BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Pada zaman modern sekarang ini, masalah yang masih paling hangat untuk dibicarakan adalah masalah remaja terutama pada remaja pubertas, karena pada masa remaja merupakan masa storm dan stress (Stanley dalam Papalia & Olds, 2001). Masa remaja ditandai dengan terjadinya berbagai proses perkembangan yang secara global meliputi perkembangan jasmani dan rohani. Perkembangan jasmani terlihat dari perubahan-perubahan bentuk tubuh dari kecil menjadi besar. Perkembangan jasmani atau fisik mengarah pada pencapaian bentuk-bentuk badan orang dewasa. Perkembangan fisik terlihat jelas dari perubahan tinggi badan, bentuk badan, dan berkembangnya otot-otot tubuh. Remaja juga mengalami perkembangan seksual baik primer maupun sekunder (dalam Hurlock, 1999). Menurut Monks (1998), masa remaja ditandai dengan kematangan fungsi reproduksi atau disebut masa pubertas. Papalia & Olds (2001), juga mengatakan bahwa pubertas adalah proses dimana seseorang mencapai kedewasaan seksual dan kemampuan untuk bereproduksi. Pubertas adalah suatu perubahan cepat menuju kematangan fisik (physical-maturation) yang disertai dengan perubahan hormonal dan perubahan jasmani yang terjadi secara prima selama awal masa remaja (Santrock, 2002). Pertumbuhan yang terjadi tidak lain merupakan salah satu kumpulan perubahan fisik yang terjadi di awal masa remaja dan dikenal sebagai pubertas (Kail & Cavanaugh, 2000). Salah satu tugas perkembangan yang

1

Universitas Sumatera Utara

2004). tidaklah mengherankan lagi melihat begitu cepatnya perkembangan anak-anak zaman sekarang menuju earlymaturation. lingkungan. early-maturation sangat dipengaruhi oleh nutrisi. kriteria yang dipakai adalah mimpi basah (Hurlock. globalisasi. proses kematangan (maturation) pada masa puber terbagi 2 (dua) yaitu normal dan abnormal. Perubahan fisik yang begitu pesat pada masa puber merupakan proses menuju kematangan (maturation). dan pertumbuhan ciri-ciri seksual sekunder yang memuncak pada transisi dari pra-produktif kepada tahap produktif sepanjang rentang kehidupan manusia (Ellis. Pada fenomena zaman sekarang ini. Haid pertama (menarche) sering digunakan sebagai kriteria maturation pada remaja puber perempuan. Menurut Hurlock (1999). 1999). Menurut Santrock (2002). Begitu juga sebaliknya. Kematangan yang menyimpang atau abnormal juga terbagi 2 (dua). komposisi badan.harus dilalui remaja pubertas adalah yang berhubungan dengan perkembangan fisik yang begitu pesat (Hurlock. 1999). Pubertal-maturation adalah suatu proses dinamis secara biologis yang ditandai dengan adanya perubahan yang kelihatan di dalam proporsi tinggi badan. yaitu early-maturation (matang lebih awal) dan late-maturation (matang terlambat). remaja puber yang kematangan seksualnya lebih lambat dari kelompok seksnya termasuk ke dalam late-maturation. sedangkan bagi remaja puber laki-laki. dan media massa. juga mengatakan bahwa pada abad ini secara umum permulaan pubertas mengalami 2 Universitas Sumatera Utara . Remaja puber yang kematangan seksualnya lebih cepat daripada kelompok seksnya termasuk ke dalam kelompok earlymaturation. Zulkarnain (2007).

Empat faktor tersebut yang mempengaruhi early-maturation. teknologi semakin canggih sehingga banyak informasi yang mudah diakses melalui banyak media. gizi. Informasi 3 Universitas Sumatera Utara . yaitu lingkungan. Sp. M. Profesor tersebut mengatakan bahwa ayam potong yang biasa diberi suplemen untuk mempercepat pertumbuhan akan mempengaruhi masa pubertas anak jika ayam tersebut dimakan (Pontianak Post. serta gizi yang secara jelasnya juga dikatakan oleh Prof.pergeseran ke arah umur yang lebih muda yang dipengaruhi oleh bangsa. Masa pubertas dipengaruhi juga oleh gizi. dr Alex. Tidak menjadi masalah jika kadar gizi yang diberikan normal. Dr. 2006). dan kebudayaan. maka akan semakin cepat terjadi masa pubertas pada anak. iklim. Ada beberapa jenis daging tersebut yang banyak mengandung hormon. televisi.And. psikis. fisik. FSS. Arus informasi melalui media masa baik berupa majalah. dan komputer. tabloid maupun media elektronik seperti radio. mempercepat terjadinya perubahan. yakni ayam potong. namun arus informasi ini juga melemahkan sistem sosial ekonomi yang menunjang masyarakat Indonesia. pada era globalisasi modern sekarang ini. Namun perlu dihindari memberikan anak terlalu banyak mengonsumsi daging hewani yang mengandung hormon.Sc. Menurut lembaga KISARA PKBI Bali. Meskipun arus informasi ini menunjang berbagai sektor pembangunan. Seksolog dan Androlog dari Fakultas Kedokteran Unud Denpasar yaitu semakin cepat rangsangan terjadi pada diri anak. Rangsangan terbesar yang mempengaruhinya berasal dari audiovisual (TV) maupun pengaruh lingkungan. surat kabar. Anak-anak yang sedang menuju remaja merupakan salah satu kelompok penduduk yang mudah terpengaruh oleh arus informasi baik yang negatif maupun yang positif.

beberapa lain juga dari Sulawesi. yang disebabkan karena remaja perempuan lebih cepat mengalami kematangan (early-maturation) dibandingkan remaja puber laki-laki. film-film atau video-video porno dan bacaan-bacaan yang mengarahkan pada hal yang berbau seksual. Sejak tahun 1937 data yang menyangkut usia menarche dikumpulkan di Indonesia. juga mengatakan bahwa remaja puber perempuan lebih cepat mengalami kematangan (earlymaturation) karena pada kenyataannya remaja puber perempuan sekarang memiliki proporsi tinggi badan lebih tinggi dan komposisi badan yang lebih besar dibandingkan remaja laki-laki. pada umumnya pengaruh masa puber lebih banyak pada remaja perempuan daripada remaja puber laki-laki. Anak-anak perempuan yang sering mengonsumsi daging secara 4 Universitas Sumatera Utara . sampai pada tahun 1996 data tersebut diperkenalkan. Sumatra dan. Data dimulai dari Pulau Jawa. Angka rata-rata secara umum ditunjukkan dalam suatu urutan statistik adalah terjadinya suatu kecenderungan penurunan usia menarche 0. Rangsangan-rangsangan melalui arus informasi tersebut membuat anak-anak sekarang menjadi cepat matang secara fisik (Okanegara. Hasil statistik menunjukkan usia menarche mengalami penurunan dari rata-rata usia 14 tahun menjadi rata-rata usia 12-13 tahun.145 tahun/dekade. namun tidak pernah diterbitkan. Kail & Cavanaugh (2000).yang negatif di zaman sekarang ini sering kali muncul di banyak media seperti seperti tayangan-tayangan sinetron yang menampilkan anak-anak berperan sebagai orang dewasa. dari Flores. baru-baru ini. Menurut Hurlock (1999). Kondisi-kondisi kesehatan dan kekayaan umum di Indonesia meningkat dalam enam dekade terakhir ini yang sangat besar pengaruhnya dalam penurunan usia menarche. 2008).

Dr. Sebagai hasil dari ketidakmatangan cara berpikir dan sosial mereka. 2003).Alex Piquero. remaja puber perempuan yang mengalami early-maturation cenderung larut dalam perilaku yang bermasalah. Early-maturation yang dialami oleh kebanyakan remaja puber perempuan pada masa sekarang ini sering menjadi sorotan masyarakat. ada juga yang mengalaminya kelas 4 SD (umur 9 tahun). tanpa mengetahui apa efek jangka panjang yang akan terjadi pada perkembangan hidup mereka selanjutnya (Sarigiani & Pettersen. kurang popular diantara teman-temannya. 2001). Early-maturation yang 5 Universitas Sumatera Utara . dan yang seperti itu bisa tergolong early-maturation. seorang pakar kriminologi dari Universitas Florida. seperti kurang percaya diri. dalam Santrock. dan cenderung depresi (Elder dalam Papalia & Olds. Hal ini dikarenakan sikap yang ditunjukkan remaja puber perempuan terhadap early-maturation tersebut yang cenderung negatif. sekaligus dikombinasikan dengan perkembangan fisik yang begitu cepat. usia anak-anak perempuan yang mengalami early-maturation bila mereka mengalami menarche sebelum usia 11 tahun” (Rahmadani Hidayatin. maka kemungkinan mereka mengalami menarche adalah usia 11 tahun (Hendrawati & Glinka. “Untuk negara Indonesia rata-rata usia menarche adalah 11-14 tahun. cenderung memiliki masalah berperilaku. Komunikasi Interpersonal. 15 Agustus 2008). 2002). Anak-anak perempuan sekarang mengalami kematangan fisik yang semakin dini. Jadi bisa dikatakan bahwa untuk kota Medan sendiri. melakukan penelitian pada tahun 1995 terhadap remaja-remaja puber perempuan yang berumur 11 (sebelas) tahun yang di ambil dari 132 (seratus tiga puluh dua) sekolah di seluruh wilayah Amerika Serikat dan menemukan bahwa remaja puber perempuan yang mengalami early-maturation ternyata lebih beresiko untuk terlibat dalam kecenderungan perilaku yang negatif.berlebihan dan makanan yang bergizi tinggi. Di kota Medan sendiri. Psikolog PKBI Medan. dan di kota Medan juga terdata bahwa anak-anak perempuan biasanya mencapai rata-rata usia menarche pada usia tersebut.

2006). merokok. serta lebih memilih berkawan dengan remaja yang lebih tua. mendorong keinginan remaja puber perempuan untuk mengadakan interaksi sosial dengan kalangan yang lebih dewasa atau yang dianggap lebih matang pribadinya sehingga menimbulkan kecenderungan berperilaku mengikuti orang-orang dewasa pada umumnya seperti berpacaran. Dukungan terhadap pernyataan sebelumnya juga dapat dilihat dari pendapat Swarr & Richards (dalam Kail & Cavanaugh. 2000) yang mengatakan bahwa early-maturation menghambat perkembangan remaja puber perempuan yang mengarahkan remaja puber perempuan untuk berhubungan dengan remaja yang lebih tua yang kelihatannya mendorong mereka untuk mulai berperilaku mengikuti orang dewasa. lebih besar. Di negara Indonesia sendiri. serta lebih kuat dibandingkan dengan anak-anak lain yang tidak mengalami gejala kelainan fisik tersebut (early-maturation) (Pontianak Post. dimana mereka menjadi cenderung memperlihatkan perilaku tidak sehat. khususnya di kota Padang. Remaja puber perempuan yang mengalami early-maturation. dan sering pulang malam (Zulkarnain.dialami remaja puber perempuan menyebabkan mereka terdorong untuk bergabung dalam lingkungan sosial atau pergaulan yang belum layak mereka masuki. 2007). seperti bermabukan. Dr. dipaksa untuk berkecimbung ke 6 Universitas Sumatera Utara . Ketika memasuki pengalaman pubertas yang menandakan adanya physical-maturation. dan seks. merokok. Piquero juga menambahkan bahwa remaja puber perempuan yang mengalami early maturation biasanya akan lebih cepat belajar bersosialisasi secara akrab dengan lawan jenisnya. ditemukan bahwa beberapa anak perempuan telah mengalami pubertas pada usia baru mencapai 1012 tahun.

Piquero juga menambahkan bahwa bersosialisasi dengan remaja yang lebih tua secara psikologis membawa dampak yang berat. Piquero (1995). Menurut Dr. dan akhirnya menjadi hamil yang dalam perjalanan hidup berbeda dibandingkan seorang remaja puber perempuan yang mengalami later-maturation yang cenderung menjadi lebih siap untuk menentang tekanan seks. Dengan terjadinya early-maturation. 7 Universitas Sumatera Utara . Kemunculan ciri-ciri seks sekunder ini menyadarkan remaja puber perempuan akan penilaiannya terhadap tubuhnya yang mulai menyerupai bentuk tubuh wanita dewasa dan mengakibatkan mereka lebih senang bergaul dengan remaja yang lebih tua. remaja puber perempuan yang mengalami earlymaturation cenderung memunculkan perilaku yang negatif karena dampak pengalaman langsung yang diterima remaja perempuan selama proses maturation.dalam hal-hal mengenai seks. para remaja tersebut merasa bahwa mereka sama seperti orang dewasa dan memperbesar resiko mereka untuk mengikuti pola perilaku orang dewasa. Beliau juga mengatakan bahwa meskipun anak berusia 13 (tiga belas) tahun sudah berani bergaul dengan anak berusia 16 (enam belas) tahun. Dampak pengalaman langsung yang ditunjukkan di sini adalah pertumbuhan fisik yang pesat yang ditandai dengan munculnya ciri-ciri seks sekunder. sebab mereka memang belum cukup matang secara emosional untuk mengatasi masalah yang dihadapi. 2006). namun bukan berarti mereka juga memiliki tingkat pemikiran yang sama dengan anak-anak berusia 16 (enam belas) tahun (dalam Pontianak Post. Dr. Pengalaman langsung ini mempengaruhi sikap mereka terhadap earlymaturation itu sendiri.

Oleh karena itu. Oleh karena itu. 1999). Perubahan sosial juga lebih besar pengaruhnya dibandingkan perubahan-perubahan kelenjar yang terjadi pada tubuh mereka. Remaja puber perempuan yang mengalami early-maturation merasa terganggu secara psikologis dengan perubahan-perubahan kelenjar. Piquero dalam penelitiannya. Remaja ketika memasuki masa pubertas biasanya sangat tidak percaya pada diri sendiri dan bergantung kepada keluarga inti untuk memperoleh rasa aman. tidak semua remaja puber perempuan yang mengalami early-maturation beresiko mengalami kecenderungan perilaku tidak sehat. Hal ini sangat penting agar anak-anak bisa bersikap positif dalam hal menerima early-maturation itu sebagai sesuatu 8 Universitas Sumatera Utara . beliau menyarankan agar pada segenap orangtua supaya lebih waspada terhadap dampak negatif yang sering ditimbulkan pada kasus pubertas akibat penyikapan yang salah dari remaja puber perempuan terhadap early-maturation yang terjadi pada diri mereka. besarnya. remaja puber perempuan memerlukan simpati dan perhatian dari keluarga inti dalam menjalani berbagai tugas perkembangan yang dialaminya (Hurlock. Sebanyak 74% (tujuh puluh empat persen) anak-anak yang dibesarkan dalam dukungan sosial orangtua yang baik dalam hal pendidikan serta lebih akrab dengan orangtuanya ternyata mengalami lebih sedikit terkena resiko kecenderungan perilaku tidak sehat dibandingkan remaja puber perempuan yang tidak menerima dukungan sosial tersebut. pendampingan orangtua sangat dibutuhkan oleh remaja menuju tahap kedewasaan dan hal itu haruslah dimulai pada saat mereka mulai mengalami tanda-tanda pubertas (dalam Pontianak Post.Menurut Dr. Dalam hal ini. “Keluarga terutama orangtua sangat berperan penting dalam hal membentuk kesiapan anak-anak perempuan mereka dalam menghadapi early-maturation dalam bentuk dukungan sosial. dalam penelitiannya. 2006). dan posisi organ-organ internal yang dialaminya.

mengatakan bahwa sikap adalah kecenderungan berperilaku. remaja puber perempuan yang mengalami early-maturation biasanya cenderung memiliki sikap yang negatif terhadap early-maturation itu sendiri. Mueller (1992) juga mengatakan bahwa nilai menyebabkan sikap dan sikap ke arah suatu objek adalah fungsi sedemikian rupa bahwa objek itu diartikan untuk memberi kemudahan pencapaian nilai-nilai penting Pada dasarnya sikap bukan merupakan suatu pembawaan. Psikolog PKBI Medan. Bogardus (dalam Azwar. Menurut Sarigiani & Pettersen. 2002). Sikap ini muncul dari penilaian terhadap pengalaman langsung yang mereka terima ketika melihat tubuh mereka 9 Universitas Sumatera Utara . Sedangkan Thurstone (dalam Mueller. melainkan hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya sehingga sikap bersifat dinamis. 1992) menyatakan bahwa sikap merupakan suatu tingkatan afek. 15 Agustus 2008). 1995). Komunikasi Interpersonal. 2002). objek ataupun isu. Sedangkan menurut Petty dan Cacioppo (dalam Hogg. Faktor pengalaman besar pengaruhnya dalam pembentukan sikap (Middlebrook dalam Azwar.yang alamiah dan normal” (Rahmadani Hidayatin. bahkan kedua konsep tersebut seringkali digunakan dalam defenisidefenisi mengenai sikap. sikap merupakan suatu interaksi dari berbagai komponen. sikap merupakan evalusi umum terhadap orang (termasuk diri sendiri). Pada hakekatnya. dalam Santrock. dan komponen konatif. dimana komponen-komponen tersebut menurut Allport (dalam Azwar. 1995). Azwar (1995) mengemukakan bahwa nilai (value) dan opini (opinion) atau pendapat sangat erat berkaitan dengan sikap. komponen afektif. yaitu : komponen kognitif. baik itu positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis. 1995) ada 3 (tiga).

15 Agustus 2008). bimbingan dan pengarahan merupakan beberapa ciri dari dukungan sosial. Elzion mengartikan dukungan sosial sebagai hubungan antar pribadi yang didalamnya terdapat satu atau lebih ciri-ciri. antara lain: bantuan atau pertolongan dalam bentuk fisik.mulai menunjukkan ciri-ciri seksual sekunder. Dukungan sosial merupakan sesuatu yang dimiliki oleh individu yang hanya dapat dinilai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat kepada individu tersebut. Bantuan. namun secara kognitif mereka belum sematang layaknya orang dewasa umumnya karena sebenarnya mereka juga masih berpikir sama dengan anak-anak lainnya. Dukungan sosial dibagi ke dalam lima 10 Universitas Sumatera Utara . yang mengarahkan tubuh mereka seperti bentuk tubuh wanita dewasa. Komunikasi Interpersonal. Menurut Maharani dan Andayani (2003). “Anak-anak perempuan yang mengalami early-maturation secara fisik memang hampir memiliki fisik layaknya orang dewasa. Psikolog PKBI Medan. perhatian emosional. 1996). mereka sama seperti orang dewasa. sehingga mereka cenderung beresiko mengikuti pola perilaku orang dewasa tanpa adanya kematangan cara berpikir dan kematangan sosial yang sudah dimiliki orang dewasa umumnya. remaja puber perempuan membutuhkan bantuan dan bimbingan serta pengarahan dari keluarganya untuk menghadapi segala permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan proses kematangan yang dialami remaja puber perempuan sekarang ini. Mereka menganggap bahwa bila mereka mengalami maturation tersebut. sehingga remaja puber perempuan dapat melalui dan menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dengan wajar. sehingga keluarga mereka hendaknya mampu memberikan dukungan yang positif bagi perkembangan diri mereka agar mereka lebih berhati-hati dalam mencontoh pola perilaku orang-orang sekitarnya” (Rahmadani Hidayatin. pemberian informasi dan pujian(dalam Farhati & Rosyid.

perlu memberikan dukungan dalam bentuk pengarahan dan bimbingan bagi remaja puber perempuan dalam menghadapi perubahan-perubahan akibat maturation yang dialami remaja puber perempuan. mengatakan bahwa orang dewasa sebagai orang yang lebih dulu matang dibandingkan remaja puber perempuan. Cara demikian hanyalah memperbesar kesenjangan. Nilai atau pengetahuan yang baik dari orangtua dapat menuntun pola sikap remaja puber sekarang kearah yang positif terhadap early-maturation yang dialami remaja sekarang. Gunarsa (1995) mengatakan bahwa keluarga inti merupakan tempat yang penting dimana anak memperoleh kemampuan dasar dalam bentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang yang berhasil di masyarakat. istri/ibu dan anak-anak yang belum menikah.dimensi. dukungan informasional. Kahn (dalam Orford 1992). dukungan emosional. Menurut Soekanto (1990). Orangtua sebagai bagian dari keluarga inti perlu mempelajari seluk beluk kehidupan remaja secara seksama agar dapat membantu mereka dalam memberikan nilai atau pengetahuan yang penting berkaitan dengan maturation yang dialami remaja sekarang. bimbingan atau dukungan sosial tersebut dapat diperoleh dari keluarga inti yang dimiliki remaja puber perempuan yang mengalami early-maturation tersebut. 1992). dukungan penghargaan. Keluarga inti (keluarga batih) merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang lazimnya terdiri dari suami/ayah. yaitu: dukungan instrumental. dan dukungan integritas sosial (Orford. Sebaiknya orangtua justru harus bisa membandingkan kehidupan remaja zaman mereka dengan zaman remaja anak-anak mereka sekarang yang 11 Universitas Sumatera Utara . Orangtua yang merupakan bagian dari keluarga inti hendaknya tidak memaksakan ciri-ciri kehidupan remaja pada zaman mereka pada anak-anaknya.

dan seks. merokok. 1990). kurang percaya diri. peneliti melihat bahwa early-maturation pada remaja puber perempuan membuat mereka terlihat matang secara fisik seperti orang dewasa. Orangtua sekarang harusnya semakin menyadari earlymaturation pada zaman sekarang merupakan hal yang lumrah terjadi. tetapi tidak diikuti dengan kemampuan sosial dan mental yang matang seperti orang dewasa pada umumnya. Keluarga inti juga merupakan faktor terpenting bagi anak dalam mempengaruhi sikap remaja terhadap setiap tugas perkembangan yang dialaminya. depresi. B. Remaja tersebut biasanya menyikapi early-maturation dalam bentuk kecenderungan perilaku yang negatif.mengalami pergeseran yang cukup signifikan dalam hal yang berkaitan dengan early-maturation. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada pengaruh positif dukungan sosial keluarga inti pada sikap remaja puber perempuan terhadap early-maturation 12 Universitas Sumatera Utara . Remaja puber perempuan yang mendapat dukungan sosial yang tinggi akan membentuk sikap yang positif pula terhadap setiap tugas perkembangan (early-maturation) yang dilaluinya. perlu memperhatikan perkembangan diri mereka dalam bentuk dukungan sosial yang tinggi. sehingga remaja sekarang perlu dibimbing sedini mungkin (Soekanto. Berdasarkan uraian tersebut. kurang popular diantara teman-temannya. seperti. Berdasarkan uraian di atas. Keluarga inti sebagai wadah yang memegang peran penting dalam mambentuk karakter anak. peneliti ingin melihat pengaruh dukungan sosial keluarga inti pada sikap remaja puber perempuan terhadap early-maturation.

penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai pentingnya memberikan dukungan sosial yang baik pada remaja puber perempuan yang mengalami early-maturation agar remaja puber perempuan tersebut bisa menyikapi early-maturation yang dialaminya secara positif. MANFAAT PENELITIAN 1. D. penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pentingnya peran keluarga inti dalam membentuk karakter diri positif si remaja puber perempuan.C. 2. sehingga remaja puber perempuan perlu menjaga hubungan yang baik dengan keluarga intinya agar remaja puber perempuan mampu melalui tugas perkembangan responden (early-maturation) dengan baik. 13 Universitas Sumatera Utara . Bagi remaja puber perempuan. Bagi orangtua atau orang dewasa lainnya. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh positif dukungan sosial keluarga inti pada sikap remaja puber perempuan terhadap early-maturation. Manfaat Teoritis Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk perkembangan ilmu psikologi. Penelitian ini diharapkan dapat membuka mata masyarakat bahwa remaja perlu diberikan dukungan dalam menghadapi proses maturation. khususnya di bidang Psikologi Perkembangan. b. c. Manfaat Praktis a. yaitu membukakan wawasan mengenai pengaruh dukungan sosial keluarga inti pada sikap remaja puber perempuan terhadap early-maturation.

populasi dan sampel penelitian. instrumen atau alat ukur yang digunakan. remaja puber. sikap. SISTEMATIKA PENULISAN Adapun sistematika penulisan dalam laporan penelitian ini adalah: BAB I : Pendahuluan Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah penelitian.E. serta sistematika penulisan. validitas dan reliabilitas alat ukur. BAB III : Metodologi Penelitian Bab ini menjelaskan mengenai identifikasi variable penelitian. keluarga inti. dan early-maturation. tujuan dan manfaat penelitian. pertanyaan penelitian. 14 Universitas Sumatera Utara . Teori-teori yang dimuat adalah teori yang berhubungan dengan dukungan sosial. metode pengumpulan data. serta metode analisa data. BAB II : Landasan Teori Bab ini memuat tinjauan teoritis yang menjadi acuan dalam pembahasan masalah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful