BAB I PENDAHULUAN

Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Seperti daging, berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah temporal maupun nasal konjungtiva menuju kornea pada arah intrapalpebra. Asal kata pterygium dari bahasa Yunani, yaitu pteron yang artinya wing atau sayap. Hal ini mengacu pada pertumbuhan pterygium yang berbentuk sayap pada konjungtiva bulbi. Temuan patologik pada konjungtiva, lapisan bowman kornea digantikan oleh jaringan hialin dan elastik. Keadaan ini diduga merupakan suatu fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet, daerah yang kering dan lingkungan yang banyak angin, karena sering terdapat pada orang yang sebagian besar hidupnya berada di lingkungan yang berangin, penuh sinar matahari, berdebu atau berpasir. Kasus Pterygium yang tersebar di seluruh dunia sangat bervariasi, tergantung pada lokasi geografisnya, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering. Faktor yang sering mempengaruhi adalah daerah dekat ekuator. Prevalensi juga tinggi pada daerah berdebu dan kering. Insiden pterygium di Indonesia yang terletak di daerah ekuator, yaitu 13,1%. Insiden tertinggi pterygium terjadi pada pasien dengan rentang umur 20 – 49 tahun. Pasien dibawah umur 15 tahun jarang terjadi pterygium. Rekuren lebih sering terjadi pada pasien yang usia muda dibandingkan dengan pasien usia tua. Jika pterigium membesar dan meluas sampai ke daerah pupil, lesi harus diangkat secara bedah bersama sebagian kecil kornea superfisial di luar daerah perluasannya. Kombinasi autograft konjungtiva dan eksisi lesi terbukti mengurangi resiko kekambuhan.

BAB II

1

PEMBAHASAN
II.1 Anatomi II.1.1 Anatomi Konjungtiva Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sclera dan kelopak mata bagian belakang. Berbagai macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva. Konjungtiva ini mengandung sel musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu : Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal ini sukar digerakkan dari tarsus. Konjungtiva bulbi, menutupi sclera dan mudah digerakan dari sclera dibawahnya. Konjungtiva forniks, merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak

Gambar 1. Anatomi mata II.1.2 Anatomi kornea

2

kadar air yang konstan. 2.Pada sel basal sering terlihat mitosis sel. dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng. Diduga keratosit 3 .Merupakan lapisan paling tebal. Kornea merupakan suatu lensa cembung dengan kekuatan refraksi +43 dioptri. elektrolit. yaitu : 1. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. Epitel . ikatan ini menghambat pengaliran air. sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depanya melalui desmosom dan makula okluden. Kornea terdiri dari lima lapis. Faktor-faktor yang menyebabkan kejernihan korena adalah letak epitel kornea yang tertata sangat rapi. Stroma . satu lapis sel basal. dan glukosa yang merupakan barrier. . terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya. . dan tidak adanya pembuluh darah. terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu yang lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. -epitel berasal dari ektoderm permukaan.Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi. Membran Bowman -Terletak dibawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.Tebalnya 50 μm. 3. berupa jaringan transparan dan avaskular. letak serabut kolagen yang tertata sangat rapi dan padat.Kornea merupakan dinding depan bola mata. pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang. sel poligonal dan sel gepeng. terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih. Kornea melanjutkan diri sebagai sklera ke arah belakang dan perbatasan antara kornea dan sklera ini disebut limbus.

dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. berlapis satu. Endotel . mempunyai tebal 40µm. saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid. bentuk heksagonal. 4. 4 .bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup. saraf nasosiliar. besar 20-40µm. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea. Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. 5.berasal dari mesotellium. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan system pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. membrane descement . masuk ke dalam stroma kornea.merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya. Kornea dipersyarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus. Endotel tidak mempunyai daya regenarasi. endotel melekat pada membrane descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden. . menembus membrane bowman melepaskan selubung schwannya.

1 Definisi Pterigium adalah suatu penebalan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga. umumnya di sisi nasal.Gambar 2. Dawson (1995) dalam General Ophthalmology. pterygium merupakan suatu pelanggaran batas suatu pinguicula berbentuk segitiga berdaging ke kornea. yaitu pteron yang artinya wing atau sayap. mirip daging yang menjalar ke kornea . Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal maupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea.2 Pterigium II. Menurut Ivan R. Pterygium berbentuk segitiga dengan puncak di bagian sentral atau di daerah kornea. pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif . Schwab dan Chandler R. Lapisan kornea II. Sedangkan menurut Sidharta Ilyas.2. Asal kata pterygium dari bahasa Yunani. Hal ini mengacu pada pertumbuhan pterygium yang berbentuk sayap pada konjungtiva bulbi. Pterygium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat invasif dan degeneratif. secara bilateral. 5 .

2. Sehingga dapat disimpulkan penurunan angka kejadian di lintang atas dan peningkatan relatif angka kejadian di lintang bawah. Laki-laki lebih beresiko 2 kali 6 .Gambar 3. tergantung pada lokasi geografisnya. Di Amerika Serikat. iritasi berulang (misal karena debu atau kekeringan). Faktor yang sering mempengaruhi adalah daerah dekat ekuator. Di Indonesia yang melintas di bawah garis khatuliswa.2 Epidemiologi Kasus pterygium yang tersebar di seluruh dunia sangat bervariasi. Rekuren lebih sering terjadi pada pasien yang usia muda dibandingkan dengan pasien usia tua. Prevalensi juga tinggi pada daerah berdebu dan kering. kasus-kasus pterygium cukup sering didapati. Prevalensinya berkisar kurang dari 2% untuk daerah di atas 40o lintang utara sampai 5-15% untuk daerah garis lintang 28-36o. dan bisa dipengaruhi juga oleh paparan alergen. Insiden tertinggi pterygium terjadi pada pasien dengan rentang umur 20 – 49 tahun. Pasien dibawah umur 15 tahun jarang terjadi pterygium. Apalagi karena faktor risikonya adalah paparan sinar matahari (UVA & UVB). Mata dengan pterygium II. Sebuah hubungan terdapat antara peningkatan prevalensi dan daerah yang terkena paparan ultraviolet lebih tinggi di bawah garis lintang. tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering. Di daratan Amerika serikat. kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi geografisnya.

iritasi kronik dari bahan tertentu di udara dan faktor herediter . lamanya waktu di luar rumah.2.4 Faktor Risiko Faktor resiko yang mempengaruhi pterygium adalah lingkungan yakni radiasi ultraviolet sinar matahari. penggunaan kacamata dan topi juga merupakan faktor penting.3 Mortalitas/Morbiditas Pterygium bisa menyebabkan perubahan yang sangat berarti dalam fungsi visual atau penglihatan pada kasus yang kronis. Sinar ultraviolet diabsorbsi kornea dan konjungtiva menghasilkan kerusakan sel dan proliferasi sel. Untuk pasien umurnya diatas 40 tahun mempunyai prevalensi yang tertinggi. sedangkan pasien yang berumur 20-40 tahun dilaporkan mempunyai insidensi pterygium yang paling tinggi. menyebabkan iritasi okuler dan mata merah.daripada perempuan. II. 2. Radiasi ultraviolet Faktor resiko lingkungan yang utama timbulnya pterygium adalah paparan sinar matahari. Letak lintang. 1.2. Mata bisa menjadi inflamasi sehingga 7 . Jenis Kelamin Pterygium dilaporkan bisa terjadi pada golongan laki-laki dua kali lebih banyak dibandingkan wanita. Umur Jarang sekali orang menderita pterygium umurnya di bawah 20 tahun. Berdasarkan beberapa faktor diantaranya : 1. 2. Faktor Genetik Beberapa kasus dilaporkan sekelompok anggota keluarga dengan pterygium dan berdasarkan penelitian case control menunjukkan riwayat keluarga dengan pterygium. II. kemungkinan diturunkan secara autosom dominan.

pengeringan lokal dari kornea dan konjungtiva yang disebabkan kelainan tear film menimbulkan fibroplastik baru. dan trauma kecil dari bahan partikel tertentu. Kontak dengan ultraviolet. dry eye dan virus papilloma juga penyebab dari pterygium. Hal ini disebabkan karena struktur konjungtiva bulbi yang selalu berhubungan dengan dunia luar dan secara intensif kontak dengan ultraviolet dan debu sehingga sering mengalami kekeringan yang mengakibatkan terjadinya penebalan dan pertumbuhan konjungtiva bulbi sampai menjalar ke kornea. Yang juga menunjukkan adanya “pterygium angiogenesis factor“ dan penggunaan farmakoterapi antiangiogenesis sebagai terapi. kelembapan yang rendah. Iritasi kronik atau inflamasi terjadi pada area limbus atau perifer kornea merupakan pendukung terjadinya teori keratitis kronik dan terjadinya limbal defisiensi.3 .2. II. debu. dan saat ini merupakan teori baru patogenesis dari pterygium. Diduga pelbagai faktor risiko tersebut menyebabkan terjadinya degenerasi elastis jaringan kolagen dan proliferasi fibrovaskular. Selain itu. Tingginya insiden pterygium pada daerah beriklim kering mendukung teori ini.5 Etiologi dan patofisiologi Konjungtiva bulbi selalu berhubungan dengan dunia luar. Dan progresivitasnya diduga merupakan hasil dari kelainan lapisan Bowman kornea. daerah kering. Faktor lain. daerah angin kencang dan debu atau faktor iritan lainnya. inflamasi. Debu. maka gambaran yang paling diterima tentang hal tersebut adalah respon terhadap faktor-faktor lingkungan seperti paparan terhadap sinar ultraviolet dari matahari. kekeringan mengakibatkan terjadinya penebalan dan pertumbuhan konjungtiva bulbi yang menjalar ke kornea Etiologi pterygium tidak diketahui dengan jelas. Beberapa studi menunjukkan adanya predisposisi genetik untuk kondisi ini. 8 . Karena penyakit ini lebih sering pada orang yang tinggal di daerah beriklim panas. Teori lain menyebutkan bahwa patofisiologi pterygium ditandai dengan degenerasi elastik kolagen dan proliferasi fibrovaskular dengan permukaan yang menutupi epitel.

Histologi. atau tipis dan kadang terjadi displasia. dengan permukaan yang menutupi epithelium. tebal. yaitu lapisan fibroblast mengalami proliferasi sel yang berlebihan. Tanpa apoptosis. Pada keadaan defisiensi limbal stem cell. Pemisahan fibroblast dari jaringan pterygium menunjukkan perubahan phenotype. yaitu matriks ekstraselular yang berfungsi untuk memperbaiki jaringan yang rusak. oleh karena jaringan ini tidak bisa dihancurkan oleh elastase. Kerusakan pada kornea terdapat pada lapisan membran Bowman oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskular yang sering disertai inflamasi ringan. dan mengubah bentuk. Pemusnahan lapisan Bowman oleh jaringan fibrovascular sangat khas. tetapi mungkin acanthotic. Akibatnya. Jaringan ini juga bisa dicat dengan cat untuk jaringan elastic akan tetapi bukan jaringan elastic yang sebenarnya. atau bahkan displastik dan sering menunjukkan area hiperplasia dari sel goblet. pterigium merupakan akumulasi dari jaringan degenerasi subepitel yang basofilik dengan karakteristik keabu-abuan di pewarnaan H & E . Epitel diatasnya biasanya normal. transforming growth factor-beta diproduksi dalam jumlah berlebihan dan meningkatkan proses kolagenase sehingga sel-sel bermigrasi dan terjadi angiogenesis. Berbentuk ulat atau degenerasi elastotic dengan penampilan seperti cacing bergelombang dari jaringan yang degenerasi. Pada jaringan subkonjungtiva terjadi perubahan degenerasi elastik dan proliferasi jaringan vaskular di bawah epitelium yang kemudian menembus kornea.Teori terbaru pterygium menyatakan kerusakan limbal stem cell di daerah interpalpebra akibat sinar ultraviolet. Patofisiologi pterygium ditandai dengan degenerasi elastotik kolagen dan proliferasi fibrovaskular. penyembuhan luka. 9 . Limbal stem cell merupakan sumber regenarasi epitel kornea dan sinar ultraviolet menjadi mutagen untuk p53 tumor supressor gene pada limbal stem cell. Epitel dapat normal. Hal ini menjelaskan penyebab pterygium cenderung terus tumbuh dan berinvasi ke stroma kornea sehingga terjadi reaksi fibrovaskular dan inflamasi. Histopatologi kolagen abnormal pada daerah degenerasi elastotik menunjukkan basofilia bila dicat dengan hematoksin dan eosin. Pada fibroblast pterygium menunjukkan matriks metalloproteinase. hiperkeratotik. terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial fibrovaskular. terjadi pembentukan jaringan konjungtiva pada permukaan kornea.

Deposit besi dapat dijumpai pada bagian epitel kornea anterior dari kepala pterygium (stoker’s line).6 Gejala Klinis Pterygium biasanya terjadi secara bilateral.Gambar 4. Selain secara langsung. debu dan kekeringan. 10 . Perluasan pterygium dapat sampai ke medial dan lateral limbus sehingga menutupi sumbu penglihatan dan menyebabkan penglihatan kabur. Biasanya pada bagian nasal tetapi dapat juga terjadi pada bagian temporal.2. bagian nasal konjungtiva juga mendapat sinar ultra violet secara tidak langsung akibat pantulan dari hidung. namun jarang terlihat simetris. Kira-kira 90% terletak di daerah nasal karena daerah nasal konjungtiva secara relatif mendapat sinar ultraviolet yang lebih banyak dibandingkan dengan bagian konjungtiva yang lain. Secara klinis muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada konjungtiva yang meluas ke kornea pada daerah fissura interpalpebra. Histopatologi pada pterigium II. karena kedua mata mempunyai kemungkinan yang sama untuk kontak dengan sinar ultraviolet. Pterygium yang terletak di nasal dan temporal dapat terjadi secara bersamaan walaupun pterygium di daerah temporal jarang ditemukan.

sedikit vaskularisasi.Regressif pterygium 11 . membentuk membran tetapi tidak pernah hilang . II. Beberapa keluhan yang sering dialami pasien antara lain: .timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan pterygium .Gejala klinis pterygium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering tanpa keluhan sama sekali (asimptomatik). Pterygium dibagi menjadi tiga bagian yaitu : • Body. .7 Pemeriksaan Fisik Adanya massa jaringan kekuningan akan terlihat pada lapisan luar mata (sclera) pada limbus. bagian segitiga yang meninggi pada pterygium dengan dasarnya ke arah kantus • Apex (head).Progressif pterygium : memiliki gambaran tebal dan vascular dengan beberapa infiltrat di kornea di depan kepala pterygium : dengan gambaran tipis. Pterigyum terbagi berdasarkan perjalanan penyakit menjadi 2 tipe.mata sering berair dan tampak merah .2.pada pterygium derajat 3 dan 4 dapat terjadi penurunan tajam penglihatan.Dapat terjadi diplopia sehingga menyebabkan terbatasnya pergerakan mata. bagian belakang pterygium A subepithelial cap atau halo timbul pada tengah apex dan membentuk batas pinggir pterygium.merasa seperti ada benda asing . bagian atas pterygium • Cap. Sclera dan selaput lendir luar mata (konjungtiva) dapat merah akibat dari iritasi dan peradangan. yaitu : . atrofi. berkembang menuju ke arah kornea dan pada permukaan kornea.

Berbentuk segitiga yang terdiri dari kepala (head) yang mengarah ke kornea dan badan. Dengan menggunakan slitlamp diperlukan untuk memvisualisasikan pterygium tersebut. II. dan dapat dibagi menjadi 4 (Gradasi klinis menurut Youngson ): • • Derajat 1: Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea Derajat 2: Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm melewati kornea • Derajat 3: Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 3-4 mm) • Derajat 4: Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan. Dengan menggunakan sonde di bagian limbus. Test: Uji ketajaman visual dapat dilakukan untuk melihat apakah visi terpengaruh. pada pterigium tidak dapat dilalui oleh sonde seperti pada pseudopterigium. dan mata mungkin tampak lebih kering dari biasanya.8 Diagnosa Penderita dapat melaporkan adanya peningkatan rasa sakit pada salah satu atau kedua mata.2. kemerahan dan atau bengkak. ketidaknyamanan dari peradangan dan iritasi. Kondisi ini mungkin telah ada selama bertahun-tahun tanpa gejala dan menyebar perlahan-lahan. pada akhirnya menyebabkan penglihatan terganggu. II.9 Diagnosa Banding 12 . disertai rasa gatal.2. Sensasi benda asing dapat dirasakan. Derajat pertumbuhan pterigium ditentukan berdasarkan bagian kornea yang tertutup oleh pertumbuhan pterigium. penderita juga dapat melaporkan sejarah paparan berlebihan terhadap sinar matahari atau partikel debu.

merupakan massa kekuningan berbatasan dengan limbus pada konjungtiva bulbi di fissura intrapalpebra dan kadang terinflamasi. jaringan parut fibrovaskular yang timbul pada konjungtiva bulbi pun menuju kornea. Prevalensi dan insiden meningkat dengan meningkatnya umur. Paparan sinar ultraviolet bukan faktor resiko pinguecula. Angka kejadian sama pada laki laki dan perempuan. pseudopterygium merupakan akibat inflamasi permukaan okular sebelumnya seperti pada trauma. trauma bedah atau ulkus perifer kornea. Pada pseudopteyigium tidak didapat bagian head. 13 . trauma kimia. Pada pseudopterigium yang tidak melekat pada limbus kornea. maka probing dengan muscle hook dapat dengan mudah melewati bagian bawah pseudopterigium pada limbus. konjungtivitis sikatrikal. Namun berbeda dengan pterygium. Pinguekula Bentuknya kecil dan meninggi.Pseudopterigium Pertumbuhannya mirip dengan pterygium karena membentuk sudut miring atau Terriens marginal degeneration. Tindakan eksisi tidak diindikasikan pada kelainan ini. Gambar 5. Pingecuela sering pada iklim sedang dan iklim tropis. cap dan body dan pseudopterygium cenderung keluar dari ruang interpalpebra fissure yang berbeda dengan true pterigium.1. sedangkan pada pterygium tak dapat dilakukan. Mata dengan pinguekula 2. Selain itu.

mengupayakan komplikasi seminimal mngkin.Gambar 6. Mata dengan pseudopterigium II. pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari. Sedapat mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari konjugntiva bagian superior untuk menurunkan angka kekambuhan. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus 2. berair dan silau karena 14 . Indikasi Operasi 1. II. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil 3.2.10. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus pterigium yang rekuren. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil yang baik secara kosmetik.2.1 Konservatif Pada pterigium yang ringan tidak perlu di obati.2 Bedah Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterigium. A. angka kekambuhan yang rendah.10 Terapi II. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau mengalami kelainan pada kornea.10. mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup berat. Untuk pterigium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi.2.

Teknik Bare Sclera Melibatkan eksisi kepala dan tubuh pterygium. Teknik Autograft Konjungtiva memiliki tingkat kekambuhan dilaporkan serendah 2 persen dan setinggi 40 persen pada beberapa studi prospektif. antara 24 persen dan 89 persen. jaringan parut yang minimal dan halus dari permukaan kornea. biasanya dari konjungtiva bulbar superotemporal. 2. telah didokumentasikan dalam berbagai laporan. Lawrence W. Keuntungan termasuk epithelisasi yang lebih cepat. 1. terutama untuk penderita wanita B. dari Australia merekomendasikan menggunakan sayatan besar untuk eksisi pterygium dan telah dilaporkan angka kekambuhan sangat rendah dengan teknik ini. Cangkok Membran Amnion Mencangkok membran amnion juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan pterigium. Teknik Pembedahan Tantangan utama dari terapi pembedahan pterigium adalah kekambuhan. Terlepas dari teknik yang digunakan. Prosedur ini melibatkan pengambilan autograft. sementara memungkinkan sclera untuk epitelisasi. 3. dibuktikan dengan pertumbuhan fibrovascular di limbus ke kornea. Banyak teknik bedah telah digunakan. Tingkat kekambuhan tinggi. meskipun tidak ada yang diterima secara universal karena tingkat kekambuhan yang variabel. Hirst.astigmatismus 4. Kosmetik. Meskipun keuntungkan dari penggunaan membran amnion 15 . dan untuk hasil yang optimal ditekankan pentingnya pembedahan secara hati-hati jaringan Tenon's dari graft konjungtiva dan penerima. Komplikasi jarang terjadi. dan dijahit di atas sclera yang telah di eksisi pterygium tersebut. manipulasi minimal jaringan dan orientasi akurat dari grafttersebut. eksisi pterigium adalah langkah pertama untuk perbaikan. Banyak dokter mata lebih memilih untuk memisahkan ujung pterigium dari kornea yang mendasarinya. MBBS.

Dua bentuk MMC saat ini digunakan: aplikasi intraoperative MMC langsung ke sclera setelah eksisi pterygium. Beberapa penelitian sekarang menganjurkan penggunaan MMC hanya intraoperatif untuk mengurangi toksisitas. namun ada komplikasi dari terapi tersebut.5 persen untuk kekambuhan pterygia. Studi telah menunjukkan bahwa tingkat rekurensi telah jatuh cukup dengan penambahan terapi ini. Namun. diantara 2. 16 . Lem fibrin juga telah digunakan dalam autografts konjungtiva. dengan membran basal menghadap ke atas dan stroma menghadap ke bawah. MMC telah digunakan sebagai pengobatan tambahan karena kemampuannya untuk menghambat fibroblas. karena menghambat mitosis pada sel-sel dengan cepat dari pterygium. sebagian besar peneliti telah menyatakan bahwa itu adalah membran amnion berisi faktor penting untuk menghambat peradangan dan fibrosis dan epithelialisai. C. Terapi Tambahan Tingkat kekambuhan tinggi yang terkait dengan operasi terus menjadi masalah. efek buruk dari radiasi termasuk nekrosis scleral . dan terapi medis demikian terapi tambahan telah dimasukkan ke dalam pengelolaan pterygia. tingkat kekambuhan sangat beragam pada studi yang ada. Sebuah keuntungan dari teknik ini selama autograft konjungtiva adalah pelestarian bulbar konjungtiva. meskipun tidak ada data yang jelas dari angka kekambuhan yang tersedia. Efeknya mirip dengan iradiasi beta. endophthalmitis dan pembentukan katarak.6 persen dan 10. Beta iradiasi juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan. Namun. dan penggunaan obat tetes mata MMC topikal setelah operasi. Beberapa studi terbaru telah menganjurkan penggunaan lem fibrin untuk membantu cangkok membran amnion menempel jaringan episcleral dibawahnya. dan ini telah mendorong dokter untuk tidak merekomendasikan terhadap penggunaannya. dosis minimal yang aman dan efektif belum ditentukan.7 persen untuk pterygia primer dan setinggi 37.ini belum teridentifikasi.Sayangnya. Membran Amnion biasanya ditempatkan di atas sklera .

II. Komplikasi post-operatif bisa sebagai berikut: Rekurensi Infeksi 17 .4 mg/ml) : 4x1 tetes/hari selama 14 hari. bersamaan dengan pemberian dexamethasone 0.Untuk mencegah terjadi kekambuhan setelah operasi.02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari selama 5 hari. dikombinasikan dengan pemberian: 1. 2. Mitomycin C 0. Timbul jaringan parut kronis dari konjungtiva dan kornea Pada pasien yang belum di eksisi terjadi distorsi dan penglihatan sentral berkurang Timbul jaringan parut pada otot rektus medial yang dapat menyebabkan diplopia Dry Eye sindrom Keganasan epitel pada jaringan epitel di atas pterigium - - - 2.11 Komplikasi 1. Topikal Thiotepa (triethylene thiophosphasmide) tetes mata : 1 tetes/ 3 jam selama 6 minggu. Komplikasi dari pterigium meliputi sebagai berikut: - Gangguan penglihatan Mata kemerahan Iritasi Gangguan pergerakan bola mata.1% : 4x1 tetes/hari kemudian tappering off sampai 6 minggu. Sinar Beta 4.04% (0. diberikan bersamaan dengan salep antibiotik Chloramphenicol. dan steroid selama 1 minggu. 3.2. diberikan bersamaan dengan salep mata dexamethasone. Mitomycin C 0.

sekitar 50-80%. Pasien dengan rekuren pterygium dapat dilakukan eksisi ulang dengan conjungtiva autograft atau transplantasi membran amnion.2. Eksisi bedah memiliki angka kekambuhan yang tinggi. Umumnya prognosis baik.12 Pencegahan Pada penduduk di daerah tropik yang bekerja di luar rumah seperti nelayan. Angka ini bisa dikurangi sekitar 5-15% dengan penggunaan autograft dari konjungtiva atau transplant membran amnion pada saat eksisi II. Umumnya rekurensi terjadi pada 3-6 bulan pertama setelah operasi.- Perforasi korneosklera Jahitan graft terbuka hingga terjadi pembengkakkan dan perdarahan Korneoscleral dellen Granuloma konjungtiva Epithelial inclusion cysts Conjungtiva scar Adanya jaringan parut di kornea Disinsersi otot rektus - Yang paling sering dari komplikasi bedah pterigium adalah kekambuhan. II. Rasa tidak nyaman pada hari pertama postoperasi dapat ditoleransi. Pasien dengan resiko tinggi timbulnya pterygium seperti riwayat keluarga atau karena terpapar sinar matahari yang lama dianjurkan memakai kacamata sunblock dan 18 . Sebagian besar pasien dapat beraktivitas kembali setelah 48 jam postoperasi.2. petani yang banyak kontak dengan debu dan sinar ultraviolet dianjurkan memakai kacamata pelindung sinar matahari.13 Prognosis Pterigium adalah suatu neoplasma yang benigna. Kekambuhan dapat dicegah dengan kombinasi operasi dan sitotastik tetes mata atau beta radiasi. Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik.

BAB III KESIMPULAN Pterigium merupakan salah satu dari sekian banyak kelainan pada mata dan merupakan yang tersering nomor dua di indonesia setelah katarak. hal ini di karenakan oleh letak geografis indonesia di sekitar garis khatulistiwa sehingga banyak terpapar oleh sinar 19 .mengurangi intensitas terpapar sinar matahari.

Management of Pterygium. Penderita dengan pterigium dapat tidak menunjukkan gejala apapun (asimptomatik).cfm?. Aminlari A. bisa juga menunjukkan keluhan mata iritatif. 2007. hanya perawatan secara konservatif seperti memberikan anti inflamasi pada pterigium yang iritatif. 2010 2. gatal. Terapi dari pterigium umumnya tidak perlu diobati. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. DAFTAR PUSTAKA 1.org/aao/publications /eyenet /201011/ pearls. Walaupun begitu penyakit ini dapat dicegah dengan menganjurkan untuk memakai kacamata pelindung sinar matahari. dan pembedahan ini pun hasilnya juga kurang maksimal karena angka kekambuhan yang cukup tinggi mengingat tingginya kuantitas sinar UV di Indonesia. serta dialami oleh pasien di atas 40 tahun karena faktor degeneratif. Liang D.ultraviolet yang merupakan salah satu faktor penyebab dari piterigium. merah. 116 – 117.aao. Ilmu Penyakit Mata. Singh R. Ilyas S. Edisi 3. Diunduh dari : http://www. Pada pembedahan akan dilakukan jika piterigium tersebut sudah sangat mengganggu bagi penderita semisal gangguan visual. Pterigium banyak diderita oleh laki-laki karena umumnya aktivitas laki-laki lebih banyak di luar ruangan. 2007 20 . sensasi benda asing hingga perubahan tajam penglihatan tergantung dari stadiumnnya. hal:2-6.

Voughan & Asbur’s General Ophthalmology 17th edition. Hartono. Whitcher JP. Diunduh dari :http://emedicine. 2000 7. 2006 :242-244. Pterygium. Fisher JP. Trattler WB. In : Atlas Ophthalmology a Short Textbook. London : Churchill Livingstone . 8. Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach. Parson’s Disease of The Eye. New York : Thieme. Philadelpia : McGrawHill. 2007 4. 2007 6. Riordan P. p. Jogjakarta : Bagian Ilmu Penyakit Mata FK UGM. Philadelphia: Butterworth Heinemann Elsevier. Edisi 1. Suhardjo SU. Ilmu Kesehatan Mata.com/ article/ 1192527-overview. 18th ed.medscape. Miller SJH. 2011 5. Edisi 6. Lang GK. Kanski JJ. 1996.3.142 21 . Pterygium.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful