BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga internasional maupun data statistik nasional menunjukkan bahwa pendidikan dasar di Indonesia belum menunjukkan hasil yang memuaskan. (SD) di beberapa negara di Asia. Bank Dunia (1998) melaporkan tentang hasil pengukuran indikator mutu secara kuantitatif pada Sekolah Dasar Hasilnya menunjukkan bahwa hasil tes membaca murid kelas IV SD, Indonesia berada pada peringkat terendah di Asia Timur, berada di bawah Hongkong 75,5%, Singapura 74%, Thailand 65,1%, Filifina 52,6% dan Indonesia 51,7%. Dari hasil penelitian ini disebutkan pula bahwa para siswa di Indonesia hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan mengalami kesulitan menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Data hasil pengukuran daya serap kurikulum siswa secara nasional oleh Direktorat Pendidikan TK dan SD tahun 2000/2001 juga menunjukkan bahwa ratarata daya serap kurikulum secara nasional juga masih rendah, yaitu 5,1 untuk lima mata pelajaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa reformasi dalam sistem pendidikan nasional kita sudah menjadi suatu keharusan yang tidak bisa ditunda lagi, terutama pada jenjang pendidikan dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan pada jenjang selanjutnya. Pendidikan dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan di tingkat selanjutnya, haruslah mampu berfungsi mengembangkan potensi diri peserta didik dan juga sikap serta kemampuan dasar yang diperlukan peserta didik untuk hidup dalam masyarakat, terutama untuk menghadapi perubahan-perubahan dalam masyarakat, baik dari sisi ilmu pengetahuan, teknologi, sosial maupun budaya, di tingkat lokal maupun global. Kemampuan dasar yang harus dimiliki peserta didik dan menjadi tujuan utama dalam pembelajaran di sekolah dasar adalah kemampuan dalam membaca, menulis dan berhitung atau sering kali disebut dengan istilah ”the 3Rs”. Upaya untuk meningkatkan proses pembelajaran harus dilaksanakan demi tercapainya tujuan penyelenggaraan pendidikan dasar. Karena inti dari

1

d III). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Blazely dkk. pada umumnya berada pada tingkat perkembangan yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta baru mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Menurut BSNP (2006:35) penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di SD dikarenakan perkembangan peserta didik pada kelas rendah Sekolah Dasar. menetapkan pendekatan tematik sebagai pendekatan pembelajaran yang harus dilakukan pada siswa Sekolah Dasar terutama pada siswa kelas rendah (kelas I s. terkotak-kotak. Penetapan pendekatan tematik dalam proses pembelajaran juga diharapkan dapat menjembatani pendidikan yang telah dialami anak di Taman Kanak-Kanak (TK). proses pembelajaran yang terjadi hanya sebatas pada penyampaian informasi saja (transfer of knowledge). Berdasarkan kondisi tersebut. menyebutkan bahwa proses pembelajaran yang terjadi di sekolah masih banyak menggunakan pendekatan pembelajaran yang kurang memperhatikan kebutuhan dan pengembangan potensi siswa. 2002:3). Sistem pendidikan seperti ini membuat manusia berpikir secara parsial. Kondisi inilah yang menurut pemerhati tersebut yang menyebabkan rendahnya kemampuan membaca. sehingga dapat menekan angka mengulang kelas yang masih tinggi terutama pada 2 . Akhirnya. yang menurut David Orr dalam (Megawangi. pemerintah melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). serta cenderung bersifat sangat teoritik Peran guru masih sangat dominan (teacher centered). Oleh karena itu proses pembelajaran masih bergantung kepada objek konkret dan pengalaman yang dialami secara langsung. 2005) adalah akar dari permasalahan yang ada. Pembelajaran yang dilakukan dengan mata pelajaran terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik mengaitkan konsep dengan kehidupan nyata mereka sehari-hari. para siswa tidak mengerti manfaat dari materi yang dipelajarinya untuk kehidupan nyata. dan gaya mengajar cenderung bersifat satu arah. Akibatnya. 2 Maret 1999). 1997 (Suderajat.peningkatan mutu pendidikan adalah terjadinya peningkatan kualitas dalam proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas. kurang terkait dengan lingkungan sehingga siswa tidak mampu memanfaatkan konsep kunci keilmuan dalam proses pemecahan masalah kehidupan yang dialami siswa sehari-hari. menulis siswa SD di Indonesia (Republika.

dalam hal waktu. Strategi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tematik (selanjutnya disebut pembelajaran tematik) sebenarnya telah diisyaratkan sejak kurikulum 1994. Oleh karena itu penelitian tentang implementasi model pembelajaran tematik di kelas rendah Sekolah Dasar beserta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. terutama untuk meningkatkan kemampuan dasar siswa SD dalam membaca. bahan ajar. bahwa penerapan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ini memerlukan persiapan yang tinggi dari guru. menulis dan berhitung.kelas rendah. serta perangkat pendukung lainnya. Terlebih lagi disadari. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai penambah wawasan baik bagi penyusun pribadi maupun bagi pembaca pada umumnya. sumber. akan tetapi karena keterbatasan kemampuan guru. 3 . sangat diperlukan. baik yang disebabkan oleh proses pendidikan yang dilaluinya maupun kurangnya pelatihan tentang pembelajaran tematik mengakibatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tematik tidak dapat diwujudkan dengan baik. B.

Discipline based Parallel Discipline Crossdisciplinary Multidisciplinary InterDisciplinary Integrated Complete Day Program memberikan Gambar 1. Menilik perkembangan konsep pendekatan terpadu di Indonesia. shared. model yang menerpadukan antar berbagai bidang studi (model sequenced. threaded. webbed. Fogarty (1991)menyatakan bahwa ada 10 model integrasi pembelajaran. integrated). yaitu model fragmented. Jacob (1989) dan Fogarty (1991) berpendapat bahwa wujud penerapan Pendekatan integratif itu bersifat rentangan ( continuum). nested.BAB II ISI DAN PEMBAHASAN A. connected. Jacob menggambarkannya sebagai berikut. threaded. integrated. dan networked. nested). Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat pengalaman bermakna kepada peserta didik. pada saat ini model pembelajaran yang dipelajari dan berkembang adalah model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty (1990). mulai dari separated-subject sampai eksplorasi keterpaduan antar aspek dalam satu bidang studi (model fragmented. shared. webbed. sequenced. Model-model itu merentang dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit. hingga menerpadukan dalam diri pembelajar 4 . Model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty ini berawal dari konsep pendekatan interdisipliner yang dikembangkan oleh Jacob (1989). connected. Konsep Pembelajaran Tematik Penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di kelas rendah oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ini tidak lepas dari perkembangan akan konsep pembelajaran terpadu. Rentang penerapan pendekatan integratif menurut Jacob (1989) dan Fogarty (1991) Bertolak dari konsep PI yang dianut Jacob tersebut. immersed.

hingga proses evaluasi. sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungannya. yang pada gilirannya nanti.sendiri dan lintas pembelajar (model immersed tematik dan networked). tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak. Sebaliknya. (4) Aktif. memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar skemata yang dimiliki oleh siswa. proses pembelajaran yang terjadi mencerminkan suatu kesatuan yang mengandung berbagai persoalan untuk dipahami oleh anak secara keseluruhan dan terpadu. Adapun karakteristik dari pembelajaran ini menurut Tim Pengembang PGSD (1997:3-4) adalah : (1) Holistik. Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang berarti ’whole 5 . Guru yang memiliki pemahaman hakekat belajar sebagai proses mengakumulasi pengetahuan maka proses pembelajaran yang terjadi hanyalah sekedar pemberian sejumlah informasi yang harus dihapal siswa. (3) Otentik. apabila pemahaman guru tentang belajar adalah proses memperoleh perilaku secara keseluruhan. mulai dari perencanaan. Seperti yang diungkapkan oleh Surya (2002:84) bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. bergantung pada proses embelajaran yang terjadi di sekolah. Dari definisi akan hakekat belajar di atas dapat diketahui bahwa landasan pengembangan pembelajaran tematik secara psikologis adalah menurut pada teori belajar gestalt. pembelajaran tematik dikembangkan dengan berdasar kepada pendekatan diskoveri inkuiri dimana siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Psikologi Gestalt sebagai Landasan Pengembangan Pembelajaran Tematik Berhasilnya suatu proses pendidikan. suatu gejala atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran tematik diamati dan dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus. pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek. pelaksanaan. B. (2) Bermakna. Kemampuan guru yang berhubungan dengan pemahaman guru akan hakekat belajar akan sangat mempengaruhi proses pembelajaran yang berlangsung. akan memberikan dampak kebermaknaan dari materi yang dipelajari. pembelajaran tematik memungkinkan siswa memahami secara langsung konsep dan prinsip yang ingin dipelajari.

2003). Alwasilah. Dapat pula ditetapkan dengan negosiasi antara guru dengan siswa. sehingga hubungan itu menjadi jelas baginya dan demikian memecahkan masalah itu (Nasution. Slameto. Penentuan tema dapat dilakukan oleh guru melalui tema konseptual yang cukup umum tetapi produktif. Menurut teori belajar ini seorang belajar jika ia mendapat ”insight”. Perencanaan Pembelajaran Tematik Model pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran yang pengembangannya dimulai dengan menentukan topik tertentu sebagai tema atau topik sentral.Lingkungan Luar Sekolah Lingkungan Lingkungan Rumah Lingkungan terdekat siswa configuration’ atau bentuk yang utuh. 1991 : 54). C. pola. atau dengan cara diskusi sesama siswa. 2004. Insight itu diperoleh bila ia melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam situasi itu. Berikut ini ilustrasi yang diberikan dalam penentuan tema. Gambar 2. kesatuan dan keseluruhan. setelah tema ditetapkan maka selanjutnya tema itu dijadikan dasar untuk menentukan dasar sub-sub tema dari bidang studi lain yang terkait (Fogarty. Pengembangan Tema 6 . karena itu tema dapat dikembangkan berdasarkan minat dan kebutuhan siswa yang bergerak dari lingkungan terdekat siswa dan selanjutnya beranjak ke lingkungan terjauh siswa. Teori ini memandang kejiwaan manusia terikat pada pengamatan yang berwujud pada bentuk menyeluruh. dkk (1998:16) menyebutkan bahwa tema dapat diambil dari konsep atau pokok bahasan yang ada disekitar lingkungan siswa.

semua asas-asas yang perlu diindahkan dalam pembelajaran konvensional berlaku pula bagi penilaian pembelajaran tematik. (2) Kegiatan inti. 7 . penilaian siswa di kelas I dan II SD belum mengikuti aturan penilaian seperti mata pelajaran lain. Bedanya dalam evaluasi pembelajaran tematik lebih menekankan pada aspek proses dan usaha pembentukan efek iringan (nurturant effect) seperti kemampuan bekerja sama. E. mengetahui tingkat keberhasilan siswa serta keberhasilan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran. tenggang rasa dan sebagainya. menumbuhkan motivasi belajar siswa. dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa serta keterkaitannya dengan pengalaman sebelumnya. Pada waktu penyajian dan pembahasan tema. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Tahap ini merupakan pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar sebagai unsur inti dari aktivitas pembelajaran. 2006:41) . mengingat anak kelas I SD belum semua lancar membaca dan menulis. Mengevaluasi Pembelajaran Tematik Menurut Raka Joni (1996 : 16). Oleh karena itu. yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan rambu-rambu yang telah disusun dalam perencanaan sebelumnya.D. (3) Kegiatan akhir. guru dalam penyajiannya sehendaknya lebih berperan sebagai fasilitator (Alwasilah:1988). Menurut Pusat Kurikulum (2002). Pelaksanaan pelambelajaran tematik diterapkan ke dalam tiga langkah pembelajaran yaitu (1) Kegiatan awal bertujuan untuk menarik perhatian siswa. bahwa pada dasarnya evaluasi dalam pembelajaran tematik tidak berbeda dari evaluasi untuk kegiatan pembelajaran konvensional.dan memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan (Sanjaya. Dimana dilakukan pembahasan terhadap tema dan subtema melalui berbagai kegiatan belajar dengan menggunakan multi metode dan media sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. W. maka cara penilaian di kelas I tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis. merupakan kegiatan pokok dalam pembelajaran..

guru dalam penyajiannya sehendaknya lebih berperan sebagai fasilitator dan (3) Kegiatan akhir.BAB III PENUTUP A. merupakan kegiatan pokok dalam pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA 8 . Dimana dilakukan pembahasan terhadap tema dan subtema melalui berbagai kegiatan belajar dengan menggunakan multi metode dan media sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. dan memberikan acuan atau ramburambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan (2) Kegiatan inti. 2. Saran 1. II dan III agar lebih memahami tentang tematik. Bahwa landasan memberikan pengembangan pembelajaran tematik secara psikologis adalah menurut pada teori belajar gestalt. B. Diharapkan kepada pemakalah selanjutnya untuk lebih mendalami lagi tentang tematik. menumbuhkan motivasi belajar siswa. Kepada guru-guru kelas terutama guru kelas I. Kesimpulan Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat pengalaman bermakna kepada peserta didik. dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa serta keterkaitannya dengan pengalaman sebelumnya. Pelaksanaan pelambelajaran tematik diterapkan ke dalam tiga langkah pembelajaran yaitu (1) Kegiatan awal bertujuan untuk menarik perhatian siswa. kesatuan dan keseluruhan. Pada waktu penyajian dan pembahasan tema. pola. Teori ini memandang kejiwaan manusia terikat pada pengamatan yang berwujud pada bentuk menyeluruh. Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang berarti ’whole configuration’ atau bentuk yang utuh. mengetahui tingkat keberhasilan siswa serta keberhasilan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Standar Proses Subroto. Cipta Jaya.A. New York: Longman. (2006). Kurikulum dan Pengajaran. Strategi Pembelajaran Berorientasi Pendidikan. Interdisciplinary Implementation. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka Tilaar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Universitas Terbuka Miller. (1998).. Ed. O. Pembelajaran Terpadu. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Kapita Selekta Pendidikan SD. J. Sujanto.H. (1996/1997). Buku Materi Pokok PGSD. A. (1985). dan Herawati.P. T. I.L. Materi Pokok PGSD. T. (2002). W. Agus (1986). 9 . P.L. dan Seller. W.(2006). Bandung: Bumi Aksara Raka. (2006). H. (1989). Curriculum: Design and Mikarsa. Jakarta: PT Aksara Baru Surya. Pembelajaran Terpadu. Prianto.S. Hamalik. (1996). S.. (2005). Pembelajaran Terpadu. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Kencana Prenada Media. (2004). Taufik. (1989). Jakarta: BP. Inovasi Pendidikan (Buku ke-1). Alexandria. Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Model Silabus Mata Pelajaran SD/MI. Curriculum: Perspectives and Practices. Pendidikan Anak Di SD.. H.H. Magelang : Penerbit Tera Indonesia Tim Pengembang PGSD dan S-2 Pendidikan Dasar. Nasution. Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Jacob.M.: ASCD. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Sanjaya. H. V.J.Badan Standar Nasional Pendidikan. Bahan kajian Perkuliahan Inovasi Pendidikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful