Filsafat Ilmu Eko Bimo Koesprabowo – 071045017

Take Home Test – Ujian Akhir Semester
(Rabo, 6 Juli 2011)

1.

Mengapa terjadi Implikasi yang berbeda antara Filsafat dan Ilmu Pengetahuan? Setelah tahu implikasinya kita akan tahu manfaat belajar filsafat dalam kaitannya mengembangkan disiplin ilmu masing-masing.

Pada dasarnya, baik filsafat maupun ilmu pengetahuan memiliki sikap perilaku yang sama, yaitu selalu mempertanyakan sesuatu yang terjadi, yang ada pada kenyataan. Hanya saja, meski keduanya sama-sama memiliki sikap dasar ‘selalu bertanya’ terdapat perbedaan yang tanpa sadar kurang mendapat perhatian dari kebanyakan ilmuwan, yaitu bahwa, pada filsafat tidak ada batasan dalam ‘selalu bertanya’-nya. Dalam filsafat akan bertanya tentang apa saja, dari berbagai sudut pandang utamanya yang paling umum dan mendasar dan menyangkut hakikat, inti dan pengertian yang paling mendasar. Inilah yang menjadikan filsafat sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan yang melahirkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada hingga saat ini. Filsafat mengkaji seluruh kenyataan yang terjadi secara sistematis, metodis dan koheren. Sederhananya filsafat mencari esensi atas kenyataan yang terjadi. Sementara di lain pihak, meski sama-sama memiliki sikap dasar ‘selalu bertanya’ ilmu pengetahuan cenderung hanya mempertanyakan satu kenyataan saja dari ilmu tersebut, dan dipertanyakan dari satu sudut pandang ilmu yang bersangkutan tersebut. Meski demikian perlu adanya pemikiran filosofis dalam ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu, jika boleh disebut demikian, bertujuan mencari esensi ilmu pengetahuan. Dengan demikian ilmu pengetahuan yang didasari oleh sikap pencarian esensi ini akan lebih mengembangkan ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin, baik secara masing-masing maupun saling bertautan. Dengan mendapatkan esensi, kita dapat mengembangkan yang ada dengan mencirikaskannya sesuai dengan karakter kita, sebagai trademark. So, The Science ain’t death. Just yet,… (disarikan dari Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis, Sony Keraf dan Mikhael Dua, Kanisius 2001, hal. 18-19.) 1

TAHU AKAN (pengetahuan langsung melalui pengalaman pribadi) TAHU BAHWA (masih bersifat umum) TAHU MENGAPA (Refleksi. 40 dalam buku Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis (Sony Keraf dan Mikhael Dua. Ketiga. abstraksi. Sebagai catatan. penerapan. untuk ‘tahu mengapa’ sesuatu terjadi. Kedua untuk tahu bagaimana melakukan sesuatu. Bagan hal. seseorang bisa ‘tahu mengapa sesuatu terjadi tanpa perlu pengenalan personal. Pertama. dalam kasus tertentu perlu adanya pengenalan pribadi ‘tahu akan’. tindakan) 2 .) Ambil kasus dalam studi masing-masing. ‘tahu akan’ sesuatu tanpa perlu tahu mengapa. yaitu mengenai sebab dan akibat. ‘Tahu bagaimana’ sesungguhnya merupakan aplikasi dan konsekuensi dari pengetahuan kita mengenai mengapa sesuatu terjadi. yaitu ‘tahu mengapa’. perlu diketahui mengapa sesuatu terjadi. Kanisius 2001. tahu secara mendalam tentang hal yang terjadi. penjelasan) TAHU BAGAIMANA (pemecahan.Filsafat Ilmu Eko Bimo Koesprabowo – 071045017 2. dan sebaliknya. untuk sampai pada pengetahuan yan mendalam dan akuratkita perlu melangkah lebih jauh dari sekedar ‘tahu bagaimana’ untuk mengetahui mengapa sesuatu itu terjadi sebagaimana adanya.

