selatan tergolong rendah bila dibandingkan dengan batubara dari daerah/negara lain. Kualitas batubara seperti di atas mengakibatkan kesulitan dalam pemasaran (harga jual rendah karena nilai kalori rendah dan kadar air yang tinggi). Hal ini mengakibatkan sebagian besar potensi batubara di Sumatera Selatan belum dimanfaatkan (ditambang). Salah satu peluang pemanfaatan yang potensial untuk batubara Sumatera Selatan adalah sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap PLTU (Tabel 6). 3. Energi Terbarukan Selain energi tak terbarukan di atas, Propinsi Sumatera Selatan juga memiliki berbagai potensi energi terbarukan dalam jumlah yang cukup. Potensi energi terbarukan di Sumatera Selatan antara lain potensi air (Tabel 7), potensi panas bumi (tabel 8), potensi biomassa ± 422,5 juta SLM (tabel 9), potensi biogas ± 23 juta SLM (Tabel 10) dan potensi kayu bakar ± 2,8 milyar SLM (tabel 11). PEMANFAATAN ENERGI Minyak dan Gas Bumi Pemanfaatan minyak bumi cukup bervariasi, mulai dari pemanfaatan sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, pengkonversian menjadi bahan bakar sektor transportasi dan sektor rumah tangga serta sebagai bahan bakar lainnya. Gas bumi dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada pembangkit listrik (Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap/ PLTGU) dan sebagaian dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada proses pembakaran (pabrik pupuk dan sektor rumah tangga). Batubara Batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar maupun bahan baku pada beberapa industri. Pemanfaatan sebagai bahan bakar dapat berupa pembakaran langsung dan konversi menjadi bentuk bahan bakar lain (Gambar 1). Selain sebagai bahan bakar, batubara juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai industri, antara lain industri petrokimia, industri karbon aktif, filter dan elektroda. a. Bahan Bakar Langsung Pemanfaatan batubara yang paling sederhana adalah dengan cara pembakaran langsung karena hanya memerlukan proses pengecilan 281

C. 1.

2.

Energi, Lingkungan dan Batubara

ukuran (size reduction) saja. Batubara Sumatera Selatan berpeluang besar untuk dipergunakan sebagai bahan bakar langsung karena kadar abu dan kadar belerangnya yang rendah, sehingga dampak negatif terhadap lingkungan yang ditimbulkannya relatif rendah. Kekurangan daya listrik di Sumatera Selatan khususnya dan Sistem Interkoneksi Sumsel-Lampung-Sumbar-Riau pada umumnya memberikan peluang bagi pemanfaatan batubara Sumatera Selatan dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara mulut tambang. Selain sebagai bahan bakar PLTU, pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar langsung juga dapat dilakukan di pabrik semen dan industri kecil-menengah. Pangsa pasar batubara untuk digunakan pada sebagai bahan bakar langsung relatif sempit, hanya terbatas pada PLTU, pabrik semen dan industri kecil-menengah. Selain itu, masalah lingkungan yang ditimbulkan pembakaran batubara secara langsung juga merupakan efek samping yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan pemanfaatan batubara dengan cara tersebut. b. Bahan Bakar Konversi Pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar tidak langsung adalah dengan mengubah batubara menjadi bahan bakar cair, gas, atau padat yang lebih ramah lingkungan dengan menerapkan teknologi batubara bersih. Pada prinsipnya batubara dari semua peringkat dapat diubah dengan teknologi batubara bersih menjadi bahan bakar cair dan gas atau padat yang lebih ramah lingkungan. Perkiraan jumlah produk teknologi batubara yang dapat dihasilkan dari batubara peringkat rendah dapat dilihat pada Gambar 2. Teknologi batubara dapat dikelompokkan dalam konversi batubara menjadi kokas/ semi-kokas briket batubara melalui proses karbonisasi batubara, teknologi Up-grading Brown Coal (UBC), likuifaksi batubara dan gasifikasi batubara yang menghasilkan minyak dan gas sintetis. Teknologi kokas briket batubara sudah dikembangkan di Indonesia untuk industri pengecoran logam dengan harga kurang lebih 37,5 % lebih murah dibandingkan harga impor untuk kualitas yang sama (Herry, 1999). Demikian juga teknologi semi-kokas briket batubara telah diprogramkan oleh pemerintah sebagai energi alternatif

282

Energi, Lingkungan dan Batubara

pengganti minyak dan gas bumi untuk sektor industri kecil dan rumah tangga. Berdasarkan hasil penelitian pencairan batubara, batubara peringkat rendah akan menghasilkan minyak sintetis yang lebih banyak dibandingkan batubara peringkat tinggi. Hal yang sama juga berlaku untuk gasifikasi dan pembuatan kokas/semi-kokas. Namun untuk Coal Water Mixer lebih sesuai bila digunakan batubara peringkat tinggi (kadar air rendah). Teknologi likuifaksi batubara merupakan teknologi yang telah lama dikenal. Percobaan pertama dilakukan oleh Dr. Friedrich Begius pada tahun 1913 di Jerman (Berkowitz, 1985), selanjutnya para peneliti dari berbagai negara telah melanjutkannya dengan menyempurnakan serta mengembangkan teknologi tersebut. Di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral telah menjadikan pengkajian pencairan batubara menjadi salah satu program penelitian dalam Proyek Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pemanfaatan Batubara pada tahun anggaran 1995/1996. Melalui program tersebut, berbagai penelitian seputar teknologi likuifaksi batubara telah dilakukan. Selain itu, lembaga penelitian lainnya dan kalangan perguruan tinggi juga ikut ambil bagian dalam penelitian teknologi likuifaksi tersebut. Secara umum, teknologi likuifaksi batubara telah dapat dikuasai dengan baik dan tidak ada masalah yang berarti. Dampak lingkungan teknologi pencairan batubara dan gasifikasi batubara relatif lebih kecil dibandingkan pembakaran batubara secara langsung. Emisi gas SO2 hasil pembakaran secara langsung di PLTU berkapasitas 2540 MWe misalnya adalah 88,2 x 103 ton/tahun, sedangkan emisi SO2 pada liquefaction plant dengan kapasitas yang sama adalah 4,4 x 103 ton/tahun dan emisi SO2 pada saat penggunaan minyak adalah 11,9 x 103 ton/tahun, atau 16,3 x 103 ton SO2/tahun. Jumlah tersebut jauh lebih kecil bila dibandingkan emisi pada pembakaran batubara secara langsung di PLTU yang dilengkapi flue gas desulfurization. Demikian juga pada emisi NOx, particulate dan karbon monoksida, konversi batubara menjadi bahan bakar gas atau cair menghasilkan limbah tersebut dalam jumlah yang jauh lebih sedikit (Hadi N & Nining S Ningrum, 1998). Secara teknis, teknologi konversi batubara menjadi bahan bakar lain telah dapat dilakukan, namun pada umumnya belum dapat beroperasi pada tahapan komersial. Energi, Lingkungan dan Batubara 283

Teknologi Up-grading Brown Coal (UBC) telah diteliti dan memberikan hasil yang cukup menjanjikan. Biaya produksi UBC sekitar US $ 10/ton. Keberhasilan penerapan teknologi UBC dalam tahap komersial sangat tergantung pada harga bahan bakar lainnya. Untuk pemasaran dalam negeri hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kebijakan subsidi BBM yang diterapkan pemerintah. Bila harga BBM telah mencapai harga pasar, harga UBC ini akan dapat bersaing dengan harga BBM. Untuk meningkatkan kelayakan ekonomis teknologi UBC tersebut, inovasi riset, ilmu pengetahuan dan teknologi (riptek) sangat berperan dalam hal penyempurnaan teknologi, substitusi bahan dan sebagainya. Inovasi tersebut diharapkan dapat menekan biaya produksi sehingga harga UBC dapat bersaing dengan harga energi lainnya, khususnya minyak dan gas bumi. Dalam bidang pencairan batubara, penelitian terhadap pencairan batubara Tanjung Enim, Sumatera Selatan menunjukkan hasil yang cukup baik dengan biaya produksi sebesar US $ 18,6/barrel. Walaupun biaya produksi tersebut relatif tinggi, namun masih terdapat peluang untuk menekan biaya produksi dengan cara merencanakan pendirian pabrik di daerah pantai (coastal site) guna mempersingkat jalur transportasi produk dan bahan baku serta peralatan parbrik. Selain itu subsitusi bahan penunjang menggunakan bahan yang ada di Sumatera Selatan. Melalui inovasi riset, ilmu pegetahuan dan teknologi (riptek) dan kajian lainnya, teknologi konversi batubara merupakan peluang yang potensial dalam pemanfaatan batubara Sumatera Selatan. Teknologi konversi batubara telah berkembang cukup baik, hanya diperlukan penelitian lanjutan agar untuk menekan biaya produksi guna meneningkatkan daya saing produk konversi batubara terhadap bahan bakar lainnya. 3. Energi Terbarukan Potensi energi terbarukan di Sumatera Selatan baru sebagian kecil yang dimanfaatkan, umumnya digunakan sebagai penghasil energi listrik. Misalnya Pembangkit Listrik Tenaga Suraya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pemanfaatan energi terbarukan sebagai pembangkit listrik umumnya diterapkan pada lokasi yang jauh dari jangkauan jaringan listrik yang ada dan umumnya kapasitas pembangkit listrik juga kecil.

284

Energi, Lingkungan dan Batubara

Selama periode tahun 1998 sampai tahun 2002 di Sumatera Selatan telah di pasang 848 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Tabel 12) dan daya terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro sebesar 122 kW (Tabel 13) D. PEMBANGKITAN DAN TRANSMISI Hingga saat ini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara masih merupakan tulang punggung pembangkitan energi listrik di sistem Sumatera Selatan – Lampung. Berdasarkan data di PTLU Bukit Asam pemakaian batubara sebagai bahan bakar sebesar 0,638 kg/kWh. Ditinjau dari konsumsi batubara sebagai bahan bakar PLTU tersebut, cadangan batubara Sumatera Selatan yang besar akan dapat menjamin kontinuitas suplai bahan bakar dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama. Dengan membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara di mulut tambang, diharapkan akan dapat menekan biaya operasional penambangan (biaya transportasi batubara) sehingga biaya pembangkitan energi listrik dapat ditekan dalam rangka meningkatkan daya saing listrik dari Sumatera Selatan. Saat ini sedang dikembangkan sistem interkoneksi Pulau Sumatera dan direncanakan akan dikembangkan menjadi Sistem Sumatera-Jawa-Bali (direncanakan akan terealisasi tahun 2007 atau 2008). Di tinjau dari sisi penyaluran/ transmisi energi listrik, Sumatera Selatan berpeluang besar untuk berperan sebagai Pusat Penghasil Energi Listrik.

Tabel 1. Cadangan Minyak dan Gas Bumi Sumatera Selatan Cadangan No Kabupaten Minyak Bumi (MSTB) 128.288,50 302.707,00 2.938.840,90 56.855,40 350.356,80 1.255.945,40 5.032.994,00 7.239,16 Gas Bumi (BSCF) 89,05 484,00 1.383,68 210,29 2.286,47 2.785,67

1 2 3 4 5 6

Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin

Total Sumatera Selatan

Energi, Lingkungan dan Batubara

285

Dispertamben Sumsel, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, 2003

Tabel 2. Produksi Minyak dan Gas Bumi Sumatera Selatan Produksi Tahun Minyak Bumi (Barel) 1998 1999 2000 2001 2002 30.135.161 35.345.161 42.944.983 41.609.309 35.558.986 Gas Bumi (MMSCF) 172.455 267.317 270.540 270.753 254.558

Dispertamben Sumsel, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, 2003

Tabel 3. Cadangan Batubara Sumatera Selatan No 1 2 3 4 5 6 Lokasi (Kabupaten) Muara Enim Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu JUMLAH Cadangan (Juta Ton) 11.581,21 2.714,97 3.565,50 1.235,00 325,00 836,79 20.258,47

Dispertamben Sumsel, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, 2003 286 Energi, Lingkungan dan Batubara

Tabel 4. Produksi Batubara Sumatera Selatan No 1 2 3 4 5 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 Produksi (Ton) 9.566.087 10.116.957 10.009.293 9.612.296 9.119.729

Dispertamben Sumsel, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, 2003 Tabel 5 . Kualitas Batubara Sumatera Selatan *)

Parameter Proksimat (% adb) - Kadar Air - Kadar Abu - Zat Terbang - Karbon Tertambat Nilai Kalori, kal/gr (adb) Ultimat (%) - Sulfur - Karbon - Hidrogen - Nitrogen - Oksigen HGI Petrografi (%) - Vitrinit - Inertinit - Lilptinit - Mineral - Rvmax *) PPPTM, Bandung

Muara Enim 12.57 – 41.04 3.88 – 8.79 33.65 – 42.48 28.24 – 41.49 4,140 – 6,867 0.15 – 0.57 40.63 – 68.66 3.39 – 5.70 0.50 – 1.10 8.45 – 21.79 47 – 62 80 – 83 4–8 5–6 6–7 0.46 – 0.55

Lokasi (Kabupaten) Lahat Musi Banyuasin 4.40 – 29.80 2.72 – 7.05 35.43 – 41.09 33.60 – 51.65 4,694 – 7,185 0.18 – 0.61 49.67 – 64.11 3.92 – 8.83 0.63 – 1.10 9.84 – 19.31 48 – 65 87 3 5 5 0.38 – 1.10 25.01 5.15 35.93 33.91 4,870 0.69 50.96 6.93 1.06 35.21 48 88 4 4 4 0.42

Musi Rawas 17.90 5.00 35.40 35.520 5,090 0.20 50 84 5 6 5 0.41

Energi, Lingkungan dan Batubara

287

Tabel 6. Spesifikasi Batubara sebagai Bahan Bakar PTLU*) Parameter Analisis Proksimat Zat Terbang Karbon Tertambat Kadar Air Kadar Abu Hardgrove Grindability Index Relative Density Nilai Kalori Net Calorific Value Gross Calorific value Analisis Ultimat Karbon Hidrogen Nitrogen Oksigen Sulphur Analisis Abu Silika (SiO2) Besi (Fe2O3) Aluminium Oksida (Al2O3) Kalsium Oksida (CaO) Magnesium Oksida (MgO) Natrium Oksida (Na2O) Kalium Oksida (K2O) Titik Leleh Abu (oC) (in reducing atmosphere) Initial Softening Fluid Satuan As received % berat % berat % berat % berat % berat % berat as received (kCal/kg) (kCal/kg) as received % berat % berat % berat % berat % berat Minimal 15,00 28,00 7,00 10,00 59,40 1,25 Maksimal 40,00 62,00 28,00 17,00 64,20 1,35

4.200,00 4.590,00

6.400,00 7.060,00

48,00 4,00 0,70 8,00 0,30

65,00 5,50 1,10 11,00 1,20

% berat % berat % berat % berat % berat % berat % berat

50,00 3,00 10,00 1,00 0,50 0,60 0,20

75,00 7,00 33,00 3,00 1,50 3,50 0,70

o o

C C o C

1.010,00 1.190,00 1.350,00

1.500,00 1.510,00 1.620,00

Ukuran Butiran : Lolos ayakan 32 mm, 97 % (3 % selebihnya maksimum 50 mm) kurang dari 2,38 mm, maksimum 20 % *) PT. PLN (Persero) sektor Bukit Asa 288 Energi, Lingkungan dan Batubara

Tabel 7. Potensi Sumber Energi Air Propinsi Sumatera Selatan N O JARAK DARI KEC. (KM) 7 5 15 15 15 10 7 14 15 18 30 35 7,5,20, 15

WILAYAH/ KECAMATAN 2 Kab. Lahat - Kec. Kota Agung

NAMA SUNGAI/DESA 3 Perigi S. Salak/ Tj. Kurung Ilir S. Ayun/ Tj. Kurung Ilir S. Endikat/ Tunggul Bute Lawang Agung Tanjungan S. Betung/Tangsi S. Cawang/Ma. Cawang S. Kikim Kanan Air Betung Tanjung Beringin Talang Padang Prahu Pematang Bango Mingkik Suka Jadi Talang Sejemput Tebat Benawa

HEAD (m) 4 40 16 6 21 30 10 4,49 2,24 5 4,49 60 8 60 40 50 50 30 10

DEBIT (m3/dtk) 5 2,4 1,32 9,88 2,34 1,2 1,5 4,8 1,7 3,03 5 2,88 0,84 0,95 1,4 1,5 2,2 0,83

DAYA (kW) 6 470,4 103,49 290,47 194,92 176,40 73,50 105,60 18,66 74,24 105,60 846,72 32,928 279,3 274,4 367,5 323,4 40,67

1 1

- Kec. Jarai

- Lahat Kota

- Perw. Pajar Bulan - Kec. Ulu Musi

- Kec. Pagar Alam

-Kec. Pulau Pinang
- Kec. Dempo Selatan

27 12

2

Kab. Musi Rawas

Energi, Lingkungan dan Batubara

289

Tabel 7 (Lanjutan) Potensi Sumber Energi Air Propinsi Sumatera Selatan DEBIT (m3/dtk ) 5 10 76 5 4 25 2,7 4,8 0,8 1,4 0,1 JARAK DARI KEC. (KM) 7 11 14 13

NO 1

WILAYAH/KECAMATAN 2
- Kec. Muara Beliti

NAMA SUNGAI/DESA 3
Lekok/Jakung Layang/Niling Temam II

HEAD (M) 4

DAYA (kW) 6 132,3 1787,5 2 19,6 27,44 12,25

- Kec. Rawas Ulu

Napal Licin - Sungai Kerali - Air Terjun Bukit Bukok Jangkat - Sungai Kejatan

2

5

49,00

3

Kab. Ogan Komering Ulu - Kec. Pulau Beringin

Pematang Danau Ulu Danau Aromante Cukuhnau Tanjung Besar - Sungai Kepayang Kecil Gunung Raya - Way Telema

5 2,5 7 4 15

9,4 6 2 22,75 0,39

230,30 73,50 68,60 445,90 28,67

23

- Kec. Banding Agung

10 12 100 7 5 8 16

1,72 11,7 3,53 0,43 0,41 0,39 0,92

84,28 687,96 1729,70 14,75 10,05 15,29 72,13 2 15 17 18 15

- Kec. Muara Dua Kisam

Muara Sindang - Air Kenik

4

Kab. Muara Enim - Kec. Tanjung Agung - Kec. Induk Semendo

Bedegung Aik Dingin/Babatan Penindaian Tanjung Agung/Siring S. Basung/Gunung Agung

- Kec. Pembantu Aremantei

290

Energi, Lingkungan dan Batubara

Air Bodor/ Cahaya Alam Segamit/ Tanjung Tebat

12 5

1,87 0,34

109,96 8,33

30 22

*) Sumber data Laporan Survey Potensi Air Tim Teknis Kanwil DESDM Prop. Sumsel, 1999 Tabel 8. Indikasi Potensi Energi Panas Bumi di Sumatera Selatan No 1 Lokasi Rantau Dadap, Segamit Kab/Kodya Lahat Potensi 250 Mwe (Hipotesis) Keterangan Penyelidikan terpadu Geologi, Geokimia dan Landaian Suhu. Luas daerah prospek = 20 km2 dengan temperatur bawah permukaan 2600 C. Penyelidikan terpadu Geologi, Geokimia dan Geofisika dan Landaian Suhu. Luas daerah prospek = 10 km2 dengan temperatur bawah permukaan 2600 C. Anomali Hg dijumpai di sekitar sumber mata air panas 228 – 300 ppb, anomali CO2 dalam tanah adalah 0,36 – 0,72 % CO2 Mannifestasi panas bumi berupa mata air panas dengan suhu 32 – 420 C, debit 8 – 10 liter/menit, muncul pada 3 lokasi sepanjang struktur secara searah dengan sungai Air Luas. Anomali Hg = 400 s.d 20.000 ppb, dan anomali CO2 dalam tanah 0,2 s.d 0,93 %. Anomali resistivity (rendah) 3 – 10 ohm – meter dengan luas 3 – 4 km2. Manifestasi panas bumi terdapat sepanjang sungai Alahan berarah Baratlaut – Tenggara terdapat berupa fumarola dengan temperatur 96 – 1060 C, kubangan lumpur panas mata air panas dengan suhu subsurface

2

Bukit Lumut Balai

Lahat

220 Mwe (Terduga)

3

Ulu Danau (Pulau Beringin)

Ogan Komering Ulu (OKU)

6 Mwe (Spekulatif)

4

Marga Bayur (Lawang Agung)

Ogan Komering Ulu (OKU)

35 Mwe (Hipotesis)

Energi, Lingkungan dan Batubara

291

5

Way Selabung

Ogan Komering Ulu (OKU)

6 Mwe (Spekulatif)

berdasarkan geothermometer SiO2 adalah 199 – 2830 C dan berdasarkan geothermometer Na/K dijumpai di Gemurak Alahan, Gemuruk Bubur, Gemuruk Keniningan dan Gemurak Balirang. Anomali Hg dijumpai di sekitar sumber mata air panas 228 – 496 ppb, dan anomali CO2 dalam tanah adalah 0,36 – 0,72 % CO2. Manifestasi panasbumi muncul berupa mata air panas pada beberapa lokasi di tebing sungai Selunbung dengan temperatur 60 – 650 C dengan debit liter/menit.

*) Sumber Direktorat Vulkanologi dan Divisi Panasbumi Pertamina, Januari 2000

Tabel 9. Potensi Biomassa dari Limbah Pertanian NO 1 2 3 4 5 6 KABUPATEN Ogan Komering Ulu Ogan Komering Ilir Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin JUMLAH TON 293.749 379.923 83.762 60.170 169.442 275.870 1.262.916 POTENSI BIOMASSA SLM 97.705.195 131.168.895 27.475.770 17.771.867 56.448.638 92.019.712 422.590.077 kWh 361.871.093 485.810.722 101.762.111 65.821.730 209.069.030 340.813.748 1.565.148.434

Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Sumatera Selatan, 2001

292

Energi, Lingkungan dan Batubara

Tabel 10. Total Potensi Biogas NO 1 2 3 4 5 6 KABUPATEN Ogan Komering Ulu Ogan Komering Ilir Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin JUMLAH TON 312.264 127.648 129.041 140.572 153.554 153.385 1.016.464 POTENSI BIOGAS SLM 7.146.335 2.873.731 2.904.644 3.163.234 3.504.140 3.466.555 23.058.639 kWh 26.467.907 10.643.448 10.757.941 11.715.681 12.978.296 12.839.093 85.402.366

Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Sumatera Selatan, 2001

Tabel 11. Potensi Kayu Bakar dari Perkebunan Dan Hutan NO 1 2 3 4 5 6 KABUPATEN Ogan Komering Ulu Ogan Komering Ilir Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin JUMLAH M3 1.606.857 4.678.542 1.092.912 600.639 2.011.527 5.456.391 15.446.868 POTENSI SLM 300.003.481 864.592.232 203.974.196 110.594.738 369.670.207 1.007.414.502 2.856.249.356 kWh 1.111.124.004 3.202.193.452 755.459.985 409.610.141 1.369.148.915 3.731.164.822 10.578.701.319

Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Sumatera Selatan, 2001

Energi, Lingkungan dan Batubara

293

Tabel 12. PLTS Di Propinsi Sumatera Selatan Tahun 1998 s/d 2002 N O 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 40 40 80 JUMLA H UNIT 226 74 60 115 123 130 848

LOKASI OKI OKU Muara Enim Prabumulih Lahat Pagar Alam Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin Jumlah

1998 75 75

1999 83 83

2001 100 60 40 40 90 330

2002 86 74 160

Dispertamben Sumsel, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, 2003 Tabel 13. Pembangunan Pembangkitan Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH) i Propinsi Sumatera Selatan
TAHUN PEMBANGUNAN

NO 1 2 3

LOKASI Desa Ulu Danau Kec. Pulau Beringin Kabupaten Ogan Komering Ulu Desa Muara Sindang Kec. Muara Dua Kisam Kabupaten Ogan Komering Ulu Desa Cahaya Alam Kec. Pembantu Aremantai Kabupaten Muara Enim Desa Tunggul Bate, Kec. Kota Agung, Kabupaten Lahat

KAPASITAS 30 kW 22 kW

1997/1998 1998/1999

40 kW

1999/2000

4

30 kW

2002

Dispertamben Sumsel, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, 2003

294

Energi, Lingkungan dan Batubara

BATUBARA

BAHAN BAKAR

BAHAN BAKU

LANGSUNG KONVERSI

-

Industri Petro Kimia Karbon Aktif Filter Elektroda

-

PLTU Semen Industri Kecil Rumah Tangga
KARBONISASI PENCAIRAN GASIFIKASI

-

Kokas Briket Bahan Kimia (Ter, Amonia, Penol, dll)

-

Minyak Sintetis Bahan Kimia (Amonium Sulfat, belerang)

Gas Sintetis Bahan Kimia (Metanol, Etanol, Amonia, dll

Gambar 1. Pemanfaatan Batubara

*) **)

Makalah Dipresentasikan pada Pameran, Peragaan dan Workshop Briket Batubara dan Diversifikasi Energi Nasional, Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta, 27 Oktober 2005 Guru Besar pada Universitas Sriwijaya

Energi, Lingkungan dan Batubara

295

BATUBARA SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF DI INDONESIA Machmud Hasjim

Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi serta keberhasilan pembangunan yang telah dicapai, kebutuhan akan energi terus meningkat dari waktu ke waktu. Selama ini minyak bumi (BBM) merupakan energi yang paling dominan digunakan baik di sektor industri, transportasi, maupun rumah tangga. Di sisi lain sejalan dengan eksploitasi yang dilakukan, cadangan minyak bumi nasional dan dunia terus menipis yang mengakibatkan meningkatnya harga komoditi tersebut secara signifikan. Dalam rangka mengantisipasi menipisnya cadangan minyak bumi dan tingginya harga BBM guna menjamin penyediaan energi untuk kepentingan nasional, maka dominasi penggunaan minyak bumi (BBM) perlu dikurangi secara bertahap dan mengembangkan pemanfaatan energi lainnya. Untuk itu Pemerintah telah menyusun Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2005 – 2025 dengan sasaran mengurangi pemakaian minyak bumi dan meningkatkan penggunaan sumberdaya energi lainnya dalam energy mix nasional secara bertahap, yakni peran minyak bumi dalam energy mix nasional menurun dari 54,4% pada tahun 2003 menjadi 26,2 % pada tahun 2025 dan peningkatan peran batubara dari 14,1 % menjadi 32,7 % (Tabel 1).

Tabel 1. Sasaran Energy Mix Nasional 2025 Energy Mix Nasional Jenis Energi Existing (2003) Sasaran (2025) Minyak Bumi 54,4% 26,2% Gas Bumi 26,5% 30,6% Batubara 14,1% 32,7% EBT dll 5,0% 10,5% Dalam memilih energi alternatif non-BBM yang akan dikembangkan terdapat tiga kriteria yang menjadi dasar pertimbangan yaitu sumberdaya energi tersebut harus banyak tersedia dan mudah didapat, harganya murah dan ramah lingkungan. Cadangan batubara nasional sekitar 57,85 milyar ton (22,24 milyar ton terdapat di Sumatera Selatan) merupakan sumberdaya energi yang banyak 296 Energi, Lingkungan dan Batubara

tersedia dan mudah didapat. Harga batubara lebih rendah dibandingkan harga minyak bumi, yang berarti dapat dikategorikan energi yang murah. Selain itu sebaran batubara yang terdapat di banyak lokasi di Indonesia mengindikasikan komoditi ini akan dapat dimanfaatkan dengan harga yang relatif murah karena biaya angkut yang relatif rendah (dekat dengan konsumen). Perkembangan teknologi batubara bersih (clean coal technology) yang telah berkembang pesat akhir-akhir ini telah memungkinkan pemanfaatan batubara yang ramah lingkungan. Dengan demikian berdasarkan ketiga kriteria energi alternatif yang potensial dikembangkan, maka batubara memiliki peluang yang besar untuk mengambil peranan sebagai energi alternatif di Indonesia. A. 1. POTENSI DAN PRODUKSI BATUBARA Nasional Indonesia mempunyai cadangan batubara sebesar 57,85 milyar ton yang tersebar 47,35 % di Sumatera (terbesar di Sumatera Selatan), 52,15 % di Kalimantan dan sedikit di Papua, Sulawesi dan Jawa. Jumlah cadangan terukur baru 12,47 milyar ton dan cadangan tertambang 6,98 milyar ton. Cadangan terunjuk adalah 20,53 milyar ton dan cadangan inferred 24,85 milyar ton. Sebagian besar cadangan batubara tersebut masuk pada peringkat rendah (lignit) 58,7 %, subbituminus 26,7 % bituminus 14,35 % dan antrasit 0,3 %. Produksi batubara pada tahun-tahun terakhir meningkat dengan tajam dari 27,8 juta ton pada tahun 1993 menjadi 127,2 juta ton pada tahun 2004. Pemakaian batubara dalam negeri juga meningkat dari 2,2 juta ton menjadi 31 juta ton pada tahun 2004. Demikian juga ekspor meningkat dari 5,8 juta ton menjadi 96 juta ton pada tahun 2004. Peran pemakaian batubara dalam negeri sebagai energy mixed juga sangat menggembirakan mencapai 16 % dan sebagai energi pembangkit 30,1 % pada tahun 2003. Diperkirakan pada tahun 2010 produksi batubara Indonesia mencapai 171 juta ton dengan kegunaan 47,7 juta ton untuk pembangkit listrik, 10,8 juta ton untuk industri semen. Peran batubara sebagai energi-mix juga meningkat menjadi 18 % dan energi pembangkit mencapai 46,3 %. Bila dilihat dari perkembangan pemakaian batubara tersebut dan prakiraan tahun 2010, terlihat jelas dan meyakinkan terjadinya diversifikasi energi di Indonesia dari minyak bumi ke batubara. Sumatera Selatan Cadangan batubara di Sumatera Selatan sebanyak 22,24 milyar ton yang terdiri dari cadangan terukur 5,3 milyar ton, cadangan terunjuk 6,8 milyar ton 297

2.

Energi, Lingkungan dan Batubara

dan cadangan tereka 10,01 milyar ton. Cadangan tersebut tersebar di berbagai Kabupaten di Sumatera Selatan. Kabupaten yang memiliki cadangan batubara terbesar adalah Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Lahat (Gambar 1). Kualitas batubara yang ditemukan di wilayah Sumatera Selatan adalah sangat bervariasi, baik dilihat dari sifat kimia maupun sifat fisik. Perbedaan kualitas ini erat hubungannya dengan lingkungan dan waktu pengendapan batubara tersebut. Batubara yang terbentuk lebih awal pada umumnya memiliki peringkat (rank) lebih tinggi dari batubara yang diendapkan kemudian. Sebagian besar batubara Sumatera Selatan (lebih dari 80 %) masuk kategori Low Rank Coal (LRC). Produksi batubara Sumatera Selatah dilakukan oleh PTBA yang telah melakukan produksi batubara sejak tahun 1939 sampai sekarang. Namun produksi batubara oleh PTBA baru berkembang dengan sangat pesat di era tahun 1990-an. Tingkat produksi batubara PTBA dari unit penambangan Bukit Asam (Tanjung Enim) meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990 misalnya, produksi batubara baru mencapai sekitar 3,3 juta ton dan meningkat drastis menjadi 7,0 Juta ton pada tahun 1995.

325.00 836.79

3,491.71 1,235.00

OKI OKU Ma. Enim

2,714.97 13,636.53

Lahat MURA MUBA

Cadangan : 22.240,0 Juta ton

Gambar 1. Cadangan Batubara Sumatera Selatan (Juta Ton) Produksi batubara PTBA selama lima tahun terakhir relatif konstan, berkisar sekitar 9 juta ton (Gambar 2). Hal ini dikarenakan kendala transportasi 298 Energi, Lingkungan dan Batubara

batubara. Untuk dapat memenuhi potensi permintaan batubara baik dari pasar domestik maupun ekspor di masa yang akan datang, infrastruktur transportasi dan distribusi batubara (jalan kereta api, jalan darat, sarana lalu lintas sungai/laut, pelabuhan bongkar muat, terminal) yang ada perlu ditingkatkan. Bila masalah transportasi (kereta api) telah teratasi, tingkat produksi batubara PTBA dari lapangan batubara Tanjung Enim dan sekitarnya akan terus meningkat untuk tahun-tahun mendatang sejalan dengan kebutuhan batubara di dalam negeri yang terus meningkat terutama untuk pembangkit listrik. Disamping itu, batubara tersebut juga dialokasikan untuk ekspor dalam rangka menambah devisa negara.

10 Produksi (juta ton) 8 6 4 2 0

8.94

8.42

9.19

8.60 6.65

2001

2002

2003 Tahun

2004

2005

Gambar 2. Produksi Batubara Sumatera Selatan (Juta Ton) *) Data tahun 2005, realisasi sampai Bulan Oktober Produksi batubara Sumatera Selatan sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Data penjualan PTBA tahun 2004 menunjukkan dari total penjualan sebesar 9.952.353 ton, penjualan domestik sebesar 7.125.918 ton (1.238.134 ton diantaranya dijual di Sumatera Selatan) dan penjualan ekspor sebesar 2.826.617 ton. (Tabel 2). Hal ini berarti permintaan batubara di Sumatera Selatan relatif kecil dibandingkan di daerah lain. Kondisi ini memungkinkan Sumatera Selatan mengekspor atau mengirimkan batubara ke lokasi lain di tanah air. Untuk dapat meningkatkan produksi batubara tentunya dibutuhkan prasarana transportasi yang memadai. Pemerintah telah merencanakan akan membangun rel kereta api jalur ganda untuk pengangkutan batubara jalur Tanjung Enim – Palembang dan Tanjung Enim – Lampung. Selain itu juga telah direncanakan untuk membuat kanal Energi, Lingkungan dan Batubara 299

agar batubara produksi Tanjung Enim dapat dibawa dengan transportasi air ke Sungai Musi atau ke Selat Bangka untuk selanjutnya di ekspor.

Tabel 2 . Produksi dan Pemakaian Batubara Sumatera Selatan Produksi & Penjualan Produksi PTBA • Sumsel • Luar Sumsel Penjualan Total • Penjualan Domestik - Sumsel - Luar Sumsel • Penjualan Ekspor 2001 9.500.249 8.939.536 560.713 10.033.110 8.208.990 1.251.945 6.957.045 1.824.120 2002 8.782.675 8.420.352 362.323 9.430.415 7.575.763 1.289.660 6.286.103 1.854.652 Tahun 2003 9.207.185 9.191.710 15.475 9.818.554 7.579.823 1.266.730 6.313.093 2.238.731 2004 8.681.259 8.597.251 84.008 9.952.535 7.125.918 1.238.134 5.887.784 2.826.617 2005 6.700.349 6.645.964 54.385 8.024.876 5.968.355 1.055.806 4.912.549 2.056.521

B.

PEMANFAATAN DAN TEKNOLOGI Batubara dapat digunakan sebagai bahan bakar langsung maupun bahan bakar tidak langsung melalui proses konversi batubara menjadi bahan bakar berbentuk cair, padat dan gas (Gambar 3). Teknologi pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar langsung telah banyak diterapkan, antara lain pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara, pabrik semen, industri dan lainlain. Saat ini teknologi konversi batubara telah berkembang cukup pesat, misalnya teknologi pembriketan, pengkokasan, upgrading brown coal (UBC), gasifikasi dan likuifaksi batubara serta coal water fuel (CWF) dan sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian, satu ton batubara muda bila dikonversikan akan menghasilkan energi listrik sebesar 700 kWh, dan bila dikonversikan menjadi bahan bakar cair akan menghasilkan produk sebanyak 160 liter (Gambar 4). 1. PLTU Batubara Batubara Sumatera Selatan umumnya termasuk peringkat rendah dengan nilai kalori yang rendah dan kadar air yang tinggi. Hal ini mengakibatkan kesulitan dalam pemasaran dan biaya operasional penambangan (khususnya biaya pengangkutan) menjadi tinggi, sementara harga batubara relatif rendah. Untuk mengatasi kendala tersebut perlu diupayakan pemanfaatan batubara langsung di sekitar lokasi penambangan. Salah satu pemanfaatan yang potensial adalah dengan membangun Pembangkit Listrik Energi, Lingkungan dan Batubara

300

Tenaga Uap (PLTU) batubara mulut tambang. Pembangunan PLTU akan dapat meningkatkan pemanfaatan Batubara Sumatera Selatan dan sekaligus memberikan sumbangsih bagi pemenuhan kebutuhan energi nasional. Sehubungan dengan hal tersebut, beberapa perusahaan swasta nasional maupun asing telah mendapat persetujuan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk membangun PLTU batubara. Total kapasitas rencana PLTU yang telah disetujui atau dalam tahap tender adalah 1000 MW, sementara 5500 MW lainnya masih dalam kajian. Untuk menunjang hal tersebut diperlukan pengadaan jaringan transmisi listrik yang menghubungkan pembangkit listrik dengan pusat-pusat beban. Pemerintah telah memprogramkan pengembangan jaringan transmisi dengan mengembangkan sistem interkoneksi sumatera (sitem saluran udara tegangan tinggi) dan sistem interkoneksi Jawa – Sumatera melalui kabel laut. 2. Briket Batubara Upaya meningkatkan pangsa pemakaian batubara selain pada PLTU dan pabrik semen, telah dirintis melalui pembuatan briket batubara pada tahun 1992. Briket batubara diharapkan dapat digunakan luas di sektor rumah tangga dan sektor industri kecil-menengah untuk mengimbangi dominasi BBM di sektor ini. Hingga saat ini Indonesia telah memiliki empat pabrik briket batubara yang siap memproduksi dan memasarkan briket batubara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, kesemuanya milik PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero). Keempat pabrik briket tersebut adalah : - Pabrik Briket Batubara Tanjung Enim I (kapasitas 7.500 ton/tahun), menerapkan teknologi proses briket terkarbonisasi secara konvensional yang menghasilkan briket tipe telur kualitas biasa / standar - Pabrik Briket Batubara Tanjung Enim II (PTBA-NEDO), kapasitas 10.000 ton per tahun, menerapkan teknologi proses briket terkarbonisasi yang menghasilkan briket tipe telur kualitas tinggi (briket super). - Pabrik Briket Batubara Tarahan, kapasitas 5.000 ton per tahun, pabrik briket batubara terkarbonisasi yang menghasilkan briket telur kualitas biasa - Pabrik Briket Batubara Gresik, kapasitas 120.000 ton per tahun, menerapkan teknologi proses briket tidak terkarbonisasi yang menghasilkan briket sarang tawon tipe kubus. Produksi briket batubara (briket super) terus meningkat dari 590 ton pada tahun 1993 menjadi 19.496 ton pada tahun 2003, bahkan pernah mencapai 301

Energi, Lingkungan dan Batubara

23.248 ton pada tahun 2001 (Gambar 5). Peningkatan produksi ini merupakan indikasi peningkatan pemanfaatan briket batubara di Indonesia.

Gambar 3. Pohon Batubara Sumber : PPTM Bandang 302 Energi, Lingkungan dan Batubara

Listrik 700 kWh

Briket 400 kg

Methanol 280 lt BAT BATUBARA 1000 Kg

Batubara Halus 360 kg

Kokas 250 kg

Bahan Bakar Cair 160 lt Gas Kota 150 m3 Gas Sintetis 550 m3

Gambar 4. Perkiraan Produk Konversi Batubara

25,000 20,290 20,955 20,000

23,248 21,833 19,496

Produksi (Ton)

14,898 15,000 12,907 8,310 3,694

10,000

5,000 590 0

2,555

1993 1994

1995 1996

1997

1998 1999

2000 2001

2002 2003

Tahun

Gambar 5. Produksi Briket Super Indonesia

Energi, Lingkungan dan Batubara

303

Lebih dari sepuluh tahun telah berlalu sejak briket batubara diperkenalkan dan dipromosikan, namun perkembangan pemanfaatan bahan bakar ini di sektor rumah tangga masih sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari pangsa pasar briket batubara. Pemanfaatan briket batubara untuk rumah tangga masih menghadapi beberapa kendala, antara lain butuh waktu untuk penyalaan, penggunaan yang harus kontinu (sampai briket habis terbakar seluruhnya), adanya isu negatif yang berkaitan dengan kesehatan (emisi gas beracun), dan lain-lain. Di pihak lain pemanfaatan briket batubara pada industri kecil-menengah mulai memasyarakat dan telah diterima. Penggunaan briket batubara nasional pada tahun 2004 menunjukkan pengguna briket terbesar adalah peternakan ayam dan disusul oleh rumah makan (sektor industri), sedangkan sektor rumah tangga hanya menggunakan briket batubara sebesar 1% dari total penjualan briket tahun 2004 (Gambar 6). Data penjualan briket batubara nasional (kumulatif sampai tahun 2004) menunjukkan pemakaian terbesar briket batubara adalah wilayah Jabotabek (44.780,10 ton) dan disusul oleh Jawa Timur sebesar 32.107,00 ton. Untuk wilayah Sumatera, pengguna briket terbesar adalah Sumatera Selatan disusul oleh Lampung (Gambar 7). Kebutuhan minyak tanah (kerosene) saat ini sekitar 11,5 juta kilo liter (untuk rumah tangga). Nilai kalori minyak tanah sekitar 9.200 kcal/kg dan nilai kalori batubara lignit sekitar 4.500 kcal/kg. Berarti kebutuhan 11,5 juta kilo liter minyak tanah tersebut setara dengan (9200/4500) x 11,5 juta kilo liter = 23,5 juta ton batubara. Bila dijadikan briket batubara akan menghasilkan 40% x 23,5 juta ton = 9,4 juta ton briket batubara. Bila pertumbuhan kebutuhan minyak tanah diperkirakan 3% per tahun, maka pemakaian minyak tanah pada tahun 2025 sekitar : = {11,5 + (57% x 11,5)} =18,055 juta kilo liter atau setara dengan (9200/4500) x 18,055 juta kl = 36,9 juta ton batubara. setara dengan 40% x 36,9 juta ton batubara = 14,76 juta ton briket. Bila diasumsikan 50% kebutuhan minyak tanah rumah tangga pada tahun 2025 dapat dialihkan pada briket batubara, maka dibutuhkan 7,38 juta ton briket batubara. Ini merupakan lahan baru yang sangat menarik untuk bisnis.

304

Energi, Lingkungan dan Batubara

1% 5% 9%

1% Peternak Ayam Rumah Makan Pondok Pesantren 64% Industri Kecil Rumah Tangga Lainnya

20%

Gambar 6. Pangsa Briket Batubara Indonesia

1861 32107

160

10 16384 10 13164 30

Sumut Riau Sumbar Sumsel Bengkulu Lampung Bangka

27982 44780 9437

Jabotabek Jabar Jateng & DIY Jatim

Gambar 7. Pemasaran Briket Batubara di Indonesia

Beberapa waktu setelah kenaikan harga minyak 1 Oktober 2005, Presiden mensosialisasikan penggunaan briket batubara sebagai salah satu energi alternatif untuk mengatasi mahalnya harga minyak tanah. Lebih lanjut program tersebut ditindaklanjuti dengan program produksi massal kompor Energi, Lingkungan dan Batubara 305

briket 10 juta tungku (hingga 2009). Namun pada pertengahan Mei 2006 lalu, kebijakan tersebut dialihkan oleh Wakil Presiden yang ingin mengembangkan gas bumi dan merencanakan untuk menyediakan 121 juta tabung gas dalam tiga tahun ke depan, dan merencanakan untuk meniadakan minyak tanah secara bertahap dengan percontohan pertama di empat kota Jakarta, Batam, Bali dan Makasar. Program mengalihkan penggunaan minyak tanah menjadi LPG merupakan program yang sangat menjanjikan dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap BBM, akan tetapi beberapa hal masih harus dicermati secara mendalam, misalnya produksi gas alam Indonesia yang sebagian besar telah committed, sehingga sulit untuk menyediakan gas alam dalam jumlah besar secara mendadak. Di lain pihak sebagian masyarakat di lokasi terpencil masih menggunakan minyak tanah untuk sumber penerangan sehingga penggunaan minyak tanah tidak dapat dihindari. Program penggunaan LPG untuk menggantikan minyak tanah di rumah tangga tampaknya hanya cocok untuk kalangan menengah ke atas, sedangkan pada golongan ekonomi lemah akan mengalami kesulitan untuk membeli LPG yang relatif mahal dan tidak dapat dibeli secara eceran. Sehubungan dengan hal tersebut briket batubara mutlak tetap perlu dikembangkan karena pengalihan minyak tanah seluruhnya ke gas alam tidak mungkin dapat dilaksanakan. Dengan demikian kedua program tersebut dapat saling menguatkan dalam mencapai tujuan yang sama yakni mengurangi ketergantungan terhadap BBM dan menjamin ketersediaan energi nasional. 3. Upgrading Brown Coal (UBC) Teknologi upgrading brown coal (UBC) yang merupakan teknologi untuk meningkatkan kualitas batubara, sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar batubara peringkat rendah. Teknologi ini telah dikuasai dengan baik, bahkan telah didirikan pilot plant UBC di Palimanan, Cirebon pada tahun 2004-2005. Biaya produksi UBC sekitar US $ 10/ton. Tingginya harga batubara dewasa ini menjadikan penerapan teknologi ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan. Direncanakan tahun 2006 akan dibangun pabrik skala demo plant di Sumatera Selatan. Pada skala demo ini produk UBC yang dihasilkan telah dapat dipasarkan dan diperkirakan pada tahun 2009 telah dapat memasuki tahap komersial plant.

306

Energi, Lingkungan dan Batubara

4.

Gasifikasi dan Likuifaksi Teknologi likuifaksi batubara merupakan teknologi yang telah lama dikenal. Percobaan pertama dilakukan oleh Dr. Friedrich Begius pada tahun 1913 di Jerman (Berkowitz, 1985), selanjutnya para peneliti dari berbagai negara telah melanjutkannya dengan menyempurnakan serta mengembangkan teknologi tersebut. Di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral telah menjadikan pengkajian pencairan batubara menjadi salah satu program penelitian dalam Proyek Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pemanfaatan Batubara pada tahun anggaran 1995/1996. Melalui program tersebut, berbagai penelitian seputar teknologi likuifaksi batubara telah dilakukan. Selain itu, lembaga penelitian lainnya dan kalangan perguruan tinggi juga ikut ambil bagian dalam penelitian teknologi likuifaksi tersebut. Secara umum, teknologi likuifaksi batubara telah dapat dikuasai dengan baik dan tidak ada masalah yang berarti. Dampak lingkungan teknologi pencairan batubara dan gasifikasi batubara relatif lebih kecil dibandingkan pembakaran batubara secara langsung. Emisi gas SO2 hasil pembakaran secara langsung di PLTU berkapasitas 2540 MWe misalnya adalah 88,2 x 103 ton/tahun, sedangkan emisi SO2 pada liquefaction plant dengan kapasitas yang sama adalah 4,4 x 103 ton/tahun dan emisi SO2 pada saat penggunaan minyak adalah 11,9 x 103 ton SO2/tahun. Jumlah tersebut jauh lebih kecil bila dibandingkan emisi pada pembakaran batubara secara langsung di PLTU yang dilengkapi flue gas desulfurization. Demikian juga pada emisi NOx, particulate dan karbon monoksida, konversi batubara menjadi bahan bakar gas atau cair menghasilkan limbah tersebut dalam jumlah yang jauh lebih sedikit (Hadi N & Nining S Ningrum, 1998). Penelitian terhadap pencairan batubara Tanjung Enim, Sumatera Selatan menunjukkan hasil yang cukup baik dengan biaya produksi sebesar US $ 18,6/barrel. Dengan kondisi harga minyak bumi sekarang ini yang berada pada kisaran US $ 50 - 70 /barrel, teknologi likuifaksi merupakan pilihan yang sangat menarik. Secara umum teknologi gasifikasi dan likuifaksi batubara telah dikuasai, namun hingga saat ini masih dalam taraf penelitian skala laboratorium. Diperkirakan pilot plant likuifaksi akan didirikan sekitar tahun 2009.

5.

Coal Water Fuel (CWF)

Energi, Lingkungan dan Batubara

307

Teknologi Coal Water Fuel (CWF) hingga saat ini juga masih dalam tahap penelitian skala laboratorium dan belum diaplikasikan. Prioritas pemanfaatan batubara sebagai energi alternatif yang potensial berdasarkan tingkatan pengembangan teknologi konversi yang telah dicapai dan pertimbangan keekonomiannya serta kemungkinan perkembangannya di masa mendatang adalah pemanfaatan langsung (PLTU, industri) dan pemanfaatan setelah konversi (briket batubara, UBC, gasifikasi dan likuifaksi, serta CWF).

308

Energi, Lingkungan dan Batubara

PELUANG DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN ENERGI NON-BBM Machmud Hasjim

A.

PENDAHULUAN Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Allah menciptakan manusia dengan sarana kehidupannya berupa tanah, air dan udara. Di dalam tanah dan air juga diberikan-Nya sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui. Kesemuanya memerlukan ilmu pengetahuan, keterampilan serta sikap arif untuk mengelolanya, guna kesejahteraan manusia, sebagai tanda bersyukur kepada-Nya. Sumber daya alam, yang di dalamnya termasuk sumber daya energi, perlu dilakukan eksplorasi guna mengetahui besarnya cadangan, kualitas cadangan dan lokasi cadangan tersebut. Setiap kegiatan manusia memerlukan energi, secara umum paling tidak ada 4 sektor dalam pemakaiannya, yaitu sektor industri, transportasi, rumah tangga, dan komersial. Energi fosil, energi yang tidak dapat diperbaharui pada 3 dekade ini (sampai 2030) masih mendominasi dalam pemakaian pada energi mix nasional (BAUR). Kebutuhan energi nasional terus meningkat, seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, keberhasilan pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi. Jenis energi primer yang paling dominan digunakan selama ini adalah minyak bumi (termasuk bahan bakar minyak/ BBM). Di sisi lain, produksi dan cadangan minyak bumi nasional akhir-akhir ini cenderung menurun. Bahkan Pemerintah telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari organisasi negara pengekspor minyak (Organization of Petroleum Exporting Countries/ OPEC). Selain itu harga minyak mentah dunia akhir-akhir ini berfluktasi tajam mengakibatkan beban subsidi melampaui jumlah yang dianggarkan dalam APBN. Krisis energi tidak hanya dialami Indonesia, namun secara umum krisis ini menjadi perhatian dunia. Pada akhir tahun 2007 rasio cadangan terbukti terhadap produksi minyak bumi menunjukkan minyak bumi hanya mampu bertahan selama 41,6 tahun. Hal ini perlu diantisipasi mengingat konsumsi minyak bumi dunia meningkat sekitar 1,1% (2006 – 2007) . Dengan kondisi yang demikian sumber daya energi masa mendatang tertumpu pada gas bumi (60,3 tahun) dan batubara (133 tahun). Life time tersebut ke depan akan semakin singkat mengingat konsumsi gas meningkat 3,1% (2006-2007) dan konsumsi batubara meningkat 4,5% (2006-2007) . Energi, Lingkungan dan Batubara 309

Krisis energi di Indonesia terutama disebabkan karena tingginya dominasi minyak bumi. Fluktuasi harga minyak bumi dunia mengakibatkan beban subsidi BBM yang begitu besar. Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah telah menaikkan harga BBM bersubsidi sekitar 28% dan mengalihkan subsidi BBM ke bentuk subsidi lain yang langsung dirasakan oleh masyarakat menengah kebawah. Selain itu, Pemerintah telah menetapkan untuk mengurangi dominasi minyak bumi dalam energi mix nasional. Dalam Perpres No. 5 Tahun 2006 ditetapkan pangsa minyak bumi akan dikurangi secara bertahap (dari 51,66% pada tahun 2006 menjadi 20% pada tahun 2025) dengan mengembangkan pemanfaatan energi non minyak bumi yaitu batubara, gas bumi dan Energi baru dan Terbarukan (Gambar 1). Harga minyak bumi yang berangsur turun saat ini terasa melegakan, Pemerintah telah menurunkan harga BBM dan seolah kiris energi telah berlalu, akan tetapi semua pihak tidak boleh terlena dengan menurunnya harga minyak bumi dan Pemerintah perlu terus menggalakkan upaya pemanfaatan energi nonBBM. Pengembangan energi non minyak bumi memiliki peluang dan kendalanya masing-masing, sehingga dalam implementasinya diperlukan perencaan yang baik agar dapat tercapai sasaran energi mix nasional yang ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional.

B.

Gambar 1 : Sasaran Energi Mix Nasional 2006 – 2025 POTENSI ENERGI Minyak Bumi Daerah yang memiliki potensi minyak bumi yang besar di Indonesia adalah Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Total cadangan terbukti minyak bumi Indonesia pada tahun 2007 adalah 3,99 miliar barrel atau sekitar Energi, Lingkungan dan Batubara

310

0,32% dari cadangan terbukti dunia. Selain cadangan terbukti tersebut, Indonesia juga memiliki cadangan potensial sebesar 4,41 miliar barrel. Dengan memperhitungkan cadangan terbukti dan cadangan potensial, maka total potensi minyak bumi Indonesia sebesar 8,40 miliar barrel (Gambar 4).

Gambar 4. Cadangan Minyak Bumi Indonesia (Juta Barrel) Gas Bumi Daerah yang memiliki potensi gas bumi yang besar di Indonesia adalah Natuna, Sumatera, Papua, Kalimantan dan Jawa. Total cadangan terbukti gas bumi Indonesia pada tahun 2007 adalah 106,01 triliun kaki kubik atau sekitar 1,70% dari cadangan terbukti dunia. Selain cadangan terbukti tersebut, Indonesia juga memiliki cadangan potensial sebesar 58,98 triliun kaki kubik. Dengan memperhitungkan cadangan terbukti dan cadangan potensial, maka total potensi gas bumi Indonesia sebesar 164,99 triliun kaki kubik (Gambar 5).

Energi, Lingkungan dan Batubara

311

Gambar 5. Cadangan Gas Bumi Indonesia (Triliun Kaki Kubik)

Batubara Sumberdaya batubara Indonesia sebesar 93,40 miliar ton terdiri dari 23,63 miliar ton sumberdaya hipotetik, 35,20 miliar ton sumberdaya terindikasi, 13,66 miliar ton sumber daya tereka dan 20,91 miliar ton sumberdaya terukur. Cadangan terbukti batubara Indonesia sebesar 5,46 miliar ton dan cadangan mungkin 6,39 miliar ton (Tabel 1). Penyebaran batubara di Indonesia terutama di Kalimantan dan di Sumatera. Tabel 1. Sumberdaya dan Cadangan Batubara Indonesia
LOCATION RESOURCES (million tons) HYPOTHETIC INFERRED INDICATED MEASURED TOTAL RESERVES (million tons) PROBABLE PROVEN

Sumatra Java Kalimantan Sulawesi Maluku Papua TOTAL

20,148.46 5.47 3,389.28 89.40 23,632.61

13949,28 6.65 21,028.92 146.91 2.13 64.02 35,197.91

10,734.67 2,893.82 33.09 13,661.59

7,699.17 2.09 13,156.04 53.10 20,910.39

52,531.58 14.21 40,468.07 233.10 2.13 153.42 93,402.51

3,781.44 2,605.99 6,387.43

904.80 4,556.99 0.06 5,461.79

Coal Bed Methane Sumberdaya Coal Bed Methane (CBM) atau Gas Metana Batubara (GMB) Nasional sebesar 453,3 TCF yang terdiri dari 11 Cekungan CBM. Sumberdaya terbesar terdapat di Cekungan Sumatera Selatan (183 TCF), disusul Cekungan Barito dan Cekungan Kutei (Gambar 2). 312 Energi, Lingkungan dan Batubara

Gambar 2. Sumberdaya Coal Bed Methane Nasional Energi Baru dan Terbarukan Indonesia selain memiliki sumber daya energi fosil, juga memiliki sumber daya energi baru dan terbarukan seperti energi air, panas bumi, mini/mikro hidro, biomassa, energi surya, energi angin, uranium dalam jumlah yang cukup besar (Tabel 2). Tabel 2. Potensi Sumber Daya Energi Baru dan Terbarukan Indonesia Equivalent Value 75.67 GW 27.00 GW 0.45 GW 49.81 GW 4.80 kWh/m2/day 9.29 GW Existing Utilization 4.2 GW 0.8 GW 0.084 GW 0.3 GW 0.008 GW 0.0005 GW -

Types Hydro Geothermal Mini/Micro Hydro Biomass Solar Wind Uranium

Resources 845.00 juta BOE 219.00 juta BOE 0.45 GW 49.81 GW 9.29 GW 24.112 ton e.q. 3 GW for 11 years

C.

PELUANG Kebijakan Energi Nasional yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 memberikan peluang besar bagi pengembangan energi non-bahan bakar minyak (BBM). Berdasarkan potensi 313

Energi, Lingkungan dan Batubara

energi nasional, maka jenis energi yang akan dikembangkan adalah gas bumi, batubara, dan coal bed methane (CBM) serta energi baru dan terbarukan (EBT). Gas Bumi Potensi gas bumi nasional cukup besar dan potensial untuk mengambil peran dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Selain potensi yang besar, peluang pemanfaatan gas bumi antara lain teknologi telah proven dan dikuasai oleh putra putri Indonesia, mengingat kegiatan penambangan dan pemanfaatan gas bumi telah dimulai sejak jaman Belanda. Pemanfaatan gas bumi untuk mememuhi kebutuhan energi nasional sangat terbuka meningat telah tersedia infrastruktur pipa induk gas bumi yang menghubungkan sentra produksi gas dan pengguna serta telah ada rencana induk pengembangan distribusi gas antar negera.

Batubara Peluang pemanfaatan batubara untuk mengimbangi dominasi BBM adalah potensi yang besar dan tersebar di Indonesia. Teknologi penambangan batubara telah dikuasai dan Indonesia telah berpengalaman dalam penambangan batubara karena pertambangan batubara telah lama dimulai di Indonesia. Peluang yang signifikan juga karena batubara dapat dimanfaatkan secara langsung maupun melalui derivatif batubara. Hal ini memungkinkan penambangan dan pemanfaatan batubara peringkat rendah yang selama ini dianggap tidak ekonomis. Penerapan derivatif batubara memungkinkan batubara ditingkatkan kualitasnya dan dirubah bentuknya menjadi cair dan gas sehingga memungkinkan batubara (dan derivatifnya) memenuhi kebutuhan energi pada berbagai sektor baik di sektor rumah tangga, transportasi, industri dan komersial. Coal Bed Methane Potensi Coal Bed Methane (CBM) yang terdapat di Indonesia sangat besar dan potensial dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Penyebaran batubara yang terdistribusi relatif merata di seluruh daerah di Indonesia memungkinkan pemanfaatan CBM pada hampir semua daerah di Indonesia. Untuk itu diperlukan penguasaan teknologi eksplorasi dan ekploitasi CBM secara optimal. 314 Energi, Lingkungan dan Batubara

Bahan Bakar Nabati Saat ini teknologi bahan bakar nabati (BBN) telah berkembang pesat baik untuk biodiesel maupun bioetanol. Untuk biodiesel teknologi telah proven dan telah memasuki tahap komersial dengan nama komersil ‘biosolar’ yang dipasarkan di semua SPBU pertamina khususnya di Jawa. Bahan bakar substitusi ini sangat tepat untuk diterapkan pemanfaatannya mengingat energi ini termasuk energi terbarukan dan kontinuitasnya dapat direncanakan serta tidak tergantung dari bahan bakar import. Wilayah Indonesia yang luas dengan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan jarak, kelapa sawit, singkong dan bahan baku biodiesel/bioetanol lainnya, potensial untuk dimanfaatkan untuk perkebunan tanaman yang dapat digunakan untuk memproduksi bahan bakar nabati. Energi Baru dan Terbarukan (EBT) Potensi sumberdaya energi baru dan terbarukan cukup besar dan terdiri dari berbagai jenis serta terdistribusi di semua wilayah di Indonesia. Pengembangan energi baru dan terbarukan potensial untuk dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi setempat. Telah dilakukan beberapa pengembangan energi baru dan terbarukan skala menengah besar seperti Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). D. TANTANGAN Gas Bumi Tantangan pemanfaatan gas bumi yang utama adalah infrastruktur distribusi gas yang baru menjangkau lokasi-lokasi sentra industri dan yang mencapai pemukiman masih sangat terbatas. Kendala lain adalah karena pipa gas bumi yang sudah tua dan memerlukan peremajaan serta kapasitasnya terbatas sehingga kesulitan untuk peningkatan produksi. Saat ini Pemerintah telah menerapkan Program Konversi Minyak Tanah ke LPG. Program ini merupakan program yang cukup baik dalam mengurangi ketergantungan BBM. Akan tetapi perlu dipertimbangkan bahwa LPG dapat bersumber dari Gas Bumi ataupun dari Minyak Bumi. Indonesia mempunyai banyak potensi gasbumi, akan tetapi tidak semua gas bumi dapat dikonversikan menjadi LPG sehingga sebagian LPG tersebut mungkin akan diproduksi dari minyak bumi sehingga upaya untuk mengurangi penggunaan minyak bumi menjadi kurang efektif. 315

Energi, Lingkungan dan Batubara

Sehubungan dengan kondisi tersebut, perlu dipertimbangkan untuk menggunakan gas bumi secara langsung untuk bahan bakar rumah tangga khusus pada daerah-daerah penghasil gas bumi, sehingga LPG dapat dialihkan untuk dimanfaatkan di daerah lain yang bukan penghasil gas bumi. Kendala dalam pemanfaatan gas bumi di sektor rumah tangga adalah keterbatasan prasarana/pipa yang menghubungkan pipa induk dengan konsumen. Untuk itu Pemerintah Daerah perlu mengupayakan investasi pipa sekunder tersebut agar daya jangkau penyaluran gas bumi semakin besar. Bagi masyarakat pengguna hal ini memberikan keuntungan karena gas bumi lebih murah dan sekaligus mengurangi kekhawatiran kehabisan stock sebagaimana yang terjadi bila membeli LPG dalam tabung di pengecer. Selain pemanfataan untuk rumah tangga, pemanfaatan gas bumi untuk sektor transportasi juga perlu digalakkan. Pemerintah Daerah penghasil gas bumi perlu melakukan percontohan penggunaan kendaraan berbahan bakar gas bumi dan sekaligus memfasilitas pengadaan SPBG dan prasarana yang dibutuhkan. Selain itu juga perlu dipertimbangkan untuk memberikan insentif bagi kendaraan berbahan bakar gas.

Batubara Batubara merupakan salah satu tumpuan energi non BBM yang akan dikembangkan pemanfaatannya di masa mendatang hal ini dapat dilihat dari sasaran yang ditetapkan yaitu dari 15,34% menjadi 33%. Pemanfaatan batubara dapat dilakukan dengan pemanfaatan secara langsung dan melalui konversi batubara. Pemanfaatan langsung saat ini terutama sebagai bahan bakar PLTU dan industri semen serta sebagian industri lainnya. Pemanfaatan secara pembakaran langsung ini cukup potensial mengingat kebutuhan energi listrik terus meningkat dan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara terus dilaksanakan. Selain pemanfaatan sebagai bahan bakar langsung, batubara juga dapat dimanfaatkan dalam bentuk derivatif batubara, yaitu briket batubara, upgraded brown coal, likuifaksi batubara, gasifikasi batubara dan coal water fuel (CWF). Teknologi briket batubara telah proven dan telah diproduksi, akan tetapi pemanfaatannya masih sangat terbatas. Untuk industri kecil dan menengah pemanfaatan briket batubara telah dapat diterima masyarakat akan tetapi untuk sektor rumah tangga masih menghadi kendala karena kurang praktis dalam operasinya. Teknologi Upgrading Brown Coal telah proven dan telah dibangun pabrik skala demo plant di Indonesia. Teknologi ini akan dapat meningkatkan kualitas batubara sehingga memungkinkan 316 Energi, Lingkungan dan Batubara

untuk memenuhi persayaratan kualitas untuk berbagai kebutuhan dan menunjang peningkatan ekspor batubara. Dengan teknologi ini batubara kualitas rendah yang selama ini sulit dipasarkan akan dapat ditambang dan dipasarkan secara komerasial, dari sisi suplai energi primer hal ini berarti peningkatan cadangan batubara yang ada. Teknologi likuifaksi melibatkan proses kimia untuk merubah batubara yang semula berupa padatan menjadi bahan bakar cair (crude synthetic oil) batubara agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Teknologi gasifikasi juga melibatkan proses kimia untuk merubah batubara menjadi berbentuk gas (gas sintetis batubara) untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Dalam sasaran Kebijakan Energi Nasional ditetapkan sasaran untuk likuifaksi sebesar 2% dari total konsumsi energi nasional pada tahun 2025, sedangkan untuk gasifikasi tidak ditetapkan sasaran. Ditinjau dari tingkat kompleksitas teknologi dan biaya tampaknya gasifikasi batubara lebih memungkinkan untuk dikembangkan terlebih dahulu karena peralatan yang sederhana, teknologi yang telah proven dan biaya investasi yang lebih rendah dibandingkan dengan likuifaksi batubara. Atas pertimbangan tersebut, perlu kiranya sasaran gasifikasi batubara ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional. Coal Bed Methane Potensi Coal Bed Methane di Indonesia sangat menjanjikan, akan tetapi saat ini masih pada tahap eksplorasi dan belum dapat dimanfaatkan. Oleh karena itu Pemerintah perlu terus menggalakkan kegiatan ekplorasi CBM agar nantinya dapat dimanfaatkan secara optimal. Selain itu juga penguasaan teknologi baik eksplorasi maupun eksploitasinya. Untuk itu perlu diupayakan kerjasama dengan negara-negara yang telah memproduksi CBM secara komersial. Bahan Bakar Nabati Teknologi biodiesel dan bioetanol telah proven akan tetapi masih teradapat tantangan yang harus dijawab. Bioetanol belum diproduksi secara besar dan belum komersial terutama karena harga ekonomisnya yang masih di atas harga minyak bumi. Biodiesel telah memasuki tahap komersial dengan dijualnya ‘biosolar’ di berbagai SPBU di kota besar terutama di Jakarta. Tantangan yang masih harus dijawab adalah meningkatkan persentase biodiesel dalam campuran BBM sehingga dapat mengurangi konsumsi BBM dengan lebih signifikan. Biodiesel yang dicampur minyak solar untuk memproduksi ‘biosolar’ yang Energi, Lingkungan dan Batubara 317

dijual di pasaran saat ini berkisar 5% - 10%. Dengan demikian masih perlu terus ditingkatkan persentase biodiesel terhadap minyak solar. Selain peningkatan persentase tersebut, juga perlu diupayakan perluasan distribusi biosolar ke berbagai daerah lain di Indonesia. Energi Baru dan Terbarukan (EBT) Kendala dalam pengembangan energi baru dan terbarukan antara lain adalah karena umumnya EBT bersifat lokal, selain itu pengembangan dalam skala menengah – besar relatif sulit dilakukan. Energi baru dan terbarukan yang potensial dikembangkan dalam skala menengah – besar antara lain energi panas bumi, energi air dan energi nuklir untuk pembangkit listrik. Pengembangan energi baru dan terbarukan yang bersifat lokal misalnya mini dan mikro hidro, biogas, dan sebagainya masih sangat terbatas. Oleh karenanya Pemerintah perlu menggalakkan percontohan dan sosialiasi serta bantuan pengadaan peralatan. Melalui percontohan tersebut, diharapkan akan dapat memenuhi kebutuhan energi di daerah percontohan, dengan demikian diharapkan daerah sekitarnya akan mengikuti.

318

Energi, Lingkungan dan Batubara

ASPEK LINGKUNGAN PEMAKAIAN BRIKET PADA INDUSTRI MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN RUMAH TANGGA

Machmud Hasjim

A.

PENDAHULUAN Kebutuhan energi dari waktu ke waktu terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut umumnya digunakan bahan bakar minyak (BBM), sehingga pemintaan akan BBM begitu besar serta ketergantungan terhadap BBM begitu tinggi. Di sisi lain cadangan minyak bumi nasional terus menipis sehingga untuk mempertahankan penyediaan minyak bumi Pemerintah telah menerapkan pengurangan kuota BBM (termasuk minyak tanah) dan mengupayakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM dengan mengembangkan pemanfaatan energi lain. Dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat, selama ini Pemerintah menerapkan kebijakan subsidi BBM. Tingginya harga minyak dunia mengakibatkan beban yang harus ditanggung oleh negara begitu besar, selain itu diperkirakan subsidi tersebut justru lebih banyak dinikmati masyarakat menengah ke atas, dan perbedaan harga BBM yang begitu besar antara harga BBM dalam negeri dan luar negeri menimbulkan kerawanan terhadap penyelundupan BBM. Atas pertimbangan tersebut, Pemerintah secara bertahap mulai menerapkan pengurangan subsidi BBM dan mengalihkan dana tersebut untuk subsidi lain yang lebih membantu masyarakat miskin (dana kompensasi BBM, subsidi kesehatan, subsidi pendidikan, dan lain-lain). Kebijakan pembatasan kuota BBM dan pengurangan subsidi BBM memberikan imbas berupa naiknya harga minyak tanah dan terjadinya kelangkaan minyak tanah. Masyarakat miskin/pedesaan yang tidak menggunakan minyak tanah secara umum menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk memasak. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya penebangan hutan yang berpengaruh buruk terhadap lingkungan. Dalam rangka penyediaan energi bagi masyarakat sehubungan dengan tingginya harga minyak tanah dan kelangkaan BBM, perlu diupayakan energi alternatif yang murah dan mudah didapat. Menilik potensi batubara Sumatera Selatan yang cukup besar dan kualitasnya sesuai untuk bahan baku briket batubara, maka energi alternatif yang potensial untuk dikembangkan adalah briket batubara. Energi, Lingkungan dan Batubara 319

Produksi briket batubara di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1993, namun pemanfaatannya masih kurang berkembang, salah satu faktor utamanya adalah harga minyak tanah yang masih sangat murah pada waktu itu. Di saat harga minyak tanah yang mulai bergerak menuju harga pasar sekarang ini, briket batubara potensial untuk dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak tanah pada industri mikro, kecil dan menengah serta rumah tangga. ENERGI, LINGKUNGAN DAN MUTU KEHIDUPAN Pemakaian briket batubara sebagai bahan bakar memberikan dampak lingkungan berupa gas dan abu. Sebesar apa dampak lingkungan tersebut, memerlukan upaya/usaha seminimal mungkin untuk menghindari turunnya mutu kehidupan manusia. Setiap kegiatan keenergian (penambangan, pengolahan, pemakaian) akan mengganggu kelestarian lingkungan, berarti ada hubungan yang berbanding terbalik antara pengembangan keenergian dan kualitas lingkungan hidup. Kondisi ini memberikan pilihan yang sulit karena energi dan lingkungan hidup akan mempengaruhi mutu kehidupan manusia (Gambar 1). Kebutuhan energi terus meningkat sementara kualitas lingkungan juga perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan. Dengan demikian, untuk menunjang mutu kehidupan diperlukan “titik temu” antara kebutuhan energi dan kebutuhan akan lingkungan hidup yang berkualitas (Gambar 2). B.

Mutu Kehidupan

Energi

Lingk

Gambar 1 Pengaruh Energi, Lingkungan dan Mutu Kehidupan (A. Kadir, 1995)

320

Energi, Lingkungan dan Batubara

Biaya C = A + B = Biaya Total

E

A = Biaya Energi

D 0

B = Biaya Kerusakan Lingkungan Tingkat Pengendalian Pencemaran

Gambar 2 Biaya Sebagai Fungsi dari Pegendalian Penceamaran (A. Kadir, 1995)

C. 1.

BRIKET BATUBARA Teknologi Pembriketan a. Gambaran Umum Proses Pembriketan Pembriketan batubara bertujuan untuk meningkatkan kualitas batubara menjadi suatu bahan bakar yang cocok untuk keperluan tertentu serta berkualitas lebih tinggi dari batubara asalnya. Misalnya batubara peringkat rendah dengan kandungan air tinggi/ kalori rendah dapat ditingkatkan kualitasnya melalui langkah-langkah proses pembriketan sehingga dihasilkan suatu produk briket dengan nilai kalori yang lebih tinggi dan sifat fisik yang lebih sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan oleh konsumen/ pemakai, baik sebagai bahan bakar pada industri maupun untuk kebutuhan rumah tangga. 1)Pembriketan Tanpa Perekat Pada dasarnya proses pembriketan batubara tanpa perekat adalah sesuatu proses yang sangat ideal dalam meningkatkan kualitas batubara, mengingat proses ini relatif “sederhana” dan membutuhkan ongkos produksi yang rendah. Pada batubara peringkat rendah, jika

Energi, Lingkungan dan Batubara

321

masih pada kondisi raw material merupakan bahan bakar yang berkalori rendah dan “tidak layak” untuk ditranspor. Batubara jenis ini yang umumnya masih mengandung kadar air yang cukup tinggi dan dengan demikian akan mempunyai specific cost of transport yang tinggi. Oleh karenanya, produk hasil suatu teknologi pengolahan tertentu misalnya proses pembriketan selayaknya diterapkan pada batubara jenis ini. Sebagai contoh, di perusahaan Rheinbaun AG – Jerman, batubara peringkat rendah yang masih mengandung kadar air sebesar ± 55% dikeringkan sampai dengan kandungan air ± 15% lalu dibriket dan briket yang dihasilkan adalah briket tanpa menggunakan bahan perekat dan diproduksi dengan berbagai bentuk dan ukuran tergantung keperluannya apakah untuk sektor rumah tangga atau industri. Tidak hanya di Jerman, tetapi di negara-negara Eropa Timur, Australia, dan USA sampai saat ini briket jenis ini masih terus diproduksi dan dimanfaatkan untuk keperluankeperluan serupa. Pada umumnya batubara yang dapat dibriket tanpa bahan perekat adalah batubara jenis lignit. Batubara sejenis ini juga dimiliki oleh Indonesia sehingga prospek pembuatan briket tanpa bahan perekat (binder) dari batubara peringkat rendah sangat prospek diterapkan di Indonesia. 2) Pembriketan Dengan Perekat Proses pembriketan batubara dapat juga dengan menggunakan bahan perekat. Biasanya, proses ini diterapkan pada batubara peringkat menengah ke atas, atau pada batubara yang terlebih dahulu mengalami proses pengolahan, misalnya proses karbonisasi atau pencampuran dengan bahan lainnya. Proses pembriketan semacam ini tentunya akan lebih mahal jika dibandingkan dengan proses pembriketan batubara tanpa bahan perekat. Terdapat banyak macam bahan perekat yang digunakan pada pembriketan batubara, baik dari bahan organik maupun anorganik. Bahan perekat anorganik seperti lempung, atau semen dapat digunakan walaupun bahan ini dapat lebih banyak menghasilkan abu pada proses pembakaran briketnya. Namun demikian, perekat anorganik dapat menjadi ketahanan tubuh briket selama proses pembakaran sehingga dasar permeabilitas bahan bakar untuk pembakaran udara tidak terganggu. Pada perekat anorganik timbul efek dilusi yang dapat menurunkan kandungan panas briket.

322

Energi, Lingkungan dan Batubara

Perekat organik menghasilkan abu yang relatif lebih sedikit setelah pembakaran briket dan umumnya merupakan bahan perekat yang efektif. Briket yang kuat dibentuk hanya dengan relatif sedikit perekat. Beberapa perekat organik misalnya kanji, tar, aspal, pitch (petroleum pitch atau coal pitch). Beberapa dari perekat organik seperti tar dapat memberikan kekuatan maksimum pada briket batubara. Sifat perkatannya akan lebih optimal jika setelah dibriket dilakukan proses karbonisasi dan briket jenis ini tahap terhadap cuaca (water resistant).

3)

Proses Tambahan Beberapa proses pengolahan tambahan terhadap bahan baku batubara yang akan dibriket mempunyai tujuan utama dalam penyesuaian pemakaian briket tersebut yang dikaitkan dengan hasil proses pembakaran yang optimal untuk tujuan tertentu, misalnya : Proses karbonisasi untuk mengurangi asap dan bau; cocok untuk rumah tangga (memasak) atau home industry Penambahan bahan-bahan imbuh, misalnya kapur bertujuan untuk mengikat belerang, jika kadar belerang cukup tinggi terdapat di bahan baku batubara.

b.Teknologi Pembriketan di Indonesia Ada beberapa jenis teknologi proses pembuatan briket batubara yang diterapkan di Indonesia (PTBA), antara lain sebagai berikut : 1) Pabrik Briket Batubara Tanjung Enim I kapasitas terpasang 7.500 ton/tahun. Pabrik ini sepenuhnya dikembangkan oleh pihak PTBA dengan menerapkan teknologi proses briket terkarbonisasi secara konvensional yang menghasilkan briket tipe telur kualitas biasa / standar (Gambar 3). Pabrik Briket Batubara Tanjung Enim II (PTBA-NEDO) kapasitas terpasang 10.000 ton per tahun.Pabrik ini adalah hasil kerjasama PTBA dengan NEDO Jepang, dengan menerapkan teknologi proses briket terkarbonisasi yang menghasilkan briket tipe telur kualitas tinggi (briket super). Karakterstik briket super adalah : tidak berasap, tidak berbau dan lebih mudah menyala. Pabrik Briket Batubara Tarahan kapasitas terpasang 5.000 ton per tahun. Pabrik ini sebelumnya memproduksi arang kayu yang menggunakan teknologi dari Spanyol. Namun terhitung sejak 323

2)

3)

Energi, Lingkungan dan Batubara

tahun 1996 oleh PTBA dibeli dan dikembangkan menjadi pabrik briket batubara terkarbonisasi yang menghasilkan briket telur kualitas biasa. 4) Pabrik Briket Batubara Gresik kapasitas terpasang 120.000 ton per tahun. Pabrik ini adalah hasil kerjasama antara PTBA dengan PT. Ariyo Seto Wijoya (PT. ASW) dengan menerapkan proses briket tidak terkarbonisasi yang menghasilkan briket sarang tawon tipe kubus (Gambar 4).

Gambar 3 : Diagram Alir Proses Pembriketan Batubara Terkarbonisasi di Pabrik Briket Batubara Tanjung Enim I

Gambar 4. : Diagram Alir Proses Pembriketan Batubara Tidak Terkarbonisasi di Pabrik Briket Batubara Gresik

324

Energi, Lingkungan dan Batubara

2.

Bahan Baku Briket a. Konversi Batubara Peringkat Rendah Pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar tidak langsung adalah dengan mengubah batubara menjadi bahan bakar cair, gas, atau padat yang lebih ramah lingkungan dengan menerapkan teknologi batubara bersih. Pada prinsipnya batubara dari semua peringkat dapat diubah dengan teknologi batubara bersih menjadi bahan bakar cair dan gas atau padat yang lebih ramah lingkungan. Perkiraan jumlah produk teknologi batubara yang dapat dihasilkan dari batubara peringkat rendah dapat dilihat pada Gambar 5.

Listrik 790 KWh

Briket 400 kg

Methanol 280 ltr BATUBARA 1000 KG Bahan Bakar cair 160 ltr

Batubara Halus 360 kg

Kokas 200 kg

Gas Kota 150 m3

Gas Sintetis 550 m3

Gambar 5. Perkiraan Produk Konversi Batubara Peringkat Rendah

b.Kualitas Batubara Secara umum Batubara Sumatera Selatan termasuk peringkat rendah (nilai kalori rendah), namun demikian memiliki kadar sulfur dan kadar abu yang rendah, yakni kadar abu <10 % dan kadar sulfur < 1% (Tabel 1). Oleh karena itu emisi gas dari pembakaran batubara

Energi, Lingkungan dan Batubara

325

Sumatera Selatan tergolong rendah, demikian juga dengan briket batubara yang dibuat dari batubara Sumatera Selatan. c. Kualitas Briket Briket batubara yang diproduksi antara lain briket super, briket bentuk silinder, briket kubus dan briket tipe telur dengan emisi gas CO < 1000 ppm, NO2 < 2 ppm, dan SO2 < 5 ppm (Tabel 2). Tabel 1. Kualitas Batubara Sumatera Selatan *) Parameter Proksimat (% adb) - Kadar Air - Kadar Abu - Zat Terbang - Karbon Tertambat Nilai Kalori, kal/gr (adb) Ultimat (%) - Sulfur - Karbon - Hidrogen - Nitrogen - Oksigen HGI Petrografi (%) - Vitrinit - Inertinit - Lilptinit - Mineral - Rvmax *) PPPTM, Bandung Muara Enim Lokasi (Kabupaten) Lahat Musi Banyuasin 4.40 – 29.80 2.72 – 7.05 35.43 – 41.09 33.60 – 51.65 4,694 – 7,185 0.18 – 0.61 49.67 – 64.11 3.92 – 8.83 0.63 – 1.10 9.84 – 19.31 48 – 65 87 3 5 5 0.38 – 1.10 25.01 5.15 35.93 33.91 4,870 0.69 50.96 6.93 1.06 35.21 48 88 4 4 4 0.42 Musi Rawas

12.57 – 41.04 3.88 – 8.79 33.65 – 42.48 28.24 – 41.49 4,140 – 6,867 0.15 – 0.57 40.63 – 68.66 3.39 – 5.70 0.50 – 1.10 8.45 – 21.79 47 – 62 80 – 83 4–8 5–6 6–7 0.46 – 0.55

17.90 5.00 35.40 35.520 5,090 0.20 50 84 5 6 5 0.41

326

Energi, Lingkungan dan Batubara

Tabel 2. Jenis dan Kualitas Briket Batubara *) 1. Briket Super 1. Analisa Proksimat Ukuran : 5 x 5 x 4,8 cm Air total :<5% Berkarbonisasi Abu : 14 – 18 % Zat Terbang : 20 – 24 % 2. Briket Bentuk Silinder Karbon Tertambat : 55 – 60 % Ukuran : ø 12,5 cm Tinggi : 7 cm 2. Nilai Kalori : 5000 – 6000 kal/gr 3. Briket Bentuk Kubus Ukuran P x L = 12,5 x 12,5 cm Tinggi : 7 cm Tidak Berkarbonisasi 4. Briket Tipe Telur : Ukuran : 6 x 6 x 3 cm Tidak Berkarbonisasi 3. Analisa Ultimat : Karbon : 64,0 – 67,0 % Hidrogen : 2,7 – 49,9 % Oksigen : 11,1 – 13,0 % Nitrogen : 1,0 – 1,1 % Sulfur : < 0,5 % 4. Emisi Gas : CO : < 1000 ppm NO2 : < 2 ppm SO2 : < 5 ppm

*) PTBA d.Komposisi Mineral Abu Batubara Komposisi mineral abu batubara Sumatera Selatan didominasi oleh SiO2 dan Al2O3 dan mineral lainnya dalam jumlah kecil (Tabel 3). Tabel 3. Komposisi Mineral Abu Batubara*) SiO2 % 59,35 52,45 Al2O3 % 24,81 22,32 Fe2O3 % 4,85 5,66 CaO % 4,10 5,84 MgO % 2,18 2,64 TiO2 % 0,84 0,69 K2O % 0,47 0,31 P2O % 0,1 0,2 MnO
2

Lokasi Air Laya Muara Tiga Besar Muara Tiga Besar Selatan (T) Muara Tiga Besar Selatan

% 0,13 0,11

Na2 O % 2,18 5,36

SO3 % 4,53 4,28

54,62

16,97

8,15

4,27

2,14

0,58

0,53

0,10

2,59

Energi, Lingkungan dan Batubara

327

(B) Banko Barat Banko Tengah Banko Selatan Bukit Kendi Kungkilan Air Serelo Bukit Bunian Banjarsari Arahan Selatan Arahan Utara Suban Jeriji Utara Suban Jeriji Timur Suban Jeriji Barat Kliwas Sukamerindu Musi Rawas Musi Banyuasin Ogan Komering Ulu *) PTBA

58,58 45,06 55,94 34,00 49,54 41,17 46,01 32,83 66,46 55,39

23,08 25,02 16,38 26,32 20,61 26,21 22,75 20,14 17,72 13,12

4,12 4,15 3,81 19,29 5,71 14,91 4,97 12,89 5,54 8,38

2,67 6,37 8,51 8,89 7,88 3,48 6,81 17,2 1 4,33 13,4 4

1,68 2,77 2,20 1,40 2,27 1,48 1,59 2,69 1,10 2,03

0,65 0,99 0,50 1,55 0,96 1,03 0,81 0,98 0,44 0,61

0,56 0,48 0,70 0,39 0,41 0,23 0,33 0,32 0,20 0,46

0,3 0,6 0,4 0,2 4,6 0,4 0,8

0,29 0,04 0,23

0,11 0,04 0,64 0,17

0,10 4,71 4,58 0,65 0,18 0,73 2,91 7,16 0,10 4,97

4,92 6,84 5,31 0,24 3,71 0,10 8,32 0,93 0,59 1,27

0,4

0,72

46,01 56,03

22,75 5,74

4,97 21,75

6,81 5,60

1,59 3,38

0,81 0,19

0,33 0,51

0,4 0,02

0,04 0,36

2,91 0,17

8,32 5,97

D. 1.

KINERJA KOMPOR BRIKET Kinerja Briket Batubara dan Bahan Bakar Lain Beberapa jenis bahan bakar yang umum digunakan masyarakat untuk keperluan masak-memasak dan sejenisnya adalah minyak tanah, LPG, dan kayu bakar. Dengan disosialisasikannya penggunaan briket batubara untuk industri mikro, kecil, menengah dan rumah tangga, masyarakat mempunyai satu pilihan jenis bahan bakar baru untuk digunakan. Sehubungan dengan itu pada tulisan ini sedikit diperkenalkan mengenai kinerja briket batubara dibandingkan dengan jenis energi lain yang sudah umum digunakan. Temperatur yang dicapai kompor briket batubara berkisar 700 ºC, temperatur ini lebih tinggi dari kompor minyak tanah dan kayu bakar, namun

328

Energi, Lingkungan dan Batubara

masih sedikit di bawah temperatur kompor gas (Gambar 6). Dengan demikian briket batubara merupakan salah satu alternatif yang cukup baik untuk digunakan.
1200 1000
Temperatur (oC)

800 600 400 200 0 0 20 40 60 80 100 Waktu (Menit)

Minyak Tanah Gas Kayu Bakar Briket 1 Kg

Gambar 6. Perbandingan Kinerja Briket Batubara dan Bahan Bakar Lain (T. Toha, 1999)

2.

Kinerja Kompor Briket Berdasarkan Kapasitas Kompor briket tersedia di pasaran dalam berbagai jenis dan kapasitas, yaitu 1 kg, 2 kg, 4 kg, dan sebagainya. Masing-masing kompor ini akan mencapai temperatur makimal yang relatif sama (± 700ºC) namun lamanya waktu temperatur di atas 500ºC bervariasi (Gambar 7). Hal ini merupakan salah satu faktor penting untuk dapat memilih kapasitas kompor briket sesuai dengan kebutuhan.

Energi, Lingkungan dan Batubara

329

800 700 600 500 400 300 200 100 0 0 200

Temperatur (o C)

1 Kg

5 1 jam Waktu 3 jam 400
600 800

jam

(Menit)

Gambar 7 Temperatur Kompor Briket (T. Toha, 1999) E. DAMPAK PENGGUNAAN BRIKET Penggunaan briket batubara sebagai bahan bakar pada industri mikro, kecil, menengah dan rumah tangga tentunya akan memberikan dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif. 1. Dampak Positif Dampak positif penggunaan briket batubara antara lain tersedianya energi yang murah bagi masyarakat, mengantisipasi kelangkaan minyak tanah dan meningkatkan ketersediaan energi nasional, mengurangi ketergantungan terhadap BBM, mengurangi beban subsidi, dan sebagainya. 2. Dampak Negatif Dampak negatif dari peningkatan penggunaan briket batubara antara lain : pada proses pembuatan dan pemakaian briket batubara. Proses pembuatan briket batubara melibatkan pekerjaan penggerusan (grinding) batubara. Penggerusan batubara akan mengakibatkan debu batubara beterbangan di sekitar lokasi pabrik briket batubara. Pada saat penggunaan briket batubara, dampak negatif yang mungkin terjadi adalah adanya emisi gas-gas yang berbahaya (CO, NO2, SO2) yang juga berpengaruh buruk bagi kesehatan. Dengan adanya dampak negatif yang mungkin timbul maka perlu dilakukan pencegahan dan penanggulangan agar pemanfaatan briket batubara dapat terlaksana dengan tetap mempertahankan kualitas lingkungan. a. Debu Batubara Debu batubara terbentuk pada saat dilakukan proses peremukan (crushing) dan penggerusan (grinding) batubara untuk selanjutnya Energi, Lingkungan dan Batubara

330

dicampur dengan bahan campuran dan dicetak menjadi briket batubara. Banyaknya debu batubara yang terbentuk berbanding lurus dengan jumlah briket batubara yang diproduksi. Untuk mengantisipasi debu batubara dapat dilakukan langkah-langkah : penyiraman air pada setiap lokasi yang menimbulkan debu (crusher, grinder), penempatan alat penangkap debu di pabrik briket, menanam tanaman pelindung di sekitar pabrik, dan sebagainya. b. Emisi Gas Emisi gas yang dihasilkan pada proses pembakaran briket batubara super (karbonisasi) dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : kualitas batubara, proses pembriketan (karbonisasi/ non-karbonisasi), desain tungku, kondisi ruangan (sistem ventilasi) dan sebagainya. 1) Emisi Gas CO Gas CO terbentuk karena terjadinya pembakaran yang kurang sempurna. Pada tungku briket batubara, gas ini dihasilkan pada saat temperatur mulai menurun atau briket hampir habis terbakar (Gambar 8), karena suplai udara ke ruang bakar berkurang akibat briket telah retak-retak/pecah dan celah antar briket (void) dan menumpuknya abu briket batubara.

Hubungan Waktu Pembakaran, Temperatur dan Emisi Gas CO
800 700 600 500 400 300 200 100 0 10 40 70 100 130 160 190 220 1250 Gas CO (ppm) 1000 750 500 250 0

Temperatur ( oC)

Temperatur Gas CO Baku Mutu CO

Waktu Pem bakaran (m enit)
Gambar 8. Emisi Gas CO (PTBA) Energi, Lingkungan dan Batubara 331

Untuk mengantisipasi gas CO, sebaiknya digunakan briket batubara yang mempunyai lubang di tengahnya (tipe sarang tawon) yang terkarbonisasi. Dengan demikian walaupun briket telah retakretak/pecah kontinuitasi suplai udara masih dapat dipertahankan. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah abu briket batubara perlu dibersihkan secara berkala selama proses pembakaran dengan demikian pembakaran tidak sempurna dapat dihindari dan emisi gas CO dapat diminimalisir. 2) Emisi Gas NO2 Gas NO2 terbentuk pada temperatur tinggi >1200 °C. Sebagian peneliti mendefinisikan “temperatur tinggi” sebagai temperatur > 500 °C. Berdasarkan hasil eksperimen, pada kompor briket batubara Gas NO2 ditemukan pada temperatur > 600 °C (Gambar 9). Selain temperatur, kualitas batubara dan proses pembriketan juga berpengaruh terhadap emisi gas NO2. Pada Gambar 9 terlihat bahwa tingkat emisi Gas NO2 sebanding dengan temperatur pembakaran, semakin tinggi temperatur pembakaran yang dicapai maka akan semakin tinggi pula emisi gas NO2 yang dihasilkan. Untuk mengeliminir emisi gas NO2 tersebut, temperatur pembakaran perlu diatur agar berada pada kisaran 500 – 600 ºC (temperatur ini masih lebih tinggi dibanding temperatur kompor minyak tanah dan kayu bakar) dengan cara mengurangi jumlah briket yang dibakar atau dengan mengatur regulator udara. Pembatasan temperatur ini tidak akan mempengaruhi kinerja kompor briket, bahkan dapat meningkatkan efisiensi pemakaian briket batubara.

332

Energi, Lingkungan dan Batubara

Hubungan Waktu Pembakaran, Temperatur dan Emisi Gas NO2
800 700 600 500 400 300 200 100 0 130 170 210 10 50 90 2.5 2 1.5 1 0.5 0 Gas NOx (ppm)

Temperatur ( oC)

Temperatur Gas NO2 Baku Mutu NO2

Waktu Pem bakaran (m enit)

Gambar 9. Emisi Gas NO2 (PTBA)

3) Emisi Gas SO2 Gas SO2 terbentuk pada temperatur tinggi. Tingkat emisi gas tersebut disamping dipengaruhi oleh temperatur juga sangat dipengaruhi oleh kualitas batubara yang dijadikan briket dan proses karbonisasinya. Para peneliti menyatakan bahwa gas SO2 ini terbentuk pada temperatur tinggi (>1000°C), namun pada kenyataannya gas SO2 ini telah terbentuk pada temperatur 700 °C – 800 °C (Gambar 10). Sebagai upaya untuk meminimalkan tingkat emisi gas NO2 dan SO2 tersebut, dapat dilakukan dengan mempertahankan temperatur maksimum < 600°C, yang dilakukan dengan mengatur regulator dan mengurangi jumlah briket yang dibakar.

Energi, Lingkungan dan Batubara

333

Hubungan Waktu Pembakaran, Temperatur dan Emisi Gas SO2
800 700 600 500 400 300 200 100 0 10 50 90 130 170 210 6 Gas SO2 (ppm) 5 4 3 2 1 0

Temperatur ( oC)

Temperatur Gas SO2 Baku Mutu SO2

Waktu Pem bakaran (m enit)

Gambar 10. Emisi Gas SO2 (PTBA Gresik) Penggunaan briket batubara sebaiknya dilakukan pada ruangan yang memiliki cukup ventilasi atau ruangan terbuka. Hal ini penting untuk mengurangi dampak emisi gas yang dihasilkan. c. Abu Briket Batubara Abu briket batubara yang dihasilkan setelah pembakaran briket merupakan limbah padat. Jumlah abu briket ini akan terus bertambah sebanding dengan pemakaian briket batubara. Dampak lingkungan sehubungan dengan abu briket batubara ini terutama dalam hal pembuangannya. Penanganan abu briket batubara dapat dilakukan dengan memanfaatkan abu tersebut sebagai pupuk tanaman, bahan bangunan, dan sebagainya. Dengan demikian akan memberikan keuntungan ganda yakni mengurangi dampak lingkungan dan sekaligus bernilai ekonomis.

334

Energi, Lingkungan dan Batubara

STRATEGI PENGELOLAAN ENERGI SUMATERA SELATAN*) Prof. H. Machmud Hasjim**)., H. Hasan Basri***)., dan H. M. Taufik Toha****) **) Guru Besar Universitas Sriwijaya ***) Dekan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya ) **** Pembantu Dekan III Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

ABSTRAK Energi tidak terbarukan, khususnya minyak bumi masih mendominasi pemakaian energi primer, sedangkan penggunaan energi baru dan terbarukan masih sangat terbatas. Di sisi lain cadangan minyak bumi terus menipis dan kebutuhan akan energi terus meningkat dari waktu ke waktu sesuai dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan di atas, Pemerintah telah menetapkan Kebijakan Energi Nasional sebagai landasan dalam pengembangan keenergian di Indonesia. Kebijakan ini pada intinya bertujuan untuk menjamin penyediaan energi untuk kepentingan nasional. Sumatera Selatan memiliki potensi sumber daya energi dalam jumlah besar, baik sumberdaya energi tidak terbarukan maupun sumber daya energi terbarukan. Sehubungan dengan hal tersebut Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah mempersiapkan diri sebagai Lumbung Energi Nasional dan telah dicanangkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2004 yang lalu. Untuk itu energi perlu mendapat akselerasi dalam pembangunan daerah Sumatera Selatan. Untuk mencapai tujuan yang digariskan dalam Kebijakan Energi Nasional dan mensukseskan program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional diperlukan pengelolaan energi secara arif dan strategi-strategi yang sesuai dengan kondisi daerah. Strategi pengembangan energi Sumatera Selatan didasarkan pada Kebijakan Energi Nasional dan berangkat dari analisis SWOT yang selanjutnya melahirkan strategi pengembangan energi dan dirinci dalam kegiatan-kegiatan yang dapat memacu pengembangan keenergian di Sumatera Selatan dalam rangka menjamin ketersediaan energi nasional. Program Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional difokuskan pada dua komoditi energi unggulan, yaitu Gas dan Batubara. Pemanfaatan Gas diarahkan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), untuk Energi, Lingkungan dan Batubara 335

Ekspor dan Antar Pulau serta Gasifikasi untuk rumah tangga, industri, dan transportasi, sedangkan pemanfaatan Batubara diarahkan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mulut tambang, untuk Ekspor dan Antar Pulau serta Briket Batubara.

336

Energi, Lingkungan dan Batubara

A.

LATAR BELAKANG Energi berfungsi sebagai bahan bakar dan bahan baku industri, berperan dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan. Oleh karena itu pengelolaan energi ini diatur melalui Kebijakan Energi Nasional (KEN) 20032020 sebagai pengganti KUBE 1998 yang mempertimbangkan perubahan lingkungan strategis pada tingkat nasional, regional dan internasional. Dengan adanya KEN ini dapat terciptanya keamanan pasokan energi (energy security of supply) nasional secara berkelanjutan. Pada KEN ini pemenuhan kebutuhan energi nasional menjadi prioritas utama dan pemberdayaan daerah dalam pengelolaan energi akan ditingkatkan. Ini berarti pengelolaan sumber daya energi dapat juga dilakukan oleh daerah. Pada waktu kunjungan kerja Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang pertama ke Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 9 Nopember 2004 yang lalu, saat peresmian PLTG Borang di Kabupaten Banyuasin dan peresmian Interkoneksi Transmisi Sumbagsel – Sumbar – Riau 275 KV, saat itu Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono telah mendukung keinginan masyarakat Sumatera Selatan menjadikan Provinsi Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional. Untuk mensukseskan program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional diperlukan pengelolaan energi secara arif melalui strategi yang tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi daerah yang selanjutnya diformulasikan dalam kegiatan-kegiatan yang dapat memacu perkembangan keenergian di Sumatera Selatan dalam rangka menjamin penyediaan energi untuk kepentingan nasional.

B.

POTENSI SUMBERDAYA ENERGI SUMSEL Sumatera Selatan memiliki potensi sumber daya energi dalam jumlah besar, baik sumberdaya energi tidak terbarukan (minyak bumi, gas bumi, dan batubara), maupun sumberdaya energi tidak terbarukan (panas bumi, air, biomassa). 1. Minyak Bumi Cadangan Minyak Bumi Sumatera Selatan pada status 1 Januari 2004 kurang lebih sebanyak 704.518,0 MSTB (atau 9,87% dari total cadangan Minyak Bumi nasional). Jumlah ini terdiri dari cadangan terbukti 404.271,2 MSTB, cadangan mungkin 128.880,8 MSTB, dan cadangan harapan 171.366,0 MSTB (Tabel 1 dan Gambar 1). Bila dirinci, lapangan yang telah beroperasi dan belum beroperasi, maka

Energi, Lingkungan dan Batubara

337

cadangan tersebut terdiri dari 657.605,8 MSTB berada di lapangan yang telah beroperasi, dan sisanya 47.312,2 MSTB berada di lapangan yang belum operasi. Kabupaten Musi Banyuasin dan Muara Enim tercatat merupakan kabupaten yang memiliki potensi minyak bumi paling besar di Sumatera Selatan.

Tabel 1 Cadangan Minyak Bumi Sumatera Selatan Cadangan (MSTB) Mungkin Harapan 400,0 359,0 11.196,4 14.504,6 37.287,4 84.289,5 55.091,6 43.335,2 10.728,0 11.357,0 2.298,7 0,0 10.463,6 17.065,0 1.415,1 455,7 128.880,8 171.366,0

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Daerah Banyuasin Lahat Muara Enim Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Prabumulih Jumlah Se-Sumsel

Terbukti 11.008,6 4.007,9 130.820,4 174.075,8 61.786,6 12.528,3 8.628,4 1.415,2 404.271,2

Jumlah 11.767,6 29.708,9 252.397,3 272.502,6 83.871,6 14.827,0 36.157,0 3.286,0 704.518,0

*) Sumber : Ditjen Migas, ESDM, 1 Januari 2004

Cadangan Total Minyak Bumi (MMSTB)
14,83 83,87 11,77 29,71 Banyuasin Lahat 252,40 272,50 Muara Enim Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir

Gambar 1. Cadangan Minyak Bumi di Sumatera Selatan

338

Energi, Lingkungan dan Batubara

2. Gas Bumi Cadangan gas bumi di Sumatera Selatan kurang lebih 24.015,46 BSCF (sekitar 7,10% dari total cadangan nasional) yang terdiri dari cadangan terbukti 7.489,21 BSCF, cadangan mungkin 5.406,30 BSCF, dan cadangan harapan 11.119,95 BSCF (Tabel 2 dan Gambar 2). Cadangan gas bumi terbesar dijumpai di Kabupaten Muara Enim, MUBA, dan Musi Rawas. Bila dirinci berdasarkan lapangan yang telah beroperasi dan belum beroperasi, maka cadangan tersebut terdiri dari 21.720,81 BSCF berada di lapangan yang telah beroperasi, dan sisanya 2.294,65 BSCF berada di lapangan yang belum operasi.

Tabel 2 Cadangan Gas Bumi Sumatera Selatan Cadangan (BSCF) N o Daerah Terbukti Assoc 1 2 3 4 5 6 Banyuasin Lahat Muara Enim MUBA Musi Rawas OKI 83,98 5,76 Non Ass 153,23 Mungkin Assoc 2,21 1,78 Non Ass 42,35 Harapan Assoc 15,12 3,03 Non Ass Jumlah Assoc 101,31 10,57 Non Ass 195,58 11.864,1 3 9.181,93

491,64 159,57

3.306,37 2.022,06

70,66 28,67

2.422,87 2.354,49

50,64 13,46

6.134,89 4.805,38

612,94 201,70

585,94 7,26

537,02 10,01

152,18 1,36

260,10 -

14,17 -

13,60 -

752,29 8,62

810,72 10,01

Energi, Lingkungan dan Batubara

339

7

OKU Jumlah Se-Sumsel

13,58 1.347,73

112,79 6.141,48

15,22 272,08

54,41 5.134,22

15,73 112,15

53,93 11.007,80

44,53 1.731,96

221,13 22.283,5

7.489,21

5.406,30

11.119,95

24.015,46

Keterangan : Assoc = Associated Non Ass = Non Associated Sumber : Ditjen Migas, ESDM, 1 Januari 2004

Cadangan Gas Bumi (BSCF)
18,6 1.563,0 101,3 206,1 Banyuasin Lahat Muara Enim 9.383,63 12.477,07 MUBA Musi Rawas OKI

Gambar 2. Cadangan Gas Bumi Sumatera Selatan 3. Batubara Cadangan sumberdaya Batubara Indonesia diperkirakan 53 milyar ton lebih. Dari jumlah cadangan tersebut 41,5% atau 22.240,47 Milyar ton dijumpai di wilayah Sumatera Selatan. Jumlah ini terdiri dari cadangan terukur 5,32 milyar ton, cadangan terunjuk 6,84 milyar ton dan cadangan tereka 10,07 milyar ton (Tabel 3 dan Gambar 3). Dari cadangan tersebut sebagian besar (60%) adalah peringkat rendah dengan nilai kalori dibawah 5.000 k.cal/kg yang sulit dipasarkan ke pasar internasional. Namun kelemahan ini sekaligus menjadi keunggulan Sumsel yaitu dengan mengoptimalkan pemanfaatan Batubara untuk PLTU di Mulut Tambang.

340

Energi, Lingkungan dan Batubara

Cadangan batubara paling banyak ditemukan di kabupaten Muara Enim, di Kabupaten ini juga telah didirikan PT. Bukit Asam untuk mengoptimalkan pemanfaatan batubara. Dari batubara ini, juga diindikasikan terdapatnya potensi Gas Metan yang berasosiasi dengan Batubara di Sumsel yang jumlahnya cukup besar yaitu ± 180 Trilyun Kaki Kubik sangat jauh melampaui cadangan terbukti Gas Sumsel yang hanya berkisar ± 7 trilyun kaki kubik.

Tabel 3 Cadangan Batubara Sumatera Selatan Cadangan, Juta Ton No Daerah Terukur Terunjuk Tereka Jumlah (Juta Ton) 325,00 836,79 13.636,53 2.714,97 1.235,00 3.491,71 22.240,00

1 Ogan Komering Ilir 325,00 2 Ogan Komering Ulu 48,55 227,24 561,00 3 Muara Enim 4.026,09 3.413,12 6.197,32 4 Lahat 892,42 241,55 1.581,00 5 Musi Rawas 120,00 1.115,00 6 Musi Banyuasin 355,86 2.840,21 295,64 JUMLAH 5.322,92 6.842,12 10.074,94 *) Sumber : Ditjen Pengembangan dan Pengusahaan Batubara, ESDM

Cadangan Total Batubara (Juta ton)
325,00 3.565,50 1.235,00 2.714,97 13.563,21 836,79 OKI OKU M. Enim Lahat MURA MUBA

Gambar 3. Cadangan Batubara Sumatera Selatan

Energi, Lingkungan dan Batubara

341

4. Panas Bumi Potensi energi panas bumi diperkirakan setara dengan 517 MWe (Tabel 4). Tabel 4. Indikasi Potensi Panas Bumi Sumatera Selatan No 1 2 3 4 5 Lokasi Rantau Dadap, Segamit Bukit Lumut Balai Ulu Danau (Pulau Beringin) Marga Bayur (Lawang Agung) Way Selabung Kab/Kota Lahat Lahat OKU OKU OKU Potensi 250 Mwe (Hipotesis) 220 Mwe (Terduga) 6 Mwe (Spekulatif) 35 Mwe (Hipotesis) 6 Mwe (Spekulatif)

*) Sumber Direktorat Vulkanologi dan Divisi Panasbumi Pertamina, Januari 2000 5. Tenaga Air Potensi sumber energi air di Sumatera Selatan cukup besar dan kapasitasnya bervariasi tersebar di beberapa Kabupaten (Tabel 5). Tabel 5. Potensi Sumber Energi Air

No. I

Wilayah/ Pembangkit Kab. Muara Enim 1. PLTA Lematang 2. PLTA Enim

Potensi Kapasitas

83,2 MW 47 MW

II

Kab. OKU 1. PLTA Ranau *) Sumber RUKD Sumsel 2004 34 MW

6. Biomassa Cadangan biomassa di Sumatera Selatan diperkirakan setara dengan 12.229,25 GWh yang terdiri dari biomassa 1.565,15 GWh, Biogas 85,4 GWh dan kayu Bakar 10.578,7 GWh (Tabel 6).

342

Energi, Lingkungan dan Batubara

Tabel 6 Potensi Biomassa Sumatera Selatan Biomassa Biogas Kayu Bakar GWh GWh GWh OKU 361,87 26,47 1.111 OKI 485,81 10,64 3.202 Ma. Enim 101,76 10,76 755 Lahat 65,82 11,72 410 MURA 209,07 12,98 1.369 MUBA 340,81 12,84 3.731 JUMLAH 1.565,15 85,40 10.578,70 *) Sumber Neraca Sumberdaya Energi Sumatera Selatan, 2004 Kabupaten

No 1 2 3 4 5 6

C.

PROGRAM SUMSEL LUMBUNG ENERGI Program Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional difokuskan pada dua komoditi energi unggulan, yaitu Gas dan Batubara. Pemanfaatan Gas diarahkan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), untuk Ekspor dan Antar Pulau serta Gasifikasi untuk rumah tangga, industri, dan transportasi, serta eksplorasi dan ekploitasi gas methan. Pemanfaatan Batubara diarahkan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mulut tambang, untuk Ekspor dan Antar Pulau serta Briket Batubara.

1. Pengembangan Gas Bumi Pengembangan gas bumi Sumatera Selatan difokuskan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Gasifikasi, dan Eksplorasi dan Eksploitasi gas methan. Beberapa PLTG yang telah dibangun dan akan dibangun dalam waktu dekat adalah : 1. PLTG 2 x 18 MW (mobile unit) di Borang oleh PT. Guna Cipta Mandiri 2. PLTG 50 MW (combined cycle) di Borang oleh PT. AsRigita, Ceng Da Energi, Lingkungan dan Batubara 343

3. PLTG 2 x 40 MW di Gunung Megang oleh PT. Meta Epsi 4. PLTG 2 x 40 MW di MUBA oleh PT. Dika Karya LN., Petro MUBA., dan PT. Indo Power 5. PLTG 2 x 100 MW di Blimbing Muara Enim oleh PT. Energi Musi Makmur Peningkatan penggunaan gas bumi di Sumatera Selatan melalui program gasifikasi untuk sektor industri, komersial, rumah tangga dan transportasi. Untuk pengembangan sektor industri, komersial dan rumah tangga, dewasa ini sedang digalakkan pengembangan jaringan distribusi gas bumi di Sumatera Selatan agar pemanfaatan gas bumi dapat ditingkatkan. Di sektor transportasi dalam waktu dekat akan dilakukan sosialisasi dengan pemakaian bahan bakar gas (BBG) pada 100 unit mobil dinas Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan 50 unit mobil taxi. Selanjutnya secara bertahap akan dikembangkan stasiun BBG dan SPBG sesuai perkembangan penggunaan gas bumi di sektor transportasi. Program eksplorasi dan ekploitasi gas methan saat ini sedang dilakukan melalui kegiatan drilling test dan akan dilanjutkan dengan pembangunan pilot plant di daerah Rambutan, Kabupaten Muara Enim. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (Balitbang ESDM). 2. Pengembangan Batubara Pengembangan batubara Sumatera Selatan difokuskan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Ekspor dan Antar Pulau serta pengembangan briket batubara. Beberapa PLTU yang telah commited dan akan dibangun dalam waktu dekat adalah : 1. PLTU Banko Tengah 4 x 600 MW oleh PT. Indika, China Hudian Corp., PTBA., PT. PLN dan Pemprov. Sumsel 2. PLTU 2 x 100 MW oleh Baturaja Adimas C 3. PLTU 2 x 100 MW di Musi Banyuasin 4. PLTU 2 x 100 MW di Musi Rawas oleh PT. Sriwijaya B.E. 5. PLTU 2 x 100 MW di Muara Enim oleh PT. Musi Prima Coal 6. PLTU 2 x 600 MW dan 3 x 1000 MW di Musi Rawas oleh PT. Triaryani 7. PLTU 4 x 100 MW di Muara Enim oleh PT. Rajawali Croasia, PTBA, Korea Investor Service, IKEC & KEPCO 344 Energi, Lingkungan dan Batubara

8. PLTU 2 x 100 MW di Gunung Megang oleh Bumi Resources, Refaco Finlandia 9. PLTU 4 x 600 MW di Lahat oleh PT. Mitrajaya Group, PTBA, IL & FS India Untuk peningkatan ekspor dan antar pulau, direncanakan penyediaan infrastruktur pengangkutan batubara, antara lain : 1. Transportasi sistem kombinasi KA – Kanal – Sungai (Tanjung Enim – Sungai Musi – Bangka) dengan kapasitas maksimal 20 juta ton oleh PT. Trimitra, Sinar Mas Group, PTBA, CNC Corp Citic Bank china. 2. Pembangunan double track kereta api jalur Tanjung Enim – Tarahan dan Kertapati dengan kapasitas maksimul 20 juta ton oleh PT. Trans Pasific S, PTBA, China Rail Way Eng. Co. 3. Penambahan kapasitas kereta api Tanjung Enim – Tarahan dan Tanjung Enim – Kertapati oleh PT. Mitrajaya, PTBA, PT. Indo Power & Leasing & Financial Services (India). Program pengembangan briket batubara dilaksanakan dengan pengadaan desa percontohan pemanfaatan briket batubara di Muara Enim. Selain itu juga dilakukan sosialisasi briket batubara tingkat nasional dan ditindaklanjuti dengan sosialiasasi tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Sumatera Selatan.

D.

KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL 1. Visi dan Misi Visi : Terjaminnya penyediaan energi untuk kepentingan nasional Misi : Menjamin ketersediaan energi domestik - Menyediakan akses terhadap sumber energi domestik dan internasional agar pasokan energi terjamin. - Mengatur pengelolaan energi yang seimbang antara kebutuhan dan penyediaan; dan antara pemakaian dalam negeri dan ekspor - Memaksimalkan pemanfaatan sumber energi baru dan energi terbarukan sehingga perannya terhadap penyediaan energi nasional meningkat, sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan hidup.

Energi, Lingkungan dan Batubara

345

- Mengembangkan skema pendanaan untuk dapat meningkatkan investasi dalam dan luar negeri. Meningkatkan nilai tambah sumber energi - Mengelola dan mengembangkan sumber energi, baik dari sumber dalam negeri maupun impor, sebagai bahan bakar, bahan baku industri dan komoditi ekspor dengan prioritas yang mempunyai efek ganda (multiplier effect) terbesar. - Mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi yang tidak dapat diekspor untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dan mengupayakan energi sekunder yang dihasilkan dapat diekspor. Mengelola energi secara etis dan berkelanjutan termasuk memperhatikan pelestarian fungsi lingkungan hidup - Mengembangkan sumber daya dan proses transformasi energi secara optimal. - Meningkatkan penerapan pengelolaan lingkungan hidup secara bertanggung jawab dan konsisten termasuk teknologi yang ramah lingkungan dalam proses penyediaan energi. - Memanfaatkan energi secara efisien di semua sektor untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan. - Menerapkan prinsip good governance dalam pengelolaan energi. Menyediakan energi yang terjangkau untuk kaum dhuafa (masyarakat tidak mampu) dan daerah belum berkembang. - Menyediakan bantuan untuk meningkatkan ketersediaan energi kepada masyarakat dhuafa (tidak mampu). - Membangun infrastruktur energi untuk daerah belum berkembang sehingga dapat mengurangi disparitas antar daerah. Mengembangkan kemampuan dalam negeri - Mengembangkan bisnis energi yang berbasis sumber daya manusia, teknologi dan finansial dalam negeri untuk mewujudkan industri energi yang mandiri. - Mengembangkan bisnis energi yang mampu bersaing secara internasional. - Meningkatkan kemampuan di bidang litbang dan diklat sektor energi untuk mendukung terciptanya industri energi dan SDM nasional yang tangguh. 2. Sasaran Meningkatnya peran bisnis energi yang mengarah kepada mekanisme pasar untuk meningkatkan nilai tambah agar memberikan 346 Energi, Lingkungan dan Batubara

kontribusi yang lebih besar dalam perekonomian nasional dan tercipta industri energi yang efisien. Tercapainya rasio elektrifikasi sebesar 90% pada tahun 2020, dengan didukung oleh peningkatan investasi untuk membangun pembangkit listrik beserta jaringan transmisi dan distribusinya mengingat pembangunan listrik merupakan kegiatan padat modal. Meningkatnya pangsa energi, terutama untuk energi terbarukan nonhidro skala besar menjadi sekurang-kurangnya 5% pada tahun 2020. Energi terbarukan yang diharapkan dapat memenuhi target tersebut adalah panas bumi, biomasa dan mikro/minihidro. Terwujudnya infrastruktur energi yang mampu memaksimalkan akses masyarakat terhadap energi dan pemanfaatan untuk ekspor. Meningkatnya kemitraan strategis antara perusahaan energi domestik dengan internasional untuk mencari sumber-sumber energi di dalam dan luar negeri. Diharapkan perusahaan energi domestik dapat “go international” dan dapat bersaing dalam pasar global. Menurunnya intensitas penggunaan energi sebesar 1% per tahun. Meningkatnya penggunaan kandungan lokal dan meningkatnya peran sumber daya manusia nasional dalam industri energi sehingga ketergantungan terhadap luar negeri makin berkurang. 3. Strategi Restrukturisasi sektor energi - Menerapkan struktur pasar yang kompetitif dan aturan pasar secara konsisten untuk mewujudkan industri energi yang efisien. - Menciptakan skema pendanaan, rezim fiskal, perpajakan dan insentif lainnya yang kondusif untuk meningkatkan investasi. Pemberlakukan ekonomi pasar, dengan tetap memperhatikan kelompok masyarakat tidak mampu - Menetapkan harga energi pada sisi produsen dan sisi konsumen berdasrakan mekanisme pasar agar dicapai harga yang paling menguntungkan bagi konsumen dan produsen. - Membentuk kompetisi pada sisi produsen untuk melayani kepentingan konsumen sehingga konsumen mempunyai banyak pilihan. - Menciptakan open access pada sistem penyaluran energi khususnya untuk BBM, gas dan listrik. Pemberdayaan daerah dalam pengembangan energi

Energi, Lingkungan dan Batubara

347

- Mengembangkan perencanaan energi yang berbasis daerah sebagai bagian dari perencanaan energi nasional dengan memprioritaskan energi terbarukan. - Memberlakukan harga energi menurut wilayah yang disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi wilayah yang bersangkutan. Pengembangan infrastruktur energi - Mengembangkan infrastruktur energi yang terpadu terutama di daerah yang tingkat konsumsi energinya tinggi. Infrastruktur BBM meliputi kilang minyak, depot BBM, pipa BBM, dan SPBU; infrastruktur penyaluran gas meliputi pipa transmisi, terminal LNG dan fasilitas regasifikasinya, sarana pengangkutan Compressed Natural Gas (CNG), kilang LPG, pipa distribusi dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG); infrastruktur batubara meliputi sarana penimbunan dan transportasi batubara; serta infrastruktur tenaga listrik meliputi pembangkit, transmisi, dan distribusi. - Meningkatkan kemitraan Pemerintah dan swasta dalam pengembangan infrastruktur energi. Peningkatan efisiensi energi - Melaksanakan Demand Side Management (DSM) melalui peningkatan efisiensi pemanfaat listrik, penerapan standar dan pengendalian pemakaian energi. - Melaksanakan Supply Side Management (SSM) melalui peningkatan kinerja existing pembangkit, jaringan transmisi dan distribusi listrik. Peningkatan peran industri energi nasional - Menyiapkan sumber daya manusia dalam negeri yang andal di bidang energi. - Meningkatkanpenguasaan teknologi energi yang mengutamakan industri manufaktur nasional. - Meningkatkan kemampuan perusahaan nasional dalam industri energi. Peningkatan usaha (ndustri dan jasa) penunjang energi nasional - Mendorong industri penunjang energi agar lebih efisien dan mandiri sehingga dapat bersaing baik di dalam maupun luar negeri. - Meningkatkan kualitas jasa penunjang energi nasional agar dapat bersaing baik di dalam maupun luar negeri. Pemberdayaan masyarakat 348 Energi, Lingkungan dan Batubara

- Menciptakan skema kemitraan dalam rangka pengembangan sarana energi. - Meningkatkan kemitraan pemerintah dan swasta dalam pengembangan industri energi. - Meningkatan peranan swadaya masyarakat, usaha kecil menengah dan koperasi dalam industri energi. 4. Langkah Kebijakan Agar sasaran dan strategi dapat tercapai maka langkah kebijakan yang ditempuh adalah intensifikasi, diversifikasi, dan konservasi. Langkah intensifikasi dilakukan untuk meningkatkan cadangan energi dalam rangka meningkatkan ketersediaan energi sejalan dengan meningkatnya laju pembangunan dan populasi. Langkah diversifikasi dilakukan untuk meningkatkan pangsa penggunaan batubara dan gas yang cadangannya relatif lebih banyak serta meningkatkan pangsa energi terbarukan karena potensinya melimpah dan termasuk energi bersih baik yang berasal dari dalam dan luar negeri, dan antar berbagai jenis energi untuk menciptakan campuran energi yang optimal dan manfaat ekonomi. Langkah konservasi dilakukan dengan meningkatkan efisiensi pemakaian energi dengan mengembangkan dan memanfaatkan teknologi hemat energi baik di sisi hulu maupun sisi hilir. Pelaksanaan ketiga langkah tersebut perlu diikuti dengan langkahlangkah pendukung : Pembangunan infrasruktur energi untuk meningkatkan ketersediaan energi agar lebih banyak konsumen mempunyai akses terhadap energi. Penetapan mekanisme pasar untuk setiap kegiatan energi dari sisi produksi sampai konsumsi. Perlindungan masyarakat tidak ampu terutama masyarakat miskin perkotaan, daerah terpencil dan pedesaan. Pelestarian lingkungan untuk menjaga agar dampak kegiatan energi terhadap lingkungan sekecil mungkin. Kemitraan Pemerintah dan swasta untuk melaksanakan pembangunan sektor energi terutama yang bersakala besar. Pemberdayaan masyrakat untuk mengembangkan energi secara mandiri terutama di pedesaan dan daerah terpencil.

Energi, Lingkungan dan Batubara

349

Pengembangan litbang dan diklat untuk mempersiapkan teknologi dan SDM dalam pengembangan energi. Pemberdayaan fungsi koordinasi berbagai sektor energi agar tercapai penggunaan energi mix yang optimal. E. STRATEGI PENGELOLAAN ENERGI SUMSEL Salah satu akselerasi pembangunan Sumatera Selatan dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah membangun Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional dengan memanfaatkan potensi sumber daya energi yang tersedia. Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional telah dicanangkan pada saat Peresmian PLTG Borang 9 Nopember tahun 2004 oleh Presiden RI Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Sumatera Selatan sebagai provinsi yang diberkahi dengan sumberdaya mineral dan sumberdaya energi relatif banyak, memberi peluang dan sekaligus tantangan untuk bagaimana mengelola sumberdaya yang tersedia ini agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat antara lain melalui penyediaan sumber energi yang mencukupi. Sesuai dengan Visi dan Misi pembangunan Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi sebagai berikut: Visi : Terwujudnya Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi tahun 2009 melalui pemanfaatan energi gas bumi dan batubara secara optimal berkelanjutan dan ramah lingkungan Misi : 1. Menjadikan sumber daya energi sebagai potensi riel kekuatan ekonomi daerah dalam rangka pembangunan dan peningkatan pendapatan daerah 2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat 3. Mengupayakan agar energi/ketenagalistrikan menjadi pendukung kegiatan ekonomi 4. Mengupayakan agar energi/ketenagalistrikan yang berwawasan lingkungan 5. Mengembangkan penelitian sumber daya energi dan submer daya manusia untuk peningkatan kualitas

Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut Sumatera Selatan selayaknya sinergi dan sesuai dalam kebijakan energi nasional. Kebijakan mendorong pemanfaatan sumber energi yang 350

maka kebijakan energi dengan misi yang ingin yang akan ditempuh dekat dengan sumber

daerah dicapai adalah energi

Energi, Lingkungan dan Batubara

setempat seperti batubara untuk PLTU Mulut Tambang dan pemanfaatan gas bumi untuk pembangkit listrik PLTG, industri, transportasi dan rumah tangga. 1. Analisis SWOT a. Strength - Potensi SDE besar - Tersedianya lahan yang luas - SDM bidang Energi Tersedia - Prospek pertumbuhan ekonomi cukup baik - Lokasi Sumsel strategis - Kemungkinan cadangan CBM yang potensial - Konversi energi primer ke energi sekunder dan final b. Weakness - Batubara peringkat rendah - Demand gas bumi sebagian besar di luar Sumsel - Infrastruktur energi terbatas - EBT belum berkembang - Cadangan minyak bumi yang makin berkurang sedangkan teknologi EOR belum memadai - Selalu adanya ego sektoral sehingga tidak/kurang terintegrasinya kegiatan penelitian dan pengembangan energi c. Opportunity - Kebutuhan energi terus meningkat - Perkembangan ekonomi nasional sudah membaik setelah krisis ekonomi 1997 - Pemanfaatan energi dapat mendorong kegiatan perekonomian di desa yang selanjutnya dapat menghadirkan kekuatan ekonomi baru - Penganekaragaman pemakaian SDE Sumsel masih sangat terbuka - Peluang pemanfaatan gas alam untuk industri, rumah tangga dan transportasi - Harga batubara peringkat rendah yang murah yang memungkinkan PLTU mulut tambang - Batubara LRC dapat menjadi HRC dengan teknologi UBC, untuk ekspor - Meningkatnya harga energi dunia merupakan angin segar untuk energi batubara - Terbuka peluang untuk likuifaksi dan gasifikasi batubara untuk masa mendatang - Teknologi energi berkembang - Pengurangan subsidi BBM

Energi, Lingkungan dan Batubara

351

d. Threat - Pengembangan energi di daerah lain - Ketergantungan sektor transportasi kepada BBM masih sangat tinggi - Intensitas energi yang masih tinggi, menunjukkan bahwa efisiensi pemakaian energi masih rendah - Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional tentang PLTN - Iklim investasi yang belum kondusif

2. Isu Kritis Dari analisis SWOT didapat isu kritis berikut : a. Minyak dan gas bumi merupakan andalan untuk penerimaan devisa, namun minyak akan habis dalam jangka waktu 15 tahun dan gas bumi 30 tahun, bila tidak ditemukan cadangan baru dan teknologi lifting yang baru b. Pemakaian minyak bumi dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun, terutama sektor transportasi c. Pemakaian gas bumi masih terbatas, karena kurangnya infrastruktur d. Cadangan batubara sangat menggembirakan, namun kurangnya infrastruktur untuk keluar. e. Kualitas batubara rendah f. Teknologi UBC sudah ada namun para investor belum tertarik g. Teknologi likuifaksi dan gasifikasi batubara sudah ada tapi biaya investasi masih tinggi h. PLTU mulut tambang dapat dibangun, namun perlu sarana infrastruktur dan konsumen dalam negeri dan luar negeri i. Memungkinkan kereta listrik dengan menggunakan tenaga listrik dari mulut tambang, tapi biaya investasi sangat tinggi j. Potensi panas bumi dan tenaga air, cukup memadai dan tidak dapat diekspor serta penggunaan saat sekarang masih sedikit, juga kesulitan dalam penyediaan lahan. k. Potensi EBT cukup besar tapi biaya produksi belum kompetitif l. Teknologi energi secara umum masih dikuasai oleh ahli dari luar m. Harga energi menuju pada tingkat perekonomian, tapi daya beli masyarakat masih rendah n. Masalah lingkungan, baik fisik maupun sosial masih sering terabaikan. 3. Pengelolaan Energi Dari isu-isu kritis yang ada, dapat dilakukan perencanaan pengelolaan energi dengan memilih isu yang paling kritis. Namun semuanya harus dapat mengemban amanat UUD 1945 pasal 33 ayat 2 dan 3 352 Energi, Lingkungan dan Batubara

Oleh karena itu langkah-langkah pengelolaan SDE, perlu dipersiapkan sebagai berikut : a. Memahami peraturan perUU yang ada, serta mengeluarkan peraturan daerah untuk landasan petunjuk pelaksanaan kegiatan sektor energi sebagai instrumen legislasi b. Menyiapkan atau membuat instrumen kelembagaan untuk mengatur, mengawasi dan melaksanakan kegiatan-kegiatan keenergian atau yang terkait. c. Menyiapkan masterplan energi Sumsel yang terkait dengan jumlah dan jenis energi, baik energi konvensional dan non-konvensional, pembangunan daerah kabupaten/kota di Sumsel dan kemungkinan untuk pasar luar Sumsel termasuk luar negeri d. Perlu adanya pengaturan eksploitasi energi primer yang ada, mengingat minyak bumi jumlah cadangannya sudah sangat terbatas e. Pemakaian batubara untuk PLTU mulut tambang karena LRC yang ada lebih murah dan teknologinya sudah ada f. Dengan prospek LRC menjadi HRC dengan teknologi UBC yang ada, perlu dibangun pabrik UBC pada mulut tambang dan produknya dapat diekspor g. Sektor transportasi secara dominan akan tetap menggunakan BBM dalam porsi yang besar, oleh karena itu perlu pemikiran pemakaian bahan bakar cair dari batubara h. Perlu dipelajari kemungkinan pemakaian kereta listrik antar kota di Sumsel dengan memakai listrik dair PLTU mulut tambang i. Perlu terus diupayakan dan dikembangkan penelitian energi non konvensional di Sumsel j. Perlu terus dilakukan penelitian cadangan CBM di Sumsel

4. Skenario Pengembangan Dasar pertimbangan penentuan skenario pengembangan energi di Sumatera Selatan pasca minyak bumi, yaitu : potensi sumberdaya energi, teknologi, dan aspek lingkungan. Potensi sumberdaya energi (Cadangan dan kualitas sumberdaya energi) Cadangan batubara cukup besar dan kualitas abu dan sulfur relatif rendah sehingga cocok untuk bahan bakar PLTU, sedangkan gas bumi cadangannya tidak begitu besar dan sebagian besar telah ada kontrak penjualan. Selain itu cadangan energi baru dan terbarukan (dan CBM) di Sumatera Selatan relatif cukup besar dan ramah lingkungan. Energi, Lingkungan dan Batubara 353

Teknologi, Batubara : Untuk batubara, briket batubara sudah diuji coba, teknologi sudah proven. Untuk PLTU teknologi sudah ada (masa konstruksi 3 – 4 tahun) Untuk bahan bakar industri teknologi sudah tersedia Untuk teknologi konversi batubara (bahan bakar tidak langsung), prospek pengembangan konversi batubara yang potensial adalah upgraded brown coal (UBC), mengingat penelitian dan pengembangannya sudah sejak 2004 sampai 2005 sudah masuk tahap pilot plant dan pada tahun 2006 sudah akan masuk ke tahap demonstration plant dan diperkirakan pada tahun 2009 sudah akan memasuki tahap commercial plant. Sedangkan untuk minyak dan gas sintetis dari proses likuifaksi dan gasifikasi batubara serta coal slurry (CWM), untuk batubara Sumatera Selatan masih dalam skala laboratorium. Walaupun sebetulnya teknologi likuifaksi sudah ada dan diterapkan di Afrika Selatan, namun penerapan teknologi tersebut untuk batubara Sumatera Selatan masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Minyak Bumi : Penggunaan minyak bumi dalam negeri secara bertahap perlu dikurangi mengingat cadangan yang sudah sangat terbatas dan rendahnya kegiatan eksplorasi. Untuk mengurangi penggunaan minyak bumi, perlu dikembangkan energi non-BBM melalui diversifikasi energi (batubara, gas bumi dan EBT). Dalam rangka meningkatkan produksi minyak bumi diperlukan teknologi enhance oil recovery (EOR) Gas Bumi : Pemanfaatan gas bumi untuk sektor industri dan PLTG teknologinya telah ada dan masa konstruksinya lebih cepat (1-2 tahun) dibandingkan PLTU batubara. Dan untuk sektor rumah tangga dan transportasi teknologi pemanfaatannya telah tersedia. Dalam pengembangan gas bumi Sumatera Selatan perlu dipertimbangkan bahwa cadangan gas bumi yang ada di Sumsel tidaklah terlalu besar dan itu pun sudah ada kontrak penjualan (committed), sehingga peluangnya untuk dikembangkan sudah tidak begitu besar lagi, kecuali apabila ditemukan cadangan baru. Pemanfaatan untuk PLTG masih memungkinkan, namun dalam jumlah yang tidak terlalu besar dan akan diutamakan untuk sektor rumah tangga dan tansportasi.

354

Energi, Lingkungan dan Batubara

Energi Baru dan Terbarukan : Teknologi bahan bakar nabati biodiesel (dari sawit dan jarak) sudah dikembangkan dan sudah diuji coba dengan hasil yang cukup menggembirakan dan potensial untuk dikembangkan bersama-sama dengan batubara dan gas bumi, Mengingat potensi bahan baku biodiesel di Sumatera Selatan cukup besar. Selanjutnya EBT yang potensial untuk dikembangkan yaitu air, panas bumi, dan coal bed methane (CBM). Biaya investasi PLTMH relatif murah, sedangkan PLTP relatif mahal, kedua jenis pembangkit tersebut tidak membutuhkan biaya energi primer. Di samping itu Sumatera Selatan memiliki sumberdaya CBM yang cukup signifikan untuk dikembangkan sebagai diversifikasi energi. Aspek lingkungan Pemakaian batubara sebagai bahan bakar langsung akan ada dampak, namun sudah ada teknologi untuk mengurangi emisi dan debu batubara. Untuk konversi batubara (likuifaksi, gasifikasi, dan coal slurry) merupakan teknologi batubara bersih. Emisi gas relatif kecil (ramah lingkungan). Energi baru dan terbarukan merupakan energi yang sangat ramah lingkungan Dalam mencapai sasaran pengembangan energi di Sumatera Selatan pasca minyak bumi berdasarkan analisis SWOT dan pertimbangan teknis, ekonomi, dan lingkungan maka diprioritaskan sumberdaya energi yang akan dikembangkan dengan beberapa skenario sebagai berikut : Skenario Pesimis 2005 – 2009 Batubara : PLTU, Briket Batubara, UBC Minyak bumi : Enhanced Oil Recovery (EOR) Gas bumi : PLTG, Industri, Rumah Tangga, Transportasi EBT : Air, Minyak bakar nabati/ biodiesel Skenario Optimis 2005 – 2009 Batubara : PLTU, Briket Batubara, UBC Minyak bumi : Enhanced Oil Recovery (EOR) Gas bumi : PLTG, Industri, Rumah Tangga, Transportasi EBT : Air, Minyak bakar nabati/ biodiesel, gasohol, bio oil, panas bumi, Coal Bed Methane (CBM) Skenario 2005 - 2025 Batubara : PLTU, Briket Batubara, UBC, likuifaksi, Energi, Lingkungan dan Batubara 355

Minyak bumi Gas bumi EBT

gasifikasi, coal slurry : Enhanced Oil Recovery (EOR) : PLTG, Industri, Rumah Tangga, Transportasi : Air, Minyak bakar nabati/ biodiesel, gasohol, bio oil, panas bumi, Coal Bed Methane (CBM)

PENUTUP Sumberdaya energi tidak terbarukan terus menipis, sedangkan kebutuhan energi terus meningkat dan penggunaan energi baru dan terbarukan masih sangat terbatas. Pemerintah telah menetapkan Kebijakan Energi Nasional untuk menjamin penyediaan energi untuk kebutuhan dalam negeri. Sumatera Selatan telah ditetapkan sebagai provinsi lumbung energi nasional atas pertimbangan potensi sumberdaya energi yang besar dan lokasinya yang strategis. Program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional difokuskan pada Gas dan Batubara. Pemanfaatan gas difokuskan pada pembangunan PLTG, gasifikasi untuk sektor industri, komersial, rumah tangga dan transportasi serta eksplorasi dan ekploitasi gas methan. Sedangkan pemanfaatan batubara difokuskan pada pembangunan PLTU, peningkatan ekspor dan antar pulau serta briket batubara. Sehubungan dengan hal tersebut diprogramkan untuk dikembangkan sarana dan prasarana untuk menunjang pengembangan sumberdaya energi Sumatera Selatan dalam rangka memenuhi kebutuhan energi nasional. Untuk mensukseskan program Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional diperlukan strategi yang tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi daerah serta berbasis Kebijakan Energi Nasional. Dasar pertimbangan penentuan skenario pengembangan energi di Sumatera Selatan pasca minyak bumi, yaitu : potensi sumberdaya energi, teknologi, dan aspek lingkungan.

F.

356

Energi, Lingkungan dan Batubara

DAFTAR PUSTAKA ….., “Energy Outlook & Statistics 2004”, Pengkajian Energi Universitas Indonesia, 2004. ….., “Master Plan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional”, Palembang 2004 ….., “Blue Print Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional 2005 – 2025”, Palembang 2004. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia., “Kebijakan Batubara Nasional Tahun 2004 – 2020”, Jakarta 2004. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia, “Kebijakan Pengembangan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Energi Hijau)”, Jakarta, 2003. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia, “Kebijakan Energi Nasional 2003 – 2020”, Jakarta, 2004. Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Propinsi Sumatera Selatan, “Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan”, Palembang, 2003. Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Propinsi Sumatera Selatan “Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah Sumatera Selatan”, Palembang, 2004. Indonesian Coal Society, “Coal Technology 2000”, Proceedings International Conference and Exhibition on Low Rank Coal Utilization, Jakarta, November 2000. Lembaga Teknologi Sriwijaya, “Due Diligence Studi Kelayakan Pencairan Batubara Banko Sumatera Selatan”, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Palembang, 2002. Machmud Hasjim., “Peluang dan Tantangan Batubara Sumatera Selatan”, Makalah Seminar Nasional Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi”, Jakarta, Nopember 2000. Energi, Lingkungan dan Batubara 357

Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., dan Taufik Toha., “The Prospect of the Development of Mine-Mouth Coal Fired Power Plant in Musi Banyuasin, South Sumatra”, Third International Conference and Exhibition of Coal Technology, Bali, 13-14 June 2002. Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., dan Taufik Toha., “Utilization Opportunity of South Sumatra Low Rank Coal”, The 4th International Conference and Exhibition on Coal Tech 2003, Indonesian Coal Society, 2003. Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., dan Taufik Toha., “Prospect of South Sumatra to Export Electricity to the South East Asia”, The 5th International Conference and Exhibition on Coal Technology, Kuala Lumpur, Malaysia, 2004. Machmud Hasjim., dan Taufik Toha., “Prospek Sumatera Selatan sebagai Pusat Penghasil Energi”, Temu Profesi Tahunan XIII Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Palembang, 2004. Macmud Hasjim., “Peran Perusahaan Pertambangan dalam Mempercepat Pembangunan Daerah”, Lokakarya PWI tentang Perbatubaraan, Palembang, 11–12 April 2005. Machmud Hasjim., “Pengelolaan Energi Sumatera Selatan Secara Arif untuk Kesejahteraan Masyarakat”, Pidato Ilmiah Disampaikan pada Wisuda Sarjana XXXIV Program S1, Wisuda Sarjana XLVIII Diploma III, Wisuda III MM dan Dies Natalis XXI Universitas Tridinanti Palembang, 30 April 2005. Rosihan Arsyad, “The Implementation of Coal Liquefaction Technology: a New Challenge for Investment Opportunity in South Sumatra”, Seminar Teknologi Pencairan Batubara, Jakarta, Pebruari 2002. Wimpy S. Tjetjep, “Strategic Planning of Low Rank Coal Utilization in Indonesia”, Indonesian – Japan Joint Seminar on UBC Technology, Jakarta, 21 Maret 2005.

358

Energi, Lingkungan dan Batubara

DIMENSI KETIGA
1. Pembangunan Daerah dengan aparatur yang bersih dan berwibawa dalam rangka menyongsong otonomi daerah 2. Kajian kebijakan pusat dan daerah di sektor pertambangan umum Sumatera Selatan 3. Prospek Sumatera Selatam Sebagai Pusat Penghasil Energi 4. Peranan Perusahaan Tambang Batubara Dalam Aspek Percepatan Pembangunan Daerah 5. Implementasi dan Pengebangan Hasil Riset Dalam Rangka Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangkitkan Perekonomian Rakyat 6. Mengharapkan dukungan Pemerintah Pusat terhadap Program Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi 7. Pembangunan di Sumbagsel dari Sudut Pandang Tokoh Akademisi, Untukmu Negeriku, Sumbagsel Membangun dan Pengabdian Kodam II/SWJ (Makalah, Juli 1997) 8. Pokok-pokok Pikiran Menghadapi Reformasi di Bidang Ekonomi, Hukum, Sosial dan Politik, (Makalah, Mei 1998) 9. Membangun Sumatera Selatan Dengan Nafas Reformasi Total, (Makalah, Juni 1998) 10. Membangun Sumatera Selatan Dengan Landasan Akhlak Yang Mulia, (Makalah, Juni 1998) 11. Seminar CDS, “Misi dan Strategi Pembangunan Kota”, (Makalah yang disampaikan pada tanggal 24 September 2002 12. Seminar IATSRI, makalah “Kontribusi Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Energi Nasional Pada Pembangunan Nasional”, (disampaikan di Palembang pada tanggal 17 Desember 2005) 13. Seminar : Makalah Peran Serta Pertambangan dalam Menunjang Pembangunan Daerah dan Nasional“, Pemda Banjarbaru Kalimantan Selatan, 22 Agustus 2007. 14. Seminar Nasional Hukum Pertambangan 15. Makalah:“Kegiatan Pertambangan dan Otonomi Daerah“, Palembang, 22 Juli 2008. 16. Seminar Nasional, Makalah: “Revitalisasi, Kebijakan Energi Nasional untuk menjadi Tuan di Negeri Sendiri“ Pertemuan Forum Rektor Indonesia ke-13, 13 – 15 Januari 2011 di Palembang.

360

Pembangunan & Kebijakan

PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN APARATUR YANG BERSIH DAN BERWIBAWA DALAM RANGKA MENYONGSONG OTONOMI DAERAH Machmud Hasjim A. PENDAHULUAN Pembangunan Indonesia telah dimiliki sejak lama zaman Sriwijaya abad ke7 atau ke-8 hingga kini terus berlangsung. Pada setiap era (zaman) terjadi pasang surutnya pembangunan tersebut, kadangkala terjadinya kejayaan dan akhirnya lenyap. Kejelian Belanda melihat zamrud khatulistiwa di Asia pada abad ke-16 dan awal abad ke-17, dapat memanfaatkan dan sekaligus mengeruk keuntungan selama ± 3 ½ abad dan dilanjutkan oleh Jepang sampai tahun 1945. Perjuangan rakyat Indonesia telah dilakukan sejak awal Belanda menginjakkan kakinya di Indonesia. Peperangan dengan pengorbanan yang dimulai pada awal abad ke-20 dimulai dari Kebangkitan Nasional I yaitu lahirnya Budi Oetomo tahun 1908 yang merupakan semangat patriotisme dalam mengemban nilai-nilai luhur cita0cita dan perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme yang telah merampas hak dan kedaulatan bangsa Indonesia selama beberapa abad. Selanjutnya lahir bagi beberapa pergerakan/organisasi yang bersifat manajemuk , yang sama-sama bangkit serentak di tengah-tengah situasi penjajahan dan penidasan. Kemajemukan organisasi itu dapat disatukan oleh tekad dan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang mengeyampingkan perbedaan suku, golongan, ras, asal usul daerah dan bahasa. Perkembangan itu terpatri oleh rasa kebersamaan kepentingan dan mencapai puncaknya pada saat Proklamasi Kemerdekan 17 Agustus 1945. Sejarah telah menuliskan bahwa awal perjalanan kebebasan itu tidaklah licin. Banyak rintangna-rintangan pada periode 1945 – 1950 yang merupakan masa Revolusi Fisik untuk memperahankan kemerdekaan. Pada periode berikutnya, sering juga terjadi konflik didalam sehingga ada usaha-usaha untuk mencoba menggantikan konsep kebangsaan kita dengan konsep/faham ideologi lain. Adanya Dkrit 5 Juli 1959 telah mengakhiri konflikkonflik tersebut. Oleh karena dekrit tersebut belum dilaksanakan secara konsekuen, maka komunis menggunakan kesempatann untuk mengatur strategis dan sekaligus konsolidasi sehingga terjadilah tragedi nasional pengkhianatan G 30 S/PKI pada tahun 1965. Hikmah dari tragedi nasional inilah melahirkan orde baru yang. Selanjutnya cesara bertahap melaksanakan proses pemurnian konsep kebangsaan antara lain diterimanya Pancsila sebagai asas bagi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Implementasi pembangunan dilakukan mulai dari Pelita I sampai dengan Pelita VI. Kelihatannya perjalanan sejarah mirip

Pembangunan dan Kebijakan

361

dengan perputaran roda, kadang-kadang di atas dan kadang-kadang pula di bawah. Kekuasaan yang terlalu lama cenderung kepada otoriter dan diktator sehingga baik peraturan dan pelaksanaannya dilakukan dengan memihak secara monopoli menguntungkan pemimpin dan kroninya. Era orde baru berlalu yang disambut dengna era/zaman Reformasi. Pada era reformasi ini telah disepakati untuk mengisi pembangunan ke depan diperlukan pemerintahan dengan aparat yang jujur, adil, bersih bebas dari KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) berwibawa dan transparan. Referensi dari pemerintahan orde reformasi ini cukup banyak, mulai dari perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, pemerintahan orde lama, pemerintahan orde baru dan pemerintahan transisi di bawah pimpinan President B.J. Habibie. Aingin segar telah ditiupkan oleh Pemerintah orde reformasi yaitu otonomi daerah dan primbangan keuangan anara Pemerintah Pusat dan Daerah melalui UU No. 22 tahun 1999 dan UU No. 25 Tahun 1999. Pemerintah daerah menyabut otonomi daerah ini dengan was-was karena masih menunjukkan banyak pertanyaan-pertanyaan, antara lain : (1) apakah SDM telah siap; (2) apakah SDA kualitatif dan kuantitatif cukup memadai; (3) apakah pertimbangan keuangan antara pusat dan daerah sudah cukup adil; (4) apakah pemerintah pusat sudah cukup ikhlas melepaskan sentralisasi menuju desentralisasi; (5) apakah pemerintah pusat dan pemerintah daerah sudah cukup ikhlas untuk menjadi pelayan masyarakat dan; (6) apakah KKN baru dapat diberantas dengan penegakan supremasi hukum. Pertanyaan-pertanyaan di atas secara komprehensif perlu ditanyakan kepada pribadi-pribadi birokrat, legislatif, yudikatif dan masyakarat. B. PEMBANGUNAN DAERAH Pembangunan daerah sudah harus dipersiapkan dengan memahami serta meneliti UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 tahun 1999 beserta PP No. 25 tahun 2000. Memahami berarti satu interpretasi materi substansi yang ada pada UU tersebut. Meneliti maksudnya, perlu mempersiapkan bahan/argumentasi untuk usulan perbaikan/perubahan UU disebabkan mungkin untuk rasa keadilan dan juga sulitnya dalam mengimplementasikan UU itu. Sebagai salah satu contoh, sulitnya pengeterapan pembagian keuangan pemerintah pusat dan daerah pada pemanfaatn Sumber Daya Alam (SDA) perairan di wilayah perairan di dalam dan di luar perairan 12 mil. Demikian juga ketimpangan dana pembangunan pada pasal 6 UU No. 25 Tahun 1999 antara Sumber Daya Alam sektor pertambangan umum dengan sektor pertambangan migas. Mengapa tidak disamakan saja menjadi 20% untuk pusat dan 80% untuk daerah otonomi. Kita mengetahhi bahwa penerimaan

362

Pembangunan & Kebijakan

negara dari migas jauh lebih besar dibandingkan dengan pertambangan umum. Juga diperlukan transparansi pembangunan/penerimaan pajak dari BUMN/BUMS yang berada di daerah serta perimbangan. Di dalam pembangunan daerah ini perlu dilakukan inventarisasi potensi sumber daya alam, kondisi sumber daya manusia serta keadaan aparatur pemerintah di daerah DPRD, LSM serta masyarakatnya. Secara komprehensif perlu keseluruhan potensi itu dengan bertingkat dan terencana untuk diberdayakan. Yang sangat penting adalah daerah MUBA sejak sekarang sudah harus mempersiapkan pembangunan sektor-sektor yang diunggulkan. C. SUMBER DAYA ALAM Secara topografi Kabupaten Musi Banyu Asin terletak di daerah dengan dataran rendah (daratan) banyak sungai (air) dan juga mempunyai pantai. Muba adalah daerah tingkat II di Sumatera Selatan yang paling luas. Muba juga mempunyai kekayaan bahan galian yang cukup banyak seperti batubara, gambut, minyak dan gas bumi. Dengan kekayaan alam serta isinya itu, potensi sumber daya alamnya sangat kaya. Potensi air yang besar ini sangat potensial untuk budidaya perikanan (perikanan laut dan perikanan darat) dalam arti yang luas. Demikian juga daratan yang sangat luas, dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan. Untuk mengetahui sumber daya alam ini, sudah semestinya dilakukan pemetaan secara menyeluruh dengan remote sensing. Dengan demikian ini berarti dapat membuka peluang para invenstor untuk menanamkan modalnya di Muba dengan sektor-sektor unggulan antara lain : (1) Pertambangan; (2) Perikanan dan Kelautan; (3) Pertanian; (4) Perkebunan dan ; (5) Industri. D. SUMBER DAYA MANUSIA Peran sumber daya manusia dalam pembangunan merupakan kunci kesuksesan. Pernyataan ini tidak diragukan orang lagi. Sebagai contoh, Jepang dengan sumber daya alam yang terbatas dan sumber daya manusia yang prima, menjadkan negara itu menjadi negara industri utama di dunia. Nasibit mengatakan bahwa dunia pada saat ini sudah masuk ke era gelombak ke-3 yaitu era informasi, suatu era dengan perubahan yang berlangsung sangat cepat sekali. Tentu kita akan jauh tertinggal bila kita tidak ikut terlibat ke dalamnya, Untuk supaya dapat ikut terlibat sebagai pemain diperlukan persiapan-persiapan sumber daya manusianya dari segala aspek terutama pengetahuan IPTEK. Secara jujur kalau kita lihat dari kondisi sumber daya manusia kita di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dari sumber daya manusia di dunia dari aspek kualitas pendidikan maupun moral. Bila kita lihat angka partisipasi aktif murni (APM) untuk kabupaten Muba pada Tingkat SD, SLTP dan SMU/SMK masing-masing 85,65%; 40,24% dan

Pembangunan dan Kebijakan

363

17,29% dan untuk tingkat propinsi Sumatera Selatan adalah 99,29%; 70% dan 51,37% (sumber Kanwil Pendidikan Nasional Sumatera selatan Tahun 1999/2000). Angka partisipasi murni secara nasional untuk SD, SLTP dan SMU/SMK masing-masing 94,87%; 51,36% dan 28,88% (sumber : Indonesia Education Culture Tahun 1998). Angka APM tersebut untuk Muba dari seluruh jenjang pendidikan sudah lebih rendah dari rata-rata Propinsi Sumatera Selatan dan juga rata-rata nasional. Belu lagi bila kita tinjau untuk tingkat perguruan tinggi. Ini menunjukkan perlu adanya kepedulian peningkatan sektor pendidikan baik dari aspek kuantitas maupun kualitas, dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Selain sumber daya manusia yang berpendidikan, yang diperlukan untuk pembangunan adalah dumber daya manusia yang bermoral yang berakhlakul karimah. Akhlak yang baik ini merupakan pondasi dasar pembangunan. Tidak ada pembangunan bila tidak ada pondasi dasar ini. Oleh karena itu kalau kita kutip dari Surat Ali Imran 191 – 194, seorang cendikiawan muslim itu seyogyanya mempunyai karateristik sebagai berikut yaitu: (1) orang-orang yang senantiasa selalu zikir kepada Allah; (2) orang-orang yang mentafakuri ciptaan Allah, sehingga menimbulkan keinginan dan rangsangan untuk taqarub mendekatkan diri keada NYA; (3) orang-orang yang sangat takut akan murka Allah yang dapat menyebabkan kesengsaraan terutama di akhirat nanti, dan (4) orang-orang yang rindu mendapatkan ampunan Allah. Bila sumber daya manusia bekerja dengan landasan karakteristik moral dan agama seperti di atas, saya kira tidak akan ada korupsi, kolusi dan nepotisme dalam arti yang negatif. Semua tugas-tugas yang dilakukan akan dapat bersinergi satu sama lain. Karakter seperti di atas akan sangat mengibas kesekelilingnya sehingga apa yang pernah diucapkan oleh almarhum M. Natsir : “Gubahlah dunia dengan amalanmu, dan sinarilah zaman dengan imanmu”. Bila karakter tersebut berada pada pimpinan, diharapkan pimpinan itu dapat menjadi panutaun/teladan dari seluruh aspek kehidupan. Almarhumah A.H. Nasution mengatakan “ “Kalau mau membersihkan lantai, bersihkan dulu atasanya”. Dengan demikian ilmu amaliah, amal ilmiah yang diperankan oleh manusia yang berakhlakul karimah dapat mensinergikan seluruh potensi yang ada guna pembangunan yang dapat memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat. Dengan demikian masyarakat sekaligus akan menjadi subjek dan objek pembangunan itu sendiri. E. PEMERINTAH DAERAH, DPRD, LSM DAN MASYARAKAT Pada era reformasi ini dituntut adanya transparansi pembangunan. Dalam menyiapkan suatu peraturan dan perundang – undangan oleh Pemda dan DPRD, perlu diikutsertakan Lembaga Swadaya Masyarakat dan masyarakat umum.

364

Pembangunan & Kebijakan

Dengan demikian, pembangunan itu sendiri menjadi milik bersama dan samasama mempunyai rasa memiliki. Yang menjadi motor penggerak pembangunan, haruslah bersama-sama antara birokrat, politisi dan masyarakat. Oleh karena itu untuk pemerintah yang baik, asas-asas good governance antara lain (1) tranparansi; (2) partisipasi, (3) public accountability; (4) morality; (5) adanya visi pembangunan yang berorientasi kepada kepentingan masyarakat; (6) bersih dan berwibawa dan (7) leandership perlu disiapkan/diciptakan. Seorang pimpinan dituntut bersih dan berwibawa sehingga dapat mengetahui sektor – sektor yang harus dicuci dan dibersihkan. Air umumnya mengalir dari atas ke bawah, dengan kata ilmiahnya pengalirannya dari tekanan yang lebih rendah. Bila air dari atas tadi bersih, maka akan ada kemampuan untuk membersihkan bagian bawah yang mungkin kotor, dan tidak mungkin akan terjadi sebaliknya. Dengan demikian pimpinan eksekutif, politisi/DPRD, LSM yang bersih akan mampu membersihkan yang kotor pada bagian bawahnya. Pimpinan eksekutif, legislatif dan LSM harus mampu secara bersama-sama menciptakan suasana yang kondusif dengan ethos kerja yang baik di daerah. Karena masyarakat/rakyat adalah subjek dan objek pembangunan, maka manajemen bottom-u[ juga perlu diterapkan. Undang-undang Dasar 1945 pada pasal 33 ayat 3, pada hakekatnya mengamanatkan bahwa kekayaan alam ini untuk kemakmuran/kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu potensi alam yang ada disuatu daerah, haruslah dapat memberikan manfaat untuk rakyat setempat. Jenis dan ragam pekerjaan masyarakat itu haruslah bersandar kepada potensi daerah tersebut. Peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah tersebut haruslah menjurus dan meningkat pada kebutuhan daerah, dan dilakukan secara terencana untuk memenuhi kebutuhan persaingan pasar global. Peran Dinas Tenaga Kerja Daerah bersama Bappeda, sangat memegang peran yang sangat penting dalam membuay perencanaan pembangunan jangka menengah dan jangka panjang. Perlu daintisipasi dari sekarang bila pada saatnya terjadi over produksi dari hasil pertanian, perikanan, perkebunan atau produksi lainnya, rakyat jangan dirugikan. Ini dapat dilakukan dengan peningkatan kualitas produk, menghadirkan teknologi proses dan pemasaran. Dengan demikian ekonomi riel yang digerakkan oleh rakyat akan dapat memberikan arti yang positif, karena antara keempat pilar pembangunan yang eksekutif, legislatif, yudikatif dan masyarakat dapat bersinergi secara positif. Pengawasan pembangunan yang dilakukan oleg legislatif dan masyarakat, aktualisasi penegakan supremasi hukum dilaksanakan secara konsekuen oleh lembaga yudikatif, dapat menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Pembangunan yang dilakukan adalah pembangunan yang berkelanjutan. Kita ketahui bahwa bahan baku produksi ada yang dapat diperbaharui dan ada

Pembangunan dan Kebijakan

365

yang tidak dapat diperbaharui. Jumlah tenaga kerja, kian tahun kian bertambah. Oleh karena itu untuk menambahk lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah, perlu dilakukan pengolahan industri tersebut mengalir ke hilir. Dengan meningkatkan aktifitas pembangunan tersebut, para investor perlu memperhatikan antara lain (1) modal; (2) community development (pembangunan masyarakat), dan (3) kerja sama yang baik dan transparan dengan Pemda, DPRD, LSM dan masyarakat setempat. Diharapkan buah pembangunan itu dapat dinikmati bersama dengan sejahtera dan rasa keadilan.

F.

PENUTUP Otonomi daerah dalam pembangunan daerah perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang disesuaikan dengan potensi daerah yang bersangkutan. UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 tahun 1999 perlu dipahami dan diteliti secara baik untuk mendapatkan intepretasi yang sama. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu kerja sama yang baik, dan tidak menaruh curiga satu dengan lainnya. Pembangunan itu sendiri pada hakekatnya adalah untuk kepentingan masyarakat. Ini berarti perlu dilakukan manajemen dari bawah ke atas, untuk dapat tercapai sasaran pembangunan yang tepat. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya KKN berpindah dari pusat ke daerah, perlu keteladanan dari kepemimpinan, transparasi, kepercayaan masyarakat dan keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan. Menurut teori Leadership, ada yang berpendapat bahwa Raja itu dilahirkan, tapi ada yang berpendapat bahwa Raja itu dibuat/dibentuk. Kalau di analogikan, pemerintah yang bersih dan berwibawa dapat dibentuk atau juga dapat dilahirkan. Bila para pemuda dilahirkan oleh orangtua yang baik dan dilatih/dibentuk dengan cara yang baik, Insya Allah akan lahir/tumbuh generasi yang baik untuk masa depan. Dalam pendidikan/latihan tersebut perlu dilakukan dengan proses belajar mengajar yang tepat dengan memperhatikan aspek psikomotorik, kognitif dan afektif, serta berlandaskan/berpondasi kepada penciptaan moral yang baik. Kesemaunya akan berhasil bila adanya political will dan keikhlasan dari atas (birokrat, elite politik, dan para profesional) dengan suara dan nada yang serasi.

Makalah pada Musyawarah Besar Pembangunan MUBA ke-3 di Sekayu, 29 September s.d 1 Oktober 2000 **) Guru Besar Universitas Sriwijaya

*)

366

Pembangunan & Kebijakan

KAJIAN KEBIJAKAN PUSAT DAN DAERAH DI SEKTOR PERTAMBANGAN UMUM SUMATERA SELATAN Machmud Hasjim

Propinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu propinsi yang memiliki banyak potensi sumberdaya mineral/ bahan galian. Sebagian potensi sumberdaya mineral tersebut telah dimanfaatkan/ditambang, namun sebagian besar belum dimanfaatkan. Potensi sumberdaya mineral/bahan galian yang paling dominan di Sumatera Selatan, baik dari sisi cadangan maupun pengusahaannya adalah potensi batubara. Cadangan batubara di Sumatera Selatan sebesar ± 13,5 milyar ton yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Sumatera Selatan. Kegiatan penambangan batubara di Sumatera Selatan telah berlangsung sejak jaman penjajahan Belanda. PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) merupakan perusahaan batubara milik negara yang beroperasi di daerah Tanjung Enim Kabupaten Muara Enim. Produksi batubara perusahaan negara ini terus meningkat dari tahun ke tahun dan penjualannya dikonsentrasikan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan sebagian diekspor. Hasil penjualan batubara oleh PTBA diperkirakan > 6 triliyun per tahun. Selain PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) juga terdapat beberapa perusahaan swasta nasional (PMDN) yang berminat melakukan kegiatan pertambangan batubara di Sumatera Selatan. Perusahaan Pertambangan Batubara tersebut belum beroperasi dan masih dalam tahap eksplorasi atau studi kelayakan. Di era otonomi daerah dewasa ini, kekayaan sumberdaya alam/sumberdaya mineral merupakan salah satu modal dalam membiayai pembangunan daerah dalam kerangka pembangunan berkelanjutan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keberadaan potensi sumberdaya alam/sumberdaya mineral yang ada di Bumi Sumatera Selatan perlu diupayakan untuk dieksploitasi/dimanfaatkan guna meningkatkan pendapatan asli daerah, memperluas kesempatan kerja/usaha serta akan menunjang pengembangan wilayah dan daerah. Sehubungan dengan pemberlakuan otonomi daerah, maka kewenangan pengelolaan sumberdaya mineral juga telah dialihkan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Pembangunan dan Kebijakan 367

Dalam rangka pemberdayaan sumberdaya alam/sumberdaya mineral yang ada di Sumatera Selatan, perlu disusun peraturan-peraturan (kebijakan) yang memberikan kemudahan bagi para investor agar berminat menanamkan modalnya dan berkiprah di bidang pertambangan di Sumatera Selatan. Kemudahan yang diberikan tentunya dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan. Melalui diskusi terhadap Kajian Kebijakan Pusat-Daerah di Bidang Pertambangan Umum Sumatera Selatan diharapkan akan mendapat masukan agar peraturan perundang-undangan bidang pertambangan umum yang telah ditetapkan dapat lebih akomodatif dan akan dapat menarik minat investor atau tidak merugikan pihak investor maupun pemerintah dan masyarakat. A. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN PERTAMBANGAN UMUM Menindaklanjuti pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan telah menyusun berbagai kebijakan di bidang Pertambangan Umum. Peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan umum yang ada telah cukup komprehensif dan aplikatif, hanya pada beberapa bagian perlu dicermati/didiskusikan bersama agar dapat lebih menarik bagi investor dengan tetap mengedepankan semangat kerakyatan dan pembangunan berwawasan lingkungan. Peraturan Daerah yang disusun sebagian besar mengacu pada Undang-Undang, Peraturan Pemerintah dan Keputusan Menteri. Dalam mengadopsi peraturan perundang-undangan pusat ke dalam Peraturan Daerah perlu dilakukan secara selektif dengan memperhatikan kondisi daerah. Sebagai contoh dalam Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Selatan terdapat beberapa kebijakan yang perlu dicermati dan dapat didiskusikan sebagai masukan pada Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat, antara lain : 1. Keputusan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 198 Tahun 2002 tentang Tata Cara Pemberian Surat Izin Peninjauan di Bidang Pertambangan Umum. BAB I Pasal 1 Ayat (8) berbunyi : ”Surat Keterangan Izin Peninjauan yang selanjutnya dapat disingkat SKIP adalah surat keterangan izin jalan bagi seseorang atau badan hukum untuk memasuki/mengadakan peninjauan umum terhadap suatu daerah/wilayah tertentu dalam jangka waktu 1 (satu) bulan, tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk mengetahui dan mengenal wilayah yang akan ditinjau tersebut kemungkinan adanya endapan bahan galian dalam rangka permohonan Kuasa Pertambangan (KP), Kontrak Karya (KK) atau Perjanjian Karya Perusahaan Pertambangan Batubara

368

Pembangunan & Kebijakan

(PKP2B)/Kontrak Karya Batubara (KKB) tanpa memberikan prioritas apapun kepada pemegang SKIP yang bersangkutan”. Pasal tersebut diambil dari Surat Edaran Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 2155/2011/040000/1986 tertanggal 19 Nopember 1986 butir 1 tentang pengertian dan tujuan SKIP, yang berbunyi sebagai berikut : “SKIP adalah merupakan surat keterangan jalan bagi seseorang untuk memasuki/mengadakan peninjauan umum terhadap suatu wilayah tertentu dalam jangka waktu 1 (satu) bulan, tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk mengetahui dan mengenal wilayah yang akan ditinjau tersebut kemungkinan adanya endapan bahan galian dalam rangka permohonan Kuasa Pertambangan/Kontrak Karya tanpa memberikan prioritas apapun kepada pemegang SKIP yang bersangkutan”. 2. Keputusan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 196 Tahun 2002 tentang Tata Cara Pemberian Surat Izin Penyelidikan Pendahuluan di Bidang Pertambangan Umum. BAB III Pasal 7 Ayat (2) berbunyi : ”Pemegang SIPP untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) wajib menempatkan uang jaminan kesungguhan sebesar Rp 100.000.000,(seratus juta rupiah) yang didepositokan di PT. Bank Pembangunan Sumatera Selatan pada rekening Gubernur atas nama pemegang SIPP yang bersangkutan”. BAB III Pasal 7 Ayat (3) berbunyi : ”Pemegang SIPP untuk Penanaman Modal Asing (PMA) wajib menempatkan uang jaminan kesungguhan sebesar US $ 100.000,- (seratus ribu dollar Amerika Serikat) yang didepositokan di PT. Bank Pembangunan Sumatera Selatan pada rekening Gubernur atas nama pemegang SIPP yang bersangkutan”. Kedua pasal tersebut diambil dari Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 2202.K/201/M.PE/1994 Pasal 4 ayat (2) yang berbunyi : “Pemegang SIPP wajib menempatkan deposito jeminan sebesar Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) untuk PMDN dan sebesar US $ 100,000.00 (seratus ribu dollar Amerika Serikat) untuk PMA dan didepositokan pada Bank milik Negara yang ditunjuk atas nama Direktur Jenderal Pertambangan Umum cq pemegang SIPP yang bersangkutan”.

Pembangunan dan Kebijakan

369

3.

Keputusan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 213 Tahun 2002 tentang Tata Cara Permohonan Izin Usaha Jasa Pertambangan Umum di Propinsi Sumatera Selatan. BAB IV Pasal 5 Ayat (1) dan (2) berbunyi : Ayat (1) ”Izin Usaha Jasa Pertambangan Umum berlaku untuk jangka waktu selama 2 (dua) tahun dengan bentuk sebagaimana tercantum pada Lampiran IV Keputusan ini”. Ayat (2) “Surat Izin Usaha Jasa Pertambangan Umum dapat diperpanjang untuk jangka waktu 1 (satu) tahun sebanyak-banyaknya 2 (dua) kali perpanjangan atas permohonan perusahaan yang bersangkutan sebagaimana tercantum pada Lampiran III Keputusan ini.

4.

Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Selatan Nomor 19 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pemerintahan di Bidang Pertambangan Umum BAB IV Pasal 13 Ayat (1) berbunyi : ”Izin Penelitian pertambangan umum dalam rangka penelitian dan pengembangan pertambangan diberikan kepada Instansi Pemerintah, Pemerintah Propinsi atau Perguruan Tinggi oleh Gubernur”. BAB VI Pasal 20 Ayat (4) berbunyi : ”Pelaksanaan pegelolaan dan pemantauan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dilakukan selama usaha pertambangan umum berlangsung dan pada pasca tambang”. BAB XI Pasal 41 Ayat (3) berbunyi : ”Pemegang Izin Usaha Pertambangan yang dengan sengaja menyampaikan laporan yang tidak benar sehingga mengakibatkan kerugian bagi negara, diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah)”.

B.

KAJIAN KEBIJAKAN Hal-hal yang akan didiskusikan sehubungan dengan peraturan perundangundangan di atas, antara lain : 1. Surat Keterangan Izin Peninjauan yang diterbitkan tidak memberikan prioritas apa pun kepada pemegang izin tersebut. Kiranya perlu dipertimbangkan untuk memberikan prioritas untuk peningkatan Izin

370

Pembangunan & Kebijakan

2.

3.

4.

Peninjauan menjadi Izin Penyelidikan Pendahuluan atas permohonan yang besangkutan. Dengan demikian terdapat kelanjutan dari kegiatan peninjauan tersebut. Besarnya uang jaminan kesungguhan Pemegang SIPP untuk PMDN kiranya dapat disesuaikan dengan jenis bahan galian dan luas areal yang diselidiki. Karena untuk bahan galian industri tentunya besarnya uang jaminan tersebut cukup membebani, mengingat perusahaan yang berkiprah di bidang bahan galian industri umumnya tergolong perusahaan menengah – kecil. Untuk pemegang SIPP Penanaman Modal Asing, penetapan uang jaminan kesungguhan US $ 100.000,- cukup memungkinkan, mengingat perusahaan PMA yang berkiprah dalam bidang pertambangan umumnya hanya berkonsentasi pada bahan galian yang strategis (batubara/ migas/ logam mulia) dan mereka memiliki permodalan yang cukup mantap. Izin Usaha Jasa Pertambangan Umum berlaku untuk jangka waktu 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu 1 (satu) tahun sebanyakbanyaknya dua kali. Peraturan ini menyiratkan bahwa usaha jasa pertambangan umum hanya dapat beroperasi paling lama 4 (empat) tahun. Kiranya perlu dipikirkan kontinuitas usaha jasa pertambangan umum karena hal ini berhubungan dengan citra perusahaan jasa pertambangan yang telah dibangun. Bila setiap 4 (empat) tahun harus mengganti nama dan mengajukan permohonan baru, tentunya hal ini akan mengakibatkan perusahaan jasa pertambangan tersebut tidak dapat berkembang/ dikenal masyarakat. Izin penelitian pertambangan umum diberikan kepada Instansi Pemerintah, Propinsi atau Perguruan tinggi oleh Gubernur. Kodisi ini menutup kemungkinan bagi perusahaan untuk melakukan sendiri penelitian pertambangan umum atau bagi perusahaan jasa pertambangan yang ingin bekiprah di bidang tersebut. Bila ditinjau lebih jauh lagi, Perusahaan jasa pertambangan umum diperkenankan melaksanakan kegiatan penelitian pertambangan umum sebagaimana yang diatur dalam Keputusan Gubernur No 213 Tahun 2002 Pasal 3 huruf (a) yang berbunyi : Jenis pekerjaan/kegiatan usaha jasa pertambangan umum meliputi : Penelitian dalam rangka penyelidikan umum, dan eksplorasi bahan galian, baik di darat maupun di laut dengan berbagai macam metode penelitian. Selain itu, ketentuan tentang pelaksana penelitian pertambangan umum juga tidak sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Selatan Nomor 19 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pemerintahan di Bidang

a.

Pembangunan dan Kebijakan

371

Pertambangan Umum Bab V Pasal 18 Ayat (1) huruf (a), yang berbunyi : .(1) Pemegang Izin Usaha Pertambangan mempunyai hak melakukan salah satu atau seluruh kegiatan : b. Penyelidikan umum Pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dilakukan selama usaha pertambangan umum berlangsung dan pada pasca tambang. Peraturan ini perlu dipertegas khususnya untuk kurun waktu kewajiban perusahaan untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan pada pasca tambang. Hal ini penting untuk dikemukakan mengingat pada perusahaan PMA yang telah tutup, pada umumnya penanam modal telah kembali ke negara asalnya dan tidak lagi berada di Indonesia, perlu ditentukan/ditunjuk instansi/badan yang harus melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan setelah penanam modal kembali ke negara asalnya, termasuk juga pembebanan biaya yang timbul untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan tersebut.

Pemegang Izin Usaha Pertambangan yang dengan sengaja menyampaikan laporan yang tidak benar sehingga mengakibatkan kerugian bagi negara, diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah). Sanksi hukum yang ditentukan perlu dipertimbangkan lagi. Bagaimana sekiranya kerugian yang dialami negara melebihi batas maksimal denda (Rp 5.000.000,-). Selain pembahasan di atas masih terdapat beberapa penetapan yang perlu dipertimbangkan dengan seksama, misalnya masalah penentuan besarnya bagian pemerintah (royalti) dalam kegiatan pertambangan batubara. Selama ini penetapan royalti sebesar 13,5% dari produksi batubara. Penetapan ini untuk batubara yang berkualitas tinggi tentunya sangat bijak dalam rangka meningkatkan pendapatan asli daerah. Untuk batubara peringkat rendah (seperti halnya pada umumnya batubara di Sumatera Selatan), perlu ditentukan persentase bagian pemerintah (termasuk royalti) yang lebih rendah guna menarik minat investor dalam menambang batubara Sumatera Selatan.

372

Pembangunan & Kebijakan

PROSPEK SUMATERA SELATAN SEBAGAI PUSAT PENGHASIL ENERGI H. Machmud HASJIM*) dan H. M. Taufik TOHA**) *) Guru Besar pada Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya, Kampus Inderalaya (OKI) 30662, Sumatera Selatan, ph. (0711) 580137-580303; fax. (0711) 580062 **) Pembantu Dekan III Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya, Kampus Inderalaya (OKI) 30662, Sumatera Selatan, ph. (0711) 442693-580137; fax. (0711) 445086-580137; email : taufik_toha@yahoo.com

ABSTRACT South Sumatra Province has many kind of primary energy potency in considerable amount (petroleum, natural gas, coal) and also renewable energy. The large number of energy resources makes South Sumatra potential to behave as Energy Production Center in Indonesia. The primary energy potency could be converted to be secondary energy such as electricity, synthetic oil and gas, coal water mixer, upgrading brown coal and others.. Moreover the strategic location of South Sumatra where Sumatra Electricity Interconnection System available which continuously develops, make a better possibility for South Sumatra to behave as Energy Production Center in Indonesia (primary energy as well as secondary). From the above consideration, South Sumatra Province Government has intended South Sumatra to be Energy Stockpile, which supported by the President of Rebuplic of Indonesia on November 9th, 2004. ABSTRAK Propinsi Sumatera Selatan memiliki berbagai jenis potensi energi primer dalam jumlah yang cukup besar (minyak bumi, gas bumi, batubara) dan energi terbarukan. Dengan sumberdaya energi yang potensial memungkinkan Sumatera Selatan berperan sebagai Pusat Penghasil Energi di Indonesia. Potensi energi primer tersebut dapat dikonversikan menjadi energi sekunder misalnya energi listrik, minyak dan gas sintetis, coal water mixer, upgrading brown coal dan sebagainya. Dengan lokasi Sumatera Selatan yang strategis dan telah adanya sistem Interkoneksi Sumatera yang akan terus dikembangkan, semakin

Pembangunan dan Kebijakan

373

memantapkan Sumatera Selatan untuk dapat berperan sebagai Pusat Penghasil Energi di Indonesia (baik energi primer maupun sekunder). Bertitik tolak dari pemikiran tersebut, Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan telah mencanangkan Sumatera Selatan menjadi Lumbung Energi yang pada tanggal 9 November 2004 telah mendapat dukungan Presiden Republik Indonesia. A. PENDAHULUAN Propinsi Sumatera Selatan kaya akan potensi sumberdaya energi baik minyak bumi, gas bumi, batubara serta energi terbarukan. Potensi energi primer tersebut sangat potensial untuk dikonversikan menjadi energi sekunder (energi listrik). Kebutuhan akan energi listrik terus meningkat dari waktu ke waktu. Penyediaan energi listrik memerlukan sistem jaringan (transmisi). Ditinjau dari sistem jaringan, Sumatera Selatan merupakan lokasi yang strategis karena telah tersedianya Sistem Interkoneksi Sumatera yang hingga saat ini terus dikembangkan. Selain sebagai energi listrik, potensi energi yang ada (khususnya batubara) juga dapat dikonversikan menjadi energi sekunder lainnya (minyak dan gas sintetis, coal water mixer, upgrading brown coal dan sebagainya) guna memenuhi kebutuhan energi nasional. B. 1. POTENSI ENERGI PRIMER Minyak Dan Gas Bumi Cadangan minyak bumi Sumatera Selatan sebesar 5.032.994 MSTB dengan tingkat produksi tahunan rata-rata berkisar 40 juta barrel per tahun. Untuk gas bumi, jumlah cadangan sebesar 7.239,16 BSCF dengan tingkat produksi berkisar 250.000 MMSCF (Tabel 1 dan 2). Cadangan minyak dan gas bumi tersebut tersebar di berbagai Kabupaten di wilayah Propinsi Sumatera Selatan. Batubara Cadangan batubara Sumatera Selatan berkisar 20 milyar ton (Tabel 3) yang tersebar di berbagai Kabupaten di wilayah Propinsi Sumatera Selatan. Produksi batubara Sumatera Selatan berkisar 10 juta ton per tahun (Tabel 4). Secara umum Batubara Sumatera Selatan termasuk peringkat rendah (nilai kalori rendah), namun demikian memiliki kadar belerang dan kadar abu yang rendah (Tabel 5). Dengan demikian emisi gas dari pembakaran batubara Sumatera Selatan tergolong rendah bila dibandingkan dengan batubara dari daerah/negara lain.

2.

374

Pembangunan & Kebijakan

Kualitas batubara seperti di atas mengakibatkan kesulitan dalam pemasaran (harga jual rendah karena nilai kalori rendah dan kadar air yang tinggi). Hal ini mengakibatkan sebagian besar potensi batubara di Sumatera Selatan belum dimanfaatkan (ditambang). Salah satu peluang pemanfaatan yang potensial untuk batubara Sumatera Selatan adalah sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap PLTU (Tabel 6). 3. Energi Terbarukan Selain energi tak terbarukan di atas, Propinsi Sumatera Selatan juga memiliki berbagai potensi energi terbarukan dalam jumlah yang cukup. Potensi energi terbarukan di Sumatera Selatan antara lain potensi air (Tabel 7), potensi panas bumi (tabel 8), potensi biomassa ± 422,5 juta SLM (tabel 9), potensi biogas ± 23 juta SLM (Tabel 10) dan potensi kayu bakar ± 2,8 milyar SLM (tabel 11). PEMANFAATAN ENERGI Minyak dan Gas Bumi Pemanfaatan minyak bumi cukup bervariasi, mulai dari pemanfaatan sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, pengkonversian menjadi bahan bakar sektor transportasi dan sektor rumah tangga serta sebagai bahan bakar lainnya. Gas bumi dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada pembangkit listrik (Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap/ PLTGU) dan sebagaian dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada proses pembakaran (pabrik pupuk dan sektor rumah tangga). Batubara Batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar maupun bahan baku pada beberapa industri. Pemanfaatan sebagai bahan bakar dapat berupa pembakaran langsung dan konversi menjadi bentuk bahan bakar lain (Gambar 1). Selain sebagai bahan bakar, batubara juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai industri, antara lain industri petrokimia, industri karbon aktif, filter dan elektroda. a. Bahan Bakar Langsung Pemanfaatan batubara yang paling sederhana adalah dengan cara pembakaran langsung karena hanya memerlukan proses pengecilan ukuran (size reduction) saja. Batubara Sumatera Selatan berpeluang

C. 1.

2.

Pembangunan dan Kebijakan

375

besar untuk dipergunakan sebagai bahan bakar langsung karena kadar abu dan kadar belerangnya yang rendah, sehingga dampak negatif terhadap lingkungan yang ditimbulkannya relatif rendah. Kekurangan daya listrik di Sumatera Selatan khususnya dan Sistem Interkoneksi Sumsel-Lampung-Sumbar-Riau pada umumnya memberikan peluang bagi pemanfaatan batubara Sumatera Selatan dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara mulut tambang. Selain sebagai bahan bakar PLTU, pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar langsung juga dapat dilakukan di pabrik semen dan industri kecil-menengah. Pangsa pasar batubara untuk digunakan pada sebagai bahan bakar langsung relatif sempit, hanya terbatas pada PLTU, pabrik semen dan industri kecil-menengah. Selain itu, masalah lingkungan yang ditimbulkan pembakaran batubara secara langsung juga merupakan efek samping yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan pemanfaatan batubara dengan cara tersebut. b. Bahan Bakar Konversi Pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar tidak langsung adalah dengan mengubah batubara menjadi bahan bakar cair, gas, atau padat yang lebih ramah lingkungan dengan menerapkan teknologi batubara bersih. Pada prinsipnya batubara dari semua peringkat dapat diubah dengan teknologi batubara bersih menjadi bahan bakar cair dan gas atau padat yang lebih ramah lingkungan. Perkiraan jumlah produk teknologi batubara yang dapat dihasilkan dari batubara peringkat rendah dapat dilihat pada Gambar 2. Teknologi batubara dapat dikelompokkan dalam konversi batubara menjadi kokas/ semi-kokas briket batubara melalui proses karbonisasi batubara, teknologi Up-grading Brown Coal (UBC), likuifaksi batubara dan gasifikasi batubara yang menghasilkan minyak dan gas sintetis. Teknologi kokas briket batubara sudah dikembangkan di Indonesia untuk industri pengecoran logam dengan harga kurang lebih 37,5 % lebih murah dibandingkan harga impor untuk kualitas yang sama (Herry, 1999). Demikian juga teknologi semi-kokas briket batubara telah diprogramkan oleh pemerintah sebagai energi alternatif pengganti minyak dan gas bumi untuk sektor industri kecil dan rumah tangga.

376

Pembangunan & Kebijakan

Berdasarkan hasil penelitian pencairan batubara, batubara peringkat rendah akan menghasilkan minyak sintetis yang lebih banyak dibandingkan batubara peringkat tinggi. Hal yang sama juga berlaku untuk gasifikasi dan pembuatan kokas/semi-kokas. Namun untuk Coal Water Mixer lebih sesuai bila digunakan batubara peringkat tinggi (kadar air rendah). Teknologi likuifaksi batubara merupakan teknologi yang telah lama dikenal. Percobaan pertama dilakukan oleh Dr. Friedrich Begius pada tahun 1913 di Jerman (Berkowitz, 1985), selanjutnya para peneliti dari berbagai negara telah melanjutkannya dengan menyempurnakan serta mengembangkan teknologi tersebut. Di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral telah menjadikan pengkajian pencairan batubara menjadi salah satu program penelitian dalam Proyek Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pemanfaatan Batubara pada tahun anggaran 1995/1996. Melalui program tersebut, berbagai penelitian seputar teknologi likuifaksi batubara telah dilakukan. Selain itu, lembaga penelitian lainnya dan kalangan perguruan tinggi juga ikut ambil bagian dalam penelitian teknologi likuifaksi tersebut. Secara umum, teknologi likuifaksi batubara telah dapat dikuasai dengan baik dan tidak ada masalah yang berarti. Dampak lingkungan teknologi pencairan batubara dan gasifikasi batubara relatif lebih kecil dibandingkan pembakaran batubara secara langsung. Emisi gas SO2 hasil pembakaran secara langsung di PLTU berkapasitas 2540 MWe misalnya adalah 88,2 x 103 ton/tahun, sedangkan emisi SO2 pada liquefaction plant dengan kapasitas yang sama adalah 4,4 x 103 ton/tahun dan emisi SO2 pada saat penggunaan minyak adalah 11,9 x 103 ton/tahun, atau 16,3 x 103 ton SO2/tahun. Jumlah tersebut jauh lebih kecil bila dibandingkan emisi pada pembakaran batubara secara langsung di PLTU yang dilengkapi flue gas desulfurization. Demikian juga pada emisi NOx, particulate dan karbon monoksida, konversi batubara menjadi bahan bakar gas atau cair menghasilkan limbah tersebut dalam jumlah yang jauh lebih sedikit (Hadi N & Nining S Ningrum, 1998). Secara teknis, teknologi konversi batubara menjadi bahan bakar lain telah dapat dilakukan, namun pada umumnya belum dapat beroperasi pada tahapan komersial. Teknologi Up-grading Brown Coal (UBC) telah diteliti dan memberikan hasil yang cukup menjanjikan. Biaya produksi UBC sekitar US $ 10/ton.

Pembangunan dan Kebijakan

377

Keberhasilan penerapan teknologi UBC dalam tahap komersial sangat tergantung pada harga bahan bakar lainnya. Untuk pemasaran dalam negeri hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kebijakan subsidi BBM yang diterapkan pemerintah. Bila harga BBM telah mencapai harga pasar, harga UBC ini akan dapat bersaing dengan harga BBM. Untuk meningkatkan kelayakan ekonomis teknologi UBC tersebut, inovasi riset, ilmu pengetahuan dan teknologi (riptek) sangat berperan dalam hal penyempurnaan teknologi, substitusi bahan dan sebagainya. Inovasi tersebut diharapkan dapat menekan biaya produksi sehingga harga UBC dapat bersaing dengan harga energi lainnya, khususnya minyak dan gas bumi. Dalam bidang pencairan batubara, penelitian terhadap pencairan batubara Tanjung Enim, Sumatera Selatan menunjukkan hasil yang cukup baik dengan biaya produksi sebesar US $ 18,6/barrel. Walaupun biaya produksi tersebut relatif tinggi, namun masih terdapat peluang untuk menekan biaya produksi dengan cara merencanakan pendirian pabrik di daerah pantai (coastal site) guna mempersingkat jalur transportasi produk dan bahan baku serta peralatan parbrik. Selain itu subsitusi bahan penunjang menggunakan bahan yang ada di Sumatera Selatan. Melalui inovasi riset, ilmu pegetahuan dan teknologi (riptek) dan kajian lainnya, teknologi konversi batubara merupakan peluang yang potensial dalam pemanfaatan batubara Sumatera Selatan. Teknologi konversi batubara telah berkembang cukup baik, hanya diperlukan penelitian lanjutan agar untuk menekan biaya produksi guna meneningkatkan daya saing produk konversi batubara terhadap bahan bakar lainnya. 3. Energi Terbarukan Potensi energi terbarukan di Sumatera Selatan baru sebagian kecil yang dimanfaatkan, umumnya digunakan sebagai penghasil energi listrik. Misalnya Pembangkit Listrik Tenaga Suraya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pemanfaatan energi terbarukan sebagai pembangkit listrik umumnya diterapkan pada lokasi yang jauh dari jangkauan jaringan listrik yang ada dan umumnya kapasitas pembangkit listrik juga kecil. Selama periode tahun 1998 sampai tahun 2002 di Sumatera Selatan telah di pasang 848 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Tabel 12) dan daya terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro sebesar 122 kW (Tabel 13)

378

Pembangunan & Kebijakan

D.

PEMBANGKITAN DAN TRANSMISI Hingga saat ini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara masih merupakan tulang punggung pembangkitan energi listrik di sistem Sumatera Selatan – Lampung. Berdasarkan data di PTLU Bukit Asam pemakaian batubara sebagai bahan bakar sebesar 0,638 kg/kWh. Ditinjau dari konsumsi batubara sebagai bahan bakar PLTU tersebut, cadangan batubara Sumatera Selatan yang besar akan dapat menjamin kontinuitas suplai bahan bakar dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama. Dengan membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara di mulut tambang, diharapkan akan dapat menekan biaya operasional penambangan (biaya transportasi batubara) sehingga biaya pembangkitan energi listrik dapat ditekan dalam rangka meningkatkan daya saing listrik dari Sumatera Selatan. Saat ini sedang dikembangkan sistem interkoneksi Pulau Sumatera dan direncanakan akan dikembangkan menjadi Sistem Sumatera-Jawa-Bali (direncanakan akan terealisasi tahun 2007 atau 2008). Di tinjau dari sisi penyaluran/ transmisi energi listrik, Sumatera Selatan berpeluang besar untuk berperan sebagai Pusat Penghasil Energi Listrik. E. PENUTUP Potensi energi primer di Sumatera Selatan tersedia dalam jumlah yang cukup besar baik minyak dan gas bumi, batubara serta energi terbarukan. Energi primer tersebut dapat dirubah menjadi energi listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat. Tersedia jaringan listrik sistem interkoneksi yang memungkinkan energi listrik yang dibangkitkan di Sumatera Selatan mencapai konsumen listrik di propinsi lain bahkan pulau-pulau lainnya di Indonesia. Teknologi konversi batubara yang berkembang pesat memberikan harapan akan mampu berproduksi pada skala komersial dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Potensi energi terbarukan yang dimiliki baru sebagian kecil yang dimanfaatkan. Berdasarkan pertimbangan di atas, Sumatera Selatan berpeluang besar untuk berperan sebagai Pusat Penghasil Energi Nasional baik energi primer maupun energi sekunder.

Pembangunan dan Kebijakan

379

DAFTAR PUSTAKA Arpaden Silaban., "Improved Coal Gasification Technology", Disampaikan pada Seminar Sehari Teknologi Batubara, Pusat Penelitian Energi Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya, 21 September 1998. BPPT, NEDO dan Kobe Steel Ltd., “Feasibility Study on Direct Liquefaction on Banko Coal in Indonesia” March 2002. Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Propinsi Sumatera Selatan, “Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan”, Palembang, 2003. Hadi Nursarya, Nining S Ningrum., “Teknologi Pencairan Batubara”, Disampaikan pada Seminar Sehari Teknologi Batubara, Pusat Penelitian Energi, Lembaga Penelitian, Universitas Sriwijaya, 21 September 1998. Herry Supriyanto, R., “Teknologi Proses Kokas Briket untuk Industri Pengecoran Logam”, Disampaikan pada Seminar Sehari Teknologi Batubara, Pusat Penelitian Energi, Lembaga Penelitian, Universitas Sriwijaya, 21 September 1998. Indonesian Coal Society, “Coal Technology 2000”, Proceedings International Conference and Exhibition on Low Rank Coal Utilization, Jakarta, November 2000. Lembaga Teknologi Sriwijaya, “Due Diligence Studi Kelayakan Pencairan Batubara Banko Sumatera Selatan”, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Palembang, 2002. Machmud Hasjim., “Peluang dan Tantangan Batubara Sumatera Selatan”, Makalah Seminar Nasional Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi”, Jakarta, Nopember 2000. Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., dan Taufik Toha., “The Prospect of the Development of Mine-Mouth Coal Fired Power Plant in Musi Banyuasin, South Sumatra”, Third International Conference and Exhibition of Coal Technology, Bali, 13-14 June 2002.

380

Pembangunan & Kebijakan

Machmud Hasjim., Syarifuddin Ismail., dan Taufik Toha., “Utilization Opportunity of South Sumatra Low Rank Coal”, The 4th International Conference and Exhibition on Coal Tech 2003, Indonesian Coal Society, 2003. Nining Sudini Ningrum., Iwan Rijwan., Syahrial., “Penelitian Pembuatan Karbon Aktif dari Batubara Banjarsari, Sumatera Selatan”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral, Bandung,1999. Purba, A., C., "Status Pengembangan Briket Batubara di Indonesia" Disampaikan pada Seminar Sehari Teknologi Batubara, Pusat Penelitian Energi Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya, 21 September 1998. Rosihan Arsyad, “Tata Ruang dan Penyediaan Infrastruktur untuk PLTU Batubara di Sumatera Selatan”, Makalah Seminar Nasional Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Dalam Rangka Mengantisipasi Energi Pasca Minyak Bumi”, Jakarta, Nopember 2000. Rosihan Arsyad, “The Implementation of Coal Liquefaction Technology: a New Challenge for Investment Opportunity in South Sumatra”, Seminar Teknologi Pencairan Batubara, Jakarta, Pebruari 2002. Soedjoko Tirtosoekotjo, "Kebijakan Batubara Indonesia dalam Perfektif Pengembangan Energi Nasional, Disampaikan pada Seminar Sehari Teknologi Batubara, Pusat Penelitian Energi Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya, 21 September 1998.

Pembangunan dan Kebijakan

381

Tabel 1. Cadangan Minyak dan Gas Bumi Sumatera Selatan No 1 2 3 4 5 6 Kabupaten Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Total Sumatera Selatan Cadangan Minyak Bumi (MSTB) Gas Bumi (BSCF) 128.288,50 89,05 302.707,00 484,00 2.938.840,90 1.383,68 56.855,40 210,29 350.356,80 2.286,47 1.255.945,40 2.785,67 5.032.994,00 7.239,16

Dispertamben Sumsel, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, 2003 Tabel 2. Produksi Minyak dan Gas Bumi Sumatera Selatan Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 Produksi Minyak Bumi (Barel) Gas Bumi (MMSCF) 30.135.161 172.455 35.345.161 267.317 42.944.983 270.540 41.609.309 270.753 35.558.986 254.558

Dispertamben Sumsel, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, 2003 Tabel 3. Cadangan Batubara Sumatera Selatan No 1 2 3 4 5 6 Lokasi (Kabupaten) Muara Enim Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu JUMLAH Cadangan(Juta Ton) 11.581,21 2.714,97 3.565,50 1.235,00 325,00 836,79 20.258,47

Dispertamben Sumsel, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, 2003 382 Pembangunan & Kebijakan

Tabel 4.. Produksi Batubara Sumatera Selatan No Tahun Produksi (Ton)

1 1998 9.566.087 2 1999 10.116.957 3 2000 10.009.293 4 2001 9.612.296 5 2002 9.119.729 Dispertamben Sumsel, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, 2003 Tabel 5. Kualitas Batubara Sumatera Selatan *) Parameter Proksimat (% adb) - Kadar Air - Kadar Abu - Zat Terbang - Karbon Tertambat Nilai Kalori, kal/gr (adb) Ultimat (%) - Sulfur - Karbon - Hidrogen - Nitrogen - Oksigen HGI Petrografi (%) - Vitrinit - Inertinit - Lilptinit - Mineral - Rvmax *) PPPTM, Bandung Tabel 6. Spesifikasi Batubara sebagai Bahan Bakar PTLU*) Muara Enim 12.57 – 41.04 3.88 – 8.79 33.65 – 42.48 28.24 – 41.49 4,140 – 6,867 0.15 – 0.57 40.63 – 68.66 3.39 – 5.70 0.50 – 1.10 8.45 – 21.79 47 – 62 80 – 83 4–8 5–6 6–7 0.46 – 0.55 Lokasi (Kabupaten) Lahat Musi Banyuasin 4.40 – 29.80 2.72 – 7.05 35.43 – 41.09 33.60 – 51.65 4,694 – 7,185 0.18 – 0.61 49.67 – 64.11 3.92 – 8.83 0.63 – 1.10 9.84 – 19.31 48 – 65 87 3 5 5 0.38 – 1.10 25.01 5.15 35.93 33.91 4,870 0.69 50.96 6.93 1.06 35.21 48 88 4 4 4 0.42 Musi Rawas 17.90 5.00 35.40 35.520 5,090 0.20 50 84 5 6 5 0.41

Pembangunan dan Kebijakan

383

Parameter Analisis Proksimat Zat Terbang Karbon Tertambat Kadar Air Kadar Abu Hardgrove Grindability Index Relative Density Nilai Kalori Net Calorific Value Gross Calorific value Analisis Ultimat Karbon Hidrogen Nitrogen Oksigen Sulphur Analisis Abu Silika (SiO2) Besi (Fe2O3) Aluminium Oksida (Al2O3) Kalsium Oksida (CaO) Magnesium Oksida (MgO) Natrium Oksida (Na2O) Kalium Oksida (K2O) Titik Leleh Abu (oC) (in reducing atmosphere) Initial Softening Fluid

Satuan As received % berat % berat % berat % berat % berat % berat as received (kCal/kg) (kCal/kg) as received % berat % berat % berat % berat % berat

Minimal 15,00 28,00 7,00 10,00 59,40 1,25

Maksimal 40,00 62,00 28,00 17,00 64,20 1,35

4.200,00 4.590,00

6.400,00 7.060,00

48,00 4,00 0,70 8,00 0,30

65,00 5,50 1,10 11,00 1,20

% berat % berat % berat % berat % berat % berat % berat

50,00 3,00 10,00 1,00 0,50 0,60 0,20

75,00 7,00 33,00 3,00 1,50 3,50 0,70

o o

C C o C

1.010,00 1.190,00 1.350,00

1.500,00 1.510,00 1.620,00

Ukuran Butiran : Lolos ayakan 32 mm, 97 % (3 % selebihnya maksimum 50 mm) kurang dari 2,38 mm, maksimum 20 % *) PT. PLN (Persero) sektor Bukit Asam

384

Pembangunan & Kebijakan

Tabel 7. Potensi Sumber Energi Air Propinsi Sumatera Selatan NO 1 1 WILAYAH/KECAMAT AN 2 Kab. Lahat - Kec. Kota Agung NAMA SUNGAI/DESA 3 Perigi S. Salak/ Tj. Kurung Ilir S. Ayun/ Tj. Kurung Ilir S. Endikat/ Tunggul Bute Lawang Agung Tanjungan S. Betung/Tangsi S. Cawang/ Ma. Cawang S. Kikim Kanan Air Betung Tanjung Beringin Talang Padang Prahu Pematang Bango Mingkik Suka Jadi Talang Sejemput Tebat Benawa Lekok/Jakung Layang/Niling Temam II Napal Licin - Sungai Kerali - Air Terjun Bukit Bukok 40 16 6 21 30 10 4,49 2,24 5 4,49 60 8 60 40 50 50 30 10 10 76 5 4 25 HEAD (m) 4 DEBIT (m3/dtk) 5 2,4 1,32 9,88 2,34 1,2 1,5 4,8 1,7 3,03 5 2,88 0,84 0,95 1,4 1,5 2,2 0,83 2,7 4,8 0,8 1,4 0,1 DAYA (kW) 6 470,4 103,49 290,47 194,92 176,40 73,50 105,60 18,66 74,24 105,60 846,72 32,928 279,3 274,4 367,5 323,4 40,67 132,3 1787,52 19,6 27,44 12,25 JARAK DARI KEC. (KM) 7 5 15 15 15 10 7 14 15 18 30 35 7,5,20,15

- Kec. Jarai

- Lahat Kota

- Perw. Pajar Bulan - Kec. Ulu Musi - Kec. Pagar Alam

- Kec. Pulau Pinang 2 - Kec. Dempo Selatan Kab. Musi Rawas - Kec. Muara Beliti

27 12 11 14 13

- Kec. Rawas Ulu

Jangkat - Sungai Kejatan 2 5 49,00 Tabel 7 (Lanjutan). Potensi Sumber Energi Air Propinsi Sumatera Selatan Pembangunan dan Kebijakan 385

NO 1 3

WILAYAH/KECAMATAN 2 Kab. Ogan Komering Ulu - Kec. Pulau Beringin

NAMA SUNGAI/DESA 3 Pematang Danau Ulu Danau Aromante Cukuhnau Tanjung Besar - Sungai Kepayang Kecil Gunung Raya - Way Telema

HEAD (M) 4 5 2,5 7 4

DEBIT (m3/dtk) 5 9,4 6 2 22,75

DAYA (kW) 6 230,30 73,50 68,60 445,90

JARAK DARI KEC. (KM) 7 23

- Kec. Banding Agung

15

0,39

28,67

10

1,72

84,28

- Kec. Muara Dua Kisam

Muara Sindang - Air Kenik

12

11,7

687,96

4

Kab. Muara Enim - Kec. Tanjung Agung - Kec. Induk Semendo

Bedegung Aik Dingin/Babatan Penindaian Tanjung Agung/Siring S. Basung/Gunung Agung Air Bodor/ Cahaya Alam Segamit/ Tanjung Tebat

100 7 5 8 16 12 5

3,53 0,43 0,41 0,39 0,92 1,87 0,34

1729,70 14,75 10,05 15,29 72,13 109,96 8,33

2 15 17 18 15 30 22

- Kec. Pembantu Aremantei

*) Sumber data Laporan Survey Potensi Air Tim Teknis Kanwil DESDM Prop. Sumsel, 1999

386

Pembangunan & Kebijakan

Tabel 8. Indikasi Potensi Energi Panas Bumi di Sumatera Selatan No 1 Lokasi Rantau Dadap, Segamit Bukit Lumut Balai Kab/Kodya Lahat Potensi 250 Mwe (Hipotesis) 220 Mwe (Terduga) Keterangan Penyelidikan terpadu Geologi, Geokimia dan Landaian Suhu. Luas daerah prospek = 20 km2 dengan temperatur bawah permukaan 2600 C. Penyelidikan terpadu Geologi, Geokimia dan Geofisika dan Landaian Suhu. Luas daerah prospek = 10 km2 dengan temperatur bawah permukaan 2600 C. Anomali Hg dijumpai di sekitar sumber mata air panas 228 – 300 ppb, anomali CO2 dalam tanah adalah 0,36 – 0,72 % CO2 Mannifestasi panas bumi berupa mata air panas dengan suhu 32 – 420 C, debit 8 – 10 liter/menit, muncul pada 3 lokasi sepanjang struktur secara searah dengan sungai Air Luas. Anomali Hg = 400 s.d 20.000 ppb, dan anomali CO2 dalam tanah 0,2 s.d 0,93 %. Anomali resistivity (rendah) 3 – 10 ohm – meter dengan luas 3 – 4 km2. Manifestasi panas bumi terdapat sepanjang sungai Alahan berarah Baratlaut – Tenggara terdapat berupa fumarola dengan temperatur 96 – 1060 C, kubangan lumpur panas mata air panas dengan suhu subsurface berdasarkan geothermometer SiO2 adalah 199 – 2830 C dan berdasarkan geothermometer Na/K dijumpai di Gemurak Alahan, Gemuruk Bubur, Gemuruk Keniningan dan Gemurak Balirang. Anomali Hg dijumpai di sekitar sumber mata air panas 228 – 496 ppb, dan anomali CO2 dalam tanah adalah 0,36 – 0,72 % CO2. Manifestasi panasbumi muncul berupa mata air panas pada beberapa lokasi di tebing sungai Selunbung dengan temperatur 60 – 650 C dengan debit liter/menit.

2

Lahat

3

Ulu Danau (Pulau Beringin)

Ogan Komering Ulu (OKU)

6 Mwe (Spekulatif)

4

Marga Bayur (Lawang Agung)

Ogan Komering Ulu (OKU)

35 Mwe (Hipotesis)

5

Way Selabung

Ogan Komering Ulu (OKU)

6 Mwe (Spekulatif)

*) Sumber Direktorat Vulkanologi dan Divisi Panasbumi Pertamina, Januari 2000

Pembangunan dan Kebijakan

387

Tabel 9. Potensi Biomassa dari Limbah Pertanian NO 1 2 3 4 5 6 KABUPATEN Ogan Komering Ulu Ogan Komering Ilir Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin JUMLAH TON 293.749 379.923 83.762 60.170 169.442 275.870 1.262.916 POTENSI BIOMASSA SLM 97.705.195 131.168.895 27.475.770 17.771.867 56.448.638 92.019.712 422.590.077 kWh 361.871.093 485.810.722 101.762.111 65.821.730 209.069.030 340.813.748 1.565.148.434

Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Sumatera Selatan, 2001

Tabel 10. Total Potensi Biogas NO 1 2 3 4 5 6 KABUPATEN Ogan Komering Ulu Ogan Komering Ilir Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin JUMLAH TON 312.264 127.648 129.041 140.572 153.554 153.385 1.016.464 POTENSI BIOGAS SLM 7.146.335 2.873.731 2.904.644 3.163.234 3.504.140 3.466.555 23.058.639 kWh 26.467.907 10.643.448 10.757.941 11.715.681 12.978.296 12.839.093 85.402.366

Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Sumatera Selatan, 2001

Tabel 11. Potensi Kayu Bakar dari Perkebunan Dan Hutan NO 1 2 3 4 5 6 KABUPATEN Ogan Komering Ulu Ogan Komering Ilir Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin JUMLAH M3 1.606.857 4.678.542 1.092.912 600.639 2.011.527 5.456.391 15.446.868 POTENSI SLM 300.003.481 864.592.232 203.974.196 110.594.738 369.670.207 1.007.414.502 2.856.249.356 3.202.193.452 755.459.985 409.610.141 1.369.148.915 3.731.164.822 10.578.701.319 kWh 1.111.124.004

Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Sumatera Selatan, 2001 388 Pembangunan & Kebijakan

Tabel 12. PLTS Di Propinsi Sumatera Selatan Tahun 1998 s/d 2002 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 LOKASI OKI OKU Muara Enim Prabumulih Lahat Pagar Alam Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin Jumlah 1998 75 75 1999 83 83 Tahun 2000 40 40 80 2001 100 60 40 40 90 330 2002 86 74 160 JUMLAH UNIT 226 74 60 115 123 130 848

Dispertamben Sumsel, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, 2003

Tabel 13. Pembangunan Pembangkitan Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH) di Propinsi Sumatera Selatan TAHUN PEMBANGUNAN 1997/1998 1998/1999 1999/2000 2002

NO 1 2 3 4

LOKASI Desa Ulu Danau Kec. Pulau Beringin Kabupaten Ogan Komering Ulu Desa Muara Sindang Kec. Muara Dua Kisam Kabupaten Ogan Komering Ulu Desa Cahaya Alam Kec. Pembantu Aremantai Kabupaten Muara Enim Desa Tunggul Bate, Kec. Kota Agung, Kabupaten Lahat

KAPA-SITAS 30 kW 22 kW 40 kW 30 kW

Dispertamben Sumsel, Data dan Informasi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan, 2003

Pembangunan dan Kebijakan

389

BATUBARA

BAHAN BAKAR
-

BAHAN BAKU
Industri Petro Kimia Karbon Aktif Filter Elektroda

LANGSUNG
PLTU Semen Industri Kecil Rumah Tangga

KONVERSI

KARBONISASI
Kokas Briket Bahan Kimia (Ter, Amonia, Penol, dll) -

PENCAIRAN
Minyak Sintetis Bahan Kimia (Amonium Sulfat, belerang) -

GASIFIKASI
Gas Sintetis Bahan Kimia (Metanol, Etanol, Amonia, dll

Gambar 1. Pemanfaatan Batubara

IMPLEMENTASI DAN PENGEMBANGAN HASIL RISET DALAM RANGKA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA DAN MEMBANGKITKAN PEREKONOMIAN RAKYAT H. Machmud Hasjim*), H. Fuad Rusydi Suwardi**) , dan H. M. Taufik Toha**) *) Guru Besar pada Universitas Sriwijaya **) Staf Pengajar Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

ABSTRACT Science and technology is one device for modern society to solve their problems in individual and groups, including national problems. Realizing the importance of sciences and technology in solving national problems, Indonesian Government has formulated science and technology research and development policy which described in National Science and Technology Strategic Policy that explained National Priority of Research Science and Technology. In Indonesia, research has been well-developed, supported by existence of National Research Council and research fund from numerous government offices and non government organization as well as foreign research fund. The implementation of research result has not been optimum yet because of some difficulties, such as the research result achievement, socialization of research result, Intellectual property right, and lack of implementation fund. To support science and technology performance as apparatus to increase national intellectual and stimulate nation economic, some approach should be done, such as distribution of research result information, establishing local research institution, provide adequate funding for research and development and implementation of research result by tutorial and establish pilot plant. Besides local government should persuade industry to actively participate in science and technology research activities. ABSTRAK Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu alat utama bagi masyarakat modern dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi, baik dalam kehidupan pribadi maupun kelompok, termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Menyadari pentingnya peranan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, Pemerintah Indonesia telah menyusun kebijakan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang

Pembangunan dan Kebijakan

391

dijabarkan dalam Kebijakan Strategis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nasional (Jakstra Ipteknas) yang memuat Prioritas Utama Nasional Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Punas Ristek). Riset di Indonesia telah berkembang cukup baik dan didukung dengan adanya Dewan Riset Nasional (DRN) dan sumber dana riset yang berasal dari berbagai instansi pemerintah dan organisasi non pemerintah yang berminat serta dana bantuan luar negeri. Implementasi hasil riset yang dilaksanakan masih belum optimal karena adanya kendala berupa keberhasilan riset, sosialisasi hasil riset, Hak Atas Kekayaan Intelektual dan dana implementasi. Untuk menunjang peran Iptek sebagai alat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangkitkan perekonomian rakyat perlu dilakukan berbagai pendekatan dengan penyebarluasan informasi hasil riset, pembentukan lembaga riset di daerah, penganggaran dana untuk riset dan pengembangannya serta dana implementasi riset berupa penyuluhan dan pembangunan percontohan. Selain itu Pemerintah daerah juga perlu menghimbau partisipasi aktif dunia industri dalam kegiatan riset ilmu pengetahuan dan teknologi.

PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) merupakan salah satu alat utama bagi masyarakat modern dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi, baik dalam kehidupan pribadi maupun kelompok, termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Saat ini hampir tidak ada cara pemecahan masalah yang dihadapi oleh masyarakat modern yang dapat diselesaikan tanpa dukungan dan campur tangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada masa lalu, modal kesuksesan suatu bangsa ditentukan oleh berapa banyak sumber daya alam yang dimiliki. Tetapi paradigma baru yang berkembang saat ini, menyatakan bahwa modal utama kesuksesan suatu bangsa adalah sumber daya manusia yang berkualitas dan penerapan Iptek yang tepat sasaran di segala bidang. Dengan demikian Iptek merupakan basis baru bagi keberhasilan pembangunan dan kesejahteraan suatu bangsa, yang kemudian ditentukan oleh bagaimana bangsa tersebut mampu mewujudkannya menjadi landasan sistem perekonomian dan perindustrian secara bijaksana. Pada dasarnya tujuan utama dari pelaksanaan kebijakan Iptek adalah untuk meningkatkan daya saing nasional. Iptek berperan penting sebagai basis pembangunan yang komprehensif guna memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal.

A.

392

Pembangunan & Kebijakan

Menyadari pentingnya peranan Iptek tersebut, Pemerintah Republik Indonesia telah membentuk Dewan Riset Nasional (DRN) pada tahun 1992/1993 sebagai salah satu fasilitator riset. Selama ini DRN telah memfasilitasi program Riset Unggulan Terpadu (RUT) dimulai dari RUT I sampai dengan RUT IX. Program RUT tersebut bersifat multi-years dan membutuhkan biaya yang cukup besar, sementara anggaran untuk riset terbatas. Oleh karena itu program diberikan atas dasar persaingan yang ketat antara para pengusul. Di Indonesia anggaran riset yang tersedia cukup beragam, selain Riset Unggulan Terpadu, terdapat beberapa riset yang bersumber dari dana Departemen Pendidikan Nasional, dana riset yang berasal dari dana universitas/institut, serta dana bantuan luar negeri yang anggarannya juga terbatas. Hal yang patut disayangkan adalah hasil-hasil riset yang telah dilakukan belum diimplementasikan secara optimal dan belum dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Kendala implementasi hasil riset antara lain keberhasilan riset, sosialisasi, Hak Atas Kekayaan Intelektual, dan dana implementasi. B. KEBIJAKAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Segala bentuk teknologi dihasilkan dari kegiatan penelitian dan pengembangan serta rekayasa ilmu pengetahuan, baik penelitian dasar maupun penelitian terapan yang batas-batasnya juga tidak selamanya tegas dan jelas. Untuk keperluan jangka pendek Indonesia sangat memerlukan kegiatan penelitian, pengembangan dan rekayasa yang menghasilkan inovasi teknologi terterapkan, seperti yang diungkapkan dalam dokumen Kebijakan Strategis Pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nasional (JAKSTRA IPTEKNAS) 2000 – 2004 serta dijabarkan dalam Prioritas Utama Nasional Riset dan Teknologi (PUNAS RISTEK) 2001 – 2005. Visi dan misi pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional yang dicanangkan oleh JAKSTRA IPTEKNAS tercermin dari tujuan strategis yang ingin dicapai, yaitu : 1. Percepatan pemulihan dampak krisis ekonomi, dengan jalan mengerahkan sumber daya iptek yang mengatasi dampak krisis serta memanfaatkan momentum dan peluang yang terbuka untuk mempercepat laju pembangunan ekonomi. 2. Pemantapan tatanan sosial politik, untuk mengkaji berbagai perubahan paradigma serta menelaah kelemahan struktural dan kelembagaan yang perlu diatasi secara berkelanjutan untuk mengukuhkan pembangunan nasional.

Pembangunan dan Kebijakan

393

3. Pemberdayaan ekonomi nasional yang berkelanjutan, melalui penguatan dan peningkatan keefektifan dukungan iptek serta meningkatkan insentif untuk memperkuat struktur sistem produksi di pusat dan daerah. 4. Reposisi kelembagaan ilmu dan teknologi, dengan jalan meletakkan lembaga iptek pada posisi strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional. 5. Peningkatan kemandirian dan keunggulan, untuk meningkatkan daya saing pengkajian iptek dan menumbuhkan kemampuan berinovasi yang menjunjung tinggi hukum dan menghormati HAKI. 6. Penyelarasan dan pengembangan global, melalui penyediaan dukungan iptek untuk meningkatkan kompatibilitas pembangunan nasional dengan perkembangan global. Tumpuan JAKSTRA IPTEKNAS 2000 – 2004 tertumpu pada hal-hal pokok berikut : 1. Pembinaan sumber daya manusia, yang diutamakan karena dianggap merupakan faktor penentu keberdayaan semua upaya serta keberlanjutan langkah-langkah selanjutnya, khususnya dalam meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan, mengembangkan dan menguasai iptek untuk mendukung pembangunan nasional. 2. Pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan iptek, yang perlu ditingkatkan secara menyeluruh karena misalnya peran matematika dan ilmu-ilmu seperti ilmu komunikasi dan ilmu administrasi publik merupakan landasan untuk meningkatkan terciptanya invensi dan kelancaran difusi teknologi melalui kegiatan penelitian, pengembangan, dan rekayasa yang tertata dalam sistem inovasi nasional. 3. Peningkatan penelitian, pengembangan, dan rekayasa untuk mendukung pembangunan nasional, yang sesuai dengan tujuan dan fokus PUNAS IPTEKNAS telah dijabarkan dalam Prioritas Utama Nasional Riset dan Teknologi (PUNAS RISTEK) 2001 – 2005. Adapun bidang-bidang utama yang dianggap perlu diprioritaskan adalah : a. Sosial budaya (dampak teknologi pada perilaku, hubungan pusat dan daerah, dukungan massa pada pembangunan berbasis iptek, mengantisipasi dan mengatasi konflik sosial politik di daerah rawan). b. Pengembangan sistem-sistem nasional, sektoral dan daerah (penataan sistem-sistem kepariwisataan, sistem pasar dan perdagangan tradisional, sistem iptek nasional, sistem inovasi daerah) c. Pertanian dan pangan (pengembangan teknologi pertanaman/hortikultura, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan kehewanan – semuanya dengan melibatkan bantuan bioteknologi)

394

Pembangunan & Kebijakan

d. Kesehatan (pengembangan instrumen dan bahan serta alat kedokteran strategis, penyempurnaan teknologi kontrasepsi, penanggulangan penyakit menular, gangguan gizi dan jiwa, pengembangan biofarmasi – semuanya dengan melibatkan dukungan bioteknologi) e. Lingkungan (pemonitoran, analisis, remediasi, restorasi, teknologi bersih dan pengendalian pencemaran, pemanfaatan limbah meliputi penggunaan kembali reuse, penggunaan ulang ke dalam bentuk lain recycle, pengambilan kembali recovery) f. Kelautan, kebumian, dan kedirgantaraan (industri maritim, air, pertambangan dan sumber daya alam, iklim, interaksi biosfer-atmosfer, mitigasi bencana alam, sistem informasi) g. Transportasi dan logistik (pengembangan sistem dan sarana di darat, laut, dan udara) h. Energi (efisiensi ekonomi, penyimpanan, transmisi, dan distribusi) i. Manufaktur (terutama untuk industri kecil dan menengah serta koperasi : persisi, simulasi, pemodelan, pengendalian mutu, manajemen produksi termasuk pemasarannya). j. Informasi berbasis teknologi mikroelektronika (pengembangan sistem dan peranti keras serta lunak, pemanfaatan) k. Bahan baru (keramik, komposit, polimer, bahan kinerja tinggi)

KENDALA IMPLEMENTASI HASIL RISET Selama beberapa dekade terakhir telah banyak riset dilaksanakan yang bersumber dari berbagai pendanaan. Biaya yang digunakan untuk riset tersebut cukup besar dan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Namun demikian sangat disayangkan, implementasi hasil riset tersebut masih relatif kecil dan belum optimal sehingga peranan Iptek dalam memecahkan persoalan bangsa serta membantu pengentasan kemiskinan masih belum terasa secara nyata oleh masyarakat. Dalam mengimplementasikan hasil-hasil riset (khususnya hasil Riset Unggulan Terpadu), terdapat berbagai kendala dan hambatan yang perlu dicermati, antara lain mengenai keberhasilan riset, sosialisasi hasil riset, Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) peneliti dan dana implementasi riset. 1. Keberhasilan Riset Keberhasilan riset sangat tergantung pada metodologi pelaksanaan riset, sumberdaya manusia dan peralatan yang digunakan.

C.

Pembangunan dan Kebijakan

395

Sebagian riset yang dilaksanakan mungkin tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan, misalnya terjadi kesalahan asumsi/ hipotesa, kesalahan peralatan, maupun kesalahan manusia. Hasil riset yang telah dilaksanakan, diperkirakan setidaknya 40 – 50% telah memberikan hasil yang memuaskan. Riset yang kurang berhasil tersebut, umumnya tidak dipublikasikan dan tentunya tidak dapat diterapkan dan perlu penyempurnaan.

2.

Sosialisasi hasil riset Implementasi hasil riset perlu dilaksanakan dengan mempertimbangkan sumber daya di daerah dan kondisi budaya serta adat-istiadat penduduk setempat yang akan memanfaatkan hasil riset tersebut. Selama ini seringkali bantuan pemerintah dalam bentuk implementasi riset kepada masyarakat tidak mendapat tanggapan yang baik karena masyarakat cenderung mempertahankan kebiasaan turun-temurun yang berlaku di daerahnya sehingga kurang berminat terhadap implementasi hasil riset. Untuk mengoptimalkan bantuan pemerintah tersebut, sebelum dilaksanakan implementasi hasil riset di lapangan (pada masyarakat), perlu dilakukan sosialisasi, sehingga masyarakat mengetahui keunggulan teknologi serta berminat untuk mengimplementasikannya. Dengan demikian diharapkan tujuan bantuan dapat tercapai serta tumbuhnya rasa memiliki di masyarakat sehingga perawatan dapat dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Hak Atas Kekayaan Intelektual Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan salah satu faktor yang bersifat kontradiktif dengan kemudahan akses informasi hasil riset dan implementasi riset. Seringkali atas alasan perlindungan HAKI, maka hasil riset bersifat tertutup dan tidak dapat dimanfaatkan masyarakat. Implementasi hasil riset perlu dilaksanakan agar dapat dinikmati masyarakat, untuk itu masalah hak atas kekayaan intelektual peneliti perlu mendapat perhatian semua pihak agar didapat win-win solution dan tujuan utama penelitian dan pengembangan iptek guna menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara dapat tercapai.

3.

396

Pembangunan & Kebijakan

4.

Dana Implementasi Riset Selama ini terdapat cukup banyak sumber dana riset di Indonesia, namun dana tersebut dikhususkan untuk pelaksanaan riset dan umumnya tidak mencakup dana untuk implementasi hasil riset. Selain penganggaran dana untuk pelaksanaan riset, perlu dianggarkan dana untuk menunjang implementasi hasil riset, misalnya dana untuk penyuluhan untuk riset yang bersifat budidaya dan dana pembangunan percontohan (pilot plant). PEMBANGUNAN BERBASIS IPTEK Penyebarluasan informasi hasil riset Tujuan strategis pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah penyelesaian persoalan bangsa dan negara, yang antara lain adalah percepatan pemulihan dampak krisis ekonomi, pemantapan tatanan sosial politik, pemberdayaan ekonomi nasional yang berkelanjutan, reposisi kelembagaan ilmu dan teknologi, peningkatan kemandirian dan keunggulan serta penyelarasan dan pengembangan global. Untuk mencapai tujuan strategis tersebut, hasil-hasil riset perlu disebarluaskan dan diimplementasikan kepada masyarakat. Penyebarluasan informasi hasil riset dapat dilaksanakan melalui seminar, lokakarya, dan pertemuan ilmiah lainnya, serta memanfaatkan media komunikasi yang ada. Dengan adanya informasi mengenai hasil riset, masyarakat yang berminat untuk mengimplementasikan dapat menghubungi peneliti yang bersangkutan. Pembentukan lembaga riset di daerah Dalam rangka mengoptimalkan fungsi Dewan Riset Nasional di era otonomi daerah untuk penyebaran informasi hasil riset, maka Dewan Riset Nasional perlu memiliki mitra di daerah. Sehubungan dengan kondisi tersebut Pemerintah Daerah perlu membentuk lembaga riset di daerah misalnya pembentukan Dewan Riset Daerah (DRD) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda). Lembaga-lembaga riset di daerah tersebut merupakan mitra bagi Dewan Riset Nasional dan diberikan kemudahan untuk mendapatkan informasi hasil riset di Dewan Riset Nasional. Selama ini hasil-hasil riset di pusat (misalnya hasil Riset Unggulan Terpadu) telah diinformasikan melalui internet, namun belum banyak diketahui daerah, mengingat teknologi internet ini relatif baru dikembangkan di daerah. Untuk itu Pemerintah Daerah, melalui Balitbangda, Bappeda dan DRD serta

D. 1.

2.

Pembangunan dan Kebijakan

397

lembaga-lembaga penelitian lainnya perlu lebih proaktif untuk menginventarisir hasil-hasil riset RUT agar dapat dipelajari dan dikembangkan guna diimplementasikan di daerah sesuai dengan kondisi dan potensi daerah. Keberhasilan implementasi hasil riset juga akan dipengaruhi oleh budaya dan kebiasaan adat-istiadat masyarakat setempat. Sehubungan dengan hal tersebut DRD berperan penting karena lebih mengenal budaya dan adat masyarakat setempat. Melalui pendekatan dan sosialisasi yang baik dan terencana, diharapkan implementasi hasil riset di daerah akan dapat berjalan secara optimal dan program pembinaan dapat dilaksanakan dengan lebih ekonomis. 3. Pengembangan dan implementasi riset Hasil riset yang telah dilaksanakan, perlu terus dikembangkan guna meningkatkan keandalannya dan agar dapat disesuaikan dengan potensi daerah, misalnya dengan teknologi substitusi bahan atau pengembangan guna mendapat efek lain yang menguntungkan. Pengembangan hasil riset ini memiliki keunggulan karena dari sisi biaya relatif ringan karena tidak memulai riset yang baru dan hanya mengembangkan riset yang telah ada. Dengan demikian daerah bukan hanya menjadi pengguna akhir (end user) hasil riset, namun dapat mengembangkannya sesuai potensi daerah, di samping melaksanakan riset sendiri. Pola demikian akan dapat meningkatkan kemitraan antara DRN dan DRD secara saling menguntungkan guna mengatasi persoalan bangsa dan negara serta mensukseskan pembangunan nasional. Untuk program jangka pendek, prioritas hasil riset yang perlu diimplementasikan adalah riset teknologi tepat guna yang dapat langsung dimanfaatkan masyarakat dengan biaya yang relatif terjangkau. Sedangkan hasil riset teknologi tinggi dengan biaya investasi relatif besar sebaiknya diprioritaskan untuk program jangka menengah – panjang. Implementasi hasil riset dapat memotivasi para peneliti dan memacu perkembangan perekonomian rakyat. Pendanaan riset di daerah Selama ini dana untuk riset dan implementasinya masih sangat terbatas. Dalam rangka mengembangkan pembangunan yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten perlu menganggarkan dana riset secukupnya serta menghimbau para pelaku industri untuk turut serta dalam pengembangan iptek. Dengan demikian

4.

398

Pembangunan & Kebijakan

kegiatan penelitian dan pengembangan dapat berjalan dengan baik dan dapat menunjang pembangunan. Selain menganggarkan dana untuk pelaksanaan riset, Pemerintah perlu juga menganggarkan dana untuk menunjang implementasi hasil riset agar pengimplementasian hasil riset dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan lebih cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

E.

PENUTUP Selama ini peranan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta daya saing nasional terus diupayakan, namun hasil yang dicapai belum optimal. Hal ini terutama dikarenakan sebagian besar hasil riset belum diimplementasikan secara optimal. Di era otonomi dewasa ini, Pemerintah Daerah perlu berperan aktif dengan membentuk lembaga riset di Daerah guna bermitra dengan lembaga riset di Pusat untuk memudahkan mencari informasi mengenai hasil riset yang telah dilaksanakan baik di daerah dan skala nasional maupun internasional. Hasil riset perlu terus ditumbuhkembangkan agar dapat meningkatkan nilai tambah serta nilai ekonomisnya guna mendukung implementasinya di masyarakat. Implementasi hasil riset perlu dilaksanakan agar dapat dinikmati masyarakat serta menunjang keberhasilan pembangunan nasional. Implementasi perlu didahului dengan sosialisasi kepada masyarakat penerima agar dapat berhasil guna secara optimal. Dengan demikian dapat dicapai pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan serta kualitas hidup masyarakat dan lingkungan. Kegiatan penelitian dan pengembangan perlu didukung pendanaan yang cukup, untuk itu Pemerintah perlu menganggarkan dana secukupnya dan menghimbau peran serta aktif kalangan industri. Disamping itu, Pemerintah Daerah juga perlu menganggarkan dana untuk menunjang implementasi hasil riset yang diprioritaskan pada hasil riset teknologi tepat guna melalui penyuluhan dan percontohan (pilot plant) untuk membangkitkan perekonomian rakyat.

Pembangunan dan Kebijakan

399

DAFTAR PUSTAKA …., “Buku Panduan Riset Unggulan Terpadu (RUT) IX”, Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Jakarta, 2000. Robiyanto H. Susanto, “Tugas dan Fungsi Dewan Riset Daerah (DRD) Sumatera Selatan”, Makalah disampaikan pada Rapat Koordinasi Program Kerja Balitbangda – DRD Sumsel pada Tanggal 27 – 28 Desember 2001. Taufik Toha, “Peran Litbang dalam Menunjang Pemberdayaan Bahan Galian Industri di Era Otonomi Daerah”, Prosiding Kolokium Pertambangan Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, Bandung, 2001.

400

Pembangunan & Kebijakan

MENGHARAPKAN DUKUNGAN PEMERINTAH PUSAT TERHADAP PROGRAM SUMATRA SELATAN SEBAGAI LUMBUNG ENERGI NASIONAL H. Machmud Hasjim H.M. Taufik Toha

I.

PEMBANGUNAN PLTU BATUBARA Dalam rangka mengatasi defisit energi listrik nasiona, Pemerintah melalui Peraturan President Nomor 71 Tahun 2006 telah memprogramkan untuk mmebangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara dengan total daya sebesar 10.000 MW. PLTU tersebut direncanakan akan dibangun di berbagai daerah di Indonesia (sebagai besar di Pulau Jawa dan sebagaian lagi di luar Jawa seperti Propinsi Lampung, Propinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara dan lain-lain). Program pembuatan PLTU tersebut merupakan suatu program yang sangat dibutuhjab saat ini dikala negara kita sedang mengalami krisis energi listrik sehingga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat. Kita masih iangt betapa bahagianya masyarakat Sumatera Selatan ketika Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono menyambut baik keinginan masyarakat Sumatera Selatan dengan mencanangkan Propinsi Sumatera Selatan sebagai Propinsi Lumbung Energi Nasional pada tanggal 9 November 2004 yang lalu. Diterbitkannya Peraturan President Nomor 71 Tahun 2006 dimana ditetapkan akan dibangun PLTU batubara dengan total daya 10.000 MW, tetapi tidak satu pun dari PLTU tersebut akan dibangun di Propinsi Sumatera Selatan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa Sumatera Selatan tidak mendapat alokasi pembangunan PLTU tersebut? Kita yakin terbitnya Perpres tersebut telah dilandasi oleh pertimbangan yang matang dan didasarkan atas berbagai aspek yang terkait. Penetapan tersebut mungkin didasarkan atas pertimbangan : - Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan selama ini terus mengsosialisasikan rencana pembangunan PLTU Batubara Mulut Tambang swasta (IPP) seperti PLTU Banko 4 x 600 MW, PLTU Banjarsari 2 x 100 MW PLTGU PT. Energi Musi Makmur 2 x 100 MW dan lain-lain, sehingga Pemerintah Pusat mungkin mempertimbangkan telah cukup

Pembangunan dan Kebijakan

401

-

-

banyak PLTU yang akan dibangun di Sumatera Selatan, oleh karena itu tidak dialokasikan lagi pembangunan PLTU di Sumatera Selatan oleh Pemerintah Pusat. Pengguna energi liatrik yang besar (pusat beban) di Indonesia saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara trasmisi kabel laut Jawa Sumatera belum ada. Daerah di Sumatera yang mendapat alaokasi pembangunan PLTU seperti Provinsi Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara merupakan lokasi yang mengandalkan PLTA sebagai pembangkit dimana keandalan pembangkit ini sangat dipengaruhi oleh musim. Kemungkinan atas pertimbangan tersebut, Pemerintah menetapkan untuk membangun PLTU (dengan daya yang relatif kecil dibandingkan yang akan dibangun di Jawa) guna menjamin ketersediaan energi listrik di daerah tersebut.

Mengingat Propinsu Sumatera Selatan telah dicanangkan sebagai Propinsi Lumbung Energi Nasional, diharapkan Pemerintah Pusat dapat mempertimbangkan kembali alokasi pembangunan PLTU untuk di Sumatera Selatan. Semua PLN telah mempunyai rencana membangun jaringan kabel laut Sumatera – Jawa (melalui Selat Sunda) dengan kapasitas 2100 MW yang akan dibangun tahun 2007. selain itu jaringan transmisi Sistem Interkoneksi Sumatera telah cukup berkembang dan hanya membutuhkan sedikit investasi agar memungkinkan Sumatera Selatan mengirimkan energi listrik ke seluruh Sumatera. Untuk mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap Peraturan President Nomor 71/2006 yang telah ditetapkan tersebut diperlukan kajian (teknis, ekonomis, hukum, politik dan sebagainya) dari para ahli di bidangnya masing-masing agar mampu menghasilkan argumenatsi yang kuat sebagai dasar yang kokoh bagi peninjauan kembali. Kajian Teknis Potensi Sumberdaya Alam Sumatera Selatan memiliki potensi sumberdaya alam antara lain sumberdaya energi, pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan dan sebagainya. Potensi sumberdaya energi (batubara, minyak dan gas bumi serta enegi baru dan terbarukan) yang dimiliki Sumatera Selatan cukup besar. Cadanfgan batubara Sumatera Selatan mencapai ± 40% cadangan batubara nasional dengan kualitas yang sesuai untuk digunakan sebagai

402

Pembangunan & Kebijakan

bahan bakar pada PLTU (kandungan abu < 10% dan kandungan sulfur < 10%) Letak geografis Sumatera Selatan yang strategis yang memungkinkan Sumatera Selatan untuk mengirimkan energi lisrik ke Sistem Sumatera dan Sistem, Sumatera – Jawa – Bali (bila telah ada jaringan kabel laut) Lokasi-lokasi di Sumatera yang direncanakan akan dibangun PLTU (Lampung, Sumatera Barat dan Sumatera Utara) tidak mempunyai potensi batubara yang cukup. Sistem Ketenagalistrikkan di Sumatera Selatan yang telah terinterkoneksi dalam Sistem Inteterkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Barat – Riau (Sumbagsel – Sumbar – Riau) yang sedang dalam tahap pengembangan untuk diinterkoneksikandengan Sistem Sumatera Bagian Utara (Bumbagut) untuk menjadi Sistem Interkoneksi Sumatera. Potensi Sumberdaya Manusia Pemerintah Sumatera Selatan memiliki SDM untuk pengembangan ketenagalistrikan dan keenergian pada umumnya. Pada Tahun 2005, Sumatera Selatan telah menyusun Bleu Print Pengelolaan Energi Daerah (PED) 2005 – 2025 atas kerjasama Pusat Informasi Energi Direktorar Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (LP3M) Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya. Pada Tahun 2005 Sumatera Selatan telah menyusun Master Plan Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional 2006 – 2025 dengan bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan universitas Sriwijaya. Itu juga telah disusun Master Plan Sumatera Selatan Sebagai Lumbung Pangan atas kerjasama Universitas Sriwijaya dengan Dinas/Instansi terkait di Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Atas berbagai pertimbangan tersebut, sangat beralasan bila Provinsi Sumatera Selatan mendapat alokasi sebagian dari rencana pembangunan PLTU 10.000 MW, khususnya untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di Sumatera dan sebagian di Pulau Jaya.

Pembangunan dan Kebijakan

403

II. PENGEMBANGAN BATUBARA Menindaklanjuti Program Sumatera Selatan Sebagian Lumbung Energi Nasional yang telah direncanakan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, tanggal 9 November 2004 yang lalu. Menteri Negara Riset dan Teknlologi, Bapak Kusmayanto Kadiman, telah menunjukkan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya sebagai Lembaga Pengelola Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) Pengembangan Energi dengan fokus bidang riset Pencairan Batubara dengan metode Brown Coal Liquefaction (BCL) dan Biodisel dari minyak kelapa sawit (CPO) Pelaksanaan RUSNA Pengembangan Energi dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Sriwijaya bekerjasama dengan peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Pengembangan Teknologi Upgrading Brown Col (UBC) Pada bulan Desember 2004 telah dibangun Pilot Plant UBC kapasitas 5 ton/hari di Palimanan, Cirebon yang dikelola oleh DESDM (P3Tekmira Bandung). Pada tahun 2006 direncanakan akan dibangun Demo Plant UBC kapasitas 1000 ton/hari di Palimanan, Cirebon yang juga akan dikelola oleh DESDM (P3Tekmira, Bandung). Enegi Nasional tanggal 12 Desember 2005 di BPPT, Jakarta dan tanggal 29 Desember 2005 diadakan Seminar Nasional Master Plant SumSel sebagai Lumbung Energi Nasional di Hotel Swarna Dwipa Palembang. Menteri Energi dan Sumberdaya Minarl, Bapak Purnomo Yusgiantoro, pada prinsipnya tidak berkeberatan/setuju bila Demo Plant tersebut dibangun di Sumatera Selatan atas pertimbangan dekat dengan bahan baku (potensi batubara peringkat rendah Sumatera Selatan). Semoga Demo Plant UBC 2006 dapat direalisasikan di Sumatera Selatan. Pengembangan Teknologi Pencairan Batubara (BCL) Penelitian skala laboratorium pencairan batubara dengan metode Brown Coal Liquefaction (BCL) telah dilakukan atas kerjasama Pemerintah Republik Indonesia (BPPT dan T3Tekmira) dengan dengan Pemerintah Jepang (NEDO) Secara teknis penelitian tersebut feasible karena menghasilkan produk batubara cair (yield) yang cukup banyak, untuk batubara Banko Tanjung Enim dengan yield 65%..

404

Pembangunan & Kebijakan

Pada harga minya mentah dunia pada waktu itu (tahun 2003) berkisar 40 USD per barrel masih belum ekonomis karena biaya produksi BCL berkisar 30 – 35 USD per barrel. Dengan harga minyak mentah dunia saat ini yang mencapai ± 75% USD per barrel maka prospek BCL sangat menjanjikan. Pada tahun 2006 direncanakan akan dibangun Pilot Plant BCL untuk batubara Indonesia (PTBA Tanjung Enim) kapasitas 1 ton/hari di Palimanan, Cirebon yang akan dikelola oleh Departemen ESDM (P3Tekmira, Bandung) Diharapkan penetapan lokasi rencana pilot plant BCL tersebut kiranya dapat dibangun di Sumatera Selatan dan pengelolaannya tetap dilakukan oleh Departemen ESDM mengingat : - President Republik Indonesua, Bapak Susilo Bambang Yudhyono telah mencanangkan Sumatera Selatan sebagai Lumbung Energi Nasional pada Tanggal 9 November 2004 yang lalu. - Kegiatan RUSNAS Pengembangan Energi yang difokuskan pada pengembangan BCL - Dekat dengan bahan baku (potensi batubara peringkat rendah Sumatera Selatan) Dari kajian teknis di atas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Sumatera Selatan layak mendapatkan sebagian alokasi dari rencana Pemerintah Pusat untuk membangun PLTU Batubara 10.000 MW 2. Sumatera Selatan logis dan strategis sebagai lokasi pembangunan Semo Plant UBC (Upgraded Brown Coal) dan Pilot Plant BCL (Brown Coal Liquefaction). 3. PERPRES No. 71/2006 tanggal 5 Juli 2006 perlu ditanjau ulang/dipertimbangkan kembali oleh Pemerintah Pusat. Perhatian dan Kebijakan Bapak Presdient/Wakil President Republik Indonesia untuk mempertimbangkan usulan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan merupakan dukungan dalam percepatan pembangunan Sumatera Selatan sebagai Lumbu energi Nasional.

Pembangunan dan Kebijakan

405

DIMENSI KEEMPAT
1. Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan 2. Pokok Pikiran Penyiapan Sumber Daya Manusia yang berwawasan guna mendukung pembangunan Kelautan Sumatera Selatan 3. Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi 4. Pengembangan Masyarakat (Community Development) PT. Tambangan Batubara Bukit Asam (Persero) 5. Pembangunan Daerah dengan aparatur yang bersih dan berwibawa dalam rangka menyongsong otonomi daerah 6. Prospek kerjasama bidang Pendidikan dan Agama Dunia Melayu Dunia Islam 7. Implementasi dan pengembangan hasil Riset dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangkitkan perekonomian rakyat 8. Kegiatan pertambangan dan Otonomi Daerah 9. Pembahasan Tentang Peningkatan Peran Perkeretaapian di Sumatera Selatan 10. Profesionalitas: Peluang dan Hambatan (Makalah pada Lustrum III Politeknik Universitas Sriwijaya, 20 September 1997) 11. Skills Toward 2020 For Global Era, (Member of the steering Committe, Ministry of Education and Culture, RI, Oktober 1997) 12. Pengembangan Etos Kerja: Tantangan bagi Pembangunan Pendidikan, (bagian dari buku Indonesiaku, Indonesiamu, dan Indonesia Kita) 13. Workshop/Pelatihan, BEM – FT Universitas Sriwijaya, “Optimalisasi

Peningkatan Aktifitas Ilmiah: Upaya Membangun Potensi Diri Yang Intelektual dan Berkualitas, (Makalah disampaikan pada tanggal 18 – 20 April 2003) 14. KIPNAS VIII: “ Implementasi dan Pengembangan Hasil Riset Dalam Rangka Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangun Perekonomian Rakyat”, (Makalah disampaikan pada tanggal 9 - 11 September 2003 di Jakarta) 15. Seminar Nasional Hukum Pertambangan Makalah:“Kegiatan Pertambangan dan Otonomi Daerah“, Palembang, 22 Juli 2008. 16. “Keynote Speech”,Lokakarya Pimpinan UTP, Organisasi dan Pemberdayaan SDM, Palembang 18 -19 Mei 2006.

408

Pengembangan SDM

PENINGKATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI PEDESAAN

Machmud Hasjim

A.

PENDAHULUAN

Seperti telah kita ketahui bersama, sejak pertengahan tahun lalu bangsa kita berada dalam suatu situasi yang kurang menggembirakan dan kurang menguntungkan dalam ber bagai bidang kehiduan, terutama situasi ekonomi. Semua pihak sepakat bahwa kita berada dalam suatu situasi krisis, yaitu suatu situasi yang genting, bahkan cenderung berbahaya. Kita menghadapi suatu situasi kemelut atau suram. Ulasan atau analisis dari dampak krisis yang melanda kawasan ini, atau Aia Timur dan Asia Tenggara, sedangkan secara intenal adalah kurang kuatny ekonomi fundamental kita menghadapi berbagai gejolak yang terjadi di seputar kita. Tentu saja masih banyak hal lain yang menyebabkan bangsa kita sampai berada dalam situasi semacam ini, dan menyeretnya ke arah situasi yang angat tidak kita hendaki ini. Situasi semacam ini merupakan pengalaman yang sangat sulitn untuk diatasi dan terasa amat pahit bagi perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Walaupun pada dasarnya situasi semacam ini melanda semua bidang kehidupan bangsa kita, namun yang terasa sangat berat akibatnya bagi sebagian besar bangsa kita adalah dalam bidang kehidupan ekonomi, baik dalam lingkup makro maupun mikro. Kenyataan menunjukkan bahwa bangsa kita pada saat ini berada dalam posisi yang sangat sulit, dan bahkan terjepit. Krisis ekonomi dan krisis moneter merupakan perwujudan dari situasi yang kurang menguntungkan. Sulitnya mempertahankan keberlangsungan suatu usaha ekonomi, misalnya perbankan, berbagai jenis usaha industri dan jasa, menyebabkan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berada dalam tingkat yang sangat mengkhawatirkan semua pihak. Misalnya Media Indonesia melaporkan bahwa selama 8 bulan terakhir ini telah terjadi 51.953 PHK di seluruh Indinesoa, 5.682 orang di antaranya terjadi di Sumatera Selatan. Menurut harian Kompas dari Januari hingga Maret 1998 telah PHK sebanyak 18.000 orang dari 112 perusahaan. Di samping terjadi PHK relatif cukup besar, situasi semacam ini juga amat sulit untuk membuka peluang kerja untuk menampung pekerja yang kena PHK dan ada kecenderungan tertutup kesempatan bagi angkatan kerja baru yang membutuhkan pekerjaan yang setiap tahun terus bertambah dalam jumlah yang luar biasa besarnya, sekitar 3 juta orang. Akibat lain dari gejolak moneter yang sampai saat ini belum ada tanda-tanda ke arah terjadinya stabilitas tukar Pengembangan SDM 409

rupiah terhadap dolar adalah kenaikan harga semua jenis barang dan kebutuhan, terutama sembilan bahan pokok dan obat-obatan yang sebagian besar mendekati angka-angka fantastis, terutama yang bahan sebagian besar bahan bakunya didatangkan dari luar negeri, hampir mencapai 400%. Ini menyebabkan tingginya angka inflasi yang selama masa Pemerintahan Orde Baru belum pernah terjadi. Inflasi yang melebihi 20% merupakan inflasi tertinggi selama hampir 35 tahun terakhir ini. Keadaan ini menjadi lebih diperparah dengan menurun dan makin terbatasnya kemampuan daya beli masyarakat. Semua ini akan dapat menimbulkan dampak yang kurang menguntungkan dalam bidang psikolgis, sosial, politik dan keamanan. Munculnya keresahan asyarakat tidak dapat dihindarkan. Dampaknya akan terjadi kerawanan dalam berbagai bidang kehidupan. Barangkali masyarakat di daerah pedesaanlah yang paling kurang beruntung. Selain karena kekurangan akses untuk memperoleh kesempatan, di pedesaan juga tidak tersedia sumber-sumber penghidupan atau jenis-jenis pekerjaan yang bervariasi, walaupun secara profesional memiliki daya dukung ekonomi tinggi. Sikap yang paling arif yang perlu kita kembangkan adalah menerima keadaan ini sebagaimana adanya dan berupaya sekuat tenaga keluar sesuai dengan memaksimalkan potensi dan kemampuan yang kita miliki dari kemelut ini dalam waktu yang secepat-cepatnya dan dengan menggunakan wahana atau tata cara yang sesuai dengan aturan yang berlaku dan kaidah serta norma yang tidak bertentangan dengan pandangan hidup bangsa kita. Inilah gambaran keprihatinan kita pada saat ini. Apa yang perlu kita lakukan adalah mengadakan instropeksi diri dengan berpegang kepada semboyan hidup jer basuki mowo beyo, rumongso handarbeni, wajib hangrungkebi, mulat sariro hangrosowani atau perjuangan ini membutuhkan pengorbanan baik moril maupun material, dibarengi dengan perasaan memiliki, ikut bertanggung jawab dan berani mengevaluasi diri.

B.

KOMITMEN DAN TANGGUNG JAWAB MORAL

Keberhasilan perjuangan bangsa baik dalam penjajahan maupun pembangunan bangsa pada era kemerdekaan, selalu didorong oleh kekuatan moral yang selalu menjadi landasan perjuangan dan pandangan hidup bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Komitmen merupakan perjanjian atau keterkaitan untuk mewujudkan niat dan tekad untuk melakukan sesuatu secara taat asas. Tanggung jawab berarti suatu keadaan wajib menanggung segala akibat dari perbuatan yang dilakukannya. Sedangkan moral berarti ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, kesusilaan dan sebagainya. Dengan kalimat lain dapat diungkapkan bahwa komitmen dan tanggung jawab moral adalah perilaku yang berupaya untuk menepati perjanjian

410

Pengembangan SDM

dan berani menanggung segala akibatnya atas perbuatan, sikap, kewajiban untuk mempertahankan kebaikan yang diterima oleh masyarakat. Komitmen dan tanggung jawab moral ini dalam praktiknya muncul dalam berbagai bentuk kegiatan yang sangat beragam. Manifestasi komimen dan tanggungjawab moral itu antara lain dalam bentuk (1) ketakwaan kepada Allah SWT, yang dampaknya membuat masyarakat Indonesia suatu masyarakat yang bersifat religius. Masyarakat religius adalah asyarakat yang enempatkan hukum Allah di atas segala-galanya. Makna religius yang mewarnai lebih harmonis, penuh dengan kedamaian dan keindahan. Secara horizontal bangsa yang religius adalah bangsa dapat menghargai makna dan memberi penghargaan yang tinggi kepada kerja keras, dan selalu berupaya untuk mewujudkan bekerja keras sebagai bagian dari dirinya, tidak mengenal lelah, ulet dalam berjuang, ikhlas, menghargai waktu, tidak boros, disiplin, mempunyai perencanaan masa depan, tidak sombong, menghargai dan selalu berupaya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, jujur, terbuka dan selalu berpikir positif. Secara vertikal, bangsa yang religius adalah bangsa yang selalu mengangungkan kebesaran Allah SWT, dengan segala akibat atas apa yang diyakini sebagai kebenaran. Ini dapat terjadi kalau ketakwaan ini telah menyatu dalam diri kita dan kita komit untuk secara konsisten melaksanakan perintah dan menghindarkan diri dari larangan hukum Allah itu. Bilamana landasan ini dipedomani dalam bersikap dan berperilaku, maka sulit dimengerti bilamana masih terjadi penyimpangna-penyimpangan yang sangat merugikan pihak-pihak lain. Perilaku masyarakat kita yang sangat sarat dengan pengalaman spiritual religius ini pad akhirnya akan dapat diamati mellaui ketaatannya sejalankan perintah Allah dan sikap kasih sayangnya kepada sesama manusia tanpa membedakan perbedaan yang secara lahiriah melekat pada orang lain tersebut. Disini (2) sikap sosial yang peka terhadap keadaan sekelilingnya muncul. Kalau kita meyakini bahwa komitmen dan tanggung jawab moral bangsa menjadi landasan berperilaku maka kepedulian kita terhadap orang lain, lingkungan dan mahluk lain akan tumbuh subur di setiap hati asnu bari bangsa kita. Kepedulian sosial ini terutama ditujukan kepada mereka yang berada di sekitar kita, tetangga kta, masyarakat lain di kampung kita, masyarakat di desa kita dan seterusnya berkembang ke lingkup yang lebih luas yaitu di manapun ereka berada. Pemahaman tentang hakiki makna silaturahmi dengan orang lain, masyarakat lain, bahkan bangsa lain bagi bangsa bukan barang baru dan ini akan terus dikembangkan. Sehingga komunitas bangsa ini selalu tanggap terhadap peristiwa yang terjadi, terutama diseputar kita. Potensi kepudulian sosial yang memberi warna dan ciri khas ini yang seyogyanya terus dipelihara dan dikembangkan serta diamalkan. Masalah pengalaman sikap kepedulian sosial ini nampaknya belum sebagaimana yang kita harapkan. Masih banyak hambatan yang kadang-kadang

Pengembangan SDM

411

sangat sulit untuk diselesaikan. Bahkan pengamatan kita menunjukkan bahwa kesenjangan sosial menjurus ke arah yang tidak kita inginkan. Nampaknya gambaran tentang belum tercapainya pengembangan kepedulian sosial ini bagi sebagaian besar anggota masyarakat kita makin dipercepat dan dipertajam sejalan dengan pergeseran dan kecenderungan arah acuan kehidupan sebagaian besar masyarakat kita, yaitu hedonisme materialistis. Munculnya masalah kurang berkembangnya kepedulian sosial inilah yang memicu terjadinya kesenjangn sosial. Kesenjangan sosial ini nampaknya makn lama makin bertambah tajam dan bertambah luas. Kesenjangan sosial terjadi di mana-mana, di desa, di kota kecil dan makin nampak di kota-kota besar. Ini seharusnya menjadi perhatian kita semua untuk mencari penyebabnya; mencegah, kalau tidakmenghentikan, percepatan perkembangannnya; dan menghilangkan atau sekurang-kurangnya mengurangi timbulnya kesenjangan sosial itu. Bagi kita tidak ada alternatif lain kecuali harus komit dan bertanggung jawab secara moral terhadap upaya-upaya untuk kepedulian kepada mayarakat yang menjadi korban kesenjangan sosial ini. Salah satu upaya yang mutlak harus kita lakukan adalah menumbuh kembangkan kepedulian sosial yang secara potensial telah kita miliki dan mengaktualisasikannnya dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat. Kita semua secara bersama-sama mempunyai komitmen dan tanggung jawab moral untuk menggali dan membangkitkan kembali kekuatan dan pengalama spritual religius ini agar keberadaan kita dapat bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Pada gilirannya kita dapat mempertanggungjawabkan amanah yang telah diberikan kepada kita oleh Allah SWT.

C.

KEKUATAN PENDUKUNG

Kita telah menyaksikan bahwa selama kurun waktu tiga puluh tahun belakangan ini tanpa mengenal lelah bangsa Indonesia telah berupaya dengan sekuat tenaga membangun bangs ada negara. Semua ini ditujukan untuk kepentingan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Pada hakikatnya pembangunan ini ditujukan kepada pembnagunan manusia Indonesia seutuhnya. Upaya-upaya itu ternyata telah berhasil mengangkat derajat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat, merdeka dan maju. Hasil-hasil pembangunan inilah yang sebenarnya membuat bangsa kita yakin akan kemampuan sendiri untuk membangun bangsanya. Kemandirian inilah yang sebenarnya menjadi salah satu kekuatan moral dan sumber inspirasi bagi keberlangsungan pembangunan bangsa selama ini. Pembangunan yang dilakukan di berbagai sektor kehidupan, antara lain sosial, ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, agama dan lain-lain telah menjadi mesin penggerak lajunya pebangunan di bidang-bidang lain. Selama

412

Pengembangan SDM

ini pembangunan ini telah berjalan dengan sangat baik dan berhasil dengan memuaskan. Tolak ukur keberhasilan ini dapat dilihat dari makin bertambahnya masyarakat, makinlancarnya perhubungan dari satu kota ke kota lain atau satu daerah ke daerah lain, makin meningkatnya usia harapan hidup, berkurangnya angka kematian bayi dan wanita dan sebagainya. Semua itu merupakan gambaran keberhasilan pembangunan yang merupakan kekuatan pendorong bangsa ini untuk melanjutkan pembangunan pada masa yang akan datang. Kekuatan ini menjadi makin bertambah karena bangsa ini dikaruniai kekayaan alam yang luar biasa banyaknya, memiliki kandungan bahan tambang yang tidak terhitung banyaknya dan jenisnya, kebudayaan yangs sangat beragam jenisnya, serta terletak pada posisi yang strategis secara ekonomis, politis dan keamanan menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang secara potensial terkaya akan suber alam di dunia. Indonesia juga memiliki kekuatan yang luar biasa dalam hal jumlah penduduk. Indonesia pada saat ini merupakan keempat di dunia dilihat dari sudut jumlah penduduk, setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk yang sangat besar ini merupakan kekuatan yang luar biasa bilamana mereka memiliki kualitas mental, fisik dan spiritual yang terandalkan yang tercermin dalam berbagai bentuk perilakunya. Pada saat ini kekuatan ini masih belum berperan secara optimalkarena sebagian besar penduduk masih belum memiliki kualitas yang diharapkan. Situasi ini menjadi makin kurang menguntungkan, karena mereka justru menjadi beban pembangunan. Ini merupakan bagian tantangan pembangunan kita pada masa yang akan datang. Keberhasilan pembangunan sebagaimana diutarakan pada bagian terdahulu juga belum menggambarkan hasil yang optimal, terutama bilamana dilihat dari sudut pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan. Masih banyak anggota masyarakat kita yang masih hidup secara pas-pasaran, bahkan cenderung tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Masih banyak di antara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ini pertanda bahwa hasil pembangunan ini belum secara merata dinikmati oleh bangsa Indonesia. Keadaan ini menunjukkan perlunya kita mengkaji ulang, kebijakan pembangunan terutama yang berkaitan dengan peningkatan pemberdayaan masyarakat agar dengan kekuatan sendiri mereka mampu bertahan, dan memenangkan persaingan dalam memperjuangankan setiap kepentingannya. Peningkatan pemberdayaan masyarakat ini harus realistis dan membumi dalam kehidupan, terutama masyarakat pedesaan.

D.

UPAYA PEMECAHAN MASALAH

Pada bagian Pendahuluan tulisan telah disinggung bahwa masalah utama yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada saat ini terutama berkaitan dengan

Pengembangan SDM

413

masalah ekonomi. Penyebab terjadi masalah ini cukup beragam, antara lain disebabkan oleh karena bangunan dasar perekonomian kita yang belum mantap. Permasalahan ini menimbulkan berbagai kesulitan perekonomian nasional yang mempunyai dampak langsung kepada perekonomian rakyat, terutama rakyat di pedesaan, yang sangat rawan atau rentan terhadap berbagai gejolak dan yan kurang mempunyai kekuatan untuk melakukan tawar-menawar. Gejolak moneter yang ditandai oleh fluktuasi nilai tukar rupiah yang tidak stabil dan tdak wajar. Ini mempunyai pengaruh yang sangat hebat terhadap kemampuan daya beli rakyat terhadap kebutuhan pokok sehari-hari. Ada beberapa tawaran yang barangkali dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperkuat kemampuan perekonomian rakyat. Pertana, konsep back to basic yang mulai populer tiga tahun belakangan ini dapat dipergunakan sebagai acuan dalam menetapkan kebijakan pembangunan perekonomian, terutama di daerah pedesaan. Kebijakan ini bertumpu kepada tiga pertimbangna dasar (1) Pada dasarnya kebijakan harus bertumpu kepada kemampuan yang dimiliki oleh penggerak pembangunan di pedesaan yaitu masyarakat yang hidup dari hasil-hasil pertanian, dalam arti luas, yang masih bersifat tradisional. Masyarakat pedesaan adalah masyarakat petani, termasuk pengolah kebun, nelayan dan peternak yang mengolah pertanian ini secara tradisional. Mereka adalah pendukung nilai agraris tradisional. Namun demikian di balik itu ada keyakinan dan kesadaran bahwa mereka mempunyai kekuatan untuk bertahan menghadapi badai gelombang sedasyat apapun. Pengalaman menunjukkan bahwa mereka inilah kelompok yang paling mampu bertahan dan mempertahankan dirinya. Mereka adalah kelompok yang mempunyai kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi segala macam krisis. Barangkali kita perlu banyak belajar dari keyakinan dan kemandirian mereka untuk secara bebas merencannakan kegiatan kehidupan kesehariannya. Pengembangan ekonomi yang bertumpu kepada kemampuan sendiri ini barangkali dapat dipergunakan sebagai titik awal pengembnagna perekonomian yang bertupu kepada industri pertanian yang sederhana yang kemudian dikembangkan menuju kepada perkembangan-perkembangan pertanian modern. Fundamental ekonomi yang berbasis pada pertanian harusb tetap dipertahankan dan terus dikembangkan. Langkah pertama yang perlu ditempuh adalah dengan mengembangkan teknologi pertanian sederhana yang terjangkau oleh kemampuan masyarakat. Ini merupakan kebijakan lain yang perlu terus dikembangkan. (2) Pengembangna teknologi tepat guna sesuai dengan kemampuan sumber daya manusia di pedesaan barangkali perlu dijadikan prioritas pertama dan utama dalam pengembangan pertanian yang berwawasan industri. Pengembangan teknologi tidak terbatas kepada penemuan teknologi saja, akan tetapi secara terus menerus disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga mereka sekurang-kurangnya

414

Pengembangan SDM

terampil menerapkan teknologi itu, atau bahkan mampu mengembangkan teknologi pertanian menjadi lebih canggih dan berdaya guna tinggi. Sikap seperti ini diharapkan dapat lebih meningkatkan sikap wiraswasta dan wirausaha dalam diri setiap petani. Kebijakan ini menjadi realistis dan dapat membumi di daerah pedesaan bilamana kita sepakat mengangkat derajat petani melalui modal dasar yang dimilikinya, yaitu keuletan, keyakinan, kesabaran dan kebersamaannya dalam berusaha. Kebijakan selanjutnya (3) adalah kita berupaya meningkatkan pemanfaatan sumber daya manusia yang berada di pedesaan yang masih sangat terbatas kemampuan pengusahaan teknologinya akan tetapi tidak terbatas jumlahnya. Dengan bertumpu kepada kebijakan kedua, secara berangsur mereka ini secara terus menerus dan bertahap kita upayakan agar memiliki kemampuan teknologi pada tingkat menengah dan tinggi dalam pengolahan proses dan hasil pertanian, serta pengelolaan pasca panen. Pengusaan teknologi ini menjadi sangat penting bilaman kita dihadapkan kepada era perdagangan bebasm yang kemenangan persaingan dalam perdagangan sangat ditentukan oleh penguasaan ilmu dan teknologi ini sebagai nilai tambah. Kedua, hal lain yang harus kita perhatikan dalam pengembangan kebijakan adalah memanfaatkan kekayaan alam, tanah dan air beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya, Indonesia ini. Kebijakan pemanfaatn kekayaan alam ini harus kita tuangkan sedemikian rupa sehingga terjadi keseimbangan antara kandungan sumber daya alam yang tersedia dengan pemanfaatannya. Dengan pemanfaatan semacam ini diharapkan tidak terjadi pemborosan dan proses pemubaziran sumber daya alam itu. Perencanaan yang sistematis dan pragmatis diharapkan dapat menjaga kelestarian sumber daya alam, dan pemanfaatan dapat berdampak positif terhadap kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di pedesaan.

E.

BEBERAPA SARAN UNTUK DIPERTIMBANGKAN

Ada sekurang-kurangnya tiga saran yang barangkali dapat dipertimbangkan agar tujuan peningkatan pemberdayaan masyarakat pedesaan dapat tercapai. (1) Sebagaimana telah diuraikan pada bagian terdahulu, Indonesia, termasuk Sumatera Selatan, adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. Ini termasuk kekayaan akan air tawar dan air asin. Sebagai contoh, pengalaman kita pada tahun 1950an menunjukkan bahwa Sumatera Selatan merupakan daerah yang sangat kaya akan ikan air tawar. Hal ini terjadi karena Sumatera Selatan kaya akan sungai besar dan kecil, serta lebih dari sepertiga wilayah terdiri atas rawa. Kondisi ini memungkinkan kehidupan biota air tawar berkembang dengan subur. Namun pada tahun 1990an kita dihapadkan kepada kenyataan bahwa ikan air tawar itu sudah sangat sulit untuk diperleh. Kalaupun tersedia pada umumnya

Pengembangan SDM

415

harganya telah cukup ahal. Pengembangan budidaya ikan air tawar dalam segala macam jenisnya, akan sangat membantu usaha memperkuat perekonomian dan kesehatan masyarakat. Dengan pengembangan berbagai jenis ikan, masyarakat akan tetap dapat mempertahankan kehidupan perekonomian dari gonjangan dan badai perekonomian. Selain itu dengan banyaknya ikan yang tersedia masyarakat akan dengan mudah mengkonsumsi ikan air tawar. Pada gilirannya upaya ini akan dapat meningkatkan gizi anak-anak karena mengkonsumsi ikan air tawar, yang pada akhirnya akan bermuara kepada makin meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Yang sangat diperlukan oleh para petani adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengelola perikanan ini, baik pada proses pengembangbiakan, proses memelharannya dan proses penjualannya. Barangkali ini dapat dilakukan oleh semua pihak, bukan hanya instansi yang secara langsung menangani masalah ini, tetapi semua lapis masyarakat, termasuk perguruan tinggi, mempunyai kewajiban, hak dan tanggung jawab untuk mengembangkan program ini. Ini adalah salah satu manifestasi kepedulian kita terhadap masyarakat di pedesaan. Kepada mereka tidak hanya kita beri ikan, akan tetapi kita beri kail untuk mencari ikan, bahkan lebih jauh lagi kita beri kemampuan untuk membuatkail yang dapat dipergunakan untuk mengail ikan. (2) Usul konkrit selanjutnya bertumpu kepada apa yang telah dimiliki dan dikerjakan oleh masyarakat selama ini sebagai sumber mata pencaharian. Ini berkaitan dengan pertanian dan perkebunan rakyat. Pertanian rakyat selama ini bertumpu kepada, terutama, tanaman pangan, padi dan palawija, yang diolah secara tradisional sederhana. Kemampuan mengolah semacam ini mereka dapatkan dari nenek moyangnya. Sentuhan teknologi pertanian modern barangkali masih sangt terbatas. Dengan bermodalkan kepada kemampuan ini dan sentuhan teknologi modern dalam bidang pertanian, diharapkan masyarakat pedesaan akan lebih percaya diri dan mampu meningkatkan kinerjanya sebagai petani. Semua ini pada akhirnya bermuara kepada makin berkembangnya kemampuan daya tahan masyarakat menghadapi berbagai goncangan ekonomi. (3) Kita mengetahui bahwa pembangunan tanpa dukungan modal usaha nampaknya sangat sulit untuk dicapai. Dalam hal ini pemerintah pada tahap awal harus menyiapkan bantuan agar semua gagasan atau saran tersebut di atas dapat menjadi kenyataan. Bantuan yang dimaksud bukan hanya modal yang berupa uang, akan tetapi juga dapat berupa pendidikan, konsultan dan bantuan dalam bentuk lain. Bantuan yang dimaksud hendaknya memang yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dalam jumlah yang relatif memadai. Bilaman bantuan yang diberikan tidak mencukupi, dikhawatirkan sasaran pembangunan pertanian tidak akan mencapai sasarannya. Bantuan itu seyogyanya langsung diberikan kepada rakyat yang membutuhkan tanpa birokrasi yang melelahkan dan menjengkelkan. Ini dapat terlaksanan

416

Pengembangan SDM

bilaman kita memiliki komitmen dan tanggung jawab moral untuk kepentingan masyarakat.

F.

SASARAN YANG INGIN DICAPAI

Sumbangan pemikiran ini pada akhirnya akan bermuara kepada sasaran yang ingin di capai. (1) Sebagaimana kita ketahui bahwa pada tahun 1984 Indonesia menyatakan sebagai negara yang telah mampu swasembada beras. Akan tetapi dengan semakin berkurangnya lahan pertanian, pertumbuhan penduduk yang sangat cepat, kurangnya studi intensif tentang pengembangan pertanian dalam arti luas, sering terjadinya perubahan musim, hama tanaman yang sulit dikendalikan dan di atasi, swasembada beras itu tidak dapat dipertahankan lagi. Dengan gagasan atau ide mengembalikan petani kepada habitatnya, diharapkan dalam waktu yang singkat swasembada beras dan pangan pada umumnya pada tingkat petanin dapat tercapai. Bilamana swasembada pangan pada tingkat petani telah tercapai, nampaknya kesulitan ekonomi seperti yang kita hadapi pada saat ini tidak akan terjadi pada masa yang akan datang. (2) Sasaran berikutnya yang ingin dicapai dengan gagasan ini adalah upaya menstabilkan persediaan bahan makan di daerah perkotaan. Ini merupakan dampak terhadap keberhasilan pembagunan pertanian pada tingkat pedesaan. Beras akan mudah diperoleh dengan harga yang relatif stabil. Demikian pula hasil pertanian lain, seperti telur, daging, ikan, sayur-sayuran dan buah-buahan. Produsen segala macam jenis bahan makan ini berasal dari desa dan dimanfaatkan baik oleh masyarakat desa dan kota. (3) Sasaran ketiga adalah berfungsinya secara nyata, bukan dalam slogan, Koperasi-koperasi, terutama koperasi unit desa (KUD). Koperasi sebagai salah satu soko guru perekonomian kita sampai pada saat ini belum mampu menunjukkan kinerjanya sebagaimana yang diisyaratkan oleh UUD 1945. Dengan gagasan sebagaimana yang diuraikan di atas KUD akan lebih mampu menjembatani kepentingan masyarakat petani, yang selama masih dirasakan kurang memperoleh perhatian secara proporsional, dan masyarakat lainnya. (4) Akhirnya secara bertahap gagasan ini dapat mengarahkan hasil-hasil pertanian yang berkualitas dan mampu bersaing dengan produk-produk dengan produk-produk pertanian sejenis dari negara lain. Hasilhasil pertanian kita secara kualitatif dan dalam jumlah yang besar mampu bersaing dan menjadi salah satu komoditas ekspor yang tahan uji dan mampu bersaing. Permasalahannya terletak kepada niat dan upaya kita bersama dan serius dalam upaya lebih memberdayakan masyarakat pedsaan. Masyarakat pedesaan bukan hanya objek pembagunan, akan tetapi mereka juga subejk pembagunan. Marilah kita melihat sebagai kekuatan besar yang mampu kita daya gunakan untuk

Pengembangan SDM

417

pembangunan bukan kita pandang sebagai beban pembangunan. Seraya bermohon kehadirat Allat SWT, kita berusaha agar bangsa kita akan menjadi bangsa yang lebih diperhitungkan dalam pencaturan kompetisi oleh bangsa lain pada masa yang akan datang, dengan mengharap Ridho-Nya.

418

Pengembangan SDM

POKOK PIKIRAN TENTANG PENYIAAPAN SUMBER DAYA MANUSIA YANG BERWAWASAN NUSANTARA GUNA MENDUKUNG PEMBANGUNAN KELAUTAN DAERAH SUMATERA SELATAN*) Machmud Hasjim

I.

PENDAHULUAN

Negara Indonesia merupakan negara yang wilayahnya terdiri atas sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Oleh karena itu negara ini sering disebut sebagai negara kepulauan. Sebagai negara kepulauan, kawasan perairan yang masuk dalam kedaulatan dan yuridiksi Indonesia meliputi perairan kepulauan; laut teritorial; laut pedalaman; dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Bagi negara kepulauan seperti ini, laut memegang peranan yang sangat penting dilihat berbagai sudut, ekonomi, politik, sosial, budaya dan pertahanan dan keamanan. Dengan menyadari peran laut semacam itu, pembangunan kelautan seharusnya diarahkan pada pengembangan kemampuan ekonomi nasional dalam wujud usaha ekonomi, termasuk industri kelautan, ditujukan untuk mendayagunakan potensi kelautan dan dasar laut yang mencakup perairan Indonesia dan ZEE secara serasi dan seimbang dengan memparhatikan daya dukung kelautan dan kelestarian untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat serta memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha dengan mengikutsertakan koperasi, nelayan kecil dan tradisional serta masyarakat sekitar. Selain itu, pembangunan wilayah laut juga harus dilaksanakan dalam rangka mendukung penegakan kedaulatan dan yuridiksi nasional sebagai perwujudan wawasan nusantara dalam visi dan semangat keseharian dan mengacu kepada perencanaan tata ruang kelautan. Sumatera Selatan sebagai bagian dari negara Indonesia yang memiliki kekayaan potensial kelautan yang luar biasa banyaknyanya harus mampu memanfaatkan kekayaan ini untuk kemaslahatan masyarakat, terutama masyarakat Sumatera Selatan yang bertempat tinggal di daerah pantai dan yang menyandarkan kehidupan ekonominya yang bersumber dari kekayaan laut disekitar Daerah Sumatera Selatan. Pengelolaan potensi kelautan di Sumatera Selatan harus diupayakan menjadi berbagai kegiatan ekonomi masyarakat perlu terus dipacu melalui berbagai upaya, antara lain peningkatan investasi, pemanfaatan ilmu pengetahaun dan teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan memperhatikan fungsi lingkungan hidup. Sumber daya manusia yang memiliki kualitas tinggi, terutama disekitar pantai, ini diharapkan dapat menjadi tonggak dan pilar pembangunan kelautan di Sumatera Selatan.

Pengembangan SDM

419

II.

POTENSI KELAUTAN

Dengan berpedoman kepada Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957, UU No. 4/Prp tahun 1960 tentang perairan Indonesia, PP No. 8/ tahun 1962 tentang hal (lalu) lintas damai kendaraan air asing, dan UU No. 5 tahun 1983 tentang ZEE, zona kelautan Daerah Sumatera Selatan terletak di timur dan sekitar wilayah kepulauan, termasuk pulau Bangka dan Belitung. Luas daerah perairan ini diperkirakan dua kali lipat dari luas daratan. Secara meyakinkan dapat dikatakan bahwa zona ini kaya dengan sumber daya alam. Informasi yang dapat dihimpun menunjukkan bahwa sumber daya alam itu tidak hanya terdiri atas sumber daya alam yang terbarukan, akan tetapi juga sumber daya alam yang tak terbarukan. Sumber daya alam terbarukan berupa berbagai jenis tumbuhan dan binatang yang hidup diperairan laut dan sumber daya alam tak terbarukan berupa bahan tambang yang dapat ditemukan di sekitar Daerah Sumatera Selatan, termasuk pulau Bangka dan Belitung. Sebagai contoh, sampai pada saat ini terdapat empat jenis hutan yang terdapat di daerah pantai Sumatera Selatan. Empat jenis hutan itu adalah hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut campuran, hutan rawa payau dan hutan bakau (mangrove), ini semua merupakan tempat yang memungkinkan kehidupan berbagai jenis bintang dan tumbuhan laut. Di samping itu masih banyak ekosistem lain yang terpisah dari hutan-hutan tersebut, mialnya ekosistem daerah muara, rumput laut dan terumbu karang. Dalam kawasan ini tumbuh sekitar 35 jenis tumbuhan yang dapat mendatangkan keuntungan ekonomi, 138 jenis unggas, 69 jenis reptil, 51 jenis binatang laut berkulit keras, sekitar 23 jenis ikan, dan 55.000 jenis serangga. Selain itu di kawasan ini juga hidup 5 jenis burung, 16 jenis binatang menyusi, 4 jenis reptil atau binatang melata yang 4 diantaranya dikategorikan sebagai binatang yang terancam punah. Disekitar pulau Bangka dan Belitung juga kaya akan binatang dan tumbuhan laut. Sebagai contoh, di sekitar pulau ini terdapat 37 jenis ikan yang secara ekonomis sangat menguntungkan, 73 jenis binatang laut berkulit keras dan 2 jenis penyu yang secara terus menerus diburu. Di sebelah utara pulau Belitung juga terdapat kerumbu karang yang cukup luas dan sangat indah yang sangat potensial untuk pengembangan pariwisata laut. Potensi-potensi sumber daya alam di perairan laut daerah Sumatera Selatan tidak terbatas pada potensi tumbuhan dan binatang, akan tetapi perairan di daerah ini juga memiliki sumber daya alam dalam bentuk bahan-bahan tambang yang mempunyai cadangan sangat besar. Disekitar pulau Bangka dan Belitung sekarang sedang dilaksanakan penambangan biji timah dengan menggunakan kapal keruk berbagai ukuran. Di perairan sekitar pulau Bangka dan Belitung selain mempunyai cadangan biji timah dalam jumlah besar, biji timah yang dihasilkan oleh kedua pulau ini juga mempunyai kualitas tinggi. Perairan di sekitar daerah ini

420

Pengembangan SDM

diperkirakan juga mempunyai cadangan minyak tanah, terutama daerah perairan yang mendekati kepulauan Riau dan Jambi. Pasir juga salah astu bentuk tambang yang diproduksi Pulau Bangka dan Belitung. Pasir yang sangat bermanfaat bagi pembuatan bahan-bahan keramik yang kualitas tinggi dapat ditemukan di sepanjang pantai dua pulau ini. Baik timah, minyak, maupun pasir merupakan hasil tambang yang dieksport dan mempunyai prospek yang cukup tinggi dalam upaya mendukung pembagunan ekonomi Sumatera Selatan. Potensi kelautan lain yang dapat dikembangkan di perairan laut adalah potensi yang berkaitan dengan pariwisata. Banyak lokasi yang terletak di pantai di pulau Bangka dan Belitung yang sangat menjanjikan untuk dikembagkan menjadi daerah wisata. Selain kondisi pantainya cukup indah, wisata air, baik untuk menikmati keindahan pemandangan maupu nuntuk keperluan olah raga dapat dikembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Pengembangna kerumbu karang di perairan laut sebelah utara pulau Belitung menjadi salah satu tujuan wisata yang dapat mendatangkan keuntungan sosial ekonomi sangat mungkin untuk dikembangkan. Di sekitar daerah ini terdapat banyak kerumbu karang yang sangat indah yang sampai saat ini masih belum dikembangkan. Potensi ini bukan tidak mungkin dapat dijadikan dasar pengembangan cagar taman laut nasional yang harus dilindungi dari kerusakan dan kepunahan yang dapat menarik wisatawan domestik maupun internasional. Dengan dilindunginya daerah ini kerusakan secara otomatis perlindungan ini juga akan dapat menjaga keamanan laut dari berbagai ancaman yang datangnya dari pihak asing, terutama yang berhubungan dengan pencurian ikan yang menggunakan bahan-bahan yang dapat mengganggu ekosistem perairan laut di sekitar pulau itu. Tidak kalah menarik dan pentingnya adalah potensi perairan laut untuk keperluan transportasi dari ssatu daerah ke daerah lain dalam Daerah Sumatera Selatan. Begitu juga perairan laut juga sangat berpotensi dipergunakan sebagai transportasi air dari luar Sumatera Selatan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, karena posisi daerah ini dan dinamika kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik dan keamanan menjadi prasarana transportasi lintas negara, termasuk ke Indonesia. Transportasi barang-barang eksport dan import melalui laut dari dan ke luar negeri dan sebaliknya dari dan ke Sumatera Selatan dan ibu kota Indonesia, tidak dapat melepaskan peran perairan laut Daerah Sumatera Selatan. Potensi perairan laut di kawasan ini untuk transportasi sangat besar dan sangat penting. Pengangkutan minyak, semen, batu bara, pupuk, minyak goreng, hasil-hasil hutan dan hasil-hasil industri lainnya ke luar Pronpisi Sumatera Selatan sebagian dilaksanakan melalui transportasi laut ini. Begitu pula sebaliknya, hasil-hasil industri dan pertanian dari,luar daerah Sumatera Selatan diangkut mellaui

Pengembangan SDM

421

transportasi laut ini. Dengan kepadatan lalau lintas transportasi laut ini, tidak menutup kemungkinan perairan laut Sumatera Selatan menjadi sangat rawan keamanan. Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu sering terjadi perampokan terhadap kapal yang mengangkut barang dana yang menarik kayu dari Sumatera Selatan. Keadaan semacam ini harus terus diwaspadai agar potensi perairan laut dapt berperan secara optimal dalam pembangunan Daerah Sumatera Selatan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

III.

MASALAH

Walaupun perairan laut Daerah Sumatera Selatan kaya akan berbagai sumber alam, akan tetapu kekayaan itu belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Kita menghadapi berbagai masalah yang secara sendiri-snediri maupun akumulatif sangat mengganggu upaya pemanfaatan dan pengembnagna potensi kelauatan kita. Beberapa masalah berikut ini merupakan sinergi dari masalah-masalah yang cukup sulit untuk diatasi. Masalah pertama berkaitan dengan polusi. Masalah polusi ini meliputi masalah pencemaran kiriman dari daratan, pencurah-cucian emisi, penceceran limbah tarnsportasi air, penambahan lepas pantai, dan pembuangan sampah industri dan domestik.. Kedua, berkaitan dengan perubahan bentang lahan. Yang termasuk dalam kategori masalah ini adalah ekspansi pertambakan udang yang main tidak terkontrol, ekspansi pertambangan pesisir dan kelautan, ekploitasi yang dilakukan oleh perusahaan yang bekerja di bidang kehutanan (HPH), efek sedimentasi dan keruh, dan efek palung dan abrasi. Ketiga, kita juga menghadapi masalah dalam pengurasan sumber daya alam kelautan. Masalah ini berkaitan dengan upaya manusia untuk mengeruk kekayaan laut dengan menggunakan cara-cara yang berdampak kurang menguntungkan bagi pengembangan potensi kelautan secara sehat. Pengurasan sumber kelautan ini biasanya dilakukan dengan jalan peledakan (dinamit), peracunan (sianida), permanen luar biasa, penggunaan pukat harimau, dan yang akhir-akhir ini paling meresahkan adalah pencurian kekayaan laut oleh nelayan asing. Masalahmasalah ini saling berkaitan dalam jalinan sebab akibat, ini mengakibatkan sulitnya menangani masalah-masalah ini, di samping kita masih menghadapi kendala dan tantangan yang tidak kecil.

IV.

TANTANGAN DAN KENDALA

Dalam upaya mendayagunakan secara optimal kita menghadapi berbagai tantangan dan kendala. Tantangan pertama dikenal dengan apa yang sering disebut dengan biogeofisika. Tantangan ini dapat berupa degradasi spesies atau 422 Pengembangan SDM

jenis binatang dan tanaman laut. Tantangan ini muncul, terutama sebagai akibat dari perubahan manusia yang kurang memahami arti pentinya dan akrab dengan kehidupan dunia kelautan yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Biogeofisika juga dapat muncul dalam wujud dominasi spesies dan deviasi arus lat. Tantangan kedua berkaitan langsung dengan sikap manusia sebagai subjek pengelola sumber daya kelautan. Ini sering disebut sikap konsumtif pada saat musim panen, penyalahgunaan tenaga kerja anak usia sekolah, dan perilaku yang telah “membudaya” dari masyarakat, terutama, nelayan yang biasa disebut pengijoan hasil kerja nelayan oleh mereka yang memiliki modal. Tantangn ini muncul karena sebenarnya kita masih banyak menghadapi kendala. Kendala itu antara lain berkaitan dengan aturan perundangan yang mengatur tata kehidupan dan kekeyaan dan potensi laut kita. Peraturan yang sudah dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat masih banyak yang belum ditindaklanjuti menjadi peraturan daerah. Walaupun beberapa pemerintah daerah telah mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan potensi kelautan, akan tetapi masih dirasakan perlunya mansikapi berbagai aturan itu secara komprehensif, dinamik, progresif dan pragmatis. Dengan sikap semacam itu diharapkan peraturan dan perundangan menjadi lebih bermakna dalam konteks pelestarian potensi kelautan kita. Di samping itu kontrol dari pemerintah dan masyarakat dapat dikatakan belum berjalan sebagaimana yang kita harapkan. Sangsi sebagaimana yang ditetapkan oleh peraturan dan perudangan belum dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kendala ini muncul disebabkan oleh keterbatasan kemampuan pengelola baik dalam pengetahuan, sikap, perilaku maupun manajemen; dan keterbatasan sarana dan prasaranan. Keterbatasan kelembagaan yang mengelola dan manajemen pengelolaan merupakan kendala yang harus segera dicari jalan keluarnya. Kendala yang paling menonjol nampaknya tertelak pada kemampuan sumber daya manusia dalam berbagai lini dan segmen dalam upaya menjaga, memelihara, membudidayakan dan engembangkan potensi kelautan menjadi salah satu kekuatan pembangunan yang selama ini kurang memperoleh perhatian kita secara proporsional dan kontekstual sesuai dengan kebuthan, keadaan dan kekayaan laut kita serta cenderung dilupakan. Perhatian merek yang diberi kepercayaan untuk menetapkan kebijakan dan mengambil keputusan masih belum secara sungguhsungguh diperhatikan kekayaan dan potensi kelautan sebagai sumber daya alam yang luar biasa banyaknya itu sebagai salah satu tulang punggung pembangunan nasional. Pada tingkat pengembangan potensi,, pakar dalam berbagai bidang kelautan masih sangat terbatas jumlah dan kualitasnya, terutama mereka yang benar-benar melihat potensi kelautan sebagai sumber sumber daya alam yang menjanjikan. Pada level perencanaan dan pelasanaan kemampuan dan perhatian Pengembangan SDM 423

mereka masih dibingkai paradigma lama, yang kurang adil dalam memberikan perhatian dalam perencanaan potensi kelautan. Sementara itu di lini pelaksana dan pekerjaan, terutama nelayan, pengetahuan, pemahaman dan kesadaran tentang potensi kelautan dan proses pengelolaan dan pengembangan masih sangat terbatas. Tingkat pendidikan yang sangat rendah, kemeralatan, yang diduga lebih miskin dari msayarakat yang bekerja di sektor pertanian dan kerajinan., yang dapat dilihat dari tata ruang pemukiman, dan mereka yang mencari nafkah dari hasil lauti ini membelenggunya menjadi makin tidak memiliki kemampuan untuk memelihara dan mengembangkan potensi kelautan yang berkesinambungan dan yang menjadi bagian dari hidupnya. Sekarang ini tibalah saatnya kita menaruh perhatian serius terhadap pengembangan potensi kelautan itu melalui pengembangan kualitas pengelola dan pemanfaatl angsung dan tidak langsung potensi kelautan kita.

V.

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Kekayaan laut yang begitu beragam dan dalam jumlah yang luar biasa banyaknya di Sumatera Selatan sampai pada saat ini dikelola dan dikembangkan sangat kurang memadai. Ini berakibat pada timbulnya berbagai masalah yang sangat komplek dalam mengembangkan potensi kelautan. Dampaknya terjadi kerusakan berbagai potensi kelautan ieu. Dalam upaya mendudukkan potensi kelautan sebagai primadona pembangunan secara proporsional harus dikembangkan sistem yang mendukung pengembangan potensi kelautan ini. Salah satu diantara komponen sistem pendukung itu adalah upaya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mendukung pembangunan kelautan di daerah Sumatera Selatan. Menyimak permasalahan yang sangat kompleks pada berbagai lini dan segmen, maka menyiapkan sumber daya manusia juga harus memiliki karakteristik sebagaimana masalahnya. Pertanyaan mucul berkaitan dengan kuantitas dan kualitas kompetensi sumber daya manusia yang dibutuhkan pada setiap lini dan segmen. Sumber daya manusia yang diharapkan mampu mengembangkan potensi kelautan menjadi tulang punggung pembangunan adalah mereka yang memiliki jiwa bahari, serta tenaga terampil yang diperlukan untuk mewujudkan potensi kelautan menjadi kekuatan pembangunan di Sumatera Selatan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan kebijakan yang memberi prioritas tinggi kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kelautan kita. Langkah ini berupa keputusan yang diambil oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Kemauan

424

Pengembangan SDM

politik pemerintah harus jelas, terarah dan konsisten dalam mendukung kebijakan itu. “Power” yang ada di tangan pemerintah dapat dimanfaatkan dalam upaya mengembangkan sistem pendidikkan kelautan ini. Penetapan prioritas ini mempunyai dampak kepada reorientasi arah dan tujuan pendidikan pada berbagai jenjang, jalur dan jenis pendidikkan. Reorientasi arah, tanpa mengurangi kebijakan penetapan arah dan kebijakan pendidikkan yang lalu, harus menempatkan secara proporsional keharusan setiap warga negara Indonesia mengapresiasikan eksistensi dan kenyataan bahwa negara Indonesia sebagai negara kepulauan. Langkah berikutnya adalah mengindentifikasi kompetensi sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan dalam rangka mengembangkan potensi kelautan. Kita menyadari bahwa pengembangan potensi kelautan membutuhkan banyak tenaga dengan berbagai kualifikasi kompetensi. Kita membutuhkan orang yang ahli dalam bidang kelautan; kita juga membutuhkan tenaga profesional dan terampil dalam mengelola dan mengembangkan komoditas hasil laut; kita membutuhkan orang yang bertanggung jawab menjaga kelestarian kekayaan laut; kita membutuhkan orang yang dapat mengembangkan laut menjadi arena olah raga, wisata dan sarana transportasi; kita juga membutuhkan nelayan yang profesional; kita juga membutuhkan orang yang mampu mengembangkan taman laut; dan masih banyak lagi kebutuhan tenaga dalam berbagai bidang yang berkenan dengan pengembangan potensi kelautan kita. Oleh karena itu identifikasi kompetensi ini multak diperlukan karena proses ini akan dipergunakan sebagai acuan untuk menetapkan kurikulum dan proses pendidikkan di lembaga pendidikkan atau di tempat-tempat pelatihan. Ini berarti bahwa secara simultan diidentifikasi jalur, jenis dan jenjang pendidikan yang akan dikembangkan dan lembaga penyelenggara pendidikan. Sebagai contoh, bagaimana mengembangkan kurikulum bagi belayan, barangkali akan berbeda dengan pengembangan kurikulum bagi mereka yang dipersiapkan untuk bekerja di dunia industri perikanan. Demikian pula kurikulum bagi pemadu wisata laut harus berbeda dengan penjaga keamanan laut atau penjaga taman laut. Pengembangan kurikulum harus melibatkan sekurangkurangnya tiga pihak, yaitu pihak produsen, konsumen pengguna lulusam dan tenaga ahli. Pihak produsen, dalam hal ini pemerintah atau sekolah, menyiapkan kerangka dasar kurikulum, yang selanjutnya diverifikasi oleh konsumen pengguna lulusan dan akhli dalam bidangnya. Pihak konsumen berperan untuk menelaah kembali kerangka dasar kurikulum dan menetapkan kualifikasi dan julah tenaga yang dibutuhkan. Sedangkan para akhli menilai apakah kurikulum itu dapat digunakan sekaligus menetapkan standar mutu lulusan sesuai dengan kebutuhan. Dengan kata lain proses pendidikan dan pelatihan yang akan dilaksanakan harus mengacu kepada kebutuhan lapangan, baik kualifikasi maupun jumlahnya.

Pengembangan SDM

425

Perlu disadari bahwa proses peningkatan kualitas manusia merupakan proses yang kompleks, memakan waktu lama, biaya yang tidak sedikit, dan upaya sungguh-sunggu dari semua pihak. Ini berarti bahwa reorientasi arah, tujuan dan kebijakan peningkatan kualitas manusia yang berwawasan kebaharian harus melibatkan semua pihak, yaitu masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan industri, orang tua dan lembaga-lembaga lain yang terkait. Komitmen semua pihak untuk peningkatan kualitas manusia harus kita bangun agar kita memiliki persepsi yang sama, yang pada gilirannya diharapkan dapat menimbulkan kepedulian akan arti pentingnya setiap warga negara memiliki jiwa dan wawasan kebaharian. Tanpa komitmen, konsistensi dan tanggung jawab barangkali reorientasi arah pendidikan kelautan tidak pernah akan menjadi kenyataan. Sesuai dengan kebutuhan, peningkatan kualitas sumber daya manusia yang diharapkan dapat mengembangkan potensi kelautan dapat dipilah-pilah menjadi beberapa tingkatan atau jenjang. Pengembangna sumber daya manusia pada jenjang pengambilan keputusan seyogianya dilakukan oleh penyelenggara pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. Untuk itu pada jenjang pendidikan seyogianya disiapkan kurikulum bersifat integratif dan atau monolitik. Makna integratif akan terlihat pada pokok-pokok bahasan masalah kelautan sebagai salah satu bahan kajian. Setiap perguruan tinggi diharapkan dapat mengembangkan kurikulum yang mampu mengakomodasi dan mengadaptasi kepentingan pengembangan sumber daya kelautan. Pendekatan monolitik menunjuk kepada satu atau beberapa mata kuliah yang membahas mengenai pengetahuan kelautan yang berdiri sndiri. Banyak model lain yang dapat ditawarkan, misalnya di lembaga ini disiapkan semacam studium generale yang membahas tentang menfaat sumber daya kelautan dalam konteks pembangunan daerah. Kajian akademik teoritik menjadi salah satu model pembahasan dalam proses pemberian makna kepada manfaat kelautan ini. Dengan prioritas kajian teoritik yang berbasis pada hasil-hasil penelitian diharapkan dapat menumbuhkan dan memperluas wawasann lulusan pendidikan tinggi dari berbagai disiplin ilmu tentang potensi kelautan, khususnnya di Sumatera Selatan. Memperbanyak diskusi-diskusi ilmiah tentang potensi kelautan dalam berbagai bentuk, misalnya seminar, simposium, konvensi, lokakarya, dan sebagainya akan mengakselerasi apresiasi kaun intelektual baik yang berada di perguruan tinggi maupun yang berada di lembaga-lembaga lain terhadap pentingnya pengembangan potensi kelautan sebagai salah satu pilar pembangunan bangsa. Dengan lebih memahami potensi kelautan itu, diharapkan akan makin menyadari, pada akhirnya dapat membuat keputusan yang konsisten dan menguntungkan bagi pengembangan sumber day alam yang berasal dari laut. Pada akhirnya, mereka kita harapkan komit terhadap keputusan yang diambil dan

426

Pengembangan SDM

dapat merencanakan pemanfaatan potensi kelautan untuk kemaslahatan bangsa secara arif dan bijaksana. Proses penyiapan sumber daya manusia pada jenjang perencanaan mempunyai sifat berbeda dengan pada level pengambilan keputusan. Pada level ini pemahaman secara komprehensif tentang sumber daya kelautan menjadi tolak ukur kompetensi. Ini berkaitan dengan profesionalitas. Oleh karena itu pada level ini kecuali mereka harus memiliki dasar ilmu yang secara langsung berkaitan dengan pengembangan sumber daya atau potensi kelautan, mereka juga harus memiliki wawasan kelautan yang luas dan keterampilan profesional dalam perencanaan sumber daya alam kelautan. Pendidikan profesional semacam ini dapat dilakukan oleh perguruan tinggi yang secara khusus mengkaji masalahmasalah yang berkaitan dengan potensi kelautan. Kurikulum harus secara sengaja didisain untuk kepentingn ini. Misalnya, masalah budi daya biota laut, teknologi industri hasil—hasil laut, pemanfaatan laut sebagai wahana transportasi dan pertahanan keamanan, ekploitasi dan eksplorasi yang berlebihan, pencegahan dan penangulangan pencemaran laut serta pengrusakan biota laut serta pencurian kekayaan laut, pemetaan potensi laut, perencanaan membuat taman laut, dan lain-lain harus dibahas secara akademik profesional dalam kurikulum program pendidiikan tersebut. Selain itu, tidak tertutup kemungkinan pengembangan program pendidikan jangka pendek yang bersifat profesional dalam bidang ini. Pengembangan program diploma atau akademik atau politeknik dapat ditawarkan sebagai salah satu alternatif, bilamana program pendidikan lain yang lebih komprehensif belum tersedia. Program pendidikan yang menawarkan kajian masalah kelautan masih sangat langka. Barangkali hanya ada beberapa universitas di Indonesia yang menawarkan program ini. Era primadona agribisnis dan agroindustri kelautan yang sekarang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan merupakan peluang yang sangat menjanjikan untuk penyelenggaraan program pendidikan kelautan. Pada jenjang paling bawah adalah penyiapan sumber daya manusia yang secara langsung terlibat dalam proses pengolahan, pemeliharaan dan pengembangan sumber daya alam kelautan. Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir, terutama nelayan dan pengusaha hasil laut, yang secara akademik masih tertinggal harus dijadikan sasaran utama program peningkatan kualitas sumber daya manusia kelautan. Selain wawasan tentang peran laut sebagai kawasan ekonomi, sosial, budaya, politik dan keamanan di daerah ini masih belum terbuka dan terbatas, mereka juga memiliki keterampilan yang kurang memadai dalam memelihara dan mengembangkan potensi kelautan. Wawasan yang harus diperluas ini berkaitan dengan nilai-nilai dan norma-norma pelestarian dan

Pengembangan SDM

427

pengembangan kekayaan laut. Selain itu wawasan juga menyangkut kesadaran, sikap, perilaku dan motivasi kuat untuk menjaga potensi kelautan secara berkelanjutan sebagai bagian dari medan atau kancah perjuangan hidupnya. Pengembangan keterampilan selalu berkaitan dengan kemampuan teknis dalam mengerjakan sesuatu yang makin lama makin baik. Masyarakat pesisir ini terdiri dari orang dewasa laki-laki dan perempuan, dan anak-anak. Dua kelompok ini memerlukan penanganan yang tidak selalu sama dalam upaya mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam membudidayakan hasil-hasil laut. Pengembangan peningkatan kualitas kelompok orang dewasa laki-laki dan perempuan dalam pengembangan potensi kelautan barangkali lebih sulit dibandingkan dengan kelompok anak. Sikapdan perilaku kelompok dewasa yang cenderung defensif, pasif, mengikuti rutinitas, nampaknya sulit untuk diubah sebagai akibat dari pergaulan dan perjuangan hidup yang mereka hadapi seharihari di laut. Namun demkian masih banyak yang dapat kita perbuat. Misalnya, dengan menggunakan peraturan perundangan yang berkaitan dengan perusakan dan pencemaran laut, kita optimis bahwa menakan, mengurangi atau bahkan menghapus perusakan potensi laut. Dengan penyuluhan dan pelatihan yang berkaitan denganmenjaga kelestarian dan pengembangan potensi laut kita masih menaruh harapan besar bahwa nelayan dan pengusaha akan berupaya untuk merubah pola-pola perilaku yang tidak sesuai dengan pemeliharaan dan pelestarian potensi kelautan. Sementara itu dapat kita lakukan pendidikan bagi kelompok mellaui pendidikan di sekolah maupun di luar sekolah dengan kurikulum yang didisain sesuai dengan kebutuhan mereka dan dilaksanakan untuk mengembangkan keterampilan dalam berbagai bidang, misalnya penagkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengawetan ikan yang lebih memenuhi aturan-aturan kesehatan, dan sebagainya. Kurikulum plus bagi anak-anak di pesisir dapat dipikirkan sebagai salah satu alternatif peningkatan sumber daya manusia yang berwawasan kelautan. Kurikulum semacam ini dapat pula ditawarkan kepada anak-anak yang berminat untuk engetahui lebih jauh tentang potensi kelautan. Tentusaja pengetahaun keseharian lainnya juga harus ditawarkan kepada siswa yang tertarik untuk mempelajari masalah kelautan, terlepas mereka tinggal di daerah pesisir atau di daerah lain.

VI.

PENUTUP

Penyataan bahwa negara Indonesia merupakan negara kepulauan mengisyaratkan bahwa eksistensi kehidupan bangsa ini sebagian ditentukan oleh potensi laut. Pernyataan ini juga menunjukkan bahwa potensi kelautan baik ekonomi, sosial, budaya, politik, dan pertahanan dan keamanan perlu terus 428 Pengembangan SDM

dikembangkan agar kekayaan laut benar-benar menjadi wahana kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Pada kenyataan sampai pada saat ini potensi kelautan ini belum secara proporsional dikembangkan. Bahkan ada kecenderungan terjadi pengrusakan dan pemusnahan kekayaan laut kita. Kondisi ini bertentangan dengan amanat pernyataan bangsa Indonesia ketika memproklamirkan kemerdekaan. Salah satu penyebab terjadinya kerusakan dan musnahnya berbagai biota laut adalah karena ulah manusia yang kurang amanah terhadap potensi kelautan yang titipkan oleh Allah kepada manusia. Oleh karena itu agar proses pengrusakan dan pemusnahan ini dapat dihentikan atau sekurangkurangya diperlambat prosesnya diperlukan sumber daya manusia yang memiliki wawasan kebaharian, bertanggung jawab, memiliki keakhlian, dan keteramplan dalam melestarikan dan mengembangkan potensi kelautan kita. Sebagai bangsa, semua warga negara harus bertanggung jawab terhadap kelestarian dan pengembangan potensi kelautan. Akan tetapi tanggung jawab itu dapat didelegasikan sesuai dengan kapasitas masing-masing. Peningkatan kualitas sumber daya mansuia harus secara sistematik, dinamik, flesibel dan pragmatik diprogramkan sesuai dengan kebutuhan lapangan, tingkat profesionalitas dan kualifikasi tugas dan tanggung jawab masing-masing. Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus secara simultan , konsistensi dan berkesinambungan dilaksanakan dengan melibatkan semua pihak. Keberhasilan peningkatan kualitas sumber daya manusia tergantung derajat komitman kita semua sebagai warga negara mengemban tugas pelestarian dan pengembangan potensi kelautan kita.

*)

Bahan ceramah dihadapan Perwira Siswa Pendidikan Reguler Seskoal Angkatan XXXVI, tahun Pelajaran 1998/1999, tanggal 12 Oktober 1998 di Universitas Sriwijaya. Rektor Universitas Sriwijaya

**)

Pengembangan SDM

429

PENDIDIKAN AGAMA DI PERGURUAN TINGGI Machmud Hasjim

1.

DASAR Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila yang didasari oleh Ketuhanan Yang Maha Esa pada Sila Pertama serta Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha esa sebagai asas pembangunan nasional. - Mata kuliah agama dikelompokkan pada MKDU dengan bobot 2 SKS - Mata kuliah agama sejak SD s/d PT (penguasaan pengetahuan agama berdea-beda 2. MATERI, TUJUAN DAN MASALAH Pada Surat Al’Alaq ayat 1 s/d 5 “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah ! Dan Tuhanmu yang Paling Pemurah yang telah mengajar (manusia) dengan kalam. Dia yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” Media Iqra, antara lain : - Membaca buku - Membaca alam (studi lapangan) - Membaca melalui media - Membaca melalui diskusi - Membaca melalui berfikir - Membaca melalui ceramah - Membaca melalui kuliah MATERI Ketauhidan, Fiqih, Muamalah Menyentuh hal-hal yang mendasar Relevan dengan ilmu umum mahasiswa Tidak mengemukakan hal-hal yang khilaf TUJUAN “Robbana atina fiddunya hasanah, wafilakhirati hasanah, waqina azabannar”

-

430

Pengembangan SDM

-

MASALAH keberagaman pengetahuan agama mahasiswa kata hati untuk agama (hanya diperlukan untuk lulus) kurang mendukung lingkungan internal dan eksternal kurangnya sarana dan prasarana SKS yang terbatas Metode proses belajar mengajar mengetahui tugas/kewajiban dosen dan mahasiswa metoda : - umum agama dengan cara matrikulasi PEMBERDAYAAN DOSEN DAN MAHASISWA Etos kerja/mengajar/belajar Krisis yang melanda berbagai bidang kehidupan bangsa Indonesia telah berlangsung 2 tahun. Arus tuntutan itu pada dasarnya diarahkan kepada terbentuknya tatanan dan sistem yang lebih mampu mengakomodasi semua kepentingan dan secara fleksibel dapat menjadi wahana perubahan dan pendorong terjadinya perubahan itu sendiri yang selama ini mengalami kebekuan. Karena berbagai permasalahan yang muncul, krisis ini menjadi salah satu tantangan bagi pengembangan etos kerja. Pertama, Krisis ini menyebabkan terjadinya suatu situasi yang tidak kondusif untuk mengembangkan etos kerja disemua jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Kedua, krisis ini juga mengakibatkan terjadinya stagnasi pengembangan dunia usaha, industri dan dunia kerja umumnya. dalam

3. 1.

Ketiga, selain secara ekonomis tidak mendukung, krisis juga menimbulkan situasi yang kurang mendorong terjadinya iklim yang menguntungkan bagi investasi. Keempat, secara sosiologis, pedagogis, pengembangan etos kerja akan terjadi bilamana berkembang suasana dialogis Dan kelima, kondisi emosional yang diliputi oleh kekhawatiran, ketakutan, dan trauma merupakan tantangan yang sangat sulit untuk dihindari dan diatasi dalam pengembangan etos kerja. Tantangan yang lain yang dihadapi adalah muncul dari proses globalisasi. Dari proses globalisasi ini akan muncu, pertama, transformasi tata nilai Pengembangan SDM 431

karena perubahan orientasi dalam pembangunan. Kedua, orientasi makna peran nilai tambah yang tercermin dalam peningkatan kualitas produk. Ketiga, tantangan yang berkaitan dengan pengembangan IPTEK. Etos kerja memperoleh momentum yang sangat penting untuk berkembang. Tantangan-tantangan di atas harus dihadapi secara serius dan berhati-hati bilamana kita menghendaki bangsa ini memiliki etos kerja yang tinggi. Untuk tenaga pengajar dengan etos mengajar yang baik dan mahasiswa dengan etos belajar yang baik juga. 2. Pengembangan etos kerja/mengajar/belajar Strategi Pengembangan Etos kerja yang pada akhir-akhir ini kurang memperoleh perhatian kita adalah fondasi dari suatu bangunan sikap dan prilaku manusia. Etos adalah cerminan moral dan gaya estetika dan suasana hati. Etos mengajar; dasar sikap terhadap dirinya dan dunianya yang mereflesikan kehidupan. Dengan memberikan makna etos seperti itu, etos dapat diartikan sebagai cerminan perilaku yang secara intelektual rasional merupakan jalan hidup yang melekat dalam pribadi seseorang. Pengertian ini mengisyarakatkan bahwa etos kerja sangat terkait dengan sikap modernitas seseorang atau masyarakat yang bercirikan tingginya derajat rasionalitas dalam arti bahwa kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh orang atau masyarakat itu berdasar kepada nilai-nilai dan pola-pola yang objektif (impersonal) dan efektif (utilitarian) daripada bersifat primorial ceremonial dan atau tradisional. Strategi pengembangan etos kerja ini dengan ciri-ciri utama sebagai berikut : pertama iklmi belajar yang sistematik, terencana dan terpadu. Kedua, pengembangan harus dilaksanakan secara berkelanjutan. Ketiga, etos kerja harus secara sistematis dikembangkan pada anak-anak, melalui berbagai media dan dilaksanakan sejak dini. Keempat, etos kerja dapat dikembangkan pada anak-anak, melalui berbagai media dan dilaksanakan sejak dini. Keempat, etos kerja dapat dikembangkan dengan baik bila anakanak dikenalkan pada dunia kerja. Ini berarti bahwa anak harus diperkenalkan dengan konsep disiplin, efisien, efektifitas dan produktifitas. Di dalam implementasi gagasan pengembangan etos kerja ini, ada beberapa langkah yang perlu diperhatkan pertama etos kerja merupakan konsep yang perlu dipahami maknanya secara benar dan proporsional sesuai dengan tingkatan pendidikan/profesi. Kedua, etos kerja harus dihayati sebagaimana

432

Pengembangan SDM

hakikinya. Ketiga etos kerja adalah konsep yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara dinamis. Dengan adanya etos kerja ini, secara proporsional mahasiswa dan dosen akan bekerja dengan baik, karena menyadari apa yang dipelajari oleh mahasiswa adalah bekal untuk masa depan dan akan mendapatkan yang terbanyak dan terbaik dalam mempersiapkan kompetensi yang berat. Selain daripada itu juga telah terpatri bangunan prilaku, kebiasaan yang baik dan kekuatan dalam belajar/bekerja pada saat menghadapi dunia kerja. Untuk dosen, tugas yang dilaksanakan dengan baik itu bukanlah merupakan beban, melainkan pekerjaan rutin yang menjadi tanggungjawab dan dikerjakan dengan penuh keikhlasan. Apabila etos kerja/mengajar/belajar dapat dilakukan secara baik maka pembudayaan pengajar untuk mengajar secara langsungdapat dilaksanakan dengan baik, karena sikap mental pengajar yang disiplin, penuh tanggung jawab, koordinatif dan komunikatif, keikhlasan bertugas dengan lillahi taala, berilmu amaliah dan penyabar. Selain dari pada itu juga, dosen perlu menguasai; materi-materi mencapai tujuan instruksional mata kuliah. Juga diperlukan secara periodik adanya penyegaran melalui latihan, seminar, diskusi kelompok dan lain-lain. Dengan telah diberdayakannya pengajar sesuai dengan tugas dan fungsinya secara baik Insya Allah pemberdayaan mahasiswa dalam menimba IPTEKSI termasuk mata kuliah Agama dapat berjalan dan berhasil sesuai dengan yang diinginkan dengan Ridho Allah SWT.

4.

PENUTUP

Untuk menghasilkan produk pendidikan yang baik, diperlukan proses belajar mengajar yang baik. Untuk itu diperlukan pemberdayaan dosen dan mahasiswa dengan etos mengajar dan belajar yang baik. Oleh karena itu diperlukan selain kurikulum yang memenuhi persyaratan untuk mencapai tujuan instruksional pendidikan, juga mutlak diperlukan dosen yang mengasai bidang pengajarannya dengan metoda mengajar yang benar dan membuat/menjadikan situasi di dalam kampus menjadi kondusif/iklim belajar yang baik. Yang memegang peranan untuk itu adalah dosen yang berilmu amaliah serta berakhlak mulia. Dengan demikian mengajar bukanlah beban, tetapi kesenangan dan kepuasan yang muncul dengan sendirinya di dalam hati sanubari dosen dalam rangka pengabdian dan mengharap ridho dari Allah SWT.

Pengembangan SDM

433

PENGEMBANGAN MASYARAKAT (COMMUNITY DEVELOPMENT) PT. TAMBANGN BATUBARA BUKIT ASAM (PERSERO) Oleh : Tim Peneliti Universitas Sriwijaya Ketua Machmud Hasjim

Keberadaan PTBA di Tanjung enim tidak bisa dilepaskan dari masyarakat sekitarnya, yang paling tidak mencakup epat wilayah kecamatan disekitarnya. Hubungan anatar keduanya dicirikan sifat kondisinya yang relatif “kontras”. PTBA di Tanjung Enim pada dasatnya merupakan tipikal perusahaan modern yang bergerak disektor pertambangan. Sedangkan masyarakat yang bermukim disekitarnya pada dasarnya merupakan tipikal sektor tradisional yang umumnya bercorak agraris. Berbagai kebijaksanaan yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan sektor tadisional ini antara lain telah dilakukan dengan bebagai cara seperti (1) penyerapan tenaga kerja yang ada kesektor modern (2) pembukaan kesempatan kerja baru disektor pertanian (3) pemerataan pendapatan (4) penanggulangan kemiskinan struktural (5) memodernisasi sektor tradisionol (Ropke, 1988 : 230 – 233). Kebijaksanaan pertama sampai keempat, selama ini kurang menunjukkan keberhasilan yang berarti. Keinginan PTBA untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya, akan lebih realistis jika mendasarkan pada kebijaksanaan yang kelima. Sektor-sektor yang diharapkan dapat mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat, terdapat pada sejumlah sektor, dimana setiap komunikasiyang ada dapat memperoleh penghasilan yang cukup untuk mendukung peningkatan kesejahteraannya. Sektor dimaksud bisa terdapat pada sektor primer, sekunder maupun tersier, yang semuanya akan terkait dengan kelembagaannya masing-masing. Konsisi setiap komunitas, yaitu kelompokkelompok masyarakat dengan pola perilakunya yang homogen dalam mengusahakan suatu kegiatan ekonomi, adalah bsa beraneka ragam untuk setiap sektornya. Keragaman ini antara lain berkaitan dengan kondisi sumber daya alam yang tersedia, latar belakang budayanya maupun pengalaman yang telah membentuknya. Persepsi masyarakat terhadap PTBA sendiri sebenrnya dipengaruhi oleh derajat orbitasi tempat tinggalnya dengan PTBA. Terdapat kecenderungan yang kuat bahwa masyarakat yang bertempat tinggal jauh dengan lingkungan PTBA umumnya mengenal PTBA sebagai perusahaan pertambangan, dan tidak terlalu

434

Pengembangan SDM

berharap darinya.Sebaliknya bagi masyarakat yang bertempat tinggal relatif dekat dengan PTBA, harapan akan “tanggung jawab” terhadap kesejahteraan sangatlah besar. Bagaimana kondisi masing-masing komunikasi pada setiap sektor yang terdapat pada masyarakat disekitar PTBA adalah sebagai berikut : A. SEKTOR PRIMER Yang dimaksud dengan sektor primer adalah sektor kehidupan dimana kegaiatn ekeonomi berdasarkan kegiatan-kegiatan yang bertumpu pada pertanian. Sektor primer ternyata merupakan andalan utama bagi masyarakat di keempat kecamatan. Meskipun terdapat juga pergeseran mata pencaharian yang bersumber dari sektor ini ke sektor lain sebagai akibat keberadaan PTBA. Salah satu ciri pokok dari sektor ini yang berada pada setiap masyarakat di keempat kecamatan adalah taiadanya pertanian yang bersifatnya monokultur sebagai mata pencariaan utama penduduk. Pertanian sebagai mata pencaharian utamanya bersifat multikultur, yang terdiri dari sejumlah tanaman yang sepanjang tahun dapat memberikan penghasilan. Sifat multikultur ini, untuk beberapa desa mulai terdapat pergeseran pengembangna komoditas baru maupun pekerjaan non pertanian yang berbentuk pengusahaan sumberdaya alam yang tersedia. Data monografi kecamatan maupun desa tidak memilahkan penduduk dengan usaha pertanian yang dilakukannya, tetapi memberikan informasi tentang jumlah mata pencaharian penduduk berdasarkan sektornya. Sehingga gambaran tentang jumlah setiap komunitas yang mengusahakan atau melakukan usaha pertanian dengan jenis tanaman tertentu tidak diperoleh datanya dengan pasti. Hal ini terjadi karena masyarakat mengusahakan sejumlah jenis tanaman secara bersama-sama sebagai sumber utama mata pencaharian. Sepanjang tahun setiap warga masyarakat terlibat dalam pola-pola pertaniann multikultur yang umumnya setiap jenis tanaman tidak terlalu menuntut pemeliharaan secara rutin. Gambaran luas sektor primer di keempat kecamatan adalah sebagai berikut : Tabel 1 : Luas Lahan untuk Usaha Sektor Primer di empat Kecamatan Penelitian Tahun 1998 (dalam Ha) No 1. 2. 3. Kecamatan Tj. Agung Lawang Kidul Muara Enim Sawah 1.606 65 2.471 Ladang 16.604 2.784 4.981 Kebun 16.040 10.008 10.750 Kolam 86 62 518 Jumlah 34.336 12.859 18.783

Pengembangan SDM

435

4.

Merapi Jumlah

925 5.067

1.202 25.571

13.765 50.563

25 691

15.917 81.895

Sumber : Kec. Tj. Agung, Lawang Kidul dan Muara Enim dalam angka 1998, BPS Kab. Muara Enim Kec. Merapi dalam angka 1998, BPS Kab. Lahat Kondisi infrastruktur masyarakat, secara ringkas diperoleh gambaran bahwa keterampilan dalam mengusahakan sektor ini bisa dinilai telah memadai, hanya belum didukung dengan wawasan pengetahuan tentang pengembangan potensi sektor ini untuk mengembangkan kesejahteraannya. Hal ini berkaitan dengan tradisi sistem pertanian multikultur, dan sistem belajar kebudayaannya, yang lebih didominasi internaliasi dibandingkan dengan sosialisasi maupun enkulturasi. Terobsesinya masyarakat ini untuk tetap mengembangkan kebun karet, dalam kondisi luas lahan yang semakin terbatas, dan bukanya mengembangkan perikanan yang potensinya cukup besar misalnya, sebagai contoh keterbatasan infrastruktur budanya. Meskipun juga disadari bahwa masyarakat dalam sektor ini masih mempunyai sejumlah keterbatasan dalam infrastruktur fasilitas seperti modal dan pemasaran. Tabel 2 : Luas Hutan Rakyat dan Hutan Negara di keempat Kecamatan Penelitian Tahun 1998 (dalam Ha) Kecamatan Hutan Rakyat Hutan Negara Jumlah Tj. Agung 5.705 23.620 29.325 Lawang Kidul 491 491 Muara Enim 2.600 12.370 14.970 Merapi 11.413 18.159 29.572 Jumlah 20.208 54.149 74.357 Sumber : Kec. Tj. Agung, Lawang Kidul dan Muara Enim dalam angka 1998, BPS Kab. Muara Enim Kec. Merapi dalam angka 1998, BPS Kab. Lahat Berdasarkan kondisi infrastruktur dalam masyarakat, program-program yang dapat dilakukan untuk tujuan peningkatan kesejahteraan yang bertumpu pada sektor primer adalah sebagai berikut : No 1. 2. 3. 4.

436

Pengembangan SDM

Tabel 3 : Program untuk Sektor Primer No 1. Jenis Tanaman Karet Program Peremajaan pohonkaret yang umurnya sudah tua Bantuan pembukaan kebun karet baru lbagi penduduk yang ingin memanfatkan lahanya Peningkatan kualitas karet Peremajaan pohon buah-buahan yang umumnya sudah tua, dengan jenis buah yang “baik” Percontohan kebun buah dengan pengelolaan yang “modern” atau “baik” (kebun buah membutuhkan perawatan yang intensif) Pelatihan [erawatan kebuh buan-buahan Peremajaan kebun kopi Peningkatan kualitas pengolahan kopu Deversifikasi usaha di luar sawit sebagai antisipasi masa paceklik melalui peternakan rakyat Intensifikasi pertanian padisawah Merubah sifat pertanian subsisten pertanian padi sawah untuk berorientasi pasar Intensifikasi pertanian padi ladang Memperjelas pangsa pasar Bantuan alat penyulingan Percontohan kolam ikan yang dikelola masyarakat sendiri Bantuan modal dan teknologi perikanan bagi usaha perikanan Pengembangan ternak tradisionil (Ayam buras, bebek, kambing, lembu, kerbau dll) Bantuan modal Keterangan Penduduk masih terobsesi bahwa kebub karet “cocok” untuk mata pencahariannya

2.

Buah-Buahan

Penduduk belum mengusahakan dan mengelola kebun buah-buahan secara sungguh-sungguh.

3. 4.

Kopi Kelapa Sawit

Umumnya kebun kopi jauh dari pemukiman Umumnya sebagai petani plasma yang tidak mempunyai mata pencaharian lain. Sistem pertaniannya tradisionil masih

5.

Padi Sawah

6. 7. 8.

Padi Ladang Nilam Perikanan

Sistem pertaniannya tradisionil Potensi besar perikanan

masih

sangat

9.

Peternakan

Pengelolaan peternakan masih tradisionil dan relatif tidak ada perawatan secara intensif

Pengembangan SDM

437

B.

SEKTOR SEKUNDER Masyarakat yang kehidupannya bersandar pada sektor sekunder, dalam arti mengusahakan pengolahan suatu bahan baku menjadi produk yang tertentu, pola tempat tinggalnya menyebar dalam wilayah keempat kecamatan dan berkecenderungan tidak membentuk suatu komunitas tertentu dengan budayanya yang tertentu. Populasi komunitas sektor sekunder relatif terbatas jumlahnya, dan mereka mempunyai pola karakteristik yang tertentu. Sektor sekunder ini muncul dalam bentuk berbagai industri kecil yang umumnya masih bersifat dasar yang memiliki ketergantungan langsung pada daya dukung alam. Tradisi masyarakat dalam kehidupan industri kecil relatif belum lama dan belum berkembang, keberadaan sektor ini masih bersifat sporadis dan individuil, dan kemunculan sektor ini lebih didasarkan pada semangat individu yang berani untuk mengambil sejumlah resiko untuk mengembangkan usaha. Gambaran infrastruktur pendidikan antara lain bahwa keterampilan umumnya diperoleh secara individuil melalui proses belajar, magang dan bekerja. Wawasan pengetahuan masih didasarkan pada orientasi pemenuhan kebutuhan pokok dan belum pada pengembangan produk serta pemasaran. Semangat kerja umumnya tinggi dengan keterlibatan anggota keluarga atau lingkungan sekitarnya cukup tinggi. Infrastruktur fasilitas didominasi keterbatasab modal dan teknologi yang masih sederhana. Program-program yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan kesejahteraan sektor ini antara lain sebagai berikut :

438

Pengembangan SDM

Tabel 4 : Program Sektor Sekunder NO 1. JENIS Industri makanan (krupuk, kue, tahu, tempe dll) PROGRAM Pelatihan : 1. keteranpilan devesifikasi dan kualitas produk 2. manajemen pengelolaan usaha Bantuan : 1. teknologi 2. permodalan 3. pemasaran 2. Industri Batubata/genteng Studi : 1. bahan baku bekas galian tambang 2. teknologi pembakaran yang lebih murah Bantuan : 1. pemasaran 2. permodalan 3. Industri Keramik Pelatihan : 1. keterampilan produk dan desain 2. manajemen pengelolaan usaha Bantuan : 1. teknologi produksi 2. pemasaran 3. permodalan 4. Industri (pertukangan mebel) Kayu dan Bantuan : 1. pengadaan bahan baku 2. permodalan 3. memperluas pasar Bantuan : 1. permodalan 2. perluasan pasar Pasar terbatas Sangat kecil populasinya Umumnya diusahakan oleh penduduk pendatang, dan penduduk “setempat” belum tertarik. KETERANGAN Tersebar dalam berbagai wilayah dan bersifat individuil

5.

Industri Logam (pandai besi dan las)

Pasar tebatas

Pengembangan SDM

439

C.

SEKTOR TERSIER Sektor ini pada dasarnya kegiatan usaha yang memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat. Terdapat berbagai kegiatan usaha yang tersebar di keempat wilayah kecamatan, yaitu (1) usaha warung atau toko manisan, yaitu kegiatan usaha yang memberikan pelayanan penyediaan bahan kebutuhan sehari-hari (2) warung makanan, yaitu kegiatan yang menyediakan jasa penjualan makanan olahan (3) penjahit, (4) bengkel kendaraan bermotor (5) salon/pangkas rambut (6) bengkel las dan (7) fotocopy. Gambaran tersier tentang populasinya adalah sebagai berikut : Tabel 5 : Jumlah Unit Usaha Sektor Jasa Di Empat Kecamatan Penelitian Tahun 1998

No

Kecamatan

Penjahit

Bengkel

Las

Salon

Photo copy

1. 2. 3. 4.

Tj. Agung Lawang Kidul Muara Enim Merapi Jumlah

8 8 10 1 27

1 4 17 4 26

2 11 13

12 25 34

4 14 18

Sumber : Kec. Tj. Agung, Lawang Kidul dan Muara Enim dalam angka 1998, BPS Kab. Muara Enim Kec. Merapi dalam angka 1998, BPS Kab. Lahat Populasi dari penduduk yang mengusahakan sektor tersier ini relatif terbatas, yang antara lain disebabkan pemintaan terhadap pelayanan jasa juga relatif rendah. Sebagain besar usaha ini lebnih merupakan sebagai pekerjaan sambilan, dalam arti bukan menjadi pekerjaan pokok yang penghasilnaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sektor jasa berkecenderungan semakin berkembang di daerah yang maju seperti kecamatan Muara Enim dan Lawang Kidul, karena daerahnya sudah relatif maju sehingga permintaan terhadap berbagai jasa akan semakin bervariasi.

440

Pengembangan SDM

Tabel 6 : Program Untuk Sektor Tersier NO 1. JENIS Warung/ manisan toko PROGRAM • Bantuan permodalan • Pelatihan manajemen pengelolaan usaha KETERANGAN Masih orientasi pelayanan kepada masyarakat sekitarnya, belum pada pengembangan usaha Terdapat di daerah yang ramai

2.

Warung makanan

• Bantuan permodalan • Pelatihan manajemen pengelolaan usaha • Peningkatan pengetahuan hiegine sanitasi makanan dan lingkungan usaha

3.

Penjahit

Bantuan : • Peralatan yang belum ada • Membuka akses dengan pihak lain • permodalan

Masih orientasi pelayanan untuk masyarakat sekitarnya

4.

Bengekl kendaraan bermotor Salon/pangkas rambut

• Bantuan permodalan • Pelatihan manajemen pengelolaan usaha • Pelatihan manajemen pengelolaan usaha

Pasar terbuka

5.

Belum sepenuhnya menjadi kebutuhan pokok masyarakat

D.

PROGRAM UNTUK KELOMPOK –KELOMPOK MASYARAKAT Dari sejumlah kelimpok-kelompok masyarakat disekitar PTBA yang tersebar di empat kecamatan terdapat tiga kelompok komunitas dalam masyarakat yang relatif membutuhkan bantuan pengembangan dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya. Ketiga kelompok komunitas tersebut adalah (1) kelompok pemuda, (2) kelompok masyarakat yang tanahnya terkena ganti rugi oleh PTBA, (3) kelompok masyarakat yang mata pencaharian berkecenderungan bertumpu sebagai buruh. Ketiga kelompok komunitas tersebut terdapat dalam sektor primer,

Pengembangan SDM

441

sekunder maupun tersier. Gambaran ketiga komunitas dan program yang bisa ditujukan ke kelompok ssaran ini adalah sebagai berikut : Tabel 7 : Kondisi dan Program untuk Kelompok Masyarakat NO 1. KOMUNITAS Pemuda KONDISI Banyak yang belum bekerja Tidak tertarik di sektor pertanian Sebelum kawin masih menjadi tanggung jawab orang tua Sebagain besar pendidikan SLP/SLA Tidak mempunyai keterampilan tertentu Semangat untuk bekerja relatif rendah Sebagian besar waktunya dihabisnkan di “pance” Keinginan bekerja di luar sektor pertanian besar Mau bekerja sebagai petani kalau sudah kawin PROGRAM Pelatihan keterampilan sesuai dengan minat pemuda yang bisa membuka usaha sendiri Penyuluhan dan pelatihan dengan tunjungan menunjukkan potensi sektor pertanian yang dapat memberikan kehidupan dengan baik (memodernisasi unit kegiatan pertanian bagi pemud) Peningkatan peran toko masyarakat dalam pembinaan pemuda Bantuan usaha untuk kelompok pemuda yang sudaj ada atu yang berminat (keterampilan, modal teknologi dll) Bantuan modal dan teknologi bagi kelompok masyarakat yang ingin membuka kebun lagi di lahan tanah yang masih dimiliki Penjajakan pemanfaatn lahan KET Terdapat disetiap desa dalam empat kecamatan.

2.

Kelompok masyarakat yang tanahnya terkena ganti rugi PTBA

Mata pencaharannya sebagai petani berkurang/hilang Msih terobsesi mempunyai kebun lagi Mengharapkan anakanaknya dapat bekerja di “PTBA” Mata pencaharian pokoknya

Terdapat antara lain di desa-desa yang terkena pembebasan tanah oleh PTBA seperti : - Sirah Pulau - Banjarsari - Tanjungraja - Karangraja - Lingga dll

442

Pengembangan SDM

“beranekaragam” (multikultur + buruh) Umumnya penduduk “setempat” Rentan terhadap “isu” yang berkaitan dengan PTBA

tambang yang sudah tidak digunakan lagi untuk lahan kebun/pertanian oleh masyarakat Komunikasi antara PTBA dengan masyarakat untuk meningkatkan “jasa masyarakat” melalui berbagai bentuk perhatian yang sederhana. Pembinaan usaha penggalian, usaha yang memungknkan kehidupan bisa lebih baik seperti mekanisme pemasaran batu koral/pasir. Pengembangan buruh yang mempunyai keterampilan seperti tukang kayu untuk bisa membuka usaha sendiri dalam bentuk usaha mebel, kusen dll Pertanian sawah ladang sebagai pekerjaan selain buruh Terdapat di desadesa sempat kecamatan, khususnya desa dalam aliran sungai

3.

Kelompok masyarakat dengan mata pencaharian umum sebagai buruh

Umunya juga sebagai petani, tetapi lebih banyak waktunya sebagai buruh Terdiri dari buruh upahan atau upah borongan Umumnya tidak mempunyai keterampilan tertentu (buruh tebas, batu koral dll) Buruh dengan keterampilan tertentu mempunyai kemauan untuk berkembang (tukang kayu) Sangat tergantung dari kondisi alam dan kemampuan phisik

E.

PROGRAM PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN

Perubahan kelembagaan yang mendasar di tingkat desa, diawali dengan diberlakukannya UU No. 55 Tahun 1979, sehingga sistem pemerintahan Marga terhapuskan dan diterapkan sistem pemerintahan desa. Perubahan ini

Pengembangan SDM

443

diperkirakan akan terus berlanjut dengan diterapkannya UU Nomor 22 Tahun 1999. Implikasi dari perubahan kelembagaan pada tingkat pemerintah terendah di bawah camat adalah : 1. Mengendornya norma sosial dan kepatuhan warga masyarakat dengan dihapuskannya mekanisme adat sebagai kontrol sosial dalam kehidupan masyarakat. 2. Sikap hidup warga masyarakat yang menggantungkan hidup dari kemurahan alam dan sikap mental hanya sebagai pekerja, sehingga tantangan alam dipandang sebagai kendala dan pembatas. 3. Kurang berfungsi dan lemahnya kelembagaan formal, akibat hak otonomi desa terbatas. 4. Penguasaan sumberdaya alam mengalami fragmentasi dan hak penguasaannya didasarkan hanya pada “hak pelekat” dan “hak milik” warisan nenek moyangnya, sehingga menimbulkan sengketa hak pemilikan, khususnya tanah. 5. Pembangunan selama ini dilakukan secara top-down, sehingga ada anggapan bahwa pembangunan desa bukan merupakan kewajiban warga, tetapi kewajiban pemerintah. 6. Kebiasaan warga masyarakat yang tidak biasa kerja kelompok sehingga munculnya hama tanaman yang merusak tanaman di tegalan/ladang maupun dikebun akibat warga masyarakat dalam pengelolaan tanaman yang terpencar-pencar dan bersifat individual. Melihat implikasi tersebut di atas, maka diperlukan pemberdayaan dan pengembangan masyarakat secara umum, baik komunitas pada sektor primer, sekunder, tersier dan kepemudaannya. Program pemberdayaan dan pengembanganmasyarakat meliputi : 1. Pemberdayaan kelembagaan pada tingkat lembaga formal yaitu Tata Laksana Administrasi dan Pemerintah Desa yang ditujukan pada aparat Desa dan operasionalisasi instansiterkait pada tingkat desa, dan pada tingkat komunitas yang berupa penyuluhan pembentukan usaha kelompok, baik sifatnya untuk peningkatan usajha ekonomi maupun sosial kemasyarakatan. 2. Menumbuhkan kembali peran adat-istiadat pada tingkat lokal sebagai kontrol sosial dalam kehidupan kemasyarakatan. Peran adat di tingkat lokal disesuaikan dengan wilayah teritorial pada masa Marga. 3. Pemberdayaan Otonomi Desa dalam upaya menggali sumber pendapatan asli desa melalui penggalian sumber dan pengelolaan harta kekayaan desa yang dimiliki melalui cara pemanfaatan lahan tidur. Upaya ini disesuaikan dengan

444

Pengembangan SDM

potensi lingkungan dan potensi sumberdaya dikembangkan dengan Model Pendampingan. F.

manusia

yang

dapat

PROGRAM PENGEMBANGAN PEMUKIMAN Pola pemukiman ada dua kecenderungan, yaitu memanjang dipinggir-pinggir sungai atau memanjang sepanjang jalan raya. Pemukiman rata-rata rumah panggung dengan bentuk Gudang atau Limas yang sebagian besar dibuat dari kayu dan bentuk rumah tersebut rata-rata sama untuk setiap wilayah. Rumahrumah panggung ini dapat dijumlai disekitar aliran Sungai enim, dari Desa Pandan Dulang, Lebak Budi hingga sampai diperbatasan Kecamatan Lawang Kidul. Begitu juga di wilayah Kecamatan Merapi Kabupaten Lahat, rata-rata rumah panggung disepanjang jalan raya dan aliran Sungai Lematang, seperti di Desa Kebur, Sirat Pulau, Gunung Kembang, Prabu Menang, Banjarsari dan desa-desa lainnya. Berbeda halnya pemukiman di sekitar perkotaan, seperti di kota Tanjung Enim dan disekitar Muara Enim, kondisi permukimannya heterogen, mesti diwilayah pedesaannya masih terdapat rumah panggung. Di Desa Lingga, Tanjung, Muara Lawai, Kelurahan Pasar I masih terdapat rumah-rumah panggung. Ada kecenderungan warga disekitar aliran sungai masih memakai air sungai untuk keperluan rumah tangganya, disamping untuk mandi dan cuci. Berdasarkan informasi warga masyarakat disekitar sungai, sejak sungai sering mengalami pencemaran, seperti di Desa Muara Lawai (Muara Enim) yang airnya keruh akibat pengeboran minyak di desa Banjarsari, disepanjang Sungai Enim dan Sunga Lematang akibat limbah pabrik maupun pertanian, sehingga cwarga membuat sumur timba. Sumur yang dibuat warga ini digunakan hanya untuk memasak dan minum, sedangkan kegiatan domistik lainnya tetap dilakukan di sungai. Oleh karena itu, sungai menjadi arena sosial untuk mendapat informasi dan guncingan warga sambil melakukan pekerjaan domistiknya. Ada kecenderungan bahwa pemukiman disekitar pedesaan pada umumnya, mesti mengelompok, letak rumah tidak teratur, jalan masuk ke gang masih jalan tanah, sehingga jika musim hujan berlumpur ditambah dengan sanitasi lingkungannya hampir tidak ada. Limbah buangan air dari pemukiman cenderung membuat lingkungan pemukiman menjadi tidak sehat, ditambah lagi dengan kebiasaan warga, khususnya di sekitar pedesaan di wilayah Merapi yang membiarkan binatang ternaknya berkeliaran dengan tidak dikandang, sehingga kotoran ternaknya ada dimana-mana. Fasilitas sosial sebagai penunjang warga di pemukiman, relatif terbatas adanya, seperti fasilitas kesehatan dalam bentuk Puskesmas maupun Pustu cenderung hanya berada di pusat kecamatan, fasilitas pendidikan pada tingkat

Pengembangan SDM

445

sekolah lanjutan tingkat pertama maupun atas terbatas sekali, sehingga angka partisipasi sekolah anak pada tingkat ini cenderung rendah. Implikasi dari kondisi pemukiman yang demikian, maka diperlukan pemberdayaan dan pengembangan masyarakat di wilayah yang kena dampak maupun diluar dampak disekitar PT. BA yaitu berupa : 1. Penyuluhan mengenai air bersih, sanitasi air sungai dengan metode tepat guna dan pembuatan sumur-sumur yang terlindung untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga masyarakat. 2. Pengerasan jalan dan gang di pedesaan dengan cara swadaya warga maupun bantuan yang sifatnya hanya stimulan untuk menumbuhkan partisipasi warga dalam memelihara dan membangun di lingkungannya. 3. Penyuluhan mengenai Kesehatan Sanitasi Lingkungan, baik mengenai sanitasi pembuatyan limbah air rumah tangga maupun model sistem ternak kandang. 4. Bantuan fasilitas umum, khususnya yang oleh masyarakat dibutuhkan dan fungsional.

446

Pengembangan SDM

PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN APARATUR YANG BERSIH DAN BERWIBAWA DALAM RANGKA MENYONGSONG OTONOMI DAERAH Machmud Hasjim

A.

PENDAHULUAN

Pembangunan Indonesia telah dimiliki sejak lama zaman Sriwijaya abad ke7 atau ke-8 hingga kini terus berlangsung. Pada setiap era (zaman) terjadi pasang surutnya pembangunan tersebut, kadangkala terjadinya kejayaan dan akhirnya lenyap. Kejelian Belanda melihat zamrud khatulistiwa di Asia pada abad ke-16 dan awal abad ke-17, dapat memanfaatkan dan sekaligus mengeruk keuntungan selama ± 3 ½ abad dan dilanjutkan oleh Jepang sampai tahun 1945. Perjuangan rakyat Indonesia telah dilakukan sejak awal Belanda menginjakkan kakinya di Indonesia. Peperangan dengan pengorbanan yang dimulai pada awal abad ke-20 dimulai dari Kebangkitan Nasional I yaitu lahirnya Budi Oetomo tahun 1908 yang merupakan semangat patriotisme dalam mengemban nilai-nilai luhur cita0cita dan perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme yang telah merampas hak dan kedaulatan bangsa Indonesia selama beberapa abad. Selanjutnya lahir bagi beberapa pergerakan/organisasi yang bersifat manajemuk , yang sama-sama bangkit serentak di tengah-tengah situasi penjajahan dan penidasan. Kemajemukan organisasi itu dapat disatukan oleh tekad dan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang mengeyampingkan perbedaan suku, golongan, ras, asal usul daerah dan bahasa. Perkembangan itu terpatri oleh rasa kebersamaan kepentingan dan mencapai puncaknya pada saat Proklamasi Kemerdekan 17 Agustus 1945. Sejarah telah menuliskan bahwa awal perjalanan kebebasan itu tidaklah licin. Banyak rintangna-rintangan pada periode 1945 – 1950 yang merupakan masa Revolusi Fisik untuk memperahankan kemerdekaan. Pada periode berikutnya, sering juga terjadi konflik didalam sehingga ada usaha-usaha untuk mencoba menggantikan konsep kebangsaan kita dengan konsep/faham ideologi lain. Adanya Dkrit 5 Juli 1959 telah mengakhiri konflikkonflik tersebut. Oleh karena dekrit tersebut belum dilaksanakan secara konsekuen, maka komunis menggunakan kesempatann untuk mengatur strategis dan sekaligus konsolidasi sehingga terjadilah tragedi nasional pengkhianatan G 30 S/PKI pada tahun 1965. Hikmah dari tragedi nasional inilah melahirkan orde baru yang. Selanjutnya cesara bertahap melaksanakan proses pemurnian konsep kebangsaan antara lain diterimanya Pancsila sebagai asas bagi kehidupan

Pengembangan SDM

447

berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Implementasi pembangunan dilakukan mulai dari Pelita I sampai dengan Pelita VI. Kelihatannya perjalanan sejarah mirip dengan perputaran roda, kadang-kadang di atas dan kadang-kadang pula di bawah. Kekuasaan yang terlalu lama cenderung kepada otoriter dan diktator sehingga baik peraturan dan pelaksanaannya dilakukan dengan memihak secara monopoli menguntungkan pemimpin dan kroninya. Era orde baru berlalu yang disambut dengna era/zaman Reformasi. Pada era reformasi ini telah disepakati untuk mengisi pembangunan ke depan diperlukan pemerintahan dengan aparat yang jujur, adil, bersih bebas dari KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) berwibawa dan transparan. Referensi dari pemerintahan orde reformasi ini cukup banyak, mulai dari perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, pemerintahan orde lama, pemerintahan orde baru dan pemerintahan transisi di bawah pimpinan President B.J. Habibie. Aingin segar telah ditiupkan oleh Pemerintah orde reformasi yaitu otonomi daerah dan primbangan keuangan anara Pemerintah Pusat dan Daerah melalui UU No. 22 tahun 1999 dan UU No. 25 Tahun 1999. Pemerintah daerah menyabut otonomi daerah ini dengan was-was karena masih menunjukkan banyak pertanyaan-pertanyaan, antara lain : (1) apakah SDM telah siap; (2) apakah SDA kualitatif dan kuantitatif cukup memadai; (3) apakah pertimbangan keuangan antara pusat dan daerah sudah cukup adil; (4) apakah pemerintah pusat sudah cukup ikhlas melepaskan sentralisasi menuju desentralisasi; (5) apakah pemerintah pusat dan pemerintah daerah sudah cukup ikhlas untuk menjadi pelayan masyarakat dan; (6) apakah KKN baru dapat diberantas dengan penegakan supremasi hukum. Pertanyaan-pertanyaan di atas secara komprehensif perlu ditanyakan kepada pribadi-pribadi birokrat, legislatif, yudikatif dan masyakarat. B. PEMBANGUNAN DAERAH Pembangunan daerah sudah harus dipersiapkan dengan memahami serta meneliti UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 tahun 1999 beserta PP No. 25 tahun 2000. Memahami berarti satu interpretasi materi substansi yang ada pada UU tersebut. Meneliti maksudnya, perlu mempersiapkan bahan/argumentasi untuk usulan perbaikan/perubahan UU disebabkan mungkin untuk rasa keadilan dan juga sulitnya dalam mengimplementasikan UU itu. Sebagai salah satu contoh, sulitnya pengeterapan pembagian keuangan pemerintah pusat dan daerah pada pemanfaatn Sumber Daya Alam (SDA) perairan di wilayah perairan di dalam dan di luar perairan 12 mil. Demikian juga ketimpangan dana pembangunan pada pasal 6 UU No. 25 Tahun 1999 antara Sumber Daya Alam sektor pertambangan umum

448

Pengembangan SDM

dengan sektor pertambangan migas. Mengapa tidak disamakan saja menjadi 20% untuk pusat dan 80% untuk daerah otonomi. Kita mengetahhi bahwa penerimaan negara dari migas jauh lebih besar dibandingkan dengan pertambangan umum. Juga diperlukan transparansi pembangunan/penerimaan pajak dari BUMN/BUMS yang berada di daerah serta perimbangan. Di dalam pembangunan daerah ini perlu dilakukan inventarisasi potensi sumber daya alam, kondisi sumber daya manusia serta keadaan aparatur pemerintah di daerah DPRD, LSM serta masyarakatnya. Secara komprehensif perlu keseluruhan potensi itu dengan bertingkat dan terencana untuk diberdayakan. Yang sangat penting adalah daerah MUBA sejak sekarang sudah harus mempersiapkan pembangunan sektor-sektor yang diunggulkan. C. SUMBER DAYA ALAM Secara topografi Kabupaten Musi Banyu Asin terletak di daerah dengan dataran rendah (daratan) banyak sungai (air) dan juga mempunyai pantai. Muba adalah daerah tingkat II di Sumatera Selatan yang paling luas. Muba juga mempunyai kekayaan bahan galian yang cukup banyak seperti batubara, gambut, minyak dan gas bumi. Dengan kekayaan alam serta isinya itu, potensi sumber daya alamnya sangat kaya. Potensi air yang besar ini sangat potensial untuk budidaya perikanan (perikanan laut dan perikanan darat) dalam arti yang luas. Demikian juga daratan yang sangat luas, dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan. Untuk mengetahui sumber daya alam ini, sudah semestinya dilakukan pemetaan secara menyeluruh dengan remote sensing. Dengan demikian ini berarti dapat membuka peluang para invenstor untuk menanamkan modalnya di Muba dengan sektor-sektor unggulan antara lain : (1) Pertambangan; (2) Perikanan dan Kelautan; (3) Pertanian; (4) Perkebunan dan ; (5) Industri. D. SUMBER DAYA MANUSIA Peran sumber daya manusia dalam pembangunan merupakan kunci kesuksesan. Pernyataan ini tidak diragukan orang lagi. Sebagai contoh, Jepang dengan sumber daya alam yang terbatas dan sumber daya manusia yang prima, menjadkan negara itu menjadi negara industri utama di dunia. Nasibit mengatakan bahwa dunia pada saat ini sudah masuk ke era gelombak ke-3 yaitu era informasi, suatu era dengan perubahan yang berlangsung sangat cepat sekali. Tentu kita akan jauh tertinggal bila kita tidak ikut terlibat ke dalamnya, Untuk supaya dapat ikut terlibat sebagai pemain diperlukan persiapan-persiapan sumber daya manusianya dari segala aspek terutama pengetahuan IPTEK. Secara jujur kalau kita lihat dari kondisi sumber daya manusia kita di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dari sumber daya manusia di dunia dari aspek kualitas pendidikan

Pengembangan SDM

449

maupun moral. Bila kita lihat angka partisipasi aktif murni (APM) untuk kabupaten Muba pada Tingkat SD, SLTP dan SMU/SMK masing-masing 85,65%; 40,24% dan 17,29% dan untuk tingkat propinsi Sumatera Selatan adalah 99,29%; 70% dan 51,37% (sumber Kanwil Pendidikan Nasional Sumatera selatan Tahun 1999/2000). Angka partisipasi murni secara nasional untuk SD, SLTP dan SMU/SMK masing-masing 94,87%; 51,36% dan 28,88% (sumber : Indonesia Education Culture Tahun 1998). Angka APM tersebut untuk Muba dari seluruh jenjang pendidikan sudah lebih rendah dari rata-rata Propinsi Sumatera Selatan dan juga rata-rata nasional. Belu lagi bila kita tinjau untuk tingkat perguruan tinggi. Ini menunjukkan perlu adanya kepedulian peningkatan sektor pendidikan baik dari aspek kuantitas maupun kualitas, dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Selain sumber daya manusia yang berpendidikan, yang diperlukan untuk pembangunan adalah dumber daya manusia yang bermoral yang berakhlakul karimah. Akhlak yang baik ini merupakan pondasi dasar pembangunan. Tidak ada pembangunan bila tidak ada pondasi dasar ini. Oleh karena itu kalau kita kutip dari Surat Ali Imran 191 – 194, seorang cendikiawan muslim itu seyogyanya mempunyai karateristik sebagai berikut yaitu: (1) orang-orang yang senantiasa selalu zikir kepada Allah; (2) orang-orang yang mentafakuri ciptaan Allah, sehingga menimbulkan keinginan dan rangsangan untuk taqarub mendekatkan diri keada NYA; (3) orang-orang yang sangat takut akan murka Allah yang dapat menyebabkan kesengsaraan terutama di akhirat nanti, dan (4) orang-orang yang rindu mendapatkan ampunan Allah. Bila sumber daya manusia bekerja dengan landasan karakteristik moral dan agama seperti di atas, saya kira tidak akan ada korupsi, kolusi dan nepotisme dalam arti yang negatif. Semua tugas-tugas yang dilakukan akan dapat bersinergi satu sama lain. Karakter seperti di atas akan sangat mengibas kesekelilingnya sehingga apa yang pernah diucapkan oleh almarhum M. Natsir : “Gubahlah dunia dengan amalanmu, dan sinarilah zaman dengan imanmu”. Bila karakter tersebut berada pada pimpinan, diharapkan pimpinan itu dapat menjadi panutaun/teladan dari seluruh aspek kehidupan. Almarhumah A.H. Nasution mengatakan “ “Kalau mau membersihkan lantai, bersihkan dulu atasanya”. Dengan demikian ilmu amaliah, amal ilmiah yang diperankan oleh manusia yang berakhlakul karimah dapat mensinergikan seluruh potensi yang ada guna pembangunan yang dapat memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat. Dengan demikian masyarakat sekaligus akan menjadi subjek dan objek pembangunan itu sendiri.

450

Pengembangan SDM

E.

PEMERINTAH DAERAH, DPRD, LSM DAN MASYARAKAT

Pada era reformasi ini dituntut adanya transparansi pembangunan. Dalam menyiapkan suatu peraturan dan perundang – undangan oleh Pemda dan DPRD, perlu diikutsertakan Lembaga Swadaya Masyarakat dan masyarakat umum. Dengan demikian, pembangunan itu sendiri menjadi milik bersama dan samasama mempunyai rasa memiliki. Yang menjadi motor penggerak pembangunan, haruslah bersama-sama antara birokrat, politisi dan masyarakat. Oleh karena itu untuk pemerintah yang baik, asas-asas good governance antara lain (1) tranparansi; (2) partisipasi, (3) public accountability; (4) morality; (5) adanya visi pembangunan yang berorientasi kepada kepentingan masyarakat; (6) bersih dan berwibawa dan (7) leandership perlu disiapkan/diciptakan. Seorang pimpinan dituntut bersih dan berwibawa sehingga dapat mengetahui sektor – sektor yang harus dicuci dan dibersihkan. Air umumnya mengalir dari atas ke bawah, dengan kata ilmiahnya pengalirannya dari tekanan yang lebih rendah. Bila air dari atas tadi bersih, maka akan ada kemampuan untuk membersihkan bagian bawah yang mungkin kotor, dan tidak mungkin akan terjadi sebaliknya. Dengan demikian pimpinan eksekutif, politisi/DPRD, LSM yang bersih akan mampu membersihkan yang kotor pada bagian bawahnya. Pimpinan eksekutif, legislatif dan LSM harus mampu secara bersama-sama menciptakan suasana yang kondusif dengan ethos kerja yang baik di daerah. Karena masyarakat/rakyat adalah subjek dan objek pembangunan, maka manajemen bottom-u[ juga perlu diterapkan. Undang-undang Dasar 1945 pada pasal 33 ayat 3, pada hakekatnya mengamanatkan bahwa kekayaan alam ini untuk kemakmuran/kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu potensi alam yang ada disuatu daerah, haruslah dapat memberikan manfaat untuk rakyat setempat. Jenis dan ragam pekerjaan masyarakat itu haruslah bersandar kepada potensi daerah tersebut. Peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah tersebut haruslah menjurus dan meningkat pada kebutuhan daerah, dan dilakukan secara terencana untuk memenuhi kebutuhan persaingan pasar global. Peran Dinas Tenaga Kerja Daerah bersama Bappeda, sangat memegang peran yang sangat penting dalam membuay perencanaan pembangunan jangka menengah dan jangka panjang. Perlu daintisipasi dari sekarang bila pada saatnya terjadi over produksi dari hasil pertanian, perikanan, perkebunan atau produksi lainnya, rakyat jangan dirugikan. Ini dapat dilakukan dengan peningkatan kualitas produk, menghadirkan teknologi proses dan pemasaran. Dengan demikian ekonomi riel yang digerakkan oleh rakyat akan dapat memberikan arti yang positif, karena antara keempat pilar pembangunan yang eksekutif, legislatif, yudikatif dan masyarakat dapat bersinergi secara positif.

Pengembangan SDM

451

Pengawasan pembangunan yang dilakukan oleg legislatif dan masyarakat, aktualisasi penegakan supremasi hukum dilaksanakan secara konsekuen oleh lembaga yudikatif, dapat menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Pembangunan yang dilakukan adalah pembangunan yang berkelanjutan. Kita ketahui bahwa bahan baku produksi ada yang dapat diperbaharui dan ada yang tidak dapat diperbaharui. Jumlah tenaga kerja, kian tahun kian bertambah. Oleh karena itu untuk menambahk lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah, perlu dilakukan pengolahan industri tersebut mengalir ke hilir. Dengan meningkatkan aktifitas pembangunan tersebut, para investor perlu memperhatikan antara lain (1) modal; (2) community development (pembangunan masyarakat), dan (3) kerja sama yang baik dan transparan dengan Pemda, DPRD, LSM dan masyarakat setempat. Diharapkan buah pembangunan itu dapat dinikmati bersama dengan sejahtera dan rasa keadilan. F. PENUTUP Otonomi daerah dalam pembangunan daerah perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang disesuaikan dengan potensi daerah yang bersangkutan. UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 tahun 1999 perlu dipahami dan diteliti secara baik untuk mendapatkan intepretasi yang sama. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu kerja sama yang baik, dan tidak menaruh curiga satu dengan lainnya. Pembangunan itu sendiri pada hakekatnya adalah untuk kepentingan masyarakat. Ini berarti perlu dilakukan manajemen dari bawah ke atas, untuk dapat tercapai sasaran pembangunan yang tepat. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya KKN berpindah dari pusat ke daerah, perlu keteladanan dari kepemimpinan, transparasi, kepercayaan masyarakat dan keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan. Menurut teori Leadership, ada yang berpendapat bahwa Raja itu dilahirkan, tapi ada yang berpendapat bahwa Raja itu dibuat/dibentuk. Kalau di analogikan, pemerintah yang bersih dan berwibawa dapat dibentuk atau juga dapat dilahirkan. Bila para pemuda dilahirkan oleh orangtua yang baik dan dilatih/dibentuk dengan cara yang baik, Insya Allah akan lahir/tumbuh generasi yang baik untuk masa depan. Dalam pendidikan/latihan tersebut perlu dilakukan dengan proses belajar mengajar yang tepat dengan memperhatikan aspek psikomotorik, kognitif dan afektif, serta berlandaskan/berpondasi kepada penciptaan moral yang baik. Kesemaunya akan berhasil bila adanya political will dan keikhlasan dari atas (birokrat, elite politik, dan para profesional) dengan suara dan nada yang serasi.
*) **) Makalah pada Musyawarah Besar Pembangunan MUBA ke-3 di Sekayu, 29 September s.d 1 Oktober 2000 Guru Besar Universitas Sriwijaya

452

Pengembangan SDM

PROSPEK KERJASAMA BIDANG PENDIDIKAN DAN AGAMA DUNIA MELAYU DUNIA ISLAM* Machmud Hasjim

1.

PENDAHULUAN

Sebagai hamba Allah yang beriman seyogyanya kita mempunyai visi serta persepsi yang sama di dalam kehidupan ini dengan berpedoman pada Al Quran dan Al Hadits. Hanya 3 hari yang dialami insan hamba Allah dalam hidup yaitu hari kemarin, hari ini dan hari esok. Kemarin tidak akan terulang lagi untuk selamalamanya, hari esok belum tentu dan yang terpenting adalah hari ini. Pesan Al Quran untuk merujuk kehidupan yang hasanah masa kini dan hasanag di hari esok, hendaknya insan hamba Allah memperhatikan 8 butir yang terpatri dalam Al Quran yaitu (1) bekal hidup (As-Sabak 9, Al Baqarah 22, Thoha 53, Al Jaatsiyah 13); (2) tujuan hidup (Al An’am 162): (3) tugas hidup (Ads Dzaariyaat 56); (4) peran hidup (Al An’am 165, Ali Imran 110); (5) pedoman hidup (Al Isra’ 9, An Nisa 59, 105); (6) teladan hidup (Al Ahzab 40); (7) kawan hidup (Al Hujarat 10) dan (8) lawan hidup (Al Baqarah 168, Al Anam 142) serta menghidupkan kembali akar budaya bangsa melayu yang serumpun. Dengan visi dan persepso yang sama ini, akan memudahkan menjalin hubungan silaturahmi umat Islam, khususnya masyarakat Melayu. Hubungan tersebut dapat dilakukan dalam bidang perdagangan, pendidikan, sosial budaya dan seni serta bidang-bidang lainnya tergantu dengan potensi yang ada pada masing-masing negara. Adanya suatu persepsi yang sama sesama Rumpun Melayu dan Islam ialah suatu perbuatan yang baik yang memberikan kebaikan/keuntungan terhadap pihak lain, maka perbuatan tersebut bernilai ibadah. Dengan demikian begitu banyak komponen perekat untuk menjalin kerjasama Dunia Melayu Dunia Islam. Dengan engaktifkan kembali jati diri bangsa Melayu melalui bahasa, agama dan kebudayaan akan terjalain hubungan komunikasi yang komunikatif yang memberikan nilai tambah untuk semuanya . Umat Islam pada saat ini terbagi atas 3 kelompik yaitu (1) ummat Islam mayoritas, minoritas dalam kualitas; (2) ummat Islam terbelakang dan (3) ummat Islam minoritas. Dengan melakukan inventarisasi kekurangan dan kelebihan (keunggulan) masing-masing Dunia Melayu Dunia Islam, dan berbagai kelompok Islam di negaranya masing-masing dengan berdasarkan bahwa sesama muslim di dunia adalah bersaudara (saudara kandung (An-Nisa’23); saudara yang terjalin ikatan keluarga (Toha 29-30); saudara sebangsa (a; A’raf 65); saudara semasyarakat (As-Shad 23); saudara seagama (al

Pengembangan SDM

453

Hujurat 10), akan memudahkan membuat program bersama untuk menjalin kerjasama. Umunya negara-negara Islan di dunia pada saat ini terjajah secara kultural, sekonomi dann politik bahkan juga keamanan dari negara-negara Barat, karena Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang secara kualitatif dan kemiskinan yang melanda kita semua. Oleh karena itu perlu dan tepat sekali bila Dunia Melayu Dunia Islam pada saat ini mulai bangkit dengan mengambil inspirasi kejayaan Melayu Islam pada abad ke-15. Dengan menyadari perlunya peningkatan SDM yang berkualitas, manusia menurut Al Quran memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah (Al Kahfi 65), untuk menyongsong hari esok yang lebih baik dan menjadi khalifah yang baik di bumi, sudah saatnya Dunia Melayu Dunia Islam bersatu menjalin hubungan kerjasama yang saling menguntungkan dalam bidang pendidikan umum maupu agama. Kerjasama bidang pendidikan dan agama yang disiapkan adalah yang dapat dioperasionalkan baik jangka pendek, menengah maupun jangaka panjang melalui berbagai media seperti pendidikan Pascasarjana, pelatihan keterampilan tertentu, kuliah tamu, penelitian bersama, seminar bersama ataupun saling kirim informasi melalui media elektronik, cetak, VCD/CD Room maupun internet. Dengan demikian keunggulan rumpun melayu dapat dihimpun terutama dalam menghadapi era glonal yang tidak lama lagi akan hadir di tengah-tengah kita semua.. 2. PENDIDIKAN DI DUNIA

Perkembangan dalam ilmu tehnologi pada saat ini sungguh begitu cepat. Tehnologi informasi ini adalah sarana yang sangat berperan dalam suatu begara terutama pada era global. Ulisan Naisbitt dalam “Global paradox” (1994) dan “Megatrends Asia” The Eight Asian Megatrends That are Changing The World” (1995) menunjuk betapa keras dan derasnya persaingan dan pergeseran pengaruh yang diakibatkan oleh globalisasi ini. Antisipasi kita adalah bahwa kecenderungan ini akan makin mengglobal dalam proses yang sangat cepat dari berbagai dimensi dalam kehidupan. Erat kaitannya dengan itu adalah pertanyaan tentang kesiapan Dunia Melayu Dunia Islam menghadapi era itu khususnya dalam bidang pendidikan. Pada era global akan terjadi pergeseran tata nilai. Agar dapat mengakomodasi pergeseran tata nilai itu secara tepat dan cepat, dibutuhkan berbagai kondisi yang mendukung terjadinya perubahan itu. Erat hubungannya dengan tata nilai ini adalah masalah kualitas sumber daya manusia terutama di negara-negara berkebang termasuk Dunia Melayu Dunia Islam. Sumber daya manusia yang terutama diperoleh melalui proses pendidikan umumnya dikuasai oleh negara-negara Barat yang sekuler. Dengan demikian pendidikan yang

454

Pengembangan SDM

melahirkan SDm yang baik di negara-negara berkembang di dunia secara tidak langsung masih menjadi jajahan negara-negara maju. Dengan menyadari keadaan ini snagat diperlukan jihad dengan realisasi etos kerja serta serta kerjasama yang baik yanng bernafaskan ukhuwwah antar Dunia Melayu dunia Islam. Sebetulnya Dunia Melayu Dunia Islam mempunyai kelebihan modal yang hakikinya dibandingkan dengan negara barat yaitu jati diri yang Islami, yang perlu diamalkan secara konsisten. Faktor kelemahan lain yang sangat penting dalam menyiapkan SDM melalui pendidikan tersebvut adalah kurannya dana pendidikan dan kesungguhan pada negara berkembang pada setiap jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Perkembangan pendidikan di Asia denganbelahanbumi lainnya daria spek melek huruf secara relatif tertinggal. Sebagai contoh angka melek huruf orang dewasa pada tahun 1985 sebesar 65% untuk Asia dan 80 % untuk Amerika Latin walaupun secara rata-rata negara berkembang sebesar 59%. Partisipasi kasar anak-anak dan pemuda pada negara berkembang (tahun 1985) masing-masing adalah 90% untuk pendiidkan dasar, 37% pendidikan menengah dan 10% pendidikan tinggi. Keprihatinan yang lain adalah biaya pendidikan yang rendah, untuk pendidikan di Asia dibandingkan dengan pendidikan di dunia maju dengan ukuran GNP. Di Asia terdapat negara maju dan negara berkembang (miskn). Sebagai contoh pada tahun 1985 angka melek huruf di Bhutan sekitar 15% dan 90% di Korea dan Thailand. Untuk Bangladesh dan Nepal, walaupun rendah, selanjutnya peningkatan angka melek huruf cukup menggembirakan. Keadaan ini tidak berlaku untuk Indonesia, India, Malaysia, Papua New Guinea dan Siangapura, karena memulai dari pendidikan tinggi. Bila dilihat dari Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk beberapa negara di Asia (data tahun 1985), perkembangan peningkatan APK tersebut dari seluruh jenjang penddikan cukup menggembirakan. Untuk Indonesia peningkatan tersebut cukup baik bila dibandingkan keadaan tahun 1970 dengan 1985 dari 64,60 % menjadi 93,60% untuk pendidikan dasar, 14,20% menjadi 44,40 untuk pendidikan menengah dan 1,90% menjadi 8,90% untuk pendidikan tinggi. Angka ini berada pada angka rata-rata perkembangan pendidikan 15 negara di Asia. Tantangan pendidikan dunia yang dihadapi pada saat sekarang ataupun ke depan adalah mahalnya biaya pendidikan terutama untuk pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan pasar. Keadaan ini lebih dirasakan oleh negara-megara berkembang termasuk Dunia Melayu Dunia Islam. Negara yang menguasai tehnologi informasi dan dengan penyediaan dana yang emadai serta didukung oleh pemerintah dan masyarakatnya, akan memimpin bidang pendidikan di dunia yang dapat melahirkan SDM untuk kebutuhan peningkatan pertumbuhan

Pengembangan SDM

455

ekonomi negara. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan lingkungan pendidikan, peradaban tujuan pendidikan, perubahan metodelogi pengajaran, perubahan kurikulum, perubahan dan kemajuan tehnologi, perubahan kebutuhan pasar dan perubahan keinginan politk suatu negara. Untuk itu Dunia Melayu Dunia Islam tidak perlu menjauhi kondisi perubahan tersebut, bahkan harus sama-sama mengkaji/meneliti dan akhirnya mengambil suatu sikap dalam menentukan kebijakan bidang pendidikan dalam menentukan prioritas untuk kemanfaatan masa depan. Jalinan kerjasama internasional bidang pendidikan perlu dilakukan secara bilateral maupun multilateral, namun substansi kerjasama harus diputusakn bersama dengan memperhatikan kebutuhan negara berkembang untuk melenyapkan kebodohan kemiskinan dan keterbelakangan. 3. PENDIDIKAN DI INDONESIA

Pendidikan di Indonesia dimulai dari jenjang terendah yaitu pendidikan pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Berdasarkan jenisnya ada yang disebut pendidikan umum dan ada pendidikan agama. Semuanya mengacu kepada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 yang merupakan Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam UndangUndang No. 2 Tahun 1989 disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Intinya adalah agar supaya sumber daya manusia Indonesia menjadi manusia yang berilmu pengetahuan, beramal serta mempunyai akhlak yang baik. Tujuan pendidikan ini sangat selaras dengan ajaran Islam karena sesungguhnya, Islam adalah agama ilmu dan amal. Pandangan tentang IPTEK dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah saw., (Al Alaq 1-5), ayat yang pertama diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Al Quran telah menjadikan ilmu sebagai asas dan ukuran kemuliaan diantara manusia (Az-Zumar 9) Untuk menuju pendidikan masa depan yang lebih baik, diperlukan data masa lalu dan kondisi sekarang serta kecenderungan pendidikan dunia untuk kebutuhan pasar. Dengan demikian diperlukan pergeseran paradigma pendidikan. Kebijakan yang sangat sentralistik dan bersifat top-down sudah harus dirubah menjadi desentralistik dan bersifat bottom-up, namun tetap memberikan asistensi kepada daerah yang mengelola pendidikan. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah menjadikan Pemerintah Daerah propinsi dan

456

Pengembangan SDM

kebupaten/kotamadya turut lebih bertanggung jawab dalam pendidikan nasional. Paradigma baru tersebut menurut Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional adalah (1) membangun manusia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudaya, seorang nasionalis yang berwawasab global; (2) harus berfokus pada penciptaan situasi belajar yang menyerasikan keseimbangan penumbuhan kreatifitas dan pembentukan kebiasaan berdisiplin; (3) diarahkan kepada pertumbuhan sikap penalaran kritik dan; (4) diarahkan untuk memasuki pasar global. Dengan keadaan demikian diharapkan melalui pendidikan akan dapat menjawab tantangan kehidupan masa depan yang berorientasi kepada pasar. Untuk upaya mencapai pendidikan nasional yang berkualitas, berkuantitas relevan dengan pasar dan merata perlu dipandukan antara guru/dosen/instruktur dengan berbagai media (multimedia) yang sesuai untuk mencapai tujuan belajar. Pengertian multimedia ini sekurang-kurannya ada 2 yaitu (1) gabungan berbagai media (bahan cetak/teks, audio, video, slide, radio dan televisi), yang sesuai dimanfaatkan untuk pendidikan yang bersifat massal dan; (2) multimedia yang terpadu (integrated multimedia) yang biasa dikaitkan dengan komputer. Multimedia yang sesuai untuk pendidikan yang sifatnya individu. Di Indonesia untuk yang pertama yang sudah berjalan, misalnya melalui SMP Terbuka, Universitas Terbuka dan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Untuk yang kedua telah dimasyarakatkan pada beberapa perguruan tinggi di Inodnesia. Bila dana, sarana akademk menunjang dan guru/dosen telah siap/ mampu menyiapkan perangkat lunaknya, diharapkan pendidikan akan dapat berhasil mengikuti perkebangan pendidikan global. Perkembangan pendidikan di Indonedisia tahun 1999/2000 secara kuantitatif cukup mengegmbirakan mulai dari level pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, apabila dilihat dari Angka Partisipasi Kasar (APK). APK masing-masing Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Pertama termasuk Madrsah, Sekolah Menegah Umum/Kejuruan/Agama dan Perguruan Tinggi Umum/Agama, masing-masing 112,18%, 71,87%, 39,14% dan 11,55%. Sistem pendidikan yang berorientasi pada ekonomi dan perolehan pekerjaan yang mengahsilkan uang semata perlu dilandasi dengan pendidikan moral agar tidak menjauhkan manusia dari akhlak mulia dan berbudi pekerti luhur. Pendidikan moral yang paling ampuh adalah melalui pendidikan agama. Bila pendidikan agama beserta pengamalannya berjalan baik maka akhlakul kharimah dapat terwujud pada pribadi-pribadi, karena kemampuan/keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) diamalkan oleh anak bangsa yang beriman dan bertaqwa (IMTAQ), serta sehat rohani dan jasmani. Oleh karena itu investasi terbaik yang dilakukan oleh suatu bangsa termasuk Dunia Melayu Dunia Islam adalah investasi

Pengembangan SDM

457

pendidikan dan kebudayaan yang menghasilkan manusia-manusia cerdas, kepribadian, berbudaya dan religius. Tantangan yang paling berat yang sedang dihadapi negara dan bangsa pada sat ini adalah berbagai macam krisis seperti seperti krisis moneter, ekonomi, politik, moral dan kepercayaan para pemimpin. Akibatnya kemiskinan dan kebodohan masyarakat meningkat yang dapat menyebabkan kekufuran. Keadaan ini perlu diwaspadai oleh semua lapisan masyarakat sampai kepada semua penyelenggara negara dan politsi. Untuk Sumatera Selatan, APK mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi tahun 1999/2000 adalah 106,24% untuk SD dan MI; 70,5% SLTP dan MTs; 51,36% untuk SMU, SMK, MA dan 10% untuk Perguruan Tinggi. Angka-angka tersebut tidak terlalu jauh berbeda dengan angka APK rata-rata nasional. Angka putus sekolah (drop out) secara nasional adalag 3,38% untuk Sd; 4,04% untuk SLTP/agama; 2,06% untuk SMU/agama; 3,52% untuk SMK dan 1,47% untuk Perguruan Tinggi Umum/Agama. Angka putus sekolah ini membaik dari tahun ke tahun. Yang masih memprihatinkan adalah siswa yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu sebesar 19,31% ke SLTP/Madrasah; 34,40% ke SMU/SMK/Madrasah dan 53,12% ke perguruan tinggi. Dengan paradigma baru dan otonomi daerah kebijakan pendidikan masa depan untuk kualitas, relevansi dan pemerataan perlu dikelola secara intensif dan terencana, serta dinamis dengan menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak yang memadai untuk dapat bersaing dengan ekonomi pasar. 4. PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA

Perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia dapat dibagi menjadi 5 tahapan yaitu (10) periode pertumbuhan (1950-an – 1970-an) denganmelahirkan 42 perguruan tinggi/institut negeri; (2) periode perkembangan infranstruktur (1975 – 1985) yang disebut dengan “Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (KPPTJP); (3) periode konsolidasi hasil melalui peningkatan kapasitas kelembagaan, infrastruktur, manajemen, produtifitas dan mutu (19985 – 1995); (4) periode penataan sistem pendidikan tinggi menuju kinerja pendidikan tinggi yang mengacu kepada peningkatan kualitas yang berkelanjutan (1996 – 2005) dan (5) periode Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebagai badan hukum menuju otonomi (PP No. 61 Tahun 1999). Pada saat ini perguruan tinggi di Indonesia berada pada periode ke-4. Untuk memasuki periode ke-5 diperlukan persiapan penataan sistem pendidikan tinggi yang baik, kualitas yang mantap dan efisien, relevan dengan kebutuhan pasar, mampu menggalang dana untuk keperluan proses pembelajaran, serta mampu melaksanakan pengolahan perguruan tinggi berdasarkan prinsip ekeonomi dan

458

Pengembangan SDM

akuntabilitas (PP No. 61 Tahun 1999). Uji coba untuk mlaksanakan PP No. 61 Tahun 1999 dimulai pada 4 perguruan tinggi yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada periode otonomi perguruan tinggi yang sudah didahului oleh Otonomi Daerah (OTODA) diperlukan peningkatan kemampuan kemandirian antara lain kebebasan akademik otonomi keilmuan, otonomi pengelolaan lembaga dan mempunyai kewenangan mengadakan hubungan kerjasama termasuk dengan perguruan tinggi di luar negeri. Yang juga perlu diperhatikan dalam penerapan otonomi perguruan tinggi ini, harus memperhatikan dan peka terhadap kepentingan masyarakat dan pemerintah daerah dan sekaligus menjadi mitra. Bila dibandingkan dengan otonomi perguruan tinggi di negara maju seperti Eropa dan Amerika, maka perguruan tinggi di Indonesia baru pada tahap belajar dengan mengumpulkan referensi-referensi. Salah satu contoh perguruan tinggi yang telah melaksankan otonomi secara luas seperti beberapa perguruan tinggi di Jerman. Di dalam fungsinya selain pross belajar mengajar dan penelitian, juga melaksanakan bisnis dengan menghasilkan produk yang dipasarkan. Tenaga pengajar hanya melaksanakan salah satu fungsi saja dan dapat dimutaskan/digilirkan pada periode tertentu. Dengan demikian penjaringan dana untuk kegiatan pada perguruan tinggi ini dapat dilakukan sendiri selain tentunya ada bantuan dari pemerintah. Untuk perguruan tinggi di Indonesia, pada masa otonomi nantinya masih diperlukan bantuan dana operasional dari pemerintah baik pusat maupun daerah karena keterbatasab peluang untuk mencari dana sendiri. Arah pengembangan perguruan tinggi di Indonesia perli mempertimbangankan antara lain sumber daya yang ada serta kecenderungan pasar, baik pasar lokal maupun global. Saya kira untuk Indonesia, potensi air dan Iklim adalah potensi yang sangat besar. Oleh karena itu salah satu pengembangan ke arah water based resources perlu dipertimbangkan. Pertumbuhan lembaga dan populasi mahasiswa di Indonesia selama 55 tahun Indonesia merdeka boleh dikatankan cukup unit, karena percepatan yang luar biasa terutama dari peran swasta (Perguruan Tinggi Swasta). Pada thaun 1999/2000 jumlah lembaga perguruan tinggi (Perguruan Tinggi Umum, Agama dan Kedinasan) telah mencapai 2229, dimana 170 diantaranya adalah negeri. Populasi mahasiswa sebesar 3.283.244 yang diasuh oleh 243.440 dosen dengan angka partisipasi kasar 11,55% dan rasio dosen/mahasiswa 1 ; 13. Sumatera Selatan mempunyai 51 perguruan tinggi dengan populasi mahasiswa 76.851 yang diasuh oleh 7460 dosen, dengan ratio dosen/mahasiswa 1 : 10. Angka parisipasi Kasar serta ratio dosen – mahasiwa di atas menunjukkan angka yang cukup baik, namun kualitas, efesiensi dan relevansi pendidikan masih perlu pertanyakan. Penyiapan sumber daya manusia oleh perguruan tinggi perlu

Pengembangan SDM

459

selaras dengan arah/unggulan pembangunan nasional/daerah. Dengan demikian daerah yang sudah mempunyai unggulan/prioritas pembangunan perlu dikaji ulang secara mendalam dan selalu disesuaikan setiap saa dengan membaca kondisi pasar global yang cepat berubah. Bila dilihat dari kondisi pembangunan ekonomi pada saat ini, mungkin jumlah perguruan tinggi/jumlah mahasiswa tidak lagi menjadi prioritas. Yang menjadi prioritas adalah kualitas dan relevansi. Persyaratan mendirikan perguruan tinggi perlu diperketat dengan persyaratan rasional seperti persyaratan manajemen, tenaga pengajar serta perangkat lunak dan keras lainnya. Kalau dilihat pada piramida tenaga kerja maka seyogyanya prioritas pendidikan di Indonesia, setelah pendidikan dasar adalah pendidikan menengah terutama sekolah menengah kejuruan yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan pasar.

5.

KERJASAMA

Landasan Landasan kerjasama seyogyanya adalah ukhuwwah. Menurut Dr. Yusuf Al Qardhawy dalam bukunya “Anatomi Masyarakat Islam”, diantaranya konsekuensi ukhuwwah adalah sikap ta’awun (saling tolong menolong, kerjasama), tanaashur (saling mendukung) dan traahum (saling berkasih sayang).. Sabda Rasulullah saw; “Orang-orang muslim itu darahnya saling menyuplai, yang lemah diantara mereka akan berusaha membebaskan tanggungannya dan yang kuat diantara mereka berusaha menyelamatkan yang lemah, mereka adalah satu tangan (kekuatan) untuk menghadapi pihak-pihak selain mereka (musuh-musuh mereka), yang kuat membantu yang lemah dan yang cepat meonolong yang lambat” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Di dalam implementasinya agat yang kuat menolong yang lemah, yang kaya mengulurkan tangan kepada yang miskin, yang berilmu mengajar yang kurang berilmu, yang tua mengasihi yang muda, yang muda menghormati yang tua. Dengan demikian satu dengan lainnya perlu ada keterikatan da kepedulian. Cerita ta’awun (kerjasama) dalam Al Quran anatara lain kerjasama Nabi Musa dengan Nabi Harun (Thaha; 29 – 35; Al-Qashash 35) dan pembuatan bendungan raksasa Zulqarnain untuk menghindari serangan Ya’juj dan mA’juj yang merusak bumi (Al-Kahfi; 94 – 97) Diantara bentuk ta’awun, taraahum dan tanaashur adalah takaful (solidaritas dan gotong royong) diantara anggota masyarakat Islam. Takaful ini dapat dalam bidang material dan moral, ekenomi, politik, sosial budaya dan pendidikan. Bila takaful in diamalkan mulai dari keluarga, tetangga, warga se-kampung dan meluas sampai se-kota, se-bangsa dan antara bangsa, maka akan terwujud hubungan

460

Pengembangan SDM

ukhuwwah yang abadi, masyarakat Islam yang satu menjadi perekat masyarakat Islam lainnya. Bila kerjasama Dunia Melayu Dunia Islam dalam bidang apapun dilandasi ukhuwwah yang riel seperti contoh di atas meliputi semua golongan dan tanpa kasta, tidaklah sulit untuk merealisasikan/mengopersionalkan kerjasama bidang pendidikan pada Dunia Melayu Dunia Islam, karena semua yang dikerjakan bernilai ibadah. Mekanisme terbaik di dalam mengambil keputusan kerjasama yang saling menguntungkan adalah melalui musyawarah. Forum seminar/konvensi ataupun lokakarya seperti sekarang ini adalah wadah musyawaah yang sudah lazim pada saat ini. Menurut tuntunan agama, bila sesuatu masih diperdebatkan, ada 2 cara untuk mengambil keputusan yaitu (1) bersifat Rabbani (Spiritual Theologies Approach) dengan melakukan konsultas kepada Allah swt., (Istikharah) dan (2) bersifat insani (Social Consultation Approach) yaitu berupa musyawarah dengan orang yang dapat dipercayai pendapat, pengalaman, nasehat dan ketulusannya. Dengan demkian bila landasan kerjasama seperti yang diutarakan di atas, maka prospek kerja sama bidang pendidikan dan agama pada Dunia Melayu Dunia Islam akan dapat berjalan karena mempunyai visi, persepsi serta implementasi dalam perbuatan/pekerjaan yang relatif sama. Mitra kerjasama ini dapat dilakukan antara perguruan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri, denganlembaga-lembaga lain baik di dalam maupun di luar negeri dan juga mungkin secara khusus dengan industri. Kerjasama dapat dalam bentuk (1) kontrak manajemen; (2) program kembaran; (3) program pemindahan kredit; (4) tukar menukar dosen dan mahasiswa; (5) pemanfaatn bersama sumber daya dalam pelaksanaan kegiatan akademik; (6) penerbitan bersaya karya ilmiah; (7) seminar atau kegiatan ilmiah lainnya secara bersama dan: (8) bentuk lain yang dianggap perlu dan memberikan manfaat bersama. Dengan demikian prospek kerjasama bidang pendidikan pada Dunia Melayu Dunia Islam sangat baik. Secara teknis dapat saja kerjasama ini dilakukan secara multi lateral antara beberapa perguruan tinggi disuatu kota bersama pemerintah daerahnya disatu pihak, dengan perguruan tinggi bersama pemerintahnya di daerah lainnya baik dalam satu negara atau antar negara pada Dunia Melayu dan Dunia Islam. Dengan demikian diperlukan suatu Badan Kerjasama Bersama (sekretariat bersama) pada masing-masing daerah sebagai wadah kontak kerjasama. Kerjasama dimulai dari yang sederhana sampai yang lebih lanjut, yang pada hakekkatnya selain meningkatkan SDM masing-masing, juga mempererat ukhuwwah Dunia Melayu Dunia Islam. Oleh karena itu diperlukan program aksi yang applikabel untuk jangka pendek, menengah dan panjang yang sifatnya luwes dan dinamis. Untuk jangka pendek (1 – 3 tahun) pembentukan sekretariat bersama dengan pengiriman informasi mellaui multiedia seperti faximili, internet dan

Pengembangan SDM

461

kunjungan antara daerah/bangsa pada tingkat manajemen atas untuk mempersiapkan kerjasama jangka menengah. Kerjasama jangka menengah (5 – 10 tahun) sudah dapat melakukan penelitian bersama, pengiriman staf untuk pendidikan lanjutan/pelatihan dan program kebaran. Untuk kerjasama jangka panjang (10 – 25 tahun) diharapkan Dunia Melayu Dunia Islam secara bersama sudah dapat bicara dalam forum internasional/global. Pada saat itu diharapkan jati diri Melayu Islam sudah bagian dari jati diri masyarakat dunia. 6. PENUTUP

Bila dilihat dari angka partisipsi kasar mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi di negara Asean (Dunia Melayu dan Dunia Islam yang terbesar) tidak terlalu mengecewakan. Namun untuk menghadapi era global, tidak cukup APK saja, tapi yanglebih penting adalah kualitas, efisiensi dan relevansi pendidikan serta kemampuan mengantisipasi persaingan pasar dalam berbagai sektor. Dengan mengetahui potensi (unggulan) dan kelemahan masing-masing melalui kerjasama akan terbuka peluang untuk maju dan menjadikan Dunia Melayu Dunia Islam yang jaya seperti pada abad ke-15 di Malaka. Al Quran memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasulullah saw. pun diperintahkan agar berusaha dan berdoa agar sellau ditambah pengetahunnya. Qul Rabbi zidni ‘ilma (berdoalah hai Muhammad) Wahai Tuhanku, tambahlah untukku ilmu (Toha 114) karena di atas setiap pemilik pengetahuan, ada yang amat mengetahui.

* **

Lokakarya/Seminar Internasional Duinia Melayu Dunia Islam tanggal 20 s.d 23 Mei 2001 Guru Besar Universitas Sriwijaya

462

Pengembangan SDM

DAFTAR PUSTAKA Al Quranul Karim Abdullah Mustafa, Prof., 1999, Strategi Pengembangan Perguruan Tinggi Menuju Otonomi, Raker Pimpinan PTN bidang Akademik. Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, 1999, Saran Pertimbangan tentang Pemanfaatan Multimedia bagi Pendidikan untuk Semua. Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, 1999, Saran Pertimbangan tentang Pendidikan Dasar dan Menengah Dalam Abad ke-21 Dalam Rangka Pergeseran Paradigma. Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, 1999, Saran Pertimbangan tentang Perkembangan Identifikasi Bangsa Indonesia di Tengah Dinamika Kebudayaan Daerah, Nasional dan Internasional Serta Pengaruhnya Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan di Abad ke-21. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995, Perbandingan Pendidikan di Indonesia dengan Negara Lain. Departemen Pendidikan Nasional, 2000, Data Pokok Pendidikan 1999/2000 dan Perkembangan sejak 1994/1995. Hasjim Machmud, 1999, Pemberdayaan Dosen dan Mahasiswa pada Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum, Penataran Dosen Agama Islam pada PTU se-Sumatera Bagian Selatan. Hasjim Machmud, 1999, Sikap Ilmiah dan Kepemimpinan Mahasiswa, Seminar Mahasiswa. Hasjim Machmud, 1995, Peran Perguruan Tinggi dalam Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia Menghadapi Tantangna Abad ke-21, Seminar Nasional Kaum Muda dan Kebangsaan. Kantor Wilayah Pendidikan Nasional, 2000, Statistik Wajar Diknas 9 Tahun Tiap Kabupaten/Kota, Propinsi Sumatera Selatan. Peraturan Pemerintah No. 60 tentang Pendidikan Tinggi. Peraturan Pemerintah No. 61 tentang Penetapan Perguuan Tinggi Sebagai Badan Hukum Philip H. Coombs, 1985, The World Crisis in Education. Oxford University Press. Undang-Undang Pendidikan Nasional No. 2 Tahun 1989 Yusuf Al Qardhawy, Dr., 1999, Anatomi Masyarakat Islam, Terjemahan Dr. Setiawan Budi Utomo.

Pengembangan SDM

463

PROFIL PENDIDIKAN DI INDONESIA TAHUN 1999/2000* (Lampiran A) Tingkat Pendidikan TK Sumatera Selatan Indonesia Sumatera Selatan Indonesia Sumatera Selatan Indonesia Sumatera Selatan Indonesia Sumatera Selatan Indonesia Sumatera Selatan Indonesia Sumatera Selatan Indonesia Sumatera Selatan Indonesia Sumatera Selatan Indonesia Sumatera Selatan Indonesia Sumatera Selatan Indonesia Sumatera Selatan Indonesia Sumatera Selatan Indonesia
Lembaga

Siswa/ Mahasis wa 29.300 1.612.761 745 37.460 1.086.649 25.495.82 9 54.998 2.894.128 303.333 7.600.093 47.063 1.813.135 125.067 2.896.864 12.742 528.237 49.130 1.882.061 17.328 919.908 34.091 1.658.440 11.725 282.528 991 69.920

Guru/ Dosen 1.941 95.686 176 9.123 46.900 1.136.0 05 2.947 147.79 7 17.864 441.17 6 4.598 164.28 4 8.856 215.67 6 1.235 57.955 4.302 131.10 7 1.344 55.735 1.417 141.86 5 768 10.108 205 12.816

Kelas 1.281 75.791 150 9.463 40.660 1.015.67 5 2.591 132.011 8.189 190.844 1.372 50.807 3.032 70.227 1.611 22.481 1.291 52.499 -

Ruang Kelas 1.286 76.100 150 9.463 28.587 861.54 5 1.881 106.81 9 7.175 180.01 4 870 33.699 2.861 64.964 511 16.393 1.275 43.539 -

Lulusan 146.703 3.609.2 16 7.305 387.896 83.885 2.246.9 99 13.507 533.170 34.867 843.907 2.558 121.685 13.188 567.368 3.178 397.941 6.066 230.912 2.307 77.390 124 7.752

619 41.317 16 869 5.809 150.197 411 21.454 915 20.866 294 9.850 342 7.900 134 3.578 138 4.169 2 76 39 1.557 1 47 4 251

SPLB

SD

Ibtidaiyah

SLTP

Tsanawiy ah SMU

Ahliyah

SMK

PT Umum Negeri PT Umum Swasta PT Agama Negeri PT Agama Swasta

* Sumber : Data Pokok Pendidikan Tahun 1999/2000 dan perkembangan Sejak tahun 1994/1995 (termasuk Madrasah) Depdiknas, Balitbang Tahun 2000 (setelah diolah) 464 Pengembangan SDM

KEADAAN PENDIDIKAN DI INDONESIA, LULUSAN, PUTUS SEKOLAHM TIDAK MELANJUTKAN DAN ANGKA PARTISIPASI KASAR (APK) TAHUN 1999/2000* (Lampiran B) Tingkat Pendidik an Jumlah Siswa/ Mahasis wa 28.389.9 57 INPU T Putus Sekola h/ DO Tidak Melanjut kan Lulus an APK Indone Sums sia el

SD + MI

4.980 ribu

970.7 ribu (3,38% ) 377,6 ribu (4,04% ) 70,4 ribu (2,06% ) 66,2 ribu (3,52% ) 43,1 ribu (1,47% )

-

1.148, 1 ribu

112,18 %

106,24 %

SLTP MTs

+

9.413.22 8

3.220 ribu (80,7 %)

770,5 ribu (19,51%)

1.093, 1 ribu

71,7%

70,5%

SMU MA SMK

+

3.425.10 1 1.882.06 1

1.160 ribu (41,7 %)

956,4 ribu (34,40%)

857,4 ribu

39,14% 13,88%

51,36 %

PTU PTAI

+

2.921.22 4

718,6 ribu (46,9 %)

814,3 ribu (53,12%)

604,0 ribu

11,55%

10%

* Sumber : Data Pokok Pendidikan Tahun 1999/2000 dan perkembangan Sejak tahun 1994/1995 (termasuk Madrasah) Depdiknas, Balitbang Tahun 2000 (setelah diolah)

Pengembangan SDM

465

LAMPIRAN As - Sabak 9 : Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada dihadapan dan dibelakang mereka? Jika Kami menghendaki niacaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar, terdapat tanda (kekkuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya) Al - Baqarah 22: Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langir, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah pada hal kamu mengetahui. Thoha 53: Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menyediakan bagmu di bumi. Itu jalan-jalan dan menurunkan dari langit air hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Al - Jaatsiyah 13: Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada dibumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada Nya. Sesungguhnya yang demikian tu benar-benar terdapat tanda-tanda (Kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. Al - An’am: Katakanlah : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta Alam” Ads - Dzaariyat 56: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku Al - An’am 165: Dan Dia-lah yang menajdikan kamu pengguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 466 Pengembangan SDM

Ali - Imran 110: Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu adalah lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. Al - Israa 9: Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar An -Nisa 59: Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul (Nya) dan Ulil Amri diantara kamu. Keudian jika kami berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demkian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. An - Nisa 105: Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu menjadikan antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu dan janganlah kami menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.

An - Ahzab 40 : Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seseorang laki-laku diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Al - Hujarat 10: Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu ddamaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalak kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. Al - Baqarah 168:

Pengembangan SDM

467

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Al - An’am 142: Dan diantara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Az - Zumar 9: (Apakah kamu hai orang musyrik yang telah beruntung) ataukah orang yang beribadah diwaktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takur kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah “apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui”. Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Thoha 29 – 35: Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami. Al - Qashash 35: Alah berfirman : “Kami akan membantumu dengan saudaramu dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu: (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mu’jizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang”. Al - Kahfi 94 – 97: Mereka berkata “Hai Zulkarnain, sesungguhnya ya’juj dan ma’juj itu orangorrang yang membuat kerusakan di bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka”. Zulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka , berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi tu telah rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: “Tiuplah (Api itu)”. Hingga apabila besi 468 Pengembangan SDM

itu sudah menjadi (merah) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”. Maka mereka tidak bisa mendaki dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. An – Nisa’ 23: Diharamkan kepada kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan; saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudarasaudaramu yang perempuan; ibu-ibu mu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri; tetapi bila belum kamu campuri dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagi kamuj) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengambpun lagi Maha Penyayang. Al - A’raf 65: Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum”aad saudara mereka, Hud. Ia berkata “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya? As - Shad 23: Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata; “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan”. Al - Kahfi 64: Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba, diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi kami.

Pengembangan SDM

469

IMPLEMENTASI DAN PENGEMBANGAN HASIL RISET DALAM RANGKA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA DAN MEMBANGKITKAN PEREKONOMIAN RAKYAT Machmud Hasjim

ABSTRACT Science and technology is one device for modern society to solve their problems in individual and groups, including national problems. Realizing the importance of sciences and technology in solving national problems, Indonesian Government has formulated science and technology research and development policy which described in National Science and Technology Strategic Policy that explained National Priority of Research Science and Technology. In Indonesia, research has been well-developed, supported by existence of National Research Council and research fund from numerous government offices and non government organization as well as foreign research fund. The implementation of research result has not been optimum yet because of some difficulties, such as the research result achievement, socialization of research result, Intellectual property right, and lack of implementation fund. To support science and technology performance as apparatus to increase national intellectual and stimulate nation economic, some approach should be done, such as distribution of research result information, establishing local research institution, provide adequate funding for research and development and implementation of research result by tutorial and establish pilot plant. Besides local government should persuade industry to actively participate in science and technology research activities.

ABSTRAK Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu alat utama bagi masyarakat modern dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi, baik dalam kehidupan pribadi maupun kelompok, termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Menyadari pentingnya peranan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, Pemerintah Indonesia telah menyusun kebijakan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang 470 Pengembangan SDM

dijabarkan dalam Kebijakan Strategis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nasional (Jakstra Ipteknas) yang memuat Prioritas Utama Nasional Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Punas Ristek). Riset di Indonesia telah berkembang cukup baik dan didukung dengan adanya Dewan Riset Nasional (DRN) dan sumber dana riset yang berasal dari berbagai instansi pemerintah dan organisasi non pemerintah yang berminat serta dana bantuan luar negeri. Implementasi hasil riset yang dilaksanakan masih belum optimal karena adanya kendala berupa keberhasilan riset, sosialisasi hasil riset, Hak Atas Kekayaan Intelektual dan dana implementasi. Untuk menunjang peran Iptek sebagai alat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangkitkan perekonomian rakyat perlu dilakukan berbagai pendekatan dengan penyebarluasan informasi hasil riset, pembentukan lembaga riset di daerah, penganggaran dana untuk riset dan pengembangannya serta dana implementasi riset berupa penyuluhan dan pembangunan percontohan. Selain itu Pemerintah daerah juga perlu menghimbau partisipasi aktif dunia industri dalam kegiatan riset ilmu pengetahuan dan teknologi. PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) merupakan salah satu alat utama bagi masyarakat modern dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi, baik dalam kehidupan pribadi maupun kelompok, termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Saat ini hampir tidak ada cara pemecahan masalah yang dihadapi oleh masyarakat modern yang dapat diselesaikan tanpa dukungan dan campur tangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada masa lalu, modal kesuksesan suatu bangsa ditentukan oleh berapa banyak sumber daya alam yang dimiliki. Tetapi paradigma baru yang berkembang saat ini, menyatakan bahwa modal utama kesuksesan suatu bangsa adalah sumber daya manusia yang berkualitas dan penerapan Iptek yang tepat sasaran di segala bidang. Dengan demikian Iptek merupakan basis baru bagi keberhasilan pembangunan dan kesejahteraan suatu bangsa, yang kemudian ditentukan oleh bagaimana bangsa tersebut mampu mewujudkannya menjadi landasan sistem perekonomian dan perindustrian secara bijaksana. Pada dasarnya tujuan utama dari pelaksanaan kebijakan Iptek adalah untuk meningkatkan daya saing nasional. Iptek berperan penting sebagai basis pembangunan yang komprehensif guna memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal. Menyadari pentingnya peranan Iptek tersebut, Pemerintah Republik Indonesia telah membentuk Dewan Riset Nasional (DRN) pada tahun 1992/1993 Pengembangan SDM 471

A.

sebagai salah satu fasilitator riset. Selama ini DRN telah memfasilitasi program Riset Unggulan Terpadu (RUT) dimulai dari RUT I sampai dengan RUT IX. Program RUT tersebut bersifat multi-years dan membutuhkan biaya yang cukup besar, sementara anggaran untuk riset terbatas. Oleh karena itu program diberikan atas dasar persaingan yang ketat antara para pengusul. Di Indonesia anggaran riset yang tersedia cukup beragam, selain Riset Unggulan Terpadu, terdapat beberapa riset yang bersumber dari dana Departemen Pendidikan Nasional, dana riset yang berasal dari dana universitas/institut, serta dana bantuan luar negeri yang anggarannya juga terbatas. Hal yang patut disayangkan adalah hasil-hasil riset yang telah dilakukan belum diimplementasikan secara optimal dan belum dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Kendala implementasi hasil riset antara lain keberhasilan riset, sosialisasi, Hak Atas Kekayaan Intelektual, dan dana implementasi.

KEBIJAKAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Segala bentuk teknologi dihasilkan dari kegiatan penelitian dan pengembangan serta rekayasa ilmu pengetahuan, baik penelitian dasar maupun penelitian terapan yang batas-batasnya juga tidak selamanya tegas dan jelas. Untuk keperluan jangka pendek Indonesia sangat memerlukan kegiatan penelitian, pengembangan dan rekayasa yang menghasilkan inovasi teknologi terterapkan, seperti yang diungkapkan dalam dokumen Kebijakan Strategis Pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nasional (JAKSTRA IPTEKNAS) 2000 – 2004 serta dijabarkan dalam Prioritas Utama Nasional Riset dan Teknologi (PUNAS RISTEK) 2001 – 2005. Visi dan misi pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional yang dicanangkan oleh JAKSTRA IPTEKNAS tercermin dari tujuan strategis yang ingin dicapai, yaitu : 1. Percepatan pemulihan dampak krisis ekonomi, dengan jalan mengerahkan sumber daya iptek yang mengatasi dampak krisis serta memanfaatkan momentum dan peluang yang terbuka untuk mempercepat laju pembangunan ekonomi. 2. Pemantapan tatanan sosial politik, untuk mengkaji berbagai perubahan paradigma serta menelaah kelemahan struktural dan kelembagaan yang perlu diatasi secara berkelanjutan untuk mengukuhkan pembangunan nasional.

B.

472

Pengembangan SDM

3. Pemberdayaan ekonomi nasional yang berkelanjutan, melalui penguatan dan peningkatan keefektifan dukungan iptek serta meningkatkan insentif untuk memperkuat struktur sistem produksi di pusat dan daerah. 4. Reposisi kelembagaan ilmu dan teknologi, dengan jalan meletakkan lembaga iptek pada posisi strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional. 5. Peningkatan kemandirian dan keunggulan, untuk meningkatkan daya saing pengkajian iptek dan menumbuhkan kemampuan berinovasi yang menjunjung tinggi hukum dan menghormati HAKI. 6. Penyelarasan dan pengembangan global, melalui penyediaan dukungan iptek untuk meningkatkan kompatibilitas pembangunan nasional dengan perkembangan global. Tumpuan JAKSTRA IPTEKNAS 2000 – 2004 tertumpu pada hal-hal pokok berikut : 1. Pembinaan sumber daya manusia, yang diutamakan karena dianggap merupakan faktor penentu keberdayaan semua upaya serta keberlanjutan langkah-langkah selanjutnya, khususnya dalam meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan, mengembangkan dan menguasai iptek untuk mendukung pembangunan nasional. 2. Pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan iptek, yang perlu ditingkatkan secara menyeluruh karena misalnya peran matematika dan ilmu-ilmu seperti ilmu komunikasi dan ilmu administrasi publik merupakan landasan untuk meningkatkan terciptanya invensi dan kelancaran difusi teknologi melalui kegiatan penelitian, pengembangan, dan rekayasa yang tertata dalam sistem inovasi nasional. 3. Peningkatan penelitian, pengembangan, dan rekayasa untuk mendukung pembangunan nasional, yang sesuai dengan tujuan dan fokus PUNAS IPTEKNAS telah dijabarkan dalam Prioritas Utama Nasional Riset dan Teknologi (PUNAS RISTEK) 2001 – 2005. Adapun bidang-bidang utama yang dianggap perlu diprioritaskan adalah : a. Sosial budaya (dampak teknologi pada perilaku, hubungan pusat dan daerah, dukungan massa pada pembangunan berbasis iptek, mengantisipasi dan mengatasi konflik sosial politik di daerah rawan). b. Pengembangan sistem-sistem nasional, sektoral dan daerah (penataan sistem-sistem kepariwisataan, sistem pasar dan perdagangan tradisional, sistem iptek nasional, sistem inovasi daerah) c. Pertanian dan pangan (pengembangan teknologi pertanaman/hortikultura, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan kehewanan – semuanya dengan melibatkan bantuan bioteknologi) Pengembangan SDM 473

d. Kesehatan (pengembangan instrumen dan bahan serta alat kedokteran strategis, penyempurnaan teknologi kontrasepsi, penanggulangan penyakit menular, gangguan gizi dan jiwa, pengembangan biofarmasi – semuanya dengan melibatkan dukungan bioteknologi) e. Lingkungan (pemonitoran, analisis, remediasi, restorasi, teknologi bersih dan pengendalian pencemaran, pemanfaatan limbah meliputi penggunaan kembali reuse, penggunaan ulang ke dalam bentuk lain recycle, pengambilan kembali recovery) f. Kelautan, kebumian, dan kedirgantaraan (industri maritim, air, pertambangan dan sumber daya alam, iklim, interaksi biosfer-atmosfer, mitigasi bencana alam, sistem informasi) g. Transportasi dan logistik (pengembangan sistem dan sarana di darat, laut, dan udara) h. Energi (efisiensi ekonomi, penyimpanan, transmisi, dan distribusi) i. Manufaktur (terutama untuk industri kecil dan menengah serta koperasi : persisi, simulasi, pemodelan, pengendalian mutu, manajemen produksi termasuk pemasarannya). j. Informasi berbasis teknologi mikroelektronika (pengembangan sistem dan peranti keras serta lunak, pemanfaatan) k. Bahan baru (keramik, komposit, polimer, bahan kinerja tinggi) KENDALA IMPLEMENTASI HASIL RISET Selama beberapa dekade terakhir telah banyak riset dilaksanakan yang bersumber dari berbagai pendanaan. Biaya yang digunakan untuk riset tersebut cukup besar dan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Namun demikian sangat disayangkan, implementasi hasil riset tersebut masih relatif kecil dan belum optimal sehingga peranan Iptek dalam memecahkan persoalan bangsa serta membantu pengentasan kemiskinan masih belum terasa secara nyata oleh masyarakat. Dalam mengimplementasikan hasil-hasil riset (khususnya hasil Riset Unggulan Terpadu), terdapat berbagai kendala dan hambatan yang perlu dicermati, antara lain mengenai keberhasilan riset, sosialisasi hasil riset, Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) peneliti dan dana implementasi riset. 1. Keberhasilan Riset Keberhasilan riset sangat tergantung pada metodologi pelaksanaan riset, sumberdaya manusia dan peralatan yang digunakan.

C.

474

Pengembangan SDM

Sebagian riset yang dilaksanakan mungkin tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan, misalnya terjadi kesalahan asumsi/ hipotesa, kesalahan peralatan, maupun kesalahan manusia. Hasil riset yang telah dilaksanakan, diperkirakan setidaknya 40 – 50% telah memberikan hasil yang memuaskan. Riset yang kurang berhasil tersebut, umumnya tidak dipublikasikan dan tentunya tidak dapat diterapkan dan perlu penyempurnaan. 2. Sosialisasi hasil riset Implementasi hasil riset perlu dilaksanakan dengan mempertimbangkan sumber daya di daerah dan kondisi budaya serta adat-istiadat penduduk setempat yang akan memanfaatkan hasil riset tersebut. Selama ini seringkali bantuan pemerintah dalam bentuk implementasi riset kepada masyarakat tidak mendapat tanggapan yang baik karena masyarakat cenderung mempertahankan kebiasaan turun-temurun yang berlaku di daerahnya sehingga kurang berminat terhadap implementasi hasil riset. Untuk mengoptimalkan bantuan pemerintah tersebut, sebelum dilaksanakan implementasi hasil riset di lapangan (pada masyarakat), perlu dilakukan sosialisasi, sehingga masyarakat mengetahui keunggulan teknologi serta berminat untuk mengimplementasikannya. Dengan demikian diharapkan tujuan bantuan dapat tercapai serta tumbuhnya rasa memiliki di masyarakat sehingga perawatan dapat dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. 3. Hak Atas Kekayaan Intelektual Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan salah satu faktor yang bersifat kontradiktif dengan kemudahan akses informasi hasil riset dan implementasi riset. Seringkali atas alasan perlindungan HAKI, maka hasil riset bersifat tertutup dan tidak dapat dimanfaatkan masyarakat. Implementasi hasil riset perlu dilaksanakan agar dapat dinikmati masyarakat, untuk itu masalah hak atas kekayaan intelektual peneliti perlu mendapat perhatian semua pihak agar didapat win-win solution dan tujuan utama penelitian dan pengembangan iptek guna menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara dapat tercapai. 4. Dana Implementasi Riset Selama ini terdapat cukup banyak sumber dana riset di Indonesia, namun dana tersebut dikhususkan untuk pelaksanaan riset dan umumnya tidak mencakup dana untuk implementasi hasil riset.

Pengembangan SDM

475

Selain penganggaran dana untuk pelaksanaan riset, perlu dianggarkan dana untuk menunjang implementasi hasil riset, misalnya dana untuk penyuluhan untuk riset yang bersifat budidaya dan dana pembangunan percontohan (pilot plant). D. PEMBANGUNAN BERBASIS IPTEK

1.

Penyebarluasan informasi hasil riset Tujuan strategis pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah penyelesaian persoalan bangsa dan negara, yang antara lain adalah percepatan pemulihan dampak krisis ekonomi, pemantapan tatanan sosial politik, pemberdayaan ekonomi nasional yang berkelanjutan, reposisi kelembagaan ilmu dan teknologi, peningkatan kemandirian dan keunggulan serta penyelarasan dan pengembangan global. Untuk mencapai tujuan strategis tersebut, hasil-hasil riset perlu disebarluaskan dan diimplementasikan kepada masyarakat. Penyebarluasan informasi hasil riset dapat dilaksanakan melalui seminar, lokakarya, dan pertemuan ilmiah lainnya, serta memanfaatkan media komunikasi yang ada. Dengan adanya informasi mengenai hasil riset, masyarakat yang berminat untuk mengimplementasikan dapat menghubungi peneliti yang bersangkutan.

2.

Pembentukan lembaga riset di daerah Dalam rangka mengoptimalkan fungsi Dewan Riset Nasional di era otonomi daerah untuk penyebaran informasi hasil riset, maka Dewan Riset Nasional perlu memiliki mitra di daerah. Sehubungan dengan kondisi tersebut Pemerintah Daerah perlu membentuk lembaga riset di daerah misalnya pembentukan Dewan Riset Daerah (DRD) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda). Lembaga-lembaga riset di daerah tersebut merupakan mitra bagi Dewan Riset Nasional dan diberikan kemudahan untuk mendapatkan informasi hasil riset di Dewan Riset Nasional. Selama ini hasil-hasil riset di pusat (misalnya hasil Riset Unggulan Terpadu) telah diinformasikan melalui internet, namun belum banyak diketahui daerah, mengingat teknologi internet ini relatif baru dikembangkan di daerah. Untuk

476

Pengembangan SDM

itu Pemerintah Daerah, melalui Balitbangda, Bappeda dan DRD serta lembaga-lembaga penelitian lainnya perlu lebih proaktif untuk menginventarisir hasil-hasil riset RUT agar dapat dipelajari dan dikembangkan guna diimplementasikan di daerah sesuai dengan kondisi dan potensi daerah. Keberhasilan implementasi hasil riset juga akan dipengaruhi oleh budaya dan kebiasaan adat-istiadat masyarakat setempat. Sehubungan dengan hal tersebut DRD berperan penting karena lebih mengenal budaya dan adat masyarakat setempat. Melalui pendekatan dan sosialisasi yang baik dan terencana, diharapkan implementasi hasil riset di daerah akan dapat berjalan secara optimal dan program pembinaan dapat dilaksanakan dengan lebih ekonomis.

3.

Pengembangan dan implementasi riset Hasil riset yang telah dilaksanakan, perlu terus dikembangkan guna meningkatkan keandalannya dan agar dapat disesuaikan dengan potensi daerah, misalnya dengan teknologi substitusi bahan atau pengembangan guna mendapat efek lain yang menguntungkan. Pengembangan hasil riset ini memiliki keunggulan karena dari sisi biaya relatif ringan karena tidak memulai riset yang baru dan hanya mengembangkan riset yang telah ada. Dengan demikian daerah bukan hanya menjadi pengguna akhir (end user) hasil riset, namun dapat mengembangkannya sesuai potensi daerah, di samping melaksanakan riset sendiri. Pola demikian akan dapat meningkatkan kemitraan antara DRN dan DRD secara saling menguntungkan guna mengatasi persoalan bangsa dan negara serta mensukseskan pembangunan nasional. Untuk program jangka pendek, prioritas hasil riset yang perlu diimplementasikan adalah riset teknologi tepat guna yang dapat langsung dimanfaatkan masyarakat dengan biaya yang relatif terjangkau. Sedangkan hasil riset teknologi tinggi dengan biaya investasi relatif besar sebaiknya diprioritaskan untuk program jangka menengah – panjang. Implementasi hasil riset dapat memotivasi para peneliti dan memacu perkembangan perekonomian rakyat.

4.

Pendanaan riset di daerah Selama ini dana untuk riset dan implementasinya masih sangat terbatas. Dalam rangka mengembangkan pembangunan yang berbasis ilmu 477

Pengembangan SDM

pengetahuan dan teknologi, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten perlu menganggarkan dana riset secukupnya serta menghimbau para pelaku industri untuk turut serta dalam pengembangan iptek. Dengan demikian kegiatan penelitian dan pengembangan dapat berjalan dengan baik dan dapat menunjang pembangunan. Selain menganggarkan dana untuk pelaksanaan riset, Pemerintah perlu juga menganggarkan dana untuk menunjang implementasi hasil riset agar pengimplementasian hasil riset dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan lebih cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

478

Pengembangan SDM

KEGIATAN PERTAMBANGAN DAN OTONOMI DAERAH Seminar Pengelolaan Pertambangan dalan Era Otonomi Daerah dan Perspektif Hukum Palembang, 22 Juli 2008 Machmud Hasjim

A.

GOOD MINING PRACTICE METODE PENAMBANGAN Tambang Terbuka Tambang Bawah Tanah Tambang Bawah Air TAHAPAN PERTAMBANGAN Penyelidikan Umum (Prospecting) Ekxplorasi (Exploration) Studi Kelayakan (Feasibility Study) Penambangna (Exploitation) Pengolahan Bahan Galian (Mineral Processing) Peleburan & Pemurnian (Smelting & Refining) Pemasaran (Marketing) TAHAPAN PENAMBANGAN Pekerjaan Persiapan dan Pengembangan - Land Clearing - Pengupasan Tanah Penutup Penggalian/Penambangan (Operasi Peledakan) Pengangkutan Penirisan Tambang Pengolahan/Pencucian GOOD MINING PRACTICE Perencanaan Tambang Pengoperasian Tambang Pekerjaan Pengolahan Hasil Tambang Pekerjaan Maintenance Fasilitas Tambang 479

-

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

1.

2. 3. 4. 5.

1. 2. 3. 4.

Pengembangan SDM

5. 6. 7.

Pekerjaan Eksplorasi SDM yang Profesional Kepedulian Perusahaan terhadap Lingkungan Salah satu contoh pada perencanaan tambang yang memerlukan kompetensi

Menerapkan SMK3 di unit kerja Melaksanakan komunikasi timbal balik Menetapkan standar kinerja Mengimplementasikan standar kerja Mengenali pasar Menyusun dan mempresentasikan laporan Merencanakan tambang jangka panjang Merencanakan sarana pendukung tambang Menyusun rencana reklamasi tambang Menganalisis kinerja tambang Menerapkan prinsip geologi dan geoteknologi dalam perencanaan tambang Menerapkan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan lingkungan pertambangan 13. Menyusun studi kelayakan tambang 14. Menerapkan perencanaan anggaran

: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

B.

LINGKUNGAN Sketsa Pengelolaan Dampak Lingkungan Industri Pertambangan

SUMBER

MASALAH

PENANGGULANGAN

Kegiatan Pertambangan : 1. Eksplorasi 2. Eksploitasi - Land clearing dan pengupasan tanah penutup (waste) - Penggalian (peledakan) - Pengangkutan 480

Aspek Fisik – Kimiawi - Topografi - Erosi - Sedimentasi - Kemantapan Lereng - Kualitas air - Kualitas udara - Kebisingan - Kesuburan tanah/tanaman

Pertambangan Berwawasan Lingkungan 1. Sistem Penambangan - Sistem Penambangan bertahap - Penggunaan alat - Metode peledakan (desain & kontrol Pengembangan SDM

- Penirisan Tambang - Penimbunan waste dan bahan galian 3. Pengolahan Bahan Galian 4. Peleburan dan Pemurnian 5. Pemasaran

Aspek Biotik : - Fauna - Flora Aspek Sosial Budaya dan Sosial Ekonomi

peledakan) - Kolam pengendapan - Penyiraman - Pembuatan tanggul 2. Pengolahan Bahan Galian - Blending/Mixing - Pemisahan (Flotasi, Jig) 3. Penanganan Debu & Gas-gas beracun - Dust Collector (Cyclone, Electric Precipitor) - Gas collector 4. Reklamasi Pasca Penambangan

Perkiraan Dampak Negatif Kegiatan Pertambangan Skala Kecil Terhadap Lingkungan

JENIS DAMPAK SUMBER 1 1. Eksplorasi 2. Eksploitasi - Land clearing StrippinOverburden - Penggalian/peledakan - Pengangkutan - Penimbunan waste - Penirisan tambang vv vv v v vv vv v v vv vv v v vv vv v v v vv vv v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 -

Pengembangan SDM

481

3. Pengolahan 4. Peleburan

v v

-

v v

-

vv v

v

v v

v v

v -

v v

v v

Keterangan : Jenis Dampak 1. Topografi 2. Erosi 3. Sedimentasi 4. Kemantapan Lereng 5. Kualitas Air 6. Kualitas Udara 7. Kebisingan 8. Kesuburan Tanah/Tanaman 9. Biotik (Fauna – Flora) 10. Sosial Budaya 11. Sosial Ekonomi

v vv vvv

Tingkatan Dampak : Kecil : Sedang : Besar Topografi

Perkiraan Dampak Negatf Kegiatan Pertambangan Skala Menengah/Besar Terhadap Lingkungana

JENIS DAMPAK SUMBER
1 2
v

3
v

4
-

5
v

6
-

7
-

8
vvv

9
-

10
vv

11
vv

1. Eksplorasi 2. Eksploitasi - Land clearing & Strippin Overburden - Penggalian/ peledakan - Pengangkutan - Penimbunan waste - Penirisan tambang

v

vvv

vvv

vvv

vvv

vvv

v

vv

vv

vv

vvv

vv

vvv vvv vvv

vvv vvv vvv

vvv vvv vvv

vvv v vvv vvv

vvv vvv vvv

vvv vvv vv -

vvv vv vv -

vvv vvv -

v v vv vv

vvv vv vv -

vv v vv -

482

Pengembangan SDM

3. Pengolahan 4. Peleburan

vv v

vv -

vv v

v -

vvv vv

v vvv

vv v

v v

vv -

vv v

v v

Keterangan : Jenis Dampak 1. Topografi 2. Erosi 3. Sedimentasi 4. Kemantapan Lereng 5. Kualitas Air 6. Kualitas Udara 7. Kebisingan 8. Kesuburan Tanah/Tanaman 9. Biotik (Fauna – Flora) 10. Sosial Budaya 11. Sosial Ekonomi

Tingkatan Dampak v : Kecil vv : Sedang vvv : Besar Topografi

Biaya

Mutu Kehidupan

C = A + B = Biaya Total

E

Mineral/ Energi

A = Biaya Energi

Lingkungan
D
0

B = Biaya Kerusakan Lingkungan

Pengaruh Mineral/energi

Tingkat Pengendalian Pencemaran

Biaya sebagai Fungs Lingkungan Dan Mutu Kehidupan dari Pengendalian Pencemaran

Pengembangan SDM

483

C.

KEWENANGAN PEMERINTAH PUSAT MENGELOLA PERUSAHAAN TAMBANG

DAN

DAERAH

DALAM

1. 2.

3. 4. 5.

6.

7. 8.

9. 10.

Kewenangan ini meliputi pekerjaan eksplorasi, eksploitasi, procesing dan marketing Rencana Undang-Undang tentang Mineral dan Batubara sebagai pengganti UU No. 11 Tahun 1967 harus je;as dan tidak bertentangan dengan UU Otonomi Daerah, UU Migas, UU Lingkungan Hidup, UU Ketenagakerjaan, RUU tentang Energi dll Perlu PP yang jelas untuk mengatur kewenangan dan hak antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Provinsi, Kabupaten, Kota) Perlu Peraturan dan Perundang-undangan untuk menganulir peraturan yan g lama yang tidak sesuai lagi Pemda perlu menerbitkan Perda yang tidak bertentangan dengan UU yang ada, guru memudahkan implementasi kegiatan (dibawah koordinasi Gubernur) Pemerintah Pusat perlu membentuk “:Badan Penengah” untuk menyelesaikan sengketa antar Departemen yang berkepentingan terhadap lahan yang sama atau juga kegiatan yang mengganggu masyarakat (misalnya kesehatan, keamanan dll) Perlu adanya debirokratisasi Pemerintah Pusat guna memperpendek waktu operasi di daerah Perlu adanya kepedulian perusahaan tambang terhadap kesejahteraan masyarakat di daerah melalui : - Pembangunan infrastruktur - Pembangunan Sumberdaya Manusia - Pembangunan Ekonomi Kerakyatan Perlu komunikasi yang kontinu antara Perusahaan dengan Pemda berkaitan dengan rencana kebutuhan SDM (Spesifikasi & jumlah) pada perusahaan Perlu tenaga yang profesional untuk kegiatan eksplorasi, eklpoitasi, pengolahan dan marketing (utamakan tenaga Indonesia) COORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) Harus jelas ruang lingkupnya Besaran CSR dari keuntungan perusahaan Diusulkan CSR dapat diberikan kepada : - Community Development - Penelitian Pengembangan SDM

D. 1. 2. 3.

484

5. 6.

- Beasiswa - Kesehatan - Trigger untuk ekonomi kerakyatan CSR perlu pengelola khusus, bisa dari perusahaan dan dari badan yang dibentuk CSR akuntabel

E.

PENUTUP

1. Kegiatan eksplorasi, eksploitasi, processing dan marketing harus jelas undangundangnya 2. Perusahaan tambang wajib mengikuti ketentuan yang ada pada UndangUndanga lingkungan hidup 3. Peraturan dan Perundang-undangan tentang pertambangan yang tidak sesuai lagi, segera di perbarui 4. Lingkungan kegiatan pertambangan wajib diperhatikan, terutama SDM, infrastruktur dan ekonomi 5. CSR diimplementasikan secara baik dan ikhlas

Pengembangan SDM

485

PEMBAHASAN TENTANG PENINGKATAN PERAN PERKERETAAPIAN DI SUMATERA SELATAN Disampaikan oleh : Prof. Ir. Machmud Hasjim, MME*) UNIVERSITAS SRIWIJAYA Potret Perkeretaapian di Sum Sel sebagaimana di negara berkembang lainnya, mempunyai banyak kelemagan terutama dalam hal finansial dan pelayanan. Kelemagan tersebut ada pada Infrastruktur dasar yang mempunyai sistem track tunggal dengan kualitas infrastruktur rendah, rendahnya muatan yang menguntungkan (ton persumbu). Sistem kontrol, signal dan komunikasi yang masih konvensional. Kualitas pelayanan dan pemeliharaan dengan sistem manajemen pemeliharaan dan kualitas pemeliharaan yang rendahm kurangnya Manajemen dan keahlian karyawan dan efisiensi serta produktifitas rendah serta tidak mencapai kebutuhan pasar. Penetapan Sum Sel sebagai lumbung energi, lumbung pangan menuntut penyediaan infrastruktur untuk mewujudkan visi tersebut. Salah satu moda transportasi yang patut dikembangkan adalah kereta api. Tabel Penggunaan energi Transport menurut moda, 2004 – 2025 2004 2025 Persentasi Jenis Kendaraan Total Konsumsi Total Persentasi Persentasi Persentasi (Juta SBM) Konsumsi (Juta SBM) Mobil Penumpang 27,58 0,9297 20,37 2,4727 Sepeda Motor 12,88 0,4344 24,17 2,9335 69.72 77,63 Bus 1,43 0,0483 1,08 0,1284 Truk 27,83 0,9397 32,01 3,8843 Kereta Api 7,58 0,2556 5,60 0,6799 ASDP 7,02 0,2368 5,19 0,6299 Angkutan Laut 13,59 0,4582 10,04 1,2186 Angkutan Udara 2,09 0,0705 1,55 0,1879 Jumlah 100 3,3716 100 12,135 Dari Analisis data Masterplan SumSel Lumbung Energi pada tabel di atas, terlihat bahwa moda jalan raya menggunakan 69,72% dari total energy yang 486 Pengembangan SDM

dikonsumsi do sektor transportasi. Dalam hal ini dominasi angkutan jalan sangat nyata, terutama angkutan truk (27,58%). Dominasi ini diperkirakan terus meningkat sampai pada tahun 2025 menjadi 77,63% digunakan oleh angkutan jalan, yang terdiri dari angkutan truk (32,01%). Melihat uraian tentang pemetaan energi pada uraian di atas, kita berharap pada batubara yang akan dikembangkan untuk briket dan bahan bakar transportasi setelah diubah menjadi energi listrik. Ini berarti akan ada energi alternatif untuk transportasi. Proyeksi penggunaan energi tahun 2025 ini, dengan mengasumsikan bahwa tidak adapada kebijakan terhadap pemilihan mida maka tren pertumbuhan penggunaan energi untuk moda angkutan jalan raya akan terus naik (7,91%). Untuk itu harus ada kebijakan yang lahir dalam memperbaiki proporsi pemilihan moda. Perubahan kebijakan seperti mewajibkan angkutan berat dan angkutan petikemas diangkut dengan angkutan kereta api akan mempengaruhi perubahan angka penggunaan energi untuk transportasi jalan. Seperti halnya negara berkembang lainnya PT. KAI satu satunya BUMN yang melayani transportasi di Indonesia mempunyai karakteristik seperti ersyaratan standart, tingkat investasi, baiay operasi dan tarif angkutan yang rendah, Sejauh mana PT. KAI dapat menginvestasikan penghasilan terbesarnya di Sumatera ini pada wilayah Sumatera? Ini menarik untuk dipertanyakan, karena selama ini dikatakan dengan kondisi rel yang sudah tua, PT.KAI hanya mampu mengangkut lima hingga tujuh ton setiap tahun, bila rel sudah diperbaiki maka tonasenya bisa lebih besar mencapai 7,5 juta hingga 10 juta ton pertahun. Sementara itu pihak PT. BA mengharapkan tonase batu bara bisa mencapai 15 juta ton setiap tahun. Harapan ini menjadi tidak realistis bila tidak disertai kebijakan pertumbuhan yang tepat dan efektif untuk dapat menyelesaikan masalah secara komprehensif. Seperti US dan Cina, dari segi kepadatana kemampuan teknis mereka dapat saja meningkatkan taruf barang agar cepat kembali modal. Tapi banyak contoh menunjukkan bahwa pemerintah yang memaksakan tarif barang mereka naik untuk menghindari atau mengurangi PSO penumpang secara nyata, sesungguhnya mereka sedang menempatkan gangguan kompetensi, beban yang tidak tertanggungkan dan tidak semestinya pada perkeretapian mereka. Dengan kata lain pemerintah yang menaikkan tarif barang di atas tingkat efisien yang masuk akal adalah sedang menghukum ekonominya secara tidak perlu.

Pengembangan SDM

487

Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan KERETA API adalah : 1. Pemerintah dan PT. KAI mundur selangkah kebelakang dan merenungkan kembali fungsi dari perkeretaapian kita. Untuk tujuan pelayanan seperti apa? Apakh sekarang sudah dilakukan secara efisien untuk melayani fungsi tersebut? Dalam hal ini, di Sumatera Selatan yang dominan adalah angkutan batubara. Untuk konsentrasi pada pengembangan pasar, yaitu kebutuhan angkutan batubara lebih dari 10 juta ton pertahun serta banyak lagi hasil bumi lainnya, tentunya pemerintah harus turun tangan untuk membangun double track sehingga track yang satunya dapat dikonsentrasikan ke kereta cepat listrik untuk penumpang. 2. Peran pemerintah dan kereta api secara jelas berbeda dan terpisah. Pemerintah bertanggung jawab akan fungsi sosial yang menjawab kebutuhan sosial masyarakat, sedangkan kereta api mengasumsikan sikap sebagai penyedia jasa sosial yang dibayar. Kereta api memerankan sebagai pesaing komersial untuk melayani kebutuhan pasar. Pembedaan fungsi ini membuat pemerintah bertanggungjawab untuk melayani masyarakat dan “mengiringi” pengembangan perkeretapian melalui sistem PSO atau kewajiban Pelayanan masayarkat. Perlu dibuat sistem PSO yang jelas dan transparan terhadap PT KAI. Pemerintah tidak rugi untuk melakukan sistem PSO ini, karena subsidinya adalah jelas dan dapat dipertanggungjawabkan hasil kemajuan yang akan diperoleh oleh pemerintah setelah sistem tersebut berjalan. 3. Reorganisasi untuk memenuhi pasar dan fungsi sosial. a. Eksternal Secara ekternal perkeretaapian perlu menata kembali hubungan dengan pemerintah. Perlakuan pemerintah terhadap moda angkutan kereta api harus sama dengan moda angkutan lainnya seperti angkutan jalan, sungai, laut dan udara dalam hal pajak, subsidi langsung dan tak langsung dan peraturan keamanan. b. Internal Secara internal perlu perencanaan restrukturissi berupa pengembangan organisasi manajemen internal yang efektif.

Disampaikan pada Seminar Nasional PEningkatan Peran Perkeretaapian di Sumatera Bagian Selatan, Palembang, 12 April 2006

*)

488

Pengembangan SDM

489 | P a g e

DIMENSI KELIMA
1. Link and Match The Higher Education and The Mining Indsutry 2. Mengelola Pendidikan Tinggi di Indonesia 3. Pengembangan Pendidikan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir 4. Development of Higher Education 5. Perencanaan Kurikulum dan Keterkaitan serta KEsepakatan Pendidikan Tinggi Pertambangan dengan Industri Pertambangan 6. Seminar Pengembangan Pendidikan Tinggi, Kerja Sama UNSRI-LAP ITB, 6 Maret 1989 (Pemakalah) 7. Pendidikan dan Ketahanan Nasional, Tahun 1993 (Makalah) 8. Universitas Sriwijaya Menjelang Tahun 2000 (Makalah Lustrum ke-7 UNSRI, tahun 1995) 9. Pokok-Pokok Pikiran dalam Pengembangan Universitas Sriwijaya (Makalah pada acara temu alumni, tahun 1995) 10. Pengembangan dan Penerapan Teknologi Pertambangan di Indonesia (Makalah, Seminar Nasional Pertambangan dan Energi, Munas II Permata, tahun 1995) 11. Keterkaitan dan Kesepadanan Pendidikan Tinggi Teknik Pertambangan dengan Industri Pertambangan (Makalah, Seminar Link and Match Dalam Industri Pertambangan di Indonesia, ITB, tahun 1995) 12. Keterkaitan dan Kesepadanan Pendidikan Tinggi dalam Menyiapkan Sumber Daya Manusia Tahun 2000-an (Makalah pada acara temu alumni I Politeknik Universitas Sriwijaya, tahun 1996) 13. Empowerment of University Graduates Through Optimalization of ELT Service Provision at the Tertiary Level (Makalah pada Seminar Nasional Pengajaran Bahasa Inggris di Universitas Sriwijaya, 24-26 Maret 1997) 14. Konferensi /Seminar Internasional WACE ke-10 di Cape Town, Afrika Selatan, tanggal 25-30 Agustus 1997, Paper: “Cooperative Education in University of Sriwijaya” 15. Seminar Nasional Pertambangan “Link and Match Antara Industri

Pertambangan dan Perguruan Tinggi” (Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pertambangan pada tanggal 30 Februari 2002)

Pendidikan dan Pembangunan

490

16. CAFEO – 21 (Conference of The Asean Federation of Engineering Organizations), “Link and Match, The Higher Education and Mining Industry”, (Makalah disampaikan pada tanggal 22 – 23 Oktober 2003 di Jogjakarta) 17. Muker Fakultas Teknik Unsri “Pendidikan Tinggi di Indonesia”, Palembang 14 Mei 2004 18. Penataran dan Lokakarya Politeknik Negeri Sriwijaya “Pendidikan Tinggi (Profesional) di Indonesia”, Palembang, 24 Mei 2004 19. Lokakarya, makalah “Manajemen Strategi Pendidikan Tinggi”, Universitas

Tridinanti (Palembang, 22 April 2006 20. Round Table Discussion (FKK-PSDM UNSRI), Makalah : Paradigma Jaringan Kerjasama Universitas Sriwijaya Menuju Globalisasi, Inderalaya 4 Maret 2008.

491

Pendidikan dan Pembangunan

LINK AND MATCH THE HIGHER EDUCATION AND THE MINING INDUSTRY
Machmud Hasjim

Continuity of human resources preparation in mining industry is a basic need of the company so that the industry performance could be controlled to fulfill market demand. The human resources that needed by mining industry are trained in higher education through learning-teaching process. To prepare qualified human resource, such as needed by the mining industry, a partnership between mining industry as the user and higher education as supplier of human resources should be generated. Through clarification and implementation of integrated programs that important to the both side, higher education graduates can be expected to have enough skill to enter the industry/ working environment. One of criteria in Indonesia higher education achievement evaluation is the ratio between the amount of graduates that could be absorb by the industry and the amount of produced graduate and ability to compete other higher education graduate. The evaluation based on that criterion has a strong relationship with the higher education curriculum that should relevant and actual to the latest condition of mining industry. Link and match concept trying to reach a deal between mining industries requiring about qualified human resources and higher education difficulties in arranging curriculum to match the latest development in mining industry. So it can be expected that the ability of higher education graduates will match the mining industry requirement. PROBLEMATICAL It has been realized that enhancing of young professional for mining industry is a responsibility of industries, higher educations, professional organizations, and the government. A lot of collaboration effort among the components has been done, Nevertheless there are some problems in arranging and implementing link and match concept for mining sector in Indonesia. Higher education problem is the occasion for student to field observation is very limited. For example, in Sriwijaya University, the field visit occasions are in Field Work Study, Work Practice, and Thesis (Final Project). The occasion for field

Pendidikan dan Pembangunan

492

experiences enhancement become more limited due to the limitation of student study time. This cause the field had been visited may not representative. Mining industry problem is that the industry is business oriented and the growth rate of mining sector in Indonesia is relatively low (±2.6% per annual), as consequences, the opportunity of field observe for higher education is more limited and employee absorption is more competitive. LINK AND MATCH OPTIMIZING MODEL 1. Work Practice and Thesis Almost all of mining company in Indonesia give a chance for student to do their work practice and thesis in the company. Due to the small amount of mining company, it is still difficult to get a field for research. Communication between higher education and the company certainly will help student in getting field for research. Work Practice and Thesis are chances for student to learn directly from the mining field. Due to rare opportunity for field study, the company and higher education institution should supervise student. So far in Sriwijaya University, student who leave for field research directly supervised by company staff where he/she doing his/her research. To help students, support link and match, and give a chance for teaching staffs to acquire field problems, the student who doing his/her research in field should also have supervisor from the higher education. By this method, supervisors from company and higher education could communicate each other and sharing experiences and the student may finish his/her field tasks easier.

2.

Sabbatical Work for lecturer and student Sabbatical work for lecturer and student is an opportunity in increasing open minded and identifying field problem. Some big mining company has generated cooperative program for student and sabbatical leave for lecturer. For student, the programs bring the opportunity for self-develops and preparation in entering working environment, and for lecturer the programs give a chance to be more familiar with industry especially new methods and equipment technology and as input in improving education curriculum. For the company, the advantages of these programs are early detection of potential employee candidates.

493

Pendidikan dan Pembangunan

The sabbatical work program that have advantages for all parties should be maintained and improved and should be followed by other companies. 3. Research activity Research is one component of Tridharma Perguruan Tinggi (Indonesian Higher Education Mission) that should be continuously strengthened in higher education environment. So far research fund in higher education relatively limited. To solve the problem, collaboration research between higher education and mining industry should be generated, from the point of view that in industry fund and facility are better. Therefore higher education researcher and industry researcher work together in generating innovation in mining sector that surely will give advantages for both parties. These researches could be innovation as well as problem solving. General Lecture from mining industry General lecture is one effort to minimize disparity between industry and higher education. In industry, transfer technology happened so fast, such as new mining technology, new equipment, an others. It is necessary for higher education persons to know the development. For lecturer the aim is to increasing the opinion and distributes it to the students. While for student it is an additional knowledge that finally will increase human resources quality. Seminar and scientific discussion Seminar and other scientific discussions are events for information sharing between higher education persons and industrial persons. Possibility for sending higher education staff to participate in seminars and other scientific discussions are very limited due to higher education finance condition. This limitation generally has been well-understood by the industries and give financial support for lecturer who attending in scientific conferences. Training Mining skill training could be generated by higher education for mining industry and vice versa. It is expected to minimize disparity between the two parties. For instance industry train higher education staff in mining software and higher education help in basic sciences refreshing for trained engineers.

4.

5.

6.

Pendidikan dan Pembangunan

494

7.

Professional organization and government support Professional organizations play an important role in minimizing gap between industry and higher education. The role could be conducting a better communication, facilitating seminars and scientific discussions and distribute information about mining technology development. Government, in this context Department of Energy and Mineral Resources and Department of National Education should organize policies that support synergic interaction between higher education and mining industry. Improvement of mining engineering higher education curriculum Curriculum analysis, improvement, and learning teaching process are tasks of education institution (in this context higher education). Periodically curriculum should be analyzed and improved to match with the latest development of mining technology. To achieve the goal, higher education should collaborate with industry for getting appropriate input for improvement.

8.

495

Pendidikan dan Pembangunan

MENGELOLA PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA*)

Machmud Hasjim

A.

PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu sistem yang berkait secara global. Hal ini disebabkan karena output pendidikan tersebut selain menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga penerapannya yang harus memberikan manfaat untuk kehidupan manusia. Sudah sewajarnya, antar sesama manusia mempunyai ketergantungan satu dengan lainnya. Oleh karena itu pada hakekatnya pendidikan itu dapat memberikan kontribusi kesejahteraan dalam arti yang luas pada kehidupan manusia. Dengan demikian output pendidikan yang diharapkan tidak hanya ilmu pengetahuan yang menghasilkan kecerdasan intelektual saja, tapi juga sangat perlu kematangan emosi dalam pergaulan sesama manusia dan kematangan jiwa sebagai hamba Tuhan di muka bumi ini. Dengan demikian manusia memerlukan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dalam kehidupan ini, untuk mencapai hidup yang sukses secara hakiki. Pendidikan bisa didapat melalui pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Ketiga macam pendidikan ini dapat menghasilkan ketiga macam kecerdasan di atas. Kualitas hasil pendidikan ini akan sangat tergantung pada bagaimana cara pengelolaan yang dilakukan oleh pimpinan yang dapat menimbulkan suasana kondusif serta keakraban sesama peserta didik, pengajar dan tenaga-tenaga pendamping lainnya, serta masyarakat. Dengan demikian yang memegang kunci keberhasilan pendidikan itu adalah pimpinan yang cerdas, dewasa emosi dan beriman yang mampu mengelola serta mengintegrasikan semua sumber daya/potensi yang ada. Pimpinan harus pandai mengajak secara demokratis semua unsur/stake holders ke arah kebersamaan. Artinya semua unsur tersebut dilibatkan dalam semua kegiatan mulai dari menentukan visi, misi, serta strategi melaksanakan misi organisasi. Dengan demikian visi yang dihasilkan adalah visi organisasi, bukanlah visi pimpinan semata. Semua unsur akan merasakan mempunyai kewajiban bersama untuk memajukan organisasi serta sama-sama merasa memiliki. Kalau ini dapat dilakukan, maka apa yang pernah disampaikan oleh Almarhum H. M. Natsir : “Gubahlah dunia dengan amalmu, gubahlah era dengan imanmu”, melalui kebersamaan yang sinergik, Insya Allah akan dapat dicapai. Pendidikan dan Pembangunan 496

Pengelola pendidikan memerlukan figur-figur seperti tersebut di atas, dengan penuh kekhusukan dan keikhlasan serta keramahtamahan yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan. Pimpinan pendidikan mempunyai paling banyak pelanggan meliputi para guru/dosen, siswa/mahasiswa, staf penunjang dan masyarakat. Sungguh bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk dapat memberikan kepuasan terhadap para pelanggan, bila tidak dibekali dengan pengetahuan, pengalaman, kematangan emosi, keikhlasan serta sikap yang simpatik. Pendidikan tersebut perlu dilakukan mulai dari pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Suatu ironis pendidikan kita di Indonesia, karena wajib belajar 9 tahun belum juga tuntas. Semestinya kita sudah menginjak kepada wajib belajar 12 tahun (sampai dengan pendidikan menengah). Sebetulnya wajib belajar ini dapat dipercepat melalui otonomi daerah. Kesemuanya ini akan dapat segera berhasil bila pimpinan daerah memprioritaskan sektor pendidikan. Tentu bersamaan dengan itu perlu dikaji secara mendalam, kualifikasi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan dalam rangka menciptakan lapangan kerja yang perlu diprioritaskan. Sudah saatnya, secara nasional ataupun regional, kita mempunyai piramida tenaga kerja dan piramida pendidikan yang dapat dikawinkan. Dengan demikian jenis program studi baik pada tingkat menengah maupun pendidikan tinggi dicetak sesuai dengan kebutuhan. Memang konsekwensinya akan banyak program studi yang dibekukan sementara dan akan dapat cair kembali bila diperlukan. Kondisi ini sudah berjalan di negara-negara maju. Khusus untuk pendidikan tinggi, mungkin Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (KPPTJP) perlu mendapat kajian kembali yang berorientasi lebih dominan kepada kebutuhan riel sumber daya manusia secara nasional dengan memperhatikan otonomi daerah. B. PENDIDIKAN DI DUNIA Perkembangan dalam ilmu dan teknologi informasi pada saat ini sungguh begitu cepat. Teknologi informasi ini adalah sarana yang sangat berperan dalam suatu negara terutama pada era global. Naisbit dalam “Global Paradox” (1994) dan “Megatrends Asia : The Eight Asian Megatrends that are Changing the World” (1995) menunjukkan betapa keras dan derasnya persaingan dalam pengeseran pengaruh yang diakibatkan oleh globalisasi ini. Antisipasi kita adalah bahwa kecenderungan ini akan makin mengglobal dalam proses yang sangat cepat dari berbagai dimensi kehidupan. Pada era global terasa telah terjadi pergeseran tata nilai. Agar dapat mengakomodasi pergeseran tata nilai itu secara cepat dan tepat, dibutuhkan berbagai kondisi yang mendukung terjadinya perubahan itu. Erat hubungan dengan tata nilai ini masalah sumber daya manusia terutama di negara-

497

Pendidikan dan Pembangunan

negara berkembang, termasuk Indonesia. Sumber daya manusia yang terutama diperoleh melalui proses pendidikan, umumnya di negara berkembang di dunia secara tidak langsung masih menjadi jajahan negara maju. Oleh karena itu perlu upaya maksimal dan dengan etos kerja/etos belajar serta kerja sama yang baik yang perlu dilakukan untuk mengejar ketinggalan tersebut. Faktor kelemahan yang lain yang sangat penting dalam menyiapkan sumber daya manusia melalui pendidikan ini adalah kurangnya dana pendidikan dan kesungguhan pada negara berkembang pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Perkembangan pendidikan di Asia dengan belahan bumi lainnya dari aspek melek huruf secara relatif tertinggal. Sebagai contoh pada kondisi tahun 1985, angka melek huruf orang dewasa sebesar 65% untuk Asia, 80% Amerika Latin dan secara rata-rata negara berkembang di dunia sebesar 59%. Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk negara berkembang masing-masing 90% untuk pendidikan dasar, 37% untuk pendidikan menengah dan 10% untuk pendidikan tinggi. Namun perkembangan peningkatan APK ini untuk seluruh jenjang pendidikan cukup menggembirakan. Untuk Indonesia peningkatan tersebut cukup baik bila dibandingkan keadaan tahun 1970 dengan 1985 dari 64,60% menjadi 93,60% untuk pendidikan dasar, 14,20% menjadi 44,40% untuk pendidikan menengah, dan 1,90% menjadi 8,90% untuk pendidikan tinggi. Angka ini berada pada angka rata-rata perkembangan pendidikan 15 negara di Asia. Tantangan pendidikan yang dihadapi pada saat ini ataupun ke depan adalah mahalnya biaya pendidikan terutama untuk pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan pasar. Negara-negara yang menguasai teknologi informasi dan dengan penyediaan dana yang memadai serta didukung oleh pemerintah dan masyarakatnya, akan memimpin bidang-bidang pendidikan di dunia yang dapat melahirkan sumber daya manusia untuk kebutuhan peningkatan pertumbuhan ekonomi negara. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan lingkungan pendidikan, peradaban, tujuan pendidikan, perubahan metodologi pengajaran, perubahan kurikulum, perubahan dan kemajuan teknologi, perubahan kebutuhan pasar dan perubahan keinginan politik suatu negara. Dengan demikian, kita tidak perlu menjauhi kondisi perubahan itu, bahkan harus sama-sama mengkaji/meneliti dan akhirnya mengambil sikap dalam menentukan kebijakan bidang/sektor pendidikan dalam menentukan prioritas untuk pemanfaatan masa depan. Jalinan kerjasama internasional bidang pendidikan perlu dilakukan secara bilateral maupun multilateral untuk meraih manfaat yang sebesar-besarnya untuk melenyapkan ketertinggalan.

Pendidikan dan Pembangunan

498

C.

PENDIDIKAN DI INDONESIA Pendidikan di Indonesia dimulai dari jenjang pendidikan pra-sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan di Indonesia dengan tujuan pendidikan nasionalnya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Intinya agar sumber daya manusia Indonesia menjadi manusia yang berilmu pengetahuan, beramal serta mempunyai akhlak yang baik atau dengan kata lain mempunyai kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual yang baik. Untuk menuju pendidikan masa depan yang baik, diperlukan data masa lalu, kondisi sekarang serta kecenderungan pendidikan dunia untuk kebutuhan pasar. Dengan demikian diperlukan pergeseran paradigma pendidikan. Kebijakan yang sentralistik dan bersifat top-down sudah harus berubah menjadi desentralistik dan bersifat bottom-up, namun tetap memperhatikan hal-hal yang sangat mendasar yang dipersiapkan oleh Pemerintah Pusat. Dengan demikian peran Pemerintah Daerah pada era otonomi daerah menjadi aktif untuk bersama-sama dengan semua stake holder merencanakan sekaligus turut bertanggung jawab dalam pengembangannya terutama kualitas, relevansi, pemerataan dan biaya pendidikan. Paradigma baru tersebut menurut Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional adalah (1) membangun manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudaya, seorang nasionalis yang berwawasan global; (2) harus berfokus pada penciptaan situasi belajar yang menyerasikan keseimbangan pertumbuhan kreativitas dan pembentukan kebiasaan disiplin; (3) diarahkan pada penumbuhan sikap penalaran kritis dan; (4) diarahkan untuk memasuki pasar global. Dengan demikian diharapkan melalui pendidikan akan dapat terjawab tantangan kehidupan masa depan yang berorientasi pada pasar. Untuk upaya mencapai pendidikan nasional yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan pasar serta merata, perlu dipadukan antara guru/dosen/instruktur dengan berbagai media (multimedia) yang sesuai untuk mencapai tujuan belajar. Pengertian multimedia ini sekurang-kurangnya ada 2, yaitu (1) gabungan berbagai media (bahan cetak/teks, audio, slide, radio, dan televisi, yang sesuai dimanfaatkan untuk pendidikan yang bersifat massal dan; (2) multimedia yang terpadu (integrated multimedia) yang biasa dikaitkan dengan komputer, biasanya sesuai dengan sifatnya individu. Di Indonesia untuk yang pertama sudah dikerjakan, misalnya melalui SMP Terbuka, Universitas Terbuka,

499

Pendidikan dan Pembangunan

dan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Untuk yang kedua, pada saat ini sudah berkembang dengan baik. Para siswa/mahasiswa sudah secara aktif menggunakan internet untuk mencari bahan karya ilmiah dan lainnya. Bila dana dan sarana akademik menunjang serta siswa/mahasiswa, guru/dosen telah siap/mampu menyiapkan perangkat keras/perangkat lunaknya, diharapkan pendidikan akan dapat berhasil mengikuti perkembangan pendidikan global. Perkembangan pendidikan di Indonesia (1999/2000) secara kuantitatif cukup menggembirakan mulai dari level pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi apabila dilihat dari angka partisipasi kasar (APK). APK masing-masing untuk SD, SLTP termasuk Madrasah, SMU/SMK termasuk keagamaan dan Perguruan Tinggi Umum/Agama masing-masing 112,18%; 71,87%; 39,14% dan 11,55%. Namun kita belum bicara masalah kualitas, pemerataan dan relevansi pendidikan. Pendidikan di Indonesia memerlukan keseimbangan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual untuk mampu bersaing pada masa ke depan. Dengan demikian kualitas dan relevansi pendidikan tersebut harus berpijak pada ketiga kecerdasan di atas untuk meraih sukses yang hakiki, melahirkan manusia cerdas, berkepribadian, pandai bergaul, berbudaya dan religius. Tantangan yang berat yang sedang dihadapi negara dan bangsa pada saat ini adalah berbagai macam krisis seperti moneter, ekonomi, politik, sosial, moral dan kepercayaan pada pemimpin. Akibatnya kemiskinan dan kebodohan masyarakat meningkat yang dapat menyebabkan instabilitas dalam berbagai sektor. Kita perlu melihat potret pendidikan di Sumatera Selatan untuk mengetahui serta merencanakan sektor pendidikan ke depan. Untuk Sumatera Selatan, APK mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi pada kondisi tahun 1999/2000 adalah 106,24% untuk SD dan MI; 78,5% untuk SLTP dan MTs; 51,36% untuk SMU, SMK dan MA; dan 10% untuk Perguruan Tinggi. Angka-angka tersebut tidak terlalu jauh berbeda dengan APK rata-rata nasional. Angka putus sekolah (drop out) secara nasional adalah 3,38% untuk SD; 4,49% untuk SLTP/Agama; 2,06% untuk SMU/Agama; 3,52% untuk SMK dan 1,47% untuk Perguruan Tinggi Umum/Agama. Angka putus sekolah ini membaik dari tahun ke tahun. Yang masih memprihatinkan adalah siswa yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu sebesar 19,31% ke SLTP/Madrasah; 34,40% ke SMU/SMA/Madrasah dan 53,12% ke Perguruan Tinggi. Dengan paradigma baru dan otonomi daerah, kebijakan pendidikan masa depan untuk kualitas, relevansi dan pemerataan perlu dikelola secara intensif dan terencana serta dinamis dengan menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak yang mamadai serta

Pendidikan dan Pembangunan

500

kepedulian semua stake holder pendidikan untuk dapat bersaing dengan ekonomi pasar.

D.

PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA Perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia dapat dibagi menjadi 5 tahapan, yaitu (1) periode pertumbuhan (1950-an – 1970-an) dengan melahirkan 42 perguruan tinggi/institut negeri; (2) periode perkembangan infrastruktur (1975 – 1985) yang disebut dengan “Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (KPPTJP); (3) periode konsolidasi hasil melalui peningkatan kapasitas kelembagaan, infrastruktur, manajeman, produktivitas, dan mutu (1985 – 1995); (4) periode penataan sistem pendidikan tinggi menuju kinerja pendidikan yang mengacu kepada peningkatan kualitas yang berkelanjutan (1996 – 2005); dan (5) periode Perguruan Tinggi (PTN) sebagai badan hukum menuju Otonomi (PP No. 61 Tahun 1999). Pada saat ini perguruan tinggi di Indonesia berada pada akhir periode keempat. Untuk memasuki periode kelima diperlukan persiapan penataan sistem pendidikan tinggi yang baik, kualitas yang mantap dan efisien, relevan dengan kebutuhan pasar, mampu menggalang dana untuk keperluan proses pembelajaran, serta mampu melaksanakan pengelolaan perguruan tinggi berdasarkan prinsip ekonomis dan akuntabilitas (PP No. 61 Tahun 1999). Pelaksanaan awal telah dimulai oleh 4 Perguruan Tinggi yaitu UI, ITB, IPB, dan UGM. Pada periode otonomi perguruan tinggi yang sudah didahului otonomi daerah diperlukan peningkatan kemampuan kemandirian antara lain kebebasan akademik otonomi keilmuan, otonomi pengelolaan lembaga dan mempunyai kewenangan mengadakan hubungan kerjasama termasuk dengan perguruan tinggi di luar negeri. Yang juga perlu diperhatikan dalam penerapan otonomi perguruan tinggi ini, harus memperhatikan dan peka terhadap kepentingan masyarakat dan Pemerintah Daerah dan sekaligus menjadi mitra. Bila dibandingkan dengan otonomi peguruan tinggi di negara-negara Eropa dan Amerika, maka perguruan tinggi di Indonesia baru pada tahap belajar dengan mengumpulkan referensi-referensi. Salah satu contoh perguruan tinggi yang telah melaksanakan otonomi secara luas seperti beberapa perguruan tinggi di Jerman. Di dalam fungsinya selain proses belajar-mengajar dan penelitian juga melaksanakan kegiatan bisnis dengan menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. Tenaga pengajar dapat melaksanakan salah satu fungsi saja dan dapat dimutasikan/digilirkan pada periode tertentu. Dengan demikian penjaringan dana untuk kegiatan pada perguruan tinggi itu dapat dilakukan sendiri, selain bantuan dari pemerintah. Di Indonesia, menurut pendapat kami, pemerintah tidak

501

Pendidikan dan Pembangunan

dapat lepas tangan sepenuhnya, walaupun sudah dalam bentuk BHMN (Badan Hukum Milik Negara), karena keterbatasan peluang untuk mencari dana sendiri, terutama perguruan tinggi negeri yang berada didaerah. Arah pengembangan perguruan tinggi di Indonesia perlu mempertimbangkan antara lain sumber daya yang ada serta kecenderungan keinginan pasar, baik pasar lokal maupun global. Di Indonesia dengan potensi air dan daratan yang sangat luas dengan pulau-pulau yang sangat banyak, selain kekayaan sumber daya bahan galian yang cukup menjanjikan, perlu menjadi pertimbangan pengembangan ke water based resources, land based resources dan kelancaran transportasi antar pulau. Bila keadaan ini didukung oleh Pemerintah yang masuk ke dalam visi pembangunan nasional yang direncanakan melalui Bappenas dan Bappeda, maka akan memudahkan dalam perencanaan kualifikasi sumber daya manusia melalui pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Dapat juga direncanakan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan lapangan kerja yang akan dimunculkan. Dengan demikian akan terjadi keselarasan piramida tenaga kerja dengan piramida lapangan kerja. Kesemuanya ini harus dimulai oleh pemerintah sebagai prime mover pembangunan yang diikuti oleh sektor swasta dan masyarakat sebagai pelaku pembangunan. Pertambahan lembaga dan populasi mahasiswa di Indonesia selama 58 tahun Indonesia merdeka boleh dikatakan sangat unik, karena percepatan yang luar biasa terutama peran swasta mendirikan perguruan tinggi swasta. Sebagai gambaran pada tahun 1999/2000, jumlah lembaga perguruan tinggi (Perguruan Tinggi Umum, Agama, dan Kedinasan) telah mencapai 2.229, dimana 170 diantaranya adalah negeri. Populasi mahasiswa sebesar 3.283.244 yang diasuh oleh 243.440 dosen dengan angka partisipasi kasar 11,55% dan ratio dosen – mahasiswa 1 : 13. Sumatera Selatan mempunyai 51 perguruan tinggi dengan pupulasi 76.851 mahasiswa yang diasuh oleh 7.460 dosen, dengan ratio dosen – mahasiswa 1 : 10. Angka partisipasi kasar serta rasio dosen – mahasiswa ini menunjukkan angka yang cukup baik, namun kualitas, efisiensi, relevansi serta infrastruktur pendidikan masih perlu dipertanyakan. Sudah siapkah untuk masuk ke dunia pendidikan global dengan sarana dan prasarana serta manajemen pada perguruan tinggi kita. Sudah siapkah perguruan tinggi kita melahirkan alumni dengan 3 kecerdasan di atas yang siap secara materi, moral dan kemampuan berkomunikasi dengan pelanggan di masyarakat. Dengan demikian penyiapan sumber daya manusia melalui perguruan tinggi selain perlu selaras dengan arah/unggulan pembangunan nasional dan daerah dalam hal keprofesionalan juga pendewasaan emosi dan keimanan/ketaqwaan harus dapat secara riel diciptakan di dalam kampus.

Pendidikan dan Pembangunan

502

Daerah yang sudah mempunyai unggulan/prioritas pembangunan perlu dikaji ulang secara mendalam dan selalu disesuaikan setiap saat dengan membaca kondisi pasar global yang cepat berubah. Bila dilihat dari kondisi pembangunan ekonomi pada saat ini, mungkin jumlah perguruan tinggi/jumlah mahasiswa tidak lagi menjadi prioritas. Yang menjadi prioritas adalah kualitas, pemerataan dan relevansi pendidikan. Persyaratatan mendirikan perguruan tinggi perlu diperketat dengan persyaratan nasional seperti persyaratan manajemen, tenaga pengajar, perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan, potensi lapangan kerja serta rekomendasi dari Pemerintah yang jujur. Dengan demikian diharapkan Pemerintah dapat memperhitungkan jumlah tenaga kerja dari perguruan tinggi dan tenaga terampil lainnya pada tingkat menengah kejuruan yang dibutuhkan jauh lebih banyak. E. KERJASAMA Mitra kerjasama dapat dilakukan antar perguruan tinggi baik di dalam maupun luar negeri, dengan lembaga-lembaga lain baik di dalam maupun luar negeri dan juga secara khusus dengan Pemerintah dan industri. Kerjasama ini dapat dalam bentuk (1) kontrak manajemen; (2) program kembaran; (3) program pemindahan kredit; (4) tukar-menukar dosen dan mahasiswa; (5) pemanfaatan sumber daya dalam pelaksanaan kegiatan akademik; (6) penerbitan bersama karya ilmiah; (7) seminar atau kegiatan sejenis lainnya; (8) penelitian pesanan melalui pihak ketiga; (9) pelatihan; (10) pengabdian; dan (11) kuliah tamu. Secara teknis kerjasama ini dapat dilakukan secara multilateral antar beberapa perguruan tinggi di suatu kota bersama Pemerintah di suatu negara atau antar negara. Hakikat dari kerjasama ini harus dapat memberikan keuntungan bersama dari pihak-pihak yang terkait. Oleh karena itu diperlukan penelitian/konsep awal sebelum dilakukan kerjasama, untuk menarik manfaat sebesar-besarnya di belakang hari. Harapan untuk mencapai kepuasan dari masing-masing pihak, perlu diberlakukan satu sama lain sebagai pelanggan. Menurut Handi Irawan (2002), ada 10 prinsip untuk mencapai kepuasan pelanggan, yaitu : (1) mulailah dengan percaya akan pentingnya kepuasan pelanggan; (2) pilihlah pelangggan dengan benar untuk membangun kepuasan pelanggan; (3) memahami harapan pelanggan adalah kunci; (4) carilah faktorfaktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan; (5) faktor emosional adalah faktor penting yang mempengaruhi kepuasan pelanggan; (6) pelanggan yang komplain adalah pelanggan yang loyal; (7) garansi adalah lompatan yang besar dalam kepuasan pelanggan; (8) dengarkanlah suara pelanggan; (9) peran karyawan sangat penting dalam memuaskan pelanggan; dan (10) kepemimpinan adalah teladan dalam kepuasan pelanggan.

503

Pendidikan dan Pembangunan

Saya kira bila kerjasama berpijak kepada 10 butir kepuasan pelanggan di atas, kerjasama akan menjadi langgeng dan dapat berjalan saling menguntungkan karena didasari oleh saling membutuhkan dan saling menghargai untuk mencapai manfaat. Demikian juga bila kerjasama antar pimpinan (pengelola perguruan tinggi) bagi para dosen/karyawan dan mahasiswa dapat dilakukan dengan prinsip di atas, akan membuahkan suasana kondusif di dalam kampus dan suasana keakraban, yang menghasilkan proses belajar-mengajar yang optimal, sekaligus kecerdasan emosional dan spiritual dapat terwujud karena adanya kasih sayang dan hormat-menghormati sesama warga kampus, serta satu sama lain merasa saling memerlukan. F. PENUTUP Secara keseluruhan bila dilihat dari angka partisipasi kasar dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, pendidikan di Indonesia tidak terlalu mengecewakan termasuk pendidikan di Sumatera Selatan. Namun untuk menghadapi era global, tidak cukup dengan APK saja, tapi yang lebih penting adalah kualitas, efisiensi, relevansi, dan pemerataan pendidikan serta kemampuan mengantisipasi persaingan pasar dalam berbagai sektor. Dengan memperhatikan potensi alam kita, perlu dipertimbangkan pembangunan ke arah water based resources dan land based resources serta pemanfaatan sumber galian alam mulai dari kegiatan hulu sampai ke hilir guna mendapatkan keuntungan ganda terutama ketenagakerjaan. Dengan demikian pendidikan di Indonesia dapat lebih terarah berdasarkan kebutuhan tenaga kerja/pasar. Untuk mencapai/menghasilkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan piramida tenaga kerja maka diperlukan piramida sumber daya manusia yang benar secara kualitatif dan kuantitatif. Oleh karena itu lembaga pendidikan memerlukan kerjasama dengan pihakpihak terkait yaitu dengan perguruan tinggi lainnya, industri, Pemerintah dan lainnya, yang dapat memberikan keuntungan/manfaat satu dengan lainnya.

Pendidikan dan Pembangunan

504

DAFTAR PUSTAKA Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, 1999, Saran Pertimbangan tentang Pemanfaatan Multimedia bagi Pendidikan untuk Semua. Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, 1999, Saran Pertimbangan tentang Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Abad ke-21 Dalam Rangka Pergeseran Paradigma. Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, 1999, Saran Pertimbangan tentang Perkembangan Identitas Bangsa Indonesia di Tengah Dinamika Kebudayaan Daerah, Nasional dan Internasional serta Pengaruhnya terhadap Penyelenggaraan Pendidikan di Abad ke-21. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995, Perbandingan Pendidikan di Indonesia dan Negara Lain. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2000, Data Pokok Pendidikan 1999/2000 dan Perkembangan Sejak 1994/1995. Handi Irawan, MBA, M.Com, 2002, 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan. Hasjim, Machmud, 1995, Peran Perguruan Tinggi dalam Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia Menghadapi Tantangan Abad ke-21, Seminar Nasional Kaum Muda dan Kebangsaan. Hasjim, Machmud, 1999, Sikap Ilmiah dan Kepemimpinan Mahasiswa, Seminar Mahasiswa. Hasjim, Machmud, 2001, Prospek Kerjasama di Bidang Pendidikan dan Agama Dunia Melayu Dunia Islam, Seminar dan Lokakarya Internasional Dunia Melayu Dunia Islam. Kantor Wilayah Pendidikan Nasional, 2000, Statistik Wajar Dikdas 9 Tahun tiap Kabupaten/Kota, Propinsi Sumatera Selatan. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum. Phillips H Coonibs, 1985, The World Crisis in Education, Oxford University Press. Undang-Undang Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 1989

505

Pendidikan dan Pembangunan

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR Machmud Hasjim Sarasehan Pemkab OKI Kayuagung , 30 – 31 Juli 2009

A.

PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu sistem yang berkaitan secara global; bermanfaat bagi kehidupan Output : kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan kecerdasan sosial Kunci keberhasilan pendidikan adalah pimpinan yang cerdas, dewasa emosi dan beriman Ironis pendidikan kita : wajib belajar 9 tahun belum tuntas. Semestinya sudah wajib belajar 12 tahun Wajib belajar dapat dipercepat melalui otonomi daerah dengan memprioritaskan sektor pendidikan Piramida Pendidikan disesuaikan dengan piramida tenaga kerja WCE : World Class Education - Knowledge - Skilled - Attitude - Iman Khusus untuk Pendidikan di OKI perlu mendapat kajian kembali; berorientasi kepada kebutuhan riel SDM di daerah, juga nasional dengan memperhatikan otonomi daerah dengan landasan VISI Bupati/Pemkab OKI.

Pendidikan dan Pembangunan

506

B.

PENDIDIKAN DI DUNIA Globalisasi Pergeseran tata nila Agar dapat mengakomodasikan pergeseran tata nilai itu secara cepat dan tepat, dibutuhkan SDM SDM berkualitas terutama diperoleh melalui proses pendidikan Faktor kelemahan yang sangat penting dalam menyiapkan SDM melalui pendidikan adalah kurang dana penddikan dan kesungguhan Angka melek huruf (1985) Asia : 65 % Amerika Latin : 80 % Rata-rata negara berkembang : 59 % Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia : 1,90 % (1970) meningkat menjadi 8,90 (1985) dan meningkat lagi menjadi 17,25 % (2008) APK Pendidikan Tinggi beberapa Negara Asean Korea : 91,0 % Thailand : 42,7 % Malaysia : 32,5 % Philipina : 28,1 % Cina : 20,3 % Sumber : Fasil Jalal, Rembuk Nasional 2008, 4 – 6 Februari 2008 Tantangan : mahalnya biaya pendidikan Negara yang terkemuka di bidang pendidikan di dunia melakukan perubahan lingkungan pendidikan, peradaban, tujuan pendidikan, perubahan metodologi pengajaran, perubahan kurikulum, perubahan dan kemajuan teknologi, perubahan kebutuhan pasar dan perubahan keinginan politik suatu negara Kita tidak perlu menjauhi kondisi perubahan tersebut Kita harus mengkaji/meneliti dan mengambil sikap dalam menentukan kebijakan sektor pendidikan dalam menentukan prioritas untuk pemanfaatan masa depan. Diperlukan kerjasama internasional bidang pendidikan untuk mengurangi ketertinggalan.

507

Pendidikan dan Pembangunan

C.

PENDIDIKAN DI INDONESIA Tujuan pendidikan nsional Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang : - beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa - berbudi pekerti luhur - memiliki pengetahuan dan keterampilan - berkesehatan jasmani dan rohani - berkepribadian yang mantap dan mandiri - bertanggung jawab kemasyaratakan dan kebangsaan

Paradigma baru pendidikan : 1. Membangun manusia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudayam seorang nasionalis yang berwawasan global. 2. Harus berfokus pada penciptaan situasi belajar yang menyerasikan keseimbangan peryumbuhan kreativitas dan pembentukan kebiasaan disiplin 3. Diarahkan pada pertumbuhan sikap penalaran kritis 4. Diarahkan untuk memasuki pasar global Diharapkan melalui pendidikan akan dapat terjawab tantangan kehidupan masa depan yang berorientasi pada pasar dengan dasar keimanan. Kualitas dan relevansi pendidikan harus berpijak pada kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan sosial untuk meraih sukses yang hakiki, melahirkan manusia cerdas, berkepribadian, pandai bergaul, berbudaya dan religius. Tantangan : berbagai macam krisis seperti moneter, ekonomi, politik, sosial, moral dan kepercayaab pada pemimpin. Akibatnya : kemiskinan dan kebodohan masyarakat meningkat yang dapat menyebabkan instabilitas dalam berbagai sektor Karena : - Laporan dana yang salah - Political will pimpinan yang tidak menunjang D. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA

1. Periode pertumbuhan (1950an – 1970an) Lahir 42 perguruan tinggi/insititut negeri; 2. Periode perkembangan infrastruktur (1975 – 1985) “Kerangka pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (KPPTJP)”;

Pendidikan dan Pembangunan

508

3. Periode konsolidasi hasil melalui peningkatan kapasitas kelembagaan, infrastruktur, manajemen, produktivitas dan mutu (1985 – 1995) 4. Periode penataan sistem pendidikan tinggi menuju kinerja pendidikan yang mengacu kepada peningkatan kualitas yang berkelanjutan (1996 – 2005) 5. Periode Perguruan Tinggi (PTN) sebagai badan hukum menuju Otonomi (PP No. 61 Tahun 1999) 6. Lahirnya UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 7. Lahirnya UU Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 8. Lahirnya UU BHP No. 9 Tahun 2009 Untuk memasuki periode kelima diperlukan persiapan penataan sistem pendidikan tinggi yang baik, kualitas yang mantap dan efisien, relevan dengan kebutuhan pasar, mampu menggalang dana untuk keperluan proses pembelajaran, serta mampu melaksanakan pengelolaan perguruan tinggi berdasarkan prinsip ekonomis dan akuntabilitas (PP No. 61 Tahun 1999 dan UU BHP) Pelaksanaan awal telah dimulai oleh beberapa Perguruan Tinggi seperti UI, ITB, IPB, UGM dan USU. Penerapan otonomi perguruan tinggi harus memperhatikan dan peka terhadap kepentingan masyarakat dan Pemerintah Daerah dan sekaligus menjadi mitra. Perguruan tinggi yang telah melaksanakan otonomi secara luas (misalnya di Jerman) dalam fungsinya selain pross belajar mengajar dan penelitian juga melaksanakan kegiatan bisnis dengan menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. Di Indonesia, pemerintah tidak dapat lepas tangan sepenuhnya, walaupun sudah dalam bentuk BHP karena keterbatasan peluang untuk mencari dana sendiri, terutama perguruan tinggi negeri yang berada di daerah. Arah pengembangan perguruan tinggi di Indonesia perlu mempertimbangkan antara lain sumber daya yang ada serta kecenderungan keinginan pasar, baik pasar lokal maupun global. Di Indonesia perlu menjadi pertimbangan pengembangan ke water beased resources, land based resources dan kelancaran transportasi antar pulau. Bila dimasukkan ke dalam visi pembangunan nasional akan memudahkan dalam perencanaan kualifikasi SDM melalui pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Dapat direncanakan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan lapangan kerja yang akan dimunculkan.

509

Pendidikan dan Pembangunan

Kesemuanya ini harus dimulai oleh pemerintah sebagai prme mover pembangunan yang diikuti oleh sektor swsata dan masyarakat sebagai pelaku pembangunan. Perkembangan lembaga dan populasi mahasiswa mengalami percepatan yang luar biasa, terutama peran swasta mendirikan perguruan tinggi swasta. Perkembangan Pendidikan Tinggi 2006/2007 Parameter Nasional Sumsel

Jumlah Perguruan Tinggi

2.638

105

Jumlah Mahasiswa

2.583.187

60.835

Jumlah Dosen

231.613.

6.630

Angka Partisipasi Kasar

17,25 %

10,00 %

Rasio Dosen – Mahasiswa

1 : 11

1 : 09

Sumber : Statistik Depdiknas 2006/2007
*)

Sambutan Mendiknas pada Hardiknas 2008

Angka partisipasi kasar serta rasio dosen – mahasiswa ini menunjukkan angka yang cukup baik, namun kualitas, efisiensi, relevansi serta infrastruktur pendidikan masih perlu dipertanyakan. Sudah siapkah untuk masuk ke dunia pendidikan global dengan sarana dan prasarana serta manajemen pada perguruan tinggi kita. Saat ini jumlah PT/mahasiswa tidak lagi prioritas. Yang menjadi prioritas adalah kualitas, pemerataan dan relevansi pendidikan

Pendidikan dan Pembangunan

510

E.

STAREGI MENUJU SUKSES Lingkungan Eksternal

Manajemen Strategi Lingkungan Internal Startegic Intent Stategic Mission

Perumusan Strategis

Penerapan Strategis

1. Strategi tingkat bisnis 2. Dinamika persaingan 3. Strategi Tingkat Perusahaan 4. Strategi Restrukturisasi dan Akuisisi 5. Strategi Internasional

1.Kepemimpinan Organisasi 2. Struktur dan Pengendalian 3. Kepemimpinan Strategi 4. interprenuership

DAYA SAING YANG TANGGUH

Tantangan Manajemen Strategi 1. Timbulnya peraingan dengan kiat-kiat tertentu 2. Global : barang, jasa, manusia, kemampuan, ide bergerak bebas melintas batas negara 3. Daya saing nasional, yaitu tingkat kemampuan suatu negara dapat memenuhi permintaan internasional Watson : “ Keberhasilan dalaha tidak abadi” Proses manajemen strategi adalah suatu paket komitmen, keputusan dan langkah yang diharapkan bagi suatu organisasi untuk mencapai tingkat daya saing yang berhasil F. GOOD SCHOOL GOVERNANCE 1. Leadership 2. Responsibility

511

Pendidikan dan Pembangunan

3. Accountability 4. Transparancy 5. The right man in the right place 6. Good communication 7. Jujur 8. Kebersamaan 9. Keimanan G. KERJASAMA Bentuk Kerjasama 1. Kontrak manajemen 2. Program kembaran 3. Program pemindahan kredit 4. Tukar menukar dosen dan mahasiwa 5. Pemanfaatan sumberdaya dalam pelaksanaan kegiatan akademik 6. Penerbitan bersama karya ilmiah 7. Seminar atau kegiatan sejenis lainnya 8. Penelitian pesanan melalui pihak ketiga 9. Pelatihan 10. Pengabdian 11. Kuliah tamu

Secara teknis kerjasama ini dapat dilakukan secara multilateral antar beberapa perguruan tinggi di suatu kota bersama Pemerintah di suatu negara atau antara negara. Kerjasama harus dapat memberikan keuntungan bersama dari pihak-pihak yang terkait. Diperlukan penelitian/konsep awal sebelum dilakukan kerjasama, untuk menarik manfaat sebesar-besarnya dibelakang hari. Kerjasama harus berpijak pada prinsip kepuasan pelanggan. Pendidikan di OKI dengan landasan VISI Bipati/Pemkab OKI yaitu ; “OKI Mandiri, Sejahtera, Beriman dan Berkualitas” I. Berdasarkan Jenjang Pendidikan - Play Group - TK - SD - SMP - SMU/SMK

Pendidikan dan Pembangunan

512

Berdasarkan Jenis Pendidikan - Umum : SD, SMP, SMU/SMK, PT - Terpadu : SDIT, SMPIT, SMUIT, PT - Pesantren, Ibtidaiyah, Sanawiyah, Aliyah, PT - Madrasah III. Manajemen Pendidikan - Manajemen single/tunggla - Manajemen terpadu (SD, SMP, SMU, PT) IV. Pembagian spesifikasi daerah pendidikan dengan memperhatikan potensi sumberdaya daerah dan nasional V. Menyiapkan Master Plan Pendidikan Daerah Ogan Komering Ilir pada 18 Kecamatan (Harus juga menyiapkan pendidikan untuk anak-anak terbelakang) Harapan Pendidikan yang dicapai

II.

S M

SMART : Spesifik (mempunyai keunggulan dari daerah lain) : Measurable (dapat terukur dengan rujukan kurikulum nasional dan daerah) : Achievable (dapat dicapai dengan mempersiapkan guru dan sarana pendidikan yang baik) : Realistic (riel sesuai dengan kebutuhan) : Time Frame (Lama pendidikan perlu diatur (anak Cerdas perlu difasilitasi dengan waktu yang lebih singkat)

A

R T

H.

PENUTUP Angka partisipasi Kasar pendidikan tinggi Indonesia tidak terlalu mengecewakan Di era global yang lebih penting adalah kualitas, efisiensi, relevansi dan pemerataan pendidikan serta kemampuan mengantisipasi persaingan pasar dalam berbagai sektor Berdasarkan potensi alam kita, perlu dipertimbangkan pembangunan ke arah water based resources dan land based resources dari kegiatan hulu sampai ke hilir.

513

Pendidikan dan Pembangunan

DEVELOPMENT OF HIGHER EDUCATION Regional Symposium on Integrated Energi Envirotment Management Palembang, 15 – 16 Desember 2010 Machmud Hasjim

A. INTRODUCTION Education is a system taht linked globally: useful for life Output : intellectual, emotional, and spiritual intelligence Key to the success of education is a smart leader, adult emotions and faith Ironic of our education : 9-year compulsory education was not finished. Should have compulsory education 12 years. Compulsory education can be accelerated through decentralization by giving priority to education sector. Pyramid Education should be adjusted to Pyramid Labor Particularly for Higher Education, KPPTJP need to be re-srudies; oriented to the real needs of national human resources by taking into account regional autonomy Private education is experiencing a shortage of funds and qualified teachers. B. EDUCATION IN WORLD Globalization change of values In order to accommodate the changing in value quickly and accurately, human resources are required Qualified human resources derived primarily through the education process The very important weakness factor in preparing human resources through education is the lack of educational funding and seriousness Literacy rates (1985) Asia : 65% Latin America : 80 % The average of developing countries : 59 %

Pendidikan dan Pembangunan

514

Gross enrollment rations (GFER) of higher education in Indonesia : 1.90 % (1970) increased to 8,90 (1985) and increased again to 17 : 25 % (2008) Higher Education GER some Asean countries : Korea : 91,0 % Thailand : 42,7 % Malaysia : 32,5% Philippines : 28,1 % China : 20,3 % Source : Fasli Jalal, 2008 National conference, 4 – 6 February 2001 Challenges : The high cost of education Leading countries in the field of education in the world to change the education environment, civilization, education goals, changes in teaching methodology, curriculum changes, changes and advances in technology, changes in marke demand and changes in political will of country. We do not need to stay away from the condition changes. We should review/investigate and take action in determining the education sector policy in determining priority for utilization of the future. It takes international cooperation in education to eliminate backwardness. C. HIGHER EDUCATION IN INDONESIA National education goals : Intellectual life of the Indonesian nation and develop fully human, the man who : - faithful and pious to God Almighty - virtuous noble character - have the knowledge and skills - Physically and metally health - Robust and independent personality - Responsible for community and nationhood The new paradig, of education : 1. Building a human being devout and pious to God the Almighty, cultured, a nationalist with global vision; 2. Should focus on creating learning situations that harmonize the balance of the growth of creativity and the formation of habits of discipline. 3. Aimed at the growing attitude of critical reasoning 4. Directed to enter the global market

515

Pendidikan dan Pembangunan

“Hopefully, through education will be addressed future challenges of life in market-oriented” The quality and relevance of education must be grounded in intelectual, emotional and spiritual to the ultimate success, gave birth to intelligence, personality, jaunty, cultured and religious human. The challenge : a variety of crises such as monetary, economic, political, social, morak and confidence in leaders As a result of poverty and ignorance of society increases that may cause instability in various sectors Indonesia Higher Education Develeopment : Growth period (1950s – 1970s) Born 42 state university/institutes of the country; Infrastructure development period (1975 – 1985) “Framework for Long-Term Higher Education Development (KPPTJP) The period of consolidation results through institutional capacity building, infrastructure, management, productivity, and quailty (1985 – 1995) Period structuring higher education sysytem towards educational performance that refers to continuous quality improvement (1996 – 2005) Period of Higher Education (PTN) as a legal entity to Autonomy (PP No. 61 of 1999) Enacted of the Regulation No. 20/2003 about National Educaton System Enacted of the Regulation No. 14/2005 about Teachers and Lecturers Enacted Regulation No. 9/2009 about BHP Canceled BHP Act, require a more appropriate substitute for the operational costs of education.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

To enter the fifth period necessary preparatory arrangements of good higher education system, steady quality and efficient, relevant to the needs of the market, able to raise funds for the purpose of the learning process, amd able to carry out the management of higher education based on economic principles and accountability (PP No. 61, 1999 and substitute of BHP Law) Application of higher education autonomy should pay attention and be sensitive to community interests and be sensitive to community interests and local goverment and also become partmers. A university that has been carrying out widespread autonomy (eg in Germany) in a function other that teaching-learning process and research is also conducting business activities by producing a marketable product.

Pendidikan dan Pembangunan

516

In Indonesia, the goverment can not off hands entirely, due to limited opportunities to find their own funds, especially local private universities. The direction of development of university in Indonesia sholud consider among other existing resources and the trend of market demand, both local and global markets. In Indonesia needs to be taking into consideration to the development of waterbased resources, land-based resources and the transportation smoothness between islands. When incorporated into the national development vision will facilitate the planning of qualification og human resources through education, especially higher education Labor requirements can be planned based on employment will be raised. Means the need for attention to the theee resources adequately, that are human resources, natural resources and techmology. All of this must be initiated by the government as the prime mover of development, followed by the private sector and society as development actors. The development of institutions and stident population experiencing an extraordinary ecceleration, especially the role of the private sector to establish private universites. Development of Higher Education 2006/2007 Parameter National South Sumatra Number of Higher Education 2.638 105 Number of students 2.583.187 60.835 Number of Lecturer 231.613 6.630 Gross Enrollment Ratio 17,25% 10,00 % Lecture to Student Ratio 1:11 1:09 Source : Statistics of Ministry of National Education 2006/2007 Message from the Minister of Education in Education Day 2008 Gross enrollment rate and the ratio of Lecturer-student shows a fairly good rate, but the quality, efficiency, relevancy and educational infrastrukture still needs to be questioned. Are we ready to enter the world of global education with facilities and infrastrukture and management at our universities? Currently the number of higher education and student is bo longer a priority The priorities are Quality, equity and elevancy of education 517 Pendidikan dan Pembangunan

D.

STRATEGI FOR SUCCESS External Envirotment

Strategic Management Internal Envirotment Strategic Intent Startegic Mission ‘

Startegic Formulation

Strategic Implementation

1. Business level strategy 2. The dynamics of competition 3. Company Level Strategies 4. Restructuring and Acquisition Strategy 5. International Strategy

1.Organizational Leadership 2. Sructure and Control 3. Strategic Leadership 4. Interprenuership

STRONG COMPETITIVENESS

Strategi Management Challenges 1. The emergence of competitors with specific tips 2. Global : goods, services, people, abilities, ideas move freely across national borders 3. National competitiveness, namely the level of a country’s ability to meet international demand Watson : “Success is not eternal” Strategic management process is a package of commitments, decisions and measures that are expected for an organization to achieve a successful level of competitiveness.

Pendidikan dan Pembangunan

518

E.

GOOD UNIVERSITY GOVERNACE 1. Leadership 2. Responsibility 3. Accountability 4. Transparency 5. The right man in the right place 6. Good communication 7. Honest 8. Togethereness

F.

PARTNERSHIP Forms of Cooperation 1. Contract management 2. Twinning program 3. Program transfer credit 4. Exchange of lectures and strudents 5. Utilization of resources in the implementation of academic activities 6. Issuance of jaoint scientific activities 7. Seminars or other similar activities 8. Orders research through third-party 9. Training 10. Dedication 11. Guest Lecture

Technically, this cooperation can be done multilaterally among several universities in a city with the Government in a country or between countries. Cooperation should be able to provide mutual benefit of the parties concerned Necessary research/concept before beginning to cooperate, to draw maximum benefit later on. Cooperation should be based on the principle of customer satisfaction G. CLOSING GER Indonesian higher education is not too disappointing

519

Pendidikan dan Pembangunan

In the global era, which is more important is the quality, efficiency, relevancy, and equity education and the ability to anticipate market competition in various sectors. Based on our natural resources, should be considered development resources from upstream to downstream activities. Education can be more focused on labor requirements/market Therefore we need a true pyramid HR qualitatively and quantitatively Education institutions need to collaborate with related parties, other higher education institution, industry, goverment and other.

Pendidikan dan Pembangunan

520

PERENCANAAN KURIKULUM DAN KETERKAITAN SERTA KESEPAKATAN PENDIDIKAN TINGGI PERTAMBANGAN DENGAN INDUSTRI PERTAMBANGAN*) Machmud Hasjim 1. RASIONAL Dua kekuatan mempunyai pengaruh yang sangat menentukan dalam proses pembangunan bangsa, kekuatan itu adalah kekuatan yang bersumber dari dalam yang berupa jati diri bangsa dan kekuatan yang berasal sari luar yang mempunyai sifat universal dan menglobal. Dua kekuatan ini dapat saling dorong, saling tarik, saling berhadapan dan bahkan tidak jarang saling bertentangan, serta saling tarik menarik antara satu dengan yang lain. Kekuatan yang berasal dari dalam harus dihimpun dan dikembangkan secara oprimal, sedang kekuatan dari luar harus diantisipasi secara cermat dampaknya dan dimanfaatkan secara maksimal dan proporsional. Letak geografis Indonesia yang strategis merupakan anugerah Tuhan yang harus kita manfaatkan seoptimal mungkin untuk kepentingan kemaslahatan Bangsa Indonesia. Akan tetapi kawasan strategis ini juga ditempati oleh bangsa-bangsa lain yang bersama-sama bangsa Indonesia ingin memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pembangunan bangsanya. Dalam situasi yang demikian ini makin lama makin menjadi ketat dan makin tajam. Bilama kita tidak memiliki kemampuan memenangkan kompetisi dan komparasi ini, barangkali posisi strategis itu bahkan menjadi bumerang bagi pembangunan bangsa kita. Selain letak geografis Indoneis ayang strategis, Indonesia juga memiiki ciri khusus. Indonesia adalah negara kelanjutan. Negara Indonesia adalah negara yang sebagian besar wilayahnya lebih dari dua pertiga, terdiri dari lautan. Ciri semacam ini memerlukan manusia yang memiliki ciri khusus pula agar dapat mengelola dan mengolah kekayaanyang berada dilautan menjadi aset dan modal yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan termasuk bahan galian tambang. Ciri khusus ini juga perlu memperoleh perhatian dunia pendidikan karena ia dapat menimbulkan dampak yang kurang menguntungkan bagi pembinaan dan pengembangan wawasan nusantara yang menjadi salah satu tali pengikat kebersamaan, kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

521

Pendidikan dan Pembangunan

Bangsa Indonesia pada saat ini telah memasuki era industrialisasi. Era ini merupakan ciri dan kriteria kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang diwarnai oleh dan menganut tata nilai yang dikembangkan atas dasar perilaku kehidupan dunia industri. Ciri utama bangsa maju adalah efisien dalam mengelola sumber daya yang tersedia dan memanfaatkan waktu, berpengetahuan luas, terampil dalam melaksanakan tugas, kreatif dan inovatif dalam menciptakan peluang dan mencari terobosan. Diharapkan dalam kurun waktu dua puluh tahun yang akan datang, bangsa Indonesia telah sepenuhnya berada dalam era industrialisasi ini. Agar kita mampu menyongsong era industrialisasi diperlukan sumber daya manusia yang profesional. Berbagai bidang industri, misalnya otomotif, elektronik, pertannan dan sejenisnya, teknologi tepat guna, informatka, transportasi, komunikasi, kemaritiman, energi, perbankan, pertahanan dan keamanan, manajemen dan tentu juga industri pertambangan yang makin lama makin bertambah canggih dan dalam jumlah yang makin banyak perlu disiapkan sumber daya manusia dari berbagai jenis pendidikan danberbagai jenjang pendidikan. Yang dirasakan sangat mendesak adalah menyiapkan tenaga profesional pada tingkat paling rendah dari berbagai bidang usaha dan industri dalam jumlah besar. Barangkali informasi tentang kualitas dan banyaknya kebutuhan tenaga kerja pada tahun 2020 dapat disajikan dari analisis proyektif yang dilakukan oleh dunia usaha dan industri. Ini sangat penting dan mutlak harus dilakukan agar dunia pendidikan dapat menyiapkan sumber daya manusia secara kualitatif dan kuantitatif dapat memenuhi kebutuhan pendidikan. Pembangunan pertambangan diarahkan untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya alam tambang secara hemat dan optimal bagi pembangunan nasional. Dalam Pembangunan pertambangan itu perlu ditingkatkan upaya peningkatan produksi, penganekaragaman hasil tambang, pengelolaan usaha pertambangan secara efektif dan efisien, didukung oleh usaha inventaisasi dan pemetaan serta eksplorasi, eksploitasi dan pengelolahan dengan menguasai dan memanfaatkan teknologi yang tepat. Pendidikan diakui sebagai suatu wahana yang ampuh untuk mempersiapkan bangsa agar memiliki kemampuan handal untuk menghadapi masa depannya. Bilaman tujuan pembangunan bangsa Indonesia adalah masyarakat maju sebagaimana yang diilustrasikan di atas, maka sistem pendidikan yang dikembangkan harus mampu mengembangkan manusia Indonesia memiliki

Pendidikan dan Pembangunan

522

kemampuan dan pengetahuan, memiliki keterampilan yang tinggi dan memiliki kemampuan seni manajerial dalam bekerja. Barangkali pengembangan sistem pendidikan untuk pendidikan tinggi perlu dikaji ulang secara hati-hati dan serius. Manusia Indonesia yang diharapkan adalah manusia yang produktif, memiliki pekerjaan yang layak mampu menciptakan produk yang unggul, mampu mencari terobosan, dan siap menghadapi persaingan global. Ini semua memprasyaratkan keahlian profesional termasuk dalam bidang pertambangan. Keahlian profesional akan dapat dicapai bilamana sistem pendidikan didesain secara terarah, terprogram secara teratur dan fungsional. Ini menujukkan kepada pemanfaatan hasil pendidikan itu bagi peserta didik setelah menyelesaikan masa belajarnya. Keahlian profesional baru akan terwujud kalau peserta didik diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman nyata di dunia kerja dan bukan hanya pengalaman simulasi di laboratorium. Proses pendidikan akan berlangsung dengan baik bilamana dilaksanakan sedini mungkin dan dimulai dari tingkat yang serendah mungkin. Proses pemerolehan pengalaman dapat dilaksanakan ketika peserta secara psikis dan fisik telah siap untuk melakukan itu. Dengan memperhatikan berbagai kondisi itu barangkali sistem pendidikan yang merupakan perpaduan saling mengisi dan saling melengkapi antara pendidikan yang diselenggarakan disekolah dengan pemerolehan pengelaman di dunia kerja melalui pelatihan, pemagangan serta penelitian dan perencanaan dapat dipertimbangkan untuk dijadikan kebijakan pengembangan pendidikan termasuk dalam pendidikan ahli pertambangan. 2. BASIS DAN KRITERIA KURIKULUM Di Dalam menyiapkan kurikulum perlu diketahui basis dan kriteria kurikulum itu sendiri di dalam berbagai tingkatan/level. Oleh karena itu diperlukan paling tidak ada 6 hal yang perlu diperhatikan pada basis dan kriteria kurikulum itu, yaitu (1) values and Goals, (2) Social Forces, pada saat sekarang dan yang akan datang, (3) Human Development, (4) The Nature of Learning (5) The Nature of Knowledge and Cognition and (6) Curriculum Criteria.

Value and Goals Kompetensi sebagai guru/dosen, pimpinan Sekolah/Perguruan Tinggi, pengawas atau pimpinan satuan tugas penyiapan kurikulum perlu memperhatikan beberapa hal : 523 Pendidikan dan Pembangunan

1. Menjelaskan dan menganalisa suatu kurikulum Sekolah/Perguruan Tinggi, pengawas dengana (a) arus sosial meliputi tujuan, kekuatan dan permasalahan, (b) perkembangan pengetahuan dari manusia serta teorinya (c) pengetahuan tentang bagaimana pembelajaran terjadi dan (d) pengetahuan tentang alam. 2. Untuk menformulasikan dan memperkirakan suatu satuan kriteria untuk mengevaluasi kurikulum atau perencanaan pembelajaran 3. Untuk menerangkan kegunaan dari beberapa aturan kepada berbagai ragam disiplin di dalam perencanaan kurikulum serta perubahannya seperti para guru/dosen, orang tua, masyarakat lainnya, pakar dalam disiplinnya, pimpinan sekolah/perguruan tinggi dan lain-lain 4. Mengidentifikasi dan mengevaluasi gambaran karakteristik, kecenderungan dan inivasi program dari pendidikan pada semua level umur (SD sampai PT) 5. Mengembangkan keterlatihan dalam mengintegrasikan pengetahuan dan menggunakan proses yang diperlukan untuk perencanaan kurikulum yang efektif. Social Forces Sekolah/Perguruan Tinggi harus terkait dengan sekelilingnya seperti budaya, ekonomi, sejarah, filosofis dan pengaruh politik. Pendidikan selalu merupakan suatu ekpresi dari suatu sistem sivilisasi dan politik serta ekonomi Sekolah/Perguruan Tinggi harus selalu harmonis dengan kehidupan ide-ide masyarakat pada suatu era dan tempat. Lingkungan sosial selalu berubah, deskripsi pada tahun enam puluhan berbeda dengan tujub puluhan, delapan puluhan, sembilan puluhan dan sebentar lagi masuk ke era milenium ke-3. Krisis yang melanda Asean pada saat sekarang ini, belum pernah terpikirkan ada masa lalu. Kemampuan untuk dapat mengantisipasi masa depan dari segala aspek kehidupan merupakan tuntutan yang perlu direnungkan oleh semua disiplin. Termasuk Sekolah/Perguruan Tinggi. Masalah-masalah itu yang erlu diantisipasi anatar lain : (1) Lingkungan, (2) Krisis Energi, (3) Perubahan Nilai dan Moralitas, (4) Keluarga, (5) Krisis Urban dan Sub Urban, (6) HAM, (7) Kejahatan dan (8) Ketegangan Internasional/Global.

Pendidikan dan Pembangunan

524

Human Development Perkembangan manusia menyebabkan perlunya suatu perkembangan kurikulum yang dinamis mulai anak-anak sampai kepada kebutuhan manusia lanjut usia. Perkembangan terhadap kematangan pribadi satu dengan yang lainnya berbeda. Oleh karena itu perencanaan kurikulum paling tidak harus dituntun oleh 5 aspek pengembangan yaitu (1) basis biologis individu yang berbeda, (2) kedewasaan fisisk, (3) pengembangan intelektualitas, (4) pertumbuhan emosi dan pengembangnnya dan (5) pengembangan budaya dan sosial The Nature of Leaning Pengertian bagaimana proses belajar dapat terjadi pada manusia dengan baik, adalah merupakan sentral yang sangat penting dalam penyusunan kurikulum dan mengajar. Ada 4 macam keluarga yang secara teoritis pada pembelajaran ini yaitu pertama S--R Conditioning, yaitu menekankan pada stimulasi response association. Kata kuncinya adalah pengalaman. Berfikir adalah bagian dari S—R yang dimulai dan berakhir pada perorangan pelajar. Dengan demikian diperlukan adanya rangsangan (stimulus) dan jawaban (response) dalam konteks pembelajaran, dengan pemberian rewad (penghargaan). Kedua adalah “Field Theory” adalah mengutamakan cara berpikir yang kognitif. Ketiga adalah Freudian Theory, dimana pandangan belajarnya tumbuh dari pekerjaan dan ide-ide. Basisnya adalah kehati-hatian dalam kebebasan. Guru tidak selalu sering secara sadar mencoba untuk memberikan pelajaran sebagai contoh atau model kepada pelajar, namun anak-anak memerlukan guru sebagiannya untuk melayaninya sebagai model untuk perilakunya. Belajar sendiri adalah keutamaan dari teori ini. Yang keempat adalah social leraning yang ditekankan oleh sosialogist, antropologist dan sosal psikologist. Berdasarkan terori ini, manusia tidak mempunyai keterbatasab untuk belajar. Pada learning proses ini yang utama adalah sosial dan belajar terjadi melalui sosialisasi selama hidup. The Nature og Knowledge and Cognition Dalam hal perencana mengambil keputusan yang perlu dipertimbangkan adalah (1) apa saja yang masuk dalam kurikulum dan bagaimana mengajarkannya, (2) bagaimana merencanakan untuk berbagai perbedaan dari pengetahuan untuk diajarkan, (3) bagaimana mengatasi perbedaan individu dari pelajar, dan (4) bagaimana pandangan pengajar/dosen tentang pengetahuan/ilmu dan kognitif yang memunya 525 Pendidikan dan Pembangunan

pengaruh dominan dalam perencanaan mengajar dan perencanaan kurikulum Curriculum Criteria Kriteria kurikulum adalah petunjuk atau standar dimana kurikulum atau keputusan instruksi dapat di dasari. Yang penting, siapa yang merencanakan kurikulum. Yang diperlukan adalah perencanaan penelitian yang kooperatif antara sivitas akademika dalam disiplin yang sama, orang tua, para pakar pendidikan dan dunia usaha perlu dilibatkan dalam penyiapan kurikulum. Langkah-langkah yang diperlukan untuk perencanaan kurikulum ini (1) identifikasi dari konteks dimana kurikulum diimplementasikan pemakaiannya, (2) menetukan objektif atau sasaan yang dituju, (3) peilihan, persiapan dan strategi implementasi dan alternatif untuk mencapai perubahan yang dinyatakan oleh sasaran/tujuan, (4) identifikasi strategi yang mungkin dan memilih yan lebih sesuai untuk individu pelajar/mahasiswa, (5) evaluasi untuk menentukan apa yang sudah diberlakukan dalam mencapai sasaran tersebut. Semua langkah diperlukan secara bnerputar dan sellau diperbaharui. 3.

ARAH Setelah mengetahui basis dan kriteria di dalam perencanaan kurikulum, maka diperlukan arah dan strategi, program dan tidak kurang pentingnya adalah pelaksanaan kurikulum itu sendiri. Pengembangan sistem pendidikan ahli pertambangan yang dilandasi oleh dasar pemikiran di atas harus diarahkan kepada tercapainya tujuan yang saling menguntungkan dari berbagai pihak. 1. Pendidikan pertambangan harus dapat menghasilkan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dalam bidangnya, memiliki keterampilan yang hadal dalam melaksanakan pekerjaannya, dan dedikasi yang tinggi dalam bekerja. Dengan kata lain, dapat menghasilkan tenaga kerja yang profesional.ahli. 2. Pendidikan pertambangan harus mampu mengahsilkan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh dunia kerja pertambangan. Oleh karena itu, pendidikan pertambangan yang dikembangkan adalah pendidikan yang menunjang terwujudnya konsep keterkaitan dan kesepadanan. 3. Dengan memperhatikan butir 3.1 dan 3.2 di atas pendidikan pertambangan harus selalu mengacu kepada lebih terdayagunnakannya berbagai sumber

Pendidikan dan Pembangunan

526

daya pendidikan secara optimal, baik sumber daya yang berasal dari pemerintah, orang tua, maupun yang bersumber dari masyarakat termasuk dari dunia usaha/industri pertambangan. 4. Konsep dasar pengembangan pendidikan pertambangan adalah pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian yang tidak terpisahnkan dari proses pendidikan. 4.

STRATEGI Sebagai suatu upaya pembaharuan, disadari sepenuhnya bahwa pengembnagna pendidikan pertambangan yang memiliki ciri khas itu tidak mudah untuk diimplementasikan. Sekurang-kurangnya ada tiga alasan pokok : 1. Pengelola pendidikan itu sendiri belum “akrab” dengan “dunia yang baru dimasukinya” walaupun mereka telah lama berada di dalamnya. 2. Dalam batas-batas tertentu timbul keraguan dari dunia usaha dan industri untuk secara cepat merespons kehadiran program baru yang dikembangkan itu. 3. Pada tahap awal akan dihadapi kesulitan melaksanakan manajemen yang diperkirakan dapat menunjang keberhasilan pendidikan ini. Dalam kaitannya dengan permasalahan itu, strategi utama yang perlu dikebangkan adalah menciptakan prakondisi yang berupa kemauan politik pengambil kebijakan dari tingkat paling atas sampai pengambilan kebijakan paling bawah untuk mendukung pengembangan pendidikan pertambangan ini. Selanjutnya tanggung jawab keberhasilan pendidikan tidak hanya tertumpu kepada Universitas, dunia usaha dan industri akan tetapi menjadi tanggungjawab semua pihak. Perasaan tanggung jawab yang bersymber dari perasaan ikut memiliki harus terus ditumbuhkembangkan dengan jalan mensosialisasikan dan menyebarkan pengembangan pendidikan ini kepada semua pihak. Berikutnya, koordinasi menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan program ini. Tanppa adanya koordinasi dan kerjasana dari semua pihak nampaknya sulit pengembagan pendidikan dengan keterkaitan dan keterpaduan ini akan berhasil. Peranan Pemerintah Daerah sangat besar, terutama untuk masa-masa ke depan pada era otonomi daerah (UU No. 22/1999) Secara khusus strategi yang fisibel untuk segera ditempuh adalah “menjual” program pengembangan ini keoada dunia usaha dan dunia industri pertambangan oleh masing-masing perguruan tinggi. Ini diperkirakan akan lebih mempunyai dampak yang positif bilamana pendekatan dengan

527

Pendidikan dan Pembangunan

Pemerintah Daerah setempat/Bupati/Walikota yang telah dapat dilaksanakan. Disadari sepenuhnya bahwa dalam keadaan industri yang relatif baru berkembang, diperkirakan tingkat partisipasi industri yang bersedia untuk diajak kerjasama juga sangat bervariasi. Dalam kondisi yang demkian itu tuntutan yang dirasakan memberatkan pihak dunia usaha dan industri pertambangan harus sejauh mungkin dihindari, bahkan bilamana diperlukan Pemerintah dapat memberikan bantuan untuk keperluan penyelenggaraan pendidikan. Pemberian penghargaan dalam berbagai bentuk, misalnya pengurangan pembayaran pajak dan pemberian piagam kepada dunia usaha/industri pertambangan yang bersedia menjadi pendamping dalam penyelenggaraan pendidikan ini barangkali akan memacu dunia usaha dan industri pertambangan untuk membantu penyelenggaraan pendidikan itu. Pemberian penghargaan itu dapat pula berupa kewenangan, membimbing dan menguji kepada mahasiswa yang sedang melaksanakan tugas akhir. Berarti bahwa dalam pengembangan program pendidikan pihak dunia usaha dan industri pertambangan turut dilibatkan 5.

PROGRAM Pendidikan pertambangan harus mengembangkan program yang fungsional dan terbuka. Program yang bersifat fungsional berarti harus terkait dengan terkecukupinya kebutuhan sumber daya manusia pembangunan dan terbuka berarti mengandung asas fleksibilitas vertikal dan horizontal. Ini berarti bahwa bilamana kebutuhann akan tenaga kerja telah terpenuhi, program itu ditutup, akan tetapi ia dapat dibuka kembali jika karena sesuatu terpenuhi, program ini tertutup, akan tetapi ia dapat dibuka kembali jika karena sesuatu dan lain sebab terjadi kekurangan tenaga kerja dalam bidang itu. Dalam pengembangan program perlu diperhatikan dua hal yaitu komponen dan metode pengembangan program. Komponen program pendidikan pertambahan harus mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional dan tujuan perguruan tinggi. Ada sekurangkurangnya empat komponen program yang harus dikembangkan. 1. Menyiapkan peserta didik menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Komponen program ini akan terdiri dari 10% dari keseluruhan program. 2. Komponen pendidikan dasar keahlian yang menyiapkan peserta didik memiliki keahlian dasar profesi. Komponen ini mendominasi struktur program (55%)

Pendidikan dan Pembangunan

528

3. Akhirnya komponen penunjang yang diharapkan dapat membekali peserta didik untuk mengembangkan dan memperluas cakrawala wawasan dalam bidang profesinya, terdiri atas 10% dari keseluruhan program. Untuk mengembangkan program itu ke dalam situasi aktual perlu dikembangkan metoda yang memiliki sifat yang akomodatif. Program in harus dilaksanakan sebagian di kampus dan sebagian lagi di dunia usaha dan atau industri. Karena penyelenggaraan program ini menyangkut prosedur dan kewenangan yang akan dikeluarkan oleh dunia usaha atau industri pertambangan maka seharusnya sebagian kegiatannya dilaksanakan dilapangan yaitu di industri pertambangan. Sementara itu evaluasi keberhasilan belajar peserta didik (mahasiswa) tetap menjadi tanggung jawab Perguruan Tinggi. 6.

PELAKSANAAN Pengembangna program baru selalu akan menjumpai kendala dalam implementasinya. Untuk mengurangi atau menekan dampak negatif dan menumbuhkan dampak positif program perlu dilaksanakan secara bertahap. Dalam jangka pendek barangkali upaya untuk terus menggalang kerjasama dan memantapkan kemauan politik terus ditingkatkan dan diintensifkan. Bersamaan dengan itu, uji coba program perlu dilaksanakan untuk beberapa perguruan tinggi yang memenuhi syarat untuk itu. Agar dalam proses uji coba berhasil dengan baik, berbagai komponen pendukung sistem perlu terus ditingkatkan kualitias dan kuantitasnya. Sarana dan prasarana, kualitas dosen dan pengelola serta ketersediaan pihak dunia usaha dan industri merupakan prakondisi yang mutlak diperlukan. Dalam hal ini perhatian perlu dicurahkan kepada peningkatan kualitas dosen, karena dosen merupakan faktor dominan yang mempengaruhi keberhasilan program pendidikan. Upaya untuk meningkatkan kualitas itu dapat dilaksanakan melalui berbagai macam jalan, termasuk memberi pengalaman kepada dosen itu untuk bekerja di industri pertambagan dan dunia usaha lainnya. Pelaksanaan jangka menengah merupakan kelanjutan dari jangka pendek itu. Program yang diujicobakan dan direvisi perlu terus disebarluaskan, sehingga pada akhirnya menjangkau seluruh pendidikan pertambangan di Indonesia melalui kerjasama antara perguruan tinggi dan dunia industri/usaha yang makin padu, diharapkan pendidikan pertambangan di Indonesia dapat dikembangkan kearah suatu sistem yang mendukung terlaksananya kebijakan Departemen Pendidikan yaitu mengembangkan terlaksanakanya keterkaitan dan kesepadanan sehingga akan menghasilkan lulusan yang tidak saja terampil tetapi juga

529

Pendidikan dan Pembangunan

fungsional dan profesional. Pada gilirannya proses pendidikan akan menajdi semakin efisien dalam pemanfaatn sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.

*)

Disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Kurikulum dan Peningkatan Manajemen Internal Jurusan Teknik Pertambangan pada tanggal 6 – 7 Desember 1999 di Univesitas Triwijaya Dosen/Guru Besar Jurusan Teknik Pertambangan Unsri

**)

Pendidikan dan Pembangunan

530