You are on page 1of 12

ETIKA PROFESI Apakah Etika Itu? Etika secara umum didefinisikan sebagai perangkat prinsip moral atau nilai.

Masingmasing orang memiliki perangkat nilai tersebut antara lain: kejujuran, integritas, mematuhi janji, loyalitas, keadilan, kepedulian kepada orang lain,menghargai orang lain,menjadi warga yang bertanggung jawab,mencapai yang terbaik,dan lain-lain. Berikut ini adalah 6 nilai etis mengenai perilaku etis menurut Josephson Institute:

Dapat Dipercaya (trustworthiness) Mencakup kejujuran, integritas, reliabilitas dan loyalitas. Kejujuran menuntut itikad baik untuk mengemukakan kebenaran. Integritas berarti bahwa seseorang bertindak sesuai dengan kesadaran yang tinggi dalam situasi apapun. Reliabilitas berarti melakukan semua usaha yang masuk akal untuk memenuhi komitmennya. Loyalitas adalah tanggung jawab untuk mengutamakan dan melindungi berbagai kepentingan masyarakat dan organisasi tertentu. Penghargaan (respect) Mencakup gagasan seperti kepantasan (civility), kesopansantunan (courtesy), kehormatan, toleransi, dan penerimaan. Pertanggungjawaban (responsibility) Berarti bertanggung jawab atas tindakan seseorang serta dapat menahan diri. Pertanggungjawaban juga berarti berusaha sebaik mungkin dan member teladan dengan contoh. Kelayakan (fairness) Mencakup isu-isu tentang kesamaan penilaian, sikap tidak memihak, proporsionalitas, keterbukaan dan keseksamaan. Perhatian (caring) Berarti sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan pihak lain dan mencakup tindakan yang memperhatikan kepentingan sesame serta memperlihatkan perbuatan baik. Kewarganegaraan (citizenship) Termasuk kebutuhan pada undang-undang serta melaksanakan kewajibaanya sebagai warga negara agar proses dalam masyarakat berjalan dengan baik.

Sebagian besar orang mendefinisikan perilaku tidak etis sebagai perilaku yang berbeda dari sesuatu yang seharusnya dilakukan .Terdapat dua alasan mengapa orang bertindak tidak etis : Standar etika seseorang berberda dengan masyarakat umum. Contoh: pengedar obat terlarang, perampok bank, dan pencuri. Orang memilih untuk bertindak mementingkan diri sendiri.

Dilema Etika Dilema etika (ethical dilemma) adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan mengenai perilaku yang layak harus dibuat. Contoh sederhana dari dilemma etika ini adalah penemuan cincin berlian, di mana seseorang harus memutuskan apakah akan mengembalikan pada pemiliknya atau akan menyimpannya sendiri. Salah satu contoh dilema etikabagi auditor adalah menghadapi klien yang mengancam akan mencari auditor baru kecuali bersedia menerbitkan pendapat wajar tanpa pengecualian. Semakin majunya perkembangan jaman, maka dikembangkan kerangka formal untuk memecahkan dilema etika yang dinamakan pendekatan enam langkah : 1. Mendapatkan fakta-fakta yang relevan 2. Menentukan isu-isu etika dari fakta-fakta 3. Menentukan siapa dan bagaimana orang atau kelompok yang dipengaruhi oleh dilema 4. Menentukan alternatif yang tersedia bagi orang yang harus memecahkan dilema 5. Menentukan konsekuensi yang mungkin dari setiap alternatif 6. Menetapkan tindakan yang tepat

Kebutuhan Akan Perilaku Etis dalam Profesi

Kebutuhan akan kepercayaan publik akan kualitas jasa yang diberikan profesi, terlepas dari yang dilakukan secara perorangan. Bagi akuntan publik, penting untuk meyakinkan klien dan pemakai laporan keuangan atas kualitas audit dan jasa lainnya karena pemakai tidak memiliki kompetensi dan waktu untuk mengevaluasi pekerjaan akuntan publik. Akuntan publik

mempunyai hubungan profesional yang berbeda dengan profesional lain. Profesional lain hanya bertanggung jawab kepada klien yang ditanganinya sedangkan akuntan publik ditugaskan dan dibayar oleh yang mengeluarkan laporan keuangan ( klien ) sedangkan yang mendapat manfaat dari audit adalah pemakai laporan keuangan yang umumnya tidak pernah berhubungan dengan auditor. Kode Perilaku Profesional Merupakan ketentuan umum mengenai perilaku yang ideal atau peraturan khusus yang menguraikan berbagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan . Menurut AICPA kode perilaku profesional terdiri dari : Prinsip-prinsip, meliputi lima prinsip yang harus dipatuhi oleh semua anggota AICPA yaitu tanggung jawab, kepentingan masyarakat, integritas, kemahiran, lingkup dan sifat jasa dan satu prinsip untuk anggota AICPA yang memberikan jasa atestasi yaitu obyektivitas dan independensi . Peraturan perilaku, meliputi standar minimum perilaku praktisi yang ditetapkan profesi dan merupakan keharusan . Interpretasi, tidak merupakan keharusan tetapi praktisi harus memahaminya Ketetapan etika, penjelasan dan jawaban yang diterbitkan untuk menjawab pertanyaanpertanyaan peraturan perilaku yang diajukan oleh praktisi dan lainnya.tidak merupakan keharusan tapi praktisi harus memahaminya. Kebutuhan akan interpretasi peraturan perilaku yang dipublikasikan timbul ketika terdapat beragam pertanyaan dari para praktisi tentang peraturan yang spesifik. Komite Eksekutif Etika Profesi AICPA menyiapkan setiap interpretasi berdasarkan konsensus komite yang terdiri dari para praktisi akuntan publik. Interpretasi ini seara formal tidak dapat diberlakukan, tetapi penyimpangan dari interpretasi itu akan sulit dan bahkan mustahil untuk dijustifikasi oleh seorang praktisi dalam dengar pendapat disipliner. Interpretasi terpenting akan dibahas bersama dalam setiap bagian peraturan perilaku.

Cara profesi dan masyarakat mendorong akuntan publik berprilaku pada tingkat yang tinggi:
GAAS dan interpretasi

Ujian CPA

Persyaratan Pendidikan yang berkelanjutan

Pengendalian mutu

Peer Review
PCAOB dan SEO

Perilaku personil kantor akuntan publik

Kewajiban hukum

Seleksi praktik AICPA Kode Prilaku Profesional

Setiap peraturan diterapkan pada jasa astetasi, kecuali dinyatakan sebalimya, juga diterapkan ke semua jenis jasa yang disediakan oleh kantor akuntan publik seperti jasa perpajakan dan manajemen. Hanya ada dua peraturan yang dikecualikan bagi jasa-jasa nonastetasi tertentu: Peraturan 101 Independensi. Peraturan ini mensyaratkan independensi hanya jika AICPA telah menetapkan ketentuan independensi melalui badan penysusunan peraturan yang berada di bawahnya, seperti Auditing Standar Board. AICPA mensyaratkan independensi hanya untuk penugasan astetasi. Peraturan 203 Prinsip-prinsip Akuntansi. Peraturan ini hanya berlaku pada saat menerbitkan suatu pendapat audit atau laporan jasa review atas laporan keuangan.

Penerapan Peraturan Perilaku Peraturan 101- Independensi.

Peraturan 101 Independensi. Seorang anggota yang berpraktik untuk perusahaan publik harus independen dalam pelaksanaan jasa profesionalnya sebagaimana disyaratkan oleh standar yang dirumuskan lembaga yang dibentuk oleh dewan. Anggota dalam praktek publik harus bersikap independen dalam melaksanakan jasa profesionalnya seperti disyaratkan menurut standar yang disusun oleh lembaga-lembaga yang dibentuk oleh dewan . Anggota yang tercakup meliputi: 1. Orang-orang pada tim atestasi 2. Orang-orang yang dapat mempengaruhi tugas atestasi, seperti orang yang mengawasi atau mengevaluasi partner penugasan 3. Partner atau manager yang memberikan jasa nonatestasi pada klien 4. Partner di kantor partner yang bertanggung jawab atas penugasan atestasi 5. Kantor akuntan dan program tunjangan karyawanya 6. Entitas yang dapat dikendalikan oleh setiap anggota yang terlibat tersebut di atas atau oleh dua orang atau lebih anggota yang terlibat atau entitas yang beroperasi bersama. Beberapa konflik independensi yang biasa timbul : Kepentingan keuangan . Peraturan ini berlaku bagi partner atau pemegang saham tetapi untuk non partner berlaku jika mereka terlibat dalam penugasan . Berlaku bagi Pemilikan langsung dan untuk pemilikan tidak langsung jika jumlahnya material . Materialitas harus dipertimbangkan dalam hubungannya dengan kekayaan pribadi anggota dan penghasilannya.

Interpretasi dari independensi adalah sebagai berikut : pinjaman antara KAP dengan klien dilarang kecuali jumlahnya kecil, hipotek rumah, atau pinjaman tanpa agunan . Kepentingan keuangan pada hubungan saudara dilarang kecuali kontak jarang terjadi atau letaknya yang terpisah secara geografis . Hubungan investor atau investee bersama dengan klien dilarang kecuali jumlahnya maksimal 5 % dari total aktiva. Interpretasi 101-8 membahas situasi di mana klien merupakan investor atau investee untuk nonklien, di mana akuntan publikm meiliki kepenntingan kepemilikan. 1. Klien sebagai investor. Jika investasi klien dalam nonklien berjumlah material, maka investasi langsung atau tidak langsung yang material oleh akuntan publik dalam investee nonklien akan mengganggu independensi 2. Klien sebagai investee. Jika investasi dalam klien berjumlah material bagi investor nonklien, maka investasi langsung atau tidak langsung yang material oleh akuntan publik akan mengganggu independensi. Mantan partner atau pemegang saham boleh mengadakan hubungan dengan klien Tidak diperkenankan seorang anggota menjadi direktur atau pengurus perusahaan klien kecuali untuk organisasi nirlaba atau sepanjang profesinya bersifat kehormatan. Tuntutan antara sebuah KAP dengan kliennya dilarang Jasa pembukuan dan audit untuk klien yang sama oleh sebuah KAP diijinkan dengan syarat : 1. Klien harus menerima tanggung jawab penuh atas laporan keuangan . 2. Akuntan publik tidak berperan sebagai pegawai atau manajemen perusahaan 3. Dalam pemeriksaan harus sesuai dengan standar auditing yang berlaku umum Honor audit tidak boleh dibayar oleh manajemen kecuali auditor pemerintah atau komite audit

Integritas dan Obyektifitas Peraturan 102

Peraturan 102 Integritas dan Objektivitas. Dalam pelaksanaan setiap jasa provisional, seorang anggota harus dapat tetap mempertahankan objektivitas , harus bebas dari konflik kepentingan dan tidak boleh dengan sengaja membuat kesalahan penyajian atas fakta atau menyerahkan penilaiannya kepada orang lain. Auditor harus mempertahankan integritas dan obyektifitas dan bebas dari perbedaan

kepentingan dan tidak dengan sengaja salah mengemukakan fakta-fakta atau mendelegasikan pertimbangan-pertimbangannya pada orang lain. Anggota staff audit tidak boleh menyerahkan penilaiannua kepada penyelia dalam suatu penugasan audit. Auditor staff bertanggung jawab atas penilaian mereka sendiri yang didokumentasikan dalam arsip audit, tidak boleh mengubah kesimpulan tersebut atas permintaan penyelia, kecuali auditor staff itu setuju dengan kesimpulan penyelia. Standar-standar teknis Peraturan 201 - standar umum

Peraturan 201 Standar Umum. Seorang anggota harus mematuhi standar berikut ini dengan interpretasinya: a. Kompetensi Profesional b. Kepedulian Profesional c. Perencanaan dan Pengawasan d. Data Relevan yang Mencukupi

Kompetensi profesional. Hanya mengerjakan jasa profesional di mana anggota atau kantor anggota menganggap secara wajar dapat diselesaikan dengan kompetensi profesional.

Kepedulian profesional. Menggunakan kemahiran profesional dalam pelaksanaan jasa profesional.

Perencanaan dan pengawasan. Merencanakan dan mengawasi secara mencukupi pelaksanaan jasa profesional. Data relevan yang mencukupi. Memperoleh data relevan yang mencukupi sebagai standar yang layak untuk membuat kesimpulan atau rekomendasi dalam hubungannya dengan jasa profesional yang dilaksanakan.

Ketaatan pada standar Peraturan 202

Peraturan 202 Ketaatan Pada Standar. Anggota yang melaksanakan audit, penelaahan, kompilasi, bantuan manajemen, perpajakan , atau jasa profesional lainnya harus taat pada standar yang diumumkan oleh lembaga yang ditetapkan dewan Prinsip Akuntansi Peraturan 203

Peraturan 203 Integritas dan Objektivitas. Seorang anggota tidak boleh (1) member pendapata atau menyatakan secara tegas bahwa laporan keuangan atau data keuangan lainnya milik suatu entitas telah disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum atau (2) menyatakan bahwa ia tidak menyadari adanya modifikasi yang material yang harus dibuat pada laporan atau data tersebut agar sesuai dengan prinsipprinsip akuntansi yang berlaku umum, jika laporan atau data tersebut mengandung penyimpangan dari prinsip akuntansi yang dirumuskan oleh badan yang ditunjuk oleh dewan untuk menetapkan prinsip semacam itu yang mempunyai dampak material terhadap laporan atau data yang diambil secara keseluruhan. Namun jika laporan atau data tersebut mengandung penyimpangan dan anggota dapat memperlihatkan bahwa akibat keadaan yang tidak biasa, maka tanpa penyimpangan tersebut laporan keuangan atau data tersebut justru akan menyesatkan, anggota dapat mematuhi peraturan dengan menjelaskan penyimpangannya. Dampaknya bila dapat diperkirakan dari alasan mengapa kepatuhan terhadap prinsip-prinsip tersebut di atas akan menghasilkan laporan yang menyesatkan.

Anggota tidak dibenarkan menyatakan laporan keuangan tidak menyimpang dari GAAP atau menyatakan tidak mengetahui setiap modifikasi yang material jika laporan keuangan

menyimpang dari prinsip akuntansi ditetapkan oleh badan perumus yang ditunjuk dewan. Dan kalau ada penyimpangan atau yang dapat menyebabkan penyimpangan maka dia harus

menjelaskan mengenai penyimpangan tersebut, akibatnya, alasan mengapa menyatakan penyimpangan. Kerahasiaan Peraturan 301

Peraturan 102 Informasi Rahasia Klien. Seorang anggota dalam praktik publik tidak boleh mengungkapkan setiap informasi rahasia klien tanpa persetujuan klien. Peraturan ini tidak boleh diartikan (1) untuk membebaskan seorang anggota dan kewajiban profesionalnya menurut peraturan 202 dan 203 (2) untuk mempengaruhi dengan cara apapun kewajiban anggota memenuhi panggilan pengadilan yang dibuat secara sah dan dapat diberlakukan (3) untuk menghambat review atas praktik profesional anggota menurut AICPA atau perkumpulan akuntan publik negara bagian atau otorisasi Dewan Akuntansi, atau (4) untuk menghalangi seorang anggota mengajukan keluhan dengan/atau menanggapi suatu penyelidikan yang dilakukan oleh divisi etika profesional atau dewan pengadilan institute atau badan investigative atau disipliner dari perkumpulan akuntan publik negara bagian atau Dewan Akuntansi. Anggota dari setiap badan yang diidentifikasi dalam butir (4) di atas dan anggota yang terlibat dalam review praktik profesional yang diidentifikasi dalam butir (3) di atas tidak boleh menggunakan keunggulan posisi mereka atau menggunaka informasi rahasia klien milik anggota klien manapun yang datang kepada mereka dalam menjalankan aktivitas tersebut. Larangan ini tidak akan membatasi penukaran informasi para anggota yang berhubungan dengan hasil investigasi atau disipliner yang dijelaskan dalam butir (4) di atas atau review praktik profesional yang dijelaskan dalam butir (3)

Anggota dalam praktek publik tidak dibenarkan mengungkapkan semua informasi rahasia klien tanpa ijin khusus dari klien . Terdapat empat pengecualian yang berkaitan dengan tanggung jawab yang lebih penting dari sekedar mempertahankan hubungan rahasia dengan klien yaitu : 1. Kewajiban sehubungan dengan standar teknis 2. Dakwaan pengadilan

3. Penelaahan sejawat 4. Tanggapan kepada divisi etik.

Honor bersyarat Peraturan 302

Peraturan 302 Fee Kontinjen. Seorang anggota dalam praktik publik tidak boleh: 1. Melaksanakan jasa profesional apapun dengan fee kontinjen, atau menerima fee semacam itu dari klien di mana anggota atau kantor akuntan anggota melakukan: a. Audit atau review atas laporan keuangan atau b. Kompilasi laporan keuangan ketika anggota menduga atau secara wajar dapat menduga bahwa pihak ketiga akan menggunakan laporan keuangan itu dan laporan kompilasi anggota tidak mengungkapkan kurangnya independensi c. Pemeriksaan atas informasi keuangan prospektif. Atau 2. Menyiapkan SPT pajak yang asli atau yang telah diperbaiki atau klaim atas restitusi pajak agar mendapat fee kontinjen dari klien Larangan pada angka (1) di atas berlaku di mana anggota atau kantor anggota ditugaskan untuk membebankan salah satu jasa di atas dan periode yang dicakup oleh setiap laporan keuangan historis yang terlihat pada salah satu jasa di atas. Kecuali seperti dinyatakan dalam kalimat berikut, fee kontinjen adalah imbalan yang ditetapkan berdasarkan kinerja jasa yang diberikan, di mana imbalan tidak akan diberikan apabila tidak diperoleh hasil atau temuan tertentu, atau di mana jumlah imbalan akan tergantung pada temuan atau hasil jasa tersebut. Hanya untuk maksud peraturan ini saja, imbalan tidak akan dianggap sebagai kontinjen apabila imbalan tersebut ditetapkan oleh pengadilan atau lembaga-lembaga yang berwenang lainnya, atau dalam masalah pajak, apabila penetapan tersebut berdasarkan hasil keputusan pengadilan atau temuan dari pejabat pajak. Honor anggota dapat beragam tergantung, misalnya, pada kompleksitas jasa yang diberikan.

Anggota dalam praktek

publik tidak boleh membuat honor bersyarat untuk setiap jasa

profesional atau menerima ongkos dari klien yang anggota perusahaannya juga melakukan ; audit atau penelaahan, kompilasi, Pemeriksaan prospektif .

Tindakan yang mendatangkan aib Peraturan 501- tindakan tercela

Peraturan 501 Tindakan yang Dapat Didiskreditkan. Seorang anggota tidak boleh melakukan tindakan yang dapat didskreditkan bagi profesinya.

Anggota tidak akan melakukan tindakan yang mendatangkan aib bagi profesinya. Interpretasi dari tindakan yang mendatangkan aib diatas adalah sebagai berikut : 1. Menahan catatan klien setelah mereka meminta 2. Melakukan diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, agama, jenis kelamin dan lainnya 3. Jika melakukan audit atas badan pemerintah yang prosedurnya lain dari GAAS , auditor tidak mengikuti keduanya kecuali dinyatakan dan beserta alasannya pada laporan

Periklanan dan Penawaran Peraturan 502

Peraturan 502 Iklan dan Bentuk Permohonan Lainnya. Seorang anggota tidak dibenarkan melakukan periklanan dan penawaran yang bersifat mendustai, menyesatkan dan menipu. Dan penawaran yang menggunakan pemaksaan, desakan yang berlebihan, dan hasutan dilarang .

Komisi dan Honor Perujukan Peraturan 503 -A. Komisi yang dilarang Anggota tidak diperkenankan merekomendasi atau mereferensi produk atau jasa yang pihak lain bagi klien atau yang disediakan oleh klien demi untuk memperoleh komisi atau menerima

komisi , apakah anggota atau perusahaan anggota juga memberikan jasa kepada klien untuk audit atau penelaahan, kompilasi, pemeriksaan prospektif . Peraturan 503 -B. Pengungkapan komisi yang diijinkan Anggota diijinkan untuk memberikan jasa dengan mengungkapkan kepada siapa merekomendasikannya. menerima komisi dan harus

Bentuk dan Nama praktek Peraturan 505

Peraturan 501 Bentuk dan Nama Organisasi. Seorang anggota dapat membuka praktek dalam bentuk perusahaan perorangan, persekutuan, atau perseroan profesional sesuai dengan ketentuan dewan dan tidak diperkenankan membuka praktek dengan nama yang menyesatkan dan tidak boleh menyebut dirinya sebagai AICPA kecuali semua partner dan pemegang sahamnya anggota dari lembaga tersebut .