Dalam studi Hubungan Internasional. terdapat beberapa perspektif yang masing-masing memiliki teoriteori dan hukum-hukum yang berbeda pula. hukum-hukumnya adalah. Dalam perspektif liberalis ini pula kita mengetahui mengapa aktor-aktor internasional berinteraksi. 33-40. Jika dalam perspektif liberalis yang pada dasarnya menganggap bahwa semua orang baik dan kooperatif. dalam perspektif liberalisme. Hukum-hukumnya adalah bahwa manusia adalah homo homini lupus. Aktor yang ada dalam hubungan internasional telah menyadari akan adanya aktor lain di luar negaranya (tahu bahwa). menimbulkan pengetahuan tentang bagaimana berinteraksi diantara aktor-aktor yang ada dalam dunia internasional (tahu bagaimana). Namun tidak menutup kemungkinan terjadinya pengulangan maupun lompatan diantara tiap tingkatan. Yang artinya lebih kurang adalah bahwa manusia suka atau cenderung mengeksploitasi. kooperatif. bahwa Ilmu Hubungan Internasional adalah hubungan yang eksploitatif. diplomatis dan negosiatif (berjiwa dagang). secara umum skema tingkatan ini dapat digunakan. Kanisius 2001. bahwa manusia pada dasarnya baik. salah satu teorinya mengatakan bahwa kemiskinan yang terjadi di negara dunia ketiga akibat adanya dependensia (kritisi perspektif marxis atas perspektif liberalis-kapitalis). hukum-hukum ilmiah yang ada membentuk teori-teori ilmiah. (Disarikan dari mata kuliah Teori Hubungan Internasional) 3. dan menyukai 3 . Hukum kedua adalah bahwa kapitalisme mengeksploitasi kaum buruh. Ambil satu teori yang dikuasai dalam disiplin ilmu masing-masing dan cari hukum-hukum ilmiah yang mendasarinya.Filsafat Ilmu Eko Bimo Koesprabowo – 071045017 Skema ini menunjukkan tingkatan mendapatkan pengetahuan yang semakin mendalam hingga mendapatkan pengetahuan yang semakin akurat. (Disarikan dari Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis. Dan yang ketiga. Sementara. karena secara umum perspektif liberalis menganggap bahwa semua manusia itu baik dan kooperatif (tahu mengapa). Dan masing-masing aktor juga telah melumrahkan bila terjadi persamaan maupun juga perbedaan. Sony Keraf dan Mikhael Dua.) Dalam hubungan internasional. Bahwa. hal. Khususnya Ekonomi Politik Internasional misalnya. baik diantara aktor maupun diantara negara yang berbeda (tahu akan).

namun ada konteks tertentu yang melahirkannya. (Sony Keraf dan Mikhael Dua. penyandang dana institusi penelitian. adalah sah bagi ilmu pengetahuan untuk menjadi bebas nilai (meski sangat sulit) maupun tidak bebas nilai dalam upayanya menemukan ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam konteks discovery. ilmu pengetahuan berkembang dalam konteks tertentu yang sekaligus sangat ikut mempengaruhinya. Bahwa. Karena itu. Pertama. mata kuliah Dari Multi-National Corporations (MNCs) Hingga International Non-Govermental Organization (INGOs) dan mata kuliah Ekonomi Politik Internasional. dalam konteks sosial tertentu.) 4. sebuah ilmu pengetahuan bisa saja tidak bebas nilai sesuai dengan ilmuwannya yang berupaya menemukan ilmu pengetahuannya. Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis. 154-158. untuk mencapai sasaran yang lebih luas dari sekedar kebenaran ilmiah murni. atau suatu teori. bukan perang. ditemukan. bahkan mungkin juga oleh kepentingan-kepentingan tertentu. menyangkut suatu ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan selalu ditemukan dan berkembang dalam konteks ruang dan waktu tertentu. hal. etnis-religiusnya.) Sintesis: Context of Discovery dan Context of Justification Dalam konteks discovery. Ambil satu kasus dalam disiplin ilmu masing-masing yang memperlihatkan konteks discovery dan justifikasi. lingkungan sosial. bisa dipengaruhi oleh keinginan pribadi ilmuwan termasuk latar belakang sosio-kultural. tidak dalam kevakuman. Ada empat hal yang dapat mempengaruhi ilmu pengetahuan dalam konteks discovery yang dapat dianggap tidak bebas nilai. Tahapan selanjutnya adalah. Dengan kata lain adalah. Ilmu pengetahuan tidaklah muncul mendadak dengan sendirinya. Dan keempat. yang merupakan konteks pengujian ilmiah terhadap hasil penelitian dan kegiatan ilmiah berdasarkan kategori dan 4 . Ketiga. Dalam upayanya melahirkan ilmu pengetahuan. dalam konteks justifikasi. minatnya dan lain sebagainya. keputusan dan kebijakan yang berlaku secara umum dalam masyarakat yang bersangkutan. terjadi dan berlangsung. dalam konteks discovery. studi yang mengemuka diantaranya adalah. Kedua institusi tempat dia bernaung. (Disarikan dari materi mata kuliah Bisnis Internasional. pribadi maupun kolektif. Bisnis Internasional dan Ekonomi Politik Internasional dalam perspektif liberalisme.Filsafat Ilmu Eko Bimo Koesprabowo – 071045017 perdamaian. ilmuwan dimotivasi oleh keinginan.

Filsafat Ilmu Eko Bimo Koesprabowo – 071045017 kriteria yang murni ilmiah. (Disarikan dari Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis. Sony Keraf dan Mikhael Dua. dan nilai-nilai lainnya yang terkandung tidak lagi turut menentukan. hanya ilmuwan yang punya wewenang untuk memberi penilaian tentang data dan fakta. Sementara dalam konteks justifikasi. Tidak ada otoritas apapun. ada tidaknya fakta dan data empiris yang mendukung kesimpulan. politis dan ideologis yang. dan tidak ada sangkut pautnya dengan penilaian moral. memang penting. religius maupun politis sekalipun. dalam konteks discovery ilmu pengetahuan bisa saja tidak bebas nilai. hal. dan mau tidak mau peduli dengan berbagai nilai lain diluar ilmu pengetahuan. Bahwa. Bahwa.) Dalam studi hubungan internasional juga demikian. kemajuan ilmiah harus dibedakan dari kemajuan sosial pada umumnya meski keduanya berkaitan secara timbal balik. salah satu teorinya mengatakan bahwa kemiskinan yang 5 . Bahwa. ilmu pengetahuan haruslah bebas nilai. bahwa. yang memiliki wewenang untuk menentukan benar tidaknya sebuah teori atau hukum ilmiah. Kanisius 2001. Tujuannya adalah untuk melindungi objektivitas dari hasil akhir kegiatan ilmiah sekaligus melindungi otonomi ilmu pengetahuan. Konsekuensinya adalah. Inilah proses pembuktian dari ilmu pengetahuan (baik yang berupa hipotesis dan teori) yang tadi termaksud dalam konteks discovery berdasarkan bukti empiris dan penalaran logis-rasional dalam membuktikan kebenaran suatu ilmu pengetahuan tersebut. rasionalitas. Sebuah teori dari perspektif manapun juga tidak terlepas dari konteks discovery dan justifikasi. 18-19. Satu-satunya yang menentukan adalah benar tidaknya hipotesis atau teori berdasarkan bukti-bukti empiris dan penalaran logis yang dapat ditunjukkan. Khususnya Ekonomi Politik Internasional misalnya. Sederhananya. tidak ada orang lain di luarnya yang berhak menilai data dan kebenaran hasil ilmu pengetahuan meski dalam pembuatannya menyertakan banyak individu yang turut berperan dan mempengaruhi kegiatan ilmiah tersebut. Bahwa. dan sekaligus tentang kebenaran hasil penelitian. personal. penilaian mengenai kegiatan ilmiah hanya didasarkan pada keberhasilan dan kegagalan empiris. tujuan ilmiah harus dibedakan dari tujuan pribadi dan sosial yang terkandung dalam penelitian ilmiah. dalam kaitannya dengan ilmu-ilmu empiris. namun tidak relevan untuk menilai kebenaran ilmiah. sosial. kaidah ilmiah dan kriteria ilmiah hanya berkaitan dengan penilaian mengenai kebenaran dengan bukti-bukti empiris dan rasional. Apa adanya berdasarkan data dan fakta serta keabsahan metode ilmiah yang dipakai tanpa mempertimbangkan kriteria dan pertimbangan lainnya di luar ilmiah murni.

Dikenal juga sebagai teori dependensi. yang berkembang di era ekonomi yang lebih moderat. hendaknya tidak melupakan keempat persoalan yang telah disajikan diatas agar nantinya. sebagai seorang ilmuwan yang akan menyusun proposal bahkan hingga akan menjadi tesis nantinya. Dimana dalam pemahaman saya bahwa teori tersebut sengaja menyebutkan demikian atas kepentingan tertentu. bahwa kedepannya. Namun secara konteks justifikasi. terutama kepentingan negara barat.Filsafat Ilmu Eko Bimo Koesprabowo – 071045017 terjadi di negara dunia ketiga akibat adanya dependensia sebagaimana yang disebutkan dalam perspektif liberalis-kapitalis. baik bagi ilmuwan secara pribadi. akurat dan bermanfaat. ilmu pengetahuan secara umum dan ilmu hubungan internasional secara khusus. 6 . bahkan juga bagi masyarakat luas. produk ilmiah kita dapat benar-benar menjadi ilmu pengetahuan yang utuh. Kesimpulannya adalah. ternyata pada beberapa keadaan tertentu tidak dapat terbukti secara empiris (disanggah oleh pendekatan marxis). mendalam.

Soni dan Mikael Dua. Materi ajar dalam perkuliahan: Mata Kuliah Bisnis Internasional Materi ajar dalam perkuliahan: Mata Kuliah Dari Multi-National Corporations (MNCs) Hingga International Non-Govermental Organization (INGOs) Materi ajar dalam perkuliahan: Mata Kuliah Ekonomi Politik Internasional. Kanisius. Jakarta. 2001. Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis. 7 .Filsafat Ilmu Eko Bimo Koesprabowo – 071045017 Referensi Keraf.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful